20
2.1 Penelitian Terdahulu
Adapun beberapa penelitian terdahulu yang menjadi rujukan untuk penelitian ini yaitu penelitian dari Stanford History Education Group berjudul
“Evaluating Information: The Cornerstone of Civic Online Reasoning” oleh Wineburg et al. tahun 2016, artikel jurnal berjudul “Political Advertising Camouflage as News” oleh Camelia Catharina Pasandaran tahun 2018, artikel jurnal berjudul “Native Advertising and Digital Natives: The Effects of Age and Advertisement Format on News Website Credibility Judgments” oleh Patrick Howe dan Brady Teufel tahun 2014, dan skripsi dari Universitas Multimedia Nusantara berjudul “Hubungan Tingkat LMI dengan Kompetensi Sebagai Warga Negara Aktif pada Siswa di 4 SMA Tangerang” oleh Levana Florentia tahun 2019.
Penelitian terdahulu pertama dari Standford History Education Group oleh Wineburg berjudul “Evaluating Information: The Cornerstone of Civic Online Reasoning”, memberikan pelatihan kepada tingkatan siswa (menengah pertama, menengah atas, dan mahasiswa) untuk menganalisis, mengevaluasi, memberi argumen, membandingkan, mengumpulkan bukti atau fakta, dan melakukan verifikasi dari konten-konten digital (Wineburg et al., 2016). Konten-konten digital yang menjadi materi latihan adalah berita, foto, artikel native ad di media sosial dan majalah online.
21 Wineburg mengumpulkan dan menganalisis 7.804 tanggapan siswa (menengah pertama, menengah atas, dan mahasiswa) pada Januari 2015 hingga Juni 2016 di 12 negara yang melibatkan banyak universitas dan sekolah baik yang sumber dayanya rendah di pinggiran kota kecil di Minneapolis hingga sumber dayanya tinggi di dalam kota Los Angeles. Permasalahan hingga dilaksanakannya pelatihan ini disebabkan karena banjirnya informasi dari beragam platform dan media yang terancam dengan disinformasi tentu dapat membuat pembacanya lebih baik atau buruk. Hal ini bergantung kepada kesadaran tiap siswa dan institusi pendidikan.
Penelitian Wineburg memiliki tiga fase dalam melakukan penelitian, dua fase riset yaitu penilaian prototipe dan validasi, serta satu fase pengujian ke lapangan. Persiapan penelitian yang dilakukan adalah para peneliti membuat soal, setiap tingkatan siswa (menengah pertama, menengah atas, dan mahasiswa) diminta untuk mengerjakan soal tersebut, setelah itu hasil jawaban dikumpulkan oleh para guru dan dosen untuk diberikan kepada peneliti Standford History Education Group dan dianalisis. Khususnya bagi siswa SMA, pemberian soal latihan bertujuan agar:
1. Siswa menganalisis argumen dari media massa koran.
2. Siswa memberi argumen di Facebook untuk melihat apakah siswa dapat mempertahankan bukti yang kuat dalam pertukaran argumen.
3. Melihat siswa apakah mengidentifikasi berita di Facebook dari akun yang telah terverifikasi atau akun palsu.
4. Siswa dapat mencari banyak bukti dari berbagai sumber lain dari foto-foto yang beredar.
22 5. Siswa dapat menentukan artikel atau berita yang disponsori untuk
diandalkan.
Pada poin kelima di atas, Wineburg memberi soal kepada 350 tiga tingkatan siswa untuk mengidentifikasi dan memberikan evaluasi yang membedakan antara tiga konten yaitu konten iklan tradisional, berita bersponsor (native advertising), atau berita dari konten web majalah Slate Magazine.
Gambar 2.1
Soal yang Diberikan Kepada Siswa
Sumber: Standford History Education Group, 2016
Pengujian ini dinyatakan sukses, jika siswa dapat mengidentifikasi dan menjelaskan fitur yang membedakan iklan tradisional dan berita bersponsor.
Peneliti Standford History Education Group menganalisis jawaban setiap tingkatan siswa yaitu, beginning, emerging, dan mastery. Hasilnya adalah sebanyak tiga perempat tingkatan siswa dapat dengan mudah membedakan konten berita dengan
23 iklan tradisional. Sebanyak 80% siswa dapat mengidentifikasi jika native advertising diikuti dengan kata “berita bersponsor”, tetapi berdasarkan alasan- alasan yang dijabarkan oleh setiap tingkatan siswa, mereka tidak memahami apa itu berita bersponsor dan percaya bahwa berita bersponsor adalah artikel berita. Maka dari itu, para peneliti Standford History Education Group melihat bahwa diperlukan sesuatu yang diajarkan kepada siswa secara eksplisit sejak dini.
Selain menguji siswa dengan berita bersponsor dan berita, para peneliti Standford History Education Group juga melihat kebiasaan siswa yang berinteraksi dengan konten digital terutama media sosial yaitu Instagram, Twitter, dan Facebook. Para siswa dapat melakukan swafoto bersama teman-temannya dan mengunggahnya. Akan tetapi, saat siswa diminta untuk mengevaluasi informasi yang mengalir di media sosial, mereka mudah ditipu. Penelitian ini membuktikan, jika siswa kurang memiliki persiapan.
Relevansi dengan penelitian ini yaitu berita bersponsor yang diteliti terhadap siswa di luar Indonesia yang menunjukkan adanya kesesatan bagi setiap tingkatan siswa dalam mengidentifikasi berita bersponsor dan artikel berita di media online. Adapun saran penelitian dari Standford History Education Group yang dapat menjadi referensi untuk digunakan peneliti bagi kurikulum, sekolah, dan guru. Hasil evaluasi dari pelatihan Standford History Education Group yang meminta siswa untuk mengidentifikasi berita bersponsor yaitu diperlukan sesuatu yang diajarkan kepada siswa secara eksplisit sejak dini, secara tidak langsung relevan dengan tujuan dan indikator yang terdapat dalam konsep LMI oleh
24 UNESCO agar siswa mampu mengakses, menganalisis, serta berkreasi dengan kritis akan banjirnya informasi di media.
Penelitian terdahulu kedua adalah artikel jurnal komunikasi oleh Camelia Catharina Pasandaran berjudul “Political Advertising Camouflage as News”
(Pasandaran, 2018). Artikel jurnal Pasandaran melihat dari persepektif media, tujuannya melihat metode pengungkapan berita bersponsor politik dan penempatannya secara deskriptif. Artikel jurnal ini menganalisis berita bersponsor yang disandingkan dengan konten berita asli pada media online Tempo.co yang memiliki rubrik khusus untuk berita bersponsor. Penelitian Pasandaran ingin melihat pengemasan, penempatan, dan kecenderungan pembaca yang mengidentifikasi kedua konten tersebut yang memiliki keserupaan sehingga mengaburkan batas antara konten komersial dengan editorial.
Penelitian Pasandaran menggunakan metode analisis isi kualitatif periode September 2018 dan dipilih secara acak untuk mengungkapkan tiga hal yaitu penempatan iklan asli di situs web, format iklan asli untuk menemukan persamaan dan perbedaan dengan berita editorial, dan cara penulisan iklan asli. Penggunaan metode kualitatif menghasilkan bahasa yang diteliti lebih intens. Artikel jurnal ini membagi ke dalam beberapa kategori yaitu ketersediaan judul, ringkasan awal (lead), nama penulis atau reporter (byline), waktu pemuatan (dateline), foto (photo), kutipan (quotes), sumber (source), pentingnya konten diberitakan (nutgraph), dan penutup (closing).
