• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA - Dian Frilia Utami BAB II

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA - Dian Frilia Utami BAB II"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kepuasan

Kepuasan pasien adalah suatu tingkat perasaan pasien yang timbul sebagai akibat dari kinerja pelayanan kesehatan yang diperolehnya setelah pasien membandingkannya dengan apa yang diharapkannya. Dengan penerapan pendekatan jaminan mutu pelayanan kesehatan, kepuasan pasien menjadi bagian yang integral dan menyeluruh dari kegiatan jaminan mutu pelayanan kesehatan. Artinya, pengukuran tingkat kepuasan pasien harus menjadi kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari pengukuran mutu pelayanan kesehatan.Konsekuensi dari pola pikir yang demikian adalah dimensi kepuasan pasien menjadi salah satu dimensi mutu pelayanan kesehatan yang penting (Pohan, 2007).

Tingkat kepuasan pasien dapat diukur baik secara kuantitatif ataupun kualitatif (dengan membandingkannya) dan banyak cara mengukur tingkat kepuasan pasien.Dalam melakukan upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan, pengukuran tingkat kepuasan pasien ini mutlak diperlukan. Melalui pengukuran tersebut, dapat diketahui sejauh mana dimensi-dimensi mutu pelayanan kesehatan yang telah diselenggarakan dapat memenuhi harapan pasien. Jika belum sesuai dengan harapan pasien, maka hal tersebut akan menjadi suatu masukan bagi organisasi pelayanan kesehatan agar berupaya memenuhinya. Jika kinerja pelayanan kesehatan yang diperoleh pasien pada suatu fasilitas pelayanan kesehatan sesuai dengan harapannya, pasien pasti akan selalu datang berobat ke fasilitas pelayanan kesehatan tersebut. Pasien akan selalu mencari pelayanan kesehatan di fasilitas yang kinerja pelayanan kesehatannya dapat memenuhi harapan atau tidak mengecewakan pasien (Pohan, 2007).

(2)

milik pemerintah masih belum atau tidak memenuhi harapan pasien dan atau masyarakat. Pengukuran kepuasan pasien merupakan hal yang penting bagi setiap perusahaan pelayanan jasa khususnya di bidang kesehatan. Dengan mengetahui harapan pasien maka perusahaan dapat mempersiapkan strategi dalam memperbaiki mutu pelayanan kesehatan yang sudah pasti mengarah pada kepuasan pasien (Pohan, 2007).

Kepuasan pasien selain dipengaruhi oleh persepsi mutu pelayanan, juga ditentukan oleh karakteristik produk, harga, dan faktor-faktor yang bersifat pribadi serta yang bersifat situasi sesaat (Rangkuti, 2006). Faktor-faktor tersebut yaitu sebagai berikut :

1. Karakteristik Produk

Karakteristik produk yang dimaksud adalah karakteristik dari pelayanan kesehatan secara fisik, seperti kebersihan ruang perawatan beserta perlengkapannya. Pasien akan merasa puas dengan kebersihan ruangan yang diberikan oleh pemberi pelayanan;

2. Harga

Faktor harga memiliki peran penting dalam menentukan kepuasan pasien, karena pasien cenderung memiliki harapan bahwa semakin mahal biaya pelayanan kesehatan maka semakin tinggi kualitas pelayanan yang ia terima;

3. Faktor Pribadi

Faktor yang berasal dari dalam individu, dipengaruhi oleh karakteristik pribadi yang meliputi:

a. Jenis Kelamin

Tingginya angka kesakitan pada perempuan daripada laki-laki menyebabkan perempuan membutuhkan pelayanan kesehatan yang lebih banyak;

b. Umur

(3)

usia mulai meningkat dibandingkan dengan kebutuhan terhadap pelayanan preventif;

c. Pendidikan

Pendidikan yang lebih tinggi cenderung meningkatkan kesadaran akan status kesehatan dan konsekuensinya untuk menggunakan pelayanan kesehatan. Perbedaan tingkat pendidikan akan memiliki kecenderungan yang berbeda dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan;

d. Pekerjaan

Secara langsung pekerjaan akan mempengaruhi status ekonomi seseorang. Seseorang yang berpenghasilan di atas rata-rata mempunyai minat yang lebih tinggi dalam memilih pelayanan kesehatan.

