• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN Deskripsi Rencana Produksi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN Deskripsi Rencana Produksi"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Deskripsi Rencana Produksi

Dimulai dari marak dibicarakannya isu kesehatan mental beberapa tahun ini.

Mulai dari pelajar, seniman, hingga public figure sering menyinggung isu kesehatan mental yang di Indonesia masih dianggap tabu. World Health Organisation (WHO) pernah melakukan survey pada tahun 2014 yang menunjukkan hasil bahwa bunuh diri merupakan silent killer terbesar di Indonesia, dan masalah ini masih nyata terjadi hingga saat ini. Kesadaran masyarakat Indonesia juga masih sangat minim tentang mental illness. Banyak orang memiliki pemikiran yang kurang baik terhadap isu ini, sehingga

menciptakan stereotyp yang salah. Pada dasarnya setiap manusia jika memiliki masalah dan lama dipendam dihatinya suatu saat akan tidak kuat lagi untuk menahannya. Seseorang yang menderita mental illness sebetulnya mencari akan bantuan, yang paling sederhana hanya mencari tempat bercerita, namun justru dianggap mencari perhatian semata.

Karena hal itu, film pendek Sunflower Healing House mengangkat tema tema tentang kesehatan mental, yang bertujuan lewat film ini dapat menyadarkan lebih banyak orang tentang pentingnya kesehatan metal. Bercerita, Banyu yang memiliki rasa bersalah atas kematian adiknya yang disebabkan oleh gangguan psikologi. Banyu baru menyadari apa yang di derita adiknya setelah ia pergi menemui psikeater. Sejak saat itu Banyu belajar tentang kondisi psikologi. Banyu belajar betapa pentingnya kesehatan mental seseorang melalui tamu yang datang ke guesthouse miliknya.

Dalam film fiksi ini tidak hanya menceritakan tentang Banyu, melainkan ada tiga tamu yang datang dengan latar belakan yang berbeda. Tamu pertama, Dhipa yang datang ke Sunflower Healing House karena lelah akan pekerjaannya, dan istrinya yang kurang memberikan solutif akan apa yang ia keluhkan.

(2)

2 Kemudian, Lea yang mengidap Borderline Personality Disorder, atau kepribadian ambang dapat disebut emosi yang dapat berubah-ubah dengan cepat. Dan tamu terakhir, Gandhi yang pemalu, penyendiri, dan bergantung pada orang lain, Gandhi bersikap seperti itu karena dirinya sedang mengalami gangguan psikologi dependen.

Jobdesk penulis pada film Sunflower Healing House sebagai penata artistik yang bertugas membantu sutradara dengan mengetahaui keinginan sutradara dan dapat mengetahui poin-poin yang disampaikan oleh sutradara dengan tanggap.

Penata artistik mengetahui isi dari naskah skenario yang dijelaskan oleh sutradara.

Penata artistic harus menjaga komunikasi yang dilakukan secara intens guna menghindari kesalahpahaman dengan sutradara.

Proses penciptaan film pendek Sunflower Healing House dapat berjalan dengan lacar jika tim saling bekerja sama. Langkah penting susunan dalam pengambilan gambar yang ditangkap kamera adalah hasil dari kinerja penata artistik dari membangun setting ruang, properti, kostum hingga tata rias dalam film pendek yang dijadikan tugas akhir.

Penata artistik mulai menyusun breakdown setelah naskah jadi, kemudian membantu membangun visual yang sutradara inginkan. Melakukan riset lokasi, menentukan setting mana yang akan digunakan, pencarian properti yang sesuai naskah, kostum yang digunakan talent, serta tata rias yang cocok untuk film Sunflower Healing House.

(3)

3 1.2.Tujuan

Tujuan pelaporan tugas akhir ini adalah untuk mengetahui dan mengetahui bagaimana proses pembuatan film pendek yang dilakukan penata artistik mulai dari pra produksi, produksi dan pasca produksi film Sunflower Healing House ini, serta untuk memenuhi persyaratan kelulusan pada jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang.

1.3.Manfaat

1.3.1 Akademis

Diharapkan dapat dijadikan referensi bagi yang ingin membuat film fiksi dari mulai tahap pra produksi, produksi, hingga pasca produksi dan dapat menyumbang ilmu pengetahuan tentang penataan artistik dalam film Sunflower Healing House.

1.3.2 Praktis

Diharapkan hasil dari film pendek ini dapat dijadikan sebagai sarana maupun informasi dalam pengembangan ilmu pendidikan khususnya film pendek. Pengerjaan tugas akhir ini diharapkan juga dapat menambah wawasan bagi masyarakat maupun masahiswa terhadap proses penciptaan karya film pendek dan memberikan pemahaman tentang penataan artistik pada film Sunflower Healing House.

