STATUS KEKERABATAN BAHASA SAWU DI ANTARA
BAHASA-BAHASA DAERAH DI NTB DAN NTT
Analisis Kuantitatif dan Kualitatif Budasi, I. G1, Nitiasih, P.K2
Fakultas Bahasa dan Seni,Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja1 Fakultas Bahasa dan Seni,Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja2
E-mail: [email protected]
ABSTRAK
Status kekerabatan Bahasa Sawu dengan bahasa-bahasa daerah di NTB dan NTT sejauh yang dapat diamati tampak masih belum jelas. Dalam penelitian ini, metode komparif diterapkan dalam memetakan kekerabatannya dengan Bahasa Bima di NTB dan 5 bahasa di NTT. Hasil penelitian menunjukkan prosentase tertinggi sebesar 34 % ditemukan pada Sawu-Mamboro dan terendah 1% terdapat pada Tetun-Alor. Bahasa Sawu memiliki 6 vowel: /a/,/i/,/u/,/e/, /o/, /∂/; 15 konsonan: /p/, /t/,/k/, /’/, /b/, /d/, /g/, /m/, /n/, /η/, /l/, /s/, /r/, /w/, /y/.; 4 deret vokal: /a-i/,/i-a/, /e-a/, /u-a/; dan 17 diptong: /ai/, /ui/, /oi/, /ia/ /iu/, /io/, /ou/, /ae/, /ei/, /oe/,/eo/, /ue/,/au/,/ao/,/eo/, /oa/,/ie/; Bahasa ini tidak memiliki gugus konsonan dan deret konsonan. Bahasa Mamboro memiliki: 6 vowel:/a/,/i/,/u/,/e/,/o/,/∂/;21 konsonan: /p/,/b/,/Б/,/t/,/k/,/g/,/ģ/,/d/,/ď,/m/,/n/,/η/,/s/, /ñ/,/c/,/j/,/l/,/h/,/r/,/w/, dan /y/; 4 deret vokal: /i-a/, /u-a/, /a-i/, /a-u/; 4 gugus konsonan: /mb/,/nd/,/nj/, /ηg/, namun tidak mengenal diftong dan deret konsonan. Pembeda fonologis keduanya, yaitu: Bahasa Sawu memiliki deret fonem vokal identik: /a-a/, dan taidentek: /e-a/, dalam Bahasa Mamboro fonem tersebut tidak ditemukan. Bahasa Mamboro memiliki deret vokal: /a-u/ dan /a-i/. Dalam Bahasa Sawu keduanya tidak muncul. Bahasa Sawu memiliki 17 diptong: /ai/,/ui/,/oi/,/ia/,/iu/,/io/,/ou/,/ae/,/ei/,/oe/,/eo/,/ue/, /au/,/ao/,/eo/,/oa/, dan /ie/. Dalam Bahasa Mamboro diptong tersebut tidak muncul. Bahasa Sawu memiliki 13 geminat: /nn/,/ll/, /tt/, /bb/, /mm/, /ññ/, /kk/, /dd/, /gg/, /rr/, /jj/, /ηη/, dan /hh/. Semua geminat itu tidak ada dalam Bahasa Mamboro. Giminat /nn/,/ll/,/tt/,/bb/, /mm/, /ññ/,/kk/,/dd/,/gg/,/rr/,/jj/,/ηη/,dan/hh/ditemukan dalam Bahasa Sawu, namun tidak nampak dalam Bahasa Mamboro. Dalam Bahasa Mamboro terdapat dua gugus konsonan nasal hambat:/nd/ dan /mb/. Dari 1702 kosakata yang dijaring tanpak 1305 (76,68%) menjadi pembeda leksikal.
Kata-kata kunci: prosentase kekerabaran bahasa, pembeda fonologis, pembeda leksikal.
ABSTRACT
The status of relatedness of Sawu languages within the local languages in East and West Nusa Tenggara were found to be not so clearlly determined. In this study a comparative method was applied on those languages in an attempt to map the languages in the areas. The result of the study showed that the hingest percentage of cognates among them occurred on Sawu and Mamboro language: 34% and the lowest percentage was on Tetun and Alor language: 1%. Sawu language was identified to have 6 vowels: /a/,/i/,/u/,/e/,/o/,/∂/; 15 consonants: /p/,/t/,/k/,/’/,/b/,/d/,/g/,/m/,/n/,/η/,/l/,/s/,/r/,/w/,/y/; 4 unidentic pairs of vowels: /a-i/, /i-a/, /e-a/, /u-a/; and 17 dipthongs: /ai/, /ui/, /oi/, /ia/, /iu/, /io/,/ou/, /ae/, /ei/, /oe/, /eo/, /ue/, /au/,/ao/,/eo/, /oa/, /ie/; No clusters and unidentic pairs of consonant was found I the language. 6 vowels: /a/, /i/, /u/, /e/, /o/, /∂/ were foud in Mamboro language, on the other hand, sawu language has21 consonants: /p/,/b/,/Б/,/t/,/k/,/g/,/ģ/,/d/,/ď/,/m/,/n/,/η/,/s/,/ñ/, /c/,/j/,/l/,/h/,/r/,/w/,/y/; 4 unidentic pairs of vowels: /i-a/, /u-a/, /a-u/, and /a-i/; 4 clusters: /mb/, /nd/,/nj/, and /ηg/, however, it doesn’t recognize dipthong and unidentic pairs of consonant. In terms of the differing forms of phonological features of the two languages can be stated as follows: Sawu language has identic pairs of vowel: a-a, and unidentic pairs of vowel: /e-a/, in Mamboro language, however, the two forms do not exist. Mamboro language has unidentic pairs of vowel: /a-u/ and /a-i/. In Sawu language, the two forms are not recognized. Sawu language has 17 dipthongs:/ai/,/ui/,/oi/,/ia/,/iu/,/io/,/ou/,/ae/,/ei/,/oe/, /eo/,/ue/,/au/,/ao/,/eo/,/oa/, and /ie/. All of those do not appear in Mamboro. Sawu has 13 geminates: /nn/, /ll/, /tt/, /bb/, /mm/, /ññ/, /kk/, /dd/, /gg/, /rr/, /jj/, /ηη/, and /hh/. They are not found in Mamboro. Geminates: /nn/,/ll//tt/,/bb/,/mm/,/ññ/,/kk/,/dd/,/gg/,/rr/,/jj/,/ηη/,and/hh/ are found in Sawu but not in
Mamboro. In Mamboro language two clusters: /nd/ and /mb/ appear. From 1702 words identified in this study, 1305 (76,68%) can be stated as the differing forms of linguistic features of the two languages.
