• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Perubahan Fungsi Lahan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Perubahan Fungsi Lahan"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Perubahan Fungsi Lahan

Konversi lahan pertanian dewasa ini telah menjadi isu global, tidak saja di negara berkembang di mana pertanian masih menjadi sektor dominan, tetapi juga di negara- negara maju. Dalam prosesnya, konversi lahan pertanian senantiasa berkaitan erat dengan ekspansi atau perluasan lahan perkotaan sebagai wujud fisik dari proses urbanisasi. Kiveil (1993) menggambarkan bagaimana lahan menjadi faktor kunci dalam kaitannya dengan pola dan proses perubahan kota. Hal ini karena terdapat kaitan yang erat antara penggunaan lahan dan perubahan demografis di kawasan perkotaan, yang dapat ditunjukkan dalam ukuran konsumsi lahan perkotaan marjinal per peningkatan rumah tangga (Vesterby dan Heimlich, 1991).

Kota Tangerang, merupakan salah satu contoh wilayah yang tumbuh dan berkembang dari status Kabupaten menjadi Kota, dan seiring laju perkembangan wilayah perkotaan, telah terjadi konversi yang bersifat masif dari pertanian subur ke penggunaan non pertanian, terutama dalam wilayah yang dipengaruhi oleh pertumbuhan sektor industri dan jasa perdagangan berikut perkembangan pembangunan permukiman seiring pertumbuhan penduduk yang meningkat pula.

Terlebih dalam perspektif makro, seperti kota Tangerang yang pertumbuhannya sangat pesat bahwa fenomena konversi lahan pertanian terjadi dalam konteks transformasi struktural perekonomian dan demografis. Tranformasi struktural dalam perekonomian, dari yang semula bertumpu pada pertanian ke arah yang lebih bersifat industri, dan pertumbuhan penduduk perkotaan yang pesat akan mengakibatkan konversi dari penggunaan lahan pertanian ke penggunaan non pertanian yang luar biasa.

Terkait rencana peluasan bandara Soekarno Hatta yang akan mengkonversi lahan

pertanian di sekitar wilayah bandara tersebut, telah ditetapkan dengan Surat

Keputusan Walikota Nomor 460-38-2002 mengenai penetapan pembebasan lahan

seluas 565 ha yang merupakan areal lahan pertanian produktif. Rencana lokasi untuk

(2)

perluasan lahan bandara tersebut di antaranya di wilayah kecamatan Benda, wilayah kecamatan Neglasari.

Berikut ini Tabel I.1 adalah penggunaan lahan di Kota Tangerang dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2005 berdasarkan data yang diperoleh dari bagian Pengolahan Data Elektronik Pusat Pemerintahan Kota Tangerang (sumber dari BPN kota Tangerang).

Tabel I.1 Tata guna lahan kota Tangerang

(Ha)

Penggunaan Lahan

Tahun

2000 2001 2002 2003 2004 2005 Pertanian 4.468 4.459 4.319,52 4.318,50 4.318,50 4.318,50

Urban Industri 9.234 9.234,55 9.522,36 9.787,50 10.100,78 10.431,22 - Urban

(Permukiman) 5.886 5.971,55 6.126,36 6.288,50 6.534,78 6.813,22 - Industri

(Lahan Aktivitas Non Pertanian)

3.348 3.353 3.396 3.499 3.566 3.618

Belum

Terpakai 2.860 2.778,45 2.567,12 2.303 1.989,72 1.659,28 Bandara

Soekarno Hatta 1.816 1.816 1.969 1.969 1.969 1.969 Total Lahan 18.378 18.378 18.378 18.378 18.378 18.378

Catatan : Luas Lahan Pertanian tahun 2004 dan 2005 tidak ada data (disamakan dengan tahun 2003) Sumber / Source : BPS Kota Tangerang & Bagian Data Elektronik Puspen Kota Tangerang

Tabel I.1 di atas menggambarkan terjadinya penurunan luas lahan pertanian dan lahan belum terpakai dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2005. Sebaliknya, terjadi peningkatan luas lahan urban industri dari tahun 2000 sampai dengan 2005 yang mengkonversi dari lahan pertanian dan lahan belum terpakai. Untuk lahan bandara Soekarno Hatta pada tahun 2002 terjadi peningkatan dari 1.816 ha menjadi 1.969 ha yang mengkonversi lahan pertanian yang berada di sekitar wilayah bandara tersebut.