Menurut Supranto (2001), salah satu cara mengukur kepuasn pasien adalah dengan menggunakan kuesioner, agar dapat mengetahui persepsi pasien melalui tingkat kepuasan pasien.

Untuk menentukan kepuasan pasien digunakan indikator

Zeintmhal, yaitu:

a. Tangible (bukti fisik), mengacu pada performance petugas, keadaan sarana dan prasarana serta output yang dihasilkan. Kepuasan dari pelayanan dapat dilihat dengan kasat mata.

b. Reability (kehandalan), mengacu kepada pelayanan yang cepat, akurat dan diharapkan memuaskan.

c. Responsiveness (daya tanggap), mengacu kepada petugas untuk membantu pasien jika ada yang kurang jelas dan memberikan layanan dengan tanggap, dapat digunakan untuk mengukur tingkat keterlibatan petugas dalam proses pelayanan kepada pelanggan. d. Assurance (jaminan), mengacu kepada kualitas pelayanan dilihat

(4)

Empathy (empati), mengacu kepada kualitas pelayanan yang diberikan berupa sikap tegas tetapi penuh perhatian terhadap pasien/masyarakat. Indikatornya yaitu kemudahan menjalin relasi, komunikasi yang baik, pribadi yang baik, pemahaman atau kebutuhan individual dari pasien, dan bantuan khusus petugas selama proses pelayanan.

B. Pengukuran Kepuasan Konsumen

Tingkat kepuasan pelanggan sangat bergantung pada mutu atau kualitas suatu produk/jasa (Supranto, 2011:3). Aspek mutu bisa diukur. Pengukuran tingkat kepuasan erat hubungannya dengan mutu produk (barang atau jasa). Sebetulnya banyak metode untuk mengukur kualitas pelayanan, namun metode yang banyak digunakan adalah sebagai berikut (Purnama, 2006):

1. Metode Servqual dengan Gap Model, yaitu Servqual berasal dari kata Service Quality yang artinya kualitas layanan. Metode ini didasarkan pada Gap Model yang dikembangkan oleh Parasuraman et.al (1988, 1991, 1993,1994). Kualitas layanan merupakan fungsi gap antara harapan konsumen terhadap layanan dan persepsi mereka terhadap layanan aktual yang dihasilkan perusahaan.

2. Metode Servqual dengan Bobot Kepentingan, yaitu pada metode Servqual dengan Gap Model diatas tidak mempertimbangkan bobot tertentu. Dengan kata lain masing-masing dimensi dianggap memiliki bobot yang sama, maka pada metode ini masing-masing dimensi diberikan bobotnya untuk mengetahui dimensi mana yang paling berpengaruh.

(5)

C. Analisis Diagram Kartesius

Analisis ini didasarkan pada hasil pemetaan seluruh pernyataan/atribut dimensi kualitas layanan (Tangibles, Reliablity, Responsiveness, Assurance, dan Emphaty) hasil pengolahan data penelitian pada suatu diagram Kartesius. Diagram Kartesius dibagi dalam 4 (empat) bagian yang dinamakan kuadran, diperoleh berdasarkan perpotongan garis antara sumbu X dan sumbu Y pada diagram sumbu XY. Sumbu X merupakan nilai persepsi pelanggan sedangkan sumbu Y merupakan nilai ekspektasi/harapan pelanggan.

1. Kuadran A. Menunjukkan harapan responden terhadap atribut kualitas layanan lebih besar dari rata-rata, akan tetapi persepsi responden terhadap kualitas layanan yang diterima dibawah rata-rata, akibatnya kurang memuaskan pelanggan. Apabila ada pernyataan/atribut yang terpetakan pada kuadran A, maka responden yang diteliti merasa tidak puas atas kualitas layanan yang terima.

2. Kuadran B. Menunjukkan harapan dan persepsi responden terhadap atribut kualitas layanan lebih besar dari rata-rata, hal ini menandakan pelanggan merasa puas. Apabila terdapat atribut yang terpetakan pada kuadran ini maka responden yang diteliti dinilai merasa puas atas kualitas layanan yang diberikan apotek, oleh karena itu pihak manajemen apotek harus dapat mempertahankannya.