Kata-kata kunci: percentage of cognates, differing forms of phonological features, differing forms of linguistic features
1.Pendahuluan
Posisi Bahasa Sawu (Sw) di antara bahasa daerah yang ada di NTB dan NTT t belum
ada kejelasan pengelompokan
kekerabatannya. Terkait dengan
penelusuran posisi kekerabatan bahasa di
NTT, Fernandez (1988), berhasil
menentukan bahasa-bahasa di Flores sebagai Subkelompok Bahasa Flores. Bahasa Sw dinyatakannya berada diluar kelompok Flores. Mbete (1990) mengkaji Bahasa Bali, Sasak dan Sumbawa dan Ketiganya dibuktikan sebagaisatu Klompok Bahasa Bali-Sasak-Sumba. Bahasa Sw
dinyatakan berada diluar kelompok
tersebut. Budasi (2007) mengkaji tujuh isolek Sumba dan dua bahasa diluar Sumba: Bahasa Bima (Bm) dan Sw. Bahasa_bahasa Sumba secara kuantitatif dinyatakan mencapai rerata 57.42% dan
membentuk Kelompok BahasaSumba.
Bahasa Sawu dan bahasa Bima
dinyatakan berada di luar Kelompok itu. Ino (2013) berhasil merekonstruksi tiga bahasa Austronesia yang ada di Pulau Pantar NTT. Namun studi Ino, tidak
menjangkau Bahasa Sw di NTT.
Berdasarkan uraian itu maka Bahasa Sawu belum jelas di NTT, kecuali dengan bahasa Sumba dan Bahasa Bima sesuai studi Budasi (2007, 2009, 2010a, 2010b, 2012) yang telah membuktikan Bahasa Sw ditemukan lebih dekat dengan bahasa-bahasa di Sumba dari Bahasa Bima di NTB. Sedangkan kedekatannya dengan bahasa daerah lainnya selama ini belum ada yang mengerjakan dalam suatu
penelitian. Mengingat Bahasa Sw
merupakan bahasa yang juga berada di dibawah kelompok Bahasa yang lebih tinggi, yaitu Malayo-Polinesia Tengah (Blust, 1974, Tadmor, 2011) maka peneliti memandang sangat perlu menuntaskan pengelompokannya, baik dengan bahasa-bahasa di NTB dan NTT. Berdasarkan uraian di atas maka yang menjadi tujuan penelitian ini adalah (1) untuk menentukan
prosentase kekerabatan secara
kuantitatifantara Bahasa Sw dengan
Bahasa Bmdan ke 5 bahasa daerah di NTT tersebut di atas dan membentuk silsilah
kekerabannya, (2) untuk memperikansistem fonologi Bahasa Sw dengan bahasa yang terdekat secara kuantitatif dengan Bahasa Sw. (3) Untuk mendeskripsikan bukti pembeda fonologis dan leksikal antara Bahasa Sw dengan baha terdekat tersebut.
Penetapan tingkat kekerabatan secara kuantitif dan kualitatif Bahasa Sw dan bahasa-bahasa di NTT dan NTB dalam penelitian ini sangat dibutuhkan karena pemetahan bahasa daerah di NTB dan NTT akan bisa dilaksanakan secara tuntas dan pemetaan bahasa Austronesia di NTT dan NTB dapat dilaksanakan lebih mudah.
2 Tinjauan Pustaka dan Teori
Kajian Linguistik Historis Komparatif (LHK) merupakan salah satu cabang linguistik
yang memfokuskan perhatian pada
penetapan pengelompokan bahasa-bahasa berkerabat dan silsilah kekerabatan bahasa berkerabat. Metode yang diterapkan umumnya metode komparatif dengan memanfaatkan data kuantitatif dan kualitatif (Bloomfield, 1993). Data kuantitatif berupa prosentase perbandingan kognat dianalisis dengan leksikostatistik untuk memperoleh gambaran silsilah kekerabatan yang erat atau yang kurang erat antara bahasa-bahasa yang dibandingkan Blust (1978), Fernandez (1988; 2007), Mbete (1990; 2000), Budasi (2007, 2009, 2010a, 2010b, 2011), and Halus (2010), Ino (2013). Data kualitatif dapat berupa bukti-bukti kebahasaan dalam wujud inovasi bersama pada bahasa-bahasa kerabat yang bandingkan. Bukti-bukti tersebut dapat dipergunakan sebagai bukti-bukti status pengelompokaan bahasa-bahasa yang diturunkan dari bahasa awal yang sama.
