• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

9

A. Harga

Harga memiliki peran penting untuk membangun minat beli konsumen.

Harga yang murah akan menarik konsumen melakukan pembelian pada pasar sandang yang berada di Tegalgubug Kecamatan Arjawinangun Kabupaten Cirebon, sebab harga murah membuat konsumen mengeluarkan pengorbanan yang lebih sedikit dalam bentuk uang yang dikeluarkan untuk memperoleh barang. Kondisi yang ada menyebabkan pasar sandang yang berada di Tegalgubug Kecamatan Arjawinangun Kabupaten Cirebon berusaha untuk menetapkan harga murah untuk menarik minat beli konsumen. Di bawah ini akan di bahas mengenai definisi harga, strategi penyesuaian harga, tujuan penetapan harga, faktor-faktor yang mempengaruhi penetapan harga, strategi penetapan harga, dan harga dalam perspektif Islam.

1. Definisi Harga

Berikut beberapa pengertian harga menurut para ahli :

Pengertian harga menurut Kotler, adalah sejumlah uang yang dibebankan pada suatu produk tertentu.

1

Harga merupakan satuan moneter atau ukuran lainnya (termasuk barang dan jasa lainnya) yang ditukarkan agar memperoleh hak kepemilikan atau penggunaan suatu barang atau jasa

2

Harga adalah jumlah uang (ditambah beberapa produk kalau mungkin) yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari produk dan pelayanannya.

3

1 Danang Sunyoto, Dasar-Dasar Manajemen Pemasaran (Konsep, Strategi, dan Kasus), (Yogyakarta : CAPS (Cebter of Academic Publishing Service, 2012), hlm. 131.

2 Fandy Tjiptono, Strategi Pemasaran, Edisi ke dua, (Yogyakarta : Andi,2007), hlm. 151.

3 Basu Swastha dan Irawan, Manajemen Pemasaran Modern, edisi kedua cetakan ke sebelas, (Yogyakarta : Liberty Offset, 2003), hlm. 241.

(2)

Harga adalah sejumlah uang yang ditagihkan untuk suatu produk atau jasa, atau jumlah dari nilai yang ditukarkan para pelanggan untuk memperoleh manfaat dari memiliki atau menggunakan suatu produk dan jasa.

4

Jadi dapat disimpulkan definisi harga adalah sejumlah uang yang harus dibayar oleh konsumen atau pembeli untuk mendapatkan produk yang ditawarkan oleh penjual.

2. Tujuan Penetapan Harga

Perusahaan menetapkan harga dalam berbagai cara. Di dalam perusahaan kecil, harga sering kali ditetapkan oleh manajemen puncak. Di perusahaan- perusahaan besar, penetapan harga biasanya ditangani oleh para manajer divisi atau manajer lini produk. Bahkan dalam perusahaan-perusahaan ini, manajemen puncak menyusun tujuan dan kebijakan tentang penetapan harga umum dan sering kali menyetujui harga yang diusulkan oleh manajemen peringkat bawah.

5

Dalam penetapan harga pada sebuah produk perusahaan mengikuti prosedur enam langkah (Kotler, 1992).

a. Perusahaan dengan hati-hati menyusun tujuan-tujuan pemasarannya, misalnya mempertahankan hidup, meningkatkan laba saat itu, ingin memenangkan bagian pasar atau kualitas produk.

b. Perusahaan menentukan kurva permintaan yang memperlihatkan kemungkinan jumlah produk yang akan terjual perperiode, pada tingkat- tingkat harga alternatif. Perminaan yang semakin tidak elastis, semakin tinggi pula yang dapat ditetapkan oleh perusahaan.

c. Perusahaan memperkirakan bagaimana biaya akan bervariasi pada tingkat poduksi yang berbeda-beda.

d. Perusahaan mengamati harga-harga para pesaing sebagai dasar untuk menetapkan harga mereka sendiri.

4 Philip Kotler, Prinsip-Prinsip Pemasaran, (Jakarta : Penerbit Erlangga, 2008), hlm. 345.

5 Danang Sunyoto, Dasar-Dasar Manajemen Pemasaran (Konsep, Strategi, dan Kasus),…hlm. 131.

(3)

e. Perusahaan memilih salah satu dari metode penetapan harga terdiri dari penetapan harga biaya plus, analisis pulang pokok dan penetapan laba sasaran, penetapan harga nilai yang diperoleh, penetapan harga yang sesuai dengan laju perkembangan dan penetapan harga dalam sampul tertutup.

f. Perusahaan memilih harga final, menyatakan dalam cara psikologis yang paling efektif dan mengeceknya untuk meyakinkan bahwa harga tersebut sesuai dengan kebijakan penetapan harga perusahaan serta sesuai pula dengan para penyalur, grosir, wiraniaga perusahaan, pesaing, pemasok, dan pemerintah.

6

Menurut Adrian Payne (dalam bukunya Rambat & Hamdani, 2008), tujuan penetapan harga antara lain :

a. Bertahan

Bertahan merupakan usaha untuk tidak melakukan tindakan- tindakan yang meningkatkan laba ketika perusahaan sedang mengalami kondisi pasar yang tidak menguntungkan. Usaha ini dilakukan demi kelangsungan hidup perusahaan.

b. Memaksimalkan laba

Penentuan harga bertujuan untuk memaksimalkan laba dalam periode tertentu.

c. Memaksimalkan penjualan

Penentuan harga bertujuan untuk membangun pangsa pasar dengan melakukan penjualan pada harga awal yang merugikan.

d. Prestise

Tujuan penentuan harga di sini adalah untuk memosisikan jasa perusahaan tersebut sebagai produk yang ekslusif.

6 Danang Sunyoto, Dasar-Dasar Manajemen Pemasaran Konsep, Strategi, Dan Kasus...hlm. 131.

(4)

e. Pengembangan atas investasi (ROI)

Tujuan penentuan harga didasarkan atas pencapaian pengembalian atas investasi (return on investment) yang diinginkan.

7

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penetapan Harga

Pada dasarnya ada dua faktor yang mempengaruhi penetapan harga (William J. Stanton, 1997), yaitu 1) Memperkirakan permintaan produk (Estimate for the product), dan 2) Reaksi pesaing (Competitive reactions).

8

a. Memperkirakan permintaan produk (Estimate for the product) Ada dua langkah memperkirakan permintaan, yaitu :

1) Memperkirakan berapa besarnya harga yang diharapkan (The expected price)

Harga yang diharapkan suatu produk adalah harga yang secara sadar atau tidak sadar dinilai oleh konsumen atau pelanggan. Dalam hal ini, para penjual harus dapat memperkirakan bagaimana reaksi pelanggan atau konsumen, apabila suatu produk harganya dinaikkan atau diturunkan. Apakah reaksinya itu bersifat in elastic, elastic atau inverse demand. In elastic demand artinya apabila harga produk tersebut dinaikkan atau diturunkan, maka reaksinya terhadap perubahan barang yang diminta tidak begitu besar. Elastis demand artinya apabila harga produk tersebut dinaikkan atau diturunkan, maka reaksinya terhadap perubahan jumlah, barang yang diminta besar sekali. Invesre demand artinya apabila harga produk dinaikkan, maka justru permintaan naik.

2) Memperkirakan penjualan dengan harga yang berbeda (Estimate of sales at various price)

Manajemen eksekutif harus juga dapat memperkirakan volume penjualan dengan harga yang berbeda, sehingga dapat ditentukan

7 Danang Sunyoto, Dasar-Dasar Manajemen Pemasaran (Konsep, Strategi, dan Kasus),…hlm. 132-133.

8 Danang Sunyoto, Dasar-Dasar Manajemen Pemasaran (Konsep, Strategi, dan Kasus),… hlm. 135.

(5)

jumlah permintaan, elastisitas permintaan, dan titik impas yang mungkin tercapai.

b. Reaksi pesaing (Copetitive reactions)

Pesaing merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi penciptaan harga terutama sekali ancaman persaingan yang potensial. Sumber persaingan tersebut berasal dari tiga macam, yaitu :

1) Produk yang serupa, misalnya rokok Jarum 76 dengan rokok Bintang Buana, minuman energy M150 dengan minuman Extra Joss.

