BAB I PENDAHULUAN. Perencanaan Pembangunan Daerah merupakan suatu proses perencanaan

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perencanaan Pembangunan Daerah merupakan suatu proses perencanaan pembangunan yang dimaksudkan untuk melakukan perubahan menuju arah perkembangan yang lebih baik bagi suatu komunitas masyarakat, pemerintah dan lingkungannya dalam wilayah atau daerah tertentu dengan memanfaatkan atau mendayagunakan berbagai sumber daya yang ada dan harus memiliki orientasi yang bersifat menyeluruh, lengkap, tapi tetap berpegang pada asas prioritas (Riyadi dan Supriyadi, 2005).

Kota menjadi salah satu obyek studi geografi dimana di dalamnya terdapat masyarakat yang mempunyai kegiatan yang sangat kompleks. Perkembangan dan pertumbuhan kota dengan batasan wilayah administrasi kecil akan meluas pada wilayah perkotaan sekitar berbatasan dengan wilayah kabupaten tetangga. Fungsi dan aktifitas perkotaan yang melebar membentuk ruang aglomerasi dengan integrasi aksesibilitas dan mobilitas lintas wilayah. Menyatunya fungsi dan aktifitas demikian menggunakan ruang dan infrastruktur dengan daya dukung dan daya tampung yang selayaknya mencukupi untuk melayani skala wilayah aglomerasi perkotaan.

Kota pada awalnya mempunyai permukiman dengan skala kecil, akan tetapi seiring dengan perkembangan waktu sebuah kota mengalami perkembangan yang sangat pesat akibat dari pertembuhan penduduk, perubahan sosial ekonomi

(2)

2

dan budaya serta interaksi dengan kota besar lainnya. Di Indonesia pertumbuhan penduduk tidak diimbangi dengan pembangunan sarana dan prasarana pelayanan perkotaan yang mengakibatkan kawasan perkotaan mengalami degradasi lingkungan yang berakibat menciptakan permukiman kumuh. Dengan demikian prinsip mereka harus hemat dalam arti yang luas, yaitu hemat mendapatkan lahan, pembiayaan pembangunan, pengoperasian dan pemeliharaan, termasuk dalam mendapatkan bahan dan sistem strukturnya (Sobirin, 2001).

Manusia tidak terlepas dari kebutuhan pokok yaitu permukiman. Pertumbuhan populasi manusia berbanding lurus dengan kebutuhan permukiman. Pesatnya perkembangan sebuah perkotaan menyebabkan laju urbanisasi yang tidak terkontrol, hal tersebut bedampak pada peningkatan permintaan hunian di kota . Semakin banyak kebutuhan permukiman di perkotaan menyebabkan permasalahan keterbatasan lahan. Dalam keterbatasan lahan dan meningkatnya kebutuhan akan permukiman tersebut, ada beberapa solusi yang dapat ditempuh yaitu dengan cara membangun sebuah permukiman secara vertikal dengan cara membangun tempat tinggal secara vertikal. Salah satu bentuk hunian vertikal yang ada adalah rumah susun.

Dalam penjelasan umum Undang-Undang Rumah Susun (UURS) ditegaskan bahwa pembangunan rumah susun ditujukan untuk tempat hunian, khususnya bagi golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah. Namun demikian pembangunan rumah susun harus dapat mewujudkan pemukiman yang lengkap dan fungsional, sehingga diperlukan adanya bangunan bertingkat lainnya

(3)

3

untuk keperluan bukan hunian yang terutama berguna bagi pengembangan kehidupan masyarakat ekonomi lemah (Undang-undang No. 20 tahun 2011).