(4)

4 1.4. Review Karya

Gambar 1 Film Welcome to Heal inn

Welcome to Heal Inn merupakan webseries yang memiliki empat episode dan berdurasi 10-13 menit yang dirilis pada tahun 2018 dan ditayangkan melalui aplikasi vlive. Welcome to Heal Inn mengangkat isu tentang “healing” atau penyembuhan untuk jiwa yang sedang lelah agar bisa beristirahat sejenak dari padatnya aktivitas maupun masalah yang sedang dialami dengan cara berlibur ke suatu tempat, seperti yang diusung webseries ini berlibur bisa dengan cara menginap di sebuah tempat dan bertemu orang baru. Bercerita tentang Ji-Son yang merupakan pemilik Heal Inn yang awalnya suka memasak untuk dirinya sendiri, karena memasak dapat membuat hatinya tenang, oleh karena itu dia membuka Heal Inn karena ingin berbagi dengan orang lain.

Pada setiap episode-nya Welcome to Heal Inn menampilkan beberapa tamu yang berbeda, datang dengan tujuan untuk sekedar beristirahat dan mencari suasana baru. Lewat masakan Ji-Son dan suasana rumah, para tamu mendapatkan ketenangan dan kenyamanan selama berada di Heal Inn. Hampir semua adegan diambil dari dalam rumah, cerita yang ditawarkan Welcome to Heal Inn tidak memiliki adegan-adegan yang menegangkan, memiliki alur yang lambat dengan beberapa dialog singkat.

Semua adegan dalam film Sunflower Healing House juga diambil dari dalam rumah. Berbeda dengan Welcome to Heal In, film ini dibumbui dengan isu mental health yang sedang dialami ke-tiga tamu yang datang. Jika Ji-Son

menyajikan makanan untuk tamunya, Banyu tokoh utama dalam Sunflower Healing House menyajikan teh karena memiliki kandungan yang dapat memberi efek rileks, santai dan tenang.

(5)

5 Karena pengambilan gambar film pendek Sunflower Healing House hanya dilakukan didalam rumah, maka pemilihan lokasi produksi sangatlah harus

diperhatikan, pengkarya yang bertugas sebagai penata artistik juga harus

menyiapkan setting mana yang sesuai dengan konsep cerita, kostum yang cocok untuk pemain, serta properti apa saja yang digunakan guna mendukung

terciptanya film Sunflower Healing House.

1.5. Riset Topik

Butuh waktu, tenaga, dan pemikiran untuk menentukan konsep cerita dalam pembuatan film fiksi Sunflower Healing House ini. setelah melakukan riset dari berbagai sumber seperti internet dan buku maupun pengalaman seseorang. Maka, terciptalah sebuah ide cerita tentang Sunflower Healing House dan orang - orang di dalamnya. Maka, penulis melakukan riset sebagai berikut.

1.5.1 Observasi

Observasi adalah teknik pengumpulan data berupa merekam segala fenomena yang terjadi dalam situasi maupun keadaan. Dalam film Sunflower Healing House penulis, mengamati lokasi yang akan digunakan saat produksi, agar dapat menyiapkan setting mana saja yang digunkan, serta menyiapkan proper, kostum yang selaras dengan setting lokasi yang digunakan.

1.5.2 Studi Pustaka

Melakukan riset dengan mencari informasi dari buku, jurnal, dan platform social media yang membahas tentang kesehatan mental. World Health

Organisation (WHO) pernah melakukan survey pada tahun 2014 yang menunjukkan hasil bahwa bunuh diri merupakan silent killer terbesar di Indonesia, dan masalah ini masih nyata terjadi hingga saat ini. Kesadaran masyarakat Indonesia juga masih sangat minim tentang mental illness. Banyak orang memiliki pemikiran yang kurang baik terhadap isu ini, sehingga

menciptakan stereotyp yang salah. Pada dasarnya setiap manusia jika memiliki

(6)

6 masalah dan lama dipendam dihatinya suatu saat akan tidak kuat lagi untuk menahannya. Seseorang yang menderita mental illness sebetulnya mencari akan bantuan, yang paling sederhana hanya mencari tempat bercerita, namun justru dianggap mencari perhatian semata. Setelah mencari informasi tentang kesehatan mental, penulis mempelajari mental illness yang akan diangkat dalam film Sunflower Healing House yaitu, boderline personality disorder, dan dependen, agar lebih menguatkan film ini.

1.5.3 Analisis Tokoh a. Banyu

Gambar 2 Tokoh Banyu

Tokoh utama pria ini digambarkan sebagai pria yang sabar dan

memiliki postur tubuh tinggi. Digambarkan seorang berusia 27 sampai 28 tahun yang mengelolah guest house yang benama Sunflower Healing House. Banyu memiliki pembawaan yang santai, sabar, dan dapat tenang.

