• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

6 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Kebijakan Publik

Kebijakan yang dimaksud disini adalah kebijakan publik atau kebijakan umum. Merumuskan kebijakan publik adalah kebijakan yang menyangkut masyarakat umum. Kebijakan publik ini adalah bagian dari keputusan politik, keputusan politik itu sendiri adalah pilihan terbaik dari berbagai bentuk alternatif mengenai urusan-urusan yang menjadi kewenangan pemerintahan (Ekowati :2004 : 1). Sebuah kebijakan merupakan produk dari sebuah keputusan, seperti yang diungkapkan oleh pakar Inggris, W.I Jenskin (1978 : 15), (Wahab 2012 : 15) kebijakan publik adalah “A set of interrelated decisions taken by a political actor or group of actors concerning the selection of goals and the means of achieving them within a specified situation where theese decisions should,in principle, be within the power of theese actors to achieve” (serangkaian keputusan yang saling berkaitan yang diambil oleh seorang aktor politik atau sekelompok aktor, berkenaan dengan tujuan yang telah dipilih beserta cara-cara untuk mencapainya dalam suatu situasi. Keputusan-keputusan itu pada prinsipnya masih berada dalam batas-batas kewenangan kekuasaan dari para aktor tersebut).

Salah satu tahapan penting dalam siklus kebijakan publik adalah implementasi kebijakan. Implementasi sering dianggap hanya merupakan pelaksanaan dari apa yang telah diputuskan oleh legislatif atau para pengambil keputusan. Akan tetapi dalam kenyataannya, tahapan implementasi menjadi begitu penting karena suatu kebijakan tidak akan berarti apa-apa jika tidak dapat dilaksanakan dengan baik dan benar. Dengan kata lain implementasi merupakan tahap dimana suatu kebijakan dilaksanakan secara maksimal dan dapat mencapai tujuan kebijakan itu sendiri.

Implementasi merupakan sebuah penempatan ide, konsep, kebijakan, atau inovasi dalam suatu tindakan praktis sehingga memberikan dampak, baik berupa perubahan pengetahuan, keterampilan maupun nilai dan sikap. Dalam Oxford Advance Leaner Dictionary dikemukakan bahwa implementasi adalah

(2)

7 put something into effect yang artinya adalah penerapan sesuatu yang

memberikan efek atau dampak ( Susilo, 2007:174).

Menurut Pressman dan Wildavsky, implementasi dimaknai dengan beberapa kata kunci sebagai berikut: untuk menjalankan kebijakan (to carry out), untuk memenuhi janji-janji sebagaimana dinyatakan dalam dokumen kebijakan (to fulfill), untuk menghasilkan output sebagaimana dinyatakan dalam tujuan kebijakan (to produce), untuk menyelesaikan misi yang harus diwujudkan dalam tujuan kebijakan (to complete) (Erwan & Dyah, 2012:20). Implementasi merupakan aspek yang penting dalam keseluruhan proses kebijakan dan merupakan suatu upaya untuk mencapai tujuan tertentu dengan sarana dan prasarana tertentu dan dalam urutan waktu tertentu. Pada dasarnya implementasi kebijakan adalah upaya untuk mencapai tujuan yang sudah ditentukan melalui program-program agar dapat terpenuhi pelaksanaan kebijakan itu.

2.2 Konsep Kemiskinan

Menurut Todaro (2002), salah satu anggapan sederhana mengenai penduduk miskin adalah mereka pada umumnya tinggal didaerah-daerah pedesaan , dengan matapencaharian pokok dibidang pertanian dan kegiatan-kegiatan lainnya yang erat hubungannya dengan sektor ekonomi tradisional.

Kondisi masyarakat yang disebut miskin dapat diketahui berdasarkan kemampuan pendapatan dalam memenuhi standar hidup (Nugroho, 1995). Pada prinsipnya, standar hidup disuatu masyarakat tidak sekedar tercukupinya kebutuhan akan pangan, akan tetapi juga tercukupinya kebutuhan akan kesehatan maupun pendidikan. Tempat tinggal maupun pemukiman yang layak merupakan salah satu dari standar hidup atau standar kesejahteraan masyarakat di suatu daerah. Berdasarkan kondisi ini, suatu masyarakat disebut miskin apabila memiliki pendapatan jauh lebih rendah dari rata-rata pendapatan sehingga tidak banyak memiliki kesempatan untuk mensejahterakan dirinya (Suryawati, 2004).

