UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1956
TENTANG
PEMBENTUKAN MAJELIS ILMU PENGETAHUAN INDONESIA *)
Presiden Republik Indonesia,
Menimbang : a. bahwa unt uk melaksanakan t ugas sebagaimana dit ent ukan
dalam pasal 40 Undang-undang Dasar Sement ara, perlu dibent uk badan sebagai pusat koordinasi dalam membimbing usaha memaj ukan ilmu penget ahuan di wilayah Republik Indonesia. b. bahwa dalam rangka usaha t ermaksud perlu diadakan perubahan
t ent ang sif at , kedudukan dan keadaan badan-badan at au dewan-dewan ilmu penget ahuan alam yang sudah ada yang bekerj a pada lapangan t ersebut ;
c. bahwa memaj ukan dan membimbing ilmu penget ahuan hendaklah berlangsung dengan asas nasional yang melindungi kebebasan mengusahakan ilmu penget ahuan dengan berpedoman kepada kepent ingan nasional dan kepent ingan perdamaian dan umat manusia;
Mengingat : pasal 40 dan 89 Undang-undang Dasar Sement ara Republik
Indonesia,
Dengan perset uj uan Dewan Perwakilan Rakyat ;
MEMUTUSKAN:
I. Mencabut :
a. "Ordonansi pembent ukan "Nat uurwet enschappelij ke Raad voor Nederlandsch Indie" (St aat sblad 1928 No. 57);
b. "Reglemen voor den Nat uurwet enschappelij ken Raad voor Nederlandsche Indie" (Bij blad No. 11598 j o No. 13639);
c. "Ordonnant ie Organisat ie Nat uurwet enschappel ij k Onderzoek' sert a
perubahannya (St aat sblad 1948 No. 97 dan 260);
d. "Verordening Nat uurwet eschappelij ke Inst it ut en 1948" (St aat sblad 1948 No. 268);
II. Menet apkan undang-undang sebagai berikut :
Undang-undang t ent ang Pembent ukan Maj elis Ilmu Penget ahuan Indonesia.
BAB I.
Pendirian, t empat kedudukan dan sif at Maj elis.
Pasal 1.
Pasal 2.
Maj elis Ilmu Penget ahuan Indonesia, selanj ut nya disebut Maj elis adalah suat u badan-hukum.
BAB II.
Tugas dan usaha Maj elis.
Pasal 3.
Maj elis bert ugas :
a. memaj ukan dan membimbing dalam art i kat a yang seluas-l uasnya usaha dan kehidupan pada lapangan il mu penget ahuan, dengan berpedoman kepada kepent ingan nasional pada khususnya dan kepent ingan perdamaian dan umat manusia pada umumnya:
b. memberi pert imbangan-pert imbangan mengenai soal-soal , rencana-rencana dan usaha-usaha yang bert alian dengan ilmu penget ahuan kepada Pemerint ah, baik at as permint aan maupun at as kehendak sendiri.
Pasal 4.
Unt uk mel aksanakan t ugas t ersebut dalam pasal 3 Maj elis berkewaj iban:
a. memelihara sebaik-baiknya kepent ingan ilmu penget ahuan pada umumnya dan penyelidikan dalam il mu penget ahuan pada khususnya;
b. menyelenggarakan kerj asama dan kordinasi ant ara lembaga-lembaga ilmu
penget ahuan, baik yang dimiliki oleh Pemerint ah maupun yang dimiliki ol eh pihak part ikelir;
c. menyelenggarakan dan memberi bant uan kepada:
1. usaha penyelidikan dalam ilmu penget ahuan,
2. usaha penerbit an dalam lapangan ilmu penget ahuan, 3. usaha penyebaran ilmu penget ahuan dalam masyarakat ;
d. menyelenggarakan pendaf t aran kepust akaan dan benda-benda l ain yang berharga unt uk ilmu penget ahuan, yang t erdapat di Indonesia;
e. mengurus lembaga-l embaga ilmu penget ahuan dan dana-dana unt uk memaj ukan ilmu penget ahuan yang dipercayakan kepadanya;
f menyelenggarakan perhubungan dengan badan int ernasional dan badan-badan nasional dari negara-negara lain yang bekerj a pada lapangan ilmu penget ahuan;
g. memberi laporan t ent ang soal-soal, rencana-rencana dan usaha-usaha yang
dimint akan pert imbangannya ol eh Pemerint ah dan mengaj ukan usul-usul kepada Kement erian-kement erian t ent ang kepent ingan ilmu penget ahuan at au kepent ingan Negara yang bert alian dengan il mu penget ahuan;
h. menyelenggarakan usaha-usaha lain dalam lapangan ilmu penget ahuan yang t idak t ermasuk perincian usaha-usaha t ersebut di at as.
