• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS BAKTERI COLIFORM DAN BAKTERI Escherichia coli PADA JAMU CAIR TRADISIONAL YANG DIPRODUKSI DI DAERAH PERKAMPUNGAN KODAM SUNGGAL TUGAS AKHIR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ANALISIS BAKTERI COLIFORM DAN BAKTERI Escherichia coli PADA JAMU CAIR TRADISIONAL YANG DIPRODUKSI DI DAERAH PERKAMPUNGAN KODAM SUNGGAL TUGAS AKHIR"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS BAKTERI COLIFORM DAN BAKTERI Escherichia coli PADA JAMU CAIR TRADISIONAL YANG DIPRODUKSI

DI DAERAH PERKAMPUNGAN KODAM SUNGGAL

TUGAS AKHIR

Oleh :

MAULINA RAHAYU PRASASTI BR. NAINGGOLAN NIM 182410052

PROGRAM STUDI DIPLOMA III ANALIS FARMASI DAN MAKANAN

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2021

(2)
(3)
(4)

iv

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulisan tugas akhir ini dapat diselesaikan. Tugas akhir ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ahli Madya Analis Farmasi dan Makanan pada Universitas Sumatera Utara.

Penulis menyadari bahwa tugas akhir ini dapat diselesaikan berkat dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Penulis berterima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusi dalam penyelesaian tugas akhir ini dan secara khusus pada kesempatan ini peneliti menyampaikan ucapan terima kasih kepada yang terhormat :

1. Ibu Khairunnisa, S.Si., M.Pharm., Ph.D., Apt. selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Popi Patilaya, S.Si., M.Sc., Apt. selaku Ketua Program Studi Analis Farmasi dan Makanan Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Hetty Lendora Maha, S.Farm, M.Si., Apt. yang telah memberikan bimbingan dan nasihat selama penyusunan tugas akhir ini.

4. Bapak dan Ibu Dosen beserta seluruh staff Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.

5. Ibu Minarti selaku orang tua penulis yang telah memberikan dukungan dan motivasi kepada penulis dalam penyusunan tugas akhir ini.

6. Anisa Rahma Wulandari Nainggolan, Suci Arini Putri Nainggolan, dan Lukman Nainggolan selaku kakak dan adik adik penulis yang telah memberikan dukungan dan semangat kepada penulis dalam penyusunan tugas akhir ini.

(5)

v

7. Teman-teman penulis yang telah membantu memberikan masukan serta dukungan dalam penyusunan tugas akhir ini.

Penulis menyadari tugas akhir ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan akan penulis terima dengan senang hati. Semoga tugas akhir ini dapat bermanfaat bagi semua pihak dan penulis sendiri. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.

Medan, Juli 2021 Peneliti

Maulina Rahayu Prasasti Br. Nainggolan

(6)

vi

ANALISIS BAKTERI COLIFORM DAN BAKTERI Escherichia coli PADA JAMU CAIR TRADISIONAL YANG DIPRODUKSI DI DAERAH

PERKAMPUNGAN KODAM SUNGGAL

Abstrak

Latar Belakang: Jamu cair tradisional merupakan obat tradisional yang masih banyak dikonsumsi oleh masyarakat karena harganya yang terjangkau serta mudah diperoleh. Jamu gendong merupakan salah satu obat tradisional tidak wajib daftar sehingga pembuatannya tidak dikontrol oleh dinas kesehatan setempat, oleh karena itu kualitas dan kebersihan jamu gendong masih sering diragukan.

Disamping itu pengolahan dan penyajiannya masih sederhana, sehingga tidak menutup kemungkinan apabila jamu tersebut tercemar oleh mikroorganisme.

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pencemaran bakteri coliform dan Escherichia coli pada jamu cair tradisional yang diproduksi di daerah Perkampungan Kodam Sunggal.

Metode: Penelitian ini menggunakan metode Most Probable Number. Sampel dibeli dari 2 penjual jamu keliling di Perkampungan Kodam Sunggal. Masing- masing sampel dihitung nilai MPN (Most Probable Number) dengan 2 langkah uji yaitu uji praduga pada media LB (Lactose Broth) dan uji penegasan pada media BGLB (Brilliant Green Lactose Bile Broth).

Hasil: Hasil penelitian diperoleh nilai MPN dari kedua sampel jamu cair yang diperiksa yaitu < 3/ml.

Kesimpulan: Sampel jamu cair tradisional memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam SNI 7388 tahun 2009.

Kata kunci: jamu, coliform, Escherichia coli, Most Probable Number (MPN).

(7)

vii DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

SURAT PERNYATAAN ORISINALITAS ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

ABSTRAK ... vi

DAFTAR ISI ...vii

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR LAMPIRAN ... x

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Tujuan Penelitian ... 3

1.3 Manfaat Penelitian ... 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 4

2.1 Jamu ... 4

2.2 Bakteri Coliform ... 5

2.3 Bakteri Escherichia coli ... 6

2.4 Metode Most Probable Number (MPN) ... 7

2.4.1 Uraian metode most probable number (MPN) ... 7

2.4.2 Prinsip metode most probable number (MPN) ... 8

2.4.3 Tahapan metode most probable number (MPN) ... 8

2.4.4 Keuntungan metode most probable number (MPN) ... 10

2.4.5 Kelemahan metode most probable number (MPN) ... 10

2.4.6 Media metode most probable number (MPN) ... 10

2.4.7 Perhitungan metode most probable number (MPN) ... 13

(8)

