6 BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan pustaka 1. Smartphone
a. Definisi Smartphone
Dewasa ini, telepon pintar atau yang dikenal sebagai smartphone sudah menjadi tren gaya hidup dan hiburan dengan berbagai fitur multimedia sehingga bisa dikatakan all in one device (komunikasi, multimedia, dan hiburan) dalam bentuk kompak (Sharma et al., 2012). Smartphone merupakan telepon yang dapat digunakan untuk mengakses internet dan mempunyai fungsi PDA (Personal Digital Assistant) seperti buku agenda, catatan, kalender, kalkulator, dan berbagai aplikasi canggih yang dapat membantu dalam aktivitas sehari-hari (Gary et al., 2007). Smartphone adalah telepon seluler yang dapat berfungsi seperti komputer, memiliki sistem operasi, tampilan antarmuka touchscreen, dan dilengkapi dengan koneksi internet dapat digunakan untuk mengakses internet. Sistem operasi yang digunakan umumnya berupa Android, iOS, Symbian OS, RIM BlackBerry, Linux, Windows Mobile (Setiadarma dan Dinata, 2020). Smartphone merupakan telepon genggam dengan layar, memori, kamera, dan mikroprosesor yang dapat menggabungkan fungsi setiap fasilitas personal computer (PC) dan menangkap sinyal GSM yang dapat digunakan untuk mengakses internet, email, search engine, fitur Global Positioning System (GPS), televisi digital, video, game, pemutar musik, dan juga dapat berfungsi melakukan kegiatan e-commerce (Williams dan Sawyer, 2011).
commit to user
7 b. Sejarah Singkat Smartphone
Alexander Graham Bell merupakan penemu telepon. Pada tahun 1878, percobaan telepon berhasil melakukan panggilan untuk pertama kalinya. Pada tahun 1980, untuk pertama kalinya perusahaan Motorola meluncurkan produk telepon genggam untuk umum dengan berat lebih dari 2 pon. Perusahaan pertama yang mengembangkan smartphone ialah IBM dan BellSouth yang mengenalkan produknya pada tahun 1992 dan merilisnya secara publik pada tahun 1994. Smartphone pertama ini memiliki layar sentuh dan mampu mengirim fax dan mengakses email (Sarwar dan Soomoro, 2013). Dengan berjalannya waktu, smartphone semakin canggih dengan fitur maupun aplikasi yang berfungsi membantu pengguna dalam kehidupan sehari-hari terutama bagi orang yang berbisnis dan mahasiswa. Pada akhir Agustus 2012, tercatat 154 juta unit smartphone yang terjual dengan kontributor terbanyak dipegang oleh Apple dan Samsung (Suki, 2013).
c. Karakteristik Smartphone
Berikut beberapa karakteristik umum pada smartphone yaitu (Sharma et al., 2012) :
1) Mobile PC
Smartphone memiliki prosesor yang canggih, kapasitas memori yang besar dan didukung dengan RAM (Random Access Memory) yang cukup canggih seperti PC (Personal Computer).
2) Mobile Operating System (Mobile OS)
Macam Mobile OS yang umum digunakan pada smartphone adalah iPhone OS, Symbian OS, Windows Mobile OS, Palm OS, RIM Blackberry, Linux, Android.
3) Web Feature
4) Technology Support commit to user
8 5) Enhanced Hardware
Smartphone memiliki fitur hardware eksternal seperti kamera dengan resolusi tinggi, sisi kamera depan untuk video conferences, layar sentuh yang sensitif dan lebar, serta built-in keyboard.
6) Open Source
2. Durasi a. Definisi
Definisi durasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah rentang waktu atau lamanya sesuatu berlangsung.
Durasi merupakan kata yang biasanya identik dengan masalah waktu gelaran suatu kegiatan atau acara (Rizqi, 2019). Berdasarkan Andarwati dan Sankarto (2005) dalam Setyawan (2016) , durasi dinyatakan dalam satuan kurun waktu tertentu (menit atau jam) b. Durasi Penggunaan Smartphone
Dalam berbagai penelitian, durasi penggunaan smartphone dikategorikan dalam berbagai bentuk kelompok yang berbeda.
Penelitian dari Syamsoedin et al.(2015) mengkategorikan durasi penggunaan smartphone menjadi < 1 jam (sangat singkat), 1-2 jam (singkat), 3-4 jam (sedang), 5-6 jam (lama), >7 jam (sangat lama).
Penelitian dari Lukman (2018) membagi durasi penggunaan smartphone perhari nya menjadi 11-60 menit, 1-3 jam, 3-5 jam, 5-6 jam, >6 jam. Waty dan Fourianalistyawati (2018) membagi durasi penggunaan telepon pintar dalam penelitiannya menjadi 5 menit, 11-60 menit, 1-2 jam, 3-4 jam, 5-6 jam, lebih dari 6 jam. Durasi paparan gadget dapat dikelompokkan menjadi ringan yakni kurang dari 2 jam, sedang yakni 2-4 jam, berat yakni lebih dari 4 jam (Kurmasela et al, 2013).
Pada tahun 2014, hasil survei yang berjudul “Nielsen on Device Meter” dari lembaga survei Nielsen menunjukkan hasil commit to user
9
bahwa rata-rata waktu penggunaan smartphone di Indonesia sekitar 189 menit perhari (Nielsen, 2014 dalam Rizqi, 2019). Hasil dari penelitian Syamsoedin et al. (2015) menunjukkan rata-rata durasi penggunaan smartphone pada kategori sedang (3-4 jam).
Przybylski & Weinstein (2017) menyatakan durasi penggunaan gadget yang ideal adalah 1 jam 57 menit atau sekitar 2 jam dalam sehari.
3. Adiksi
a. Definisi Adiksi
Istilah adiksi atau kecanduan dahulu hanya terbatas pada konsumsi obat atau zat tertentu. Namun, kini istilah adiksi juga digunakan untuk beberapa perilaku lain yang berpotensi menimbulkan kecanduan seperti perjudian, penggunaan internet, game, penggunaan smartphone dan kecanduan perilaku lainnya (Kwon et al., 2013). Kata addiction menurut kamus Oxford online adalah suatu kondisi tidak dapat berhenti menggunakan atau melakukan suatu kebiasaan terutama sesuatu yang berbahaya atau merugikan seperti contoh adiksi kokain (narkoba), alkohol, TV, sosial media, perjudian, dan lain-lain. Jika seseorang tidak dapat mengontrol keinginannya untuk menggunakan sesuatu sehingga menimbulkan dampak negatif bagi individu itu sendiri baik secara fisik maupun psikis maka dapat dikatakan individu tersebut mengalami kecanduan (Badudu dan Zain, 2005). Kecanduan atau adiksi merupakan kondisi terikat sangat kuat pada kebiasaan dan tidak mampu lepas dari keadaan itu, individu kurang mampu menahan diri dari melakukan kegiatan tertentu yang disenangi.