Berita bersponsor adalah bentuk pengiklanan yang dilakukan oleh divisi editorial di media ditulis sama seperti artikel berita pada umumnya. Artikel jurnal
25 ini melihat adanya hubungan antara khalayak dan pengiklan. Dalam artikel jurnal ini terdapat tiga aspek yang mengubah lingkungan bermedia yaitu khalayak, konten, dan sumber pendapatan. Artikel jurnal ini dilatarbelakangi oleh adanya fenomena pop-up ads sudah dianggap menggangu dan diabaikan oleh pembaca dalam mengonsumsi media sehingga berita bersponsor adalah strategi iklan di media online lainnya.
Tempo.co menjadi objek penelitian karena memiliki rubrik sendiri untuk berita bersponsor yang diberi nama “Inforial”, yang mana kontennya terkadang diletakan di beranda. Tempo.co memiliki beberapa klien untuk dipromosikan yaitu intitusi politik seperti lembaga Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD), hingga seorang yang sedang terlibat dalam pemilihan politik. Secara khusus bagi klien DPR, Tempo.co membuat URL khusus yaitu dpr.tempo.co.
Kerangka teori yang digunakan adalah perspektif postmodern dari Baudrillard yang merupakan bentuk simulasi yang berujung pada kematian realitas.
Kerangka pemikiran postmodern Baudrillard yang terdiri dari empat fase berdasarkan pengungkapan, pengemasan, dan penempatan iklan asli. Fase pertama, iklan dengan penampilan yang ‘baik’ berarti berita bersponsor di Tempo.co dapat ditemukan di URL, tidak memiliki byline, dan dateline yang khusus. Fase kedua adalah penampilan ‘jahat’ berarti pembaca tidak dapat membedakan antara berita nyata dan berita iklan. Fase ketiga dan keempat adalah adanya kecenderungan menyesatkan akan banyaknya ruang berarti iklan asli merupakan berita nyata. Maka
26 ini menjadi akhir dari jurnalisme. Fase-fase ini terjadi karena masyarakat yang kapitalis.
Hasil penelitiannya membandingkan karakteristik yang sama antara artikel berita dan berita bersponsor. Ranah artikel yang dibuat selalu positif. Memiliki narasumber yang berasal dari pihak yang diberitakan. Berbeda dengan konten berita iklan di media luar, biasanya konten ini ditulis dengan kata-kata ‘berita bersponsor’,
‘postingan berspronsor’, dan ‘konten berbayar’.
Penelitian ini berdampak pada keraguan yang mempertanyakan proses verifikasi dan editorial terkait kualitasnya. Penelitian terdahulu ini diharapkan agar terdapat studi lain yang melihat dari perspektif makro. Salah satu faktor yang menjadi titik berat dalam penelitian terdahulu ini adalah posisi seseorang yang tidak dapat membedakan mana berita yang asli dan iklan karena keduanya tergolong sulit untuk dibedakan oleh pembaca.
Oleh karena itu, relevansi penelitian terdahulu ini menjadi topik pengembangan penelitian ini untuk melihat dari sisi LMI terhadap siswa di 4 SMA Tangerang dalam mengidentifikasi berita bersponsor yang memiliki karakteristik penulisan serupa dengan struktur berita. Fenomena berita bersponsor yang dijabarkan oleh Pasandaran menghasilkan adanya kesulitan pembaca dalam mengidentifikasi berita bersponsor dan artikel berita pada umumnya di media online di Indonesia.
Penelitian terdahulu ketiga yang dipakai berupa artikel jurnal berjudul
“Native Advertising and Digital Natives: The Effects of Age and Advertisement Format on News Website Credibility Judgments” (Howe & Teufel, 2014).
27 Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh usia dan keberadaan berita bersponsor terhadap penilaian kredibilitas media online di Amerika. Penelitian Howe dan Teufel meneliti efek di berbagai usia dan format iklan akan keberadaan berita bersponsor dan iklan spanduk. Subjek penelitian adalah pengguna web yaitu mahasiswa dan usia tua menggunakan survei online dari 10 November hingga 1 Desember 2013. Pertanyaan penelitian Howe dan Teufel sebagai berikut:
1. Apakah anggota khalayak merasa tertipu oleh berita bersponsor dan menemukan web berita yang kurang kredibel?
2. Apakah terdapat perbedaan sikap berdasarkan usia khalayak terhadap iklan spanduk dan bersponsor?
3. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara persepsi terhadap kredibilitas di media online?
Penelitian dilatarbelakangi oleh adanya konsumsi dan penerbitan berita beralih ke online, perusahaan media berjuang secara ekonomi. Minat media di dunia digital telah berkembang untuk menawarkan bentuk iklan terintegrasi yang dikenal dengan berita bersponsor. Ide penelitian tersebut didasarkan pada sedikitnya peneliti yang meneliti efek berita bersponsor dari perspektif penerbit media online.
Menggunakan konsep kredibilitas dan kerangka teori pemprosesan informasi. Konsep kredibilitas dipakai sebagai aspek terpenting dalam jurnalisme.
Segala hal yang termasuk dalam kredibilitas yaitu kepercayaan, keadilan, profesionlisme, akurasi, kelengkapan, dan objektivitas. Namun, dalam bermedia online, kredibilitas dipakai sebagai pendekatan untuk menguji persepsi berdasarkan jenis informasi, situs web, atribut yang dipajang di situs web, dan karakteristik
28 khalayak sehingga konsep kredibilitas ini digunakan untuk mengetahui persepsi responden muda dan tua terhadap sumber informasi di internet.
Pemprosesan informasi digunakan sebagai kerangka teori untuk mengekspolorasi hubungan antara variabel. Pemprosesan informasi berfokus pada khalayak sebagai aspek terpenting untuk mengetahui mengapa dan bagaimana individu menggunakan media, apa yang mereka pahami, sukai dari konten media.
Implementasi teori ini dalam periklanan untuk mendefinisikan model hierarki efek yang mengetahui langkah-langkah konsumen dalam mengambil keputusan pembelian sehingga mengeksplorasi bagaimana jenis dan format iklan memengaruhi proses kognitif. Asumsinya, format iklan yang berbeda akan menghasilkan pemprosesan dan hasil yang berbeda pula, apakah seseorang tersebut memproses iklan sebagai informasi atau hiburan.
Survei online ini mengirimkan email kepada 400 mahasiswa Universitas Politeknik California dan 150 responden di atas usia 45 tahun untuk mengisi sebanyak 8 item. Akan tetapi, responden yang didapat sebanyak 257 orang. Usia muda antara 18-24 tahun, sedangkan usia tua antara 55-64 dengan komposisi yang berbeda-beda. Untuk mengukur apakah kehadiran berita bersponsor memengaruhi persepsi usia muda dan tua atas kredibilitas media online, penelitian Howe dan Teufel memerlihatkan gaya iklan spanduk dan berita bersponsor yang terletak pada beranda media online ke dalam kuesioner. Pemilihan media online juga dianalisis berdasarkan traffic, menganalisis konten komersial yang dihasilkan oleh sponsor dan konten editorial dengan gaya yang sama.
29 Hasil penelitian Howe dan Teufel menunjukkan bahwa kehadiran iklan asli tidak berpengaruh signifikan terhadap persepsi kredibilitas khalayak. Jika berdasarkan perbandingan antara berita bersponsor dan iklan spanduk, responden penelitian secara keseluruhan lebih mudah melihat iklan spanduk dibandingkan berita bersponsor sehingga berita bersponsor sulit diidentifikasi oleh responden.
Kemudian, jika berdasarkan temuan penelitian antara responden muda dan responden tua dalam menilai kredibilitas media terhadap iklan spanduk dan berita bersponsor memiliki penilaian dan persepsi berbeda. Responden muda cenderung kurang skeptis dalam menilai kredibilitas media dan lebih mudah melihat iklan spanduk dibanding berita bersponsor, sedangkan responden usia tua lebih menilai kredibilitas media online bukan dari iklan yang ditampilkan. Hasil pengaruh yang signifikan ditunjukkan pada persepsi responden yang terpapar iklan spanduk yang tinggi. Responden lebih cepat merespons bahwa dirinya telah melihat iklan spanduk pada media online dibanding berita bersponsor. Maka dari itu, keterkaitan hasil penelitian Howe dan Teufel dengan teori pemprosesan informasi adalah melihat ada atau tidaknya berita bersponsor di berita online yang memengaruhi cara responden memproses apa yang dilihat melalui persepsi mereka.
