• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 - Sistem Pengisian dan Pengukuran Level Minyak pada Tangki Minyak Pertamina Bebasis Wireless Sensor Network (WSN) - POLSRI REPOSITORY

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 - Sistem Pengisian dan Pengukuran Level Minyak pada Tangki Minyak Pertamina Bebasis Wireless Sensor Network (WSN) - POLSRI REPOSITORY"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

6

Layanan mobile broadband terus berkembang seiring dengan meningkatnya mobilitas masyarakat dalam beraktivitas serta kebutuhan layanan internet. Berbagai teknologi seluler terus dikembangkan mulai dari GSM/GPRS/EDGE (2G), UMTS/HSPA (3G), dan teknologi LTE. LTE adalah standar terbaru dalam teknologi jaringan seluler dibandingkan GSM/EDGE dan UMTS/HSPA. LTE adalah sebuah nama baru dari layanan yang mempunyai kemampuan tinggi dalam sistem komunikasi bergerak yang merupakan langkah

menuju generasi ke-4 (4G) dari teknologi radio yang dirancang untuk meningkatkan kapasitas dan kecepatan jaringan telepon mobile. LTE adalah suatu proyek dalam third generation partnership project (3GPP). Evolusi jaringan seluler sampai ke teknologi LTE ditunjukkan pada Gambar 2.1.

Gambar 2.1 Evolusi Jaringan Seluler (Sumber : Krisnadi)

Pada Gambar 2.1 dapat dilihat bahwa LTE merupakan evolusi dari

(2)

1. Kebutuhan akan pengembangan jaringan 3G dalam waktu yang akan datang.

2. Kebutuhan pelanggan akan kecepatan data yang tinggi dan quality of service(QOS).

3. Pengembangan teknologipacket switching.

4. Mengurangi biaya operasional karena arsitektur jaringan yang sederhana.

2.1.1 Karateristik Jaringan 4G

Teknologi jaringan wireless 4G dapat terwujud dengan menggunakan jaringan inti berbasis IP dengan global routing dan dapat disesuaikan dengan kondisi jaringan akses radio lokal yang mendukung fitur-fitur seperti dynamic handoff, adhoc routing, QoS, multicasting, content caching, dan sebagainya. Agar

pembangunan jaringan dengan teknologi 4G berlangsung dengan sukses, sangat penting bagi kita untuk mendefinisikan visi untuk layanan dan aplikasi 4G yang secara efektif dapat memenuhi keinginan pengguna. Visi yang sesuai dengan kebutuhan pengguna seperti ini tercantum dibawah ini :

a. Broadband: Pengguna menginginkan dapat mengirim dan menerima segala jenis informasi seperti gambar, suara, video, dan data dalam bentuk file besar dimana saja dan kapan saja. Oleh karena itu dibutuhkan 100 MHz bagi setiap operator untuk layanan data, suara, video pada teknologi 4G. b. Mobilitas: Dengan teknologi 4G, pengguna menginginkan mobilitas,

(3)

c. Roaming antar berbagi jenis jaringan: Jika kita bergerak dari suatu tempat ketempat lain sambil menikmati layanan jaringan wireless, kita menginginkan dapat melakukan handoff secara otomatis dan cepat tanpa terputus antar berbagi jenis jaringan.

d. Konvergensi: Pengguna menginginkan dapat mengakses jaringan dari berbagai jenis platform: telepon seluler, notebook, dan PDA.

e. Efisien: Agar lebih efisien, teknologi 4G menggunakan spektrum secara efisien, sehingga dapat membawa lebih banyak data dengan biaya lebih efisien.

f. Harmonisasi: Didunia ini terdapat berbagai macam jenis jaringan yang melayani pengguna yang mungkin menggunakan berbagai macam jenis teknologi. Tujuan teknologi 4G adalah membangun teknologi jaringan dengan kapasitas tinggi, kualitas tinggi, dan dapat berinteroperability antar jaringan broadband sehingga dapat membawa berbagai jenis konten yang diinginkan pengguna.

2.1.2 Kelebihan yang ditawarkan LTE

LTE menawarkan beberapa keunggulan dan keuntungan bagi pelanggan dan pihak operator jaringan, yaitu :

1. Efisiensi spektrum dan throughput yang tinggi, LTE menggunakan OFDM pada arah downlink, dimana teknik ini tahan terhadap interferensi akibat lintasan jamak dan menggunakan single-carrier- FDMA (SC-FDMA) pada arah uplink yang memiliki peak average power ratio (PAPR) rendah. Selain itu LTE juga mendukung antena multiple input multiple output(MIMO) yang dapat meningkatkan BER danbit rate.