 Nama : Banyu

 Gender : Laki-laki

 Umur : 28 Tahun

 Status : Pemilik Guesthouse

 Tinggi : 175-180 cm

 Berat badan : 65-70 kg

 Ciri fisik : Tinggi, kurus, rapi, sawo matang

 Ciri psikis : Lembut, hangat, sensitive

(7)

7 Tokoh Banyu diperankan oleh Reza Fahlevi. Setelah proses

casting. Reza dianggap dapat memerankan tokoh ini meskipun dirinya masih berusia 18tahun, namun fisik nya dapat dibilang cocok untuk tokoh Banyu.

b. Gandhi

Gambar 3 Tokoh Ghandhi

Sosok Ghandi yang diinginkan pada film pendek ini adalah pria yang pemalu, penyendiri, dan bergantung pada orang lain, Gandhi bersikap seperti itu karena dirinya sedang mengalami gangguan psikologi dependen.

 Nama : Gandhi

 Gender : Laki-laki

 Umur : 18 Tahun

 Status : Guest 1

 Tinggi : 185 cm

 Berat badan : 90 kg

 Ciri fisik : Tinggi, besar, sawo matang

 Ciri psikis : Manja, tidak bisa mandiri

Tokoh Ghandi yang diperankan oleh Dida Roychanu Maulana.

berusia 15 tahun. Setelah melalui proses casting, Dida dianggap dapat memerankan tokoh Ghandi.

(8)

8 c. Kalea

Gambar 4 Tokoh Kalea

Kalea atau Lea ini sosok yang ramah, ceria, madiri, namun kadang perilakunya bisa tiba-tiba berubah karena Lea mengidap Borderline Personality Disorder, atau kepribadian ambang dapat disebut emosi yang dapat berubah-ubah dengan cepat. Tokoh ini digambarkan seorang wanita berumur 24 tahun.

 Nama : Lea

 Gender : Perempuan

 Umur : 24 Tahun

 Status : Guest 2

 Tinggi : 165 cm

 Berat badan : 50 kg

 Ciri fisik : Tinggi, kuning langsat, rambut pendek sebahu

 Ciri psikis : Berisik, mandiri

Tokoh Kalea diperankan oleh Sheren Regina.Sheren sudah mempunyai pengalaman berakting sebelumnya, dan dapat

memerankan tokoh Lea ini dengan baik tanpa hambatan yang berarti.

d. Dhipa

(9)

9 Gambar 5 Tokoh Dhipa

Sosok Dhipa adalah pria yang pendiam, dan pekerja keras. Berbeda dengan Ghandi dan Lea, Dipha tidak memiliki gangguan psikologi yang dialami, dia datang ke Sunflower Healing House karena lelah akan pekerjaannya, dan istrinya. Digambarkan seorang pria yang berusia 25 tahun. Dipha adalah tamu pertama yang datang ke Sunflower Healing House ini.

 Nama : Dhipa

 Gender : Laki-laki

 Umur : 25 Tahun

 Status : Guest 3

 Tinggi : 175 cm

 Berat badan : 50-60 kg

 Ciri fisik : Tinggi, kurus, sawo matang

 Ciri psikis : Pendiam, pekerja keras

Tokoh Dipha yang diperankan oleh Dyo. setelah proses casting, maka diputuskan Meidyo Gema Lazuardi cocok untuk memerankan tokoh Dipha.

(10)

10 1.5.4 Riset Lokasi

Butuh proses yang tidak sebentar untuk menemukan lokasi, harus mempertimbangkan lokasi mudah dijangkau, dan juga akomodasi untuk para kru pelaksana produksi dan pemeran. Proses ini melibatkan semua kru yang bertujuan untuk dapat membayangkan angle mana saja yang akan gunakan secara baik dan nyaman saat proses syuting. Terlebih lagi artistik harus menentukan properti apa saja yang haru ditambahkan pada lokasi agar dapat mendukung set yang diinginkan nantinya.

Proses hunting lokasi film pendek berjudul “Sunflower Healing House”

dilakukan selama sebulan sebelum syuting film. Semua kru mempelajari keaadan lokasi rumah yang akan digunakan dan menggambil gambar dengan foto. Hasil hunting lokasi dipelajari oleh kru dan pemain agar dapat

memperoleh gambaran tetntang kondisi rumah yang akan digunakan untuk lokasi syuting. Lokasi yang didapat selama riset untuk syuting film pendek Sunflower Healing House. Semua adegan dalam film pendek ini diambil pada sebuah rumah yang terletak di Sulfat, kota Malang.

Gambar 6 Riset Lokasi Sunflower Healing House

(11)

11 1.6.Tinjauan Pustaka

Tinjauan pustaka adalah sumber data saat yang digunakan untuk menciptakan sebuah karya film yang ditujukan untuk menjabarkan kajian apa saja yang

disertakan pengkarya untuk pedoman penciptaan film fiksi. Pengkarya mempunyai sumber yang digunakan untuk tinjauan pustaka guna menunjang pembuatan laporan akhir ini.

