BAB II LANDASAN TEORl
2.1. Usaha Kecil Menengah
2.1.1. Pengertian Usaha Kecil Menengah
Ada beberapa pengertian atau pandangan tentang UKM, antara lain : 1. Menurut Megginson dan Byrd (2000:11), usaha kecil adalah usaha yang
pemihknya mempunyai kebebasan untuk mengoperasikan usahanya, tidak dominan di bidangnya, serta tidak terikat pada kebiasaan-kebiasaan baru. Hal ini menyebabkan usahanya mungkin tidak berkembang, mereka biasanya lebih santai dan kurang agresif dalam menjalankan usahanya.
2. Pengertian Usaha Kecil (UK) menurut Undang-Undang no. 9 tahun 1995, yaitu:
a. Memiliki kekayaan bersih palmg banyak Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) tidak termasuk tanali dan bangunan tempat usaha atau.
b. Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah)
c. Milik Warga Negara Indonesia
d. Berdiri sendiri, bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau berafiliasi baik langsung maupun tidak langsung dengan usaha menengah atau besar
e. Berbentuk usaha perorangan, badan usaha yang tidak berbadan hukum, atau badan usaha yang berbadan hukum, termasuk koperasi.
3. Departemen Perindustrian, UKM adalah usaha dengan aset kurang dari Rp.
600.000.000,00 (tidak termasuk tanah dan bangunan).
4. Menurut Departemen Perdagangan Usaha Kecil modal kerjanya kurang lebih Rp. 25.000.000,00.
5. Menurut Kamar Dagang dan Indusfri Indonesia (Kadin), Usaha kecil dibagi menjadi 2 yaitu bidang perdagangan, pertanian dan industri yang modal kerjanya kurang dari Rp 150.000.000,00 dan memiliki nilai kurang dari Rp.
600.000.00,00; kelompok keduanya yaitu bidang konstruksi dengan modal kerja kurang dari Rp 250.000.000,00 dan nilai usaha kurang dari 1 milyar.
6
6. Menurut BPS, usaha kecil adalah industri yang melibatkan tenaga kerja antara 5-19 orang sedangkan usaha mikro adalah usaha industri yang mempekerjakan kurang dari 5 orang.
7. Menurut Hidayat (1988.118), usaha kecil merupakan usaha yang berskala
"one man enterprise" (mandiri), keluarga, antara 5-20 karyawan, sampai pengertian "kecil" menurut undang-undang yang berlaku. serta mempunyai derajat kebebasan yang relatif lebih tinggi dalam memilih "masuk ke" atau
"keluar dari" pasar dibandingkan usaha skala lainnya. Menurut Timothy S.
Hatten (1997:79), usaha kecil adalah usaha yang operasional dan keuangamiya dikelola sendiri oleh pemiliknya, mempunyai kurang dari 100 tenaga kerja dan mempunyai pengaruh yang relatif kecil terhadap industri. Sedangkan menurut Meggison dan Byrd (2000:11), usaha mikro memilki tenaga kerja dibawah 20 orang, usaha kecil memiliki tenaga kerja 20-99 orang, dan usaha menengah memiliki tenaga kerja 100-499 orang.
Dari beberapa pendapat diatas dapat diambil kesimpulan bahwa UKM merupakan usaha yang memiliki jumlah modal dan tenaga kerja relatif kecil, berbentuk usaha perseorangan dan pemiliknya mempunyai kebebasan dalam mengoperasikan usahanya.
2.1.2. Karakteristik Usaha Kecil Menengah
Pada dasarnya usaha kecil menengah dibagi menjadi 2 yaitu usaha kecil menengah penghasil barang dan usaha kecil menengah penghasil jasa, dan ada beberapa pendapat tentang karakieristik umum UKM, antara lain:
1. Menurut Meggison dan Byrd (2000:11), karakteristik usaha kecil dan menengah, yaitu:
a. Manajemennya mempunyai kebebasan dan biasanya manajernya adalah pemiliknya sendiri
b. Dananya berasal dari dana pribadi
c. Lokasi perusahaannya lokal, bahkan pasarnyapun hanya pasar lokal
d. Usahanya sangat kecil dibandingkan persaingan yang ada dalam bidang industrinya.
8
2. Menurut Buzzard dan Elaine (1987:20), karakteristik serta perbedaan ukuran usaha dari UK.M adalah sebagai berikut:
Tabel2.1.
Karakteristik dan Perbedaan Ukuran Usaha
Usaha mikro Kecil
J u m l a h j 1-4 5-9
pekerja | Tempat
Usaha
Proses Produksi
Sistem keuanaan
Sumber kredit
Pasar
Kekuatan hukum
Sumber: B
1 Toko di sebelum Di rumah | atau dekat
i dengan rumah Sederhana, Sederhana sedikil maju.
banyak tahapan
I
Akuntansi perputaran uang
tunai Sumber informal'
dengan tingkat bunga tinggi. tidak
ada saluran kredit formal karena kurangnya catatan
transaksi usaha dan jaminan
Pasar setempat
Tidak terdaftar, beroperasi pada ekonomi informal
uzzard, Shierly, E
Sistem dasar akuntansi
Sumber informal membutuhkan
modal kerja untuk persediaan
barang dan pendanaan alat
Pasar setempat dengan beberapa
perluasan
Tidak terdaftar
d g c o m b E l a i n e (
Kecil-Menengah^
10-29 Terpisah dari
rumah Lebih maju beberapa tahapan
yang berbeda dengan ketrampilan
khusus bekerja Siatem akuntansi dan slip gaji.sistem
personalia tersedia
Sumber informal kredit formal kemimgkinan tersedia namun sukar diperoleh
Pasar seiempat c!an tingkat nasional, persaingan jelas, kebutuhan bahan
baku dan persediaan besar, keterkaitan usaha hulu hilir lerhadap
ekonomi masyarakat dan
nasional
Terdaftar
987:20)
Menengah 30-49 Lokasi terpisah dengan gedung yang lebih baik
Proses produksi rumh, kemungkinan lebih banyak. modal intensif i
Sistem akuntansi dan keuangan terjaga, terencana, dan laporan
manajemenjuga terbukli Mempunvai beberapa
kesenpatan kredit formal tetapi sumber-
sumber tersebut beroperasi lamban dan
tidak fleksibel dalam memenuhi kebutuhan
mendesak
Pasar wilayah dan nasional, bila mungkin
ekspor
Terdaftar dan memenuhi peraturan
pemerintah (seperti peraturan pajak dan perburuan, surat ijin
ekspor impor
3. Menurut Musselman dan Hugher (1980:197), karakteristik usaha kecil adalah:
a. Kaitan cenderung tidak formal dan jarang yang memiliki rencana usaha
b. Struktur organisasi bersifat sederhana
c. Jumlah tenaga kerja terbatas dengan pembagian kerja yang longgar
d. Kebanyakan tidak melakukan pemisahan antara kekayaan pribadi dan perusahaan
e. Sistem akuntansi yang kurang baik bahkan kadang-kadang tidak memilikinya sama sekali
f. Skala ekonomi terlalu kecil sehingga sukar menekan biaya
g. Kemampuan pemasaran serta diversifikasi pasar cenderung terbatas h. Margin keuntungan sangat tipis
i. Berdasarkan beberapa karaktenstik umum usaha kecil tersebut, dapat dilihat bahwa kelemahan utama usaha kecil pada dasarnya terletak pada kelemahan manajerial. Hal itu terungkap baik pada kelemahan pengorganisasian, perencanaan, pemasaran, maupun pada kelemahan akuntansi. Hal itu mudah dipahami. Selain dipengaruhi oleh keterbatasan modal, usaha kecil memang tidak memiliki kemampuan untuk memperkerjakan manajer profesional.