2. Latency yang rendah, jaringan LTE memiliki setup time dan transfer delay yang sangat rendah, serta waktuhandoveryang rendah.

(4)

4. Memiliki arsitektur jaringan yang sederhana, hanya ada eNodeB padaevolved UMTS terrestrial radio access(E-UTRAN).

5. Kompatibel dengan teknologi 3GPP sebelumnya dan teknologi lainnya.

6. Mendukung frequency division duplex (FDD) dan time division duplex (TDD).

2.2 Arsitektur Jaringan 4G Long Term Evolution

Arsitektur jaringan LTE dirancang untuk tujuan mendukung trafik packet switching dengan mobilitas tinggi, quality of service(QOS), dan latency yang kecil. Pendekatan packet switching ini memperbolehkan semua layanan termasuk layanan

voice menggunakan koneksi paket. Oleh karena itu pada arsitektur jaringan LTE dirancang sesederhana mungkin, yaitu hanya terdiri dari dua node yaitu eNodeB dan mobility management entity/gateway (MME/GW).

Hal ini sangat berbeda dengan arsitektur teknologi GSM dan UMTS yang memiliki struktur lebih kompleks dengan adanya radio network controller (RNC). Beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dengan hanya adanya single node pada jaringan akses adalah pengurangan latency dan distribusi beban proses RNC untuk beberapa eNodeB. Pengeliminasian RNC pada jaringan akses memungkinkan karena LTE tidak mendukung soft handover.

(5)

Semua interface jaringan pada LTE adalah berbasis internet protocol (IP). eNodeB saling terkoneksi dengan interface X2 dan terhubung dengan MME/SGW melalui interface S1 seperti yang ditunjukkan oleh Gambar 2.2. Pada LTE terdapat 2logical gateway, yaitu serving gateway (S-GW) dan packet data network gateway (P-GW). S-GW bertugas untuk melanjutkan dan menerima paket ke dan dari eNodeB yang melayani user equipment (UE). P-GW menyediakan interface dengan jaringan packet data network (PDN), seperti internet dan IMS. Selain itu PGW juga melakukan beberapa fungsi lainnya, seperti alokasi alamat, packet filtering, dan routing.

Dari gambar di atas, dapat dilihat bahwa E-UTRAN sangat fleksibel. Satu eNodeB dapat berhubungan dengan MME/UPE yang manapun, tidak seperti NodeB yang hanya dapat berhubungan dengan satu RNC. Sedangkan arsitektur lengkap LTE ada pada dibawah ini:

a. eNodeB Jaringan akses pada LTE terdiri dari satu elemen, yaitu eNodeB. eNodeB (eNB) merupakan interface dengan UE (User Equipment). eNodeB berfungsi untuk Radio Resource Management (RRM) dan sebagai transceiver. Sebagai RRM, fungsi eNodeB adalah untuk mengontrol dan mengawasi pengiriman sinyal yang dibawa oleh sinyal radio, berperan dalam autentikasi atau mengontrol kelayakan data yang akan melewati eNodeB, dan untuk mengatur scheduling.

b. Mobility Management Entity (MME) dapat dianalogikan sebagai MSC pada jaringan GSM. MME adalah node-kontrol utama pada jaringan akses LTE. Ia bertanggung jawab untuk prosedur paging untuk idlemode UE termasuk retransmisi. MME juga bertanggung jawab dalam prosesaktivasi/deaktivasi dan autentikasi user (dengan bantuan HSS). MME juga berfungsi untuk mengatur handover, yaitu memilih MME lain untuk handover dengan MME lain, atau memilih SGSN untuk handover dengan jaringan akses 2G/3G.

c. Serving Gateway (SGW) SGW terdiri dari dua bagian, yaitu 3GPP

(6)

paket data yang berasal dari jaringan 3GPP, sedangkan SAE Anchor berfungsi sebagai gateway jaringan non-3GPP. SGW merutekan dan memforward paket datauser, sambil juga berfungsi sebagai mobility anchor saat handover antar eNodeB dan untuk menghubungkan LTE dengan jaringan lain yang sudah ada.

d. Home Subscriber Server (HSS) HSS adalah database utama yang ada pada jaringan LTE. HSS adalah sebuah super HLR yang mengkombinasikan fungsi HLR sebagai database dan AuC sebagai autentikasi.