Beberapa responden tidak memerhatikan adanya berita bersponsor sehingga berita bersponsor berdampak pada kredibilitas, tetapi tidak dicatat dalam penelitian ini. Kemudian terdapat fakta adanya signifikansi berdasarkan usia baik dalam kredibilitas dan perhatian responden terhadap iklan.
Penelitian Howe dan Teufel menyarankan agar penelitian selanjutnya responden diberitahu terlebih dahulu fakta bahwa berita bersponsor yang khalayak
30 anggap sebagai konten editorial sebenarnya merupakan konten komersial sehingga memerlihatkan penilaian berbeda akan kredibilitas media online. Tujuannya untuk mengembangkan hubungan antara perhatian khalayak akan iklan dan persepsi kredibilitas terhadap media. Maka dari itu, peneliti mengaplikasikan saran penelitiannya dengan mencantumkan pengetahuan dasar beserta contoh dari berita bersponsor pada kuesioner sehingga responden memiliki persepsi mengenai berita bersponsor di media online.
Penelitian terdahulu terakhir adalah skripsi berjudul “Hubungan Tingkat LMI dengan Kompetensi sebagai Warga Negara Aktif pada Siswa SMA di Tangerang” mengkaji tingkat LMI, tingkat kompetensi kewarganegaraan, dan hubungan antara dua variabel (Florentia, 2019). Penelitian Levana melihat pada pentingnya LMI bagi masyarakat untuk menjadi warga negara aktif untuk mengambil keputusan dan kebijakan bagi kepentingan umum. Siswa SMA swasta dan negeri di Tangerang menjadi subjek penelitian ini.
Penelitian Levana berjenis kuantitatif-eksplanatif menggunakan metode survei kepada 465 siswa dari lima sekolah berbeda di Tangerang. Data yang diolah menggunakan rumus korelasi Pearson Product-Moment untuk melihat hubungan tingkat LMI dengan kompetensi kewarganegaraan. Penelitian Levana mengukur tingkat LMI berdasarkan konsep dari UNESCO dan untuk mengukur kompetensi kewarganegaraan menggunakan Civic Competence Composite Indicator 2 (CCCI- 2) dari Hoskins, Villalba, dan Saisana, serta konsep media siswa sebagai khalayak media.
31 Pengisian kuesioner dilakukan secara langsung kepada siswa di sekolah menggunakan media kertas dan pensil. Kuesioner terdiri dari 54 item pernyataan, 26 item untuk LMI, 22 item untuk kompetensi kewarganegaraan, dan 5 soal mengenai pengetahuan siswa soal demokrasi.
Alat ukur LMI siswa SMA di Tangerang, dimensi pemahaman dan evaluasi memiliki skor tertinggi, kemudian dimensi akses, dan dimensi kreasi menunjukkan hasil rata-rata terendah. Pada alat ukur kompetensi kewarganegaraan terdiri dari tiga dimensi yaitu dimensi nilai-nilai kewarganegaraan dan dimensi keadilan sosial memiliki tingkat skor tertinggi. Kemudian, urutan berikutnya adalah dimensi sikap terhadap pertisipasi dan pengetahuan demokrasi dengan skor terendah yang berada pada kategori sedang.
Hasil penelitian Levana membuktikan bahwa terdapat hubungan positif antara tingkat LMI dengan kompetensi kewarganegaraan sebesar 0,531 dengan kekuatan yang sedang. Tingkat LMI para siswa dengan rata-rata nilai 7,27 pada kategori tinggi, sedangkan tingkat kompetensi kewarganegaraan memeroleh rata- rata sebesar 7,10 dengan kategori tinggi. Kedua rata-rata nilai dari variabel tersebut berada dalam kategori yang tinggi.
Relevansi penelitian Levana dengan penelitian ini adalah menggunakan konsep LMI dari UNESCO, baik dari dimensi maupun indikator. Kemudian, peneliti menggunakan data penggunaan media dari responden Levana yaitu siswa SMA di Tangerang untuk memperkaya pembahasan penelitian ini. Kemudian, peneliti menggunakan konsep siswa sebagai khalayak media.
32 Tabel 2.1
Penelitian Terdahulu
No Judul Hasil Penelitian Relevansi
1 Evaluating Information:
The
Cornerstone of Civic Online Reasoning (2016)
oleh Wineburg
Setiap tingkatan siswa, yaitu menengah bawah, atas, dan mahasiswa memiliki kemampuan menganalisis dan mengidentifikasi yang berbeda tiap tingkatannya.
1. Siswa mudah terbawa arus informasi dan foto.
2. Siswa tidak memverifikasi sumber-sumber informasi lain di media sosial Twitter.
3. Siswa dapat membedakan konten berita bersponsor, tradisional, dan konten berita, tetapi tetap
menganggap berita bersponsor adalah bagian dari artikel berita.
1. Fenomena kemampuan mengidentifikasi siswa dari tiga tingkatan yaitu menengah pertama, menengah atas, dan mahasiswa menjadi referensi penulis untuk mengkaji penelitian terutama pada sisi berita bersponsornya.
2. Saran penelitian bagi pengembangan kurikulum sekolah dan guru.
3. Subjek penelitian dan materi yang sama untuk diuji, yaitu menguji kemampuan siswa dalam mengidentifikasi berita bersponsor.
2 Political Advertising Camouflage as News (2018)
oleh Camelia Catharina Pasandaran
1. Judul (headline): positif.
2. Foto (photo): dari klien atau jurnalis foto Tempo.
3. Waktu pemuatan (dateline): Info (tidak dituliskan secara rinci) 4. tidak ada nutgraph (pentingnya sebuah berita diberitakan)
5. Nama penulis (byline): tidak ada 6. Kutipan (quotes): Kutipan pertama, seseorang dari DPR sebagai klien.
7. Biasanya 1 narasumber (source) dari pihak klien.
8. Penutup (closing): tidak ada tipe spesifik tertentu.
9. Penempatan berita bersponsor terkadang bercampur dengan berita asli di beranda.
1. Pengembangan konsep LMI dikaitkan dengan berita bersponsor berdasarkan fenomena yang dipaparkan.
2. Membuka pengetahuan dan referensi bahwa ada fenomena berita bersponsor di media online Indonesia yaitu Tempo.co.
3 Native Advertising and Digital Natives: The Effects of Age and
Advertisement Format on News Website Credibility Judgments (2014)
1. Kehadiran iklan online yang disponsori dengan iklan spanduk tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap persepsi khalayak tentang kredibilitas media online.
2. Usia muda dan tua tidak memerhatikan dan menyadari keberadaan berita bersponsor.
Kedua responden lebih
memerhatikan keberadaan iklan spanduk di media online dibanding berita bersponsor.
1. Hasil penelitian ini yang mana menunjukkan skeptisme rendah dijadikan sebagai pengembangan dengan berita bersponsor yang dikaitkan dengan LMI.
2. Saran penelitian selanjutnya yaitu dengan memberitahu fakta tentang berita bersponsor kepada responden sebelum pengisian kuesioner
diadaptasikan pada penelitian peneliti.
33
No Judul Hasil Penelitian Relevansi
oleh
Patrick Howe dan Brady Teufel
3. Responden usia tua lebih skeptis dan menilai kredibilitas media online bukan dari iklan yang ditampilkan, sedangkan, usia muda menilai kredibilitas media dari iklan.