Oleh karena itu, ada pembangunan rumah susun yang digunakan bukan untuk hunian melainkan fungsinya memberikan lapangan kehidupan masyarakat, misalnya untuk tempat usaha, pertokoan, perkantoran, pusat perbelanjaan, dan sebagainya. Hal UURS yang menegaskan bahwa ketentuan-ketentuan dalam UURS berlaku dengan penyesuaian menurut kepentingannya terhadap rumah susun yang dipergunakan untuk keperluan lain, mengingat bahwa dalam kenyataannya terdapat kebutuhan akan rumah susun yang bukan untuk hunian tetapi mendukung fungsi pemukiman dalam rangka menunjang kehidupan masyarakat.

1.2 Rumusan Masalah

Daerah perkotaan mempunyai wilayah permukiman yang sudah direncanakan secara terperinci, berbeda dengan daerah perdesaan yang belum ditunjang dengan keuangan dan organisasi yang memungkin untuk pembangunan secara terorganisir . Perkotaan mempunyai pola perubahan demografis penduduk yang sangat cepat yang mengakibatkan semakin memusatnya penguasaan tanah permukiman secara vertikal. Kelangkaan lahan permukiman di perkotaan menyebabkan semakin mahalnya harga lahan di pusat kota, sehingga mendorong masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah tinggal dikawasan pinggiran kota yang jauh dari tempat kerja karena mayoritas lahan di pinggiran kota lebih murah. Kondisi tersebut menyebabkan meningkatnya biaya transportasi dan waktu tempuh hal itu dapat menurunkan mobilitas dan produktivitas masyarakat.

(4)

4

Sedangkan sebagian masyarakat tinggal di kawasan yang tidak jauh dari pusat aktivitas ekonomi,sehingga menyebabkan ketidakteraturan tata ruang kota dan dapat menumbuhkan kawasan kumuh baru.

Masalah permukiman tidak hanya menyangkut perbandingan antara jumlah penduduk dengan luas tanah yang tersedia, akan tetapi masalah permukiman juga menyangkut tentang persaingan yang makin lama makin intensif dalam mendapatkan lokasi. Persaingan tersebut timbul karena lahan yang terbatas sehingga peruntukan antar kebutuhan tanah unuk industri, perkantoran, jalan umum, taman dan permukiman sangat terbatas (Nasution, 1978 dalam Budiharjo, 1998).

Menurut pemerintah penyediaan perumahan bagi masyarakat tidak bisa lagi dilakukan secara horizontal selamanya, tetapi ke arah vertikal berupa apartemen dan rusun. Bagi kalangan menengah ke atas apartemen bukanlah masalah besar karena golongan tersebut mempunyai tingkat finansial yang tinggi, berbeda dengan masyarakat golongan menengah ke bawah yang kemampuan finansialnya sangat terbatas. Pembangunan rumah susun sederhana sewa merupakan salah satu alternatif untuk pemecahan masalah permukiman di perkotaan khususnya untuk masyarakat menengah ke bawah, karena dengan luas lahan yang tidak terlalu luas rumah susun dapat menampung banyak penduduk. Selain itu rumah susun sederhana sewa dapat digunakan untuk peremajaan kota bagi daerah pinggiran yang kumuh.

Sering kali dalam pembangunan rusun kurang sosialisasi terhadap warga di sekitarnya dan kurang memperhatikan ruang publik sehingga tidak jarang

(5)

5

keberadaan rusunawa di lingkungan warga dianggap menganggu. Akan tetapi setiap masyarakat memiliki respon yang berbeda terhadap keberadaan rusunawa karena berbagai hal. Rumusan masalah penelitian ini dirumuskan dalam dua pertanyaan penelitian yaitu :

1. Sejauh mana pemanfaatan rusunawa di bantaran Kali Code Kota Yogyakarta ?.

2. Seperti apakah respon masyarakat sekitar terhadap keberadaan rusunawa di bantaran Kali Code Kota Yogyakarta ?.

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian Tujuan penelitian ini meliputi :

1. Menganalisis pemanfaatan rusunawa di bantaran Kali Code Kota Yogyakarta.

2. Mengidentifikasi respon masyarakat sekitar terhadap keberadaan rusunawa di bantaran Kali Code Kota Yogyakarta.

Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini antara lain : 1. Pemahaman dan pengembangan ilmu pengetahuan

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru mengenai pemanfaatan dan keberadaan rusunawa di suatu daerah dan menjadi suatu referensi bagi penelitian lain. Selain itu penelitian ini juga diharapkan dapat bermanfaat bagi ilmu geografi khususnya mengenai pemanfaatan dan keberadaan rusunawa.