Pengertian ”Miskin” menurut kamus yang disusun oleh WJS Porwadarmita, berarti ”tidak berharta benda, serba kurang”. Sementara The Concise Oxford Dictionary memberikan devinisi ”poor ” sebagai ”Lacking

(3)

8 adequate money or to live comfortably”. Dari kedua pengertian tersebut jelas

sekali bahwa pengertian kemiskinan tidak semata-mata berhubungan dengan uang saja. Pengertian harta benda lebih luas dari sekedar uang. Demikian juga hainya dengan “means to live comfortably”(Tjiptoheriyanto, 1996 :109). Kemiskinan disamping merupakan masalah yang muncul dalam masyarakat bertalian dengan pemilikan faktor produksi, produktifitas dan tingkat perkembangan masyarakat sendiri, juga bertalian dengan kebijakan pembangunan nasional yang dilaksanakan. Dengan kata lain, masalah kemiskinan ini bisa selain ditimbulkan oleh hal yang sifatnya alamiah/cultural juga disebabkan oleh miskinnya strategi dan kebijakan pembangunan yang ada. (Selo Sumardjan, 1980 dalam Arsyad, 2004:238).

Suharto (2010: 142 – 143) menyatakan bahwa persoalan kemiskinan mempunyai dampak negatif yang bersifat menyebar (multiplier effects) terhadap tatanan masyarakat secara menyeluruh. Banyak studi yang menunjukan bahwa kemiskinan merupakan muara dari masalah-masalah sosial lainnya seperti; anak jalanan, pekerja anak, kekerasan rumah tangga, kebodohan, pengangguran bahkan kerawanan sosial.

Relasi tersebut dapat dideskripsikan dalam skema lingkar perangkap kemiskinan berikut:

Gambar 2.1 Lingkar Perangkap Kemiskinan

(4)

9 2.3 Konsep Evaluasi Kebijakan

Istilah evaluasi memiliki arti yang berhubungan pada beberapa skala nilai terhadap hasil kebijakan dan program. Secara umum evaluasi dapat disamakan dengan penaksiran, pemberian angka, dan penilaian. Dalam arti yang lebih spesifik, evaluasi berkenaan dengan produksi informasi mengenai nilai atau manfaat hasil kebijakan. Ketika hasil kebijakan pada kenyataannya mempunyai nilai dapat dikatakan bahwa kebijakan atau program telah mencapai tingkat kinerja yang bermakna, yang berarti bahwa masalah-masalah kebijakan dibuat jelas atau diatasi (William Dunn, 2003: 608).

Pengertian evaluasi kebijakan secara lengkap mencakup tiga pengertian, yaitu: (1) evaluasi awal, yaitu dari proses perumusan kebijakan sampai saat sebelem diimplementasikan (ex-ante evaluation), (2) evaluasi dalam proses implementasi atau monitoring, (3) evaluasi akhir yang dilakukan setelah selesai proses implementasi kebijakan (ex-post evaluation) (Deddy Mulyadi,2015:86)

Subarsono (2005: 120-121) menyatakan evaluasi kebijakan bertujuan untuk:

1. Menentukan tingkat kinerja suatu kebijakan. Melalui evaluasi maka dapat diketahui derajad pencapaian tujuan dan sasaran kebijakan. 2. Mengukur tingkat efisiensi kebijakan. Dengan evaluasi juga dapat

diketahui berapa biaya dan manfaat dari suatu kebijakan.

3. Mengukur tingkat keluaran suatu kebijakan. Salah satu tujuan evaluasi adalah mengukur seberapa besar dan kualitas pengeluaran atau output dari suatu kebijakan.

4. Mengukur dampak suatu kebijakan baik yang positif maupun negatif.

5. Mengetahui apabila terjadi penyimpangan dengan membandingkan antara tujuan dan sasaran dengan pencapaian target.

(5)

10 2.3.1 Kriteria Evaluasi

Ada beberapa kriteria di dalam evaluasi kebijakan menurut William Dunn (2003:610) yaitu sebagai berikut:

Tabel 2.1 Kriteria Evaluasi

TIPE KRITERIA PERTANYAAN

Efektifitas Apakah hasil yang diinginkan telah tercapai?

