• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE DAKWAH YANG DITERAPKAN DI PONPES AGRO NUUR EL-FALAH, PULUTAN, SIDOREJO, KOTA SALATIGA TAHUN 2017 - Test Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "METODE DAKWAH YANG DITERAPKAN DI PONPES AGRO NUUR EL-FALAH, PULUTAN, SIDOREJO, KOTA SALATIGA TAHUN 2017 - Test Repository"

Copied!
163
0
0

Teks penuh

(1)

METODE DAKWAH YANG DITERAPKAN

DI PONPES AGRO NUUR EL-FALAH, PULUTAN,

SIDOREJO, KOTA SALATIGA TAHUN 2017

SKRIPSI

Diajukan untuk Memperoleh Gelar

Sarjana Sosial (S. Sos)

Oleh

SUYADI

NIM 11713027

JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM (KPI)

FAKULTAS DAKWAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

SALATIGA

(2)

(3)

METODE DAKWAH YANG DITERAPKAN

DI PONPES AGRO NUUR EL-FALAH, PULUTAN,

SIDOREJO, KOTA SALATIGA TAHUN 2017

SKRIPSI

Diajukan untuk Memperoleh Gelar

Sarjana Sosial (S. Sos)

Oleh

SUYADI

NIM 11713027

JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM (KPI)

FAKULTAS DAKWAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

SALATIGA

(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)
(10)

MOTTO

Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini

sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka

(11)

PERSEMBAHAN

1.

Kedua orangtua kami Bapak Rajiman dan Ibu Suyati tercinta atas

doa restunya sehingga kami dapat menyelesaikan laporan ini.

2.

Kedua mertua kami Bapak Sumardi dan Ibu Siti Barokah tercinta

atas doa restunya sehingga kami dapat menyelesaikan laporan ini.

3.

Ibu Dra. Maryatin, M.Pd yang telah membantu saya dalam

menyelesaikan kuliah ini dari awal sampai akhir.

4.

Bapak Nur Wachid, SE yang telah membantu saya dari awal

dalam perkuliah ini.

5.

Bapak Sujadmiko Dwi Admaja yang telah mengikhlaskan kami

tempat untuk bermukim sementara, sehingga kami bisa segera

menyelesaikan laporan ini.

6.

Istriku tercinta Turifahyaningsih yang memberikan dukungan,

dorongan semangat, pengertiannya, mendampingi baik suka dan

duka sehingga laporan ini segera terselesaikan.

7.

Kedua anak-anakku Ahmad Syarief Hidayatullah dan Zahwa

Azzahra Hidayatullah yang menjadi kebanggaan, motivasi

semangat dan harapan kami

serta ikut mendo’akan kesuksesan

dan keberhasilan kami.

(12)

9.

Temanku Ahmad Fikri Sabiq, S.Pd.I,kami ucapkan banyak

terimakasih

karena

telah

menuntun,

mengarahkan

dan

mendampingiku untuk selesainya laporan ini.

10.

Teman seperjuanganku Muhammad Maghfurin yang saling

memberi semangat motivasi.

11.

Temanku Nur Afandi yang telah rela membantu dengan ikhlas

sarana penunjang laporan ini, kami ucapkan terimakasih,

mudah-mudahan kebaikanmu dibalas oleh Allah SWT.

12.

Teman-temanku seangkatan semua yang telah memberikan

masukan informasi dalam melakukan penelitian ini.

13.

Teman-teman UKM, organisasi intra kampus maupun ekstra

kampus yang telah memberikan kami waktu dan tempat

berproses dalam suatu wadah organisasi sehingga bisa menjadi

bekal kami.

14.

Teman-temanku semua yang dekat maupun jauh yang belum

bisa saya sebut satu-persatu.

(13)

KATA PENGANTAR

Bismillahirrohmanirrohim

Segala puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, pemelihara

seluruh alam raya, yang atas limpahan rahmat, taufik dan hidayah-Nya,

penulis mampu menyelesaikan skripsi yang berjudul Metode dakwah yang

diterapkan di Ponpes Agro Nuur El-Falah, Pulutan, Sidorejo, Kota Salatiga

Tahun 2017.

Skripsi ini dibuat sebagai salah satu persyaratan guna memperoleh gelar

Sarjana Srata (S1) yaitu Sarjana Sosial (S. Sos) pada jurusan Komunikasi dan

Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah IAIN Salatiga. Dalam penyusunan

skripsi ini, penulis menyadari sepenuhnya bahwa tanpa bantuan dan bimbingan

dari berbagai pihak, skripsi ini tidak akan terwujud. Oleh sebab itu, pada

kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya

kepada :

1. Bapak Dr. Rahmat Hariyadi, M. Pd., selaku Rektor Institut Agama Islam

Negeri (IAIN) Salatiga, dan para Wakil Rektor, atas segala motivasi,

wawasan dan nasihat yang telah diberikan selama ini.

2. Bapak Dr. Mukti Ali, M.Hum., selaku Dekan Fakultas Dakwah Institut

Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga, yang sekaligus Dosen Pembimbing

kami, memberikan arahan dan masukan selama penulisan skripsi ini, dan

terimakasih yang sebesar-besarnya atas waktu yang diluangkan.

3. Ibu Dra. Maryatin, M.Pd., selaku Ketua Jurusan Komunikasi danPenyiaran

Islam (KPI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga.

4. Pengasuh Ponpes Agro Nuur El-Falah Bapak KH. Usman Mansur. BA atas

kesempatan dan waktunya serta informasi yang kami butuhkan untuk

(14)

5. Para dosen pengajar dan staf karyawan di lingkungan Fakultas Dakwah

IAIN Salatiga yang kami banggakan.

6. Narasumber dari Ponpes Agro Nuur El-Falah Ustadz Ahmad Su’udi, Bagus

Putro Pembayun, Wahyu Nugroho yang dengan ikhlas meluangkan

waktunya untuk diajak wawancara langsungtentang informasiPonpes.

Semoga kebaikan mereka semua kepada penulis akan dibalas oleh Allah

SWT dengan kebaikan yang berlipat ganda. Amin.

Penulis menyadari ada banyak kekurangan dalam skripsi ini. Oleh

karena itu saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan sebagai

pembelajaran untuk pencapaian yang lebih baik di masa mendatang.

Salatiga, 2 Mei2017

(15)

ABSTRAK

Suyadi. 2017. Metode dakwah yang diterapkan di Ponpes Agro Nuur El-Falah, Pulutan, Sidorejo, Kota Salatiga Tahun 2017. Skripsi. Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam. Fakultas Dakwah. IAIN Salatiga. Pembimbing: Dr. Mukti Ali, M.Hum.

Kata Kunci: Metode Dakwah,Ponpes, Agro Nuur El-Falah.

Penelitian ini tentang metode dakwah yang diterapkan di Ponpes Agro Nuur El-Falah. Pondok ini berbasis pertanian. Dalam dakwah Islam tidak hanya mengkaji Al-Qur’an dan kitab saja. Pertanyaan utama penelitian ini adalah: 1) Bagaimana metodedakwahyangditerapkandi ponpestersebut? 2) Bagaimana Implementasi metodedakwahyangditerapkandi ponpestersebut?3) Bagaimana kelebihan dan kekurangan metode tersebut?.

Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif. Data diambil dari wawancara, observasi, dan dokumentasi. Kemudian dianalisis dengan cara analisis deskriptif.

(16)

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL i

LEMBAR BERLOGO ii

HALAMAN JUDUL iii

PERSETUJUAN PEMBIMBING iv

PENGESAHAN KELULUSAN v

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN vi

MOTO vii

PERSEMBAHAN viii

KATA PENGANTAR x

ABSTRAK xii

DAFTAR ISI xiii

DAFTAR LAMPIRAN xv

BAB I PENDAHULUAN 1

A. Latar BelakangMasalah 1

B. FokusPenelitian 3

(17)

BAB III PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN 52

A. Paparan Data 52

B. TemuanPenelitian 70

BAB IV ANALISA PENELITIAN 81

(18)

DAFTAR PUSTAKA 103

(19)

DAFTAR LAMPIRAN

1. PedomanWawancara

2. Paparan Informasi dari Wawancara

3. FotoKegiatan

4. Daftar RiwayatHidup

5. Jadwal Kegiatan

(20)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang

mempunyai peran dalam mengembangkan aktivitas dakwah. Dapat dilihat

bahwa pondok pesantren mempunyai fungsi sebagai lembaga penyiaran

agama Islam.