viii

BAB III METODOLOGI PENELITIAN... 14

3.1 Tempat dan Waktu ... 14

3.2 Alat ... 14

3.3 Bahan ... 14

3.4 Sampel ... 14

3.5 Prosedur Kerja ... 14

3.5.1 Pengambilan sampel ... 14

3.5.2 Sterilisasi alat ... 15

3.5.3 Pembuatan media ... 15

3.5.3.1 Brilliant green lactose bile broth (BGLB) ... 15

3.5.3.2 Lactose broth (LB) ... 15

3.5.4 Pengujian metode most probable number (MPN) ... 15

3.5.4.1 Uji Pendugaan (Presumtive test) ... 15

3.5.4.2 Uji Konfirmasi (Confirmative test) ... 16

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 18

4.1 Hasil ... 18

4.2 Pembahasan ... 18

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 21

5.1 Kesimpulan ... 21

5.2 Saran ... 21

DAFTAR PUSTAKA ... 22

(9)

ix

DAFTAR TABEL Tabel

4.1 Hasil Pengujian MPN pada Jamu ... 18

(10)

x

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran

1. Tabel Nilai MPN (menggunakan 3 tabung) ... 24 2. Gambar Alat, Bahan, dan Hasil ... 25

(11)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah, salah satunya flora (tanaman) lebih dari 3.300 spesies yang dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia sebagai bahan obat. Saat ini banyak beredar obat-obatan yang terbuat dari bahan kimia yang mudah didapatkan, namun masyarakat Indonesia masih banyak menggunakan obat-obatan dari alam seperti jamu.

Menurut Wasito (2011), jamu merupakan warisan turun temurun dari leluhur untuk tetap dijaga dan dipertahankan sebagai resep obat alternatif yang diracik sendiri dari tumbuhan. Jamu juga digunakan sebagai obat alternatif karena harganya yang relatif murah. Konsumsi jamu semakin meningkat seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dengan memanfaatkan bahan-bahan dari alam.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (2010) menunjukkan bahwa 49,53% penduduk Indonesia menggunakan jamu baik untuk menjaga kesehatan maupun untuk pengobatan karena sakit. Dari riset tersebut juga menunjukkan bahwa dari masyarakat yang mengkonsumsi jamu, 55,3% mengkomsumsi jamu dalam bentuk cairan, sementara sisanya (44,7%) mengkonsumsi jamu dalam bentuk serbuk, rajangan, dan pil/kapsul/tablet.

Proses pembuatan jamu memerlukan tahapan yang higienis sehingga perlunya diperhatikan beberapa aspek seperti kebersihan air, bahan baku, tempat pembuatan, alat yang digunakan, cara penyimpanan dan pengolahan jamu.

Adapun jamu yang tercemar bakteri tidak layak dikonsumsi, karena dapat

(12)

2

menyebabkan masalah kesehatan. Salah satu mikroba yang umum digunakan sebagai indikator cemaran pada produk makanan dan minuman yaitu bakteri coliform. Salah satu kelompok penting dari sebagian besar anggota bakteri coliform yang berperan sebagai bakteri utama pada kontaminasi makanan dan minuman yaitu bakteri Escherichia coli. Escherichia coli merupakan bakteri yang paling banyak ditemukan pada jamu tradisional. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 661/Menkes/SK/VII/1994 yang mengatur tentang persyaratan obat tradisional menyebutkan bahwa obat tradisional harus bebas dari mikroba patogen, contohnya Escherichia coli. Sedangkan menurut Peraturan BPOM No.

32 Tahun 2019 batas maksimum APM Escherichia coli rajangan yang direbus sebelum digunakan (obat dalam) yaitu ≤100/g.

Metode yang dapat digunakan untuk menganalisis kandungan bakteri coliform seperti Escherichia coli yaitu metode pengujian Most Probable Number (MPN). MPN merupakan suatu metode untuk menghitung jumlah mikroba coliform dengan menggunakan media cair dalam tabung reaksi yang pada umumnya setiap pengenceran menggunakan 3 seri tabung. Tabung positif ditunjukkan oleh adanya pertumbuhan bakteri dan gas. Berdasarkan SNI No. 7388 Tahun 2009 menyatakan batas maksimum MPN coliform yaitu < 3/ml.

Hal ini mendorong peneliti untuk menganalisis kandungan bakteri coliform dan Escherichia coli pada jamu cair tradisional yang diproduksi di daerah Perkampungan Kodam Sunggal dengan menggunakan metode Most Probable Number (MPN) yang merupakan salah satu parameter jaminan mutu jamu tradisional secara mikrobiologi. Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat

(13)

3

memberikan informasi terhadap mutu dan keamanan jamu cair tradisional yang diproduksi di Perkampungan Kodam Sunggal.

1.1 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui ada atau tidaknya bakteri coliform dan bakteri Escherichia coli di dalam sampel jamu cair tradisional yang diuji.

2. Untuk mengetahui apakah sampel jamu cair tradisional yang diuji memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam SNI 7388 tahun 2009 dan Peraturan BPOM No. 32 Tahun 2019.

1.3 Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah dapat memberikan informasi kepada masyarakat Indonesia apakah sampel jamu cair tradisional yang diuji memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam SNI 7388 tahun 2009 dan Peraturan BPOM No. 32 Tahun 2019.

