• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian

Dalam perdagangan internasional, kopi merupakan komoditas ekspor terpenting kedua setelah minyak mentah. Komoditas ini diperdagangkan hampir di seluruh negara di dunia (Farahdita & Rahmah, 2015).

Gambar 1. 1 Produksi Kopi Dunia Sumber : E-Imports, 2016

(2)

Gambar 1. 2 Nilai Ekspor Kopi Dunia (USD) Sumber : Trademaps, 2016

Komoditas kopi juga merupakan salah satu komoditas ekspor utama Indonesia yang berperan penting bagi perekonomian masyarakat Indonesia.

Komoditas kopi mampu menyumbang devisa yang cukup besar. Menurut Ketua Kompartemen Industri dan Kopi Spesialti Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia(AEKI), Pranoto Soenarto, setiap tahunnya produksi kopi Indonesia dapat mencapai 400.000 ton, dan penghasilan yang didapatkan dari ekspor kopi mampu mencapai USD 1,3 milyar atau sekitar Rp 17 triliun (Ismail, 2015).

Komoditas kopi juga berperan penting bagi kehidupan masyarakat di pedesaan dimana lebih dari 1,84 juta keluarga daerah pedesaan bermata pencaharian sebagai petani kopi. Menurut Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Marwan Jafar, masalah penyeraban tenaga kerja dan kemiskinan masyarakat pedesaan bisa diatasi melalui program pemanfaatan dan pengembangan kopi (Yulianingsih, 2015). Selain itu, komoditas kopi juga menyediakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia dalam bidang industri dan perdagangan (Kementerian Pertanian - Direktorat Jenderal Perkebunan, 2013).

Secara komersial ada dua jenis kopi yang dihasilkan di Indonesia, yaitu kopi arabika dan kopi robusta (Asosiasi Eksportir dan industri Kopi Indonesia (AEKI), 2015).

(3)
(4)

1. Kopi Arabika

Kopi jenis arabika dapat tumbuh dengan baik didaerah yang memiliki ketinggian diatas 1.000 – 2.100 meter di atas permukaan laut. Karena itu perkebunan kopi arabika hanya terbatas di beberapa daerah tertentu. Beberapa daerah di Indonesia yang terkenal sebagai daerah penghasil kopi arabika adalah Sumatera Utara, Lampung, Aceh, Sulawesi, Jawa dan Bali. Kopi jenis arabika sebagian besar tahan terhadap hama dan penyakit (Panggabean E. , 2011).

Karakteristik biji kopi arabika antara lain:

- Bentuknya memanjang

- Lebih bercahaya dibanding jenis lainnya - Celah tengah berlekuk

- Bidang cembungnya tidak terlalu tinggi

2. Kopi Robusta

Sedangkan kopi robusta dapat tumbuh di ketinggian yang lebih rendah daripada ketinggian penanaman kopi arabika, yaitu pada ketinggian 400-800m di atas permukaan laut (Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI), 2015).

Karakteristik biji kopi robusta (Panggabean E. , 2011) antara lain;

- Biji kopi agak bulat

- Lengkungan biji lebih tebal

- Garis tengah dari atas ke bawah hampir rata

- Untuk biji yang sudah diolah, tidak terdapat kulit ari di lekukannya

Kopi Indonesia memiliki luas areal perkebunan yang mencapai 1,2 juta hektar. Dari luas areal tersebut, 96% merupakan lahan perkebunan kopi rakyat dan sisanya 4% milik perkebunan swasta dan Pemerintah (PTP Nusantara) (Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI), 2015). Dengan total produksi dari tahun 2011 hingga tahun 2014 adalah sebagai berikut:

(5)

4

Tabel 1. 1 Total Produksi Kopi Indonesia Tahun Total Produksi (Ton)

2011 638.647

2012 691.163

2013 675.881

2014* 685.089

2015** 739.005

*) angka sementara

**) angka estimasi

Sumber : Ditjenbun, Kementerian Pertanian, 2015

Berdasarkan data tersebut, dapat dilihat bahwa total produksi kopi indonesia yang ke-dua terbesar ada pada tahun 2012, yaitu sebesar 691.163 ton lalu setelah tahun 2012 tingkat produksi kopi mengalami penurunan. Penurunan produksi tersebut didasarkan oleh faktor cuaca dimana sering terjadi hujan (Indreswari, 2015).