Karakteristik usaha kecil di Indonesia tentu tidak banyak berbeda dari karaktenstik umum usaha kecil di atas. Untuk melengkapi karakteristik umum tersebut, di bawah ini dikemukakan karakteristik usaha kecil di Indonesia:
1. Menurut Tawang Alun dalam buku Kebijakan Pengembangan Usaha Skala Kecil Dalam Era Pembangunan Ekonomi Indonesia (1988:105-106), ukuran besar kecil dari skala usaha tersebut yang sekaligus menjadi karakteristik dari dunia usaha kecil antara lain:
a. Besar modal usaha secara absolut, ataupun besar modal secara relatif terhadap jumlah tenaga kerja atau terhadap output; sehingga diperoleh ukuran investasi per tenaga kerja atau investasi per output.
b. Tipe pemilikan/pengusahaan yang cenderung kepada perusahaan perorangan, artinya pemilik merangkap manajer, sedangkan tenaga bantuan umumnya berasal dari anggota keluarga.
c. Jumlah tenaga kerja per unit usaha relatif tidaklah banyak, tenaga kerja yang digunakan oleh unit usaha yang bersangkutan biasanya adalah anggota keluarganya, atau pun orang sedaerahnya.
to
d. Penggunaan energi, mengarah pada sumber daya tradisional, yaitu dari tenaga manusia sendiri, tenaga hewani, ataupun bila menggunakan peralatan atau mesin maka dari tipe yang sederhana.
e. Teknologi yang digunakan biasanya sederhana, bersifat tradisional, meskipun terbuka kemungkinan adanya penggunaan teknologi yang lebih maju tetapi tidak menyeluruh pada semua proses produksinya.
f. Output yang dihasilkan biasanya merupakan barang tradisional, volume output relatif kecil, biasanya dihitung atas dasar harian ataupun mingguan.
g. Biasanya orientasi pemasaran ke pasar lokal atau daerah yang terbatas di sekitar tempat usaha atau mengharapkan ada pembeli / tengkulak yang membeli di tempat usahanya meskipun kemudian hasil produksinya dapat diteruskan ke konsumen ke luar negri.
h. Sebagian dari usaha ini mungkin bersifat informal, pola kegiatannya tidak teratur baik dalam arti waktu maupun pemodalan.
2. Menurut Hidayat dalam buku Kebijakan Pengembangan Usaha Skala Kecil Dalam Era Pembangunan Ekonomi (1988:119) ada 11 (sebelas) karakteristik yaitu:
a. Kegiatan usaha tidak teroganisir secara baik karena timbulnya unit usaha tidak mempergunakan fasilitas atau kelembagaan yang tersedia di sektor formal.
b. Pada umumnya unit usaha tidak mempunyai ijin usaha.
c. Pola kegiatan usaha tidak teratur, baik dalam arti lokasi maupun jam kerja.
d. Pada umumnya kebijaksanaan pemerintah untuk membantu golongan ekonomi lemah tidak sampai ke sektor ini.
e. Unit usaha sudah keluar dan masuk dari satu sub sektor ke lain sub sektor.
f. Teknologi yang dipergunakan bersifat primitif.
g. Modal dan perputaran usaha relatif kecil sehingga skala operasi juga relatif kecil.
h. Pendidikan yang diperlukan untuk mcnjalankan usaha tidak memerlukan pendidikan formal karena pendidikan yang diperlukan diperoleh dari pengalaman sambil bekerja.
i. Pada umumnya unit usaha termasuk golongan 'one man enterprise' dan kalau mengerjakan buruh berasal dari keluarga.
j . Sumber dana modal usaha pada umumnya berasal dari tabungan sendiri atau dari lembaga keuangan yang tidak resmi.
k. Hasil produksi atau jasa terutama dikonsumsikan oleh golongan masyarakat kota atau desa berpenghasilan rendah dan kadang-kadang juga yang berpenghasilan menengah.
2.1.3. Pendirian Usaha Kecil Menengah
Secara garis besar ada tiga cara dasar unruk mendirikan UKM menurut Dan Steinhoff dan John F. Burgess (1993:11) dimana masing-masing memberikan kesempatan dan tantangan pada pemiliknya, dan masing-masing membutuhkan perencanaan, pengorganisasian, penerapan, dan pengontrolan supaya berhasil.
Ketiga cara tersebut adalah :
a. Memulai suatu usaha yang benar-benar baru dimana pengusaha memerlukan ide atau konsep dan menciptakan sebuah bisnis baru. Cara ini sulit tapi sangat menguntungkan bila dapat dapat dijalankan.
b. Mempelajari bisnis yang telah ada. Dalam metode ini, bisnis yang sudah ada bisa dievaluasi dengan memeriksa catatan keuangan, mencari informasi dari pekerja-pekerjanya, pemasok bahan baku, serta pelanggannya.
c. Franchise, dimana usahawan memperoleh pengalaman kerja dari induk perusahaan beserta nama, logo, teknik produksi, dan metode pelatihan.
2.1.4. Keunggulan dan Kelemahan Usaha Kecil Menengah
Menurut Marbun (1993:32-44) ada beberapa keunggulan dan kelemahan usaha kecil. Keunggulan usaha kecil secara garis besar , yaitu:
a. Hubungan yang erat dengan pelanggan, karyawan dan pensuplai.
b. Mampu memenuhi selera para pelanggan melalui kekhususan penyajian barang, kualitas, dan jasa; bukan melalui faktor-faktor harga atau produksi masal dari sejumlah barang yang umumnya seragam.
c. Kecilnya persentase biaya langsung dan aktivitas produksi non-revenue menyebabkan ada beberapa aktivitas yang dapat dilaksanakan dengan lebih
12
efisien.
d. Seringkali menjadi sumber materi, proses, gagasan, jasa, dan barang yang baru yang tidak disediakan oleh perusahaan besar.
e. Menjadi faktor pengontrol bagi perusahaan besar melalui penyajian barang, metode, dan jasa yang baru
f. Mendorong timbulnya persaingan, jika bukan dalam wujud harga. maka dalam benruk desain dan efisiensi
g. Pengenalan akan lingkungan menyebabkan pemilik dan pengelola usaha kecil setempat dapat menerapkan cara-cara tertentu untuk menarik minat masyarakat
h. Melatih karyawan untuk menjadi pemimpin yang lebih cekatan dan mendorong mereka agar mampu memanfaatkan bakat dan tenaga mereka seefektif mungkin.
i. Pengelola dituntut memiliki tanggung jawab yang lebih dalam mengelola usahanya.
j . Dapat mengubah produksinya dengan segera untuk mengikuti perubahan permintaan konsumennya.