(14)

4 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Jamu

Obat tradisional adalah obat yang didapat dari bahan alam (tumbuhan, hewan, atau mineral) yang diolah secara sederhana berdasarkan pengalaman dan digunakan dalam pengobatan tradisional. Salah satu yang termasuk dalam obat tradisional adalah jamu. Jamu adalah campuran atau ramuan bermacam-macam simplisia dari tanaman berkhasiat obat (seperti kunyit, jahe, kencur, dan temulawak), tersedia dalam bentuk cairan yang bisa langsung diminum. Jamu merupakan industri rumah tangga yang dibuat dan diolah dengan peralatan sederhana, bahan baku banyak tersedia di pasar dan pembuatannya cukup mudah.

Ramuan tradisional Indonesia ini sudah sejak dahulu dipakai sebagai pencegahan dan pengobatan berbagai penyakit (Susanti dan Riza, 2018).

Pembuatan jamu dilakukan secara tradisional dari tanaman berkhasiat obat, yang berupa bagian dari tumbuhan seperti rimpang, daun, kulit batang, biji, dan buah. Produk jamu merupakan suatu produk olahan yang dalam pembuatannya menggunakan air. Air digunakan untuk mencuci dan merebus bahan baku dalam pembuatan jamu. Air merupakan substrat penting untuk pertumbuhan suatu mikroba (Susanti dan Riza, 2018).

Proses pengolahan jamu yang kurang memperhatikan aspek kebersihan sangat memungkinkan terjadinya cemaran olch mikrobia. Permasalahan ini terkait dengan kebersihan air, tempat pembuatan dan produksi, alat-alat yang digunakan untuk produksi, bahan baku jamu, cara penyimpanan, serta pengelolaan limbah maupun sampah hasil pembuatan jamu. Salah satu mikrobia yang umum

(15)

5

digunakan sebagai indikator cemaran pada produk makanan dan minuman yaitu kelompok bakteri coliform (Afifah, 2019).

2.2 Bakteri Coliform

Bakteri coliform merupakan salah satu mikrobia indikator pada produk pangan maupun minuman yang mengindikasikan adanya cemaran. Bakteri coliform dapat bertahan pada temperatur 8- 47C. Cemaran yang muncul karena keberadaan kelompok bakteri ini tidak selalu berasal dari feses, sebab habitat alami bakteri coliform juga berasal dari lingkungan tanah maupun air. Keberadaan bakteri coliform pada sampel pangan maupun minuman mengindikasikan sanitasi yang kurang memadai saat produksi. Adrianto (2018) menyebutkan bahwa keberadaan coliform berbanding lurus dengan pencemaran air pada suatu produk.

Umumnya, adanya coliform dengan jumlah yang tinggi dalam suatu sampel umumnya diikuti pula dengan keberadaan kelompok mikrobia patogen lainnya (Afifah, 2019).

Semua anggota coliform temasuk kelompok bakteri gram negatif yang dapat mengeluarkan senyawa toksin dari aktivitas biologi lapisan membran bagian luar (outer membrane) di struktur dinding selnya. Oleh karena itu, infeksi kelompok coliform seperti Escherichia coli dan Salmonella, dapat menyebabkan munculnya gejala-gejala antara lain sakit perut, diare, dan muntah (Afifah, 2019).

Bakteri coliform secara alami dapat ditemukan dalam habitatnya yang berada di saluran pencernaan maupun di lingkungan tanah dan air. Keberadaannya pada suatu produk makanan maupun minuman bukan berarti menunjukkan kontaminasi dari feses manusia maupun hewan, akan tetapi lebih mengarah pada tingkat sanitasi yang belum baik. Berbagai bakteri dari genus Escherichia,

(16)

6

Salmonella, Klebsiella, Enterobacter, Serratia dan Citrobacter temasuk dalam kelompok bakteri coliform (Afifah, 2019).

2.3 Bakteri Escherichia coli

Bakteri Escherichia coli merupakan mikroflora normal pada usus kebanyakan hewan berdarah panas. Bakteri ini tergolong bakteri gram negatif, berbentuk batang, tidak membentuk spora, kebanyakan bersifat motil (dapat bergerak) menggunakan flagela, ada yang mempunyai kapsul, dapat menghasilkan gas dari glukosa, dan dapat memfermentasi laktosa. Kebanyakan strain tidak bersifat membahayakan, tetapi ada pula yang bersifat patogen terhadap manusia, seperti Enterohaemorragic Escherichia coli (EHEC). Escherichia coli merupakan tipe EHEC bersifat patogen terkait dengan kesehatan masyarakat. Escherichia coli dapat masuk ke dalam tubuh manusia terutama melalui konsumsi pangan yang tercemar, misalnya daging mentah, daging yang dimasak setengah matang, susu mentah, dan cemaran fekal pada air dan pangan (Kemendikbud, 2013).

Escherichia coli atau sering disebut coliform fekal mempunyai habitat alami di saluran pencernaan manusia maupun hewan. Escherichia coli dapat bertahan hingga suhu 44C. Jenis bakteri ini merupakan indikator kontaminan mikrobia yang berasal dari feses. Infeksi yang dapat ditimbukan dari bakteri Escherichia coli antara lain diare, infeksi saluran kencing, bahkan meningitis (Afifah, 2019).