Seseorang dapat dikatakan kecanduan apabila melakukan kegiatan yang sama berulang-ulang sebanyak lima kali atau lebih dalam satu hari. Biasanya, seseorang yang kecanduan akan merasa terhukum jika tidak mampu memenuhi hasrat kebiasaannya (Cooper, 2000). commit to user
10
Menurut Dodes (2002) dalam bukunya “The Heart of Addiction” terdapat dua jenis adiksi yakni physical addiction dan non-physical addiction. Physical addiction merupakan jenis adiksi yang berhubungan dengan kokain (narkoba) atau alkohol. Non physical addiction merupakan jenis kecanduan lain diluar obat atau alkohol seperti shopping, perjudian dan lain-lain. Sedangkan menurut Grant et al. (2010) dalam Fluyau dan Charlton (2020).
terdapat dua konsep kecanduan atau adiksi yakni kecanduan zat (ketergantungan obat) dan kecanduan non-substansi (kecanduan perilaku). Kecanduan zat merupakan gangguan neuropsikiatri yang ditandai dengan keinginan berulang untuk mengonsumsi zat atau obat secara terus menerus meskipun zat tersebut memiliki konsekuensi berbahaya seperti narkoba dan alkohol. Kecanduan non-substansi merupakan kecanduan yang tidak melibatkan obat- obatan tetapi mencakup perilaku yang serupa seperti ketika seseorang menggunakan obat-obatan seperti perjudian, kecanduan makanan, kecanduan internet, kecanduan game, kecanduan seks, dan kecanduan smartphone.
b. Kriteria Adiksi
Terdapat beberapa kriteria yang dapat digunakan untuk mendiagnosis adiksi, diantaranya :
1) Memperlihatkan pola berulang mengenai intensi atau kesengajaan untuk nafsu mengkonsumsi sesuatu
2) Menunjukkan sikap berlebihan atau tidak wajar dan dapat menghasilkan konsekuensi yang serius
3) Adanya stabilitas dari pola perilaku problematis ini dalam kurun waktu tertentu
4) Adanya hubungan antara komponen psikologis dan fisiologis terkait dengan perilaku
commit to user
11
5) Adanya kesulitan dalam memodifikasi atau menghentikan kebiasaan tersebut. (Diclemente, 2003)
4. Adiksi Smartphone
a. Definisi Adiksi Smartphone
Adiksi smartphone merupakan perilaku kecanduan atau keterikatan terhadap smartphone yang berpotensi menimbulkan masalah sosial dengan karakteristik kecanduan seperti tolerance, withdrawal, preference of cyberspace-oriented relationship, adanya gangguan atau kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari- hari, dan adanya gangguan kontrol impuls (Kwon et al., 2013).
Kecanduan terhadap smartphone merupakan kecanduan yang dikarenakan ketidakmampuan dalam mengontrol diri terhadap penggunaan smartphone dengan dalih pengalihan rasa stress, namun adiksi smartphone ini memiliki risiko lebih ringan dari pada kecanduan obat-obatan ataupun alkohol (Chiu, 2014).
Sebuah penelitian oleh Alfawareh (2014) tentang penggunaan smartphone oleh mahasiswa di Najran University menunjukkan bahwa mahasiswa yang telah memiliki smartphone adalah sebanyak 94,14%. Pemakaian smartphone umumnya untuk membaca dokumen sebanyak 42,9%, menonton film sebanyak 48,8%, menelpon sebanyak 83,2%, memeriksa email sebanyak 49,8%, merekam video sebanyak 63,4%, berkirim pesan sebanyak 65%, mendengarkan musik sebanyak 65,3%, melihat website sebanyak 72,9%, memotret gambar sebanyak 75,2%, berselancar di internet sebanyak 79,9%, dan yang paling tinggi penggunaannya adalah untuk bermain media sosial yakni sebanyak 91,92%.
Menurut penelitian Juraman (2014), mahasiswa menggunakan smartphone karena telepon pintar ini memiliki beberapa kelebihannya yaitu kecepatan internet tinggi untuk mengakses informasi, penggunaan praktis, dan murah dengan beberapa agenda commit to user
12
dalam menggunakan internet yaitu untuk mencari artikel ilmiah, tugas kuliah, informasi akademik. Sebuah studi yang dilakukan oleh Lukman (2018) tentang penggunaan dan adiksi smartphone pada mahasiswa kedokteran Universitas Hasanuddin menunjukkan bahwa dari 321 responden, terdapat 261 responden yang mengalami adiksi smartphone atau sebanyak 81,3% dari jumlah responden. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Setiadarma dan Dinata (2020) tentang adiksi smartphone dan sustained attention (atensi/ perhatian yang terus-menerus) pada mahasiswa kedoktera
Universitas Udayana menemukan bahwa 56,1% (78 orang) dari total sampel (139 orang) masuk kedalam kelompok smartphone addiction. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa penggunaan smartphone di kalangan mahasiswa cukup tinggi dan berisiko mengalami adiksi smartphone.
b. Karakteristik Adiksi Smartphone
Terdapat ciri-ciri adiksi smartphone, antara lain :
1) Overuse : penggunaan smartphone yang berlebihan.
2) Tolerance : gagal untuk mengontrol penggunaan smartphone.
3) Withdrawal : merujuk pada gejala tidak menyenangkan yang timbul akibat tidak menggunakan smartphone seperti tidak sabaran, gelisah, dan bahkan muncul perasaan kesal ketika diganggu saat menggunakan smartphone.
4) Cyberspace-oriented relationship : berorientasi pada hubungan yang didapatkan di dunia maya melalui smartphone.
5) Positive anticipation : merujuk pada perasaan senah atau gembira saat memakai smartphone dan bahkan merasa kosong saat tidak memakainya.
6) Daily-life disturbance : gangguan, kesulitan, atau dampak negatif pada kehidupan atau aktivitas sehari-hari yang
commit to user
13
dirasakan pengguna akibat dari penggunaan smartphone (Kwon et al., 2013).
c. Pengaruh Adiksi Smartphone
Smartphone menghasilkan gelombang elektromagnetik dan dapat berdampak pada kesehatan dan efek lain seperti sakit atau rasa tidak nyaman pada minimal satu dari beberapa lokasi seperti leher, punggung, atau ekstremitas atas (Miakotko, 2017).
Penggunaan smartphone secara berlebihan dapat menimbulkan masalahkesehatan fisik seperti nyeri pada pergelangan tangan atau leher dan penglihatan kabur (Kwon et al., 2013). Penggunaan smartphone secara berlebihan juga dapat berdampak pada mental dan perilaku. Dalamsebuah penelitian yang dilakukan oleh Hwang et al. (2012) terhadap pengguna smartphone menunjukkan bahwa pada kelompok pengguna smartphone yang berlebihan timbul kegelisahan, kecemasan, dan depresi yang lebih tinggi dibanding kelompok pengguna smartphone yang normal. Penggunaan smartphone dapat menimbulkan perilaku maladaptif, mengurangi interaksi sosial pada kehidupan nyata, mengganggu sekolah atau pekerjaan, dan dapat menyebabkan gangguan hubungan atau interaksi kedepannya (Kuss & Griffiths, 2011). Pemakaian smartphone yang berlebihan terutama pada jam tidur dapat mempengaruhi kualitas tidur seseorang menjadi lebih buruk, efisiensi tidur menurun, dan mulainya onset tidur menjadi lama sehingga dapat menimbulkan risiko untuk memiliki gangguan tidur (Hariani et al., 2019).