Ilmu agama, ilmu pengetahuan umum serta program perekonomian

dan program keterampilan sebagai perwujudan untuk mencetak santri yang

cerdas dan berakhlak mulia adalah bekal ilmu bagi santri. Santri yang

berkualitas baik secara fisik, mental dan spiritual serta berwawasan Ilmu

Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang mampu memberikan perubahan

kemajuan bangsa.

Di era globalisasi, keberagaman pondok pesantren mampu

memberikan warna dan kontribusi yang besar terhadap pembangunan

nasional. Sehingga sangat diperlukan metode dakwah Islam dan cara-cara

pengembangan pengelolaan pondok pesantren. Sehingga dapat membantu

(21)

Salah satu cita-cita tersebut adalah dengan mengembangkan

kemampuan keahlian dibidang pertanian adalah salah satu pembelajaran

skill. Indonesia merupakan negara agraris yang sangat cocok untuk lahan

industri pertanian. Sehingga agribisnis bisa dijadikan bekal para santri

dengan harapan agar menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang

unggul dalam mengelola sektor pertanian, memajukan pertanian dalam

negeri serta mampu menjadi pengekspor hasil-hasil pertanian ke luar negeri,

sebagai mata pencaharian dan sumber penghasilan untuk menghadapi era

globalisasi. Sumber Daya Manusia yang handal, terutama dalam mengolah

pertanian dengan tujuan agar mampu menghasilkan produk yang unggul dan

mampu mencukupi kebutuhan pangan dalam negeri dan luar negeri.

Santri secara intensif dibekali ilmu agama agar kelak setelah lulus

dari pesantren mampu menjadi pembaharu di tengah-tengah masyarakat. Di

era globalisasi seperti saat ini sangatlah diperlukan sosok para tokoh

pembaharu agama dalam masyarakat. Mengingat pengaruh gaya hidup ala

barat sudah masuk ke dalam bangsa Indonesia, yang sangat tidak sesuai

dengan kepribadian bangsa dan Pancasila, perlu adanya dasar fondasi agama

yang kuat. Dengan berbekal agama yang kuat, diharapkan mampu memilah

budaya bangsa Barat yang masuk ke Indonesia serta meniru budaya Barat

(22)

Agro Nuur El-Falah yang berlokasi di Pulutan, Sidorejo, Kota Salatiga yang

keberadaan pondok pesantren ini juga memiliki peran aktif di dalam

melakukan dakwah Islam. Sehingga dengan keberhasilan dalam pelaksanaan

metode dakwah, dapat menjadikan tolak ukur atau barometer bagi

pondok-pondok lain yang akan menerapkan metode yang lainnya. Seperti pondok-pondok

berbasis peternakan, perikanan, kelautan, wirausaha, interpreuner, dan lain

sebagainya. Yang menjadikan dakwah Islam bisa menjawab tantangan jaman

yang serba modern atau jaman global seperti sekarang ini.

B. Fokus Penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas, maka dapat

dirumuskan dalam pertanyaan-pertanyaan penelitian sebagai berikut:

1. Bagaimana metode dakwah yang diterapkan di Ponpes Agro Nuur

El-Falah Kota Salatiga?

2. Bagaimana Implementasi metode dakwah yang diterapkan di Ponpes Agro

Nuur El-Falah Kota Salatiga?

3. Bagaimana kelebihan dan kekurangan metode dakwah yang diterapkan di

(23)

C.Tujuan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan dari diadakannya penelitian ini adalah

sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui metode dakwah yang diterapkan di Ponpes Agro Nuur

El-Falah Kota Salatiga.

2. Untuk mengetahui Implementasi metode dakwah yang diterapkan di

Ponpes Agro Nuur El-Falah Kota Salatiga.

3. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan metode dakwah yang

diterapkan di Ponpes Agro Nuur El-Falah Kota Salatiga.

D.Kegunaan Penelitian

Dari penelitian ini dapat digunakan secara teoritis dan juga secara

praktis, yaitu dapat kami jelaskan dibawah ini yakni:

1. Secara Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan bisa memperkaya khasanah ilmu

(24)

a. Menambah ilmu pengetahuan dan pengalaman, khususnya bagi

penulis.

b. Untuk menambah wacana mengenai metode dakwah dan

pelaksanaannya di Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI)

Fakultas Dakwah.

c. Dengan terwujudnya skripsi ini, diharapkan dapat memberi informasi

kepada masyarakat mengenai metode dakwah dan implementasi

metode gerakan dakwah yang diterapkan di Ponpes Agro Nuur

El-Falah Kota Salatiga.

E. Penegasan Istilah

Dalam penelitian ini, penulis merujuk pada beberapa karya skripsi

sebelumnya yang sudah pernah ada, yakni penelitian yang dilakukan Juliono

tahun 2015 dengan judul “Implementasi Nilai-Nilai Panca Jiwa Pondok

Bagi Santri Di Pondok Pesantren Agro Nuur El-Falah”. Skripsi ini

menggunakan jenis penelitian kualitatif. Berdasarkan penelitian yang

dilaksanakan di Pondok Pesantren Agro Nuur El-Falah Salatiga tahun 2015

menghasilkan beberapa point diantaranya adalah:

(25)

Islamiyah, Kebebasan. Keikhlasan sepi ing pamrih rame ing gawe tidak

mengharapkan imbalan atau balasan dari orang lain, sebesar apapun itu yang

dilakukan. Ketika kita ikhlas insya Allah balasan dari Allah jauh lebih besar.

Kesederhanaan, menampilkan apa adanya, baik itu pakaian, tindakan,

pemikiran, perbuatan sesuai dengan kadar kita.

Dalam kesederhanaan terdapat nilai-nilai kekuatan, kesanggupan,

ketabahan dan penguasaan diri dalam menghadapi perjuangan hidup.

Berdikari, berdiri di atas kaki sendiri, mandiri, kemampuan untuk mengurus

diri sendiri tanpa bergantung kepada orang lain.

Ukhuwah Islamiyah jalinan persaudaraan dalam ikatan syariat Islam.

Semua umat muslim adalah saudara kita, tanpa memandang suku, warma

kulit, adat istiadat, bahkan Islam juga menganjurkan agar kita tetap

mengajak bekerja sama dengan orang non muslim dalam hal kebaikan.

Kebebasan, di pondok santri bebas berfikir, berkarya, bertindak, berinovasi,

asalkan sesuai dengan tempat, waktu, tujuan serta tidak bertentangan dengan

aturan yang berlaku. Tidak hanya di pondok, tetapi ketika lulus nanti santri

bebas menentukan jalan hidup masing-masing sesuai hati nurani, tidak

melanggar syariat Islam serta aturan perundang-undangan yang berlaku.

Kedua, bahwa implemetasi nilai-nilai pendidikan dalam panca jiwa

(26)

mengamalkan nilai-nilai panca jiwa pondok. Butuh pengawasan dan

bimbingan yang lebih ekstra dari seluruh eleman pondok demi berjalannya

nilai-nilai panca jiwa pondok.

Ketiga, faktor pendukung dan penghambat implementasi nilai-nilai

dalam panca jiwa pondok yaitu faktor lingkungan terdiri dari fasilitas yang

cukup memadai, kegiatan didesain dengan baik terdiri dari fasilitas yang

cukup memadai, kegiatan didesain dengan baik yang dan faktor sumber daya

manusia (SDM) yang meliputi beground asatidz yang bermacam-macam,

santri pengabdian, bantuan masyarakat sekitar, donatur yang senantiasa

memberikan bantuan untuk pondok.

Sedangkan faktor penghambatnya adalah, dari faktor lingkungan

yang dikarenakan fasilitas yang kurang perawatan, kebijakan, kegiatan yang

belum terlaksana dengan maksimal. Dan dari sumber daya manusia yang

kurang memadai, kepribadian santri yang masih terbawa dan menyebabkan

banyak pelanggaran.

Penelitian yang dilakukan Iswati tahun 2012 dengan judul “Metode

Dakwah Pondok Pesantren Syaikh Jamilurrahman As-Salafy Yogyakarta”.

Skripsi ini menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Permasalahan

(27)

Jamilurrahman As-Salafy dalam berdakwah. Penelitian ini menghasilkan dua

lingkup metode dakwah yaitu lingkup internal dan lingkup eksternal.