Menurut (Nothofer (1975)dalam penelitian LHK yang lazim digunakan adalah metode komparatif dengan memanfaatkan data kualitatif berupa data kebahasaan pada tataran fonologis dan leksikal. Reflek fonem-fonem dan leksikon proto dalam studi ini misalnya, fonem-fonem dan leksikon protobahasa dari bahasa-bahasa
yang diteliti dapat ditelusuri secara
kualitatif dengan megamati,
mengklasifikasikan, dan mendeskripsikan korespondensi bunyi bahasa-bahasa yang dibandingkan. Menurut Fernandez (1988, Mbete, 1990, lno 2013), pengelompokan bahasa diawali dengan identifikasi kognat
bahasa-bahasa yang dibandingkan,
dilanjutkan dengan penentuan silsilah kekerabatan bahasa. Setelah itu dilanjutkan dengan penentuan bukti-bukti penyatu dan pembeda bahasa secara kualitatif dengan mempertimbangkan fitur-fitur linguistik secara fonologis dan leksikal sebagai pembeda bahasa yang dibandingkan. Selanjutnya menentukan protobahasa dari bahasa berkerabat yang dibandingkan dengan cara menelusuri bentuk etimon protobahasa yang direkontruksi dengan etimon proto bahasa Austronesia yang telah dikumpulkan oleh para ahli seperti dalam Kamus “Finder List” yang di susun
Wurm dan Wilson (1978). Setelah
perbandingan etimon tersebut diketahui maka dapat ditelusuri arah perubahan fonen PAN kedalam proto bahasa yang diperbandingkan (Mbete, 1990). Budasi (2007, 2009, 2010a, 2010b, 2013), Halus
(2010), dan Ino (2013) tanpak
menggunakan cara yang sama.
3 Metodelogi Penelitian 3.1 Desain Penelitian
Penelitian ini didesain dengan menerapkan metode komparatif. Penelitian ini telah dirancang sbb. Pertama-tama diidentifikasi persentase kekerabantan Bahasa Sawu
dengan bahasa-bahasa yang diteliti
berdasarkan analisis leksikostatistik.
Selanjutnya, dibentuk sisilah
kekerabatannya. Dua bahasa yang memiliki kekerabatan terdekat diperikan sistem
fonologinya, kemudian bukti-bukti
fonologisdan leksikal pembeda kedua
bahasa ditentukan. Selanjutnya dirancang penelususran proto-proto bhasa diatasnya untuk pnelian lebih lanjut.
3.2 Informan Penelitian
Dalam penelitian ini dipilih 3 penutur masing-masing bahasa yang diteliti. 1 orang ditentukan sebagai informan utama dan 2 sebagai infoman pendamping
(Durasid (1990). Mereka dipilih
sesuaikriteria penentuan informan yang disampaikan Sumarin (1981).
3.3 Jenis Data Penelitian
Data penelitian terdiri atas data primer
diambil langsung dari informan yang dipilihberdasarkan ketentuan (lih, Budasi 2007) dan data sekunder diambil dari dokumen data hasil penelitian terdahulu.
3.4 Data Analisis
Untuk menentukan prosentase kekerabatan Bahasa Sawu dengan bahasa daerah lainnya di NTT dan NTB, 200 kota dasar
Swadesh dianalisis dengan teknik
leksikostatistik. Kata kognat masing masing bahasa dibandingkan, ditotal , ditotal, dan dibagi 200 (dan dikurangi glos yang kososng bila ada) kemudian dikalikan 100.
Kemudian, prosentase tertinggi dan
terendah ditentukan. Sisilah kekerabatan dibuat. Selanjutnya klasisfikasi hubungan kekerabatan bahasa ditentutan sesuai pengelompokan Swadesh (1982) dalam Keraf (1996); bukti-bukti pembeda fonologis dan leksikaldiambil melalui tiga daftar kosakata Swadesh, Nothofer, dan Holle dan dianalisis dengan memperhatikan korespondensi bunyi pada bahasa yang dibandingkan. Apabila dua buah kata kognat dari masing-masing daftar kosakata menunjukan korespondensi fonem dan
korespondensi tersebut menunjukan
perbedaan fonem, maka perbedaan itu dalam studi ini ditentukan sebagai bukti pembeda fonologis. Bila pasangan leksikon dari masing masing daftar kosakata tidak menunjukan kognat maka hal tersebut dipandang sebagai bukti pembeda leksikal..
4. Hasil Penelitian dan Pembahasan
Pebandingan prosentase kekerabatan antar bahasa-bahasa: Sw, Bm, Tn, Dw, Rt, Al, Mb tanpak pada tabel berikut.
Pada tabel 1 dapat diamati prosentase kognat yang tertinggi 34 % tanpak pada
Sw-Mb, terendah 1% pada Tn-Al.
