• Tidak ada hasil yang ditemukan

Profil Makanan Tradisional Di Kotagede.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Profil Makanan Tradisional Di Kotagede."

Copied!
163
0
0

Teks penuh

(1)

Diajukan Kepada Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan

Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Teknik

Oleh :

RETNO WIDAYANTI 04511245001

POGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK BOGA

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK BOGA DAN BUSANA

FAKULTAS TEKNIK

(2)

disetujui oleh pembimbing untuk diujikan.

Yogyakarta, Januari 2007 Pembimbing

Ichda Chayati, M. P

Nip : 132288879

(3)

telah dipertahankan didepan dewan penguji pada tanggal 12 Januari 2006 dan

dinyatakan lulus.

DEWAN PENGUJI

Nama Jabatan Tanda Tangan Tanggal

Ichda Chayati, M.P Ketua Penguji ____________ ______

Kokom Komariah, M.Pd Sekretaris Penguji ____________ ______

Purwati Tjahjaningsih, M.Pd Penguji _____________ ______

Yogyakarta, Januari 2007

Fakultas Teknik Dekan

Prof. Dr. H. Sugiyono NIP. 130 693 811

(4)

Nama : Retno Widayanti

NIM : 04511245001

Jurusan : Pendidikan Teknik Boga dan Busana

Program Studi : Pendidikan Teknik Boga

Fakultas : Teknik

Universitas : Universitas Negeri Yogyakarta

Judul Skripsi :

PROFIL MAKANAN TRADISIONAL DI KOTAGEDE

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi ini benar-benar karya saya

sendiri. Sepanjang pengetahuan saya tidak terdapat karya atau pendapat yang

ditulis atau diterbitkan orang lain, kecuali sebagai acuhan atau kutipan dengan

mengikuti tata penulisan karya ilmiah yang telah lazim.

Yogyakarta Januari, 2007 Yang menyatakan

Retno Widayanti

(5)

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui profil makanan tradisional Di Kotagede yang meliputi : jenis-jenis makanan tradisional Kotagede, bahan dasar yang digunakan dalam pembuatan makanan tradisional , teknik olah yang digunakan untuk mengolah makanan tradisional, rasa dari makanan tradisional dan penyajian makanan tradisional yang siap dikonsumsi konsumen.

Jenis penelitian ini adalah diskriptif kualitatif. Subyek dalam penelitian ini penjual makanan tradisional dan masyarakat dan Obyeknya adalah keseluruhan makanan tradisional di Kotagede.Teknik pengumpulan data untuk penelitian ini adalah snow ball sampling dengan metode wawancara mendalam. Analisa data menggunakan analisa deskriptif kualitatif.

Hasil penelitian profil makanan tradisional Kotagede yang meliputi jenis-jenisnya, bahan dasar, teknik olah, rasa dan penyajian adalah sebagai berikut : Untuk jenis makanan besar tradisional di Kotagede adalah sebanyak 2 macam, untuk jenis sayur ada 3 macam sayur, untuk jenis lauk pauk ada 5 macam lauk pauk, untuk jenis minuman 4 macam minuman dan untuk jenis kudapan atau jajanan tradisional sebanyak 21 macam makanan. Bahan dasar makanan tradisional Kota gede yang menggunakan bahan dasar beras sebanyak 2 macam makanan, tepung beras 7 macam makanan, beras ketan 5 macam makanan, tepung beras ketan 3 macam makanan, ketela pohon 4 macam makanan, tepung ketela pohon 1 makanan, jagung 1 makanan, kelapa 1 makanan, sapi jerohan, 1 makanan, daging sapi 1 makanan, tepung terigu 3 macam makanan, pace 1 minuman, buah 2 macam minuman, sayur 3 macam makanan, rempah-rempah 1 makanan. Teknik Olah yang digunakan adalah dengan direbus 6 macam makanan , dipanggang 6 macam makanan, dijenang 6 macam makanan , dikukus 6 macam makanan, diperas 1 macam makanan, digoreng atau disaute 8 macam makanan dan dipotong 1 minuman. Rasa makanan tradisional Kotagede untuk rasa gurih sebanyak 19 macam jenis makanan, Untuk rasa manis sebanyak 15 macam makanan, Rasa pahit agak getir sebanyak 1 jenis minuman. Penyajian untuk makanan tradisional Kotagede yang menggunakan daun pisang adalah sebanyak 13 macam makanan , plastik atau kertas sebanyak 7 macam makanan, piring atau mangkuk 9 macam makanan, gelas 4 minuman dan toples sebanyak 2 jenis makanan.

Kata kunci : Profil, Makanan Tradisional, Kotagede.

(6)

atas rahmat dan karunia, sehingga penulis dapat menuliskan skripsi yang berjudul

Profil Makanan Tradisional di Kotagede “ dimaksud untuk mengetahui bagaimana makanan tradisional yang khas dari Kotagede yang meliputi makanan

tradisional jenis lauk, sayur, kudapan, minuman, dilihat dari jenisnya, bahan

dasarnya, teknik olah, rasa dan kemasanya yang terdapat di Kotagede.

Penulis sadar sedalam-dalamya bahwa tanpa bantuan dan uluran dari

berbagai pihak, skipsi ini tidak akan terwujud. Oleh karena itu pada kesempatan

ini perkenankanlah penulis mengucapkan terimakasih kepada yang terhormat :

1. Bapak Prof. Dr. H. Sugiyono, M.Pd. Dekan Fakultas Teknik Universitas

Negeri Yogyakarta.

2. Ibu Kokom Komariah, M. Pd. Ketua jurusan Pendidikan Boga dan Busana

Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta.

3. Ibu Ichda Chayati, M. P. Pembimbing skripsi yang banyak membimbing

dalam penyusunan skripsi ini.

4. Ibu Purwati Tjahjaningsih, M. Pd. Penguji skripsi sekaligus PA terimakasih

untuk nasihat dan saran-saranya

5. Mayarakat Kotagede yang banyak membantu.

6. Semua pihak yang tidak mungkin saya sebutkan satu persatu yang banyak

membantu penyusunan skripsi ini.

(7)

keanekaragaman dibidang makanan tradisional terutama di Kotagede,

Yogyakarta. Kritik dan saran yang sifatnya membangun penulis terima dengan

senang hati dan kami ucapkan banyak terimakasih

Yogyakarta, Januari 2007

Penulis

(8)

( Al-Baqarah : 286 )

‘”Sesungguhnya perjalanan kesurga tidak bertabur bunga tapi curam,

terjal dan berliku, tiada kemuliaan yang diperoleh dengan Cuma-Cuma”

“ Tidak berkorban untuk agama pasti kamu juga akan berkorban

untuk duniamu. Maka lebih baik kamu berkorban untuk Agamamu kamu akan dapat kemuliaan keduanya” ( Ummi )

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”

( Alam Nasrah : 5 )

Ya Allah terimakasih untuk hikmah yang Engkau hamparkan

dalam hidupku

Kupersembahkan karya ini kepada :

1. Ibuku karena perjuanganmu engkau tak pernah jera untuk sabar slalu

mendoakanku. Kakaku semua karena pengorbanamu disaat aku benar-benar butuh dukungan, ditengah-tengah sakit dan lukaku kamu

selalu ada. aku sayang kamu.

2. Almamaterku Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta

3. Temen deketku Simbox Ipe, Kang Gendut, Cak Sa, Mbak Iduk,

mas Uzan semoga aku tetap bisa mencintaimu karena Allah.

4. Temen Kost Karang malang A-32 dan temen-temenku semua… thank’s and I Love you All.

(9)
(10)

D. Instrumen Penelitian dan Pengumpulan Data………38

E. Teknik Analisis Data………40

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN………...42

A. Profil Responden………...42

B. Profil Makanan Tradisional Kotagede………..43

BAB V SIMPULAN DAN SARAN………112

A. Simpulan………..112

B. Saran ………..……….115

DAFTAR PUSTAKA ……….117 LAMPIRAN

(11)

Gambar 3. Jenang Suran………47

Gambar 29. Jenang Ngangrang, Sumsum, Lobe-lobe………..70

Gambar 30. Nagasari……….71

Gambar 36. Diagram Rasa Makanan………99

(12)

Tabel 3. Jenis-jenis Makanan Tradisional………..44

Tabel 4. Bahan Dasar Makanan………...76

Tabel 5. Teknik Olah Makanan………..90

Tabel 6. Rasa Makanan………..98

Tabel 7. Penyajian/Pengemasan Makanan………...103

Tabel 8. Rangkuman Makanan Tradisional Kotagede………...111

(13)

Lampiran 2 Daftar Pertanyaan Wawancara Sumber Informasi

Lampiran 3 Peta Wilayah Kecamatan Kotagede Lampiran 4 Surat Izin Penelitian

(14)

BERITA ACARA UJIAN SKRIPSI

Di bawah ini menerangkan bahwa skripsi dari mahasiswa : Nama : Retno Widayanti

NIM : 04511245001

Jurusan :Pendidikan Teknik Boga

Telah disetujui oleh pembimbing pada tanggal 3 Januari 2007 dan telah memenuhi persyaratan untuk ujian skripsi yang berjudul “ PROFIL