3. Penelitian ini memberi gambaran akan keterkaitan teori yang dipakai dengan hasil penelitian sehingga menjadi referensi bagi peneliti untuk mengaitkan teori penelitian yang dipakai dari hasil penelitian yang didapat.
4 Hubungan Tingkat LMI dengan Kompetensi Sebagai Warga Negara Aktif pada Siswa di Tangerang (2019)
oleh Levana Florentia
1. Tingkat LMI siswa SMA di Tangerang berata-rata 7,27 dalam kategori tinggi.
2. Tingkat kompetensi
kewarganegaraan siswa SMA di Tangerang berata-rata 7,10 dengan kategori tinggi.
3. Kekuatan hubungan antara tingkat LMI terhadap nilai-nilai kewarganegaraan berada pada korelasi yang positif, tetapi kekuatannya sedang.
1. Penelitian Levana relevan dengan penelitian peneliti yang menggunakan konsep LMI dari UNESCO, baik dari dimensi dan indikator.
2. Menggunakan data
penggunaan media siswa SMA di Tangerang untuk
memperkaya data pada bab pembahasan.
3. Penggunaan konsep siswa sebagai khalayak media.
Sumber: Olahan peneliti, 2020
2.2 Teori dan Konsep
2.2.1 Berita bersponsor (Native Advertising)
Definisi periklanan menurut UNESCO adalah serangkaian teknik dan praktik untuk menarik konsumen atau khalayak atas produk atau layanan dengan tujuan membujuknya agar membeli membeli produk atau layanan yang diiklankan (UNESCO, 2013, p. 145).
Berita bersponsor secara definisi belum ada karena relatif baru.
Namun menurut Wineburg, berita bersponsor didefinisikan sebagai posisi antara perusahaan media sebagai “jasa pembuat iklan yang membuat konten promosi berbentuk konten berita” dan pengiklan. Perusahaan media bekerja sama dengan pemilik produk, sementara itu konten promosinya serupa dengan konten editorial. Motif berita bersponsor membuat pembaca agar
34 tidak curiga dan tidak menyadari motif di balik informasi dari berita bersponsor tersebut.
Interactive Advertising Bureau (IAB) merilis makalah berjudul “The Native Advertising Playbook” memberikan solusi bagi industri saat ingin beriklan dengan berita bersponsor untuk menghilangkan kebingungan konsumen. Terdapat enam hal yang perlu diperhatikan dari berita bersponsor untuk memenuhi tujuan merek (IAB, 2013, p. 6):
1. Format
Dalam hal ini, melihat kesesuaian iklan dengan keseluruhan desain halaman dan apakah iklan berada dalam aliran aktivitas konsumen.
2. Fungsi
Kategori ini melihat apakah iklan yang ditempatkan pada halaman tersebut memiliki fungsi yang sama dengan elemen lain dan apakah memberikan pengalaman konten yang sama dengan konten lain pada halaman tersebut? Misalnya: format artikel diletakkan di halaman artikel, format video berada di dalam format video atau berbeda.
3. Terintegrasi
Seberapa baik perilaku iklan dengan konten lain di sekitarnya?
Apakah sama, seperti menghubungkan ke halaman lain?
4. Pembelian dan Target
Apakah penempatan iklan berada pada halaman, bagian, atau situs spesifik tertentu yang dapat dijamin dan menjangkau konsumen?
Jenis penargetan apa yang tersedia?
35 5. Pengukuran
Ukuran yang digunakan untuk menilai kesuksesan? Ukuran yang melibatkan merek seperti, view, like, share, time spare, dan lain-lain.
Adapun ukuran lain melibatkan konsumen yaitu penjualan, berapa banyak yang mengunduh, masuk atau daftar akun, dan pengambilan data konsumen.
6. Pengungkapan
Apakah iklan diungkapkan terlihat dengan jelas? Misalnya kata
‘disponsori (oleh)’, ‘dipromosikan (oleh)’, ‘konten sponsor’,
‘disajikan oleh (merek)’+tag ‘mitra unggulan’, ‘pos yang disarankan’+tag ‘sponsor’.
Keenam hal di atas bermaksud agar antara pembeli dan penjual memiliki bahasa yang sama saat membahas produk berita bersponsor.
Pada berita bersponsor, IAB menganjurkan prinsip pengungkapan seperti kejelasan dan keunggulan merupakan bagian terpenting. Prinsip pengungkapannya harus menggunakan bahasa yang menyatakan bahwa iklan telah dibayar serta penempatannya harus terlihat besar sehingga terlihat oleh konsumen. Prinsip-prinsip tersebut menurut IAB membuat konsumen yang masuk akal dapat membedakan antara berita bersponsor atau berbayar dan konten editorial yaitu berita (IAB, 2013, p. 15).
36 Gambar 2.2
Contoh Berita Bersponsor dalam Politik
Sumber: (Tempo.co, 2020)
37 Berdasarkan Gambar 2.2, yang diberi tanda biru membuktikan bahwa berita bersponsor di Tempo.co yang diberi label ‘berita’ dan
‘nasional’. Artinya berita bersponsor ini berada di kanal berita biasa yaitu nasional. Kemudian terdapat label pada berita bersponsor tersebut ditulis oleh ‘Tempo.co’ dan label ‘memo bisnis’. Untuk penjelasan lebih lanjut mengenai karakteristik berita bersponsor yang mirip dengan berita biasa pada umumnya di bawah ini.
Penelitian ini menggunakan dua konsep untuk dimensi dan indikator yaitu oleh Gadiraju dan Pasandaran. Keduanya menitikberatkan pada karakteristik konten, format penulisan, dan penempatan berita bersponsor.
Menurut Gadiraju, berita bersponsor memiliki kekuatan pada kontennya yang berusaha menyatukan kontennya dengan editor untuk berada dalam tema yang sama. Kontennya dapat berupa teks, video, gambar, atau animasi.
Secara halus Gadiraju menyebutkan bahwa berita bersponsor mendorong khalayak untuk berjalan menuju merek yang dimaksud (Gadiraju, 2015, p.
26).
Berita bersponsor menjadi wadah bagi pengiklan untuk terlibat dengan konsumen tanpa gangguan. Berita bersponsor diperkirakan akan menguasai konten online sebagai bentuk informasi asli menarik khalayak untuk bertindak (Gadiraju, 2015, p. 30).
Contoh berita bersponsor menurut Gadiraju, misalnya perusahaan investasi mensponsori artikel tentang manfaat pajak dan investasi yang bermanfaat bagi investor untuk merencanakan pajaknya. Penulisannya
38 otentik dan objektif, seperti upaya perusahaan dalam membantu investor untuk melakukan investasi yang cerdas. Cara pengungkapannya mendesak investor untuk memilih investasi dari perusahaan ini untuk beralih ke perusahaan lain. Maka dari itu katakteristik penting dari berita bersponsor yaitu konteks, kesesuaian, dan daya tarik.
1. Konteks (context)
Menurut Bianca et al. (2017) dalam (Gadiraju, 2015, p. 26), konten dengan kontekstual yang tepat, secara halus akan lebih menarik di dunia periklanan. Konteks yang tepat akan diterima dengan baik dan menyatunya berita bersponsor dengan konten editorial maka nilai beritanya akan terbawa tinggi. Dalam hal ini terdapat tiga karakteristik konteks yaitu relevansi, kontemporer, dan dapat ditindak.
Relevansi berarti Informasi berita bersponsor diletakkan pada halaman atau rubrik yang cocok dengan tema. Misalnya, artikel tentang peluncuran gawai baru diletakan pada halaman teknologi. Berita bersponsor berfokus mendorong perhatian khalayak.
