I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pembangunan nasional merupakan rancangan terstruktur yang mencakup perbaikan di segala bidang guna peningkatan kualitas hidup masyarakat. Pembangunan nasional yang dicanangkan oleh Pemerintah Indonesia dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Pembangunan yang hanya mengutamakan pertumbuhan ekonomi terpusat dan tidak merata serta tidak diimbangi kehidupan sosial, politik, ekonomi yang demokratis dan adil akan menghasilkan fundamental pembangunan ekonomi yang rapuh. Perekonomian nasional yang rapuh telah mengakibatkan Indonesia terjebak dalam krisis ekonomi yang berkepanjangan pada tahun 1997 serta menurunkan daya saing ekonomi nasional.
Krisis global pada tahun 2008 yang melanda perekonomian Amerika Serikat turut mengakibatkan goncangan pada berbagai sektor bisnis di seluruh dunia. Sektor industri skala besar mengalami stagnasi bahkan kebangkrutan. Industri dengan orientasi ekspor memiliki berbagai hambatan untuk mengembangkan usahanya akibat adanya krisis global. Indonesia merupakan salah satu negara yang mampu bertahan dari ancaman krisis global. Ekonomi Indonesia mampu tumbuh positif walau hanya sebesar 3-4 persen1 akibat kontribusi dari Usaha Kecil dan Menengah (UKM) sebagai pilar pembangunan ekonomi rakyat yang tetap tangguh walau dilanda krisis global.
UKM di Indonesia mampu tampil sebagai salah satu sektor yang relatif sedikit mendapat pengaruh krisis global dalam perekonomian dunia. UKM sebagai cerminan ekonomi kerakyatan merupakan industri mikro yang tidak bergantung kepada perdagangan internasional sehingga tidak terpengaruh dampak krisis global. Eksistensi UKM tersebut dikarenakan berbagai faktor, antara lain UKM tidak mengandalkan bahan baku impor dalam menjalankan kegiatan produksinya. Pangsa pasar dalam negeri yang masih sangat prospektif menjadikan UKM tidak berkontribusi aktif dalam kegiatan perdagangan internasional. UKM juga tidak memiliki pinjaman dalam jumlah besar kepada perbankan dikarenakan
1http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/11/eksistensi-dan-kinerja-ukm-di-indonesia-3/ [Diakses
nilai investasi yang digunakan relatif kecil. Kegiatan UKM sebagian besar digerakkan dengan modal milik pribadi. Oleh karena itu, risiko UKM relatif kecil dalam memanfaatkan dana perbankan. Faktor-faktor tersebut membuat UKM mampu melewati krisis global dengan baik.
UKM memiliki kontribusi yang cukup besar dalam perolehan PDB Nasional. Peran UKM terhadap penciptaan PDB Nasional pada tahun 2007 menurut harga berlaku adalah sebesar Rp 2.121,31 triliun atau 53,60 persen dari total PDB Nasional2. Sumbangan UKM terhadap pembentukan PDB Nasional pada tahun 2009 mencapai 56,5 persen. Oleh karena itu, UKM berperan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi serta terbukti mampu menjadi garda depan pewujudan stabilitas perekonomian nasional.
UKM merupakan kelompok usaha yang memiliki prospek yang cerah untuk dikembangkan. Hal ini dapat ditinjau dari semakin banyaknya UKM di Indonesia yang berdiri dari tahun ke tahun. Populasi UKM pada tahun 2006 ialah 48,9 juta unit usaha. Eksistensi UKM pada tahun 2007 sejumlah 49,84 juta unit. Pada tahun 2009, jumlah UKM mencapai 52,8 juta unit usaha atau meningkat sebesar 2,9 persen dari tahun 2008. Selain itu, UKM memiliki potensi cukup besar dalam penyerapan tenaga kerja. Hal ini dikarenakan setiap unit investasi pada sektor UKM dapat menciptakan lebih banyak kesempatan kerja dibandingkan dengan investasi yang sama pada usaha besar. Dalam hal penyerapan kerja, peran UKM pada tahun 2007 tercatat sebesar 88.739.744 orang atau 96,95 persen dari total penyerapan tenaga kerja yang ada. Pada tahun 2008, UKM mampu menyerap tenaga kerja sebesar 90.896.270 orang atau 97,04 persen dari total tenaga kerja yang ada. Jumlah ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2007 sebesar 2,43 persen3. UKM mampu menyerap tenaga kerja hingga 96,2 juta orang pada tahun 2009 atau meningkat sebesar 2,3 persen dari tahun sebelumnya4. Dengan demikian, UKM merupakan kegiatan usaha yang mampu memperluas lapangan kerja serta memberikan pelayanan ekonomi yang luas pada masyarakat.
