• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI MASALAH AGRARIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB VI MASALAH AGRARIA"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

BAB VI

MASALAH AGRARIA

Perkebunan dan pegunungan selalu dibayangkan sebagai tempat yang sejuk dengan suasanan pedesaan yang kental dan terasa damai. Bagi orang kota suasana seperti itu merupakan tempat yang tepat untuk melepaskan rasa bosan dan lelah karena rutinitas harian. Kekaguman yang mendalam akan keindahan alam lereng pegunungan dan kebun teh yang terhampar luas mengesan bagi orang kota. Namun tidak demikian halnya dengan masyarakat setempat. Mereka menyimpan problemanya sendiri. Hijaunya hutan dan perkebunan bukanlah tolak ukur kemakmuran oleh sebagaian besar orang, khususnya orang-orang kota, bahwa di balik tirai pegunungan yang hijau dan segar itu sedang terjadi proses pemiskinan yang telah berlangsung dan masih berlangsung sampai sekarang.

Beberapa permasalahan agraria yang dihadapi oleh petani di Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar ialah sebagai berikut:

6.1 Kontur Wilayah Perkebunan dan Kesuburan Tanah

Bila dilihat dari atas perkebunan, maka deretan dari persawahan di Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar tidak akan terlihat, karena letaknya yang mengikuti kontur (lembah) sehingga tidak terlihat adanya aktivitas pertanian di kampung tersebut. Bentuk sawah di Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar berbentuk terasering yang disesuaikan dengan kontur tanah daerah perkebunan (lihat Gambar 12). Lahan yang digunakan oleh masyarakat ini adalah Hak Guna Usaha dari perkebunan yang tidak digunakan oleh perkebunan karena ketinggiannya tidak sesuai dengan tanaman teh yang perkebunan budidayakan.

(2)

Gambar 12. Sawah yang Sesuai dengan Kontur Tanah Daerah Perkebunan

Sawah di Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar dibuat sesuai dengan kontur tanah sehingga warga tidak menggunakan kerbau untuk pembajakan lahan pertanian mereka, karena letak dan bentuk sawah ini. Hal ini menyebabkan warga Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar harus melakukan pembajakan sendiri terhadap lahan mereka. Warga harus mengeluarkan biaya, waktu dan tenaga yang lebih untuk mengerjakan hal ini.

Hasil pertanian yang terdapat di Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar adalah padi, cabe, kacang panjang, jagung, pisang, sayur-sayuran dan tanaman rempah-rempah yang digunakan untuk memasak (lihat Gambar 13 dan Gambar 14). Masyarakat pada umumnya menanam padi sebagai komoditas utama, karena padi adalah kebutuhan utama pangan mereka (lihat Gambar 15). Karena kontur wilayah yang berbukit-bukit, maka warga memanfaatkan lahan kosong sebaik mungkin.

(3)

Gambar 13. Sayuran yang di Tanam Sesuai Kontur Tanah

Karena kontur wilayah yang berbukit-bukit, maka warga memanfaatkan lahan kosong sebaik mungkin. Pada Gambar 13, masyarakat tetap menggunakan lahan kosong yang ada, walaupun lahan tersebut cukup miring.

(4)

Gambar 15. Padi Komoditas Utama Pertanian Masyarakat

Topografi wilayah Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar yang berada pada dataran tinggi menyebabkan produktivitas tanaman padi di kampung ini lebih rendah dibandingkan dengan kampung-kampung lain di luar Kebun Cianten. Pada Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar, satu gedeng dapat menghasilkan 150 liter beras (luas satu gedeng sawah setara dengan 1500 m2) dengan masa panen empat bulan sampai dengan lima bulan. Sedangkan di desa lain, satu gedeng dapat menghasilkan 300 liter beras. Perbedaan hasil ini menurut warga dikarenakan tanah pada desa lain di luar perkebunan dengan tanah di Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar berbeda tingkat kesuburannya. Berdasarkan wawancara dengan masyarakat yang memiliki sawah, sawah dengan luas dua gedeng sampai dengan tiga gedeng dapat memenuhi kebutuhan pangan keluarga sampai dengan musim panen berikutnya yaitu empat sampai dengan lima

(5)

bulan mendatang. Dengan asumsi empat orang dewasa dengan tingkat konsumsi beras 10 liter sampai 12 liter per minggunya.