2) Produk pengganti, misalnya merek Gulaku dengan merek Tropicana Slim, susu sapi dengan susu kedelai.

3) Produk yang tidak serupa, tetapi mencari konsumen yang sama, misalnya jasa pendidikan perguruan tinggi dengan produk komputer, produk sepeda motor dengan mobil.

c. Bauran pemasaran lainnya (Other parts of the marketing mix) 1) Produk

Kegunaan produk, baru atau tidaknya produk, modifikasi produk dan lain-lain.

2) Saluran distribusi

Tipe saluran dan tipe pialang yang dipergunakan akan mempengaruhi penetapan harga, harga ke grosir tentu berbeda dengan harga ke pengecer.

3) Promosi

Siapakah yang melaksanakan atau bertanggung jawab dalam promosi ? promosi dilakukan oleh produsen dan jika dilakukan oleh distributor tentu berbeda dalam menetapkan harga kepada distributor.

9

4. Strategi Penetapan Harga

Untuk memenangkan sebuah persaingan, maka pihak produsen harus menentukan strategi harga yang tepat bagi produknya. Menurut Indriyo

9 Danang Sunyoto, Dasar-Dasar Manajemen Pemasaran (Konsep, Strategi, dan Kasus),… hlm. 135-138.

(6)

Gitosudarmo (1999) ada dua strategi penetapan harga, yaitu 1) strategi harga bagi produk baru, dan 2) strategi harga bauran produk.

10

a. Strategi harga bagi produk baru

Dalam pemasaran penetapan harga tinggi pada produk baru disebut market skimming pricing, dan penetapan harga tinggi ini akan berhasil jika 1) Cukup banyak permintaan terhadap produk yang bersangkutan.

2) Harga yang tinggi diasumsikan tidak menarik bagi para pesaingnya.

3) Harga yang tinggi diasumsikan akan mampu meningkatkan citra produk yang superior.

Sedangkan penetapan harga rendah (murah) pada produk baru disebut market penetration pricing dan akan berhasil jika :

1) Pasar sangat peka, sehingga harga yang rendah mampu merangsang pertumbuhan atau permintaan pembeli potensial yang sebanyak- banyaknya.

2) Pengalaman produksi mampu menekan biaya produksi dan biaya distribusi.

3) Harga yang rendah tidak menarik bagi para pesaingnya.

b. Strategi harga bauran produk

Pada inti strategi penetapan harga untuk bauran produk adalah kebersamaan di antara harga-harga produk secara keseluruhan. Karena penetapan harga untuk bauran produk harus mempertimbangkan masalah biaya produksi dan pasar, dimana biaya produksi dan pasar masing-masing produk berbeda. Di samping itu strategi penetapan harga ini juga mempertimbangkan masalah profit yang diperoleh, apakah dengan harga yang ditetapkan memberikan peningkatan profit atau justru menurunkan profit tersebut.

Strategi harga bauran produk dibedakan menjadi 4, yaitu :

10 Danang Sunyoto, Dasar-Dasar Manajemen Pemasaran (Konsep, Strategi, dan Kasus),… hlm. 141.

(7)

1) Harga garis produk

Penetapan harga berdasarkan garis produk adalah menetapkan harga produk menurut jenis produk. Karena pada kenyataannya suatu perusahaan tidak hanya memproduksi satu jenis produk saja, akan tetapi lebih dari satu jenis produk, misalkan produsen merek ABC tidak hanya memproduksi batu baterai ABC saja, tetapi ada produk saus ABC, sambal ABC, kecap ABC.

2) Harga produk pelengkap

Selain bermacam-macam varian produk yang diproduksi, pihak produsen sering kali memproduksi atau menyediakan produk pelengkap (optional) pendukung produk utama, misalkan krat tempat minum botol, kompor gas dengan selang dan tabung gas yang sama mereknya, mobil dengan aksesoris radio tape, AC. Dengan adanya produk pelengkap tentu saja akan menambah harga jual produk yang semakin relatif lebih mahal.

3) Harga produk penawan (captive)

Produsen juga ada yang hanya menjual produk utama saja, tanpa pelengkap lainnya, seperti mobil remot tanpa baterai dan harus membeli sendiri baterainya, membeli komputer tanpa programnya, membeli raket bulu tangkis tanpa senar plasik, dan lain-lain, sehingga kesannya adalah harga yang ditawarkan kepada konsumen relatif lebih murah.

4) Harga produk sampingan

Sering kali perusahaan tidak dapat menghindari untuk memproduksi produk lain di samping produk utamanya, dan proses produksi tersebut walaupun bukan utama, namun tetap saja pihak produsen harus mengeluarkan biaya, misalkan pabrik gula tebu, di mana gula pasir merupakan produk utamanya, dan spiritus sebagai produk sampingan.

11

11 Danang Sunyoto, Dasar-Dasar Manajemen Pemasaran (Konsep, Strategi, dan Kasus),… hlm.144-145.

(8)

Selain strategi penetapan harga produk di atas, ada juga penetapan harganya memakai metode lain, yaitu :

a. Metode biaya tambah (cost plus pricing method)

Metode ini menyatakan bahwa penetapan harga satu unit produk sama dengan biaya total unit ditambah dengan margin laba yang diinginkan per unit produknya.

b. Metode harga keseimbangan permintaan dan suplai

Metode penetapan harga ini paling cocok bagi perusahaan yang tujuan penetapan harganya memaksimumkan laba. Bagi perusahaan lain metode ini juga penting untuk diketahui sebagai perbandingan metode atau dapat didayagunakan di dalam situasi khusus. Dalam proses penetapan harga berdasarkan keseimbangan permintaan dan suplai ini diasumsikan bahwa perusahaan akan terus menjual dan memproduksi jumlah unit yang lebih banyak selama jumlah pendapatan yang diperoleh dari hasil penjualan unit terakhir lebih besar daripada biaya marjinal (marginal cost). Kotler (1992) menyatakan bahwa penentuan harga terutama sekali mempertimbangkan keadaan permintaan, keadaan pasar, dan keinginan konsumen, penetapan harga ini dinamakan demand oriented pricing yang meliputi :

1) Perceived value pricing adalah berapa nilai produk di pandangan konsumen terhadap yang dihasilkan perusahaan

2) Demand diferential pricing adalah penetapan harga jual produk dengan dua macam harga atau lebih yang didasarkan pada konsumen, versi produk, tempat atau gudang, dan waktu.

3) Demang diferential pricing disebut juga price descrimenation meliputi :

(a) Berdasarkan konsumen (customer basis), yaitu bahwa seorang penjual akan menawarkan harga yang berbeda untuk suatu jenis barang yang sama.

(b) Berdasarkan versi produk (product version basis), yaitu produk-

produk yang sama tetapi dibuat sedikit berbeda.

(9)

(c) Berdasarkan tempat (place basis), yaitu penetapan harga dengan menilai fasilitas yang diberikan pada suatu tempat tertentu, misalkan naik bus kelas ekonomi dibandingkan bus kelas eksekutif, tentu saja harganya berbeda.