MAKANAN TRADISIONAL DI KOTAGEDE “ Ujian dilaksanakan pada:

Hari , Tanggal : Jumat, 12 Januari 2007 Pukul : 09.00 WIB

Tempat : Ruang Ujian Lantai III

Dengan Susunan panitia penguji Sebagai Berikut :

1. Ketua : Ichda Chayati, M. P.

2. Sekretaris : Kokom Komariah, M. Pd.

(15)

BERITA ACARA UJIAN SKRIPSI

Di bawah ini menerangkan bahwa skripsi dari mahasiswa : Nama : Retno Widayanti

NIM : 04511245001

Jurusan :Pendidikan Teknik Boga

Telah disetujui oleh pembimbing pada tanggal 3 Januari 2007 dan telah memenuhi persyaratan untuk ujian skripsi yang berjudul “ PROFIL

MAKANAN TRADISIONALDI KOTAGEDE “

Ujian dilaksanakan pada:

Hari , Tanggal : Jumat, 12 Januari 2007 Pukul : 09.00 WIB

Tempat : Ruang Ujian Lantai III

Dengan Susunan panitia penguji Sebagai Berikut :

1. Ketua : Ichda Chayati, M. P.

2. Sekretaris : Kokom Komariah, M. Pd.

(16)

BERITA ACARA UJIAN SKRIPSI

Di bawah ini menerangkan bahwa skripsi dari mahasiswa : Nama : Retno Widayanti

NIM : 04511245001

Jurusan :Pendidikan Teknik Boga

Telah disetujui oleh pembimbing pada tanggal 3 Januari 2007 dan telah memenuhi persyaratan untuk ujian skripsi yang berjudul “ PROFIL

MAKANAN TRADISIONAL DI KOTAGEDE “ Ujian dilaksanakan pada:

Hari, Tanggal : Jumat, 12 Januari 2007 Pukul : 09.00 WIB

Tempat : Ruang Ujian Lantai III

Dengan Susunan panitia penguji Sebagai Berikut :

1. Ketua : Ichda Chayati, M. P.

2. Sekretaris : Kokom Komariah, M. Pd.

(17)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara kepulauan yang kaya dengan

kemajemukan dilihat dari berbagai aspek segi dan dimensi. Dari kemajemukan

yang banyak ini, Indonesia mempunyai potensi kekayaan yang sangat beraneka

ragam. Hal ini, dapat dilihat dari sumber daya alam maupun dari sumber daya

manusianya. Karena setiap komunitas masyarakat di Negara Indonesia

mempunyai ciri khas sendiri yang tidak sama dengan komunitas masyarakat

yang lain.

Salah satu kekayaan Indonesia yang dapat dibanggakan adalah

keanekaragaman dari segi makanan. Setiap daerah mempunyai kebanggaan

makanan yang bisa diandalkan menjadi ciri khas daerahnya. Hal ini, bisa dilihat

dari segi rasa, bahan, teknik olah dan kemasan atau cara penyajian biasanya

proses pembuatanya dilakukan sangat sederhana dan tidak menggunakan bahan

kimia yang mempunyai dampak negatif bagi tubuh. Selain itu, bisa saja

menggunakan penaganan yang khusus yang tidak bisa dilakukan oleh orang yang

tidak berdomisili didaerah tertentu. Karena itu, daerah satu dengan daerah yang

lain mempunyai potensi yang tidak sama sehingga produk yang dihasilkanya pun

juga tidak sama. Lebih unik lagi, makanan tersebut hanya bisa ditemukan

ditempat-tempat tertentu dan belum tentu bisa ditemukan di pasar umum,

(18)

Makanan tradisional merupakan salah satu aset budaya yang penting

untuk dilestarikan dan dikembangkan. Makanan tradisional merupakan makanan

yang sudah lama dikenal dan resep yang digunakan untuk membuat makanan

tradisional dibuat oleh nenek moyang kemudian, diajarkan secara turun temurun.

Oleh karena itu, makanan tradisional digolongkan sebagai produk budaya yang

perlu dijaga dan dilestarikan menjadi produk yang memiliki sejarah dan budaya

yang tinggi. Makanan tradisional khas tersebut memiliki daya tarik tersendiri bagi

konsumen atau wisatawan dari luar daerah sehingga makanan tradisional menjadi

salah satu produk penunjang pariwisata yang dapat mendatangkan devisa bagi

pendapatan suatu daerah. Selain itu, dilihat dari segi ekonomi makanan tradisional

banyak diproduksi oleh skala rumah tangga yang dapat memberikan sumbangan

bagi pendapatan keluarga. Bahkan, ada yang menjual makanan tradisional ini

sebagai mata pencaharian keluarga atau sumber pendapatan utama.

Kotagede merupakan salah satu nama kota yang terletak 10 Km arah

tenggara dari Kota Yogyakarta. Di tempat ini, dapat dijumpai berbagai macam

perhiasan dan interior dari perak. Maka Kotagede identik dengan sebutan sebagai

kota perak. Kotagede adalah sebuah kawasan pusaka. Kota kuno ini bekas ibukota

Kerajaan Mataram yang awalnya dibuka oleh Ki Ageng Pemanahan pada abad 16.

Kotagede merupakan jembatan yang menghubungkan antara tradisi Hindu –

Budha dan Islam. Sejarah makanan tradisional Kotagede cukup panjang. Dalam

kitab centini disebutkan makanan yang disebut kupo, dan sekarang di sebut kipo.

Berdasarkan sejarah lisan, diwartakan juga mengenai bagaimana makanan dari

(19)

Diponegoro, yaitu makanan yang sekarang di kenal sebagai yangko. Dari sejarah

lisan pula diketahui bahwa Panembahan Senopati ternyata mempunyai jenis

makanan tertentu yang sekarang sering dijadikan bancaan atau sesaji waktu orang

tirakat di sekitar makam panembahan Senopati.

Pada perkembangan untuk saat ini produk makanan tradisional tidak

sepesat yang diharapkan. Dalam sekala unit produksi hanya produk makanan

tradisional tertentu yang berkembang pesat dan dikenal oleh masyarakat luas. Hal

ini disebabkan karena makanan tradisional itu sendiri kurang dikenal, daya simpan

pendek, tidak praktis, penampilan kurang menarik dan kurang higienis. Selain itu

yang menjadi kendala makanan tradisional tidak berkembang pesat karena

berbagai makanan tradisional yang sebelumnya hanya diproduksi oleh

pengusaha-pengusaha kecil di pedesaan, belakangan ini mulai banyak dibuat perusahaan

besar. Kondisi tersebut membuat pelaku usaha kecil menjadi terdesak, karena dari

berbagai sisi mereka sulit bersaing dengan perusahaan besar sehingga hanya

produk tertentu yang berkembang secara pesat. Selain itu kendala sosioatropologi

dan keragaman kultural merupakan kendala yang dihadapi dalam pengembangan

makanan tradisional. Hal ini karena berkaitan erat dengan kebiasaan pangan,

selera, tingkat pengetahuan dan sistem nilai yang dianut oleh masyarakat tersebut.

Sementara itu kemajuan ilmu dan teknologi mempunyai dampak pada perilaku

makan individu yang terkait erat dengan gaya hidup (life style) masyarakat.

Pengaruh global nampak menonjol pada kota-kota besar yang diiringi

mengalirnya arus budaya makanan barat yang tampaknya sangat mampu untuk

(20)

Kelihatanya pasar pangan tradisional menghadapi saingan berat, yang menjadi

permasalahan bagi industri makanan tradisional ( Winarno, 1987)

Salah satu contoh daerah yang mengalami kondisi tersebut adalah

kecamatan Kotagede Yogyakarta dan daerah sekitarnya. Karena di daerah

tersebut hanya makanan tradisional tertentu yang sering lebih dikenal oleh

masyarakat banyak sekali makanan tradisional yang berasal dari daerah tersebut.

Padahal di Kotagede sendiri merupakan kawasan bekas kerajaan. Kawasan

kerajaan merupakan pusat peradapan budaya dan makanan sehingga potensi

keanekaragamaan sangat bervariasi. Hal ini menandakan kurang sosialisasinya

produk makanan tradisional yang berakibat keberadaanya berkurang dan bisa jadi

lama-kelamaan hilang sama sekali.

Profil menurut kamus Ilmu Sosial pengertian profil adalah gambaran

grafik dari tingkat-tingkat yang berhubungan dengan rangkaian cirri-ciri tertentu,

sedangkan menurut kamus Sosiologi mengartikan bahwa profil itu merupakan

penyajian tahap-tahap tertentu sesuai dengan karakteristik tertentu

Melihat fenomena yang terjadi di tengah masyarakat seperti ini maka

penulis mempunyai gagasan untuk mengetahui profil makanan tradisional

khususnya di Kotagede melalui pengujian dari studi organoleptik yang meliputi

rasa, tekstur, kemasan atau cara penyajian yang diharapkan dapat menumbuhkan

kembali kecintaan masyarakat terhadap produk makanan tradisional agar

dilestarikan kepada generasi muda. Dengan demikian produk makanan tradisional

tak hanya dikenal atau disukai oleh kalangan generasi tua saja. Hal ini pun juga

(21)

anak-anaknya atas berbagai budaya sendiri malalui pengenalan dan pelestarian

makanan tradisional meskipun untuk saat ini makanan yang lebih modern lebih

gencar berkembang.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas Untuk dapat mengangkat

dan melestarikan ide peneliti menemui berbagai permasalahan yaitu sebagai

makanan tradisional diperlukan mengumpulkan orang-orang yang begitu paham

tentang sejarah dan filosofi dari makanan tradisional yang berasal dari Kotagede.

