VII. RANCANGAN SISTEM PENGEMBANGAN KLASTER AGROINDUSTRI AREN
Sistem pengembangan klaster agroindustri aren di Sulawesi Utara terdiri atas sistem lokasi unggulan, industri inti unggulan, produk unggulan, kelembagaan pengembangan, teknologi pengolahan, dan kelayakan investasi.
Sistem pengembangan ini merupakan model penunjang keputusan yang dapat membantu para pengambil keputusan dalam rangka peningkatan nilai tambah dan daya saing agroindustri aren baik di pasar domestik maupun internasional.
7.1. Sistem Pengembangan Lokasi dan Industri Inti
Ditinjau dari aspek lokasi, terdapat lima daerah di Sulawesi Utara yang berpotensi untuk mengembangkan klaster agroindustri aren karena memiliki keunggulan sumberdaya, khususnya bahan baku dan tenaga kerja. Daerah-daerah tersebut adalah Kabupaten Minahasa, Kabupaten Minahasa Utara, Kabupaten Minahasa Selatan, Kabupaten Minahasa Tenggara dan Kota Tomohon. Pada daerah-daerah ini sektor agroindustri aren merupakan sektor basis dimana memiliki jumlah usaha agroindustri dan tenaga kerja yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan daerah lain, selain luas areal tanam dan jumlah tanaman produktif sebagai sumber bahan baku.
Data yang diperoleh dari Dinas Perkebunan dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan tahun 2010 (Tabel 21) menunjukan bahwa sebagian besar wilayah kecamatan di Minahasa Selatan memiliki keunggulan komparatif di sektor agroindustri aren dimana ditunjukan oleh sebaran sumber bahan baku yang relatif merata dengan jumlah produksi yang tinggi. Berdasarkan fakta tersebut dan analisis terhadap kriteria-kriteria penting maka Kabupaten Minahasa Selatan dipandang sebagai lokasi yang memiliki keunggulan untuk mengembangkan klaster agroindustri aren.
Selain memiliki keunggulan komparatif, beberapa karakteristik agroindustri aren di Kabupaten Minahasa Selatan selaras dengan prasyarat pengembangan klaster suatu industri (Porter 1998a; Porter 1998b; Ketels et al.
2008). Karakteristik pengembangan klaster tersebut yaitu terkonsentrasinya
pemasok, industri inti, industri terkait dan industri pendukung serta pelaku/institusi lain di suatu lokasi tertentu.
Berdasarkan hasil verifikasi bahwa agroindustri inti yang memiliki potensi relatif tinggi untuk dikembangkan dalam sistem klaster agroindustri aren adalah agroindustri gula aren, sedangkan produk unggulannya adalah gula semut. Faktor- faktor yang memberi bobot dalam mempertimbangkan pemilihan gula semut sebagai produk unggulan yaitu permintaan produk, harga, biaya produksi, nilai tambah, ketersediaan alsin, kondisi bahan baku, kualitas tenaga kerja dan kebiasaan masyarakat.
Kecenderungan permintaan produk gula semut tersebut antara lain disebabkan oleh tujuan penggunaan, dimana gula semut bersifat lebih mudah dan fleksibel dalam penggunaannya sebagai bahan baku atau bahan tambahan pengolahan makanan dan minuman. Harga jual gula semut di pasar domestik dan internasional menunjukan kecenderungan meningkat dari tahun-ketahun (Sumaryanto et al. 1999; Efendi 2010). Selain gula semut, diketahui juga bahwa gula cair dan gula cetak masih memiliki peluang untuk dikembangkan, hal ini terlihat dari skor keputusan yang dihasilkan dari analisis (Tabel 14) dimana tidak terdapat selisih yang nyata jika dibandingkan dengan gula semut.
7.2. Sistem Pengembangan Kelembagaan
Model kelembagaan pengembangan klaster agroindustri aren secara langsung berkaitan dengan elemen-elemen di dalam sistem tersebut. Hasil indentifikasi menunjukan bahwa elemen penting sistem pengembangan terdiri atas elemen tujuan, kendala, pelaku, aktivitas, dan indikator keberhasilan. Gambar 18 menyajikan hasil sintesis terhadap struktur sistem pengembangan klaster agroindustri aren berdasarkan hasil keluaran model.