Pada tahun 2005, penggunaan lahan di kota Tangerang seluas 18.378 Ha tercatat

antara lain untuk penggunaan aktivitas ekonomi nonpertanian seperti kegiatan

industri besar/sedang, perdagangan dan jasa, transportasi, permukiman, dan lain-lain

seluas 10.431,22 Ha; sedangkan seluas 4.318,50 merupakan lahan pertanian

(3)

(ekonomi pertanian). Untuk kegiatan Bandara Soekarno Hatta seluas 1.969 Ha dan sisa lahan belum terpakai sekitar 1.659,28 Ha.

Pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat, ditambah pula dengan rencana konversi lahan pertanian untuk perluasan bandara Soekarno Hatta, hal ini akan terus mengurangi lahan pertanian. Dalam rangka memelihara pembangunan pertanian berkelanjutan dan menjaga keseimbangan lingkungan, dikaitkan dengan makin berkurangnya lahan pertanian itu, kota Tangerang membutuhkan penyediaan kawasan khusus pertanian yang teratur dan terencana dengan baik. Penyediaan kawasan pertanian di kota Tangerang tersebut telah direncanakan sejak tahun 1999 yang dikuatkan dengan hasil kajian pekerjaan konsultan mengenai masih diperlukannya ketersediaan lahan pertanian (sawah) perkotaan. Di samping itu, peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2007 menyaratkan adanya Tata Ruang Hijau yang di dalamnya terdapat lahan pertanian perkotaan.

Di samping disebabkan oleh rencana perluasan bandara Soekarno Hatta, fenomena konversi atau alih fungsi lahan pertanian ke penggunaan non pertanian yang berlangsung pesat di kota Tangerang merupakan risiko suatu wilayah terhadap pengembangan perkotaan yang makin pesat. Laju konversi itu di kota Tangerang juga mendapat perhatian karena menyangkut dimensi permasalahan yang luas.

Pertama, dalam konteks makro fenomena ini merupakan dampak dari proses transformasi struktur ekonomi (dari pertanian ke industri maupun dari pertanian ke sektor jasa dan perdagangan), serta dampak demografis (dari perdesaan ke perkotaan) yang pada gilirannya menuntut pula adanya transformasi alokasi sumber daya lahan dari pertanian ke non pertanian. Kedua, fenomena konversi itu justru terjadi pada lahan sawah di wilayah selama ini menghasilkan produksi padi, yaitu wilayah kecamatan Benda (wilayah perluasan Bandara Soekarno Hatta) yang memiliki produktivitas tinggi karena didukung oleh prasarana irigasi teknis sehingga dapat menjadi ancaman terhadap usaha tani dan mempertahankan supply beras khususnya untuk masyarakat setempat di wilayah Desa Belendung dan sekitarnya.

Ketiga, fenomena konversi lahan pertanian (sawah) terkait dengan dampak sosial-

ekonominya, dalam skala mikro rumah tangga petani, terutama kaitannya dengan

pergeseran struktur ketenagakerjaan dan penguasaan-pemilikan lahan pertanian.

(4)

Dalam konteks regional lokasi Kota Tangerang yang potensial, terutama dinilai dari aksesibilitas dengan pusat kota Jakarta, Bandara Soekarno Hatta, pelabuhan laut Tanjung Priok dan Bojonagara di Cilegon, dan kota-kota lainnya di Jabodetabek dan Jawa Barat; menyebabkan kota ini menjadi sangat menarik bagi perkembangan kegiatan seperti perumahan, industri, perdagangan dan jasa. Keterbatasan lahan di DKI Jakarta untuk kegiatan industri dan perumahan mengakibatkan adanya pergeseran kegiatan itu ke wilayah penyangga, termasuk Kota Tangerang.

Sejalan dengan perkembangan kedua kegiatan tersebut, berkembang pula kegiatan perdagangan dan jasa serta pergudangan di sepanjang koridor jalan utama yang menghubungkan simpul-simpul utama transportasi nasional dan internasional dengan DKI Jakarta. Perkembangan kegiatan-kegiatan tersebut kemudian menimbulkan beberapa masalah bagi kota Tangerang.