(d) Berdasarkan waktu (time basis), yaitu penetapan harga dengan melihat situasi dan kondisi tertentu, misalnya harga tiket siang berbeda dengan harga tiket malam hari.

c. Metode harga pesaing

Metode penetapan ini berorientasi pada kekuatan pasar, di mana harga jual dapat sama dengan produk pesaing, bisa lebih mahal atau lebih murah. Metode penetapan harga ini digunakan jika terjadi persaingan yang ketat dan produk tidak terlihat perbedaannya dengan produk pesaing dan adanya pasar oligopoly. Perusahaan akan menurunkan harga lebih murah dari produk pesaing jika pengecer bertujuan pada total penjualan dengan keuntungan relatif kecil.

Kotler membagi menjadi dua metode, yaitu :

a) Going rate pricing adalah suatu penetapan harga di mana perusahaan berusaha menetapkan harga setingkat dengan harga rata-rata industry.

Metode ini digunakan jika biayanya sulit diukur dan harga yang berlaku di pasar dapat memberikan keuntungan yang layak.

b) Saled bid pricing adalah suatu penetapan harga yang didasarkan pada tawaran yang diajukan oleh pesaing. Metode ini umumnya dilakukan dalam situasi persaingan untuk merebut kontrak atas tender.

12

5. Beberapa Taktik Khusus dalam Penetapan Harga

Untuk tujuan jangka pendek, banyak pemasar menetapkan taktik khusus yang diarahkan pada upaya menarik banyak pelanggan dalam waktu singkat.

Taktik semacam ini dimaksudkan untuk mendukung strategi harga yang telah

12 Danang Sunyoto, Dasar-Dasar Manajemen Pemasaran (Konsep, Strategi, dan Kasus),… hlm. 145-148.

(10)

ditetapkan sebelumnya. Beberapa taktik dalam penetapan harga yang umum dijumpai antara lain adalah :

a. Penetapan Harga Ganjil

Harga ganjil (odd pricing) dipergunakan oleh pemasar yang beranggapan bahwa konsumen akan lebih tertarik untuk membeli apabila harga jual yang ditetapkan adalah merupakan bilangan ganjil. Lebih dari itu, cara semacam ini juga dapat dipergunakan untuk member kesan khusus atas harga jual yang ada. Jadi, misalnya perusahaan menetapkan harga jual untuk deterjen Rp 2.995,00 per kilogram. Dengan angka semacam itu konsumen akan cenderung menganggap harga jual Rp 2.900,00 walaupun toh pembeli sebenarnya harus mengeluarkan uang sejumlah Rp 3.000,00. Dengan demikian, konsumen akan memperoleh gambaran yang lebih murah atas produk perusahaan. Taktik harga ganjil akan efektif diterapkan apabila konsumen memang sensitif terhadap harga. Untuk kelompok konsumen yang tidak peka terhadap harga, penetapan harga ganjil justru akan memberikan kesan bahwa harga yang dijual mempunyai kualitas rendah. Oleh karena itu, penetapan harga ganjil sering juga dikenal dengan penetapan harga psikologis (psychological pricing).

b. Potongan Harga atau Diskon

Banyak pemasar menetapkan harga jual dengan memberikan

potongan khusus atas produk. Tiga bentuk potongan harga yang sering

dipergunakan adalah : Pertama, potongan harga yang diberikan kepada

para pedagang perantara atau distributor yang telah membantu

memasarkan produk perusahaan. Potongan semacam ini disebut juga

functional discount. Kedua, potongan khusus yang diberikan kepada

konsumen yang membeli dalam jumlah tertentu atau disebut quantity

discount. Bentuk ketiga diberikan apabila konsumen membeli dalam

jumlah tertentu dan membayar kontan atau pada waktu spesifik yang telah

ditentukan atau disebut juga cash discount. Misalnya, 2/10, n/30. Artinya,

apabila konsumen membeli produk dan membayar dalam jangka waktu 10

(11)

hari akan mendapat potongan sebesar 2% sedangkan konsumen tersebut harus membayar dalam jangka waktu maksimum 30 hari setelah pembelian.

c. Penetapan Harga Promosi

Strategi promosi penjualan umumnya dilakukan perusahaan untuk memperoleh target penjualan dalam waktu yang singkat. Bentuk penetapan harga dilakukan dengan cara misalnya menawarkan kupon undian dan voucher.

13

6. Harga dalam Perspektif Islam

Dalam fiqih Islam dikenal dua istilah berbeda mengenai harga suatu barang, yaitu as-ṣ aman dan as-si’r. As-ṣ aman adalah patokan harga suatu barang, sedangkan as-si’r adalah harga yang berlaku secara aktual di dalam pasar. Ulama fiqih membagi as-si’r menjadi dua macam. Pertama, harga yang berlaku secara alami, tanpa campur tangan pemerintah. Dalam hal ini, pedagang bebas menjual barang dengan harga yang wajar, dengan mempertimbangkan keuntungannya. Pemerintah, dalam harga yang berlaku secara alami, tidak boleh campur tangan, karena campur tangan pemerintah dalam kasus ini dapat membatasi kebebasan dan merugikan hak para pedagang ataupun produsen. Kedua, harga suatu komoditas yang ditetapkan pemerintah setelah mempertimbangkan modal dan keuntungan wajar bagi pedagang maupun produsen serta melihat keadaan ekonomi yang riil dan daya beli masyarakat. Penetapan harga pemerintah dalam pemerintah ini disebut dengan at-tas’īr al-jabbari.

14

Ibnu Qudaimah, Ibnu Taimiyah, dan Ibnu Qoyyim membagi bentuk penetapan harga tersebut kepada dua macam kategori. Pertama, penetapan harga yang bersifat dhalim dan penetapan harga yang bersifat adil. Penetapan harga yang bersifat dhalim adalah pematokan harga yang dilakukan oleh

13http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/manajemenpemasaran/bab8_strategiharga.p df, diakses tanggal 13 April 2016 pukul 19:25.

14 Setiawan Budi Utomo, Fiqih Aktual (Jawaban Tuntas Masalah Kontemporer), (Jakarta : Gema Insani, 2003), hlm. 90.

(12)

pemerintah yang tidak sesuai dan tidak logis dengan kondisi mekanisme pasar akibat terbatasnya pasokan komoditas dan langkahnya barang atau jasa, sementara permintaan sangat banyak dan tanpa memperdulikan kemaslahatan para pedagang. Penetapan harga yang diperbolehkan dan bahkan wajib dilakukan menurut mereka adalah ketika terjadi lonjakan harga yang cukup tajam, signifikan, massif dan fantastis menurut bukti akurat disebabkan oleh ulah para spekulan dan pedagang. Akan tetapi, pematokan harga tersebut juga harus dilakukan dalam batas adil, dengan memperhitungkan biaya produksi, biaya distribusi, transportasi, modal, margin, keuntungan bagi para produsen maupun pedagang.

15

Al Quran sangat menekankan perlunya keadilan. Sangatlah natural untuk mempergunakan gagasan ini berhubungan dengan pasar, khususnya dengan harga. Karena itu, Rasulullah saw menyatakan sifatnya riba seseorang yang menjual terlalu mahal diatas kepercayaan pelanggan.

16

7. Indikator Harga

Menurut Kotler dan Armstrong, ada empat indikator yang mencirikan harga yaitu : keterjangkauan harga, kesesuaian harga dengan kualitas produk, daya saing harga, kesesuaian harga dengan manfaat.

17

B. Kualitas Produk

1. Definisi Kualitas Produk

Kualitas adalah totalitas fitur dan karakteristik produk atau jasa yang bergantung pada kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan atau tersirat.

18

15 Setiawan Budi Utomo, Fiqih Aktual (Jawaban Tuntas Masalah Kontemporer),… hlm.

92.