(6)

6 2. Implementasi kebijakan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih kepada Pemerintah Kota Yogyakarta dalam mengetahui karakteristik dan harapan penghuni serta respon masyarakat sekitar terhadap dampak pembangunan rusunawa di Kota Yogyakarta.

(7)

7 1.4 Tinjauan Pustaka

1.4.1 Pendekatan Ekologi

Pendekatan ekologi merupakan keterkaitan antara organisme dengan lingkungannya. Dalam lingkup analisis keterkaitan antara organisme dengan lingkungannya, sosok biologis menjadi fokus analisis dapat berperan menjadi salah satu faktor pengaruh namun juga dapat berperan sebagai faktor yang dipengaruhi (Yunus, 2010).

Keterkaitan antara organisme dengan lingkungannya dapat berarti keterkaitan antara manusia dengan lingkungan abiotik, biotik dan kulturalnya. Pengertian organisme daoat berarti dalam satuan individual atau komunitas sehingga dalam arti yang lebih luas hubungan timbal balik antar organisme dapat pula berarti hubungan antar individu dengan komunitas dan hubungan antara komunitas baik masyarakat manusia, binatang maupun tumbuhan. Dengan mengacu pada satuan individual dan komunitas maka terciptalah jalinan antar organisme dengan lingkungan yang kompleks membentuk suatu ekosistem.

1.4.2 Pengertian Kota

Menurut (Bintarto 1983 dalam Yunus 2005) dalam dari segi geografis kota diartikan sebagai suatu sistim jaringan kehidupan yang ditandai dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan diwarnai dengan strata ekonomi yang heterogen dan bercorak materialistis atau dapat pula diartikan sebagai bentang budaya yang ditimbulkan oleh unsur-unsur alami dan non alami dengan

(8)

gejala-8

gejala pemusatan penduduk yang cukup besar dengan corak kehidupan yang bersifat heterogen dan materialistis dibandingkan dengan daerah dibelakangnya.

Kota menurut undang-undang penataan ruang tahun no. 26 tahun 2007 Kawasan perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.

1.4.3 Pengertian Perumahan dan Permukiman

Perumahan merupakan kumpulan rumah sebagai bagian dari permukiman, baik perkotaan maupun perdesaan yang dilengkapi dengan prasarana, sarana dan utilitas umum sebgai hasil upaya pemenuhan rumah yang layak huni (UU no 1 tahun 2011).

Permukiman adalah bagian dari lingkungan hunian yang terdiri atas lebih dari satu satuan perumahan yang mempunyai prasaranan, sarana, utilitas umum, serta mempunyai penunjang kegiatan fungsi lain di kawasan perkotaan atau kawasan perdesaan (UU no 1 tahun 2011).

1.4.4 Pengertian Rumah Susun dan Rumah Susun Sederhana Sewa

Rumah susun adalah bangunan gedung bertingkat yang dibangun dalam suatu lingkungan, yang terbagi dalam bagian-bagian yang distrukturkan secara fungsional dalam arah horizontal maupun veritikal dan merupakan satuan-satuan yang masing-masing dapat dimiliki dan digunakan secara terpisah, terutama untuk

(9)

9

tempat hunian, yang dilengkapi dengan bagian-bersama, benda bersama dan tanah-bersama (UU no 20 tahun 2011).

Rusunawa atau rumah susun sederhana sewa adalah bangunan gedung bertingkat yang dibangun dalam suatu lingkungan yang terbagi dalam bagian-bagian yang distrukturkan secara fungsional dalam arah horisontal maupun vertikal dan merupakan satuan-satuan yang masing-masing digunakan secara terpisah, status penguasaannya sewa serta dibangun dengan menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan/atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dengan fungsi utamanya sebagai hunian (PERMENPERA No 14/PERMEN/M/2007).