BAB III 0rganisasi
Pasal 5.
(1) Maj elis dipimpin oleh suat u badan Pengurus, yang t erdiri at as seorang anggot a merangkap Ket ua, seorang anggot a merangkap Panit era, dengan j umlah semua anggot a sebanyak-banyaknya sembilan orang.
(2) Rapat Pengurus Maj elis memilih seorang dari ant ara para anggot a yang t idak merangkap Ket ua at au Panit era, unt uk bersama-sama dengan Ket ua dan Panit era Pengurus merupakan Pengurus harian, yang bert anggung j awab kepada Pengurus Maj elis. Ket ua dan Panit era Pengurus Maj elis bert indak masing-masing sebagai Ket ua dan Panit era Pengurus Harian.
(3) Ket ua Pengurus Maj elis mewakili Maj elis di dalam dan di luar pengadilan.
(4) Jika Ket ua Pengurus Maj elis berhalangan, maka t ugas dan hak Ket ua dilakukan oleh anggot a Pengurus Maj elis yang t ert ua yang berdiam di t empat kedudukan Pengurus, dan t idak merangkap Panit era at au anggot a Pengurus Harian.
Pasal 6.
(1) Ket ua, Panit era dan anggot a Pengurus Maj elis harus warga-negara Indonesia yang bert empat t inggal di Indonesia, dan belum berusia 70 t ahun.
(2) Ket ua, Panit era dan anggot a Pengurus harus ahli dalam sesuat u j enis ilmu penget ahuan. Seperdua dari j umlah anggot a harus ahli dalam lapangan ilmu penget ahuan Alam, seperdua lainnya harus ahli dalam lapangan ilmu penget ahuan Budaya, Negara dan Masyarakat , dengan ket ent uan, bahwa mereka it u sedapat -dapat nya mewakili j enis-j enis ilmu penget ahuan yang berbeda-beda.
Pasal 7.
(1) Ket ua, Panit era dan anggot a Pengurus diangkat oleh Presiden Republik Indonesia at as pencalonan Pemerint ah berdasarkan pert imbangan Pengurus Maj elis, Pimpinan Universit as-universit as Negeri dan Dewan Perwakilan Rakyat .
(2) Ket ua, Panit era dan anggot a Pengurus diangkat unt uk wakt u dua t ahun. Semuanya berhent i seket ika, dengan kemungkinan segera diangkat kembali.
(3) Pengangkat an unt uk mengisi lowongan karena anggot a berhent i sebelum habis j angka wakt unya, berlaku hanya sampai saat habisnya j angka wakt u it u.
(4) Anggot a yang t idak lagi memenuhi syarat -syarat pengangkat an at au disebabkan t ingkah-laku at au perbuat annya t idak lagi dianggap pat ut unt uk t et ap menj adi anggot a Pengurus, dapat diperhent ikan dari keanggot aannya unt uk sement ara wakt u at au
unt uk selama-lamanya. Pemberhent ian unt uk selama-lamanya t idak dilakukan sebelum yang bersangkut an diberi kesempat an mengaj ukan pembelaannya.
B. Dewan Pert imbangan.
Pasal 8.
(1) Guna membant u pekerj aan Pengurus Maj elis diadakan suat u Dewan Pert imbangan.
Pasal 9.
(1) Dewan Pert imbangan mempunyai dua Bagian, ialah Bagian il mu penget ahuan Alam dan Bagian ilmu penget ahuan Budaya, Negara dan Masyarakat . Tiap-t iap Bagian dapat dibagi-bagi lagi dalam beberapa seksi menurut golongan-golongan j enis ilmu penget ahuan.
(2) Jumlah anggot a Dewan Pert imbangan sebanyak-banyaknya empat pul uh orang, ialah unt uk Bagian-ilmu penget ahuan Alam sebanyak-banyaknya duapuluh orang, dan unt uk Bagian Ilmu penget ahuan Budaya, Negara dan Masyarakat sebanyak-banyaknya duapul uh orang.