3. Kuadran C. Menunjukkan harapan dan persepsi responden terhadap atribut kualitas layanan kurang dari rata-rata, atau dengan kata lain responden tidak merasa puas atas kualitas layanan apotek, akan tetapi responden juga tidak menjadikan hal tersebut menjadi prioritas utama, melainkan hanya sebagai prioritas sampingan. Apabila ada pernyataan/atribut yang terpetakan pada kuadran ini, maka bagi pihak manajemen apotek bukan merupakan suatu hal sangat penting untuk dicari solusinya, tetapi cukup untuk diketahui.

(6)

terpetakan dalam kuadran D ini, maka dapat dikatakan bahwa apotek telah memberikan layanan dengan baik, tetapi tidak memiliki manfaat yang berarti bagi kepuasan pelanggan.

D. BPJS Kesehatan 1. Pengertian

BPJS Kesehatan adalah badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan program Jaminan Kesehatan (Peraturan BPJS Kesehatan No. 1, 2014).

2. Visi dan Misi

Dalam penyelenggaraannya BPJS Kesehatan memiliki Visi dan Misi untuk mencapai mutu pelayanan yang baik kepada seluruh penduduk Indonesia peserta jaminan kesehatan nasional ini (www.bpjs-kesehatan.go.id, diakses 18 november 2015).

a. Visi BPJS Kesehatan

Paling lambat 1 Januari 2019, seluruh penduduk Indonesia memiliki jaminan kesehatan nasional untuk memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatannya yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan yang handal, unggul, dan terpercaya.

b. Misi BPJS Kesehatan

1) Membangun kemitraan strategis dengan berbagai lembaga dan mendorong partisipasi masyarakat dalam perluasan kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN);

2) Menjalankan dan memantapkan sistem jaminan pelayanan kesehatan yang efektif, efisien, dan bermutu kepada peserta melalui kemitraan yang optimal dengan fasilitas kesehatan; 3) Mengoptimalkan pengelolaan dana program jaminan sosial dan

dana BPJS Kesehatan secara efektif, efisien, transparan, dan akuntabel untuk mendukung kesinambungan program;

(7)

5) Mengimplementasikan dan mengembangkan sistem perencanaan dan evaluasi, kajian, manajemen mutu dan manajemen resiko atas seluruh operasionalisasi BPJS Kesehatan;

6) Mengembangkan dan memantapkan teknologi informasi dan komunikasi untuk mendukung operasionalisasi BPJS Kesehatan. 3. Kepesertaan

Di dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) diamanatkan bahwa seluruh penduduk wajib menjadi peserta jaminan kesehatan termasuk WNA yang tinggal di Indonesia lebih dari enam bulan. Untuk menjadi peserta harus membayar iuran jaminan kesehatan.Bagi yang mempunyai upah atau gaji, besaran iuran berdasarkan persentase upah atau gaji dibayar oleh pekerja dan pemberi kerja.Bagi yang tidak mempunyai gaji atau upah besaran iurannya ditentukan dengan nilai nominal tertentu, sedangkan bagi masyarakat miskin dan tidak mampu membayar iuran maka iurannya dibayari pemerintah (Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 12, 2013).

Berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan Bab II tentang peserta dan kepesertaan yang tercantum dalam Pasal 2 bahwa peserta Jaminan Kesehatan meliputi :

a. Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan

Peserta PBI Jaminan Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal huruf a meliputi orang yang tergolong fakir miskin dan orang tidak mampu.

b. Bukan Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan

(8)

1) Pekerja Penerima Upah dan anggota keluarganya, meliputi: a) Pegawai Negeri Sipil (PNS);

b) Anggota TNI; c) Anggota Polri; d) Pejabat Negara;

e) Pegawai Pemerintah Non Pegawai Negeri; f) Pegawai Swasta; dan

g) Pekerja yang tidak termasuk huruf a sampai huruf f yang menerima upah.