Escherichia coli termasuk dalam kelompok bakteri yang sensitif terhadap suhu tinggi. Akan tetapi, beberapa penelitian melaporkan bahwa banyak strain

(17)

7

Escherichia coli yang resisten terhadap pemanasan. Menurut Liu et al., (2015) dan Mercer et al., (2015), Escherichia coli dapat bertahan hidup pada suhu 60C selama 6 menit. Meskipun demikian, perlakuan pemanasan pada suhu 70°C selama 3,5 detik terbukti secara efektif mampu membunuh Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Pemanasan pada suhu tinggi akan merusak struktur selnya, antara lain merusak struktur membran sel, protein, sitoplasma dan asam nukleat. Sehingga salah satu cara yang bisa diaplikasikan oleh para produsen jamu yaitu dengan menggunakan air mendidih pada proses pembuatan jamu untuk mencegah keberadaan mikrobia patogen (Afifah, 2019).

2.4 Metode Most Probable Number (MPN)

2.4.1 Uraian metode most probable number (MPN)

MPN coliform adalah suatu metode penentuan angka mikroorganisme dengan metode Angka Paling Mungkin (APM) yang digunakan luas di lingkungan sanitasi untuk menentukan jumlah koloni coliform di dalam air, susu dan makanan lainnya. Metode MPN dapat digunakan untuk menghitung jumlah bakteri yang dapat memfermentasi laktosa membentuk gas, misalnya bakteri coliform (Yusmaniar, dkk., 2017).

Metode MPN menggunakan medium cair di dalam tabung reaksi, dimana prinsipnya adalah menghitung jumlah tabung yang positif yang ditumbuhi oleh mikroba setelah inkubasi pada suhu dan waktu tertentu. Tabung pada pengujian MPN dinyatakan positif apabila timbul kekeruhan dan atau terbentuknya gas di dalam tabung Durham (Yusmaniar, dkk., 2017).

Pengujian menggunakan metode MPN terdiri atas dua cara, yaitu menggunakan deretan 3 tabung dan deretan 5 tabung reaksi. Lebih banyak tabung

(18)

8

yang digunakan menunjukkan ketelitian dan kepekaan yang lebih tinggi, tetapi alat gelas yang digunakan juga lebih banyak. Namun pada prinsipnya cara penentuan menggunakan deretan 5 tabung sama dengan metode MPN menggunakan deretan 3 tabung (Yusmaniar, dkk., 2017).

2.4.2 Prinsip metode most probable number (MPN)

Prinsip utama metode ini adalah mengencerkan sampel sampai tingkat tertentu sehingga didapatkan konsentrasi mikroorganisme yang pas/sesuai dan jika ditanam dalam tabung menghasilkan frekensi pertumbuhan tabung positif

“kadang-kadang tetapi tidak selalu”. Semakin besar jumlah sampel yang dimasukkan (semakin rendah pengenceran yang dilakukan) maka semakin

“sering” tabung positif yang muncul. Semakin kecil jumlah sampel yang dimasukkan (semakin tinggi pengenceran yang dilakukan) maka semakin “jarang”

tabung positif yang muncul. Jumlah sampel/pengenceran yang baik adalah yang menghasilkan tabung positif “kadang-kadang tetapi tidak selalu”. Semua tabung positif yang dihasilkan sangat tergantung dengan probabilitas sel yang terambil oleh pipet saat memasukkannya ke dalam media. Oleh karena itu homogenisasi sangat mempengaruhi metode ini. Frekuensi positif (ya) atau negatif (tidak) ini menggambarkan konsentrasi mikroorganisme pada sampel sebelum diencerkan (Hafsan, 2014).

2.4.3 Tahapan metode most probable number (MPN)

Pengujian dengan menggunakan metode MPN (Most Probable Number) bertujuan untuk mendeteksi bakteri coliform dan bakteri Escherichia coli dalam air yang mengindikasikan bahwa air tersebut telah tercemar oleh kotoran manusia atau hewan yang dapat menyebabkan penyakit-penyakit saluran pencernaan.

(19)

9

Metode MPN (Most Probable Number) meliputi beberapa tes, diantaranya tes perkiraan (presumptive test) dan tes penegasan (confirmed test). Metode MPN dilakukan dengan menggunakan tabung reaksi dimana sebelumnya telah diletakkan tabung durham dengan posisi terbalik untuk melihat ada atau tidaknya gelembung pada tabung durham (Octaviani dan Izzatul, 2018).

Tes perkiraan (presumptive test) pada penelitian ini menggunakan media Lactose Broth (LB) karena LB merupakan media umum yang digunakan untuk mengisolasi kelompok bakteri coliform. Tabung berisi media LB dan sampel dimasukkan dalam inkubator pada suhu 37C selama 48 jam. Uji dinyatakan positif apabila terbentuk gelembung yang dapat dilihat berupa rongga kosong pada tabung durham. Terbentuknya gelembung dalam tabung durham sebagai hasil fermentasi laktosa serta dihasilkan asam laktat. Fermentasi laktosa tidak selalu menunjukkan bakteri coliform, karena laktosa bisa juga difermentasi oleh mikroba lain misalnya bakteri asam laktat. Pengujian dilanjutkan dengan tes penegasan (Octaviani dan Izzatul, 2018).

Uji penegasan (Confirmative test) dilakukan untuk meyakinkan keberadaan uji coliform karena pada uji perkiraan hasil yang positif tidak selalu disebabkan oleh adanya bakteri coliform. Hasil uji positif dapat juga disebabkan oleh bakteri lain yang dapat memfermentasi laktosa yang disertai dengan pembentukan gas dan asam atau dikarenakan oleh bakteri-bakteri yang bersifat sinergis sehingga dapat menguraikan karbohidrat dan membentuk gas (Octaviani dan Izzatul, 2018).