Sedangkan kelemahan usaha kecil adalah sebagai berikut:
a. Tidak atau jarang mempunyai perencanaan tertulis
Ketidakadaan perencanaan mengakibatkan usaha kecil tidak dapat memusatkan segala tenaga dan daya untuk mencapai sasaran yang menguntungkan serta urutan prioritas.
b. Tidak berorientasi ke masa depan
Pada umumnya orientasi usaha kecil hanya pada barang atau usaha yang laku kemarin atau saat ini. Hal ini karena kurangnya pengalaman, bimbingan dan pendidikan sehmgga mereka tidak bisa atau kurang dapat membaca kecenderungan masa depan.
c. Tidak memiliki pendidikan yang relevan
Pada umumnya pendidikan para pengusaha kecil tidak sesuai dengan bidang - usahanya, karena mereka tidak mempunyai kesempatan (waktu, biaya) dan
mungkin jurusan pendidikan tersebut langka atau tidak ada.
d. Tanpa pembukuan yang teratur dan tanpa perencanaan rugi-laba
Cara pemakaian uang simpang siur karena perusahaan kecil tidak memiliki neraca rugi-laba yang baik dan tidak memiliki keahlian.
e. Tidak mempunyai atau mengadakan analisis pasar yang tepat waktu dan mutakhir
Dalam menganalisis pasar, pengusaha kecil hanya sekedar memperkirakan dan bertumpu pada pengalamn yang lalu. Umumnya kegiatan pasar dan pemasaran dilakukan berdasarkan perasaan dan pengamatan sepintas.
f. Kurang spesialisasi atau diversifikasi berencana
Kelemahan perencanaan dan tidak adanya peramalan {forecasting) yang relevan menghambat spesialisasi atau diversifikasi.
g. Jarang mengadakan pembaharuan atau inovasi
Kebanyakan usaha kecil tidak mengalami perubahan atau pembaharuan dalam produknya meskipun sudah lama berdiri.
h. Tidak ada atau jarang terjadi pengkaderan
Pemilik usaha kecil segan menurunkan ilmu kepada generasi berikutnya karena takut disaingi, kurang percaya diri, dan tidak ada kesadaran akan pengkaderan tersebut.
i. Cepat puas
Tidak adanya perencanaan dan tanpa peramalan membuat pengusaha kecil cepat merasa puas dan kurang ambisius.
j . Keluarga sentris
Kebanyakan pemilik perusahaan kecil tidak rela atau tida biasa mendelegasikan hak dan kewajiban kepada orang lain yang bukan anggota keluarga.
k. Kurang percaya pada ilmu modem
Pengusaha kecil yang telah berhasil hampir tidak terbuka lagi akan kemajuan teknologj baru, karena mereka menafsirkan ilmu modern sebagai akal-akalan dan sekedar cari uang bagi pengajar.
1. Kurang pengetahuan hukum dan peraturan
Pada umumnya pengusaha kecil kurang tanggap pada hukum y?iig berlaku atau peraturan yang ada.
M
Di dalam usaha kecil sering tunbul sistem keluarga, maksudnya beberapa anggota keluarga yang sebenarnya tidak memiliki kemampuan yang memadai diberi posisi yang tinggi. Kurangnya koordinasi antara produksi dan pemasaran juga merupakan kelemahan usaha kecil. Seharusnya usaha kecil dapat menyeimbangkan kemungkinan antara:
a. Memproduksi barang terlalu sedikit sehingga penjualan sulit untuk dilakukan b. Melakukan diversifikasi dengan tergesa-gesa. Hal ini berarti bahwa perlu suaru
keseimbangan antara keunggulan diversifikasi dengan keunggulan spesialisasi barang.
2.1.5. Strategi dalam Mengembangkan Usaha Kecil Menengah
Dalam mengembangkan usaha UKM baik secara lokal maupun untuk yang berorientasi ekspor, secara garis besar ada empat strategi yang seharusnya dijalankan. Keempat strategi ini lebih dikenal dengan istilah bauran pemasaran.
yaitu : a. Produk
Merupakan penawaran berwujud perusahaan kepada pasar yang mencakup kuahtas, rancangan, bentuk, merk dan kemasan produk.. Hal-hal tersebut harus disesuaikan dengan keinginan dan kebutuhan pembeli.
b. Harga
Merupakan sejumlah uang yang harus pelanggan bayar untuk produk tertentu.
Harga ini harus sebanding dengan penawaran nilai kepada pelanggan, jika tidak mereka akan berpaling ke produk lain.
c. Promo si
Meliputi semua kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk mengkomunikasikan dan mempromosikan produknya kepada pasar sasaran.
Kegiatan promosi ini dapat dilakukan secara langsung atau melalui media.
d. Tempat
Merupakan lokasi usaha, dimana letaknya perusahaan seharusnya stategis, bukan hannya ditinjau dari segi lokasi pasarnya saja, tetapi juga ditinjau dari segi lokasi bahan baku dan tenaga kerjanya.
2.2. Ekspor
2.2.1. Ekspor Usaha Kecii Menengah
Ekspor adalah menjual barang atau jasa ke negara lain yang diproduksi di dalam negeri. Menurut Pasal 1 ayat 9 (Bab I) Undang-Undang No. 32/1964, ekspor adalah pengiriman barang keluar Indonesia dari peredaran.Untuk pelaksanaan ekspor harus dilakukan menurut prosedur yang telah digariskan oleh pemerintah sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku.
Menurut Agunan P. Samosir dalam Jurnal Kajian Ekonomi dan Keuangan (2001:107), UKM yang melakukan ekspor dibagi menjadi dua yaitu UKM yang memproduksi komoditi pengolahan dan produk tersebut diekspor langsung ke pembeli di luar negeri, dan UKM yang memproduksi komoditi industri pengolahan tapi hasil produknya diekspor oleh institusi lain seperti agen ekspor, trading company, koperasi, dan Iain-lain.
2.2.2. Faktor-Faktor Penentu dalam Ekspor
Menurut Tulus Tambunan (2001:17), untuk meningkatkan kemampuan ekspornya atau menghadapi produk-produk impor di pasar domestik masing- masing negara memiliki keunggulan bisa secara secara alami {natural advantage) atau keunggulan yang dikembangkan {acquired advantages). Keunggulan alami yang dimiliki Indonesia adalah jumlah tenaga kerja khususnya dari golongan berpendidikan rendah dan bahan baku yang berlimpah. Kondisi ini membuat upah tenaga kerja dan harga bahan baku di Indonesia relatif murah sehingga sangat mendukung perkembangan ekspor komoditas-komoditas primer Indonesia (minyak, pertanian, manufaktur yang padat karya).
Faktor-faktor keunggulan kompetitif yang harus dimiliki untuk dapat unggul dalam persaingan di pasar dunia adalah:
a. Penguasaan teknologi.
b. Sumber daya manusia (pekerja, manajer) dengan kualitas tinggi. memiliki etos kerja, kreativitas dan motivasi yang tinggi.
c. Tingkat efisiensi dan produktivitas yang tinggi dalam proses produksi.
d. Kualitas yang baik dari barang yang dihasilkan.
e. Promosi yang luas dan agresif.
16
g. Pelayanan teknis maupun non teknis yang baik (service after sale).
h. Adanya skala ekonomis dalam proses produksi.
i. Modal dan sarana serta prasarana lainnya yang menunjang.
j . Memiliki jaringan bisnis di dalam dan terutama di luar negen.