Pertama metode dakwah untuk kalangan internal meliputi

bentuk-bentuk penguatan para santri atau capacity building yang meliputi

pemahaman-pemahaman materi agama dan sekaligus ketrampilan hidup

lainnya. Dimana penguatan diri tersebut (capacity building) terbangun

dalam sebuah program pendidikan serta ketrampilan yang sistematis dan

terukur. Metode yang digunakan yaitu metode pelatihan dan pendidikan da’i

terprogram dan metode ceramah.

Kedua metode yang bersifat eksternal adalah sebuah upaya

implementasi praksis dari seluruh ajaran agama yang telah dipahami. Dalam

konteks ini selain diisi dengan program dakwah ke masyarakat dalam bentuk

ceramah atau kajian umum yang diantaranya juga menggunakan sarana radio

dan internet, sekaligus juga menjalankan metode keteladanan atau

mempraktekkan uswah al-hasanah dalam kehidupan sehari-hari mereka di

dalam lingkungan pondok pesantren atau di kawasan terbuka di luar pondok

pesantren.

Sedangkan penelitian yang dilakukan Asep Saeful Millah yang

(28)

Mahasiswa An Najah Desa Kutasari Kecamatan Baturraden” dengan menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif menghasilkan:

Pertama, bahwa Pesantren Mahasiswa An Najah dalam

menjalankan dakwahnya kepada masyarakat menggunakan metode-metode

yang dapat diklasifikasikan menjadi dua lingkup juga yaitu, pertama

internal dan kedua eksternal.

Untuk lingkup internalnya yaitu sebagai mana visi, misi, dan tujuan

Pesantren Mahasiswa An Najah menjadikan lembaga pendidikan yang

unggul yang mengembangkan subyek didik sebagai individu dan anggota

sosial yang relegius, cerdas, inklusif dan humanis. Para santri mereka

dibekali pemahaman-pemahaman. Materi agama dan sekaligus

keterampilan-keterampilan hidup agar para santri bisa berprilaku profetik,

jujur, amanah, komunikatif, melatih lifeskill untuk memperkuat peran

sebagai hamba Allah dimuka bumi. Dan metode-metode dakwah yang

diterapkan untuk internal didalam pesantren yaitu: pelatihan da’i atau

khithabahan, metode tulisan dan karya wisata (rihlah ilmiah).

Kedua metode yang bersifat eksternal adalah sebuah upaya

implementasi dari seluruh ajaran agama yang telah dipahami. Dalam

konteks ini selain diisi dengan program dakwah kemasyarakat dalam bentuk

(29)

keteladanan atau mempraktikkan uswah al-hasanah dalam kehidupan

sehari-hari didalam lingkungan pesantren atau kawasan terbuka diluar

pesantren.

Menurut Arif, Mohammad dalam jurnalnya. 2013. “Perkembangan

Pesantren di Era Teknologi” bahwa pendidikan di pesantren, dilihat dari sejarahnya, sudah banyak mengalami perubahan terutama dalam hal

mencetak ilmuwan/ulama baik dalam hal agama maupun pengetahuan

umum.

Perkembangan zaman dan kemajuan teknologi informasi ternyata

dapat mengubah secara perlahan paradigma pesantren yang kini jauh lebih

peka terhadap perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Dalam

aspek kebijakan pasal-pasal tertentu menunjukkan adanya pembelaan

terhadap sistem pendidikan pesantren dalam konteks pendidikan nasional

yaitu Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No 20 tahun 2003.

Dalam menjalankan perannya, pesantren berupaya memajukan ilmu

pengetahuan, teknologi informasi dan komunikasi. Semua digunakan untuk

menunjang kelancaran proses pengelolaan pesantren dan peningkatan citra

positif lembaganya. Meskipun teknologi informasi di dunia maya sangat

beresiko ketika tidak dikelola dengan baik namun ia sangat dibutuhkan oleh

(30)

Semua bergantung pada sikap manusia sebagai pelakunya.

Teknologi informasi adalah sarana atau washilah yang berdasarkan

tujuannya diciptakan untuk menciptakan kemaslahatan agama, akal, jiwa,

harta dan keturunan atau generasi di masa datang.

Visi baru ini, dapat menginspirasi secara kuat terhadap keberadaan

pesantren di Indonesia dalam mencetak generasi yang cerdas dan responsif

terhadap kemajuan ilmu dan peradaban dunia. Pesantren adalah lembaga

pendidikan yang sangat kompleks baik dalam konteks ilmu pengetahuan,

sosial, budaya, bangsa dan alam semesta.

Demikan beberapa penelitian sebelumnya yang berhasil peneliti

himpun, memang masih ada beberapa kesamaan dalam penelitian tersebut,

karena mereka menjadikan pondok pesantren sebagai objek penelitiannya.

hal inilah yang menjadi salah satu persamaan penulis dengan peneliti

terdahulu.

Meskipun begitu ada perbedaan dengan peneliti sebelumnya,

sehingga biarpun sama-sama menjadikan pondok pesantren sebagai objek

penelitiannya, namun objek bidikan penulis berbeda dengan mereka.

Penulis memfokuskan pada “Metode dakwah yang diterapkan di Ponpes

Agro Nuur El-Falah, Pulutan, Sidorejo, Kota Salatiga Tahun 2017”

(31)

tambahan skill santri dan menerapkan kedisiplinan pada setiap pelaksanaan

kegiatannya. Dibuktikan pada setiap mulai kegiatan dan selesainya kegiatan

diadakan apel untuk laporan.

E.Metode Penelitian

Dalam melakukan penelitian ini, peneliti menggunakan metode

penelitian, yaitu sebagai berikut:

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Pendekatan dan jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif

deskriptif, yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data secara

deskriptif yang berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan

perilaku yang dapat diamati. Data yang diperoleh dalam penelitian ini

tidak berupa angka-angka tetapi data yang terkumpul berbentuk kata-kata

lisan yang mencakup laporan dan foto-foto (Moeloeng, 2009:4).

Menurut Bahroni mengutip pendapat Sutopo bahwa penelitian

pendekatan kualitatif deskriptif, adalah bertujuan untuk mengungkapkan

berbagai informasi kualitatif dengan pendeskripsian yang teliti dan penuh

nuansa untuk menggambarkan secara cermat sifat-sifat suatu hal,

keadaan, fenomena, dan tidak terbatas pada pengumpulan data, tetapi

(32)

Jadi hasil penelitian ini adalah berupa deskripsi atau gambaran

metode-metode dakwah Islam yang dilaksanakan di pondok pesantren.

Metode dakwah ialah cara dakwah yang teratur dan terpogram secara baik

agar maksud mengajak melaksanakan ajaran-ajaran agama Islam dengan

baik dan sempurna (Budiharjo, 2007:53).

Ada berbagai macam metode dakwah, namun dalam penelitian ini

hanya akan difokuskan pada metode dakwah yang digunakan Pondok

Pesantren Agro Nuur El-Falah, Pulutan, Sidorejo, Kota Salatiga tahun

2017.

2. Kehadiran Peneliti

Dalam penelitian ini peneliti bertindak sebagai pengamat

partisipan. Yaitu peneliti melakukan penelitian dengan pengamatan

kegiatan yang dilaksanakan di pondok pesantren tanpa ikut melaksanakan

kegiatan harian atau ikut mondok. Akan tetapi peneliti mengamati

kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan dan mencocokkan dengan

pengakuan-pengakuan dari pihak-pihak yang terkait atau terlibat.

3. Lokasi Penelitian

Pondok Pesantren Agro Nuur El-Falah yang berada di Jalan.

(33)

Kota Salatiga, Jawa Tengah. Dengan Luas Tanah 17.000 M² dan Luas

Bangunan 8.000 M².

4. Sumber Data

Menurut Arikunto (2006:129), yang dimaksud dengan sumber

data dalam penelitian ini adalah subyek darimana data itu dapat diperoleh.

Sehingga dalam penelitian ini menggunakan bebarapa sumber. Pertama,

sumber data primer yakni data yang diperoleh secara langsung dari obyek

yang diteliti. Data primernya adalah pengasuh, ustadz, pengurus dan

santri pondok pesantren Agro Nuur El-Falah, yang akan merespon

pertanyaan- pertanyaan peneliti terkait dengan obyek penelitian yang

diteliti, baik pertanyaan tertulis maupun lisan.