1.6.1 Artistik

Menurut Hariandja (2002) segala sesuatu yang berkaitan dengan seni, kreasi, emosi, ekspresi merupakan hal yang dapat disebut artistik. Sebagai contoh pekerjaan yang mengandung unsur artistik yaitu musisi, artis, media periklanan, dan lain sebagainya. Dalam FFTV IKJ (2008) menjelaskan bahwa penata artistic bertugas sebagai coordinator lapangan yang mengeksekusi desain tata artistik yang menjadi tanggung jawab production designer. Art director lah yang bertanggung jawab penuh untuk menyediakan bahan artistik dari pra produksi hingga produksi film.

Proses penyususnan tata artistik merupakan aspek utama yang terkandung dalam penbentukan sebuah film yang berhubungan dengan setting tempat dan waktu, properti yang digunakan, make up maupun kostum yang sesuai (Sumarno, 1996). Kegunaan utama dari tata artistik adalah berguna untuk menonjolkan watak karakter tokoh pemeran serta menjadikan ceerita menjadi lebih segar agar penonton tidak bosan. Tugas penata artistik dapat dikatakan sebuah seni yang memiliki sifat sebagai pendukung kesuksesan terciptanya sebuah film.

Tugas dari penata artistik adalah untuk mengeksekusi konsep visual yang dimaksuksud oleh sutradara, yang memiliki arti sebagai seluruh aspek yang terlihat pada kamera. Dalam penataan artistik harus dipertimbangakn dengan baik, tidak hanya dilihat dari sisi keindahannya saja, namun harus memikirkan tentang biaya serta kesulitan perancangannya (Sumarno, 1996).

(12)

12 Penciptaan setting yang baik dapat mengenjasilkan visual yang sesuai kebutuhan film secara menyeluruh. Berikut beberapa komponen yang mendukung tata artistik:

a. Setting

Setting merupakan latar belakang tempat dan waktu terjadinya cerita pada film. Oleh karena itu, setting harus dapat memuat informasi secara runtut agar setiap kejadian yang terjadi tergambar jelas kepada penonton dan dapat membayangkan waktu dan tempat yang sedang terjadi (Sumarno,1996). Sutting dapat juga diartikan sebagai susunan yang mencakup pemeran, sebuah rumah, dapur, dan kantor. Penyusunan setting harus mempertimbangkan setiap adegan hingga membetuk satu hasil yang diinginkan dan berimbang dengan kebutuhan pada naskah.

Setting memiliki peran utama sebagai alat untuk membangun dan mendukung perfoma pemain (artis) saat memerankan tokoh dengan baik. Latar belakang dan latar belakang mendukung suasana yang diciptakan saat pemain berakting serta memunculkan gestur yang sesuai untuk kebutuhan naskah cerita (Subroto, 1994).

b. Properti

Properti dapat diartikan sebagai bagian yang ada pada setting.

Properti membantu membangun setting yang dijelaskan pada naskah.

Oleh karena itu, pemilihan properti harus sesuai dan selaras guna melengkapi setting yang ingin ditunjukkan, sehingga dapat ditangkap kamera, dan menciptakan sebuah gambar yang baik dan komplet (Subroto,1994). Seorang yang bertugas untuk menata properti memiliki kewajiban untuk menyediakan perllengkapan mulai dari peletakan properti sampai kesiapan pemain dalam film.

c. Tata Rias

Penata rias, seta kostum memil peran penting untuk menciptakan label , watak tokoh yang menopang tingkat kesuksesan jalan cerita yang diciptakan (Subroto, 1994). Tata rias atau disebut make up merupakan keterampilan menggunakan alat dan bahan kosmetik yang

(13)

13 bertujuan untuk membuat riasan pada wajah pemeran yang sesuai dengan kebutuhan naskah. Tugas utama penata rias adalah merias pemain film yang sesuai agar saat pengambilan gambar, wajah pemain dapat tergambar dengan baik sesuai naskah.

d. Kostum

Kostum dapat mempengaruhi penonton karena seorang karakter dalam film akan menunjukkan visual terlebih dahulu dan baru selanjutnya audio maupun dialog, monolog serta musik. Oleh karena itu visual dari karakter akan memunculkan kesan pertama terhadap penonton dan membantu penonton untuk lebih memahami karakter yang diperankan oleh aktor (Subagiyo & Sulistyo, 2013).

Dalam film tidak perlu perlengkapan kostum dengan harga yang mahal namun, kostum yang sesuai dengan karakter yang diperankan oleh seorang tokoh karakter sehingga peran yang dilakukan dapat tersampaikan kepaa penonton dan memahami peran karakter dan memperlihatkan hubungan dengan pemeran lainnya (Subagiyo &

Sulistyo, 2013)

1.6.2 Fungsi Artistik dalam Film

Artistik memiliki beberapa fungsi yang dibutuhkan dalam pembentukan sebuah film. Fungsi-fungsi tersebut memiliki tujuan agar apa yang ditampilkan pada kamera dapat mengandung unsur keindahan pada film yang akan

diproduksi.

a. Menciptakan konteks cerita

Tata artistik memiliki fungsi untuk menciptakan konteks cerita dalam film.