Namun dalam kenyataanya tidak semua makanan tardisional untuk saat ini bisa

diproduksi bahkan keberadaanya pun sekarang sudah tidak ada lagi apalagi

peneliti menyusuri resep dan cara pembuatanya itu sangat membutuhkan

pengumpulan data yang cukup panjang dan lama.

Kedua tidak semua masyarakat dan penjual makanan tradisional

paham tentang apa saja makanan tradisional yang berasal dari Kotagede karena

dilihat perkembanganya makanan tradisional yang berada dipasaran sudah

tercampur dengan makanan tradisional dari daerah lain.

Ketiga sebagai produk penunjang pariwisata di Kotagede bagaimana

peran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dalam usaha mempromosikan dan

melestarikan makanan tradisional khas Kotagede tidak seberapa besar perananya

(22)

C. Pembatasan Masalah

Karena luasnya permasalahan yang terdapat di penelitian ini, maka

peneliti membatasi pada masalah makanan tradisional yang khas dari Kotagede

yang meliputi makanan tradisional jenis makanan besar, lauk pauk, sayur,

kudapan, minuman. Peneliti mengambil permasalahan tentang jenis-jenisnya,

bahan dasarnya, teknik olah, rasa dan penyajian atau pengemasan makanan

tradisional yang terdapat di Kotagede.

D. Rumusan masalah

Berdasarkan pada pembatasan masalah diatas, maka permasalahan

dapat dirumuskan sebagai berikut :

1. Apa saja jenis makanan tradisional yang terdapat di Kotagede?

2. Bagaimana bahan dasar makanan tradisional di Kotagede ?

3. Bagaimana teknik olah makanan tradisional di Kotagede?

4. Bagaimana rasa makanan tradisional di Kotagede?

5. Bagaimana penyajian makanan tradisional di Kotagede?

E. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk :

1. Mengetahui jenis-jenis makanan tradisional yang banyak terdapat di Kotagede.

2. Mengetahui bahan dasar apa saja yang digunakan untuk bahan membuat

makanan tradisional di Kotagede.

3. Mengetahui teknik olah yang digunakan untuk membuat makanan tradisional

(23)

4. Mengetahui bagaimana rasa makanan tradisional di Kotagede.

5. Mengetahui bagaimana penyajian makanan tradisional di Kotagede.

F. Manfaat Penelitian

1. Manfaat dari hasil penelitian ini sebagai informasi kepada masyarakat luas

bahwa di Kotagede terdapat macam-macam makanan tradisional yang banyak,

namun keberadaanya sekarang sudah tidak banyak terdapat di pasaran. Seperti

jenang suran, nasi ruwahan, kluwo, telo bajingan.

2. Sebagai Informasi ini yang membantu menghimbau masarakat dan generasi

muda untuk tetap melestarikan keberadaan makanan khas tradisional Kotagede.

Sehingga eksistensinya di masa yang akan datang tetap dapat di kenal dan

dinikmati oleh generasi generasi selanjutnya.

3. Sebagai kontribusi kepada pemerintah daerah untuk menghimbau kepada

masyarakat terutama masyarakat di Kotagede untuk menjaga kelestarian

makanan tradisional yang khas Kotagede sebagai potensi makanan yang

menjadi khas daerah Kotagede dan sebagai aset budaya penunjang pariwisata.

Sehingga akan timbul kecintaan terhadap makanan tradisional yang terdapat di

(24)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Makanan Tradisional

Istilah tradisional berasal dari bahasa latin tradisio yang berarti kabar

atau penerusan. Tradisi dapat diartikan lebih luas sebagai sesuatu yang diturunkan

dari generasi ke generasi berikutnya. Menurut Purwodarminto 1976 dalam kamus

umum Bahasa Indonesia.

Menurut Harisudin : 1995 mengemukakan bahwa makanan tradisional

merupakan makanan yang biasa dikonsumsi masyarakat menurut golongan etnik

dan wilayah yang spesifik, diolah dari resep yang dikenal masyarakat, bahanya

diperoleh dari sumber lokal dan memiliki rasa yang relative sesuai dengan selera

masyarakat. Bahan makanan tradisional biasanya pada umumnya telah dikenal

luas oleh masyarakat yang berasal dari jenis umbi-umbian, buah-buahan, daging,

ikan.

Makanan tradisional adalah makanan dan minuman, termasuk jajanan serta bahan campuranya yang digunakan secara tradisional diolah oleh masyarakat setempat dengan bahan-bahan yang diperoleh dari sumber lokal yang memiliki cita-rasa relatif sesuai dengan selera masyarakat setempat. (www. Potensi-Makanan,htm)

Makanan tradisional merupakan warisan nenek moyang sejak

berabad-abad dan telah diterima oleh masyarakat serta sarat dengan kandungan

gizi. Pengetahuan dan informasi tentang makanan tradisional diperoleh dengan

penyebaran dari mulut ke mulut dan diluaskan dengan adanya prasasti dan naskah

sastra sebagai sumber informasi terluas yang dapat dipelajari hingga sekarang.

(25)

makanan selingan dan minuman. Sedangkan dalam lingkup yang luas makanan

tradisional dapat pula berupa makanan yang digunakan untuk sesaji dalam suatu

upacara tradisi Menurut Sastrodiningrat (1995)

Dari berbagai pendapat tentang pengertian makanan tradisional diatas

dapat disimpulkan bahwa makanan tradisional merupakan makanan yang

dikonsumsi oleh segolongan masyarakat dalam suatu wilayah di mana makanan

tersebut adalah sejak nenek moyang mereka dengan resep yang diturunkan secara

lisan dibuat dengan rasa sesuai selera mereka denagan menggunakan bahan

makanan setempat atau bahan pangan lokal.

B. Kotagede

Kotagede terletak 10 Km arah tenggara dari Kota Yogyakarta. Di

tempat ini kita dapati berbagai macam perhiasan dan interior dari perak. Maka

Kotagede identik di namakan sebagai kota perak. Kota gede adalah sebuah

kawasan pusaka. Kota kuno ini bekas ibukota Kerajaan Mataram yang awalnya

dibuka oleh Ki Ageng pemanahan pada abad 16. Kotagede merupakan jembatan

yang menghubungkan antara tradisi Hindu – Budha dan Islam. Hal ini terlihat

pada peninggalan kuno kompleks masjid makam Panembahan Senopati beserta

keluarganya. Juga makam dan kolam seliran. Sisa-sisa peningalan kerajaan

mataram berupa pintu gerbang makam masuk kompleks makam Kotagede yang

berbentuk gapura paduraksa dan pohon beringin yang tumbuh kokoh sampai

(26)

dilihat sedikit reruntuhanya. Sedangkan rumah-rumah lama masih relative banyak

terdapat disana, baik yang berada dalam kondisi baik maupun yang kurang.

Masyarakat Kotagede yang mayoritas beragama Islam dikenal

mempunyai etos kerja yang tinggi sebagian besar adalah pengrajin perak, emas,

tembaga, kulit dan lain-lain. Sebagian lainya bekerja sebagai pegawai di Kota

Yogyakarta. Kemampuan berdagang dan membuat kerajinan tangan dari perak

merupakan kemampuan warisan turun temurun. Orang Kalangan ini pada masa

kejayaan Mataram di Kotagede menjadi konglomerat-konglomerat pribumi yang

hebat. Kejayaan Kotagede di masa lampau masih dapat disaksikan hingga

sekarang. Ukir-ukiran yang dipahatkan pada kerangka bangunan rumah-rumah

menunjukkan kemewahan pada zamannya. Dapat dikatakan masyarakat Kotagede

memiliki relasi yang erat diantara mereka terbukti dengan adanya perkumpulan

yang mereka bentuk berupa kesenian antara lain karawitan, kethoprak, salawatan,

keroncong, tingklung wayang. Demikian pula upacara sesaji (caos) pada hari-hari

tertentu, serta tirakatan menjadi aset budaya Kotagede. .(www.

Potensi-Makanan,htm)

Kotagede sebenarnya sudah dikenal oleh banyak kalangan dari

berbagai tempat. Namun kegiatan pariwisata maupun potensi daerah yang hampir

tidak melibatkan masyarakat lokal secara langsung. Masyarakat hanya sebatas

obyek untuk dinikmati pengunjung dan sebagian orang yang bergerak dalam

industri pariwisata. Padahal sebenarnya Kotagede memiliki aset budaya yang luar

(27)

C. Makanan Tradisional Kotagede

Sejarah makanan tradisional Kotagede cukup panjang. Dalam kitab

centini disebutkan makanan yang disebut kupo, yang sekarang di sebut kipo. Dari sejarah lisan juga diwartakan bagaimana ada makanan dari ketan yang tahan

berbulan-bulan sehingga dapat dijadikan bekal pasukan Diponegoro, yaitu

makanan yang sekarang di kenal sebagai yangko. Dari sejarah lisan pula diketahui

bahwa Panembahan Senopati ternyata mempunyai jenis makanan tertentu yang

sekarang sering dijadikan bancaan atau sesaji waktu orang tirakat di sekitar

makam panembahan Senopati.