2.2.1 Layanan 4G Long Term Evolution

Melalui kombinasi downlink dan kecepatan transmisi (uplink) yang sangat tinggi, lebih fleksibel, efisien dalam penggunaan spektrum dan dapat mengurangi paket latensi, LTE menjanjikan untuk peningkatan pada layanan mobile broadband serta menambahkan layanan value-added baru yang menarik. Manfaat besar bagi pengguna antara lain streaming skala besar, download dan berbagi video, musik dan konten multimedia yang semakin lengkap. Semua layanan ini memerlukan throughput yang signifikan lebih besar untuk dapat memberikan quality of service. Tabel 2.1 berikut menggambarkan beberapa layanan dan aplikasi LTE

Tabel 2.1 Layanan dan Aplikasi LTE

Kategori Layanan Saat ini Long Term Evolution Layanan suara Real-Time Audio VoIP, Konferensi Video

Berkecepatan Tinggi

Pesan P2F SMS, MMS, EMAIL

prioritas rendah

(7)

Browsing Akses kelayanan informasi online dengan tarif jaringan standar, saat ini sangat terbatas untuk browsing WAP melalui jaringan GPRS dn 3G

Browsing super cepat, mengupload konten ke social situs.

Informasi pembayaran Informasi berbasis teks E-newspaper, streaming audio berkualitas tinggi

Personalisasi Dominasi ringtone termasuk screensaver dan ringback

Realtone (rekaman asli), situs web mobile

Game Download dan online

game

Permainan game online secara konsisten pada jaringan fixed maupun mobile

TV/ Video on Demand Video streaming dan konten video hasil download

Layanan siaran televisi , true on demand television, streaming video kualitas tinggi

Kontes pesan dan lintas

media

Pesan peer to peer serta

interaksi dengan media lainnya menggunakan konten pihak ketiga

Distribusi klip video,

layanan karaoke,video berbasis iklan mobile dengan skala yang luas.

M-Commerce Fasilitas pembayaran dilakukan melalui

jaringan sesuler

Mobile handset sebagai alat pembayaran, rincian

(8)

melalui jaringan kecepatan tinggi untuk memungkinkan

penyelesaian dgn cepat

(Sumber : Krisnadi) 2.3 Penerimaan Teknologi

Berbagai teori perilaku (behavioral theory) banyak digunakan untuk mengkaji proses adopsi teknologi informasi oleh pengguna akhir (end users), diantaranya adalahTheory of Reason Action,Theory of Planned Behaviour,Unified Theory Of Acceptance and Use Technology, Task Technology Fit Theory,Model

Keberhasilan SI, dan Technology Acceptance Model. Technology Acceptance Model (TAM) merupakan model penelitian yang paling luas digunakan untuk meneliti adopsi teknologi informasi. Lee et al., (2003) menjelaskan bahwa dalam kurun waktu 18 tahun terakhir TAM merupakan model yang popular dan banyak digunakan dalam berbagai penelitian mengenai proses adopsi teknologi informasi. Model atau teori yang paling mutakhir adalah Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT), yang dikemukakan pertama kali oleh Venkantesh (2003).

2.3.1 Theory of Reason Action(TRA)

(9)

dengan sikap atau attitude dan kaidah norma atau subjective norm (Ajzen dan Fishbein, 1980; Fishbein dan Ajzen, 1975 seperti yang dikutip oleh Davis, 1989:18).

Gambar 2.3 Konstruk TRA (Sumber : Tuty Hendrawaty 2013)

2.3.2 Theory of Planned Behavior(TPB)

TPB merupakan perluasan dari TRA, Theory of Planned Behaviour(TPB) (Lee & Kotler, 2011, hal. 199). Theory of Planned Behavior dijelaskan sebagai konstruk yang melengkapi TRA. Menurut (Lee & Kotler, 2011, hal. 199), target individu memiliki kemungkinan yang besar untuk mengadopsi suatu perilaku apabila individu tersebut memiliki sikap yang positif terhadap perilaku tersebut, mendapatkan persetujuan dari individu lain yang dekat dan terkait dengan perilaku tersebut dan percaya bahwa perilaku tersebut dapat dilakukan dengan baik. Dengan menambahkan sebuah variabel pada konstruk ini, yaitu kontrol perilaku persepsian (Perceived behavioral control), maka bentuk dari model teori perilaku rencanaan (Theory Of Planned Behaviour) konstruknya dapat dilihat digambar 2.4

(10)

2.3.3 Unified Theory Of Acceptance and Use Of Technology

Pada tahun 2003, Venkatesh et.al., mengusulkan teori yang dikenal dengan teori gabungan penerimaan dan penggunaan teknologi (UTAUT) dari hasil penelitian tersebut terdapat 4(empat) variabel yang memiliki pengaruh secara langsung terhadap penerimaan pemakai dan perilaku pemakaian, yaitu : Performance Expectancy, Effort Expectancy, Social Influence dan Facilitating