Lahan pertanian yang direncanakan untuk penggunaan perluasan Bandara Soekarno Hatta (perubahan peruntukan) di wilayah perluasan Bandara Soekarno Hatta terletak di lokasi berikut (Tabel I.2).

Tabel I.2 Lahan sawah yang direncanakan akan dikonversi ke penggunaan non pertanian

LOKASI / LUAS SAWAH (HA)

KECAMATAN BENDA KECAMATAN NEGLASARI JUMLAH

Benda Jurumudi Pajang Belendung Karanganyar Karangsari Selapajangjaya

132 10 - 137 91 85 110 565

Sumber / Source : BPS Kota Tangerang & Bagian Data Elektronik Puspen Kota Tangerang

Tabel I.2 memperlihatkan areal lahan pertanian yang mengalami konversi sangat

terkait dengan perubahan perluasan areal Bandara Soekarno Hatta, di antaranya di

wilayah kecamatan Benda (kelurahan Jurumudi, Benda, dan Belendung) status lahan

dimiliki oleh perorangan, dan 20% persen sudah dialihfungsikan ke penggunaan

permukiman dan jasa perdagangan, sedangkan selebihnya 80% masih dimanfaatkan

oleh petani penggarap (buruh tani) untuk bercocok tanam padi. Untuk wilayah

kecamatan Neglasari (kelurahan Karanganyar, Karangsari, Selapajangjaya) status

(5)

lahan pertanian adalah milik PT. Angkasa Pura II (55%), luas lahan tersebut terletak di lokasi kecamatan Neglasari, selebihnya 45% adalah milik perseorangan;

penggunaan lahan masih dimanfaatkan oleh petani setempat.

Gambar I.1 Peta wilayah kota Tangerang

Sumber : hasil modifikasi sendiri berdasarkan data Bagian Elektronik Puspen kota Tangerang

Gambar I.1 di atas menggambarkan wilayah kota Tangerang (dibatasi oleh garis tebal warna merah), yang berbatasan langsung di sebelah barat dengan Kecamatan Cikupa kabupaten Tangerang, akses langsung ke pulau Sumatera (samudera Indonesia). Sebelah utara, berbatasan dengan kecamatan Teluknaga dan kecamatan Sepatan kabupaten Tangerang. Sebelah selatan, berbatasan dengan kecamatan Curug, kecamatan Serpong dan kecamatan Pondok Aren kabupaten Tangerang.

Sebelah timur berbatasan dengan DKI Jakarta. Letak geografis yang sedemikian itu sangat menguntungkan bagi daerah Kota Tangerang, terutama dalam pengembangan ekonomi wilayah.

KONVERSI LAHAN PERTANIAN UNTUK

RENCANA PERLUASAN

BANDARA SOETTA

KABUPATEN TANGERANG

KABUPATEN TANGERANG

DKI JAKARTA KOTA

TANGERANG

TIMUR BARAT

S U

(6)

Gambar I.2 Lokasi penelitian

Sumber : hasil modifikasi sendiri berdasarkan data Bagian Elektronik Puspen kota Tangerang

Gambar I.2 merupakan gambaran lokasi penelitian di sekitar wilayah bandara Soekarno Hatta di mana kebutuhan lahan yang semakin tinggi untuk kepentingan aktivitas transportasi udara terkait dengan perluasan Bandara Soekarno Hatta yang akan mendesak lahan yang diperuntukkan untuk kepentingan pertanian, karena lahan pertanian yang ada tersebut lebih cenderung digunakan untuk suatu kegiatan pembangunan yang nilai ekonominya lebih tinggi. Surat Keputusan Walikota Nomor 460-38-2002 mengenai penetapan pembebasan lahan seluas 565 hektar di wilayah Kecamatan Neglasari, kecamatan Benda untuk perluasan Bandara Soekarno Hatta, nampaknya kebijakan tersebut kurang mempertimbangkan kaidah keseimbangan ekologis dan tujuan memelihara pertanian berkelanjutan.