Berdasarkan PERMEN No.14/ 2007 tentang pengelolaan rumah susun sewa sederhana yaitu bangunan gedung bertingkat yang dibangun dalam suatu lingkungan yang terbagi dalam bagian-bagian yang distrukturkan secara fungsional dalam arah horizontal maupun vertikal dan merupakan satuan-satuan yang masing-masing digunakan secara terpisah, status penguasaannya sewa serta dibangun dengan menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan/atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dengan fungsi utamanya sebagai hunian.

Kebijaksanaan di bidang pembangunan perumahan dan permukiman diarahkan untuk meningkatkan kualitas hunian dan lingkungan keluarga/ masyarakat, terlebih pada masyarakat yang mempunyai penghasilan rendah. Untuk itulah pemerintah mengeluarkan Undang-Undang No. 20 Tahun 2011

(10)

10

tentang rumah susun yang berisi untuk mengatur dan menegaskan mengenai tujuan pengelolaan, penghunian, status hukum dan kepemilikan rumah susun.

Tujuan utama dari Undang-Undang No. 20 Tahun 2011 adalah meningkatkan kebutuhan perumahan yang layak huni bagi rakyat yang memiliki penghasilan rendah. Selain itu rumah susun juga berfungsi untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna tanah di daerah perkotaan dengan cara memperhatikan kelestarian sumberdaya alam dan menciptakan lingkungan permukiman yang berkelanjutan.

1.4.5 Pengertian Respon Masyarakat

Menurut kamus besar bahasa indonesia (KBBI) respon adalah tanggapan, reaksi, jawaban terhadap sesuatu. Sedangkan masyarakat adalah sejumlah manusia dalam arti seluas-luasnya dan terikat oleh suatu kebudayaan yg mereka anggap sama. Respon masyarakat adalah respon akan timbul setelah seorang atau sekelompok orang terlebih dahulu merasakan kehadiran suatu objek dan dilaksanakan, kemudian menginterpretasikan objek yang dirasakan..

Ada tiga faktor yang mempengaruhi respon seseorang terhadap sesuatu antara lain : 1) Orang tersebut melihat dan memberikan interpretasi tentang apa yang dilihatnya dipengaruhi oleh sikap, motif, kepentingan dan harapannya, 2) Sasaran berupa orang, benda, maupun peristiwa menentukan cara pandang seseorang, 3) Faktor situasi, respon dapat dilihat secara kontekstual yang mendapat perhatian turut berperan dalam pembentukan atau tanggapan seseorang.

(11)

11

Selain itu respon seseorang dipengaruhi oleh sejauh mana seseorang memahami obyek respon tersebut (Wirawan, 1991).

1.4.6 Pengertian Kali Code

Berdasarkan kamus elektronik wikipedia yang diakses pada tahun 2015 Sungai Code atau orang lokal biasa menyebutnya Kali Code yang bermata air di kaki Gunung Merapi ini merupakan salah satu sungai yang memiliki arti yang sangat penting bagi penduduk Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya daerah yang dilalui oleh sungai ini. Dengan mata air yang berada di salah satu gunung yang aktif di dunia, mata airnya dimanfaatkan untuk pengairan persawahan di Sleman dan Bantul serta dipergunakan juga sebagai sumber air minum.

Sungai yang membelah kota Yogyakarta menjadi dua ini secara historis dijadikan dasar bagi berdirinya Kerajaan Mataram di Yogyakarta. Dikarenakan sungai ini berasal dari gunung berapi yang sangat aktif, maka sungai ini seringkali mengalami banjir lahar, atau lebih dikenal dengan banjir yang diakibatkan oleh gugurnya atau hanyutnya lahar dingin yang mengendap di kubah Gunung Merapi, sebagai akibat dari hujan yang terjadi di wilayah gunung tersebut.

