GAMBARAN TENTANG SANITASI RUMAH DI DUSUN KEBONSARI KELURAHAN KACANGAN

63  Download (0)

Teks penuh

(1)

i

KEBONSARI KELURAHAN KACANGAN

SKRIPSI

Untuk Memenuhi Persyaratan Mencapai Sarjana Keperawatan

Oleh : Puji Lestari NIM : ST 13056

PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN

STIKES KUSUMA HUSADA

SURAKARTA

2015

(2)

ii

(3)

iii Nama : Puji Lestari

NIM : ST 13056

Dengan ini saya menyatakan bahwa :

1. Skripsi saya ini adalah asli dan belum pernah diajukan untuk mendapatkan gelar akademik (sarjana), baik di STIKes Kusuma Husada Surakarta maupun di perguruan tinggi lain.

2. Skripsi ini adalah murni gagasan, rumusan, dan penelitian saya sendiri, tanpa bantuan pihak lain, kecuali arahan Tim Pembimbing dan Penguji.

3. Dalam skripsi ini tidak ada karya atau pendapat yang tertulis atau dipublikasikan orang lain, kecuali secara tertulis dengan jelas dicantumkan sebagai acuan dalam naskah dengan disebutkan nama pengarang dan dicantumkan dalam daftar pustaka.

4. Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila di kemudian hari terdapat penyimpangan dan ketidakbenaran dalam pernyataan ini, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan gelar yang telah diperoleh karena skripsi ini, serta sanksi lain sesuai norma yang berlaku di STIKes Kusuma Husada Surakarta.

Surakarta, 24 Januari 2015 Yang membuat pernyataan,

( Puji Lestari ) NIM.ST13056

(4)

iv

KATA PENGANTAR Bissmillahhirrohmannirrohim

Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, petunjuk, karunia serta hidayahNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dengan judul “Gambaran Sanitasi Rumah Di Dusun Kebonsari Kelurahan Kacangan” dengan baik dan lancar. Penelitian ini dapat terselesaikan berkat dukungan, bimbingan dan bantuan dari semua pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Dr. Endro Suprayitno,SpKJ.,Msi selaku Direktur Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta yang telah memberikan kesempatan kepada Penulis untuk menimba ilmu di STIKes Kusuma Husada Surakarta.

2. Dra. Agnes Sriharti,M.Si selaku Ketua STIKes Kusuma Husada Surakarta. 3. Wahyu Rima Agustin,S.Kep.,Ns.,M.Kep selaku Ketua Program Studi S1

Keperawatan STIKes Kusuma Husada Surakarta.

4. Fahrudin Nasrul Sani, S.Kep, Ns., M.Kep selaku Pembimbing Utama yang telah memberikan bimbingan dan arahan dalam penulisan penelitian ini. 5. Jaswanto., S.Kep., Ns. M.Kes selaku Pembimbing Pendamping yang telah

membantu memberikan bimbingan dan arahan dalam penulisan Penelitian ini.

(5)

v

memberikan bimbingan dan arahan dalam menyelesaikan penulisan Penelitian ini.

7. Bp.Siswanta selaku Pelaksana Tugas Kepala Desa Kacangan yang telah memberikan ijin untuk melakukan penelitian di Desa yang dipimpinnya. 8. Suami, Ananda tercinta dan seluruh keluarga yang senantiasa memberikan

do’a restu dan dorongan kepada penulis selama menjalani pendidikan. 9. Teman-teman seperjuangan Program Studi Ilmu Keperawatan STIKes

Kusuma Husada Surakarta, terima kasih atas kerja sama dan bantuannya, baik berupa moril dan materiil secara langsung maupun tidak langsung. 10. Semua pihak yang telah membantu dalam penulisan Penelitian ini yang

tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Penulis menyadari masih terdapat beberapa bahkan banyak kekurangan dalam proses penyusuna Penelitian ini, untuk itu dalam kesempatan ini tak lupa penulis juga mengharapkan masukan dan saran yang positif dari semua pihak.

Wassalamu’alaikumWarrahmatullahi Wabarakatuh

Surakarta, 10 agustus 2015 Penulis

(6)

vi DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL... i

HALAMAN PERSETUJUAN... ii

SURAT PERNYATAAN... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL... viii

DAFTAR GAMBAR ... ... ix DAFTAR LAMPIRAN ... x ABSTRAK ... ... xi ABSTRACT ... xii BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1 1.2. RumusanMasalah ... 5 1.3. Tujuan Penelitian ... 5 1.4. Manfaat Penelitian... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan Teori ... 7

2.2. Keaslian Penelitian ... 20

2.3. Kerangka Teori ... 22

2.4. Kerangka Konsep ... 23

BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Jenis Dan Rancangan Penelitian... 24

(7)

vii

3.4. Tempat Dan Waktu Penelitian... 25

3.5. Variabel, Definisi Operasional dan Skala Pengukuran ... 25

3.6. Definisi Operasional …... 26

3.7. Alat Penelitian Dan Pengumpulan Data ... 28

3.8. Tehnik Pengolahan Data ... 29

3.9. Analisa Data ... 29

3.10. Etika Penelitian... 30

BAB IV HASIL PENELITIAN 4.1 Data Hasil Penelitian... 31

BAB V PEMBAHASAN 5.1 Deskripsi Kondisi Sanitasi Rumah ... ... 35

BAB VI PENUTUP 6.1 Simpulan ... ... 45

6.2 Saran ... 46 DAFTAR PUSTAKA

(8)

viii

DAFTAR TABEL

Nomor Tabel Halaman

Tabel 2.1. Keaslian Penelitian 20

Tabel 3.1. Definisi Operasional 26

Tabel 4. 2 Gambaran sarana air bersih 31

Tabel 4.3 Gambaran Jamban dan pembuangan tinja 32 Tabel 4.4 Gambaran sarana pembuangan air limbah 32

Tabel 4.5 Gambaran sarana pembuangan sampah 33 Tabel 4.3 Gambaran sarana pengolahan sampah 34

(9)

ix

Nomor Gambar Halaman

Gambar 2.1. Kerangka Teori 22

(10)

x

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Lampiran Keterangan

1 Usulan Topik Penelitian

2 Pengajuan Judul Penelitian 3 Pengajuan Ijin Studi Pendahuluan

4 Jadwal Penelitian

5 Surat Permohonan Studi Pendahuluan

6 Surat Keterangan Balasan Studi Pendahuluan

7 Lembar Permohonan Menjadi Responden

8 Lembar observasi Tentang Komponen Sanitasi Rumah

9 Lembar Konsultasi

10 Daftar Tabel

11 Daftar Gambar

12 Pengajuan Ijin Penelitian 13 Permohonan Ijin Penelitian

(11)

xi

2015

Puji Lestari

Gambaran Tentang Sanitasi Rumah Di Dusun Kebonsari KelurahanKacangan

Abstrak

Kondisi rumah dan lingkungan yang tidak memenuhi syarat kesehatan merupakan faktor resiko penularan berbagai penyakit, khususnya penyakit berbasis lingkungan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kondisi rumah yang tidak sehat mempunyai hubungan terhadap kejadian penyakit. Kondisi rumah yang baik sangat penting untuk mewujudkan masyarakat yang sehat.. Ruang lingkup sanitasi dalam laporan Riskesdas (2013) meliputi penggunaan fasilitas BAB, jenis tempat BAB, tempat pembuangan akhir tinja, jenis tempat penampungan air limbah, jenis tempat penampungan sampah, dan cara pengelolaan sampah.

Jenis penelitian ini yang digunakan adalah diskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah rumah yang berada di Dukuh Kebonsari Desa Kacangan yang berjumlah 55 rumah bulan Januari - Juni 2015. Cara pengambilan sample dilakukan secara Total Sampling, dengan memperhatikan kriteria inklusi dan eksklusi sehingga didapatkan 55 responden.

Sebanyak 100% penduduk menggunakan air sumur dangkal, kualitas air secara fisik 100% tidakberbau, tidak berasa dan tidak berwarna, jamban dengan leher angsa adalah sebesar 96%, cara pembuangan tinja 96% dengan septic tank, jarak septic tank dengan sumber air 96% ≥10m,90% penduduk Dukuh Kebonsari menggunakan irigasi berupa selokan air yang langsung meresap ketanah,100% cara pembuangan sampah dengan dibakar, dan tehnik pembuangan sampah 100% dengan ditimbun, pengolahan sampah 94% dibakar.

Hasil penelitian dapat dideskripsikan bahwa dari lima komponen syarat sanitasi rumah sehat sebagian besar responden mempunyai lingkungan yang mendukung tentang sanitasi kesehatan rumah.

Kata Kunci : Sanitasi rumah Daftar Pustaka :37 (2000-2013)

(12)

xii

BACHELOR PROGRAM IN NURSING SCIENCE KUSUMA HUSADA HEALTH SCIENCE COLLEGE OF SURAKARTA 2015 Puji Lestari

Description of House Sanitation in Kebonsari Sub-Village, Kacangan Ward

ABSTRACT

The dirty condition of house and environment is the transmission riskfactor of various diseases, particularly the environment-based diseases. A good condition of house is important to establish a healthy community. According to Basic Health Research’s report in 2013, the scope of sanitation included the use of bowel movement facility, types of bowel movementlocation, final disposal locations of feces,types and locations of waste water reservoir, types and locations ofwaste disposal and method of waste management.