Aktivitas Pengembangan
1. Pengembangan kerjasama dan koordinasi kegiatan antar agroindustri aren
2. Pengembangan kerjasama dengan industri/lembaga pendukung 3. Pengembangan inovasi dan aplikasi teknologi tepat guna
Sistem
Pengembangan Klaster Agroindustri Aren
Pelaku Pengembangan 1. Pemilik lahan
2. Petani penyadap 3. Industri pengolahan 4. Pedagang perantara 5. Kelompok tani 6. Koperasi
Tujuan Pengembangan 1. Meningkatkan nilai tambah agroindustri aren
2. Meningkatkan kemampuan inovasi dan teknologi
Kendala Pengembangan 1. Kurangnya dukungan dari pemerintah
2. Rendahnya kualitas sdm 3. Rendahnya kemampuan manajerial industri
Indikator Keberhasilan 1. Peningkatan jumlah dan bentuk kerjasama 2. Peningkatan kemampuan penguasaan teknologi
Gambar 18 Struktur sistem pengembangan klaster agroindustri aren.
Berdasarkan hasil verifikasi yang diperoleh terlihat bahwa pengembangan sistem klaster pada agroindustri aren memiliki tingkat efektivitas yang tinggi untuk meningkatkan nilai tambah dan kemampuan inovasi dan teknologi pelaku- pelaku yang terlibat di dalam sistem. Peningkatan nilai tambah dan kemampuan inovasi dan teknologi tersebut memberikan kontribusi terhadap tercapainya tujuan-tujuan lain sistem sehingga secara kumulatif meningkatkan daya saing agroindustri aren.
Kendala yang dihadapi dalam upaya mengembangkan klaster agroindustri aren di Sulawesi Utara semuanya bersumber dari pelaku-pelaku yang terlibat di dalam sistem. Berdasarkan keluaran model bahwa kendala utama dalam pengembangan klaster agroindustri aren di Sulawesi Utara adalah kurangnya dukungan dari pemerintah baik pusat maupun daerah, rendahnya kualitas sumberdaya pelaku, dan rendahnya kemampuan manajerial.
Kurangnya dukungan dari pemerintah ditunjukan antara lain oleh kebijakan dan regulasi yang dikeluarkan tidak memihak kepada upaya peningkatan sektor agroindustri aren. Perhatian pemerintah secara empiris banyak diberikan pada sektor-sektor agroindustri konvensional yang ada sejak lama dan
dikembangkan seperti agroindustri yang berbasis pada tanaman kelapa, padi, dan cengkeh. Dampak dari hal tersebut mengakibatkan kurangnya regulasi yang mengarah pada peningkatan kemampuan dan nilai tambah dari agroindustri aren.
Disamping itu insentif dan pembangunan infrastruktur penunjang tidak banyak dilakukan baik untuk merangsang peningkatan produksi maupun pengembangan pemasaran.
Rendahnya kualitas sumberdaya manusia dan rendahnya kemampuan manajerial berperan sebagai faktor penyumbang rendahnya kualitas pekerjaaan dan produk yang dihasilkan. Proses produksi agroindustri aren di Sulawesi Utara selain menggunakan teknologi sederhana, umumnya menggunakan tenaga-tenaga tidak terampil dan berpendidikan rendah. Kondisi ini berdampak pada rendahnya produktivitas, kualitas produk yang dihasilkan, serta bentuk dan jenis produk yang dihasilkan. Kondisi tersebut juga menyebakan ketidakmampuan untuk mengakses informasi dan teknologi yang pada gilirannya berakibat pada rendahnya posisi tawar.
Kurangnya kerjasama para pemangku kepentingan juga menjadi hambatan pengembangan klaster di Sulawesi Utara. Para pelaku yang memiliki kepentingan dengan agroindustri ini seolah-olah berjalan sendiri-sendiri sehingga memungkinkan nilai tambah yang diperoleh khususnya pihak-pihak disepanjang rantai nilai menjadi rendah serta tidak tersebar secara merata.