Kontemporer berarti bersifat asli dan kontemporer (semasa waktunya) sehingga lebih efektif dan berkelanjutan. Kontemporer berarti berita bersponsor terkait dengan apa yang sedang menjadi perhatian pembaca sehingga menjadi perhatian yang sama dengan khalayak.
39 Dapat ditindaklanjuti berarti berita bersponsor efektif membuat pembacanya menaruh minat yang cukup pada khalayak untuk terlibat dengan merek, seperti uji coba gratis atau meminta khalayak untuk daftar ke situs web.
2. Kesesuaian (congruence)
Adanya perpaduan antara berita bersponsor dan konten editorial (berita) sehingga memiliki dampak yang efektif. Dalam hal ini, tim editor yang mengerjakan berita bersponsor dan tim pembuat berita perlu mengembangkan sinkronisasi. Misalnya, ketika konten bersponspor ditulis memerlihatkan adanya hasil dan target yang tepat dengan tema, maka lebih akan mempertahankan minat khalayak.
3. Daya tarik (appeal)
Kekuatan berita bersponsor adalah adanya kombinasi antara faktual, tetapi tetap menghibur. Terdapat tiga hal yang dapat membuat daya tarik khalayak yaitu information appeal, educational appeal, dan emotional appeal.
Information appeal, konten yang memberikan fakta dan menyebarkan kesadaran tentang adanya masalah, pengetahuan, kebaruan atas tema tertentu sehingga dapat menjangkau khalayak dan pesan iklan sampai pada khalayak.
40 Educational appeal, bagaimana dan mengapa merek memerlukan pendekatan umum sehingga menarik pengikut dari khalayak.
Emotional appeal, khalayak akan memiliki keterlibatan yang besar ketika berita bersponsor kaya akan daya tarik emosional.
Daya tarik memiliki kekuatan untuk menciptakan khalayak untuk memilih merek tersebut sehingga perlu ikatan yang kuat antara merek dan khalayak.
Berita bersponsor berefek pada konsumen untuk memengaruhinya dalam proses pengambilan keputusan. Berita bersponsor menginginkan visibilitas untuk menghasilkan kesadaran di seluruh pasar sehingga konsumen secara perlahan terdorong untuk melibatkan diri membentuk sikap atau pendapat terhadap produk (Gadiraju, 2015, p. 28).
Kemiripan berita bersponsor dengan artikel berita di media, maka terdapat karakteristik lain dari berita bersponsor yang menyesatkan khalayak. Menurut Pasandaran dari berbagai definisi, ada dua karakteristik yang menggambarkan berita bersponsor yaitu adaptasi format konten editorial dan pengalaman khalayak yang tidak terganggu (Pasandaran, 2018, p. 92).
Berita bersponsor secara positif dipandang sebagai sarana efektif untuk menjangkau khalayak dan dapat mempertahankan media, tetapi menyesatkan pembaca. Berdasarkan hasil analisis Pasandaran, terdapat tiga dimensi yaitu penempatan iklan asli, karakteristik berita bersponsor
41 menyerupai berita, dan disclosure dari berita bersponsor. Dimensi karakteristik berita bersponsor sebagai berikut (Pasandaran, 2018, pp. 95- 96).
1. Judul (headline), judul bernada positif, seperti adanya pihak yang setuju.
2. Nama penulis atau reporter (byline), dalam berita biasanya terdiri dari nama-nama reporter dan editor. Dalam berita bersponsor byline tidak ada.
3. Waktu pemuatan (dateline), dalam berita menunjukkan kota acara berlangsung, tetapi dalam berita bersponsor tidak terdapat waktu pemuatan, biasanya ditulis “info + nama klien”.
4. Ringkasan awal (Lead), berisi prinsip unsur 5W+1H, tetapi tidak semua unsur ada. Penulisannya cenderung positif dan netral.
5. Kutipan (quotes), sama dengan artikel berita. Kutipan biasanya dari klien dan pernyataannya dibuat oleh klien. Memliki banyak kutipan dari sumber yang sama.
6. Narasumber (sources), seluruh narasumber berasal dari klien, dapat satu atau lebih yang memiliki keprihatinan yang sama.
Dimensi di atas membuktikan bahwa sebagian besar karakteristik berita bersponsor meniru berita. Dimensi dan indikator dari Pasandaran (2018) digunakan untuk variabel kemampuan mengindentifikasi berita
42 bersponsor kepada siswa di 4 SMA Tangerang, apakah siswa dapat membedakan antara konten berspronsor dan konten editorial (berita asli).
Gadiraju memaparkan beberapa kritik dari adanya berita bersponsor (Pasandaran, 2018, p. 93) sebagai berikut:
1. Media tidak transparan saat menjelaskan sponsor karena berdasarkan fakta, pengungkapan yang membuat khalayak gagal mengenali iklan.
2. Menganggap konten berponsor sebagai konten editorial.
3. Logo sponsor yang jarang mendapat perhatian pembaca.
4. Runtuhnya batas antara editorial dengan departemen bisnis.
Berdasarkan kritik di atas, kredibilitas media menjadi pertanyaan karena khalayak sulit mengidentifikasi berita bersponsor dan itu menyesatkan.
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan dua konsep berita bersponsor untuk mengukur variabel kemampuan mengidentifikasi karakteristik berita bersponsor karena Pasandaran dan Gadiraju memaparkan karakteristik konten dan format penulisan dari berita bersponsor sehingga keduanya saling melengkapi. Pada sumber Pasandaran, karakteristik berita bersponsor yang dianalisis tidak semua dimensi dapat dipakai karena sulit untuk diidentifikasi oleh siswa SMA, maka tidak cukup untuk mengukur kemampuan mengidentifikasi karakteristik berita bersponsor melalui satu sumber saja. Oleh karena itu, peneliti menemukan dan menggunakan sumber yang dapat melengkapi sumber Pasandaran yaitu Gadiraju.
43
2.2.2 Literasi Media dan Informasi (LMI)
Penelitian ini menggunakan konsep LMI dari United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) yang menggabungkan LMI dalam konteks digital guna mendukung terbentuknya kompetensi yang dibutuhkan pada abad ke-21 dalam mengakses segala benuk informasi menggunakan teknologi digital (UNESCO, 2013, p. 29).
Literasi media menurut UNESCO adalah kemampuan individu dalam memahami, menggunakan media massa secara asertif (kemampuan untuk mengomunikasikan apa yang diinginkan kepada orang lain tanpa menyerangnya) atau non-asertif, termasuk pemahaman media secara informatif dan kritis, teknik yang dipakai, dan dampaknya (UNESCO, 2013, p. 152).
Adapun pengertian literasi informasi menurut UNESCO adalah kemampuan untuk mengenal kapan membutuhkan informasi, menemukan, mengevaluasi, menggunakan dan mengomunikasikan informasi secara efektif di berbagai format, termasuk juga kompetensi menjadi efektif memahami implikasi dan berperilaku secara etis (UNESCO, 2013, p. 149).
UNESCO mendefinisikan LMI sebagai serangkaian kompetensi (pengetahuan, keterampilan, dan sikap) yang memerdayakan warga negara untuk mengakses, mengambil, memahami, mengevaluasi dan membuat, berbagi konten media dan informasi ke dalam berbagai format, serta menggunakan alat teknologi secara kritis, etis, dan efektif untuk berpartisipasi dan terlibat dalam kegiatan sosial, pribadi, maupun
44 profesional (UNESCO, 2013, p. 29). UNESCO menganggap bahwa literasi sangat penting bagi kemajuan sosial dan ekonomi.
Dalam konsep LMI, UNESCO juga memasukan literasi digital serupa dengan literasi informasi. Menurut UNESCO, literasi digital adalah kemampuan individu dalam menggunakan alat komunikasi dan teknologi digital untuk menggunakan, mencari, mengevaluasi, dan membuat informasi. Literasi digital juga mengacu pada kemampuan individu untuk memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai format yang disajikan melalui komputer dan saat melakukan tugas dalam lingkungan digital (UNESCO, 2013, p. 147). Kemampuan LMI dan digital diperlukan saat individu mengakses konten media dan informasi berbasis digital. Maka dari itu, literasi digital penting bagi pemerintah, kewarganegaraan, dan pengembangan ekonomi berbasis digital.
