• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of STRATEGI BERTAHAN HIDUP MAHASISWA BIDIKMISI (Studi Deskriptif pada Mahasiswa Bidikmisi di Universitas Jember)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "View of STRATEGI BERTAHAN HIDUP MAHASISWA BIDIKMISI (Studi Deskriptif pada Mahasiswa Bidikmisi di Universitas Jember)"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

33

STRATEGI BERTAHAN HIDUP MAHASISWA BIDIKMISI (Studi Deskriptif pada Mahasiswa Bidikmisi di Universitas Jember)

Sukma Bidari Safitrilia1, Mahfudz Sidiq2

1Alumni S1 Universitas Jember

2Dosen Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial Universitas [email protected], [email protected]

Naskah diterima: 03 Oktober 2022, direvisi: 17 Nopember 2022, diterbitkan: 05 Desember 2022

ABSTRACT

Bidikmisi is a scholarship intended for underprivileged prospective students and has academic potential to be used to support the education taken. This study aims to describe the efforts or survival strategies of Bidikmisi students who have migrated to Jember, especially those who have studied more than 4 years and do not receive allowances from their families. Under these conditions, efforts are needed to be able to meet their needs. This research uses qualitative research with a descriptive approach. The research location was carried out at the University of Jember. The informant determination method used in this study was purposive. Data collection techniques used non-participatory observation, semi- structured interviews, and documentation. Analysis of the data used in this study is an analytical technique from Irawan by collecting raw data, data transcripts, making coding, data categorization, temporary inference, triangulation, final conclusion. The data validity technique used was source triangulation. The result of this research is the discovery of several efforts by Bidikmisi students, such as saving the cost of living, utilizing relationships / networks and also alternative subsystems. In addition, there were also differences in the efforts of science and humanities faculty students in making efforts to survive which were influenced by factors of the academic environment.

Keywords: Survival Strategy, Bidikmisi Students, Jember University Students ABSTRAK

Bidikmisi merupakan beasiswa yang diperuntukkan bagi calon mahasiswa kurang mampu dan memiliki potensi akademik untuk digunakan guna mendukung pendidikan yang ditempuh. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan upaya atau strategi bertahan hidup mahasiswa Bidikmisi yang merantau ke Jember, khususnya yang telah menempuh pendidikan lebih dari 4 tahun dan tidak mendapatkan tunjangan dari keluarganya. Dengan kondisi tersebut, diperlukan upaya untuk dapat memenuhi kebutuhan mereka. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Lokasi penelitian dilakukan di Universitas Jember. Metode penentuan informan yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi nonpartisipatif, wawancara semi terstruktur, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis dari Irawan dengan cara mengumpulkan data mentah, transkrip data, membuat koding, kategorisasi data, inferensi sementara, triangulasi, kesimpulan akhir.

Teknik validitas data yang digunakan adalah triangulasi sumber. Hasil dari penelitian ini adalah ditemukannya beberapa upaya yang dilakukan oleh mahasiswa Bidikmisi seperti penghematan biaya hidup, pemanfaatan relasi/jaringan dan juga subsistem alternatif. Selain itu, terdapat pula perbedaan upaya mahasiswa fakultas sains dan humaniora dalam melakukan upaya bertahan hidup yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan akademik.

Kata Kunci: Strategi Survival, Mahasiswa Bidikmisi, Mahasiswa Universitas Jember

(2)

Jember)

34 PENDAHULUAN

Pendidikan adalah hal yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia, karena tanpa pendidikan manusia akan buta mengenai ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan manusia akan tahu apa tujuan hidup dan berkembang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Berbicara mengenai pendidikan, negara Indonesia adalah negara yang masih berkembang di segala bidang, salah satunya adalah bidang pendidikan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pendidikan di Indonesia, salah satunya adalah kemiskinan yang sampai pada saat ini masih menjadi permasalahan krusial.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penduduk miskin dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan, pada bulan Maret 2016 di Indonesia mencapai 28,01 juta jiwa atau sebesar 10,86 persen dari total jumlah penduduk Indonesia. Dengan jumlah penduduk miskin mencapai 10 persen lebih, maka perkembangan pendidikan juga semakin terancam, mereka yang memiliki ekonomi lemah akan memiliki kesempatan pendidikan yang rendah. Banyak generasi muda yang terancam tidak dapat melanjutkan pendidikannya, mereka lebih memilih bekerja dengan kemampuan seadanya. Hal ini berdampak pada perekonomian generasi selanjutnya dan juga kualitas SDM masyarakat.