6.2 Hubungan Petani dengan Perkebunan dan TNGH

Berdasarkan informasi baik dari mandor besar Sektor delapan dan Bagian Umum PTPN VIII Kebun Cianten, perkebunan memberikan ijin kepada masyarakat yang membuat sawah maupun perumahan di dalam wilayah perkebunan, dan mengenakan sewa atas sawah dan rumah tersebut. Syaratnya masyarakat tidak diperbolehkan menjadikan rumah tersebut menjadi bangunan permanen, yaitu menggunakan batu bata dan semen, dan sawah tidak boleh diperluas ke areal tanaman teh. Akan tetapi terkadang ada beberapa masyarakat yang tidak mematuhi peraturan tersebut. Tanpa sepengetahuan pihak perkebunan, warga sedikit demi sedikit memperluas areal sawah dan rumah mereka baik ke daerah perkebunan maupun daerah Taman Nasional Gunung Halimun (TNGH). Hal ini dikarenakan tidak adanya data dari perkebunan mengenai luas sawah dari masyarakat secara detail. Administrasi ini tidak lengkap dikarenakan setiap administratur memiliki kebijakan sendiri-sendiri mengenai hal ini, sehingga ada yang memungut biaya untuk sawah dan rumah warga yang berada di dalam Kebun Cianten, dan ada pula yang tidak memungut biaya.

Salah satu penduduk yang memperluas lahannya adalah Odih. Odih memperluas lahan rumahnya kearah tanaman perkebunan. Selama lima tahun belakang rumahnya menjadi bertambah empat meter. Tanaman teh yang ada didepan rumahnya di potong dan dibongkar tanahnya untuk memperluas rumah. Pihak perkebunan tidak mengetahu pelebaran ini, karena tidak ada bagian khusus

(6)

dari perkebunan yang mengawasi areal lahan baik rumah ataupun sawah untuk masyarakat. Selain itu, orang-orang yang bekerja di perkebunan di daerah rumah Odih tidak menegur Odih karena hal ini sudah menjadi hal yang biasa bagi masyarakat Kampung Padajembar.

Pemilikan dan penguasaan tanah di Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar, dilakukan dengan cara jual beli tanah. Jual-beli tanah di Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar berbeda dengan desa lain di luar Kebun Cianten. Jual-beli tanah di kampung ini, hanya perpindahan penggunaan sawah saja dari orang yang sebelumnya menguasai sawah tersebut kepada orang lain. Hal ini dikarenakan lahan yang masyarakat gunakan bukan milik, melainkan tanah dari perkebunan maupun dari TNGH, yang tidak diperbolehkan untuk diperjual belikan.

Pergantian pengelolaan dari Perum Perhutani menjadi TNGH di Dusun Cigarehong baru terjadi pada bulan Februari. Setelah adanya pergantian, pihak TNGH memberitahukan kepada warga Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar bahwa mereka diperbolehkan untuk tetap bersawah atau berladang dan memiliki perumahan di daerah TNGH, akan tetapi baik sawah, ladang maupun perumahan tersebut tidak diperbolehkan untuk diperluas, bila diperluas akan mendapatakan sangsi. Masyarakat juga tidak diperbolehkan untuk menebang hutan di daerah TNGH. Pada tahun 2006 seorang warga Padajaya yang bernama Ahdi ditangkap karena menebang pohon di hutan TNGH dan mendapat hukuman penjara. Hal ini menyebabkan masyarakat mulai enggan untuk menebang pohon, Menurut Uci yang merupakan sukarelawan dari TNGH sejak lima belas tahun yang lalu, orang yang menebang hutan TNGH adalah warga yang berasal dari luar

(7)

Dusun Cigarehong. Karena penduduk dusun ini sudah mengetahui sanksi yang terjadi bila melanggar peraturan dari TNGH, seperti yang terjadi pada tetangga mereka. Akan tetapi masih ada beberapa pihak yang ”nakal” dan melanggar peraturan dari TNGH dengan memperlebar lahan sawah mereka perlahan-lahan, tanpa diketahui pihak TNGH.

6.3 Penguasaan yang Sempit oleh Petani

Penguasaan sawah baik di Kampung Padajaya maupun Kampung Padajembar berdasarkan sistem warisan yang diberikan secara turun-temurun dari orang tua kepada anak atau menantunya. Pada wanita, tanah diberikan setelah mereka menikah, sedangkan pada laki-laki tanah diberikan sejak mereka dianggap telah bisa mengurus tanah itu sendiri. Karena adanya sistem warisan ini, masyarakat miskin yang tidak memiliki tanah tidak dapat menurunkan tanah kepada anaknya, sehingga anak mereka tidak memiliki sawah.

Penguasaan sawah berdasarkan sistem warisan ini menjadi jawaban mengapa petani di Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar memiliki lahan pertanian yang sempit. Karena setiap orangtua tidak hanya memiliki satu anak saja. Sehingga tanah yang ia miliki akan dibagi-bagikan kepada semua anaknya dan anak-anaknya mendapatkan lahan orangtua yang sudah semakin kecil karena dibagi-bagikan tersebut.