16 Anwar, Konsepsi Ekonomi Ibnu Taimiyah (Terjemah), (Surabaya : Bina Ilmu, 1997), hlm. 92.

17 Philip Kotler, Gary Armstrong, Prinsip-Prinsip Pemasaran, Jilid 1, (Jakarta : Erlangga, 2008), hlm. 278.

18 Ujang Sumarwan, Perilaku Konsumen Teori dan Penerapannya dalam Pemasaran, (Jakarta : PT. Gramedia Utama, 2008), hlm. 143.

(13)

Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke suatu pasar untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan.

19

Kualitas produk merupakan penggerak kepuasan pelanggan yang pertama dan kualitas produk ini adalah dimensi yang global.

20

Menurut Juran, kualitas produk (product quality) adalah kecocokan penggunaan produk (fitness for use) untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan. Kecocokan penggunaan itu didasarkan atas lima ciri utama, yaitu :

21

a. Teknologi, yaitu kekuatan atau daya tahan b. Spikologis, yaitu citra rasa atau status c. Waktu, yaitu kehandalan

d. Kontraktual, yaitu adanya jaminan

e. Etika, yaitu sopan santun, ramah dan jujur

Kecocokan penggunaan suatu produk adalah apabila produk mempunyai daya tahan penggunaannya lama, produk yang digunakan akan meningkatkan citra atau status konsumen yang memakainya, produknya tidak mudah rusak, adanya jaminan kualitas (quality assurance) dan sesuai etika bila digunakan.

Kecocokan penggunaan produk seperti dikemukakan di atas memiliki dua aspek utama, yaitu ciri-ciri produknya memenuhi tuntutan pelanggan dan tidak memiliki kelemahan.

22

a. Ciri-ciri produk yang memenuhi permintaan pelanggan

Ciri-ciri produk yang berkualitas apabila memiliki ciri-ciri produk yang khusus atau istimewa, berbeda dari produk pesaing dan dapat memenuhi harapan atau tuntutan sehingga dapat memuaskan pelanggan. Kualitas yang lebih tinggi memungkinkan perusahaan

19 Philip Kotler, Manajemen Pemasaran, Edisi Millenium, Jilid 1, (Jakarta : PT.

Prenhallindo, 2000), hlm. 488.

20 Darmadi Durianto, dkk, Brand Equity Ten Strategi Memimpin Pasar, (Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 2004), hlm. 38.

21 M. Nur Nasution, Manajemen Jasa Terpadu, (Bogor Selatan : Ghalia Indonesia, 2004), hlm. 40.

22 M. Nur Nasution, Manajemen Jasa Terpadu,…hlm. 41.

(14)

meningkatkan kepuasan pelanggan, membuat produk laku terjual, dapat bersaing dengan pesaing, meningkatkan pangsa pasar dan volume penjualan serta dapat dijual dengan harga yang lebih tinggi.

b. Bebas dari kelemahan

Suatu produk berkualitas tinggi, apabila di dalam produk tidak terdapat kelemahan, tidak ada yang cacat sedikit pun. Kualitas yang tinggi menyebabkan perusahaan dapat mengurangi tingkat kesalahan, mengurangi pengerjaan kembali dan pemborosan, mengurangi pembayaran biaya garansi, mengurangi ketidak puasan pelanggan, mengurangi inspeksi dan pengujian, mengurangi waktu pengiriman produk ke pasar, meningkatkan hasil (yield) dan meningkatkan utilitas kapasitas produksi, serta memperbaiki kinerja penyampaian produk, yaitu barang dan jasa.

2. Atribut Produk

Menurut Kotler dan Armstrong beberapa atribut yang menyertai dan melengkapi produk (karakteristik atribut produk) adalah

23

:

a. Merek (Brand)

Merek (Brand) adalah nama, istilah, tanda, simbol, atau rancangan, atau kombinasi dari semua ini yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi produk atau jasa dari satu atau kelompok penjual dan membedakannya dari produk pesaing. Pemberian merek merupakan masalah pokok dalam strategi produk. Pemberian merek itu mahal dan memakan waktu, serta dapat membuat produk itu berhasil atau gagal.

Nama merek yang baik dapat menambah keberhasilan yang besar pada produk.

24

b. Pengemasan (Packing)

Pengemasan (Packing) adalah kegiatan merancang dan membuat wadah atau pembungkus suatu produk.

23 Philip Kotler dan Gary Armstrong, Prinsip-Prinsip Pemasaran, Alih Bahasa Imam Nurmawan, (Jakarta : Erlangga, 2001), hlm. 354.

24 Philip Kotler dan Gary Armstrong, Prinsip-Prinsip Pemasaran,…hlm. 360.

(15)

c. Kualitas Produk (Product Quality)

Kualitas Produk (Product Quality) adalah kemampuan suatu produk

untuk melaksanakan fungsinya meliputi, daya tahan keandalan, ketepatan kemudahan operasi dan perbaikan, serta atribut bernilai lainnya. Untuk meningkatkan kualitas produk perusahaan dapat menerapkan program ”Total Quality Manajemen (TQM)". Selain mengurangi kerusakan produk, tujuan pokok kualitas total adalah untuk meningkatkan nilai pelanggan.

3. Klasifikasi Produk

Banyak klasifikasi suatu produk yang dikemukakan ahli pemasaran, diantaranya pendapat yang dikemukakan oleh Kotler. Menurut Kotler produk dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok, yaitu

25

:

a. Berdasarkan wujudnya, produk dapat diklasifikasikan ke dalam dua kelompok utama, yaitu:

1) Barang

Barang merupakan produk yang berwujud fisik, sehingga bisa dilihat, diraba atau disentuh, dirasa, dipegang, disimpan, dipindahkan, dan perlakuan fisik lainnya.

2) Jasa

Jasa merupakan aktivitas, manfaat atau kepuasan yang ditawarkan untuk dijual (dikonsumsi pihak lain). Seperti halnya bengkel reparasi, salon kecantikan, hotel dan sebagainya. Kotler juga mendefinisikan jasa sebagai berikut: Jasa adalah setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak

25Kotler dan Armstrong, Dasar-Dasar Pemasaran, Jilid 1, Edisi Ke sembilan, (Jakarta : PT. Indeks Gramedia, 2003), hlm. 451.

(16)

mengakibatkan kepemilikan apa pun. Produknya dapat dikaitkan atau tidak dikaitkan dengan suatu produk fisik.

26

b. Berdasarkan aspek daya tahannya produk dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

1) Barang Tidak Tahan Lama (Nondurable Goods)

Barang tidak tahan lama adalah barang berwujud yang biasanya habis dikonsumsi dalam satu atau beberapa kali pemakaian.

Contohnya adalah sabun, minuman dan makanan ringan, kapur tulis, gula dan garam.

2) Barang Tahan Lama (Durable Goods)

Barang tahan lama merupakan barang berwujud yang biasanya bisa bertahan lama dengan banyak pemakaian (umur ekonomisnya untuk pemakaian normal adalah satu tahun atau lebih). Contohnya antara lain TV, lemari es, mobil dan komputer.

c. Berdasarkan siapa konsumennya dan untuk apa produk tersebut dikonsumsi.

Selain berdasarkan daya tahannya, produk pada umumnya juga diklasifikasikan berdasarkan siapa konsumennya dan untuk apa produk tersebut dikonsumsi. Berdasarkan kriteria ini, produk dapat dibedakan menjadi barang konsumen (costumer’s goods) dan barang industri (industrial’s goods).