Namun pada tahun 2015 Indonesia kembali mampu meningkatkan produktivitas kopinya dengan total produksi yang mencapai 739.005 ton, jauh lebih besar daripada total produksi kopi tahun 2012.

Seiring dengan berkembangnya perdagangan internasional dalam era globalisasi ini, negara-negara melakukan integrasi ekonomi. Definisi integrasi ekonomi menurut Pelkman (2001) adalah dihilangkannya hambatan-hambatan ekonomi antar negara. Sedangkan Tinbergen mendefinisikan integrasi ekonomi sebagai bentuk kebebasan dalam melakukan perdagangan internasional tanpa adanya diskriminasi serta memiliki lembaga yang sama dalam mengatur transaksi perdagangan internasionalnya. Integrasi ekonomi menurut Jovanovic (2006) dapat meningkatkan kemakmuran suatu bangsa karena lebih efisien dibandingkan suatu negara berusaha sendiri (winantyo, et al., 2008).

Pada tahun 2016 ini diberlakukan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

MEA merupakan realisasi dari visi ASEAN 2020 yaitu untuk melakukan integrasi ekonomi diantara negara-negara ASEAN dengan membentuk suatu pasar tunggal dan basis produksi (Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, 2013). Pasar tunggal merupakan suatu pasar yang berada dalam suatu kawasan tertentu, dimana seluruh

(6)

anggota kawasan tersebut bersama-sama membuat aturan dan kebijakan mengenai perdagangan internasional diantara mereka (winantyo, et al., 2008) .

Dengan berlakunya MEA ini, investasi, tenaga terampil, serta barang dan jasa dapat secara bebas diperdagangkan, tanpa adanya hambatan tarif maupun non tarif.

Sehingga akibatnya tingkat persaingan diantara negara-negara ASEAN akan semakin ketat. Jika tidak mampu bersaing, maka produk-produk negara lainlah yang akan lebih mendominasi di Indonesia (Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, 2013). Begitupula dengan komoditas kopi Indonesia.

Indonesia adalah produsen kopi terbesar keempat di dunia setelah Brazil, Vietnam, dan Colombia (Indonesia Investments, 2015) dengan memenuhi 20%

kebutuhan kopi dunia (Ismail, 2015). Indonesia juga merupakan pengekspor kopi terbesar keempat di dunia dengan pangsa pasar sekitar 11% (Raharjo, 2013). Volume dan nilai ekspor komoditas kopi Indonesia dapat dilihat pada Tabel 1.2 berikut :

Tabel 1. 2 Volume dan Nilai Ekspor Kopi Indonesia Tahun Volume Nilai Ekspor (USD)

2011 346.062,6 ton 1.034.724,7 2012 447.010,8 ton 1.243.825,8 2013 532.139,3 ton 1.166.179,9 2014 382.750,3 ton 1.030.716,4

Sumber : BPS, 2015

Dari sisi permintaan, prospek pertumbuhan permintaan kopi dunia tetap menjanjikan. Hal ini dapat dilihat dari permintaan kopi diseluruh dunia yang senantiasa meningkat . Rata-rata presentase peningkatan konsumsi kopi di Asia adalah sebesar 5 - 8% per tahun. Sedangkan rata-rata di benua Amerika dan Eropa yaitu naik sebesar 8% per tahun (Panggabean E. , 2011). Bahkan dengan berkembangnya mesin pembuat minuman kopi instan memicu peningkatan konsumsi kopi di negara maju (Saridewi, 2011).

Peningkatan konsumsi kopi dapat dilihat di Gambar 1.3. Naiknya taraf hidup serta perubahan pola konsumsi dan gaya hidup negara-negara di dunia mengakibatkan adanya potensi pertumbuhan konsumsi kopi yang kuat.

