• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING BERBANTUAN ASESMEN KINERJA UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING BERBANTUAN ASESMEN KINERJA UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

1

PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING BERBANTUAN ASESMEN KINERJA UNTUK

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA

Gusti Ayu Made Taria Dewi1, Ign. I Wayan Suwatra2, Made Sumantri3

1 Jurusan PGSD, 2Jurusan TP, 3Jurusan PGSD Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Pendidikan Ganesha

Singaraja, Indonesia

e-mail: [email protected]1, [email protected]2, [email protected]3

Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar IPA setelah penerapan model Problem Based Learning berbantuan asesmen kinerja pada siswa kelas V SD Negeri 2 Sudimara Kecamatan Tabanan Kabupaten Tabanan tahun pelajaran 2015/2016. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas, yang dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri atas tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan evaluasi, serta refleksi. Pelaksanaan tindakan tiap siklus adalah empat kali pertemuan. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V yang berjumlah 18 orang. Objek penelitian ini adalah peningkatan hasil belajar IPA.

Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan metode tes. Data dianalisis dengan metode analisis statistik deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menujukkan bahwa terjadi peningkatan persentase hasil belajar IPA. Berdasarkan hasil tes, pada siklus I rata-rata hasil belajar IPA siswa sebesar 71,17% (kategori cukup tinggi). Selanjutnya, pada siklus II hasil belajar IPA siswa mengalami peningkatan.

Rata-rata hasil belajar IPA siswa pada siklus II sebesar 84,94% (kategori tinggi).

Peningkatan hasil belajar IPA siswa dari siklus I ke siklus II adalah 13,77%. Jadi, hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa penerapan model Problem Based Learning berbantuan asesmen kinerja dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas V SD Negeri 2 Sudimara Kecamatan Tabanan Kabupaten Tabanan tahun pelajaran 2015/2016.

Kata kunci: asesmen kinerja, hasil belajar IPA, problem based learning.

Abstract

This research aimed to improve science learning outcome after application Problem Based Learning model assisted performance assessment of the fifth grade student of elementary school number 2 Sudimara, Tabanan Districts, Tabanan Regency in academic year 2015/2016. This research is classroom action research, which is conducted in two cycles. Each cycle consists of planning phase, conducting treatment, observation and evaluation, as well as reflection. The treatment is conducted in four meetings. The subject of this research are the eighteen students of fifth grade. The object of this research is the improvement of science learning outcome. The data of this research is collected by testing method. The data is analyzed by quantitative descriptive statistic method. The result of this research showed that there was an improvement the science learning outcome. Based on the result test of the first cycle, the average of the students science learning outcome was 71,17% (quite high category). Next on the second cycles, the students science learning outcome was improved. The average of the students science learning outcome on the second cycles was 84,94% (high category). The improvement of science learning outcome from the first cycle until second cycle 13,77%. Therefore, the result of this research showed that the application Problem Based Learning Model

(2)

2

assisted performance assessment can improve students science learning outcome of the fifth grade elementary school number 2 Sudimara Tabanan Districts Tabanan Regency in academic year 2015/2016.

Keywords : performance assessment, problem based learning, science learning outcome.

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan hal yang penting untuk menjamin perkembangan dan kelangsungan kehidupan suatu bangsa. Pendidikan dapat mentransformasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang berlangsung secara berkesinambungan dari generasi ke generasi menuju sumber daya manusia yang berkualitas. Upaya yang tepat untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dilakukan dalam bidang pendidikan.

Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan segala potensi yang dimiliki oleh peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Trianto, 2009:1). Selain itu, salah satu tujuan pendidikan adalah menyiapkan individu untuk dapat beradaptasi atau menyesuaikan diri untuk memenuhi tuntutan-tuntutan sesuai wilayah tertentu (regional, nasional ataupun global) yang senantiasa berubah seiring waktu (Umaedi, dkk., 2011:1.3). Jadi, masa depan bangsa Indonesia bergantung pada sumber daya manusianya melalui pendidikan yang bermutu.