Efisiensi Seberapa banyak usaha diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan?

Kecukupan Seberapa jauh pencapaian hasil yang diinginkan memecahkan masalah?

Perataan Apakah biaya dan manfaat

didistribusikan dengan merata kepada kelompok-kelompok yang berbeda?

Responsivitas Apakah hasil kebijakan memuaskan kebutuhan, preferensi atau nilai kelompok-kelompok tertentu?

Ketepatan Apakah hasil yang diinginkan benar-benar berguna atau bernilai?

Sumber: Dunn, William N. 2003. Hal : 610

Beberapa kriteria keputusan yang digunakan dalam pemecahan kebijakan. Kriteria keputusan terdiri dari enam tipe utama (William Dunn, 2003: 429-438), yaitu:

1. Efektifitas, berkenaan dengan apakah suatu alternatif mencapai hasil yang diharapkan, atau mencapai tujuan dari diadakannya tindakan. Efektifitas

(6)

11 yang berkaitan dengan rasionalitas teknis selalu diukur dari unit produk atau layanan atau nilai moneternya.

2. Efisiensi, berkenaan dengan jumlah usaha yang diperlukan untuk menghasilkan tingkat efektifitas tertentu.

3. Kecukupan, berkenaan dengan seberapa jauh suatu tingkat efektifitas memuaskan kebutuhan, nilai atau kesempatan yang menumbuhkan adanya masalah. Kriteria kecukupan menekankan pada kuatnya hubungan antara alternatif kebijakan dengan hasil yang diharapkan.

4. Kesamaan (perataan), erat berhubungan dengan konsepsi yang saling bersaing, yaitu keadilan atau kewajaran.

5. Responsivitas, seberapa jauh kebijakan dapat memuaskan kebutuhan, preferensi atau nilai kelompok-kelompok masyarakat tertentu.

6. Ketepatan, merujuk pada nilai atau harga dari tujuan program dan kepada kuatnya asumsi yang melandasi tujuan tersebut.

Evaluasi terhadap implementasi kebijakan pada dasarnya dilakukan untuk melihat pengaruh atau dampak sebuah kebijakan. Sehingga jelas yang menjadi fokus dalam evaluasi kebijakan publik adalah dampak atau efek yang akan ditimbulkan dari sebuah kebijakan.

Evaluasi kebijakan publik dibagi menjadi tiga, menurut waktu evaluasi, yaitu, sebelum dilaksanakan, pada waktu dilaksanakan dan setelah pelaksanaan. William Dunn menyebut evaluasi sebelum pelaksanaan sebagai evaluasi summatif, evaluasi pada waktu pelaksanaan disebut evaluasi proses, dan evaluasi setelah kebijakan yang juga disebut evaluasi konsekuensi kebijakan dan evaluasi impak atau pengaruh kebijakan (Riant Nugroho, 2004) . Evaluasi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah evaluasi proses.

2.3.2 Fungsi Evaluasi

Fungsi dari evaluasi kebijakan (Dunn, 2003:610) adalah:

1. Evaluasi memberikan informasi yang valid mengenai kinerja kebijakan. Yaitu, seberapa jauh kebutuhan, nilai dan kesempatan telah dapat dicapai melalui tindakan publik.

(7)

12 2. Evaluasi memberi sumbangan pada klarifikasi dan kritik terhadap nilai-nilai

yang mendasari pemilihan tujuan dan target. Nilai diperjelas dengan mengidentifikasikan dan mengoprasikan tujuan dan target. Nilai juga dikritik dengan menanyakan secara sistematis kepantasan tujuan dan target dalam hubungan dengan masalah yang dituju. Dalam menanyakan kepantasan tujuan dan sasaran, analisis dapat menguji alternatif sumber nilai (kelompok kepentingan, pegawai negeri, kelompok-kelompok klien), maupun landasan mereka dalam berbagai bentuk rasionalitas (teknis, ekonomis, legal, sosial, dan substantif).