Kedua, yaitu sumber data sekunder yakni data yang diperoleh

secara tidak langsung. Data sekundernya adalah buku-buku, internet,

dokumen atau arsip-arsip dan bahan-bahan kepustakaan lain yang ada

relevansinya dengan penelitian ini.

5. Prosedur Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini untuk pengumpulan data, penulis

menggunakan beberapa metode pengumpulan data diantaranya adalah:

(34)

dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna

dalam suatu topik tertentu (Sugiyono, 2010:72).

Secara umum yang disebut wawancara adalah metode yang

dilakukan dengan menggunakan pertanyaan secara lisan kepada orang

lain dengan maksud agar orang lain memberi jawaban. Dalam metode

wawancara terjadi komunikasi antara penulis dan subyek.

Wawancara dalam penelitian ini adalah wawancara terstruktur,

artinya dalam melakukan wawancara, pengumpul data menggunakan

pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap

untuk pengumpulan datanya.

Pedoman wawancara yang digunakan berupa garis-garis besar

permasalahan yang akan ditanyakan. Metode ini dipergunakan untuk

memperoleh data yang digunakan Pondok Pesantren Agro Nuur El-Falah

dengan sumber informasi wawancara adalah pengasuh pondok pesantren,

ustadz, pengurus dan santri pondok pesantren. Selain itu, sebagai data

pendukung wawancara juga dilakukan dengan narasumber lain, tapi tetap

yang berhubungan dengan penelitian.

Sedangkan yang kedua, adalah observasi yaitu usaha

pengumpulan data dengan pengamatan dan pencatatan secara sistematis

(35)

untuk pengamatan yang dilakukan oleh peneliti secara langsung terhadap

sumber data yang ada pada pondok pesantren Agro Nuur El-Falah.

Observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi

partisipatif, artinya dalam melakukan observasi peneliti ikut terlibat

dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang

digunakan sebagai sumber data penelitian (Sugiyono, 2010: 64).

Obyek observasi dalam penelitian yang dilakukan di Pondok

Pesantren Agro Nuur El-Falah kota Salatiga meliputi: kegiatan belajar

mengajar di pondok pesantren Agro Nuur El-Falah, kegiatan keagamaan

yang dilakukan Pondok Pesantren Agro Nuur El-Falah dan

kegiatan-kegiatan lain yang dilakukan Pondok Pesantren Agro Nuur El-Falah.

Ketiga, metode dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal

atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah,

prasasti, notulen rapat, leger, agenda dan sebagainya (Arikunto, 2006:

231). Dokumen-dokumen yang dijadikan arsip dalam penelitian ini

meliputi: dokumentasi mengenai profil pondok pesantren Agro Nuur

El-Falah, dokumentasi mengenai struktur organisasi pondok pesantren Agro

Nuur El-Falah, dan dokumentasi mengenai kegiatan belajar pondok

(36)

6. Analisis Data

Adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang

diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi,

dengan cara mengorganisasikan data ke dalam unit-unit, melakukan

sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang

akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh

diri sendiri dan orang lain (Sugiyono, 2010:89).

Analisis data kualitatif secara umum dapat dilakukan sebagai

berikut: Pertama, proses reduksi adalah proses mengolah data dari yang

tidak atau yang belum tertata menjadi data yang tertata. Dalam proses

reduksi ini terkandung aspek pengeditan, pemberian kode dan

pengelompokan data sesuai dengan kategorisasi data. Proses reduksi

bertujuan untuk mengolah data yang diperoleh melalui pengumpulan

data, agar menjadi data yang dapat dipahami dan tersusun secara

sistematis.

Kedua, proses interpretasi (penafsiran) yaitu setelah data disusun

secara sistematis, tahap berikutnya yang harus ditempuh adalah tahap

analisa. Ini adalah tahap yang penting dan menentukan. Pada tahap ini

data yang berkaitan dengan permasalahan yang diajukan, ditafsirkan

(37)

yang dapat dipakai untuk menjawab persoalan-persoalan yang diajukan

dalam penelitian (Daymon dan Holloway, 2008: 369).

Metode analisis data yang penulis gunakan adalah metode analisis

data deskriptif kualitatif. Maksudnya adalah proses analisis yang akan

didasarkan pada kaidah deskriptif dan kualitatif. Kaidah deskriptif adalah

bahwasannya proses analisis dilakukan terhadap seluruh data yang telah

didapatkan, diolah dan kemudian hasil analisa tersebut disajikan secara

keseluruhan.

Sedangkan kaidah kualitatif adalah bahwasanya proses analisis

tersebut ditujukan untuk mengembangkan teori bandingan dengan tujuan

untuk menemukan teori baru yang dapat berupa penguatan terhadap teori

lama, maupun melemahkan teori yang telah ada tanpa menggunakan

rumus statistik.

Teori yang digunakan untuk menganalisis adalah teori metode

dakwah kemudian menganalisisnya dengan analisis indeksikalitas.

Indeksikalitas adalah keterkaitan makna kata, perilaku dan lainnya pada

konteksnya.

7. Pengecekan Keabsahan Data

Dalam suatu penelitian agar data dapat dikatakan valid, maka

(38)

konsep penting yang harus diperbarui dari konsep kesahihan data

(validitas) dan keandalan (realibilitas). Untuk menetapkan keabsahan data

diperlukan teknik pemeriksaan, salah satunya adalah derajat kepercayaan

(credibility).

Penelitian ini dilakukan uji keabsahan data dengan menggunakan

teknik triangulasi. Teknik triangulasi adalah teknik yang paling banyak

digunakan untuk pemeriksaan melalui sumber lainnya untuk keperluan

pembanding dengan tujuan meningkatkan kualitas penilaian. Triangulasi

merupakan salah satu teknik pemeriksaan dari kriteria kredibilitas atau

cara untuk meningkatkan keabsahan data dalam penelitian kualitatif.

Terdapat enam macam teknik triangulasi, yaitu sebagai teknik

pemeriksaan yang memanfaatkan teori, data, sumber, metode, instrumen,

dan analitik. Penelitian ini menggunakan teknik triangulasi. Sedangkan

pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode

wawancara, observasi, dan dokumentasi.

8. Tahap-tahap Penelitian

Dari seluruh penelitian ini dapat dikelompokkan ke dalam

(39)

Agro Nuur El-Falah dengan mengikuti kegiatan-kegiatan yang

dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang telah diberikan.

Kedua, tahap pemetaan lingkungan fisik terutama di pondok

pesantren yang menjadi pilihan lokasi penelitian. Yang meliputi depan,

belakang dan lingkungan yang dijadikan lokasi kegiatan-kegiatan. Ketiga,

penelitian lapangan yang sesungguhnya. Dalam penelitian lapangan yang

sesungguhnya ini peneliti sudah melakukan observasi beberapa waktu

sebelumnya. Peneliti sudah terlebih dulu mulai mencari informasi

sebelum menentukan lokasi penelitian. Baik dari santri yang telah berada

disana serta sumber-sumber yang bisa mendukungnya.

Keempat, pengolahan data yang diperoleh ditulis dalam catatan

buku, direkam menggunakan handphone, kemudian ditulis ulang dalam

catatan refleksi pada malam hari atau paginya, selanjutnya data yang

ditulis dalam catatan refleksi dianalisis secara mendalam guna

menemukan kesimpulan sementara. Dari hasil analisis ini pertanyaan

maupun hipotesa baru dikembangkan dan kemudian mengadakan

penelitian lanjut untuk memperoleh jawaban seterusnya prinsip snow

(40)

menemukan konsep lokal dan menghubungkan antar konsep dari data

(41)

G. Sistematika Penulisan

Adapun sistematika penulisan dalam penyusunan skripsi ini adalah

sebagai berikut:

Bab I Pendahuluan, bab ini terdiri dari latar belakang masalah, fokus

penelitian, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, penegasan istilah,

metode penelitian, dan sistematika penulisan.

Bab II Kajian Pustaka, bab ini terdiri dari data-data dan teori sebagai

penjelas tentang pengertian agama, pengertian metode, pengertian

dakwah, dan pengertian pondok pesantren.

Bab III Paparan Data dan Temuan Penelitian, bab ini menguraikan tentang

data dan temuan dengan menggunakan metode penelitian yang

meliputi jenis penelitian, lokasi dan waktu penelitian, dan teknik

penelitian.