Kata Bidikmisi adalah kepanjangan dari Beasiswa Pendidikan Miskin Berprestasi. Bidikmisi adalah bantuan biaya pendidkan yang berfokus pada memberikan penghargaan atau dukungan dana terhadap mereka yang berprestasi, namun berfokus pada yang memiliki keterbatasan ekonomi (Pasal 76 UU No. 12 Pendidikan Tinggi). Walaupun demikian seleksi Bidikmisi ini sangat ketat karena untuk menjaring mereka yang benar-benar mempunyai potensi dan kemauan untuk menyelesaikan pendidikan tinggi. Beasiswa ini untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi dengan program studi unggulan sampai lulus tepat waktu.(Ditjendikti, 2016: 2)

Tujuan diadakannya bantuan biaya pendidikan Bidikmisi adalah (1) meningkatkan akses dan kesempatan belajar di perguruan tinggi bagi peserta didik yang tidak mampu secara ekonomi dan berpotensi akademik, (2) memberi bantuan biaya pendidikan kepada calon mahasiswa yang memenuhi kriteria untuk menempuh pendidikan program Diploma/Sarjana sampai selesai dan tepat waktu; (3) meningkatkan prestasi mahasiswa, baik pada bidang kurikuler, ko-kurikuler maupun ekstra kurikuler; (4) menimbulkan dampak iring bagi mahasiswa dan calon mahasiswa lain untuk selalu meningkatkan prestasi dan kompetitif; (5) melahirkan lulusan yang mandiri, produktif, dan memiliki kepedulian sosial, sehingga mampu berperan dalam upaya pemutusan mata rantai kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat.

(Ditjendikti, 2016: 2)

Melalui kemahasiswaan Universitas Jember, didapatkan data Jumlah mahasiswa penerima Bidikmisi, data berikut diambil mulai tahun 2013 hingga 2017, dimana mereka masih aktif ataupun masih menjadi mahasiswa Universitas Jember.

Pada tahun 2013 ada sejumlah 1349 mahasiswa, pada tahun 2014 mengalami penurunan penerimaan menjadi 1257, pada tahun 2015 kembali mengalami penurunan menjadi 1050, tahun 2016 menjadi 1000 dan tahun 2017 kembali naik menjadi 1243. Total jumlah penerima Bidikmisi dari tahun 2013 hingga 2017 berjumlah 5900 mahasiswa. Setiap tahunnya mengalami penurunan jumlah penerima beasiswa.

(3)

Jember)

35 Melihat fenomena tentang Bidikmisi ini dan menggaris bawahi tujuan Bidikmisi di poin kelima yaitu melahirkan lulusan yang mandiri, produktif, dan memiliki kepedulian sosial, sehinga mampu berperan dalam upaya pemutusan mata rantai kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat. Peneliti tertarik untuk mengkaji lebih dalam, mengenai beasiswa ini, khususnya di wilayah Jember yang memiliki banyak instansi pendidikan. Dengan banyaknya instansi pendidikan, banyak pula pelajar pendatang dari luar daerah Jember, sehingga Jember ramai sebagai kota yang penghuninya kebanyakan adalah pelajar.

Berdasakan observasi awal, peneliti menemukan bahasa, perilaku sosial, tata krama, ekonomi, dan berbagai norma yang berbeda menjadi penghambat proses bertahan hidup mahasiswa di Universitas Jember. Bagi mereka yang tidak dapat beradaptasi, maka akan mengalami kemerosotan dalam prestasi akademik, berhenti kuliah, sulit memenuhi kebutuhan hidup. Selain tekanan sosial dan budaya, anak Bidikmisi rantau juga memiliki tekanan ekonomi. Biaya uang saku yang ditanggung pemerintah di setiap daerah berbeda, khususnya di Jember menurut salah satu keterangan dari penerima beasiswa bernama NQ (nama samaran) biaya uang saku yang didapat adalah Rp, 600.000,- per bulan. Uang dengan jumlah tersebut tidak cukup jika untuk biaya makan, kontrakan dan juga transportasi di Jember seperti ojek dan angkot. Belum lagi biaya pendidikan selain UKT seperti buku, print, praktikum dan juga praktik lainnya. Sebagian dari mereka juga tidak mendapatkan uang tambahan dari orangtua, bahkan sebagian dari mereka justru mengirimkan uangnya untuk diberikan orangtua. Selain itu regulasi pencairan dana Bidikmisi yang cukup lama, mengakibatkan terlambatnya pencairan uang hingga 2 sampai 3 bulan. Dalam kurun waktu tersebut banyak mahasiswa Bidikmisi yang khususnya rantau mengalami kesulitan keuangan, bahkan ada yang memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan apalagi dengan lingkungan yang asing mereka masih belum memiliki banyak orang dekat.

Dengan keadaan yang demikian mahasiswa Bidikmisi membutuhkan upaya- upaya dan strategi untuk bertahan hidup. Langkah-langkah yang diambil para mahasiswa dalam mempertahankan hidup merekalah yang sangat penting untuk dianalisis lebih lanjut. Berdasarkan uraian tersebut, peneliti tertarik untuk melihat dan menggali lebih dalam serta memahami bagaimana “strategi bertahan hidup mahasiswa

Bidikmisi di Universitas Jember” mereka masih aktif ataupun masih menjadi mahasiswa Universitas Jember. Pada tahun 2013 ada sejumlah 1349 mahasiswa, pada tahun 2014 mengalami penurunan penerimaan menjadi 1257, pada tahun 2015 kembali mengalami penurunan menjadi 1050, tahun 2016 menjadi 1000 dan tahun 2017 kembali naik menjadi 1243. Total jumlah penerima Bidikmisi dari tahun 2013 hingga 2017 berjumlah 5900 mahasiswa. Setiap tahunnya mengalami penurunan jumlah penerima beasiswa.