Perkembangan penduduk di kota Tangerang dari tahun 2000 sampai dengan 2005 mengalami peningkatan yang cukup tinggi. Pada tahun 2000 jumlah penduduk sekitar 1.311.746 jiwa, dan pada tahun 2005 meningkat menjadi 1.507.084 jiwa.

Tingkat pertumbuhan penduduk kota Tangerang cukup tinggi rata-rata sebesar 4%/tahun selama tahun 2002 sampai dengan 2005 (Gambar I.3). Kota Tangerang sampai saat ini dapat dikatakan cukup padat, dimana tiap kilometer persegi dihuni rata-rata 8.552 jiwa.

Error! Objects cannot be created from editing field codes.

(7)

Gambar I.3 Perkembangan Penduduk dan PDRB kota Tangerang (tahun 2000 s.d. 2005)

Sumber : hasil olahan sendiri berdasarkan data Bagian Elektronik Puspen kota Tangerang

Laju pertumbuhan ekonomi kota Tangerang dari tahun 2000 sampai dengan 2005 cukup baik, ada peningkatan meskipun pertumbuhannya lambat. Gambar I.3 memperlihatkan PDRB kota Tangerang yang menunjukkan perkembangan yang agak lambat, namun tetap tumbuh, rata-rata pertumbuhannya per tahun sekitar 6,04%/tahun. Sedangkan Gambar I.4 memperlihatkan PDRB per kapita yang tidak tumbuh (tetap)/tidak ada peningkatan dari tahun 2003 sampai dengan 2005 sekitar 4,7 juta rupiah/tahun/kapita.

Gambar I.4 PDRB Perkapita dan Tingkat Pengangguran (tahun 2000 s.d. 2005)

Sumber : hasil olahan sendiri berdasarkan data Bagian Elektronik Puspen kota Tangerang

Kondisi tenaga kerja dikelompokkan dalam kategori tenaga kerja di sektor pertanian

dan di sektor nonpertanian. Tenaga kerja pertanian dari tahun 2000 sampai dengan

(8)

tahun 2005 mengalami penurunan karena terkait dengan berkurangnya luas lanah pertanian, hingga tahun 2005 hanya sekitar 2% dari tenaga kerja total. Sedangkan tenaga kerja non pertanian tahun 2000 sekitar 463.193 orang dan mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Peralihan tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor non pertanian lebih kurang akibat daya tarik di sektor nonpertanian yang lebih memiliki peluang untuk menaikkan pendapatan, selain akibat beralihfungsinya lahan pertanian ke penggunaan nonpertanian.

Meningkatnya jumlah penduduk akan mengurangi luas lahan pertanian dan lahan belum terpakai untuk dimanfaatkan sebagai lahan permukiman. Berkurangnya luas lahan pertanian akan berpengaruh konstribusi PDRB pertanian yang makin berkurang pula. Selain itu, tenaga kerja yang tidak terserap di sektor nonpertanian menambah jumlah angka pengangguran. Gambar 1.4 melukiskan tingkat pengangguran di kota Tangerang sampai dengan 2005 mencapai 29%, terkait juga dengan meningkatnya orang untuk inmigrasi tanpa bekal pendidikan dan ketrampilan yang cukup.

Perumusan Masalah

1. Persoalan konversi lahan pertanian ke penggunaan kegiatan perkotaan (permukiman, perdagangan dan jasa, dan industri) terjadi secara pesat di kota Tangerang, akibat pengaruh peningkatan jumlah penduduk dari tahun ke tahun.

Oleh karena itu, kebutuhan lahan urban industri ini sangat terkait langsung dengan perkembangan jumlah penduduk dan pertumbuhan ekonomi di sektor industri.

2. Makin berkurangnya luas lahan pertanian akibat kebutuhan lahan nonpertanian yang meningkat.

3. Pertumbuhan PDRB berjalan lambat, seiring laju pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi, sehingga laju pertumbuhan PDRB per kapita tidak tumbuh secara wajar. Selain itu, konstribusi dari PDRB pertanian yang makin berkurang dari tahun ke tahun.

