• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.504 pulau dengan luas wilayahnya 1.913.578,68 km (Badan Pusat Statistik, 2017). Kondisi geografis Indonesia tersebut menciptakan seluruh daerah yang tersebar dipenjuru negara ini memiliki keberagaman adat dan budaya. Selain itu, suku di Indonesia juga sangat beragam dimana menurut Badan Pusat Statistik tahun 2010 terdapat 1.340 kelompok suku di Indonesia (Indonesia.Go.Id, 2017).

Budaya yang ada di Indonesia sangat variatif mulai dari bahasa, rumah adat, makanan khas daerah, senjata tradisional, tarian, lagu daerah dan upacara adat. Setiap daerah di Indonesia memiliki budayanya masing-masing, contohnya seperti Tari Reog yang berasal dari Poogo, Lagu Kicir-Kicir dari Jakarta dan senjata Kujang dari Jawa Barat (Ibnu Asmara, 2018).

Arus globalisasi yang berkembang sangat pesat menyebabkan maraknya budaya asing masuk ke Indonesia. Hal ini menimbulkan ketakutan bagi masyarakat karena akan mengancam kelestarian budaya yang sudah diberikan Tuhan dan diturunkan oleh nenek moyang, sehingga menjaga budaya adalah salah satu tugas utama kita (Djulfikri, 2017). Selain itu, keberagaman budaya yang dimiliki oleh Indonesia juga harus diteruskan oleh para generasi penerus bangsa agar semakin berkembang dan untuk dikenal tidak hanya oleh masyarakat lokal namun oleh masyarakat internasional.

Budaya Indonesia yang sangat kaya telah mendapat pengakuan secara resmi oleh UNESCO. Warisan budaya Indonesia yang telah diakui oleh UNESCO diantaranya adalah batik, gamelan, angklung, keris, tari Saman, wayang dan masih

(2)

2

ada beberapa budaya lainnya (Dunia Pendidikan, 2019).

Pentingnya pengakuan budaya oleh UNESCO adalah untuk mencegah terjadinya klaim negara lain terhadap budaya Indonesia (Suryarandika, 2018). Contoh Asisten Direktur Jendral UNESCO Bidang Budaya Fransesco Bandarin juga mengakui bahwa Indonesia merupakan negara adidaya dalam bidang budaya dan tidak ada negara lain yang memiliki budaya sekaya Indonesia (KWRI UNESCO, 2017).

Sebagai negara yang memiliki potensi besar terutama dalam bidang budaya, Indonesia harus tetap menjalin hubungan dengan nagara lain yang diwujudkan dalam bentuk diplomasi dengan tujuan mengembangkan potensi budaya yang dimiliki.

Diplomasi adalah sebuah seni berkomunikasi dan bernegosiasi yang berkaitan dengan hubungan internasional. Suatu negara dapat mempromosikan kekuatan dan menyebarkan pengaruh yang dimilikinya melalui diplomasi dengan negara lainnya (kompasiana.com, 2017).

Diplomasi budaya adalah salah satu contoh dari soft power sebuah negara. Power akan selalu menjadi pondasi bagi kepentingan-kepentingan yang ingin dicapai oleh suatu negara.

Joseph Nye menyatakan bahwa ekonomi dan militer saja tidak cukup untuk menopang negara dalam dunia politik sehingga setiap negara perlu melakukan diplomasi dengan negara lain untuk mencapai kepentingan nasionalnya (Ha, 2016). Melalui budaya setiap negara dapat saling bertukar ide, gagasan dan nilai yang mudah di terima karena lingkup diplomasi budaya yang luas yaitu meliputi pendidikan, seni, kuliner dan olahraga.