Sepanjang tahun 2003 hingga 2012, UNESCO menekankan pentingnya memiliki keterampilan melek huruf agar semua warga negara dapat memanfaatkan perubahan sosial. Lebih lanjut pada dekade ini, UNESCO menekankan pada pentingnya LMI termasuk literasi digital bagi semua warga negara karena dalam praktiknya terlibat dalam bentuk lisan, tulisan, dan praktik digital bahkan virtual. Pada faktanya, setiap individu memiliki tingkat melek huruf dan literasi berbeda-beda bergantung pada lingkungannya dan ketersediaan sumber dayanya (UNESCO, 2013, p. 25).
Saat ini, semua warga negara perlu mengetahui fungsi, peran, serta kewajiban dalam pengetahuan informasi dan media baik pada kaum muda
45 maupun lanjut usia. Siswa di semua tingkat pendidikan termasuk ke dalam pihak yang penting dalam penilaian LMI untuk profil suatu negara. Dunia digital serta virtual memberikan banyak peluang, tetapi memicu potensi risiko dan ancaman sehingga dibutuhkan peran literasi khususnya pada informasi dan media (UNESCO, 2013, p. 38).
Menurut UNESCO, semakin besar ketersediaan sumber informasi dan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di suatu negara, harapannya semakin besar pula LMI sebagai antisipasi setiap warga negara untuk memeroleh kompetensi LMI baru dalam menggunakan sumber informasi dan TIK secara efektif (UNESCO, 2013, p. 52). Setiap warga negara dapat melakukan banyak kegiatan yang berhubungan dengan LMI seperti mengambil, mengevaluasi, membandingkan informasi, dan membuat penilaian akhir mereka sendiri sebelum mengambil keputusan berdasarkan informasi.
Media and Information Literacy (MIL) Assessment Framework oleh UNESCO, mendorong penanaman media dan warga negara untuk melek informasi di lingkungan formal maupun nonformal untuk guru-guru dan pendidik untuk pengajaran LMI kepada siswa. Sekolah perlu mempersiapkan siswa dalam menghadapi lingkungan bermedia yang berubah dengan cepat (UNESCO, 2013, p. 55). Keterampilan paling baik dikembangkan pada masa anak-anak melalui pendidikan dengan kualitas yang baik (UNESCO, 2014, p. 4).
46 Komponen LMI dalam UNESCO merupakan salah satu matriks kompetensi LMI yang dapat digunakan untuk melihat dan menganalisis kesenjangan LMI antar individu. Komponen-komponen dalam LMI yang akan menjadi dimensi penelitian, yaitu (UNESCO, 2013, pp. 56-58):
1. Akses
Komponen akses diperlukan untuk mengukur ketersediaan media dan sumber informasi di wilayah tempat tinggal responden untuk melihat frekuensi penggunaan LMI. Akses adalah kemampuan untuk mengenali, mencari, mengakses, mengambil, menyimpan konten media dan informasi menggunakan teknologi yang sesuai.
Adapun cakupan lainnya yaitu kemampuan untuk mengenali kebutuhan akan informasi, konten media, dan pengetahuan sehingga dapat mengidentifikasi konten media, informasi, dan pengetahuan yang berguna dari beragam sumber dan format (cetak, audio, visual, dan digital).
Komponen akses dengan subjek masalah yang terkait adalah definisi dan mengartikulasikan sifat, peran, dan ruang lingkup informasi dan media melalui berbagai sumber; pencarian dan penemuan akan konten media dan informasi; akses pada konten media, informasi, dan penyedia informasi serta media; dan pengambilan serta penyimpanan informasi dan konten media.
2. Evaluasi
47 Komponen ini bermaksud untuk memahami, menilai, mengevaluasi dan menganalisis konten media, informasi, fungsi media, dan lembaga informasi secara kritis sebagai bagian dari kebebasan hak asasi manusia secara universal. Termasuk pemilihan dan penguasaan media dan informasi.
Era banjirnya informasi, mengharuskan individu agar menguasai keterampilan dalam pengorganisasian, pemilihan, dan sintesis media dan informasi. Individu perlu untuk mengetahui pemahaman tentang fungsi, sifat, penyedia informasi, operasi lembaga media, dan profesional media bagaimana media menata informasi dan pesan media.
Komponen evaluasi ini termasuk juga dalam membandingkan, membedakan fakta, opini, dan waktu (informasi baru atau lama), mengidentifikasi dan mempertanyakan nilai- nilai atau ideologi, kekuatan sosial, ekonomi, politik, dan lainnya.
Melibatkan pula evaluasi terhadap kualitas (akurasi, kelengkapan, relevansi) informasi. Mengenali peran media dan informasi dalam konteks luas adalah hal yang penting.
Komponen evaluasi dengan subjek masalah yang terkait adalah pemahaman akan media dan informasi; penilaian akan konten media dan informasi serta penyedia media dan informasi;
mengevaluasi konten media dan informasi serta penyedia media dan informasi; dan mengorganisasi konten media dan informasi.
48 3. Kreasi
Kemampuan untuk menguasai, menciptakan atau memproduksi, memanfaatkan, memantau konten media dan informasi sebagai pengetahuan baru, serta berkomunikasi secara efektif dan etis dengan orang lain.
Dalam komponen ini, warga yang memiliki LMI tidak hanya mampu menganalisis dan produksi, tetapi juga membutuhkan sikap-sikap dan nilai-nilai etis saat menggunakan media dan informasi TIK konten media dan informasi. Warga LMI juga perlu berpartisipasi dan memantau proses demokrasi terkait penggunaan, dampak, produksi media, dan penciptaan pengetahuan. Warga LMI memerlukan cara-cara baru untuk inovatif dan menjadi kreatif dengan internet web 2.0.
Komponen kreasi dengan subjek masalah yang terkait adalah berkreasi dari pengetahuan dan kebebasan bereskpresi;
mengomunikasikan konten media, informasi, dan pengetahuan secara etis dan efektif melalui media dan teknologi informasi;
berpartisipasi dalam aktivitas sosial publik sebagai warga negara aktif; memantau pengaruh dari konten media, informasi, dan produksi pengetahuan serta penggunaan ilmu pengetahuan dan penyedia informasi dan media.
Komponen-komponen LMI di atas, yaitu akses, evaluasi, dan kreasi menghasilkan subjek masalah yang menjadi kompetensi LMI individu.
49 UNESCO menggunakan istilah ‘kompetensi’ karena lebih relevan diterapkan pada lingkungan yang kompleks (faktor kognitif, metakognitif, dan non-kognitif). Kompetensi LMI adalah serangkaian kompetensi yang terdiri dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang memberdayakan warga negara untuk mengakses, mengambil, mengevaluasi, memahami, menggunakan, dan membuat konten media dan informasi dalam sebuah format, menggunakan TIK dengan cara yang kritis, etis, dan efektif (UNESCO, 2013, p. 151).
Berdasarkan teori Catts (2005) dalam (UNESCO, 2013, p. 62), LMI adalah sifat laten multidimensi dengan masing-masing komponennya yang bersifat laten independen. Maka dari itu, pengukuran bersifat laten multidimensi dapat diterapkan, yang dalam teori, data yang diuji kepada individu dapat mengungkapkan korelasi yang lemah dan diabaikan oleh setiap individu.