k. Tingkat entrepreneurship yang tinggi (inovatif, kreatif, serta memiliki visi yang luas mengenai produknya dan lingkungan sekitar usahanya)
2.2.3. Keunrungan dan Kerugian Ekspor
Keunrungan usaha kecil dalam melakukan ekspor adalah:
a. Menaikkan total penjualan dan keuntungan b. Sebagai akses untuk terjun ke pasar global
c. Mengurangi ketergantungan pada pasar yang sudah ada d. Mempertinggi persaingan dalam negeri
e. Kesempatan untuk memanfaatkan teknologi dan mengetahui kondisi tempat yang diperlukan
f. Realisasi penjualan potensial dari produk yang ada dan perluasan dari daur hidup produk
g. Stabilisasi dari fluktuasi pasar musiman
h. Kesempatan untuk menjual kelebihan kapasitas produksi
i. Kesempatan untuk memperoleh informasi tentang persaingan luar negeri j . Membuat operasi pabrik dapat berkonsentrasi di suatu tempat
Sedangkan kerugiannya yaitu:
a. Mengembangkan promosi yang baru untuk produk yang sesuai dengan konsumen luar negeri
b. Menambah biaya administrasi
c. Pengalokasian dana dan tenaga kerja untuk pengiriman d. Waktu pembayaran lebih lama
e. Memodifikasi produk dan pengepakannya f. Memerlukan surat ijin khusus untuk ekspor
2.3. Bantuan Pemerintah
2.3.1. Kredit Usaha Kecil Menengah
Menurut Kadin, secara garis besar kredit yang diberikan kepada UKM digolongkan menjadi 2, yaitu Kredit Investasi (KI) dan Kredit Modal Kerja (KMK). KI adalah kredit yang diberikan pada UKM yang usahanya tidak langsung terlihat ^hasilnya, tetapi hams diinvestasikan dalam jangka vvaktu tertentu. KI diberikan pada UKM yang bergerak di bidang : industri, perkebunan dan kehutanan, petemakan, perikanan, prasarana jasa yang meliputi hotel, angkutan darat, angkutan laut, angkutan udara, angkutan danau, angkutan sungai
KMK adalah kredit yang diberikan kepada UKM untuk usaha yang hasilnya bisa langsung dilihat. KMK diberikan kepada UKM yang bergerak di bidang: ekspor, perdagangan dalam negeri (distribusi), industri, perkebunan, kehutanan, petemakan, perikanan, biro perjalanan, real estate, prasarana dan jasa meliputi transportasi, hotel, kontraktor, Ekspedisi Muat Kapal Laut (EMKL), Ekspedisi Muat Kapal Udara (EMKU)
Mekanisme kredit mulai dari awal kerja sama antara Kadin dengan bank yang bersanglcutan sampai dengan disetujuinya kredit UKM melalui proses sebagai berikut:
1. Penandatanganan perjanjian kerjasama Program Kemitraan Terpadu (PKT) antara pihak bank dengan Kadin.
2. Kadin akan mensosialisasikan PKT tersebut kepada Kadin Daerah (Kadinda), pihak bank juga akan mensosialkan PKT pada kantor cabangnya.
3. Bank dan Kadinda mempersiapkan pengarahan dan pelaksanaan sosialisasi PKT kepada UKM yang menjadi anggota Kadin.
4. Kadinda bersama dengan Pemda dan dinas terkait daerah akan menyiapkan peluang dan rencana usaha atau proyek kemitraan yang feasible (layak) berdasarkan sektor atau komoditi unggulan daerah dan mempersiapkan data base.
5. Kadinda akan melakukan validasi data anggota Kadin.
6. Kadinda melalui tim PKT akan memberikan keputusan sebagai berikut:
a. Apabila hasil dari validasi Kadinda melalui tim PKT dapat menyetujui data dan rencana perusahaan yang disampaikan oleh UKM, Kadinda akan
\H
memberikan surat keterangan pada bank, namun bank dapat memproses lebih lanjut permohonan kredit yang diajukan oleh UKM tanpa surat keterangan dari Kadinda sepanjang bank menilai layak permohonan kiedit dari UKM tersebut.
Catatan : Surat keterangan dari Kadinda kepada UKM bukan merupakan suatu jaminan bahwa permohonan fasilitas kredit dan UKM anggota Kadin harus
disetujui oleh bank.
b. Apabila dari hasil validasi Kadinda melalui rim PKT, Kadinda tidak dapat menyetujui data dan rencana perusaliaan yang disampaikan oleh UKM maka Kadinda akan menyampaikan surat penolakan kepada UKM tersebut.
7. a. Kadinda akan meraasukkan data dari formulir aplikasi kredit UKM anggota Kadin ke dalam data base pihak kedua baik formulir yang disampaikan secara langsung oleh kredit UKM kepada pihak kedua maupun yang disampaikan melalui pihak pertama.
b. Kadinda akan menyampaikan data UKM anggota Kadin secara tertulis kepada bank, apabila diperlukan oleh bank pusat.
8. UKM yang dianggap layak atau van telah mendapat surat keterangn dari Kadinda apabila diperlukan oleh bank mengajukan permohonan dan proposal kredit kepada bank.
9. Setalah bank menerima permohonan dan proposal kredit yang diajukan oleh UKM yang telah dianggap layak. maka bank akan mengadakan analisa permohonan kredit tersebut.
10. Bank akan memberikan keputusan atas hasil analisa kredit yang telah dilakukan sebagai berikut:
a. Apabila dari jumlah analisa bank dapat menyetujui permohonan kredit yang diajukan oleh UKM, maka bank akan menegaskan Surat Persetujuan Permohonan Kredit (SPPK) kepada UKM dan pemberitahuan kepada Kadinda.
b. Apabila dari hasil analisa bank tidak menyetujui permohanan kredit yang diajukan UKM, maka bank akan menegaskan dengan surat penolakn kepada UKM, dan pemberitahuan kepada Kadinda.
1 1. Dengan xelah disetujuinya pennohonan kredit oleh bank sesuai syarat-syarat kredit dalam SPPK, UKM akan menyampaikan syarat-syarat kredit yang dimaksud kepada bank, apabila UKM dapat menyetujui syarat-syarat yang telah disiapkan SPPK.
12. Bank akn memeriksa pemenuhan syarat-syarat yang diajukan UKM sesuai dengan SPPK.
13. Apabila dari hasil pemeriksaan pemenuhan syarat-syarat yang diajukan oleh UKM telah sesuai dengan SPPK, maka akan dilakukan penandatanganan perjanjian kredit antara bank dengan UKM, yang ditindaklanjuti dengan:
pengikatan jaminan, penutupan asuransi jaminan, dan sebagainya.
14. Pencairan kredit pada UKM sesuai kebutuhan dan penggunaannya.
15. Bank bersama kadinda akan melakukan pembinaan melalui pembentukan tim PKT pada tingkat pusat dan daerah, dengan melakukan ha-hal sebagai berikut:
a. Melakukan evaluasi terhadap penyaluran kredit kepada UKM secara periodik.
b. Melakukan pembinaan aspek manajemen, teknis, produksi, pemasaran sumber daya manusia dan keuangan.
16. Bank akan memberikan laporan mengenai perkembangan UKM secara tertulis periode triwulanan kepada bank pusat dan tembusan kepada Kadinda.