Masyarakat Jogja terutama daerah Kotagede sama seperti masyarakat

daerah lain. Terbagi dalam masyarakat pedesaan yang hidup bertani dan

masyarakat perkotaan yang bekerja diperkantoran atau perusahaan. Secara

cultural, terasa pengaruh andil budaya keraton yang mewarnai falsafah dan gaya

hidup masyarakat Kotagede. Budaya ini diwujudkan dalam bentuk gaya hidup

termasuk pola makan, tatanan masyarakat, wujud bangunan, pakaian, lagu,

makanan tradisional dan lain-lain. Sekarang kita mengenal ada makanan

tradisional yang semula di buat dan disajikan dalam kaitan upacara penting di

zaman kerajaan Mataram dulu, kemudian dilestarikan oleh masyarakat. Ini.

Menyangkut makanan tradisional yang masuk dalam kategori daharan atau

makanan besar, berupa aneka macam nasi, sayur dan lauk pauknya. Misalnya

berupa aneka macam makanan untuk bancaan dan kenduri yang kemudian

(28)

panganan atau makanan kecil, berupa pernik-pernik panganan yang lezat khas

Kotagede.

Pada zaman-zaman berikutnya, masyarakat sendiri kemudian

berkreasi menciptakan makanan tradisional yang khas, biasanya dengan bahan

baku lokal yang banyak ditemukan. Ketika zaman dahulu di Kotagede masih

banyak kolam ikan untuk memelihara gurami maka ada masakan gurami yang

dijadikan andalan untuk menjamu tamu saat perhelatan pengantin. Untuk

makanan kecil tradisional biasanya mempergunakan bahan baku ketan atau tepung

ketan, beras atau tepung beras, ketela, tepung jagung, pohon aren dan

umbi-umbian. Maka Kotagede kemudian dikenal makanan kecil tradisional dikenal

bernama legomoro, yangko, kipo, ledre intip, wajik kletik, gandos, jenang nangka,

bikang, welha, model. Telo bajingan, jenang jagung tempe, lima macam gethuk,

empat macam thiwul, ongol-ongol, osak-asik, banjar, ukel kembang waru, peyek

bayem dan semacamnya. Sebagai pelengkap masih ada minuman khas Kotagede

yaitu wedang secang, setup jambu yang biasanya keluar pada malam bulan puasa

untuk jaburan, rujak ceplus, semelak, wedang bajigur, kunir asem dan wedang

jahe gula jawa.

Makanan tersebut ada yang berumur pendek, ada yang cukup awet

sehingga dapat dijadikan oleh-oleh. Di Kotagede ada semacam sentra pembuat

makanan khas tersebut. Biasanya pembuatnya sudah merupakan keturunan yang

keberapa dari para perintisnya. Hal ini yang kemudian dicatat sebagai potensi

makanan tradisional yang perlu terus dilestarikan karena disamping rasanya lezat,

(29)

membuatnya dimasak secara alami tanpa zat kimia yang cenderung merugikan

kesehatan manusia. .(www.Potensi-Makanan Tradisional Kotagede ,htm).

D. Makanan Sumber Karbohidrat

Karbohidrat merupakan sumber kalori utama bagi hampir seluruh

penduduk dunia, khususnya bagi penduduk Negara yang sedang berkembang.

Walaupun jumlah kalori yang dapat dihasilkan oleh 1 gram karbohidrat hanya 4

kal ( kkal ) bila dibanding protein dan lemak. Karbohidrat merupakan sumber

kalori yang murah. Selain itu beberapa golongan karbohidrat menghasilkan

(dietary fiber) yang berguna bagi pencernaan ( F.G Winarno, 1997 ).

Karbohidrat juga mempunyai peranan penting dalam menentukan

karakteristik bahan makanan, misalnya rasa, warna, tekstur dan lainya. Sedangkan

dalam tubuh , karbohidrat berguna untuk mencegah timbulnya ketosis, pemecahan

protein yang berlebihan, kehilangan mineral dan berguna untuk membantu

metabolisme lemak dan protein.

Karbohidrat banyak terdapat dalam bahan nabati, baik berupa gula

sederhana, pentosa maupun karbohidrat dengan berat yang tinggi seperti pati,

pectin, selulosa dan lignin. Makanan sumber karbohidrat biasanya terdapat pada

bahan-bahan nabati yaitu serealia, umbi-umbian dan batang tanaman misalnya

sagu. Namun di Indonesia bahan pokok makanan sumber karbohidrat sebagian

(30)

1. Beras

Beras merupakan makanan pokok masyarakat Indonesia

khususnya pulau jawa. Beras ada yang berwarna putih dan ada yang

berwarna merah. Beras putih lebih banyak digemari daripada beras merah

sebab beras merah agak kasar. Beras yang baru pada umumnya lebih sedap

atau harum karena beras yang baru tidak banyak menyerap air ketimbang

beras lama. Agar aroma pada beras lama dapat harum dapat ditambahkan

daun pandan atau daun salam pada waktu memasak ( Marwanti : 2000 : 44 ).

Beras merupakan makanan pokok yang menjadi sumber kalori

sebagian besar penduduk dunia khususnya di Asia. Diperkirakan 80 – 90 %

beras dikonsumsi dalam bentuk biji utuh dengan cara dimasak menjadi nasi,

sedangkan sisanya diolah dalam bentuk lain, seperti tepung dan makanan

jajanan lainya. Konsumsi beras sebagian besar masih dalam bentuk beras

giling. Indonesia merupakan Negara yang 80 % penduduknya mengkonsumsi

beras sebagai makanan pokok. Keadaan konsumsi beras pada massa

mendatang dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain tingkat pendapatan,

selera masyarakat dan harga. Macam-macam beras adalah beras putih, beras

merah dan beras ketan yang mengandung selulosa tinggi sehingga lebih pekat

dibandingkan dengan beras lainya.

2. Jagung ( zea mays )

Jagung serealia yang termasuk famili gramineae, ordo Maydeae

dan golongan tanaman menyerbuk silang. Jagung merupakan tanaman

(31)

betina. Tanaman jagung dapat dipanen apabila kelobot telah berwarna kuning

dan biji jagung apabila ditusuk dengan kuku ibu jari tidak berbekas. Kadar air

biji berkisar 30 –35 %. Setelah jagung dipipil dan dikeringkan kadar airnya

menxcapai 14 %.

3. Tepung atau pati.

Tepung atau pati merupakan bentuk karbohidrat yang diperoleh

dari biji-bijian, akar-akaran, umbi-umbian dan tanaman buah terutama yang

belum dimasak (Muchtadi, 1997). Tepung terigu, tepung kanji.

4. Ubi kayu atau ketela pohong ( Manihot esculenta Crantz )

Ubi kayu termasuk dalam famili Euphorbiaceae yang memiliki

beberapa sifat menguntungkan untuk digunakan sebagai bahan makanan,

yaitu dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang miskin zat hara, dan

kandungan pati relative sedikit (Muchtadi, 1997)

Ubi kayu atau ketela pohon merupakan karbohidrat jenis

umbi-umbian. Umbi-umbian adalah bahan makanan yang terdiri dari akar rhizome

dan batang yang tumbuh dalam tanah, yang merupakan penimbunan tepung.

Karena itu umbi sering dipakai sebagai makanan pokok ketiga setelah beras

dan jagung. Potensi nilai ekonomi dan sosial ubi kayu merupakan bahan

pangan massa depan yang berdaya guna, bahan baku berbagai industri. Ubi

kayu saat ini sudah dikelola sebagai komoditas agroindustri, seperti tepung

tapioka, industri fermentasi dan berbagai industri makanan, pemanfaatan ubi

(32)

merancang peningkatan produksi dan produktifitas ubi kayu nasional untuk

memacu keanekaragaman produk stabilitas harga pasar.

Ubi kayu merupakan bahan makanan yang mudah rusak,

mengalami perubahan enzimatik sampai 3 hari panen, dan 3-5 hari kemudian

mengalami perubahan patogenik sehingga ubi kayu harus segera dikonsumsi

atau diolah menjadi makanan yang tahan lama untuk disimpan. Ubi kayu

memiliki 2 jenis yaitu pahit dan manis, untuk jenis pahit mengandung kadar

glycoside dengan nama linamarin lebih dari 100 gr/kg ubi kayu. Sedangkan ubi kayu jenis manis mengandung linamarin kurang dari 50 gr/kg. linamarin

adalah zat pembawa rasa pahit dalam perut sehingga dapat menimbulkan

asam hydrogen yang dapat mematikan karena menyebabkan kekurangan

oksigen.

5. Kentang ( Solanum tuberosum L )

Kentang merupakan sayuran ubi yang mempunyai banyak

kegunaan. Didalam umbinya terdapat cadangan energi, nitrogen dan protein

berkwalitas tinggi yang sangat bermanfaat bagi kesehatan. Selain itu kentang

juga mengandung mineral seperti zat besi dan magnesium serta vitamin C

dan beberapa jenis vitamin B. hal inilah yang menyebabkan masalah

kekurangan sangat jarang terjadi pada Negara-negara yang penduduknya

mengunakan kentang sebagai makanan pokok (Tati Nirmala, 1998).