Melihat fenomena tentang Bidikmisi ini dan menggaris bawahi tujuan Bidikmisi di poin kelima yaitu melahirkan lulusan yang mandiri, produktif, dan memiliki kepedulian sosial, sehinga mampu berperan dalam upaya pemutusan mata rantai kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat. Peneliti tertarik untuk mengkaji lebih dalam, mengenai beasiswa ini, khususnya di wilayah Jember yang memiliki banyak instansi pendidikan. Dengan banyaknya instansi pendidikan, banyak pula pelajar pendatang dari luar daerah Jember, sehingga Jember ramai sebagai kota yang penghuninya kebanyakan adalah pelajar.

(4)

Jember)

36 Berdasakan observasi awal, peneliti menemukan bahasa, perilaku sosial, tata krama, ekonomi, dan berbagai norma yang berbeda menjadi penghambat proses bertahan hidup mahasiswa di Universitas Jember. Bagi mereka yang tidak dapat beradaptasi, maka akan mengalami kemerosotan dalam prestasi akademik, berhenti kuliah, sulit memenuhi kebutuhan hidup. Selain tekanan sosial dan budaya, anak Bidikmisi rantau juga memiliki tekanan ekonomi. Biaya uang saku yang ditanggung pemerintah di setiap daerah berbeda, khususnya di Jember menurut salah satu keterangan dari penerima beasiswa bernama NQ (nama samaran) biaya uang saku yang didapat adalah Rp, 600.000,- per bulan. Uang dengan jumlah tersebut tidak cukup jika untuk biaya makan, kontrakan dan juga transportasi di Jember seperti ojek dan angkot. Belum lagi biaya pendidikan selain UKT seperti buku, print, praktikum dan juga praktik lainnya. Sebagian dari mereka juga tidak mendapatkan uang tambahan dari orangtua, bahkan sebagian dari mereka justru mengirimkan uangnya untuk diberikan orangtua. Selain itu regulasi pencairan dana Bidikmisi yang cukup lama, mengakibatkan terlambatnya pencairan uang hingga 2 sampai 3 bulan. Dalam kurun waktu tersebut banyak mahasiswa Bidikmisi yang khususnya rantau mengalami kesulitan keuangan, bahkan ada yang memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan apalagi dengan lingkungan yang asing mereka masih belum memiliki banyak orang dekat.

Dengan keadaan yang demikian mahasiswa Bidikmisi membutuhkan upaya- upaya dan strategi untuk bertahan hidup. Langkah-langkah yang diambil para mahasiswa dalam mempertahankan hidup merekalah yang sangat penting untuk dianalisis lebih lanjut. Berdasarkan uraian tersebut, peneliti tertarik untuk melihat dan menggali lebih dalam serta memahami bagaimana “strategi bertahan hidup mahasiswa Bidikmisi di Universitas Jember”

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan penelitian deskriptif. Lokasi penelitian dilaksanakan di lingkungan Universitas Jember. Teknik penentuan informan dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi non partisipasi, wawancara semi terstruktur, dan dokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan teori Irawan, dengan melakukan pengumpulan data mentah, transkrip data, pembuatan koding, kategorisasi data, penyimpulan sementara, triangulasi dan penyimpulan akhir. Teknik keabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini berupa triangulasi sumber dan metode.

HASIL DAN DISKUSI

Soekamto, menyatakan bahwa upaya sebagai usaha (syarat) suatu cara, juga dapat dimaksud sebagai suatu kegiatan yang dilakukan secara sistematis, terencana dan terarah untuk menjaga sesuatuhal agar tidak meluas atau timbul. Ada beberapa jenis upaya, yaitu 1. Upaya Preventif, memiliki konotasi negatif, yaitu suatu masalah atau suatu hal yang berusaha untuk dicegah. Adapun sesuatu yang dimaksud itu mengandung bahaya baik bagi lingkungan personal, maupun global. Dalam lingkungan pendidikan masalah yang dimaksud adalah berbagai hal yang dapat menghambat perkembangan pendidikan baik itu dari siswa, guru, kepala sekolah dan unsur-unsur yang terkait didalamnya. 2. Upaya Preservatif, yaitu memulihkan atau mempertahankan kondisi yang telah kondusif atau baik, jangan sampai terjadi keadaan yang tidak baik. 3. Upaya Kuratif, adalah upaya yang bertujuan untuk

(5)

Jember)

37 membimbing siswa kembali kepada jalur yang semula, dari yang mulanya menjadi siswa yang bermasalah menjadi siswa yang bias menyelesaikan masalah dan terbebas dari masalah. Upaya ini juga berusaha untuk membangun rasa kepercayaan diri siswa agar bisa bersosialisasi dengan lingkungan. 4. Upaya adaptasi, adalah upaya yang berusaha untuk membantu terciptanya penyesuaian antara siswa dan lingkungannya, sehingga dapat timbul kesesuaian antara pribadi siswa dan sekolah. Jika upaya preventif gagal dilaksanakan, maka langkah selanjutnya adalah pelaksanaan upaya kuratif sebagai langkah awal penyembuhan.