Bab IV Pembahasan, bab ini memuat gagasan peneliti, keterkaitan antara

pola-pola, kategori-kategori dan dimensi-dimensi, posisi temuan/teori

terhadap teori-teori dan temuan-temuan sebelumnya, serta penafsiran

dan penjelasan dari temuan/teori yang diungkap dari lapangan

(42)

Bab V Penutup, bab ini memuat tentang temuan pokok atau kesimpulan,

implikasi dan tindak lanjut penelitian, serta saran-saran atau

(43)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A.Pengertian Agama

Sebelum lebih jauh mempelajari tentang metode dakwah terlebih dulu

harus mengenal apa arti dari agama. Agama menurut Sumardi (dalam Ali,

2017:36), berasal dari bahasa Sansekerta dari kata a berarti tidak dan gama

berarti kacau, sehingga agama berarti sesuatu yang tidak kacau. Sementara

agama dalam bahasa Inggris relegion, berasal dari kata relegio (bahasa

latin), yang berakar pada kata religare yang berarti mengikat. Dalam

pengertian relegio termuat peraturan tentang kebaktian bagaimana manusia

mengutuhkan hubungannya dengan realitas tertinggi (vertikal) dalam

penyembahan dan hubungannya secara horizontal.

Agama adalah keprihatinan maha luhur dari manusia yang terungkap

selaku jawabannya terhadap panggilan dari yang Maha Kuasa dan Maha

Kekal. Keprihatinan yang maha luhur itu diungkapkan dalam hidup manusia,

pribadi atau kelompok terhadap Tuhan, terhadap manusia dan terhadap alam

(44)

Sehingga agama itu timbul sebagai jawaban manusia atas penampakan

realitas tertinggi secara misterius yang menakutkan sekaligus

mempesonakan. Dalam pertemuan itu manusia tidak berdiam diri, ia harus

atau terdesak secara batiniah untuk merespons. Dalam kaitan ini ada juga

yang mengartikan religare dalam arti melihat kembali kebelakang kepada

hal-hal yang berkaitan dengan perbuatan Tuhan yang harus diresponnya

untuk menjadi pedoman dalam hidupnya.

Secara antropologis Geertz (dalam Ali, 2017:37) mendefinisikan

agama sebagai sistem lambang yang berfungsi menegakkan berbagai

perasaan dan motivasi yang kuat, berjangkauan luas dan abadi pada manusia

dengan merumuskan berbagai konsep mengenai keteraturan umum

eksistensi, dan dengan menyelubungi konsepsi-konsepsi ini dengan sejenis

tuangan faktualitas sehingga perasaan-perasaan dan motivasi-motivasi itu

secara unik tampak realistik.

Yahya mengutip pendapat Sayid Qutub menyatakan bahwa semua

agama mengajarkan pemeluknya untuk hidup dalam kedamaian. Bahkan

agama muncul guna menyantuni dan menyelamatkan anak manusia,

menunjukan jalan-jalan kedamaian dan keselamatan, meng hilangkan

(45)

menyucikan diri dari perbuatan-perbuatan buruk, tercela atau merusak dan

lain sebagainya dari perbuatan yang baik (Yahya, 2016:82)

Diperkuat oleh Goody (dalam Ali, 2017:37), perihal agama atau

kepercayaan-kepercayaan agama hadir pada saat wujud-wujud bukan

manusia dipuja-puja dengan model manusiawi. Kegiatan-kegiatan

keagamaan tidak hanya merupakan tindakan-tindakan dengan eksistensi

wujud-wujud ini.

Jadi agama memiliki peran yang sangat kuat dalam masyarakat.

Sehingga dengan perannya akan terbentuk kehidupan yang sehat dan tidak

terjadi saling merugikan antara individu yang satu terhadap individu lainnya.

Agama juga bisa dijadikan agama ageming aji yang berarti ajaran sekaligus

sebagai pedoman yang harus dipegang dengan kukuh dan dihayati agar

muncul kebaikan. Nilai kebaikan dapat dilihat dari berbagai dimensi;

dimensi pribadi, dimensi sosial, dan dimensi semesta. Beragama yang baik

adalah ketika ketiga dimensi yang melingkupi hidup manusia itu selalu

dalam keadaan baik. Baik dalam dimensi pribadi adalah bahwa manusia

menemukan kebahagiaan sejati, baik dalam dimensi sosial, maknanya

manusia dipersepsi baik oleh orang disekitarnya, karena selalu memberikan

(46)

baik dalam dimensi semesta menjaga keselarasan antara kedua

(47)

B.Pengertian Dakwah

Selanjutnya definisi dan pengertian-pengertian tentang dakwah.

Dakwah ditinjau dari etimologi atau bahasa, berasal dari bahasa Arab, yaitu

da‟a yad’uda‟watan, yang berarti mengajak, menyeru, memanggil. Dengan demikian dakwah secara etimologi adalah merupakan suatu proses

penyampaian atas pesan-pesan tertentu yang berupa ajakan atau seruan

dengan tujuan agar orang lain memenuhi ajakan tersebut. Sedangkan orang

yang melakukan seruan atau ajakan tersebut dikenal dengan panggilan da‟i artinya orang yang menyeru (Amin, 2013:1-2).

Menurut Yahya mengutip pendapat Budiharjo, dakwah bisa

didefinisikan sebagai ishlah, yaitu memperbaiki keadaan kaum muslimin dan

memberi petunjuk kepada orang-orang kafir agar mau memeluk Islam atau

proses memindahkan kepada situasi lebih baik. Dia juga merupakan suatu

proses penyampaian, ajakan atau seruan kepada orang lain agar mau

memeluk, mempelajari dan mengamalkan ajaran agama secara sadar,

sehingga menjadikannya bangkit dan kembali ke potensi fitrinya yang

tujuannya adalah bahagia di dunia dan akhirat (Yahya, 2016:88).

Didukung oleh Bahroni menurut pendapat Syaikh Abdullah Ba’alawi,

(48)

yang belum mengerti atau sesat jalannya dari agama yang benar untuk

dialihkan ke jalan ketaatan kepada Allah, menyuruh orang berbuat baik dan

melarang berbuat buruk agar mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat

(Bahroni, 2016:123).

Secara terminologi definisi mengenai dakwah, telah banyak dibuat

para ahli, dimana masing-masing definisi tersebut saling melengkapi.

Walaupun berbeda susunan redaksinya, namun maksud dan makna

hakikinya sama, sesuai yang dikutip Samsul Munir Amin (2013:1-5),

beberapa definisi dakwah yang dikemukakan para ahli mengenai dakwah

yaitu:

Menurut Toha Yahya Omar, dakwah adalah mengajak manusia dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dengan perintah Tuhan, untuk keselamatan dan kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat.

Menurut A. Hasjmy, dakwah Islamiyyah yaitu mengajak orang lain untuk meyakini dan mengamalkan aqidah dan syariah Islamiyyah yang terlebih dahulu telah diyakini dan diamalkan oleh pendakwah sendiri.

(49)

Menurut M. Natsir, dakwah adalah usaha-usaha menyerukan dan menyampaikan kepada perorangan manusia dan seluruh umat manusia konsepsi Islam tentang pandangan dan tujuan hidup manusia di dunia ini, dan yang meliputi al-amar bi al-ma‟ruf an-nahyu an al-munkar dengan berbagai macam cara dan media yang diperbolehkan akhlak dan membimbing pengalamannya dalam perikehidupan bermasyarakat dan perikehidupan bernegara.

Menurut M. Arifin, dakwah mengandung pengertian sebagai suatu kegiatan ajakan baik dalam bentuk lisan, tulisan, tingkah laku dan sebagainya yang dilakukan secara sadar dan berencana dalam usaha mempengaruhi rang lain baik secara individual maupun secara kelmpok agar timbul dalam dirinya suatu pengertian, kesadaran, sikap, penghayatan serta pengamalan terhadap ajaran agama sebagai message yang disampaikan kepadanya dengan tanpa adanya unsur-unsur paksaan.

Menurut Amrullah Ahmad, pada hakikatnya dakwah Islam merupakan aktualisasi imani (theologis) yang dimanifestasikan dalam suatu sistem kegiatan manusia beriman dalam bidang kemasyarakatan yang dilaksanakan secara teratur untuk mempengaruhi cara merasa, berfikir, bersikap, dan bertindak manusia pada tataran kenyataan individual dan sosio-kultural dalam rangka mengusahakan terwujudnya ajaran Islam dalam semua segi kehidupan dengan menggunakan cara tertentu.