2) Pekerja Bukan Penerima Upah dan anggota keluarganya, meliputi:

a) Pekerja di luar hubungan kerja atau pekerja mandiri; dan b) Pekerja yang tidak termasuk huruf a yang bukan penerima

upah.

3) Bukan Pekerja dan anggota keluarganya, meliputi : a) Investor;

b) Pemberi Kerja; c) Penerima Pensiun; d) Veteran;

e) Perintis Kemerdekaan; dan

f) Bukan pekerja yang tidak termasuk huruf a sampai dengan huruf e yang mampu membayar iuran.

4. Prosedur Pendaftaran Peserta

Setiap orang, termasuk orang asing yang bekerja paling singkat 6 (enam) bulan di Indonesia, wajib menjadi peserta program jaminan sosial, termasuk di dalamnya BPJS Kesehatan (UU tentang BPJS No.24, 2011).

(9)

tanggungannya dengan penambahan iuran (UU tentang SJSN No.40, 2004).

Berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan Bab III tentang Pendaftaran Peserta dan Perubahan Data Kepesertaan yang tercantum dalam Pasal 10 bahwa Prosedur Pendaftaran Peserta, meliputi :

a. Pemerintah mendaftarkan PBI Jaminan Kesehatan sebagai Peserta kepada BPJS Kesehatan;

b. Pemberi kerja mendaftarkan pekerjanya atau pekerja dapat mendaftarkan diri sebagai peserta kepada BPJS Kesehatan;

c. Bukan pekerja dan peserta lainnya wajib mendaftarkan diri dan keluarganya sebagai peserta kepada BPJS Kesehatan.

5. Iuran

Iuran adalah sejumlah uang yang dibayar secara teratur oleh peserta, pemberi kerja, dan/atau pemerintah.Besaran dan tata cara pembayaran iuran program jaminan kesehatan diatur dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan (Undang-Undang No. 24, 2011). Berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan Bab IV tentang Iuran yang tercantum dalam Pasal 17 bahwa Iuran Peserta Jaminan Kesehatan Nasional, meliputi :

a. Pemberi Kerja wajib membayar Iuran Jaminan Kesehatan seluruh Peserta yang menjadi tanggung jawabnya pada setiap bulan yang dibayarkan paling lambat tanggal 10 setiap bulan kepada BPJS Kesehatan. Apabila tanggal 10 jatuh pada hari libur, maka iuran dibayarkan pada hari kerja berikutnya. Keterlambatan pembayaran Iuran Jaminan Kesehatan dikenakan denda administrasi sebesar 2% per bulan dari total iuran yang tertunggak dan dibayar oleh Pemberi Kerja;

(10)

Kesehatan. Pembayaran Iuran Jaminan Kesehatan dapat dilakukan di awal untuk lebih dari 1 bulan;

c. Pilihan iuran sesuai kelas perawatan adalah sebagai berikut : 1) Kelas 1 : Rp. 59.500 per orang per bulan;

2) Kelas 2 : Rp. 42.500 per orang per bulan; 3) Kelas 3 : Rp. 25.500 per orang per bulan. 6. Manfaat

Berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan Bab V tentang Manfaat Jaminan Kesehatan yang tercantum dalam Pasal 21 bahwa Manfaat Pelayanan Promotif dan Preventif, meliputi pemberian pelayanan :

a. Penyuluhan Kesehatan Perorangan. Meliputi paling sedikit penyuluhan mengenai pengelolaan faktor resiko penyakit dan perilaku hidup bersih dan sehat;

b. Pelayanan Imunisasi Dasar. Meliputi Baccile Calmett Guerin (BCG),

Difteri Pertusis Tetanus dan Hepatitis-B (DPT-HB), Polio, dan Campak yang disediakan oleh Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah;

c. Pelayanan Keluarga Berencana. Meliputi konseling, kontrasepsi dasar, vasektomi, dan tubektomi bekerja sama dengan lembaga yang membidangi keluarga berencana yang disediakan oleh Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah;

d. Pelayanan Skrining Kesehatan. Diberikan secara selektif yang ditujukan untuk mendeteksi resiko penyakit dan mencegah dampak lanjutan dari resiko penyakit tertentu.