Dengan cara menggabungkan sebagian elemen yang memperlihatkan visual seperti perancangan setting, lokasi pengambilan gambar, properti, kostum maupun tata rias, hingga dapat menyajikan sebuah cerita yang sempurna pada layar.

(14)

14 b. Menampilkan tokoh cerita

Berfungsi untuk menampilkan tokoh cerita pada film yang berkaitan dengan kostum dan tata rias yang digunakan dalam film. Penggunaan riasan dan kostum dapat menampilkan usia, keadaan sosial, ras, ekspresi yang sesuai dengan kebutuhan naskah.

c. Memberi efek dramatis

Fungsi tata artistic lainnya adalah memberi efek dramatis pada film yang dapat dilakukan dengan cara pemberian riasan, kostum yang dikenakan, serta property tambahan pada tokoh film yang sesuai dengan tuntutan naskah.

Dapat ditambahkan pula music latar agar lebih dapat kesan dramatisnya.

d. Menyampaikan pesan secara visual.

Fungsi ini biasa terkait dengan properti dan dekorasi yang digunakan pada setting lokasi film. Penambahan properti dapat memperkuat pesan yang akan disampaikan dlam sebuah film,

e. Menciptakan suasana film

Tata artistic juga berfungsi untuk menciptakan suasana film yang akan diperlihatkan kepada penonton. Berkaitan dengan warna dan tekstur, dikarenakan warna dapat mencerminkan keadaan sosial dari karakter, sehingga dapat membangun suasana dalam film.

1.6.3 Peranan Tim Artistik

Seorang perancang artistik memiliki tugas untuk mengartikan skenario dan konsep cerita kedalam visual melalui artistik yang nyata. Pekerjaan dari

gabungan sutradara, penata kamera serta perancang desain artistik harus dikerjakan paling utama sebelum produksi dimulai. Dibutuhkan tim yang bekerja sesuai dengan divisi guna merancang artistik yang sesuai dengan kebutuhan naskah.

(15)

15 Desain yang dibuat penata artistik tidak selalu mahal, hanya perlu

memperhatikan kesesuaian antara naratif dan sinematik pada film. dalam proses pengerjaan tata artistik tidak sendiri, dibantu oleh asisten yang dibentuk dan diberi nama departemen artistik. Tim yang bekerja dalam departemen artistik yaitu:

1. Art director

Art director menurut FFTV IKJ (2008) merupakan koordinator lapangan yang bertanggung jawab atas semua rancangan desain tata artistik yang akan ditangkap oleh kamera. Seluruh proses distribusi material yang menyangkut artistik dari persiapan hingga produksi menjadi tanggung jawab art director.

2. Penata set

Bertugas serta bertanggung jawab penuh untuk membangun set properti baik yang ada dalam naskah maupun properti pendukung yang detail dan diperlukan sesuai tuntutan naskah.

3. Propertymen

Bertugas sebagai penyedia properti serta bertanggung jawab atas seluruh properti yang digunakan sesuai dengan naskah film.

4. Penata rias

Bertugas untuk merias karakter tokoh agar sesuai dengan naskah. Penata rias harus mampu memberikan efek karakter sesuai dengan umur, keadaan sosial yang ingin ditunjukkan sesuai dengan naskah.

5. Penata busana

Bertanggung jawab untuk menghidupkan karakter tokoh lewat batu atau kostum yang sesuai. Penata busana harus mampu menyesuaikan bahan dan tone warna yang digunakan sesuai dengan setting lokasi film, juga

memperhatikan kesesuaian antara adegan dan baju yang digunakan.

(16)

16 1.6.4 Film sebagai Media Komunikasi Massa

Sebagai penunjang terbentuknya penciptaan karya film fiksi yang berupa audio visual. Digunakan kajian-kajian yang menjelaskan berbagai hal yang dijadikan untuk dijadikan pedoman pengkaryaan film fiksi. Dalam penulisan laporan akhir ini terdapat beberapa tinjauan pustaka yang bertujuan untuk menunjang kelengkapan laporan akhir yang dikerjakan oleh pengkarya.

Komunikasi massa menurut Nurudin (2011) penyampaian informasi melalui media massa, dengan media cetak ataupun elektronik. Karena pada mula berkembangnya, komunikasi massa tercipta dari kata media of mass comunication yang berarti komunikasi massa.

Media dalam komunikasi massa merupakan wadah yang dimanfaatkan untuk membawa sebuah pesan dari pengirim kepada penerima pesan tersebut.

Pada komunikasi massa, media sendiri merupakan perangkat yang digunakan sebagai perantara antar sumbre dengan penerima yang bersifat transparan, seemua orang bisa membaca, melihat maupung mendengarkan. Dalam komunikasi massa, media dikhususkan membentuk dua bagian, media cetak dan elektrik. (Nurudin, 2011).