Usaha bersama diperlukan untuk mencapai keberhasilan dalam bidang pendidikan. Pemerintah pun telah coba memperbaharui kurikulum sekolah agar sesuai dengan tingkat perkembangan zaman, sehingga potensi yang dimiliki siswa dapat berkembang dengan optimal.

Selain itu, peran guru juga sangatlah penting dalam upaya peningkatan kualitas pembelajaran. Guru harus mampu memilih metode yang sesuai dengan pokok bahasan dan harus mempunyai cara yang menarik, sehingga dapat menumbuhkan minat siswa untuk belajar.

Selain itu, guru hendaknya memahami

pentingnya pendekatan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran, termasuk pada saat penyampaian materi seperti pada Mata Pelajaran IPA, Matematika, IPS, Bahasa Indonesia dan PKn.

Khusus pada Mata Pelajaran IPA, untuk mencapai tujuan pembelajaran yang optimal, pembelajaran harus dirancang sedemikian rupa baik dengan variasi model ataupun metode pembelajaran. IPA merupakan suatu pembelajaran yang didasarkan pada prinsip-prinsip dan proses yang dapat menumbuhkan sikap ilmiah siswa terhadap konsep-konsep IPA (Susanto, 2014:170). Oleh karena itu, pembelajaran IPA di sekolah dasar seharusnya dilakukan dengan penyelidikan sederhana dan bukan hafalan terhadap kumpulan konsep-konsep IPA. Dengan kegiatan tersebut diharapkan nantinya pembelajaran IPA akan memberi pengalaman langsung kepada siswa, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna.

Realita saat ini, terdapat sekolah dasar yang menerapkan pembelajaran IPA lebih menekankan pada teori dan kurang menanamkan konsep serta kurang memberi kesempatan siswa untuk memecahkan masalah. Fakta tersebut terlihat pada pembelajaran yang terjadi di SD Negeri 2 Sudimara. Hasil observasi yang telah dilakukan di SD Negeri 2 Sudimara pada Selasa, 10 November 2015 ditemukan bahwa saat pembelajaran berlangsung, tampak guru sudah berusaha untuk melakukan perbaikan dalam proses pembelajaran.

Namun, masih terdapat beberapa hal yang teridentifikasi sebagai penyebab belum optimalnya hasil belajar IPA seperti: (1) proses pembelajaran kurang berpusat pada siswa, (2) guru mengajar terlalu menekankan pada penguasaan sejumlah informasi, dan (3) guru masih

menggunakan pembelajaran

(3)

3 konvensional dan siswa kurang diberi kesempatan untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Kemudian saat observasi di kelas, tampak siswa tidak terbiasa belajar mandiri dan hanya mencatat informasi yang disampaikan guru. Hal tersebut dikarenakan siswa terbiasa belajar dengan mendengarkan ceramah dari guru. Karena merasa bosan, beberapa siswa ribut dan membuat kegaduhan.

Fakta di atas juga didukung oleh hasil wawancara yang dilakukan dengan guru kelas V SD Negeri 2 Sudimara pada hari yang sama. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan diperoleh bahwa guru telah berusaha menyampaikan materi dengan baik.

Namun, pemahaman konsep siswa masih kurang dan materi yang sudah pernah diberikan sering dilupakan jika ditanyakan kembali, sehingga berdampak pada rendahnya hasil belajar IPA. Hal ini terlihat pada nilai rata-rata ulangan tengah semester Mata Pelajaran IPA siswa adalah 59 dan berada dibawah KKM yang telah ditetapkan oleh sekolah sebesar 65.

Berdasarkan kenyataan tersebut, perlu dicarikan solusi agar pembelajaran yang dilaksanakan dapat memberikan hasil yang optimal, sehingga mampu meningkatkan hasil belajar IPA. Salah satunya adalah dengan penerapan model pembelajaran inovatif yang dapat meningkatkan hasil belajar, membantu siswa dalam mempelajari sebuah konsep pengetahuan dan memecahkan permasalahan IPA yang berkaitan dengan lingkungan sekitar siswa. Salah satu alternatif pembelajaran dalam pandangan konstruktivis yang memungkinkan dikembangkannya keterampilan berpikir siswa dalam memecahkan masalah yang berujung pada kuatnya pemahaman konsep siswa adalah model Problem Based Learning berbantuan asesmen kinerja.