Keluaran model aktivitas penting menunjukan bahwa terdapat tiga kegiatan penting dan menjadi kunci implementasi klaster agroindustri aren yaitu pengembangan kerjasama dan koordinasi antar agroindustri aren, pengembangan kerjasama antara agroindustri dengan industri dan lembaga pendukung, serta pengembangan inovasi dan aplikasi teknologi tepat guna.
Pengembangan inovasi dan aplikasi teknologi tepat guna muncul sebagai elemen kunci merupakan konsekuensi logis dari dinamika klaster. Porter (1998) menyatakan bahwa sifat persaingan didalam klaster menyebabkan terjadinya kondisi tersebut. Tekanan persaingan memaksa agroindustri anggota tersebut melakukan inovasi dan menciptakan metode-metode baru, yang berkaitan baik pada sisi penawaran maupun pada sisi permintaan produk yang dihasilkan, sehingga meningkatkan nilai tambah yang diperoleh.
Perluasan jaringan dan jangkauan pasar serta pengembangan alternatif sumber pembiayaan menjadi aktivitas penting pada tingkatan kedua. Kedua aktivitas ini dapat dikatakan sebagai hasil dari adanya kerjasama diantara agroindustri khususnya yang berkaitan dengan pemasaran bahan baku maupun produk yang dihasilkan. Sedangkan alternatif sumber pembiayaan investasi dihasilkan dari kerjasama antara agroindustri dengan lembaga terkait khususnya lembaga keuangan dan inkubator.
Indikator keberhasilan dipandang sebagai elemen penting yang harus diperhatikan khususnya dalam perencanaan dan implementasi pengembangan klaster agroindustri aren. Indikator-indikator tersebut menjadi signal atau pemandu untuk pengambilan keputusan klaster di kemudian hari oleh para pemangku kepentingan khususnya perusahan agroindustri aren, pemerintah dan perusahan terkait.
Berdasarkan hasil identifikasi dalam model diperoleh bahwa indikator yang penting untuk diperhatikan adalah peningkatan jumlah dan bentuk kerjasama dan indikator kemampuan penguasaan teknologi. Jumlah dan bentuk kerjasama yang dilakukan oleh anggota merupakan salah satu karakter penting dari klaster agroindustri karena akan berdampak pada terjadinya peningkatan produktivitas dan efisiensi, baik efisiensi biaya maupun efisiensi produksi. Indikator penguasaan teknologi lebih ditujukan untuk mengukur apakah telah terjadi proses tranfer informasi dan pengetahuan diantara anggota.
Kedua indikator keberhasilan diatas memberikan kontribusi terhadap indikator lainnya pada level berikutnya seperti indikator peningkatan jumlah anggota klaster, peningkatan skala usaha, terciptanya efisiensi kolektif, peningkatan jangkauan dan pangsa pasar, peningkatan jumlah tenaga kerja, peningkatan investasi, dan indikator peningkatan kemampuan inovasi. Indikator level pertama dan kedua memberikan kontribusi terhadap indikator-indikator level terakhir yaitu tercapainya skala ekonomi, peningkatan nilai tambah, peningkatan produktivitas, peningkatan mutu produk, dan menguatnya hubungan sosial diantara pelaku.
7.3. Sistem Pengembangan Teknologi
Pengembangan teknologi dalam sistem klaster agroindustri aren memiliki dimensi yang luas. Berdasarkan ruang lingkup kajian, sistem yang dibangun hanya terdiri atas penentuan produk unggulan, penentuan kapasitas olah dan sub- model penentuan teknologi proses pengolahan. Ketiga sub-sistem ini dianggap merupakan faktor kritis dalam perencanaan pengembangan teknologi agroindustri aren.