1) Barang konsumen adalah barang yang dikonsumsi untuk kepentingan konsumen akhir sendiri (individu dan rumah tangga), bukan untuk tujuan bisnis. Umumnya barang konsumen dapat diklasifikasikan menjadi empat jenis yaitu :

a) Convinience Goods

Convinience goods merupakan barang yang pada umumnya memiliki frekuensi pembelian tinggi (sering beli), dibutuhkan dalam waktu segera, dan hanya memerlukan usaha yang minimum (sangat kecil) dalam pembandingan dan

26 Kotler dan Armstrong, Dasar-Dasar Pemasaran,…hlm. 486.

(17)

pembeliannya. Contohnya sabun, pasta gigi, baterai, makanan, minuman, majalah, surat kabar, payung dan jas hujan.

b) Shopping Goods

Shopping goods adalah barang-barang dalam proses pemilihan dan pembeliannya dibandingkan oleh konsumen diantara berbagai alternatif yang tersedia. Kriteria perbandingan tersebut meliputi harga, kualitas dan model masing-masing barang. Contohnya alat-alat rumah tangga (TV, mesin cuci tape recorder), furniture (mebel), pakaian.

c) Specially Goods

Specially Goods adalah barang-barang yang memiliki karakteristik dan identifikasi merek yang unik di mana sekelompok konsumen bersedia melakukan usaha khusus untuk membelinya. Contohnya adalah barang-barang mewah dengan merek dan model spesifik.

d) Unsought Goods.

Unsought goods merupakan barang-barang yang diketahui konsumen atau kalau sudah diketahui tetapi pada umumnya belum terfikirkan untuk membelinya. Contohnya asuransi jiwa, batu, nisan, tanah kuburan.

27

2) Barang industri (industrial’s goods)

Barang industri merupakan suatu jenis produk yang masih memerlukan pemrosesan lebih lanjut untuk mendapatkan suatu manfaat tertentu. Biasanya hasil pemrosesan dari barang industri diperjual belikan kembali.

4. Dimensi Kualitas Produk

Dimensi kualitas produk meliputi : a. Kinerja (Performance)

27 Fandy Tjiptono, Manajemen Jasa, (Yogyakarta : Penerbit Andi Offset, 2000), hlm. 98.

(18)

Yaitu karakteristik operasi pokok dari produk inti (Core Product) yang dibeli, misalnya kecepatan, konsumsi bahan bakar, jumlah penumpang yang dapat diangkut, kemudahan dan kenyamanan dalam mengemudi dan sebagainya.

b. Keistimewaan tambahan (Features)

Yaitu karakteristik sekunder atau pelengkap, misalnya kelengkapan interior dan eksterior seperti Dash Board, AC, Sound System, Door Lock System, Power Steering, dan sebagainya.

c. Keandalan (Reliability)

Yaitu kemungkinan kecil akan mengalami kerusakan atau gagal dipakai, misalnya mobil tidak sering ngadat/macet/rewel/rusak.

d. Kesesuaian dengan spesifikasi (Conformance to Specifications)

Yaitu sejauh mana karakteristik desain dan operasi memenuhi standar-standar yang telah ditetapkan sebelumnya. Misalnya standar keamanan dan emisi terpenuhi, seperti ukuran as roda untuk truk tentunya harus lebih besar daripada mobil sedang.

e. Daya tahan (Durability)

Berkaitan dengan berapa lama produk tersebut dapat terus digunakan. Dimensi ini mencakup umur teknis maupun umur ekonomis penggunaan mobil.

f. Estetika (Asthethic)

Yaitu daya tarik produk terhadap panca indera. Misalnya bentuk fisik mobil yang menarik, model atau desain yang artistik, warna, dan sebagainya.

28

5. Kualitas Pakaian

Ciri khas dari produk yang dijual di butik biasanya terletak pada kualitas, desain, dan keeksklusifannya. Kualitas pakaian anda dapat dilihat

28 Fandy Tjiptono, Strategi Pemasaran, edisi kedua, cetakan keenam, (Yogyakarta : Andy, 2001), hlm. 25.

(19)

dari cutting bahan, hasil jahitan, dan jenis bahan yang digunakan.

29

Kualitas pakaian juga dapat dilihat dari :

a. Bahan

Bahan pakaian yang terbuat dari serat alami selalu unggul dalam kualitas serta memiliki daya tahan lama. Beberapa bahan pakaian yang terbuat dari serat alami seperti sutra, wol, katun, dan linen. Serta beberapa bahan kain lainnya termasuk kasmir, alpaka, vicuna dan rami.

Bahan pakaian dari serat yang diproduksi seperti rayon dan asetat dan serat sintetis lainnya seperti nilon, polyester dan acrylic.

b. Jahitan

Kriteria pakaian yang berkualitas selanjutnya adalah dilihat dari aturan umum jahitan tidak lebih dari dua belas stiches per inci.

Pastikan stiches tidak terlalu ketat dan menyebabkan bahan bergerombol atau dapat tertarik dengan cara apapun. Periksa benang yang longgar atau rusak yang dapat merusak jahitan pakaian dengan cepat dan menyebabkan rip atau lubang.

c. Lining

Lining (bahan pelapis kain utama) sebaiknya dipilih dari bahan yang halus di kulit , untuk masalah lining, pilihlah yang terbuat dari kain sutra, campuran katu sutra atau berbahan wol.

d. Pola

Membuat garis pola yakin sampai di jahitannya (kecuali item yang seharusnya terlihat funky dan tidak memenuhi sempurna). Stripes dan pola yang off adalah giveaway untuk konstruksi murah (mereka enggan untuk menggunakan kain lebih atau meluangkan waktu untuk membuat garis segalanya).

e. Jahitan kancing

Memilih jahitan kancing bermodel X (silang) lebih baik dibanding jahitan kancing yang bermodel = ( sejajar) dan untuk lebih amannya

29 Diyah Musri Harsini, Fenty Nadia Luwis, Bisnis Busana Muslim, (Depok : Penebar Plus, 2010), hlm. 93.

(20)

baik diperkuat kembali. Kancing yang terselimuti dalam kain biasanya merupakan indikasi pakaian yang kualitas lebih tinggi.

f. Periksa aksesoris

Jika aksesorisnya berupa ikat pinggang, periksa untuk memastikan itu tidak terbuat dari plastik atau karton halus. Jika aksesorisnya terbuat dari plastik ini merupakan indikasi aksesoris yang kurang berkualitas.

g. Ritsleting

Periksa ritsleting untuk memastikannya bahwa ritsleting tersebut bekerja dengan baik dengan menggesernya turun naik dalam beberapa kali dengan cepat.

h. Produksi asal

Walaupun asal produksi pakaian tersebut tidak selamanya menjamin mutu pakaian yang dihasilkan namun pada umumnya pakaian yang diproduksi di Amerika Serikat, Italia, Perancis dan Spanyol sedikit lebih baik dibanding produk pakaian asal China dan Vietnam. Hal ini tergantung dari desainer mereka masing-masing.

Semua konsumen pakaian mengharapkan kualitas yang tinggi dan harga yang pantas, namun pada kenyataannnya terkadang kita tertipu dengan harga yang tinggi tapi mendapatkan pakaian yang kualitasnya sangat rendah.

30

6. Kualitas Produk dalam Perspektif Islam

Islam memprioritaskan kebaikan dan kualitas untuk segala sesuatu terutama barang-barang produksi yang akan dikonsumsi yang mana nantinya akan memberikan kepuasan pada penggunaanya. Dalam Al Quran surat Al-Baqarah ayat 168 menjelaskan tentang kualitas sebagai berikut :

30 http://www.dewong.com/info/263/8-tips-memilih-pakaian-yang-berkualitas.html, diakses tanggal 22 Mei 2016 pukul 19:59.

(21)



































168. Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan;

karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.

Ayat berikut ini turun tentang orang-orang yang mengharamkan sebagian jenis unta/sawaib yang dihalalkan, (Hai sekalian manusia, makanlah yang halal dari apa-apa yang terdapat di muka bumi) halal menjadi 'hal' (lagi baik) sifat yang memperkuat, yang berarti enak atau lezat, (dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah) atau jalan-jalan (setan) dan rayuannya (sesungguhnya ia menjadi musuh yang nyata bagimu) artinya jelas dan terang permusuhannya itu.