5. Anatomi dan Fisiologi Mata a. Anatomi Mata
Mata merupakan salah satu indera yang diciptakan Tuhan untuk melihat dan mengenal lingkungan sekitar. Lebih dari 50% commit to user
14
reseptor sensorik dalam tubuh manusia terletak di organon visus ini, dan sebagian besar dari korteks serebral dikhususkan untuk menafsirkan informasi visual (Rehman et al., 2019). Mata menyerupai bola dan terdapat tonjolan didepan mata sebagai tempat masuknya cahaya. Daerah tonjolan tersebut memiliki lapisan transparan yang disebut kornea. Bagian luar mata diselimuti lapisan kaku dan putih yang disebut sebagai sklera. Mata dikelilingi oleh bantalan lemak yakni korpus adiposum orbitae guna meredam goncangan (Syaifuddin, 2012).
Gambar 2.1 Bola Mata Potongan Sagital (Paulsen dan Waschke, 2011)
1) Perkembangan Mata
Perkembangan mata pada embrio dimulai sekitar minggu ke-3 dan berlanjut hingga minggu ke-10 (Rehman et al., 2019).
Awalnya, terjadi pembentukan vesikel optik di daerah pro- encephalikus. Kutub anterior vesikel optik terlipat ke dalam untuk membentuk gelas optik primitif. Epitel pigmen retina berasal dari bagian posterior dari lapisan luar gelas optik, sedangkan bagian anterior membentuk badan siliari dan iris.
Lapisan dalam gelas optik berkembang menjadi retina. Di zona kontak antara gelas optik dan epitel permukaan, vesikel lensa terbentuk sebagai bagian dari lapisan epitel yang melapisi gelas commit to user
15
optik. Vesikel lensa berpindah ke bawah lapisan epitel ini.
Kornea dan konjungtiva berasal dari ektoderm (Paulsen dan Waschke, 2011). Sebagian besar komponen mata tengah dan luar yakni sklera, endotel kornea, stroma, pembuluh darah, otot, dan cairan vitreus berasal dari mesenkimal (Rehman et al., 2019).
2) Struktur Mata a) Bola Mata
Bola mata berdiameter sekitar 2,5 cm pada orang dewasa dan hanya seperenam bagian bola mata yang terpapar oleh udara luar, sedangkan lima perenam bagian bola mata yang lain berada di dalam rongga orbita (Rehman et al., 2019). Secara anatomis, terdapat tiga lapisan pada dinding bola mata yakni tunika fibrosa, tunik vaskulosa, dan tunika nervosa atau retina (Rehman et al., 2019).
Tunika Fibrosa
Tunika fibrosa adalah lapisan terluar dan terdiri dari kornea dan sklera. Kornea merupakan selaput bening mata yang melindungi struktur mata di belakangnya dan dapat membantu bayangan fokus ke retina. Ketebalan kornea adalah sekitar ± 0,5 mm dan tidak memiliki pembuluh darah (Syaifuddin, 2012). Permukaan luar kornea terdiri dari epitel skuamosa kompleks non- keratin. Lapisan tengah kornea terdiri dari serat kolagen dan fibroblas, sedangkan permukaan bagian dalam adalah epitel skuamosa simpleks. Bagian tengah kornea menerima oksigen dari udara luar, sehingga penting agar lensa kontak dapat ditembus oleh oksigen (Rehman et commit to user
16
al., 2019). Kornea memfokuskan bayangan dengan membelokkan atau membiaskan berkas cahaya.
Kelengkungan permukaan kornea dapat mempengaruhi pembiasan cahaya. Kelengkungan kornea yang berlebih dapat menyebabkan mata berpenglihatan dekat, sebaliknya jika kornea kurang melengkung maka mata akan berpenglihatan jauh. Kornea yang kelengkungannya tidak rata akan menyebabkan astigmatisme. (Cameron et al., 2006).
Sklera merupakan jaringan ikat berwarna putih dan menutupi seluruh bola mata kecuali kornea (Rehman et al., 2019). Konsistensi sklera relatif lebih keras untuk memberi bentuk pada bola mata (Gul, 2007). Sklera terbentuk dari serabut kolagen dengan lebar yang berbeda-beda yang saling berkaitan dan dipertahankan oleh fibrolas. Ketebalan sklera disekitar papil saraf optik adalah sebesar 1mm dan di posterior insersi otot sebesar 0,3 mm (James et al., 2006).
Tunika Vaskulosa
Tunika vaskulosa juga dikenal sebagai uvea, adalah lapisan tengah bola mata. Lapisan ini terdiri dari tiga bagian yakni koroid, badan siliaris, dan iris. Koroid adalah bagian posterior dari tunika vaskulosa dan melapisi permukaan internal sklera. Koroid mengandung melanosit yang menghasilkan pigmen melanin. Melanin di koroid menyerap cahaya berlebih, yang mencegah pantulan dan hamburan cahaya di dalam bola mata. Pada orang albino, produksi melanin sedikit sehingga sering memerlukan pemakaian kacamata hitam karena cahaya terang dianggap sebagai cahaya yang menyilaukan (Rehman et al., 2019). Koroid dibentuk oleh arteriol, commit to user
17
venula dan anyaman kapiler padat. Banyaknya pembuluh darah ini memberikan nutrisi pada retina. Membrane dasar koroid dengan membrane dasar epitel pigmen retina membentuk membrane Bruch yang aselular berfungsi sebagai sawar difusi antara koroid dan retina (James et al., 2006).
Di bagian anterior tunika vaskulosa, koroid berubah menjadi badan siliaris, yang terdiri dari otot siliaris dan prosesus siliaris. Otot siliaris dipersarafi oleh sistem parasimpatis. Proses akomodasi dipengaruhi oleh otot siliaris. (James et al., 2006). Struktur ini melakukan relaksasi dan kontraksi untuk mengubah kekencangan serat zonular dengan tujuan mengubah bentuk lensa dan menyesuaikannya untuk penglihatan jauh maupun dekat..
Serat zonular yang melekat pada lensa ini berasal dari prosesus siliaris. Prosesus siliaris berisi kapiler darah yang membentuk aqueous humor. (Rehman et al., 2019).
