LAPORAN PENDAHULUAN RABIES LAPORAN PENDAHULUAN RABIES
1.
1. TINJAUN TEORITINJAUN TEORI
A.
A. DEFINISIDEFINISI
Rabies berasal dari kata latin “rabere” yang berarti “gila”, di Indonesia dikenal Rabies berasal dari kata latin “rabere” yang berarti “gila”, di Indonesia dikenal sebagai penyakit anjing gila. Penyakit anjing gila (rabies) adalah suatu penyakit sebagai penyakit anjing gila. Penyakit anjing gila (rabies) adalah suatu penyakit menular yang akut, menyerang susunan syaraf pusat, disebabkan oleh virus rabies menular yang akut, menyerang susunan syaraf pusat, disebabkan oleh virus rabies jenis
jenis Rhabdho Rhabdho virus virus yang yang dapat dapat menyerang menyerang semua semua hewan hewan berdarah berdarah panas panas dandan manusia.Rabies adalah suatu infeksi virus pada otak yang menyebabkan iritasi dan manusia.Rabies adalah suatu infeksi virus pada otak yang menyebabkan iritasi dan peradangan
peradangan otak otak dan dan medulla medulla spinalis.Rabies spinalis.Rabies atau atau dikenal dikenal juga juga dengan dengan istilahistilah penyakit anjing gila adalah penyak
penyakit anjing gila adalah penyakit infeksi yang bersifat akut pada susunan saraf.it infeksi yang bersifat akut pada susunan saraf.
B.
B. TAHAPAN PENYAKIT RABIESTAHAPAN PENYAKIT RABIES
Perjalanan penyakit rabies pada anjing dan kucing dibagi dalam 3 fase (tahap). Perjalanan penyakit rabies pada anjing dan kucing dibagi dalam 3 fase (tahap). a.
a. Fase Fase prodormalprodormal
hewan mencari tempat dingin dan menyendiri , tetapi dapat menjadi lebih agresif hewan mencari tempat dingin dan menyendiri , tetapi dapat menjadi lebih agresif dan nervus, pupil mata melebar dan sikap tubuh kaku (tegang). Fase ini dan nervus, pupil mata melebar dan sikap tubuh kaku (tegang). Fase ini berlangsung
berlangsung selama selama 1-3 1-3 hari hari . . Setelah Setelah fase fase Prodormal Prodormal dilanjutkan dilanjutkan fase fase EksitasiEksitasi atau bisa langsung ke fase Paralisa
atau bisa langsung ke fase Paralisa b.
b. Fase eksitasiFase eksitasi
hewan menjadi ganas dan menyerang siapa saja yang ada di sekitarnya dan hewan menjadi ganas dan menyerang siapa saja yang ada di sekitarnya dan memakan barang yang aneh-aneh. Selanjutnya mata menjadi keruh dan selalu memakan barang yang aneh-aneh. Selanjutnya mata menjadi keruh dan selalu terbuka dan tubuh gemetaran , selanjutnya masuk ke fase Paralisa.
terbuka dan tubuh gemetaran , selanjutnya masuk ke fase Paralisa. c.
c. Fase Fase paralisaparalisa
Hewan mengalami kelumpuhan pada semua bagian tubuh dan berakhir dengan Hewan mengalami kelumpuhan pada semua bagian tubuh dan berakhir dengan kematian.
kematian.
C.
C. PATOFISIOLOGIPATOFISIOLOGI
Virus rabies yang terdapat pada air liur hewan yang terinfeksi, menularkan kepada Virus rabies yang terdapat pada air liur hewan yang terinfeksi, menularkan kepada hewan lainnya atau manusia melalui gigitan atau melalui jilatan pada kulit yang tidak hewan lainnya atau manusia melalui gigitan atau melalui jilatan pada kulit yang tidak utuh . Virus akan masuk melalui saraf-saraf menuju ke medulla spinalis dan otak, utuh . Virus akan masuk melalui saraf-saraf menuju ke medulla spinalis dan otak, yang merupakan tempat mereka berkembangbiak dengan kecepatan 3mm / jam. yang merupakan tempat mereka berkembangbiak dengan kecepatan 3mm / jam. Selanjutnya virus akan berpindah lagi melalui saraf ke kelenjar liur dan masuk ke Selanjutnya virus akan berpindah lagi melalui saraf ke kelenjar liur dan masuk ke
dalam air liur. Pada 20% penderita, rabies dimulai dengan kelumpuhan pada tungkai bawah yang menjalar ke seluruh tubuh. Tetapi penyakit ini biasanya dimulai dengan periode yang pendek dari depresi mental, keresahan, tidak enak badan dan demam. Keresahan akan meningkat menjadi kegembiraan yang tak terkendali dan penderita akan mengeluarkan air liur.Kejang otot tenggorokan dan pita suara bisa menyebabkan rasa sakit yang luar biasa. Kejang ini terjadi akibat adanya gangguan daerah otak yang mengatur proses menelan dan pernafasan. Angin sepoi-sepoi dan mencoba untuk minum air bisa menyebabkan kekejangan ini. Oleh karena itu penderita rabies tidak dapat minum, gejala ini disebut hidrofobia (takut air). Lama-kelamaan akan terjadi kelumpuhan pada seluruh tubuh, termasuk pada otot-otot pernafasan sehingga menyebabkan depresi pernafasan yang dapat mengakibatkan kematian.