Penguasaan lahan pertanian yang sempit di Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar mendorong masyarakat mengadakan perluasan lahan, untuk meningkatkan produktivitas dari hasil pertanian mereka. Perluasan ini dilakukan baik ke tanah perkebunan maupun ke tanah TNGH. Akan tetapi,

(8)

perluasan ini memakan biaya yang besar. Berdasarkan wawancara dengan Asep, biaya yang dikeluarkan untuk memperluas lahan yaitu kurang lebih Rp 1.000.000,00. Biaya ini digunakan untuk membayar orang untuk membuka lahan hutan TNGH maupun perkebunan sebesar dua sampai tiga gedeng. Tanah sebelumnya harus ”diurug”, tanaman-tanaman diatas tanah tersebut dicabut sampai akarnya. Kemudian tanah dicangkul agar gembur, kemudian dibuat irigasi dari sungai yang terdekat dengan sawah. Karena biaya perluasan lahan sangat mahal bagi masyarakat Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar, maka biasanya hanya masyarakat yang termasuk kedalam tangga kehidupan mampu dan tangga kehidupan standar saja yang dapat memperluas lahan pertanianny, karena mereka mempunyai modal.

Tindakan perluasan oleh Warga Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar, dilakukan dengan cara sembunyi-bunyi yang disebut resistensi kecil dari petani. Perluasan ini dilakukan sedikit demi sedikit sehingga tidak diketahui oleh pihak perkebunan, karena tidak adanya kontrak tertulis dan juga tindakan administratif dari perkebunan untuk menunjukkan luas dari wilayah perkebunan yang digunakan oleh masyarakat. Kalaupun ada data dari perkebunan, data itu merupakan data yang sudah lama, karena masyarakat sudah selama dua tahun terakhir tidak dimintai sewa tanah dan sawah mereka, dan tidak adanya yang mendata jumlah dari sawah dan rumah mereka.

Odih misalnya, yang melakukan perluasan rumahnya tiga meter kearah perkebunan teh selama lima tahun terakhir dan juga melakukan perluasan sawah dengan cara membuka hutan TNGH sebesar tiga gedeng. Menurut Odih, tidak hanya dirinya yang melakukan perluasan tanah tersebut, hampir seluruh

(9)

masyarakat di Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar melakukan perluasan area baik sawah maupun rumah, dan perluasan ini sudah merupakan suatu hal yang umum dilakukan. Asep juga menyatakan hal yang sama, bahwa areal tanah untuk pertanian di dua kampung ini masih banyak yang bisa digunakan, khususnya hutan TNGH, perluasan sawah ataupun pembuatan sawah baru di lahan TNGH masih dapat dilakukan karena wilayahnya yang luas dan TNGH tidak akan mengetahui adanya perluasan tersebut.

Berdasarkan Gambar 16 rata-rata luas sawah masyarakat Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar yaitu tiga gedeng. Dengan luas dua gedeng, rumah tangga dengan jumlah empat orang sudah dapat memenuhi kebutuhan pangannya sehari-sehari sampai menunggu masa panen berikutnya. Luas tiga gedeng selain dapat memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga dengan jumlah empat orang, dapat juga memberikan pinjaman beras dan menggunakan berasnya untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran lain, diantaranya perelek dan slametan. Karena di Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar, lazimnya bila datang ke slametan membawa beras.

Usahatani adalah proses pengorganisasian faktor-faktor produksi yaitu, alam, tenaga kerja, modal dan pengelola yang diusahakan oleh perseorangan ataupun sekumpulan orang untuk menghasilkan output yang dapat memenuhi kebutuhan konsumen (Soeharjo dan Patong, 1973). Kegiatan usahatani berdasarkan coraknya dapat dibagi menjadi dua, yaitu usahatani subsisten dan usahatani komersial. Usahatani subsisten bertujuan memenuhi konsumsi keluarga, sedangkan usahatani komersial adalah usaha dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan.

(10)

Gambar 16. Grafik Luas Sawah Masyarakat Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar

Pada dua kampung ini, masyarakat yang luas lahannya lebih dari dua sampai empat gedeng adalah masyarakat yang mampu menjual atau meminjamkan beras yang dimilikinya pada tetangga. Warga ini termasuk kedalam usaha tani subsisten karena hanya memilki sawah kurang dari satu hektar yang hasilnya hanya dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Warga masyarakat yang memilki luas sawah lima sampai sembilan gedeng termasuk kedalam warga yang berusaha tani komersial. Dengan luas sawah lebih dari satuhektar, mereka memiliki hasil panen yang berlebih bila digunakan hanya untuk kebutuhan sendiri. Kemudian, warga tersebut menjual hasil panennya ke tetangganya di Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar akan tetapi tidak dijual ke pasar. Karena hasil panen mereka hanya mencukupi kebutuhan pangan

(11)

di dua kampung tersebut, sehingga hasil panen tidak perlu dibawa keluar kampung untuk dijual.

