• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROFIL KESEHATAN KABUPATEN BULUKUMBA TAHUN 2014

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PROFIL KESEHATAN KABUPATEN BULUKUMBA TAHUN 2014"

Copied!
177
0
0

Teks penuh

(1)

i

PROFIL KESEHATAN

KABUPATEN BULUKUMBA

TAHUN 2014

--- ---

DINAS KESEHATAN

KABUPATEN BULUKUMBA

TAHUN 2015

(2)

ii TIM PENYUSUN

Penasehat :

Kepala Dinas Kesehatan Kab. Bulukumba

Pengarah :

Sekretaris Dinas Kesehatan Kab. Bulukumba

Ketua :

Kepala Sub Bagian Program

Anggota :

Hj. A. Chadi Andrayani, SKM, M.Kes Yuyun Wahyuni, SKM, M.Kes

Fitriah, SKM

Layout & editing :

Rakhmat Riswan, SKM, M.Kes Erwin. AB

Buku ini diterbitkan oleh :

Dinas Kesehatan Kab. Bulukumba Propinsi Sulawesi Selatan Jl. DR. Sutomo No. 2 Bulukumba 92512 Telepon (0413) 81080 Fax (0413) 84646 SISTEM INFORMASI KESEHATAN E-mail :[email protected]

(3)

iii

KATA PENGANTAR

Data dan informasi merupakan salah satu komponen krusial dalam pembangunan kesehatan yang berperan pada tahap perencanaan sebelum pengambilan keputusan dilakukan. Sesuai Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan yang mengamanatkan bahwa setiap orang berhak atas informasi dan edukasi tentang kesehatan yang seimbang dan bertanggung jawab. Dengan demikian sudah menjadi tugas kita bersama selaku pemangku kepentingan di sektor kesehatan untuk menyediakan data dan informasi yang berkualitas.

Data tersebut disajikan melalui buku Profil Kesehatan yang juga merupakan salah satu bentuk perwujudan akuntabilitas dari Sub Bagian Program Dinas Kesehatan Bulukumba. Melalui “Profil Kesehatan Kab.Bulukumba 2014” ini, para pembaca dapat mengetahui secara ringkas gambaran derajat kesehatan masyarakat, upaya kesehatan, dan sumber daya kesehatan di Kabupaten Bulukumba.

Penyusunan “Profil Kesehatan Kab.Bulukumba 2014” dirasakan cukup berat seperti pada penyusunan profil kesehatan tahun sebelumnya. Penggunaan format baru dan pemenuhan kelengkapan data baik dari segi cakupan wilayah maupun indikator merupakan masalah utama yang ditemui dalam rangka penyusunan profil yang tepat waktu. Oleh karena itu diperlukan komitmen bersama antara pengelola data dalam mewujudkan penyediaan data yang lengkap, akurat dan tepat waktu.

“Profil Kesehatan Kab.Bulukumba 2014” ini diharapkan dapat bermanfaat dalam mengisi kekosongan data dan informasi kesehatan serta dapat dijadikan sebagai salah satu sumber acuan dalam penentuan kebijakan bidang kesehatan. Semoga Profil Kesehatan di tahun berikutnya dapat menyajikan data yang lebih berkualitas dan dapat terbit lebih cepat.

Bulukumba, Mei 2015 TTD

(4)

iv

SAMBUTAN KEPALA DINAS KESEHATAN KABUPATEN BULUKUMBA

Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Puji syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa karena atas izinnya “Profil Kesehatan Kab.Bulukumba 2014” ini dapat tersusun. Penyusunan profil ini melalui serangkaian proses, dimulai dari pengumpulan data sampai pengolahan dan analisis data. Berkat usaha yang keras, Dinas Kesehatan Kab.Bulukumba berhasil menghimpun data dan diolah menjadi “Profil Kesehatan Kab.Bulukumba 2014”.

Profil Kesehatan Kabupaten Bulukumba 2014 sebagai media publikasi data dan informasi kesehatan terus melakukan perbaikan dan pembenahan sehingga dapat menyajikan data dan informasi yang lebih berkualitas, valid, dan konsisten. Mengingat manfaatnya yang besar, diharapkan di masa yang akan datang arus laporan dari puskesmas dan sarana pelayanan kesehatan lain serta seluruh program yang ada dapat dikumpulkan secara lengkap dan tepat waktu sehingga profil kesehatan ini dapat terbit lebih awal.

Akhirnya, pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah membantu dan memberikan kontribusinya sehingga memungkinkan tersusunnya “Profil Kesehatan Kab. Bulukumba Tahun 2014. Saya berharap profil ini dimanfaatkan dalam pengambilan keputusan yang didasari kepada data dan informasi (evidence based) serta digunakan sebagai salah satu rujukan data dan informasi.

Bulukumba, Juni 2015

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bulukumba

Dr.H. Abd. Gaffar, M.Epid Pangkat : Pembina Utama Muda NIP. 19580902 198603 1 012

(5)

v DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i

TIM PENYUSUN ii

KATA PENGANTAR iii

SAMBUTAN KEPALA DINAS KESEHATAN KAB.BULUKUMBA iv

DAFTAR ISI v

DAFTAR TABEL vi

DAFTAR GAMBAR vii

DAFTAR LAMPIRAN viii

BAB I PENDAHULUAN 1

BAB II SITUASI UMUM DAN PERILAKU PENDUDUK 6

A. Keadaan Penduduk 7

B. Keadaan Ekonomi 10

C. Keadaan Pendidikan 13

D. Keadaan Kesehatan Lingkungan 17

E. Keadaan Perilaku Masyarakat 23

BAB III SITUASI DERAJAT KESEHATAN 26

A. Mortalitas 26

B. Morbiditas 33

C. Status Gizi 50

BAB IV SITUASI UPAYA KESEHATAN 54

A. Pelayanan Kesehatan Dasar 54

B. Pelayanan Kesehatan Rujukan 65

C. Perbaikan Gizi Masyarakat 66

D. Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan 69

BAB V SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN 70

A. Sarana Kesehatan 70

B. Tenaga Kesehatan 72

C. Pembiayaan Kesehatan 74

BAB VI PENUTUP 779

(6)

vi DAFTAR TABEL Tabel II.1 II.2 II.3 II.4 III.1 III.2 Uraian

Jumlah dan Laju Pertumbuhan Penduduk di Kab.Bulukumba tahun 2010 – 2014

Perkembangan PDRB Kab.Bulukumba dan Sulsel Atas Dasar Harga Berlaku tahun 2008 – 2014

Persentase pertumbuhan PDRB Kab.Bulukumba Tahun 2008-2014

Penduduk 10 Tahun Ke Atas Menurut Jenis Kelamin dan Jenjang Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan Di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Pola 10 Penyakit Terbanyak untuk Semua Golongan Umur di Kab.Bulukumba tahun 2014

Status Gizi Balita di Kab.Bulukumba tahun 2008 – 2014

Halaman 6 8 9 12 26 42

(7)

vii DAFTAR GAMBAR Gambar II.1 II.2 II.3 II.4 II.5 II.6 II.7 III.1 III.2 III.3 III.4 IV.1 V.1 Uraian

Jumlah Penduduk di Kab.Bulukumba Tahun 2010 – 2014

Komposisi Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Jumlah Penduduk menurut Kecamatan di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Grafik Persentase Pertumbuhan Ekonomi Kab.Bulukumba Tahun 2008 - 2014

Cakupan Air Bersih di Kab. Bulukumba Tahun 2008 - 2012 Cakupan Rumah Sehat di Kab. Bulukumba Tahun 2010 - 2014 Proporsi Posyandu menurut Strata di Kab. Bulukumba Tahun 2014

Angka Kematian Bayi di Kabupaten Bulukumba Tahun 2008 -2014

Umur Harapan Hidup Waktu Lahir (Eo) di Sulsel Tahun 2005 - 2012

Hasil Penemuan Penderita Pneumonia Pada Balita Di Kab.Bulukumba Tahun 2008 – 2014

Persentase Bayi dengan BBLR di Kab.Bulukumba tahun 2008 – 2014

Jumlah PUS, Peserta KB Baru dan Aktif menurut Kecamatan di Kab.Bulukumba tahun 2014

Proporsi Tenaga Kesehatan Menurut Jenisnya di Kab. Bulukumba Tahun 2014 Halaman 7 9 10 12 19 23 25 30 32 39 51 64 73

(8)

viii DAFTAR LAMPIRAN

Tabel 1 Luas Wilayah, Jumlah Desa/Kelurahan, Jumlah Penduduk,

Jumlah Rumah Tangga dan Kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 2 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Kelompok Umur

di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 3 Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun Ke Atas yang Melek

Huruf Ijazah Tertinggi yang Diperoleh Menurut Jenis Kelamin di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 4 Jumlah Kelahiran Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan

Puskesmas di Kabupaten Bulukumba Tahun 2014

Tabel 5 Jumlah Kematian Neonatal, Bayi, dan Balita Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan, Dan Puskesmas di Kab.Bulukumba Tahun Tahun 2014

Tabel 6 Jumlah Kematian Ibu Menurut Kelompok Umur, Kecamatan dan

Puskesmas di Kabupaten Bulukumba Tahun 2014

Tabel 7 Kasus Baru TB BTA+, Seluruh Kasus TB, Kasus Pada TB Pada

Anak, Dan Case Notification Rate (Cnr) Per 100.000 Penduduk di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 8 Jumlah Kasus Dan Angka Penemuan Kasus Tb Paru Bta+

Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 9 Angka Kesembuhan dan Pengobatan Lengkap TB Paru BTA+

Serta Keberhasilan Pengobatan Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 10 Penemuan Kasus Pneumonia Balita Menurut Jenis Kelamin,

Kecamatan dan Puskesmas di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 11 Jumlah Kasus HIV, AIDS dan Syphilis Menurut Jenis Kelamin di

Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 12 Persentase Donor Darah Diskrining Terhadap HIV Menurut

Jenis Kelamin di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 13 Kasus Diare yang Ditangani Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan

Dan Puskesmas di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 14 Jumlah Kasus Baru Kusta Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 15 Kasus Baru Kusta 0-14 Tahun dan Cacat Tingkat 2 Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas di Kab.Bulukumba Tahun 2014

(9)

ix

Tabel 16 Jumlah Kasus dan Angka Prevalensi Penyakit Kusta Menurut Tipe/Jenis, Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 17 Persentase Penderita Kusta Selesai Berobat (Release From Treatment/Rft) Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 18 Jumlah Kasus AFP (Non Polio) Menurut Kecamatan dan

Puskesmas di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 19 Jumlah Kasus Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (Pd3i) Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 20 Jumlah Kasus Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas - Lanjutan di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 21 Jumlah Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 22 Kesakitan dan Kematian Akibat Malaria Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 23 Penderita Filariasis Ditangani Menurut Jenis Kelamin

Kecamatan dan Puskesmas di Kab.Bulukumba Tahun 2014 Tabel 24 Cakupan Pengukuran Tekanan Darah Menurut Jenis Kelamin,

Kecamatan dan Puskesmas di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 25 Cakupan Pemeriksaan Obesitas Menurut Jenis Kelamin,

Kecamatan dan Puskesmas di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 26 Cakupan Deteksi Dini Kanker Leher Rahim Dengan Metode Iva

Dan Kanker Payudara dengan Pemeriksaan Klinis (CBE) Menurut Kecamatan dan Puskesmas di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 27 Jumlah Penderita Dan Kematian Pada KLB Menurut Jenis

Kejadian Luar Biasa (KLB) di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 28 Kejadian Luar Biasa (KLB) Di Desa/Kelurahan yang Ditangani <24 Jam di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 29 Cakupan Kunjungan Ibu Hamil, Persalinan Ditolong Tenaga Kesehatan Dan Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas Menurut Kecamatan dan Puskesmas di Kab.Bulukumba Tahun 2014 Tabel 30 Persentase Cakupan Imunisasi TT Pada Ibu Hamil Menurut

Kecamatan dan Puskesmas di Kab.Bulukumba Tahun 2014 Tabel 31 Persentase Cakupan Imunisasi Tt Pada Wanita Usia Subur

Menurut Kecamatan dan Puskesmas di Kab.Bulukumba Tahun 2014

(10)

x

Tabel 32 Jumlah Ibu Hamil Yang Mendapatkan Tablet Fe1 Dan Fe3 Menurut Kecamatan Dan Puskesmas di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 33 Jumlah Dan Persentase Penanganan Komplikasi Kebidanan dan

Komplikasi Neonatal Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 34 Proporsi Peserta KB Aktif Menurut Jenis Kontrasepsi,

Kecamatan Dan Puskesmas di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 35 Proporsi Peserta Kb Baru Menurut Jenis Kontrasepsi,

Kecamatan dan Puskesmas di Kab.Bulukumba Tahun 2014 Tabel 36 Jumlah Peserta KB Baru Dan KB Aktif Menurut Kecamatan dan

Puskesmas di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 37 Bayi Berat Badan Lahir Rendah (Bblr) Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 38 Cakupan Kunjungan Neonatal Menurut Jenis Kelamin,

Kecamatan dan Puskesmas di Kab.Bulukumba Tahun 2014 Tabel 39 Jumlah Bayi Yang Diberi Asi Eksklusif Menurut Jenis Kelamin,

Kecamatan dan Puskesmas di Kab.Bulukumba Tahun 2014 Tabel 40 Cakupan Pelayanan Kesehatan Bayi Menurut Jenis Kelamin,

Kecamatan dan Puskesmas di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 41 Cakupan Desa/Kelurahan Uci Menurut Kecamatan dan

Puskesmas di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 42 Cakupan Imunisasi HB <7 Dan BCG Pada Bayi Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan Dan Puskesmas di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 43 Cakupan Imunisasi DPT-HB/DPT-HB-HIB, Polio, Campak, dan Imunisasi Dasar Lengkap Pada Bayi Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan, Dan Puskesmas di Kab.Bulukumba Tahun 2014 Tabel 44 Cakupan Pemberian Vitamin A Pada Bayi, Anak Balita, Dan Ibu

Nifas Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan, Dan Puskesmas di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 45 Jumlah Anak 0 – 23 Bulan Ditimbang Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan Dan Puskesmas di Kab.Bulukumba Tahun 2014 Tabel 46 Cakupan Pelayanan Anak Balita Menurut Jenis Kelamin,

Kecamatan dan Puskesmas di Kab.Bulukumba Tahun 2014 Tabel 47 Jumlah Balita Ditimbang Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan

dan Puskesmas di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 48 Cakupan Kasus Balita Gizi Buruk Yang Mendapat Perawatan Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas di Kab.Bulukumba Tahun 2014

(11)

xi

Tabel 49 Cakupan Pelayanan Kesehatan (Penjaringan) Siswa SD Dan

Setingkat Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 50 Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan Dan Puskesmas di Kab.Bulukumba Tahun 2014 Tabel 51 Pelayanan Kesehatan Gigi Dan Mulut Pada Anak SD dan

Setingkat Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 52 Cakupan Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 53 Cakupan Jaminan Kesehatan Penduduk Menurut Jenis Jaminan

dan Jenis Kelamin di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 54 Jumlah Kunjungan Rawat Jalan, Rawat Inap dan Kunjungan

Gangguan Jiwa di Sarana Pelayanan Kesehatan di

Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 55 Angka Kematian Pasien di Rumah Sakit di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 56 Indikator Kinerja Pelayanan di Rumah Sakit di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 57 Persentase Rumah Tangga Berperilaku Hidup Bersih Sehat

(BER-PHBS) Menurut Kecamatan dan Puskesmas di

Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 58 Persentase Rumah Sehat Menurut Kecamatan Dan Puskesmas di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 59 Penduduk dengan Akses Berkelanjutan Terhadap Air Minum Berkualitas (Layak) Menurut Kecamatan dan Puskesmas di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 60 Persentase Kualitas Air Minum Di Penyelenggara Air Minum Yang Memenuhi Syarat Kesehatan di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 61 Penduduk dengan Akses Terhadap Fasilitas Sanitasi Yang

Layak (Jamban Sehat) Menurut Jenis Jamban, Kecamatan dan Puskesmas di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 62 Desa Yang Melaksanakan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat di

Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 63 Persentase Tempat-Tempat Umum Memenuhi Syarat Kesehatan

Menurut Kecamatan Dan Puskesmas di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 64 Tempat Pengelolaan Makan (TPM) Menurut Status Higiene

(12)

xii

Tabel 65 Tempat Pengelolaan Makanan Dibina dan Diuji Petik di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 66 Persentase Ketersediaan Obat dan Vaksin di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 67 Jumlah Sarana Kesehatan Menurut Kepemilikan di

Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 68 Persentase Sarana Kesehatan (Rumah Sakit) Dengan

Kemampuan Pelayanan Gawat Darurat (Gadar ) Level I di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 69 Jumlah Posyandu Menurut Strata, Kecamatan dan Puskesmas di

Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 70 Jumlah Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) Menurut Kecamatan di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 71 Jumlah Desa Siaga Menurut Kecamatan di Kab.Bulukumba

Tahun 2014

Tabel 72 Jumlah Tenaga Medis di Fasilitas Kesehatan di Kab.Bulukumba

Tahun 2014

Tabel 73 Jumlah Tenaga Keperawatan di Fasilitas Kesehatan di

Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 74 Jumlah Tenaga Kefarmasian Fasilitas Kesehatan di

Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 75 Jumlah Tenaga Kesehatan Masyarakat Dan Kesehatan

Lingkungan Di Fasilitas Kesehatan di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 76 Jumlah Tenaga Gizi di Fasilitas Kesehatan di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 77 Jumlah Tenaga Teknisi Medis Di Fasilitas Kesehatan di

Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 78 Jumlah Tenaga Teknisi Medis Dan Fisioterapis Di Fasilitas Kesehatan di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 79 Jumlah Tenaga Kesehatan Lain Di Fasilitas Kesehatan di Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 80 Jumlah Tenaga Non Kesehatan di Fasilitas Kesehatan di

Kab.Bulukumba Tahun 2014

Tabel 81 Anggaran Kesehatan Kabupaten Bulukumba Tahun 2014

(13)

1

Profil Kesehatan Kabupaten Bulukumba Tahun 2014

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Visi Dinas Kesehatan Kabupaten Bulukumba “Masyarakat Sehat Secara Mandiri“ untuk dapat mewujudkan masyarakat sehat secara mandiri ditempuh melalui misi 1) Peningkatan Upaya Pemberdayaan Masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat, 2) Peningkatan Efektifitas Program Desa Siaga, 3) Menjamin Pemenuhan dan Pemerataan Sumber daya Kesehatan. Upaya tersebut dilakukan

dengan memperhatikan dinamika kependudukan, epidemiologi penyakit,

perubahan ekologi dan lingkungan, kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), serta globalisasi dan demokratisasi dengan semangat kemitraan dan kerjasama lintas sektoral. Penekanan diberikan pada peningkatan perilaku dan kemandirian masyarakat serta upaya promotif dan preventif.