The research used the descriptive quantitative method. The population of research was 55 houses in KebonsariSub-village, Kacangan Village. The research was conducted from January to June 2015. The samples of research were 55 respondents. They were taken by using the total sampling technique

The result shows that all of the residents (100% )used the waterof shallow well, physicallythe water was odorless, tasteless and colorless, 96% of latrinesused the goose neck-shaped ones, 96% of method of feces disposal used septic-tank, 96% of the distance of septic-tank and water source was greater than or equal to 10m, 90% of the residents used the irrigation in the form of a ditch directly seeped into the soil, 100% of the residents burnt the garbage as the method of garbage disposal, 100% of the residents stockpiled the garbage as the technique of garbage disposal, 94% of the residents burnt the garbage as the garbage management.

Thus, based on the five components of healthy house sanitation requirements, most of the respondents had a good environment to support the house sanitation.

Keywords: House sanitation References: 37 (2000-2013)

(13)
(14)

1

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Kebijakan Indonesia Sehat 2010 menetapkan tiga pilar utama yaitu lingkungan sehat, perilaku sehat dan pelayanan kesehatan bermutu adil dan merata. Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan untuk mendukung upaya peningkatan perilaku sehat ditetapkan dalam Visi Nasional Promosi Kesehatan sesuai Keputusan Menteri Kesehatan RI. No. 1193/MENKES /SK/X/2004 yaitu “Perilaku Hidup Bersih dan Sehat 2010” (PHBS 2010).

Kondisi rumah dan lingkungan yang tidak memenuhi syarat kesehatan merupakan faktor resiko penularan berbagai penyakit, khususnya penyakit berbasis lingkungan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kondisi rumah yang tidak sehat mempunyai hubungan terhadap kejadian penyakit. Penelitian Wahyuni (2005) menemukan bahwa balita yang menderita demam berdarah (DBD) 64% bertempat tinggal di rumah yang mempunyai sarana pembuangan air limbah tidak memenuhi syarat. Yuwono (2008) menemukan lingkungan fisik rumah yang tidak memenuhi syarat merupakan faktor risiko terjadinya pneumonia pada balita. Wulandari (2009) menemukan sanitasi rumah yang buruk dapat menyebabkan balita terkena diare. Rumah hendaknya dapat memenuhi persyaratan teknis dan hygiene yaitu tidak terlalu padat penghuni, keadaan ventilasi baik (cross ventilation), pencahayaan cukup, kelembaban rumah memenuhi syarat

(15)

dengan ketentuan jenis lantai dan dinding rumah kedap air serta atap rumah dalam keadaan baik agar tidak terjadi kebocoran (Dinkes Provinsi Jawa Tengah, 2010, Dirjen P2PL, 2005).

Ruang lingkup sanitasi dalam laporan Riskesdas (2013) meliputi penggunaan fasilitas buang air besar (BAB), jenis tempat BAB, tempat pembuangan akhir tinja, jenis tempat penampungan air limbah, jenis tempat penampungan sampah, dan cara pengelolaan sampah. Untuk akses terhadap fasilitas tempat buang air besar (sanitasi) digunakan kriteria JMP WHO -UNICEF tahun 2006. Menurut kriteria tersebut, rumah tangga yang memiliki akses terhadap fasilitas sanitasi improved adalah rumah tangga yang menggunakan fasilitas BAB milik sendiri, jenis tempat BAB jenis leher angsa atau plengsengan, dan tempat pembuangan akhir tinja jenis tangki septik.

Kondisi lingkungan sangat berpengaruh terhadap status kesehatan, jika kondisi lingkungan tidak baik maka dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan pada masyarakat. Menurut Achmadi (2005), Sanitasi lingkungan yang buruk dapat menyebabkan penularan penyakit terus menyebar. Beberapa penyakit menular diantaranya penyakit malaria, TBC, filariasis, demam berdarah dengue, kolera, diare dan sebagainya. Penyakit demam berdarah disebut juga dengue haemorrhagic fever ( DHF) karena disertai gejala demam dan pendarahan, sedangkan penyebabnya adalah virus yang tergolong virus dengue. Penyakit ini merupakan penyakit yang baru bagi Indonesia yaknibaru pada tahun tujuh puluhan masuk ke Indonesia.

(16)

3

Kondisi rumah yang baik sangat penting untuk mewujudkan masyarakat yang sehat. Kepadatan hunian (in-house overcrowding) akan meningkatkan resiko dan tingkat keparahan penyakit berbasis lingkungan khususnya lingkungan rumah (Puslitbang Ekologi dan Status Kesehatan Badan Litbangkes, 2005).

Menurut Sastra (2005), salah satu kendala dalam pembangunan perumahan dan pemukiman yang terjadi di Indonesia antara lain berupa, kondisi sosial ekonomi masyarakat, terutama yang berpenghasilan rendah. Kondisi ini diperparah lagi dengan kurang pahamnya masyarakat akan pentingnya pemeliharaan lingkungan yang bersih bagi kesehatan mereka.

Persentase keluarga yang menghuni rumah sehat merupakan salah satu indikator Indonesia Sehat 2010 dan target Millenium Development Goals (MDGs) tahun 2015. Target rumah sehat yang hendak dicapai telah ditentukan sebesar 80% (Depkes RI, 2003). Berdasarkan profil kesehatan Indonesia tahun 2010, presentase rumah sehat secara nasional hanya sekitar 24,9%, jumlah ini dibawah target yang telah ditetapkan, kondisi ini juga terjadi di Jawa Tengah yang hanya memiliki presentase 18,8% (Profil Kesehatan Indonesia, 2010).

Hasil Riskesdas 2013 menunjukkan bahwa rumah tangga di Indonesia menggunakan fasilitas BAB milik sendiri (76,2%), milik bersama (6,7%), dan fasilitas umum (4,2%). Lima provinsi tertinggi untuk proporsi rumah tangga menggunakan fasilitas BAB milik sendiri adalah Riau (88,4%), Kepulauan Riau (88,1%), Lampung (88,1%), Kalimantan Timur

(17)

(87,8%), dan DKI Jakarta (86,2%). Meskipun sebagian besar rumah tangga di Indonesia memiliki fasilitas BAB, masih terdapat rumah tangga yang tidak memiliki fasilitas BAB sehingga melakukan BAB sembarangan, yaitu sebesar 12,9 persen. Lima provinsi rumah tangga yang tidak memiliki fasilitas BAB/BAB sembarangan tertinggi adalah Sulawesi Barat (34,4%), NTB (29,3%), Sulawesi Tengah (28,2%), Papua (27,9%), dan Gorontalo (24,1%) (Riskesdas 2013).

Berdasarkan karakteristik, proporsi rumah tangga yang menggunakan fasilitas BAB milik sendiri di perkotaan lebih tinggi (84,9%) dibandingkan di perdesaan (67,3%); sedangkan proporsi rumah tangga BAB di fasilitas milik bersama dan umum maupun BAB sembarangan di perdesaan (masing-masing 6,9%, 5,0%, dan 20,8%) lebih tinggi dibandingkan dengan di perkotaan (6,6%, 3,5%, dan 5,1%). Semakin tinggi kuintil indeks kepemilikan, semakin tinggi juga proporsi rumah tangga yang menggunakan fasilitas BAB milik sendiri. Semakin rendah kuintil indeks kepemilikan, proporsi rumah tangga yang melakukan BAB sembarangan semakin tinggi (Riskesdas 2013) .

Data Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Sragen tahun 2010 jumlah seluruhnya 238.906 rumah, jumlah yang diperiksa sebanyak 148.607 rumah dan rumah yang memenuhi syarat kesehatan sebanyak 89.718 (Profil DKK Sragen,2010).

Studi pendahuluan yang telah dilakukan pada tanggal 4 Januari 2015 terhadap empat rumah di wilayah Dukuh Kebonsari didapatkan, empat

(18)

5

rumah melakukan pembuangan air limbah di selokan terbuka di luar rumah tetapi kurang terjaga kebersihan dan kelancaran salurannya. Perilaku membuang sampah dilakukan di lahan kosong dan dibakar. Mengenai perilaku perilaku BAB, tiga rumah menggunakan WC leher angsa yang jaraknya dari sumber air kurang lebih 7 meter dan satu rumah jarak WC kurang lebih 3 meter. Lingkungan wilayah Dukuh Kebonsari terdapat enam rumah yang tidak berpenghuni tidak berfungsi sebagai tempat tinggal. Sanitasi disekitar rumah tersebut menjadi tidak terjaga secara bersih. Hal itu bisa membuat resiko terbentuknya lingkungan yang tidak menyehatkan. Terbukti pada bulan November 2014 sudah ditemukan penduduk yang terindikasi terkena demam berdarah sebanyak delapan orang.

Melihat dari latar belakang permasalahan diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul : Gambaran sanitasi rumah Di Dukuh Kebonsari Kelurahan Kacangan.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka dapat dirumuskan masalah penelitian ini adalah bagaimanagambaran sanitasi rumah di dukuh kebonsari kelurahan kacangan?

1.3. Tujuan Penelitian

MendiskripsikanGambaran Sanitasi Rumah Di Dukuh Kebonsari Kalurahan Kacangan

(19)

1.4. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini peneliti harapkan dapat memberikan manfaat kepada semua pihak, meliputi :

1.4.1. Manfaat praktis 1.4.1.1. Peneliti

Melalui penelitian ini peneliti berharap dapat memperoleh informasi tentang sanitasi rumah Di Dukuh Kebonsari Kalurahan Kacangan

1.4.1.2. Institusi pendidikan

Sebagai bahan masukan untuk meningkatkan sanitasi rumah sehat dan untuk bahan referensi adik tingkat.