7. Fasilitas Kesehatan

(11)

Berdasarkan Peraturan BPJS Kesehatan Nomor 1 Tahun 2014 Pasal 47 tentang pelayanan kesehatan yang dijamin oleh BPJS Kesehatan yaitu terdiri atas :

a. Pelayanan kesehatan pada fasilitas kesehatan tingkat pertama; b. Pelayanan kesehatan pada fasilitas kesehatan tingkat lanjutan; c. Pelayanan gawat darurat;

d. Pelayanan obat, alat kesehatan, dan bahan medik habis pakai; e. Pelayanan ambulance;

f. Pelayanan skrining kesehatan; dan

g. Pelayanan kesehatan lain yang ditetapkan oleh Menteri.

Dalam undang-undang BPJS yang termasuk fasilitas kesehatan tingkat pertama yaitu:

a. Puskesmas atau yang setara; b. praktik dokter;

c. praktik dokter gigi;

d. klinik Pratama atau yang setara termasuk fasilitas kesehatan tingkat pertama milik TNI/POLRI;danRumah sakit Kelas D Pratama atau yang setara.

Pelayanan kesehatan rawat jalan tingkat pertama harus memiliki fungsi pelayanan kesehatan yang komprehensif berupa pelayanan kesehatan promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, pelayanan kebidanan dan pelayanan kesehatan gawat darurat termasuk pelayanan penunjang yang meliputi pemeriksaan laboratorium sederhana dan pelayanan farmasi.

(12)

Fasilitas kesehatan dan jejaringnya wajib menyediakan pelayanan obat, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai yang dibutuhkan oleh Peserta sesuai indikasi medis.Pelayanan alat kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama sudah termasuk dalam komponen kapitasi yang dibayarkan BPJS Kesehatan.

Pelayanan alat kesehatan di fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan sudah termasuk dalam paket INA-CBG’s.Fasilitas kesehatan dan jejaringnya wajib menyediakan alat kesehatan yang dibutuhkan oleh Peserta sesuai indikasi medis.

Pelayanan obat dan bahan medis habis pakai di fasilitas kesehatan tingkat pertama sudah termasuk dalam komponen kapitasi yang dibayarkan BPJS Kesehatan.Pelayanan obat, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai pada fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan merupakan salah satu komponen yang dibayarkan dalam paket

INA-CBG’s.Dalam hal obat yang dibutuhkan sesuai indikasi medis pada

fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan tidak tercantum dalam Formularium Nasional, dapat digunakan obat lain berdasarkan persetujuan Komite Medik dan Kepala/Direktur Rumah Sakit.

E. Puskesmas

Puskesmas merupakan unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten atau Kota yang bertanggungjawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja tertentu.Puskesmas sebagai lembaga pelayanan kesehatan tingkat pertama memiliki tanggung jawab dalam meningkatkan kesehatan masyarakat (Depkes RI, 2006). Upaya kesehatan yang dilaksanakan di Puskesmas dikelompokkan menjadi tiga, yaitu :

(13)

a. Upaya promosi kesehatan b. Upaya kesehatan lingkungan

c. Upaya kesehatan ibu dan anak serta keluarga berencana d. Upaya perbaikan gizi masyarakat

e. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular f. Upaya pengobatan

2. Upaya kesehatan pengembangan, adalah upaya yang ditetapkan berdasarkan permasalahan kesehatan yang ditemukan di masyarakat serta yang disesuaikan dengan kemampuan Puskesmas. Upaya kesehatan pengembangan dipiih dari daftar upaya kesehatan pokok puskesmas yang telah ada yakni :

a. Upaya kesehatan sekolah b. Upaya kesehatan olahraga

c. Upaya perawatan kesehatan masyarakat d. Upaya kesehatan kerja

e. Upaya kesehatan gigi dan mulut f. Upaya kesehatan jiwa

g. Upaya kesehatan mata h. Upaya kesehatan usia lanjut

i. Upaya pembinaan pengobatan tradisional (DepkesRI, 2004).