31

Hubungan ayat tersebut dengan kualitas produk adalah dalam Al Quran yang berhubungan dengan hal konsumsi yaitu, gunakanlah barang- barang yang baik dan bermanfaat untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan kita. Karena dengan barang-barang yang bermanfaat dan baik akan membawa kita ke perbuatan yang baik pula. Barang-barang yang bermanfaat dan baik disini yaitu yang memiliki kualitas baik.

Kualitas merupakan hal yang terpenting dalam memproduksi suatu produk. Karena dengan kualitas yang tinggi akan membuat konsumen atau masyarakat lebih berminat untuk membeli. Kualitas produk merupakan prioritas utama dalam sebuah produk. Dimana produk jika tidak mempunyai kualitas yang tinggi akan mengakibatkan kehancuran atau keterbelakangan dibanding produk pesaingnya.

Dalam hadist mendorong untuk memperbagus produk dan meningkatkan kualitasnya, seperti hadist di bawah ini : “Sesungguhnya Allah mewajibkan kebaikan pada segala hal” (HR Muslim : 3615).

31 Terjemah Tafsir Jalalain versi 2.0 by Dani Hidayat.

(22)

Jadi di sini dijelaskan jangan sembarangan dalam memproduksi suatu barang, tetapi harusnya kita memproduksi barang yang bagus dan berkualitas sehingga dapat kokoh bersaing dipasaran. Dan juga kita jangan memproduksi barang yang hanya mementingkan larisnya saja tanpa memperhatikan apakah barang itu membawa mudharat baik itu didunia atau di akhirat. Dalam Islam memprioritaskan kebaikan dan juga kualitas dalam memproduksi atau mengkonsumsi suatu barang atau jasa. Karena dengan adanya kebaikan dan kualitas yang tinggi akan menjadikan harapan dan impian konsumen akan suatu barang terhadap kebutuhannya akan tercapai. (Qardhawi, Hal : 320)

32

Masih dalam kaitan produk, muamalah Islami juga sangat konsen dengan kualitas produk. “Barang yang dijual harus terang dan jelas kualitasnya, sehingga pembeli dapat dengan mudah memberi penilaian.

Tidak boleh menipu kualitas dengan jalan memperlihatkan yang baik bagian luarnya, dan menyembunyikan yang jelek pada bagian dalam.”

33

Oleh karena itu, kita wajib memproduksi barang yang membawa manfaat bagi manusia dan tidak berbahaya bagi mereka. Walaupun manfaatnya kecil kita wajib memilahnya. Maka dari itu, di dalam masyarakat muslim tidak diperbolehkan memproduksi minuman keras dan barang-barang memabukkan atas hal-hal yang membuat polusi lingkungan atau berbahaya bagi kehidupan manusia dan kesehatannya.

C. Minat Beli Konsumen 1. Definisi Minat Beli

Minat beli merupakan bagian dari komponen perilaku dalam sikap mengkonsumsi. Menurut Kinnear dan Taylor minat membeli adalah merupakan bagian dari komponen perilaku konsumen dalam sikap

32 https://almiasari.wordpress.com/author/almiasari/, diakses tanggal 13 April 2016 pukul 08:00.

33 Muhammad Syakir Sula, Asuransi Syariah (life and general ): Konsep dan Sistem Operasional, cet 1, (Jakarta : Gema Insani Press, 2004), hlm. 453.

(23)

mengkonsumsi, kecenderungan responden untuk bertindak sebelum keputusan membeli benar-benar dilaksanakan.

34

Minat beli konsumen merupakan evaluasi purna beli atau hasil evaluasi setelah membandingkan apa yang dirasakan dengan harapannya.

35

Minat membeli terbentuk dari sikap konsumen terhadap produk dari keyakinan konsumen terhadap kualitas produk dan harga. Semakin rendah keyakinan konsumen terhadap suatu produk akan menyebabkan menurunnya minat beli konsumen.

36

2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat Beli Konsumen

Super dan Crites (Lidyawatie, 1998) menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi minat, yaitu :

a. Perbedaan pekerjaan, artinya dengan adanya perbedaan pekerjaan seseorang dapat diperkirakan minat terhadap tingkat pekerjaan yang ingin dicapainya, aktivitas yang dilakukan, penggunaan waktu senggangnya, dan lain-lain.

b. Perbedaan sosial ekonomi, artinya seseorang yang mempunyai sosial ekonomi tinggi akan lebih mudah mencapai apa yang diinginkannya daripada yang mempunyai sosial ekonomi rendah.

c. Perbedaan hobi atau kegemaran, artinya bagaimana seseorang menggunakan waktu senggangnya.

d. Perbedaan jenis kelamin, artinya minat wanita akan berbeda dengan minat pria, misalnya dalam pola belanja.

e. Perbedaan usia, artinya usia anak-anak, remaja, dewasa dan orangtua akan berbeda minatnya terhadap suatu barang, aktivitas benda dan seseorang.

34 Husein Umar, Riset Pemasaran dan Perilaku Konsumen, (Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama, 2003), hlm. 45.

35 Zulian Yamit, Manajemen Kualitas Produk dan Jasa, (Yogyakarta : Ekonisia, 2001), hlm. 77

36 Darmadi Durianto, dkk, Strategi Menaklukan Pasar Melalui Riset Ekuitas dan Perilaku Merek, (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2001), hlm. 109.

(24)

Sedangkan menurut Kotler, Bowen, dan Makens (1999) terdapat dua faktor yang mempengaruhi minat beli seseorang dalam proses pengambilan keputusan pembelian, yaitu situasi tidak terduga (Unexpected situation) dan sikap terhadap orang lain (Respect to Others).

37

3. Indikator Minat Beli

Minat beli dapat diidentifikasi melalui indikator-indikator sebagai berikut

38

:

a. Minat transaksional, yaitu kecenderungan seseorang untuk membeli produk.

b. Minat refrensial, yaitu kecenderungan seseorang untuk mereferensikan produk kepada orang lain.

c. Minat preferensial, yaitu minat yang menggambarkan perilaku seseorang yang memiliki prefrensi utama pada produk tersebut.

Prefrensi ini hanya dapat diganti jika terjadi sesuatu dengan produk prefrensinya.

d. Minat eksploratif, minat ini menggambarkan perilaku seseorang yang selalu mencari informasi mengenai produk yang diminatinya dan mencari informasi untuk mendukung sifat-sifat positif dari produk tersebut.

Pemahaman terhadap perilaku konsumen tidak lepas dari minat membeli, karena minat membeli merupakan salah satu tahap yang pada subyek sebelum mengambil keputusan untuk membeli.

Titik tolak memahami pembeli adalah model rangsangan-tanggapan (stimulus-response model) apa yang didengar oleh telinga apa yang dilihat oleh mata apa yang dicium oleh hidung itulah yang disebut stimulus.

39

37 Jurnal Manajemen, Bahan Kuliah Manajemen dalam http://jurnal- sdm.blogspot.co.id/2011/10/membangun-minat-beli-definisi-faktor.html, diakes tanggal 26 Februari 2016 pukul 19:23.

38 Augusty Ferdinand, Metode Penelitian Manajemen, (Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2006), hlm. 129

39 Thamrin Abdullah dan Francis Tantri, Manajemen Pemasaran, (Jakarta : Rajawali Press, 2013), hlm. 112.

(25)

Rangsangan pemasaran dan lingkungan masuk ke dalam kesadaran pembeli. Karakteristik dan proses pengambilan keputusan pembeli menghasilkan keputusan pembelian tertentu. Iklan berbagai macam produk yang ditayangkan adalah stimulus yang dirancang khusus oleh produsen agar menarik perhatian konsumen. Produsen mengharapkan konsumen menyukai iklan produknya, kemudian menyukai produknya dan membelinya.