1.4.2. Manfaat teoritis

1.4.2.1. Pengembangan ilmu

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bukti nyata untuk menggambarkan tentang sanitasi rumah yang baik. 1.4.2.2. Peneliti selanjutnya

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi sebagai data atau hasil riset untuk pengembangan penelitian selanjutnya berkaitan dengan sanitasi ruma

(20)

7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan Teori 2.1.1. Sanitasi Rumah 1. Definisi

Sanitasi adalah suatu usaha pencegahan penyakit yang menitikberatkan kegiatan pada usaha kesehatan lingkungan hidup manusia (Widyati dan Yuliarsih, 2002). Menurut WHO , sanitasi didefinisikan sebagai pengawasan faktor-faktor dalam lingkungan fisik manusia yang dapat menimbulkan pengaruh yang merugikan terhadap perkembangan jasmani, maka berarti pula suatu usaha untuk menurunkan jumlah penyakit manusia sedemikian rupa sehingga derajat kesehatan yang optimal dapat dicapai. Sanitasi rumah adalah pengendalian dari faktor-faktor lingkungan fisik bangunan/gedung yang digunakan oleh manusia sebagai tempat berlindung, beristirahat serta untuk melakukan kegiatan lainnya, sehingga dapat menjamin kesehatan jasmani, rohani dan keadaan sosial serta kelangsungan hidup bagi penghuninya (Dalimunthe, 2004).

(21)

2. SaranaSanitasi Rumah

Menurut laporan MDGs tahun 2007 terdapat beberapa kendala yang menyebabkan masih tingginya jumlah orang yang belum terlayani fasilitas air bersih dan sanitasi dasar.

Di antaranya adalah cakupan pembangunan yang sangat besar, sebaran penduduk yang tak merata dan beragamnya wilayah Indonesia, keterbatasan sumber pendanaan. Pemerintah selama ini belum menempatkan perbaikan fasilitas sanitasi sebagai prioritas dalam pembangunan. Faktor lain yang juga menjadi kendala adalah kualitas dan kuantitas sumber air baku sendiri terus menurun akibat perubahan tata guna lahan (termasuk hutan) yang mengganggu sistem siklus air. Selain itu, meningkatnya kepadatan dan jumlah penduduk di perkotaan akibat urbanisasi.

Penyediaan air bersih dan sanitasi lingkungan yang tidak memenuhi syarat dapat menjadi faktor resiko terhadap penyakit diare dan kecacingan. Diare merupakan penyebab kematian nomor 4 sedangkan kecacingan dapat mengakibatkan produktifitas kerja dan dapat menurunkan kecerdasan anak sekolah, disamping itu masih tingginya penyakit yang dibawa vektor seperti DBD, malaria, pes, dan filariasis(Chandra, 2007) .

(22)

9

Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak. Air minum adalah air yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum. Syarat-syarat Kualitas Air Bersih diantaranya adalah sebagai berikut :

a. Syarat Fisik : Tidak berbau, tidak berasa, dan tidak berwarna b. Syarat Kimia : Kadar Besi : maksimum yang diperbolehkan

0,3 mg/l, Kesadahan (maks 500 mg/l)

c. Syarat Mikrobiologis : Koliform tinja/total koliform (maks 0 per 100 ml air)

Sarana air bersih yang biasa terdapat di Indonesia adalah : sumur pompa, sumur air dalam, air PAM.

4. Jamban dan Pembuangan Tinja

Jamban adalah suatu ruangan yang mempunyai fasilitas pembuangan kotoran manusia yang terdiri atas tempat jongkok atau tempat duduk dengan leher angsa atau tanpa leher angsa (cemplung) yang dilengkapi dengan unit penampungan kotoran dan air untuk membersihkannya (Proverawati, 2012). Jamban keluarga adalah suatu fasilitas pembuangan tinja bagi suatu keluarga (Depkes, 2009).

Menurut Notoatmodjo (2007), jamban atau latrine merupakan tempat pembuangan kotoran manusia baik tinja maupun

(23)

air seni. Kotoran manusia (feces) adalah sumber penyebaran berbagai macam penyakit seperti tifus, disentri, kolera, bermacam-macam cacing (gelang, kremi, tambang, pita), schistosomiasis dan sebagainya. Sedangkan menurut Suyono & Budiman (2011), beberapa penyakit yang dapat ditularkan melalui tinja manusia diantaranya kholera, disentri, tifus abdominalis, gastroenteritis, polio mielitis anterior akuta, hepatitis infeksiosa, cacingan, antraks, leptospirosis, skistosomiasis atau legionelosis.

Sementara menurut Slamet (2009) tinja dan urin manusia berbahaya karena mengandung banyak kuman patogen, baik berbentuk virus (Enter ovirus), bakteri (Coliform tinja, Salmonella sp., Shigella sp., Vibrio cholera), protozoa (E. Histolytica) dan metazoa (A. Lumbricoides).

Metode pembuangan tinja yang baik yaitu dengan jamban dengan syarat antara lain sebagai berikut, Soeparman dan Suparmin (2004) :

a. Tanah permukaan tidak boleh terjadi kontaminasi

b. Tidak boleh terjadi kontaminasi pada air tanah yang mungkin memasuki mata air atau sumur, jarak jamban > 10 m dari sumur dan bila membuat lubang jamban jangan sampai dalam lubang tersebut mencapai sumber air.

(24)

11

d. Tinja tidak boleh terjangkau oleh lalat dan hewan lain. Kotoran manusia yang dibuang harus tertutup rapat.

e. Tidak boleh terjadi penanganan tinja segar atau bila memang benar benar diperlukan, harus dibatasi seminimal mungkin. f. Jamban harus bebas dari bau atau kondisi yang tidak sedap

dipandang.

g. Metode pembuatan dan pengoperasian harus sederhana dan tidak mahal.

Ada 4 cara pembuangan tinja yaitu ( Notoatmojo, 2007):

a. Pembuangan tinja di atas tanah, pada cara ini tinja dibuang begitu saja di atas permuakaan tanah, halaman rumah, di kebun, di tepi sungai dan sebagainya. Cara demikian tentu sama sekali tidak dianjurkan, karena dapat mengganggu kesehatan.

b. Kakus lubang gali (pit pravy), cara ini merupakan salah satu yang paling mendekati persyaratan yang harus dipenuhi. Tinja dikumpulkan di dalam tanah dan lubang di bawah tanah, umumnya langsung terletak di bawah ± 90 cm = kedalaman sekitar 2,5 m. Dinidngnya diperkuat dengan batu, dapat ditembok ataupun tidak, macam kakus ini hanya baik digunakan di tempat di mana air tanah letaknya dalam.

c. Kakus air (aqua privy), cara ini hampir mirip dengan kakus lubang gali, hanya lubang kakus dibuat dari tangki yang kedap air yang berisi air, terletak langsung di bawah tempat jongkok.

(25)

Cara kerjanya merupakan peralihan antara lubang kakus dengan septic tank. Fungsi dari tank adalah untuk menerima, menyimpan, mencernakan tinja serta melindunginya dari lalat dan serangga lainnya. Bentuk bulat, bujur sangkar atau empat persegi panjang diletakkan vertikal dengan diameter antara 90 – 120 cm.

d. Septic Tank, merupakan cara yang paling memuaskan dan dianjurkan diantara pembuangan tinja dan dari buangan rumah tangga. Terdiri dari tangki sedimentasi yang kedap air dimana tinja dan air ruangan masuk dan mengalami proses dekomposisi. Di dalam tangki, tinja akan berada selama 1-3 minggu tergantung kapasitas tangki.

Pembuangan tinja yang buruk sekali berhubungan dengan kurangnya penyediaan air bersih dan fasilitas kesehatan lainnya. Kondisi-kondisi demikian ini akan berakibat terhadap serta mempersukar penilaian peranan masing-masing komponen dalam transmisi penyakit namun sudah diketahui bahwa terhadap hubungan antara tinja dengan status kesehatan. Hubungan keduanya dapat bersifat langsung ataupun tak langsung. Efek langsung misalnya dapat mengurangi insiden penyakit tertentu yang dapat ditularkan karena kontaminasi dengan tinja, misalnya thypus abdominalis, kolera dan lain-lain, sedanngkan hubungan tak langsung dari pembuangan tinja ini

(26)

13

bermacam-macam, tetapi umumnya berkaitan dengan komponen-komponen lain dalam sanitasi lingkungan, Notoatmodjo (2007).

5. Sarana Pembuangan Air Limbah

Buruknya kualitas sanitasi juga tercermin dari rendahnya persentase penduduk yang terkoneksi dengan sistem pembuangan limbah (sewerag system). Pegolahan air limbah dimaksudkan untuk melindungi lingkungan hidup terhadap pencemaran air limbah tersebut. Secara ilmiah sebenarnya lingkungan mempunyai daya dukung yang cukup besar terhadap gangguan yang timbul karena pencemaraan air limbah tersebut. Namun demikian, alam tersebut mempunyai kemampuan yang terbatas dalam daya dukungnya, sehingga air limbah perlu dibuang, Sarwono (2004).