Conditions. Keempat variabel tersebut dimoderasi oleh variabel lain yaitu : gender,

usia, pengalaman, penggunaan secara sukarela atau tidak. Model UTAUT yang dikembangkan oleh Venkatesh, 2003 dapat dilihat pada gambar 2.5

Gambar 2.5 Konstruk UTAUT (Sumber : Tuty Hendrawati 2013) 2.3.4 Task-Technology Fit Theory

(11)

outcome yaitu performance atau utilization. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 2.6

Gambar 2.6 Task Technology Fit (Sumber : Tuty Hendrawati 2013)

Beberapa penelitian yang menggunakan teori atau kontruk tersebut, sebagai pembanding atau dikombinasikan dengan TAM, diantaranya adalah Thompson at al.,(1991) dengan modelutilisasi personnel computer(PC).

2.3.5 Model Keberhasilan SI

De Lone & McLean (1992) mengusulkan sebuah model untuk mengukur variabel bebas yang bersifat kompleks dalam suatu penelitian. Dalam penelitian, DeLone & McLean mengusulkan suatu model yang interaktif yang memperlihatkan konsep dan operasi dari implementasi sistem informasi yang berhasil. Model ini telah banyak diintregasikan dalam berbagai penelitian, DeLone & McLean, 2003. Model tersebut memiliki 6(enam) dimensi atau variabel, yakni kualitas informasi (information quality), kualitas sistem (Quality System), kualitas layanan (Quality Service), penggunaan (use), kepuasan pengguna (user satisfaction) dan pemanfaatan (net benefit). Semua model ini bersifat saling berhubungan yang

(12)

Gambar 2.7 Model Keberhasilan SI (Sumber : Tuty Hendrawati 2013)

2.3.6 Technology Acceptance Model

Technology Acceptance Model (TAM), yang diperkenalkan oleh Davis pada tahun 1989 adalah suatu adaptasi dari Theory of Reasoned Action (TRA) yang dikhususkan untuk memodelkan penerimaan pemakai (user acceptance) terhadap teknologi. Model ini dikembangkan kembali oleh beberapa peneliti seperti Szajna (1994), Igbaria et al. (1995) dan Venkatesh dan Davis (2000) dalam Jogiyanto (2007). Modifikasi model TAM dilakukan oleh Venkantesh dengan menambahkan variable trust dengan judul Trustenhanced Technology Acceptance Model, yang meneliti tentang hubungan antar variabel TAM dan trust. Modifikasi TAM lain yaitu Trust and Risk in Technology Acceptance Model (TRITAM) dilakukan oleh Lui and Jamieson dalam Jogiyanto (2007) menggunakan variabel kepercayaan dan resiko bersama variabel TAM.

Beberapa model penelitian telah dilakukan untuk menganalisis dan memahami faktor-faktor yang mempengaruhi diterimanya penggunaan teknologi komputer, diantaranya yang tercatat dalam berbagai literatur dan referensi hasil

(13)

Pada awalnya teori inovasi difusi yang merupakan teori yang paling mendominasi penerimaan dan berbagai model penerimaan teknologi. Difusi adalah proses suatu informasi yang dikomunikasikan melalui saluran tertentu secara berkesinambungan kepada anggota dalam sebuah sistem sosial . Sedangkan inovasi adalah ide, praktek, atau obyek yang dipersepsikan sebagai sesuatu yang baru oleh individu atau unit adopsi yang lain. TAM mempunyai tujuan menjelaskan dan memprediksikan penerimaan pengguna terhadap suatu teknologi. TAM merupakan pengembangan TRA dan memprediksi penerimaan pengguna terhadap teknologi. Menurut Davis dalam Jogiyanto (2007) TAM adalah sebuah teori yang dirancang untuk menjelaskan bagaimana pengguna mengerti dan menggunakan sebuah

teknologi informasi. TAM menggunakan TRA dari Fishbein dan Ajzen yang digunakan untuk melihat bagaimana tingkat adopsi responden dalam menerima teknologi informasi.

Seiring perkembangan waktu, model TAM telah banyak mengalami modifikasi. Venkatesh dan Davis 1996 telah menyatakan eliminasi variabel sikap terhadap penggunaan (attitude toward using) pada bentuk original TAM. Serta menurut Jogiyanto (2007) konstruk sikap terhadap penggunaan ini tidak dimasukkan sebab tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap niat perilaku.