40

Adapun salah satu faktor lain yang dapat mempengaruhi minat beli menurut Agung adalah promosi. Hal ini dikarenakan promosi merupakan kegiatan jangka pendek yang dilakukan perusahaan dengan tujuan untuk meningkatkan awareness, trial, dan penjualan. Ada beberapa cara untuk membuat promosi menjadi lebih unik dan menarik , antara lain : pemberian hadiah secara langsung, pemberian diskon, pemotongan harga dengan pembelian jumlah tertentu, dan lain sebagainya.

41

D. Penelitian Terdahulu

Pertama, penelitian yang dilakukan oleh Tika Dian Alfatris

42

, pengaruh harga, promosi, kualitas produk, dan kepercayaan (trust) terhadap minat beli k-pop (Korean pop) album dengan sistem pre order secara online (studi pada online shop kordo day shop (CORP) Semarang). Berdasakan hasil penelitian yang dilakukan dengan mengevaluasi hasil analisis regresi, ada pengaruh positif dan signifikan antara harga terhadap minat beli K-pop (Korean pop) album dengan system pre order secara online pada online shop Kordo Day Shop (CORP), hal ini ditunjukkan dengan nilai uji t variabel harga yang positif dan signifikan terhadap variabel minat beli, dibuktikan dari hasil uji t sebesar 3,252 dengan nilai signifikansi 0,002 yang lebih kecil dari 0,05. Ditunjukkan pada uji t variabel

40 Ujang Sumarwan, Perilaku Konsumen Teori dan Penerapannya dalam Pemasaran,…

hlm. 95.

41 Yuliana Agung, 101 Konsultasi Praktis Pemasaran 1, (Jakarta : PT. Elex Media Komputindo, 2003), hlm. 33.

42 Tika Dian Alfatris, 2014, Pengaruh Harga, Promosi, Kualitas Produk, dan Kepercayaan (Trust) terhadap Minat Beli K-Pop (Korean Pop) Album dengan Sistem Pre Order Secara Online (Studi pada Online Shop Korodo Day Shop (CORP) Semarang) dalam http://eprints.dinus.ac.id/8701/1/jurnal_13238.pdf, diakses tanggal 23 Januari 2016 pukul 14:43.

(26)

minat beli positif dan signifikan, dengan nilai 2,941 dan sig. Sebesar 0,004 yang lebih kecil dari 0,05 artinya hipotesis menyatkan bahwa promosi mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli. Artinya penayangan iklan yang cukup sering dibutuhkan oleh konsumen untuk menarik minat beli.

Ditunjukkan pada uji t variabel kualitas produk positif dan signifikan, dengan nilai 3,048 dan sig. sebesar 0,003 yang lebih kecil dari 0,05 artinya hipotesis menyatakan bahwa kualitas produk mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli, artinya kualitas produk yang baik sangat di butuhkan oleh para penikmat music K-Pop. Hal ini berarti bahwa variabel kualitas produk mampu meningkatkan minat beli K-Pop (Korean Pop) album dengan sistem pre order secara online. Ditunjukkan pada uji t vaiabel kepercayaan (trust) positif dan signifikan, dengan nilai 2,651 dan sig. sebesar 0,009 yang lebih kecil dari 0,05, artinya hipotesis menyatakan bahwa kepercayaan (trust) mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli.

Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Intan Suti

43

, pengaruh kualitas produk, harga dan promosi terhadap keputusan pembelian handphone Esia (studi kasus pada mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta). Penelitian ini dilakukan terhadap produk telepon seluler Esia yang menguji mengenai pengaruh variabel kualitas produk, harga dan promosi terhadap keputusan pembelian. Dalam penelitian ini, yang menjadi objek penelitian ini adalah mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang menggunakan telepon seluler Esia sebanyak 70 orang responden dengan pertimbangan tertentu. Hasil penelitian ini bahwa variabel kualitas produk secara parsial berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian, variabel harga secara parsial berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian, variabel promosi secara parsial berpengaruh signifikan terhadap kualitas pembelian, variabel kualitas produk, harga dan promosi secara bersama-sama (simultan) berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian, variabel kualitas produk, harga dan promosi mampu menjelaskan variabel

43 Intan Suti, 2010, Pengaruh Kualitas Produk, Harga dan Promosi terhadap Keputusan

Pembelian Handphone Esia dalam

repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/.../1/INTAN%20SUTI-FEB.pdf diakses tanggal 20 Januari 2016 pukul 15:14.

(27)

keputusan pembelian sebesar 69,4%, selebihnya sebesar 30,6% dijelaskan oleh variabel lain.

Ketiga, penelitian yang dilakukan oleh Dasanti Jiwaning Winahyu

44

, analisis pengaruh persepsi harga, kualitas produk, dan daya tarik iklan terhadap minat beli air minum Axogy (studi kasus pada pengguna air minum kota Magelang Jawa Tengah) meneliti persepsi harga, kualitas produk, daya tarik iklan sebagai variabel independen dan minat beli konsumen sebagai variabel dependen. Dengan sample penelitian sebanyak 100 responden dimana terdapat kriteria tertentu bagi responden yaitu pengguna Axogy di Magelang. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linear berganda dan data diolah dengan menggunakan SPSS (Statistical Package for Social Sciences). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi harga, kualitas produk dan daya tarik iklan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli konsumen. Dan dari ketiga variabel bebas tersebut, persepsi harga yang memberikan pengaruh terbesar dari model analisis dalam penelitian ini.

Keempat, penelitian yang dilakukan oleh Hikmatul Bariroh

45

, pengaruh kualitas pelayanan terhadap minat membeli konsumen pada minimarket Indomaret dan minimarket Alfamart. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kualitas pelayanan (X) minimarket alfamart dan indomaret masuk pada kategori tinggi dan terdapat perbedaan diantara keduanya dimana pada alfamart 63,33%

dan pada indomaret 51,67%. Pada minat membeli (Y) masuk pada kategori sedang pada konsumen alfamart 74% dan indomaret 79%. Hasil analisis regresi diperoleh nilai F hitung sebesar 4.840 dengan signifikansi 0,030<0,005 hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh signifikan antara kualitas pelayanan terhadap minat membeli konsumen. Dimensi kualitas pelayanan Assurance (X3) saja yang memiliki pengaruh secara signifikan terhadap minat membeli (Y)

44 Dasanti Jiwaning Winahyu, 2012, Analisis Pengaruh Persepsi Harga, Kualitas Produk, dan Daya Tarik Iklan terhadap Minat Beli Air Minum Axogy (Studi Kasus pada Pengguna

Air Minum Kota Magelang Jawa Tengah) dalam

http://eprints.undip.ac.id/35568/1/Skripsi_WINAHYU.pdf diakses tanggal 22 Januari 2016 pukul 19:44.

45 Hikmatul Bariroh, 2015, Pengaruh Kualitas Pelayanan terhadap Minat Membeli Konsumen pada Minimarket Indomaret dan Minimarket Alfamart dalam etheses.uin- malang.ac.id/1552/11/11410152_Ringkasan.pdf diakses tanggal 20 Januari 2016 pukul 20:18.

(28)

karena P < 0,05. Hasil uji beda kualitas pelayanan diperoleh signifikansi 0,043 <

0,05. Hal ini berarti tidak ada perbedaan nyata dan signifikan kualitas pelayanan antara minimarket Alfamart dengan Indomart. Sedangkan pada minat membeli diperoleh signifikansi 0,240 > 0,05. Hal ini berarti terdapat perbedaan nyata dan signifikan minat membeli antara minimarket Alfamart dengan Indomart.

