BAB V
KESIM PULA N
A. Benang M erah
Dalam pola hubungan yang oleh Thom as P oguntke dijuluki independe nt collateral ini ada sejum lah kerenntanan yang pe nting untuk dicatat. Pertam a, pola independent collateral ditandai oleh tidak m enyeluruhnya keanggotaan GM II dalam PPP. Anggota GM II m em punyai hak untuk m enentukan apakah ia bersedia m enjadi bagian dari PPP atau tidak. M eskipun begitu, aturan organisasi GM II m enekankan bahwa anggota nya tidak boleh terlibat dalam struktur partai (m enjabat da lam susuna n pe ngurus pa rtai di berbaga i tingkat). A danya hal tersebut m em buat ikatan diantara kedua nya lem ah. Partai tidak m em punyai andil untuk m engontrol ke putusan GM II dan juga seba liknya. GM II hanya berhak untuk m enyam paikan aspirasi politiknya akan tetapi tetap harus m elaku kan pendekatan ke e lit-e lit parta i untuk m endeka tkan kem ungkinan beragam tujuan organisasinya terwujud. Hal terse but m engakibatkan kerancuan dalam penentuan sikap politik, antara sika p pada tataran individual yang ingin dijam in kebebasannya, dengan sikap pa da tataran organisasional yang oleh PPP ingin diika t.
Sepanjang pertum buhan dan perkem bangannya, GM II tidak pernah keluar dari kerancuan pola hubungan di kedua level terse but di atas. Lebih dari itu, kerancuan tersebut te lah m enjadikan tida k adanya acuan dalam m engelola konflik internal GM II m aupun konflik antara GM II dengan PPP. Sebagai orga nisa si
sayap, GM II m au tak m au akan terseret ke dalam hal itu, nam un tidak kua sa untuk m engatasinya. Oleh karena dinam ika yang ada di dalam partai berpengaruh pada sikap yang ditunjukkan oleh organisasi kola teral sesua i dengan kecenderungan kebanyakan anggota atau elit orga nisa si kolateral tersebut. Dari waktu ke waktu GM II tidak konsisten terha dap pola relasi yang hendak dikem bangkan, dan pada saat yang sam a tetap kecewa dengan perlakua n yang didapatinya. GM II bergabung dengan saya p PPP lainnya untuk m em perjuangkan agar organisa si sayap diberi hak suara dalam m om entum pengam bilan ke putusan partai karena GM II m enganggap bahwa penge lolaan PPP saat itu m asih jauh dari ha rapan.
Faktor yang m em perburuk keadaan ada lah turunnya perolehan suara PPP pada Pileg 2009. Oleh para aktivis GM II, kepem im pina n Suryadarm a Ali dinilai gagal. Ia tak m am pu m elakukan terobosan agar PPP le bih m aju dari se belum nya. Dalam m em perjuangkan kepe ntingan hak suara ini, GM II dan organisasi sayap PPP lainnya m elakukan dem o di depan kantor DPP PPP. M ereka m enduduki kantor PPP dan m em inta Suryadarm a Ali m undur dari jabatan Ketua Um um PPP.
Kegagalan pem im pin dalam m enge lola konflik dan m engga lang kem enangan ini terlihat dari telaah berikut ini. Suryadarm a Ali dinilai terla lu m em ihak salah satu kelom pok dalam PPP. Apa yang dilakukan GM II tersebut bisa dilihat sebaga i ke berpiha kan GM II terhadap salah satu faksi yang ada di tubuh PPP. Sudah m enjadi rahasia um um bahwa yang berdem o di depan kantor DPP PPP tersebut keba nyakan ada lah orang -orang dari faksi M I. Faksi M I ingin m enggoyang kepem im pinan Suryadarm a Ali ya ng berasal dari faksi NU. Puncak dari prote s GM II yang m enunjukkan keberpihakannya terhadap faksi M I adalah
saat M uktam ar PPP berlangsung. Beragam cara dilakukan GM II untuk m enghalangi terpilihnya Surya darm a Ali untuk kedua ka linya sebagai Ketua Um um PPP.
Pada M uktam ar PPP yang digelar Juli 2011, Suryadarm a Ali terpilih kem bali m enja di Ke tua Um um PPP. A rogansi elit PN GM II saat M uktam ar berlanjut sam pai pa da pernyataan GM II tidak lagi dekat dengan PPP. W acana tersebut m endapat tentangan dari cabang GM II yang cenderung m endukung faksi selain M I. Cabang tersebut m enilai bahwa elit PN GM II terlalu keras m enunjukkan ke tidaksukaannya kepada Surya darm a Ali. Setelah M uktam ar usai, wajar saja bila pihak partai m em biarkan GM II keluar dari jajaran sa yap PPP.