Kompetensi LMI digunakan untuk menilai level atau tingkat kemahiran individu dilihat dari kompetensi LMI. Tingkat penilaian kompetensi setiap individu disebut dengan profil. Pemberian profil kepada individu dibangun untuk mengidentifikasi bidang-bidang kekuatan dan kelemahan mereka, sebelum kebijakan tepat dielaborasi. Berikut adalah tingkat penilaian kemahiran individu setelah pemberian pelatihan kompetensi LMI (UNESCO, 2013, pp. 60-61):
1. Tingkat dasar, individu atau responden dengan tingkat pengetahuan, pelatihan, dan pengalaman dasar tentang LMI,
50 tetapi membutuhkan penerapan yang efektif. Mampu mengenali dan kebutuhan informasi, mengakses informasi, menyimpan, dan mengatur menggunakan alat dasar, memilih sumber informasi tanpa kriteria yang jelas, memiliki kesadaran terbatas akan fungsi media, serta mendistribusikan informasi tanpa pertimbangan etis dan pengetahuan akan hukum yang terbatas.
2. Tingkat menengah, individu atau responden dengan tingkat pengetahuan dan keterampilan baik dari latihan dan pelatihan tentang LMI, tetapi memiliki kesenjangan di bidang-bidang tertentu. Individu mengakses menggunakan beberapa alat untuk kebutuhan informasi, dapat menganalisis, membedakan kualitas informasi berdasarkan kebenaran, membedakan antara fakta dan opini, terlibat dalam dialog dengan orang lain, mengetahui dampak atas informasi dan penyedia informasi, dan mampu membuat serta memproduksi informasi baru.
3. Tingkat lanjut, individu atau responden memiliki tingkat pengetahuan dan keterampilan sangat baik dari latihan dan pelatihan tentang LMI. Individu dapat merumuskan informasi di media, mengakses informasi dari beragam sumber yang relevan.
Kemudian, individu dapat membandingkan, menafsirkan, mengevaluasi secara kritis, menghargai karya penulis dan penyedia informasi, mendistribusikan informasi dengan etis
51 untuk pemanfaatan lebih lanjut pada masyarakat, organisasi, atau komunitas.
Seperti yang dicontohkan dalam UNESCO untuk menilai tingkat kompetensi LMI bahwa penilaian individu untuk setiap kompetensinya dapat berbeda. Misalnya, ketika individu dapat melakukan dengan sangat baik kegiatan komponen kedua yang berkaitan dengan evaluasi atau pemahaman fungsi media dan penyedia informasi, tetapi individu yang sama kurang dalam komponen pertama yaitu akses, untuk hasil kompetensi LMI komponen ketiga yaitu kreasi dapat dikorelasikan dengan dua komponen lainnya (akses dan evaluasi).
Komponen-komponen beserta subjek masalah yang melahirkan kompetensi LMI digunakan dalam penelitian ini sebagai dimensi dan indikator untuk merancang item pertanyaan. Pelatihan LMI mengharuskan media dan individu yang melek informasi dapat mengenali kekuatan ekonomi, politik, sosial, dan kontrol dari perusahaan media, penyedia informasi, dan lembaga publik.
Tiga dimensi beserta indikator LMI yaitu akses, evaluasi, dan kreasi akan digunakan pada variabel literasi dan melihat tingkat LMI siswa SMA.
Peneliti menggunakan konsep LMI dari UNESCO karena UNESCO tekun meluncurkan edisi terbaru setiap tahunnya sebagai bentuk pengembangan LMI. UNESCO juga memerlihatkan dan memaparkan dimensi serta indikator dengan jelas dan runut sehingga mudah bagi peneliti untuk
52 mengaplikasikan dimensi dan indikatornya untuk penelitian ini untuk dapat dikembangkan pada penelitian literasi media dan informasi.
2.2.3 Siswa SMA sebagai Khalayak Media
Menurut World Health Organization (WHO), masa remaja adalah masa individu berkembang secara biologis, psikologis, dan sosial ekonomi (Herlina, 2013). Menurut Sarwono, remaja berasal dari bahasa Latin yaitu adolescere, berarti tumbuh menuju arah kematangan baik fisik maupun sosial-psikologis (Sarwono, 2011, p. 38).
Menurut Hurlock (1990) dalam (Herlina, 2013), remaja terbagi menjadi dua yaitu remaja awal dan remaja akhir. Remaja awal dengan rentang usia >11 tahun, remaja akhir rentang usianya 16-18 tahun. Jean Piaget, seorang psikolog yang melihat perkembangan anak dalam berinterkasi dengan dunianya dan cara belajar anak.
Jean Pigaet merupakan ahli psikologi dan perkembangan kognitif anak di Swiss, memiliki tiga pemikiran penting yang memengaruhi cara berpikir anak. Piaget meyakini bahwa adanya perbedaan antara proses berpikir anak dan orang dewasa. Menurutnya, anak-anak dengan umur berbeda menggunakan cara berpikir yang berbeda pula. Pemikiran anak yang lebih dewasa berbeda secara mutu dari anak yang lebih muda. Pigaet mengamati bahwa anak di bawah usia 11 tahun tidak dapat memecahkan persoalan operasi logika dasar. Operasi logika dasar berkaitan struktur mental dalam diri anak. Piaget berpandangan bahwa pembuktian tersebut
53 memengaruhi tahap-tahap perkembangan kognitif anak (Suparno, 2001, p.
14).
Teori perkembangan kognitif anak menurut Piaget disebabkan oleh faktor sosial, seperti bahasa, kontak baik dengan teman maupun orang tua (Suparno, 2001, p. 15). Secara garis besar, Jean Piaget mengelompokkan perkembangan kognitif menjadi empat tahap yaitu tahap sensorimotor, praoperasi, operasi konkret, dan operasi formal (Suparno, 2001, p. 24).
1. Tahap sensorimotor (lahir – 2 tahun), bayi mengenal dunia sejak lahir dengan indera dan gerakan tubuh mereka. Bayi mulai melambaikan tangan untuk menjelajahi lingkungan mereka dan menggunakan inderanya. Bayi mengumpulkan informasi dari pengalamannya dan belajar membedakan orang, benda, pemandangan, dan lingkungan yang mereka rasa (Kandola, 2019, 6-8).
2. Tahap pra operasional (2 – 7 tahun), memiliki ciri perkembangan pemikiran simbolis dan intuitif. Kemampuan dalam menyatakan dan mejelaskan suatu objek menggunakan simbol atau tanda.
Melalui penggunaan simbol atau tanda tersebut seorang anak dapat mengungkapkan suatu hal yang sudah terjadi menggunakan bahasa tanpa terikat oleh ruang (dimana saja) dan waktu (kapan saja).
Anak melakukan imitasi, meniru kebiasaan-kebiasaan orang dewasa, dan mulai belajar menggunakan bahasa. Jadi pada tahap
54 ini, anak memilik pemikiran simbolis, bahasa, dan pemikiran intuitif (Suparno, 2001, p. 49).
3. Tahap operasional konkret (7 – 11 tahun), anak membangun dan menguasai pemikiran abstrak. Menjadi lebih rasional dan egosentris. Anak memeroleh, mengembangkan, dan menerapkan aturan logis dan konkret, termasuk juga mengklasifikasikan objek ke dalam kelompok dan subkelompok dan aturan logis seperti berat dan tinggi (Kandola, 2019, para. 14-16).
4. Tahap operasional formal (11 tahun – dewasa), tahap akhir dari perkembangan kognitif anak. Anak mempelajari aturan logika dengan canggih, menggunakan pemikiran logis untuk menyelesaikan masalah dan memahami konsep abstrak. Melihat lingkungan dan mampu membuat kesimpulan. Kemampuan anak melampaui batas memahami objek dan fakta, juga kemampuan membuat teori berdasarkan pengalaman dan pengetahuan anak.
Pembuatan teori menuju pada prediksi atas apa yang akan terjadi di dunia pada masa depan (Kandola, 2019, para. 19-21).