Kelima, penelitian ini dilakukan oleh Febby Swisstiani

46

, pengaruh persepsi harga, efektifitas iklan internet dan promosi penjualan terhadap minat beli konsumen pada toko online ZALORA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh persepsi harga, efektifitas iklan internet, dan promosi penjualan terhadap minat beli konsumen. Berdasarkan hasil penelitian bahawa persepsi harga berpengaruh positif pada minat beli konsumen ZALORA, hal ini dibuktikan dengan nilai t htung >t table (4,182>1,984), signifikansi lebih kecil dari 0,05 (0,000<0,05), dan koefisien regresi mempunyai nilai positif sebesar 0,275. Iklan internet berpengaruh positif pada minat beli konsumen ZALORA , hal ini dibuktikan nilai t hitung>t table (3,169>1,984), signifikansi lebih kecil dari 0,05 (0,002<0,05), dan koefisien regresi mempunyai nilai positif sebsar 0,182. Promosi penjualan berpengaruh positif pada minat beli konsumen ZALORA , hal ini dibuktikan nilai t hitung>t table (4,200>1,984), signifikansi lebih kecil dari 0,05 (0,000<0,05), dan koefisien regresi mempunyai nilai positif sebesar 0,404.

Persepsi harga, iklan internet dan promosi penjualan bersama-sama berpengaruh pada minat beli konsumen ZALORA, hal ini dibuktikan dengan nilai F hitung > F table (31,895>2,68), dengan nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 (0,000<0,05).

Hasil dari R

2

pada penelitian ini diperoleh nilai R

2

sebesar 0,432. Hal ini menunjukkan bahwa minat beli dipengaruhi oleh persepsi harga, efektifitas iklan internet dan promosi penjualan sebesar 43,2%, sedangkan sisanya sebesar 56,8%

dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini.

Dalam penelitian ini, maka ada persamaan dan perbedaan dengan penelitian terdahulu. Persamaan antara penelitian-penelitian terdahulu yang telah dipaparkan diatas dengan penelitian ini yakni sama-sama untuk mengetahui seberapa besar

46 Febby Swisstiani, 2014, Pengaruh Persepsi Harga, Efektifitas Iklan Internet dan Promosi Penjualan terhadap Minat Beli Konsumen pada Toko Online ZALORA dalam http://eprints.uny.ac.id/14880/1/SKRIPSI.pdf diakses tanggal 22 Januari 2016 pukul 19:28.

(29)

pengaruh harga dan kualitas produk terhadap minat beli konsumen. Sedangkan perbedaannya bahwa penelitian terdahulu tidak berdasarkan perspektif Islam, sedangkan penelitian yang saya lakukan berdasarkan perspektif Islam juga, ketika penelitian dengan studi kasus di tempat yang berbeda maka akan menghasilkan hasil penelitian yang berbeda, begitu pula dengan studi kasus penelitian saya dengan penelitian terdahulu berbeda maka akan menghasilkan hasil penelitian yang berbeda. Dalam penelitian ini tempat penelitian pada pasar sandang Tegalgubug Arjawinangun Cirebon. Oleh karena itu, berdasarkan penjelasan yang telah disebutkan di atas, maka penelitian ini belum pernah dilakukan oleh orang lain.

E. Kerangka Pemikiran

Minat beli merupakan sesuatu yang berhubungan dengan rencana konsumen untuk membeli produk tertentu, serta berapa banyak unit produk yang dibutuhkan pada periode tertentu.

47

Setiap konsumen memiliki hasrat untuk membeli atas kebutuhan yang akan dipenuhi. Dengan demikian minat beli merupakan gambaran seseorang untuk memiliki sesuatu produk/produk di dalam kehidupannya.

Menurut Prof. Dr. Winardi SE dikatakan bahwa harga merupakan faktor yang sangat penting yang mempengaruhi pembeli. Pada akhirnya, konsumen akan memutuskan apakah harga suatu produk tepat atau tidak. Ketika konsumen membeli suatu produk, maka mereka mempertukarkan sesuatu yang memiliki nilai (harga) untuk mendapatkan sesuatu yang bernilai yaitu keuntungan atau manfaat memiliki dan menggunakan produk itu. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa harga memiliki pengaruh yang cukup kuat terhadap keputusan pembelian konsumen.

48

Pada hakikatnya seseorang membeli produk atau jasa untuk memuaskan kebutuhan atau keinginan. Seseorang membeli produk bukan hanya fisik semata,

47 Durianto dkk, Inovasi dengan Iklan yang Efektif, Strategi, Program, dan Teknik Pengukuran, (Jakarta : Elex Media Komputindo, 2003), hlm. 109.

48 Winardi, Harga dan Penetapan Harga dalam Bidang Pemasaran, (Bandung : CV Mandar Maju , 2001), hlm. 20.

(30)

melainkan manfaat yang ditimbulkan oleh produk atau jasa yang dibeli. Jika suatu produk dibuat sesuai dengan dimensi kualitas, bahkan diperkuat dengan harga yang ditawarkan, maka akan mempengauhi minat konsumen untuk membeli.

Semakin tinggi level kualitas menyebabkan semakin tingginya kemungkinan minat beli pelanggan dan kepuasannya, yang juga mendukung harga yang lebih tinggi dan seringkali biaya menjadi lebih rendah.

49

Berikut ini digambarkan kerangka pemikiran dari pengaruh harga dan kualitas produk terhadap minat beli konsumen :

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran F. Hipotesis Penelitian

Hipotesis penelitian adalah suatu kesimpulan awal yang masih bersifat sementara. Dalam penelitian ini diduga :

1. Terdapat pengaruh positif signifikan X

1

(Harga) terhadap Y (Minat Beli Konsumen).

2. Terdapat pengaruh positif signifikan X

2

(Kualitas Produk) terhadap Y (Minat Beli Konsumen).

3. Terdapat pengaruh positif signifikan X

1

(Harga) dan X

2

(Kualitas Produk) terhadap Y (Minat Beli Konsumen).

49Kart Ulrich dan Eppinger S.D, Perancangan dan Pengembangan Produk, (Alih bahasa : Nora Azmi dan Iveline D. Eppinger), (Jakarta: Salemba Teknika, 2001), hlm. 95.

X1

HARGA Y

MINAT BELI KONSUMEN X2

KUALITAS PRODUK

Gambar

Gambar 2.1  Kerangka Pemikiran  F.  Hipotesis Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Walaupun permintaan pasar akan membatasi harga jual tertinggi dan biaya-biaya membatasi biaya terendah, harga jual yang dipasang oleh para pesaing serta kemungkinan

Yaitu suatu metode penataan harga jual yang ditetapkan suatu perusahaan yang berusaha menetapkan suatu harga yang akan dapat menghasilkan taraf pendapatan yang

Konsumen cenderung lebih menyukai produk yang harganya mahal ketika informasi yang didapat hanya harga produknya. Persepsi konsumen terhadap kualitas produk

Hasil dari penelitian ini diantaranya biaya produksi memberikan kontribusi terhadap harga jual pada industri produk batu mamer Politeknik Aceh Selatan, pengeluaran biaya

a) Menginformasikan pasar mengenai produk baru. b) Memperkenalkan cara pemakaian yang baru dari suatu produk. c) Menyampaikan perubahan harga kepada pasar. d) Menjelaskan cara

Harga jual yang diberikan oleh perusahaan dapat bersaing di pasar bilamana ada perusahaan pesaing yang memberikan harga lebih murah kepada pelanggan, maka perusahaan akan

Jika data atau masalah yang dihadapi hanya memberi informasi tentang harga jual atau laba suatu produk dan tidak ada data moneter lainya maka fungsi tujuan

1. Mempengaruhi produk, jasa, pasar, pemasok, distributor, pelanggan, pesaing, proses manufaktur, praktik pemasaran, dan posisi bersaing. Dapat menciptakan pasar