Proses pencapaian tujuan pembangunan kesehatan sesuai visi dan misi tersebut didukung oleh adanya peningkatan pembangunan manusia dalam semua bidang khususnya peningkatan pembangunan kesehatan. Pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dapat terwujud. Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan berdasarkan pada perikemanusiaan, pemberdayaan dan kemandirian, adil dan merata, serta pengutamaan dan manfaat dengan perhatian khusus pada penduduk rentan, antara lain ibu, bayi, anak, lanjut usia (lansia) dan keluarga miskin.

Pembangunan nasional harus berwawasan kesehatan, yaitu setiap kebijakan publik selalu memperhatikan dampaknya terhadap kesehatan. Upaya pemerintah untuk terus memperluas cakupan pembangunan kesehatan dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, harus disertai upaya mendorong kemandirian individu, keluarga dan masyarakat untuk sehat.

(14)

2

Profil Kesehatan Kabupaten Bulukumba Tahun 2014

Pembangunan manusia adalah sebuah proses pembangunan yang bertujuan agar manusia mempunyai kemampuan di berbagai bidang, khususnya dalam bidang pendapatan, kesehatan, dan pendidikan. Pembangunan manusia sebagai ukuran kinerja pembangunan secara keseluruhan dibentuk melalui pendekatan tiga dimensi dasar, yaitu umur panjang dan sehat, berpengetahuan, dan memiliki kehidupan yang layak. Masing-masing dimensi direpresentasikan oleh indikator. Umur panjang dan sehat direpresentasikan oleh indikator angka harapan hidup; pengetahuan direpresentasikan oleh indikator angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah; serta kehidupan yang layak direpresentasikan oleh indikator kemampuan daya beli. Semua indikator yang merepresentasikan ketiga dimensi pembangunan manusia ini terangkum dalam suatu nilai tunggal, yaitu Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index).

Sebagai upaya penyiapan informasi kesehatan, Profil Kesehatan Kabupaten diterbitkan setiap tahunnya. Dalam setiap terbitan Profil Kesehatan Kabupaten Bulukumba memuat berbagai data tentang kesehatan dan data pendukung lain yang berhubungan dengan kesehatan seperti data kependudukan dan keluarga. Data dianalisis secara sederhana dan ditampilkan dalam bentuk tabel dan grafik.

Tujuan diterbitkannya Profil Kesehatan Kabupaten Bulukumba 2014 ini adalah Profil dalam rangka evaluasi terhadap pencapaian pembangunan kesehatan tahun 2013 dengan mengacu kepada Indikator Standar Pelayanan Minimal (SPM) serta Millenium Development Goal’s (MDG’s). Dalam penyusunan profil kesehatan tahun 2013 ini, menyajikan bentuk data terpilah menurut jenis kelamin. Bentuk data terpilah ini berbentuk kuantitatif maupun kualitatif. Data terpilah menurut jenis kelamin atau yang sering disebut data gender sangat penting artinya dalam setiap penyusunan perencanaan kebijakan/program/kegiatan pembangunan.

2. Dasar Penyusunan

Profil Kesehatan Kabupaten Bulukumba merupakan gambaran situasi kesehatan yang diterbitkan setahun sekali. Penyusunannya berlandaskan pada

(15)

3

Profil Kesehatan Kabupaten Bulukumba Tahun 2014

dikeluarkannya beberapa Peraturan Perundangan, serta Peraturan perundangan Kesehatan antara lain :

a. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah.

b. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pusat dan Daerah.

c. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional tahun 2005-2025

d. Undang-undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.

e. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 837/MENKES/VII/2007 Tentang

Pengembangan SIKNAS Online Sistem Informasi Kesehatan Nasional

f. Instruksi Presiden RI Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional

g. Instruksi Presiden RI Nomor 3 Tahun 2010 tentang Program Pembangunan yang

Berkeadilan

h. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor:

741/MENKES/PER/VII/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang

Kesehatan di Kabupaten/Kota.

i. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 46 Tahun 2014 Tentang Sistem Informasi Kesehatan.

3. Sistematika Penyusunan

Penyajian Informasi yang terdapat di dalam Profil Kesehatan Kabupaten Bulukumba Tahun 2014 disusun dalam bentuk narasi, tabel dan gambar dengan sistematika sebagai berikut :

Bab 1 : Pendahuluan

Bab ini berisi penjelasan tentang maksud dan tujuan diterbitkannya Profil Kesehatan Kabupaten Bulukumba 2014 dan sistematika dari penyajiannya.

(16)

4

Profil Kesehatan Kabupaten Bulukumba Tahun 2014

Bab 2 : Situasi Umum dan Perilaku Penduduk

Bab ini menyajikan tentang gambaran umum Kabupaten Bulukumba. Selain uraian tentang letak geografis dan informasi umum lainnya, bab ini juga mengulas faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan dan faktor-faktor lain yang bersama-sama dengan kesehatan menentukan nilai Indeks Pembangunan Manusia

(IPM) atau Human Development Index (HDI). Diantaranya faktor-faktor

kependudukan, kondisi ekonomi, perkembangan pendidikan, dan lingkungan fisik serta perilaku penduduk yang terkait dengan kesehatan.

Bab 3 : Situasi Derajat Kesehatan

Bab ini berisi uraian tentang hasil-hasil pembangunan kesehatan pada tahun 2014 yang mencakup tentang angka kematian, angka kesakitan, umur harapan hidup, dan status gizi masyarakat.

Bab 4 : Situasi Upaya Kesehatan

Dalam bab ini menguraikan tentang pelayanan kesehatan dasar, pelayanan kesehatan rujukan dan penunjang, pemberantasan penyakit menular, pembinaan kesehatan lingkungan dan sanitasi dasar, perbaikan gizi masyarakat, pelayanan kefarmasian dan alat kesehatan. Upaya pelayanan kesehatan yang diuraikan dalam bab ini juga mengakomodir indikator kinerja Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan serta upaya pelayanan kesehatan lainnya yang diselenggarakan di Kabupaten Bulukumba.

Bab 5 : Situasi Sumber Daya Kesehatan

Bab ini menguraikan tentang sumber daya pembangunan bidang kesehatan tahun 2014. Gambaran tentang keadaan sumber daya mencakup tentang sarana kesehatan, tenaga kesehatan, pembiayaan kesehatan dan sumber daya kesehatan lainnya.

(17)

5

Profil Kesehatan Kabupaten Bulukumba Tahun 2014

Bab 6 : Penutup

Bab ini diisi dengan sajian tentang hal-hal penting yang perlu disimak dan ditelaah lebih lanjut dari Profil Kesehatan Kabupaten Bulukumba Tahun 2014. Selain keberhasilan-keberhasilan yang perlu dicatat, bab ini juga mengemukakan hal-hal yang dianggap masih kurang dalam rangka penyelenggaraan pembangunan kesehatan.

Lampiran

Pada lampiran ini berisi resume/angka pencapaian bidang kesehatan Kabupaten Bulukumba pada tahun 2014 yang disajikan dalam 81 tabel.

(18)

6

Profil Kesehatan Kabupaten Bulukumba Tahun 2014

BAB II

SITUASI UMUM DAN PERILAKU PENDUDUK

Kabupaten Bulukumba berada di 153 Km dari Makassar Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan terletak di bagian selatan dari jazirah Sulawesi Selatan yaitu antara 0,5o20’’ sampai 0,5o40’’ lintang selatan dan antara 119o58’’ sampai 120o28’’ bujur timur dengan batas administratif yakni sebelah utara dengan Kabupaten Sinjai, sebelah timur dengan teluk Bone, sebelah selatan dengan laut Flores dan sebelah Barat dengan Kabupaten Bantaeng. Luas wilayah Kabupaten Bulukumba 1.154,67km² atau 1,85% dari luas wilayah Provinsi Sulawesi Selatan, yang secara kewilayahan Kabupaten Bulukumba berada pada kondisi empat dimensi, yakni dataran tinggi pada kaki gunung Bawakaraeng-Lompobattang, dataran rendah, pantai dan laut lepas.

Kabupaten Bulukumba terdiri dari 10 kecamatan yaitu Kecamatan Ujungbulu (Ibukota Kabupaten), Gantarang, Kindang, Rilau Ale, Bulukumpa, Ujung Loe, Bontobahari, Bontotiro, Kajang dan Herlang. 7 diantaranya termasuk daerah pesisir sebagai sentra pengembangan pariwisata dan perikanan yaitu kecamatan: Gantarang, Ujungbulu, Ujung Loe, Bontobahari, Bontotiro, Kajang dan Herlang. 3 Kecamatan sentra pengembangan pertanian dan perkebunan yaitu kecamatan: Kindang, Rilau Ale dan Bulukumpa. Kabupaten Bulukumba juga mempunyai 2 (dua) buah pulau yang terdapat pada wilayah Desa Bira Kecamatan Bontobahari yakni Pulau Liukang Loe (berpenghuni) dan Pulau Kambing (tidak berpenghuni). Di Kabupaten Bulukumba terdapat 136 Desa/Kelurahan.