(7)
(8)

Gambar 1. 3 Grafik Konsumsi Kopi Dunia Sumber : International Coffee Organization, 2016

Permintaan akan kopi Indonesia sendiri terus meningkat, dimana kopi robusta Indonesia memiliki kandungan body yang kuat, sedangkan kopi arabika memiliki cita rasa yang khas yang berbeda-beda di tiap negara (Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI), 2015). Bisnis kopi mengalami peningkatan, terutama dalam bidang café yang menawarkan berbagai jenis minuman kopi seperti cappuccino dan latte. Hal ini didorong oleh selera konsumen dan tingkat pendapatan serta suasana café yang menyenangkan (Reynolds, 2016).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Nalurita,dkk (2014) menyatakan bahwa kopi Indonesia memiliki daya saing di pasar internasional serta memiliki keunggulan komparatif yang didukung oleh kondisi faktor sumberdaya alam, modal, tenaga kerja, IPTEK, industri terkait dan pendukung, peran pemerintah dan kesempatan yang dilihat berdasarkan analisis Berlian Porter. Purnamasari, dkk (2014) juga melakukan penelitian terhadap daya saing kopi Indonesia dimana berdasarkan hasil penelitiannya Indonesia memiliki nilai RCA yang paling rendah diatara negara pengekspor kopi utama lainnya serta terlihat bahwa Indonesia hampir

(9)
(10)

faktor-faktor yang mempengaruhi volume ekspor kopi Indonesia antara lain PDB riil negara pengimpor, nilai tukar rupiah terhadap US Dolar, dan harga kopi ritel di negara pengimpor.

Ketua Umum Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI), Irfan Anwar, mengatakan bahwa Indonesia memiliki daerah-daerah penghasil kopi yang memiliki banyak varian yang serta memiliki karakteristik yang sangat unik yang jika dikelola dan diolah dengan baik akan menghasilkan kopi dengan citarasa spesifik atau kopi spesialti. Beberapa varian kopi spesialti yang sudah terkenal di dunia antara lain Gayo Coffee dari Aceh, Mandheling Coffee dari Aceh, Java Coffee dari Jawa Timur, Toraja atau Celebes Coffee dari Sulawesi Selatan dan Luwak Coffee.

Sementara itu, beberapa varian kopi spesialti yang mulai dikenal dunia antara lain Flores Coffee, Bali Coffee, Prianger Coffee dan Papua Coffee (Pojok Media:

Kemendag, 2013).

Lebih lanjut, Tjahjo Soemirat, Penasehat Kelompok Penikmat Kopi (KPK) juga menyatakan bahwa rahasia kelezatan kopi Indonesia terletak pada cita rasa dan aroma kopi Indonesia yang dihasilkan oleh tiap wilayah itu berbeda-beda dan termasuk dalam jajaran kopi terbaik di dunia (Pojok Media : Kemendag, 2013). Hal yang sama juga dipaparkan oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag) yang menyatakan bahwa kopi Indonesia memiliki rasa yang sangat khusus dibandingkan negara-negara lain. Bahkan, kopi diberbagai daerah di Indonesia memiliki rasa yang berbeda-beda dan khas yang tidak ada di negara lain (Sukmana, 2014).

Namun dibalik semua keunggulan yang dimiliki oleh komoditas kopi Indonesia, komoditas kopi juga mengalami tantangan, dimana dengan luas lahan sebesar 1,3 juta hektar, Indonesia baru bisa memproduksi 800 kilogram kopi per hektar, jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan total produktivitas kopi Vietnam yang mampu menghasilkan 2,3 ton kopi per hektar dan Brasil 8 ton per hektar (Ningtyas, 2015). Mutu kopi Indonesia juga dianggap kurang stabil karena petani tidak memilik pengetahuan yang cukup untuk mengolah kopi dengan mutu yang sama setiap kali panen. Petani kopi masih perlu diberikan pelatihan dari pengusaha dan pemerintah (Wahyuni, 2015).

Melihat konsekuensi dari pemberlakuan MEA ini serta tantangan yang dihadapi, pengetahuan tentang daya saing komoditas kopi di Indonesia serta faktor- faktor pendorong dan penghambat daya saing tersebut tentu sangat diperlukan

(11)
(12)

Apalagi mengingat peranan penting komoditas kopi ini bagi perekonomian Indonesia.

Dengan demikian, komoditas kopi Indonesia diharapkan dapat bersaing di pasar ASEAN khususnya dalam menghadapi MEA.

1.2 Rumusan Masalah

Komoditas kopi merupakan salah satu produk unggulan eskpor Indonesia dan memiliki peranan penting dalam perekonomian Indonesia, dimana penghasilan yang didapatkan dari ekspor kopi mampu mencapai USD 1,3 milyar atau sekitar Rp 17 triliun. Selain itu, komoditas kopi juga berperan penting bagi kehidupan masyarakat di pedesaan dimana lebih dari 1,84 juta keluarga daerah pedesaan bermata pencaharian sebagai petani kopi.

