• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Indonesia (PSAK) 2015

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Indonesia (PSAK) 2015"

Copied!
93
0
0

Teks penuh

(1)

Belajar Memahami & Menganalisa

PERNYATAAN

S

TANDAR

A

KUNTANSI

K

EUANGAN

2015

(2)
(3)

A

NALISA

F

INANSIL

Pengertian

Analisis finansil memiliki padanan kata (bersinonim) dengan analisa laporan finansil, analisa

laporan keuangan, analisa pembiayaan (finance), atau analisa akuntansi. Tujuannya adalah

untuk mendapatkan gambaran tentang situasi, kondisi, dan posisi keuangan suatu organisasi

seperti yayasan, partai politik, instansi, departemen atau kementerian, perusahaan, atau

lainnya.

Data dan informasi yang dibuat dan disajikan berdasarkan analisa laporan keuangan sangat

berguna bagi pengambilan keputusan suatu tindakan, kegiatan, kebijakan, dan kelangsungan

operasional suatu organisasi. Beberapa analisa dibuat dengan memasukkan pertimbangan

risiko, biaya, harga, potensi keuntungan/kerugian, dan kelayakan finansil.

Struktur laporan keuangan pada umumnya sama. Walau demikian, perbedaan sangat

mencolok terjadi di hampir semua unit usaha, divisi, organisasi, institusi, perusahaan, sektor,

dan industri. Hal ini disebabkan karena setiap individu, baik dalam kapasitasnya sebagai

orang maupun institusi, memiliki standar dan definisinya masing-masing terhadap semua hal.

Perbedaan di setiap individu didasari oleh 3 faktor utama, yakni sensasi (emosi), persepsi,

dan kepentingan atau ekspektasi.

Standar Akuntansi Keuangan (PSAK, GAAP, IFRS)

Standar yang berbeda dapat dilihat pada semakin banyaknya kesamaan dalam prinsip

akuntansi yang diterima secara umum (GAAP, Generally Accepted Accounting Principles).

Ada US GAAP, UK GAAP, GAAP ala Jerman dengan nama (Grundsätze ordnungsmäßiger

Buchführung), GAAP Indonesia (PSAK, Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan), dan

lainnya. Walau kelihatannya sama, dalam praktek akuntansinya bisa sangat berbeda. Seperti

kata pepatah, the devil is in details.

Dalam rangka komparasi internasional, standar pelaporan finansil (International Financial

Reporting Standards, IFRS) dibuat dan dijaga oleh International Accounting Standards Board

(IASB). Berdiri sejak 1 April 2001, untuk kepentingan publik, misi utama IASB adalah

mengembangkan satu standar pelaporan finansil internasional yang bermutu tinggi, dapat

dipahami, dapat memaksa (enforceable), dan diterima secara global berdasarkan

prinsip-prinsip yang diartikulasikan secara jelas.

Peran Perusahaan Audit dalam PSAK

Empat perusahaan audit global (Big Four), yakni Deloitte Touche Tohmatsu Ltd (DT),

PriceWaterHouseCoopers (PwC), Ernst & Young (EY), dan KPMG (Klynveld Main

Goerdeler - Peat Marwick) memberikan interpretasinya masing-masing dalam

membandingkan US GAAP, IFRS, dan PSAK.

Di tahun 1987, industri audit keuangan global menjadi semakin terkonsentrasi menjadi Big 8

ketika Klynveld Main Goerdeler bergabung dengan Peat Marwick menjadi KPMG. Tujuh

perusahaan audit lainnya mencakup Arthur Andersen, Ernst & Whinney, Arthur Young & Co.,

Price Waterhouse, Coopers & Lybrand, Deloitte Haskins & Sells, dan Touche Ross.

Di tahun 1989, Ernst & Whinney bergabung dengan Arthur Young & Co. menjadi Ernst &

Young di bulan Juni; dan Deloitte Haskins & Sells bergabung dengan Touche Ross menjadi

Deloitte Touche di bulan Agustus. Di bulan Juli 1998, Price Waterhouse bergabung dengan

Coopers & Lybrand menjadi PriceWaterhouseCoopers. Skandal Enron di tahun 2001

membuat Arthur Andersen harus dilikuidasi di tahun 2002.

Kebesaran 4 perusahaan audit dibangun atas dasar jaringan dan rantai kerjasama kesatuan

standar, merek, dan mutu. Dalam bahasa yang sederhana, mereka terikat dalam suatu ikatan

franchise.

(4)

Di Indonesia, PwC diwakili oleh KAP Tanudiredja, Wibisana & Rekan, PT Prima Wahana

Caraka, PT PricewaterhouseCoopers Indonesia Advisory, PT PricewaterhouseCoopers

Consulting Indonesia, (PT PricewaterhouseCoopers FAS); DT diwakili oleh KAP Osman

Bing Satrio & Eny, PT. Deloitte Konsultan Indonesia (DKI) dan Deloitte Tax Solution (DTS);

EY oleh KAP Purwantono, Suherman & Surja (PSS); dan KPMG oleh KAP Sidharta dan

Widjaja.

Analisa Finansil sebagai Alat Ukur Kinerja Keuangan

Berbagai macam angka yang terdapat dalam laporan keuangan bisa dijadikan alat dan ukuran

bagi kinerja suatu usaha. Walau demikian, angka nominal suatu perusahaan sering tidak bisa

dibandingkan secara langsung (head-to-head) dengan perusahaan sejenis atau dengan

perusahaan dari sektor atau industri lainnya.

Pembandingan secara nominal jelas bisa membedakan seberapa besar suatu usaha dengan

usaha lainnya. Dengan menggunakan pendekatan rasio, pembandingan nilai secara relatif bisa

berarti lain. Perusahaan yang besar secara nominal mungkin tidak lebih baik kinerja

keuangannya dengan perusahaan yang lain yang skalanya lebih kecil.

Baiknya kinerja keuangan perusahaan bisa dilihat dari ukuran kemampuannya menjaga

kelancaran aktivitas usaha (activity ratio), tingkat likuiditas, struktur dan kecukupan modal,

tingkat keuntungan (profitabilitas), solvabilitas, sumbangsih (insentif) terhadap stakeholder

(dalam bentuk deviden, CSR, capital gain), dan stabilitas pertumbuhan dalam jangka panjang.

Analisa Fundamental

Analisa terhadap fundamental suatu usaha yang utama adalah untung atau rugi. Supaya

untung, harga produk yang dijual harus lebih besar dari biaya produksi. Potensi rugi bisa

terealisasi bila risiko usaha tidak terkalkulasi dan tidak bisa diantisipasi dengan baik.

Berbagai langkah antisipasi seharusnya disiapkan dalam rencana contingency agar

operasional usaha tersebut bisa layak dan sehat secara finansil.

Analisa terhadap (keuangan) internal usaha (company analysis) menjadi lebih berarti bila

dibandingkan dengan perusahaan sejenis dalam satu industri (industry analysis) atau dengan

industri lain, atau dengan kondisi ekonomi makro, baik di tingkat regional, nasional, atau

internasional (economic analysis).

Penyebutan analisa fundamental biasanya banyak disandingkan dengan analisa teknikal,

valuasi instrumen finansil, aset modal (capital asset), aset finansil (financial asset), analisa

(harga saham/instrumen finansil di) pasar (perdagangan), analisa prilaku (herd behavioural

finance/economics), analisa investasi, analisa portfolio, atau lainnya.

Analisa fundamental seharusnya hanya terbatas pada valuasi usaha atau valuasi suatu

perusahaan (company analysis). Sifatnya yang dihasilkan dari kondisi (keuangan) internal

banyak direfleksikan dan ditransformasikan ke dalam harga saham (instrumen finansil)

perusahaan. Salah kaprah banyak pihak (mainstream analysts) adalah penilaian harga saham

tersebut yang dinilai dari kondisi keuangan internal harus cocok dengan kondisi keuangan

dan ekonomi di pasar finansil yang sifatnya eksternal.

Harga saham suatu perusahaan di pasar merupakan bentuk judgment dari pelaku pasar

berdasarkan berbagai sentimen dan ekspektasi yang berkembang. Harga saham yang rendah

dan memiliki frekuensi perdagangan yang tinggi biasanya merefleksinya posisi lemahnya

manajemen perusahaan dalam 'mengelola' turn-over pemegang saham.

Harga saham suatu perusahaan dan nilai suatu perusahaan bisa sejalan, atau sebaliknya, bisa

terlepas satu sama lain. Harga saham bisa naik-turun sesuai kehendak dan kemauan pasar.

Perusahaan yang kuat biasanya tidak (terlalu) terpengaruh dengan naik-turunnya harga

sahamnya di pasar.

(5)

Beberapa kondisi yang membuat harga saham terlepas dari nilai suatu perusahaan adalah bila

kinerja operasional dan kinerja keuangan tidak terlalu terpengaruh pada perubahan harga

saham yang sangat dinamis. Perusahaan tetap bisa berjalan dan operasional sesuai dengan

koridornya dan dalam batasan normal dan wajar (business as usual), tanpa hambatan yang

berarti.

Kita tidak akan pernah mengetahui secara langsung apakah tingginya pergantian pemegang

saham (minoritas) memang murni terkait atau tidak terkait dengan pemegang saham

mayoritas. Kemungkinan yang lain adalah apakah pemegang saham minoritas merupakan

figur dummy, boneka, atau kuda troya bagi pemegang saham mayoritas?

Perdagangan saham (atau instrumen finansil lainnya) memiliki pola dan tren serta aturannya

tersendiri. Beberapa istilah teknis mencakup head and shoulders, double top/bottom reversal,

rata-rata bergerak, indeks kekuatan relatif, support, resistance, channels, formasi aman

(obscure) seperti flags, panji-panji (pennants), balance days, cup and handle, candlestick

charting, put/call ratios, bull/bear ratios, short interest, implied volatility, dan lainnya.

Dinamika pasar instrumen finansil sangat tergantung pada prilaku pedagang harian (active

day traders), market makers, pit traders atau floor traders. Analisa teknik lebih baik dijadikan

sebagai cara dalam mengidentifikasi peluang perdagangan, ketimbang sebagai alat untuk

memprediksi harga. Intervensi terhadap pasar bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk

pemerintah, otoritas moneter, pemegang instrumen finansil, bahkan investor kelas kakap.

Cukup banyak teori dan pendekatan dilakukan dalam mengidentifikasi peluang (sinyal)

perdagangan. Beberapa diantaranya mencakup teori Dow, teori gelombang Elliott, hipotesa

pasar yang efisien (EMH), pendekatan mekanis atau sistematis, transformasi harga dan

volume perdagangan, identifikasi dan interpretasi pola perdagangan, korelasi harga

inter-market dan intra-inter-market, siklus usaha, siklus pasar (saham), atau lainnya.

(6)

PSAK 1 20090619 Penyajian Laporan Keuangan PSAK 1 20130723 Penyajian Laporan Keuangan PSAK 2 20091106 Laporan Arus Kas

PSAK 3 20100323 Laporan Keuangan Interim 17

PSAK 4 20091106 Laporan Keuangan Konsolidasian dan Laporan Keuangan Tersendiri 7 PSAK 4 20130723 Laporan Keuangan Konsolidasian dan Laporan Keuangan Tersendiri

PSAK 5 20090616 Segmen Operasi

PSAK 6 Pelaporan bagi Perusahaan dalam Tahap Pengembangan 1

PSAK 7 20091215 Pengungkapan Pihak-pihak Berelasi PSAK 8 20100601 Peristiwa setelah Periode Pelaporan

PSAK 9 Penyajian Aktiva Lancar dan Kewajiban Jangka Pendek

PSAK 10 20091002 Pengaruh Perubahan Kurs Valuta Asing 4

PSAK 11 Penjabaran Laporan Keuangan dalam Mata Uang Asing 10

PSAK 12 20090829 Bagian Partisipasi dalam Ventura Bersama PSAK 13 20110628 Properti Investasi

PSAK 14 20080407 Persediaan

PSAK 15 20090616 Investasi pada Entitas Asosiasi PSAK 15 20130723 Investasi pada Entitas Asosiasi PSAK 16 20110628 Aset Tetap

PSAK 17 Penyusutan

PSAK 18 20100219 Akuntansi dan Pelaporan Program Manfaat Purnakarya

PSAK 19 20091107 Aktiva Tak Berwujud 14

PSAK 20 Biaya Riset dan Pengembangan

PSAK 21 Ekuitas 1 6 6

PSAK 21 Ekuitas 2 6 6

PSAK 21 Ekuitas 3 6 6

PSAK 22 20100112 Kombinasi Bisnis PSAK 23 20091107 Pendapatan

PSAK 24 20100219 Imbalan Kerja 15

PSAK 24 20130723 Imbalan Kerja

PSAK 25 20090811 Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi, dan Kesalahan PSAK 26 20111004 Biaya Pinjaman

PSAK 27 Perkoperasian 8

PSAK 28 20101217 Akuntansi Kontrak Asuransi Kerugian

PSAK 29 Industri Minyak dan Gas

PSAK 30 20110628 Sewa 8

PSAK 30 Sewa 23

PSAK 30 Sewa 24

PSAK 31 20090130 Perbankan 4

PSAK 32 Kehutanan 1

PSAK 33 20110201 Akuntansi Pertambangan Umum PSAK 34 20101012 Kontrak Konstruksi

PSAK 35 Pendapatan Jasa Telekomunikasi 1

PSAK 36 20101217 Kontrak Asuransi Jiwa

PSAK 37 Penyelenggaraan Jalan Tol 1

PSAK 38 20110408 Restrukturisasi Entitas Sepengendali

PSAK 39 Kerjasama Operasi 11

PSAK 40 Perubahan Ekuitas Anak Perusahaan 15

PSAK 41 Waran 2

PSAK 42 Perusahaan Efek 4

PSAK 43 Anjak Piutang 2

PSAK 44 Akuntansi Aktivitas Pengembangan Real Estate 7

PSAK 45 20101023 Pelaporan Keuangan Organisasi Nirlaba

PSAK 46 20100809 Pajak Penghasilan 20

PSAK 46 20131224 Pajak Penghasilan

PSAK 47 Tanah 25

PSAK 48 20091020 Penurunan Nilai Aset PSAK 48 20131218 Penurunan Nilai Aset

PSAK 49 Reksadana 4

PSAK 50 20100522 Instrumen Keuangan: Penyajian 5

PSAK 50 20131218 Instrumen Keuangan: Penyajian 10

PSAK 51 Kuasi Re-Organisasi 10

PSAK 52 Mata Uang Pelaporan

PSAK 53 20100522 Pembayaran Berbasis Saham 3

(7)

PSAK 55 20111004 Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran 6 6 PSAK 55 20131224 Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran

PSAK 56 20101217 Laba per Saham

PSAK 57 20090811 Provisi, Liabilitas Kontinjensi, dan Aset Kontinjensi

PSAK 58 20090811 Aset Tidak Lancar yang Dimiliki untuk Dijual dan Operasi yang Dihentikan

PSAK 59 Perbankan Syariah

PSAK 60 20100522 Instrumen Keuangan: Pengungkapan PSAK 60 20131227 Instrumen Keuangan: Pengungkapan

PSAK 61 20100717 Akuntansi Hibah Pemerintah dan pengungkapan bantuan pemerintah PSAK 62 20101217 Kontrak Asuransi

PSAK 63 20100809 Pelaporan Keuangan dalam Ekonomi Hiperinflasi 19

PSAK 64 20110201 Aktivitas Eksplorasi dan Evaluasi pada Pertambangan Sumber Daya Mineral PSAK 65 20130723 Laporan Keuangan Konsolidasian

PSAK 66 20130723 Pengaturan Bersama

PSAK 67 20130723 Pengungkapan Kepentingan dalam Entitas Lain PSAK 68 20130723 Pengukuran Nilai Wajar

PSAK 101 Penyajian Laporan Keuangan Syariah

PSAK 102 Akuntansi Murabahah

PSAK 103 Akuntansi Salam

PSAK 104 Akuntansi Istishna’

PSAK 105 Akuntansi Mudharabah

PSAK 106 Akuntansi Musyarakah

PSAK 107 20080407 Akuntansi Ijarah

PSAK 108 20080407 Akuntansi Transaksi Asuransi Syariah PSAK 109 20080407 Zakat dan Infak/Sedekah

PSAK 110 20080709 Akuntansi Hawalah PSAK 111 20080709 Akuntansi Asuransi Syariah PSAK 20090130 Usaha Kecil dan Menengah (ETAP)

ISAK rev/ed Referensi

ISAK 1 1995 PSAK 21, Par.23, Penentuan Harga Pasar Dividen Saham

ISAK 2 1995 PSAK 21, Ps 25 (Penyajian Modal dalam Neraca), Ps 31 (Piutang pada Pemesan Saham tentang Penentuan Harga Pasar Dividen)

ISAK 3 2007 Perlakuan Akuntansi atas Pemberian Sumbangan atau Bantuan

ISAK 4 2007 PSAK 10 (R2007), Par.20, Alternatif Perlakuan yang Diizinkan atas Selisih Kurs

ISAK 5 2003 PSAK 50 (1998), Par.14, Pelaporan Perubahan Nilai Wajar Investasi Efek dalam Kelompok Tersedia Untuk Dijual

ISAK 6 2003 PSAK 55, Par.12 and 16, Instrumen Derivatif Melekat pada Kontrak dalam Mata Uang Asing

ISAK 7 2009 PSAK 4 (2007), Par.5 dan 19, Konsolidasi Entitas Bertujuan Khusus SIC 12 (1 Jan 2009)

ISAK 8 2009 PSAK 30 (R2007), Penentuan Apakah Suatu Perjanjian Mengandung Suatu Sewa dan Pembahasan Lebih Lanjut Ketentuan TransisiIFRIC 4 (1 Jan 2008)

ISAK 9 2009 Perubahan atas Liabilitas Aktivitas Purnaoperasi, Restorasi, dan Liabilitas Serupa IFRIC 1 (1 Jan 2009)

ISAK 10 2009 Program Loyalitas Pelanggan IFRIC 13 (1 Jan 2009)

ISAK 11 2009 Distrubusi Aset Nonkas kepada Pemilik IFRIC 17 (1 Juli 2009)

ISAK 12 2009 Pengendalian Bersama Entitas : Kontribusi Nonmoneter oleh Venturer SIC 13 (1 Jan 2009)

ISAK 13 2009 Lindung Nilai Investasi Neto dalam Kegiatan Usaha Luar Negeri IFRIC 16 (1 Jan 2009)

ISAK 14 2009 Aset Tak Berwujud - Biaya Situs Web SIC 32 (1 Jan 2009)

ISAK 15 2009 PSAK 24, Batas Aset Imbalan Pasti, Persyaratan Pendanaan Minimum dan Interaksinya IFRIC 14 (1 Jan 2009)

ISAK 16 2009 Perjanjian Konsesi Jasa IFRIC 12 (1 Jan 2009)

ISAK 17 2009 Laporan Keuangan Interim dan Penurunan Nilai IFRIC 10 (1 Jan 2009)

ISAK 18 2009 Bantuan Pemerintah – Tidak Berelasi Spesifik dengan Aktivitas Operasi SIC 10 (1 Jan 2009)

ISAK 19 2009 Penerapan Pendekatan Penyajian Kembali dalam PSAK 63: Pelaporan Keuangan dalam Ekonomi HiperinflasiIFRIC 7 (1 Jan 2009)

ISAK 20 2009 Pajak Penghasilan - Perubahan dalam Status Pajak Entitas atau Para Pemegang Saham SIC 25 (1 Jan 2009)

ISAK 21 2009 Perjanjian Konstruksi Real Estat IFRIC 15 (1 Jan 2009)

ISAK 22 2009 Perjanjian Konsesi Jasa: Pengungkapan SIC 29 (1 Jan 2009)

ISAK 23 2009 Sewa Operasi - Insentif SIC 15 (1 Jan 2009)

ISAK 24 2009 Evaluasi Substansi beberapa transaksi yang melibatkan suatu bentuk legal sewa SIC 27 (1 Jan 2009)

ISAK 25 2009 Hak Atas Tanah

(8)

DAFTAR ISI Paragraf PENDAHULUAN ... 01-06 Tujuan ... 01 Ruang Lingkup ... 02 - 04 Definisi ... 05 - 06 LAPORAN KEUANGAN ... 07 - 44 Tujuan Laporan Keuangan ... 07 Komponen Laporan Keuangan Lengkap ... 08 - 12 Karakteristik Umum ... 13 - 44 Penyajian Secara Wajar dan Kepatuhan terhadap SAK ... 13 - 22 Kelangsungan Usaha ... 23 - 24 Dasar Akrual ... 25 - 26 Materialitas dan Agregasi ... 27 - 29 Saling Hapus ... 30 - 33 Frekuensi Pelaporan ... 34 - 35 Informasi Komparatif ... 36 - 42 Konsistensi Penyajian ... 43 - 44 STRUKTUR DAN ISI ... 45 - 109 Pendahuluan... 45 - 46 Identifikasi Laporan Keuangan ... 47 - 51 Laporan Posisi Keuangan ... 52 - 78 Informasi yang Disajikan dalam Laporan Posisi Keuangan ... 52 - 57 Pembedaan Aset Lancar dan Tidak Lancar dan Laibilitas Jangka Pendek dan Jangka Panjang ... 58 - 63 Aset Lancar ... 64 - 66 Laibilitas Jangka Pendek ... 67 - 74 Informasi yang Disajikan dalam Laporan Posisi Keuangan atau Catatan atas Laporan

Keuangan ... 75 - 78 Laporan Laba Rugi Komprehensif ... 79 - 103 Informasi yang Disajikan dalam Laporan Laba Rugi Komprehensif ... 80 - 85 Laba Rugi Selama Periode ... 86 - 87 Pendapatan Komprehensif Lain Selama Periode ... 88 - 94 Informasi yang Disajikan dalam Laporan Laba Rugi Komprehensif atau Catatan atas

Laporan Keuangan ... 95 - 103 Laporan Perubahan Ekuitas ... 104 - 108 Laporan Arus Kas ... 109 Catatan atas Laporan Keuangan ... 110 - 51 Struktur ... 110 - 114 Pengungkapan Kebijakan Akuntansi ... 115 - 122 Sumber Estimasi Ketidakpastian ... 123 - 131 Modal ... 132 - 134 Pengungkapan Lain ... 135 - 136 TANGGAL EFEKTIF ... 137 PENARIKAN ... 138 Lampiran

(9)

Ikhtisar Ringkas

Secara umum perbedaan ED PSAK 1 (Revisi 2009): Penyajian Laporan Keuangan dengan PSAK 1 (Revisi 1998): Penyajian Laporan Keuangan adalah sebagai berikut:

Perihal ED PSAK 1 (Revisi 2009) PSAK 1 (Revisi 1998)

Referensi ED PSAK 1 (Revisi 2009) mengadopsi IAS 1 Presentation of Financial Statements (2009)

PSAK 1 (Revisi 1998) mengadopsi IAS 1 Disclosure of Accounting Policies (1997)

Terjemahan untuk liability Laibilitas Kewajiban

Definisi istilah Terdapat definisi istilah yang digunakan, yaitu laporan keuangan untuk tujuan umum, tidak praktis, standar akuntansi keuangan, material, catatan atas laporan keuangan, penghasilan komprehensif lain, pemilik, laba atau rugi.

Tidak terdapat definisi istilah yang digunakan.

Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan

Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan meliputi:

a. Aset

b. Kewajiban c. Ekuitas c. Pendapatan dan beban

d. Kontribusi dari dan distribusi kepada pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik

e. Arus kas

Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan meliputi:

a. Aset b. Kewajiban c. Ekuitas

d. Pendapatan dan beban e. Arus kas

Tanggung jawab atas laporan keuangan

Tidak mengatur mengenai pihak yang bertanggung jawab atas laporan keuangan.

Manajemen bertanggung jawab atas laporan keuangan.

Komponen laporan keuangan yang lengkap

Komponen keuangan yang lengkap: a. Laporan posisi keuangan (neraca) b. Laporan laba rugi komprehensif c. Laporan perubahan ekuitas d. Laporan arus kas

e. Catatan atas laporan keuangan

f. Laporan posisi keuangan awal periode komparatif sajian akibat penerapan retrospektif, penyajian kembali, atau reklasifikasi pos-pos laporan keuangan

Komponen laporan keuangan yang lengkap:

a. Neraca

b. Laporan laba rugi

c. Laporan perubahan ekuitas d. Laporan arus kas

e. Catatan atas laporan keuangan

Kepatuhan terhadap SAK Entitas membuat pernyataan kepatuhan atas SAK dalam laporan keuangan.

Tidak diatur bahwa laporan keuangan yang memuat pernyataan kepatuhan entitas atas SAK Penyimpangan dari suatu

PSAK

Penyimpangan dari suatu PSAK diijinkan jika kepatuhan atas PSAK tersebut bertentangan dengan tujuan laporan keuangan dalam KDPPLK.

Tidak diatur adanya penyimpangan dari suatu PSAK

Pemilihan dan penerapan kebijakan akuntansi ketika tidak diatur dalam PSAK

Tidak diatur bagaimana memilih dan menerapkan kebijakan akuntansi ketika tidak diatur dalam suatu PSAK. Hal tersebut akan diatur dalam PSAK 25, jika PSAK 25 sudah mengadopsi IAS 8 terkini.

Terdapat pengaturan bagaimana memilih dan menerapkan kebijakan akuntansi ketika tidak diatur dalam suatu PSAK.

Tepat waktu Tidak diatur kapan entitas sebaiknya mengeluarkan laporan keuangan.

Entitas sebaiknya mengeluarkan laporan keuangan paling lama 4 bulan setelah tanggal neraca. Pos-pos yang minimal

disajikan dalam laporan posisi keuangan

Pos-pos berikut termasuk yang minimal disajikan dalam laporan posisi keuangan: a. properti investasi

b. aset biolojik

c. total aset yang diklasifikasikan sebagai’dimiliki untuk dijual’ (held for sale) dan aset yang masuk dalam kelompok lepasan (disposal groups)

Pos-pos minimal yang disajikan dalam laporan keuangan tidak mencakup pos-pos tersebut.

(10)

Perihal ED PSAK 1 (Revisi 2009) PSAK 1 (Revisi 1998) yang diklasifikasikan sebagai ’dimiliki

untuk dijual’

d. kewajiban dan aset pajak kini

e. kewajiban pajak tangguhan dan aset pajak tangguhan

f. kewajiban yang termasuk dalam kelompok lepasan yang diklasifikasikan sebagai ’dimiliki untuk dijual’.

Klasifikasikan laibilitas yang dibiayai kembali

Laibilitas keuangan yang dibiayai kembali yang akan jatuh tempo dalam 12 bulan setelah periode pelaporan diklasifikasikan sebagai laibilitas jangka pendek, jika entitas tidak memiliki hak tanpa syarat untuk membiayai kembali.

Laibilitas tersebut diklasifikasikan sebagai laibilitas jangka panjang.

Klasifikasi laibilitas yang terjadi pelanggaran perjanjian utang.

Pelanggaran perjanjian utang yang mengakibatkan kreditur meminta percepatan pembayaran, maka laibilitas tersebut disajikan sebagai laibilitas jangka pendek, meskipun kreditur mengijinkan penundaan pembayaran selama 12 bulan setelah tanggal pelaporan tetapi persetujuan tersebut diperoleh setelah tanggal pelaporan.

Tidak diatur mengenai hal tersebut.

Pos luar biasa Penggunaan istilah “pos luar biasa” tidak diperkenankan.

Penggunaan istilah “pos luar biasa” diperkenankan.

Pos-pos yang minimal harus disajikan dalam laporan laba rugi komprehensif

Pos-pos berikut termasuk yang minimal disajikan dalam laporan laba rugi (bagian dari laporan laba rugi komprehensif): a. Beban keuangan

b. Keuntungan atau kerugian dari operasi yang dihentikan.

a. Bagian pendapatan komprehensif lain dari entitas asosiasi dan joint ventures yang menggunakan metode ekuitas.

Pos-pos yang minimal disajikan dalam laporan laba rugi tidak termasuk:

a. Beban keuangan

b. Keuntungan atau kerugian dari operasi yang dihentikan

b. Bagian pendapatan komprehensif lain dari entitas asosiasi dan joint ventures yang menggunakan metode ekuitas. Kepentingan

non-pengendali (non-controlling interest)

a. Istilah yang digunakan adalah “hak non pengendali”

b. Dalam laporan posisi keuangan, hak non pengendali disajikan dalam ekuitas. c. Dalam laporan laba rugi dan laporan

laba rugi komprehensif, laba neto dialokasikan ke pemilik ekuitas entitas induk dan hak nonpengendali.

a. Istilah yang digunakan adalah “hak minoritas”.

b. Dalam laporan posisi keuangan, hak minoritas disajikan secara terpisah antara laibilitas dan ekuitas.

d. Hak minoritas atas laba atau rugi disajikan sebagai pengurang laba neto.

Pengungkapan Pengungkapan yang diatur secara eksplisit mengenai pertimbangan yang telah dibuat manajemen dalam penerapan kebijakan akuntansi, sumber estimasi ketidakpastian, dan permodalan.

Tidak mengatur pengungkapan secara eksplisit.

(11)

Perbedaan ED PSAK 1 (Revisi 2009): Penyajian Laporan Keuangan dengan IAS 1 (2009): Presentation of Financial Statements

ED PSAK 1 (2009): Penyajian Laporan Keuangan mengadopsi seluruh pengaturan dalam IAS 1 (2009): Presentation of Financial Statements, kecuali untuk paragraf- paragraf berikut:

1. IAS 1 paragraf 2 yang menjadi PSAK 1 paragraf 2 mengenai ruang lingkup, yang mana ditambahkan kalimat yang menyatakan bahwa PSAK 1 tidak berlaku untuk entitas syariah karena penyajian laporan keuangan syariah diatur dalam PSAK 101: Penyajian Laporan Keuangan Syariah.

2. IAS 1 paragraf 5, mengenai penerapan IAS 1 bagi entitas nirlaba dan entitas sektor publik, dihilangkan. Karena pelaporan keuangan entitas nirlaba diatur dalam PSAK 45: Pelaporan Keuangan Organisasi Nirlaba dan entitas sektor publik diatur dalam standar akuntansi pemerintah bukan standar akuntansi keuangan. 3. IAS 1 paragraf 6, mengenai penerapan IAS 1 bagi entitas tanpa ekuitas (misalnya reksa dana) dan entitas

yang modalnya bukan ekuitas (misalnya koperasi), dihilangkan. Karena penyajian laporan keuangan reksa dana diatur dalam PSAK 49: Akuntansi Reksa Dana dan koperasi diatur dalam PSAK 27: Akuntansi Perkoperasian.

4. Implementation Guidance dari IAS 1 tentang ilustrasi penyajian laporan posisi keuangan disesuaikan dengan penyajian laporan posisi keuangan (neraca) yang selama ini berlaku di Indonesia. Implementation Guidance tersebut menyajikan laporan posisi keuangan sebagai berikut:

Ase t

Aset tidak lancar Aset lancar

Ekuitas

Ekuitas yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk Hak non-pengendali

Laibilitas

Laibilitas jangka panjang Laibilitas jangka pendek

Sementara Lampiran dari ED PSAK 1 menyajikan laporan posisi keuangan sebagai berikut:

Ase t Aset lancar Aset tidak lancar

Laibilitas

Laibilitas jangka pendek Laibilitas jangka panjang Ekuitas

Hak non-pengendali Ekuitas yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk

(12)

PSAK 1

PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN 20090421

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan 1 (revisi 2009) terdiri dari paragraf 1-138 dan Lampiran. Seluruh paragraf tersebut memiliki kekuatan mengatur yang sama. Paragraf yang dicetak dengan huruf tebal dan miring (bold 10 italic) mengatur prinsip-prinsip utama. PSAK 1 (revisi 2009) harus dibaca dalam kontek tujuan pengaturan dan Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan. Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk unsur-unsur yang tidak material.

PENDAHULUAN Tujuan

01. Pernyataan ini menetapkan dasar-dasar bagi penyajian laporan keuangan bertujuan umum (general purpose financial statements) yang selanjutnya disebut ‘laporan keuangan’ agar dapat dibandingkan baik dengan laporan keuangan periode sebelumnya maupun dengan laporan keuangan entitas lain. Pernyataan ini mengatur persyaratan bagi penyajian laporan keuangan, struktur laporan keuangan, dan persyaratan minimum isi laporan keuangan.

Ruang Lingkup

02. Entitas menerapkan Pernyataan ini dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan bertujuan umum sesuaidengan Standar Akuntansi Keuangan. Pernyataan ini tidak berlaku bagi penyusunan dan penyajian laporan keuangan entitas syariah.

03. PSAK lainnya mengatur persyaratan pengakuan, pengukuran, dan pengungkapan transaksi tertentu dan peristiwa lainnya.

04. Pernyataan ini tidak diterapkan bagi struktur dan isi laporan keuangan interim ringkas yang disusun sesuai dengan PSAK 3: Laporan Keuangan Interim. Namun, paragraf 13-33 diterapkan bagi laporan keuangan interim tersebut. Pernyataan ini berlaku bagi seluruh entitas, termasuk entitas yang menyajikan laporan keuangan konsolidasian dan laporan keuangan terpisah sebagaimana diatur dalam PSAK 4: Laporan Keuangan Konsolidasi.

Definisi

05. Berikut adalah istilah yang digunakan dalam Pernyataan ini:

Laporan keuangan bertujuan umum (selanjutnya disebut sebagai ’laporan keuangan’) adalah laporan keuangan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pengguna laporan.

Ketidakpraktisan. Penerapan suatu persyaratan dianggap tidak praktis jika entitas tidak dapat menerapkannya setelah melakukan usaha yang memadai.

Standar Akuntansi Keuangan (SAK) adalah Pernyataan dan Interpretasi yang disusun oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia, yang terdiri dari:

(a) Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK); (b) Interpretasi Standar Akuntansi Keuangan (ISAK).

Material. Kelalaian dalam mencantumkan atau kesalahan dalam mencatat pos-pos laporan keuangan adalah material jika, baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama, dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pengguna laporan keuangan. Materialitas tergantung pada ukuran dan sifat dari kelalaian dalam mencantumkan atau kesalahan dalam mencatat tersebut dengan memperhatikan kondisi terkait. Ukuran atau sifat dari pos laporan keuangan tersebut, atau gabungan dari keduanya, dapat menjadi faktor penentu.

Penilaian apakah suatu kelalaian dalam mencantumkan atau kesalahan dalam mencatat dapat memengaruhi keputusan ekonomi dari pengguna laporan, dan dengan demikian menjadi material, membutuhkan pertimbangan mengenai karakteristik dari masing-masing pengguna laporan tersebut.

(13)

Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan paragraf 25 menyatakan bahwa ‘pengguna laporan keuangan diasumsikan memiliki pengetahuan yang memadai tentang aktivitas ekonomi dan bisnis, akuntansi serta kemauan untuk mempelajari informasi dengan ketekunan yang wajar.’ Oleh karena itu, penilaian tersebut perlu memerhatikan bagaimana pengguna laporan dengan karakteristik tersebut diharapkan terpengaruh dalam membuat keputusan ekonomi.

Catatan atas laporan keuangan. Catatan atas laporan keuanganberisi informasi tambahan atas apa yang disajikan dalam laporan posisi keuangan, laporan pendapatan komprehensif, laporan laba rugi terpisah (jika disajikan), laporan perubahan ekuitas dan laporan arus kas.

Catatan atas laporan keuangan memberikan penjelasan atau rincian dari pos-pos yang disajikan dalam laporan keuangan tersebut dan informasi mengenai pos-pos yang tidak memenuhi kriteria pengakuan dalam laporan keuangan.

Pendapatan komprehensif lain berisi pos-pos pendapatan dan beban (termasuk penyesuaian reklasifikasi) yang tidak diakui dalam laba rugi dari laporan pendapatan komprehensif sebagaimana dipersyaratkan oleh SAK lainnya.

Komponen pendapatan komprehensif lain meliputi:

(a) perubahan dalam surplus revaluasi (lihat PSAK 16: Aset Tetap dan PSAK 19: Aset Tidak Berwujud);

(b) keuntungan dan kerugian aktuarial atas program manfaat pasti yang diakui sesuai dengan paragraf 94 PSAK 24: Imbalan Kerja;

(c) keuntungan dan kerugian yang timbul dari penjabaran laporan keuangan dari entitas asing (lihat PSAK 11: Penjabaran Laporan Keuangan dalam Mata Uang Asing);

(d) keuntungan dan kerugian dari pengukuran kembali aset keuangan yang dikategorikan sebagai ’tersedia

untuk dijual’ (lihat PSAK 55: Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran);

(e) Bagian efektif dari keuntungan dan kerugian instrumen lindung nilai dalam rangka lindung nilai arus kas(lihat PSAK 55: Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran)

Pemilik adalah pemegang instrumen yang diklasifikasikan sebagai ekuitas.

Laba rugi adalah total pendapatan dikurangi beban, tidak termasuk komponen-komponen pendapatan komprehensif lain.

Penyesuaian reklasifikasi adalah jumlah yang direklasifikasi ke bagian laba rugi periode berjalan yang sebelumnya diakui dalam pendapatan komprehensif lain pada periode berjalan atau periode sebelumnya. Total laba rugi komprehensif adalah perubahan ekuitas selama satu periode yang dihasilkan dari transaksi dan peristiwa lainnya, selain perubahan yang dihasilkan dari transaksi dengan pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik.

Total laba rugi komprehensif terdiri dari komponen “laba rugi” dan “pendapatan komprehensif lain”.

06. Meskipun Pernyataan ini menggunakan istilah “pendapatan komprehensif lain”, “laba rugi”, dan “total laba rugi komprehensif”, entitas dapat menggunakan istilah lain untuk menjelaskan jumlah-jumlah tersebut sepanjang maksudnya jelas. Misalnya, entitas dapat menggunakan istilah “laba neto”

untuk menggambarkan laba rugi.

LAPORAN KEUANGAN Tujuan Laporan Keuangan

07. Laporan keuangan adalah suatu penyajian terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja keuangan suatu entitas. Tujuan laporan keuangan adalah memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas entitas yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam pembuatan keputusan ekonomi.

Laporan keuangan juga menunjukkan hasil pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan kepada mereka. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, laporan keuangan menyajikan informasi mengenai entitas yang meliputi:

(a) aset; (b) laibilitas;

(14)

(c) ekuitas;

(d) pendapatan dan beban termasuk keuntungan dan kerugian;

(e) kontribusi dari dan distribusi kepada pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik;dan (f) arus kas.

Informasi tersebut, beserta informasi lainnya yang terdapat dalam catatan atas laporan keuangan, membantu pengguna laporan dalam memprediksi arus kas masa depan dan, khususnya, dalam hal waktu dan kepastian diperolehnya kas dan setara kas.

Komponen Laporan Keuangan Lengkap

08. Laporan keuangan yang lengkap terdiri dari komponen-komponen berikut ini: (a) laporan posisi keuangan pada akhir periode;

(b) laporan laba rugi komprehensif selama periode (c) laporan perubahan ekuitas selama periode; (d) laporan arus kas selama periode;

(e) catatan atas laporan keuangan, berisi ringkasan kebijakan akuntansi penting dan informasi penjelasan lainnya; dan

(f) laporan posisi keuangan pada awal periode komparatif yang disajikan ketika entitas menerapkan suatu kebijakan akuntansi secara retrospektif atau membuat penyajian kembali pos-pos laporan keuangan, atau ketika entitas mereklasifikasi pos-pos dalam laporan keuangannya.

Entitas diperkenankan menggunakan judul laporan selain yang digunakan dalam Pernyataan ini.

09. Entitas menyajikan semua komponen laporan keuangan lengkap dengan tingkat keutamaan yang sama.

10. Sebagaimana diperkenankan dalam paragraf 79, entitas dapat menyajikan komponen laba rugi baik sebagai bagian dari laporan laba rugi komprehensif atau laporan laba rugi terpisah. Jika laporan laba rugi disajikan, maka laporan tersebut merupakan bagian dari komponen laporan keuangan yang

lengkapdandisajikansebelumlaporanpendapatan komprehensif.

11. Beberapa entitas menyajikan, terpisah dari laporan keuangan, suatu kajian keuangan oleh manajemen yang menjelaskan karakteristik utama dari kinerja keuangan dan posisi keuangan, dan kondisi ketidakpastian utama yang dihadapi. Laporan tersebut dapat meliputi kajian mengenai:

(a) Faktor dan pengaruh-pengaruh utama yang menentukan kinerja keuangan, termasuk perubahan lingkungan tempat entitas beroperasi, tanggapan terhadap perubahan dan pengaruhnya, dan kebijakan investasi untuk memelihara serta meningkatkan kinerja keuangannya, termasuk kebijakan dividen;

(b) Sumber pendanaan entitas dan target rasio laibilitas terhadap ekuitas; dan

(c) Sumber daya entitas yang tidak diakui dalam laporan posisi keuangan sesuai dengan`SAK.

12. Entitas dapat pula menyajikan, terpisah dari laporan keuangan, laporan mengenai lingkungan hidup dan laporan nilai tambah (value added statement), khususnya bagi industri dimana faktor lingkungan hidup memegang peranan penting dan bagi industri yang menganggap karyawan sebagai kelompok pengguna laporan yang memegang peranan penting. Laporan tambahan tersebut di luar ruang lingkup Standar Akuntansi Keuangan.

Karakteristik Umum

Penyajian Secara Wajar dan Kepatuhan terhadap SAK

13. Laporan keuangan menyajikan secara wajar posisi keuangan, kinerja keuangan dan arus kas suatu entitas. Penyajian yang wajar mensyaratkan penyajian secara jujur dampak dari transaksi, peristiwa dan kondisi lain sesuai dengan definisi dan kriteria pengakuan aset, liabilitas, pendapatan dan beban yang diatur dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan . Penerapan SAK, dengan pengungkapan tambahan jika diperlukan, dianggap menghasilkan penyajian laporan keuangan secara wajar.

14. Entitas yang laporan keuangannya telah patuh terhadap SAK membuat pernyataan secara eksplisit dan tanpa kecuali tentang kepatuhan terhadap SAK tersebut dalam catatan atas laporan keuangan. Entitas tidak boleh menyebutkan bahwa laporan keuangan telah patuh terhadap SAK kecuali laporan keuangan tersebut telah patuh terhadap semua yang dipersyaratkan dalam SAK.

(15)

15. Dalam hampir semua kondisi, entitas mencapai penyajian laporan keuangan secara wajar apabila memenuhi SAK terkait. Penyajian secara wajar juga mensyaratkan entitas untuk:

(a) memilih dan menerapkan kebijakan akuntansi sesuai dengan PSAK 25. PSAK 25 mengatur hirarki pedoman otoritatif yang dipertimbangkan oleh manajemen dalam hal tidak terdapat PSAK yang secara khusus mengatur suatu pos tertentu.

(b) menyajikan informasi, termasuk kebijakan akuntansi, sedemikian rupa sehingga dapat memberikan informasi yang relevan, andal, dapat diperbandingkan, dan mudah dipahami.

(c) memberikan pengungkapan tambahan jika kesesuaian dengan persyaratan khusus dalam SAK tidak cukup bagi pengguna laporan keuangan untuk memahami pengaruh dari transaksi tertentu, peristiwa dan kondisi lain terhadap posisi keuangan dan kinerja keuangan entitas.

16. Entitas tidak dapat memperbaiki kebijakan akuntansi yang tidak tepat baik dengan pengungkapan kebijakan akuntansi yang digunakan atau pengungkapan dalam catatan atas laporan keuangan atau materi penjelasan.

17. Dalam keadaan yang sangat jarang terjadi, ketika manajemen menyimpulkan bahwa kepatuhan terhadap suatu ketentuan dalam suatu PSAK akan memberikan pemahaman yang salah yang akan bertentangan dengan tujuan laporan keuangan yang diatur dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan, maka entitas menyimpang dari ketentuan tersebut dengan cara yang ditentukan dalam paragraf 18 jika peraturan yang relevan mensyaratkan atau tidak melarang penyimpangan tersebut.

18. Ketika entitas menyimpang dari ketentuan suatu PSAK sesuai dengan paragraf 17, maka entitas mengungkapkan:

(a) bahwa manajemen telah menyimpulkan bahwa laporan keuangan menyajikan secara wajar posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas entitas;

(b) bahwa laporan keuangan telah patuh terhadap SAK terkait, kecuali pos yang menyimpang dari ketentuan tertentu untuk mencapai penyajian yang wajar;

(c) nama PSAK yang tidak diterapkan, sifat penyimpangan, termasuk perlakuan yang disyaratkan oleh PSAK tersebut, alasan mengapa perlakuan tersebut akan memberikan pemahaman yang salah dalam situasi tersebut sehingga akan bertentangan dengan tujuan laporan keuangan yang diatur dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan, dan perlakuan yang diterapkan; dan (d) untuk masing periode yang disajikan, pengaruh keuangan dari penyimpangan untuk

masing-masing pos dalam laporan keuangan yang seharusnya dilaporkan sesuai dengan ketentuan tersebut. 19. Ketika entitas menyimpang dari suatu ketentuan dalam suatu PSAK pada periode sebelumnya, dan penyimpangan tersebut berpengaruh terhadap jumlah yang diakui dalam laporan keuangan pada periode berjalan, maka entitas membuat pengungkapan sebagaimana diatur pada paragraf 18 (c) dan (d).

20. Contoh implementasi paragraf 19 adalah ketika entitas pada periode sebelumnya menyimpang dari suatu ketentuan dalam suatu PSAK untuk pengukuran aset atau liabilitas dan penyimpangan tersebut memengaruhi pengukuran atas perubahan aset dan laibilitas yang diakui pada laporan keuangan periode berjalan.

21. Dalam keadaan yang sangat jarang terjadi, ketika manajemen menyimpulkan bahwa kepatuhan terhadap suatu ketentuan dalam suatu PSAK akan memberikan pemahaman yang salah yang bertentangan dengan tujuan laporan keuangan yang diatur dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan, tetapi peraturan yang relevan melarang penyimpangan tersebut, maka entitas semaksimal mungkin mengurangi pemahaman yang salah tersebut dengan mengungkapkan:

(a) nama PSAK terkait, sifat ketentuan, dan alasan mengapa manajemen menyimpulkan bahwa kepatuhan terhadap ketentuan dimaksud akan memberikan pemahaman yang salah yang bertentangan dengan tujuan laporan keuangan yang diatur dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan; dan

(b) untukmasing-masing periode yang disajikan, penyesuaian terhadap masing-masing pos dalam laporan keuangan yang dipandang perlu oleh manajemen untuk mencapai penyajian yang wajar.

22. Untuk tujuan penerapan paragraf 17 – 21, informasi tertentu dapat bertentangan dengan tujuan laporan keuangan ketika informasi tersebut tidak menyajikan secara jujur transaksi, peristiwa dan kondisi lain baik yang diminta untuk disajikan atau sewajarnya diharapkan untuk disajikan dan, konsekuensinya, informasi tersebut dapat memengaruhi keputusan ekonomi dari pengguna laporan keuangan.

(16)

Ketika menilai apakah kepatuhan terhadap ketentuan khusus dari suatu PSAK akan memberikan pemahaman yang salah yang bertentangan dengan tujuan laporan keuangan yang diatur dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan, manajemen mempertimbangkan:

(a) alasan tujuan laporan keuangan tidak tercapai dalam kondisi tersebut; dan

(b) bagaimana perbedaan kondisi entitas dengan kondisi entitas lain yang mematuhi persyaratan. Jika entitas lain dengan kondisi yang sama menerapkan persyaratan tersebut, maka akan muncul asumsi yang dapat diperdebatkan bahwa kepatuhan terhadap persyaratan tersebut tidak akan memberikan pemahaman yang salah yang bertentangan dengan tujuan laporan keuangan yang diatur dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan.

Kelangsungan Usaha

23. Dalam menyusun laporan keuangan, manajemen membuat penilaian tentang kemampuan entitas untuk mempertahankan kelangsungan usaha. Entitas menyusun laporan keuangan berdasarkan asumsi kelangsungan usaha, kecuali manajemen bertujuan untuk melikuidasi entitas atau menghentikan perdagangan, atau tidak mempunyai alternatif lainnya yang realistis selain melakukannya.

Jika manajemen menyadari (dalam membuat penilaiannya) mengenai adanya ketidakpastian yang material sehubungan dengan peristiwa atau kondisi yang dapat menimbulkan keraguan yang signifikan tentang kemampuan entitas untuk mempertahankan kelangsungan usaha, maka entitas mengungkapkan ketidakpastian tersebut.

Jika entitas menyusun laporan keuangan tidak berdasarkan asumsi kelangsungan usaha, maka entitas mengungkapkan fakta tersebut, bersama dengan dasar yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan dan alasan mengapa entitas tidak dipertimbangkan sebagai entitas yang dapat menggunakan asumsi kelangsungan usaha.

24. Dalam mempertimbangkan apakah dasar asumsi kelangsungan usaha adalah tepat, manajemen memerhatikan semua informasi masa depan, paling sedikit (namun tidak dibatasi untuk) dua belas bulan dari akhir periode pelaporan. Tingkat pertimbangan tergantung pada fakta dari setiap kasus.

Jika selama ini entitas menghasilkan laba dan mempunyai akses ke sumber pembiayaan, maka dapat disimpulkan bahwa asumsi kelangsungan usaha telah sesuai tanpa melalui analisis rinci.

Dalam kasus lain, manajemen perlu memerhatikan faktor yang mempengaruhi profitabilitas masa kini maupun masa yang akan datang, jadual pembayaran utang dan sumber potensial pembiayaan pengganti sebelum dapat menyimpulkan bahwa asumsi kelangsungan usaha telah sesuai.

Dasar Akrual

25. Entitas menyusun laporan keuangan atas dasar akrual, kecuali laporan arus kas.

26. Ketika akuntansi berbasis akrual digunakan, entitas mengakui pos-pos sebagai aset, laibilitas, ekuitas, pendapatan dan beban (unsur-unsur laporan keuangan) ketika pos-pos tersebut memenuhi definisi dan kriteria pengakuan untuk unsur-unsur tersebut dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan.

Materialitas dan Agregasi

27. Entitas menyajikan secara terpisah kelompok pos sejenis yang material. Entitas menyajikan secara terpisah pos yang mempunyai sifat atau fungsi berbeda kecuali pos tersebut tidak material.

28. Laporan keuangan merupakan hasil dari pemrosesan sejumlah transaksi atau peristiwa lain yang diklasifikasikan sesuai sifat atau fungsinya. Tahap akhir dari proses penggabungan dan pengklasifikasian adalah penyajian dalam laporan keuangan.

Jika suatu klasifikasi pos tidak material, maka dapat digabungkan dengan pos lain yang sejenis dalam laporan keuangan atau dalam catatan atas laporan keuangan. Suatu pos mungkin tidak cukup material untuk disajikan terpisah dalam laporan keuangan tetapi cukup material untuk disajikan terpisah dalam catatan atas laporan keuangan.

29. Entitas tidak diperlukan untuk memberikan suatu pengungkapan khusus yang diminta oleh suatu PSAK jika informasi tersebut tidak material.

(17)

30. Entitas tidak boleh melakukan saling hapus atas aset dan laibilitas atau pendapatan dan beban, kecuali disyaratkan atau diijinkan oleh suatu PSAK.

31. Entitas melaporkan secara terpisah untuk aset dan laibilitas serta pendapatan dan beban. Saling hapus dalam laporan laba rugi komprehensif atau laporan posisi keuangan atau dalam laporan laba rugi terpisah (jika disajikan) mengurangi kemampuan pengguna laporan keuangan baik untuk memahami transaksi, peristiwa dan kejadian lain yang telah terjadi maupun untuk menilai arus kas entitas di masa depan, kecuali jika saling hapus mencerminkan substansi transaksi atau peristiwa.

Pengukuran aset secara neto setelah dikurangi penyisihan penilaian (misalnya, penyisihan keusangan atas persediaaan dan penyisihan piutang tak tertagih) tidak termasuk kategori saling hapus.

32. PSAK 23: Pendapatan mendefinisikan pendapatan dan mensyaratkan entitas untuk mengukurnya berdasarkan nilai wajar dari jumlah yang diterima atau akan diterima, dengan mempertimbangkan jumlah potongan dagang dan rabat volume yang diperbolehkan. Dalam aktivitas normal, entitas juga melakukan transaksi lain yang bukan merupakan penghasil utama pendapatan dan bersifat insidentil.

Entitas menyajikan hasil dari transaksi tersebut dengan mengurangkan setiap pendapatan dengan beban terkait yang timbul dari transaksi yang sama sepanjang penyajian tersebut mencerminkan substansi dari transaksi atau peristiwa lain. Misalnya:

(a) entitas menyajikan keuntungan dan kerugian atas pelepasan aset tidak lancar, termasuk investasi dan aset operasional, dilaporkan dengan mengurangkan penerimaan dari pelepasan dengan nilai tercatat dan beban yang timbul dari pelepasan aset tersebut;

(b) entitas dapat mengurangkan pengeluaran yang terkait dengan ketentuan yang diakui sesuai dengan PSAK 57 dan diganti berdasarkan perjanjian kontraktual dengan pihak ketiga (seperti perjanjian garansi dari pemasok) dengan penggantian yang diterima.

33. Entitas menyajikan keuntungan dan kerugian yang timbul dari suatu kelompok transaksi yang sejenis secara neto, misalnya keuntungan dan kerugian dari transaksi mata uang asing atau keuntungan dan kerugian yang timbul dari instrumen keuangan yang dikategorikan sebagai diperdagangkan. Namun, entitas menyajikan keuntungan dan kerugian tersebut secara terpisah jika keuntungan atau kerugian tersebut material.

Frekuensi Pelaporan

34. Entitas menyajikan laporan keuangan lengkap (termasuk informasi komparatif) setidaknya secara tahunan. Jika akhir periode pelaporan entitas berubah dan laporan keuangan tahunan disajikan untuk periode yang lebih panjang atau lebih pendek dari periode satu tahun, sebagai tambahan terhadap periode cakupan laporan keuangan, maka entitas mengungkapkan:

(a) alasan penggunaan periode pelaporan yang lebih panjang atau lebih pendek; dan

(b) fakta bahwa jumlah yang disajikan dalam laporan keuangan tidak dapat diperbandingkan secara keseluruhan.

35. Umumnya entitas secara konsisten menyiapkan laporan keuangan untuk periode satu tahun. Namun, untuk alasan praktis, beberapa entitas lebih memilih untuk melaporkan, sebagai contoh, untuk periode 52 minggu. Pernyataan ini tidak menghalangi praktik seperti ini.

Informasi Komparatif

36. Informasi kuantitatif diungkapkan secara komparatif dengan periode sebelumnya untuk seluruh jumlah yang dilaporkan dalam laporan keuangan periode berjalan, kecuali dinyatakan lain oleh SAK. Informasi komparatif yang bersifat naratif dan deskriptif dari laporan keuangan periode sebelumnya diungkapkan kembali jika relevan untuk pemahaman laporan keuangan periode berjalan.

37. Entitas yang mengungkapkan informasi komparatif menyajikan minimal dua laporan posisi keuangan, dua laporan untuk tiap jenis laporan lainnya, dan catatan atas laporan keuangan.

Jika entitas menerapkan kebijakan akuntansi secara retrospektif atau membuat penyajian kembali secara retrospektif atas pos-pos dalam laporan keuangan atau mereklasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan, maka entitas menyajikan minimal tiga laporan posisi keuangan, dua laporan untuk tiap jenis laporan lainnya, dan catatan atas laporan keuangan. Entitas menyajikan laporan posisi keuangan pada:

(a) akhir periode berjalan,

(b) akhir periode sebelumnya (yang sama dengan awal periode berjalan), dan (c) permulaan dari periode komparasi terawal.

(18)

38. Pada beberapa kasus, informasi naratif yang disajikan pada laporan keuangan periode sebelumnya masih tetap relevan untuk diungkapkan pada periode berjalan. Misalnya, rincian tentang sengketa hukum yang dihadapi dengan hasil akhirnya belum diketahui secara pasti pada periode sebelumnya dan masih dalam proses penyelesaian, perlu diungkapkan kembali pada periode berjalan.

Pengguna akan memperoleh manfaat dari informasi adanya ketidakpastian pada akhir periode pelaporan sebelumnya, dan langkah yang telah dilakukan selama periode berjalan untuk mengatasi ketidakpastian tersebut.

39. Jika entitas mengubah penyajian atau pengklasifikasian pos-pos dalam laporan keuangan, maka entitas mereklasifikasi jumlah komparatif kecuali reklasifikasi tersebut tidak praktis untuk dilakukan. Jika entitas mereklasifikasi jumlah komparatif, maka entitas mengungkapkan:

(a) sifat reklasifikasi;

(b) jumlah masing-masing pos atau gabungan beberapa pos yang direklasifikasi; dan (c) alasan reklasifikasi.

40. Jika reklasifikasi jumlah komparatif tidak praktis untuk dilakukan, maka entitas mengungkapkan: (a) alasan tidak mereklasifikasi jumlah tersebut, dan

(b) sifat penyesuaian yang akan dilakukan jika jumlah tersebut direklasifikasi.

41. Peningkatan komparabilitas informasi antar periode membantu pengguna dalam membuat keputusan ekonomi, khususnya memungkinkan penilaian atas tren informasi keuangan untuk tujuan prediksi.

Dalam beberapa keadaan, reklasifikasi informasi komparatif tidak praktis untuk dilakukan terhadap periode sebelumnya untuk mencapai komparabilitas dengan periode berjalan. misalnya entitas mungkin belum mengumpulkan data dalam periode sebelumnya yang memungkinkan untuk melakukan reklasifikasi, dan mungkin tidak praktis untuk menyusun kembali informasi tersebut.

42. PSAK 25 mengatur penyesuaian terhadap informasi komparatif yang dipersyaratkan ketika entitas melakukan perubahan kebijakan akuntansi atau koreksi atas kesalahan mendasar.

Konsistensi Penyajian

43. Penyajian dan klasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan antar periode harus konsisten kecuali: (a) setelah terjadi perubahan yang signifikan terhadap sifat operasi entitas atau review atas laporan

keuangan, terlihat secara jelas bahwa penyajian atau pengklasifikasian yang lain akan lebih tepat untuk digunakan dengan mempertimbangkan kriteria untuk penentuan dan penerapan kebijakan akuntansi dalam PSAK 25; atau

(b) perubahan tersebut diperkenankan oleh suatu PSAK.

44. Misalnya, suatu akusisi atau pelepasan yang signifikan atau review atas penyajian laporan keuangan, mungkin akan menghasilkan kesimpulan bahwa laporan keuangan harus disajikan secara berbeda. Namun demikian perubahan penyajian dapat dilaksanakan jika perubahan tersebut memberikan informasi yang andal dan lebih relevan bagi pengguna atau struktur yang baru mempunyai kecenderungan akan dipergunakan seterusnya.

Jika dilakukan perubahan penyajian laporan keuangan, maka entitas mereklasifikasi informasi komparatif sesuai dengan paragraf 39 dan 40.

STRUKTUR DAN ISI Pendahuluan

45. Pernyataan ini mensyaratkan pengungkapan khusus dalam laporan posisi keuangan atau laporan laba rugi komprehensif, laporan laba rugi terpisah (jika disajikan), atau laporan perubahan ekuitas dan mensyaratkan pengungkapan dari pos-pos lainnya pada laporan keuangan tersebut atau catatan atas laporan keuangan. PSAK 2: Laporan Arus Kas mengatur persyaratan untuk penyajian informasi arus kas.

46. Pernyataan ini terkadang menggunakan istilah “pengungkapan” dalam arti luas, meliputi pos-pos yang disajikan di dalam laporan keuangan. Pengungkapan juga dipersyaratkan oleh SAK lain. Kecuali dinyatakan lain dalam Pernyataan ini atau SAK lainnya, pengungkapan tersebut dapat dilakukan dalam laporan keuangan. Identifikasi Laporan Keuangan

(19)

47. Entitas mengidentifikasikan laporan keuangan secara jelas dan membedakannya dari informasi lain dalam dokumen publikasi yang sama.

48. SAK hanya berlaku untuk laporan keuangan, dan tidak untuk informasi lain yang disajikan dalam laporan tahunan, dokumen yang disampaikan kepada regulator atau dokumen

lainnya. Oleh karena itu, sangat penting bahwa pengguna dapat membedakan laporan yang disusun sesuai SAK dengan informasi lain yang juga bermanfaat bagi pengguna laporan.

49. Entitas mengidentifikasi secara jelas setiap laporan keuangan dan catatan atas laporan keuangan. Di samping itu, entitas menyajikan informasi berikut ini secara jelas, dan mengulangnya jika dibutuhkan sehingga dapat dipahami:

(a) nama entitas pembuat laporan keuangan atau identitas lain, dan setiap perubahan informasi dari akhir periode laporan sebelumnya;

(b) apakah merupakan laporan keuangan satu entitas atau suatu kelompok entitas;

(c) tanggal akhir periode pelaporan atau periode yang dicakup oleh laporan keuangan atau catatan atas laporan keuangan;

(d) mata uang pelaporan sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 52; dan

(e) pembulatan yang digunakan dalam penyajian jumlah dalam laporan keuangan.

50. Entitas telah memenuhi persyaratan paragraf 49 dengan menyajikan judul yang tepat untuk halaman, laporan keuangan, catatan atas laporan keuangan, kolom dan sejenisnya. Pertimbangan diperlukan untuk menentukan cara terbaik dalam menyajikan informasi tersebut. Misalnya, ketika entitas menyajikan laporan keuangan secara elektronik, maka halaman-halaman terpisah tidak selalu digunakan; selanjutnya entitas menyajikan hal-hal di atas untuk memastikan bahwa informasi yang dicakup dalam laporan keuangan dapat dipahami.

51. Agar lebih dapat dipahami, entitas pada umumnya menyusun laporan keuangan dengan menyajikan informasi mata uang dalam unit ribuan atau jutaan. Hal ini diperkenankan sepanjang entitas mengungkapkan tingkat pembulatan dan tidak menghilangkan informasi yang material.

Laporan Posisi Keuangan

Informasi yang Disajikan dalam Laporan Posisi Keuangan

52. Laporan posisi keuangan minimal mencakup penyajian jumlah pos-pos berikut: (a) aset tetap;

(b) properti investasi; (c) aset tidak berwujud;

(d) aset keuangan (tidak termasuk jumlah yang disajikan pada (e), (h) dan (i)); (e) investasi dengan menggunakan metode ekuitas;

(f) aset biolojik; (g) persediaan;

(h) piutang dagang dan piutang lainnya; (i) kas dan setara kas;

(j) total aset yang diklasifikasikan sebagai aset yang dimiliki untuk dijual dan aset yang termasuk dalam kelompok lepasan yang diklasifikasikan sebagai yang dimiliki untuk dijual sesuai dengan PSAK 58; (k) utang dagang dan terutang lainnya;

(l) kewajiban diestimasi;

(m) laibilitas keuangan (tidak termasuk jumlah yang disajikan dalam (k) dan (l)); (n) laibilitas dan aset untuk pajak kini sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 46; (o) laibilitas dan aset pajak tangguhan, sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 46;

(p) laibilitas yang termasuk dalam kelompok yang dilepaskan yang diklasifikasikan sebagai yang dimiliki untuk dijual sesuai dengan PSAK 58;

(q) kepentingan non-pengendali, disajikan sebagai bagian dari ekuitas; dan

(r) modal saham dan cadangan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk.

53. Entitas menyajikan pos-pos tambahan, judul dan subtotal dalam laporan posisi keuangan jika penyajian tersebut relevan untuk pemahaman posisi keuangan entitas.

(20)

54. Ketika entitas menyajikan aset lancar dan tidak lancar dan laibilitas jangka pendek dan jangka panjang sebagai klasfikasi yang terpisah dalam laporan posisi keuangan, maka aset (laibilitas) pajak tangguhan tidak boleh diklasifikasikan sebagai aset lancar (laibilitas jangka pendek).

55. Pernyataan ini tidak mengatur susunan atau format penyajian pos. Paragraf 52 menjelaskan daftar pos-pos yang berbeda berdasarkan sifat atau fungsinya untuk menjamin penyajian terpisah di dalam laporan pos-posisi keuangan. Sebagai tambahan:

(a) suatu pos disajikan terpisah jika ukuran, sifat atau fungsi dari pos tersebut atau agregasi pos-pos yang sama menyebabkan penyajian terpisah menjadi relevan untuk memahami laporan posisi keuangan entitas; (b) penjelasan yang digunakan dan urutan dari pos-pos atau agregasi pos-pos yang sama dapat diubah sesuai

dengan sifat entitas dan transaksinya, untuk memberikan informasi yang relevan dalam memahami posisi keuangan entitas. Misalnya, institusi keuangan mungkin mengubah penjelasan di atas dalam rangka memberikan informasi yang relevan mengenai operasi institusi keuangan.

56. Entitas mempertimbangkan apakah pos-pos tambahan disajikan secara terpisah didasarkan atas penilaian dari:

(a) sifat dan likuiditas aset;

(b) fungsi aset tersebut dalam entitas; (c) jumlah, sifat dan jangka waktu laibilitas.

57. Penggunaan dasar pengukuran yang berbeda untuk kelompok aset yang berbeda menunjukkan bahwa sifat dan fungsi aset tersebut berbeda dan, oleh karena itu, entitas menyajikan kelompok aset yang berbeda secara terpisah. Misalnya, kelompok aset tetap yang berbeda dapat dicatat berdasarkan biaya perolehan atau jumlah yang direvaluasi sesuai dengan PSAK 16.

Pembedaan Aset Lancar dan Tidak Lancar dan Laibilitas Jangka Pendek dan Jangka Panjang

58. Entitas menyajikan aset lancar dan tidak lancar dan laibilitas jangka pendek dan jangka panjang sebagai klasifikasi yang terpisah dalam laporan posisi keuangan sesuai dengan paragraf 64-74, kecuali penyajian berdasarkan likuiditas memberikan informasi yang lebih relevan dan dapat diandalkan. Jika pengecualian tersebut diterapkan, maka entitas menyajikan seluruh aset dan laibilitas berdasarkan urutan likuiditas. 59. Apapun metode penyajian yang digunakan, entitas mengungkapkan jumlah yang diharapkan dapat dipulihkan atau diselesaikan setelah lebih dari dua belas bulan untuk setiap pos aset dan laibilitas yang menggabungkan jumlah yang diharapkan akan dipulihkan atau diselesaikan:

(a) tidak lebih dari dua belas bulan setelah periode pelaporan; dan (b) lebih dari dua belas bulan setelah periode pelaporan

60. Ketika entitas menyediakan barang atau jasa dalam siklus operasi yang dapat diidentifikasi secara jelas, maka klasifikasi aset lancar dan tidak lancar serta laibilitas jangka pendek dan jangka panjang dalam laporan posisi keuangan memberikan informasi yang bermanfaat dengan membedakan aset neto yang digunakan secara terus menerus sebagai modal kerja dari aset neto yang digunakan dalam operasi entitas jangka panjang.

Pengklasifikasian tersebut juga menunjukkan aset yang diharapkan akan direalisasi dalam siklus operasi berjalan dan laibilitas yang akan jatuh tempo pada periode yang sama.

61. Untuk beberapa entitas, seperti institusi keuangan, penyajian aset dan laibilitas berdasarkan urutan likuiditas memberikan informasi yang lebih relevan dan dapat diandalkan dibandingkan penyajian berdasarkan lancar dan tidak lancar atau jangka pendek dan jangka panjang karena entitas pada industri tersebut tidak menyediakan barang atau jasa selama siklus operasi entitas yang dapat diidentifikasi secara jelas.

62. Dalam menerapkan paragraf 58, entitas diperkenankan untuk menyajikan beberapa aset menggunakan klasifikasi lancar dan tidak lancar, dan laibilitas menggunakan jangka pendek dan jangka panjang dan lainnya berdasarkan likuiditas jika hal tersebut memberikan informasi yang lebih relevan dan dapat diandalkan. Kebutuhan untuk mengkombinasikan basis penyajian dimungkinkan jika entitas memiliki operasi yang beragam.

63. Informasi mengenai tanggal perkiraan realisasi aset dan laibilitas berguna dalam penilaian likuiditas dan solvabilitas entitas. PSAK 31 mensyaratkan pengungkapan tanggal jatuh tempo aset keuangan dan laibilitas keuangan. Aset keuangan termasuk piutang usaha dan piutang lainnya, dan laibilitas keuangan termasuk utang usaha dan terutang lainnya.

(21)

Informasi tentang tanggal perkiraan pemulihan aset nonmoneter, seperti persediaan, dan tanggal perkiraan dari penyelesaian laibilitas seperti kewajiban diestimasi juga bermanfaat, terlepas dari apakah aset diklasifikasikan sebagai lancar dan tidak lancar dan laibilitas sebagai jangka panjang dan jangka pendek.

Misalnya, entitas mengungkapkan jumlah persediaan yang diharapkan dapat dipulihkan lebih dari dua belas bulan setelah periode pelaporan.

Aset Lancar

64. Entitas mengklasifikasikan aset sebagai aset lancar, jika:

(a) entitas mengharapkan akan merealisasikan aset, atau bermaksud untuk menjual atau menggunakannya, dalam siklus operasi normal;

(b) entitas memiliki aset untuk tujuan diperdagangkan;

(c) entitas mengharapkan akan merealisasi aset dalam jangka waktu 12 bulan setelah periode pelaporan; atau (d) kas atau setara kas (seperti yang dinyatakan dalam PSAK 2: Laporan Arus Kas) kecuali aset tersebut

dibatasi pertukarannya atau penggunaannya untuk menyelesaikan laibilitas sekurang-kurangnya 12 bulan setelah periode pelaporan.

Entitas mengklasifikasikan aset yang tidak termasuk kategori tersebut sebagai aset tidak lancar.

65. Pernyataan ini menggunakan istilah "tidak lancar" untuk mencakup aset tetap, aset tidak berwujud, dan aset keuangan yang bersifat jangka panjang. Pernyataan ini tidak melarang penggunaan istilah lainnya sepanjang pengertiannya jelas.

66. Siklus operasi entitas merupakan jangka waktu antara perolehan aset untuk pemrosesan dan realisasinya dalam bentuk kas atau setara kas. Ketika siklus operasi normal entitas tidak dapat diidentifikasikan secara jelas, maka diasumsikan selama 12 bulan.

Aset lancar mencakup aset (seperti persediaan dan piutang dagang) yang dijual, dikonsumsi atau direalisasikan sebagai bagian siklus operasi normal meskipun aset tersebut tidak diharapkan untuk direalisasikan dalam jangka waktu 12 bulan setelah periode pelaporan.

Aset lancar juga mencakup aset yang dimiliki untuk diperdagangkan (aset keuangan dalam kategori ini diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk diperdagangkan sesuai dengan PSAK 55) dan bagian lancar dari aset keuangan tidak lancar.

Laibilitas Jangka Pendek

67. Suatu laibilitas diklasifikasikan sebagai laibilitas jangka pendek jika:

(a) entitas mengharapkan akan menyelesaikan laibilitas tersebut dalam siklus operasi normalnya; (b) entitas memiliki laibilitas tersebut untuk tujuan diperdagangkan;

(c) laibilitas tersebut jatuh tempo untuk diselesaikan dalam jangka waktu 12 bulan setelah periode pelaporan; atau

(d) entitas tidak memiliki hak tanpa syarat untuk menunda penyelesaian laibilitas selama sekurang-kurangnya 12 bulan setelah periode pelaporan.

Entitas mengklasifikasi laibilitas yang tidak termasuk kategori tersebut sebagai laibilitas jangka panjang.

68. Beberapa laibilitas jangka pendek, seperti utang dagang, beberapa akrual untuk biaya karyawan dan biaya operasi lainnya, merupakan bagian modal kerja yang digunakan dalam siklus operasi normal.

Entitas mengklasifikasikan laibilitas tersebut sebagai laibilitas jangka pendek meskipun laibilitas-laibilitas tersebut jatuh tempo untuk diselesaikan lebih dari 12 bulan setelah periode pelaporan. Siklus operasi normal yang sama diterapkan pada aset dan laibilitas entitas. Jika tidak dapat diidentifikasi secara jelas, maka siklus operasi normal entitas diasumsikan 12 bulan.

69. Laibilitas jangka pendek lainnya tidak diselesaikan dalam siklus operasi normal, tetapi jatuh tempo untuk diselesaikan dalam waktu dua belas bulan setelah periode pelaporan atau dimiliki untuk tujuan diperdagangkan. Misalnya, laibilitas keuangan yang diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk diperdagangkan sesuai dengan PSAK 55, cerukan bank, dan bagian jangka pendek dari laibilitas keuangan jangka panjang, dividen terutang, pajak penghasilan terutang, dan terutang nonusaha lainnya.

Laibilitas keuangan yang merupakan pembiayaan jangka panjang (bukan bagian dari modal kerja yang digunakan dalam siklus operasi normal) dan tidak jatuh tempo dalam waktu dua belas bulan setelah periode pelaporan merupakan laibilitas jangka panjang, sebagaimana diatur dalam paragraf 72 dan 73.

Referensi

Dokumen terkait

Infeksi merupakan masalah kesehatan yang penting pada anak-anak. Gizi kurang dan infeksi dapat bermula dari kemiskinan dan lingkungan yang tidak sehat dengan sanitasi buruk.

Teknik pengujian bahan repelen no choice menunjukkan bahwa perilaku makan tikus berkurang pada bahan repelen yang berbentuk cairan (wipol dan minyak tanah)

Berdasarkan alasan-alasan tersebut, dan senyampang terbuka kemungkinan untuk melakukan evaluasi dan relayout; maka dilakukan langkah penelitian dengan tujuan untuk

Menurut Virawan (2012) yang berjudul faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan staf perawat dan staf farmasi menggunakan enam benar dalam menurunkan kasus kejadian

Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, serta Pemanfaatan Hutan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4696)

Salah satu cara untuk mengatasi permasalahan ini adalah melakukan analisis laporan arus kas perusahaan, agar mudah diketahui apakah kenaikan atau penurunan aliran

Media Audiovisual merupakan salah satu media yang cocok dalam proses pembelajaran, khususnya mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), yang mana siswa terlibat langsung

Hasil penelitian yang menyatakan bahwa dimensi kekuatan informal merupakan faktor yang paling berhubungan dengan struktur pemberdayaan merupakan temuan menarik di