2http://smecda.com/deputi7/menu/files/berita_resmi_statistik_ukm_bps_2008.pdf [Diakses 15
Januari 2012]
3
http://mediahki.wordpress.com/vol-viino-01februari-2010/kolom-hki-2-2/ [Diakses 15 Januari 2012]
4http://library.gunadarma.ac.id/repository/files/222000/20207750/bab-i.pdf [Diakses 15 Januari
UKM telah menjadi kelompok usaha penggerak pertumbuhan Indonesia pasca krisis global yang melanda dunia. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, jumlah UKM di Indonesia hingga tahun 2010 ialah 51,26 juta unit usaha. Kontribusi UKM terhadap Pendapatan Nasional Bruto (PDB) Nasional mencapai Rp 2.609 triliun atau hampir seperempat dari total PDB Indonesia5.
Kota Bogor merupakan salah satu daerah yang memberdayakan UKM sebagai komponen pembangunan daerah. Perkembangan perekonomian Kota Bogor dari tahun ke tahun dapat ditinjau berdasarkan perolehan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Bogor. PDRB Kota Bogor sebagai potret keadaan perekonomian memberikan gambaran situasi serta merupakan alat untuk mengkaji dan mengevaluasi kondisi perekonomian Kota Bogor. Perolehan nilai PDRB Kota Bogor mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Nilai PDRB Kota Bogor pada tahun 2010 secara umum mengalami kenaikan sebesar 18,19 persen dibanding tahun 2009, yaitu dari Rp 11.904.599,66 juta menjadi Rp 14.070.351,26 juta di tahun 2010.
Tabel 1. PDRB Kota Bogor Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2006-2010
Tahun 2006 2007 2008 2009 2010
PDRB (juta rupiah)
7.257.742,09 8.558.035,70 10.089.943,96 11.904.599,66 14.070.351,26
Sumber: Badan Perencanaan Daerah Kota Bogor (2011)
Peningkatan pertumbuhan ekonomi di Kota Bogor didukung oleh berbagai macam subsektor, diantaranya ialah industri pengolahan. Kontribusi subsektor industri pengolahan dalam perolehan PDRB Kota Bogor pada tahun 2010 ialah sebesar 25,90 persen. Peran serta industri pengolahan ini meningkat sebesar 1,3 persen apabila dibandingkan dengan tahun 2009. Lapangan usaha perdagangan, hotel, dan restoran merupakan subsektor yang memberikan andil terbesar dalam penyusunan komponen PDRB Kota Bogor dengan persentase sebesar 37,16 persen. Kontribusi berbagai sektor penyusun perekonomian Kota Bogor dapat dilihat pada Tabel 2.
5
http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=81164ukmstrategis-tanggulangi-kemiskinan&catid=77&Itemid=131 [Diakses 15 Januari 2012]
Tabel 2. Kontribusi Sektor Dalam Perekonomian Kota Bogor Tahun 2009-2010
Lapangan Usaha
PDRB Atas Dasar Harga yang Berlaku (persen)
2009 2010
Pertanian 0,2 0,19
Industri Pengolahan 25,57 25,90
Listrik, Gas dan Air Bersih 2,06 2,00
Bangunan 5,49 5,29
Perdagangan, Hotel dan Restoran 38,40 37,16
Angkutan dan Komunikasi 14,45 15,35
Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan
10,22 10,39
Jasa-Jasa 3,97 3,72
Sumber: Badan Perencanaan Daerah Kota Bogor (2011)
Industri pengolahan merupakan salah satu subsektor yang berperan dalam menopang roda perekonomian Kota Bogor. Industri makanan ialah salah satu komponen penyusun dalam industri pengolahan non migas di Kota Bogor. Industri makanan ini mencakup industri besar, sedang, industri kecil dan rumah tangga. Potensi industri pengolahan non migas khususnya industri makanan di Kota Bogor dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Potensi Industri Pengolahan Non Migas Khususnya Industri Makanan
di Kota Bogor tahun 2008-2010
Jenis Industri 2008 2009 2010 Jumlah Usaha (Unit) Tenaga Kerja (Orang) Jumlah Usaha (Unit) Tenaga Kerja (Orang) Jumlah Usaha (Unit) Tenaga Kerja (Orang) Industri menengah atau besar 22 1402 25 1422 25 1422 Industri kecil formal 213 2.062 225 2.167 240 2.213
Industri kecil non formal
1.017 4.693 1.037 4.793 1.057 4.895
Sumber: Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Bogor (2011)
Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Kota Bogor yang bergerak di bidang industri makanan, baik yang berupa industri kecil formal maupun non-formal, mengalami peningkatan dari segi jumlah unit usaha dan tenaga kerja. Hal ini membuktikan bahwa UKM merupakan industri yang sangat potensial untuk diberdayakan lebih lanjut karena mampu menyerap tenaga kerja serta tidak membutuhkan modal yang terlalu besar dalam menjalankan kegiatan produksinya.