3. Evaluasi memberi sumbangan pada aplikasi metode-metode analisis kebijakan lainnya, termasuk perumusan masalah dan rekomendasi. Informasi tentang tidak memadainya kinerja kebijakan dapat memberi sumbangan pada perumusan ulang masalah kebijakan, sebagai contoh dengan menunjukkan bahwa tujuan dan target perlu didefinisi ulang. Evaluasi dapat pula menyumbang pada definisi alternatif kebijakan yang baru atau revisi kebijakan dengan menunjukkan bahwa alternatif kebijakan yang diunggulkan sebelumnya perlu dihapus dan diganti dengan yang lain. Evaluasi terhadap hasil implementasi kebijakan dilakukan untuk melihat pengaruh atau dampak kebijakan, sejauh mana kebijakan mampu mengurangi atau mengatasi masalah.

2.4 Program Keluarga Harapan (PKH)

2.4.1. Pengertian Program Keluarga Harapan (PKH)

Program Keluarga Harapan yang selanjutnya disebut PKH adalah program pemberian bantuan sosial yang bersyarat kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang ditetapkan sebagai keluarga penerima manfaat PKH. Sebagai upaya percepatan penanggulangan kemiskinan, sejak tahun 2007 Pemerintah Indonesia telah melaksanakan Program Keluarga Harapan.

PKH merupakan program Kementrian Sosial yang kemudian dilaksanakan pada setiap daerah dibawah Dinas Sosial yang merupakan bantuan dan perlindungan sosial yang termasuk dalam klaster I strategi penanggulangan kemiskinan di Indonesia yang berkaitan dengan pendidikan,

(8)

13 kesehatan dan pemenuhan dasar bagi lansia dan penyandang disabilitas berat. Pelaksanaan PKH juga mendukung pencapaian tujuan Pembangunan Millenium. Lima kompenen tujuan Millenium Development Goals (MDGs) yang akan terbantu oleh PKH yaitu: pengurangan penduduk miskin dan kelaparan, pendidikan dasar, kesetaraan gender, pengurangan angka kematian bayi dan balita, pengurangan angka kematian ibu melahirkan.1

Tujuan umum Program Keluarga Harapan (PKH) adalah Untuk mengurangi angka kemiskinan dan memutus mata rantai kemiskinan, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta merubah perilaku RTM yang relatif kurang mendukung peningkatan kesejahteraan, terutama pada kelompok RTM. Tujuan khusus PKH meliputi empat hal yaitu:

a. Meningkatkan status sosial ekonomi RTM.

b. Meningkatkan status kesehatan dan gizi ibu hamil, ibu nifas, dan anak balita dan anak usia 5-7 tahun yang belum masuk sekolah dasar.

c. Meningkatkan akses dan kualitas pelayanan pendidikan dan kesehatan, khususnya bagi anak-anak RTM .

d. Meningkatkan taraf pendidikan dan kesehatan anak-anak RTM.2

2.4.2 Sasaran Penerima Program Keluarga Harapan (PKH)

Sasaran PKH merupakan keluarga miskin dan rentan yang terdaftar dalam data terpadu program penanganan fakir miskin yang memiliki komponen kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan sosial. 3

2.4.3 Kriteria Komponen Program Keluarga Harapan Kriteria komponen PKH adalah sebagai berikut: a. Kriteria komponen kesehatan meliputi,

1) Ibu hamil/menyusui, dan

2) Anak berusia 0 (nol) sampai dengan 6 (enam) tahun.

1

TNP2K, Panduan Umum, Program Keluarga Harapan meraih Keluarga Sejahtera, (Jakarta: Kementrian Sosial RI, 2017) hlm. 1

2

Ibid. Hlm. 5

3

(9)

14 b. Kriteria komponen pendidikan meliputi;

1) Anak SD/MI atau sederajat, 2) Anak SMP/MTs atau sederajat, 3) Anak SMA/ MA atau sederajat, dan

4) Anak usia 6 (enam) sampai dengan usia 21 (dua puluh satu) tahun yang belum menyelesaikan wajib belajar 12 (dua belas) tahun.

c. Kriteria komponen kesejahteraan sosial meliputi;

1) Lanjut usia mulai dari 60 (enam puluh tahun); dan 2) Penyandang disabilitas berat.4

2.4.4. Hak dan Kewajiban Keluarga Penerima Manfaat PKH 2.4.4.1 Hak Keluarga Penerima Manfaat

Keluarga Penerima Manfaat berhak mendapatkan : a) Menerima bantuan sosial,

b) Pendampingan sosial,

c) Pelayanan difasilitas kesehatan , pendidikan dan kesejahteraan sosial, dan

d) Program bantuan komplementer dibidang pangan, kesehatan pendidikan, subsidi energi, ekonomi, perumahan, aset kepemilikan tanah dan bangunan dan pemenuhan kebutuhan dasar lainnya.