Kentang komposisinya sangat bervariasi sesuai dengan varietas,

(33)

simpan, serta kondisi penyimpanan ubi kentang mengandung senyawa yang

sangat berperan sebagai antioksidan.

E. Teknik Olah

Mengolah makanan berarti memanaskan makanan sesuai dengan

permintaan dengan tujuan untuk membuat perubahan tertentu pada makanan itu.

Metode pengolahan pada umumnya dibagi menjadi 2 yaitu metode panas basah

dan panas kering. Metode panas basah dimana panas dihantarkan kedalam

makanan melalui bahan cair seperti air, stock atau kaldu, saus. Metode panas

kering dimana panas yang dihantarkan kedalam makanan melalui udara panas,

metal panas, radiasi atau mengunakan atau tanpa lemak panas.

( Siti Hamidah, 1996 )

Perbedaan menggunakan metode tersebut tentunya disesuaikan

dengan macam bahan makanan yang akan di olah. Metode pengolahan makanan

ada 2 menggunakan api dan tanpa menggunakan api. Metode yang menggunakan

api ada 2 yaitu dengan panas basah dan panas kering adalah:

a. Metode panas basah

Metode panas basah terdiri dari enam teknik yaitu :

1). To Poach

Merupakan metode mengolah makanan dengan panas basah yaitu

memasak dengan menggunakan sedikit cairan, dengan panas yang diatur

agar jangan sampai mendidih. Temperature yang digunakan sekitar 160

(34)

lembut-lembut seperti ikan dan telur. Selain itu poaching dilakukan juga

untuk menghilangkan aroma atau bau yang tidak diinginkan.

2). To Simmer

Metode memasak menggunakan panas basah dengan memasak

pada cairan yang mendidih dengan sangat pelan, temperature panas sekitar

85–96 derajad Celcius.

3).To Boil

Yaitu memasak dalam air yang mendidih sangat cepat dan

bergolak. Mendidih pada temperature 100 derajad Celsius diatas

permukaan air laut. Metode boil ini biasanya digunakan pada jenis sayuran

dan bahan bertepung. Temperature tinggi akan mengeraskan ( membuat

liat ) protein daging, ikan dan telur. Air yang mendidih dengan cepat akan

mengurai kehalusan makanan ( delicate food ).

4). To Blanch

Yaitu memasak dengan cepat. Blancing biasanya dilakukan dengan

air dingin atau air panas tetapi bisa juga dalam minyak panas.

5). To Steam

Yaitu metode memasak dengan mengunakan uap air secara

langsung. Istilah ini sering kita menyebutnya adalah mengukus.

Penguapan juga menunjukan memasak yang dibungkus atau ditutup rapat,

sehingga makanan masak oleh cairan yang ada pada makanan itu sendiri.

Penguapan dilakukan pada suhu 212 Derajad Fahrenheit atau 100 derajad

(35)

mendidih. Tetapi panas yang dihasilkan dari uap 100 derajad celcius

tekananya lebih panas. Sehingga memasak lebih cepat dan waktu

pengolahanya lebih singkat.

6). To Braise

Yaitu memasak dengan sedikit cairan dan ditutup. To braise ini

menunjukan cara mengolah dengan menggunakan sedikit bahan cair dan

ditutup. Makanan yang diungkep biasanya tidak tertutup bahan cair.

Metode ini biasanya dinamakan mengukep atau menyemur.

7. to thicken ( Mengentalkan )

Ialah menambah bahan-bahan pengental pada bahan cair.

Bahan-bahan yang dapat digunakan adalah : pati, gelatine, telur dan agar-agar.

Tepung maizena dan tepung kentang lebis besar daya kentalnya daripada

bahan pengental yang lain. Tepung mengandung protein dan selulosa.

Semakin halus tepung semakin besar daya kentalnya.

8. Mengongklok

Yaitu metode pengolahan makanan dengan cara bahan makanan

setelah direbus dan air perebusnya dibuang dalam panic diatas api kecil

digoncang-goncangkan agar menjadi kering dan memperoleh lapisan yang

warnanya keputih-putihan.

b. Metode Panas kering

Terdiri dari 2 metode yaitu mengunakan lemak dan tanpa lemak.

(36)

a. Roast, bake

Memanggang dan membakar adalah memasak makanan dengan

menggunakan panas udara kering yang mengintarinya. Dan biasanya

dilakukan dengan oven. Memasak diatas rak dan diletakan diatas api disebut

juga memanggang. Pada umumnya roasting diterapkan untuk daging dan

unggas sedangkan untuk baking diterapkan untuk bread, pastry, sayuran

dan ikan.

b. To broil

Broil adalah memasak dengan pancaran panas dari atas. Metode

memanggang ada 3 yaitu broiling, grilling dan gridding.

1. Broiling

Merupakan metode pengolahan dengan cara menggunakan

alat yang berpermukaan keras dan menggunakan lemak sampai

tergenang. Di bolak-balik sampai makanan matang sampai dalam.

2. Grilling

Sendiri merupakan teknik mengolah makanan dengan

menggunakan arang sebagai sumber panasnya bisa juga elemen

elektrik atau elemen yang dipanaskan gas. Temperature

pengolahan diatur dengan cara menggerakan makanan ke tempat

yang lebih panas atau lebih dingin dari alat grilling itu sendiri.

3. Gridding

Merupakan metode pengolahan makanan yang dikerjakan

(37)

waktu pengolahan menggunakan sejumlah kecil lemak atau tidak

menggunakan lemak sama sekali, tujuanya agar tidak lengket.

Temperatur dapat disesuaikan dan dapat lebih rendah dari grill

( sekitar 350 derajad celcius/177 darajad celcius ).

4. Menyebab

Mengolah bahan makanan dengan cara atau tanpa

pembungkus dimasukan kedalam kedalam abu panas atau bara.

( Sri Maryati : 2000).

5. Menyandang atau merendang

Mengolah bahan makanan yaitu memasak dengan

menggunakan wajan tanpa minyak goreng atau air. Biasanya hal

ini direapkan untuk daun-daunan kering seperti the untuk

mengurangi kadar airnya.

2. Metode panas kering dengan menggunakan lemak.

1. To sauté

Adalah teknik pengolahan makanan secara cepat dengan

menggunakan sedikit lemak. Biasanya untuk makanan yang tidak

memerlukan waktu yang lama dalam proses pemanasanya, misalnya :

menumis.

2. Pan Fry

Adalah memasak dengan minyak dalam jumlah sedang dan

(38)

hanya lemak yang digunakan lebih banyak dan umumnya menggunakan

waktu pengolahan yang lebih panjang. Jumlah lemak yang digunakan

tergantung pada jumlah atau keadaaan makanan yang sedang dimasak.

Beberapa makanan perlu dibolak-balik satu kali supaya menjadi lebih

masak dan untuk makanan yang besar setelah digoreng dapat diselesaikan

didalam oven, untuk menghindari keadaan yang terlalu coklat.

3. Deep Fry

Adalah metode pengolahan makanan dengan cara memasak

makanan sampai terendam dalam minyak panas. Biasanya diberlakukan

untuk makanan yang tidak banyak menyerap lemak. ( Siti Hamidah, 1996 )

Menurut Sri Maryati : 2000 metode mengolah makanan tanpa menggunakan

api terdiri dari:

1. Mememarkan

Yaitu merupakan teknik mengolah bahan makanan dengan cara

memukul bahan namun bahan tidak sampai hancur.

2. Mengaduk

Yaitu mengocok bahan makanan menjadi satu sampai semua bahan

tercampur rata.

3. Membesta

Yaitu mengolah bahan makanan dengan cara memberi lapisan gula

pada makanan yang sudah masak. Biasanya bahan makanan yang akan

(39)

setelah digoreng makanan dimasukan kedalam larutan gula. Sehingga akan

diperoleh warna yang keputih-putihan ketika gula sudah mengering.

F. Pengemasan atau penyajian

Pengemasan atau penyajian merupakan salah satu upaya untuk

mempertahankan mutu hasil pengawetan hingga ditangan pembeli atau konsumen.

Dilihat dari aroma, rasa, gizi, warna. Dasarnya adalah mengantisipasi unsur-unsur

serta kemungkinan bisa hidupnya mikro organisme dengan berbagai

manifestasinya (Suharto : 1991 )

Pengemasan atau penyajian bahan pangan terdapat dua macam wadah

yaitu wadah utama atau wadah yang langsung berhubungan dengan makanan, dan

wadah kedua atau wadah yang tidak berhubungan langsung dengan

makanan.Wadah utama harus bersifat tidak beracun dan “inert“ sehingga tidak terjadi reaksi kimia yang dapat menyebabkan perubahan warna, cita rasa dan

perubahan lainya. Selain dari itu untuk wadah utama biasanya diperlukan

syarat-syarat tertentu tergantung dari jenis makananya misalnya: wadah harus

melindungi makanan dari kontaminasi, memantapkan kandungan air dan

lemaknya, mencegah masuknya bau dan gas, melindungi bahan terhadap sinar,

tahan terhadap tekanan dan benturan.