UKM merupakan usaha yang fleksibel dengan penerapan jiwa wirausaha sehingga memiliki ketahanan yang relatif tinggi dalam menghadapi krisis global yang melanda Indonesia.
Industri roti di Kota Bogor merupakan salah satu jenis industri pengolahan makanan yang prospektif untuk dikembangkan. Roti merupakan produk makanan yang bahan utamanya tepung (kebanyakan tepung terigu) dan dalam pengolahannya melibatkan proses pemanggangan. Produk roti contohnya adalah
bakery, pie, bagel, pastry, cake dan cup cake, biskuit, kue kering (cookies), crackers, muffin, rolls, pretzel, donat, dll. Brownies sebagai bagian dari cake
merupakan kue bantat yang berwarna cokelat pekat dengan berbagai aneka variasi
topping yang menarik. Pertumbuhan industri brownies di Kota Bogor ditunjukkan
dengan semakin banyaknya usaha pengolahan brownies yang terdaftar di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Bogor dari tahun ke tahun. Daftar nama produsen brownies di Kota Bogor dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Daftar Nama Perusahaan Brownies di Kota Bogor
Nama Perusahaan Alamat Tahun Daftar
Elsari Brownies & Bakery
Jl. Pondok Rumput Raya No. 18 2006
Brownies Kukus
“Bie&Bie”
Jl. Batu Tulis Gg. Lurah No 12 RT 04/04 Kec. Bogor Selatan
2007
Monika Kebon Pedes RT 02/10 Kec.
Tanah Sareal
2007
Ramana Kebon Pedes RT 02/10 2007
Brownies “Keisha” Jl. Sukasari III No. 35 RT 07/RW
01 Kelurahan Sukasari
2010 Brownies Lapis Bogor Jl. Dr. Semeru Blok 102 No 7 RT
1/11
2011
Akasia Cake Kedung Waringin 2011
Sumber: Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Bogor (2012)
Elsari Brownies and Bakery merupakan salah satu industri kecil yang bergerak dalam bidang pengolahan brownies di Kota Bogor. Elsari ialah produsen
brownies pertama di Kota Bogor. Elsari telah melakukan kegiatan pemasaran
hingga ke daerah Jakarta, Depok, Tangerang, Bekasi, Serang, Karawang, Cibubur, Sukabumi, dan Bandung. Elsari juga memiliki berbagai agen perseorangan dan
Perkembangan Elsari Brownies and Bakery dari tahun ke tahun tidak lepas dari peranan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Bogor yang secara rutin memberikan pembinaan kepada manajemen Elsari untuk meningkatkan kompetensinya. Persaingan industri brownies yang relatif ketat di Kota Bogor menuntut manajemen Elsari untuk terus mencari inovasi agar mampu memenangkan pasar serta tetap mendapatkan perhatian dari pecinta brownies.
1.2. Perumusan Masalah
Elsari Brownies and Bakery merupakan Usaha Kecil Menengah (UKM) yang tergolong cukup berkembang di Kota Bogor. Elsari merupakan salah satu UKM binaan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Bogor. Berdasarkan informasi dari Kepala Bidang Perindustrian pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Bogor diperoleh informasi bahwa pemilik Elsari rutin menghadiri pelatihan dan pembinaan bagi pengembangan kompetensi UKM di wilayah Kota Bogor serta sangat kooperatif dalam melakukan kerjasama dengan Disperindag Kota Bogor. Pemilik Elsari juga sering mendapat kunjungan dari berbagai instansi bahkan dari luar Kota Bogor, seperti Pekalongan, Kediri, Surabaya, bahkan Palembang. Permintaan dari luar Kota Bogor pun meningkat seiring dengan kunjungan tersebut. Elsari sebagai percontohan UKM sukses telah mampu memberikan inspirasi bagi perkembangan bisnis lain baik di lingkup Kota Bogor maupun luar Kota Bogor.