4. Terjadi penurunan tenaga kerja di sektor pertanian, hal ini terkait makin

berkurangnya lahan pertanian. Berdasarkan komposisi tenaga kerja, 36%

(9)

merupakan penduduk usia produktif dari jumlah penduduk. Tingkat pengangguran pada tahun 2005 mencapai angka 29% dari jumlah penduduk.

Jumlah penduduk yang terserap sebagai tenaga kerja di sektor nonpertanian pada tahun 2000 sekitar 463.193 orang sedangkan di sektor pertanian sebanyak 663 orang. Peningkatan jumlah penduduk yang cukup tinggi tidak sebanding dengan kebutuhan tenaga kerja di sektor pertanian, menambah jumlah angka pengangguran dari tahun ke tahun.

5. Rencana perluasan bandara Soekarno Hatta yang akan mengkonversi lahan pertanian untuk perluasan wilayah bandara Soekarno Hatta agar mencapai standar bandara internasional 3000 ha.

6. Di satu sisi ada keinginan dari pihak pemerintah kota Tangerang untuk tetap mempertahankan adanya lahan pertanian di wilayah kota Tangerang, serta keinginan untuk dapat meningkatkan PDRB kota dan PDRB per kapita.

1.3 Pertanyaan Penelitian

Fenomena yang menjadi persoalan tesis sesungguhnya memunculkan banyak sekali pertanyaan yang menghendaki jawaban. Namun demikian, dengan segala keterbatasan yang ada, tesis ini difokuskan pada tataran kebijakan tata kelola lahan di perkotaan atau tingkat kota. Pertanyaan-pertanyaan penelitian yang hendak dijawab melalui tesis ini adalah sebagai berikut.

Berdasarkan perumusan masalah yang telah diuraikan terdahulu, fokus permasalahan dapat diidentifikasi sebagai berikut.

1. Bagaimana dinamika perubahan luas lahan pertanian dan perubahan penggunaan lahan lainnya yang terjadi di Kota Tangerang dapat dipahami sebagai suatu sistem melalui pemodelan system dynamics; bagaimanakah perilaku model tersebut dan hal-hal apakah yang dapat dipelajari dari model untuk membangun pemahaman tentang sistem yang sesungguhnya.

2. Sejauhmana implikasi konversi lahan pertanian terhadap perubahan sosial ekonomi dalam konteks persoalan ini adalah terhadap perekonomian kota Tangerang.

3. Strategi dan kebijakan apakah yang mungkin dapat dilakukan untuk

(10)

mengintervensi model agar dapat menghasilkan perilaku yang lebih dikehendaki dan apakah implikasinya terhadap sistem sebenarnya.

1.4 Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Dengan menjawab petanyaan-pertanyaan penelitian di atas, studi yang dilakukan diharapkan dapat mencapai tujuan-tujuan sebagai berikut.

1. Mengkaji kemungkinan penerapan pemodelan dan simulasi system dynamics dalam memahami perilaku sistem yang sesungguhnya, dan menentukan strategi dan kebijakan yang dapat dilakukan terhadap sistem untuk menghasilkan perilaku yang lebih dikehendaki.

2. Mengkaji pengembangan metode alternatif bagi basis penentuan kebijakan pengelolaan lahan perkotaan melalui pengendalian konversi lahan pertanian perkotaan dengan pendekatan system dynamics.

3. Sebagai sumbangan pemikiran dalam upaya mengatasi persoalan kebijakan yang umumnya terjadi di daerah-daerah dalam pengelolaan lahan perkotaan, khususnya pengelolaan lahan pertanian perkotaan di Kota Tangerang.

Kegunaan penelitian ini adalah :

1. Memberikan informasi bagaimana dinamika perubahan penggunaan lahan dan pengaruhnya terhadap keberadaan kawasan lahan pertanian.

2. Memberikan informasi kepada pemerintah daerah dalam menentukan kebijakan tata ruang wilayah agar tetap memberikan aspek lingkungan terutama keberadaan kawasan lahan pertanian perkotaan sebagai bentuk komitmen dan kepatuhan terhadap Peraturan Perundangan-Undangan yang diberlakukan.

3. Memberikan solusi pemikiran dalam mengatasi terjadinya konversi lahan dan upaya pengendaliannya serta penentuan kebijakan yang tepat.

