BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia adalah salah satu negara dengan sumber daya alam yang sangat tinggi, khususnya barang tambang. Daerah-daerah di Indonesia mulai dari Sabang sampai Merauke menyimpan kekayaan alam barang tambang yang berbeda-beda, mulai dari batu bara, minyak dan gas bumi, logam dan mineral, batu-batuan, dan lain sebagainya. Perkembangan industri pertambangan di Indonesia juga semakin meningkat seiring dengan program pemerintah yang menjadikan sektor pertambangan sebagai salah satu pilar pembangunan perekonomian nasional.
Kegiatan pertambangan dimulai dengan kegiatan ekplorasi dan eksploitasi yang terkadang dilakukan sampai puluhan tahun, hal inilah yang menyebabkan industri pertambangan adalah industri yang padat modal berbeda dengan industri lainnya. Berikut jumlah perkembangan perusahaan pertambangan di Indonesia mulai tahun 2011-2015.
Sumber: www.idx.co.id (data diolah)
Gambar 1.1
Jumlah Perkembangan Perusahaan Pertambangan di Indonesia
0 10 20 30 40 50
2011 2012 2013 2014 2015
29 31 37 40 41
Jumlah Perusahaan Pertambangan di Indonesia
Dari Gambar 1.1 terlihat bahwa perusahaan pertambangan mengalami perkembangan dari tahun ke tahun, dimana tahun 2011, jumlah perusahaan pertambangan yang listing sebesar 29 perusahaan, kemudian di tahun 2012 menjadi 31 perusahaan, bertambah lagi di tahun 2013 menjadi 37 perusahaan dan terus mengalami peningkatan di tahun 2014 menjadi 40 perusahaan dan terakhir di tahun 2015 menjadi 41 perusahaan. Akan tetapi, ternyata ada juga perusahaan yang harus delesting yaitu PT Indo Setu Bara Resources Tbk (CPDW) pada tanggal 12 September 2013 karena mengalami kerugian besar sebagai akibat dari ketidakmampuan perusahaan mengelola kinerja perusahaannya.
Sebuah perusahaan didirikan bertujuan untuk memperoleh laba yang akan digunakan untuk keberlangsungan hidup perusahaan tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa suatu saat perusahaan tersebut akan mengalami kesulitan keuangan (financial distress) apalagi jika perusahaan tersebut tidak dapat bersaing dengan perusahaan yang lain. Seperti halnya krisis ekonomi yang melanda beberapa negara di Asia, termasuk Indonesia pada akhir tahun 1997 hingga tahun 1998 telah memberikan dampak negatif terhadap kondisi keuangan perusahaan karena banyak perusahaan yang akhirnya mengalami kesulitan keuangan (financial distress) yang berujung pada kebangkrutan. Kebangkrutan adalah kondisi terburuk dari kesulitan keuangan (financial distress).
Financial distress merupakan tahap penurunan kondisi keuangan suatu perusahaan yang terjadi sebelum terjadinya kebangkrutan. Istilah umum untuk menggambarkan situasi tersebut adalah kebangkrutan, kegagalan, ketidakmampuan melunasi utang dan default. Menurut Brigham dan Daves (2003)
di dalam Fachrudin (2008:2) financial distress dimulai ketika perusahaan tidak dapat memenuhi jadwal pembayaran atau ketika proyeksi arus kas mengindikasikan bahwa perusahaan tersebut akan segera tidak dapat memenuhi kewajibannya. Ketika sebuah perusahaan dikategorikan mengalami kondisi financial distress maka hal ini akan membuat investor dan kreditor mempertimbangkan untuk menanamkan modalnya pada perusahaan tersebut atau tidak. Dalam beberapa dekade terakhir ini, financial distress telah menjadi sebuah topik yang penting dan menarik bagi para ahli ekonomi. Beberapa ahli ekonomi yang memfokuskan penelitiannya tentang prediksi kebangkrutan yang sering dijadikan sebagai acuan utama dalam penelitian corporate failure adalah Breaver (1966), Altman (1968), dan Ohlson (1980).