Pertama, media cetak merupakan media yang memprioritaskan

penyampaian pesan yang berdasarkan penglihatan (visual). Yang terkandung dalam media cetak berupa beberapa lembar kertas dengan kalimat, tulisan, gambar, ilustrasi dan sebagainya. Media cetak merupakan dokumen atas segala memori sebuah kejadian yang diambil seorang jurnalis kemudian diolah dan dirangkai kedalam tulisan, dan menambahkan gambar dan lainnya. Media cetak menghasilkan beberapa jenis yaitu surat kabar, majalah, novel, koran, buku dan lainnya. (Nurudin, 2011).

Kedua, Media elektronik merupakan bentuk lain dari media massa dan mempergunakan alat-alat elektronik yang mutakhir (Nurudin, 2011). Dalam media ini diberikan fokus besar untuk segala yang disebar luaskan karena tidak dapat diputar kembali. Pada media elektronik memiliki karakter terbuka untuk

(17)

17 seluruh masyarakat luas, tidak dibedakan dari kalangan tertentu, semua orang dapat menggunakan media ini. produk yang tercipta dari media elektronik dalam media masssa yaitu film, internet, televisi, dan sebagainya.

Dalam komunikasi, film memiliki sifat audio visual yang betujuan guna mengantarkan sebuah pesan untuk sejumlah orang dalam kerumunan disuatu area khusus (Effendy, 1996). Makna yang terkandung dari film dalam komunikasi massa bisa berupa banyak hal, berdasarkan tujuan yang ingin disampaikan film itu sendiri. Pada dasarnya film terdapat beragam pesan, mulai dari sosial, informasi, pendidikan, maupun hanya sebuah pertunjukan.

Film dibagi menjadi dua pembagian yaitu kategori film cerita dan non cerita. Atau arti lainnya adalah pengelompokkan film fiksi dan film non fiksi.

Pertama, film fiksi merupakan film yang diciptakan atas dasar sebuah cerita yang dibuat oleh penulis dan memiliki pemeran yang dilakukan oleh aktor dan aktris pilihan. Film fiksi bersifat komersil , yang berarti ditayangkan pada teater film yang diharuskan membeli karcis dengan harga yang telah

ditetapkan, ataupun ditayangkan ditelevisi dengan penempatan beberapa iklan di sela-sela nya. Film non fiksi merupakan film yang mengangkat realita untuk subjek nya, yaitu dengan cara mengambil kenyataan dan tidak dikarangdapat dikelompokkan ke dalam dua pembagian dasar, yaitu kategori film cerita dan non cerita. Atau pendapat lain menggolongkan film fiksi dan non fiksi. Film cerita adalah film yang diproduksi berdasarkan cerita yang dikarang (Sumarno, 1996).

(18)

18 1.7.Rencana Produksi

1.7.1. Identitas Proyek

Tabel 1 Identitas film Sunflower Healing House

Judul SUNFLOWER HEALING HOUSE

Sutradara Ingez Healthyara

Penulis Naskah Ingez Healthyara

Produser Ervania Anisa Putri

Tahun Rilis 2021

Durasi 15:59

Genre Drama Pshycology

Aspek Ratio Widescreen 1.85 : 1

Sasaran Semua Umur

Pemain Reza Fahlevi

Sheren Regina Meydio Gema Lazuardi Dida Roychanu Maulana

(19)

19 1.7.2. Target Audience

Dalam film pendek ini perlu menentukan segmentasi penonton yang bertujuan untuk memahami siapa yang nantinya akan menjadi target audience.

Paada umumnya penonton film memiliki beraneka ragam pilihan genre, maka tidak mudah untuk sebuah film untuk menargetkan sasaran penontonnya.

Menentukan segmentasi berkaitan dengan isu yang diangkat film fiksi itu sendiri.

Target audience pada film ini ditujukan untuk penikmat film indie bergenre drama dengan cerita yang ringan. Segmentasi umur pada film ini ditujukan untuk usia semua umur, dan seluruh lapisan masyarakat mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa.

1.7.3. Timeline Produksi

Proses penciptaan film pendek Sunflower Healing House bisa dikatakan membutuhkan waktu yang tidak sebentar mulai dari pra produksi, produksi hingga pasca produksi. Berikut merupakan timline produksi dari film pendek ini.

1. Pra produksi : 28 September 2020 – 28 Januari 2021 2. Produksi : 5 – 7 Maret 2021

3. Pasca produksi : 8 Maret – 10 Juni 2021

Tabel 2 Timeline Pra Produksi

NO TANGGAL KETERANGAN

1 28/09/2020

 Pembahasan ide cerita

 Pemilihan jobdesk

 Riset isu

(20)

20 2

8/11/2020 - 19/12/2020

 Penulisan naskah

 Pengerjaan laporan breakdown per- divisi.