3. Upaya penunjang, yaitu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan pelayanan di Puskesmas, yang terdiri dari :

a. Laboratorium b. Farmasi

c. Pencatatan dan Pelaporan

(14)

F. Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas

Standar Pelayanan Kefarmasian adalah tolok ukur yang dipergunakan sebagai pedoman bagi tenaga kefarmasian dalam menyelenggarakan pelayanan kefarmasian.

Pelayanan kefarmasian merupakan suatu pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kesehatan pasien (Depkes, 2009).

Sebagai salah satu penyedia layanan kesehatan, apoteker memiliki peran dan tanggungjawab yang besar pada swamedikasi.Peran dan tanggungjawab apoteker ini didasarkan pada filosofi Pharmaceutical Care, yaitu tanggung jawab apoteker dalam hal farmakoterapi dengan tujuan untuk mencapai keluaran yang dapat meningkatkan kualitas hidup 10 pasien.Didasarkan pada filosofi ini, maka tanggung jawab apoteker adalah mengidentifikasi, memecahkan, dan mencegah terjadinya masalah yang berhubungan dengan obat (drug–related problems), sehingga dapat tercapai keluaran terapi yang optimal (ISFI, 2005).

Menurut Permenkes No. 30 tahun 2014, Pengaturan Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas bertujuan untuk :

1. meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian;

2. menjamin kepastian hukum bagi tenaga kefarmasian; dan

3. melindungi pasien dan masyarakat dari penggunaan Obat yang tidak rasional dalam rangka keselamatan pasien (patient safety).

(15)

1. Pengelolaan Sumber Daya a. Sumber Daya Manusia

Sumber daya manusia untuk melaksanakan pekerjaan kefarmasian di Puskesmasadalah Apoteker (UU RI No23 Th 1992 tentang kesehatan). Kompetensi apoteker diPuskesmas sebagai berikut:

1) Mampu memberikan dan menyediakan pelayanan kefarmasian yang bermutu.

2) Mampu mengambil keputusan secara profesional.

4) Mampu berkomunikasi yang baik dengan pasien maupun profesi kesehatanlainnya dengan menggunakan bahasa verbal, non verbal maupun bahasa lokal.

5) Selalu belajar sepanjang karier baik pada jalur formal maupun informal, sehinggailmu dan keterampilan yang dimilki selalu baru (up to date).Sedangkan asisten apoteker hendaknya dapat membantu pekerjaan apotekerdalam melaksanakan pelayanan kefarmasian tersebut.

b. Prasarana dan Sarana

Prasarana adalah tempat, fasilitas dan peralatan yang secara tidak langsungmendukung pelayanan kefarmasian, sedangkan sarana adalah suatu tempat, fasilitasdan peralatan yang secara langsung terkait dengan pelayanan kefarmasian.Dalamupaya mendukung pelayanan kefarmasian di puskesmas diperlukan sarana danprasarana yang memadaidisesuaikan dengan kebutuhan masing-masing puskesmasdengan memperhatikan luas cakupan, ketersediaan ruang rawat inap, jumlahkaryawan, angka kunjungan dan kepuasan pasien. Prasarana dan sarana yang perlu dimiliki puskesmas untuk meningkatkankualitas pelayanan kefarmasian adalah sebagai berikut:

1) Papan nama “apotek” atau “kamar obat” yang dapat terlihat jelas

oleh pasien.

(16)

3) Peralatan penunjang pelayanan kefarmasian, antara lain timbangan gram danmiligram, mortir-stamper, gelas ukur, corong, rak alat-alat, dan lain-lain.

4) Tersedia tempat dan alat untuk mendisplay informasi obat bebas dalam upayapenyuluhan pasien, misalnya untuk memasang poster, tempat brosur, leaflet, booklet dan majalah kesehatan. 5) Tersedia sumber informasi dan literatur obat yang memadai

untuk pelayananinformasi obat. Antara lain Farmakope Indonesia edisi terakhir, InformasiSpesialite Obat Indonesia (ISO) dan Informasi Obat Nasional Indonesia (IONI).

6) Tersedia tempat dan alat untuk melakukan peracikan obat yang memadai.