Perusahaan yang mengalami financial distress dapat dikategorikan dengan berbagai macam cara. Whitaker (1999) dalam Rodoni dan Herni (2014:187) mengidentifikasi financial distress dengan adanya arus kas yang lebih kecil dari utang jangka panjang saat ini. Elloumi dan Gueyie (2001) dalam Fachrudin (2008:50) mengkategorikan perusahaan yang mengalami financial distress apabila memiliki Earning Per Share (EPS) yang negatif selama beberapa tahun berturut- turut. Sementara Sari (2005) dalam menentukan perusahaan yang terkena financial distress menggunakan laba bersih (net income) yang negatif selama dua tahun atau lebih secara berturut-turut. Wardhani (2006) mendefinisikan perusahaan yang berada dalam kondisi financial distress apabila nilai interest coverage ratio (ICR) kurang dari satu.
Kategori perusahaan yang mengalami financial distress yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan yang mempunyai Earning Per Share (EPS) negatif selama dua tahun berturut-turut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Elloumi dan Gueyie (2001) dalam Fachrudin (2008:50).
Penggunaan Earning Per Share (EPS) sebagai indikator perusahaan yang mengalami financial distress dikarenakan EPS merupakan rasio untuk mengukur keberhasilan manajemen dalam mencapai keuntungan bagi pemegang saham.
Rasio yang rendah berarti manajemen belum berhasil untuk memuaskan pemegang saham, sebaliknya dengan rasio yang tinggi kesejahteraan pemegang saham meningkat. (Kasmir, 2008:207).
Tabel 1.1
Perkembangan Earning Per Share (EPS) Perusahaan Pertambangan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)
Tahun 2011-2015
NO Nama
Perusahaan
Kode Emiten
Tahun
2011 2012 2013 2014 2015 1. PT. SMR
Utama Tbk.
SMRU (0,0020) (0,0065) (0,0029) (0,0005) (0,0016)
2. PT. Atlas Resources Tbk.
ARII 0,0015 (0,0036) (0,0036) (0,0070) (0,0084)
3.
PT. Delta Dunia Makmur
Tbk.
DOID (9,649) (15,256) (29,370) 15,470 (8,307)
4.
PT. Perdana Karya Perkasa
Tbk
PKPK (5,00) (17,00) 1,00 (53,00) (114,00)
5. PT. Darma Henwa Tbk.
DEWA (1,100) (1,880) (2,370) 0,020 0,020 Sumber: www.idx.co.id (data diolah)
Berdasarkan Tabel 1.1, dapat dilihat Earning Per Share (EPS) dari beberapa perusahaan pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)
dari tahun 2011-2015 yang cenderung negatif. PT. SMR Utama Tbk (SMRU) memiliki nilai EPS yang negatif selama lima tahun berturut-turut yaitu pada tahun 2011-2015, sementara PT. Atlas Resources Tbk (ARII) nilai EPSnya negatif dalam empat tahun berturut-turut, yaitu mulai tahun 2012-2015. PT. Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) juga memiliki nilai EPS yang negatif selama tiga tahun berturut-turut yaitu tahun 2011-2013 kemudian di tahun 2015 juga nilai EPSnya kembali negatif. PT. Perdana Karya Perkasa Tbk (PKPK) memiliki EPS yang negatif selama empat tahun, yaitu pada tahun 2011-2012 dan pada tahun 2014- 2015, dan terakhir PT. Darma Henwa Tbk (DEWA) juga memiliki nilai EPS yang negatif berturut-turut selama tiga tahun yaitu pada tahun 2011-2013, hal ini mengindikasikan bahwa kelima perusahaan pertambangan di atas mengalami financial distress.
Salah satu penyebab terjadinya financial distress adalah karena corporate governance model, yaitu ketika perusahaan memiliki susunan aset yang tepat dan struktur keuangan yang baik tetapi dikelola dengan buruk (Lizal (2002) dalam Fachrudin (2008:6)). Niarachma (2012) berpendapat bahwa keadaan sebuah perusahaan adalah hasil interaksi antara kinerja manajemen dalam pengelolaan aset dan juga kondisi lingkungan usaha perusahaan. Lingkungan perusahaan merupakan keseluruhan dari faktor-faktor di dalam maupun luar perusahaan yang berpengaruh terhadap perusahaan baik organisasi maupun kegiatannya. Menurut Porter (1991) dalam Wadhani (2008) bahwa alasan mengapa perusahaan sukses atau gagal mungkin lebih disebabkan oleh strategi yang diterapkan perusahaan tersebut. Kesuksesan suatu perusahaan banyak ditentukan oleh karakteristik
stategis dan manajerial perusahaan tersebut. Strategi tersebut diantaranya juga mencakup strategi penerapan sistem Corporate Governance (CG) yang baik di dalam perusahaan. Struktur Corporate Governance dalam suatu perusahaan dapat menentukan sukses tidaknya suatu perusahaan.