Keinginan GM II untuk lepas dari parta i direspon dengan keputusa n DPP PPP tentang badan otonom . Pada pertengahan 2012, PPP m enyatakan bahwa badan otonom nya adala h GPK, AM K, GM PI, dan W PP. Hal ini dapa t dilihat m elalui status GM II dalam jejaring sosia lnya. Setelah lepas dari PPP, GM II kem udian m engadakan konsolidasi bagi organisasinya karena GM II di berbag ai tingkatan juga diform at untuk tida k lagi berafiliasi dengan PPP. Ini kem udian m enjadikan m om en tepat ba gi GM II untuk kem bali ke bentuk awalnya sebagai sebuah kelom pok kepentingan berisikan m ahasiswa dan bersifat indepe nden tanpa terikat de ngan partai p olitik m anapun. PC GM II yang tidak setuju de ngan sikap PN GM II akhirnya bubar be gitu saja. Pengurusn tingka t wilayah da n cabang yang kecewa dengan keputusan PN GM II tidak bisa berbuat a pa -apa. GM II pada wilayah ke kuasaannya dibiarkan terbengkala i begitu sa ja.
Penelitia n ini m enyim pulkan bahwa ada dua faktor be sar yang m enjelaskan kela hiran, dinam ika dan berkhirnya pola hubungan independe nt collateral organization yang dijalin GM II dengan PPP. Faktor pertam anya adalah adanya gap antara sika p individual deng a n sikap organisasiona l GM II yang berm uara pada tidak terliba t organisasi ini dalam penentuan keputusan internal PPP. Partai tidak m em berikan hak suara kepada organisasi sa yapnya. Hak suara bagi organisasi sayap dianggap penting oleh GM II karena dengan ada nya hak suara, GM II dapat m em pengaruhi kebijakan internal partai. Kebijakan tersebut bisa terwujud da lam bentuk apapun, term asuk suara dalam M uktam ar untuk sukse si Ke tua Um um PPP. Sedangkan faktor kedua adalah ke pem im pina n PPP yang tidak sanggup m engelola faksionalisasi di dalam PPP serta m asuknya GM II dalam keruwetan faksiona lisasi da lam tubuh PPP. Kedekatan GM II dengan elit PPP dari faksi M I m enyebabkan GM II kurang m enyukai kepem im pinan Suryadarm a Ali. Suryadarm a Ali yang berasal dari faksi NU berusaha di goyang oleh GM II agar tidak lagi m enjadi Ketua Um um PPP. A pabila Suryadarm a A li terpilih lagi m enjadi Ke tua Um um m aka orang -orang dari faksi M I akan digeser perlahan dari jabata n stra tegis. Hal terse but tentunya a kan berim ba s pada eksistensi GM II dalam partai.Sulit bagi GM II untuk m endapa t “dana” dari partai dan kesem patan-ke sem patan untuk m aju (m isal: m enga dakan kegiatan, turut serta dalam kegiatan parta i, dan lain sebaga inya).
B. Belajar Dari K egagalan
GM II dan PPP m erupakan dua objek dalam penelitian ini. Dari penelitian ini penulis m erekom endasikan kepada PPP agar ke depannya tidak tergesa dalam bekerjasam a dengan kelom pok ke pentingan dalam wujud a papun. Ha l tersebut bisa m em inim alisir kem ungkinan terja dinya konflik di kem udia n hari. PPP harus m enyadari bahwa faksionalisasi di dalam parta inya m erupa kan faktor pelem ah yang tidak bisa dihindari. Pem im pin partai harus lebih tega s da lam aturan pem bentukan organisasi sa yap agar organisa si sayap ya ng dim ilikinya tidak la gi m enjadi lahan bernaungnya orang-orang yang kecewa terhadap kepem im pinan partai.
Bagi GM II, organisa si kem ahasiswaan sanga t rentan m enjadi boneka kepentingan. Cita-cita awal didirikannya GM II adalah m em bantu kelem ahan partai Islam dalam m enarik golongan pem uda. Na m un, seiring berjalannya wa ktu, GM II justru terjebak pada dinam ika politik interna l partai yang justru m em berikan efek tidak baik terhadap organisasinya. Organisa sinya m enjadi tidak solid di berbagai tingka t karena tiap kepengurusan cenderung dibentuk berd asarkan keberpihaka n terhadap faksi pim pina n PPP di tingkata n m asing -m asing.