Berdasarkan kriteria leksikostatistik
bahasa-bahasa yang memperlihatkan prosentase kognat di atas 12% sampai dengang 36%
dapat digolongkan sebagai bahasa
seturunan. Dengan demikian,
hubunganbahasa Alor dengan yang lainnya
yang ada dibawah kisara itu
mencerminkan relasi yang kurang erat. Dengan demikian, hasil yang dicapai dalam
studi ini dapat di bentuk silsilah
kekerabatan tanpa melibatkan bahasa Al karena diketahui berada dibawah 12%. Berikut adalah silsilah kekerabatan yang
disusun berdasarkan hitungan
leksikostatistik.
Posisi Bahasa Sawu Dalam Silsilah
Kekerabatan Bahasa Daerah Sw, Mb, Bm, Dw, Rt, Tm di NTT
Penjelasan Diagram:
(1) Garis silsilah menunjukkan
persentase kognat sebesar 13,5%
-34% yang mencapai batas
persentase kognat bagi rumpun (stock)
(2) Bahasa-bahasa daerah di NTT membentuk dua kelompok bahasa, yaitu:
a) Sw, Mb, Bm dan b) Dw, Rt, dan Tn
(3) Subkelompok 2a di atas terdiri atas dua subkelompok, yaitu:
a) Sw, Mb dan b) Bm
(4) Subkelompok 2b di atas terdiri atas dua subkelompok, yaitu:
a) Dw , Rt dan b) Tn
Sesuai dengan kriteria
kuantitatif(leksikostatistik) yang telah ditentukan, subkelompok Sw, Mb, Bm, dan Dw, Rt, Tn yang dipertalikan pada persentase rata-rata mencapai 23,23%;
Subkelompok Sw, Mb, Bm yang
dipertalikan 28,76%; subkelompok Sw-Mb dipertalikan 34%. Sub kelompok Dw, Rt, Tn dipertalikan 25%. Selanjutnya, Sub
Kelompok Dw-Rt dipertalikan 30,5%.
Dengan demikian, maka keenam bahasa tersebut tergolong dalam rumpun (stock)
(bahasa-bahasa satu turunan sesuai
kriteria klasisfikasi pengelompokan bahasa yang ditetapkan Swadesh (1982) dalam
keraf,1996).Berdasarkan bukti-bukti
kuantitatif yang dianalisis melalui
leksikostatistik, pengelompokan secara genetis keenam bahasa tersebut telah dapat ditentukan sebagai rumpun (stock).
Hal tersebut menjadi dasar untuk
merekonstruksi protobahasanya, baik yang ada di atas maupun di bawah.
4.1 Fonologi Bahasa Mamboro
Bahasa Mamboro (Mb) memiliki 6 fonem vokal seperti yang terlihat pada tabel 2 berikut ini.
Tabel 2: Fonem-Fonem Vokal Bahasa Mamboro Posisi
Lidah
Depan Pusat Belakang
Tinggi i u
Tengah e ∂ o
Bawah a
Dalam bahasa Mb ditemukan dua puluh satu fonem konsonan. Semua fonem konsonan Mb tersebut di atas meliputi /p/,
/b/,/Б/, /t/, /ģ/ /k/, /d/, /ď, /m/, /n/, /η/, /ñ/,
/j/, /l/, /h/, /r/, /w/, dan /y/.
Dalam bahasa Mb, fonem-fonem konsonan hambat tansuara /p/, /t/, dan /k/ diartikulasi sebagai hambat bilabial, apikodental, dorsovelar, dan hambat glotal. Fonem-fonem konsonan hambat bersuara /b/, /d/, /g/, diartikulasi sebagai bilabial, apikodental, dan dorsovelar plosif. Fonem-fonem konsonan hambat bersuara /Б/, /ď/, ģ/ diartikulasi sebagai bilabial, apikodental, dan dorsovelar implosif. Fonem konsonan paduan bersuara /j/ diartikulasi sebagai palatal plosif. Fonem konsonan paduan tansuara /c/ diartikulasi sebagai palatal plosif. Fonem konsonan geseran tansuara /h/ diartikulasi sebagai
tansuara /s/ diartikulasi sebagai
apikodental. Fonem konsonan getar
bersuara /r/ diartikulasi sebagai
apikodental. Fonem konsonan sampingan
bersuara /l/ diartikulasi sebagai
apikoalveolar. Fonem konsonan nasal bersuara /m/, /n/, /ñ/, /η/ merupakan
bilabial, apikodental, palatal, dan
dorsovelar. Fonem konsonan semi vokal bersuara /w/ dan /y/ diartikulasi sebagai bunyi labiodental dan palatal. Bahasa Mb tidak mengenal diftong, Deret vokal pada bahasa Mb meliputi enam buah deret vokal, yaitu i-a, u-a, a-u, dan a-i. Ditemukan empat gugus fonem konsonan pada bahasa Mb. Semuanya dalam bentuk kombinasi nasal hambat homorgan, seperti gugus konsonan /mb/ dan /nd/, dan ada pula yang hanya menempati posisi tengah kata, seperti gugus konsonan /nj/ dan /ηg/. Dalam bahasa Mb tidak ditemukan deret konsonan kecuali pada kata-kata serapan dari bahasa Indonesia yang mengandung deret konsonan nasal hambat homorgan seperti /mb/, /mp/, /nt/, /nd/, dan /ηg/. Pola
persukuan dalam bahasa Mb dapat
monosilabik, bisilabik, trisilabik,
kuadrasilabik, pola kata bersuku enam.