Banjir lahar yang dapat dipastikan akan selalu terjadi apabila endapan lahar yang ada di Gunung Merapi terkena hujan, sehingga lahar tersebut hanyut dan mengalir melalui Sungai Code akan menimbulkan dampak yang sangat besar bagi penduduk di sepanjang bantaran sungai. Banyak rumah yang rusak atau hanyut terkena terjangan banjir lahar dingin tersebut.

(12)

12 1.4.7 Penelitian Sebelumnya

Penelitian bertema rusunawa sudah banyak dilakukan sebelumnya. Selain itu banyak jurnal telah mengkaji penelitian tersebut. Penelitian ini merupakan lanjutan payung riset Dr. Rini Rachmawati, S.Si., M.T., dengan judul Pengembangan Hunian Vertikal di Kota Yogyakarta : Kajian Aspek Lokasi, Ruang dan Perilaku. Akan tetapi penelitian ini lebih menekankan kepada pemanfaatan rusunawa dan respon masyarakat sekitar terhadap keberadaan rusunawa yang akan melengkapi penelitian yang sudah ada.

Penelitian di rusunawa Ghra Bina Harapan dan rusunawa Cokrodirjan salah satunya sudah pernah diteliti oleh peneliti sebelumnya dengan judul penyesuaian diri penghuni rumah Susun terhadap lingkungan tempat tinggal : khusus penghuni rumah susun Cokrodirjan Yogyakarta pada tahun 2011. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa sebagian besar penghuni rusun beradaptasi by reaction terhadap lingkungan fisik. Selain itu adaptasi by reaction dilakukan mayoritas penghuni terhadap keterbatasan ruang, penggunaan ruang, tempat menjemur, pemenuhan kebutuhan air minum dan tempat bermain anak.

Penghuni rusunawa Ghra Bina Harapan maupun rusunawa Cokrodirjan pada dahulu memang tinggal di hunian horizontal namun ketika pindah ke hunian vertikal mereka merasa tidak ada permasalahan dengan adaptasi lingkungan karena memang mereka sudah memikirkan secara matang konsekuensi yang di terima karena perpindahan tersebut, hanya saja banyak orang tua diatas 50 tahun mengeluh merasa lelah bila menggunakan tangga karena tempat tinggalnya berada di lantai tiga maupun empat.

(13)

13

Posisi hunian rusunawa pada awalnya tidak bebas memilih, para calon penghuni diberikan undian kemudian diacak untuk mendapatkan letak hunian tersebut. Sebaiknya ada prioritas bagi penghuni yang sudah memasuki usia lanjut diberikan lokasi di lantai bagian bawah supaya tidak terbebani ketika menaiki tangga. Selain itu bagi orangtua yang mempunyai anak kecil juga kesulitan untuk mencari tempat bermain karena di lantai dasar tidak diberikan lapangan untuk bermain.

Peneliti lain yang meneliti tentang pengaruh perpindahan penghuni non rumah susun ke rumah susun terhadap kondisi sosial ekonomi di rumah susun Sarijadi Kota Bandung, dengan hasil kondisi sosial ekonomi setelah masyarakat berpindah dari non rumah susun ke rumah sususn tidak mengalami perbedaan. Hal tersebut juga terjadi di rusunawa Grha Bina Harapan dan rusunawa Cokrodirjan. Para penghuni di kedua rusunawa tersebut tidak mengalami perubahan kondisi sosial ekonomi yang signifikan karena memang para penghuni berasal dari satu kecamatan yang sama, selain itu para penghuni justru memiliki antusiasme yang besar terhadap rusunawa karena memang yang menempati rusunawa tersebut merupakan masyarakat yang belum memiliki tempat tinggal.

Tabel keaslian penelitian di bawah merupakan sebagian penelitan yang membahas topik yang tidak jauh berbeda antara pemanfaatan rusunawa dan respon masyarakat terhadap keberadaan rusunawa. Tabel keaslian penelitian dapat dilihat pada tabel 1.1.