2.4.4.2 Kewajiban Peserta PKH

Kewajiban peserta PKH terdiri atas;

a) Anggota keluarga memeriksakan kesehatan pada fasilitas pelayanan kesehatan sesuai dengan protokol kesehatan bagi ibu hamil/menyusui dan anak berusia 0 (nol) sampai dengan 6 (enam) tahun,

b) Anggota keluarga mengikuti kegiatan belajar dengan tingkat kehadiran paling sedikit 85% (delapa puluh lima persen) dari hari belajar efektif bagi anak usia sekolah wajib belajar 12 (dua belas) tahun, dan

4

(10)

15 c) Anggota keluarga mengikuti kegiatan dibidang kesejahteraan

sosial sesuai kebutuhan bagi keluarga yang memiliki komponen lanjut usia mulai dari 60 (enam puluh) tahun dan/atau penyandang disabilitas berat.

d) KPM hadir dalam pertemuan kelompok atau Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) setiap bulan.5

2.4.5 Proses Program Keluarga Harapan (PKH)

Proses pelaksanaan Keluarga Harapan dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

Gambar 2.2 Proses Program Keluarga Harapan

Sumber: Pedoman Pelaksanaan PKH Keterangan:

1. Target PKH adalah Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM)

2. Recruitment pendamping dan operator. Pendamping kemudian melakukan sosialisasi kepada calon peserta PKH

3. Pendamping melakukan validasi data yang diperoleh dari UPPKH Pusat kemudian mengembalikan data itu kembali ke UPPKH Pusat

5

(11)

16 4. Penerima peserta PKH yang sesuai kriteria PKH. Peserta PKH kemudian

menerima kartu PKH

5. Penerimaan dana PKH. Peserta yang dapat mengambil adalah ibu yang menjadi anggota PKH dengan menunjukan kartu PKH dan tidak dapat diwakilkan untuk pengambilan langsung ke kantor pos terdekat

6. Verifikasi data dilakukan pendamping setiap 3 bulan sekali untuk mengecek perubahan data peserta PKH

7. Pemutakhiran data dilakukan operator dengan mengirimkan data para peserta PKH yang telah diverifikasi kepada UPPKH Pusat. Data tersebut dijadikan acuan untuk menentukan besarnya dana PKH tahap selanjutnya 8. Bagi peserta maupun non peserta PKH yang memiliki pertanyaan atau

pengaduan terkait pelaksanaan PKH baik disampaikan secara langsung kepada koordinator peserta, pendamping, kantor UPPKH kabupaten maupun secara tertulis

9. Pelaksanaan PKH dilapangan di monitoring dan permasalahan yang terjadi di lapangan selanjutnya dijadikan bahan evaluasi untuk perbaikan di masa yang akan datang.

2.4.6 Besaran Bantuan PKH

Besaran bantuan untuk setiap peserta PKH mengikuti skenario bantuan pada tabel dibawah ini :

Tabel 2.2 Besaran Bantuan PKH

Sumber: Keputusan Dinas Sosial RI

NO Komponen Bantuan Indeks Bantuan

1 Bantuan Ibu hamil/menyusui Rp. 1.200.000 2 Bantuan anak usia dibawah 6 tahun Rp. 1.200.000 3 Bantuan peserta pendidikan setara

SD/Sederajat

Rp. 450.000

4 Bantuan peserta pendidikan setara SMP/Sederajat

Rp. 750.000 5 Bantuan peserta pendidikan setara

SMA/Sederajat

Rp. 1.000.000 6 Bantuan Penyandang disabilitas berat Rp. 3.100.000 7 Bantuan lanjut usia 70 tahun keatas Rp. 1.900.000

(12)

17 Dari tabel 2.2 diatas dapat diketahui besaran tiap komponen. Apabila besar bantuan yang diterima RTM melebihi batas maksimum/dalam satu kelurga memiliki lebih dari 4 komponen penerima bantuan (bantuan minimum per RTM Rp. 600.000, bantuan maksimum per RTM Rp. 2.200.000) maka bantuan yang diberikan adalah komponen yang menerima bantuan dengan nominal paling besar.6 Pembayaran bantuan dilakukan dalam dua sampai empat tahap dalam satu tahun yang dijadwalkan untuk dilakukan pada bulan Maret–Juni– September– November. Hal ini merupakan ketentuan dari pemerintah pusat. Jadwal pembayaran di masing-masing kecamatan yang diputuskan oleh Unit Pengelola Program Keluarga Harapan (UPPKH) Kabupaten/Kota setelah berkoordinasi dengan Lembaga Pembayaran.