4.2 Fonologi Bahasa Sawu
Bahasa Sw membedakan fonem-fonem vokal atas enam buah, seperti yang tercatat dalam table 3 berikut ini.
Tabel 3: Daftar Fonem Vokal dalam Bahasa Sawu Posisi Lidah Depan Pusat Belakang
Atas i u
Tengah e ∂ o
Bawah a
Fonem-fonem vokal di atas
ditemukanberdistribusi paralel. Adapun fonem /i/ diartikulasi sebagai bunyi distingtif yang bercirikan vokal depan, atas, dan tinggi. Demikan pula, fonem /u/, /e/, /o/, /∂/, dan /a/ berdistribusi paralel karena dapat menempati posisi awal, tengah, dan akhir kata. Fonem /u/ diartikulasi sebagai bunyi distingtif yang bercirikan vokal belakang, atas, dan tinggi. Fonem /e/ diartikulasi sebagai bunyi distingtif yang bercirikan vokal depan, tengah, dan tinggi. Fonem /o/ diartikulasi sebagai bunyi vokal belakang, tengah, dan tinggi. Fonem vokal /∂/diartikulasi sebagai bunyi vokal pusat, tengah, dan tinggi. Fonem /a/ diartikulasi sebagai bunyi vokal pusat, tengah, dan tinggi.
Bahasa Sw mengenal fonem konsonan seperti dalam contoh berikut.
Dalam bahasa Sw, fonem-fonem konsonan hambat tansuara /p/, /t/, /k/, dan /’/ diartikulasi sebagai hambat bilabial, apikodental, dorsovelar, dan hambat glotal. Fonem-fonem konsonan hambat bersuara /b/, /d/, /g/, diartikulasi sebagai bilabial,
apikodental,dan, dorsovelar
plosif.Fonemkonsonan geseran tansuara /s/ diartikulasi sebagai apikoalveolar.Fonem konsonan getar bersuara /r/ diartikulasi sebagai apikodental. Fonem konsonan sampingan bersuara /l/ diartikulasi sebagai bunyi apikopalatal. Fonem konsonan nasal bersuara /m/, /n/, /η/ merupakan bilabial,
apikodental, dan dorsovelar. Fonem
konsonan semi vokal bersuara /w/ dan /y/ diartikulasi sebagai bunyi labiodental dan palatal. Dalam Bahasa Sw ditemukan beberapa deret vokal, yaitu a-a, i-a, e-a, dan u-a seperti yang tampak pada contoh berikut.
Distribusi diftong bahasa Sw yang
ditemukan dapat diamati pada tabel 4 contoh berikut.
Tabel 4: Distribusi Diptong Bahasa Sawu phoneme initial medial final /ai/ /ai/ (api)
/ai telora/ (jari manis) /ai/ ( betina ) /wonaiki/ (kecil) /naiki/ (kecil) /wanaiki/ (sedang ) /ana wuipa/ (anak bungsu) /donai/ ( bangsa) /beneu rai/ (bangsawan) /ui/ /ui/ (peranak an) - - /kehuika e/ ( jari tangan jamak) /rui/ ( tulang) /wui/ ( di bawah) /kebui/ (kacang) /oi/ - - /toi/ (tahu) /ia/ - - /kelia/ (halia) /iu/ - - - - - - /ta tiu/ (meniup) /wiu/ (baru) /kaba hiu/ (tempurung) /io/ - - hepio(berbisu) /ou/ - - - /doutani/ (petani) - /dou/ (orang) /wou/ (busuk) /dou naga gaji/ (budak) /ae/ /ae/ (banyak) /rujara ae worena/(j alan besar) - - - /kae/ (tangan) /wolahalae/(pa sir) /makae/ (malu)
/ei/ /ei/ (air) /eimanni/ (minyak) /eiwa/ (banjir) - - - /takei/ (menggali) /wei/ (talas) /erru wei/ (tempayan) /oe/ - - - - /melangoe/ (bekas luka)
/eo/ - - - - - - /heleo/ (melihat) /meo/ (kucing) /kaheo/ (ke-9) /ue/ - - - /aru buetau doludu/ (delapan taun yang lalu) - - /nakue/ (istri adik laki-laki dari ayah) /nakue/ (istri adik laki-laki dari ibu) /kalue aba/ (garis-garis pada telapak tangan /au/ /au/ (kamu, tunggal) - /rauaju/ (daun) - /rau/ (bulu) /jau/ (menjahit) /tau/ (tahun) /ao/ - - - - - - /ta kao/ (menggaruk) /kabao rena/ (kerbau betina) /ru dao/ (nila , bahan celup) /eo/ - - - - - -
/ana meo ruba/ (anak harimau) /leo tuko bahi/ (dapur pandai besi) /ke heo/ (kesembilan) /oa/ - - /roa jami/ (hutan) /noa/ (menjembir) /ie/ - - /woie/ (enak)
Bahasa Swtidak memiliki gugus konsonan dan deret konsonan.