Kebutuhan keluarga dimana satu keluarga terdiri dari empat orang selama lima bulan yaitu 200 liter. Satu gedeng tanah di Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar setara dengan 1500 m2 tanah, hasil satu gedeng tersebut selama lima bulan adalah 150 liter beras. Sehingga warga masyarakat yang memilki lahan dua sampai empat gedeng dapat memenuhi kebutuhan keluarganya akan tetapi tidak untuk dijual. Sehingga masyarakat yang memiliki sawah lebih dari empat gedeng, adalah masyarakat yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dan menjual hasil panennya.

Total masyarakat yang memiliki lahan sempit yaitu dua sampai empat gedeng atau kurang dari 6000 m2 yaitu 36 orang, sedangkan total masyarakat yang memiliki lahan yang tidak termasuk sempit yaitu lima sampai sembilan gedeng atau lebih dari 7500 m2 yaitu 17 orang. Sehingga sebagian besar masyarakat di Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar termasuk kedalam penguasaan lahan yang sempit. Menurut Mubyarto (1992), konsekuensi dari fenomena sempitnya lahan pertanian terlihat pada rendahnya tingkat produktivitas maupun kualitas dari hasil produksi perkebunan rakyat yang sebenarnya merupakan implikasi dari kesulitan petani menerapkan kultur teknis yang benar yang di samping memerlukan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi juga perlu dukungan modal yang besar. Pada Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar, hal ini terjadi pada bidang pertanian sawah yang ditekuni oleh masyarakat sebagai usaha sambilan, akibat sempitnya lahan pertanian yang dimiliki oleh petani,

(12)

mereka kesulitan menerapkan kultur teknis yang benar, karena kurangnya pengetahuan dan keterampilan serta kurangnya modal.

6.4 Kerusakan Lingkungan

Sawah yang dibuat oleh warga Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar berada di daerah lereng-lereng bukit. Untuk mendapatkan air yang mengairi sawah, maka sawah dibuat sejajar atau berdekatan dengan sungai. Sungai utama yang mengalir di Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar adalah Sungai Cianten dan anak-anak sungainya. Dalam membuat sawah, warga masyarakat ”menguruk” sungai. Pengurukan ini terjadi karena menurut warga, tanah sungai lebih subur dibandingkan tanah yang jauh dari sungai. Pengurukan ini juga memudahkan warga untuk pengairan sawah mereka, karena dekat dengan sumber mata air. Karena adanya pengurukan ini, maka akan sering dijumpai batu kali besar hasil pengurukan sungai yang masih terdapat di sawah masyarakat (lihat Gambar 17). Batu ini tetap ada karena masyarakat sulit untuk memindahkan dan menghancurkannya, sehingga tetap dibiarkan di sawah mereka. Pengurukan sungai di Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar terjadi karena masyrakat tidak memiliki pengetahuan yang cukup mengenai irigasi sawah. Cara irigasi yang didapatkan hanya ilmu dari turun-temurun dari orangtua ke anak. Irigasi sederhana yang dibuat oleh masyarakat hanya menggunakan bambu yang menghubungkan sawah dengan sawah lainnya untuk pengairan, dan bambu juga digunakan untuk menyambungkan sungai dengan sawah.

(13)

Gambar 17. Batu Kali di Tengah Sawah Masyarakat

Menurut Tjondronegoro (2008), terdesak oleh keadaan, lapisan bawah terpaksa melakukan pekerjaan apa saja yang dapat memperpanjang hidupnya, termasuk menebang pohon di hutan lindung atau menambang di bawah bumi maupun di bawah permukaan laut yang menyebabkan terjadinya kerusakan alam. Hal ini terjadi di Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar, karena masyarakat tidak memiliki pengetahuan akan dampak ”pengurukan” sungai dan tidak ada yang dapat dilakukan lagi selain ”menguruk” sungai untuk membuat pengairan, berdampak pada aliran sungai yang semakin kecil ke hilir.

Rusaknya lingkungan alam di Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar yang disebabkan oleh warga masyarakat perlu diperhatikan lebih lanjut, agar tidak terjadi kerusakan yang lebih parah lagi. Perlu penyadaran kepada warga agar warga mengetahui dampak dari apa yang mereka perbuat, sehingga masyarakat menghentikan aktivitas perusakan tersebut.

(14)

6.5 Sulitnya Akses Transportasi

Trayek kendaraan umum dari dan ke Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar belum ada. Akan tetapi di Kampung Cigarehong terdapat warga yang memiliki mobil L300 Colt yang digunakan sebagai angkutan umum setiap harinya bagi masyarakat dari Dusun Cigarehong yang hendak pergi ke Pasar Leuwiliang. Dalam sehari, mobil hanya melakukan satu kali rute yang berangkat dari Dusun Cigarehong pukul 04.00 dan pulang dari Pasar Leuwiliang pukul 10.00. Tarif per orang dari Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar ke Pasar Leuwiliang ataupun sebaliknya adalah Rp 13.000,00. Masyarakat yang akan pergi menggunakan mobil ini, harus memesan dulu sebelumnya agar mobil menunggu kedatanggannya atau menjemput langsung ke rumahnya, karena kondisi Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar pada pukul 04.00 masih cukup gelap dan berangin kencang.