Wadah utama harus melindungi bahan makanan dari kontaminasi

berarti melindungi terhadap mikroba dan kotoran serta tahan terhadap gigitan

serangga atau binatang-binatang pengerat lainya. Kandungan air didalam bahan

(40)

kandungan airnya, jadi wadah harus kedap air. Melindungi terhadap lemak yaitu

lemak dari makanan tersebut tidak boleh merembes atau meresap masuk atau

keluar melalui wadah, misalnya pengepakan pada mentega

Perlindungan terhadap bau dan gas yang maksudnya supaya bau atau

gas-gas yang tidak diinginkan tidak dapat masuk melalui wadah tersebut,

sedangkan aroma atau gas yang diinginkan tetap dipertahankan didalamnya.

Wadah yang digunakan harus tahan terhadap tekanan atau benturan, misalnya

yang terjadi saat pengangkutan. Wadah yang rusak karena tekanan atau benturan

dapat menyebabkan makanan didalamnya juga rusak dalam arti berubah

bentuknya.

Untuk menghidangkan adalah lebih dikaitkan dengan

penyelenggaraan pengelolaan rumah tangga yang teratur. Kerena penyajian ini

biasanya sangat terkait pada penyelenggaran restoran. Bila yang dihidangkan dan

pelayananya tidak baik menyebabkan kekecewaan bagi yang menikmatinya.

Penggunaan wadah nyang sesuai sangat menunjang seseorang untuk

menikmatinya. Misalnya penggunaan dinner plate sebagi tempat untuk hidangan

utama, mangkuk soup/soup disk dan gelas. Bahan tersebut selain sebagai

keamanan makanan juga sekaligus sebagai kelengkapan penyajian suatu hidangan.

(Soediasih : 1994), contoh macam-macam gelas, piring, mangkuk, pisau, sendok

(41)

G. Sifat organoleptik / Sifat sensorik

Pengujian inderawi merupakan bidang ilmu yang mempelajari

cara-cara pengujian terhadap sifat, karakteristik bahan pangan dengan mempergunakan

indera manusia, termasuk indera penglihat, pembau, perasa, peraba dan

pendengar. Sedangkan menurut (Stone dan Sidel, 1993 dikutip nani Ratnaningsih,

Ichda chayati) mendefinisikan pengujian sensoris adalah disiplin ilmu yang

digunakan untuk membangkitkan, mengukur, menganalisa dan

menginterpretasikan reaksi-reaksi terhadap sifat-sifat atau karakteristik bahan

pangan yang diterima oleh indera penglihatan, pembau, peraba, perasa dan

pendengaran. ( Nani Ratnaningsih, Ichda chayati : 2001 )

Pada saat ini meskipun peralatan sudah berkembang pesat dengan

kepekaan cukup tinggi seperti gas chroniatographi, spektrofotometri, kalori meter

dan lain-lain, seperti pengujian dengan indera manusia tetap merupakan bagian

yang penting. Hal ini disebabkan karena untuk beberapa sifat karakteristik seperti

rasa, suara hanya tepat bila dianalisa dengan “Biological detector” yang tidak lain indera manusia. Peralatan hanya mengandakan analisa pada satu komponen saja.

Sedang indera manusia dapat mengadakan penilaian terhadap seluruh kesan yang

timbul secara terpadu sejak suatu bahan disajikan sampai kesan bahan tersebut

ditelan. Enak tidaknya suatu bahan pangan ataupun dapat tidaknya suatu jenis

bahan pangan dikonsumsi hanya tepat bila dinilai dengan indera manusia. (Kartika

(42)

Semakin berkembangnya industri bahan pangan, seperti industri

masking egent” berupa jenis permen penutup aroma rokok, bawang, dikembangkanya bermacam-macam bahan, bahan pembungkus dengan berbagai

kebaikan dan kejelekanya. Yang dapat berpengaruh terhadap aroma dan tekstur,

penggunaan bahan-bahan pengawet, bahan-bahan penambah warna dan lain-lain.

Menunjukan kecenderungan akan semakin banyaknya dipergunakan pengujian

inderawi atau sensorik.sebagai dampak perkembangan industri bahan pangan,

sangat dimungkinkan timbul problem seperti aroma yang tidak diinginkan berasal

dari bahan sisa industri yang bersangkutan, atau aroma yang ditimbulkan dari

bahan-bahan yang telah mengalami kerusakan.

Kesemuanya ini menunjukan perlunya pengembangan pengujian

inderawi masih banyak lagi problema yang selalu didapati seperti adanya

permintaan pemberian nasihat kepada produsen tentang dampak

perlakuan-perlakuan pengolahan terhadap mutu sejak dari bahan dasar sampai hasil akhir,

serta kemungkinan-kemungkinan terjadinya perubahan mutu produk selama

dalam pemasaran terutama sifat inderawinya. Dalam penilaian terhadap bahan

pangan, sifat pertama kali yang menentukan diterima atau ditolaknya bahan

tersebut oleh pemakai adalah sifat-sifat inderawi yang dimilikinya.

Ada enam tahap yang terjadi selama seseorang menilai suatu bahan :

1. Menerima bahan.

2. Mulai mengenali bahan.

3. Mengadakan klasifikasi sifat-sifat yang dimiliki oleh bahan tersebut.

(43)

5. Menguraikan sifat-sifat inderawi dari bahan tersebut.

6. Mengadakan evaluasi terhadap bahan tersebut berdasarkan sifat

inderawi yang dimilikinya.

1. Jenis-jenis Inderawi

a . Penglihatan

Sifat penglihatan atau kenampakan merupakan sifat pertama yang

diamati oleh konsumen. Sedangkan sifat sifat yang lain akan dinilai kemudian.

Pada bahan pangan yang berada pada suatu kemasan, maka kemasandan label

merupakan suatu hal yang penting sebagai pendukung kenampakan produk.

Yang termasuk dalam sifat penglihatan ini adalah :

1. Warna dan kilap

Warna merupakan suatu sifat bahan yang dianggap berasal dari

penyebaran spectrum sinar. Begitu juga sifat kilap dari bahan dipengaruhi

oleh sinar terutama sinar pantul. Warna bukan merupakan suat zat atau benda

melainkan suatu sensasi seseorang. Oleh karena adanya rangsangan dari

seberkas energi radiasi yang jatuh ke indera mata atau retina sumber sinar.

Pengaruh tersebut terlihat apabila suatu bahan dilihat dari tempat yang suram

ditempat yang gelap, akan memberikan perbedaan yang menyolok.

2. Viskositas

Sifat ini penting pada produk berbentuk cairan. Penilaian viskositas

bertujuan utnuk mengetahui pengaruh-pengaruh penggunaan bahan dasar,

pengaruh panas dan lain-lain.misalnya pada minuman kemasan, syrup. Susu

(44)

3. Ukuran dan Bentuk

Ukuran dan bentuk bahan merupakan faktor mutu yang terlihat

nyata, dan biasanya dapat diukur serta diawasi dengan mudah. Karena pada

umumnya seluruh permukaan bahan kelihatan dari luar. Pembagian mutu

berdasarkan ukuran bahan dilakukan tidak hanya mendapatkan keseragaman,

tetapi juga untuk memberikan kepada konsumen, ukuran mana yang

dikehendaki menurut suatu tingkat harga tertentu. Beberapa kreteria yang

termasuk ukuran adalah berat, volume, kerapatan, berat jenis, panjang, lebar

dan bentuk bahan misalnya bulat pada bengawan solo, wajik kletik, lonjong,

simetris gompo, melengkung pada kue putri salju, ukel dan banjar.

5. Sifat Kelainan Bahan

Beberapa sifat kelainan bahan yang mempengaruhi mutu adalah

yang dapat dilihat oleh mata, tetapi ada juga yang hanya dapat ditentukan.

Kelainan suatu bahan dapat didefinisikan sebagai ketidaksempurnaan suatu

bahan berhubung hilangnya suatu faktor yang diperlukan untuk

kesempurnaan tersebut atau berhubung karena adanya sesuatu yang dapat

mengacaukan atau menurunkan kesempurnaan. Kelainan pada suatu bahan

dapat digolongkan menjadi beberapa kategori, yaitu kelainan

genetic-fisiologis, kelainan entomologis, kelainan patologis, kelainan mekanis dan kelainan adanya benda-benda asing. Contoh buah jerukdan apel tidak bulat,

(45)

b. Perabaan

Sifat ini tidak terdapat secara khusus pada suatu alat tumbuh seperti

sifat yang lain. Perabaan terjadi hampir seluruh permukaan kulit dengan

kepekaan yang berbeda-beda. Beberapa daerah seperti rongga mulut, bibir,

tangan mempunyai kepekaan yang tinggi terhadap perabaan. Sifat perabaan

pada umumnya dikaitkan dengan 3 hal, struktur, tekstur dan konsistensi.

Struktur merupakan sifat dari komponen penyusun bahan, tekstur merupakan

sensasi tekanan yang dapat diamati dengan mulut (pada waktu digigit,

dikunyah dan ditelan) atau perabaan dengan jari. Sedangkan konsistensi

merupakan sebab yang berhubungan dengan sifat karakteristik bahan seperti

tebal, tipis halus.

