• Tidak ada hasil yang ditemukan

ARTIKEL KARYA SENI “PISANG BATU” - ISI Denpa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "ARTIKEL KARYA SENI “PISANG BATU” - ISI Denpa"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

ARTIKEL KARYA SENI

“PISANG BATU”

OLEH :

I WAYAN SANCANA TEJA NIM :

200902022

PROGRAM STUDI S-1 SENI KARAWITAN JURUSAN KARAWITAN

FAKULTAS SENI PERTUNJUKAN

INSTITUT SENI INDONESIA

(2)

Abstrak

(3)

Pendahuluan

Pohon pisang biasanya ditanam pada awal musim penghujan agar mendapatkan kondisi tanah yang lembab dan memungkinkan pohon pisang tersebut tidak kekeringan serta dapat menyerap nutrisi dari tanah. Pertumbuhan pohon pisang dapat dijabarkan sebagai berikut; usia 2

– 4 minggu tunas pisang tersebut mulai tumbuh daun kecil, kurang lebih dua lembar, pada ujung daunnya kelihatan runcing menyerupai ujung pedang serta pelepahnya berwarna merah kecoklatan. Pada minggu ke 4 – 8 telah tumbuh 7 sampai 9 pelepah yang daunya sudah sedikit lebih lebar serta berwarna hijau. Minggu ke 12 – 14 telah tumbuh tangkai pada tengah-tengah hati pohon bagian atas yang di ujungnya tumbuh jantung pisang berwarna merah hati, pada periode ini pohon pisang telah membentuk ruas-ruas. Minggu ke 20 atau pada bulan ke 5 buah pisang mulai berbentuk. Pada bulan ke 6 buah pisang telah matang yang secara umum berwarna kuning.

Berdasarkan hasil pengamatan dan observasi penggarap yang tinggal di daerah pedesaan dan sekitar rumah banyak ditumbuhi berbagai macam pohon pisang, fenomena melihat, mengamati rindangnya pohon pisang, serta menikmati buah pisang menimbulkan perasaan sejuk, damai, dan tenang. Dari sekian buah pisang yang pernah dinikmati ada satu jenis buah pisang yang di dalamnya memiliki banyak biji, pisang inilah yang disebut pisang batu (biyu batu). Pisang batu adalah jenis pisang yang memiliki banyak biji di dalam buahnya yang terasa berbeda bila dikunyah dengan jenis buah pisang lainnya. Rasa kenyal, manis, keras, bercampur sedikit asam menimbulkan sensasi rasa nikmat yang berbeda dari buah pisang lainya.

Sensasi yang ditimbulkan ketika menikmati buah pisang batu tersebut terasa jelas diingatan penggarap sehingga menimbulkan inspirasi yang kemudian memotivasi lahirnya ide untuk mewujudkan sebuah garapan tabuh kreasi yang berjudul Pisang Batu. Judul ini penggarap pilih karena ingin mengungkapkan ekspresi keindahan bentuk buah serta sensasi rasa buah pisang yang memiliki biji di dalam buahnya. Sensasi rasa buah pisang yang penggarap rasakan selanjutnya dituangkan ke dalam media ungkap gong bebonangan sebagai pendukung wujud karya. Dalam penuangan ide penggarap mentrasformasikan ke dalam karya karawitan dengan gamelan gong bebonangan sebagai media ungkap.

(4)

buahnya. Penggarap menekankan juga pada pola gendingnya yang disesuaikan dengan karakter Pisang Batu yakni memiliki rasa manis, teksturnya kenyal yang terdapat dalam pisang batu ketika dinikmati. Bebonangan merupakan salah satu gamelan pengiring dalam prosesi upacara yadnya seperti dewa yadnya dan manusa yadnya, yang sangat kental dengan tabuh klasiknya. Dari fenomena tersebut penggarap bermaksud melestarikan dan mengembangkan gamelan tersebut dan mengembangkan pola gending dengan menggarap tabuh kreasi bebonangan.

Pembahasan

Ide terkadang muncul begitu saja di pikiran seorang penggarap, dan seketika juga hilang, namun ada juga yang mencari ide melalui proses merenung, menghayal, menonton, membaca, melihat fenomena disekitar, mengalami langsung, mendengarkan cerita orang dan lain sebagainya. Berangkat dari hal tersebut penggarap sampaikan ide yang lahir dari melihat dan mengamati fenomena disekitar yaitu sensasi menikmati buah pisang yang rasanya manis, teksturnya kenyal dan memiliki biji didalam buahnya ke dalam sebuah karya seni tabuh kreasi Pisang Batu.