Dengan demikian terdapat empat upaya yang dijelaskan di atas, namun ada dua yang sangat berkaitan dengan kondisi dari obyek penelitian, yaitu upaya preservatif dan upaya adaptif. Upaya preservatif sama dengan upaya bertahan hidup yang disampaikan oleh James c. Sccot adalah upaya memulihkan atau mempertahankan kondisi yang telah kondusif atau baik, jangan sampai terjadi keadaan yang tidak baik.

Sedangkan upaya adaptif ini berkaitan dengan konsep adaptasi atau penyesuaian diri dengan lingkungan. Berikut ini adalah penjelasan mengenai upaya preservatif dan adaptif.

Teori mekanisme survival yang dipopulerkan oleh James c.Scott, dan lihat pula Tarina(Scott, 1983); Teori tersebut memandang ada tiga cara yang dilakukan masyarakat miskin untuk bertahan hidup, yaitu: 1. Mengikat sabuk lebih kencang, yaitu mengurangi pengeluaran untuk pangan dengan jalan menghemat, sebagian orang hanya makan sekali sehari dan beralih ke makanan yang mutunya lebih rendah.

Untuk anak mahasiswa biasanya mereka memasak sendiri untuk menghemat pengeluaran, dengan hanya memasak nasi. 2. Menggunakan alternatif subsistem, yaitu swadaya yang mencakup kegiatan seperti berjualan kecil-kecilan, bekerja sebagai tukang, sebagai buruh lepas, atau melakukan migrasi untuk mencari pekerjaan. Cara ini dapat melibatkan seluruh sumber daya yang ada di dalam rumah tangga miskin, terutama istri sebagai pencari nafkah tambahan bagi suami. 3. Meminta bantuan dari jaringan sosial seperti sanak saudara, kawan-kawan sedesa, atau memanfaatkan hubungan dengan pelindungnya (patron), dimana ikatan patron dan kliennya (buruh) merupakan bentuk asuransi dikalangan petani. Patron menurut definisi adalah orang yang berada dalam posisi untuk membantu klien-kliennya. Dalam praktik pengembangan masyarakat mempunyai keterkaitan dengan praktik pemberdayaan masyarakat yakni melihat masyarakat sebagai subyek dan obyek dari perubahan.

Penelitian ini menggunakan tahapan pemberdayaan sebagai acuan untuk melihat proses pengembangan yang ada di Desa. Oleh karena itu, pemberdayaan dapat dipahami sebagai suatu upaya dalam menjadikan manusia berdaya dan mandiri.

Adaptasi adalah suatu penyesuaian pribadi terhadap lingkungan, penyesuaian ini dapat berarti mengubah diri pribadi sesuai dengan keadaan lingkungan, juga dapat berarti mengubah lingkungan sesuai dengan keinginan pribadi(Gerungan, 19991: 55).

Menurut Sapoetra (2020: 45) adaptasi mempunyai dua arti. Adaptasi yang pertama disebut penyesuaian diri yang autoplastis (auto artinya sendiri, plastis artinya bentuk), sedangkan pengertian yang kedua disebut penyesuaian diri yang alloplastis (allo artinya yang lain, plastis artinya bentuk). Jadi adaptasi ada yang artinya “pasif” yang mana kegiatan pribadi di tentukan oleh lingkungan dan ada yang artinya “aktif”, yang mana pribadi mempengaruhi lingkungan.(Sapoetra, 1987: 50)

Pada teori beban lingkungan, seseorang akan merasakan adanya ketidaknyamanan ketika menerima stimulus lingkungan yang berlebihan. Perasaan yang sama akan dirasakan oleh seseorang apabila menerima stimulus lingkungan yang kurang. Manusia selalu mencari stimulus yang moderat, atau tidak terlampau

(6)

Jember)

38 berlebihan dan tidak kekurangan stimulusnya. Dengan demikian stimulus lingkungan yang memiliki tingkatan sedang bebannya atau stimulasinya adalah stimulus lingkungan yang disukainya.

Dalam buku yang dituliskan oleh Wohlwill (Iskandar, 2012: 45), menyatakan stimulasi yang disukai manusia adalah stimulasi yang moderat diungkapkan pada teori tingkatan adaptasi. Seseorang menilai lebih atau kurangnya stimulus adalah dengan adanya pengindraan dan persepsi. Hal ini berarti bahwa teori adaptasi mengacu pada teori kognitif. Pada kognisi yang dimiliki seseorang akan menilai stimulasi lingkungan, sehingga ia akan melakukan adaptasi.