Harga tarif angkutan ini cukup mahal untuk masyarakat. Sehingga warga tidak terlalu sering pergi meninggalkan Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar. Hanya beberapa orang yang pergi belanja ke Pasar Leuwiliang untuk membeli keperluan bertani (pupuk, pestisida) ataupun membeli barang-barang untuk keperluan warung bagi warga yang berdagang. Perjalanan dari pasar Leuwiliang menuju Dusun Cigarehong memakan waktu satu setengah jam sampai dengan dua jam. Untuk sampai ke Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar, warga harus melewati beberapa desa dan memasuki kawasan hutan TNGH. Kawasan hutan TNGH cukup luas, sehingga sebelum masuk ke dalam wilayah Kebun Cianten, warga harus melewati pohon-pohon yang sangat rimbun disebelah

(15)

kiri jalan dan lereng yang terjal di sebelah kanan jalan. Selain wilayah yang sulit untuk dilewati, jalan menuju Kebun Cianten, sudah rusak. Terdapat longsor di berbagai tempat dan aspal yang bolong-bolong dan longsor ke lereng sangat mengkhawatirkan.

Kondisi ini menyebabkan wilayah perkebunan semakin terisolir dari wilayah luar, selain karena sedikitnya angkutan umum yang menuju Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar, lokasi yang jauh dari pasar, jarak tempuh yang lama, dan kondisi jalan yang tidak bagus, menyebabkan masyarakat sulit untuk mendapatkan akses infomasi dan membawa hasil pertanian mereka ke luar Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar. Sehingga masyarakat tidak memiliki motivasi yang kuat untuk meningkatkan hasil produktivitas pertanian mereka, karena kendala dalam memasarkan hasil pertanian mereka. Akses transportasi dan terisolirnya Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar juga menyebabkan warga tidak akses terhadap informasi. Dalam bidang pertanian, kurangnya akses masyarakat terhadap informasi menyebabkan masyarakat masih menggunakan bibit yang sudah lama digunakan dan tidak menggunakan bibit unggul karena ketidaktahuan mereka, begitupula dengan irigasi yang masih sangat sederhana dengan menggunakan bambu yang dihubungkan dengan sungai untuk pengairan sawah.

Sulitnya transportasi yang disebabkan juga oleh infrastruktur jalan yang kurang memadai menyebabkan Kepala Desa Purwabakti jarang berkunjung ke Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar. Sehingga aspirasi masyarakat terkait kebutuhan mereka terhadap penyuluhan dan tidak adanya bantuan pemerintah terkait pertanian di Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar

(16)

yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh masyarakat Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar.

6.6 Tidak adanya Penyuluhan

Penyuluhan di Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar jarang terjadi, kalaupun ada penyuluhan adalah penyuluhan tentang pelestarian lingkungan, tidak ada penyuluhan khusus tentang pertanian. Penyuluhan yang pernah ada yaitu penyuluhan yang diadakan oleh JAICA yang memberikan penyuluhan tentang pelestarian alam, agar masyarakat tidak menebang hutan di TNGH. Akibat tidak adanya penyuluhan pertanian, pengetahuan masyarakat tentang pertanian hanya didapat dari turun-temurun.

Kurangnya akses informasi kepada warga masyarakat di Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar menyebabkan masyarakat mempunyai pandangan yang masing-masing mengenai kurang produktivitasnya sawah mereka di dibandingkan sawah lain di kampung lain di luar Kebun Cianten, seperti desa Cibunian dan Desa Ciasmara.

Kampung Padajaya menganggap kurang produtivitasnya sawah mereka karena daerah mereka yang dingin, sehingga tanaman seperti padi tidak cocok ditanam disini karena airnya yang dingin, sehingga banyak dari warga Kampung Padajaya yang tidak mengusahakan sawah karena warga mengetahui kesia-siaan usaha yang mereka lakukan bila warga menanam padi. Karena hasilnya tidak sesuai dengan tenaga yang dikeluarkan. Warga Padaya menyadari, tanaman yang paling berkembang di daerah mereka adalah cabe, kacang panjang, dan sayur-sayuran.