Dengan pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) ini yang berprinsip pasar bebas mau tidak mau memaksa negara-negara ASEAN untuk meningkatkan kualitas produk dalam negerinya agar mampu bersaing dengan negara- negara ASEAN lainnya. Begitu juga dengan komoditas kopi Indonesia. Karena jika tidak mampu bersaing, maka industri perkebunan dan pengolahan kopi Indonesia akan terancam keberadaannya karena kopi dari negara lainlah yang lebih mendominasi pasar. Untuk itu, rumusan masalah yang akan penulis bahas adalah :

1. Bagaimana daya saing komoditas kopi Indonesia?

2. Apa faktor-faktor yang mendorong daya saing komoditas kopi Indonesia?

3. Apa faktor-faktor yang menghambat daya saing komoditas kopi Indonesia?

1.3 Ruang Lingkup

Untuk mempermudah penulisan laporan skripsi ini dan agar lebih terarah dan berjalan dengan baik, maka perlu kiranya dibuat suatu batasan masalah. Adapun ruang lingkup permasalahan yang akan dibahas dalam penulisan skripsi ini, yaitu :

1. Peneliti hanya meneliti volume ekspor dalam USD pada komoditas kopi dengan HS code 090111 (Not roasted, not decaffeinated) dan HS code 090121 (Roasted, not decaffeinated) untuk mengetahui keunggulan komparatif dengan Revealed Comparative Advantage .

2. Negara yang dibandingkan nilai Revealed Comparative Advantage-nya yaitu 4 negara anggota ASEAN yang tercatat sebagai pengekspor kopi di dunia

(13)

9

menurut International Coffee Organization, antara lain : Vietnam, Indonesia, Thailand, dan Philipina

3. Batasan periode analisis penelitian dari tahun 2012 sampai 2014 4. Peneliti hanya meneliti tentang ekspor komoditas kopi

1.4 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian skripsi ini adalah :

1. Untuk mengetahui daya saing komoditas kopi Indonesia.

2. Untuk mengetahui faktor-faktor pendorong daya saing komoditas kopi Indonesia .

3. Untuk mengetahui faktor-faktor penghambat daya saing komoditas kopi Indonesia.

1.5 Manfaat Penelitian

Adapun penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi : 1. Bagi para eksportir komoditas kopi

Penelitian ini diharapkan akan menghasilkan informasi yang bermanfaat sebagai masukan dan pertimbangan bagi eksportir kopi agar dapat mengetahui daya saing komoditas kopi Indonesia serta mampu meningkatkan daya saing produk kopinya.

2. Bagi pemerintah

Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi pemerintah dalam memberikan dukungan bagi para eksportir kopi serta dalam mengambil kebijakan yang mampu mendorong peningkatan daya saing ekspor kopi di Indonesia.

3. Bagi dunia akademis

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan yang membangun untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang ada dan dapat digunakan sebagai referensi untuk penelitian selanjutnya.

(14)

4. Bagi penulis

Menambah ilmu pengetahuan penulis tentang daya saing ekspor komoditas kopi Indonesia dan menjadi salah satu syarat untuk menyelesaikan program S1 Jurusan International Business Management di Universitas Bina Nusantara.

1.6 State of The Art

Tabel 1. 3 State of The Art

Jurnal Metode Hasil

Nalurita,R.,

Asmarantaka, R,W.,

& Jahroh,S. 2014.

Analisis Daya Saing dan Strategi

Pengembangan Agribisnis Kopi Indonesia . Jurnal Agribisnis Indonesia, Vol 2 (1), 63-74.

Metode Kombinasi, Revealed

Comparative Advantage (RCA) dan teori Competitive Advantage Porter's Diamond

Berdasarkan analisis daya saing menggunakan RCA , secara komparatif kopi Indonesia memiliki daya saing di pasar internasional. Berdasarkan analisis Berlian Porter, kopi Indonesia juga memiliki keunggulan secara komparatif yang didukung oleh kondisi faktor (sumberdaya alam, modal, tenaga kerja, IPTEK), industri terkait dan pendukung, peran pemerintah dan kesempatan.

Purnamasari,M., Hanani,N., & Huang, W.C. 2014. Analisis Daya Saing Kopi Indonesia di Pasar Dunia. AGRISE Vol XIV (1), 58-66.

.