Uji penegasan (Confirmative test) pada penelitian ini menggunakan media selektif BGLB 2% (Brilliant Green Lactose Bile Broth) yang mengandung garam empedu (bile) yaitu komponen yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri

(20)

10

gram positif yang tidak hidup dalam saluran pencernaan manusia dan mengandung hijau brilian yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri gram negatif tertentu selain coliform, serta memberikan kesempatan bakteri coliform untuk tumbuh dengan baik (Octaviani dan Izzatul, 2018).

2.4.4 Keuntungan metode most probable number (MPN)

Dengan menggunakan metode MPN ini, kita mendapat beberapa keuntungan antara lain:

1) Dapat dibuat sangat peka dengan penggunaan contoh lebih besar dari 1 ml/tabung

2) Dapat digunakan di lapangan karena media dapat disiapkan sebelumnya

3) Untuk tujuan tertentu dapat menggunakan media pertumbuhan selektif sehingga hanya mikroba yang diharapkan dapat tumbuh baik (Kemendikbud, 2013)

2.4.5 Kelemahan metode most probable number (MPN)

Kelemahan utama dari metode MPN adalah membutuhkan waktu dan biaya yang cukup besar untuk persiapannya karena pada prosedur kerjanya membutuhkan ulangan yang cukup banyak, dapat dilanjutkan dengan melakukan uji biokomia yaitu uji IMVIC (Kemendikbud, 2013).

2.4.6 Media metode most probable number (MPN)

Media adalah seam substansi yang komposisinya terdiri dan nutrisi tertentu yang diperlukan untuk menumbuhkan den mempelajari sifat-sifat bakteri.

Komposisi nutrisi media yang komplit mengandung sumber karbon, nitrogen, belerang, fosfat, logam mikro, vitamin, penyubur, NaCl dan air (Fatiqin, dkk., 2019).

(21)

11

Pemilihan media sangat berpengaruh terhadap metode MPN yang dilakukan. Umumnya media yang digunakan mengandung bahan nutrisi khusus untuk pertumbuhan bakteri tertentu. Misalnya dalam mendeteksi kelompok coliform dapat menggunakan media Brilliant Green Lactose Bile Broth (BGLB) 2%. Di dalam media ini mengandung lactosa dan garam empedu (bile salt) yang hanya mengizinkan coliform untuk tumbuh. Jika terdapat ketidak sesuaian jenis media dan bakteri yang diinginkan maka metode MPN akan menghitung bukan bakteri yang dituju (Hafsan, 2014).

Beberapa media yang biasa digunakan antara lain:

1. Eosin Methylen Blue Agar (EMB Agar)

Eosin Methylene Blue Agar merupakan salah satu media selektif yang digunakan untuk isolasi dan identifikasi bakteri gram negatif. Eosin dan pewarna biru metilen menghambat pertumbuhan bakteri gram positif dan mendukung pertumbuhan bakteri gram negatif. Media ini mengandung laktosa dan sukrosa.

Mikroba yang dapat memfermentasi laktosa akan menghasilkan koloni dengan inti berwarna gelap dan kilap logam, sedangkan mikroba yang tidak dapat memfermentasi laktosa, koloninya tidak berwana. Adanya eosin dan metilen blue membantu mempertajam perbedaan tersebut. Media ini cocok untuk mengkonfirmasi bahwa kontaminan tersebut adalah Escherichia coli. Pada media ini, Escherichia coli yang tumbuh akan memberikan warna khas kemilau hijau metalik (Kemendikbud, 2013).

2. Lactose Broth (LB)

(22)

12

Lactose Broth digunakan sebagai media untuk mendeteksi kehadiran koliform dalam air, makanan, dan produk susu. Pepton dan ekstrak beef menyediakan nutrien penting untuk metabolisme bakteri. Laktosa menyediakan sumber karbohidrat yang dapat difermentasi untuk organisme coliform. Media ini biasanya digunakan dalam presumptive test atau uji penduga untuk bakteri coliform. Kehadiran coliform ditandai dengan munculnya gas pada tabung durham. Lactose broth dibuat dengan komposisi 0,3% ekstrak beef; 0,5% pepton;

dan 0,5% laktosa (Kemendikbud, 2013).

3. MacConkey Broth (MCB)

Mac Conkey Broth terdiri dari 3 unsur penting yang saling menunjang, yaitu laktosa, garam dan indikator. Laktosa, berfungsi sebagai agent yang bila terdegradasi akan memproduksi gas. Gas tersebut menunjukkan pertumbuhan Escherichia coli, gas yang terbentuk ditampung dalam tabung durham. Garam, dalam hal ini berfungsi sebagai selective agent. Garam menghambat pertumbuhan beberapa organisme pencernaan, tetapi tidak untuk Escherichia coli. Sedangkan bromocresol purple bertindak sebagai indikator. Escherichia coli yang hidup akan memproduksi asam. Keberadaan asam tersebut akan mengubah warna bromocresol purple dari ungu ke kuning (Kemendikbud, 2013).

4. Brilliant Green Lactose Bile Broth (BGLB)

Media Brilliant Green Lactose Bile Broth merupakan generasi penerus dari Media MacConkey Broth. Pada tahun 1920-an, media BGLB mulai dikenalkan sebagai media deteksi dan konfirmasi anggota grup aerogenes. Berbeda dengan MacConkey Broth, Briliant Green Lactose Bile Broth tidak menggunakan indikator. Komponen utamanya adalah laktosa (fermenting agent), garam

(23)

13

(selective agent), dan brilliant green (completely selective agent) (Kemendikbud, 2013).