17. Bank pusat akan menyampaikan laporan triwulanan kepada Kadin Indonesia.
Perincian dari syarat-syarat yang hams dilengkapai UKM dalam mengajukan proposal kredit PKT adalah sebagai berikut:
1. Surat permohonan kredit
2. Data perusahaan / aspek legalitas : a. Akte Perusahaan
b. SIUP (Surat Ijin Usaha Perdagangan)
c. TDI (Tanda Daftar Industri) / IU1 (Ijin Usaha Industri) d. TDP (Tanda Daftar Perusahaan)
e. S1UJK (Surat Ijin Usaha Jasa Konstruksi) f. NPWP ( Nomor Pokok Wajib Pajak )
g. KTA (Kartu Tanda Anggota ) Kadin yang masih berlaku h. Sertifikat perusahaan dari asosiasi terkait
20
i. Struktur organisasi/'perusahaan lengkap dan fotocopy KTP ( Kartu Tanda Penduduk )
j . Surat persetujuan kredit dari pengurus atau direksi k. Surat persetujuan dari suami/istri (surat nikah dan KTP) 3. Aspek hubungan dengan bank
a. Rekening koran 12 bulan terakhir
b. Copy buku tabungan/ rekening giro/ piujaman 4. Aspek teknis produksi
a. Realisasi produksi 2 tahun terakhir b. Kapasitas produksi
c. Proses produksi / pola usaha
d. Informasi sumber dan kontinuitas bahan baku lengkap e. Info sarana produksi (lengkap termasuk kepemilikan) f. Jumlah tenaga kerja dan tenaga ahli yang digunakan g. Info sarana pendukung lainnya
5. Aspek pemasaran
a. Penjelasan dan jenis produk yang dipasarkan b. Reahsasi penjualan 2 tahun terakhir
c. Rencana produksi / pembelian tahun yang mendatang d. Rencana penjualan tahun yang akan datang
e. Pasar yang dituju f. Sistem penjualan
g. Perincian piutang terakhir (nama, alamat, dan nilainya)
h. Daftar rincian stok terakhir (bahan baku, bahan setengah jadi, dan bahan pembantu)
i. Gambaran kondisi persaingan 6. Proyek
a. Rencana anggaran biaya proyek yang dikerjakan b. Neraca 3 tahun terakhir
c. Laporan rugi-laba 3 tahun terakhir d. Cash flow selama jangka waktu kredit
e. Proyeksi rugi-laba sel ama j angka waktu kredit
7. Data pendukung lainnya
a. SPKV kontrak/ pesanan (yang pernah dan saat ini) b. Bukti pembayaran pajak terakhir
c. Surat keterangart/ referensi dari pihak-pihak terkait d. Ijin proyek (AMDAL)
e. Dan Iain-lain yang terkait serta men\inberikan keterangan 8. Jaminan
a. Fotocopy surat jaminan
b. PBB dan 1MB (termasuk polis asuransi)
c. Bukti kepemilikan, kondisi, nilai (barang bergerak) d. Foto-foto jaminan yang diajukan
2.3.2. Program Pembangunan Nasional
Tabel di bawah ini merupakan program yang akan dilakukan oleh Menegkop & UKM :
Tabel 2.2.
Rencana Aksi yang akan Dilakukan oleh Menegkop & UKM (Bekerja sama dengan Beberapa Menteri/Departemen dan badan-badan lainnya)
PROGRAM
PEMBANGUNAN j RENCANA REPETA TAHUN 2002 NASIONAL
Mengembangkan
kultur dari masyarakat miskin
Menciptakan ikiim bisnis yang kondusif
1. Mengembangkan pendidikan dan pelatihan keahlian
2. Pendampingan lewat pembibingan dan konsultasi
3. Menciptakan kenasama bisnis dan jaringan kemitraan yang didukung oleh organisasi masyarakat lokal. administrasi daerah, sektor swasta dan universitas
4. Penyediaan fasilitas-fasilitas akses pada sumber daya-sumber daya
5. Penyediaan infraslruktur bisnis dan fasilitas-fasilitas untuk keluarga miskin
1. Penyempumaan undang/ peraturan yang terkait dengan pemberdavaan KUKM berdasarkan praktek-praktek terbaik, termasuk UU koperasi, UU UK, INPRES untuk UM, peraturan pemerintah untuk
PROGRAM RAPBN TAHUN 2002 1. Pemberdavaan masyarakat
2. Pengembangan agribisnis
3. Pengembangan IKM 4. Pengembangan kewirausahaan dan daya saing dari KUKM
5. Pengembangan lembaga perdagangan dan bisnis
1. Pengembangan sistem pendi kung untuk bisnis KUKM
2. Pengembangan UKM
I
Tabel 2 . 2 . ( s a m b u n g a n )
22
koordinasi dari pengembangan bisnis kecil, peraturan daerah mengenai perijinan dengan pelayanan satu atap di lokasi bersangkutan
1. Mempersiapkan kebijaksanaan perpajakan yang Iebih menguntungkan usaha-usaha pengembangan KUKM, termasuk pengembangan sistem insentimya 2. Meningkatkan kapasiias dari pemegang saham dalam mengembangkan KUKM pada tingkat nasional dan regional dalam perencanaan, implemenlasi, koordinasi.
seperti juga kontrol dan kebijaksanaan dan program pembangunan lewat pengembangan kelembagaan dan mekamsme partisipasi serta mekanisme advokasi pembangunan 3. Perumusan garis-garis pedoman untuk persiapan kebijaksanaan dan program untuk pemberdayaan KUKM yang didasarkan pada praktek-praktek terbaik dan wajar, baik yang terkait dengan proses perencanaan, implementasi, monitoring, atau kc>rdinasi, yang didukung dengan mengembangkan pengertian antara pemegang saham dari pengembangan KUKM yang ekstensif pada tingkat nasional dan regional
4. Identifikasi dan penyempumaan dari regulasi dan kebijaksanaan mengenai KUKM yang selama ini menghambat penekanan pada gender
5. Monitoring dan evaluasi dari perkembangan kebijaksanaan moneter (suku bunga, inflasi d,an nilai tukar mata uang), dan kebijaksanaan sektora! (pertaruan, industri dan perdagangan) pada skala-skala nasional dan regional, pada pembangunan KUKM 6. Monitoring dan evaluasi dari implementasi dari UU no.5/1999 tentang pelarangan praktek monopoli, terutama yang berhubungan dengan pemberdayaan KUKM 7. Perlindungan secara sah terhadap KUKM lewat pembuatan mekanisme dan sistem penanganan pengaduan (resolusi pengaduan)
Meningkatkan
akses kepada sumber daya- sumber daya produktif
Pengembangan sistem pendanaan:
1. Penyempumaan kebijaksanaan dan pengembangan skim-skim kredit program untuk KUKM, term?cuk pengembangan lembaga keuangan mikro sebagaimana juga alat-alat pengatumya, skim-skim kredit mikro, dan sistem dana bergulir,yang didukung dengan implementasi dari sistem pengawasan, monitoring, dan evaluasi dari tunggakan utang KUKM dan solusinya, sebagaimana juga pengembangan sistem
1. Pengembangan bisnis KUKM~
2. Pembangunan UKM
T a b e l 2 . 2 . ( s a m b u n g a n )
penilaian kredit
2. Perluasan dari sumber pembiayaan KUKM, antara lain lewat perluasan dari peranan modal ventura. penyediaan kredit ekspor dan dana perimbangan.pengembangan dari industri lisensi dari pasar modal dan pengembangan dari lembaga keuangan allernalif seperli Bank Syanah dan lembaga keuangan masyarakal (LKM)
3. Pengembangan lembaga dan skim penjamin kredit untuk FCUKM. termasuk penjamin sebelum ekspor dan lembaga penjamin lokal didukung dengan implemenlasi dari sisiem pengawasan.
monitoring dan evaluasi yang dapat diukur 4. Pengembangan sistem insentif untuk sektor-sektor perbankan dan non-perbankan, unluk mengembangkan portofolio dan pendanaan KUKM sebagai suaru kesempatan bisnis yang bagus bagi bank
5. Memperkual dan memperluas LKM lewal peningkatan energi (modal.
manajemen, dan kapabilitas un;uk mengolah) dan mempelopori pendirian dari lembaga keuangan sekunder (LKS), yang didampingi
dengan dukungan aktif dari administrasi daerah
6. Pendirian dari sistem jaringan kerja informasi, monitoring, dan pengawasan.
seperti juga kerjasama antar LKM. dan antara LKM dan Bank
7. Pengembangan dan penyedia jasa-jasa, pengembangan dari jasa-jasa bisnis dan teknis (BDS)
8. Reorientasi dan / atau restrukturisasi dari lembaga-lembaga pemerintah dalam usaha untuk memberikan pelayanan-pelayanan publik dalam suatu cara ywig profrsional dan terjangkau (secara fisik dan ekonomi)
Pengembangan kewirausahaan dan tingkat daya saing dari KUKM
A. Pengembangan kewirausahaan:
1. Pengembangan sistem insentif lewat prosedur sederhana atau mudah regulasi dan perijinan, seperti juga penyediaan fasilitas dan infrastruktur dalam kerangka kerja yang mendorong pertumbuhan jumlah pengusaha- pengusaha baru
2. Promosi kewirausahaan lewat bisnis bentuk dasar dengan memanfaatkan potensi lokal, memanfaatkan BDS, sosialisai kultur bekerja dan pengusaha, sosialisasi etika bisnis seperti juga meningkatkan kapasitas dan kualitas dari material pendidikan untuk kewirausahaan
_3_. Meningkatkan kualitas pendidikan dari
1. Pengembangan kewirausahaan dan daya saing dari UKM
2. Pengembangan IKM
24
T a b e l 2 . 2 . ( s a m b u n g a n )
anggola-anggota dan manajer koperasi, sepeni juga pelatihan motivasi unluk UKM 4. Meningkalkan peran dan kapabilitas perempuan di UKM dalam mengnasai teknologi, manajemen informasi dan pasar.