Beberapa cara sederhana pengolahan air buangan antara lain sebagai berikut, Sarwono (2004):

a. Pengenceran

Air limbah diencerkan sampai mencapai konsentrasi yang cukup rendah, kemudian baru dibuang ke badan-badan air. Tetapi, dengan makin bertambahnya penduduk, yang berarti makin meningkatnya kegiatan manusia, maka jumlah air limbah yang harus dibuang terlalu banyak, dan diperluka air pengenceran terlalu banyak pula, maka cara ini tidak dapat dipertahankan lagi. Disamping itu, cara ini menimbulkan

(27)

kerugian lain, diantaranya : bahaya kontaminasi terhadap badan-badan air masih tetap ada, pengendapan yang akhirnya menimbulkan pendangkalan terhadap badan-badan air, seperti selokan, sungai, danau, dan sebagainya. Selanjutnnya dapat menimbulkan banjir.

b. Kolam Oksidasi

Pada prinsipnya cara pengolahan ini adalah pemanfaatan sinar matahari, ganggang (algae), bakteri dan oksigen dalam proses pembersihan alamiah. Air limbah dialirkan kedalam kolam berbentuk segi empat dengan kedalaman antara 1-2 meter. Dinding dan dasar kolam tidak perlu diberi lapisan apapun. Lokasi kolam harus jauh dari daerah pemukiman, dan didaerah yang terbuka, sehingga memungkinkan memungkinkan sirkulasi angin dengan baik.

c. Irigasi

Air limbah dialirkan ke parit-parit terbuka yang digali, dan air akan merembes masuk kedalam tanah melalui dasar dan dindindg parit tersebut. Dalam keadaan tertentu air buangan dapat digunakan untuk pengairan ladang pertanian atau perkebunan dan sekaligus berfungsi untuk pemupukan. Hal ini terutama dapat dilakukan untuk air limbah dari rumah tangga, perusahaan susu sapi, rumah potong hewan, dan lain-lainya

(28)

15

dimana kandungan zat-zat organik dan protein cukup tinggi yang diperlukan oleh tanam-tanaman.

6. Sarana Pembuangan Sampah

Sampah merupakan sisa hasil kegiatan manusia, yang keberadaannya banyak menimbulkan masalah apabila tidak dikelola dengan baik. Apabila dibuang dengan cara ditumpuk saja maka akan menimbulkan bau dan gas yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Apabila dibakar akan menimbulkan polusi udara. Kebiasaan membuang sampah disungai dapat mengakibatkan pendangkalan sehingga menimbulkan banjir. Dengan demikian sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat menjadi sumber pencemar pada tanah, badan air dan udara, Notoatmodjo (2007).

Berdasarkan asalnya, sampah digolongkan dalam dua bagian yakni sampah organik ( sampah basah ) dan sampah anorganik ( sampah kering ). Pada tingkat rumah tangga dapat dihasilkan sampah domestik yang pada umumnya terdiri dari sisa makanan, bahan dan peralatan yang sudah tidak dipakai lagi, bahan pembungkus, kertas, plastik, dan sebagainya, Notoatmodjo (2007).

Teknik pengelolaan sampah yang baik menurut Notoatmodjo ( 2007 ) diantaranya harus memperhatikan faktor-aktor sebagai berikut :

(29)

b. Penyimpanan sampah

c. Pengumpulan, pengolahan dan pemanfaatan kembali d. Pengangkutan

e. Pembuangan.

7. Metode Pengelolaan Sampah Akhir

Menurut Wahid Iqbal dan Nurul C. (2009) tentang tahap pengelolaan dan pemusnahan sampah dilakukan dengan 2 metode: a. Metode yang memuaskan

1) Metode Sanitary Landfill (lahan urug saniter), yaitu pemusnahan sampah dengan membuat lubang di tanah kemudian sampah dimasukkan dan ditimbun dengan tanah sebagai lapisan penutup lalu dipadatkan. Cara ini memerlukan persyaratan harus tersedia tempat yang luas, tersedia tanah untuk menimbunnya, dan tersedia alat-alat besar.

2) Inceneration(dibakar), yaitu memusnahkan sampah dengan jalan membakar di dalam tungku pembakaran khusus. Manfaat sistem ini volume sampah dapat diperkecil sampai satu per tiga, tidak memerlukan ruang yang luas, panas yang dihasilkan dapat digunakan sebagai sumber uap, dan pengelolaan dapat dilakukan secara terpusat dengan jadwal jam kerja. Adapun akibat penerapan metode ini adalah memerlukan biaya besar, lokasi pembuangan pabrik sulit

(30)

17

didapat karena keberadaan penduduk, dan peralatan peralatan yang digunakan dalam incenerasi.

3) Composting (dijadikan pupuk), yaitu mengelola sampah menjadi pupuk kompos; khususnya untuk sampah organik. b. Metode yang tidak memuaskan

1) Metode Open Dumping, yaitu sistem pembuangan sampah yang dilakukan secara terbuka. Hal ini akan menjadi masalah jika sampah yang dihasilkan adalah sampah organik yang membusuk karena menimbulkan gangguan pembauan dan estetika serta menjadi sumber penularan penyakit.

2) Metode Dumping in Water, yaitu pembuangan sampah ke dalam air. Hal ini akan dapat mengganggu rusaknya ekosistem air. Air akan menjadi kotor, warnanya berubah, dan menimbulkan sumber penyakit yang ditularkan melalui air (water borne disease).

3) Metode Burning on premises (individual inceneration) yaitu pembakaran sampah dilakukan di rumah-rumah tangga. Sedang menurut SNI 19-2454-2002 tentang Teknik Operasional Pengelolaan Sampah Perkotaan, secara umum teknologi pengolahan sampah dibedakan menjadi 3 metode yaitu metode Open Dumping dan metode Sanitary Landfill (Lahan Urug Saniter) seperti yang dikemukakan di atas serta metode Controlled Landfill (Penimbunan terkendali). Controlled Landfill adalah

(31)

sistem open dumping yang diperbaiki yang merupakan sistem pengalihan open dumping dan sanitary landfill yaitu dengan penutupan sampah dengan lapisan tanah dilakukan setelah TPA penuh yang dipadatkan atau setelah mencapai periode tertentu.

Agar sampah tidak membahayakan kesehatan manusia, maka perlu pengaturan pembuangannya, seperti penyimpanan sampah yaitu tempat penyimpanan sementara sebelum sampah tersebut dikumpulkan untuk diangkut serta dibuang (dimusnahkan). Untuk tempat sampah tiap-tiap rumah isinya cukup 1 m3.Tempat sampah janganlah ditempatkan di dalam rumah atau pojok dapur, karena akan menjadi gudang makanan bagi tikus-tikus sehingga rumah banyak tikusnya.

Adapun syarat tempat sampah adalah sebagai berikut :

1) Terbuat dari bahan yang mudah dibersihkan, kuat sehingga tidak mudah bocor, kedap air.

2) Tempat sampah harus mempunyai tutup, tetapi tutup ini dibuat sedemikian rupa sehingga mudah dibuka, dikosongkan isinya serta mudah dibersihkan. Sangat dianjurkan agar tutup sampah ini dapat dibuka atau ditutup tanpa mengotori tangan.

3) Ukuran tempat sampah sedemikian rupa sehingga mudah diangkat oleh satu orang atau ditutup.

(32)

19

4) Harus ditutup rapat sehingga tidak menarik serangga atau binatang-binatang lainnya seperti tikus, ayam, kucing dan sebagainya.

8. Dampak Sanitasi Rumah

Menurut Chandra (2007) rumah atau tempat tinggal yang buruk atau kumuh dapat mendukung terjadinya penularan penyakit dan gangguan kesehatan, seperti:

a. Infeksi saluran napas

Contoh: common cold, TBC, influenza, campak, batuk rejan (pertusis) dan sebagainya.

b. Infeksi pada kulit

Contoh: skabies, ring worm, impetigo dan lepra. c. Infeksi akibat infestasi tikus

Contoh: pes dan leptospirosis. d. Arthropoda

Contoh: infeksi saluran pencernaan (vektor lalat), relapsing fever (kutu busuk) dan dengue, malaria serta kakai gajah (vektor nyamuk).

e. Kecelakaan

Contoh: bangunan runtuh, terpeleset, patah tulang dan gegar otak.

(33)

Contoh: neurosis, gangguan kepribadian, psikosomatis dan ulkus peptikum.

2.2. Keaslian Penelitian

Berdasarkan pengetahuan peneliti, belum pernah dilakukan penelitian yang serupa atau sama dengan penelitian yang dilakukan peneliti yaitu tentang Pengaruh Pendidikan Kesehatan Tentang Sanitasi Rumah Terhadap Pengetahuan dan Sikap Masyarakat Di Dukuh Kebonsari Kelurahan Kacangan. Penelitian lain yang berkaitan dengan Pendidikan Kesehatan yaitu:

Tabel 2.1. Keaslian Penelitian Nama

Peneliti Judul Peneliti

Metode Penelitian Hasil Penelitian Sofie Praditya

Gambaran Sanitasi Lingkungan Rumah Tinggal Dengan Kejadian Penyakit Demam

Berdarah Dengue (DBD)

Di Kecamatan Sumbersari Kabupaten Jember.2011

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian survey dan survey dalam penelitian ini termasuk ke dalam survey rumah tanga (household survey). Teknik pengambilan data dilakukan dengan cara Hasil penelitian menunujukkan bahwa terdapat beberapa rumah penduduk yang pernah menderita DBD termasuk dalam kategori tidak sehat, seperti: tidak terdapatnya langit-langit, tempat sampah yang tidak memenuhi

(34)