Berdasarkan tahapan di atas, teori Piaget menunjukkan pemahaman anak yang canggih setiap tahapnya. Piaget yakin bahwa pembangunan berkelanjutan terjadi atas dorongan anak untuk mempelajari dunia. Teori Piaget berfokus pada anak-anak yang perlu mengeskplorasi, berinteraksi, dan bereksperimen untuk mendapatkan informasi yang anak butuh untuk memahami dunia (Kandola, 2019, para. 31). Pada tahap selanjutnya,
55 pemberian tugas penyelesaian masalah dan teka-teki kata dan logika akan membantu perkembangan kognitif anak (Kandola, 2019, para. 33).
Menurut Pratiwi dan Pritanova, kemudahan akses akan informasi di media terutama di media sosial, media online, dan lainnya memudahkan penyebaran informasi baik positif maupun negatif diketahui oleh pengguna media sosial bahkan yang bukan pengguna. Fenomena pencemaran nama baik, penghinaan, penculikan, bullying memicu timbulnya depresi pada anak dan remaja sehingga fenomena ini menunjukkan bahwa pengguna internet di Indonesia belum mengerti akan bertindak menggunakan internet dengan benar dan etis. Tingkat melek huruf yang tinggi, belum tentu menghasilkan kemampuan literasi digital yang tinggi (Pratiwi & Pritanova, 2017, p. 12).
Anak dan remaja dalam kehidupannya bermedia menggunakan internet, tentu menginginkan dirinya untuk mendapatkan perhatian secara sosial. Maka untuk memebuhi kebutuhan presentasi dirinya sendiri di hadapan orang dengan cara menuliskan kutipan yang bijak, mengkritik, menyampaikan aktivitas melalui video maupun gambar, dan kegiatan lainnya dalam tujuan menunjukkan kelebihan mereka (Pratiwi & Pritanova, 2017, p. 14). Maka dari itu, literasi digital hadir untuk menyaring perilaku anak dan remaja dari tindakan yang tidak etis.
Literasi yang buruk dapat mengakibatkan gangguan pada psikologis remaja yang disebabkan karena emosi anak dan remaja belum stabil, pemikiran yang belum matang dan kritis, serta kecenderungan menerima
56 informasi secara utuh tanpa mencari kebenaran yang berdampak pada psikologis dan kognitif mereka. Literasi digital yang buruk akan berdampak pula pada pemahaman anak dan remaja sehingga peran orang tua dalam mengawasi tingkah laku anak dan remaja menjadi penting. Pemahaman akan literasi digital yang buruk mengakibatkan psikologis anak dan remaja mudah menghina orang lain, timbul sifat iri, dan menggunakan bahasa yang kurang sopan terutama ketika konten di media buruk (Pratiwi & Pritanova, 2017, p. 31).
2.3 Hipotesis Teoritis
Berdasarkan rumusan masalah, tujuan penelitian, serta teori dan konsep yang digunakan peneliti, peneliti merumuskan hipotesis dari tiap variabel sebagai berikut:
H0 : Tidak terdapat pengaruh tingkat LMI terhadap kemampuan mengidentifikasi karakteristik berita bersponsor pada siswa di 4 SMA Tangerang.
Ha : Terdapat pengaruh tingkat LMI terhadap kemampuan mengidentifikasi karakteristik berita bersponsor pada siswa di 4 SMA Tangerang.
2.4 Alur Penelitian
Keberadaan teknologi digital dan internet di Indonesia membawa pada dampak industri media yaitu konvergensi. Konvergensi media melakukan
57 peleburan dalam konektivitas digital ke dalam bentuk digital. Bentuk institusi media yang sebelumnya berupa media cetak, radio, dan televisi berubah secara relatif penuebarannya kepada banyak orang menjadi bentuk multimedia. Bentuk multimedia mentransformasi ke format digital dalan pembuatan, transmisi pesan, dan penerimaan konten media.
Peralihan ke format digital yaitu media online memungkinkan institusi media untuk memindahkan produk iklannya. Bentuk iklan di media berupa iklan spanduk (banner ads) dan berita bersponsor (native advertising). Realitanya, produk iklan lebih banyak dibanding produk berita. Iklan spanduk di media online ternyata menunjukkan hasil yang kurang memuaskan bagi pengiklan karena dianggap menganggu dan tidak beraturan sehingga diabaikan oleh pembaca. Maka dari itu, strategi iklan baru di media untuk mendapatkan perhatian dari pembaca yaitu berita bersponsor.
Keberadaan berita bersponsor pada media online di Indonesia seperti Tempo.co, Merdeka.com, Kompas.com, dan lainnya menimbulkan banyak kritik dan dampak karena karakteristik berita bersponsor serupa dengan berita biasa yang formatnya menyerupai konten editorial. Minimnya pengungkapan bahwa berita tersebut merupakan berita bersponsor seperti minimnya penulisan ‘advertorial’ dan
‘konten, atau iklan, atau berita berbayar’. Bahkan kuantitas berita bersponsor yang menutupi kuantitas berita biasa sehingga membuat pembaca semakin sulit mengidentifikasi antara berita bersponsor atau berita biasa.
Fenomena berita bersponsor dianggap tidak transparan dan tidak menjaga kredibilitas media akan mengancam pembaca yang memiliki kemampuan LMI
58 tidak cukup baik. Maka dari itu penelitian ini merumuskan masalah dengan tujuan mendapatkan gambaran apakah kemampuan mengidentifikasi karakteristik berita bersponsor dipengaruhi oleh tingkat LMI siswa di 4 SMA Tangerang.
Peneliti ingin menjawab rumusan masalah tersebut dengan menggunakan konsep LMI dari UNESCO yang mendukung dan mendorong pengadopsian LMI diperlukan karena konvergensi, aksesibilitas, dan distribusi konten media dan informasi kepada siswa SMA. Bagi UNESCO, guru sebagai subjek primer, sedangkan siswa sebagai subjek sekunder dalam penilaian LMI.
Kemudian, untuk mengkaji kemampuan mengidentifikasi karakteristik berita bersponsor menggunakan dua konsep milik Camelia Catharina Pasandaran dan Anupama Gadiraju yang keduanya memiliki konsep saling mendukung dengan mengutamakan konten sebagai bagian terpenting dalam berita bersponsor. Berita bersponsor mendasarkan kekuatan pada konten dan berusaha menyatukan tema dengan editor ke dalam tema yang sama. Penelitian ini menggunakan analisis kuantitatif berupa survei untuk mengkaji ada atau tidaknya pengaruh LMI terhadap kemampuan mengidentifikasi karakteristik berita bersponsor dan mengukur tiap variabel pada siswa di 4 SMA Tangerang.
59 Bagan 2.1
Alur penelitian
Konvergensi media mentransformasikan bentuk konvensional ke format digital yaitu media online dalam bentuk multimedia, baik dalam pembuatannya, transmisi pesan, maupun penerimaan konten media (Taspell & Jurriens).
.
Produk di media online tidak hanya berita, tetapi juga iklan.
Masalah penelitian
Iklan lebih mendominasi dibanding berita. Bahkan terdapat iklan yang tidak terlihat atau teridentifikasi oleh
pembaca yaitu berita bersponsor (native ads).
Perlu literasi media dan informasi (LMI) untuk menghadapi konten media yang dapat membuat tersesat
dan bias.
LMI Kemampuan mengidentifikasi
karakteristik berita bersponsor
Apakah LMI memengaruhi kemampuan mengidentifikasi berita bersponsor?
1. Akses 2. Evaluasi 3. Kreasi
1. Judul
2. Nama penulis (reporter) 3. Waktu pemuatan 4. Ringkasan awal 5. Narasumber 6. Kutipan 7. Konteks 8. Kesesuaian 9. Daya tarik