Metode Kuantitatif, Revealed

Comparative Advantage (RCA), Comparative Export Performance (CEP), dan Market Share Index (MSI)

Hasil dari perhitungan Revealed Comparative Advantage (RCA) memperlihatkan bahwa Indonesia memiliki nilai RCA yang paling rendah diatara negara pengekspor kopi utama lainnya. perhitungan Comparative Export Performance (CEP) dimana Indonesia berada pada urutan terakhir.

Pada Market Share Index (MSI) terlihat bahwa Indonesia hampir memiliki level yang sama dengan Vietnam.

(15)

11

Jurnal Metode Hasil

Hidayat, A., &

Soetriono. 2010.

Daya Saing Ekspor Kopi Robusta Indonesia di Pasar Internasional. J-SEP Vol. 4(2), 62-82.

Metode Kuantitatif, Revealed Comparative Advantages (RCA), Acceleration Ratio (AR) dan Index of Trade Specialization (ISP) and Sensitivities

(1) kopi robusta Indonesia memiliki keunggulan kompetitif

(2) Indonesia mampu mencapai pasar kopi robusta selama tahun 2004 sampai 2006.

(3) Indonesia memiliki daya saing yang tinggi

(4) Meningkatnya harga kopi robusta dari 5%, 10% dan 20%, akan

meningkatkan keunggulan komparatif, meningkatkan kegiatan ekspor, namun keunggulan kompetitif kopi robusta tetap konstan. Penurunan harga kopi robusta dari 5%, 10% dan 20%, akan menurunkan keunggulan komparatif dan kegiatan ekspor namun keunggulan kompetitif kopi robusta masih stabil.

Rianita, I Gusti Ayu M.D. 2014. Analisis Komparasi dan Daya Saing Ekspor Kopi Antar Negara ASEAN Dalam Perdagangan Bebas ASEAN Tahun 2002- 2012. Jurnal Ekonomi Pembangunan Trisakti,Vol 1(2), 145-158.

Metode Kuantitatif, Revealed Comparative Advantage (RCA) dan Data Panel

Indonesia dan Vietnam yang memiliki daya saing ekspor yang kuat. Ekspor kopi dipengaruhi oleh total produksi kopi, harga kopi, dan PDB per kapita.

Raharjo, B.T. 2013.

Analisis Penentu Ekspor Kopi Indonesia. Jurnal Ilmiah.

Metode Kuantitatif, Regresi Data Panel

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap volume ekspor kopi Indonesia antara lain PDB riil negara pengimpor, nilai tukar rupiah terhadap US Dolar, harga kopi ritel di negara pengimpor

(16)

Boansi, D., & Crentsil, C., 2013. Competitiveness and Determinants of Coffee Exports, Producer Price and Production for Ethiopia.

Munich Personal RePEc Archive.

Metode Kuantitatif, The Revealed Comparative Advantage (RCA) dan Revealed Symmetric Comparative Advantage (RSCA)

Ethiopia memiliki keunggulan komparatif.

Namun kinerja ekspor kopi secara keseluruhan

menghadapi beberapa tantangan dengan

pengelolaan harga risiko, biaya transaksi yang

tinggi,dan tantangan internal seperti kontrol kualitas, produktivitas rendah, dan penyelundupan.

Baroh,I., Hanani,N., Setiawan,B., Koestiono,D.

2014. Indonesian Coffee Competitiveness in the International

Market:Armington Model Application. American Journal of Economics, 4(4), 184-194.

Metode Kuantitatif, Armington models

Kopi di Indonesia

menghadapi kompetitor yang berbeda di setiap negara.

Ditinjau dari sisi penawaran:

penawaran kopi Indonesia di Jepang dan Australia dipengaruhi oleh pasokan tahun lalu, sementara di Belanda, Amerika Serikat dan Jerman dipengaruhi oleh harga kopi Indonesia. Dari sisi harga: harga konsumen di lima negara pengimpor kopi Indonesia (Jepang, Belanda, Amerika Serikat, Jerman dan Australia) dipengaruhi oleh harga produsen, nilai tukar terhadap dolar Amerika, dan teknologi. Harga konsumen tahun lalu tidak berpengaruh signifikan kecuali di negara Jerman

(17)

13

Jurnal Metode Hasil

Eskandari, M.J., Miri,M., Gholami,S., Nia, H.R.S.