21 menggunakan lembar kuesioner dan lembar observasi syarat (seperti: tidak kedap air dan tidak ada tutup) serta saluran limbah yang langsung dibuang ke sungai tanpa melalui proses pengolahan. Selain itu, ditemukannya jentik nyamuk dalam lubang bambu, kebiasaan menggantung baju, tidak ada pemasangan kawat kasa, tidak adanya pemasangan kelambu di kamar tidur dan tidak dilakukannya penaburan bubuk abate pada kamar mandi yang jarang dikuras Nur Ifka Wahyuni

Faktor Risiko Sanitasi Lingkungan Rumah Terhadap Kejadian

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)

Di Wilayah Kerja Puskesmas Limboto Kecamatan Limboto Kabupaten Gorontalo

Tahun 2013 Jenis penelitian yang digunakan adalah Survei analitik dengan rancangan Case Control study. Sampel dalam Hasil analisis besar risiko Odds Ratio (OR) menunjukkan variabel yang merupakan faktor risiko yaitu saluran pembuangan air limbah dengan nilai

(35)

penelitian ini terdiri dari kasus 32 penderita DBD dan kontrol 128 bukan penderita DBD, dan populasi berjumlah 160 jiwa di Wilayah Kerja Puskesmas Limboto yang ditentukan dengan teknik Purposive sampling OR 1,42 (OR>1), dan hasil analisis menunjukan variabel yang bukan merupakan faktor risiko yaitu variabel penyediaan air bersih dengan nilai OR 0,18 (OR<1) dan pengolahan sampah padat dengan nilai OR 0,39 (OR<1) Yusuf A.T. Ibrahim FaktorRisikoSanitasiLingkunganRumahTerhadapKejadian Malaria Di Wilayah KerjaPuskesmasBiluhu

KabupatenGorontalo Tahun 2013 Penelitian ini merupakan penelitian Observasional dengan rancangan Kasus -Kontrol. Hasil penelitian menunjukan bahwa variabel yang dikatakan faktor risiko adalah keberadaan kandang ternak dengan hasil perhitungan OR=4,865, keberadaan semak – semak OR=3,281, dan keberadaan genangan air mendapatkan hasil

(36)

23

Sanitasi Rumah 1. Sarana Air Bersih

2. Jamban dan Pembuangan Tinja 3. Sarana Pembuangan Air Limbah 4. Sarana Pembuangan Sampah 5. Metode Pengolahan Sampah Dampak Sanitasi : a. Infeksi saluran napas b. Infeksi pada kulit

c. Infeksi akibat infestasi tikus d. Arthropoda e. Kecelakaan f. Mental OR=7,500, sedangkan penggunaan kawat kasa pada ventilasi tidak dapat dianalisis 2.3. Kerangka Teori

(37)

2.4. Kerangka Konsep

Sanitasi Rumah

Gambar 2.2. Kerangka Konsep

Metode Pengolahan Sampah Jamban dan Pembuangan Tinja Sarana Air Bersih Sarana Pembuangan Air Limbah Sarana Pembuangan Sampah

(38)

25

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Dan Rancangan Penelitian

Jenis penelitian ini adalah kuantitatif yaitu berbentuk angka-angka hasil perhitungan atau pengukuran. Hal ini sesuai dengan pendapat (Arikunto, 2006) yang mengemukakan penelitian kuantitatif adalah pendekatan penelitian yang banyak dituntut menggunakan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan hasilnya. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif.

3.2. Populasi

Menurut Arikunto (2006) populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah rumah yang berada di Dukuh Kebonsari Desa Kacangan yang berjumlah 55 rumah.

3.3. Tehnik Sampling

Metode pengambilan sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah total sampling .Menurut Sugiyono (2009) bahwa, total sampling merupakan teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Jadi penelitian ini menggunakan total sampling dengan populasi 50 rumah . Dengan Kriteria Inklusi: semua rumah yang berada di Dukuh Kebonsari Desa Kacangan dan bersedia menjadi responden serta

(39)

Kriteria Eksklusi: rumah penduduk yang kosong dan tidak berada di tempat ketika dilakukan penelitian.

3.4. Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat Penelitian Di Dukuh Kebonsari Desa Kacangan dimulai dari Bulan Januari – Maret 2015.

3.5. Variabel, Definisi Operasional, dan Skala Pengukuran

3.5.1. Variabel penelitian

Variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2009). Jadi yang dimaksud dengan variabel penelitian dalam penelitian ini adalah segala sesuatu sebagai objek penelitian yang ditetapkan dan dipelajari sehingga memperoleh informasi untuk menarik kesimpulan.Variabel penelitian ini adalah variabel tunggal, yaitu sanitasi rumah.

(40)

27

3.6.Definisi Operasional

No Variabel Definisi Variabel Alat ukur Kriteria Skala

1 Sanitas rumah Kondisi Rumah Yang Memenuhi Syarat Kesehatan : 1. Sarana air bersih. Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak 2. Jamban dan pembuangan tinja. Jamban adalah suatu ruangan yang mempunyai fasilitas pembuangan kotoranmanusia yang terdiri atas tempat jongkok atau tempat duduk dengan leher angsa atautanpa leher angsa (cemplung) yang dilengkapi dengan unit penampungan kotoran dan air untuk

membersihkann

Lembar observasi

1. Sarana Air Bersih

a. Sarana air bersih dirumah menggunakan :

1) PAM

2) Sumur dangkal 3) Sumur Dalam b. Kualitas Air Secara Fisik

1) Berbau 2) Berasa 3) Berwarna

2. Jamban dan Pembuangan Tinja a. Model tempat Pembuangan

Tinja:

1) Leher angsa

2) Cemplung/plengsengan b. Cara pembuangan tinja:

1) Di atas tanah 2) Lubang gali 3) Kakus air 4) Septic tank

c. Jarak septik tank dengan sumber air:

1) <10 m 2) ≥10 m

3. Sarana Pembuangan Air Limbah melalui :

1) Pengenceran 2) Kolam oksidasi 3) Irigasi

4. Sarana Pembuangan Sampah a. Cara pembuangan sampah

dengan: 1) Ditumpuk 2) Dibakar

3) Dibuang di sampah

b. Tekhnik pengelolaan sampah : 1) Ditimbun

2) Disimpan

3) Dikumpulkan, diolah dan dimanfaatkan kembali 4) Diangkut

(41)

ya 3. Sarana pembuangan air limbah. Pegolahan air limbah dimaksudkan untuk melindungi lingkungan hidup terhadap pencemaran air limbah tersebut 4. Sarana pembuangan sampah. Sampah merupakan sisa hasil kegiatan manusia, yang keberadaannya banyak menimbulkan masalah apabila tidak dikelola dengan baik 5. Metode pengelolaan sampah akhir. Agar sampah tidak membahayakan kesehatan manusia, maka perlu pengaturan pembuangannya, seperti penyimpanan sampah yaitu tempat penyimpanan sementara sebelum sampah tersebut dikumpulkan untuk diangkut

5. Metode Pengelolaan Sampah Akhir a. Metode yang memuaskan :

1) Lahan urug saniter 2) Dibakar

3) Composting

b. Metode yang tidak memuaskan: 1) Open dumping/dibuang terbuka 2) Dumping in water/dibuang kedalam air 3) Burning on premises/dibakar

(42)

29

serta dibuang (dimusnahkan)

3.7.Alat Penelitian dan Cara Pengumpulan Data

Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi tentang sanitasi rumah yang terdiri dari Sarana Air Bersih : 2 pertanyaan, Jamban Dan Pembuangan Tinja : 3 pertanyaan, sarana pembuangan air limbah : 1 pertanyaan, sarana pembuangan sampah : 2 pertanyaan, metode pengelolaan sampah Akhir : 2 pertanyaan. Lembar observasi ini akan diisi oleh peneliti sesuai hasil pengamatan dan wawancara kepada responden.

Cara pengumpulan data dimulai dengan mendapatkan ijin dari pemerintahan desa setempat kemudian setelah keluar ijin dilakukan studi pendahuluan dan pendataan secara sekilas. Kemudian dilakukan inform konsen terhadap kesediaan responden untuk dilakukan penelitian. Setelah didapat data responden kemudian diberikan kuesioner dan dilakukan pengamatan terhadap sanitasi rumah oleh peneliti.

3.8.Tekhnik Pengolahan Data

Menurut Setiadi (2007) dalam proses pengolahan data penelitian menggunakan langkah-langkah diantaranya:

3.8.1. Editing

Peneliti mengumpulkan dan memeriksa kembali pembenaran yang telah diperoleh dari responden. Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah menjumlah dan melakukan korelasi.

(43)

3.8.2. Coding

Merupakan tahap kedua setelah editing dimana peneliti memberikan setiap kuesioner yang disebarkan untuk memudahkan dalam pengolahan data.

3.8.3. Scoring

Peneliti memberikan skor untuk tiap-tiap pertanyaan dengan nilai yang sudah dibakukan sesuai chek list.

3.8.4. Tabulating

Tabulasi adalah pengorganisasian data sedemikain rupa agar dengan mudah dapat dijumlahkan, disusun dan ditata untuk disajikan dan dianalisis. Dimana peneliti memasukkan data yang telah terkumpul ke dalam tabel distribusi frekuensi.

3.9.Analisa Data

3.9.1. AnalisisUnivariat

Analisis univariat adalah analisis yang dilakukan pada tiap variabel dari hasil penelitian. Dalam analisis ini menghasilkan distribusi frekuensi dan presentase dari tiap variabel (Notoatmodjo, 2005). Adapun variabel yang dianalisis adalah : Sarana air bersih, jamban dan pembuangan tinja, sarana pembuangan air limbah, pegolahan air limbah, sarana pembuangan sampah, metode pengelolaan sampah akhir.