(17)

Warga Kampung Padajembar menganggap rendahnya produktivitasnya lahan pertanian mereka karena tanah di daerah mereka berkapur, sehingga tidak cocok untuk padi. Akan tetapi, warga Padajembar tetapmengolah sawah mereka tidak seperti warga pada Kampung Padajaya, karena warga Kampung Padajembar membutuhkan hasil panen padi untuk kebutuhan pangan sehari-hari. Warga Kampung Padajembar yang rata-rata adalah pekerja dari perkebunan tidak dapat memenuhi bertahan hidup tanpa sawah, karena penghasilan yang mereka dapatkan dari perkebunan hanya cukup untuk kebutuhan diluar beras, dan beras untuk makan sehari-hari, warga dapatkan dengan mengolah sawah mereka. Warga Padajembar juga tidak dapat beralih menjadi pedagang warung, karena wilayahnya yang tidak dekat dengan akses jalan, dan tidak dapat bekerja di PT Cevron LTD karena mereka tidak punya modal dan tidak mempunyai koneksi di Forum Empat Desa. Adanya perbedaan ilmu pengetahuan antara Kampung Padajembar dan Kampung Padajaya ini juga disebutkan oleh seorang tokoh, dikarenakan warga yang berhasil dalam bidang pertanian pada masing-masing kampung tidak mau membagikan rahasia kesuksesan pertanian mereka masing-masing. Sehingga perbedaan ini semakin mencolok.

Akibat tidak adanya penyuluhan, masyarakat tidak menggunakan bibit yang terbaru dan masih menggunakan bibit yang lama yaitu: morneng, segong, riau, serenet dan goli. Dengan masa tanam yaitu empat sampai lima bulan. Bibit ini digunakan setiap tahun, yang membedakan adalah, bibit diputar setiap kali musim tanam, hal ini dikarenakan penduduk belajar dari pengalaman, dengan menggunakan bibit yang sama pada setiap musim panen akan menyebabkan hama tetap hidup dan tidak mengalami siklus kematian dan malah berkembang. Karena

(18)

masa tanam yang cukup lama ini, menyebabkan hasil panen yang masyarakat dapatkan hanya cukup dikonsumsi selama menunggu masa panen selanjutnya. Bahkan bagi keluarga yang memiliki jumlah tanggungan yang besar, hasil panen ini kurang untuk dikonsumsi selama menunggu masa panen tersebut, sehingga masyarakat terpaksa harus membeli beras ataupun meminjam untuk konsumsi sehari-harinya.

Tidak adanya penyuluh menyebabkan masyarakat tetap menggunakan pupuk dan pestisida kimia pada tanamannya, tanpa mengetahui bahaya penggunaan pupuk dan pestisida kimia bagi kesehatan dan kesuburan tanah. Pupuk yang digunakan oleh masyarakar di dua kampung ini adalah pupuk urea. Melalui pengalaman selama berpuluh-puluh tahun, penduduk menyadari dengan menggunakan pupuk urea yang berlebihan akan menyebabkan hasil panen tidak bagus, yaitu daun menjadi bagus dan hijau, tetapi isi dari gabah kosong. Hal ini menyebabkan penduduk tidak lagi menggunakan pupuk urea secara berlebihan. Akan tetapi, pengunaan pupuk tetap digunakan dikarenakan bila tidak menggunakan pupuk, kuantitas hasil panen akan menurun.

Hama yang merusak sawah di Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar yaitu babi hutan, burung pipit, kungkang atau wereng, dan ulet. Hama yang ada ini di atasi dengan cara tradisional. Babi yang memakan padi dan merusak tanaman dengan menginjak-injak tanaman sayur-sayuran warga diusir dengan teriakan warga ataupun menyalakan api bila babi datang. Sehingga warga harus melakukan ronda pada saat musim panen untuk menghalau babi masuk ke daerah persawahan mereka. Hama babi tidak boleh dibunuh, karena babi adalah hewan peliharaan dari TNGH, yang juga menguntungkan bagi perkebunan karena

(19)

dapat menggemburkan tanah dari tanaman teh. Hama tikus dibasmi dengan cara memberi racun tikus pada singkong, hama burung pipit diusir dengan cara menaruh orang-orangan sawah dan berganti-gantian menjaga sawah, sedangkan ulet dan wereng di basmi dengan insektisida. Karena tidak adanya penyuluhan, cara bertani masyarakat Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar masih tradisional yang berdampak pada kualitas dan kuantitas dari hasil panen.

6.7 Tidak Adanya Penyaluran Kredit

Pada Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar biaya untuk membuat sawah dengan luas dua sampai tiga gedeng yaitu Rp 1.000.000,00 sampai dengan Rp 2.000.000,00. Harga jual sawah seluas dua gedeng sampai tiga gedeng yaitu Rp 2.000.000,00 sampai dengan Rp 3.000.000,00. Biaya untuk satu kali tanam bervariasi. Bila sawah diurus sendiri, dengan luas tiga gedeng dibutuhkan modal: Rp 200.000,00 untuk pupuk dan insektisida, dan Rp 100.000,00, sehingga modal yang dibutuhkan untuk satu kali tanam yaitu Rp 300.000,00 dengan perhitungan untuk orang yang membantu menyangkul dan tandur, sedangkan orang-orang lain yang membantu baik orang tua atau istri tidak dihitung biayanya. Sedangkan modal untuk sawah yang dengan bantuan orang lain dengan luas tiga gedeng, membutuhkan modal: Rp 200.000,00 untuk pupuk dan insektisida, dan untuk orang yang membantu dari menyangkul, agon, benih, tandur, dan ngarembet mencapai Rp 500.000,00 sehingga total sekali tanam untuk model ini yaitu Rp 700.000,00.