Iris adalah bagian mata yang berwarna. Struktur ini terletak di antara kornea dan lensa dan melekat pada prosesus siliaris. Jumlah melanin di iris menentukan warna mata (Rehman et al., 2019). Pada iris terdapat lapisan batas anterior yang terdiri dari kolagen dan fibroblast serta stroma selular dimana otot sfingter terletak di dalamnya. Otot sfingter dipersarafi oleh sistem saraf parasimpatis (James et al., 2006). Fungsi utama iris adalah untuk mengatur berapa banyak cahaya yang melewati pupil melalui kerja otot sfingter dan dilator. Pupil merupakan lubang tempat cahaya masuk ke dalam mata. Iris akan berkontraksi dan pupil melebar (midriasis) apabila cahaya lemah agar cahaya yang masuk lebih banyak, hal ini dipengaruhi oleh saraf commit to user
18
simpatis. Iris akan berelaksasi dan pupil mengecil (miosis) apabila cahaya kuat sehingga cahaya yang masuk tidak berlebihan, hal ini dipengaruhi oleh saraf parasimpatis (Gul, 2007).
Tunika Nervosa atau Retina
Lapisan ketiga dan paling dalam dari bola mata adalah retina yang merupakan mekanisme persyarafan penglihatan. Berkas-berkas cahaya benda yang dilihat akan melewati kornea, aqueous humor, lensa dan badan vitreus untuk merangsang ujung-ujung saraf pada retina.
Rangsangan yang diterima retina akan melalui traktus optikus untuk diteruskan ke daerah visual dalam otak sehingga benda dapat ditafsirkan (Syaifuddin, 2012).
Retina terdiri dari lapisan berpigmen dan lapisan saraf.
Lapisan berpigmen berisi sel-sel epitel yang mengandung melanin yang terletak di antara bagian saraf retina dan koroid.. Lapisan saraf atau sensorik merupakan perkembangan dari otak yang memproses data visual secara luas sebelum mengirim impuls listrik ke akson saraf optik (Rehman et al., 2019).
Pada neuron retina terdapat tiga lapisan berbeda yakni lapisan sel ganglion, lapisan sel bipolar, dan lapisan fotoreseptor. Cahaya melewati lapisan sel ganglion dan bipolar sebelum mencapai lapisan fotoreseptor. Fotoreseptor adalah sel khusus yang mengubah sinar cahaya menjadi impuls saraf. Dua jenis sel fotoreseptor adalah batang dan kerucut. Setiap retina mengandung sekitar 6 juta kerucut dan lebih dari 100 juta batang (Rehman et al., 2019). Sel kerucut bertanggung jawab untuk penglihatan pada siang hari dan menghasilkan penglihatan warna yang dihasilkan commit to user
19
dari stimulasi berbagai kombinasi kerucut biru, hijau, dan merah. Sel kerucut terkonsentrasi di fovea yang berguna untuk penglihatan yang detail (James et al., 2006). Fovea centralis merupakan area ketajaman visual tertinggi yang hanya berisi sel kerucut. Fovea terletak di tengah macula lutea, tempat datar yang terletak tepat di tengah bagian belakang retina (Rehman et al., 2019). Sel batang memungkinkan kita melihat dalam cahaya redup seperti malam hari. Sel batang menyusun sebagian besar fotoreseptor diretina bagian lain dan sensitif terhadap cahaya (James et al., 2006).
Lensa merupakan struktur mata sebagai pintu depan tunika vaskulosa dan retina (Mescher, 2010). Lensa adalah organ fokus utama yang dapat membuat bayangan yang jelas di retina dengan cara membiaskan berkas-berkas cahaya yang terpantul dari benda-benda yang dilihat (Syaifuddin, 2012). Lensa terletak di rongga bola mata, di belakang pupil dan iris. Struktur ini disangga oleh serat zonular yang berada diantara badan siliaris dan kapsul lensa. Serat zonular ini metransmisikan perubahan pada otot siliaris sehingga lensa berubah bentuk dan kekuatan refraksinya (James et al., 2006). Lensa membagi bagian dalam bola mata menjadi dua kavitas yakni kavitas anterior dan kavitas vitreous. Kavitas anterior berada di depan lensa, dibagi menjadi ruang anterior dan ruang posterior. Ruang anterior berada di antara kornea dan iris. Ruang posterior terletak di belakang iris dan di depan lensa dan serat zonular. Kedua ruang kavitas anterior dipenuhi dengan aqueous humor, cairan encer yang menyehatkan kornea dan lensa. Aqueous humor dihasilkan oleh epitel badan commit to user
20
silaris dan diganti setiap 90 menit. Kavitas bola mata yang lebih besar adalah kavitas vitreous, yang terletak di antara lensa dan retina. Di dalam ruang vitreous ada vitreous humor, zat transparan seperti jeli yang menahan retina terhadap koroid. Berbeda dengan aqueous humor, vitreous humor tidak mengalami penggantian yang cepat.
Zat ini berisi sel-sel fagosit yang menghilangkan debris untuk mempertahankan penglihatan jernih. Terkadang, beberapa debris dapat menimbulkan bayangan pada bidang penglihatan yang dikenal sebagai vitreal floaters yang umum terjadi pada orang yang sudah tua (Rehman et al., 2019).
b) Adneksa Mata
Adneksa mata atau aksesori mata merupakan jaringan bagian pendukung mata yang terdiri dari beberapa struktur seperti :
Kelopak mata
Kelopak mata, juga dikenal sebagai palpebra memiliki fungsi untuk melindungi mata dari cahaya berlebih, mencegah kemungkinan benda masuk ke mata, dan menyebarkan cairan pelumas ke bola mata, serta menutupi mata saat tidur (Rehman et al., 2019). Kelopak mata terdiri dari jaringan fibrosa yang ditutupi kulit dan dibatasi oleh membran mukosa. Kulit pada palpebra lebih tipis daripada kulit pada bagian tubuh lainnya. Bagian tepi kelopak mata ditumbuhi rambut yang dikenal sebagai bulu mata yang dapat berfungsi mencegah masuknya debu, serangga, dan lain-lain (Cameron et al., 2006).
Kelopak mata atas mengandung otot levator palpebra superior yang dipersarafi oleh saraf kranial yang bertugas commit to user mengangkat kelopak mata sehingga
21
pergerakannya lebih besar jika dibandingkan dengan kelopak mata bawah. Ruang antara kelopak mata atas dan bawah yang mengekspos bola mata adalah fisura palpebra.
Dibawah lapisan kelopak mata terdapat otot yang mengelilingi mata yang disebut orbicularis oculi yang dipersarafi oleh saraf kranial ke-7 dan bertugas menutup kelopak mata. Kedutan pada kelopak mata adalah gejala umum dan biasanya tidak berbahaya yang dapat disebabkan oleh stres dan kelelahan (Rehman et al., 2019).