3.10. Etika Penelitian

Dalam melakukan penelitian, peneliti memandang perlu adanya rekomendasi dari pihak lain dengan mengajukan permohonan izin kepada

(44)

31

instansi tempat penelitian dalam hal ini Pemerintah Desa setempat atau Kelurahan Kacangan.Setelahmendapat persetujuan barulah dilakukan penelitian dengan menekankan masalah etika yang meliputi :

3.10.1. Informed Concent

Lembar persetujuan ini diberikan kepada responden yang akan diteliti yang memenuhi criteria inklusi dan disertai judul penelitian, bila responden menolak maka peneliti tidak memaksa dan tetap menghormati hak-hak responden.

3.10.2. Anonimity

Untuk menjaga kerahasiaan peneliti tidak akan mencantumkan nama responden, tetapi lembaran tersebut diberikan kode.

3.10.3. Confidentiality

Kerahasiaan informasi responden dijamin oleh peneliti. Hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan sebagai hasil peneliti.

(45)

32

HASIL PENELITIAN

4.1. Data Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara penelitian terhadap kondisi sanitasi lingkungan rumah tinggal dari 55 sampel penelitian di Kecamatan Sumberlawang Desa Kacangan Dukuh Kebonsari didapat hasil sebagai berikut:

4.1.1 Sarana Air Bersih

Tabel 4. 2 Gambaran sarana air bersih di Dukuh Kebonsari Desa Kacangan

No Komponen f Persentase(%)

I Sarana Air Bersih

a. Sarana air bersihdirumah

a. PAM -

-b. SumurDangkal 55 100

c. SumurDalam -

-b. Kualitas air secarafisik

a. Berbau -

-b. Berasa -

-c. Berwarna -

-d. Tidakadasalahsatudiatas 55 100

Tabel diatas dapat disimpulkan bahwa 100% penduduk menggunakan air sumur dangkal dan kualitas air 100% tidak berbau, tidak berasa dan tidak berwarna.

(46)

33

4.1.2 Jamban Dan Pembuangan Tinja

Tabel 4.3Gambaran Jamban dan pembuangan tinja di Dukuh Kebonsari Desa Kacangan

No Komponen f Persentase(%) II Jambandanpembuangantinja 1. Modeltempatpembuangan a. Leherangsa 53 96 b. Cemplung 2 4 2. Carapembuangantinja a. Di atastanah - -b. Lubanggali - -c. Kakus air 2 4 d. Septik tank 53 96

3. Jarakseptik tank dg sumber air

a. < 10 m 2 4

b. ≥ 10 m 52 96

Hasil observasi didapatkan penggunaan jamban dengan leher angsa adalah sebesar 96 % dan pemakain septik tank 96%. Sedangkan jarak sumur dengan septik tank standar kesehatan ≥10m 96%.

4.1.3 Sarana Pembuangan Air Limbah

Tabel 4.4 Gambaran sarana pembuangan air limbah di DukuhKebonsari Desa Kacangan

No Komponen f Persentase(%)

III Saranapembuangan air limbah

a. Pengenceran -

-b. Kolamoksidasi -

-c. Irigasi 50 90

(47)

Hasil observasi menunjukkan sebagian besar(90%) penduduk Dukuh Kebonsari menggunakan irigasi berupa selokan air yang langsung meresap ketanah sebagai jalan pembuangan air limbahnya.

4.1.4 Sarana Pembuangan Sampah

Tabel 4.5 Gambaran sarana pembuangan sampah di Dukuh Kebonsari Desa Kacangan

No Komponen f Persentase(%) IV Saranapembuangansampah 1. Cara pembuangansampah a. Ditumpuk - -b. Dibakar 55 100 c. Di buangdisungai - -2. Tekhnikpembuangansampah a. Ditimbun 55 100 b. Disimpan - -c. Dikumpulkan,diolahdandimanfatkan - -d. Diangkut -

-Cara pembuangan sampah 100% dilakukan dengan cara di bakar. Teknik pembuangan sampahnya 100% ditimbun dilubang galian untuk selanjutnya dilakukan pembakaran

Hasil observasi menunjukkan, kebiasaan membuang sampah di Dukuh Kebonsari dengan cara dibuang di lubang sampah dekat rumah untuk kemudian dilakukan pembakaran secara terbuka.

(48)

35

4.1.5 Metode Pengolahan Sampah

Tabel 4.3 Gambaran sarana pengolahan sampah di Dukuh Kebonsari Desa Kacangan

No Komponen f Persentase(%) V MetodePengolahanSampah 1. Yang memuaskan a. Lahanuruksaniter - -b. Dibakar 52 94 c. Composting 3 6 2. Yang tidakmemuaskan a. Dibukaterbuka 3 6 b. Dibuangkedalam air - -c. Dibakar 52 94

Dari tabel didapatkan pengolahan sampah 94% dibakar. Penduduk belum pernah melakukan pengolahan sampah untuk bisa digunakan lagi secara benar. Ada 6% responden membuang sampah di lahan galian terbuka untuk kemudian dijadikan kompos.

(49)

36

5.1 Deskripsi Kondisi Sanitasi Lingkungan Rumah Tinggal

Dari hasil penilaian rumah tinggal berdasarkan wawancara sekaligus observasi langsung dapat kami jelaskan sebagaiberikut :

5.1.1 Sarana air bersih

Dari hasil observasi responden 100% menggunakan sumur dangkal sebagaisumber air bersih.

Air tanah dangkal terjadi karena daya proses peresapan air permukaan tanah, lumpur akan tertahan demikian pula dengan sebagian bakteri, sehingga air tanah akan jernih. Air tanah dangkal akan terdapat pada kedalaman 15 meter. Air tanah dangkal ini bisa dimanfaatkan sebagai sumber air minum melalui sumur-sumur dangkal. Dari segi kualitas agak baik sedangkan kuantitasnya kurang cukup dan tergantung pada musim (Harmayani & Konsukartha, 2007). Berdasarkan observasi penelitian terhadap kualitas fisik air didapat hasil bahwa air tanah dangkal di dusun kebonsari 100% tidak berbau, tidak berasa dan tidak berwarna.

Syarat fisik air menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 416 tahun 1990 dan PerMenKes Nomor 492 tahun 2010 tentang persyaratan kualitas air minum menyatakan bahwa air yang layak dikonsumsi dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah air

(50)

37

yang mempunyai kualitas yang baik sebagai sumber air minum maupun air baku (air bersih), antara lain harus memenuhi persyaratan secara fisik yaitu tidak berbau, tidak berasa dan tidak berwarna.

Bau dan rasa pada air biasanya terjadi secara bersamaan. Bila suatu air iru berbau dan berasa hal itu bisa menunjukkan adanya bahan organik yang membusuk, bisa berupa organisme mikroskopik serta persenyawaan kimia yang menunjukkan air itu tidak layak dikonsumsi. Sedangkan jika air itu berwarna menunjukkan terdapat partikel-partikel penyebab kekeruhan dan bisa juga akibat dari penguraian zat organik alami yang bisa dipastikan bahwa air yang berwarna tidak layak dikonsumsi bagi manusia (Sutrisno, 2004). 5.1.2 Jamban Dan Pembuangan Tinja

Berdasarkan observasi penelitian didapat hasil penilaian bahwasebesar 96% model tempat pembuangan kotoran menggunakan model leher angsa.

Jamban leher angsa mempunyai keuntungan yaitulebih sehat, bersih dan mempunyai nilai keleluasaan pribadi yang tinggi. Timbulnya bau dapat dicegah oleh genangan air dalam leher angsa. Bisa ditempatkan di luar atau di dalam rumah, dan amandipakai bagi anak-anak(Esti, 2000).

Hasil observasi tentang masalah jamban di Dukuh Kebonsari masih ada data keberadaan model cemplung sebanyak 4% atau dua rumah tangga. Model jamban yaitu tempat jongkok diatas lubang

(51)

penampungan kotoran dilengkapi tutup. Keuntungan dari jenis jamban cemplung yaitu, dapat dibuat dengan biaya murah dan dapat dibuat disetiap tempat (Entjang, 2000). Kondisi responden yang menggunakan jamban cemplung karena penduduk yang mempunyai rumah tersebut bersifat mengontrak tanah pasar, sehingga sarana pembuangan tinja dibuat seadanya. Kondisi tersebut tidak memungkinkan untuk membuat jamban secara sehat dan bisa menimbulkan masalah kesehatan apabila lingkungan sekitar tempat pembuangan tinja tidak dijaga kebersihanya.

Hasil observasi juga menunjukkan penggunaan septik tank sebanyak 96%. Bangunan septic tankyangdibuat responden diwilayah Dukuh Kebonsari Desa Kacangan biasanya terdiri dari dua bak tapi ada pula yang terdiri atas satu bak saja dengan mengatur sedemikian rupa (misalnya dengan memasang beberapa sekat atau tembok penghalang), sehingga dapat memperlambat pengaliran air kotor di dalam bak tersebut. Dalam bak bagian pertama akan terdapat proses penghancuran, pembusukan dan pengendapan. Dalam bak terdapat tiga macam lapisan yaitu: lapisan yang terapung, yang terdiri atas kotoran-kotoran padat dan lapisan cair serta lapisan endap.