Brownies merupakan makanan ringan yang disukai oleh semua kalangan,
baik tua maupun muda. Produk brownies memiliki berbagai variasi harga dan rasa sehingga konsumen memiliki beragam pilihan untuk menentukan keputusan pembeliannya. Proses produksi brownies yang relatif mudah membuat banyak industri mengusahakan produk ini. Faktor sosial budaya juga menentukan tingginya permintaan terhadap brownies di Kota Bogor. Budaya yang mengakar di masyarakat terkait dengan budaya oleh-oleh membuat bisnis brownies di Kota Bogor masih merupakan bidang yang sangat potensial untuk dikembangkan. Kota Bogor merupakan kota satelit yang menunjang perekonomian ibukota Indonesia, yaitu Jakarta. Kota Bogor memiliki lokasi yang strategis serta menyimpan berbagai potensi wisata yang beragam seperti aneka produk kuliner khas Bogor dan koleksi fashion yang unik. Kota Bogor tumbuh menjadi kota wisata yang
menjadi tujuan utama wisatawan domestik maupun mancanegara untuk menghabiskan waktu liburannya bersama keluarga. Wisatawan yang berkunjung ke Bogor pada tahun 2010 berjumlah 2,97 juta jiwa. Angka tersebut meningkat hampir 10 ribu wisatawan dibanding kunjungan pada tahun 2009 yang hanya mencapai 2,89 juta jiwa. Oleh karena itu, banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Kota Bogor turut mendukung tingginya permintaan brownies sebagai salah satu produk oleh-oleh khas dari Bogor.
Elsari merupakan perusahaan yang jeli menangkap peluang pasar sehingga produk browniesnya mampu berkembang menjadi salah satu buah tangan khas Kota Bogor. Brownies Elsari mampu bersaing karena harga yang ditawarkan relatif lebih murah dibanding produk pesaing.
Elsari Brownies and Bakery berdiri pada tahun 2003. Elsari telah mampu bertahan dari ketatnya persaingan di industri makanan jadi, khususnya brownies. Perkembangan Elsari dapat ditinjau melalui peningkatan produksi dari tahun ke tahun. Elsari telah memproduksi 49.000 kotak brownies pada tahun 2010. Produksi Elsari pada tahun 2011 kemudian meningkat menjadi 49.920 kotak
brownies.
Elsari melakukan kegiatan pemasaran melalui penjualan langsung dan agen distributor. Elsari memiliki 120 distributor yang terdiri dari agen perorangan,
counter, dan instansi. Agen perorangan merupakan ibu rumah tangga dan
karyawan. Sistem penjualan melalui agen perorangan ialah jual lepas. Hal ini berarti risiko produk ditanggung oleh agen tersebut. Counter yang bekerja sama dengan Elsari terdiri dari toko oleh-oleh dan toko roti. Counter tersebut tersebar di berbagai wilayah pemasaran Elsari Brownies and Bakery antara lain Bogor, Bandung, Karawang, Cibubur, Depok, Sukabumi, dan Tangerang. Sistem penjualan yang diterapkan pada counter ialah konsinyasi atau titip jual. Produk Elsari yang mengalami kerusakan atau tidak laku dijual akan menjadi tanggungan pihak Elsari.
Instansi yang bekerja sama dengan Elsari dalam memasarkan produknya ialah PT Kereta Api Indonesia (PT KAI). PT KAI memasok brownies Elsari untuk dimanfaatkan sebagai salah satu komponen dalam konsumsi yang disajikan kepada penumpang kereta api. Selain itu, pelayanan juga diberikan dalam bentuk
pembelian langsung brownies Elsari di Kafetaria. Armada yang melakukan kerja sama dengan Elsari ialah Kereta Api Argo Lawu dengan trayek Surabaya-Jakarta. Permintaan terhadap brownies Elsari mencapai 40 kotak per minggu dengan sistem perjanjian konsinyasi. Kerja sama ini sangat menguntungkan Elsari karena mampu memperluas jaringan pemasaran bahkan hingga ke luar Jawa.