Gambar 2.8 Pemodelan TAM 1 Davis (Sumber : Oktavianti)

(14)

Namun menurut Gahtani dalam Oktavianti (2007) dinyatakan bahwa niat perilaku untuk menggunakan (Behavioral Intention To Use) dan penggunaan nyata dari sistem (Actual System Use) dapat digantikan oleh variabel penerimaan terhadap TI (Acceptance Of IT). Persepsi manfaat dan persepsi kemudahan memiliki hubungan untuk memprediksi sikap penerimaan pengguna (Acceptance of IT) terhadap teknologi informasi (Oktavianti, 2007). Model TAM pada gambar 2.9 telah dipakai dan diuji oleh Surachman (2008), yang hasil penelitiannya menunjukan bahwa faktor manfaat dan kemudahaan mampu memprediksi penerimaan pengguna terhadap Sistem Informasi. Pada penelitian ini, variabel yang digunakan yaitu persepsi kebermanfaatan (perceived usefulness), persepsi kemudahan penggunaan

(perceived ease of use) dan Penerimaan Sistem Informasi Pengolahan Data Statistik Rutin (acceptance of SISR).

2.3.7 Pemodelan TAM 2 dan TAM 3

Gambar 2.9 Pemodelan dari TAM2 (Sumber : Oktavianti)

(15)

item. Temuan menunjukan bahwa dalam menggunakan TAM sebagai model adopsi teknologi informasi sebaiknya mengikuti langkah-langkah maupun format asli (pengelompokan item) untuk memperoleh prediksi terbaik.

Pada tahun 2000, Venkatesh dan Davis melakukan pengembangan dan pengujian teoritis terhadap Technology Acceptance Model (TAM) menjadi Technology Acceptance Model 2 (TAM2). Sama halnya TAM, TAM2 memiliki dua variabel perilaku utama, yaitu persepsi pengguna terhadap manfaat (perceived usefullness) dan persepsi pengguna terhadap kemudahan dalam penggunaan (perceived ease of use). Pada TAM2, perceived usefulness memiliki beberapa

faktor penentu, yaitu subjective norm (SN), image (IMG), job relevance (REL), output quality(OUT), result demostrability (RES) dan perceived ease of use (PEOU). Subejective norm (SN) diartikan sebagai persepsi seseorang bahwa orang yang menurutnya penting berpikir agar dia harus atau tidak harus menggunakan sistem, image (IMG) diartikan sebagai persepsi seseorang bahwa penggunaan inovasi akan meningkatkan status sosialnya, job relevance (REL) diartikan sebagai sejauh mana seorang individu percaya bahwa penggunaan sistem sesuai untuk pekerjaannya, output quality (OUT) diartikan sebagai sejauh mana seorang individu percaya bahwa sistem melakukan pekerjaanya dengan baik. Result demonstrability (RES) diartikan sebagai sejauh mana seorang individu percaya bahwa hasil menggunakan sistem yang nyata, dapat diamati, dan disebarkan, sedangkan perceived ease of use (PEOU) sebelumnya telah terdapat pada TAM. Tidak hanya faktor-faktor penentu perceived usefulness (PU) yang bertindak sebagai moderator yang cukup memberikan pengaruh terhadap pengguna.

Pada tahun 2000 Venkatesh melakukan penelitian guna memahami faktor-faktor penentu perceived ease of use. Menurut Venkatesh faktor-faktor-faktor-faktor penentu perceived ease of use (PEOU) adalah computer self-efficacy (CSE), perceptions of external control (PEC), computer anxiety (CANX), computer playfulness (CPLAY), perceived enjoyment (ENJ) dan objective usability (OU). Computer self-efficiacy (CSE) diartikan sebagai sejauh mana seorang individu percaya bahwa ia

(16)

computer, perceptions of external control (PEC) diartikan sebagai sejauh mana seorang individu percaya bahwa sumber daya organisasi dan teknis ada mendukung untuk penggunaan sistem. Computer anxiety (CANX) diartikan sebagai tingkat ketakutan individu, atau bahkan takut, ketika dia dihadapkan dengan kemungkinan menggunakan komputer, computer playfulness (CPLAY) diartikan sebagai tingkat spontanitas kognitif pada interaksi individu dengan sistem, perceived enjoyment (ENJ) diartikan sebagai sejauh mana aktivitas menggunakan sistem dianggap menyenangkan dalam dirinya sendiri, selain dari konsekuensi kerja yang dihasilkan dari penggunaan sistem sedangkan objective usability (OU) diartikan sebagai sebuah perbandingan sistem berbasis pada tingkat yang sebenarnya (bukan

persepsi) dari usaha yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas-tugas tertentu.