Dalam hubungan antara manusia dengan lingkungan ada tiga kategori seperti dikemukakan oleh Wohlwill. Ketiga kategori tersebut adalah stimulasi pengindeaan pengindeaan, stimulasi sosial, dan pergerakan (stimulus yang bergerak). Manusia tidak menginginkan adanya stimulasi penginderaan yang berlebihan atau kekurangan.

Demikian juga dengan stimulasi sosial yang berupa interaksi yang terlampau banyak atau terisolasi. Hal yang sama dapat dilihat pada banyaknya pergerakan atau sedikit pergerakan.

Di dalam teori adaptasi terdapat tiga dimensi yang dapat membuat stimulus yang muncul pada seseorang menjadi optimal. Adapun dimensi tersebut adalah sebagai berikut; 1. Intensitas stimulus yang mengenai manusia, ketika berinteraksi dengan lingkungan. Apabila seseorang menerima stimulus yang berlebihan atau terlampau kecil intensitasnya maka ia akan terganggu secara psikologis. 2. Keragaman stimulus yang menerpa manusia dalam berinteraksi dengan lingkungan. Apabila manusia berada pada lingkungan yang kurang memberikan stimulasi, maka akan muncul kebosanan, namun, jika terlampau beragam stimulus akan dirasakan melelahkan. Pola stimulus yang dipersepsi adalah meliputi struktur dan kejelasan polanya. Jika seseorang menerima stimulus dengan pola yang tidak jelas atau sangat bervariasi akan mengaburkan struktur stimulusnya dan akan dirasakan sebagai mengganggu.

Interaksi manusia dengan lingkungan, akan mencari stimulus lingkungan yang optimal, yaitu stimulus yang moderat dalam ketiga dimensi di atas. Namun demikian, apabila stimulus lingkungan yang muncul adalah tidak optimal, maka manusia akan menoleransi stimulus lingkungannya.

Pemenuhan kebutuhan setiap manusia tentunya berbeda kualitas hidup juga pasti berbeda, ada banyak faktor yang mempengaruhi seperti faktor ekonomi dan juga tempat tinggal. Maslow (dalam Ndraha dan lihat pula Ginting11), menyatakan bahwa kebutuhan manusia terdiri dari dua kebutuhan yakni kebutuhan tingkat rendah yang meliputi: Basic Physical needs (kebutuhan fisik yang dasar), dan safety and security (rasa aman dan jaminan); dan kebutuhan tingkat tinggi yang meliputi: Belonging and social needs (kebutuhan memiliki dan kebutuhan sosial), Esteem and status (penghargaan dan status), Self-actualization and fulfillment (perwujudan diri dan pemenuhannya). Lebih lengkap lihat pula Ginting yang menyatakan dalam pendapat Maslow tentang kebutuhan kebutuhan manusia menjadi lima yang dijelaskan dalam bentuk piramida tingkatan mulai dari kebutuhan fisiologis, keamanan (safety), dimiliki dan cinta (belonging and love), harga diri (self esteem), dan kebutuhan aktualisasi diri.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup, manusia harus berupaya dengan caranya masing- masing. Seperti yang dilakukan para mahasiswa Bidikmisi di Universitas Jember.

Setelah proses penelitian, peneliti mengumpulkan 11 informan pokok yang terdiri dari 9 mahasiswa Bidikmisi regular, dan 2 pengurus paguyuban Bidikmisi Universitas Jember. Informan tambahan juga sama pentingnya dengan informan

(7)

Jember)

39 pokok, peneliti mengumpulkan 5 narasumber tambahan guna melengkapi data dan juga untuk mengkroscek keabsahan penelitian. 5 informan tersebut terdiri dari 3 teman penerima beasiswa (non Bidikmisi) dan 2 orang tua informan pokok (orang tua /wali).

Peneliti melakukan analisis menggunakan konsep teori yang sudah dijelaskan di kajian pustaka, ada beberapa kosep yang dapat digunakan untuk menganalisis hasil penelitian tentang upaya bertahan hidup mahasiswa beasiswa Bidikmisi rantau salah satunya adalah teori survival dari James C.Scoot. Berikut ini adalah analisis hasil penelitian yang sudah didasarkan pada konsep teori upaya bertahan hidup.

