1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Wanita rentan dengan gangguan reproduksi karena organ reproduksi wanita berhubungan langsung dengan dunia luar melalui liang senggama, rongga ruang rahim, saluran telur atau tuba fallopii yang bermuara di dalam perut ibu. Hubungan langsung ini mengakibatkan infeksi pada bagian luarnya berkelanjutan dapat berjalan menuju ruang perut dalam bentuk infeksi selaput dinding perut atau peritonitis ( Manuaba, 2009).
Sistem pertahanan organ reproduksi wanita cukup baik yaitu dimulai dari sistem asam basanya, pertahanan lain yaitu dengan menstruasi walaupun demikian pertahanan ini masih tidak cukup sehingga infeksi bisa menjalar ke segala arah menimbulkan infeksi yang mendadak dan menahun salah satunya adalah Keputihan “Leukorea” (Manuaba, 2009).
Penyakit keputihan menyerang sekitar 50 % kehidupan wanita dan mengenai hampir pada semua umur. Data penelitian tentang kesehatan reproduksi wanita menunjukan 75 % wanita di dunia pasti menderita keputihan, minimal terjadi sekali dalam hidupnya dan 45% diantaranya bisa mengalami sebanyak lebih dari dua kali (Asri, 2008).
2
Keputihan merupakan gejala premenstrual syndrome sehingga keputihan juga menyerang remaja (Indarti, 2004), menurut WHO sekitar seperlima penduduk dunia adalah remaja berumur 10-19 tahun, sekitar 900 juta berada di negara berkembang. Di Jawa Tengah menurut Biro Pusat Statistik (2009) jumlah remaja putri yaitu 2,9 juta berusia 15-24 tahun (Biro Pusat Statistik, 2009).
Masa remaja merupakan suatu masa dimana terjadi kematangan fisik yang salah satunya adalah kemampuan reproduksi (Henderson, 2006).
Pertumbuhan dan perkembangan tubuh wanita tidak sama dengan pria terutama yang berhubungan dengan fungsi reproduksi seperti organ genetalia. Beberapa wanita mengalami banyak masalah atau gangguan pada organ reproduksi salah satunya adalah keputihan meskipun semua itu proses alami tetapi tetap membutuhkan perhatian dari wanita itu (Kasdu, 2005). Masalah kesehatan reproduksi remaja kurang mendapat perhatian karena umur terlalu muda, masih dalam status pendidikan sehingga seolah-olah bebas dari kemungkinan menghadapi masalah yang berkaitan dengan organ reproduksi (Manuaba, 2009). Pentingnya remaja mengetahui tentang keputihan adalah agar wanita khususnya remaja mengetahui tentang keputihan, tanda dan gejala keputihan, penyebab, dan dapat membedakan antara keputihan fisiologis (normal) dan patologis (tidak normal) sehingga wanita dapat mencegah, menangani dan segera melakukan pemeriksaan apabila terdapat tanda dan gejala keputihan yang tidak normal (patologis).
3
Keputihan fisiologis dapat terjadi pada masa menjelang dan sesudah menstruasi, Pada sekitar fase sekresi antara hari ke 10-16 menstruasi juga terjadi melalui rangsangan seksual, cairan keputihan ini tidak perlu dikhawatirkan dan biasanya akan segera kembali normal (Manuaba, 2009). Keputihan Patologis disebabkan oleh jamur, bakteri, atau parasit juga bisa disebabkan oleh penyakit keganasan dan penyakit menular seksual. Keputihan patologis ini memerlukan pengobatan untuk mencegah terjadinya komplikasi, apabila keputihan patologis tidak diobati maka infeksi dapat menjalar ke rongga rahim, ke saluran telur, kemudian ke indung telur dan akhirnya ke rongga panggul dan menyebabkan kemandulan (Indarti, 2004).
Perilaku hubungan seksual dilakukan oleh 80% laki-laki dan 70%
wanita selama masa pubertas dan 20% mempunyai lebih dari satu pasangan. Sekitar 53% wanita berumur 15-19 tahun melakukan hubungan seksual pada masa remaja (Soetjiningsih, 2004). Di Jawa Tengah pada tahun 2009 didapatkan jumlah kasus IMS (Infeksi Menular Seksual) adalah 12,678 kasus, yang sudah diobati 9,864 (77,80%). Di Kabupaten Semarang terdapat 2,351 orang kasus IMS (Infeksi Menular Seksual) dan sudah diobati 2,351 (100%) (Profil DINKES Provinsi 2009).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Cahyawati (2010) di SMA Sultan Agung 1 Semarang diperoleh sebagian besar tidak mengetahui tentang keputihan yaitu sekitar 7 orang (70%) dan yang mempunyai pengetahuan tentang keputihan sampai penanganan sekitar 3 orang (30%)
4
(Cahyawati, 2010), sedangkan menurut Wiwit (2008) di SMA Negeri 2 Semarang didapatkan dari 50 siswi yang diwawancarai terdapat 48 (96%) siswi yang mengalami keputihan. Sebanyak 23 (47,9%) siswi yang mengalami keputihan karena ketidaktahuan tentang merawat organ genetalia eksterna dan 25 (25,1%) siswi karena ketidak seimbangan hormon (Wiwit, 2008).