Pada tahun 2006, Venkatesh, Maruping dan Brown melakukan penelitian yang membahas tiga manifestasi waktu tertentu yaitu antisipasi (proksimal vs distal) pengalaman sebelumnya dengan perilaku, dan frekuensi (episodik vs repeat) sebagai faktor kunci yang mempengaruhi validitas niat perilaku, persepsi pengendalian perilaku, dan harapan perilaku dalam memprediksi perilaku. Dalam studi 1, Venkatesh dkk menemukan bahwa peningkatan antisipasi (distal) melemahkan hubungan antara harapan dan perilaku. Dalam studi 2, hubungan antara niat dan perilaku kuat ketika antisipasi rendah (proksimal) dan pengalaman yang tinggi serta hubungan antara harapan perilaku dan perilaku kuat ketika antisipasi tinggi (distal) dan pengalaman rendah.

(17)

menunjukan versi modifikasi dari pengalaman, dimana efek positif dari pengalaman menjadi sedikit lebih kuat dengan meningkatnya ekspektasi.

Pada tahun 2008, Venkatesh dan Bala melakukan pengembangan dan pengujian teoritis terhadap Technology Acceptance Model 2 (TAM2) dengan identifikasi faktor-faktor penentu perceived ease of use (PEOU) yang dikembangkan oleh Venkatesh pada tahun 2000 menjadi Technology Acceptance Model (TAM3). Sama halnya TAM dan TAM 2, TAM 3 memiliki dua variabel perilaku utama, yaitu persepsi pengguna terhadap manfaat (perceived usefulness) dan persepsi pengguna terhadap kemudahan dalam penggunaan (perceived

usefulness) dan persepsi pengguna terhadap kemudahan dalam penggunaan (perceived ease of use). TAM 3 juga memiliki experience dan voluntariness sebagai moderator.

(18)

2.4 Konstruk Technology Acceptance Model

Terdapat lima konstruk utama yang membentuk TAM, kelima konstruk tersebut adalah sebagai berikut:

a. Persepsi Kegunaan/Manfaat (Perceived Usefulness)

Jogiyanto (2007) mendefinisikan Persepsi Kegunaan (perceived usefulness) sebagai sejauh mana seseorang percaya bahwa menggunakan suatu teknologi akan meningkatkan kinerja pekerjaannya. Manfaat penggunaan TI dapat diketahui dari kepercayaan pengguna TI dalam memutuskan penerimaan TI, dengan satu kepercayaan bahwa penggunaan TI tersebut memberikan kontribusi positif bagi penggunanya. Pengukuran konstruk kegunaan (usefulness) menurut Davis dalam

Jogiyanto (2007). terdiri dari:

(1) Menjadikan pekerjaan lebih cepat (work more quickly) artinya semua pekerjaan bisa diselesaikan dengan lebih cepat apabila teknologi informasi tersebut bisa lakukan dengan baik.

(2) Kualitas Layanan (Service Feature) ini dilihat dari sisi dimana seseorang bisa merasakan kualitas layanan yang bisa didapat dari suatu produk dalam penerimaan teknologi.

(3) Kenyamanan (Convienience) ini penting dalam mencoba suatu kelayakan dalam pemakaian suatu teknologi informasi.

(4) Kualitas luarannya (Output Quality) diartikan sebagai sejauh mana seorang individu percaya bahwa sistem melakukan pekerjaanya dengan baik.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa konstruk kegunaan persepsian (perceived usefulness) mempengaruhi secara positif dan signifikan terhadap penggunaan sistem informasi.

(19)

2.4.1 Modifikasi Model TAM

Gambar 2.11

Modifikasi Pemodelan TAM 2.5 Hipotesis

Hipotesis yang akan diusulkan pada penelitian ini adalah

H1 :Perceived Usefulnessberpengaruh terhadap Acceptance Mobile 4G

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Eizan Azira (2013), menyimpulkan bahwa Perceived Usefulness berpengaruh terhadap Acceptance Mobile 4G informan puas dan bersedia untuk menggunakan teknologi di masa depan. Karena dengan menggunakan jaringan 4G panggilan suara, kuat dan jauh lebih cepat dan juga download konten dibandingkan dengan 3G dan 3.5G adalah alasan utama mengapa informan bersedia menerima jaringan seluler 4G.