Kabupaten Bulukumba berada pada ketinggian antara 0 – 1000 m di atas permukaan laut (dpl) yang terdiri dari beberapa wilayah berbukit atau dataran tinggi dengan kemiringan 0–40o. Wilayah dataran rendah berada pada sebagian besar pesisir pantai yaitu sebagian wilayah Kecamatan Ujung Bulu, Gantarang, Ujung Loe dan Bonto Bahari. Khusus Kota Bulukumba merupakan tanah datar dengan ketinggian 0,5 – 2,5 m dari permukaan laut sehingga pada musim hujan sangat mudah tergenang air, sehingga kualitas lingkungan di beberapa tempat

(19)

7

Profil Kesehatan Kabupaten Bulukumba Tahun 2014

394,757 398,531 400,990 404,900 407,775 385,000 390,000 395,000 400,000 405,000 410,000 2010 2011 2012 2013 2014

tersebut kurang baik bila ditinjau dari segi kesehatan maupun aspek sosial ekonomi masyarakat. Letak geografis wilayah Kabupaten Bulukumba serta potensi penduduk yang beragam di setiap kecamatan menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dalam pelaksanaan pembangunan, khususnya di bidang kesehatan.

Di Kabupaten Bulukumba terdapat 32 aliran sungai yang diharapkan mampu mengaliri sawah seluas 23.365 Ha. Berdasarkan pencatatan klimatologi didapatkan data curah hujan yang cukup tinggi yaitu rata-rata di atas 152 mm/bulan dengan rata-rata hari hujan sebanyak 10 hari/bulan.

A. KEADAAN PENDUDUK

Berdasarkan hasil Sensus Penduduk tahun 2014, jumlah penduduk Kabupaten Bulukumba sebesar 407.775 jiwa yang terdiri dari 192.684 jiwa laki-laki dan 215.091 jiwa perempuan yang tersebar di 10 Kecamatan. Jumlah penduduk terbesar yakni 73.545 jiwa mendiami Kecamatan Gantarang (Tabel 1). Berikut gambaran jumlah penduduk Kabupaten Bulukumba dalam 5 (lima) tahun terakhir :

GAMBAR II.1

JUMLAH PENDUDUK DI KABUPATEN BULUKUMBA TAHUN 2010 S/D 2014

(20)

8

Profil Kesehatan Kabupaten Bulukumba Tahun 2014

Secara keseluruhan, jumlah penduduk yang berjenis kelamin perempuan lebih banyak dari penduduk yang berjenis kelamin laki-laki, hal ini tercermin dari angka rasio jenis kelamin yang lebih kecil dari 100 yaitu 90 yang berarti jika terdapat 100 orang penduduk perempuan terdapat 90 orang penduduk laki-laki. Data terinci pada lampiran tabel 2.

Laju pertumbuhan penduduk di Kab. Bulukumba pada tahun 2014 sebesar 0,97%, tidak mengalami peningkatan dari laju pertumbuhan penduduk pada tahun 2013. Jumlah dan laju pertumbuhan penduduk selama tahun 2010-2014 dapat dilihat pada tabel II.1 berikut :

TABEL II.1

JUMLAH DAN LAJU PERTUMBUHAN PENDUDUK DI KABUPATEN BULUKUMBA, TAHUN 2010 – 2014

Tahun Jumlah Penduduk Laju Pertumbuhan

Penduduk 1 2 3 2010 394.757 0,002% 2011 398.531 0,96% 2012 400.990 0,62% 2013 404.900 0,97% 2014 407.775 0,97% Sumber: BPS Kab.Bulukumba

Komposisi penduduk menurut kelompok umur dapat menggambarkan tinggi/rendahnya tingkat kelahiran. Selain itu komposisi penduduk juga mencerminkan angka beban tanggungan yaitu perbandingan antara jumlah penduduk produktif (umur 15 – 64 tahun) dengan umur tidak produktif (umur 0 – 14 tahun dan umur 65 tahun ke atas).

Perbandingan penduduk menurut klasifikasi anak-anak dan dewasa pada tahun 2014, dimana jumlah penduduk Bulukumba sebesar 407.775 Jiwa yang terdiri dari 264.840 Jiwa penduduk dewasa, 115.535 Jiwa penduduk anak-anak dan 27.400 Jiwa penduduk lanjut usia (>65 Tahun). Penduduk anak-anak dan lanjut usia

(21)

9

Profil Kesehatan Kabupaten Bulukumba Tahun 2014

laki-laki 19310 19490 19663 17877 14564 14169 13886 14455 13380 11579 9563 7760 5943 11045 0 5000 10000 15000 20000 25000 0-4 5-9 10-14 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-54 55-59 60-64 65+ perempuan -18727 -19018 -19327 -17844 -16140 -16584 -16759 -16709 -15501 -13927 -11963 -9048 -7189 -16355 -30000 -20000 -10000 0

merupakan beban dalam masyarakat karena tidak produktif, saat ini mencapai 142.935 Jiwa dengan Dependency Ratio 53,97 % (tabel 2), hal ini memberi gambaran terhadap besarnya beban tanggungan ekonomi suatu keluarga dalam masyarakat.

Komposisi Penduduk Menurut Jenis Kelamin yaitu 192.684 laki-laki dan 215.091 perempuan dengan rasio penduduk laki-laki terhadap penduduk perempuan sebesar 89,58 %.

Berikut ini gambar komposisi penduduk menurut kelompok umur dan jenis kelamin serta gambar jumlah penduduk per Kecamatan Kabupaten Bulukumba :

GAMBAR II.2

KOMPOSISI PENDUDUK MENURUT KELOMPOK UMUR DAN JENIS KELAMIN DI KAB. BULUKUMBA TAHUN 2014

(22)

10

Profil Kesehatan Kabupaten Bulukumba Tahun 2014

GAMBAR II. 3

JUMLAH PENDUDUK MENURUT KECAMATAN DI KAB.BULUKUMBA TAHUN 2014

Sumber: BPS Kab.Bulukumba

B. KEADAAN EKONOMI

1. PDRB Kabupaten Bulukumba

Kondisi perekonomian suatu daerah sangat tergantung pada potensi dan sumber daya yang dimiliki serta kemampuan daerah yang bersangkutan untuk mengembangkan segala potensi yang dimiliki. Untuk mengembangkan potensi yang dimiliki, berbagai kebijaksanaan, langkah dan upaya yang telah dilakukan oleh Pemerintah khususnya Pemerintah Kabupaten Bulukumba untuk meningkatkan perekonomian daerah ini.

Data tentang total PDRB Kabupaten Bulukumba belum diperoleh dari kantor BPS. Meskipun demikian tampak adanya hasil yang menggembirakan dari kebijaksanaan dan upaya pembangunan yang telah dilakukan. Hal tersebut dapat dilihat dari besarnya nilai PDRB yang berhasil diciptakan dari tahun ke tahun terus meningkat. Total PDRB Kabupaten Bulukumba Tahun 2013 mencapai nilai sebesar 5.830.511,53 (Juta Rupiah). Kontribusi PDRB Kabupaten Bulukumba terhadap PDRB Sulawesi Selatan pada tahun yang sama sebesar 3,16 %. Berikut disajikan gambaran perkembangan PDRB Kabupaten Bulukumba dan Sulawesi Selatan dalam 5 (lima) tahun terakhir. 0 10,000 20,000 30,000 40,000 50,000 60,000 70,000 80,000 Bt.Tiro Herlang Bt. Bahari Kindang Rilau Ale U.Loe Kajang Bulukumpa Ujung Bulu Gantarang 22,237 24,452 24,848 30,720 39,174 40,834 48,188 51,861 51,916 73,545

(23)

11

Profil Kesehatan Kabupaten Bulukumba Tahun 2014

TABEL II.2

PERKEMBANGAN PDRB KAB.BULUKUMBA & SUL-SEL ATAS DASAR HARGA BERLAKU TAHUN 2008 – 2013 TAHUN PDRB SUL-SEL ( JUTA Rp ) PDRB BULUKUMBA ( JUTA Rp ) % PDRB BULUKUMBA THDP PDRB SUL-SEL 2008 2009 2010 2011 2012 2013 85.143.191,27 99.904.658,31 117.830.270,49 137.389.811,17 159.427.096,97 184.783.100,00 2.711.096,80 3.255.210,15 3.763.053,25 4.286.358,32 5.044.765,06 5.830.511,33 3,18 3,26 3,19 3,12 3,16 3,16 Rata – rata 3,18 Sumber : BPS Kab.Bulukumba

Kontribusi PDRB Kab.Bulukumba selama periode Tahun 2008 – 2013 relatif sama yaitu rata-rata sekitar 3,18% pertahun. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan perekonomian Kabupaten Bulukumba selama periode tersebut konsisten dengan perkembangan perekonomian Sul-Sel.

2. Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi dapat dilihat dari besarnya nilai PDRB yang berhasil diciptakan pada tahun tertentu dibandingkan dengan nilai PDRB tahun sebelumnya. Di mana nilai PDRB yang dibandingkan itu adalah nilai PDRB atas dasar harga konstan. Penggunaan nilai atas dasar harga konstan ini karena telah dikeluarkannya pengaruh perubahan harga, sehingga perubahan yang diukur merupakan pertumbuhan ekonomi.

Di bawah ini disajikan pertumbuhan PDRB Kabupaten Bulukumba Tahun 2008 s/d 2013 dalam dua versi yaitu berdasarkan harga berlaku dan harga konstan. Pertumbuhan PDRB menurut harga konstan dapat dikatakan sebagai pertumbuhan ekonomi secara riil.