Dalam penggunaan septik tank ini terdapat keuntungan dan kerugian. Keuntungannya adalah, bangunan kuat, biaya pembuatan murah, kotoran tidak mencemari lingkungan. Sedang kerugiannya adalah, membutuhkan biaya pengurasan, dibutuhkan perawatan agar

(52)

39

tidak tersumbat, tergantung dari muka air tanah dan memerlukan lahan yang cukup luas (DIMSUM, 2008)

Sebagian besar jarak septik tank dengan sumber air sudah memenuhi syarat kesehatan yaitu sebanyak 96 % jaraknya ≥10m, bahkan ada yang berjarak 13 m. Tetapi terdapat 2 rumah yang mempunyai jarak antara septik tank dengan sumur 7m dan 6 m, hal ini dikarenakan luas tanah yang ditempati kurang dari 10m2, sehingga tidak memungkinkan untuk membuat tempat penampungan sesuai dengan syarat kesehatan.

Agar sumur terhindar dari pencemaran maka yang harus diperhatikan adalah jarak sumur dengan jamban, lubang galian untuk air limbah, dan sumber-sumber pengotoran lainnya. Jarak tersebut tergantung pada keadaan serta kemiringan tanah, lokasi sumur pada daerah yang bebas banjir, jarak sumur >11 meter dari sumber pencemaran seperti kakus, kandang ternak, tempat sampah, dan sebagainya. Selain itu konstruksinya dibuat lebih tinggi dari sumber pencemaran (Harmayani dan Konsukartha, 2007).

5.1.3 Sarana pembuangan air limbah

Berdasarkan kegiatan observasi penelitian didapat hasil penilaian bahwasebesar 90% kondisi saluran pembuangan air limbah rumah responden dikawasan Dukuh Kebonsari dialirkan ke selokan terbuka yang bermuara ke gorong-gorong. Saluranpembuangan air limbah responden terbuat dari bahan tembok yang disemen

(53)

danberfungsi untuk mengalirkan air limbah ke selokan lingkungan. Selokan lingkungan di wilayah Kebonsari Desa Kacangan tidak dibuat permanen. Air limbah yang dibuang jika sampai ke selokan langsung terserap tanah, karena tidak ada air yang mengalir disitu.

Secara tekhnis, cara pembuangan air limbah rumah tangga yang disalurkan kedalam selokan kurang menunjang sanitasi yang sehat. Hal ini dikarenakan bila keadaan saluran pembuangan air limbah tidak mengalir lancar, dengan bentuk SPAL (Saluran Pembuangan Air Limbah) yang tidak tertutup dibanyak tempat sehingga air limbah menggenang ditempat terbuka berpotensi sebagai berkembang biak vektor dan bernilai negatif dari aspek estetika(Soejadi,2003).

Limbah rumah tangga berdasarkan panduan Tekhnologi Tepat Guna yang dikeluarkan oleh Menteri Negara Riset Dan Tekhnologi, tempat mandi dan cuci dibuat dari batu bata, campuran semen dan pasir. Penampang dibuat dengan saluran got dan dibuat penampung resapan yang diberi kerikil dan pasir. Sehingga limbah yang melewati bak kontrol langsung ditampung kembali pada sumur resapan.

Sedangkan 10% sisanya tidak memiliki saluran pembuangan air limbah/air hujan sehingga air tergenang tidak teratur di halaman belakang rumah. Apalagi dari responden masih terdapat lima rumah tangga yang membuang air limbah langsung ketanah perkebunan alias tanpa ada galian. Hal ini akan lebih banyak beresiko mencemari lingkungan.

(54)

41

Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Notoadmodjo (2003), air limbah adalah sisa air yang di buang yang berasal dari rumah tangga, industri dan pada umumya mengandung bahan atau zat yang membahayakan. Sesuai dengan zat yang terkandung didalam air limbah, maka limbah yang tidak diolah terlebih dahulu akan menyebabkan gangguan kesehatan masyarakat dan lingkungan hidup antara lain limbah sebagai media penyebaran penyakit.

5.1.4 Sarana pembuangan sampah

Hasil kegiatan observasi dan wawancara penelitian didapat hasil penilaian bahwasebesar 100% kondisi sarana pembuangan sampah (tempat sampah) rumahresponden di kawasan Dukuh Kebonsariadalah terbuka dalam lubang galian tanahkemudian dibakar.

Di Dukuh Kebonsari belum disosialisasikan mengenai pembuatan bak sampah rumah tangga yang bisa terdiri dari dua bak sampah, yaitu bak sampah organik dan bak sampah non organik. Responden membuang sampah dilingkungan sekitar dengan cara membuat lubang galian penampung sampah untuk kemudian sampah itu dibakar, dengan carapembakaran sampah kering atau dengan cara individual incenerator, yaitu sampah dari rumah dikumpulkan sendiri kemudian dibakarsendiri. Pembakaran sampah ini harus dilakukan dengan baik sebab bila tidakasapnya dapat mengotori udara dan bila

(55)

tidak terbakar sempurna sisanyaberceceran kemana-mana (Entjang, 2000).

Dari hasil observasi dan wawancara dengan penduduk dusun Kebonsari, tehnik pembuangan sampah 100% dengan cara ditimbun dan 6% diantaranya melakukan penimbunan sampah yang kemudian digunakan sebagai kompos.

Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkapdari campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab, dan aerobik atau anaerobik (modifikasi dari J.H.Crawford, 2004). Kompos memiliki banyak manfaat ditinjau dari beberapa aspek yaitu dari aspek ekonomi, aspek lingkungan dan aspek bagi tanah dan tanaman.

Dari aspek ekonomi yaitu menghemat biaya untuk transport dan penimbunan limbah, mengurangi volume/ukuran limbah, memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari pada bahan asalnya, bahan yang dipakai tersedia tidak perlu membeli, dan masyarakat dapat membuatnya sendiri tidak memerlukan peralatan dan instalasi yang mahal.

Dari aspek lingkungan sendiri meliputi dapat mengurangi polusi udara karena pembakaran, mengurangi kebutuhan lahan untuk penimbunan, dan merupakan jenis pupuk yang ekologis dan tidak merusak lingkungan.

(56)

43

Dan yang terakhir dari aspek bagi tanah/tanaman yaitu dapat meningkatkan kesuburan tanah, memperbaiki struktur dan karakteristik tanah, meningkatkan kapasitas serap air tanah, meningkatkan aktivitas mikroba tanah, meningkatkan kualitas hasil panen (rasa, nilai gizi dan jumlah panen), menyediakan hormon dan vitamin bagi tanaman, menekan pertumbuhan/serangan penyakit tanaman, dan meningkatkan retensi/ketersediaan hara di dalam tanah. 5.1.5 Metode Pengolahan Sampah

Pengolahan sampah yang dilakukan sebagian besar responden adalah dengan membakar 94%. Sedangkan 6% responden menggunakan sampah dengan ditimbun untuk digunakan sebagai pupuk atau composting. Responden yang membuat kompos adalah mereka yang mempunyai lahan sawah sendiri, sehingga terkadang menggunakan kompos yang terdapat dihalaman belakang rumah untuk pupuk tanaman disawah. Akan tetapi dari hasil onservasi dalam pembuatan kompos belum terlalu dipisahkan bahan-bahan yang organik dengan non organik, sehingga kompos yang biasanya dibuat masih tercampur dengan bahan-bahan yang tidak bisa terurai dengan baik.

Menurut Wahid Iqbal dan Nurul C. (2009) tentang tahappengelolaan dan pemusnahan sampah dilakukan dengan metode yang memuaskan, yaitu dengan dibakar (incenerator) dan dijadikan pupuk (composting). Kelebihan dengan dibakar diantaranya adalah

(57)

dapat memusnahkan banyak materi yang mengandung karbon dan patogen, reduksi volume mencapai 80-90%, hasil pengolahan tidak dikenali sebagai bentuk aslinya dan panas yang dihasilkan dapat dimanfaatkan kembali untuk menhasilkan uap. Sedangkan kekurangan dengan dibakar adalah emisi udaranya menghasilkan bahan pencemar terutama dioksin dan fluran yang oleh WHO dinyatakan karsiogenik, perlu tenaga operator yang terampil, resiko timggi terhadap operator karena panas dan potensi kebakaran, sulit menguji patogen secara rutin dan fly-ash (abu) dari incenerator termasuk kategori limbah berbahaya.

Sedangkan dengan composting (dijadikan pupuk) mempunyai kelebihan yaitu penggunaan lahan yang lebih sempit, setelah selesai dikelola hasilnya dapat digunakan untuk pupuk tanaman dan merupakan cara yang relatiif murah untuk jumlah sampah yang besar akan tetapi dengan fluktuasi sampah yang kecil. Dan untuk kekurangan dari metode composting itu sendiri adalah memerlukan biaya investasi awal yang jauh lebih besar, memerlukan biaya operasional yang relatif tinggi, bahan yang tidak dapat diolah menjadi pupuk kompos terpaksa harus menjadi sampah lagi, dan untuk kebutuhan jangka panjang cara ini tidak efektif karena pada masa yang akan datang jumlah sampah yang tidak dapat diolah menjadi pupuk kompos menjadi lebih besar.

(58)

45

Pengolahan sampah penduduk Dusun Kebonsari yang tidak memuaskan adalah 10% dengan dibuang terbuka (open dumping). Open dumping atau pembuangan terbuka merupakan cara pembuangan sederhana dimana sampah hanya dihamparkan pada suatu lokasi, dibiarkan terbuka tampa pengamanan dan ditinggalkan setelah lokasi tersebut penuh. Cara ini tidak direkomendasikan lagi mengingat banyaknya potensi pencemaran lingkungan yang dapat ditimbulkannya seperti (SKSNI T-11-1991-03) meliputi:

 Perkembangan vektor penyakit seperti lalat, tikus, dll.  Polusi udara oleh bau dan gas yang dihasilkan,

 Polusi air akibat banyaknya lindi (cairan sampah) yang timbul,  Estetika lingkungan yang buruk karena pemandangan yang kotor.