Besarnya modal untuk pembuatan, pembelian sawah dan biaya untuk sekali masa tanam ini, menyebabkan hanya sebagian masyarakat saja yang bisa

(20)

tetap bertani. Masyarakat yang tidak memiliki modal, biasanya hanya akan mengusahakan satu gedeng dari tiga gedeng tanahnya, bahkan karena tidak dapat mengusahakan tanahnya, ada masyarakat yang menjual tanahnya. Sehingga dibutuhkan adanya penyaluran kredit lunak bagi masyarakat yang hendak bertani, khususnya masyarakat yang bertani untuk dikomersialkan.

Selain itu, pada Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar, mengenal adanya sistem sewa. Warga yang tidak memiliki sawah dapat menyewa sawah warga lainnya. Sistem pembayaran sewa yaitu 4:1 dari hasil panen, dimana empat bagian yang paling besar diberikan kepada penyewa dan satu bagian diberikan kepada pemilik dari lahan tersebut, dengan biaya pupuk, pestisida ditanggungkan kepada penyewa. Akan tetapi sistem sewa ini jarang dilakukan oleh masyarakat, karena rata-rata masyarakat mengolah sawah mereka sendiri. Sistem yang umum adalah buruh tani, dimana buruh tersebut dibayar Rp 20.000,00 per hari, dan makan sehari selama disawah akan ditanggung oleh pemilik sawah. Sistem sewa ini juga membutuhkan tidak hanya modal yang sedikit, sehingga perlu adanya bantuan modal bagi masyarakat untuk dapat mengembangkan pertanian mereka.

Modal yang dibutuhkan masyarakat untuk bertani mempengaruhi jumlah warga yang mampu membuat sawah ataupun mengolah sawah hasil dari warisan orantuanya. Dari jumlah warga masyarakat Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar 152 orang yang yang memiliki sawah hanya 54 orang (35%). Jumlah warga masyarakat yang memiliki sawah di Kampung Padajaya (lihat Tabel 11) yaitu 13 orang (24,1%) dan Kampung Padajembar 41 orang (75,9%).

Sebagian besar warga Kampung Padajembar masyarakatnya memiliki sawah baik dari orangtua maupun dari hasil jual-beli. Warga masyarakat

(21)

Kampung Padajembar yang tidak memiliki tanah merupakan masyarakat miskin yang tidak memiliki tanah karena sudah dijual untuk kehidupan sehari-hari ataupun karena tidak mendapatkan tanah warisan dari orangtuanya. Sebaliknya, di Kampung Padajaya hanya sembilan orang yang memiliki sawah, hal ini dikarenakan sebagian besar masyarakat Kampung Padajaya tidak menggantungkan hidupnya pada pertanian.

Tabel 11. Jumlah Pemilik Sawah Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar

RT Masyrakat (Orang) Persentase (%)

1 9 16.7

2 4 7.4

3 24 44.4

4 17 31.5

Total 54 100

Sumber: Data Primer 2009

Warga Kampung Padajembar lebih banyak yang memiliki sawah dibandingkan dengan warga Kampung Padajaya. Menurut masyarakat, hal ini dikarenakan banyak masyarakat Kampung Padajaya yang tidak mampu untuk membuat sawah, sehingga mereka hanya bisa menjadi buruh tani dan buruh bangunan. Hal ini dikarenakan banyaknya warga masyarakat Kampung Padajaya yang masuk kedalam tangga kehidupan sedang dan tangga kehidupan miskin, yang menyebabkan mereka tidak memiliki modal untuk membuat sawah dan tidak mendapatkan warisan dari orangtuanya karena sebagian besar warga masyarakat di Kampung Padajaya adalah warga pendatang, yang berbeda dengan warga masyarakat dari Kampung Padajembar yang merupakan penduduk asli dan beberapa warganya mendapatkan warisan sawah dan tanah dari orangtuanya masing-masing. Oo Salah satu warga dari Kampung Padajaya mengatakan bahwa ia menginginkan sawah agar bisa memenuhi kebutuhan berasnya sendiri, akan

(22)

tetapi karena ketiadaan modal, menyebabkan ia tidak dapat membuat sawah mereka sendiri, dan harus bekerja dilahan orang lain dan membeli beras dari orang lain. Sebaran sawah masyarakat di Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar dapat dilihat pada Gambar 18.