Di Indonesia sendiri, isu mengenai Corporate Governance telah muncul ke permukaan sejak tahun 1997, dikarenakan banyak ahli yang berpendapat bahwa kelemahan di dalam Corporate Governance adalah sumber utama penyebab krisis ekonomi tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh Asian Development Bank (ADB) menyimpulkan penyebab krisis ekonomi di negara- negara Asia, termasuk Indonesia, adalah: (1). Mekanisme pengawasan dewan komisaris (board of director) dan komite audit (audit committee) suatu perusahaan tidak berfungsi dengan efektif dalam melindungi kepentingan pemegang saham, dan (2). Pengelolaan perusahaan yang belum profesional.
The Indonesian Institute for Corporate Governance (IICG) memaknai Corporate Governance sebagai serangkaian mekanisme yang mengarahkan dan mengendalikan suatu perusahaan sesuai dengan harapan para pemangku kepentingan. Ujiyantho (2007) menyatakan Corporate Governance merupakan salah satu elemen kunci dalam meningkatkan efisiensi ekonomis, yang meliputi serangkaian hubungan antara manajemen perusahaan, dewan komisaris, para pemegang saham dan stakeholders lainnya yang harus berjalan beriringan satu dengan yang lainnya. Tujuan dari penerapan Corporate Governance adalah untuk menciptakan nilai tambah (value added) bagi semua pihak yang berkepentingan (stakeholder).
Mekanisme Corporate Governance adalah suatu sistem yang digunakan untuk mengendalikan dan melakukan pengawasan kegiatan yang ada dalam perusahaan. Penerapan mekanisme Corporate Governance yang baik akan meningkatkan kinerja keuangan perusahaan sehingga dapat meminimalisir terjadinya risiko financial distress pada perusahaan. Mekanisme Corporate Governance yang akan diteliti dalam penelitian ini terdiri atas: Jumlah Dewan Direksi, Jumlah Dewan Komisaris; Jumlah Komite Audit; Turn Over dari Direksi (Jumlah Direksi Masuk dan Jumlah Direksi Keluar) serta Kualitas Audit.
Beberapa penelitian terdahulu mengenai pengaruh corporate governance terhadap financial distress menunjukkan hasil yang berbeda-beda terutama untuk mekanisme corporate governance yang akan diteliti, yaitu: jumlah dewan direksi, jumlah dewan komisaris, jumlah komite audit, turn over dari direksi (jumlah direksi masuk dan jumlah direksi keluar), serta kualitas audit. Dimana hasil penelitian yang dilakukan oleh Wardhani (2006) menunjukkan bahwa jumlah dewan direksi berpengaruh positif dan signifikan terhadap financial distress, hal ini berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Bodroastuti (2009) serta Sastriana dan Fuad (2013) dimana jumlah dewan direksi berpengaruh ne gatif dan signifikan terhadap financial distress. Demikian juga dengan mekanisme corporate governance yang lain yaitu jumlah dewan komisaris, dimana hasil penelitian yang dilakukan oleh Bodroastuti (2009) menunjukkan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap financial distress sementara hasil penelitian yang dilakukan oleh Wardhani (2006) menunjukkan pengaruh yang negatif dan
signifikan dan Andhika dan Fuad (2014) hasil penelitiannya tidak memiliki pengaruh.