2.5 Penelitian Terdahulu

Guna mendukung penelitian yang dilakukan oleh peneliti, maka peneliti melakukan tinjauan pustaka terhadap penelitian-penelitian terdahulu yang memiliki kemiripan tema dengan penelitian ini, sebagaiamana berikut :

1. Slamet Riyadi (2016) dalam tesisnya yang berjudul “Analisis Implementasi Program Keluarga Harapan (PKH) Terhadap Keluarga Sangat Miskin (KSM) Penerima Bantuan (Studi di Kecamatan Gunung Sugih Kabupaten Lampung Tengah”, hasil penelitian menunjukan implementasi PKH di Kecamatan Gunung Sugih tahun 2011 – 2014 telah berjalan sesuai ketentuan PKH. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif.

2. Lusan Solekhati (2014) dalam skripsinya yang berjudul “Evaluasi Implementasi Kebijakan PKH (program Keluarga Harapan) Studi Kasus Kebijakan PKH di Desa Tepus, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta”, dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan menggunakan studi kasus. Hasil dari penelitian ini mengemukakan bahwa desain implementasi PKH sudah terbukti berhasil, namun ada beberapa hambatan yang dialami salah satunya adalah warga Tepus yang

6

TNP2K, Panduan Umum, Program Keluarga Harapan meraih Keluarga Sejahtera, (Jakarta: Kementrian Sosial RI, 2017) hlm. 9

(13)

18 lokasinya berada jauh kesulitan mengenai akses pendidikan dan kesehatan. Juga para pendamping yang belum melaksanakan beberapa fungsi vitalnya yaitu meyadarkan RTSM akan pentingnya pendidikan dan kesehatan.

3.

Rani Isnani (2018),dalam skripsinya yang berjudul “Evaluasi Program Keluarga Harapan (PKH) di Desa Karang Rejo KecamatanNegeri Katon Kabupaten Pesawaran”. Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah tipe penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Program Keluarga Harapan di Desa Karang Rejo telah mendorong munculnya perubahan (domain perubahan individu) pada Keluarga Penerima manfaat baik yang bersifat positif maupun negatif. Dilihat dari dampak positifnya, Keluarga Penerima Manfaat telah mengalami perubahan kea rah yang lebih baik dibidang kesehatan dan pendidikan, dan juga kesejahteraan sosial bagi lansia. Meskipun negatifnya ialah tidak patuhnya peserta pada komitmen pendidikan dan kesehatan serta mental masyarakat yang sulit diubah. 4. Nanda Nadilia dan Tauran (2016), dalam jurnal yang berjudul “Evaluasi

Program Keluarga Harapan (PKH) di Desa Lundo Kecamatan Benjeng Kabupaten Gresik”. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa evaluasi PKH di Desa Lundo Kecamatan Benjeng Kabupaten Gresik sudah berjalan dengan baik walaupun secara umum masih ada masyarakat yang belum mentas dari bantuan. Dalam hal ini, perlu adanya pembinaan kembali setelah peserta PKH mentas dari bantuan tersebut. Saran kepada UPPKH agar mengoptimalkan pendamping, memaksimalkan fungsi dan tugas pelaksana kebijakan, memberikan pembinaan dan pelatihan keterampilan kepada KSM, serta memberikan mindset kepada peserta ataupun non peserta akan pentingnya pendidikan dan kesehatan anak

5. Distanti Ayuningtias dan Tjitjik Rahayu (2018), dalam jurnal yang berjudul “Evaluasi Program Keluarga Harapan (PKH) di Desa Ngepung Kecamatan Lengkong Kabupaten Nganjuk”, Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah 147 dengan jumlah responden dalam

(14)

19 penelitian ini adalah 107. Variabel dalam penelitian ini yaitu evaluasi PKH di Desa Ngepung, dengan enam indikator kriteria evaluasi menurut William N.Dunn yaitu efektifitas, efiensi, kecukupan, perataan, responsivitas, dan ketepatan. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan pembagian angket, wawancara dan observasi. Teknik analisis data kuantitatif dilakukan dengan cara pengolahan data, pengoorganisasian data dan penemuan hasil. Hasil penelitian ini diperoleh persentase rata-rata pada keseluruhan indikator sebesar 80,6% atau berada pada kategori sangat baik, artinya bahwa evaluasi PKH di Desa Ngepung telah menghasilkan pelaksanaan yang sesuai dengan yang diharapkan.