Indonesia telah melakukan diplomasi budaya kepada beberapa negara, salah satunya yakni dangan Belanda. Dilihat dari sejarah hubungan Indonesia dan Belanda yang cukup unik yakni pada masa penjajahan. Belanda menjajah Indonesia selama kurang lebih 350 tahun. Indonesia yang merupakan negara penghasil rempah-rempah terbaik dieksploitasi pada jaman kolonial Belanda. Tidak hanya rempah-rempah, namun

(3)

3

sumber daya manusia juga tereksploitasi, seperti sistem kerja rodi dimana rakyat pribumi diperkejakan tanpa upah untuk melancarkan rencana-rencana pemerintah Belanda. Hingga akhirnya Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya dari para penjajah pada tanggal 17 Agustus 1945. Berkaca dari pengalaman pahit pada masa lalu, Indonesia dan Belanda menyadari bahwa keduanya saling membutuhkan dan dapat saling bekerjasama untuk kemajuan di masa depan. Menyadari bahwa Belanda merupakan salah satu negara maju dan pintu masuk bagi Eropa, Indonesia menyadari bahwa Belanda memiliki potensi besar untuk dijadikan negara tujuan dalam mencapai kepentingannya. Dalam rangka mewujudkan kepentingannya tersebut, Indonesia melakukan strategi diplomasi budaya.

Indonesia memiliki beberapa kepentingan nasional di Belanda yang ingin dicapai diberbagai bidang yang perlu dicapai melalui diplomasi budaya, diantaranya ekonomi, pariwisata, pendidikan dan kebudayaan. Dalam bidang ekonomi khususnya perdagangan, Belanda merupakan salah satu negara tujuan dan potensi besar dalam kegiatan perdagangan ekspor komoditi bagi Indonesia. Beberapa komoditas yang di ekspor oleh Indonesia diantaranya bahan kimia organik, rempah-rempah, tekstil, mesin/peralatan listrik, minyak hewan nabati, produk kimia, alas kaki, karet, besi dan baja. Namun, pad atahun 2010 Eropa mengalami krisis ekonomi akibat dari adanya tekanan pada sektor keuangan dimana defisit anggaran dan hutang yang melonjak. Dalam krisis ekonomi tersebut, Belanda menjadi salah satu korban. Masalah ini juga mengakibatlan dinamika hubungan antara Indonesia dengan Belanda dalam hal perdagangan tidak berjalan dengan mulus, dimana nilai ekspor komoditas Indonesia terhadap Belanda tidak mengalami pertumbuhan yang stabil dari tahun 2011-2014 (detikfinanace, 2013).

Kemudian dalam bidang pendidikan, Indonesia perlu meningkatkan kerjasama dengan Belanda dalam program

(4)

4

beasiswa pelajar. Hal ini menjadi penting karena Belanda merupakan salah satu negara yang memiliki kepedulian tinggi dalam bidang pendidikan. Karena pelajar merupakan jembatan untuk mempererat hubungan Indonesia dan Belanda. Selain itu, Indonesia juga dapat meningkatkan mutu dan kualitas ilmu serta pendidikan para pelajarnya.

Dalam bidang budaya dan pariwisata, Indonesia perlu mempromosikan keragaman budaya yang dimiliki kepada masyarakat Belanda. Kegiatan promosi budaya ini sangat perlu diperhatikan oleh pemerintah Indonesia karena melalui diplomasi budaya ini dapat membantu pendapatan Indonesia dalam sektor pariwisata, dimana masyarakat Belanda akan memiliki minat berpariwisata ke Indonesia dan Belanda juga merupakan salah satu target dalam pasar wisatawan utama ke Indonesia (KBRI Deen Haag, Belanda, 2019). Pariwisata merupakan salah satu sektor yang menyumbang pendapatan negara terbesar, sehingga untuk menarik minat wisatawan asing pemerintah perlu mempromosikan Indonesia melalui aspek budaya.

Untuk mencapai kepentingan itu semua, Indonesia melakukan upaya dengan melakukan diplomasi budaya melalui Rumah Budaya Indonesia (RBI) di Belanda pada tahun 2015.

Pada awalnya, RBI digagas oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia pada tahun 2012. Selain Belanda, RBI juga didirikan di berbagai negara lainnya. Rumah Budaya Indonesia didirikan pemerintah untuk membangun citra Indonesia, sebuah wadah untuk saling bertukar informasi terkait kebudayaan dengan Belanda, sebuah sarana untuk mempererat hubungan kerja sama dan mencapai kepentingan Indonesia di Belanda.

B. Rumusan Masalah

(5)

5

Berdasarkan penjelasan latar belakang masalah dan data yang didapat diatas, dalam peneltian ini penulis mengajukan rumusan masalah “Bagaimana keefektifian Rumah Budaya Indonesia sebagai sarana diplomasi budaya Indonesia untuk mencapai kepentingan di Belanda?”