Permintaan terhadap brownies panggang Elsari masih sangat tinggi. Hal ini dapat dilihat dari permintaan distributor per bulan mencapai 5.184 kotak sedangkan kapasitas produksi Elsari saat ini ialah 4.160 kotak per bulan (Lampiran 3 dan 4). Adanya gap antara permintaan dan penawaran mengindikasikan potensi pasar yang masih prospektif untuk dikembangkan.
Kegiatan pemasaran secara langsung dilakukan di mini counter yang terletak di depan pabrik Elsari di wilayah Pondok Rumput. Aneka produk bakery Elsari dengan berbagai variasi rasa dan ukuran dipajang di rak-rak agar konsumen lebih mudah melakukan keputusan pembeliannya. Konsumen yang membeli secara langsung di pabrik Elsari akan memperoleh potongan harga khusus sebesar Rp 1.000,00 hingga Rp 2.000,00 apabila membeli lebih dari tiga kotak. Namun seringkali pihak manajemen Elsari memberikan potongan harga walaupun konsumen hanya membeli lebih dari dua kotak. Hal ini diterapkan untuk menarik minat konsumen terhadap produk Elsari.
Proporsi penjualan langsung Elsari sangat tidak signifikan apabila dibandingkan dengan penjualan melalui agen distributor. Berdasarkan informasi yang diperoleh melalui wawancara dengan pemilik usaha, proporsi penjualan langsung hanya memiliki kontribusi sebanyak 20 persen terhadap pendapatan penjualan perusahaan. Lokasi pabrik yang tidak terletak di jalur utama Kota Bogor membuat konsumen kurang mengenal produk Elsari secara langsung. Konsumen dari luar kota Bogor akan kesulitan mengakses pabrik Elsari karena
mini counter Elsari berada di wilayah perumahan sehingga kegiatan pemasaran
secara langsung lebih banyak dilakukan oleh konsumen yang berada di sekitar lokasi pabrik. Hal ini tentu menghambat proses pemasaran langsung produk Elsari. Kelemahan inilah yang mendorong pemilik Elsari untuk membuka gerai baru pada tahun 2012 di kawasan yang lebih strategis sehingga akan memudahkan akses konsumen yang ingin membeli produk Elsari secara langsung.
Rencana pengembangan usaha akan dilakukan di Jalan Raya Padjadjaran. Lokasi tersebut merupakan jalan utama yang dilewati oleh masyarakat sebagai akses keluar dan masuk Kota Bogor serta pusat industri kuliner dan fashion. Oleh karena itu, lokasi tersebut dinilai strategis sebagai lokasi pembukaan gerai baru Elsari.
Konsep pengembangan usaha ialah pembukaan gerai baru yang dilengkapi dengan counter penjualan kopi. Budaya meminum kopi sudah menjadi gaya hidup bagi masyarakat saat ini. Masyarakat gemar untuk berkumpul dengan komunitasnya sembari ditemani dengan secangkir kopi. Bahkan, aktivitas rapat pun saat ini dilakukan di coffee shop. Oleh karena itu, pengembangan usaha
counter penjualan kopi ini sangat prospektif untuk dikembangkan.
Kopi yang ditawarkan oleh Elsari ialah espresso, cappuccino, dan coffee
latte. Pemilihan produk tersebut disesuaikan dengan target pasar Elsari. Kopi yang
dijual tidak hanya mengandung unsur kopi hitam murni namun memiliki tambahan komposisi berupa busa susu dan susu sehingga cocok dikonsumsi oleh berbagai kalangan. Kopi yang dijual memiliki kualitas terbaik, karena menggunakan bahan baku yang sama dengan coffee shop internasional, namun dengan harga yang terjangkau.
Pengaturan lay out di gerai baru Elsari dilakukan dengan mempertimbangkan kenyamanan konsumen. Gerai ini akan dilengkapi dengan sejumlah sofa nyaman berikut fasilitas internet gratis sehingga menunjang kebutuhan konsumen terhadap informasi terkini. Selain itu, konsumen akan dimanjakan dengan alunan musik lembut melalui speaker. Dengan demikian, konsumen akan merasa nyaman menghabiskan waktu di gerai baru Elsari dengan sajian brownies ditemani secangkir kopi baik dingin maupun hangat.