Dari hasil wawancara terhadap guru dan siswi di SMA Negeri 9 Semarang ternyata SMA tersebut belum pernah mendapatkan penyuluhan tentang kesehatan reproduksi dari tenaga kesehatan atau PILAR-PKBI Jawa Tengah. Berdasarkan hasil studi pendahuluan melalui wawancara terhadap 10 siswi terdapat 7 siswi tidak pernah mendapat informasi tentang keputihan, dan setelah dilakukan survey remaja putri di SMA Negeri 9 Semarang tentang pengetahuan remaja putri tentang keputihan fisiologis dan patologis diperoleh sekitar 7 siswi tidak mengetahui tentang keputihan fisiologis dan patologis sedangkan 3 orang siswi mengetahui keputihan fisiologis dan patologis.
Banyaknya siswi yang belum mengetahui tentang keputihan fisiologis dan patologis, maka peneliti tertarik untuk mengetahui lebih lanjut tentang bagaimana akses informasi dan pengetahuan remaja putri tentang keputihan fisiologis dan patologis di SMA 9 Semarang.
B. Rumusan Masalah
5
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut maka dirumuskan masalah penelitian yaitu “ Bagaimana gambaran akses informasi dan pengetahuan remaja putri tentang keputihan fisiologis dan patologis “.
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mengetahui gambaran akses informasi dan pengetahuan remaja putri n fisiologis dan patologis.
2. Tujuan khusus
a. Mendeskripsikan akses informasi remaja putri tentang keputihan fisiologis dan patologis di SMA N 9 Semarang.
b. Mendeskripsikan pengetahuan remaja putri tentang keputihan fisiologis dan patologis di SMA N 9 Semarang.
D. Manfaat penelitian 1. Bagi Remaja Putri
Dapat menambah pengetahuan dan wawasan tentang keputihan sehingga dapat melakukan upaya pencegahan dan penanggulangan.
2. Bagi Peneliti
Dapat meningkatkan dan menambah pengalaman tentang kesehatan reproduksi khususnya keputihan.
3. Bagi Institusi Pendidikan
6
Dapat digunakan sebagai sumber informasi dan sarana pengetahuan bagi masyarakat
4. Bagi Tenaga Kesehatan
Dapat menambah pengalaman dan sebagai sumber informasi dalam memberikan penyuluhan atau pendidikan kesehatan.
E. Keaslian Penelitian
Tabel 1.1 Keaslian Penelitian
N Judul, Nama dan Tahun Sasaran Variabel yang diteliti
Metode Hasil
1 Hubungan Pengetahuan Dengan Penanganan Keputihan pada siswi Pondok Pesantren Darul Hasanah Desa KaliKondang Demak, (Kurnia Magfiroh, 2010)
50 orang
responden siswi Pondok
Pesantren Darul Hasanah Desa KaliKondang Demak
Variabel yang diteliti adalah hubungan
Pengetahuan Dengan Penanganan Keputihan pada siswi Pondok Pesantren Darul Hasanah
Jenis
penelitian ini adalah Analitik dengan pendekatan cross sectional
Ada Hubungan Pengetahuan Dengan Penanganan Keputihan pada siswi Pondok Pesantren Darul Hasanah
2 Hubungan antara tingkat pengetahuan dan perilaku merawat organ genetalia eksterna wanita dengan keputihan yang dialami siswi SMU Negeri 2 Semarang (Wiwit Putri Noviati, 2008)
50 orang
responden adalah siswi SMU Negeri 2 Semarang
Variabel yang diteliti adalah tingkat
pengetahuan dan perilaku merawat organ genetalia eksterna dengan keputihan di SMU Negeri 2 Semarang
Jenis penelitian adalah metode survey analitik dengan pendekatan cross sectional
Ada hubungan antara perilaku merawat organ genetalia eksterna dengan keputihan yang dialami siswi
SMUN 2
Semarang 3 Studi Deskriptif Tingkat
Pengetahuan dan sikap Remaja Putri tentang Keputihan di SMA Sultan Agung 1 Semarang (Lia Cahyawati, 2010)
40 responden siswi SMU Negeri 3 Demak
Tingkat
Pengetahuan dan sikap Remaja Putri tentang keputihan di SMA Sultan Agung 1 Semarang
Metode Penelitian Yaitu Deskriptif
Tingkat Pengetahuan siswi tentang keputihan meliputi pengertian keputihan, klasifikasi keputihan, infeksi keputihan dan pencegahan keputihan mayoritas masih kurang (70%).
7
Dari penelitian sebelumnya terdapat perbedaan antara lain : Perbedaan dari penelitian ini adalah peneliti pertama meneliti tentang hubungan pengetahuan dengan penanganan keputihan pada remaja putri, penelitian dilakukan di Pondok Pesantren Darul Hasanah Desa Kalikondang Demak Pada tahun 2010 dengan menggunakan metode analitik, peneliti kedua meneliti tentang hubungan tingkat pengetahuan dan perilaku merawat organ genetalia pada siswi di SMU Negeri 2 Semarang pada tahun 2008 dengan metode analitik, peneliti ketiga meneliti tentang pengetahuan dan sikap remaja putri tentang keputihan pada siswi SMA Sultan Agung 1 Semarang pada tahun 2008 dengan menggunakan metode deskriptif berdasarkan umur dan pendidikan sedangkan penelitian kali ini meneliti tentang akses informasi dan pengetahuan remaja putri tentang keputihan fisiologis dan patologis di SMA Negeri 09 Semarang pada tahun 2011.