2.4.7 Perhitungan metode most probable number (MPN)

Perhitungan MPN berdasarkan pada jumlah tabung reaksi yang positif, yakni yang ditumbuhi oleh mikroba setelah diinkubasi pada suhu dan waktu tertentu. Pengamatan tabung yang positif dapat dilihat dengan mengamati timbulnya kekeruhan atau terbentuknya gas di dalam tabung kecil (tabung durham) yang diletakan terbalik, yaitu jasad renik yang membentuk gas (Kemendikbud, 2013).

Output metode MPN adalah nilai MPN. Nilai MPN adalah perkiraan jumlah unit tumbuh (growth unit) atau unit pembentuk-koloni (colony-forming unit) dalam sampel. Namun, pada umumnya nilai MPN juga diartikan sebagai perkiraan jumlah individu bakteri. Satuan yang digunakan, umumnya per 100 mL atau per gram. Jadi misalnya terdapat nilai MPN 10/g dalam sebuah sampel air, artinya dalam sampel air tersebut diperkirakan setidaknya mengandung 10 coliform pada setiap gramnya. Makin kecil nilai MPN, maka air tersebut makin tinggi kualitasnya, dan makin layak minum. Metode MPN memiliki limit kepercayaan 95 persen sehingga pada setiap nilai MPN, terdapat jangkauan nilai MPN terendah dan nilai MPN tertinggi (Kemendikbud, 2013).

(24)

14 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu

Analisis bakteri coliform dan Escherichia coli pada jamu cair tradisional dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara di Jalan Tri Dharma No. 5 Medan pada 7-16 Juli 2021.

3.2 Alat

Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah autoklaf, beaker glass, bulb filler, erlenmeyer, gelas ukur, hotplate, jarum ose, kapas, mikro pipet, neraca analitik, pipet volume, spritus, tabung durham, tabung reaksi.

3.3 Bahan

Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah alkohol, aquadest steril, Briliant Green Lactose Bile Broth 2% (BGLB), Lactose Broth (LB), dan sampel jamu cair.

3.4 Sampel

Sampel yang digunakan pada percobaan kali ini adalah jamu cair yang diproduksi di daerah Perkampungan Kodam Sunggal.

3.5 Prosedur Kerja

3.5.1 Pengambilan sampel

Sampel jamu cair yang diambil berjumlah 2 sampel, dimana sampel jamu cair yang dibeli dari penjual jamu di daerah Perkampungan Kodam Sunggal.

(25)

15

Sampel kemudian dikemas dalam botol plastik. Sampel yang sudah diambil tidak lebih dari 24 jam dibawa ke laboratorium untuk diuji.

3.5.2 Sterilisasi alat

Alat dari kaca, gelas dan medium untuk pertumbuhan mikroba yang akan digunakan dalam penelitian ini disterilisasi menggunakan autoklaf pada suhu 121C selama 15 menit.

3.5.3 Pembuatan media

3.5.3.1 Brilliant Green Lactose Bile Broth (BGLB)

Timbang media sebanyak 40 gram. Masukkan ke dalam Erlenmayer.

Tambahkan aquadest sebanyak 1 liter. Kemudian masukkan kedalam tabung reaksi lengkap dengan tabung durham. Lalu sterilkan pada autoklaf dengan suhu 121C selama 15 menit.

3.5.3.2 Lactose Broth (LB)

Cara membuat media Lactose Broth (LB) dengan menimbang sebanyak 13 gram LB dan dilarutkan dalam 1 liter aquadest kemudian dihomogenisasi dan dipanaskan dengan menggunakan hot plate. Sebanyak 10 ml media dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang telah berisi tabung durham dan disterilisasi menggunakan autoklaf pada suhu 121C selama 15 menit.

3.5.4 Pengujian most probable number (MPN) 3.5.4.1 Uji Pendugaan (Presumtive test)

Siapkan 9 tabung reaksi yang masing-masing berisi 10 ml media cair lactose steril yang sudah dilengkapi dengan tabung durham. Aturlah letaknya pada rak tabung dan masing-masing beri kode (A1, A2, A3, B1, B2, B3, C1, C2, C3).

Tuangkan air sampel menggunakan pipet steril masing-masing sebanyak 10 ml

(26)

16

kedalam tabung reaksi yang berkode A1, A2, A3. Tuangkan air sampel menggunakan pipet steril masing-masing sebanyak 1 ml kedalam tabung reaksi yang berkode B1, B2, B3. Tuangkan air sampel menggunakan pipet steril masing- masing sebanyak 0,1 ml kedalam tabung reaksi yang berkode C1, C2, C3.

Diinkubasi semua medium yang sudah diinokulasi sampel air pada suhu 35-37C selama 24 jam. Dicatat tabung-tabung setiap seri yang menunjukkan reaksi positif ditandai dengan terbentuknya asam (perubahan warna media) dan gas pada tabung durham. Mikroba penghasil gas yang tumbuh pada tabung adalah kelompok mikroba yang mampu memfermentasikan laktosa. Tabung-tabung biakan air sampel yang menunjukkan reaksi positif tapi belum terbentuk gas diinkubasi lagi pada suhu 35C selama 24 jam. Bila tabung-tabung biakan tetap negatif, maka hasilnya dianggap negatif, tetapi bila hasilnya positif dilanjutkan ke uji penguat (Utami, dkk., 2018).