Sastriana dan Fuad (2013) meneliti pengaruh jumlah komite audit terhadap financial distress dan hasilnya menunjukkan pengaruh positif dan signifikan, sementara penelitian yang dilakukan oleh Niarachma (2012) serta Nuresa dan Hadiprajitno (2013) menunjukkan hasil yang berbeda bahwa jumlah komite audit tidak memiliki pengaruh terhadap financial distress.Penelitian yang dilakukan dengan menggunakan turn over dari direksi juga menghasilkan hasil penelitian yang berbeda-beda, dimana penelitian yang dilakukan Wardhani (2006) hasilnya menunjukkan bahwa turn over dari direksi berpengaruh terhadap financial distress berbeda dengan hasil penelitian Bodroastuti (2009) bahwa turn over dari direksi tidak memiliki pengaruh terhadap financial distress. Dan terakhir kualitas audit, Revina et al (2015) meneliti bahwa kualitas audit berpengaruh negatif dan signifikan terhadap financial distress.
Berdasarkan perbedaan hasil penelitian terdahulu yang telah dilakukan oleh Wardhani (2006), Bodroastuti (2009), Niarachma (2012), Sastriana dan Fuad (2013), Nuresa dan Hadiprajitno (2013), Andhika dan Fuad (2014) serta Revina et al (2015) yang menimbulkan ketidakjelasan hasil penelitian mengenai pengaruh corporate governance terhadap financial distress seperti yang telah diungkapkan
sebelumnya. Dan juga banyaknya perusahaan pertambangan yang terkena kondisi financial distress menjadikan penulis tertarik untuk meneliti kembali dan mengambil serta menggabungkan beberapa variabel dari penelitian terdahulu yang
paling berpengaruh dalam memprediksi kemungkinan terjadinya financial distress, selanjutnya penulis tuangkan dalam skripsi yang berjudul:
“Analisis Pengaruh Mekanisme Tata Kelola Perusahaan (Corporate Governance)terhadap Kesulitan Keuangan (Financial Distress) pada
Perusahaan Pertambangan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Periode 2011-2015.”
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka penulis menyimpulkan perumusan masalah yang akan dibahas sebagai berikut:
Apakah jumlah dewan direksi, jumlah dewan komisaris, jumlah komite audit, turn over dari direksi (jumlah direksi masuk dan jumlah direksi keluar), serta kualitas audit memiliki pengaruh terhadap financial distress baik secara parsial dan simultan pada perusahaan pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2011-2015?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan di atas, maka tujuan dari dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah jumlah dewan direksi, jumlah dewan komisaris; jumlah komite audit, turn over dari direksi (jumlah direksi masuk dan jumlah direksi keluar), serta kualitas audit memiliki pengaruh terhadap financial distress baik secara simultan atau parsial
pada perusahaan pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2011-2015.
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi berbagai pihak, diantaranya:
1 Bagi Peneliti
Peneliti berharap penelitian ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan yang lebih, khususnya mengenai bidang penelitian, yaitu pengaruh corporate governance yang terdiri dari: jumlah dewan direksi, jumlah dewan komisaris; jumlah komite audit; turn over dari direksi (jumlah direksi masuk dan jumlah direksi keluar), serta kualitas audit terhadap kemungkinan sebuah perusahaan mengalami kondisi financial distress.
2 Bagi Akademisi Lain
Peneliti berharap hasil penelitian ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan sehubungan dengan pengaruh corporate governance terhadap financial distress serta dapat menjadi bahan referensi dan bukti empiris bagi peneliti lain yang ingin melakukan penelitian lanjutan atau penelitian yang berada pada bidang kajian yang sama.
3 Bagi Investor
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang berguna bagi investor untuk membantu dalam menilai kondisi keuangan suatu
perusahaan sehingga nantinya sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan kegiatan investasi pada perusahaan dengan memperhatikan bahwa corporate governance merupakan salah satu faktor yang dapat dijadikan pertimbangan dalam mengurangi kemungkinan perusahaan mengalami financial distress.
4 Bagi Perusahaan
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai kondisi perusahaan dan sebagai tinjauan dalam mengevaluasi kemampuan manajerial perusahaan sehingga perusahaan dapat mulai melakukan tindakan-tindakan untuk mengantisipasi agar perusahaan yang dikelolanya tidak sampai masuk ke dalam kondisi financial distress dan juga bagi perusahaan yang mengalami financial distress dapat menjadi masukan mengenai corporate governance yang berpengaruh untuk mengatasi kondisi financial distress tersebut.