Model Problem Based Learning digunakan untuk mendukung pola berpikir tingkat tinggi. Problem Based Learning merupakan model pembelajaran dalam pandangan konstruktivistik yang memungkinkan dikembangkannya

kemampuan berpikir siswa dalam memecahkan masalah otentik yang mengakomodasi keterlibatan siswa (Marhaeni, 2013:137). Model pembelajaran Problem Based Learning berkaitan dengan penggunaan intelegensi dari dalam individu yang berada dalam sebuah kelompok atau lingkungan untuk memecahkan masalah yang bermakna, relevan dan konstektual (Rusman, 2012:230). Oleh karena itu, penerapan model Problem Based Learning dalam pembelajaran menuntut kesiapan, baik dari pihak guru maupun siswa. Guru berperan sebagai fasilitator dan pembimbing, sedangkan siswa juga harus terlibat secara aktif dalam pembelajaran dengan mengoptimalkan kemampuan berpikir.

Asesmen mempunyai pengaruh penting dalam pembelajaran. Salah satu asesmen yang dianggap memberi pengaruh positif adalah asesmen kinerja.

Asesmen kinerja adalah sebuah prosedur yang menggunakan berbagai bentuk tugas-tugas untuk memperoleh informasi tentang apa dan sejauhmana kompetensi siswa atau kinerja pembelajaran telah dilakukan dalam suatu program pembelajaran (Dantes, 2014:220). Jadi, asesmen kinerja dapat memotivasi siswa untuk terlibat aktif dalam pembelajaran, serta mempermudah siswa untuk memahami sebuah konsep dari abstrak ke konkret.

Model Problem Based Learning membantu siswa memecahkan masalah otentik, serta mempermudah siswa dalam memahami sebuah konsep. Kemudian asesmen kinerja dapat memotivasi siswa untuk terlibat aktif dalam pembelajaran, sehingga dapat membantu siswa dalam memahami sebuah konsep pembelajaran.

Oleh karena itu, pembelajaran dengan Model Problem Based Learning dan asesmen kinerja seyogianya mampu memotivasi siswa agar terlibat aktif dalam proses pemecahan masalah yang berujung pada kuatnya pemahaman konsep dari abstrak ke konkret.

Berdasarkan uraian di atas, model Problem Based Learning berbantuan asesmen kinerja seyogianya mampu meningkatkan hasil belajar IPA. Oleh

(4)

4 karena itu, dilakukan penelitian tindakan kelas yang berjudul “Penerapan Model Problem Based Learning Berbantuan Asesmen Kinerja untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas V Semester Genap SD Negeri 2 Sudimara Kecamatan Tabanan Kabupaten Tabanan Tahun Pelajaran 2015/2016”.

METODE

Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2015/2016 di kelas V SD Negeri 2 Sudimara dengan siswa berjumlah 18 orang yang terdiri dari 9 orang laki-laki dan 9 orang perempuan. Objek penelitian ini adalah hasil belajar IPA pada ranah kognitif dengan menerapkan model Problem Based Learning berbantuan asesmen kinerja.

Penelitian ini tergolong Penelitian Tindakan Kelas (classroom action research). Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga kualitas pembelajaran meningkat (Wardhani & Kuswaya, 2014:1.4). Selain itu, penelitian tindakan kelas juga sebagai proses pengkajian permasalahan pembelajaran di dalam kelas melalui refleksi diri dalam upaya untuk memecahkan masalah dengan cara melakukan berbagai tindakan yang terencana dalam situasi nyata serta menganalisis setiap pengaruh yang terjadi setelah dilakukan perlakuan (Sanjaya, 2013:26). Jadi, jenis penelitian tindakan kelas (classroom action reseacrh) adalah jenis penelitian yang secara umum bertujuan meningkatkan dan memperbaiki kualitas proses pembelajaran di kelas. Jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dipilih dalam penelitian ini untuk memperbaiki masalah- masalah yang ditemui di kelas V SD Negeri 2 Sudimara yaitu untuk meningkatkan hasil belajar IPA.