(3) Anggot a Dewan Pert imbangan diangkat oleh Ment eri set elah mendengar
pert imbangan Pengurus Maj elis dan pert imbangan it u berdasarkan usul dari perguruan-perguruan t inggi, lembaga-lembaga at au badan-badan ilmu penget ahuan.
Pasal 10.
(1) Ilmu penget ahuan Al am meliput i ilmu-ilmu penget ahuan yang dit et apkan Ment eri at as usul Maj elis.
(2) Ilmu penget ahuan Budaya, Negara dan Masyarakat meliput i ilmu-ilmu
penget ahuan yang dit et apkan Ment eri at as usul Maj el is.
(3) Ilmu-ilmu penget ahuan yang t ergol ong diperbat asan kedua golongan ilmu
penget ahuan at au meliput i kedua golongan t ersebut , dit et apkan masuknya ke dalam salah sat u golongan oleh Ment eri menurut pendapat Maj el is.
C. Badan-badan lain.
Pasal 11.
(1) Unt uk secara khusus melaksanakan sat u at au beberapa kewaj iban dari Maj elis, dapat dibent uk selanj ut nya badan-badan yang dapat diberi kedudukan sendiri dalam lingkungan Maj elis, yang diat ur dengan Perat uran Pemerint ah.
(2) Kepada badan-badan yang dimaksudkan dal am ayat 1 dapat diserahkan beberapa hak t ert ent u dari Maj elis.
BAB IV.
Hart a kekayaan Maj el is dan t anggung-j awab.
Pasal 12.
Hart a kekayaan Maj el is t erdiri at as:
a. t unj angan yang diperunt ukkan baginya dari pihak Pemerint ah dan dibebankan at as Anggaran Belanj a Kement erian Pendidikan, Pengaj aran dan Kebudayaan;
b. sumbangan dari pihak lain berdasarkan hadiah, wasiat at au at as hak lain; c. penggant ian j asa-j asa yang diberikan oleh at au at as nama Maj elis.
Pasal 13.
(1) Hart a kekayaan Maj el is ada di bawah kekuasaan Pengurus Maj elis.
(2) Dalam menj alankan kekuasaannya, selain daripada melakukan t indakan
(3) Unt uk memindahkan ke t angan lain at au membebani barang t et ap milik Maj elis, Pengurus harus memperoleh perset uj uan lebih dulu dari Ment eri.
Pasal 14.
Pengurus Maj elis bert anggung-j awab at as urusan keuangannya kepada Ment eri.
Pasal 15.
Tiap-t iap t ahun dalam bulan Mei diadakan rapat gabungan ant ara: 1. Pengurus Maj elis,
2. Dewan Pert imbangan,
3. Pengurus badan-badan t ermaksud dalam pasal 11, unt uk membicarakan segala hal yang berhubungan dengan:
a. keadaan besert a kepent ingan Maj elis dan pekerj aan yang sudah dan akan dilaksanakan;
b. rancangan anggaran belanj a unt uk t ahun t akwin yang dihadapi.
Pasal 16.
Tiap-t iap t ahun selambat -lambat nya pada akhir bulan Juni Maj elis menyampaikan kepada Ment eri:
a. sebuah risalah t ent ang keadaan dan pekerj aan Maj elis dalam t ahun t akwim yang t elah lalu.
b. sebuah pert anggungan j awab perihal keuangan dari t ahun t akwim yang t el ah lalu; c. sebuah rancangan anggaran belanj a Maj elis unt uk t ahun t akwim yang dihadapi.
BAB V
Ket ent uan hukuman.
Pasal 17.
(1) Pengurus dapat mewaj ibkan siapapun j uga unt uk merahasiakan segala sesuat u yang diket ahuinya berhubung dengan pelaksanaan sesuat u pekerj aan yang bert alian dengan Undang-undang ini.
(2) Kewaj iban merahasiakan it u t idak berlaku dalam hal dan sekadar yang
bersangkut an at as ket ent uan sesuat u undang-undang diharuskan memberit ahukan apa yang waj ib dirahasiakan it u.
Pasal 18.
(1) Barangsiapa yang dengan sengaj a mengumumkan hal-hal yang at as ket ent uan pasal 17 ayat 1 diwaj ibkan merahasiakannya, dihukum dengan hukuman penj ara selama-lamanya sembilan bul an at au denda uang sebanyak-banyaknya sepuluh ribu rupiah.