Rencana pengembangan usaha membutuhkan analisis keuangan yang tepat. Kebutuhan pendanaan yang tidak sedikit membuat studi kelayakan sangat penting untuk dilakukan. Kelayakan usaha Elsari baik dari sisi finansial maupun non finansial akan membuka peluang bagi pemilik untuk memperluas jangkauan pemasarannya dengan membuka gerai baru di wilayah yang lebih strategis.
Penelitian ini akan membandingkan kondisi kelayakan usaha saat ini dan saat pengembangan usaha. Pengembangan usaha dilakukan dengan menggunakan
dua buah skenario. Skenario pengembangan usaha pada dasarnya akan meningkatkan jumlah produksi, bahan baku, dan tenaga kerja guna pemenuhan kebutuhan di gerai baru. Skenario pengembangan usaha dibagi menurut kepemilikan bangunan. Skenario pengembangan usaha pertama ialah penyewaan bangunan yang akan digunakan sebagai gerai baru Elsari sekaligus counter penjualan kopi. Skenario pengembangan usaha yang lain ialah membeli bangunan yang akan digunakan sebagai pabrik sekaligus gerai baru Elsari. Hal ini dilakukan agar proses produksi hingga pemasaran dapat dilakukan secara efektif dan efisien karena berada di lokasi yang sama.
Kondisi lingkungan usaha yang tidak pasti atau dapat mengalami perubahan akan memengaruhi biaya dan manfaat yang diperoleh perusahaan dalam kegiatan operasionalnya. Elsari pernah menghadapi pengalaman terhadap berbagai perubahan, yaitu penurunan penjualan, kenaikan harga telur, dan kenaikan harga bahan bakar. Oleh karena itu, diperlukan suatu analisis untuk mengetahui pengaruh perubahan tersebut terhadap kelayakan usaha.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian sebagai berikut :
1) Bagaimana kondisi kelayakan usaha Elsari Brownies and Bakery saat ini dan kondisi kelayakan pengembangan usaha dilihat dari aspek non finansial yaitu aspek pasar, aspek teknis, aspek hukum, aspek manajemen, serta aspek sosial, ekonomi, lingkungan dan aspek finansial?
2) Bagaimana sensitivitas usaha Elsari Brownies and Bakery saat ini dan dengan pengembangan usaha apabila terjadi perubahan pada faktor-faktor yang dapat memengaruhi manfaat dan biaya?
1.3. Tujuan
Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah tersebut maka tujuan penelitian ini adalah :
1) Mengidentifikasi kondisi kelayakan usaha Elsari Brownies and Bakery saat ini dan kondisi kelayakan pengembangan usaha dilihat dari aspek non finansial yaitu aspek pasar, aspek teknis, aspek hukum, aspek manajemen, serta aspek sosial, ekonomi, lingkungan dan aspek finansial.
2) Menganalisis sensitivitas usaha Elsari Brownies and Bakery saat ini dan dengan pengembangan usaha apabila terjadi perubahan pada faktor-faktor yang dapat memengaruhi manfaat dan biaya.
1.4. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi serta masukan bagi berbagai pihak yang berkepentingan. Manfaat penelitian ini ialah sebagai berikut: 1) Bagi Elsari Brownies and Bakery, analisis ini dapat digunakan sebagai
masukan dan informasi untuk bahan pertimbangan dalam menjalankan operasional usaha dan dalam membuat rencana pengembangan usaha lebih lanjut, yaitu pembukaan gerai baru.
2) Bagi pemerintah, analisis ini dapat digunakan sebagai masukan untuk turut mendukung usaha Elsari Brownies and Bakery.
3) Bagi penulis, penelitian ini merupakan sarana untuk mengaplikasikan pengetahuan yang telah diperoleh selama kegiatan kuliah.
4) Bagi pembaca, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan referensi dan informasi mengenai kelayakan pengembangan usaha brownies.
1.5. Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini adalah mengkaji kelayakan aspek-aspek non finansial dan finansial dari usaha Elsari Brownies and Bakery. Aspek non finansial terdiri dari aspek pasar, aspek teknis, aspek hukum, aspek manajemen, serta aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Aspek finansial meliputi kelayakan usaha Elsari Brownies and Bakery saat ini (skenario usaha I) dan setelah pengembangan usaha (skenario usaha II dan III). Selain itu, sensitivitas melalui pendekatan switching value terhadap penurunan penjualan, kenaikan harga telur, dan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).