(50)

Menurut M. Quraish Shihab, bahwa dakwah adalah seruan atau ajakan kepada keinsyafan atau usaha mengubah situasi kepada situasi yang lebih baik dan sempurna, baik terhadap pribadi atau masyarakat. Perwujudan dakwah bukan sekedar usaha peningkatan pemahaman dalam tingkah laku dan pandangan hidup saja, tetapi juga menuju sasaran yang lebih luas. Apalagi pada masa sekarang ini, ia harus lebih berperan menuju kepada pelaksanaan ajaran Islam secara lebih menyeluruh dalam berbagai aspek.

Menurut Ibnu Taimiyah, dakwah merupakan suatu proses usaha untuk mengajak agar orang beriman kepada Allah, percaya dan mentaati apa yang telah diberikan oleh rasul serta mengajak agar dalam menyembah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya.

Dakwah merupakan suatu proses usaha untuk mengajak agar orang

beriman kepada Allah, percaya dan menaati apa yang telah diberitakan oleh

rasul serta mengajak agar dalam menyembah kepada Allah seakan-akan

melihat-Nya (Amin, 2009:3-5).

Sehingga dapat disimpulkan bahwa dakwah adalah suatau aktivitas

yang dilakukan secara sadar dalam rangka menyampaikan pesan-pesan

agama Islam kepada rang lain agar mereka menerima ajaran Islam tersebut

dan menjalankannya dengan baik dalam kehidupan individual maupun

(51)

di akhirat, dengan menggunakan media dan cara-cara tertentu (Amin,

2009:5).

Berbagai macam pemahaman mengenai pengertian dakwah

sebagaimana disebutkan di atas, meskipun terdapat perbedaan dalam

perumusan, tetapi apabila diperbandingkan satu sama lain, dapatlah diambil

kesimpulan-kesimpulan sebagai berikut:

Pertama, dakwah itu merupakan suatu aktivitas atau usaha yang

dilakukan dengan sengaja atau sadar. Kedua, usaha dakwah tersebut berupa

ajakan kepada jalan Allah dengan amar bi al-ma‟ruf an-nahyu an al-munkar. Ketiga usaha tersebut dimaksudkan untuk mencapai cita-cita dari dakwah itu

sendiri yaitu menuju kebahagiaan manusia di dunia maupun di akhirat.

Untuk mengetahui tentang arti dakwah secara mandalam dapat

diketahui dari penjelasan berikut ini.

1. Dasar Hukum Dakwah

Dasar-dasar hukum tentang dakwah pada setiap muslim

diwajibkan menyampaikan dakwah Islam kepada seluruh umat manusia,

(52)

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orangorang yang mendapat petunjuk (QS An-Nahl:125).

Jadi, melaksanakan dakwah hukumnya wajib karena tidak ada

dalil-dalil lain yang memalingkannya dari kewajiban itu, dan hal ini

disepakati leh para ulama. Hanya saja terdapat perbedaan pendapat para

ulama tentang status kewajiban itu apakah fardhu ain atau fardhu kifayah

(Amin, 2013:51).

Dalam Al Qur’an terdapat banyak ayat yang secara implisit

menunjukkan suatu kewajiban melaksanakan dakwah, di antaranya dapat

(53)

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung (QS. Ali Imran:104).

Ada perbedaan penafsiran ini terletak pada kata minkum “min” diberikan pengertian “littab‟idh” yang berarti sebagian, sehingga menunjukkan kepada hukum fardhu kifayah. Sedangkan pendapat lainnya

mengartikan “min” dengan “littabyin” atau “lil-bayaniyyah” atau menerangkan sehingga menunjukkan kepada hukum fardhu ain.

Tugas dakwah asalnya adalah tugas Rasul, tetapi sesungguhnya

mencakup kepada seluruh umatnya. Hal ini juga berarti bahwa beban

berdakwah itu bukan hanya kepada Rasulullah saja tetapi juga kepada

umat Islam tanpa kecuali, sebagaimana dalam firmannya surat Ali Imran

ayat 110 yaitu:

(54)

baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik (QS. Ali Imran:110).

Dalam hal ini Rasulullah sendiri sebagai pembawa risalah dan

hamba Allah yang ditunjuk sebagai utusan Allah telah bersabda kepada

umatnya untuk berusaha dalam menegakkan dakwah, yaitu:

Barangsiapa di antara kamu melihat kemunkaran maka hendaklah ia merubah dengan tangannya, jika tidak kuasa maka dengan lisannya, jika tidak kuasa dengan lisannya maka dengan hatinya, yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman (HR. Muslim).

Hadits di atas menunjukkan perintah kepada umat Islam untuk

mengadakan dakwah sesuai dengan kemampuan masing-masing. Apabila

seorang muslim mempunyai kekuasaan tertentu maka dengan

kekuasaannya itu ia diperintah untuk mengadakan dakwah. Jika ia hanya

mampu dengan lisannya maka dengan lisan itu ia diperintahkan untuk

(55)

berdakwah dengan hati, seandainya dengan lisan pun ternyata ia tidak

mampu.

Keterangan yang dapat diambil dari pengertian ayat Al-Qur’an

dan hadits nabi di atas adalah bahwa kewajiban berdakwah itu merupakan

tanggung jawab dan tugas setiap muslim di manapun dan kapanpun ia

berada. Tugas dakwah ini wajib dilaksanakan bagi laki-laki dan wanita

Islam yang baligh dan berakal. Kewajiban dakwah ini bukan hanya

kewajiban para ulama, tetapi merupakan kewajiban setiap insan muslim

dan muslimat tanpa kecuali. Hanya kemampuan dan bidangnya saja yang

berbeda, sesuai dengan ukuran dan kemampuan masing-masing.

2. Tujuan Dakwah

Sedangkan untuk tujuan dakwah merupakan suatu rangkaian

kegiatan atau proses, dalam rangka mencapai suatu tujuan tertentu.

Tujuan ini dimaksudkan untuk pemberi arah atau pedoman bagi gerak

langkah kegiatan dakwah. Sebab tanpa tujuan yang jelas seluruh aktivitas

dakwah akan sia-sia tiada artinya.

Amrullah Ahmad mengutip dalam bukunya Aziz (2004:60) bahwa

(56)

dan bertindak manusia pada dataran individual dan sosiokultural dalam

rangka terwujudnya ajaran Islam dalam semua segi kehidupan, ada

beberapa tujuan dakwah secara garis yaitu:

a. Tujuan umum dakwah adalah menyelamatkan umat manusia dari

lembah kegelapan dan membawanya ketempat yang terang benderang,

dari jalan yang sesat kepada jalan yang lurus, dari lembah kemusyrikan

dengan segala bentuk kesengsaraan menuju kepada tauhid yang

menjanjikan kebahagiaan.

b. Tujuan khusus dakwah yaitu terlaksananya ajaran Islam secara

keseluruhan dengan cara yang benar dan berdasarkan keimanan,

terwujudnya masyarakat muslim yang diidam-idamkan dalam suatu

tatanan hidup berbangsa dan bernegara, adil, makmur, damai dan

sejahtera dibawah limpahan rahmat Allah SWT, serta mewujudkan

sikap beragama yang benar dari masyarakat.

3. Unsur-unsur dakwah

Untuk keberhasilan dakwah kita juga harus mengetahui

unsur-unsur dakwah yaitu komponen-komponen yang selalu ada dalam setiap

(57)

a. Da‟i (subyek dakwah) adalah orang yang melaksanakan dakwah baik lisan maupun tulisan ataupun perbuatan dan baik secara individu,

kelompok atau berbentuk organisasi.

Seorang da’i yang bijak adalah yang mengetahui metode yang

akan dipakainya dan sebagai seorang da’i harus memulai dakwahnya

dengan langkah yang pasti. Diantaranya dengan dimulai dari dirinya

sehingga menjadi panutan yang baik bagi orang lain (Al-Qahthani,

2005:97).

Dan da’i harus dapat mempelajari realitas, situasi masyarakat,

dan kepercayaan mereka serta menempatkan mereka pada tempatnya

masing-masing. Kemudian mengajak mereka berdasarkan kemampuan

akal, pemahaman, tabiat, tingkatan keilmuan dan status sosial mereka.