(2) Barangsiapa oleh karena kealpaannya mengakibat kan, bahwa hal yang harus dirahasiakannya menurut pasal 17 ayat 1 menj adi t erbuka, dihukum dengan hukuman penj ara selama-lamanya enam bulan at au denda uang sebanyak-banyaknya seribu rupiah.
BAB VI.
Ket ent uan-ket ent uan pemilihan.
Pasal 19.
Menyimpang dari yang dit ent ukan dalam pasal 7 ayat 1 unt uk pert ama kali Ket ua, Panit era dan anggot a-anggot a lainnya dari Pengurus Maj elis diangkat oleh Presiden Republik Indonesia at as pencalonan Ment eri, set elah Ment eri mendengar pert imbangan-pert imbangan Panit ia Persiapan Pembent ukan Maj elis Ilmu Penget ahuan Indonesia dan pimpinan Universit as-universit as Negeri.
Pasal 20.
(1) Pada hari mulai berlakunya undang-undang ini, dihapuskan:
a. badan hukum "Organisasi Penyelidikan Ilmu Penget ahuan Alam" (Organisat ie voor Nat uurwet enschappelij k Onderzoek) yang diadakan dengan ordonansi t ermuat dalam St aat sblad 1948 No. 97;
b. badan hukum "Nat uurwet enschappelij ke Raad voor Nederlandsch-Indie" yang dibent uk dengan ordonansi t ermuat dalam St aat sblad 1928 No. 57.
(2) Segala urusan, hak, kewaj iban dan hart a kekayaan badan-badan hukum yang dihapuskan it u, dengan disert ai laporan, oleh bekas Pengurus masing-masing segera diserahkan, sekadar:
a. mengenai badan t ersebut dalam ayat 1 huruf a kepada Pengurus badan yang akan dibent uk dengan Perat uran Pemerint ah berdasarkan ket ent uan pasal 11 undang-undang ini;
b. mengenai badan t ersebut dalam ayat 1 huruf b kepada Pengurus Maj elis.
(3) "Ordonnant ie Organisat ie Nat uurwet enschappelij k Onderzoek" (St aat sblad 1948 No. 97) besert a perat uran-perat uran yang bersangkut an dan "Reglement voor den Nat uurwet enschappelij ken Raad voor Nederlandsch-Indie" (Bij blad No. 11598 j o. No. 13639) masih berlaku sekadar diperl ukan berhubung dengan peralihan t ermaksud di at as dan sekadar t idak bert ent angan dengan ket ent uan-ket ent uan dalam undang-undang ini.
BAB VII
Ket ent uan penut up.
Pasal 21.
(1) Ket ent uan-ket ent uan lebih lanj ut yang diperlukan guna melaksanakan undang-undang ini dit et apkan dalam Perat uran Pemerint ah.
(2) Ment eri menet apkan perat uran Tat a-t ert ib Maj elis menurut dasar-dasar yang dit ent ukan oleh undang-undang ini dan Perat uran Pemerint ah t ersebut dalam pasal 11 dan ayat 1 pasal 21 set el ah diusulkan rancangannya oleh Maj elis.
Pasal 22.
Agar supaya set iap orang dapat menget ahuinya, memerint ahkan pengundangan undang-undang ini dengan penempat an dal am Lembaran Negara Republik Indonesia.
Disahkan di Jakart a
pada t anggal 8 Maret 1956. Presiden Republik Indonesia, t t d.
SOEKARNO
Ment eri Pendidikan, Pengaj aran Dan Kebudayaan,
t t d. SUWANDI
Ment eri Kehakiman, t t d,
LOEKMAN WIRIADINATA.
Diundangkan
pada t anggal 19 Maret 1956 MENTERI KEHAKIMAN
t t d.
MEMORI PENJELASAN
MENGENAI
USUL UNDANG-UNDANG TENTANG PEMBENTUKAN MAJELIS ILMU PENGETAHUAN INDONESIA
UMUM.
Pasal 40 Undang-undang Dasar Sement ara membebankan kepada Pemerint ah t ugas-kewaj iban unt uk :
a. melindungi kebebasan mengusahakan kebudayaan sert a kesenian dan ilmu
penget ahuan,
b. memaj ukan dengan sekuat t enaga perkembangan kebangsaan dalam kebudayaan sert a kesenian dan ilmu penget ahuan.
Ilmu penget ahuan adalah pent ing sekali unt uk kemaj uan, kebahagiaan dan keselamat an sesuat u negara. Dalam pada it u t idaklah cukup, j ikalau kit a hanya menggunakan hasil-hasil usaha il mu penget ahuan yang dicapai dinegeri-negeri lain.