(14)

14

Tabel 1.1 Keaslian Penelitian

No Judul Peneliti Tujuan Metode Hasil Penelitian

1. Pengaruh Perpindahan Penghuni Non Rumah Susun Ke Rumah Susun Terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Di Rumah Susun Sarijadi Kota Bandung

Nysa Dwianditha (2013)

1. Mengetahui faktor perpindahan masyarakat non rumah susun ke rumah susun serta mengetahui perbedaan kondisi sosial ekonomi setelah berpindah ke rumah susun Survei lapangan, wawancara, kuisioner, pengambilan data secara random

sampling serta analisis kuantitatif dan

kualitatif.

1. Lokasi rumah susun yang strategis dan harganya yang relatif murah menjadikan kondisi sosial ekonomi setelah masyarakat berpindah dari non rumah susun ke rumah sususn tidak mengalami perbedaan. 2 Penyesuaian Diri

Penghuni Rumah Susun Terhadap Lingkungan Tempat Tinggal : Khusus Penghuni Rumah Susun Cokrodirjan Yogyakarta Ernawati Purwaningsih (2011) 1. Mengetahui cara penghuni untuk mendapatkan hunian rumah susun. 2. Mengetahui dan menganalisis penyesuaian diri penghuni rumah susun terhadap lingkungan tempat tinggal yang baru. Survei lapangan dengan wawancara. Menggunakan analisis kualitatif dan kuantitatif dengan teknik triangulasi

1. Sebagian besar penghuni rusun beradaptasi by reaction terhadap lingkungan fisik. 2. Adaptasi by reaction

dilakukan mayoritas penghuni terhadap keterbatasan ruang,

penggunaan ruang, tempat menjemur, pemenuhan kebutuhan air minum dan tempat bermain anak.

(15)

15

No Judul Peneliti Tujuan Metode Hasil Penelitian

3. Mengetahui dan menganalisis motivasi penghuni untuk memperoleh tempat tinggal setelah selesai jangka waktu tinggal di rumah susun.

3. Studi Komparasi Karakteristik Kondisi Sosial Ekonomi Penghuni Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Pekunden dan Bandarharjo, Semarang Yunita Trilestari (2013) 1. Mengetahui perbedaan karakteristik kondisi sosial ekonomi

penghuni rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) Pekunden dan Bandarharjo, Semarang. 2. Mengetahui hubungan antar pendapatan dengan alasan memilih tinggal di rumah susun sederhana sewa Survei lapangan, Stratifikasi random sampling, analisis statistik deskriptif 1. Terdapat perbedaan karakteristik kondisi sosial ekonomi penghuni rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) Pekunden dan Bandarharjo, Semarang. 2. Terdapat hubungan antar pendapatan dengan alasan memilih tinggal di rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) Pekunden dan Bandarharjo, Semarang

(16)

16

No Judul Peneliti Tujuan Metode Hasil Penelitian

(Rusunawa) Pekunden dan Bandarharjo, Semarang

4. Kajian Persepsi dan Sikap Partisipasi Masyarakat Terhadap Pembangunan Rumah Susun Sewa (Rusunawa) warga di Kecamatan Jetis Yogyakarta Aris Mustofa Mujiman (2010) 1. Mengetahui persepsi masyarakat terhadap pembangunan rusunawa Jogoyudan di Kecamatan Jetis Yogyakarta. 2. Mengetahui sikap partisipasi masyarakat terhadap pembangunan rusunawa Jogoyudan di Kecamatan Jetis Yogyakarta. 3. Mengetahui bagaimana hubungan antara persepsi masyarakat terhadap pembangunan rusunawa jogoyudan Survei lapangan dengan tahap pemilihan daerah, pemilihan responden, pengumpulan data dan analisis data

1. Tingkat persepsi terhadap pembangunan rusunawa tergolong sedang, karena fasilitas kurang memadahi. 2. Hubungan antar persepsi

dengan tingkat partisipasi cenderung kurang.