Kemudian membangun rumah tangganya dan memperbaiki

keluarganya, agar menjadi sebuah bangunan muslim yang berasaskan

keimanan. Selanjutnya melangkah kepada masyarakat dan

menyebarkan dakwah kebaikan di kalangan mereka. Memerangi

berbagai bentuk akhlak yang buruk dan berbagai kemungkaran dengan

(58)

Dan berupaya untuk menggali keutamaan dan kemuliaan akhlak.

Kemudian mengajak kalangan orang yang tidak beragama Islam untuk

diarahkan ke jalan yang benar dan sesuai dengan syariat Islam

(Al-Qahthani, 2005:90),

b. Mad‟u (obyek dakwah) adalah seluruh umat manusia, baik laki-laki atau perempuan, tua atau muda, miskin atau kaya, muslim atau non

muslim, kesemuanya menjadi objek dari kegiatan dakwah Islam,

semua berhak menerima ajakan dan seruan ke jalan Allah (An-Nabiry,

2008:230).

Da’i yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang

masyarakat yang akan menjadi mitra dakwahnya adalah calon-calon

da’i yang akan mengalami kegagalan dalam dakwahnya (Aziz,

2004:94).

Untuk itu pengetahuan tentang apa dan bagaimana mad’u, baik

jika ditinjau dari aspek psikologis, pendidikan, lingkungan sosial,

ekonomi serta keagamaan, merupakan suatu hal yang pokok dalam

(59)

Karena hal tersebut akan sangat membantu dalam pelaksanaan

dakwah, terutama dalam hal penentuan tingkat dan macam materi

yang akan disampaikan, atau metode mana yang akan diterapkan, serta

melalui media apa yang tepat untuk dimanfaatkan, guna menghadapi

mad’u dalam proses dakwahnya (An-Nabiry, 2008:230-231).

c. Maddah (materi dakwah) adalah pesan-pesan atau segala sesuatu yang

harus disampaikan oleh subyek kepada obyek dakwah, yaitu

keseluruhan ajaran Islam, yang ada di dalam kitab maupun sunnah

Rasul.

Yahya mengutip pendapat Zakiyudin bahwa dakwah yang berhasil

adalah dakwah yang mampu mengajak manusia untuk menjaga kelestarian

dan kesinambungan hidup dirinya sendiri, yakni sehat secara fisik dan bebas

dari segala macam penyakit, dan dapat bekerja secara produktif untuk

menjamin hidupnya dan mendorong manusia untuk secara sadar

melestarikan lingkungan hidup dan menjaga keseimbangan ekologis dan

(60)

C.Pengertian Metode

Menurut Echols dan Shadily yang dikutip Budiharjo (2007:53) arti dari

metode adalah berasal dari bahasa Inggris method, yang berarti

metode-metode atau cara. Dalam bahasa Indonesia metode-metode berarti cara yang teratur

dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud atau cara kerja yang

bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai

tujuan yang ditentukan.

Menurut M. Arifm yang yang dikutip Saputra (2011:242), dari segi

bahasa metode berasal dari dua kata yaitu “meta” (melalui) dan “hodos” (jalan, cara).

Sedangkan kata metode telah menjadi bahasa Indonesia yang memiliki

pengertian sebagai suatu cara yang bisa ditempuh atau cara yang ditentukan

secara jelas untuk mencapai dan menyelesaikan suatu tujuan, rencana sistem,

dan tata pikir manusia (Aziz, 2004:122).

Dapat disimpulkan bahwa metode dakwah adalah cara dakwah yang

teratur dan terpogram secara baik agar maksud mengajak melaksanakan

(61)

Sedangkan menurut Amin (2009:13) juga menyampaikan bahwa

metode dakwah (kaifiyah ad-da‟wah, methode) yang artinya adalah cara-cara penyampain dakwah, baik individu, kelompok, maupun masyarakat luas agar

pesan-pesan dakwah tersebut mudah diterima. Metode dakwah hendaklah

menggunakan metode tepat dan sesuai dengan situasi dan kondisi mad’u

sebagai penerima pesan-pesan dakwah.

Metode dakwah yang diterapkan oleh seorang da'i saat menghadapi

mad'u yang berlatar belakang masyarakat pedesaan tentu berbeda dengan

metode yang diterapkan manakala yang menjadi mad'u adalah masyarakat

perkotaan. Metode dakwah yang dapat diterapkan kepada masyarakat terdiri

atas berbagai macam metode, yakni: 1) bil-hikmah/al-hikmah, 2) maw‟izhoh hasanah, 3) kisah (Qashash), 4) tanya jawab, 5) keteladanan yang Baik

(Uswah Hasanah), 6) berdiskusi atau tukar fikiran dengan cara yang baik, 7)

perumpamaan (Al-Amtsal), 8) berdalil naqli yang baik (Budiharjo,

2007:54-86).

Pertama, bil-hikmah yaitu mencegah kezaliman yang dapat mencegah

seseorang dari kerusakan dan kehancuran. Setiap perkataan yang sesuai

dengan kebenaran, meletakan sesuatu pada tempatnya, kebenaran perkataan,

(62)

Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kebijaksanaan, yaitu segala sesuatu

yang menggunakan akal budinya (pengalaman dan pengetahuan) arif dan

tajam fikiranya. Hikmah adalah kebijaksanaan yang tercermin dari perkataan

lembut, kesabaran, keramahan dan kelapangdadaan serta tidak meletakkan

sesuatu melebihi ukuranya.

Kedua, maw‟izhoh hasanah adalah menasehati seseorang dengan tujuan tercapainya sesuatu manfaat atau maslahah baginya. Maw‟izhoh hasanah adalah cara berdakwah atau bertabligh yang disenangi;

mendekatkan manusia kepada-Nya dan tidak menjerakan mereka;

memudahkan tidak menyulitkan, sehingga suatu metode mengesankan

sasaran dakwah bahwa peranan juru dakwah adalah sebagai teman dekat

yang menyayanginya, dan sebagai yang mencari segala hal yang bermanfaat

baginya dan membahagiannya.

Mauidzotul hasanah juga bisa diartikan sebagai ungkapan yang

mengandung unsur bimbingan pendidikan, pengajaran, kisah-kisah berita

gembira, peringatan, pesan-pesan positif atau wasiat yang dapat dijadikan

pedoman dalam kehidupan agar mendapatkan keselamatan dunia akhirat.

Ketiga, melalui kisah (qashash) yaitu mengikuti jejak sesuatu

(63)

kepada seseorang. Sedangkan kisah (qashash) dalam bahasa Indonesia

berarti kejadian (riwayat) dikehidupan seseorang. Apabila berbagai definisi

tersebut kemudian dikaitkan dengan Al-Qur’an adalah suatu cerita yang

dapat diikuti jejaknya yang menyampaikan kejadian umat terdahulu,

nabi-nabi, atau rasul, serta kejadian-kejadian lain yang benar-benar terjadi dimasa

kini maupun yang akan datang.

Penyampaian dakwah dengan metode kisah berarti sesuatu metode

dakwah yang dilakukan dengan menyampaikan kisah atau carita seseorang

dimasa lampau maupun kejadian yang akan datang yang ada dalam

Al-Qur’an, dengan tujuan mengambil pelajaran dari cerita atau kisah yang

disampaian tersebut.

Keempat, tanya jawab yaitu suatu metode bentuk pertanyaan yang

disampaikan oleh umat tentang suatu masalah, kemudian ayat selanjutnya

memberikan jawaban atas pertanyaan yang disampaikan itu. Jadi, dalam

metode ini umat menyampaikan pertanyaan mengenai hal-hal yang belum

diketahuinya kepada seorang yang dianggap lebih tahu yang pada akhirnya

dapat memberikan jawaban yang sesuai dan memuaskan hatinya.

Kelima, keteladanan yang baik (uswah hasanah) kata uswah berarti

(64)

tentang kebaikan atau keburukan. Kata hasanah juga dapat diartikan sebagai

segala sesuatu yang sesuai dengan pandangan mata dan perbuatan-perbuatan

maupun hal ihwal yang sesuai dengan hati nurani. Uswah hasanah atau

keteladanan yang baik berarti perbuatan-perbuatan baik, atau hal ihwal yang

sesuai dengan hati nurani, yang diikuti orang lain atau obyek dakwah.

Setiap da’i dalam hubungannya dengan penggunaan metode dakwah

berupa uswah hasanah ini, diharapkan dapat memberi keteladanan yang baik

secara langsung maupun tidak langsung dan mengajak orang lain (mad‟u) untuk meneladani tingkah lakunya tersebut. Kaitannya dengan keteladanan,

Rasulullah saw juga memberikan keteladanan yang baik bagi umat manusia

dalam setiap kali beliau berdakwah, sebagaimana telah tersurat dalam (QS.