3 04/01/2021 Seminar proposal

4

05/01/2021 - 04/03/2021

 Persiapan produksi

 Reading talent

 Hunting lokasi

 Hunting properti dan kostum

5

05/03/2021 - 07/03/2021

Produksi Film Sunflower Healing House

6

08/03/2021 - 11/06/2021

 Editing film

 Peyusunan laporan akhir sesuai dengan jobdesk produksi

Dibuat Jadwal pengambilan gambar dibuat agar sesuai dengan adegan mana saja yang akan diambil saat produksi. Disebabkan karena setiap scene adegan memiliki jadwal yang berbeda sehingga harus menyesuaikan waktu.

Tabel 3 Schedule Produksi Day 1 – Jumat, 5 Maret 2021

NO TEMPAT WAKTU KEGIATAN

1 Omahe Malang (Sulfat) 10.00 Kumpul

11.00-12.00 Pengambilan alat

(21)

21 12.00-12.30 Crew on set

12.30-13.00 Setting scene 1b 13.00-14.00 Take scene 1b 14.30-15.00 Setting scene 1a 15.00-16.00 Take scene 1a 16.00-16.30 Setting scene 5 16.30-17.00 Take scene 5 17.00-18.00 ISHOMA 18.00-19.00 Reading talent 19.00-19.30 Setting scene 7,8 19.30-20.30 Take scene 7 20.30-21.00 Take scene 8 21.00-22.00 Break, evaluasi,

pemindahan file Day 2 – Sabtu, 6 Maret 2021

2 Omahe Malang (Sulfat) 12.00-13.00 Kumpul, loading alat 13.00-13.30 Setting scene 9 14.30-15.00 Take scene 9 14.30-15.00 Setting scene 2 15.00-16.00 Take scene 2 16.00-16.30 Setting scene 6 16.30-17.30 Take scene 6

(22)

22 17.30-19.00 ISHOMA

19.00-19.30 Setting scene 3 19.30-20.30 Take scene 3 20.30-21.00 Setting scene 4 21.00-22.00 Take scene 4

22.00-23.00 Break, evaluasi, cek alat

23.00- selesai

Pemilihan hasil take

Day 3 – Minggu, 7 April 2021

3 Omahe Malang (Sulfat) 07.30-08.00 Kumpul, sarapan 08.00-09.30 Setting scene 5 09.30-10.00 Take scene 5 10.00-11.00 Foto poster 11.00-12.00 Evalusi, cek alat,

pulang

(23)

23 1.7.4. Budgeting

Selain ide cerita dan skenario yang menjadi patokan pembuatan sebuah film, budgeting juga harus dipertimbangkan. Tanpa ada modal produksi, prose film tidak akan berjalan. Budget produksi untuk film “Sunflower Healing House” ialah Rp 4.700.000,- dengan rincian penggunaan sebagai berikut:

Tabel 4 Budgeting film Sunflower Healing House

Item Harga

Peralatan

Sewa Alat 1.045.000

Kertas dan Fotokopi 53.000

Make up dan Kostum 100.000

Alat Tulis 35.000

Batrai 87.000

Operasional

Guesthouse 1.465.000

Property 365.000

Konsumsi 935.000

Fee Talent 300.000

Pasca Produksi

Editing 200.000

(24)

24

Total 4.700.000

1.7.5. Film Statement

Sunflower Healing House merupakan sebuah guesthouse yang diciptakan oleh Banyu, yang didalamnya terdapat satu tujuan sebagai tempat istirahat serta sumber healing bagi yang pendatangnya.

1.7.6. Sinopsis

Banyu, pria yang telah berusia 28 tahun, yang memiliki luka yang sulit disembuhkan dihati setelah meninggalnya adik terkasih. Bagi Banyu, trauma itu masih jelas terasa. Ia terus merasa bahwa kepergian adiknya terjadi karna tidak pahamnya atas apa yang sedang dihadapi adiknya.

Pada suatu hari, Banyu pergi menemui seorang psikiater untuk

meredakan rasa bersalahnya. Hal tersebut yang menjadi awal mula Banyu mengetahui tentang kesulitan yang sedang dialami oleh adiknya. Sejak saat itu pula Banyu mulai belajar secara mendalam tentang pentingnya

kesehatan mental. Karena rasa bersalah yang begitu besar itu, lewat tamu yang datang di guesthouse miliknya, Banyu ingin menjadi pribadi yang hangat, tempat bercerita dan dapat diandalkan oleh mereka.

1.7.7. Production Book

Menjelaskan breakdown naskah film sunflower Healing House berdasarkan jobdesk penataan artistik pada produksi. Breakdown dibuat untuk merinci setiap kebutuhan yang akan digunakan pada saat produksi, agar tidak tertinggal dan keluar dari konsep awal.