7) Tempat penyimpanan obat khusus seperti lemari es untuk supositoria, serum danvaksin, dan lemari terkunci untuk penyimpanan narkotika sesuai dengan peraturanperundangan yang berlaku.

8) Tersedia kartu stok untuk masing-masing jenis obat atau komputer agarpemasukan dan pengeluaran obat, termasuk tanggal kadaluarsa obat, dapatdipantau dengan baik.

9) Tempat penyerahan obat, yang memungkinkan untuk melakukan pelayanan informasi obat.

c. Sediaan Farmasi dan Perbekalan Kesehatan

Sediaan farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional dan kosmetik.Perbekalan kesehatan adalah semua bahan selain obat dan peralatan yang diperlukanuntuk menyelenggarakan kesehatan. Pengelolaan sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan.

d. Administrasi

(17)

Administrasi untuk sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan meliputi semuatahap pengelolaan dan pelayanan kefarmasian, yaitu: 1) Perencanaan

2) Permintaan obat ke instalasi farmasi kabupaten/kota 3) Penerimaan

4) Penyimpanan menggunakan kartu stok atau komputer 5) Pendistribusian dan pelaporan menggunakan form LP-LPO

Administrasi untuk resep meliputi pencatatan jumlah resep berdasarkan pasien (umum, miskin, asuransi), penyimpanan bendel resep harian secara teratur selama 3tahun dan pemusnahan resep yang dilengkapi dengan berita acara.Pengadministrasian termasuk juga untuk:

1) Kesalahan pengobatan (medication eror) 2) Monitoring efek samping obat (MESO) 3) Medication record

2. Pelayanan Farmasi Klinik a. Pelayanan Resep

Resep adalah permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, dokter hewan kepadaapoteker untuk menyediaakan dan menyerakan obat bagi pasien sesuai peraturanperundangan yang berlaku. Pelayanan resep adalah proses kegiatan yang meliputiaspek teknis dan non teknis yang harus dikerjakan mulai dari penerimaan resep,peracikan obat sampai dengan penyerahan obat kepada pasien. Pelayanan resepdilakukan sebagai berikut :

1) Penerimaan Resep

Setelah menerima resep dari pasien, dilakukan hal-hal sebagai berikut:

(18)

b) Pemeriksaan kesesuaian farmasetik, yaitu bentuk sediaan, dosis, potensi,stabilitas, cara, dan lama penggunaan obat. c) Pertimbangan klinik, seperti alergi, efek samping, interaksi

dan kesesuaian dosis.

d) Konsultasikan dengan dokter apabila ditemukan keraguan pada resep atau obatnya tidak tersedia.

2) Peracikan Obat

Setelah memeriksa resep, dilakukan hal-hal sebagai berikut: a) Pengambilan obat yang dibutuhkan pada rak penyimpanan

menggunakan alat,dengan memperhatikan nama obat, tanggal kadaluwarsa dan keadaan fisik obat.

b) Peracikan obat

c) Pemberian etiket warna putih untuk obat dalam/oral dan etiket warna biru untukobat luar, serta menempelkan label

“kocok dahulu” pada sediaan obat dalam bentuk larutan.

d) Memasukkan obat ke dalam wadah yang sesuai dan terpisah untuk obat yangberbeda untuk menjaga mutu obat dan penggunaan yang salah.

3) Penyerahan Obat

Setalah peracikan obat, dilakukan hal-hal berikut:

a) Sebelum obat diserahkan kepada pasien harus dilakukan pemeriksaan kembalimengenai penulisan nama pasien pada etiket, cara penggunaan serta jenis danjumlah obat.

b) Penyerahan obat kepada pasien hendaklah dilakukan dengan cara yang baik dansopan, mengingat pasien dalam kondisi tidak sehat mungkin emosinya kurangstabil.

c) Memastikan bahwa yang menerima obat adalah pasien atau keluarganya.