D. PENYEBAB
Adapun vektor dalam penularan penyakit ini adalah anjing, kucing dan binatang- binatang liar seperti kera, kelelawar, rakun, serta rubah.
E. MANIFESTASI KLINIS
Masa inkubasi adalah waktu antara penggigitan sampai timbulnya gejala penyakit . Masa inkubasi penyakit rabies pada anjing dan kucing kurang lebih 2 minggu (10 hari - 14 hari). Pada manusia 2-3 minggu dan paling lama 1 tahun. Masa inkubasi tergantung dari :
a. Lokasi gigitan, biasanya paling pendek pada orang yang digigit di daerah kepala, tempat yang tertutup celana pendek
b. Bila gigitan terdapat di banyak tempat c. Umur
d. Virulensi (banyaknya virus yang masuk melalui gigitan / jilatan)
Tanda rabies pada hewan
a. Bentuk diam ( dumb rabies )
1) Air liur menetes berlebihan, rahang bawah tidak dapat dikatupkan dan hewan tidak dapat mengunyah dan menelan makanan
2) Tidak ada keinginan pada hewan untuk menyerang atau menggigit 3) Seluruh bagian tubuh mengalami kelumpuhan
4) Hewan akan mati dalam beberapa jam
b. Bentuk ganas ( farious rabies )
1) Hewan menjadi agresif dan tidak lagi mengenal pemiliknya 2) Menyerang orang, hewan, dan benda-benda yang bergerak
3) Bila berdiri sikapnya kaku, ekor dilipat diantara kedua paha belakangnya
4) Pada anak anjing akan menjadi lebih lincah dan suka bermain , tetapi akan menggigit bila dipegang dan akan menjadi ganas dalam beberapa jam
Gejala rabies pada manusia
1) Diawali dengan demam r ingan atau sedang, sakit kepala, nafsu makan menurun, badan terasa lemah, mual, muntah dan perasaan yang abnormal pada daerah sekitar
gigitan (rasa panas, nyeri berdenyut)
2) Rasa takut yang sangat pada air, dan peka terhadap cahaya, udara, dan suara 3) Air liur dan air mata keluar berlebihan
4) Pupil mata membesar
5) Bicara tidak karuan, selalu ingin bergerak dan nampak kesakitan 6) kejang-kejang lalu lumpuh dan akhirnya meninggal dunia
F. CARA PENULARAN
Virus rabies ditemukan dalam jumlah banyak pada air liur hewan yang menderita rabies.Virus ini akan ditularkan ke hewan lain atau ke manusia terutama melalui :
1) Luka gigitan
2) Jilatan pada luka / kulit yang tidak utuh 3) Jilatan pada selaput mukosa yang utuh
G. PENCEGAHAN
Langkah-langkah untuk mencegah rabies bisa diambil sebelum terjangkit virus atau segera setelah terjangkit. Sebagai contoh, vaksinasi bisa diberikan kapada orang-orang yang beresiko tinggi terhadap terjangkitnya virus, yaitu :
· Dokter hewan
· Orang-orang yang menetap atau tinggal lebih dari 30 hari di daerah yang rabies pada anjing banyak ditemukan
· Para penjelajah gua kelelawar
Vaksinasi memberikan perlindungan seumur hidup. Tetapi kadar antibodi akan menurun, sehingga orang yang berisiko tinggi terhadap penyebaran selanjutnya harus mendapatkan dosis buster vaksinasi setiap 2 tahun.
H. PENATALAKSANAAN
a. Penanganan pertama pada orang yang digigit
1) Segera cuci luka gigitan dengan air bersih dan sabun atau detergen selama 10 sampai 15 menit (gigitan yang dalam disemprot dengan air sabun ) kemudian bilas dengan air yang mengalir , lalu keringkan dengan kain bersih.