C. Kerangka Konseptual

1. Diplomasi Budaya

Setiap negara di dunia memiliki kepentingan nasional masing-masing yang ingin dicapai. Negara melakukan usaha- usaha sebagai pendukung dan sarana untuk mencapai kepentingan nasionalnya, salah satunya dengan melakukan diplomasi. Diplomasi merupakan kegiatan mempengaruhi masyarakat internasional melalui negosiasi, dialog, pertemuan, konferensi, dan cara-cara lain yang bukan bersifat kekerasan (Tpasvi-IAS Exams, 2018).

Diplomasi antar negara terbagi ke dalam beberapa jenis, yaitu diplomasi ekonomi, diplomasi digital/elektronik, diplomasi publik, gastro diplomacy, gunboat diplomacy, dan jenis diplomasi lainnya. Diplomasi budaya adalah bidang utama dan bagian dari praktik diplomasi publik, dimana menurut Nancy Snow diplomasi public adalah sebuah kegiatan terkait dengan hubungan internasional yang bersifat soft power seperti budaya dan ideologi (Ma'mun, 2014).

Diplomasi budaya dapat diartikan sebagai usaha suatu negara untuk mencapai kepentingan nasionalnya melalui aspek kebudayaan, baik secara mikro seperti olahraga, pendidikan, kesenian dan ilmu pengetahuan maupun secara makro seperti propaganda. Diplomasi budaya merupakan wadah untuk bertukar ide, seni, informasi dan dimensi-dimensi budaya lainnya kepada masyarakat internasional. Jika berdasarkan dengan perkembangan seni yang saat ini semakin pesat,

(6)

6

diplomasi didefinisikan sebagai kegiatan penting para pemerintah negara dan badan-badan khusus dalam hubungan luar negeri untuk melaksanakan tujuan, kebijakan luar negeri negara serta memenuhi haknya yakni kepentingan masional dan luar negeri (Ikande, 2018).

Budaya digunakan sebagai alat diplomasi karena budaya adalah sebuah identitas seuatu negara dan objek yang paling mudah menarik perhatian masyrakat internasional. Tidak hanya negara maupun pemerintah, semua elemen masyarakat juga bisa ikut berkontribusi dalam kegiatan dilomasi budaya.

Diplomasi budaya digunakan sebagai alat komunikasi pemerinah untuk mempengaruhi pihak asing secara positif.

Menurut sebuah karya tulisan yang berjudul A Greater Role for Cultural Diplomacy yang ditulis oleh Simon Mark, dalam praktik diplomasi budaya terdapat 4 elemen penting, diantaranya yaitu:

1. Aktor dan keterlibatan pemerintah

Dalam praktiknya, diplomasi budaya selalu melibatkan para pemerintah negara. Pemerintah bergerak secara aktif karena diplomasi budaya adalah sebuah praktik diplomasi pemerintah yang mendukung perumusan kebijakan luar negeri. Kementerian luar negeri juga terlibat dalam kegiatan diplomasi budaya secara langsung maupun tidak langsung.

2. Tujuan

Setiap kegiatan luar negeri suatu negara pasti memiliki sebuah tujuan, begitu halnya dengan diplomasi budaya. Tujuan utama dari dipomasi kebudayaan adalah untuk mempengaruhi masyarakat internasional dalam mendukung berjalannya kebijakan luar negeri suatu negara. Selain itu, dilakukannya diplomasi budaya adalah untuk mencapai tujuan

(7)

7

idealis, yaitu membangun pemahaman yang selaras, mememberantas etnosentrisme dan stereotip, dan mencagah timbulnya konflik, mencari pengakuan, penyesuaian, bujukan dan ancaman. Terdapat juga tujuan fungsional dari diplomasi budaya, diantaranya untuk menjaga hubungan bilateral dengan negara lain dalam sektor perdagangan, ekonomi dan politik.