Pengembangan pusa! pelatihan dikelola oleh dunia usalm' masyarakal seperli juga penguatan pusal pelatihan unluk UKM melalui peningkaian kapasiias dan jangkauan dari inkubator bisrus dan leknologi, peningkatan kapabilitas pelaxih.
penyempumaan dari material dan meiode pelatihan, akreditasi dan pusat pendidikan dan pelatihan UKM. seperti juga penguatan dari jaringan kerja antar pusat pelatihan
B. Penaembansan dan kekuatan dava saing KUKM
1. Pengadaan sistem insentif untuk pembangunan dan pemanfaatan inovasi/
teknologi lokal, misalnya melalui komersialisasi dari hasil inovasi/ teknologi lokal
2. Pengembangan KUKM dengan orientasi ekspor dan/ atau dengan basis intensif teknologi, yang didukung oleh baniuan pendanaan, penyederhanaan prosuder- prosedur ekspor dan dukungan hukm
3. Pengembangan sistem kerjasama bisnis, inovasi. informasi, transfer teknologi, interbisms ekspor group (klaster), antara UKM nasionai dan imemasional, seperti juga antara UKM nasional dan btsnis-bisnis
besar nasional berdasarkan pada prinsip kebutuhan bersama yang saling menguntungkan
4. Pengembangan fasilitas-fasilitas bisnis bersama dalam bentuk koperasi, baik di sektor agribisnis, industri atau jasa-jasa
5. Pengembangan kerangka kerja dari kerjasama untuk pengembangan teknologi antara lain melalui penelitian dan pengembangan (R&D) miltk lembaga pemerintah/ sektor swasta/ pelayanan bisnis Pengembangan
ekspor
1. Meningkatkan pangsa pasar di negara tujuan ekspor yang ada. dan memperluas negara-negara baru tujuan ekspor (terutama pasar dari negara-negara non-kuota dan pasar yang sedang berkembang di asia, afril a dan daerah di timur tengah lewat penguatan kapabihtas dari delegasi-delaegasi perdagangan, perlibatan dunia usaha dalam misi-misi perdagangan. peningkatan kulailas dari pameran perdagangan, peningkatan usaha-usaha diseminasi dan sosialisasi dari
1. Pengembangan ekpor 2. Peningkatan kerjasama ekonomi luar negeri
3. Penegmbangar. dagang dan bisnis
4. Pengembangan distribusi nasional 5. Pengembangan kewirausahaan dan daya saing dari pengusaha- pengusaha KUKM
Tabel 2.2.(sambungan)
Reorganisasi dan penguatan basis produksi dan distnbusi
Diseminasi informasi mengenai teknologi
kesepakatan diplomasi
2. Pengembangan sistem manajemen informasi, promosi, ekspor dan intemasional perdagangan yang independen, profesional dan akses yang mudah bagi dunia usaha khususnva pemain-pemain UKM
3 Reorganisasi lembaga ekspor domestik dan pembukaan kantor promosi dan / atau trading huose di beberapa negara/zone-zone tujuan utama ekspor
4. Melangsingkan dan menyederhanakan prosedur-prosedur dan fasilitas-fasilitas untuk memepercepal pelayanan bagi produk akhir ekspor
5. Mencari beberapa altematif untuk menfasilitas perdagangan asing yang baru dari kerangka kerja yang baru yang sifatnya unilateral, bilatereral, atau multilateral
6. Mengadakan forum untuk pemerintah dan bidang usaha di bidang pengembangan ekspor
1. Penguatan daya saing dari produk dan meningkatkan efisiensi distribusi, melipuri:
sosialisasi dan percobaan strategi untuk meningkatkan daya saing dengan pendekatan kJaster indusrtri, meningkatkan kapabilitas dari lembaga jasa-jasa teknologi seperti juga mempercepat transfer teknologi (proses dan produk) untuk kebutuhan-kebutuhan industn, pengembangan jaringan kerja informasi bisras, penyempurnaan garis-garis pedoman untuk implementasi dan sistem distribusi barang dan jasa, mendirikan jaringan kerja dari suplai bahan baku. pembangunan pusat distribusi daerdi
2. Meningkatkan peranan dari UKM dalam mendukung penguatan dari basis produk lewat; implementasi dari informasi teknologi, mendorong pertumbuhan UKM dengan meningkatkan usaha-usaha untuk kemitraan dan otonomi, meningkatkan diversifikasi dan desain dari produk, dan meningkatkan akses pada sumber-sumber finansial
Perluasan dari aplikasi dari sistem standarisasi dan kualitas (nasional dan intemasional) dari produk-produk barang dan jasa
1. Pengembangan fasilitas-fasilitas dan sistem untuk informasi sains dan teknologi di pusat dan daerah, terutama untuk bisnis KUKM
2. Penyediaan informasi sains dan teknologi yang siap pakai
3. Meningkatkan partisipasi dari unit pelavanan sains dan teknologi dalam
6. Diseminasi dari informasi mengenai sains dan teknologi
.
1
I I
j I j
!
I
• !
1
1
1 1 ;
! 1. Pengembangan I KM 2. Pengembangan kapabilitas teknologi dari 1 industri
3. Reorganisasi dari j stmktur industri
4. Pengembangan distnbusi nasional
5. Pengembangan ekspor
Diseminasi informasi mengenai sains dan teknologi
26
t
Tabel 2.2.(sambungan)
• 4. memberikan bantuan teknis untuk
: kesempatan-kesempatan bisnis dan menambah nilai untuk menerapkan produk i sains dan leknologi, seperti juga : mendapatkan informasi mengenai kebutuhan- , kebuluhan sains dan leknologi oleh dunia
• usaha dan masvarakal
: Pengembangan sistem informasi sektoral
!
Sumber : Tulus Tambunan (2002 : 156-161)
Tabel di bawah ini merupakan program yang akan dilakukan oleh Dinas Perindas :
Tabel 2.3.
Rencana aksi yang akan dilakukan oleh Dinas Perindag (Bekerja sama dengan beberapa Menteri/Departemen dan badan-badan lainnya)
D C ™ D ? S ! ^ ! A * - ! PERENCANAAN AKSI REPETA TAHUN PEMBANGUNAN
NASIONAL Pembuatan peraturan dan undang-undang
Menciptakan iklim bisnis yang kondusif
Mempercepat pembahasan staf dari UU mengenai penyempumaan UU no. 9/1995 mengenai UK
1. Penyempumaan undang/ peraturan yang terkait dengan pemberda\aan KUKM berdasarkan praktek-praktek terbaik. termasuk UU koperasi, UU UK, INPRES untuk UM, peraturan pemerintah untuk koordinasi dan pengembangan bisnis kecil, peraturan daerah mengenai penjinan dengan pelayanan satu atap di lokasi bersangkutan
2. Mempersiapkan kebijaksanaan perpajakan yang lebih .menguntungkan usaha-usaha pengembangan KUKM, termasuk pengembangan sistem insentifrrya .