(25)

25 Tabel 5 Breakdown Penataan Artistik.

Sc en e

Wakt u

Setting Cast Property Costume Make up

1a INT - Day

Dapur Banyu SET PROP:

Teko,sendok kayu, jar berisi

irisan teh chamomile,

laptop, berkas/kertas-

kertas

Hand prop:

Ponsel

BANYU:

Kaos putih, kemeja kotak-kotak,

celana jeans panjang

Natura l, bersih

1b EXT- Day

Halaman Depan

Banyu Gandhi

SET PROP:

mobil

Hand prop:

koper

BANYU:

Kaos putih, kemeja kotak-kotak,

celana jeans panjang

GHANDI:

Kemeja biru tua, jaket

celana pendek, sepatu putih.

All Natura

l, bersih

(26)

26 2 INT -

DAY

Ruang Tamu

Banyu Gandhi

Lea

SET PROP:

Meja, kursi, pajangan

Hand prop:

koper

BANYU:

Kaos putih, kemeja kotak-kotak,

celana jeans panjang

GHANDI:

Kemeja biru tua, jaket

celana pendek, sepatu putih.

LEA:

Sweater garis, celana

selutut

All Natura

l, bersih

3 INT - Night

Depan Kamar Gandhi -

Dapur

Banyu Gandhi

Lea Dhipa

SET PROP:

Gelas(4), teko

BANYU:

Hoodie abu- abu, celana

hitam panjang GANDHI:

kaos hitam, celana pendek

All Natura

l, bersih

4 INT - Ruang Banyu SET PROP: BANYU: All

(27)

27 Night Tamu Gandhi

Lea

Kursi, meja, sofa, TV, pajangan.

Hand Prop:

Gitar, Ponsel

Hoodie abu- abu, celana

hitam panjang GANDHI:

kaos hitam, celana pendek

LEA:

Sweater garis, celana

selutut

Natura l, bersih

5 INT - Day

Ruang Tamu -

Dapur

Banyu Lea Dhipa

SET PROP:

Laptop, berkas/kertas-

kertas, meja, kursi, poci, sendok, jar berisi teh snow

chrysant, nampan, Hand prop:

cangkir, lap kain (banyu)

BANYU:

Kaos hitam, kemeja kotak-kotak, celana hitam

panjang

LEA:

Dress navy DHIPA:

Kaos putih, cardigan coklat, celana

hitam panjang

All Natura

l, bersih

6 INT - Ruang Banyu Set prop: BANYU: All

(28)

28 Day Tamu Lea poci, cangkir,

sendok kayu, teh lavender,

nampan.

Hand prop:

Gitar

Sweater navy, celana

hitam panjang

LEA:

Sweater putih lengan warna, jumpsuit

Natura l, bersih

7 INT - Night

Dapur Banyu Dhipa

Hand PROP:

Poci, sendok, jar teh, cangkir, gitar

BANYU:

Sweater navy, celana

hitam panjang DHIPA:

Sweater hitam, celana

coklat

All Natura

l, bersih

8 EXT – Night

Halaman Belakang

Banyu Dhipa Gamdhi

Lea

Set prop:

Cangkir, kresek/shoppin

g bag, camilan Hand Prop:

Gitar, ponsel

BANYU:

Sweater abu- abu, celana

hitam panjang DHIPA:

Sweater hitam, celana

coklat

All Natura

l, bersih

9 INT - Dapur Banyu Set Prop: BANYU : Natura l,

(29)

29

Day Cangkir, teko,

gula

Hand Prop : Ponsel

Kaos putih, kemeja kotak-kotak

merah, celana jeans

bersih

(30)

30

Referensi

Dokumen terkait

dokumenter sangatlah penting bagi sebuah naskah film dokumenter. Riset dapat dilakukan dengai berbagai cara salah satunya dengan terjun.. langsung ke lokasi yang

Program ini bertujuan untuk mengembangkan teknologi dan informasi pengelolaan potensi perikanan tangkap yang ada di Pesisir Selatan sehingga dapat meningkatkan

1) Kriteria keamanan, dicapai dengan mempertimbangkan bahwa lokasi tersebut bukan merupakan kawasan lindung (catchment area), olahan pertanian, hutan produksi, daerah buangan

Dari sisi value added konsep yang ditawarkan oleh CiCoffee House yaitu berupa penayangan film dengan sistem VOD ( Video on Demand ), sehingga masyarakat akan

Hasil penelitian ini dapat digunakan pihak rumah produksi NasiPutih Production untuk mengevaluasi proses produksi yang telah dijalankan untuk perencanaan proses produksi sebuah

Kemudian kita pilih setting, kemudian pilih storage, pilih empty pad aide controller, setelah itu cari lokasi CD/ISO pada pilihan chose virtual CD/ISO disk file, setelah itu kita

• Namun demikian, dalam hal pengembangan produksi maupun aplikasi radioisotop dan radiofarmaka baik untuk medik maupun non medik, staf teknis PRR selalu mengikuti

1.1 Penilaian dilakukan untuk mengetahui kemampuan yang meliputi aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja dalam menyiapkan pelaksanaan proses produksi pembekuan