2) Luka kemudian diberi obat luka yang tersedia (misalnya betadin) lalu dibalut dengan pembalut atau kain yang bersih.
3) Korban secepatnya dibawa ke Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat untuk mendapat perawatan lebih lanjut.
b. Penanganan terhadap hewan yang digigit
Anjing, kucing dan kera yang menggigit manusia atau hewan lainnya harus dicurigai menderita rabies.
Terhadap hewan tersebut harus diambil tindakan sebagai berikut :
1) Bila hewan tersebut adalah hewan peliharaan atau ada pemiliknya , maka hewan tersebut harus ditangkap dan diserahkan ke Dinas Peternakan setempat untuk diobservasi selama 14 hari. Bila hasil observasi negatif rabies maka hewan tersebut harus mendapat vaksinasi rabies sebelum diserahkan kembali kepada pemiliknya. 2) Bila hewan yang menggigit adalah hewan liar (tidak ada pemiliknya) maka hewan
tersebut harus diusahakan ditangkap hidup dan diserahkan kepada Dinas Peternakan setempat untuk diobservasi dan setelah masa observasi selesai hewan tersebut dapat dimusnahkan atau dipelihara oleh orang yang berkenan , setelah terlebih dahulu diberi vaksinasi rabies.
3) Bila hewan yang menggigit sulit ditangkap dan terpaksa harus dibunuh, maka kepala hewan tersebut harus diambil dan segera diserahkan ke Dinas Peternakan setempat
untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium. Jika seseorang digigit hewan, maka hewan yang menggigit harus diawasi.
I. KOMPLIKASI
Berbagai komplikasi dapat terjadi pada penderita rabies dan biasanya timbulpada fase koma. Komplikasi Neurologik dapat berupa peningkatan tekanan intra cranial:kelainan pada hypothalamus berupa diabetes insipidus, sindrom abnormalitas hormoneanti diuretic (SAHAD); disfungsi otonomik yang menyebabkan hipertensi, hipotensi,hipertermia, hipotermia, aritmia dan henti jantung. Kejang dapat local maupungeneralisata, dan sering bersamaan dengan aritmia dan gangguan respirasi.
J. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Elektroensefalogram (EEG) : dipakai untuk membantu menetapkan jenis dan fokus dari kejang.
b. Pemindaian CT: menggunakan kajian sinar X yang lebih sensitif dri biasanya untuk mendeteksi perbedaan kerapatan jaringan.
c. Magneti resonance imaging ( MRI ) : menghasilkan bayangan dengan menggunakan lapangan magnetik dan gelombang radio, berguna untuk memperlihatkan daerah daerah otak yang itdak jelas terlihat bila menggunakanpemindaian CT scan.
d. Pemindaian positron emission tomography ( PET ) : untuk mengevaluasi kejangyang membandel dan membantu menetapkan lokasi lesi, perubahan metabolikatau aliran darah dalam.
II. TINJAUAN TEORI ASKEP A. Pengkajian
1. Data subjektif
- Orang tua pasien mengatakan anaknya kesakitan pada lipatan lengan kirinya karwna digigit anjing
- Skala nyeri 3 dari (0 -10) skala nyeri yang diberikan. 2. Data objektif
- Pasien tampak meringis
- Terdapat luka bekasi gigtan anjing pada lipatan lengan kiri - Terdapat luka kemerahan pada area gigitan
3. Data Fokus
1) Primary Survey a) Airway
Pada pasien gigitan Vulnus mozum ( luka gigitan anjing ) biasanya tidak mengalami masalah pada Airway ,jalan nafasnya bersih dan tidak mengalami obstruksi/sumbatan, pembengkakan/edema pada saluran pernafasan.
b) Breathing
Pernapasan atau breathing pada pasien Vulnus mozum ( luka gigitan anjing ) dapat berbicara dengan jelas,tanpa terkesan sesak, pernafasan pasien RR =30x/menit, N=100x/menit.
c) Circulation
Pada pasien Vulnus mozum ( luka gigitan anjing ) tidak menunjukkan tanda-tandasyok/ perdarahan, nadi kuat 100x/menit.
d) Disability
Dalam pengkajian disability pasien Vulnus mozum ( luka gigitan anjing ) biasanya akan memberikan respon pain sesuai dengan pendekatan PQRST yang dirasakan. Menunjukkan kesadaran penuh E4V5M6, kesadaran pasien compos metris, reflek pupil baik.
e) Exposure ( kontrol lingkungan )
Pasien dengan Vulnus mozum ( luka gigitan anjing ) mengalami luka / jejas ( injuri ) pada lipatan lengan kiri terdapat luka gigitan anjing yang berwarna kemerahan dan sudah dibersihkan dengan betadine dan cairan NaCL 0,9 %
.