Aparatus Lakrimalis
Aparatus lakrimalis menghasilkan dan mengalirkan cairan lakrimal, atau air mata, dari mata. Kelenjar lakrimalis, masing-masing seukuran almond, mengeluarkan cairan lakrimal yang mengalir ke 6 hingga 12 saluran ekskretoris yang mengosongkan cairan ke permukaan konjungtiva kelopak mata atas. Selanjutnya, air mata memasuki dua lubang kecil yang disebut pungta lakrimalis, dan kemudian air mata mengalir ke dua saluran yang dikenal sebagai kanalis lakrimalis. Dua kanalis lakrimalis mengarah ke sakus lakrimalis dan kemudian ke duktus nasolakrimalis. Duktus nasolakrimalis membawa cairan lakrimal ke dalam rongga hidung, hal ini dapat menyebabkan hidung tersumbat ketika seseorang menangis (Rehman et al., 2019). Setiap kedipan kelopak mata akan membantu memompa air mata melalui sistem ini sehingga bisa dikatakan bahwa drainase air mata merupakan proses aktif (James et al., 2006).
Otot Mata Ekstrinsik
Otot mata ekstrinsik memanjang dari tulang orbita ke sklera mata dan dikelilingi oleh sejumlah besar lemak periorbital. Secara bersama-sama, otot-otot ini mampu commit to user
22
menggerakkan mata di hampir semua arah (Rehman et al., 2019). Terdapat 6 buah otot yang berkoordinasi menggerakkan kedua bola mata pada saat melirik (Syaifuddin, 2012). Macam otot – otot tersebut adalah sebagai berikut :
(1) Musculus rektus internus (medius) berfungsi menggerakkan bola mata kearah medial
(2) Musculus rektus externus (lateralis) berfungsi menggerakkan bola mata ke arah lateral/temporal.
Pada saat berkontraksi menyebabkan mata menjadi abduksi.
(3) Musculus rektus superior berfungsi menarik bola mata ke atas
(4) Musculus rektus inferior berfungsi menarik bola mata ke bawah
(5) Musculus oblique superior berfungsi menarik bola mata ke arah nasal bawah dan menyebabkan mata berputar ke arah dalam (endorotasi)
(6) Musculus oblique inferior berfungsi menarik bola maat ke arah nasal atas dan menyebabkan mata berputar keluar (eksorotasi) (Ganong, 2001).
c) Rongga Orbita
Rongga orbita adalah rongga yang berbentuk pyramid sebagai tempat bola mata yang dikelilingi oleh tulang-tulang yang kokoh. Terdapat 7 tulang yang membentuk dinding orbita yaitu : os. lakrimal, os. etmoidal, os. sfenoid, os.
frontal, dan dasar orbita yang terutama terdiri atas os.
maksila, bersama-sama os. palatinus dan os. Zigomatikus (Ilyas, 2010).
commit to user
23 b. Fisiologi Mata
Mata bertanggung jawab untuk mendeteksi cahaya tampak, dengan panjang gelombang berkisar dari 400 hingga 700 nanometer. Objek dapat menyerap dan memantulkan berbagai panjang gelombang cahaya. Objek tampak hitam apabila menyerap semua gelombang cahaya , dan tampak putih apabila memantulkan gelombang cahaya (Rehman et al., 2019).
Secara optik, mekanisme mata mirip dengan kamera fotografi. Mata memiliki lensa dengan sistem diafragma yang dapat berubah yakni pupil, dan memiliki retina yang dapat disamakan dengan film kamera. Terdapat empat perbatasan refraksi pada lensa mata antara lain, perbatasan antara permukaan anterior kornea dan udara, perbatasan antara permukaan posterior kornea dengan aqueous humor, perbatasan antara aqueous humor dengan permukaan anterior lensa kristalina , dan yang terakhir perbatasan antara permukaan posterior lensa kristalina dengan vitreous humor.
Indeks bias udara jauh berbeda dengan indeks bias kornea sehingga bisa dikatakan bahwa permukaan anterior kornea memiliki daya bias yang besar (Guyton dan Hall, 2006).
Lensa kristalina memiliki peran penting karena permukaannya yang lengkung dapat mencembung sehingga memungkinkan terjadinya akomodasi. Pada usia muda, terdapat kapsul elastis yang kuat pada lensa yang berisi cairan kental dengan kandungan protein dan serabut-serabut transparan. Dengan bertambahnya usia, terjadi pembesaran dan penebalan lensa serta lensa menjadi kurang elastis, sebagian dikarenakan oleh denaturasi protein secara progresif. Hal ini dapat menyebabkan berkurangnya kemampuan lensa untuk berubah bentuk yang terjadi secara progresif seiring dengan meningkatnya usia. Daya akomodasi akan menurun secara terus-menerus sampai lensa sudah tidak dapat berakomodasi lagi, kondisi ini disebut dengan presbyopia. Selain commit to user
24
memiliki peran untuk berakomodasi, susunan lensa mata juga dapat membentuk bayangan di retina. Bayangan yang terbentuk di retina terbalik dari benda aslinya tetapi otak dapat mempersepsikan benda tersebut tetap dalam keadaan tegak atau keadaan normal (Guyton dan Hall, 2006).
6. Kelelahan Mata
a. Definisi Kelelahan Mata
Kelelahan mata atau astenopia adalah gejala yang dapat disebabkan oleh usaha yang berlebih dari sistem penglihatan yang berada dalam kondisi kurang sempurna untuk mendapatkan ketajaman penglihatan (Berliana dan Rahmayanti, 2017).
Kelelahan mata merupakan kelelahan atau ketegangan pada organ visual, dimana terjadinya gangguan pada mata dan sakit kepala yang dikarenakan oleh penggunaan mata secara intensif (Sampouw et al., 2019). Guo et al. (2018) menyatakan bahwa astenopia atau kelelahan visual merupakan kelainan yang ditandai dengan gejala somatik atau persepsi seperti penglihatan kabur, sensasi benda asing di sekitar mata, mata kering, dan sakit kepala. Sedangkan menurut Hashemi et al. (2019) astenopia adalah istilah umum yang digunakan untuk mendefinisikan sekelompok gejala somatik yang biasanya terjadi setelah bekerja dengan komputer, membaca, atau aktivitas visual dengan jarak dekat lainnya. Kelelahan mata disebabkan oleh penggunaan mata secara terus-menerus untuk fokus pada benda yang ukurannya kecil dalam waktu yang cukup lama dan pada jarak yang cukup dekat (Imamsyah, 2009). Aktivitas jarak dekat berupa menonton televisi, membaca, menggunakan komputer, dan smartphone merupakan faktor risiko tersering yang dapat menimbulkan keluhan kelelahan mata (Chandra dan Kartadinata, 2018).
commit to user
25
Kelelahan mata dapat dikategorikan menjadi kelelahan mata eksternal dan internal. Kelelahan mata eksternal dapat ditandai dengan gejala mata kering dan iritasi pada permukaan mata dikarenakan kondisi lingkungan sedangkan kelelahan mata internal dapat diakibatkan dari stres karena gerakan akomodasi dan konvergensi dan gejalanya berupa sensasi tegang dan sakit di dalam mata (Chandra dan Kartadinata, 2018). Terdapat 3 macam astenopia atau kelelahan mata diantaranya adalah astenopia akomodatif yang disebabkan oleh kelelahan otot siliaris, astenopia muskuler yang disebabkan oleh gangguan keseimbangan otot ekstraokuler, dan astenopia neurostenik yang disebabkan oleh gangguan fungsional dan penyakit-penyakit syaraf organik (Dorland, 2002).