Proses pembentukan karya tabuh kreasi Pisang Batu ini menggunakan konsep Palemahan yaitu hubungan manusia dengan lingkungan. Konsep tersebut sebagai landasan merancang bangun bentuk komposisi sesuai dengan keinginan untuk dijadikan sebuah hasil tugas akhir komposisi seni karawitan. Agar tidak terjadinya salah penapsiran atau salah persepsi mengenai wujud garapan dan media ungkap yang dipergunakan, maka penggarap menjelaskan ruang lingkup komposisi Pisang Batu ini sebagai berikut :

Pisang Batu merupakan sebuah garapan komposisi tabuh kreasi, yang bentuk serta pengolahannya berangkat dari pola - pola tradisi, yang dikemas sesuai dengan perkembangan dan ditata sesuai dengan bermacam-macam teknik permainan unsur-unsur musikalnya, sehingga dalam perwujudan komposisi ini menghasilkan hal baru. Pisang Batu itu sendiri merupakan nama buah pisang yang memiliki biji didalam buahnya, yang apabila dimakan akan memberikan rasa yang berbeda dengan jenis buah pisang lainnya. Garapan komposisi tabuh kreasi ini dibahasa musikkan ke dalam sebuah media gong bebonangan dengan mengolah teknik-teknik permainan seperti tempo, melodi, ritme keharmonisan serta unsur musikalnya, dengan instrumen yaitu :

(5)

2. Dua tungguh penyacah

Garapan ini menonjolkan karakter lembut dari teknik permainan tempo, karakter keras dan agung dari teknik batu-batu pukulan kendang dan dari karakter gong bebonangan itu sendiri, disertai dengan dinamika dan aksen-aksen yang akan menggambarkan sensasi rasa kenyal, manis, keras, bercampur sedikit asam. Adapun sedikit notasi pada garapan ini:

(6)

4.45 .54. 4.45 .45. 5.57 .57. .... 5745(7) Kendang : pkp.k.p...DdDd(7)

Penyacah : 57537 57531 71741 71744 5457 575717(1) Reyong : 17571 ...175717 5474571 75474571

Penyacah : .5.1 . 7 .5 . 7.4 .5.(7) Transisi menuju ke pengawak :

Reyong : 1717 1754 5454 5717 1717 1754 5454 535431 3143 3457 .14313 4 5345345 .77171 .77171 37. 1345(3)

(7)

Kesimpulan

Dapat disimpulkan, bahwa garapan komposisi karawitan Pisang Batu ini adalah sebuah bentuk komposisi tabuh kreasi bebonangan yang mengangkat tema lingkungan. Dimana penggarap tergugah untuk mengekspresikan sensasi rasa buah pisang batu yang sudah matang ke dalam sebuah komposisi tabuh dengan judul Pisang Batu. Dalam mengekspresikan sensasi rasa buah pisang batu tersebut ke dalam garapan menggunakan media ungkap gamelan bebonangan, yang menggunakan pola-pola melodi, ritme, tempo, yang diolah menjadi komposisi tabuh kreasi baru bebonangan yang sesuai dengan tema yang diinginkan.

(8)

DAFTAR SUMBER

A. Daftar Pustaka

Adi Suardita, I Nyoman. 2012. "Skrip Karya Ngunda." Denpasar: Institut Seni Indonesia Denpasar.

Bandem, I Made. 1987. Ubit-Ubitan Sebuah Teknik Gamelan Bali. Denpasar: Sekolah Tinggi Seni Indonesia.

. 1986. Prakempa Sebuah Lontar Gamelan Bali. Denpasar: ASTI Denpasar.

(9)

Handayani, Tuty. 2013. Khasiat Ampuh Akar Batang Daun. Infra Pustaka. Jakarta.

Hawkins, M. Alma. 2003. Moving From Within : A New Method for Dancing Making.

(Diterjemahkan oleh I Wayan Dibia). Jakarta: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.

Mustika, Pande Gede, Dkk. 1978/1979. Mengenal Beberapa Sikap dan Pukulan Dalam Gong Kebyar. Denpasar: Proyek Normalisasi Kehidupan Kampus Jakarta Sub Proyek ASTI Denpasar.

Sukerta, Pande Made. 1998. Ensiklopedi Karawitan Bali. Bandung: MSPI.

Referensi

Dokumen terkait

Alat yang digunakan penata tidaklah barungan gamelan Bebarongan maupun Gong Kebyar, melainkan barungan gamelan Semara Pegulingan, sehingga sudah lepas dari segi barungan

Konsep garapan ini mengacu pada konsep karawitan tradisi dengan menggunakan istilah bagian sama halnya dengan Tri Angga yaitu Kawitan, Pengawak dan Pengecet tetapi

Garapan yang berjudul Jangar penata berkeinginan mengolah semua instrumen yang ada dalam barungan Gong Kebyar yang nantinya akan dijadikan sebuah tabuh kreasi

Dalam garapan tugas akhir ini penata akan hanya memfokuskan satu jenis gamelan yang menjadi media ungkap dari ide ini sehingga terwujudnya sebuah garapan karya seni

Garapan komposisi Tri Kona merupakan karya komposisi yang masih berpegang pada pola-pola dan motif-motif, dan mempergunakan instrumen musik barat yaitu Gitar, Piano, dan

Garapan komposisi Tri Kona merupakan karya komposisi yang masih berpegang pada pola-pola dan motif-motif, dan mempergunakan instrumen musik barat yaitu Gitar, Piano, dan

 Karya komposisi musik Shantika mengolah unsur bunyi dari instrumen suling, kendang, gender wayang yang diolah menjadi berbagai melodi, ditata dengan unsur musik lainnya

Wujud garapan komposisi karawitan Ngereh adalah merupakan Tabuh Kreasi Petegak Bebarongan yang masih berpegangan pada pola-pola tradisi yang ada dalam karawitan Bali.. Wujud