(20)

Siska Nurul Amaliah (2010), menyimpulkan bahwa Perceived Ease Of Use saling keterikatan pengaruhnya terhadap behavioral intention to use untuk mengetahui seberapa besar tingkat penerimaan layanan 4G, setelah dilakukan pengujian hipotesis ternyata variabel ini mempengaruhi tingkat penerimaan layanan 4G .

H3 :Perceived Enjoyment berpengaruh terhadap Acceptence Mobile 4G

Budi Santoso (2015), memiliki pengaruh terhadap pemanfaatan teknologi informasi melalui variabel intervening/variabel moderasi sikap (attitude) dan perhatian perilaku (behavior intention). Persepsi kenyamanan penggunan berpengaruh positif terhadap penerimaan dalam pemanfaatannya dikabupaten sragen.

H4 :Service Featureberpengaruh terhadap Acceptance Mobile 4G

Menurut Bambang Wahyu Santoso (2015), mengatakan bahwa service feature yang ditawarkan oleh 4G di kota Yogyakarta memiliki upload dan download yang sangat cepat ini sangat berpengaruh dengan penerimaan teknologi mobile 4G di kota tersebut.

H5 :Output Quality berpengaruh terhadap Acceptence Mobile 4G

Nshakabatenda Ramadhani (2011), Teknologi 4G dianggap pilihan yang lebih baik untuk menyajikan teknologi 3G, sebagai kecepatan internet,web browsing tidak memuaskan untuk sebagian besar responden

H6 :Service Convenienceberpengaruh terhadap Acceptance Mobile 4G

(21)

2.5.1 Kelebihan TAM

Setiap teori, model, teknologi dan aplikasi memiliki kelebihan, Technology Acceptance Model juga memiliki kelebihan. Beberapa kelebihan yang diberikan oleh TAM ini adalah:

(1) Banyak model-model penerapan sistem teknologi informasi yang tidak mempertimbangkan faktor psikologis atau perilaku (behavior) pada model mereka. TAM mempertimbangkan faktor psikologis atau perilaku (behavior) tersebut.

(2) TAM dibangun atas dasar teori yang kuat.

(3) TAM telah banyak digunakan dalam berbagai penelitian di bidang teknologi. Hasil menunjukkan sebagian besar dukungan dan menyimpulkan bahwa MPT adalah model yang baik dan hasilnya juga konsisten.

(4) TAM adalah model yang parsimoni (parsimonious) yaitu model sederhana tetapi valid.

2.5.2 Penelitian Terdahulu Yang Menggunakan Metode TAM Tabel 2.2 Penelitian Terdahulu

(22)

iklan 4G namun mereka tidak dapat memahami apa maksudnya dari model penerimaan TAM2 bahwa penelitian mereka menunjukan bahwa pengadopsi jaringan seluler dipengaruhi oleh pesan positif oleh pengguna sosial media dibanding iklan di tv.

2. Nshakabatenda Ramadhani (2011) Studi Persepsi Konsumen terhadap Adopsi 4G Mobile Technologies di Rwanda Convenience, Service Quality, Value, Price, Perceived Usefulness, Perceived ease of use, Attitude, Behavioural Intention 150 responden Teknologi 4G dianggap pilihan yang lebih baik untuk menyajikan teknologi 3G, sebagai kecepatan internet,web browsing dan sangat berpengaruh dengan convenience service dan quality value jika dilihat dari sikap penerimaan responden namun tidak memuaskan untuk sebagian kecil responden 3. Awni Rawashdeh (2015) Adopsi Layanan Mobile 4G dari Perspektif Perempuan Mahasiswa: Kasus Princess Nora Universitas

Perceived ease of use, Value, Perceived Entertainment Value, Behavioral Intenttion. 200 responden. kontribusi penelitian ini terhadap teori adalah bahwa hal tersebut

(23)

dengan yang dirasakan nilai hiburan dalam rangka meningkatkan pengetahuan adopsi 4G Mobile dari perspektif siswa.Penelitian di masa depan dijamin mengevaluasi dan menganalisis pasar 4G, serta untuk

menyelidiki implikasi keuangan dan industri terkait

dengan pasar 4G.

4. Azham Husain (2013) Pengguna adopsi dengan media interaktif map

(24)

sebagai

anteseden. Tiga hipotesis semua didukung dan dikonfirmasi.