2015. Factors Affecting The Competitiveness of The Food Industry By Using Porter's Five Forces Model Case Study in Hamadan Province Iran.Journal of Asian Scientific

Research,5(4),185-197.

Metode Kualitatif, Five Forces Model Porter

Masing-masing lima kekuatan Porter berperan dalam meningkatkan daya saing. Selain lima kekuatan kompetitif Porter, faktor lain yang juga berperan penting dalam keberhasilan

perusahaan seperti: kualitas dan harga yang wajar, teknologi modern, memiliki manajemen yang kuat, investor dan dukungan pemerintah.

Pawar, P.A., & Veer N.B.

2013. Advantage China, Rusia: A Study of Competitive Position of Organized Retail Industry.

IOSR Journal of Business and Management (IOSR- JBM), Vol 10, 57-6.

Metode Kualitatif,

Porter’s National Diamond Model (Porter’s Diamond Theory)

China, Rusia memiliki keunggulan kompetitif dalam industri ritel. China, Rusia memiliki potensi bisnis ritel yang besar dan berbagai laporan menunjukkan bahwa pemain asing di pasar ritel tertarik untuk melakukan investasi asing langsung di sektor ritel China, Rusia.

Semua faktor penentu berlian Porter menunjukkan indikator yang

menguntungkan bagi daya saing industri ritel.

(18)

Jurnal Metode Hasil Soetriono.2010. Strategi

Peningkatan Daya Saing Agribisnis Kopi Robusta Dengan Model Daya Saing Tree Five.

Metode Kombinasi, Risk Analysis, Policy

Analysis Matrix (PAM), Tree Five Competitiveness, dan Policy Simulation

Dari sisi penawaran, produksi kopi robusta harus memperhatikan jumlah produksi kopi Indonesia, harga pupuk dalam negeri, dan kebijakan pemerintah.

Dari sisi permintaan, adanya peluang permintaan kopi yang besar. Dari sisi lingkungan dan usaha tani, sebagian besar diusahakan secara multikultur, kesadaran petani akan benih unggul masih rendah, sebagian kopi sudah tua/rusak, dan terserangnya penyakit.

produk kopi kebanyakan diolah dalam biji kering.

Dari sisi kebijakan domestik, pemerintah kurang

mendukung yang dilihat dari koefisien DRC lebih baik daripada koefisien PCR.

Koefisien NPCO dan SRP kurang mendukung daya saing. namun dari koefisien NPCI, kebijakan pemerintah memberikan dukungan terhadap percepatan daya saing. dari sisi sosial, prilaku petani netral resiko.

Sumber : Penulis, 2016

Gambar

Gambar 1. 1 Produksi Kopi Dunia  Sumber : E-Imports, 2016
Gambar 1. 2 Nilai Ekspor Kopi Dunia (USD)      Sumber : Trademaps, 2016
Tabel 1. 3 State of The Art

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini sejalan dengan kecenderungan yang terjadi di mana permintaan terhadap kopi di dunia semakin mengarah pada kopi yang memiliki cita rasa khas, penampilan seragam dan

Sektor perikanan dan kelautan diharapkan menjadi prime mover bagi pemulihan ekonomi Indonesia, karena prospek pasar komoditas perikanan dan kelautan ini terus meningkat

Hasil penelitian ini adalah persentase penduduk Indonesia yang menggunakan obat tradisional dalam pengobatan sendiri terus meningkat selama kurun waktu tujuh tahun

Kopi robusta memiliki kandungan kafein yang tinggi, lebih tinggi dibandingkan kopi arabika, namun dapat diturunkan dengan proses dekafeinasi Penurunan kadar kefein

Kajian kandungan kafein kopi bubuk, nilai ph dan karakteristik aroma dan rasa seduhan kopi jantan (pea berry coffee) dan betina (flat beans coffee) jenis arabika dan

Dari total produksi kopi Indonesia, produksi kopi Robusta 93 % dan kopi Arabika 7 %, sedangkan kopi yang diekspor keseluruhannya berjumlah 6,03 % dari ekspor kopi dunia Produsen

Sumber Daya Manusia di Indonesia khususnya para pemuda memiliki emosi (perasaan-perasaan), dan cita-cita, namun banyak diantara mereka yang telah kehilangan

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh lama perendaman minuman kopi arabika dan robusta terhadap modulus elastisitas thermoplastic nylon sebagai bahan