3. Meningkatkan kapasilas dari pemegang saham dalam mengembangkan KUKM pada tingkat nasional dan regional dalam perencanaan, implementasi, koordinasi, seperti juga kontrol dari kebijaksanaan dan program pembangunan lewat pengembangan kelembagaan dan mekanisme partisipasi serta mekanisme advokasi pembangunan
4. Perumusan garis-garis pedoman untuk persiapan kebijaksanaan dan program untuk pemberdayaan KUKM yang didasarkan pada praktek-praktek terbaik dan wajar, baik yang terkait dengan proses perencanaan, implementasi, monitoring, atau koordinasi, yang didukung dengan mengembangkan pengertian antara pemegang saham dari pengembangan KUKM
PROGRAM RAPBN j TAHUN 2002
1
1. Pengembangan ! sistem pendukung ] untuk bisnis KUKM | 2. Pengembangan \ UKM
Tabel 2 . 3 . ( s a m b u n g a n ) yang ekstensif pada tingkat nasional dan regional 5. Identifikasi dan penyempuniaan dari regulasi dan kebijaksanaan mengenai KUKM yang selama ini menghambat penekanan pada gender
6. Monitoring dan evaluasi dari perkembangan kebijaksanaan moneter (suku bunga, inilasi dan nilai tukar mala uang). dan kebijaksanaan sektoral (pertanian, industri dan perdagangan) pada skala- skala nasional dan regional, pada pembangunan KUKM
7. Moniioring dan evaluasi dari implementasi dari UU no.5/1999 tentang pelarangan praktek monopoli. terutama yang berhubungan dengan pemberdayaan KUKM
8. Perlindungan secara sah terhad^p KUKM lewat pembuatan mekanisme dan sistem penanganan pengaduan (resolusi pengaduan)
Merungkatkan akses kepada sumber daya-sumber daya produktif
Pengembangan sistem pendanaan:
1. Penyempurnaan kebijaksanaan dan pengembangan skim-skim kredit program untuk KUKM, termasuk pengembangan lembaga
keuangan mikro sebagaimana juga alat-alat pengatumya, skim-skim kredit mikro, dan sistem dana bergulir,yang didukung denga;: implementasi dari sistem pengawasan, monitoring, dan evaluasi dari lunggakan ulang KUKM dan solusima.
sebagaimana juga pengembangan sistem penilaian kredit
2. Perluasan dari sumber pembiayaan KUKM.
antara lain lewat perluasan dari peranan modal
\entura penyediaan kredit ekspor 'dan dana perimbangan, pengembangan dari industri lisensi dari pasar modal dan pengembangan dari lembaga keuangan alternalif seperti Bank Syariah dan lembaga keuangan masyarakat (LKM)
3 Pengembangan lembaga dan skim penjamin kredit untuk KUKM, termasuk penjamin sebelum ekspor dan lembaga penjamin lokal didukung dengan implementasi dari sistem pengawasan, monitoring dan evaluasi yang dapat diukur
4. Pengembangan sistem insentif untuk sektor- sektor perbankan dan non-perbankan, untuk mengembangkan portofolio dan pendanaan KUKM sebagai suatu kesempatan bisnis yang bagus bagi bank
5. Memperkuat dan memperluas LKM lewat peningkatan energi (modal, manajemen, dan kapabilitas untuk mengolah) dan mempclopori pendirian dari lembaga keuangan sekunder (LKS), yang didampingi dengan dukungan aktif dari administrasi daerah
6. Pendirian dari sistem jaringan kerja informasi, monitoring, dan pengawasan, seperti juga kerjasama anlar LKM, dan antara LKM dan Bank
28
T a b e l 2 . 3 . ( s a m b u n g a n )
dari penyedia jasa-jasa, jasa-jasa bisnis dan teknis 7. Pengembangan
pengembangan dari (BDS)
8. Reorientasi dan / atau restrukturisasi dari lembaga-Iembaga pemenniah daJarn usaha unluk memberikan pelayanan-pelayanan publik daJam sualu cara yang profesional dan terjangkau (secara fisik dan ekonomi;
Pengembangan kewirausahaan dan tingkat dava saing dan KUKM
A. Pengembangan kewirausahaan:
1. Pengembangan sistem insentif lew at prosedur sederhana alau mudah regulasi dan perijinan, seperti juga penyediaan fasilitas dan infrastruktur dalam kerangka kerja yang mendorong pertumbuhan jumlah pengusaha-pengusaha baru 2. Promosi kewirausahaan lewat bisrus bentuk dasar dengan memanfaatkan potensi lokal, memanfaalkan BDS, sosialisai kultur bekerja dan pengusaha, sosialisasi etika bisnis seperti juga meningkatkan kapasitas dan kualitas dari material pendidikan untuk kewirausahaan
3. Meningkatkan kualitas pendidikan dari anggota-anggota dan manajer koperasi. seperti juga pelatihan motivasi untuk UKM
4. Meningkatkan peran dan kapabilitas perempuan di UKM dalam menguasai teknologi, manajemen informasi dan pasar. Pengembangan pusat pelatihan dikelola oieh duma usaha/
masyarakat seperti juga penguatan pusat pelatihan untuk UKM melalui perungkatan kapasitas dan jangkauan dari inkubator bisnis dan teknologi, peningkatan kapabilitas pelatih, penyempumaan dari material dan metode pelatihan, akreditasi dari pusat pendidikan dan pelatihan UKM, seperti juga penguatan dari jaringan kerja antar pusat pelatihan B.Pengembangan dari kekuatan daya saing KUKM:
1. Pengadaan sistem insentif untuk pembangunan dan pemanfaatan ino\asi/ teknologi lokal. misalnya melalui komersialisasi dan hasil inovasi/ teknologi lokal
2. Pengembangan KUKM dengan orientasi ekspor dan/ atau dengan basis intensif teknologi, yang didukung oleh bantuan pendanaan, penyederhanaan prosuder-prosedur ekspor dan dukungan hukm
3. Pengembangan sistem kerjasama bisnis, inovasi, informasi, transfer teknologi interbisnis ekspor group (klaster), antara UKM nasional dan intemasional, seperti juga antara UKM nasional dan bisnis-bisnis besar nasional berdasarkan pada prinsip kebutuhan bersama yang saling menguntungkan
4. Pengembangan fasilitas-fasili'.as bisnis bersama dalam bentuk koperasi. baik di sektor
1. Pengembangan kewirausahaan dan dava saing dari UKM
2. Pengembangan I KM
Tabel 2.3.(sambungan)
Pengembangan ekspor
^
Reorganisasi dan penguatan basis produksi dan distribusi
agribisnis. industri ataujasa-jasa
5. Pengembangan kerangka kerja dari kerjasama untuk pengembangan teknologi antara lain melalui R&D milik lembaga pemerintah/ sektor swasta/
pelavanan bisnis
1. Meningkatkan pangsa pasar di negara tujuan ekspor yang ada, dan memperluas negara-negara baru tujuan ekspor (terulama pasar dari negara- negara non-kuota dan pasar yang sedang berkembang di Asia. Afrika dan daerah di Timur Tengah lewal penguatan kapabilitas dari delegasi - delegasi perdagangan, perlibatan dunia usaha dalam misi-misi perdagangan, peningkatan kulaitas dari pameran perdagangan, peningkatan usaha-usaha di serrunasi dan sosialisasi dari kesepakatan diplomasi