Dari beberapa hasil penelitian terdahulu yang membedakan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah, dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif, mengevaluasi pelaksanaan Program Keluarga Harapan (PKH) dengan indikator evaluasi menurut William Dunn yang terdiri dari Efektifitas, Efisiensi, Kecukupan, Perataan, Responsivitas dan juga Ketepatan. Kemudian dari objek penelitian dan waktu penelitian yang berbeda.

2.6 Kerangka Pikir

Berkaitan dengan upaya penanggulangan kemiskinan di Indonesia, pemerintah membuat sebuah program yang disebut sebagai Program Keluarga Harapan (PKH). Sasaran Program Keluarga Harapan merupakan Rumah Tangga Sangat Miskin dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan dan juga kesejateraan sosial. Program Keluarga Harapan (PKH) dilaksanakan di seluruh kabupaten dan kota yang ada di Indonesia. Dalam pelaksanaannya Program Keluarga Harapan (PKH) perlu diukur tingkat keberhasilannya dengan menggunakan kriteria evaluasi menurut William Dunn, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar kerangka pikir dibawah ini:

(15)

20 Gambar 2.3 Kerangka Pikir Penelitian

2.7 Hipotesis Penelitian

Hipotesis penelitian merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian. Hipotesis dalam penelitian ini adalah:

a. = 60%

= tingkat keberhasilan pelaksanaan Program Keluarga Harapan di Kecamatan Argomulyo Kota Salatiga paling tinggi atau sama dengan 60%

b. = 60%

= tingkat keberhasilan pelaksanaan Program Keluarga Harapan di Kecamatan Argomulyo Kota Salatiga paling rendah 60%

Program Penanggulangan Kemiskinan Program Keluarga Harapan (PKH) Tingkat Keberhasilan Pelaksanaan PKH Evaluasi Kebijakan Menggunakan indikator Evaluasi William Dunn :

- Efektivitas - Efisiensi - Kecukupan - Perataan - Responsivitas - Ketepatan Pelaksanaan Program Keluarga Harapan di Kecamatan Argomulyo

Gambar

Gambar 2.1 Lingkar Perangkap Kemiskinan
Tabel 2.1 Kriteria Evaluasi
Gambar 2.2 Proses Program Keluarga Harapan
Tabel 2.2 Besaran Bantuan PKH

Referensi

Dokumen terkait

barbirostris yang Tertangkap Permalam (MBR) di Dalam dan di Luar Rumah Pada Bulan Juli - Oktober 2011 di Kabupaten Sumba Tengab. ~ Media Litbang Kesehatan Volume 22 Nomor

Masa Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan adalah jangka waktu 1 (satu) bulan kalender atau jangka waktu lain yang diatur dengan Peraturan Bupati paling lama

Pada gambar tersebut kondisi pembu- atan pelet membran rapat LSCF ditunjukkan dengan angka xyz, di mana x menunjukkan tekanan yang diberikan saat mencetak membran, y adalah suhu

Berdasarkan uraian diatas, Balai Irigasi Pusat Litbang Sumber Daya Air merasa perlu melakukan percobaan penerapan model jaringan irigasi perpipan pada skala lapangan,

Lusi Fausia, M.Ec yang telah membimbing dan memberikan masukan kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Kelayakan Usaha Penyulingan Minyak

Staf Badan Kelengkapan merupakan perwakilan individu dari masing-masing anggota ILMPI yang dipilih dengan mekanisme yang ditentukan oleh Pengurus Harian Nasional

 Prinsip: memeriksa berat jenis urine dengan alat urinometer  Tujuan: mengetahui kepekatan urine.  Alat

Hasil analisa iodine number menunjukkan bahwa metode gas-treatment horizontal lebih baik dibandingkan dengan metode gas-treatment vertical dan dengan dominan waktu aktivasi yang