b. Gejala Kelelahan Mata
Hashemi et al. (2018) menyatakan bahwa kelelahan mata atau astenopia merupakan kumpulan gejala yang dapat berupa sakit kepala, mata perih dan / atau gatal, penglihatan kabur, mata berair, mata kering, penglihatan ganda, fotofobia, dan sensasi benda asing pada mata. Menurut Ilyas (2008), kelelahan mata dapat ditandai dengan adanya gejala iritasi pada mata (mata merah, pedih, dan mengeluarkan air mata), sakit sekitar mata, daya akomodasi menurun, penglihatan ganda (double vision), ketajaman penglihatan dan kepekaan terhadap kontras serta kecepatan persepsi menurun. Sedangkan menurut Pheasant (1991) dalam Septiansyah (2014) menyatakan gejala-gejala kelelahan mata antara lain rasa perih, sakit, warna kemerahan pada mata dan pelupuk mata serta mata berair yang merupakan ciri dari peradangan mata, pandangan kabur, pandangan ganda, penglihatan susah fokus, nyeri atau rasa berdenyut di sekitar mata dan belakang
commit to user
26
bola mata, sakit kepala yang terkadang dapat disertai pusing, mual, dan rasa pegal atau capek serta mudah emosi.
c. Mekanisme Kelelahan Mata
Stress pada fungsi penglihatan dapat menyebabkan kelelahan mata. Otot akomodasi mata dapat mengalami stress apabila digunakan secara terus-menerus untuk melihat objek dengan ukuran kecil dalam jangka waktu yang lama pada jarak dekat. Dalam kondisi tersebut, ketegangan otot-otot siliaris (otot akomodasi mata) akan semakin besar sehingga terjadi kenaikan kadar asam laktat pada otot tersebut dan dapat menimbulkan kelelahan mata. Retina juga dapat mengalami stress apabila terdapat kontras yang berlebih pada lapang penglihatan dan waktu yang digunakan untuk melihat cukup lama (Ilyas, 2008).
Penggunaan gadget seperti laptop, notebook, smartphone dapat menyebabkan mata lelah, hal ini dipengaruhi oleh radiasi dan pencahayaan dari gadget. Penggunaan gadget dengan intensitas waktu yang lama juga dapat menyebabkan mata menjadi jarang berkedip sehingga dapat meningkatkan risiko mata kering dan iritasi mata. Semakin lama mata terbuka maka semakin tinggi pula kemungkinan kornea mata mengalami dehidrasi, rasa panas dan sakit,serta sensasi benda asing atau seperti terdapat pasir di kelopak mata (Nourmayanti, 2009). Pencahayaan gadget yang kurang baik dapat menimbulkan gejala kelelahan mata yang dapat ditandai dengan kelopak mata terasa berat. Hal ini dikarenakan pupil mata berupaya untuk menyesuaikan cahaya yang diterima mata. Apabila penerangan lebih besar, pupil akan mengecil, begitupula sebaliknya (Aryanti, 2006).
commit to user
27
d. Faktor yang Mempengaruhi Kelelahan Mata
Kelelahan mata dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dapat dikelompokkan menjadi faktor internal dan eksternal.
1) Faktor Internal
Faktor internal merupakan faktor dari diri seseorang yang dapat menimbulkan kejadian mata lelah, diantaranya adalah:
a) Usia
Menurut Nourmayanti (2009), terdapat hubungan antara usia dan kelelahan mata. Semakin bertambahnya usia seseorang maka lensa akan semakin kehilangan kekenyalan dan elastisitasnya, hal ini dapat menyebabkan semakin berkurangnya daya akomodasi dan otot-otot mata pun juga semakin sulit dalam upaya mencembungkan dan menipiskan mata (Setiawan, 2010). Menurut Ilyas (2008) usia dapat berpengaruh terhadap daya akomodasi mata, seseorang dengan usia lebih dari 40 tahun lebih berisiko mengalami kelelahan mata.
b) Gangguan Penglihatan (Kelainan Refraksi)
Gangguan penglihatan berupa kelainan refraksi sangat mempengaruhi kejadian mata lelah karena daya akomodasi mata sudah menurun (Ilyas, 2006). Astenopia ditemukan pada seseorang dengan kelainan refraksi yang tidak dikoreksi dengan benar, anisometria (adanya perbedaan kelainan refraksi antara mata kanan dan kiri), dan presbiopia.
Penderita miopia memiliki punctum remotum yang dekat sehingga mata selalu dalam kondisi konvergensi yang akan memicu kelelahan mata. Pada penderita hipermetropia, mata akan berakomodasi secara terus-menerus untuk memfokuskan bayangan sehingga akan timbul keluhan mata lelah dan sakit. Penderita astigmatisma akan mengeluhkan
commit to user
28
kelelahan mata, penglihatan kabur, penglihatan ganda, sakit kepala, serta ketegangan pada mata (Ilyas, 2008).
c) Jenis Penyakit Lain
Beberapa penyakit yang dapat mempengaruhi kondisi mata diantaranya:
Diabetes Melitus
Diabetes Melitus merupakan penyakit yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah yang dapat menimbulkan berbagai gangguan khususnya pada pembuluh darah kecil maupun pembuluh darah besar sehingga lambat laun akan menimbulkan komplikasi (Lanywati, 2011). Komplikasi diabetes melitus pada mata berupa katarak dini dan penglihatan kabur karena retina rusak. Pada penderita diabetes yang tidak terkontrol dengan baik dapat terjadi peradangan dalam selaput retina, atrofi pada serabut-serabut yang ke pupil dan otot siliar, penglihatan semakin kabur, dan jika terus-menerus dipaksakan untuk melihat maka akan mengakibatkan kelelahan mata (Davey, 2003).
Hipertensi
Hipertensi dapat menimbulkan risiko berupa pembuluh darah yang mengeras karena menahan tingginya tekanan darah dan kerusakan-kerusakan pada jantung akibat bekerja lebih keras. Hipertensi juga dapat berdampak pada mata yakni pembuluh-pembuluh darah mata dapat mengalami penciutan yang dapat berisiko pada retina dan komplikasinya seringkali bersifat fatal (Gunawan, 2007). Hipertensi yang sistematik dan menetap dapat menimbulkan risiko pada mata berupa perdarahan retina, odema retina, dan eksudasi yang dapat mengakibatkan hilangnya penglihatan (Imamsyah, 2009). commit to user
29 d) Pengaruh Obat-obatan
Jenis obat penenang sedatif dapat menimbulkn efek berupa pengurangan produksi air mata yang dihasilkan oleh kelenjar laktimal jika dimakan teratur sehingga mengakibatkan mata menjadi kering dan mengalami iritasi.