(65)

Artinya: Sesungguhnya sudah ada pada diri Rasulullah saw. itu suri tauladan yang baik bagimu yaitu bagi orang orang yang mengharap rahmat Allah SWT dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah SWT (QS. Al-Ahzab:21).

Keteladanan yang dapat diambil pada diri Rasulullah SAW, adalah

dalam kepribadian beliau secara totalitasnya adalah teladan. Terdapat dalam

kepribadian beliau hal-hal yan patut diteladani. Jadi seorang da’i harus

menjadi teladan bagi obyek dakwah atau masyarakat yang diseru, segala

perilakunya harus sesuai dengan aturan agama, agar apa yang disampaikan

kepada mereka dapat diterima.

Keenam, berdiskusi atau tukar fikiran dengan cara yang baik adalah

perundingan atau percakapan dengan jalan bernantah-bantahan dan adu

argumentasi untuk memenangkannya akan tetapi lawan yang diajak

berdiskusi atau berbantahan itu dengan segala sesuatu yang sesuai dengan

(66)

sesuai dengan hati nurani. Jadi ada dialogis yang terbaik, sehinggamengena

pada pemandangan dan hati nurani yang diajak bicara.

Dalam Al-Qur’an telah dipertimbangkan dan membuat perhitungan

khusus atas orang-orang kafir dan para pengikutajaran sesat, sehingga

Al-Qur’an mengetahui bahwa para juru dakwah pasti akan saling berbenturan

dengan mereka, karena kontradiksi keyakinan mereka dengan dakwah itu

sendiri, baik karena perbedaan pemikiran mereka dengan da’i, maupun

karena arah dakwah yang berlawanan dengan dakwah mereka.

Jadi dengan demikian dakwah yang baik, jernih, dan suci adalah

menegakkan kebaikan dan kebenaran, menegaskan kepada setiap da’i agar

mampu membangkitkan kebenaran dan kebaikan pada manusia,

menghilangkan kejahatan dan kemaksiatan. Sebab kejahatan dan

kemaksiatan hanya menghancurkan, tidak membangun, hanya

membahayakan dan tidak memberi manfaat. Hal inilah termasuk syiar atau

dakwah Islam yang selalu menjunjung harkat, derajat dan martabat

dimanapun dan kapanpun berada.

Ketujuh, perumpamaan (amtsal) yaitu suatu ungkapan perkataan

tentang sesuatu yang diperumpamakan dengan sesuatu perkataan yang lain,

(67)

sehingga dapat mengetahui yang ghaib, serta menampakkan pengertian yang

abstrak dalam ungkapan yang indah, singkat, dan menarik, yang mengena

dalam jiwa, baik dalam bentuk tasybih, majaz, ataupun mursal. Jadi dengan

demikian, gambaran perumpamaan dalam Al-Qur’an dengan berbagai

tujuan, dalam misi dakwah, memudahkan manusia menerima untuk

memahami, karena disesuaikan dengan alam nyata, sehingga manusia mau

mengingat ajaran yang baik, dan meninggalkan ajaran yang jelek secara

sadar dan ikhlas dan dengan rasa gairah dan gembira.

Kedelapan, berdalil naqli yang baik artinya seorang da’i harus

memperhatikan dan berhati-hati serta kemantapan dalam berdalil dan

berargumentasi yang baik dengan menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an dan

Hadits harus sesuai dengan aturannya, baik dari segi hukum, pengetahuan

maupun pemikiran. Dengan demikian merupakan kewajiban tahap demi

tahap, mereka diarahkan kepada yang lebih baik dengan dalil-dalil naqli dari

yang ringan menuju ke ajaran yang benar.

D.Pengertian Pondok pesantren

Menurut Clifford Geertz pesantren berasal dari kata santri, mempunyai

(68)

sekolah agama yang disebut pondok atau pesantren. Oleh sebab itulah

perkataan pesantren diambil dari perkataan santri yang berarti tempat untuk

para santri. Dalam arti luas dan umum santri adalah bagian penduduk Jawa

yang memeluk Islam secara benar-benar, bersembahyang, pergi ke Masjid

dan berbagai aktifitas lainnya. Sedangkan asal usul kata santri berasal dari

perkataan sastri dari bahasa sansekerta yang artinya melek huruf (Yasmadi,

2002:61).

Menurut Zamakhsyari Dhofier pesantren terdiri dari lima elemen

pokok, yaitu: kyai, santri, masjid, pondok, dan pengajaran kitab-kitab Islam

klasik (Yasmadi, 2002:63). Kelima elemen tersebut merupakan ciri khusus

yang dimiliki pesantren dan membedakan pendidikan pondok pesantren

dengan lembaga pendidikan dalam bentuk lain.

Keberadaan seorang kyai dalam lingkungan sebuah pesantren laksana

jantung bagi kehidupan manusia. Kyai adalah salah satu unsur dominan

dalam kehidupan sebuah pesantren, kyai mengatur irama perkembangan dan

kelangsungan kehidupan suatu pesantren dengan keahlian, kedalaman ilmu,

karismatik, dan ketrampilannya.

Selanjutnya, santri adalah unsur pokok dari unsur lainnya yang terdiri

(69)

dalam pondok pesantren) dan santri kalong (santri yang berasal dari daerah

sekitar pesantren dan biasanya mereka tidak menetap dalam pesantren.

Masjid adalah sebagai pusat kegiatan ibadah dan belajar mengajar.

Masjid merupakan sentralsebuah pesantren karena disinilah pada tahap awal

bertumpu seluruhseluruh kegiatan dilingkungan pesantren, baik yang

berkaitan ibadah, shalat berjama’ah, zikir, wirid, do’a, i’tiqab dan juga

kegiatan belajar-mengajar.

Adapun pondok adalah tempat tempat tinggal santri mukim dengan

kyai pimpinan pesantren serta anggota lainnya. Fenomena pondok pada

pesantren merupakan sebagian gambaran kesederhanaan yang menjadi ciri

khas kesederhanaan santri di pesantren. Pondok dan asrama santri tersebut

adakalanya berjejer adakalanya deretan kios disebuah pasar. Tetapi fasilitas

yang amat sederhana ini tidak mengurangi semangat santri dalam

mempelajari kitab-kitab klasik.

Kitab-kitab klasik juga salah satu unsur terpenting dari keberadaan

sebuah pesantren dan yang membedakannya dengan lembaga pendidikan

yang lainnya. Pesantren sebagai lembaga dakwah Islam yang tidak

diragukan sebagai pusat transmisi dan desiminasi ilmi-ilmu keislaman,

(70)

Maka pengajaran kitab-kitab kuning telah menjadi karakteristik yang

merupakan ciri khas dari proses belajar mengajar di pesantren atau dakwah

Islam di pesantren. Sistem mendalami kitab-kitab tersebut biasa

menggunakan sistem weton (pengajian yang inisiatifnya berasal dari kyai,

baik dalam menentukan tempat, waktu, maupun kitabnya) dan sistem

sorogan (pengajian yang merupakan permintaan dari seseorang atau

beberapa orang santri kepada kyainya untuk diajarkan kitab tertentu.

Menurut Nurcholis Madjid, kitab klasik mencakup cabang ilmu-ilmu:

fiqh, tauhid, tasauf, nahwu-sharf. Dan konsentrasi keilmuannya berkembang

menjadi 12 macam disiplin keilmuan yaitu: nahwu, sharf, balaghah, tauhid,

figh, ashul fiqh, qawaid fiqhiyah, tafsir, hadits, muthalah al-haditsah, tasauf,

dan mantiq (Yasmadi, 2002:68).

Adapun rincian kitab-kitab yang menjadi konsentrasi keilmuan di

pesantren dalam cabang ilmu fiqh, misalnya: safinat‟ul-Shalah, safinat‟ul -najah, fath-u‟l-qarib, taqrib, fath-u‟l-mu‟in, minhaj-u‟l-qawim,

muthma‟innah, al-iqna‟, dan fath-u‟lwahhab.

Cabang ilmu tauhid, yaitu: aqidat-u‟l-awamm (nazham), bad‟-u‟l-amal (nazham), dan sanusiyah. Kemudian dalam cabang ilmu tasauf, yaitu:

Referensi

Dokumen terkait