4.3 Pembeda Fonologis Bahasa Sawu dan Bahasa Mamboro
Perbeda fonologis kedua bahasa tersebut dapat diamati dalam tabel berikut
Tabel 5: Pembeda Fonologis Bahasa Sawu dan Bahasa Mamboro
Sawu Mamboro T Total fonem Deret vocal a-a ,e-a, a -u, a-i 2 -2 Dipthong /ai/,
/ui/, /oi/, /ia/, /iu/, /io/, /ou/, /ae/, /ei/, /oe/, /eo/, /ue/, /au/, /ao/, /eo/, /oa/, /ie/ 1 7-0 konsonan /’/ /Б/, /ď/, /ģ/, /h/, /j/, /c/, , /ñ/, 1 -7 geminat /nn/,/l l/,/tt/,/bb/, /mm/, /ññ / /kk/, /dd/,/gg/rr/, /jj/ /ηη/, /hh/ - Gugus mb, nd 0 konsonan
Berdasarkan tabel di atas, tampak bahwa Bahasa Sawu memiliki deret fonem vokal a-a, dan e-a-a, sedangkan dalam bahasa
mamboro fonem tersebut ditemukan.
Sebaliknya dalam bahasa Mamboro deret vokal a-u, a-i, sedangkan dalam Bahasa Sw keduanya tidak muncul. Bahasa Sw memiliki 17 diptong, seperti: /ai/, /ui/, /oi/, /ia/, /iu/, /io/, /ou/, /ae/, /ei/, /oe/, /eo/, /ue/, /au/, /ao/, /eo/, /oa/, /ie/. Dalam Bahasa Mb semua diptong tersebut tidak ditemukan. Bahasa Sw memiliki 13 geminat: nn/,/ll/,/tt/, /bb/, /mm/,/ññ //kk/, /dd/,/gg/rr/, /jj/, /ηη/, /hh/. Semua geminat itu tidak ada dalam Bahasa Mb. Dalam Bahasa Mb terdapat dua gugus konsonan nasal hambat : /nd/ dan /mb/. Namun dalam Bahasa Sw keduanya tidak ditemukan.
4.4 Pembeda Leksikal Bahasa Sw dan Mb
Dari 1702 kosakata yang dijaring dari tiga daftar kosa kata, ditemukan 1305 (76,68%)
ditemukan menjadi pembeda leksikal.
Perhatikan beberapa contoh pembeda leksikal berikut:
Tabel 6 : Pembeda Leksikal Bahasa Sawu dan Mamboro
No. Na. KKP
(Indonesia)
Mamboro Sawu
a. manusia dan kekerabatan
1 58 isteri asauma - wob∂nni 2 56 anak alakawa - naiki 3 190 siapa heηgai - nadu b. kata ganti diri dan kepunyaan
4 183 kamu (tunggal) yo - au 5 184 dia/ia yina - no 6 185 kami yami - yi 7 186 kita yita - di
c. anggota badan dan bagian tubuh 8 1 tangan luma - kae 9 4 kaki wisi - j∂lla 10 14 perut tia - d∂llu 11 16 usus tanai - uhu 12 19 bahu lemba - kologunu 13 26 rambut loηgi - ruk∂ttu
d. binatang dan satwa
14 96 anjing asu - ηaka 15 102 tikus kalawu - keju 16 106 ular mandu - doboho 17 108 kutu katuma - udu 18 109 nyamuk kaninipa - l∂ggu 19 110
laba-laba geηgi - m∂rake 20 111 ikan iya - nadu’u 21 97 burung pawuruηa - dolila 22 100 sayap kapa - ro∂lla
23 99 bulu wulu - rau 24 101 terbang pawuruηa - lila 25 105 ekor kiku - rula’i
e. tumbuhan dan tanaman
26 79 kayu yai - aju 27 118 rumput ruta - ruju’u 28 113 dahan kasaηa - kelai 29 115 akar lolu - amo
f. makan (an) dan minum (an)
30 39 menanak taďesa - hogo 31 41 gigit witu - hibbi 32 38 kunyah mama - ñami 34 42 mengisap sabubu - hemuhi
4.5 Pembahasan
Studi ini menemukan data-data
kuantitatif(kognat) maupun data kualitatif (khusnya pembeda fonologis dan leksikal). Kendatipun demikian, studi lanjutan pada jenis ini yang memberi bukti-bukti penyatu kelompok kedua bahasa itu baik secara fonologis dan leksikal masih perlu dilakukan. Proto bahasa kedua bahasa itu dan proto bahasa yang ada di atasnya perlu pula ditentukan dalam penelitian mendatang. Selain proto-proto itu masih perlu juga mencari bukti kualitatif yang mengkaitkan keterhubungan protofonem dan etimon Proto Austronesia (PAN) Sw dan Mb maupun dengan proto bahasa di atasnya. Ciri-ciri
keterkaitan itu memperjelas keduanya
sebagai bahasa berkerabat yang berbeda keturunan PAN.