Diplomasi budaya tidak hanya bertujuan memajukan kepentingan nasionalnya sendiri, tetapi kepentingan negara lain juga (Mark, A Greater Role for Cultural Diplomacy, 2009). Selain itu, terdapat tujuan lainnya, yakni:

1. Meningkatkan pengetahuan masyarakat Internasional terhadap keberagaman budaya suatu negara 2. Memberi dukungan bagi suatu negara

dalam forum internasional untuk penyelesaian masalah dalam negeri 3. Memberikan peluang besar untuk

memajukan kualitas sumber daya manusia dalam bidang budaya

4. Membangun citra negara dalam kancah internasional melalui budaya yang disebarkan

Semua negara di dunia pasti ingin memiliki citra yang baik dimata internasional karena citra negara akan mempengaruhi setiap hubungannya dengan negara lain. Menurut Keith Dinnie citra negara atau nation branding merupakan sekumpulan teori yang praktiknya memiliki tujuan untuk membangun dan mempertahankan reputasi suatu negara (Dinnie, Nation Branding Concept, Issues, Practice, 2008). Nation branding memiliki pengaruh yang besar bagi negara dalam berkompetisi di pasar internasional, sehingga

(8)

8

hampir semua negara berlomba-lomba untuk membangun citranya dnegan cara yang berbeda-beda.

Perspektif nation branding dapat dilihat dari tiga kacamata, yakni dari perpektif ekonomi, politik dan budaya. Pertama, dari sektor ekonomi citra negara merupakan sebuah sarana untuk membangun dan mempertahankan suatu negara dalam menjalankan pertumbuhan ekonomi. Kedua, dilihat dari kacamata politik, nation branding adalah sebuah alat untuk membangun posisi yang kuat dalam persaingan ekonomi dan militer dari negara-negara super power.

Negara-negara kecil dipinggiran yang kerap kali menggunakan nation branding sebagai alat yang tepat untuk memperkuat posisinya. Selain itu, nation branding adalah sebuah upaya yang dilakukan pemerintah untuk mempromosikan potensi-potensi yang dimiliki suatu negara dan meningkatkan hubungan luar negeri. Ketiga, dalam perspektif budaya nation branding merupakan sebuah tujuan untuk merekonstruksi negara melalui promosi budaya, sejarah dan geografi (Tour, 2019).

3. Audiensi

Untuk mendapat perhatian dan menarik minat masyarakat luar negeri, suatu negara yang sedang melakukan diplomasi budaya juga hendaknya memberi dukungan kepada luar negeri tersebut dalam melakukan kegiatan budaya di negaranya. Hal ini dilakukan agar hubungan antara kedua negara semakin erat dan memajukan kepentingan nasional. Audiensi diplomasi budaya di luar negeri dapat berupa diaspora di negara sendiri, contohnya seperti India dimana banyak masyarakatnya yang berdiaspora sehingga dapat mencapai tujuan dari diplomasinya yakni terhubung dengan masyarakat negaranya sendiri.

(9)

9 4. Kegiatan

Kegiatan yang dilakukan dalam diplomasi budaya melibatkan banyak partisipan dari berbagai kalangan. Untuk mempromosikan budaya yang dimiliki suatu negara, pemerintah perlu mengadakan berbagai kegiatan sebagai pendorong berlancarnya dilomasi budaya. Kegiatan-kegiatan tersebut dapat berupa sebuah acara seperti pameran, festival, pagelaran budaya, eksibisi, pertukaran pelajar, propaganda, forum kebudayaan, konferensi maupun pendirian sebuah fasilitas kebudayaan seperti museum dan perpustakaan (Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, 2018). Kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan untuk menampilkan dan mempromosikan seni budaya, ilmu pengetahum, teknologi dan nilai-nilai sosial yang dimiliki suatu negara kepada bangsa lain.

Kemudian, menurut Porf. Dr. Tulus Warsito dan bu Wahyuni Kartikasari dalam bukunya yang berjudul Diplomasi Kebudayaan Konsep Dan Relevansi Bagi Negara Berkembang:

Studi Kasus Indonesia memaparkan bahwa segala kegiatan diplomasi yang akan dilakukan membutuhkan sarana yang terbagi ke dalam dua jenis. Pertama, infrastruktur berupa media elektronik/audio visual dan media cetak. Kedua, suprastruktur seperti pariwisata, pendidikan, perdagangan, olahraga, para militer, kesenian dan opini publik. Dalam buku ini juga menjelaskan situasi yang sedang terjadi antara kedua negara perlu diperhatikan ketika pelaksanaan diplomasi kebudayaan.

Dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 1. 1 Hubungan Antara Situasi, Bentuk, Tujuan, dan Sarana Diplomasi Kebudayaan

SITUASI BENTUK TUJUAN SARANA

(10)

10 DAMAI

-Eksibisi -

Kompetisi -

Pertukaran Missi -Negosiasi -

Konferensi

-Pengakuan -Hegemoni -

Persahabata n

-

Penyesuaian

-Pariwisata -Olahraga -Pendidikan -Perdagangan -Kesenian

KRISIS -

Propagand a

-

Pertukaran Missi -Negosiasi

-Persuasi -

Penyesuaian -Pengakuan -Ancaman

-Politik -Massa Media -Diplomatik -Missi Tingkat Tinggi

-Opini Publik

KONFLI K

-Terror -Penetrasi -

Pertukaran Missi -Boikot -Negosiasi

-Ancaman -Subversi -Persuasi -Pengakuan

-Opini Publik -Perdagangan -Para Militer -Forum Resmi -Pihak Ketiga

PERANG -

Kompetisi -Terror -Penetrasi -

Propagand a

-Embargo -Boikot -Blokade

-Dominasi -hegemoni -Ancaman -Subversi -Pengakuan -Penaklukan

-Militer -Para Militer -

Penyelundupa n

-Opini Publik -Perdagangan -Supply Barang Konsumtif (termasuk senjata)

(11)

11

Sumber: Diplomasi Kebudayaan Konsep Dan Relevansi Bagi Negara Berkembang: Studi Kasus Indonesia (2007), hal. 31

(Prof. Dr Tulus Warsito, 2007)

Jika dilihat dari tabel diatas, bahwa semakin buruk hubungan antara kedua negara, maka semakin banyak juga bentuk atau cara yang perlu digunakan dalam kegiatan diplomasi kebudayaannya. Hubungan antara Indonesia dengan Belanda pada saat didirikan Rumah Budaya sedang dalam situasi damai, sehingga cara yang dilakukan Indonesia hanya perlu mengadakan program kegiatan kebudayaan seperti eksibisi, pameran, pertukaran pelajar, kompetisi, konferensi dan negosiasi yang dikemas dalam pusat kebudayaan, yakni Rumah Budaya Indonesia. Rumah Budaya Indonesia didirikan tentunya dengan melibatkan pemerintah sebagai perumus dan pendukung segala kegiatan didalamnya. Kemudian pemerintah mendirikan Rumah Budaya Indonesia dengan tujuan sebagai alat diplomasi budaya Indonesia terhadap Belanda untuk memelihara hubungan bilateral yang harmonis diberbagai bidang salah satunya dalam bidang perdagangan serta untuk mendapat pengakuan budaya dari masyarakat internasional.

Melalui Rumah Budaya, Indonesia dapat membangun citra negaranya untuk mempengaruhi Belanda sehingga dapat mencapai beberapa kepentingan nasional Indonesia, yakni meningkatkan kegiatan ekspor komoditas ke Belanda dengan cara promosi bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki komoditas berkualitas baik, dapat meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan Belanda ke Indonesia, promosi keragaman budaya Indonesia dan mempererat hubungan dengan Belanda dalam bidang pendidikan.

D. Hipotesa

(12)

12

Berdasarkan dari rumusan masalah diatas, bahwa Rumah Budaya Indonesia sebagai sarana diplomasi budaya Indonesia di Belanda efektif untuk:

1. Meningkatkan intensitas hubungan bilateral antara Indonesia dan Belanda melalui kerjasama di berbagai bidang

2. Mencapai kepentingan Indonesia di Belanda dalam beberapa bidang, diantaranya bidang pendidikan, pariwisata dan ekspor komoditas E. Tujuan Penelitian

Secara umum penilitan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran Rumah Budaya sebagai sarana diplomasi budaya Indonesia di Belanda. Penelitian ini juga sebagai sarana bagi penulis untuk menerapkan ilmu-ilmu yang telah didapat selama perkuliahan secara teoritik yang kemudian secara aplikatif digunakan untuk penulisan skripsi.

F. Metode Penelitian

1. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Metode deskriptif menjelaskan langkah-langkah atau cara dalam upaya.

Dalam hal ini adalah untuk mengetahui bagaimana ekefektifan dari program-program RBI sebagai sarana diplomasi Indonesia untuk mencapai kepentingan di Belanda.