Disamping it u kit a harus menyelenggarakan sendiri usaha-usaha dalam lapangan ilmu penget ahuan berdaya-upaya unt uk mempert inggi dan memperkembangkan usaha-usaha t ersebut dengan t uj uan at as dasar sif at kebangsaan Indonesia.
Usaha-usaha it u baik diselenggarakan oleh Pemerint ah maupun oleh badan-badan part ikelir. Unt uk kepent ingan negara dan unt uk kepent ingan ilmu penget ahuan sendiri Pemerint ah perlu mengadakan bimbingan, bant uan, kerj asama dan koordinasi dalam hal ini. Guna menyel enggarakan semua it u Pemerint ah perlu membent uk suat u badan pusat yang bekerj a pada lapangan ilmu penget ahuan, ialah Maj elis Ilmu Penget ahuan Indonesia.
Mengingat pent ingnya art i dan kedudukan ilmu penget ahuan, maka urusan dan usaha-usaha Maj elis t ersebut memerlukan suat u perat uran yang dit et apkan dengan undang-undang. Unt uk memberi sumbangan t ent ang apa yang menj adi lapangan pekerj aan Maj elis it u, maka sebagai cont oh dibawah ini dikemukakan beberapa hal yang merupakan usaha-usaha pent ing dari badan t ersebut .
1) Maj elis memelihara, mempert ahankan dan memperj uangkan kepent ingan-kepent ingan ilmu penget ahuan, agar supaya dapat dipenuhi syarat -syarat yang memungkinkan pekerj aan-pekerj aan dalam lapangan ini dij alankan dengan sungguh-sungguh, sehingga akan besar art inya unt uk kesej aht eraan masyarakat .
2) Maj elis membant u dan ikut sert a dalam usaha-usaha unt uk menj adikan masyarakat kit a gemar akan ilmu penget ahuan.
3) Maj elis berusaha unt uk at as dasar-dasar kebebasan dan sukarela, melaksanakan koordinasi dan kerj asama ant ara lembaga-lembaga yang berusaha pada lapangan penyelidikan. Unt uk kepent ingan nasional maka perlu sekali adanya kerj asama dalam hubungan dan pengert ian yang erat ant ara berbagai lembaga guna mencapai suat u t uj uan bersama dalam lapangan penyelidikan.
Dalam hal ini Maj elis mempunyai t ugas yang besar art inya.
Kini sudah ada beberapa badan sebagai organisasi dalam lapangan ilmu penget ahuan yang dibent uk dalam zaman pemerint ahan yang lampau, ialah "Nat uurwet enschappel ij ke Raad voor Nederlandsch-Indie", dan "Organisasi unt uk Penyelidikan Ilmu Penget ahuan Alam' (O. P. I. P. A. , semula disebut "Organisat ie voor Nat uurwet enschappel ij k Onderzoek"), masing-masing berdasarkan ordonansi pembent ukan Nat uurwet enschappelij ke Raad voor Nederlandsch - Indie (st aat blad 1928 No. 57) dan Ordonanasi Organit at ie Nat uurwet enschappelij k Onderzoek (St aat sblad 1948 No. 97).
Baik dalam bent uk organisasinya maupun dalam sif at nya badan-badan t ersebut t idak lagi sesuai dengan keadaan negara kit a. Lain daripada it u badan-badan t ersebut , sebagaimana t ernyat a dari namanya, hanya memusat kan usahanya pada lapangan ilmu penget ahuan Alam, sedangkan ilmu penget ahuan Budaya, Negara dan Masyarakat sama sekali t idak mendapat perhat ian sebagaimana mest inya.
Dengan adanya undang-undang ini maka badan-badan it u dihapuskan dan digant i dengan Maj elis Ilmu Penget ahuan Indonesia, yang memusat kan usahanya baik dilapangan ilmu penget ahuan Al am maupun dalam lapangan ilmu penget ahuan Budaya, Negara dan Masyarakat .
PASAL DEMI PASAL.
Pasal 1 dan pasal 2.
Tidak memerlukan penj elasan.
Pasal 3.
Tidak memerlukan penj elasan lagi.
Pasal 4.
Dalam pasal ini dit ent ukan dengan serba lengkap apa yang menurut pert imbangan sekarang perlu dimasukkan dalam lapangan pekerj aan Maj elis.