(24)

12

Profil Kesehatan Kabupaten Bulukumba Tahun 2014

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 2008 2009 2010 2011 2012 2013 8.06 6.47 6.27 6.38 6,27 8.01 TABEL II.3 PERSENTASE PERTUMBUHAN PDRB KAB.BULUKUMBA TAHUN 2008 – 2013 TAHUN HARGA BERLAKU (%) HARGA KONSTAN 2000 (%) 2008 2009 2010 2011 2012 2013 23,16 20,07 15,60 12,21 17,69 15,58 8,06 6,47 6,27 6,38 8,97 8,01 Rata-rata 17,75 7,23 Sumber : BPS Kab.Bulukumba

Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bulukumba tahun 2013 sebesar 8,01%. Hal ini nampak mengalami pertumbuhan yang lamban dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya mencapai 8,97%. Dengan demikian pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Bulukumba dikategorikan tumbuh positif.

GAMBAR II.4

GRAFIK PERSENTASE PERTUMBUHAN EKONOMI KAB.BULUKUMBA TAHUN 2008 - 2013

(25)

13

Profil Kesehatan Kabupaten Bulukumba Tahun 2014

3. PDRB Perkapita

Untuk mengetahui tingkat kemakmuran Kabupaten Bulukumba, salah satu indikator yang dapat dipakai adalah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita.

Dari Statistik Daerah Kabupaten Bulukumba 2014 tercatat PDRB per kapita penduduk Kabupaten Bulukumba pada tahun 2013 mencapai Rp. 14.399.880,- Sementara PDRB per kapita penduduk Kabupaten Bulukumba pada tahun sebelumnya sebesar Rp. 12.580.775,- Sedangkan data PDRB tahun 2014, hingga buku profil ini diterbitkan belum diperoleh data.

C. KEADAAN PENDIDIKAN

Kondisi pendidikan merupakan salah satu indikator yang kerap ditelaah dalam mengukur tingkat pembangunan manusia suatu negara. Melalui pengetahuan, pendidikan berkontribusi terhadap perubahan perilaku kesehatan. Pengetahuan yang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan merupakan salah satu pencetus yang berperan dalam mempengaruhi keputusan seseorang untuk berperilaku sehat.

Uraian tentang keadaan pendidikan berikut ini diambil dari buku Statistik Daerah Kabupaten Bulukumba 2012 dan buku Bulukumba dalam Angka 2011 terbitan Badan Pusat Statistik Kabupaten Bulukumba.

1. Kemampuan Baca Tulis

Kemampuan membaca dan menulis merupakan keterampilan dasar yang dibutuhkan oleh penduduk untuk menuju kehidupan yang lebih sejahtera. Kemampuan membaca dan menulis tercermin dari angka melek huruf dan angka buta huruf. Kemampuan baca tulis tercermin dari penduduk 15 tahun ke atas yang dapat membaca dan menulis huruf latin, huruf arab, dan huruf lainnya. Angka buta huruf berkorelasi dengan angka kemiskinan, penduduk yang tidak dapat membaca secara tidak langsung mendekatkan mereka pada kebodohan, sedangkan kebodohan itu sendiri mendekatkan mereka pada kemiskinan.

Secara nasional persentase penduduk yang buta huruf pada tahun 2013 sebesar 5,86% lebih rendah jika dibandingkan dengan tahun 2012 yang sebesar 6,75%. Apabila dibandingkan antar perdesaan dan perkotaan, angka buta huruf lebih tinggi di kawasan perdesaan. Hal ini dimungkinkan karena kesempatan

(26)

14

Profil Kesehatan Kabupaten Bulukumba Tahun 2014

belajar yang didukung dengan banyaknya fasilitas belajar mengajar lebih banyak di kawasan perkotaan.

Indikator pendidikan lainnya adalah Angka Melek Huruf (AMH) yaitu persentase penduduk berumur 15 tahun ke atas yang dapat membaca dan menulis serta mengerti sebuah kalimat sederhana dalam hidupnya sehari-hari. Penggunaan AMH adalah untuk (1) mengukur keberhasilan program-program pemberantasan buta huruf, terutama di daerah pedesaan di Indonesia dimana masih tinggi jumlah penduduk yang tidak pernah bersekolah atau tidak tamat SD, (2) menunjukkan kemampuan penduduk di suatu wilayah dalam menyerap informasi dari berbagai media, (3) menunjukkan kemampuan untuk berkomunikasi secara lisan dan tertulis. Sehingga AMH dapat mencerminkan potensi perkembangan intelektual sekaligus kontribusi terhadap pembangunan daerah. Semakin besar angka melek huruf diharapkan dapat mengurangi tingkat kemiskinan sehingga tingkat kesejahteraan dapat semakin meningkat.

Persentase penduduk berumur 15 tahun ke atas yang melek huruf secara nasional sebesar 94,14% lebih tinggi jika dibandingkan dengan kondisi tahun 2012 yang sebesar 93,25%. Di Sulawesi selatan tercatat persentase penduduk berumur 15 tahun ke atas yang melek huruf sebesar 88,87% tahun 2012 dan 88,07% pada tahun 2011.

Diperoleh data dari Dinas kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Bulukumba, dimana Persentase penduduk berumur 10 tahun ke atas yang melek huruf tahun 2014 sebesar 88,20%.

2. Partisipasi Pendidikan

Angka Partisipasi Sekolah (APS) didefinisikan sebagai perbandingan antara jumlah murid kelompok usia sekolah tertentu yang bersekolah pada berbagai jenjang pendidikan dengan penduduk kelompok usia sekolah yang sesuai dan dinyatakan dalam persentase. Indikator ini digunakan untuk mengetahui banyaknya anak usia sekolah yang masih bersekolah di semua jenjang pendidikan. APS dari BPS secara umum dikategorikan menjadi 3 kelompok umur, yaitu 7-12 tahun mewakili umur setingkat SD, 13-15 tahun mewakili umur setingkat SMP/MTs, dan 16-18 tahun mewakili umur setingkat SMA/SMK. Semakin tinggi APS berarti semakin banyak anak usia sekolah yang bersekolah. Berdasarkan angka ini dapat ditarik kesimpulan bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin rendah nilai APS.

(27)

15

Profil Kesehatan Kabupaten Bulukumba Tahun 2014

Di Kabupaten Bulukumba pada Tahun 2014 jumlah penduduk yang tidak/belum pernah sekolah sebanyak 52.359 orang, Data ini diperoleh dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Bulukumba.

3. Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan

Pendidikan yang ditamatkan merupakan indikator pokok kualitas pendidikan formal. Di Kabupaten Bulukumba, pada Tahun 2014 persentase penduduk yang hanya tamat SD yaitu sekitar 36,18 % untuk penduduk laki-laki dan 34,26 % untuk perempuan . Tabel berikut akan menggambarkan lebih jelas tentang penduduk Kab.Bulukumba usia 10 Tahun ke atas yang ditamatkan menurut jenis kelamin Tahun 2014.

TABEL II. 4

PENDUDUK 10 TAHUN KE ATAS MENURUT JENIS KELAMIN & JENJANG PENDIDIKAN TERTINGGI YANG DITAMATKAN

DI KAB.BULUKUMBA TAHUN 2014 Pendidikan Laki-laki Perempuan Jml % Jml % Belum/Tdk Tamat SD SD SLTP SMU/SMK DIPLOMA II DIPLOMA III DIPLOMA IV/S1 UNIVERSITAS 25.690 69.566 29.214 39.881 924 1.543 8.054 615 13,36 36,18 15,20 20,74 0,48 0,80 4,19 0,32 26.669 69.681 28.545 34.085 1.518 2.562 9.976 331 13,11 34,26 14,04 16,76 0,75 1,26 4,91 0,16 Jumlah 175.487 100,00 173.467 100,00

(28)

16

Profil Kesehatan Kabupaten Bulukumba Tahun 2014

4. Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menetapkan suatu ukuran standar pembangunan manusia yaitu indeks pembangunan manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI). Indeks ini dibentuk berdasarkan empat indikator, yaitu angka harapan hidup, angka melek huruf, rata-rata lama sekolah dan kemampuan daya beli. Indikator angka harapan hidup merepresentasikan dimensi umur panjang dan sehat. Selanjutnya, angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah mencerminkan capaian pembangunan di bidang pendidikan. Sedangkan indikator kemampuan daya beli masyarakat terhadap sejumlah kebutuhan pokok yang dilihat dari rata-rata besarnya pengeluaran per kapita sebagai pendekatan yang mewakili capaian pembangunan untuk hidup lebih layak.

Berdasarkan standar internasional, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dikategorikan sebagai berikut : kategori sangat tinggi, jika IPM > 0,9000; kategori tinggi, jika IPM > 0,800 – 0,899; kategori sedang, jika IPM 0,500-0,799; dan kategori rendah jika IPM< 0,500.

IPM merupakan salah satu ukuran yang dipandang dapat mempresentasikan kualitas manusia. Nilai IPM Indonesia tahun 2012 dan tahun 2013 masing-masing sebesar 73,20 dan 73,81. IPM Provinsi Sulawesi selatan pada tahun 2012 dan 2013 masing-masing 73,28 dan 73,20.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Bulukumba meningkat dari tahun ke tahun. Angka IPM Bulukumba pada tahun 2010 – 2013 masing-masing sebesar 71,19%; 71,77%; 72,33%, dan 73,21. Terjadi peningkatan 0,56% pada tahun 2012 dan tahun 2013.