Dengan sifat karakteristik bermacam-macam istilah dalam sifat

perabaan ini. Pada saat dilakukan pengujian inderawi, sifat-sifat seperti keras

atau lemahnya bahan saat digigit, pemecahan dengan fragmen-fragmen,

hubungan antar serat-serat yang ada dan sensasi lain misalnya rasa berminyak,

rasa berair, rasa mengandung cairan dan lain-lain kemungkinan akan timbul.

Dapat juga pengamatan dengan jari akan menimbulkan kesan apakah suatu

bahan mudah pecah atau remuk. Dalam praktek sehari-hari sifat perabaan

banyak dihubungkan dengan jenis bahan yang sedang diamati, sehingga

sebenarnya sangat sulit untuk menarik kesimpulan ataupun memberikan

(46)

c. Pembauan

Bau-bauan atau aroma dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang dapat

diamati dengan indera pembau. Untuk dapat menghasilkan bau, zat-zat bau

harus dapat menguap, sedikit larut dalam air dan sedikit larut dalam lemak.

Dalam industri pangan pengujian terhadap bau dianggap penting karena

dengan cepat memberikan hasil penilaian terhadap produk tentang diterima

atau tidaknya produk tersebut kecuali itu bau dapat juga sebagai indikator

terjadinya kerusakan pada produk, misalnya sebagai akibat acara pengemasan

atau cara penyimpanan yang kurang baik. Bau dari suatu produk dapat

diamati baik dengan cara membau maupun dengan merasakan. Zat yang

menghasilakan bau sering lebih kuat diamati dengan merasakan daripada

membau.

Klasifikasi bau menurut Zwaardemaker ( 1985 ) yang dikutib Bambang

Kartika : 1991.

1. Bau Aromatic ( Aromatic ), kamper, citral.

2. Bau Harum ( fragrant/balsamic), vanili.

3. Bau Ambrosial (ambrosiac), kasturi.

4. Bau Bawang-bawangan ( Alliaceus ).

5. Bau Kambing ( Hircine ), keju.

6. Bau Busuk ( Foul ).

7. Bau Menjemukan ( Nauseous.

8. Bau etheis, as acatat.

(47)

d. Pengecap

Telah diketahui adanya empat macam rasa dasar : manis, asin, asam

dan pahit. Konsep empat rasa dasar tersebut sebenarnya hanya merupakan

penyederhanaan saja. Rangsangan yang diterima oleh otak karena rangsangan

elektris yang diteruskan dari sel perasa sebenarnya sangat kompleks. Pada

umumnya dikatakan bahwa rasa manis berasal dari senyawa-senyawa gula

seperti sukrosa, pahit oleh quinine, asin oleh garam dapur dan asam oleh asam

tartiat dan asam lainya.

Kualitas empat rasa dasar dipengaruhi oleh konsentrasinya. Rasa

manis dalam gula akan bertambah apabila gula semakin tinggi tetapi sampai

konsentrasi tertentu rasa enak yang ditimbulkan akan menurun. Begitu pula

pada ketiga rasa yang lainya. Umumnya bahan pangan tidak hanya terdiri dari

salah satu rasa, tetapi merupakan gabungan berbagai macam rasa secara

terpadu sehingga menimbulkan cita rasa yang utuh. Kecuali itu rasa suatu

bahan pangan merupakan hasil kerja sama indera-indera yang lain. Indera

penglihatan, pembau, pendengar dan perabaan ikut berperan dalam

pengamatan bahan pangan.

Sel penerima pada (papipaform) yang berada pada ujung dan tengah

lidah bagian atas dan papipa sirkumfalat dibagian belakang lidah. Dalam

seluruh papilla terdapat kuncup rasa dimana bila terangsang akan meneruskan

rangsangan itu ke otak. Dalam hal kepekaan rasa, maka rasa manis dapat

mudah dirasakan pada ujung lidah, rasa asam pada pinggir lidah dan rasa pahit

(48)

1. Rasa manis 2. Rasa Asin.

3. Papila Fungiform. 4. Rasa Asam. 5. Papila filiform 6. Rasa Pahit. 7. Papila vallate. 8. Pangkal Lidah

(49)

KERANGKA BERFIKIR

Kerangka berfikir dalam penelitian ini profil makanan tradisonal

Kotagede yang terdiri dari jenis-jenisnya makanan, bahan dasar makananan,

teknik olah, harga, kemasan/penyajian, rasa, pemasaran, konsumen dan lain-lain.

Namun dalam penelitian ini profil yang dikaji meliputi jenis-jenis makanan, bahan

dasar makanan, teknik olah, rasa makanan dan kemasan.

JENIS-JENIS

(50)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

1. Pendekatan penelitian

Kegiatan penelitian dilaksanakan dalam rangka memperoleh

kebenaran ilmiah. Untuk memperoleh kebenaran tersebut diperlukan adanya

suatu pendekatan penelitian. Pendekatan penelitian ini, menggunakan teknik

survey.

Menurut Sugiyono (1994: 3) mengemukakan bahwa penelitian survey

adalah penelitian yang dilakukan pada populasi besar atau kecil. Tetapi data

yang dipelajari adalah data yang diambil dari populasi tersebut sehingga

ditemukan kejadian-kejadian relatif, distribusi dan hubungan antar variabel

sosiologi maupun psikologis.

Lebih lanjut, David Kline yang dikutip Sugiyono (1994: 3)

mengatakan bahwa penelitian survey pada umumnya dilakukan untuk

mengambil suatu generalisasi dari pengamatan yang tidak mendalam.

Walaupun metode survey ini tidak memerlukan kontrol namun generalisasi

(51)

2. Subyek dan Obyek Penelitian

a. Subyek penelitian

Subyek penelitian adalah tempat memperoleh keterangan dari suatu

penelitian ( seseorang atau sesuatu ) yang mengenainya ingin diperoleh

keterangan tentang makanan tradisional di Kotagede.

Subyek dalam penelitian ini adalah semua penjual makanan

tradisional yang berjualan di Pasar Kotagede atau toko-toko pusat

penjualan makanan tradisional khas Kotagede dan masyarakat yang berada

di Kotagede. Subyek dalam penelitian ini merupakan data primer.

b. Obyek penelitian

Obyek penelitian merupakan topik penelitian. Obyek dalam penelitian

ini adalah industri rumah tangga makanan tradisional Kotagede dan

makanan tradisional Kotagede. Obyek dalam penelitian ini sebagai sumber

data sekunder.

3. Tempat dan waktu Penelitian

Tempat penelitian dilakukan di seluruh pasar tradisional Kotagede

yang berada di Jalan Mondorakan Kotagede dan wilayah sekitarnya,

sebagai responden adalah semua pendagang makanan tradisional dan

masyarakat yang berada di wilayah Kotagede. Waktu penelitian dilakukan

(52)

B. Definisi Operasional

Definisi operasional ialah rumusan mengenai kasus atau variabel yang

akan dicari untuk dapat ditemukan dalam penelitian di dunia nyata, empiris atau di

lapangan yang dapat dialami.

Profil makanan tradisional Kotagede adalah karakteristik, ciri-ciri yang

terdapat pada makanan tradisional Kotagede. Hal ini, dilihat dari jenis-jenisnya,

bahan dasar, teknik olah, rasa dan penyajian atau kemasan.

Variabel yaitu suatu karakteristik, ciri, sifat, watak, milik atau keadaan

yang melekat pada beberapa subyek, orang atau barang yang dapat berbeda-beda

intensitasnya atau kategori variable yang akan diteliti perlu didefinisikan secara

operasional yang menggambarkan cara mengukur variabel (Sugiyono, 1994: 3).

Variabel dalam penelitian ini adalah makanan tradisional di Kotagede dan

sekitarnya, sedangkan subvariabelnya adalah:

1. Lokal

Makanan tradisional Kotagede dapat dikategorikan tradisional yaitu

hanya terdapat di daerah Kotagede sendiri dibuat dengan menggunakan

bahan dasar yang diperoleh dari bahan pangan lokal yaitu bahan makanan

yang banyak terdapat di daerah Kotagede. Diolah dengan penanganan

khusus dengan rasa sesuai selera mereka dan banyak dikonsumsi oleh

masyarakat yang bertempat tinggal di Kotagede ( Sastrodiningrat, Harisudin,

(53)

2. Turun temurun

Makanan tradisional hanya dapat diproduksi oleh masyarakat yang

berdomisili didaerah Kotagede dengan resep turun temurun yang

disampaikan secara lisan dari nenek moyang mereka (www.

Potensi-Makanan, htm).

C. Populasi dan Sampel Penelitian

1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau

subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan

oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulanya.

( Sugiyono, 1999 : 72 ) Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan

makanan tradisional yang ada di Kotagede.

2. Sampel

Sampel penelitian adalah sebagian dari populasi yang akan diambil

datanya, dapat juga dikatakan bahwa sampel merupakan sebagian jumlah

penduduk/subyek yang jumlahnya kurang dari populasi yang paling sedikit

mempunyai sifat yang sama ( Suharsini Arikunto, 1996:221).