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian dua siklus dari Agung (2011:148) tiap siklus dilaksanakan sebanyak empat kali pertemuan yaitu tiga kali pertemuan untuk

pelaksanaan tindakan dan satu kali pertemuan untuk tes evaluasi akhir siklus.

Tiap siklus terdiri dari atas empat tahapan yaitu (1) tahap perencanaan, (2) tahap tindakan, (3) tahap observasi dan evaluasi dan (4) tahap refleksi.

Tahap 1. Perencanaan, beberapa hal yang dilakukan dalam kegiatan perencanaan adalah sebagai berikut. (1) Berkoordinasi dengan Kepala SD Negeri 2 Sudimara untuk melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas di kelas V. (2) Menyiapkan materi IPA sesuai pokok bahasan yang disesuaikan dengan pedoman kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) bersama guru kelas V SD Negeri 2 Sudimara. (3) Menyusun RPP sesuai dengan materi yang telah ditetapkan dengan model Problem Based Learning berbantuan aseesmen kinerja, (4) menyiapkan sarana dan prasarana yang diperlukan dalam proses pembelajaran. (5) Menyiapkan instrumen evaluasi yaitu: rubrik asesmen kinerja untuk penilaian kinerja siswa di setiap pembelajaran, tes akhir siklus dalam tes esai dan menyiapkan kunci jawaban. (6) Penyamaan persepsi pembelajaran untuk penerapan model pembelajaran Problem Based Learning berbantuan aseesmen kinerja.

Tahap 2. Tindakan, setelah rencana awal disusun dan ditetapkan, dilakukan kegiatan pembelajaran dengan penerapan model Problem Based Learning berbantuan asesmen kinerja.

Setiap tindakan siklus dilaksanakan dalam empat kali pertemuan. Kegiatan pembelajaran disesuaikan dengan sintaks model Problem Based Learning berbantuan asesmen kinerja yang terdiri atas lima fase, setiap fase tersebut telah disisipkan asesmen kinerja. Pelaksanaan tindakan sesuai dengan prosedur dan RPP yang telah dirancang.

Tahap 3. Observasi atau evaluasi, kegiatan observasi dilaksanakan dari awal hingga akhir pembelajaran. Dalam kegiatan observasi, dilaksanakan pengamatan terhadap proses kegiatan belajar mengajar. Observasi dilakukan oleh guru yang digunakan sebagai refleksi untuk perbaikan pembelajaran selanjutnya. Evaluasi dilakukan untuk

(5)

5 mengetahui hasil belajar IPA siswa setelah penerapan model Problem Based Learning berbantuan asesmen kinerja.

Evaluasi yang dilaksanakan meliputi evaluasi mengenai komponen-komponen dalam proses pembelajaran meliputi langkah-langkah pembelajaran, aktivitas siswa dan guru, hal-hal yang menyebabkan siswa menjadi kurang aktif dalam pembelajaran, evaluasi kinerja siswa dan diakhir pertemuan dilakukan evaluasi mengenai hasil pembelajaran.

Tahap 4. Refleksi, pada tahap ini dilakukan pengkajian dan perenungan serta melihat kelemahan yang dialami dalam penerapan model Problem Based Learning berbantuan asesmen kinerja.

Hasil renungan dan kajian tindakan siklus I selanjutnya dipikirkan untuk dicari dan ditetapkan beberapa alternatif tindakan baru yang lebih efektif untuk memecahkan permasalahan dan meningkatkan hasil belajar IPA siswa.

Alternatif tindakan ini akan ditetapkan menjadi tindakan baru pada rencana tindakan dalam penelitian tindakan kelas pada perbaikan siklus berikutnya.