I.5 Kerangka Konseptual

Dengan diberlakukannya undang-undang tata ruang tahun 2007 dan Peraturan

Menteri Dalam Negeri No. 1 Tahun 2007, yang mensyaratkan lahan pertanian

perkotaan include dalam Ruang Terbuka Hijau di Perkotaan, persoalan konversi

lahan pertanian di kota Tangerang merupakan bentuk pelanggaran terhadap

Peraturan Menteri Dalam Negeri tersebut. Di samping itu, fenomena ini juga sebagai

(11)

trend masa kini atas persoalan konversi lahan yang bukan peruntukkannya. Konversi lahan pertanian ke penggunaan nonpertanian akan mempengaruhi penurunan atas konstribusi pendapatan di sektor pertanian. Semakin luas lahan pertanian yang dikonversi ke penggunaan nonpertanian, maka semakin berkurang pendapatan di sektor pertanian. Pengaruh langsung konversi lahan pertanian ini adalah menurunnya daya beli masyarakat tani kota (buruh tani/penggarap) dan kesulitan pemenuhan hidup yang sebelumnya bergantung pada lahan pertanian. Pengaruh tidak langsungnya adalah menurunnya pendapatan di sektor pertanian dan PDRB sektor pertanian kota Tangerang maupun terhadap perekonomian kota Tangerang pada umumnya.

Kerangka konseptual dinamika lahan dalam perekonomian kota Tangerang diperlihatkan dalam Gambar I.5 berikut.

Gambar I.5 Konsep Dasar Model Dinamika Proses Pengembangan Kota Tangerang

Gambar I.5 memperlihatkan causal loop yang terdiri atas 3 (tiga) sektor yaitu lahan, penduduk, dan ekonomi. Interaksi di antara ketiga sektor tersebut menghasilkan 5

EKONOMI

KETERSEDIAAN LAHAN

POPULASI

+

- +

- +

+

Loop 3

(+)

Loop 2

Loop 1

(-) (-)

Loop 4

(-)

Loop 5

(-)

(12)

(lima) umpan balik yaitu 1 (satu) umpan balik positif dan 4 (empat) umpan balik negatif. Loop 1 (negatif) menghubungkan antara ekonomi, ketersediaan lahan, dan ekonomi; artinya jika kegiatan ekonomi meningkat maka jumlah ketersediaan lahan akan berkurang, dan pada gilirannya ketersediaan lahan yang berkurang dapat membatasi peningkatan ekonomi tersebut. Loop 2 (negatif) menghubungkan antara populasi, ekonomi, lahan dan populasi. Loop 2 ini mempunyai perilaku menyeimbangkan, jumlah penduduk yang bertambah akan meningkatkan perekonomian, yang kemudian dapat mengurangi ketersediaan lahan, yang pada akhirnya dapat menyeimbangkan pertambahan penduduk itu.. Loop 3 (positif) menghubungkan antara populasi, ekonomi, dan populasi; artinya jika populasi bertambah akan meningkatkan aktivitas ekonomi, aktivitas ekonomi yang baik akan menyebabkan ketertarikan penduduk untuk inmigrasi, yang pada gilirannya akan meningkatkan populasi itu kembali. Loop 4 (negatif) menghubungkan antara populasi, ketersediaan lahan, dan populasi; artinya bertambahnya penduduk akan mengurangi ketersediaan lahan, sebaliknya menurunnya ketersediaan lahan akan menekan inmigrasi, yang pada gilirannya dapat mengurangi pertambahan penduduk itu (penyeimbangan). Loop 5 (negatif) menghubungkan antara ekonomi, populasi, ketersediaan lahan, dan ekonomi; artinya jika ekonomi tumbuh berkembang akan menjadi daya tarik penduduk untuk inmigrasi, penduduk dapat bertambah yang akan mengurangi ketersediaan lahan, dan pada gilirannya berkurangnya ketersediaan lahan ini akan membatasi peningkatan kegiatan ekonomi tersebut (penyeimbangan).