(17)

17

No Judul Peneliti Tujuan Metode Hasil Penelitian

dengan sikap partisipasi masyarakat terhadap pembangunan rusunawa jogoyudan 5 Pengembangan Hunian Vertikal di Kota Yogyakarta : Kajian Aspek Lokasi, Ruang dan Perilaku Rini Rachmawati (2014) 1. Mengidentifikasi dan menganalisis lokasi hunian vertikal. 2. Menganalisis pemanfaatan ruang disekitar hunian vertikal. 3. Menganalisis perilaku penggunaan hunian vertikal. 4. Menganalisis kebutuhan pengembangan dan kebijakan pengembangan Indepth interview, observasi lapangan, FGD.

1. Lokasi rusunawa di Kota Yogyakarta berada di tengah kota dengan jarak yang saling berdekatan dan strategis. Tiga dari empat rusunawa yang diteliti berada pada lokasi rawan banjir.

2. Pemanfaatan ruang sekitar rusunawa telah dilengkapi fasilitas yang memadahi seperti tempat parkir, jaringan listrik, air bersih dan drainase. Akan tetapi minim ruang terbuka hijau.

(18)

18

No Judul Peneliti Tujuan Metode Hasil Penelitian

hunian vertikal serta pengelolaannya.

3. Penghuni rusunawa berasal dari warga sekitar sehingga dapat membaur dengan baik di lingkungan sekitar.

4. Kebutuhan pengembangan rusunawa terkendala dengan keterbatasan lokasi.

(19)

19 1.5 Kerangka Pemikiran

Pengembangan rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) merupakan salah satu solusi dari pemerintah untuk menyediakan hunian vertikal yang terjangkau untuk kalangan dengan penghasilan rendah. Perkembangan Kota Yogyakarta yang sangat pesat menyebabkan harga tanah dan rumah melonjak, selain itu ketersediaan lahan permukiman juga sangat terbatas sehingga perlu adanya pembangunan hunian secara vertikal.

Obyek penelitian berada di rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) Ghra Bina Harapan dan Cokrodirjan ini persis berada di pinggir Kali Code. Keterbatasan lahan permukiman di Kota Yogyakarta menyebabkan pembangunan rumah susun tersebut berdiri di lahan yang pemanfaatannya kurang optimal. Sebelum berdirinya rumah susun dahulu di sekitar tempat tersebut terkenal dengan permukiman kumuh dan sekolah dasar yang sedikit muridnya .

Berdasarkan latarbelakang tersebut akan dilakukan penelitian terhadap penghuni bagaimana pemanfaatan rusunawa yang ada serta respon masyarakat terhadap pembangunan rusunawa di sekitar lingkungan tempat tinggal mereka. . Berikut disajikan gambar diagram alir kerangka pemikiran penelitian ini dalam Gambar 1.1

(20)

20

Gambar 1.1 Diagram Alir Kerangka Pemikiran Rusunawa di bantaran Kali

Code Kota Yogyakarta

Rusunawa Ghra Bina Harapan Rusunawa Cokrodirjan Pemanfaatan unit rusunawa oleh penghuni

Masyarakat yang tinggal di sekitar rusunawa (RW yang masih berbatasan langsung)

Respon masyarakat terhadap keberadaan

rusunawa Penghuni dengan

masa huni kurang dari tiga tahun

Penghuni dengan masa huni lebih

dari tiga tahun

Respon masyarakat pemangku jabatan terhadap keberadaan rusunawa Pemanfaatan rusunawa Respon masyarakat di sekitar rusunawa

Figur

Tabel 1.1 Keaslian Penelitian

Tabel 1.1

Keaslian Penelitian p.14
Gambar 1.1 Diagram Alir Kerangka Pemikiran Rusunawa di bantaran Kali

Gambar 1.1

Diagram Alir Kerangka Pemikiran Rusunawa di bantaran Kali p.20

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :