• Tidak ada hasil yang ditemukan

KARAKTERISTIK SEMEN SEGAR TIGA GENOTIPE DOMBA PERSILANGAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KARAKTERISTIK SEMEN SEGAR TIGA GENOTIPE DOMBA PERSILANGAN"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

KARAKTERISTIK SEMEN SEGAR TIGA GENOTIPE

DOMBA PERSILANGAN

(Fresh Semen Characteristics of Three Genotypes of Cross Bred Sheep)

UMI ADIATI, SUBANDRIYO, B TIESNAMURTI danSITI AMINAH

Balai Penelitian Ternak, PO Box 221, Bogor 16002

ABSTRACT

In sheep production, semen evaluation needs to be evalute extensively to obtain information for further semen processing. This study was done to evaluate the characteristic of semen from three different genotipes of cross bred sheep named: BC, HG and Composite. In this study seven young ram were used: 2 heads of BC, 2 heads of HG and 3 heads of composite sheep. Semen was collected through artificial vagina. For each ram semen collecting was done two times with two weeks intervals. Each collection semen was obtained from two ejaculations. Evaluation was done based on the macroscopic and microscopic characteristics. Macroscopic evaluation was done on: volume per ejaculation, colour, pH and consistensy while microscopic evaluation done on: mass movement, individual movement, percentage of life sperm and semen concentration. The results showed that ejaculat varied from 0.4 to 1.7 ml/ejaculation time. The average for each genotipe is 0.91; 1.05 and 0.84 ml/ejaculation time for BC, HG and Composite sheep, respectively. Sperm concentration for three genotipes varied from 1.140-4.800x106/ml. The average concentration for BC:

1,495.4x106/ml is significantly (P<0.05) lower then that of HG: 2.400x106/ml and Composite: 2,194.1x106/ml. Key words: Sheep, sheep genotipe, semen

ABSTRAK

Pada ternak domba masih banyak aspek yang perlu dikembangkan termasuk diantaranya bidang reproduksi seperti evaluasi kualitas semen yang akan berguna untuk proses pengenceran dan pembekuan semen. Semen adalah sekresi alat kelamin jantan, terdiri dari dua bagian yaitu spermatozoa dan plasma semen. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik semen domba dari ketiga genotipe domba persilangan yaitu BC, HG dan komposit. Penelitian ini menggunakan 7 ekor ternak domba jantan dari 3 genotipe yaitu 2 ekor domba BC, 2 ekor domba HG dan 3 ekor domba komposit. Kolekting semen dilakukan dengan menggunakan vagina buatan. Ulangan dilakukan sebanyak 4 kali, dengan selang setiap ulangan selama 2 minggu dan setiap kali penampungan dilakukan sebanyak 2 kali ejakulasi. Setelah penampungan semen segera dilakukan evaluasi secara makroskopik dan mikroskopis. Evaluasi makroskopis meliputi pengamatan: volume semen per ejakulasi, warna, konsistensi dan pH. Sedang pemeriksaan secara mikroskopik meliputi: gerakan massa, gerakan individu, persentase hidup spermatozoa dan konsentrasi. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa volume semen dari ketiga genotipe domba bervariasi dari 0,4 sampai 1,7 ml/ejakulasi. Rataan volume semen dari ketiga rumpun domba yaitu 0,91 ml/ejakulasi pada domba BC; 1,05 ml/ejakulasi pada domba HG dan 0,84 ml/ejakulasi pada domba komposit. Konsentrasi spermatozoa ketiga genotipe domba berkisar antara 1140-4800x106/ml. Rataan konsentrasi sperma domba BC : 1495,4 x 106/ml nyata (P<0,05)

lebih sedikit dibandingkan konsentrasi sperma domba HG (2400 x 106/ml) dan domba komposit (2194,1x106/ml). Kata kunci: Domba, genotipe domba, semen

(2)

114 PENDAHULUAN

Domba Indonesia mempunyai produktivitas yang tinggi karena dapat beranak sepanjang tahun disebabkan siklus birahi yang tidak dipengaruhi musim. Domba lokal Sumatera, sebagai contoh dapat beranak 1,82 kali dalam satu tahun dan dapat memproduksi anak sapihan 2,2 ekor per tahun dengan bobot sapih 21 kg per 22 kg induk (INIGUEZ et al., 1991). Akan tetapi bobot badan domba Sumatera pada

umumnya kecil dan tidak memenuhi persyaratan ekspor, yakni 35-40 kg. Disamping itu pada umumnya domba lokal Indonesia adalah tipe wool yang kasar. Oleh karena cekaman panas yang disebabkan oleh wool, dan biaya yang dikeluarkan untuk mencukur wool, maka usaha untuk menghilangkan wool secara genetik dengan cara menyilangkan domba lokal dengan domba rambut yang berasal dari daerah tropis adalah cara yang terbaik. Persilangan tiga bangsa dalam pembentukan domba komposit merupakan cara yang terbaik dalam mempertahankan sifat heterosis sifat pertumbuhan dan rambut. Dengan memperhatikan kelemahan dan keunggulan ternak asli Indonesia, Balai Penelitian Ternak berusaha untuk menciptakan produk domba unggul dengan menggabungkan sifat unggul domba-domba dari beberapa benua.

Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya maka perlu digabungkan sifat-sifat yang dimiliki oleh persilangan domba lokal Sumatera dengan domba St. Croix serta persilangan domba lokal Sumatera dengan Barbados Blackbelly untuk membentuk domba komposit (K) dengan komposisi 50% domba lokal Sumatera, 25% domba rambut St. Croix dan 25% domba rambut Barbados Blackbelly. Hasil persilangan pertama yang membentuk domba komposit (K) penelitian ini menunjukkan bahwa bobot sapih domba komposit generasi pertama (F1) ini adalah sekitar 51,6% lebih tinggi dari domba lokal, dan sekitar 12,5% lebih tinggi dari persilangan antara domba St. Croix dengan domba lokal Sumatera serta 12,0% lebih tinggi dari persilangan antara Barbados Blackbelly dengan domba lokal, namun masih sangat beragam (SUBANDRIYOet al., 1996, 1998a ). SUBANDRYOet al (1998b) menyatakan bahwa rataan berat lahir domba komposit (2,45 kg ) lebih tinggi dibandingkan dengan domba St. Croix cross (2,23 kg), Barbados cross (2,15 kg) dan domba Sumatera (1,68 kg). Sementara berat sapih domba komposit (13,14 kg) lebih tinggi domba Barbados Blackbelly cross (11,73 kg), domba St. Croix ( 11,67 kg) dan domba Sumetera (8,67 kg). Hasil penelitian tersebut membuktikan bahwa bobot sapih domba komposit 36,51% lebih tinggi dari domba Sumatera. Selain itu pula, rataan daya hidup (survival rates) domba komposit lebih tinggi dibandingkan dengan bangsa tetuanya (85%). Demikian pula rataan pertumbuhan domba komposit (101,5 gr/hari) lebih tinggi dibanding domba Barbados cross (108,2 gr/hari), domba St Croix (97,4 gr/hari) dan domba Sumatera (81,5 gr/hari). Disamping itu domba komposit ini cenderung mempunyai daya hidup pra-sapih yang lebih baik dibandingkan dengan domba lokal dan persilangan lainnya, yaitu berkisar 2,21-8,37% lebih baik. Rataan jumlah anak sekelahiran domba BC dan komposit generasi pertama (F1) adalah 1,52 dan 1,48 dengan rataan jumlah anak yang disapih sebesar 1,39 dan 1,34. Hal ini berarti bahwa mortalitas pra-sapih untuk domba BC dan komposit generasi pertama (F1) adalah 5,37 dan 9,76% (SUBANDRYOet al., 2000).

Untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap mengenai domba komposit ini maka perlu dilakukan penelitian secara komprehensif yang melibatkan beberapa disiplin ilmu terkait, terutama dalam hal tampilan produksi dan reproduksi baik domba jantan maupun domba betina sebelum mampu dilepas dilapangan. PRAHARANI et al. (2000) melihat dari sisi reproduksi yang dikaitkan dengan pertumbuhan bahwa domba jantan komposit Sumatra dan persilangan Barbados lepas sapih mencapai perkembangan testis sempurna pada umur 167,13 hari dan 179,5 hari dengan rataan pertambahan bobot badan 71,8 g/hari dan 64,15 g/hari. Sementara umur mencapai perkembangan penis sempurna adalah 216,3 hari dan 218,25 hari. Sementara YULISTIANI et al. (2000) mendapatkan hasil bahwa domba jantan komposit Sumatera mencapai pubertas pada umur 205,75 hari dengan bobot badan pubertas 17,39 kg, dengan rataan pertambahan bobot badan 69,82 g/hari. Hasil-hasil tersebut di atas masih terus dievaluasi pada generasi berikutnya agar diperoleh nilai yang benar-benar mantap secara biologis.

Selain itu perlu juga diamati kualitas semen dari domba-domba hasil persilangan untuk lebih memantapkan dan menunjang hasil yang telah diperoleh dari yang lainnya. Evaluasi kualitas semen akan berguna untuk proses pengenceran dan pembekuan semen. Semen adalah sekresi alatkelamin jantan, terdiri dari dua bagian yaitu spermatozoa dan plasma semen. Spermatozoa dihasilkan di dalam testes sedangkan plasma semen dihasilkan oleh epididymis dan kelenjar-kelenjar pelengkap yaitu kelenjar vesikularis dan prostata (TOELIHERE, 1993a).

Pengaruh faktor genetik ternak dimodifikasi oleh faktor musim dalam hubungannya dengan volume ejakulat, gerakan spermatozoa, konsentrasi dan persentase hidup spermatozoa (DEVENDRA, 1994). Pada

(3)

daerah sub tropis, produksi semen normal terjadi pada musim gugur dan musim dingin sedangkann pada musim panas akan mengakibatkan penurunan produksi semen.

Menurut TOELIHERE (1993b), pemakaian pejantan yang terlampau sering dalam waktu yang relatif

pendek cenderung untuk menurunkan libido, volume semen, konsentrasi dan jumlah spermatozoa per ejakulasi.

MATERI DAN METODE

Penelitian ini dilakukan di stasiun percobaan Balai Penelitian Ternak Cilebut, Bogor. Digunakan 7 ekor ternak domba jantan dari 3 genotipe yaitu 2 ekor domba BC (50% Barbados Blackbelly dan 50% Sumatra), 2 ekor domba HG (50% St. Croix dan 50% Garut) dan 3 ekor domba komposit (50% domba lokal Sumatera, 25% domba rambut St. Croix dan 25% domba rambut Barbados Blackbelly.) dengan umur rata-rata 3 tahun. Koleksi semen dilakukan dengan menggunakan vagina buatan. Digunakan 4 kali ulangan, dengan selang setiap ulangan selama 2 minggu dan setiap kali penampungan dilakukan sebanyak 2 kali ejakulasi. Setelah penampungan semen segera dilakukan evaluasi semen secara makroskopik dan mikroskopik. Evaluasi makroskopik meliputi pengamatan: volume semen per ejakulasi, warna, konsistensi dan pH. Sementara itu evaluasi secara mikroskopik meliputi: gerakan massa, gerakan individu, persentase hidup spermatozoa dan konsentrasi. Gerakan massa dilihat dengan menggunakan mikroskop pada pembesaran 100 kali. Kualitas semen ditentukan dengan kriteria yaitu sangat baik, baik dan lumayan (TOELIHERE,

1993b). Untuk kualitas semen yang sangat baik mendapat nilai +++, sedangkan untuk kualitas semen baik mendapat nilai ++. Untuk semen yang kualitasnya lumayan dengan nilai +. Motilitas diamati dengan menggunakan mikroskop pada pembesaran 400 kali. Gerakan individu ini dinilai dengan persentase spermatozoa yang bergerak progresif yang gesit dan menghasilkan gerakan massa. Persentase hidup spermatozoa dihitung melalui pewarnaan diferensial. Zat warna yang digunakan adalah eosin. Zat warna eosin akan mewarnai spermatozoa yang mati menjadi merah atau merah muda sedangkan yang spermatozoa hidup tidak berwarna. Sedang konsentrasi spermatozoa dihitung dengan menggunakan alat spektrometer. Sebelum digunakan alat tersebut dikalibrasi dengan NaCl 2%, kemudian sperma yang diperoleh dimasukkan ke dalam tabung yang berisi NaCl 2% dengan perbandingan = 1 : 200 dan diletakkan pada alat spektrometer dengan panjang gelombang 540.

Data kuantitatif yang terkumpul dianalisis dengan model linier umum dan untuk mengetahui perbedaan antar bangsa digunakan uji beda nyata Duncan. Data kualitatif dianalisis dengan distribusi frekuensi. Analisis dilakukan dengan menggunakan alat bantu SAS ver 6.12.

(4)

116 HASIL DAN PEMBAHASAN

Penilaian kualitas semen dapat dilakukan secara makroskopik dan mikroskopik. Penilaian ini secara umum penting untuk mengetahui performans reproduksi domba jantan. Hasil pengamatan karakteristik semen segar 3 genotipe domba dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Rataan karakteristik kualitas semen 3 genotipe domba

Genotipe domba Peubah BC HG Komposit N 2 2 3 Volume (ml) 0,91 ± 0,39ab 1,05 ± 0,42a 0,84 ± 0,37b PH 8,06 ± 0,46a 7,43 ± 0,47b 7,29 ± 0,44b Gerakan massa 1,81b 2,91a 2.87a Motilitas (%) 55,67 ± 24,04b 72,21 ± 6,54a 74,71 ± 8,99a Spermatozoa hidup (%) 64,00 ± 10,24a 69,24 ± 11,34a 66,69 ± 10,65a Spermatozoa mati (%) 36,00 ± 10,24a 30,76 ± 11,34a 31,46 ± 10,13a

Keterangan: Huruf yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05)

Secara makroskopis diperoleh bahwa volume semen dari ke tiga genotipe domba bervariasi dari 0,4 sampai 1,7 ml/ejakulasi. Rataan volume semen domba HG: 1,05±0,42 ml nyata (P<0,05) lebih banyak dibandingkan volume semen domba komposit (0,84±0,37 ml) dan tidak berbeda dengan domba BC (0,91±0,39 ml). Bervariasinya volume semen yang diperoleh menurut TOELIHERE (1993b) dipengaruhi oleh

cara pengambilan dan frekuensi penampungan, bangsa ternak dan umur ternak. Sedangkan warna semen yang diperoleh pada pengamatan ini bervariasi yaitu krem dan susu dengan konsistensi encer dan kental. Untuk domba komposit diperoleh 55,2% warna krem dan 44,8% warna susu dengan konsistensi 31% encer dan 69% kental, keadaan semen yang demikian menunjukkan konsentrasi yang tinggi sedangkan untuk domba BC diperoleh 50% warna krem dan 50% warna susu dengan konsistensi 100% encer, ini menandakan bahwa konsentrasi semen domba BC rendah. Untuk domba HG didapat 61,1% warna krem dan 38,9% warna susu dengan konsistensi 22,2% encer dan 77,8% kental, hal ini menunjukkan bahwa semen domba HG konsentrasinya juga tinggi. TOELIHERE (1993b) menyataka bahwa keadaan semen dengan

warna krem dan konsistensi kental menunjukkan konsentrasi yang tinggi sedangkan semen warnanya seperti air susu yang encer memiliki konsentrasi yang rendah.

Penilaian secara mikroskopis didapatkan bahwa gerakan massa dari spermatozoa mempunyai kecenderungan untuk bergerak bersama-sama ke satu arah membentuk gelombang-gelombang yang tebal dan tipis, bergerak cepat atau lambat tergantung konsentrasi spermatozoa yang hidup didalamnya. Hasil pengamatan pada ke tiga genotipe domba menunjukkan bahwa gerakan massa spermatozoa domba HG 100% dan domba komposit 89,7% mempunyai kualitas yang sangat baik (+++). Untuk domba BC hanya 12,5% yang mempunyai kualitas sangat baik (+++) dan 37,5% mempunyai kualitas yang lumayan (+). Persentase motilitas dapat digunakan sebagai ukuran kesanggupan untuk membuahi ovum (TOELIHERE,

1993a). Dari hasil analisa ke tiga genotipe domba, rataan motilitas terbaik didapat pada domba komposit (74,71%) dan domba HG (72,21%). Hasil ini sebanding dengan hasil yang diperoleh HAFEZ (1987) untuk

kisaran normal motilitas yaitu 60-80%, untuk domba BC mendapatkan hasil rataan motilitas yang jelek yaitu 55,67%. Sementara itu Konsentrasi spermatozoa yang diperoleh dari ke tiga genotipe domba berkisar antara 1140-4800x106/ml dengan rataan tertinggi pada domba HG sebesar 2400x106/ml, kemudian diikuti oleh domba komposit (2194x106/ml) dan domba BC (1495x106/ml). Hasil ini sebanding dengan hasil dari konsentrasi spermatozoa domba pada umumnya (kecuali domba BC) yang berkisar antara 2-6x109/ml (HAFEZ, 1987).

KESIMPULAN

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kualitas semen mulai yang terbaik dari ke tiga genotipe domba ini berturut-turut adalah: domba HG, domba komposit dan domba BC.

(5)

DEVENDRA, C dan M. BURNS.1994. Produksi Kambing di Daerah Tropis. Penerjemah IDK Harya Putra, Institut Teknologi Bandung.

HAFEZ, E.S.E. 1987. Reproduction in Farm Animals. 5th ed. Lea & Febiger, Philadelphia

INIGUEZ, L., M. SANCHEZ and S. GINTING. 1991. Productivity of Sumatran sheep in a system integrated with rubber plantation. Small Ruminant Research 5:303-317.

TOELIHERE, M.R. 1993a. Fisiologi Reproduksi pada Ternak. Angkasa, Bandung.

TOELIHERE, M.R. 1993b. Inseminasi Buatan pada Ternak. Angkasa, Bandung.

SUBANDRIYO, B.SETIADI, M. RANGKUTI, K. DIWYANTO, E. HANDIWIRAWAN, E. ROMJALI, M. DOLOKSARIBU, S. ELIASER dan L. BATUBARA. 1996. Pemuliaan bangsa domba sintetis hasil persilangan antara domba lokal Sumatera dengan domba rambut. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor.

SUBANDRIYO, B. SETIADI, M. RANGKUTI, K. DIWYANTO, M. DOLOKSARIBU, LEO P. BATUBARA, E. ROMJALI, S. ELIASER dan E. HANDIWIRAWAN. 1998b. Performan domba komposit hasil persilangan antara domba lokal Sumatera dengan domba rambut. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner 3 (2):78-86

SUBANDRYO, B. SETIADI, E. HANDIWIRAWAN, M. DOLOKSARIBU, E. ROMJALI dan K. DIWYANTO. 1998c. Pre-weaning performances of crossbreeding between local Sumatera sheep and Hairsheep. Bulletin of Animal Science. Suplement Edition 1998. Faculty of Animal Science. Gadjah Mada University. Yogyakarta, pp. 63-69.

SUBANDRIYO, B. SETIADI, E. HANDIWIRAWAN danA. SUPARYANTO. 2000. Performa domba komposit Hasil Persilangan antara Domba Lokal umatera dengan Domba Rambut pada kondisi dikandangkan. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner 5 (2): 73-83.

DISKUSI

Pertanyaan

Apakah berdasarkan pengamatan karakteristik semen, pemuliaan domba (BC, HC/HG, Komposit)

Jawaban:

Ya, jika telah diketahui kualitas semennya dapat dilakukan pemuliaan domba dengan cara mengawinkan domba-domba tersebut dengan menggunakan fresh semen (chilling semen) melalui inseminasi buatan sehingga dapat mengurangi biaya pemeliharaan ternak jantan yang banyak.

Gambar

Tabel 1. Rataan karakteristik kualitas semen 3 genotipe domba

Referensi

Dokumen terkait

Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Pase Langsa mempunyai struktur sistem penggajian dengan penggolongan yang jelas untuk setiap tingkatan kepangkatan dosen. 40 0 3.83 2.00

Hasil penelitian Sumartini (2010) menunjukkan bahwa setelah diberikan coaching oleh kepala ruang maka perawat primer yang memiliki kemampuan berpikir kritis baik,

Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.2 No.1 (2013).. 7RWDO ELD\D XQLW NDRV REORQJ &amp;ROEXV ZDUQD JHODS XNXUDQ 0 PHQXUXW SHUXVDKDDQ VHEHVDU 5S VHGDQJNDQ

Peneliti disini menggunakan Analisis kesalahan sebagai pendekatan untuk mengetahui kesalahan-kesalahan yang terdapat pada pengetahuan dan penggunaan wazan shorof dan pemahaman

(3) Penelitian ini bertujuan untuk memverifikasi metode analisis yang digunakan pada larutan alpha arbutin.. menggunakan

Setelah melakukan tahap uji coba pada website ini, maka dapat diambil kesimpulan bahwa website ini dapat membantu pengguna memperoleh informasi mengenai hewan punah dan terancam

Variabel yang paling dominan anatara Jenis Kelamin, Pendidikan Orang Tua dan Pendapatan orang Tua Terhadap Literasi keuangan adalah variabel Pengujian variabel

Terhadap perkara-perkara/ kasus-kasus KDRT, di mana pokok kasusnya tidak meresahkan masyarakat umum, dan disisi lain korban dari tinak pidana tersebut dapat “dikondisikan”