Hasil verifikasi menunjukan bahwa kapasitas olah yang paling sesuai untuk dikembangkan oleh agroindustri aren di Kabupaten Minahasa Selatan yaitu 5.000 l per satu kali pengolahan. Penentuan kapasitas olah agroindustri aren berkaitan dengan ketersediaan bahan baku, mutu bahan baku (% sukrosa), dan jarak sumber bahan baku. Sumber dan tingkat ketersedian bahan baku berbanding lurus dengan mutu bahan baku itu sendiri. Semakin jauh lokasi sumber bahan baku dengan lokasi pengolahan mengakibatkan waktu tempuh menjadi panjang, sehingga dapat menyebabkan menurunnya kualitas bahan tersebut.
Menurut Mahmud et al. (1991) nira yang akan diolah menjadi gula harus diproses paling lambat 2 jam setelah disadap sehingga menjamin kualitas bahan baku tersebut masih memiliki komposisi terbaik. Apabila waktu tunggu sebelum pengolahan melewati waktu tersebut maka akan mengakibatkan kualitas dan komposisi bahan dari nira mengalami perubahan antara lain karena terjadinya proses fermentasi, sehingga tidak baik untuk diolah menjadi gula aren. Perubahan tersebut disebabkan oleh aktivitas mikroba yang ada di dalam nira aren.
Nira aren yang baik untuk diolah menjadi gula aren adalah nira yang memiliki kandungan sukrosa tinggi. Iskandar (1991) menyatakan bahwa kandungan sukrosa diatas 11% dan pH 6 – 7 akan menghasilkan gula aren dengan rendemen yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan kandungan sukrosanya lebih rendah.
Tahapan pemilihan peralatan dan proses produksi harus disesuaikan dengan rencana produk yang akan dihasilkan dan kapasitas olah terpilih dengan mempertimbangkan faktor-faktor penting lainnya. Oleh karena itu keluaran model menyarankan teknologi pengolahan gula semut prioritas menggunakan teknik open pan dan vacum evaporator. Teknologi pengolahan gula semut seperti ini
mampu meningkatkan produktivitas serta kualitas produk dan efisien, baik ditinjau dari aspek waktu maupun aspek biaya (Iskandar 1991; Kusumanto 2010).
7.4. Sistem Pengukuran Kinerja
Sistem pengukuran kinerja klaster merupakan cara sistematis untuk mengevaluasi input, output, transformasi dan produktivitas dalam operasi sistem atau program. Dengan cara demikian implementasi program pengembangan suatu sistem atau program dapat dievaluasi tingkat efektivitasnya dalam mencapai tujuan. Metode pengukuran kinerja klaster yang dikembangkan oleh Carpinetti (2009) dianggap cukup komprehensif karena memiliki dimensi yang relatif luas namun praktis dalam implementasi. Sistem pengukuran tersebut secara umum dibagi kedalam empat dimensi yaitu kinerja perusahan, manfaat sosial ekonomi, efisiensi kolektif dan modal sosial. Kinerja perusahan berhubungan dengan pertumbuhan dan daya saing perusahan dan diukur melalui kinerja finansial dan non finansial. Manfaat sosial ekonomi berhubungan dengan pendapatan daerah dan perluasan kesempatan kerja. Efisiensi kolektif berhubungan dengan ekonomi eksternal dan kerjasama antar perusahan di dalam klaster. Sedangkan modal sosial berhubungan dengan nilai-nilai budaya seperti rasa saling percaya baik diantara pelaku maupun dengan masyarakat sekitar.
Kinerja pengembangan klaster agroindustri aren di Sulawesi Utara berdasarkan hasil identifikasi menghasilkan indikator atau elemen yang tidak jauh berbeda dengan yang diuraikan tersebut. Indikator kunci yang memiliki kekuatan penggerak yang diperoleh adalah peningkatan jumlah dan bentuk kerjasama pelaku dan peningkatan kemampuan penguasaan teknologi.