Studi ini mendukung studi pusat bahasa Jakarta tahun 2008 yang mencatat bahwa Bahasa Sw adalah salah satu bahasa daerah yang mandiri di wilayah NTT. Selanjutnya, bila dikaitkan dengan studi Budasi (2007, 2009, 2010 a, dan 2010b, 2012) tanpak studi ini mendukung studi-studi tersebut, baik pada kesimpulan kuantitatif maupun pada
kesimpulan kualitatif yang sama-sama
menentukan bahwa Bahasa Sawu adalah sebuah bahasa yang berkerabat dekat dengan bahasa-bahasa Sumba dan bahasa daerah lainnya ini lebih jauh hubungan kekerabatannya. Namun demikian, studi ini tanpak masih menyisakan permasalahan yaitu telah ditemukan prosentase kekrabatan Bahasa Al yang keterhubungannya sangat
jauh dan status hubungan klasififkasi
bahasanya dengan keenam bahasa lainnya ternyata berada pada hubungan diantara mikro dan makrofillum. Dengan demikian, studi yang mendalam dengan memfokuskan perhatian pada penentuan posisi Bahasa Al di antara bahasa bahasa yang ada di sekitarnya termasuk dengan bahasa-bahasa
Austronesia disekitarnya sangat perlu
dengan segera dikerjakan agar status kekerabatan dan status pemetaan bahasa-bahasa daerah disekitarnya juga semakin jelas. Proto bahasa sawu dengan bahasa yang memiliki hubungan terdekat belum direkonstruksi. Begitu pula proto bahasa di atasnya. Proto bahasa-bahasa berkerabat
diatas perlu direkonstruksi sehingga
hubungan PAN dengan proto bahasa yang dimaksud dapat diketahui dengan pasti, sehingga hasil pemetaan bahasa-bahasa
tersebut dapat dipertanggungjawabkan
secara ilmiah.
5. Kesimpulan
Prosentase kognat yang tertinggi bahasa-bahasa yang dibandingkan di NTT adalah sebesar 34 % terdapat pada Sw-Mb. Disusul Bm-Md sebesar 32%, Tn-Rt 30.5%. Rt-Tn 29,5 %, Bm-Tn 28,5 %, Sw-Tn 26,5 %, Sw-B 25,5 %, Rt-Mb 21,5%, Tn-Dw 20,5%, Bm-Dw 19%, Tn-Mb 17,5%, Sw-Dw 16,5%. Bm-Al 9,5%, Al-Mb 3,5%, Sw-Al 2,5%, Dw-Al 1,5%, Prosentase terendah sebesar 1% terdapat pada Tn-Al. Semua bahasa ada dalam klasifikasi hubungan rumpun (stok) kecuali bahasa Al dengan beberapa bahasa ada yang berada pada hubungan mikrofillum dan makrofillum. Studi ini berhasil menyusun
silsilah kekerabatan bahasa secara
kuantitatif dan menentukan posisi Bahasa Sawu di antara bahasa-bahasa itu.
Mb memiliki enam buah fonem vokal, seperti /a/. /i/./u/./e/. /o/, /∂/, dua puluh satu fonem konsonan yang meliputi /p/, /b/, Б /t/, /k/, /g/, /ģ/ /d/, /ď, /m/, /n/, /η/, /s/ /ñ/, /c/ /j/, /l/, /h/, /r/, /w/, dan /y/. Bahasa Mb tidak mengenal diftong. Bahasa Mb memiliki 4 buah deret vokal, yaitu /i-a/, /u-a/, /a-u/, dan /a-i/. Ditemukan empat gugus fonem konsonan pada Bahasa Mb. Semuanya dalam bentuk kombinasi nasal hambat homorgan. Dalam Bahasa Mb tidak ditemukan deret konsonan.
Selanjutnya, Bahasa Sw membedakan
fonem-fonem vokal atas enam buah vokal /a/. /i/./u/./e/. /o/, /∂/. Fonem-fonem konsonan bahasa Sw dibedakankan atas lima belas buah. Kelima belas segmen konsonan tersebut adalah: /p/, /t/, /k/, /’/, /b/, /d/, /g/, /m/, /n/, /η/, /l/, /s/, /r/, /w/, /y/. DalamBahasa Sw ditemukan beberapa deret vokal, yaitu/a-i/, /i-a/, /e-a/, /u-a/ dan diptong: /ai/, /ui/, /oi/, /ia/ /iu/, /io/, /ou/, /ae/, /ei/, dan /oe/, /eo/, /ue/, /au/,/ao/,/eo/,/oa/ /ie/. Bahasa Sw tidak memiliki gugus konsonan.Bahasa Sw tidak memiliki deret konsonan.
Ditemukan perbeda fonologis kedua bahasa tersebut sebagai berikut. Bahasa Sw memiliki deret fonem vokal identik: /a-a/, tanidentik: /e-a/, sedangkan dalam Bahasa Mb fonem tersebut tidak ditemukan. Sebaliknya dalam Bahasa Mamboro terdapat deret vokal tanidentik: /a-u/, /a-i/, sedangkan dalam Bahasa Sw keduanya tidak muncul. Bahasa Sw memiliki 17 diptong, seperti: /ai/, /ui/, /oi/, /ia/, /iu/, /io/, /ou/, /ae/, /ei/, /oe/, /eo/, /ue/, /au/, /ao/, /eo/, /oa/, /ie/. Dalam Bahasa Mb semua diptong tersebut tidak ditemukan. Bahasa Sw memiliki 13 geminat: /nn/, /ll/, /tt/, /bb/, /mm/, /ññ //kk/, /dd/, /gg/, /rr/, /jj/ /ηη/, /hh/. Semua geminat itu tidak ada dalam Bahasa Mb. Giminat /nn/, /ll/, /tt/,/bb/,/mm/, /ññ,/, /kk/, /dd/,/gg/rr/, /jj/ /ηη/, /hh/ ditemukan dalam bahasa Sawu, namun tidak ditemukan dalam Bahasa Mb. Dalam Bahasa Mb terdapat dua gugus konsonan nasal hambat: /nd/ dan /mb/. Namun dalam Bahasa Sw keduanya tidak muncul.