Pendekatan mendasar terhadap persoalan dalam kajian tesis ini adalah melalui

perubahan yang terjadi pada kondisi lahan sebagai suatu konsep tata guna lahan

perkotaan. Konversi lahan pertanian ke penggunaan nonpertanian karena

kepentingan pembangunan dan trend pertumbuhan kawasan perkotaan yang pesat,

lebih berkaitan dengan perubahan-perubahan yang timbul dalam struktur sosial

ekonomi masyarakat yang sulit untuk dihindari, antara lain kebutuhan lahan

permukiman yang meningkat seiring meningkatnya jumlah penduduk,

perkembangan sektor jasa dan perdagangan dan industri, dan sebagainya.

(13)

1.6 Metodologi Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan system dynamics (dinamika sistem) dengan melakukan kegiatan survey lapangan, yang didukung dengan wawancara dan studi literatur. Tasrif (1985) dalam Mulyana (1999) menyebutkan bahwa pemodelan dinamik terdiri atas 6 (enam) tahapan, yaitu : (1) definisi masalah, (2) konseptualisasi sistem, (3) representasi model, (4) analisis perilaku model, (5) evaluasi model, (6) analisis kebijakan dan implementasi model.

System Dynamics sebagai salah satu metode berpikir sistem yang bisa melihat persoalan secara komprehensif serta berbagai aspek secara integral. Dalam tesis ini system dynamics digunakan untuk mengkaji proses berjalannya pembangunan dan disain kebijakan yang berbasis pengelolaan lahan pertanian di kawasan perkotaan/pinggiran kota dalam rangka mempertahankan produksi hasil budi daya pertanian dan peningkatan kesejahteraan petani maupun memelihara kualitas lingkungan hidup, melalui kebijakan yang tetap menjaga keberadaan lahan pertanian dan kebijakan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan di kota Tangerang.

Langkah-langkah pemodelan system dynamics merupakan salah satu metode berpikir sistem yang diharapkan kurang lebih dapat menganalisis sistem dinamis yang dapat digunakan untuk melihat persoalan, menangani kerumitan, perubahan, dan ketidakpastian dari sebuah sistem yang nyata ini, meski nantinya tidak luput dari kekurangan dan keterbatasan. Namun paling tidak, model ini dapat digunakan sebagai pembelajaran tentang proses dinamis dalam rangka membawa kesadaran berpikir sistemik yang kreatif dengan pandangan antisipatif ke depan mengenai kebijakan masa lampau dan sekarang yang terkadang kurang tepat.

Secara umum, system dinamics merupakan strategi yang cocok untuk menjawab

pertanyaan penelitian how dan why, di mana pertanyaan ini dijawab dengan

pendekatan struktural. Sebagai suatu pendekatan struktural, fokus penelitian tidak

terletak pada data tetapi pada struktur fenomena dan perilakunya; dan pendekatan ini

didasarkan pada paradigma system thinking.

(14)

Dalam rangka membangun model dinamika sistem, data-data yang dibutuhkan diperoleh melalui pengamatan yang dilakukan pada beberapa tahapan pemanfaatan lahan pertanian/sawah ke penggunaan nonpertanian, termasuk data awal mulai tahun 2000 sampai saat dilakukan penelitian. Namun untuk model data hanya smapai tahun 2005. Selain itu, aspek pendukung lainnya yang akan dilihat meliputi sosial ekonomi dan budaya masyarakat sekitar kota Tangerang, kebijakan birokrasi terhadap pelaksanaan pengelolaan dan pemanfaatan lahan pertanian/sawah di kota Tangerang, kegiatan pertanian menjadi kebutuhan konsumsi pangan masyarakat sekitar kota Tangerang.

Model disimulasikan menggunakan software/perangkat lunak Powersim Constructor versi 2.5. Selanjutnya model disimulasikan untuk mengetahui kecenderungan perilakunya, guna menyimpulkan hal-hal penting dalam kaitan dengan alternatif kebijakan yang akan diterapkan. Gambar I.6 menggambarkan tahapan penelitian, diawali dengan melakukan perencanaan penelitian dengan didasarkan pada kajian terhadap literatur yang terkait dengan tesis. Selanjutnya, melakukan survey pendahuluan untuk menggumpulkan data yang diperlukan. Data yang diperoleh dianalisis, selanjutnya menyusun konsep sistem yang akan dibangun dalam model.