Jenis obat midiatrik seperti homotropin, schopolamin, dan atropine dapat melumpuhkan otot siliaris (Ilyas, 1991 dalam Setiawan, 2010).
2) Faktor Eksternal
Faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar individu yang dapat menimbulkan kejadian kelelahan mata, diantaranya adalah :
a) Tingkat Pencahayaan
Suma’mur (1996) dalam Siagian (2017) menyatakan bahwa pekerja mampu melihat objek-objek yang dikerjakannya secara jelas, cepat dan tanpa upaya berlebih jika berada dalam pencahayaan yang baik. Pada pencahayaan yang buruk dapat menyebabkan kelelahan mata dan berkurangnya kinerja. Menurut Aryanti (2006), pencahayaan lingkungan yang baik dari sumber penerangan yang alami atau buatan dapat mendukung upaya peningkatan kesehatan, keselamatan dan produktivitas tenaga kerja. Kuantitas cahaya yang menyebabkan objek dan sekitarnya terlihat jelas, kualitas dari pencahayaan yang menyangkut distribusi cahaya (arah dan penyebaran), tipe dan tingkat kesilauan dapat menentukan baik tidaknya pencahayaan di suatu tempat kerja. Demikian pula dekorasi ruangan seperti warna dari dinding, langit-langit, peralatan kerja ikut menentukan tingkat penerangan di suatu tempat kerja.
commit to user
30 b) Penggunaan Gadget
Berada di depan monitor gadget dengan dengan durasi lebih dari dua jam dapat berisiko mengalami kelainan refraksi pada mata. Objek dengan bentuk yang rumit dan ukuran yang terlalu kecil memaksa mata bekerja lebih keras dengan berupaya lebih fokus (Hanum, 2008). Menatap monitor gadget dengan waktu yang lama dapat menimbulkan kelelahan pada mata serta gejala- gejala lain. Pengguna gadget mengeluhkan mata lelah karena memusatkan pandangan mereka pada objek yang terlihat kecil di monitor, hal ini menyebabkan mata berkonsentrasi dan kurang berkedip sehingga terjadi peningkatan penguapan air mata lalu mata menjadi kering (Permana, 2015). Jarak monitor yang terlalu dekat juga dapat menyebabkan mata menjadi cepat lelah, tegang dan berpotensi mengalami gangguan penglihatan. Jarak ergonomis antara layar monitor dengan pengguna komputer atau gadget berkisar antara 50 cm hingga 60 cm (Hanum, 2008).
c) Suhu
Cuaca kerja adalah kombinasi dari suhu udara, kelembaban udara, suhu radiasi dan kecepatan gerakan yang dapat dapat mempengaruhi efisiensi kerja. Suhu yang nyaman untuk orang-orang Indonesia berkisar antara 240C – 260C (Suma’mur, 1996 dalam Septiansyah, 2014). Berdasarkan penelitian Roestijawati (2007) ditemukan bahwa sebanyak 60% karyawan yang bekerja di ruangan bertemperatur < 240C atau > 260C mengalami sindrom dry eye yang merupakan salah satu dari gejala kelelahan mata.
commit to user
31 e. Cara Mengurangi Kelelahan Mata
Kelelahan mata akibat dari penggunaan mata yang berlebih dapat diatasi dengan beberapa cara, diantaranya :
1) Blink atau mengedipkan mata. Menurut Affandi (2005) dalam Permana (2015) mata manusia berkedip 15-20 kali per menit pada keadaan normal tetapi refleks berkedip dapat berkurang sekitar 66%
yakni 3-6 kali per menit pada pengguna VDT (Visual Display Terminal) seperti komputer, hal ini dapat menyebabkan ketegangan pada otot mata dan mata menjadi kering yang merupakan ciri dari mata lelah. Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Crnovrsanin et al. (2014) didapatkan bahwa mengedipkan mata berhasil mengurangi gejala kelelahan mata seperti mata yang perih dan kering.
2) Eye exercises atau latihan otot mata. Eye exercise merupakan latihan otot-otot mata untuk memperkuat semua otot extraocular dan otot siliaris sehingga dapat membantu mencegah ketegangan mata, mempertahankan ketajaman, dan mengurangi gejala mata lelah (Noto et al., 2013). Eye exercises juga menstimulasi otot mata melalui gerakan-gerakannya sehingga penumpukkan asam laktat dapat berkurang dan dapat meningkatkan sirkulasi darah. Darah membawa oksigen (O2) dan nutrisi untuk sel-sel sehingga dengan peningkatan sirkulasi darah ini, dapat membuat mata terasa segar dan meningkatkan ketajaman mata (Gosewade et al., 2016). Menurut Bansal dan Moudgil (2014) Eye exercise merupakan terapi pada mata yang dapat mengurangi ketidaknyamanan pada mata dan membantu mata menjadi sehat dan segar karena sirkulasi darah menjadi lancar.
3) Lubricating eye drops atau tetes mata. Tetes mata merupakan intervensi farmakologi dengan meneteskan cairan pada mata.
Diharapkan dengan dilakukannya tetes mata akan membantu mengurangi gejala mata kering saat berada didepan monitor gadget (Bansal dan Moudgil, 2014).
commit to user
32
4) Break atau istirahat. Apabila pekerjaan di depan monitor komputer atau gadget lainnya memerlukan konsentrasi yang tinggi maka dibutuhkan adanya istirahat singkat untuk memberikan waktu pemulihan (Anshel, 1996 dalam Nourmayanti, 2009).
5) Breath atau bernafas. Ada kecenderungan untuk menahan nafas saat berada dalam keadaan stress. Dalam keadaan ini, secara tidak sadar otot-otot akan menjadi tegang. Bernafas secara benar dan teratur dapat membantu merelaksasi otot termasuk otot mata (Anshel, 1996 dalam Nourmayanti, 2009).
6) Posisi Ergonomis. Untuk mendapatkan kenyamanan dan posisi ideal yang sehat bagi tubuh, perlu untuk memperhatikan faktor ergonomis selama menggunakan komputer atau gadget (Garodia, 2008). Monitor yang terlalu dekat dapat menyebabkan mata menjadi cepat lelah, tegang, dan berpotensi menimbulkan gangguan penglihatan. Jarak ergonomis antara layar monitor dan pengguna komputer berkisar antara 50 cm hingga 60 cm (Hanum, 2008). Jarak antara mata dengan layar saat menggunakan komputer sekurang-kurangnya adalah 20-40 inch atau sekitar 50 – 100 cm (OSHA,1997). Fathimahhayati et al.