2. Penembangan sistem manajemen informasi, promosi, ekspor dan internasional perdahangan yang independen, profesional dan akses yang mudah bagi dunia usaha khususnya pemain- pemain UKM
3. Reorganisasi lembaga ekspor domestik dan pembukaan kantor promosi dan/atau trading house
di beberapa negara/zone-zone tujuan utama ekspor
4. Melangsingkan dan menyederhanakan prosedur-prosedur dan fasilitas-fasilitas untuk memepercepat pelavanan bagi produk akhir ekspor 5. Mencari beberapa alternatif untuk memfasilitasi perdagangan asing yang baru dari kerangka kerja yang baru yang sifatnya unilateral, bilalereral, atau multilateral
6. Mengadakan forum untuk pemerintah dan bidang usaha di bidang pengembangan ekspor
1. Penguatan daya saing dari produk dan meningkatkan efisiensi distribusi, meliputi:
sosialisasi dan percobaan strategi untuk meningkatkan daya saing dengan pendekatan klaster indusrtri, meningkatkan kapabilitas dari lembaga jasa-jasa teknologi seperti juga mempercepat transfer teknologi (proses dan produk) untuk kebutuhan-kebutuhan industri, pengembangan janngan kerja informasi bisnis, penyempumaan garis-garis pedomanuntuk implementasi dari sistem distribusi barang dan jasa, mendinkan jaringan kerja dari suplai bahan
baku, pembangunan pusat distribusi daerah
2. Meningkatkan peranan dari UKM dalam mendukung penguatan dari basisproduk, .lewat:
implementasi dari informasi teknologi, mendorong pertumbuhan UKM dengan meningkatkan usaha- usaha untuk kemitraan dan otonomi, meningkatkan diversifikasi dan desain dari poduk, dan
1. Pengembangan ekpor
2. Peningkatan kerjasama ekonomi luarnegeri
3. Penegmbangan dagang dan bisnis 4. Pengembangan distnbusi nasional 5 Pengembangan kewirausahaan dan daya saing dari pengusaha-
pengusaha KUKM 6. Diseminasi dari informasi mengenai sains dan teknologi
1. Pengembangan IKM
2. Pengembangan kapabilitas teknologi dari industri
3. Reorganisasi dari struktur industri 4. Pengembangan distribusi nasional 5. Pengembangan ekspor
30
Tabel 2.3.(sambungan)
Meningkatkan sains dan teknologi dari dunia usaha
Diseminasi
informasi mengenai teknologi
Mengembangkan dan
mengharmonisasikan kebijaksanaan untuk pemberdayaan perempuan Meningkatkan partisipasi kelompok muda
Meningkatkan ekonomi daerah
meningkatkan akses pada sumber-sumber finansial 3. Periuasan dari aplikasi dari sistem standarisasi dan kuaJitas (nasionaJ dan intemasional) dari produk-produk barang dan jasa
Meningkatkan pemanfaatan hasil dari penelitian dan pengembangan di bidang sains dan teknologi di dalaVn masyarakat dan dunia usaha
1. Pengembangan fasilitas-fasililas dan sistem untuk informasi sains dan teknologi di pusat dan daerah, terutama untuk bisnis KUKM
2. Penyediaan informasi sains dan teknologi yang siap pakai
3. Meningkatkan partisipasi dari unit pelayanan sains dan teknologi dalam memberikan bantuan teknis untuk kesempatan-kesempatan bisnis dan menambah nilai untuk menerapkan produk sains dan teknologi. seperti juga mendapatkan informasi mengenai kebutuhan-kebutuhan sains dan teknologi oleh dunia usaha dan masyarakat
4. Pengembangan sistem informasi sektoral Menjalankan strategi dan pelibatan gender dalam berbagai kebijaksanaan pembangunan pada tingkat nasionai dalam suatu cara yang terintegrsi yang meliputi kebijaksanaan kesehatan, tenaga kerja, pendidikan, hukum, pertanian, dan KUKM
1. Mengembangkan group bisnis kelompok muda skala kecil dan menengah yang produktif 2. Melaksanakan pelatihan manajemen bisnis kelompok muda
3. Meningkatkan kapabilitas produksi dan pemasaran untuk produk unggulan dari berbagai bisnis kelompok muda dengan orientasi ekspor 1. Mengembangkan kapasitas dari lembaga ekonomi daerah/lokal
2. Menyediakan bantuan untuk teknologi produksi dan ahli-ahli manajemen termasuk jasa- jasa perbankan yang menjangkau masyarakat
3. Mengembangkan kemitraan antar pelaku ekonomi dalam kegiatan-kegiatan produksi dan pemasaran
Meningkatkan sains dan teknologi dari : dunia usaha dan ' masyarakt
Diseminasi
informasi mengenai | sains dan teknologi ;
i i i j
|
i
i
Mengembangjan dan mengharmonisasikan kebijaksanaan untuk pemberdayaan
perempuan Meningkatkan partisipasi kelompok muda
1. Pengembangan ekonomi daerah 2. Pemberdayaan masyarakat
Sumber : Tulus Tambunan (2G02:162-163)
Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menegkop &
UKM) dan Depperindag merupakan menteri kunci yang mempunyai pengaruh kuat terhadap perkembangan KUKM, baik yang ditetapkan secara spesifik melalui
suaru mandat dan Presiden, atau lewat kebijaksanaan ekonomi mereka. Fungsi utama Menegkop & UKM adalah merumuskan kebijaksanaan KUKM dan mengkoordinasikan pelaksanaan kebijaksanaan tersebut,dan tidak terlibat dalam kegiatan operasional.
2.3.3. Program Pelatihan dan Pembinaan Usaha Kecil Menengah
Untuk mengembangkan usaha UKM, Dinas Perindag Kota Surabaya telah mengadakan program pelatihan dan pembinaan yang disebut dengan Gugus Kendali Mutu (GKM). Tujuan dari GKM adalah untuk meningkatkan sumber daya manusia tentang pengetaliuan GKM di perusahaan masing-masing tempat bekerja, meningkatkan kualitas produk, mencari masalah yang timbul kemudian dicari pemecahan dari berbagai alternatif yang terbaik untuk diterapkan di industri, meningkatan produktivitas dan nilai tambah sehingga kesejahteraan karyawan tercapai. GKM yang sudah dilaksanakan mulai bulan April sampai dengan Juni tahun 2002 dirujukan kepada UKM yang bergerak di industri makanan, tekstil, minuman, dan songkok. Penerapan GKM memerlukan waktu 10 hari per industri untuk melakukan pembinaan, menganalisa kondisi. dan memperbaiki mutu. Kegiatan ini dilakukan Dinas Perindag dengan mengundang beberapa orang atau perwakilan UKM dalam satu kelurahan yang ingin belajar atau mengetahui cara pembuatan produk berkualitas di salah satu sektor industri, dimana telah direncanakan oleh Dinas Perindag dalam agenda satu tahunan.
Selain itu Dinas Perindag juga memberikan bantuan dalam bentuk peralatan yang diperlukan kepada beberapa UKM yang dianggap mempunyai prospek menjadi lebih baik untuk meningkatkan kualitas produk.
2.4. Keraogka Berpikir
32
KONSUMEN DAL AM NEGER1
*4—
PEMERINTAH
1
bantuan 1 Supply
Demand H UKM
Demand Ekspor
Kendala
PERDAGANGAN INTERN ASIONAL
Devisa
Hubungan yang sudah dilaksanakan
Hubungan yang seharusnya dapat dilaksanakan
Gambar 2.1 .Kerangka Berpikir
\