Gambar 18. Sebaran Sawah Masyarakat Di Kampung Padajaya Dan Kampung Padajembar

6.8 Tidak adanya Koperasi

Koperasi Usaha Tani (KUT) pernah ada sebelumnya di Kampung Padajembar yang dikelola oleh ayah Tatang. Koperasi ini bangkrut pada tahun 2002, yang disusul dengan kematian dari ayah Tatang. Sebelumnya KUT ini tidak berjalan dengan baik karena adanya korupsi di tubuh KUT yang melibatkan aparat

(23)

desa dan ayah Tatang. KUT tidak berjalan sebagaimana mestinya, yaitu kurangnya penyuluhan pertanian, tidak adanya kredit usaha tani, tidak lancarnya penyediaan pupuk dan pestisida untuk tanaman.

Koperasi petani yang kuat adalah koperasi yang mampu mengelola kebutuhan keuangan anggotanya baik untuk kebutuhan sehari-hari, kebutuhan saprodi pertanian, pusat penyediaan bibit, menampung produksi, sebagai pusat informasi (harga, kegiatan dan teknologi pertanian), bahkan kemampuan untuk memasarkan produksi ke berbagai pasar dengan harga bersaing untuk mengatasi kejamnya mekanisme pasar yang selama ini dirasakan. Orientasi semacam ini disadari oleh masyarakat, perlunya dukungan berbagai stakeholders yang memiliki concern dan keprihatinan terhadap petani (Agung, 2007).

Tidak adanya KUT di Kampung Padajembar dan Kampung Padajaya memberikan dampak yang besar pada pertanian di dua kampung tersebut, yaitu tidak adanya pendukung usaha pertanian di daerah tersebut yang menyebabkan pertanian Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar kurang kokoh. Setiap petani berdiri sendiri dan tidak terorganisasir usaha taninya satu sama lain, sehingga tetap mempertahankan pola pertanian subsisten dan tidak dapat berubah menjadi pola pertanian komersil. Di Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar, perubahan pola pertanian dari subsisten menjadi komersil sangat dibutuhkan untuk menambah penghasilan dari masyarakat di kedua kampung tersebut. Sehingga pertanian tidak lagi hanya mencukupi kebutuhan pangan sehari-hari dari petani, tapi pertanian dapat menjadi salah satu usaha sampingan petani yang menguntungkan.

(24)

Penguatan pertanian di Kampung Padajaya dan Kampung Padajembar dapat dilakukan dengan penguatan kelembagaan koperasi di kampung tersebut. Penguatan kelembagaan koperasi dapat meningkatkan kemandirian dan kemampuan masyarakat dalam bidang pertanian sehingga terjadi peningkatan kualitas maupun kuantitas produk hasil pertanian petani.

Gambar

Gambar 12. Sawah yang Sesuai dengan Kontur Tanah Daerah Perkebunan
Gambar 13. Sayuran yang di Tanam Sesuai Kontur Tanah
Gambar 15. Padi Komoditas Utama Pertanian Masyarakat
Gambar  16.  Grafik  Luas  Sawah  Masyarakat  Kampung  Padajaya  dan  Kampung  Padajembar
+4

Referensi

Dokumen terkait

Pengetahuan guru-guru ini didapati berada pada tahap tinggi kerana mereka menyedari akan kepentingan mempunyai informasi yang baik dan terkini kerana di dalam sukatan Biologi

Data ke- Total Produksi Problem Defect TOTAL G/n Ctr Pillar Lh, Dirty (Part) G/n Ctr Pillar Rh, Dirty (Part) Blower Inst Up. Rh, IP Upper x Air Bag, Clearance G/n Fr

dimiliki. Sistem akan melakukan pengecekan apakah data username dan password yang dimasukkan sesuai atau tidak yang ada di database. Jika tidak sesuai maka sistem akan

Sesungguhnya skrip ini hanya membaca topik-topik yang sudah dituliskan dalam berkas topics.txt, kemudian memilih secara random salah satu dari baris (topik) tersebut.. Setiap

RUANG LINGKUP PRAKTIK KERJA LAPANGAN MANDIRI (PKLM) Penulis akan melakukan Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM) di Kantor Pelayanan Pajak Medan Timur, khususnya di

Pada display gunakan helm rekomendasi didesain posisi gambar tampak samping karena bentuk gambar pada display dapat terlihat j elas maksud dan tujuan display tersebut sehingga

Kategori ini hanya terdiri dari instrumen derivatif out-of-the-money. Instrumen tersebut dinilai di dalam laporan posisi keuangan konsolidasian pada nilai wajar dengan

Di antara „illah (kausa atau motif hukum) dari terlarangnya memelihara anjing selain untuk kebutuhan yang disebutkan di atas adalah penegasan dan peringatan dari Rasulullah saw, bahwa