Sosialisisasi dan Penyadaran

Ada tiga langkah survival yang dijelaskan Scoot; Pertama yaitu mengikat sabuk lebih kencang, artinya mengurangi pengeluaran sehari-hari atau meminimalisir pengeluaran dengan cara berhemat, seperti makan lebih sedikit, atau membeli makanan yang harganya lebih murah, mengurangi aktivitas yang mengeluarkan biaya yang lebih banyak. Kedua; adalah alternatif subsistensi yaitu swadaya yang mencakup kegiatan seperti berjualan kecil-kecilan, bekerja sambilan, mendirikan usaha sendiri, cara ini dapat melibatkan seluruh sumber daya yang ada di dalam rumah tangga yang kurang mampu. Ketiga; adalah menggunakan relasi atau jaringan sosial seperti sanak saudara, kawan-kawan kuliah kampus, atau memanfaatkan hubungan dengan perlindungnya (patron).

a. Mengikat Sabuk Lebih Kencang

Mengikat sabuk lebih kencang, yaitu mengurangi pengeluaran untuk pangan dengan jalan menghemat, sebagian orang hanya makan sekali sehari dan beralih ke makanan yang mutunya lebih rendah. Untuk anak mahasiswa biasanya mereka memasak sendiri untuk menghemat pengeluaran, ada juga yang hanya memasak nasi dan membeli lauk sayuran yang lebih murah daripada daging, atau makan dua kali sehari saja, ini dikarenakan walau irit (menghemat), tetapi pemenuhan vitamin juga sangat penting bagi pelajar ataupun mahasiswa.

Sebagimana yang dilakukan oleh beberapa informan berikut ini yang melakukan penghematan sesuai dengan caranya masing-masing. mengatur keuangannya agar cukup digunakan dalam 1 bulan, jadi satu minggu sedapat mungkin hanya menghabiskan uang sebesar 150 ribu rupiah. Selain biaya untuk makan, biaya lainnya yang menjadi konsentrasi yaitu biaya buku, transportasi maupun praktikum. Selain ada juga yang memasak untuk meminimalisir pengeluaran keuangan, karena dengan memasak hanya perlu mengeluarkan sekitar 15 ribu rupiah perhari, jurusannya yang cukup sulit membuat informan untuk tetap fokus dan tidak bekerja sampingan walau kekurangan biaya. Selain memasak dan mengatur pengeluaran perminggu, ada juga yang ikut saudaranya di Jember, dengan begitu dia bisa menghemat pengeluaran untuk biaya tempat tinggal.

Dari ketiga informan tersebut mereka berasal dari fakultas eksakta, yang memiliki jadwal cukup padat dan mengedepankan nilai akademik dalam proses pembelajaran. Tuntutan nilai dan juga praktikum membuat mereka cukup sibuk dan tidak ada waktu untuk bekerja di luar, maka dari itu mereka lebih memilih untuk menghemat biaya hidup dengan cara mereka masing-masing.

b. Alternatif Subsistem

Menggunakan alternatif subsistem, yaitu swadaya yang mencakup kegiatan seperti berjualan kecil-kecilan, bekerja sebagai guru les privat, bekerja paruh waktu, atau melakukan pekerjaan yang tidak tetap seperti menjual jasa ketik,

(8)

Jember)

40 jasa mengerjakan tugas dan lainnya. Cara ini dapat melibatkan seluruh sumber daya yang ada. Sebagai mahasiswa penerima bantuan biaya pendidikan tentunya mandiri adalah suatu keharusan, selain berhemat beberapa lebih memilih untuk bekerja atau wirausaha.

Beberapa informan melakukan upaya bertahan hidup dengan cara bekerja menjadi guru les privat, ada juga yang ikut proyek dosen yang kemudian mereka mendapatkan upah yang cukup untuk kebutuhan hidup. Selain bekerja sesuai dengan kemampuan akademisnya, ada juga beberapa informan yang melakukan upaya seperti berwirausaha online dan juga bekerja paruh waktu di rumah makan.

Mereka yang bekerja sebagai guru les privat dan ikut proyek dosen adalah mahasiswa dari eksakta, sedangkan yang berasal dari humaniora lebih banyak yang bekerja paruh waktu dan juga berwirausaha sendiri.

c. Menggunakan Relasi atau Jaringan Sosial

Relasi atau Jaringan yang ada di kalangan mahasiswa biasanya mereka memanfaatkan relasi antar teman, organisasi maupun keluarga dan sanak saudara. Biasanya yang kerap dilakukan adalah menumpang tempat tinggal, meminjam uang, atau menerima bantuan dari orang terdekat.

Ada beberapa informan yang memanfaatkan jaringan dan relasi yang ada seperti memanfaatkan relasi keluarga dekatnya, dalam hal ini ketika orangtua tidak dapat membantu keuangan, kerabat seperti paman bisa membantu keuangan. Selain memanfaatkan relasi keluarga, mahasiswa biasanya juga memiliki relasi pertemanan yang cukup luas, tidak terlalu memikirkan pengeluarannya perbulan bahkan ada yang memiliki slogan yaitu “walau uang mepet yang penting ada teman”. Memanfaatkan relasi tidak harus meminta bantuan uang tunai tetapi juga dalam bidang wirausaha, seperti yang dilakukan salah satu informan, dia ikut jualan online temannya yang membuka toko di Instragram. Dari situ dia belajar berwirausaha dan juga dapat penghasilan.

Setelah menganalisis bagaimana upaya para mahasiswa Bidikmisi di Universitas Jember dari 10 fakultas yang berbeda, peneliti menemukan perbedaan perilaku upaya yang dilakukan para mahasiswa dari fakultas eksakta dan fakultas humaniora.