(2020) menganjurkan untuk beralih posisi secara bergantian antara duduk dan berdiri saat menggunakan smartphone, menopang lengan yang memegang smartphone dengan tangan lainnya, memegang smartphone lebih ke atas agar leher tetap lurus, menggunakan dudukan untuk smartphone dan menaikkan ketinggiannya hingga sejajar mata atau sedikit di bawahnya dengan meletakkan perangkat di atas tumpukan buku atau majalah, menggunakan orientasi landscape (memanjang kesamping) sebagai standar saat menonton konten di smartphone, serta menerapkan aturan 20-20-20. Berdasarkan Permenkes RI nomor 48 tahun 2016 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Perkantoran, untuk standar ergonomi perkantoran diperlukan luas tempat kerja staff paling sedikit 2,2 m2 dengan ruang udara sedikit-dikitnya 10 mcommit to user 3 dan sebaiknya 15 m3, menyesuaikan
33
tinggi tempat duduk dengan tinggi monitor sehingga jarak antara mata dengan monitor 20-40 inchi dan sudut 15-20 derajat dibawah horizontal, ukuran kursi menyesuaikan dengan ukuran karyawan, peletakkan barang dalam meja kerja dikelompokkan sesuai kebutuhan, postur saat bekerja diperhatikan sehingga mata sama tingginya dengan bagian paling atas layar monitor, serta penerapan rehat saat kerja dengan metode 20-20-20 yakni metode saat 20 menit bekerja menggunakan komputer atau gadget hendaknya diselingi 20 detik rehat singkat dengan melihat objek lain selain komputer sejauh 20 feet.
Gambar 2.2 Posisi Ergonomis yang dianjurkan menurut Permenkes RI no. 48 tahun 2016 tentang Standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja Perkantoran
7) Pencahayaan yang Baik. Pencahayaan yang kurang dapat menyebabkan kelelahan mata tetapi pencahayaan yang terlalu kuat dapat menyebabkan kesilauan, oleh karena itu diperlukan penerangan yang memadai untuk mencegah terjadinya kelelahan mata dan mempertinggi kecepatan dan efisien membaca (Soewarno, 1992).
Langkah yang dapat dilakukan untuk mengatur pencahayaan adalah seperti dengan menutup jendela, mematikan lampu serambi, commit to user
34
mengubah letak penerangan. Selain itu, untuk meminimalkan cahaya yang ditimbulkan oleh monitor, dapat dilakukan langkah seperti menggunakan layar khusus untuk mengurangi cahaya tersebut, menguah kemiringan dan posisi monitor serta mengatur kontras.
(Sherwood, 2002).
8) Pemeriksaan mata secara rutin. Berdasarkan The National Institute of Occupational Safety and Health (NIOSH) dalam Sherwood (2002), pengguna komputer harus memeriksa mata sebelum bekerja menggunakan komputer dan melakukan pemeriksaaan tersebut setiap tahun untuk mencegah atau mengobati gangguan pada mata.
7. Hubungan Penggunaan Smartphone dengan Kelelahan Mata
Kelelahan mata pada pengguna smartphone dapat disebabkan oleh akomodasi mata yang berlebihan untuk melihat objek pada jarak yang dekat secara terus-menerus yang selanjutnya menyebabkan ketegangan atau kelelahan pada otot siliaris mata (Hanum, 2008). Suma’mur (2013) dalam Sampouw (2019) menyatakan bahwa kelelahan mata dapat dikarenakan stress intensif pada fungsi mata seperti pada otot-otot akomodasi mata dalam aktivitas yang memerlukan pengamatan secara teliti atau terhadap retina yang disebabkan oleh ketidaktepatan kontras.
Otot akomodasi mata dapat mengalami stress saat seseorang berusaha untuk melihat dalam jangka waktu yang lama dan jarak yang dekat pada objek yang berukuran kecil (Siagian, 2017).
Pengguna smartphone cenderung terlalu dekat menatap layar smartphone dan menggunakannya dalam waktu yang lama, hal ini dapat berdampak pada penambahan berat beban kerja otot siliaris dan peningkatan daya akomodasi mata yang dapat menyebabkan kelelahan mata (Ganie et al., 2018). Beban kerja pada penggunaan smartphone lebih berat karena dengan membaca tulisan yang kecil dengan jarak yang dekat dapat memaksa mata bekerja lebih keras dalam menyesuaikan fokus pada commit to user
35
suatu objek sehingga dapat menyebabkan sakit kepala, penurunan tajam penglihatan, dan keluhan kelelahan mata (Babekova et al., 2011). Pada sebuah penelitian didapatkan bahwa penggunaan smartphone dengan jarak yang dekat dan waktu yang lama akan berdampak pada peningkatan keluhan kelelahan mata dengan hasil akhirnya yaitu semakin dekat jarak penglihatan akan memperbesar gejala keluhan kelelahan mata setelah membaca atau melihat melalui smartphone selama 60 menit (Long et al., 2017). Dalam penelitian Jang et al. (2012), Pembaca yang menggunakan gadget berupa I-Pad lebih mudah mengalami kelelahan mata daripada pembaca buku cetak. Maducdoc et al. (2017) juga menemukan hal yang sama yakni pembaca e-book menggunakan I-Pad memiliki tingkat kelelahan mata dan iritasi mata yang jauh lebih tinggi dibandingkan pembaca buku cetak. Berdasarkan penelitian Kim et al. (2017), kelelahan mata dan rasa tidak nyaman pada mata secara signifikan diinduksi dengan menatap smartphone secara terus-menerus.
commit to user
36 B. Kerangka Teori
Faktor Internal Faktor Eksternal
Usia
Gangguan Penglihatan (miopia, presbyopia, anisometria, astigmatisma)
Jenis penyakit lain (diabetes mellitus, hipertensi)
Pengaruh obat-obatan
Tingkat pencahayaan
Penggunaan gadget
Suhu
Kelelahan Mata
Smartphone
Adiksi smartphone
ciri – ciri : overuse, tolerance, withdrawal, cyberspace-oriented relationship,positive anticipation, daily-life disturbance
Durasi penggunaan smartphone yang berlebih
commit to user
37 C. Kerangka Pemikiran
Faktor Risiko Kelelahan Mata
Internal : usia, gangguan penglihatan (Miopia, presbyopia, anisometria, astigmatisma), penyakit lain (DM, Hipertensi), pengaruh obat-obatan
Eksternal : pencahayaan, penggunaan gadget, suhu
Penggunaan Smartphone
Durasi Penggunaan Smartphone Adiksi Smartphone
Meningkatkan beban kerja otot siliaris dan daya akomodasi mata
Gangguan Mental dan Perilaku
Kecemasan
Kegelisahan
Depresi
Gangguan tidur
Perilaku maladaptif
Gangguan interaksi sosial Kelelahan
Mata
Meningkatkan kadar asam laktat pada otot mata
commit to user
38 D. Hipotesis
Ada hubungan antara durasi penggunaan smartphone dan adiksi smartphone dengan kelelahan mata pada mahasiswa kedokteran UNS
Keterangan :
: variabel bebas : variabel terikat
: variabel luar yang tidak diteliti : berhubungan
commit to user