Sebagai penunjang pengambilan keputusan, model pengukuran kinerja pengembangan klaster agroindustri aren idealnya mengimplementasikan metode pengukuran kinerja komprehensif, paling tidak berdasarkan output model yang dibangun. Dengan pertimbangan bahwa nilai tambah dan daya saing dapat didekati dengan penilaian perubahan sisi permintaan dan penawaran perusahan, maka implementasi pengukuran kinerja yang dilakukan dalam model adalah pengukuran kelayakan investasi usaha agroindustri aren unggulan. Hasil pengukuran kinerja finansial menunjukan bahwa keputusan investasi pada
agroindustri gula semut sebagai produk unggulan pada kapasitas olah prioritas adalah layak dan menguntungkan sehingga dianggap mampu meningkatkan nilai tambah dan daya saing agroindustri basis tanaman aren di Sulawesi Utara.
7.4. Implikasi Kebijakan
Pendekatan klaster merupakan suatu strategi yang dapat digunakan dalam meningkatkan kinerja dan daya saing agroindustri aren. Untuk mendukung strategi tersebut beberapa hal yang harus diupayakan antara lain pertama, terpenuhinya kebutuhan dasar sebuah klaster seperti terciptanya stabilitas ekonomi makro yang mantap, iklim investasi yang kondusif, dan terjaminnya penyelenggaraan hukum yang efisien dan dapat dipercaya. Kedua, peningkatan kompetensi sumber daya manusia dari masing-masing pelaku dalam klaster hendaknya dilakukan dengan cara pengembangan keterampilan dan kecakapan baik melalui pelatihan maupun kegiatan produktif lainnya. Ketiga, mengembangkan berbagai kelembagaan pendukung terutama kelembagaan pembiayaan, penelitian penyuluhan, dan pendidikan. Adanya kelembagaan tersebut akan mampu meningkatkan akses pelaku terhadap informasi terkait dengan permodalan, teknologi dan inovasi yang sangat diperlukan untuk meningkatkan kinerja klaster. Keempat, diperlukan identifikasi dan pemetaan karakterisasi wilayah dalam menentukan lokasi untuk klaster agroindustri aren.
Penentuan lokasi klaster tersebut merupakan keputusan yang didasarkan pada pertimbangan efisiensi dan efektivitas.
Tahapan awal yang dilakukan dalam perencanaan pengembangan klaster aren adalah penentuan wilayah pengembangannya. Dalam hal ini, proses penentuan tersebut harus dilakukan secara akurat dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang berkaitan erat dengan objek pengembangan tersebut seperti ketersediaan sumberdaya di wilayah tersebut dan kemampuan permintaan. Proses penentuan wilayah pengembangan tersebut harus melibatkan seluruh pemangku kepentingan dan didukung oleh ketersediaan data yang lengkap mengenai potensi dan peluang yang dimiliki.
Penentuan lokasi merupakan keputusan yang didasarkan pada perpaduan dari berbagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan pengembangan seperti
konsentrasi geografis agroindustri dan lembaga terkait, ketersediaan dan kontinutas bahan baku, potensi sumberdaya manusia, kapasitas dan kemampuan teknologi yang dimiliki, ketersediaan industri pendukung, ketersediaan infrastuktur fisik, ketersediaan lembaga pendukung, dukungan pemerintah daerah dan pusat, budaya kerja yang mendukung, serta potensi dan jangkauan pasar.
Ketidakmampuan menganalisis dan mensintesa faktor-faktor penting dalam sistem penentuan lokasi berdampak pada proses dan kinerja pengembangan dimana tujuan tidak akan tercapai sesuai dengan target-target yang ditetapkan.
Pengembangan kelembagaan harus diarahkan pada pembentukan sistem kelembagaan yang dapat mendorong industri dan lembaga terkait melakukan kerjasama untuk saling mendukung dan saling menguntungkan. Pengembangan teknologi diarahkan pada peningkatan kemampuan agroindustri aren melakukan ekspansi dan pengembangan produk. Pengembangan kinerja usaha diarahkan pada peningkatan pendapatan petani penyadap dan usaha agroindustri kecil.