Dari fakultas eksakta kebanyakan dari mereka melakukan upaya bertahan hidup dengan cara berhemat, seperti memasak sendiri, ikut saudara dekat, maupun mengatur pengeluaran keuangan, hal tersebut dikarenakan padatnya jadwal mata kuliah dan tuntutan nilai yang cukup sulit untuk dipenuhi oleh para mahasiswa.

Mereka memutuskan untuk tidak bekerja yang akan membagi konsentrasi mereka untuk belajar. Namun ada juga beberapa dari mereka yang juga memilih untuk bekerja memenuhi kebutuhan hidup, menjadi guru les privat dan ikut proyek dosen alasanya adalah karena masa studi mereka yang lebih dari 4 tahun menyebabkan uang Bidikmisi sudah dicabut. Selain itu mereka juga bekerja sesuai dengan bidang akademiknya, hal ini menandakan bahwa lingkungan akademik masih sangat berpengaruh pada upaya bertahan hidup.

Berbeda dengan mahasiswa dari eksakta, mahasiswa dari fakultas humaniora lebih memilih untuk hidup bersosial dan banyak melakukan kegiatan ekstra kampus.

Mereka juga memiliki jadwal yang relatif padat namun dalam mata kuliahnya lebih mempelajari kehidupan sosial dan kemasyarakatan. Hal ini juga mempengaruhi bagaimana upaya-upaya yang dilakukan para mahasiswa untuk bertahan hidup di Universitas Jember. Kebanyakan dari mereka bertahan hidup dengan cara memanfaatkan relasi dan jaringan. Seperti relasi pertemanan, organisasi dan juga

(9)

Jember)

41 orang terdekat. Mereka tidak terlalu berpatokan pada nilai akademik, namun bukan berarti tidak memikirkan sama sekali karena bagaimanapun juga mereka juga anak Bidikmisi yang dituntut untuk mempertahankan nilai akademik yang baik. Selain memanfaatkan jaringan beberapa dari mereka juga ada yang bekerja, berbeda dengan anak eksakta, mereka bekerja mengandalkan keterampilan di luar akademik seperti berwirausaha dan juga bekerja paruh waktu di toko ataupun rumah makan.

Dengan adanya perbedaan perilaku tersebut, menandakan bahwa tidak hanya kondisi ekonomi namun kondisi lingkungan akademik juga mempengaruhi keberagaman upaya yang dilakukan para mahasiswa Bidikmisi di Universitas Jember.

KESIMPULAN

Merujuk pada uraian latar belakang, pokok pembahasan, tinjauan pustaka, dan hasil pembahasan penelitian mengenai upaya bertahan hidup mahasiswa Bidikmisi rantau Universitas Jember. Peneliti dapat menarik kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan.

Strategi bertahan hidup mahasiswa Bidikmisi perantau di Universitas Jember antara mahasiswa satu dengan yang lainnya bervariasi, namun dalam penelitian ini dengan menganalisis hasil dari penelitian dari strategi bertahan hidup mahasiswa bidikmisi di Universitas Jember dari 10 fakultas yang berbeda ditemukan perbedaan upaya yang dilakukan oleh mahasiswa dari fakultas eksakta dan humaniora.

Mahasiswa Fakultas eksakta, upaya bertahan hidupnya, lebih memilih untuk berhemat dan menerapkan alternative subsitem (bekerja sampingan) yang masih berhubungan dengan keahliannya, hal tersebut dikarenakan jadwal yang sibuk dan tuntutan akademik, upaya yang dilakukan meliputi; A. Mengurangi pengeluaran untuk pangan dengan jalan menghemat. yaitu; 1. menghemat biaya hidup dengan mengatur pengeluaran keuangan, 2. menghemat biaya hidup dengan cara memasak sendiri, 3. menghemat biaya hidup dengan ikut saudara di perantauan. B. Alternatif Subsistem (bekerja sampingan) yaitu; 1. menjadi guru les privat, 2. Ikut proyek dosen.

Mahasiswa Fakultas humaniora, upaaya bertahan hidupnya dengan cara alternative subsitem dan memanfaatkan relasi dan jaringan. Hal tersebut dikarenakan mereka terbiasa hidup bersosial dan mempelajari tentang kemasyarakatan. Upaya yang dilakukan meliputi; A. alternatif subsistem (bekerja sampingan) yaitu; 1.

berwirausaha dan jualan online, 2. bekerja paruh waktu di rumah makan. B.

Menggunakan relasi dan jaringan (memanfaatkan hubungan sosial, seperti hubungan keluarga, pertemanan maupun organisasi). yaitu; 1. memanfaatkan hubungan kerabat dekat (mendapat bantuan biaya hidup dari paman), 2. memanfaatkan hubungan organisasi (mendapat upah lewat pertunjukan kesenian UKMK), 3. memanfaatkan hubungan pertemanan (ikut jualan online).