5. Indeks Pembangunan Kesehatan Manusia (IPKM)

IPKM dikembangkan berdasarkan beberapa aspek seperti indikator

pembangunan kesehatan dan prioritas program kesehatan. IPKM 2013

dienggunakan dua model. Model pertama berdasarkan rumus IPKM 2007, dengan tujuan mendapatkan perbandingan skor maupun peringkat. Model kedua disusun berdasarkan pengembangan model yang bertujuan menyempurnakan IPKM 2007. Pengembangan model mengubah kuantitas dan kualitas indikator, pemberian bobot pada indikator.

Penentuan indikator dalam IPKM 2013 berdasarkan kerangka konsep determinan sosial kesehatan yang meliputi kesehatan perorangan, keluarga,

(29)

17

Profil Kesehatan Kabupaten Bulukumba Tahun 2014

masyarakat dan sistem pelayanan kesehatan. Beberapa aspek yang menjdai pertimbangan dalam penentuan indikator sebagai berikut :

1. Prioritas program kesehatan nasional yang tertuang dalam rencana

pembangunan jangka menengah dan panjang.

2. Komitmen untuk pembangunan kesehatan secara global atau seiring dengan target Millenium Development Goals (MDGs) dan Post MDGs.

3. Besaran masalah kesehatan yang menjadi masalah kesehatan utama secara nasional.

4. Pertimbangan secara referensi dan rekomendasi pelaksana program kesehatan. 5. Pertimbangan secara statistik mencakup aspek variasi data dan jumlah sampel

untuk keterwakilan kabupaten/kota.

IPKM Kabupaten Bulukumba pada tahun 2007 dan tahun 2013 masing-masing 0,4518 dan 0,6248 . Angka tersebut menunjukkan adanya penurunan peringkat.

D. KEADAAN KESEHATAN LINGKUNGAN

Lingkungan merupakan salah satu variabel yang kerap mendapat perhatian khusus dalam menilai kondisi kesehatan masyarakat. Bersama dengan faktor perilaku, pelayanan kesehatan dan genetik, lingkungan menentukan baik buruknya status derajat kesehatan masyarakat.

Upaya pengawasan kualitas air sebagaimana yang diatur di dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 736/MENKES/PER/VI/2010 tentang Tata Laksana Pengawasan Kualitas Air Minum, dilaksanakan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota sebagai pengawasan eksternal dan penyelenggara air minum sebagai pengawasan internal. Selain itu diatur pula mengenai adanya upaya penyampaian informasi tentang data kualitas air minum oleh penyelenggara air minum ke dinas kesehatan kabupaten/kota serta upaya penyampaian kondisi kualitas air oleh pemerintah daerah di wilayahnya.

Seiring dengan kemajuan teknologi serta semakin tinggi tingkat kesadaran masyarakat terhadap kesehatan terutama dalam pemenuhan kebutuhan air bersih untuk minum, sementara itu persediaan air tanah yang selama ini menjadi sumber utama air minum telah mengalami pencemaran, rumah tangga kini mulai beralih kepada produk air minum dalam kemasan/isi ulang. Produk ini merupakan salah satu solusi untuk konsumsi air minum karena produk dapat langsung diminum karena telah melalui proses produksi. Sementara menurut definisi MDGs air minum kemasan dan isi ulang tidak termasuk dalam sumber air minum layak. Hal ini

(30)

18

Profil Kesehatan Kabupaten Bulukumba Tahun 2014

dikarenakan air kemasan tidak dapat dipastikan keberlanjutannya dan sumbernya berasal dari wilayah lain.

Untuk menggambarkan keadaan lingkungan, akan disajikan indikator-indikator seperti : akses terhadap air minum yang layak, akses sanitasi yang layak, desa STBM , tempat-tempat umum dan tempat pengelolaan makanan yang memenuhi syarat serta ketersediaan obat menurut jenis obat.

6. Sarana Air Bersih yang Digunakan dan Akses Air Minum yang Aman

Komitmen pemerintah terhadap Millenium Development Goals (MDGs) yaitu memastikan kelestarian lingkungan hidup dengan menurunkan target hingga setengahnya proporsi rumah tangga tanpa akses berkelanjutan terhadap air minum layak dan sanitasi dasar hingga 2015. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 492/MENKES/PER/IV/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum, air minum adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum.

Penyelenggara air minum dapat berasal dari badan usaha milik negara/badan usaha milik daerah, koperasi, badan usaha swasta, usaha perorangan, kelompok masyarakat, dan/atau individual yang melakukan penyelenggaraan penyediaan air minum. Tidak semua air dapat diminum, syarat-syarat kualitas air minum sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan dimaksud, diantaranya adalah 1) Syarat Fisik : Tidak berbau, tidak berasa, dan tidak berwarna; 2) Parameter Mikrobiologi E Coli dan total Bakteri Kolifrom, kadar maksimum yang di perbolehkan 0 jumlah per 100 ml sampel; 3) Syarat Kimia : Kadar Besi : maksimum yang diperbolehkan 0,3 mg/l, Kesadahan (maks 500 mg/l), pH 6,5-8,5; 3) Syarat Mikrobiologis : Koliform tinja/total koliform (maks 0 per 100 ml air); 4) Dan parameter tambahan lainnya.

Salah satu parameter air minum adalah parameter fisik. Parameter fisik yang harus dipenuhi pada air minum yaitu harus jernih, tidak berbau, tidak berasa dan tidak berwarna. Selain itu, air minum tidak menimbulkan endapan. Jika air yang kita konsumsi menyimpang dari hal ini, maka sangat mungkin air telah tercemar. Secara nasional, berdasarkan hasil Riskesdas 2013, kualitas fisik air minum di Indonesia termasuk dalam kategori baik (tidak keruh, tidak berwarna, tidak berasa tidak berbusa dan tidak berbau) sebesar 94,1%.

Pada profil Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2012 tergambarkan persentase keluarga yang menggunakan sarana air bersih kemasan mencapai 74,92% yaitu sumber air kemasan sebesar 0,64%, Ledeng 27,71%, SPT 2,11 %, SGL

(31)

19

Profil Kesehatan Kabupaten Bulukumba Tahun 2014

69.6 69.3 76.9 77.2 81.63 62 64 66 68 70 72 74 76 78 80 82 84 2008 2009 2010 2011 2012 p e rs e n c ak u p an Tahun

31,67%, mata air 8,07%, PAH 1,34% dan lainnya 11,74% dan persentase keluarga yang menggunakan sumber air minum yaitu dari air kemasan 0,13%, air isi ulang 3,04%, ledeng meteran 9,30%, ledeng eceran 0,88%, pompa 2,34%, sumur terlindung 16,35%, mata air terlindung 7,26%, air hujan 1,29%, sumur tak terlindung 2,24%, mata air tak terlindung 0,39%, air sungai 0,28%, lain-lain 6,2% dan sumber air minum terlindung 39,30%.

Jumlah penyelenggaraan air minum di tingkat provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2013 sebanyak 27.824 sedangkan sampel yang diperiksa 6.922 (24,88%), yang memenuhi syarat (fisik, bakteriologi dan kimia) sebanyak 6.178 (89,25%).

Persentase penduduk yang memiliki akses air minum yang layak di Kabupaten Bulukumba tahun 2014 sebesar 84,02% mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya 83,32% pada tahun 2013. Rincian selengkapnya dapat dilihat dalam lampiran tabel 59 dan tabel 60.

GAMBAR II. 5

CAKUPAN AIR BERSIH DI KAB.BULUKUMBA TAHUN 2008– 2012

Sumber: Bidang P2PL Dinkes Kab.Bulukumba

Sumber air minum yang digunakan oleh penduduk dikategorikan dalam dua kelompok besar, yaitu jaringan perpipaan dan bukan jaringan perpipaan. Sumber air yang bukan jaringan perpipaan terdiri dari sumur gali terlindung, sumur gali dengan pompa, sumur bor dengan pompa, terminal air, mata air terlindung dan penampungan air hujan.

(32)

20

Profil Kesehatan Kabupaten Bulukumba Tahun 2014

7. Sarana dan Akses terhadap Sanitasi Dasar

Akses terhadap sanitasi layak merupakan salah satu fondasi inti dari masyarakat yang sehat. Sanitasi yang baik merupakan elemen penting yang menunjang kesehatan manusia. Sanitasi berhubungan dengan kesehatan lingkungan yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat. Buruknya kondisi sanitasi akan berdampak negatif di banyak aspek kehidupan, mulai dari turunnya kualitas lingkungan hidup masyarakat, tercemarnya sumber air minum bagi masyarakat, meningkatnya jumlah kejadian diare dan munculnya beberapa penyakit. Sesuai dengan konsep dan defnisi MDGs, disebut akses sanitasi layak apabila penggunaan fasilitas tempat buang air besar milik sendiri atau bersama, jenis kloset yang digunakan jenis leher angsa dan tempat pembuangan akhir tinjanya menggunakan tangki septik atau Sarana Pembuangan Air Limbah (SPAL). Metode pembuangan tinja yang baik yaitu dengan jamban dengan syarat sebagai berikut :

a. Tanah permukaan tidak boleh terjadi kontaminasi

b. Tidak boleh terjadi kontaminasi pada air tanah yang mungkin memasuki mata air atau sumur

c. Tidak boleh terkontaminasi air permukaan

d. Tinja tidak boleh terjangkau oleh lalat dan hewan lain

e. Tidak boleh terjadi penanganan tinja segar, atau bila memang benar-benar diperlukan, harus dibatasi seminimal mungkin

f. Jamban harus bebas dari bau atau kondisi yang tidak sedap dipandang g. Metode pembuatan dan pengoperasian harus sederhana dan tidak mahal.