(59)

46

6.1. Simpulan

1. Sarana air bersih penduduk dusun Kebonsari 100% bersumber dari sumur dangkal.

2. Kualitas fisik dari air bersih sumur dangkal dusun Kebonsari 100% tidak berbau, tidak berasa dan tidak berwarna.

3. Model tempat pembuangan tinja penduduk dusun Kebonsari 96% dengan model leher angsa, sedangkan 4% menggunakan model cemplung.

4. Cara pembuangan tinja penduduk dusun Kebonsari 96% dengan septic tank dan 4% dengan kakus air.

5. Jarak septic tank dengan sumber air yang dimiliki penduduk dusun Kebonsari 96% ≥10m dan ada 4% yang jaraknya ≤10m.

6. Sarana pembuangan air limbah penduduk dusun Kebonsari 90% dengan irigasi dam 10% dibiarkan tergenang tak beraturan di belakang rumah. 7. Cara pembuangan sampah penduduk dusun Kebonsari 100% dengan

dibakar.

8. Teknik pembuangan sampah penduduk dusun Kebonsari 100% dengan cara ditimbun.

9. Metode pengolahan sampah penduduk dusun Kebonsari dengan cara memuaskan 94% dengan dibakar dan 6% dengan composting, sedangkan yang tidak memuaskan 90% dengan dibakar dan 10% dibiarkan terbuka.

(60)

47

6.2. Saran

1. Bagi Peneliti

Mampumemahami kondisi lingkungan sekitar yang tergolong mampu mendukung terciptanya sanitasi yang bersih dan sehat.Dan memberikan saran dan solusi tentang kondisi lingkungan yang belum mampu mendukung sanitasi yang sehat, terutama saran menutup WC cemplung dan segera membakar sampah yang di timbun.

2. Bagi Institusi Pendidikan

Diharapkanmampu membuat dan mensosialisasikan pentingnya bak sampah untuk mencegah lingkungan yang tidak sehat dimulai dari sosialisasi pihak kelurahan sebagai steak holder yang bertanggungjawab terhadap kondisi sanitasi rumah yang mendukung terciptanya lingkungan sehat.

3. Pengembangan ilmu

Diharapkan dengan gambaran tentang kondisi sanitasi rumah di Dukuh Kebonsari Desa Kacangan mampu memberikan solusi tentang kondisi rumah sehat yang lebih baik lagi.

4. Bagi Peneliti selanjutnya

Agarbisa melakukan penelitian lebih baik dengan mencakup populasi yang lebih besar, sehingga mampu menandaskan tentang kondisi sanitasi suatu daerah tertentu.

(61)

Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: PT RinekaCipta, 2010), hlm. 172.

Azwar, Syaifudin. 2005. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta. Pustaka Pelajar

Achmadi, Umar, Fahmi. 2005. Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah, Buku Kompas, Jakarta.

Atikah Proverawati dan Eni Rahmawati, 2012, Perilaku Hidup Bersih & Sehat (PHBS), Yogyakarta: Nuha Medika

Chandra, Budiman. 2007. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

DKK Sragen. 2010. Profil Dinas Kabupaten Sragen Tahun 2010. DKK. Sragen. File:///1:datainternetTBC/rumahsehatdalamlingkunganyangsehat.html(Di akses tanggal 2 Oktober 2011)

Departemen Kesehatan RI. Profil Kesehatan Indonesia. (Jakarta : 2012)

Departemen Kesehatan. 2010. Laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 Bidang Biomedis. Jakarta: Badan Litbangkes, Depkes RI, 2013

Depkes RI. 2010. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 492 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. Jakarta

DIMSUM Indonesia.2008.Water and Sanitation:Tangki Septik. Surabaya. Institut

Teknologi Sepuluh November.

http://www.dimsum.its.ac/id/id/?page_id=88(6 Oktober 2011) Entjang, Indan. 2000. Ilmu Kesehatan Masyarakat. PT. Citra Aditya Bakti.

Bandung

Esti, Haryanto Sahar. 2000 Buku Panduan Air dan Sanitasi, Pusat Informasi Wanita dalam Pembangunan PDII-LIPI bekerjasama dengan Swiss Development Cooperation, Jakarta

Hindarto, Probo. 2007.Inspirasi Rumah Sehat di Perkotaan. Yogyakarta. Andi Offset

(62)

Kusnoputranto, Haryoto. 2000. Kesehatan Lingkungan. Gramedia Pustaka Utama.. Jakarta

Lexy J.Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi, (Bandung,: Remaja Rosdakarya,2009) hlm. 9

Munif, Arifin. Rumah Sehat. (Lumajang : 2009). Diakses 07 maret 2014 ; http//www.inspeksisanitasi.blogspot.com

Nusa Putra dan Ninin Dwilestari, “Penelitian Kualitatif ; Pendidikan Anak Usia Dini”,(Jakarta : Rajagrafindo Persada, 2012), hlm. 87

Notoatmodjo, Soekidjo.2007. Ilmu Kesehatan Masyarakat ; Prinsip-prinsip Dasar. Jakarta : Rineka Cipta

---. 2007. Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. Yogyakarta. Rineka Cipta

Notoatmodjo, S. (2007a). Kesehatan masyarakat ilmu dan seni. Jakarta: Rineka Cipta.

--- (2007b). Promosi kesehatan dan ilmu perilaku. Jakarta: Rineka Cipta

Rahmawati, E & Proverawati, A., 2012. Perilaku Hidup Bersih & Sehat (PHBS). Nuha Medika Yogyakarta

Slamet, J. 2004. Kesehatan Lingkungan. Gajah Mada University Press. Yogyakarta. _______. 2009. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. PT. Rineka Cipta. Jakarta.

Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Pendeketan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D),(Bandung : Alfabeta, 2009), cet. IX, hlm. 329

Soeparman & Suparmin. 2004. Pembuangan Tinja & Limbah Cair: SuatuPengantar.Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

Sastra, S.,Marlina,E.2005.Perencanaan Dan Pengembangan Perumahan; Sebuah Konsep, Pedoman Dan Strategi Perencanaan Dan pengembangan Perumahan. Yogyakarta: penerbit ANDI

Standar Nasional Indonesia Nomor SNI-19-2454-2002 tentang Tata Cara Teknik Operasional Pengelolaan Sampah Perkotaan, Badan Standar Nasional (BSN).

(63)

Soedjadi, K. 2003. Upaya Sanitasi Lingkungan di Pondok Pesantren Ali Maksum Almunawir dan Pandanaran Dalam Penanggulangan Penyakit Skabies.Jurnal Kesehatan Lingkungan. Surabaya

Sutrisno, Totok C, dkk. 2004. Teknologi Penyediaan Air Bersih. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta

Wulandari, S. 2012. Hubungan Lingkungan Fisik Rumah Dengan Kejadian Tuberkulosis Paru. Jurnal Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Semarang

Wahid dan Nurul C. (2009). Ilmu Kesehatan Masyarakat Teori dan Aplikasi. Salemba

Yuwono, B. (2009). Memantau Pembangunan Perkotaan dengan RPIJ M. Cipta Karya

Figur

Tabel 2.1. Keaslian Penelitian Nama

Tabel 2.1.

Keaslian Penelitian Nama p.33
Gambar 2.1. Kerangka Teori

Gambar 2.1.

Kerangka Teori p.36
Gambar 2.2. Kerangka Konsep

Gambar 2.2.

Kerangka Konsep p.37
Tabel  4.  2  Gambaran  sarana  air  bersih  di  Dukuh  Kebonsari  Desa Kacangan

Tabel 4.

2 Gambaran sarana air bersih di Dukuh Kebonsari Desa Kacangan p.45
Tabel  diatas  dapat  disimpulkan  bahwa  100%  penduduk menggunakan  air  sumur  dangkal  dan  kualitas  air  100%  tidak berbau, tidak berasa dan tidak berwarna.

Tabel diatas

dapat disimpulkan bahwa 100% penduduk menggunakan air sumur dangkal dan kualitas air 100% tidak berbau, tidak berasa dan tidak berwarna. p.45
Tabel  4.3Gambaran  Jamban  dan  pembuangan  tinja  di  Dukuh Kebonsari  Desa Kacangan

Tabel 4.3Gambaran

Jamban dan pembuangan tinja di Dukuh Kebonsari Desa Kacangan p.46
Tabel  4.4  Gambaran  sarana  pembuangan  air  limbah  di DukuhKebonsari  Desa Kacangan

Tabel 4.4

Gambaran sarana pembuangan air limbah di DukuhKebonsari Desa Kacangan p.46
Tabel  4.5  Gambaran  sarana  pembuangan  sampah  di  Dukuh Kebonsari  Desa Kacangan

Tabel 4.5

Gambaran sarana pembuangan sampah di Dukuh Kebonsari Desa Kacangan p.47
Tabel  4.3  Gambaran  sarana  pengolahan  sampah  di  Dukuh Kebonsari  Desa Kacangan

Tabel 4.3

Gambaran sarana pengolahan sampah di Dukuh Kebonsari Desa Kacangan p.48

Referensi

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di