2. Metode Pengumpulan Data

Metode ini dilakukan dengan mengambil data sekunder yang didapat secara tidak langsung, diantaranya yaitu buku,

(13)

13

skripsi, tesis, berita, catatan, jurnal, artikel, dan media-media elektronik lainnya yang diperlukan dalam penelitian ini.

3. Metode Analisis Data

Dalam menjelaskan objek tulisan, penulis menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif. Data-data yang diperoleh selanjutnya dikelola dan dianalisis yang akan membantu penulis untuk mendapatkan jawaban dari permasalahan.

G. Sistematika Penulisan

Sistematika dalam penulisan skripsi ini terbagi menjadi lima bab yang akan menjelaskan terakait isi dari penulisan penelitian, diantaranya sebagai berikut:

BAB I: PENDAHULUAN

Pada BAB pertama memuat pendahuluan yang diuraikan dalam latar belakang masalah, rumusan masalah, kerangka berpikir, hipotesa, metode penelitian dan sistematika penulisan. Dalam BAB ini akan dijelaskan gambaran umum terkait topik yang akan diteliti.

BAB II: DINAMIKA HUBUNGAN INDONESIA- BELANDA DAN KEPENTINGAN INDONESIA DI BELANDA

Pada BAB kedua ini penulis akan menjelaskan bagaimana dinamika hubungan politik antara Indonesia dan Belanda sejak masa penjajahan hingga kedua negara memutuskan untuk menjalin hubungan diplomatik. Kemudian akan disebutkan dan dijelaskan apa saja kepentingan Indonesia di Belanda setelah hubungan keduanya kembali pulih.

BAB III: RUMAH BUDAYA INDONESIA

(14)

14

Pada BAB ketiga ini penulis akan mendeskripsikan tentang Rumah Budaya Indonesia secara umum dan Rumah Budaya Indonesia yang didirikan di Belanda mencakup program- program apa saja yang di selenggarakan dan sarana yang terdapat didalamnya.

BAB IV: EFEKTIFITAS RUMAH BUDAYA SEBAGAI SARANA DIPLOMASI KEBUDAYAAN UNTUK MENCAPAI KEPENTINGAN INDONESIA DI BELANDA

Pada BAB keempat penulis menjelaskan bagaimana keefektifitasan implementasi dari sarana maupun program yang dilakukan Rumah Budaya Indonesia sebagai sarana diplomasi kebudayaan Indonesia dalam rangka mewujudkan kepentingannya di Belanda mencakup bidang pendidikan, pariwisata dan perdagangan.

BAB V: KESIMPULAN

Pada BAB kelima ini sebagai penutup dan akhir dari penulisan penelitian mengenai ringkasan, kontribusi penelitian dan saran untuk penelitian selanjutnya masukan serta perbaikan selama dilaksanakannya penelitian.

Referensi

Dokumen terkait

Sesuai dengan urutan daya oksidasinya yang menurun dari titik atas ke bawah, halogen yang bagian atas (dalam tabel periodik) dapatd. mengoksidasi halida yang dibawahnya, tetapi

Oleh sebab itulah peneliti ingan melihat dan meneliti bagaimana bentuk kondisi ril dilapangan tentang proses supervisi, upaya dan usaha yang sudah

Ini terdiri dari empat bagian utama, yang Precinct Amon-Re, yang Precinct dari Montu, yang Precinct dari Mut dan kuil Amenhotep IV (dibongkar), serta beberapa candi

28 Tahun 2009 tentang Pajak dan Retribusi Daerah adalah kontribusi wajib kepada daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan

Tujuan penelitian ini mengetahui pengaruh proses pemasakan (kukus, rebus, dan bakar) dengan 3 variasi penggunaan pengawet (tanpa penambahan pengawet, potasium sorbat 250 ppm dan

Namun beberapa penelitian yang dilakukan Rafika (2009) menemukan hasil yang tidak signifikan antara partisipasi penyusunan anggaran terhadap kinerja SKPD Pemerintah

Merupakan suatu kehormatan dan kebanggan bagi Politeknik Negeri Jember, sebagai salah satu perguruan tinggi vokasi untuk dapatnya menyelenggarakan suatu kegiatan

Dengan lebih rinci, tujan kajian ini adalah: (1) Menganalisis dampak beberapa skenario perubahan harga BBM terhadap ongkos usahatani, harga hasil usahatani dan