Alasan unt uk bert indak demikian ialah :
a. memberi pedoman yang lengkap kepada Pengurus Maj elis, yang sekiranya dibut uhkan dalam masa mudanya.
b. agar lebih mudah dapat dit et apkan t ugas badan-badan yang kelak mungkin perlu didirikan unt uk melaksanakan sal ah sat u kewaj iban dari Maj elis (l ihat pasal 11).
Pasal 5, 6 dan 7.
Sebagai badan nasional yang t ert inggi pada lapangan Organisasi ilmu penget ahuan, maka anggot a-anggot anya harus warga negara lndonesia yang t ernama dan bert empat t inggal di Indonesia. Unt uk menj amin bahwa baik ilmu penget ahuan alam, maupun ilmu penget ahuan budaya, negara dan masyarakat perhat ian yang cukup, maka seperdua daripada anggot a harus ahli dal am salah sat u ilmu penget ahuan dari golongan pert ama dan seperdua dari gol ongan kedua.
Jumlah anggot a Pengurus Maj elis dit et apkan sebanyak-banyaknya sembilan orang agar supaya badan it u t idak t erlampau lamban.
Dalam pasal 7 ayat 1 dit et apkan bahwa Universit as-universit as Negeri ikut sert a dal am mempert imbangkan pencalonan anggot a-anggot a Pengurus, oleh karena Universit as mempunyai kepent ingan besar dalam soal-soal yang bersangkut an dengan ilmu penget ahuan, dengan kemungkinan besar, bahwa t enaga-t enaga dan lembaga-lembaga dari lingkungan Universit as ikut sert a dalam salah sat u at au beberapa usaha dari Maj elis.
Unt uk memperkuat dan menempat kan kedudukan Maj elis pada t ingkat yang sesuai dalam masyarakat , maka dalam ayat t ersebut dit et apkan, bahwa anggot a-anggot a Pengurus diangkat oleh Presiden Republ ik Indonesia at as pencalonan Pemerint ah berdasarkan pert imbangan Pengurus Maj elis, Pimpinan Universit as-universit as Negeri dan Dewan Perwakilan Rakyat .
Pasal 8 dan 9.
Unt uk dapat melaksanakan dengan sempurna t ugasnya yang luas it u yang meliput i seluruh lapangan ilmu penget ahuan, maka Maj elis perlu mempunyai cukup banyak penasihat -penasihat ahli.
Dalam penasihat -penasihat ahli ini t ermasuk ahli-ahli agama sebagai dimaksudkan dalam penj elasan mengenai pasal 7. Karena yang pent ing disini keahlian, dan diwakilinya sebanyak mungkin j enis ilmu penget ahuan yang berbeda-beda, dan kewaj iban ahli-ahli it u hanyal ah memberi nasihat , maka syarat kewarganegaraan Indonesia bagi keanggot aan Dewan Pert imbangan t idak perlu dipert ahankan. Baik ilmu penget ahuan Alam maupun ilmu penget ahuan Budaya, Negara dan Masyarakat harus mempunyai cukup wakil-wakil dalam Dewan Pert imbangan.
Pasal 1O.
Tidak memerlukan penj elasan.
Pasal 11.
Agar supaya salah sat u kewaj iban yang pent ing dari Maj elis dapat disel enggarakan dengan sempurna, maka dengan pasal ini diberi kemungkinan unt uk mendirikan badan dalam lingkungan Maj elis yang bert ugas khusus melakukan kewaj iban it u.
Salah sat u badan yang dalam hubungan ini perlu diadakan ialah misalnya badan koordinasi, unt uk melaksanakan kerj asama ant ara lembaga-lembaga dalam lapangan ilmu penget ahuan alam unt uk menggant i "Organisasi unt uk Penyelidikan Ilmu Penget ahuan Alam" (nama dulu "Organisat ie voor Nat uurwet enschappelij k Onderzoek") yang dengan berdirinya Maj elis akan dibubarkan.
Pasal 12, 13, 14, 16 dan 16.
Pasal 17 dan 18.
Dalam penyelidikan sesuat u ilmu penget ahuan ada kemungkinan, bahwa unt uk kepent ingan negara at au kepent ingan lain, penyelidik-penyelidik yang bersangkut an diwaj ibkan merahasiakan apa yang diket ahuinya t ent ang hal-hal disekit ar usaha penyelidikan it u.
Pasal 19, 20, 21 dan 22.
Tidak memerlukan penj elasan.