2) Secondary Survey
Fokus pengkajian pada secondary survey adalah tentang riwayat penyakit saat ini, alergi, medikasi, riwayat penyakit sebelumnya, makan dan minum terakhir pasien, even/peristiwa penyebab, tanda vital, dan keluhan nyeri pasien dengan pendekatan
PQRST. Selain focus pengkajian tersebut, pada secondary survey juga dilakukan pemeriksaan fisik pada pasien.
B. Diagnosa keperawatan
- Resiko penularan infeksi rabies berhubungan dengan gigitan anjing didasari dengan Orang tua pasien mengatakan anaknya kesakitan pada lipatan lengan kirinya karwna digigit anjing ,Skala nyeri 3 dari (0 -10) skala n yeri yang
diberikan, Pasien tampak meringis,Terdapat luka bekas gigitan anjing pada lipatan lengan kiri, Terdapat luka kemerahan pada area gigitan
C. Rencana Asuhan Keperawatan
1. Intervensi : Observasi KU pasien
Rasional : Mengetahui kondisi secara umum pasien
2. Intervensi : Rawat luka dengan betadine dan Nacl 0.9 % Rasional : Menjaga luka tetap bersih
3. Intervensi : Beri HE kepada pasien dan keluarga pasien tentang tanda dan gejala dari penyakit rabies
Rasional : Menberikan informasi kepada pasien dan keluarga agar mengetahui sedini mungkin tentang penyakit rabies
4. Intervensi : Delegatif dalam pemberian VAR ( Verorab )
Rasional : Memberikan vaksin untuk mencegah penyakit rabies bagi pasien yang tergigit.
D. Implementasi Keperawatan
Implementasi merupakan pelaksannan keperawatan oleh perawat dengan klien .(keliat, 1996;Grifith-Kenney dan Christensen, 1986)membagi menjadi 3 fase
Persiapan yang meliputi pengetahuan tentang rencana, validasi rencana, pengetahuan dan keterampilan mengimplementasikan rencana, pe rsiapan klien
dan lingkungan.
2) Fase kedua
Merupakan puncak implementasi yang berorientasi pada tujuan, keamanan fisik dan psikologi dilindungi, misalnya teknik aseptik, memberi rasa nyaman. Hal penting pada implementasi adalah mengumpulkan data yang berhubungan reaksi klien termasuk reaksi fisik, psikologi, sosial dan spiritual.
3) Fase ketiga
Merupakan terminasi perawat-klien setelah implementasi. Setelah selesai implementasi dilakukan dokumentasi yang meliputi intervensi yang sudah dilakukan.
E. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi Keperawatan adalah bagian terakhir dari proses perawatan. Semua tahap proses keperawatan (diagnosis, tujuan, intervensi) harus dievaluasi.(Keliat, 1996)
Elemen yang akan dievaluasi pada setiap komponen proses keperawatan. a. Pengkajian : akurat atau tidak, kelengkapan, validasi, kualitas, alternatif. b. Identifikasi masalah : sesuaikan dengan lingkup keperawatan, kejelasan
akurat atau tidak, akurat atau tidak penyebab, validasi, alternatif .
c. Planning : kriteria outcome (spesific, measurable, achievable, realistic, time-bound), rencana intervensi (jelas atau spesifik untuk individu), alternatif, validasi.
d. Implementasi : respon klien, respon staf, pencapaian hasil, alternatif, keamanan/keakuratan, validasi, keahlian dalam merawat.
DAFTAR PUSTAKA
Arjatmo T. 2001.Keadaan Gawat Yang Mengancam Jiwa. Jakarta: Gaya Baru.Brunner & Suddarth. 1997.
Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah.Jakarta: EGC.Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGCCarpenito, L.J. 2003.
Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Jakarta: EGC.Doengoes E.Marilyn. 2002. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGCSylvia A. Price. 2006.
Patofosiologi Konsep Penyakit. Jakarta: EGCSantosa NI. 1989.
Perawatan I (Dasar-Dasar Keperawatan).Jakarta: Depkes RI,Suharso Darto. 1994. Pedoman Diagnosis dan Terapi. Surabaya: F.K. Airlangga