3.5.4.2 Uji Konfirmasi (Confirmative test)

Siapkan tabung reaksi yang masing-masing berisi 10 ml media cair BGLB steril yang sudah dilengkapi dengan tabung durham. Aturlah letaknya pada rak tabung dan masing-masing beri kode misalnya: (A1, A2, A3, B1, B2, B3, C1, C2, C3), sehingga jumlahnya sama dengan jumlah tabung yang positif dari uji penduga. Tuangkan air sampel yang sudah diinkubasikan dalam media kultur laktosa (hasil positif pada uji penduga) menggunakan pipet steril masing-masing sebanyak 1 ml ke dalam tabung berisi media BGLB. Inkubasikan tabung reaksi yang sudah diperlukan pada suhu 45C selama 1x24 jam. Dicatat tabung-tabung setiap seri yang menunjukkan reaksi positif ditandai dengan terbentuknya asam (perubahan warna media) dan gas pada tabung durham. Mikroba penghasil gas

(27)

17

yang tumbuh pada tabung adalah kelompok mikroba yang mampu memfermentasikan laktosa dan tahan terhadap suhu tinggi 45C mikroba ini disebut kelompok bakteri coliform fekal (Utami, dkk., 2018).

(28)

18 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Berdasarkan pemeriksaan bakteri coliform pada sampel jamu cair tradisional yang diproduksi di daerah Perkampungan Kodam Sunggal dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 4.1 Hasil Pengujian MPN pada Jamu

No Sampel

Jumlah Tabung Positif MPN

Keterangan 10ml 1 ml 0,1 ml Coliform E. coli

1 Jamu 1 0 0 0 < 3/ml < 3/ml

Memenuhi Persyaratan

2 Jamu 2 0 0 0 < 3/ml < 3/ml

Memenuhi Persyaratan Persyaratan :

1. Berdasarkan SNI 7388 Tahun 2009 batas maksimum APM coliform minuman tradisional yaitu <3/ml.

2. Berdasarkan Peraturan BPOM No. 32 Tahun 2019 batas maksimum APM Escherichia coli rajangan yang direbus sebelum digunakan (obat dalam) yaitu ≤100/g.

4.2 Pembahasan

Bakteri coliform merupakan indikator alami baik di dalam air yang tampak jernih maupun kotor yang berasal dari tanah dan air itu sendiri, Sehingga dihasilkan kisaran jumlah mikroorganisme yang diuji dalam nilai MPN/ satuan

(29)

19

volume atau massa sampel. Bakteri coliform adalah golongan bakteri yang hidup dalam saluran pencernaan manusia. Jamu yang mengandung bakteri dan coliform dapat menyebabkan diare yang disertai darah, kejang perut, demam, dan terkadang dapat menyebabkan gangguan ginjal (Hana, dkk., 2018).

Identifikasi kandungan bakteri coliform pada penelitian ini dilakukan dengan metode Uji MPN. Sebelum mikroorganisme ditumbuhkan dalam media, terlebih dahulu dilakukan pengenceran sampel menggunakan aquadestilata, Tujuan dari pengenceran sampel yaitu mengurangi jumlah kandungan mikroba dalam sampel sehingga dapat diamati dan diketahui jumlah mikroorganisme secara spesifik dan tepat dalam perhitungan (Hana, dkk., 2018).

Dalam metode MPN ini digunakan pemeriksaan dengan dua tahap test, diantaranya tes perkiraan (presumptive test) dan tes penegasan (confirmed test).

Tes perkiraan (presumptive test) pada penelitian ini menggunakan media Lactose Broth (LB) karena LB merupakan media umum yang digunakan untuk mengisolasi kelompok bakteri koliform. Tabung berisi media LB dimasukkan dalam inkubator pada suhu 37˚C dan ditunggu 2 × 24 jam. Uji dinyatakan positif bila berbentuk gas yang dapat dilihat berupa rongga kosong pada bagian atas tabung Durham dan bersifat asam bila warna media menjadi kuning keruh.

Terbentuknya gas dalam tabung durham sebagai hasil fermentasi laktosa serta dihasilkan asam laktat. Fermentasi laktosa tidak selalu menunjukkan bakteri koliform, karena laktosa bisa juga difermentasi oleh mikroba lain misalnya bakteri asam laktat. Oleh karena itu test perkiraan dilanjutkan dengan test penegasan (Emma dan Riza, 2018).

(30)

20

Uji penegasan (confirmative test) dilakukan untuk meyakinkan keberadkan uji koliform karena pada uji perkiraan hasil yang positif tidak selalu disebabkan oleh adanya bakteri koliform. Uji penegasan (confirmative test) pada penelitian ini menggunakan media selektif BGLB 2% (Brilliant Green Lactose Bile Broth) yang mengandung garam empedu (bile) yaitu komponen yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri gram positif (Emma dan Riza, 2018).

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa kedua sampel jamu yang digunakan, negatif mengandung bakteri coliform dengan nilai MPN sebesar

<3/ml. Kedua sampel tersebut negatif mengandung bakteri coliform yang ditandai dengan tidak terbentuknya gas pada bagian atas tabung durham dan tidak terjadi perubahan warna media menjadi keruh pada media BGLB. Berdasarkan SNI 7388 Tahun 2009 batas maksimum APM coliform minuman tradisional yaitu <3/ml.

Sedangkan menurut Peraturan BPOM No. 32 Tahun 2019 batas maksimum APM Escherichia coli rajangan yang direbus sebelum digunakan (obat dalam) yaitu

≤100/g. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kedua sampel yang diuji memenuhi syarat yang telah ditentukan.