Terhadap model yang sudah dirancang dilakukan verifikasi untuk membuktikan

apakah model valid atau sesuai dengan kondisi sebenarnya. Tahap berikutnya

melakukan simulasi untuk melihat perilaku yang terjadi, kemudian menganalisis

adanya persoalan-persoalan yang terjadi. Tahap akhir adalah menetapkan beberapa

alternatif kebijakan dan melakukan analisis kebijakan untuk mendapatkan kebijakan

yang paling tepat untuk diimplementasikan agar sesuai dengan kondisi yang

diinginkan. Berikut adalah Gambar I.6 yang melukiskan tahapan penelitian yang

telah diuraikan di atas.

(15)

Gambar I.6 Tahapan Penelitian

1.7 Sistematika Penulisan

Permasalahan dan berbagai latarbelakang persoalan yang disajikan dalam penelitian ini berikut maksud dan tujuan, metodologi dan sistematikanya tertuang dalam Bab I.

Sedangkan Bab II menyajikan bahasan secara teoritis atas permasalahan dalam studi ini, pembahasan atas hasil studi yang pernah dilakukan, maupun berbagai teori yang terkait dengan studi dalam tesis ini. Bab III menggambarkan kondisi umum lokasi

Perencanaan Penelitian

Pengumpulan data Studi Literatur

Analisis Kebijakan

Simulasi Verifikasi Pembuatan

model Konseptualisasi

sistem Analisis data Survei

Pendahuluan

(16)

studi dan keterkaitannya dengan konversi lahan pertanian Kota Tangerang, meliputi letak dan luas, kondisi lahan pertanian, lahan industri dan lahan urban (permukiman) dan lahan Bandara Soekarno Hatta dan pendapatan (PDRB) di sektor pertanian, non pertanian. Bab IV merupakan konseptualisasi dan metode system dynamics yang menjelaskan mengenai konsep system dynamics, prinsip-prinsip pemodelan dalam system dynamics dan simulasi system dynamics. Bab V memaparkan model dinamika kota Tangerang dengan pengembangan atas kerangka kerja pemodelan, konseptualisasi model, struktur model, formulasi model dan perilaku model.

Selanjutnya, Bab VI merupakan analisis kebijakan skenario dasar yang dilanjutkan

dengan skenario-skenario kebijakan dan hasil analisisnya. Untuk pembahasan atas

hasil analisis kebijakan tersebut dipaparkan di Bab VII. Sedangkan Bab VIII

merupakan hasil kesimpulan atas pembahasan dari mulai awal sampai dengan akhir

yang dipaparkan dalam tesis ini berikut rekomendasi termasuk untuk pengembangan

model selanjutnya maupun rekomendasi untuk penelitian lanjutannya.

Referensi

Dokumen terkait

Perubahan status rawan konversi integrasi Pola Ruang meliputi; kawasan perdesaan dengan fungsi utama sebagai kawasan pertanian akan berstatus tetap, kawasan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui intensitas perubahan penggunaan lahan pertanian dan laju alih fungsi (konversi) lahan pertanian di Kecamatan Parigi tahun 2008

Perubahan alih fungsi lahan dari lahan pertanian ke non pertanian merupakan kegiatan yang lumrah dan sering terjadi di perkotaan, namun dalam hal ini adanya perubahan alih fungsi

Alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan terbangun di Kawasan Perkotaan Mangupura, Kabupaten Badung mengindikasikan bahwa peraturan daerah terkait peraturan tata ruang

Peralihan fungsi lahan pertanian di Indonesia dapat terjadi karena adanya pengadaan tanah pembangunan untuk kepentingan umum dan perubahan alih fungsi lahan pertanian menjadi non

Penelitian tentang konversi lahan pertanian produktif akibat pertumbuhan lahan terbangun di Kota Sumenep bertujuan untuk mengetahui karakteristik perubahan tutupan

perubahan alih fungsi lahan yang menjadi kawasan perumahan di

Konversi lahan pertanian adalah suatu fenomena yang tidak dapat dihindari sebagai konsekuensi logis dari sebuah pembangunan. Tuntutan akan kebutuhan lahan dari sektor nonpertanian