Hasil Riskesdas 2013 tentang penggunaan fasilitas buang air besar, secara nasional, proporsi rumah tangga yang menggunakan fasilitas buang air besar milik sendiri sebesar 76,2%, milik bersama 6,7%, umum 4,2% dan buang air besar secara sembarangan sebesar 12,9%. Hasil dari riset tersebut juga menunjukkan bahwa pembuangan akhir tinja rumah tangga di Sulawesi Selatan sebagian besar menggunakan septik (64,2%).

Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Penyehatan Lingkungan Kabupaten Bulukumba melaporkan bahwa jumlah penduduk dengan akses terhadap fasilitas sanitasi yang layak (jamban sehat) sebesar 344.754 jiwa (84,5%) mengalami peningkatan dari tahun 2013 sebesar 83,99%, jenis sarana jamban yang digunakan adalah jamban komunal, leher angsa, pelengsengan dan cemplung. Rincian persentase penduduk dengan akses terhadap fasilitas sanitasi yang layak (jamban sehat) menurut jenis jamban dapat dilihat pada tabel 61.

(33)

21

Profil Kesehatan Kabupaten Bulukumba Tahun 2014

8. Sanitasi Total Berbasis Masyarakat

Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) merupakan pendekatan untuk merubah perilaku higiene dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan metode pemicuan. Program STBM memiliki indikator outcome dan indikator output. Indikator outcome STBM yaitu menurunnya kejadian penyakit diare dan penyakit berbasis lingkungan lainnya yang berkaitan dengan sanitasi dan perilaku.

Indikator output STBM adalah sebagai berikut :

a. Setiap individu dan komunitas mempunyai akses terhadap sarana sanitasi dasar sehingga dapat mewujudkan komunitas yang bebas dari buang air di sembarang tempat (ODF).

b. Setiap rumahtangga telah menerapkan pengelolaan air minum dan makanan yang aman di rumah tangga.

c. Setiap rumah tangga dan sarana pelayanan umum dalam suatu komunitas (seperti sekolah, kantor, rumah makan, puskesmas, pasar, terminal) tersedia fasilitas cuci tangan (air, sabun, sarana cuci tangan), sehingga semua orang mencuci tangan dengan benar.

d. Setiap rumah tangga mengelola limbahnya dengan benar.

e. Setiap rumah tangga mengelola sampahnya dengan benar.

Untuk mencapai outcome tersebut, STBM memiliki 6 (enam) strategi

nasional yang pada bulan September 2008 telah dikukuhkan melalui Kepmenkes No.852/Menkes/SK/IX/2008. Dengan demikian, strategi ini menjadi acuan bagi petugas kesehatan dan instansi yang terkait dalam penyusunan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi terkait dengan sanitasi total berbasis masyarakat. Pada tahun 2014, naungan hukum pelaksanaan STBM diperkuat dengan dikeluarkannya PERMENKES Nomor 3 Tahun 2014 tentang Sanitasi Total Berbasis Masyarakat.

Desa STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) adalah desa yang sudah stop BABS minimal 1 dusun, mempunyai tim kerja STBM atau natural leader, dan telah mempunyai rencana kerja STBM atau rencana tindak lanjut. STBM menjadi ujung tombak keberhasilan pembangunan air minum dan penyehatan lingkungan secara keseluruhan. Sanitasi total berbasis masyarakat sebagai pilihan pendekatan, strategi dan program untuk mengubah perilaku higiene dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan menggunakan metode pemicuan dalam rangka mencapai target MDGs. Dalam pelaksanaan STBM mencakup 5 (lima) pilar yaitu:

a. Stop buang air besar sembarangan, b. Cuci tangan pakai sabun,

(34)

22

Profil Kesehatan Kabupaten Bulukumba Tahun 2014

c. Pengelolaan air minum dan makanan yang aman di rumah tangga, d. Pengelolaan sampah dengan benar, dan

e. Pengelolaan limbah cair rumah tangga dengan aman.

Di tingkat nasional jumlah desa STBM mengalami peningkatan dari 6.235 jumlah desa pada tahun 2011 kemudian menjadi 11.165 desa. Pada tahun 2013 dari target desa yang melaksanakan STBM sebanyak 16.000 desa telah tercapai sebanyak 16.228 desa.

Di Kabupaten Bulukumba pada tahun 2014 dari 136 desa/kel terdapat 99 desa/kel yang melaksanakan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) atau sebesar 72,8% dan 16 desa/kel Stop BABS (11,8%) lihat tabel 62.

9. Rumah Sehat

Rumah pada dasarnya merupakan tempat hunian yang sangat penting bagi kehidupan setiap orang. Rumah tidak sekedar sebagai tempat untuk melepas lelah setelah bekerja seharian, namun didalamnya terkandung arti yang penting sebagai tempat untuk membangun kehidupan keluarga sehat dan sejahtera. Rumah yang sehat dan layak huni tidak harus berwujud rumah mewah dan besar namun rumah yang sederhana dapat juga menjadi rumah yang sehat dan layak dihuni Rumah sehat adalah kondisi fisik, kimia, biologi didalam rumah dan perumahan sehingga memungkinkan penghuni atau masyarakat memperoleh derajat kesehatan yang optimal.

Untuk menciptakan rumah sehat maka diperlukan perhatian terhadap beberapa aspek yang sangat berpengaruh, antara lain: Sirkulasi udara yang baik, penerangan yang cukup, air bersih terpenuhi, pembuangan air limbah diatur dengan baik agar tidak menimbulkan pencemaran, serta bagian-bagian ruang seperti lantai dan dinding tidak lembab serta tidak terpengaruh pencemaran seperti bau, rembesan air kotor maupun udara kotor.

Di Kabupaten Bulukumba, berdasarkan laporan Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Penyehatan Lingkungan Dinkes Kab. Bulukumba pada tahun 2014 dilaporkan jumlah rumah sehat yang ada adalah 51.534 rumah (53,83 %), masih dibutuhkan upaya-upaya yang mengarah kepada peningkatan capaian rumah sehat (lampiran tabel 58).

Cakupan rumah sehat di Kabupaten Bulukumba dalam periode tahun 2010 – 2014 sebagai berikut :

(35)

23

Profil Kesehatan Kabupaten Bulukumba Tahun 2014

GAMBAR II.6

CAKUPAN RUMAH SEHAT DI KAB.BULUKUMBA TAHUN 2010 S/D 2014

Sumber: Bidang P2PL Dinkes Kab.Bulukumba

10.Tempat - Tempat Umum dan Tempat Pengolahan Makanan (TPM) Sehat

Berdasarkan data yang diperoleh dari Bidang Pemberdayaan Sumber Daya Kesehatan Dinkes Kab. Bulukumba tahun 2014, bahwa persentase rata-rata tempat-tempat umum yang sehat telah mencapai 65,98%, hal ini menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dari tahun-tahun sebelumnya 61,9% pada tahun 2013 dan 50,77% pada tahun 2012 (Lampiran tabel 63).

Tempat Pengelolaan Makanan yang memenuhi syarat higiene sanitasi sebanyak 363 (58,65%), telah dilakukan uji petik terhadap semua TPM yang memenuhi syarat tersebut (100%). Terhadap 270 TPM yang tidak memenuhi syarat, yang dilakukan pembinaan sebanyak 149 TPM (83,33%). Data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran tabel 64 dan tabel 65.

11.Ketersediaan Obat

Berdasarkan data yang diperoleh dari UPTD Instalasi Farmasi dan Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinkes Kab.Bulukumba tahun 2014, presentase ketersediaan obat dianggap cukup dan memenuhi kebutuhan (Tabel 66).

E. KEADAAN PERILAKU MASYARAKAT

Komponen perilaku dan lingkungan sehat merupakan garapan utama promosi

kesehatan. Promosi kesehatan adalah upaya untuk memampukan atau

55.32 60.1 65.5 47.71 53.83 0 10 20 30 40 50 60 70 2010 2011 2012 2013 2014

(36)

24

Profil Kesehatan Kabupaten Bulukumba Tahun 2014

memberdayakan masyarakat agar dapat memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatannya (WHO). Pelaksanaan kegiatan promosi kesehatan bukanlah pekerjaan yang mudah, karena menyangkut aspek perilaku yang erat kaitannya dengan sikap, kebiasaan, kemampuan, potensi dan faktor budaya pada umumnya.

Keadaan perilaku masyarakat yang berpengaruh terhadap derajat kesehatan digambarkan melalui indikator-indikator persentase rumah tangga berperilaku hidup bersih dan sehat, persentase posyandu purnama dan mandiri.

1. Rumah Tangga ber-PHBS

Perilaku yang menunjang kesehatan adalah adanya rumah tangga yang menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Di Kabupaten Bulukumba berdasarkan hasil pengumpulan data oleh Seksi Promkes dan Pemberdayaan Masyarakat Tahun 2014 diperoleh data rumah tangga yang ber-PHBS sebesar 51.046 rumah tangga (57,7%) dari 88.442 rumah tangga yang dipantau pada 10 kecamatan. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan yang dari tahun 2013 (56,8%) dan tahun 2012 (52,2%) namun masih perlu upaya-upaya yang lebih optimal untuk meningkatkan cakupan rumah tangga ber-PHBS. Data selengkapnya dapat dilihat pada lampiran tabel 57.