2.6 Macam-macam Jenis dan Teknik Pengambilan Sampling

Pemilihan teknik pengarnbilan sampel merupakan upaya penelitian untuk mendapat sampel yang representatif (mewakili), yang dapat menggambarkan populasinya. Teknik pengambilan sampel tersebut dibagi atas 2 kelompok besar, yaitu :

1. Probability Sampling (Random Sample)

2. Non Probability Sampling (Non Random Sample)

2.6.1 Teknik sampling secara probabilitas

Teknik sampling probabilitas atau random sampling merupakan teknik

sampling yang dilakukan dengan memberikan peluang atau kesempatan kepada seluruh anggota populasi untuk menjadi sampel. Dengan demikian sampel yang diperoleh diharapkan merupakan sampel yang representatif.

Teknik sampling semacam ini dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut. a) Teknik sampling secara rambang sederhana ataurandom sampling. Cara paling populer yang dipakai dalam proses penarikan sampel rambang sederhana adalah dengan undian.

(25)

c) Teknik sampling secara rambang proporsional (proporsional random sampling). Jika populasi terdiri dari subpopulasi-subpopulasi maka sample penelitian diambil dari setiap subpopulasi. Adapun cara peng-ambilannya dapat dilakukan secara undian maupun sistematis.

d) Teknik sampling secara rambang bertingkat. Bila subpoplulasi-subpopulasi sifatnya bertingkat, cara pengambilan sampel sama seperti pada teknik sampling secara proportional.

e) Teknik sampling secara kluster (cluster sampling) Ada kalanya peneliti tidak tahu persis karakteristik populasi yang ingin dijadikan subjek penelitian karena populasi tersebar di wilayah yang amat luas. Untuk itu peneliti hanya dapat

menentukan sampel wilayah, berupa kelompok klaster yang ditentukan secara bertahap. Teknik pengambilan sample semacam ini disebut cluster sampling atau multi-stage sampling.

2.6.2 Teknik sampling secara nonprobabilitas

Teknik sampling nonprobabilitas adalah teknik pengambilan sample yang ditemukan atau ditentukan sendiri oleh peneliti atau menurut pertimbangan pakar. Beberapa jenis atau cara penarikan sampel secara nonprobabilitas adalah sebagai berikut.

a) Purposive sampling atau judgmental sampling Penarikan sampel secara

purposif merupakan cara penarikan sample yang dilakukan memiih subjek berdasarkan kriteria spesifik yang dietapkan peneliti.

b)Snow-ball sampling(penarikan sample secara bola salju).

Penarikan sample pola ini dilakukan dengan menentukan sample pertama. Sampel berikutnya ditentukan berdasarkan informasi dari sample pertama, sample ketiga ditentukan berdasarkan informasi dari sample kedua, dan seterusnya sehingga jumlah sample semakin besar, seolah-olah terjadi efek bola salju.

c)Quota sampling(penarikan sample secara jatah). Teknik sampling ini dilakukan dengan atas dasar jumlah atau jatah yang telah ditentukan. Biasanya yang dijadikan sample penelitian adalah subjek yang mudah ditemui sehingga memudahkan pula

(26)

Gambar

Gambar 2.1 Evolusi Jaringan Seluler
Gambar 2.2 Arsitektur Jaringan 4G
Gambar 2.3 Konstruk TRA
Gambar 2.5 Konstruk UTAUT
+7

Referensi

Dokumen terkait

dari berbagai film animasi kartun yang kita lihat sekarang ini.. Mereka

Insidensi tumor pada kelompok perlakuan ekstrak dosis 250 mg/kg BB mencapai 4/10 dalam waktu 16 minggu, artinya hanya 4 ekor tikus yang terkena tumor mamae (n=10).. Adapun

facebook saya dihapus, namun saya berusaha tetap dekat dengan mereka dengan menjadi orang lain sebagai teman mereka di facebook karena saya

Daripada nilai min yang diperolehi menggambarkan bahawa pelajar tidak berpuashati dengan tahap kebersihan makanan yang disediakan oleh pengusaha kafetaria.. Daripada pengalaman

Pelaksanaan kegiatan Gapoktan Maju Bersama termasuk juga mengawasi tugas dan tanggung jawab dari unit usaha distribusi pemasaran dan unit pengelola cadangan pangan,

Artinya dengan tingkat kekeliruan 5% dapat disimpulkan bahwa financial leverage yang terdiri dari Debt Ratio dan Debt to Equity Ratio secara simultan berpengaruh

Kendala yang selanjutnya adalah alergi terhadap aparat penegak hukum, masyarakat Desa Hajimena yang enggan terhadap Polisi Lalu Lintas karena menimbulkan banyak kasus

(Tabel 2) Sebagian bakteri penyebab sepsis neonatorum mempunyai sensitifitas yang rendah terhadap antibiotik lini pertama (ampisilin, gentamisin), dan antibiotik lini