BIBLIOGRAPHY

Adi, I. R. (1994). Psikologi Pekerjaan Sosial dan Ilmu Kesejahteraan Sosial: Dasar-dasar Pemikiran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

---. (2013). Kesejahteraan Sosial (Pekerjaan Sosial, Pembangunan Sosial, dan Kajian Pembangunan). Jakarta: PT RajaGrafindo Persada

Bagong, dkk. (2005). Metode Penelitian Sosial: Berbagai Alternatif Pendekatan. Jakarta:

Kencana Prenada Media Group

Bungin, B. (2007). Metode Penelitian Kualitatif (Aktualisasi Metodologis ke Arah Ragam Varian Kontemporer). Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

(10)

Jember)

42 Ditjendikti. (2012). Pedoman Penyelenggaraan Bantuan Biaya Pendidikan Bidikmisi.

Jakarta: Kemendikbud Ditjendikti

Gerungan. (1991). Psikologi Sosial. Bandung” PT Eresco

Ginting, A., P. (2018). Implementasi Teori Maslow Dan Peran Ganda Pekerja Wanita K3l Universitas Padajajaran. Jurnal Pekerjaan Sosial, Vol. 1 No: 3, Desember, Hal:

220

- 233. DOI : https://doi.org/10.24198/focus.v1i3.20498 G

(2013). Pedoman Penyelenggaraan Bantuan Biaya Pendidikan Bidikmisi. Jakarta:

Kemendikbud Ditjendikti

---. (2016). Pedoman Penyelenggaraan Bantuan Biaya Pendidikan Bidikmisi.

Jakarta: Kemendikbud Ditjendikti

Gunawan, I. (2013). Metode Penelitian Kualitatif (Teori dan Praktek). Jakarta: PT Bumi Aksara

Hersey, Paul & Ken Blanchard. (1995). Manajemen Perilaku Organisasi: Pendayagunaan Sumber Daya Manusia (terjemahan). Jakarta: Penerbit Erlangga

Iskandar, Z. (2012). Psikologi Lingkungan (Teori dan Konsep). Cerakan Ke-1. Bandung:

PT Refika Aditama

Ruben, Brent D & Stewart. (2006). Communication and Human Behaviour. USA: Alya and Bacon

Sumarnonugroho. (1982). Sistem Intervensi Kesejahteraan Sosial. Surabaya: PT

Sujarweni, V. Wiratna. (2014). Metode Penelitian: Lengkap, Praktis, dan Mudah Dipahami. Yogyakarta: Pustaka Baru Press

UNHAS. (2017). Pengertian Upaya. Diakses dari

http://repository.unhas.ac.id/bitstream/handle/ pada 16 Juli 2017 USU. (2011). Pola Adaptasi Sosial. Diakses dari

http://repository.usu.ac.id

/bitstream/handle/123456789/31455/Chapter%20II.pdf?sequence=4 pada 17 Juli 2017

Sulaiman, Zulkifli dkk. Strategi Bertahan Keluarga Buruh Kontrak PT. Metrox Group Jakarta Dalam Memenuhi Kebutuhan Pokok. Universitas Sriwijaya: Jurnal Sosiologi Usman,

Husaini. (2009). Managemen: Teori, Praktik Dan Riset Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara Scott, James C. (1983). Moral Ekonomi Petani Scott. Jakarta : LP3ES

Tarina, Universitas Airlangga Surabaya 2014 dengan judul “Mekanisme Survival Buruh Outsourcing (Studi Deskriptif Tentang Strategi Bertahan Hidup Buruh Outsourcing Di Sidoarjo)”.

Referensi

Dokumen terkait

Pegawai outsourcing yang mengevaluasi bahwa dirinya memiliki potensi dan mampu merealisasikan serta mengembangkan potensi dirinya sebagai pegawai yang profesional

Universitas Kristen Maranatha demikian mahasiswa tidak dapat memberikan kontribusi bagi lingkunganya, meskipun sebenarnya mereka memiliki potensi yang besar untuk membangun

Aspek yang kelima adalah Achievement of Academic Goals yang umumnya keberhasilan akademik pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi Akuntansi angkatan 2013 Universitas “X” sudah

(2) Strategi bertahan hidup yang dilakukan oleh petani miskin pada musim paceklik ialah dengan mengambil kayu bakar di hutan, berhutang untuk memenuhi kehidupan

[r]

Mahasiswa Fakultas Psikologi angkatan 2005 universitas “X” Bandung dengan self-efficacy kuat, memiliki keyakinan yang kuat untuk mampu menentukan pilihan yang telah dibuat,

Sedangkan mahasiswa yang derajat emotional autonomy rendah, kurang mampu memandang orangtuanya bukan sebagai orang yang paling ideal, tidak dapat melihat orangtuanya sebagai

Lampiran 2 Tabulasi Silang Data Penunjang dengan Fase Regulasi Diri pada Siswa-siswi yang Kurang Mampu Meregulasi Diri dalam Bidang Akademik.. Lampiran 3