(31)

21 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengujian dan yang telah dilakukan penulis di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara, maka penulis dapat mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :

1. Kedua sampel yang telah diuji negatif mengandung bakteri coliform dan Escherichia coli dengan nilai MPN sebesar < 3/ml.

2. Kedua sampel yang telah diuji memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam SNI 7388 Tahun 2009 batas maksimum APM coliform minuman tradisional yaitu <3/ml. Sedangkan menurut Peraturan BPOM No. 32 Tahun 2019 batas maksimum APM Escherichia coli rajangan yang direbus sebelum digunakan (obat dalam) yaitu ≤100/g.

5.2 Saran

Dari percobaan ini dilakukan hanya dengan menggunakan satu metode saja yaitu metode Most Probable Number (MPN), sebaiknya pada percobaan selanjutnya dilakukan juga dengan metode Total Plate Count (TPC) agar dapat melihat jumlah koloni bakterinya.

(32)

22

DAFTAR PUSTAKA

Afifah, I. N. 2019. Deteksi Escherichia coli dan Salmonella pada Jamu Kunir Asem di Daerah Gamping, Sleman, Yogyakarta. Journal Health of Studies, 3(2) : 41 dan 47.

Kemendikbud. 2013. Buku Teks Bahan Ajar Siswa : Mikrobiologi Kelas X Semester 2. Jakarta : Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Halaman 68-70, 72-73, 81, dan 85.

Fatiqin, A., Riri, N., dan Ike, A. 2019. Pengujian Salmonella dengan Menggunakan Media SSA dan E.coli Menggunakan Media EMBA pada Bahan Pangan. Jurnal Indobiosains, 1(1) : 25.

Hafsan. 2014. Mikrobiologi Analitik. Makassar : Alauddin University Press.

Halaman 159-161.

Hana, C., Muchson, A., dan Frendi, A. S. 2018. Uji MPN Jamu Tradisional Kunir Asam yang Dijual di Pasar Cepogo, Kabupaten Boyolali. Journal of Farmasi Science, 9(2) : 82-83.

Oktaviani, M dan Izzatul, M. T. A. 2018. Uji Cemaran Bakteri Escherichi coli dan Coliform pada Susu Kedelai yang di Jual di Warung Kawasan Kelurahan Sukajadi Kecamatan Sukajadi Pekanbaru. Jurnal Penelitian Farmasi Indonesia, 6(2) :64.

Susanti, E dan Riza, A. 2018. Uji Cemaran Miroba Pada Jamu Keliling Yang Dijual di Kelurahan Simpang Baru Panam Pekanbaru dengan Metode MPN (Most Probable Number). Jurnal Penelitian Farmasi Indonesia, 6(2) : 56.

(33)

23

Utami, U., dkk. 2018. Buku Panduan Praktikum Mikrobiologi Umum. Malang : Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Halaman 34.

Yusmaniar, Wardiah, Khairun, N. 2017. Bahan Ajar Farmasi : Mikrobiologi dan Parasitologi. Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Halaman 61.

(34)

24

Lampiran 1. Tabel Nilai MPN (menggunakan 3 tabung)

(35)

25 Lampiran 2. Gambar Alat, Bahan, dan Hasil

Laminar Air Flow Cabinet Oven

Autoklaf Inkubator Bakteri

(36)

26

Timbangan digital Sampel Jamu Cair

Media Lactose Broth Media Briliant Green Lactose Bile Broth

Sampel 1

Sampel 2

(37)

27

Hasil Blanko Media LB Hasil Blanko Pengencer Hasil Blanko Media (negatif) (negatif) BGLB (negatif)

Hasil Positif Sampel Media LB

Hasil Negatif Sampel 1 Media BGLB Hasil Negatif Sampel 2 Media BGLB

Sampel 1 Sampel 2

Sampel 1 Sampel 2

Gambar

Tabel 4.1 Hasil Pengujian MPN pada Jamu

Referensi

Dokumen terkait

Analisa bakteri Coliform dan identifikasi Escherichia Coli pada sop buah yang dijual di Jalan Dr Mansur Medan tahun 2013. Saya yang bertanda tangan dibawah

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah bakteri Coliform dan Escherichia coli dalam air minum ternak ayam broiler di Desa Mangesta Kecamatan Penebel, Kabupaten

Sedangkan untuk delapam sampel lainnya didapatkan hasil negatif adanya Escherichia coli (53.3%), tapi bisa saja kemungkinan adanya bakteri Coliform jenis yang

Kualitas air minum sangat erat dengan adanya bakteri Coliform dan Escerichia coli yang kemungkinan adanya pencemaran bakteri patogen yang berbahaya bagi

Maka dari itu berdasarkan latar belakang, peneliti ingin melakukan penelitian mengenai Analisis bakteri Coliform dan Escherichia coli dalam air minum isi ulang

Identifikasi Bakteri Escherichia Coli pada Air Minum Isi Ulang yang Diproduksi Depot Air Minum Isi Ulang di Kecamatan..

Dengan ini saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa segalapernyataan dalam skripsi ”Cemaran Bakteri Escherichia coli pada Daging Sapi di Pasar Tradisional Kota

Penentuan kepadatan bakteri coliform dilakukan dengan metode MPN, sedangkan pengujian resistensi bakteri Escherichia coli terhadap beberapa antibiotik dilakukan