Dari 1702 kosakata yang dijaring dari
tigadaftar kosa kata, ditemukan 1305
(76,68%)ditemukan menjadi pembeda
leksikal Sw danMb.
DaftarPustaka
Bloomfield, L. (1933).Language. New York: Holt. Renehart and Winston
Budasi, I.G. (2007). KekerabatanBahasa-Bahasa Sumba SetudiLinguistikHistorisKomparartif. (Disertasi). Universitas Gajah Mada. Budasi, I.G. (2009)a. Studi Linguistik Diakronis
Mengenai Status Isolek Laura dan Gaura pada Kelompok Bahasa Sumba di Provinsi NTT . Penelitian Puslit Universitas Pendidikan Ganesha.
Budasi, I.G. (2009)b. “Status Kekerabatan Dialek Laura dengan Bahasa Wewewa dan Dialek Gaura dengan Bahasa Lamboya di Sumba NTT.” Makalah Seminar International Austronesia V Denpasar.
Budasi, I.G. (2010)a.
“PembedaFonologisBahasaWanokakadan Anakalang di Sumba NTT”. Dalam Widya Sastra Vol 5 No. 9: 76-86
Budasi, I.G. (2010)b “Bukti Bukti linguistik Secara Ekslusif pada Kelompok Bahasa Sumba: Sebuah Kajian Linguistik Komparatif”, dalam Widya Sastra Vol 5 No. 10: 82-97. Budasi, I.G. (2013). “Phonological Evidences
which Separate and Unite Mamboro Language from Proto Wanokaka-Anakalang in Sumba Group of Languages”.
Kata, Vol 14
(2).http://puslit2.petra.ac.id/ejornal/index.ph p/ing/article/view /18655/18411.
Blust, R.A. (1971). “Proto-Austronesian Addenda”. Working Paper in Linguistics 3 (1): 1-106. Honolulu: University of Hawaii.
Durasid, D. (1990). “RekonstruksiProtobahasa
Barito”. (Disertasi)
FakultasPascasarjanUniversitas Indonesia.
Dyen, Insidore. (1965). A Lexicalstatistical Classification of theMelayu-Polinesian Languages. Baltimore: Waverly Press. Esser, S.J. (1938). Atlas van Tropisch
Netherland(sheet 98: Talen.(Language Map) Den Haag: Martinus Nijhoff. Fernandez, I Y. (1988). Relasi historis
Kekerabatan Bahasa Flores. Ende. Nusa Indah.
Fernandez, I Y. (1988). “Rekonstruksi Proto Bahasa Flores” (Disertasi). Universitas Gajah Mada-Yogyakarta.
Fernandez, I Y. (2007). “MelayuLarantuka di Flores Timur: SebuahTinjauandari Perspective Sejarah”. Dalam Kajian Serba Linguistik. Jakarta. PT BPK Gunung Mulia.
Fernandez, I Y. (2010). “Subkelompok Bahasa Jayapura dan Implikasinya terhadap Status Subkelompok Bahasa Melanesia serta Filum Papua dan Nugini” Makalah Seminar International Austronesia V Denpasar.
Ino, L. (2013). ProtobahasaModebur, Kaera, dan Teiwa di Pulau Pantar. (Disertasi) FakultasPascasarjanaUniversitasUday ana-Denpasar
Halus, M. (2010).
“EvolusiFonologisBahasaOirata dan KekerabatannyaDenganBahasa-Bahasa Non-Austronesia”. (Disertasi) FakultasPascasarjanaUniversitasUday ana-Denpasar.
Mbete, A (2007). “Refleks PAN *qq dan *R dalamBahasa Bali, Sasak, dan Sumbawa”. Dalam Kajian Serba Linguistik. Jakarta. PT BPK GunungMulia
Mbete, A. (1990). “Rekonstruksi Proto Bahasa Bali-Sasak-Sumbawa. (Desertasi). Pascasarjana Universitas Indonesia. Nothofer, B. (1975). “The Reconstruction of
Proto Malayo-Javanic”.VKI 73, Den Haag: Martinus Nijholff.
Samarin, W. Y.(1981). Field Linguistics: A Guide to Linguistics. Holt: Rineharts Winston, Inc.
Swadesh(1982). A Lexicalstatistical Classification of the Melayu-Polinesian Languages. Baltimore: Waverly Press.
Tadmor,U.(2010).KontroversiAsal-UsulBahasaMelayu-Indonesia.
DalamPelba12/ 2009.
PusatKajianBahasadanBudayaUnikaAt majaya.
Wurm, Stephen O and Shiro Hattori, eds. (1983) Language Atlas of the Pacific Area. Pacific Linguistics, Series C. No. 66. Canberra: Australian Academy of
the Humanities in Collaboration with the Japan Academy.