2. Posyandu Purnama dan Mandiri

Peran serta masyarakat di bidang kesehatan sangat besar. Wujud nyata bentuk peran serta masyarakat antara lain muncul dan berkembangnya upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat (UKBM), misalnya Posyandu.

Sebagai indikator peran aktif masyarakat melalui pengembangan UKBM digunakan persentase desa yang memiliki Posyandu. Posyandu merupakan wahana kesehatan bersumberdaya masyarakat yang memberikan layanan 5 kegiatan utama (KIA, KB, Gizi, Imunisasi dan P2 Diare) dilakukan dari, oleh, untuk, dan bersama masyarakat.

Pencapaian posyandu purnama dan mandiri (posyandu aktif) di Sulawesi Selatan tahun 2013 sebesar 45,43% yang tinggi capaiannya yaitu Kota Makassar, Kabupaten Soppeng dan Kabupaten Enrekang. Sedangkan pencapaian posyandu purnama dan mandiri terendah yaitu Kab. Selayar, Bulukumba, Takalar, Gowa, Maros, Luwu, Tator, Luwu Utara, Toraja Utara.

(37)

25

Profil Kesehatan Kabupaten Bulukumba Tahun 2014

Di Kabupaten Bulukumba, jumlah posyandu yang tercatat untuk tahun 2014 sebanyak 544 posyandu, jumlah posyandu purnama dan mandiri (posyandu aktif) sebanyak 154 posyandu (28,31%) dengan rasio posyandu/desa sebesar 1,43. Hal ini perlu mendapat perhatian untuk meningkatkan kualitas posyandu menuju posyandu mandiri. Peran serta dari seluruh komponen lintas sektor serta partisipasi aktif segenap lapisan masyarakat sangat diperlukan sebagai modal utama dalam peningkatan peran serta masyarakat yang lebih optimal. Berikut gambar proporsi Posyandu menurut strata :

GAMBAR II.7

PROPORSI POSYANDU MENURUT STRATA DI KAB. BULUKUMBA TAHUN 2014

Sumber: Seksi Promosi Kesehatan dan Pemberayaan Masyarakat Dinkes Kab.Bulukumba

Demikian uraian situasi umum dan perilaku penduduk di Kabupaten Bulukumba sampai pada tahun 2014.

24.82 46.88 27.76 0.55 Pratama Madya Purnama Mandiri

(38)

26

Profil Kesehatan Kabupaten Bulukumba Tahun 2014

BAB III

SITUASI DERAJAT KESEHATAN

Derajat kesehatan masyarakat dinilai dengan menggunakan beberapa indikator yang mencerminkan kondisi mortalitas (kematian), status gizi dan morbiditas (kesakitan). Pada bagian ini, derajat kesehatan masyarakat di Indonesia digambarkan melalui Angka Mortalitas; terdiri atas angka kematian neonatal, Angka Kematian Bayi (AKB), dan Angka Kematian Balita (AKABA), Indeks Pembangunan Manusia termasuk angka harapan hidup, Angka Morbiditas; angka kesakitan beberapa penyakit balita dan dewasa.

Gambaran tentang derajat kesehatan berisi uraian tentang indikator -indikator kualitas hidup, mortalitas, morbiditas dan status gizi, yaitu :

1. Kualitas hidup antara lain dilihat dari indikator Angka Harapan Hidup Waktu Lahir.

2. Mortalitas dilihat dari indikator-indikator Angka Kematian Bayi (AKB) per 1.000 Kelahiran Hidup, Angka Kematian Balita (AKABA) per 1.000 anak balita, dan Angka Kematian Ibu (AKI) per 100.000 Kelahiran Hidup.

3. Morbiditas dilihat dari indikator-indikator Angka Kesakitan Demam Berdarah Dengue (DBD) per 100.000 penduduk, Angka Kesakitan Malaria per 1.000 penduduk, Persentase Kesembuhan TB Paru, Persentase Penderita HIV/AIDS terhadap penduduk beresiko dan Angka "Acute Flacid Paralysis" (AFP) pada anak usia < 15 tahun per 100.000 anak.

4. Status Gizi dilihat dari indikator-indikator persentase balita dengan gizi buruk dan persentase kecamatan bebas rawan gizi.

Selain dipengaruhi oleh faktor kesehatan seperti pelayanan kesehatan dan ketersediaan sumber daya kesehatan, derajat kesehatan masyarakat juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti faktor ekonomi, pendidikan, lingkungan sosial, serta faktor lain yang kondisinya telah dijelaskan pada bab sebelumnya.

A. MORTALITAS

Mortalitas merupakan angka kematian yang terjadi pada kurun waktu dan tempat tertentu yang diakibatkan oleh keadaan tertentu, dapat berupa penyakit maupun sebab lainnya. Angka kematian yang disajikan pada bab ini yaitu Mortalitas

(39)

27

Profil Kesehatan Kabupaten Bulukumba Tahun 2014

yang disajikan pada bab ini yaitu angka kematian neonatal, angka kematian bayi, dan angka kematian balita dan angka kematian ibu.

Peristiwa kematian dewasa ini umumnya disebabkan karena penyakit menular, penyakit degeneratif, kecelakaan atau gaya hidup yang beresiko terhadap kematian. Gambaran perkembangan derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari kejadian kematian dalam masyarakat dari waktu ke waktu. Di samping itu kejadian kematian juga dapat digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan lainnya. Angka kematian pada umumnya dapat dihitung dengan melakukan berbagai survei dan penelitian.

Salah satu upaya pengembangan puskesmas yang penting adalah Pelayanan Obstetrik dan Neonatal Emergensi Dasar (PONED). Upaya kesehatan ini dilakukan untuk mendekatkan akses masyarakat kepada pelayanan kegawatdaruratan obstetri dan neonatal dasar. Akses masyarakat yang semakin mudah terhadap pelayanan kegawatdaruratan diharapkan dapat berkontribusi kepada penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Badan kesehatan dunia (WHO) menargetkan agar minimal terdapat 4 Puskesmas PONED di tiap kabupaten/kota. Sampai dengan tahun 2014 terdapat 4 Puskesmas PONED di Kabupaten Bulukumba yaitu Puskesmas Gattareng, Puskesmas Tanete, Puskesmas Ujung Loe, Puskesmas Bontotiro.

Salah satu alat untuk menilai keberhasilan program pembangunan kesehatan yang telah dilaksanakan selama ini adalah dengan melihat perkembangan angka kematian dari tahun ke tahun. Besarnya tingkat kematian dan penyakit penyebab utama kematian yang terjadi pada periode terakhir dapat dilihat dari berbagai uraian berikut:

1. Angka Kematian Neonatal (AKN)

Angka Kematian Neonatal (AKN) adalah jumlah penduduk yang meninggal satu bulan pertama setelah kelahiran (0-28 hari) yang dinyatakan dalam 1.000 kelahiran hidup. Berdasarkan laporan SDKI 2007 dan 2012 diestimasikan sebesar 19 per 1.000 kelahiran hidup. Kematian neonatal menyumbang lebih dari setengahnya kematian bayi (59,4%), sedangkan jika dibandingkan dengan angka kematian balita, kematian neonatal menyumbangkan 47,5%.

Perhatian terhadap upaya penurunan angka kematian neonatal (0-28 hari) menjadi penting karena kematian neonatal memberi kontribusi terhadap 56% kematian bayi. Untuk mencapai target penurunan AKB pada MDG 2015 yaitu sebesar

Gambar

GAMBAR II.1
TABEL II.1
GAMBAR II.2
GAMBAR II. 3
+7

Referensi

Dokumen terkait

Akses rumah tangga terhadap fasilitas sanitasi yang layak terus meningkat. Laju pertumbuhan penduduk menjadi tantangan utama yang dihadapi dalam meningkatkan cakupan sanitasi

Berdasarkan data penduduk dengan akses terhadap fasilitas sanitasi layak (jamban sehat) menurut kecamatan dan puskesmas di Dinas Kesehatan Kabupaten OKI tiga tahun terakhir

Proporsi penduduk atau rumah tangga dengan akses terhadap fasilitas sanitasi yang layak adalah perbandingan antara penduduk atau rumah tangga yang memiliki akses terhadap

Jumlah dan Ratio Tenaga Gizi di Fasilitas Kesehatan Ratio Tenaga Gizi per 100.000 Penduduk adalah Tenaga Gizi yang memberikan pelayanan dibidang Gizi disuatu wilayah

TABEL 61 PENDUDUK DENGAN AKSES TERHADAP FASILITAS SANITASI YANG LAYAK JAMBAN SEHAT MENURUT JENIS JAMBAN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS KOTA PALU TAHUN 2014 JENIS SARANA JAMBAN..

Profil Daerah 2020 Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Bulukumba 7 Kabupaten Bulukumba terletak diantara 05º20´ - 05º40´ LS dan 119º58´ - 120º28´ BT dengan batas-batas

Sanitasi layak sering diukur melalui akses terhadap fasilitas sanitasi yang memadai, air bersih, praktik-praktik kebersihan, dan lingkungan yang sehat.Kriteria sanitasi layak yang

Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) adalah program nasional yang bergerak dalam peningkatan akses penduduk pedesaan kepada fasilitas air minum dan sanitasi yang