Teknik pengambilan sampel untuk penelitian ini adalah

non-probability sampling .Nonnon-probability Sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang atau kesempatan sama bagi setiap unsur atau

anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik sampel ini meliputi snow

(54)

Snow ball sampling adalah teknik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil kemudian membesar. Sampling ini ibarat bola salju yang

menggelinding yang makin lama makin besar. Dalam penelitian ini mula-mula

dipilih satu orang atau dua orang. Kemudian dua orang ini disuruh memilih

temanya untuk dijadikan sampel. Begitu seterusnya, sehingga jumlah sampel

semakin banyak. ( Sugiyono, 1999 : 78 )

D. Instrument Penelitian dan Teknik pengumpulan data

1. Instrumen Penelitian

Instrumen dalam penelitian digunakan sebagai alat ukur untuk

mendapatkan atau mengumpulkan data yang diperlukan. Dalam penelitian

tentang profil makanan tradisional Kotagede dan sekitarnya menggunakan

instrument penelitian berupa wawancara tidak terstruktur untuk mengambil

data mengenai jenis-jenis makanan tradisional, bahan baku dan survey untuk

rasa, teknik olah dan penyajian.

Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang bebas dimana

peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara

(55)

Tabel 1. Instrument Penelitian

Bahan baku Nama bahan baku 6

Teknik olah Cara Pengolahan makanan 7

Rasa Rasa makanan 8

Kemasan Cara pengemasan atau penyajian

9

2. Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data penelitian ini dengan cara sebagai berikut :

a. Interview atau wawancara

Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data, apabila

peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan

permasalahan yang harus diteliti. ( Sugiyono, 1999 : 130 ).

b. Observasi

Observasi sebagai teknik pengumpulan data mempunyai ciri yang

spesifik dibandingkan dengan teknik yang lain yaitu wawancara dan

kuesioner. Kalau wawancara dan kuesioner selalu berkomunikasi

dengan orang, maka observasi tidak terbatas pada orang, tetapi juga

(56)

Metode ini digunakan untuk mengambil data tentang makanan

tradisional dilihat dari jenis, teknik olah, bahan, rasa dan kemasan atau

penyajian.

3. Uji Validitas instrument

Dalam penelitian ini menggunakan uji validitas eksternal dimana uji

validitas eksternal instrument diuji dengan cara membandingkan ( untuk

mencari kesamaan ) antara kreteria yang ada pada instrument dengan

fakta-fakta empiris yang terjadi dilapangan. Instrument penelitian yang mempunyai

validitas eksternal bila hasil penelitian dapat digeneralisasi atau diterapkan

pada sampel lain dalam populasi yang diteliti, maka dapat dilakukan dengan

memperbesar jumlah sampel.

E. Teknik Analisis data

Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian

deskriptif merupakan penelitian yang mengumpulkan informasi mengenai status

sebuah gejala yang ada. Penelitian ini tidak melakukan pengontrolan terhadap

sesuatu perlakuan. Penelitian ini mengungkapkan bagaimana jenis-jenis, bahan

baku, teknik olah, rasa dan penyajian, dari makanan tradisional di Kotagede.

Langkah-langkah analisis data sebagai berikut :

1. Pengorganisasian data.

Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan metode

(57)

Kemudian data yang sudah terkumpul kemudian diklasifikasikan menurut

variabel indikatornya..

2. Penyajian data

Penyajian data yang diangkakan dan tabulasi agar mudah dalam

pengelompokan data bentuk uraian dapat rinci.

3. Interpretasi data

Setelah disajikan maka langkah berikutnya melakukan interpretasi

data. Dalam interpretasi data peneliti mendasarkan pada kebermaknaan data

yang berlaku. Kebermaknaan yang dimaksud adalah data-data yang

berhubungan dengan informasi yang digali untuk dapat dikembangkan sesuai

dengan permasalahan dalam penelitian.

4. Mengumpulkan data

Setelah data-data tersebut bermakna, maka langkah selanjutnya

adalah menyimpulkan data. Kesimpulan data yang dihasilkan diharapkan

(58)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Profil Responden

Tabel 2. Profil Responden Makanan Tradisional Kotagede

No Nama Umur Pekerjaan Alasan sebagai responden

1. Honggo Budaya 51 Penjaga makam

Mengetahui silsilah dan sejarah kekeratonan Yogyakarta

2. Mardi Sudarmo 75 Petani Tokoh masyarakat dan sesepuh Kotagede

3. Arjosarpin 70 Karyawan Pekerja produksi makanan tradisional

4. Mul 70 Karyawan Pekerja produksi makanan tradisional

5. Sastro 78 Pedagang Produsen gompo

6. Rubiyem 65 Pedagang Produsen legondho dan jenang

7. Tuminah 68 pedagang Produsen kembang waru

8. Miati 45 Pedagang Tokoh masyarakat

9. Sri widianingsih 38 Karyawan Pekerja produksi makanan tradisional

10. Supi 35 Pedagang Pedagang jajanan pasar

11. Istri rahayu 40 Pedagang Produsen kipo

12. Agus 35 Pedagang Produsen bengawan solo

13. Windarti 26 Karyawan Pekerja produksi makanan tradisional

14. Tias 25 Karyawan Pekerja produksi makanan tradisional

Berdasarkan tabel 2 diperoleh data responden sebanyak 14 responden

yang terdiri dari 1orang berprofesi sebagai penjaga makam Di Kotagede, 1orang

berprofesi sebagai petani dan tokoh masyarakat Kotagede, 7 orang sebagai

pedagang dan produsen makanan tradisional Kotagede dan 5 orang sebagai

karyawan Industri makanan tradisional Kotagede. Dengan usia paling tua 75 tahun

dan paling muda 25 tahun. Semua responden merupakan masyarakat yang

(59)

B. Profil Makanan Tradisional Kotagede

Penelitian ini membahas tentang makanan khas tradisional di

Kotagede yang ditinjau dari segi jenis, rasa, bahan dan teknik olah. Selanjutnya,

hasil penelitian ini dianalisa guna mengetahui keaneka- ragaman makanan

tradisional daerah Kotagede dan sekitarnya. Oleh karena itu, diperlukan langkah

atau upaya yang dapat memberikan informasi mengenai makan tersebut. Salah

satunya adalah wawancara. Wawancara diberikan kepada koresponden dengan

cara menggali informasi sebanyak-banyaknya secara langsung sehingga akan

diperoleh informasi yang valid dari responden sampai ditemukan persamaan

jawaban dari seluruh responden. Responden difokuskan kepada ibu-ibu yang

berjualan di Kotagede atau di pasar Kotagede, dan berdomisili di daerah Kotagede

serta para lansia yang memproduksi makanan khas Kotagede.

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti diperoleh

data mengenai (1) nama-nama makanan tradisional yang ada di Kotagede baik

yang keberadaanya masih ada sampai sekarang atau pun tidak, (2) macam-macam

bahan baku yang digunakan sebagai bahan dasar pembuatan makanan tradisional,

(3) teknik olah pembuatan makan tradisional mulai dari pemilihan bahan,

pencampuran bahan, pengolahan dan penyajian, serta daya simpannya, (4)

macam-macam penggunaan makanan tradisional pada acara-acara khusus, serta

sejarah penamaan makanan tradisional atau pun sejarah munculnya makanan

tradisional Kotagede. Pelaksanaan wawancara dilakukan pada bulan Maret sampai

Gambar

Gambar 1b. Bagan Profil Makanan Tradisional
Tabel 1. Instrument Penelitian
Tabel 2. Profil Responden Makanan Tradisional Kotagede
Tabel 3. Klasifikasi Makanan Tradisional betdasarkan Jenis-jenisnya
+7

Referensi

Dokumen terkait

Sementara itu, keadaan psikis, kebiasaan makan, penampilan makanan yang meliputi warna makanan, bentuk makanan, porsi makanan, dan penyajian makanan, dan rasa makanan yang

berkatnya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi dengan judul “MODAL SOSIAL DAN PASAR TRADISIONAL (Studi Kasus di Pasar Legi Kotagede Yogyakarta) ”

Adapun tujuan penelitian adalah sebagai berikut, (1) untuk mendeskripsikan jenis jajan pasar yang masih terjual di pasar-pasar tradisional Kabupaten Bantul, dan (2)

Berdasarkan masing – masing aspek penilaian kepuasan pasien yang meliputi ketepatan waktu penyajian, variasi menu, rasa makanan, kebersihan alat dan penampilan petugas

Adapun tujuan penelitian adalah sebagai berikut, (1) untuk mendeskripsikan jenis jajan pasar yang masih terjual di pasar-pasar tradisional Kabupaten Bantul, dan (2)

Hasil penelitian menunjukan: (1) Jenis makanan ringan yang dibagikan untuk anak-anak di TK ABA ADE IRMA belum bervariasi dilihat dari bahan baku, rasa dan teknik olah yang

Walau umumnya KTB dikenal memiliki rasa kuat dan tajam berasal dari bumbu basa genep, tetapi tidak jarang banyak ditemui jenis makanan tradisional harian masyarakat Bali yang

Persepsi kaum Melayu Brunei dalam penerimaan makanan tradisional “kelupis” di Sabah ABSTRAK Suku kaum di Sabah sangat terkenal dengan makanan yang beraneka jenis mengikut suku kaum