Hasil verifikasi terhadap Perencanaan strategi pengembangan klaster agroindustri aren harus dilakukan oleh pelaku-pelaku dan institusi-institusi terkait secara terintegrasi dan sinergis dalam suatu sistem Pelaku-pelaku dan institusi kunci yang harus berperan lebih adalah pemilik lahan, petani penyadap, industri pengolahan, pedagang perantara, kelompok tani dan koperasi.
Sementara itu, aktivitas utama yang harus dilaksanakan dalam implementasi program adalah mendorong pengembangan kerjasama dan koordinasi antar industri anggota klaster, pengembangan kerjasama dengan lembaga terkait, pengembangan inovasi dan teknologi baru, dan pendidikan dan pelatihan. Hubungan kemitraan dan kerjasama pelaku-pelaku dalam sistem klaster agroindustri aren ditandai dengan adanya aliran bahan atau materi dan adanya aliran informasi, sebagaimana dipresentasikan pada Gambar 19.
Industri Alat dan Mesin
Industri Makanan
Lembaga Keuangan
Pemerintah Daerah/ Pusat
Badan Standarisasi Pedagang
Perantara
Pemilik Lahan
Penyadap
Lembaga Litbang Kelompok
Tani
Inkubator Asosiasi
Dagang
Industri Gula Cetak
Industri Gula Semut
Industri Gula Cair
Koperasi Perguruan
Tinggi
Konsumen Akhir
Industri Bioetanol/
Alkohol
Keterangan:
a) - - - : aliran informasi dan pengetahuan b) : aliran bahan / materi
Gambar 19 Jaringan kerjasama dalam sistem kelembagaan klaster agroindustri aren
Dalam mengembangkan kluster agroindustri aren, berbagai aspek baik dari subsistem hulu, subsistem hilir maupun jasa penunjang haruslah saling mendukung satu sama lainnya. Kluster agroindustri aren yang baik digambarkan oleh tingginya tingkat keterkaitan berbagai kegiatan yang saling mendukung antara satu pelaku dengan pelaku yang lain. Oleh karena itu, untuk mencapai tingkat keberhasilan, beberapa faktor kunci yang harus diperhatikan dalam kluster agroindustri aren yaitu tercipta kemitraan dan jaringan (networking) yang efektif diantara pihak-pihak yang terlibat.
Terciptanya kemitraan dan jaringan kerjasama antar perusahaan merupakan hal yang sangat penting bukan hanya terjaminnya pasokan dan permintaan sumberdaya namun juga dalam hal fleksibilitas keputusan.
Fleksibilitas tersebut misalnya kesepakatan penentuan harga bahan baku, jumlah produksi, harga produk, serta transfer informasi dan teknologi.
Pengembangan inovasi dan teknologi merupakan bagian penting dalam sistem pengembangan klaster agroindustri aren. Oleh sebab itu, perencanaan teknologi pada setiap rantai pasok harus dilaksanakan secara akurat sehingga
tujuan untuk meningkatkan produktivitas, nilai tambah dan daya saing agroindutri aren dapat dicapai. Dalam implementasi, penggunaan teknologi tersebut harus dilaksanakan secara simultan di setiap rantai pasok dengan mempertimbangkan faktor-faktor kunci seperti ketersediaan dan aksesibilitas, harga satuan, biaya operasi, produktivitas, dan penggunaan alat dan bahan tambahan.
Pengembangan klaster agroindustri aren sebagai suatu program mengharuskan adanya metode pengukuran kebehasilan pelaksanaan program tersebut. Berdasarkan hasil kajian diperoleh bahwa indikator utama yang dapat dipakai untuk menilai keberhasilan pengembangan program tersebut adalah adanya peningkatan jumlah dan bentuk kerjasama, peningkatan anggota klaster, peningkatan nilai investasi dan peningkatan skala usaha. Walaupun demikian, kebehasilan implementasi model pengembangan klaster membutuhkan adanya suatu sistem pengukuran yang lebih komprehensif, misalnya metode yang dikembangkan Carpinetti (2008), dimana aspek utama yang harus ditinjau yaitu kinerja perusahan, efisiensi kolektif, manfaat sosial ekonomi dan modal sosial.