(19)

4) Pelayanan Informasi Obat

Pelayanan informasi obat harus benar, jelas, mudah dimengerti, akurat, tidakbias, etis, bijaksana, dan terkini sangat diperlukan dalam upaya penggunaan obatyang rasional oleh pasien. Sumber informasi obat adalah buku Farmakope Indonesia,Informasi Spesialite Obat Indonesia (ISO), Informasi Obat Nasional Indonesia(IONI), Farmakologi dan Terapi, serta buku-buku lainnya. Informasi obat juga dapatdiperoleh dari setiap kemasan atau brosur obat yang berisi :

a) Nama dagang obat jadi b) Komposisi

c) Bobot, isi atau jumlah tiap wadah d) Dosis pemakaian

e) Cara pemakaian f) Khasiat atau kegunaan g) Kontra indikasi (bila ada) h) Tanggal kadaluarsa

i) Nomor ijin edar/nomor regristasi j) Nomor kode produksi

k) Nama dan alamat industri

Informasi obat yang diperlukan pasien adalah:

a) Waktu penggunaan obat, misalnya berapa kali obat digunakan dalam sehari,apakah diwaktu pagi, siang, sore atau malam. Dalam hal ini termasuk apakah obatdiminum sebelum atau sesudah makan.

b) Lama penggunaan obat, apakah selama keluhan masih ada atau harus dihabiskan meskipun sudah merasa sembuh. Obat antibiotika harus dihabiskan untukmencegah timbulnya resistensi.

(20)

benar terutama untuk sediaan farmasi tertentu seperti obat oral, obat tetesmata, salep mata, obat tetes hidung, obat semprot hidung, tetes telinga, supositoria dan krim/salep rektal dan tablet vagina.

Petunjuk pemakaian obat yang benar:

a) Petunjuk Pemakaian Obat Oral (pemberian obat melalui mulut)

(1) Cara oral merupakan cara yang paling lazim, karena sangat praktis, mudah danaman. Yang terbaik adalah minum obat dengan segelas air.

(2) Ikuti petunjuk dari profesi kesehatan (saat makan atau saat perut kosong)

(3) Obat untuk kerja diperlama (long acting) harus ditelan seluruhnya, tidak bolehdikunyah atau dipecah.

(4) Sediaan cair, gunakan sendok obat atau alat lain yang telah diberi ukuranketepatan dosis. Jangan gunakan sendok rumah tangga.

(5) Jika penderita sulit menelan sediaan obat yang dianjurkan oleh dokter mintapilihan bentuk sediaan lain.

b) Petunjuk Pemakaian Obat Oral Untuk Bayi/Balita

(1) Sediaan cair untuk bayi dan balita harus jelas dosisnya, gunakan sendok takardalam kemasan obat.

(2) Segera berikan minuman yang disukai anak setelah pemberian obat yang terasaenak/pahit.

3. Monitoring dan Evaluasi

(21)

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini secara umum disebabkan oleh penurunan efek hambatan terhadap aktivitas ini secara umum disebabkan oleh penurunan efek hambatan terhadap aktivitas adenohipofisis dan

Penjelasan tersebut memberikan gambaran secara tidak langsung bahwa tingkat pengungkapan yang diberikan oleh perusahaan akan berdampak pada menurunnya asimetri informasi

ASET NEGARA DENGAN PENDEKATAN TECHNOLOGY ACCEPTANCE MODEL (Studi Kasus di Provinsi Daerah Istimewa

Kepuasan responden di Instalasi Rawat Inap RSUD Tugurejo Semarang kategori tinggi adalah 38 responden ( 38 % ) dan kategori sedang 62 responden ( 62 % ), dengan

Sesuai dengan kriteria diterima atau ditolaknya hipotesis maka dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa menerima hipotesis yang diajukan terbukti atau dengan kata lain variabel

Lapora oran n Pen Pengal galama aman n Ker Kerja ja Lap Lapang angan an di di Gla GlaxoS xoSmit mithKl hKline ine ini ini dis disusu usun n sebagai salah satu syarat

tersebut maka perlu dilakukan penelitian karena data dan informasi yang diperoleh dari masyarakat tentang jenis-jenis ikan hasil tangkapan dengan menggunakan pukat

Dari data dun gambar I di atas ditunjukkan bahwa pemisahan V terhadap Y menggunakan teknik ekstraksi cair-cair secara catu dengan memakai ekstraktan D2EHPA dalam dodekan,