Meskipun dilakukan perbaikan-perbaikan, secara umum langkah-langkah pada setiap tahapan dalam siklus II berpatokan pada langkah-langkah pada setiap tahapan dalam siklus I.

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini, adalah data hasil belajar IPA siswa setelah penerapan model Problem Based Learning berbantuan asesmen kinerja. Penilaian hasil belajar IPA dalam penelitian ini menggunakan metode tes. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data tentang hasil belajar IPA adalah tes esai. Jumlah soal disesuaikan dengan jumlah indikator.

Kemudian untuk mengetahui bahwa tes tersebut relevan atau tidak dilakukan uji judges pada soal evaluasi akhir siklus I dan siklus II. Metode analisis statistik deskriptif kuantitatif digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini. Metode analisis deskriptif kuantitatif ini digunakan untuk menentukan tingkatan tinggi rendahnya hasil belajar IPA siswa yang dikonversikan ke dalam Penilaian Acuan Patokan (PAP) skala lima yang telah ditetapkan sebelumnya. Hasil belajar IPA

siswa dikatakan mengalami peningkatan apabila M siklus II lebih besar dari M siklus I. penelitian ini dikatakan berhasil jika memenuhi kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan.

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Analisis Data

Penelitian tindakan kelas dalam Mata Pelajaran IPA di kelas V SD Negeri 2 Sudimara secara umum sudah berjalan dengan baik. Pelaksanaan tindakan sudah sesuai dengan rencana pembelajaran yang dirancang. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Maret hingga April tahun 2016 secara berkolaborasi dengan guru kelas V sekaligus sebagai guru pengampu Mata Pelajaran IPA. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus, setiap siklus pembelajaran dilaksanakan dalam empat kali pertemuan yaitu tiga kali pertemuan untuk pemberian tindakan dan satu kali pertemuan untuk tes evaluasi akhir siklus.

Pada siklus I, persentase hasil belajar IPA siswa sebesar 71,17%. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa hasil belajar IPA siswa belum mampu memenuhi kriteria yang ditetapkan. Jika dikategorikan berdasarkan kriteria penggolongan hasil belajar IPA yang telah ditetapkan, hasil belajar IPA siswa pada siklus I termasuk dalam kategori cukup tinggi. Hasil ini belum memenuhi kriteria yang ditetapkan yaitu tinggi. Jadi perlu dilanjutkan dengan siklus II.

Proses pembelajaran yang telah dilaksanakan pada siklus I secara garis besar sudah sesuai dengan perencanaan.

Walaupun demikian, masih ditemukan beberapa kendala dalam proses pembelajaran yang perlu direfleksi dan dipertimbangkan sebagai perbaikan pada siklus berikutnya. Adapun kendala- kendala yang ditemui adalah sebagai berikut. (1) Pada awal pelaksanaan tindakan, siswa masih bingung dan kesulitan beradaptasi dalam situasi pembelajaran yang menuntut siswa untuk lebih aktif dan terlibat langsung dalam proses pemecahan masalah. (2) Pada fase mengorganisasikan siswa untuk belajar, beberapa siswa masih bingung

(6)

6 untuk mengorganisasikan tugas atau masalah yang diberikan. (3) Pada fase membimbing pengalaman individual atau kelompok, beberapa siswa masih bingung dan belum terampil dalam

mempersiapkan maupun

mempergunakan alat dan bahan praktikum. (4) Pada fase mengembangkan dan menyajikan hasil karya, siswa melaksanakan diskusi untuk mempersiapkan laporan kelompoknya.

Beberapa siswa kurang aktif dalam berdiskusi. Hal ini terlihat dalam satu kelompok, hanya dua sampai tiga orang siswa yang terlihat tekun mengerjakan tugas, sementara siswa yang lain hanya mengandalkan temannya. (5) Pada fase menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah, beberapa siswa masih enggan dan malu-malu untuk mempresentasikan laporannya ke depan kelas. (6) Siswa rata-rata masih enggan untuk bertanya ataupun mengungkapkan hal-hal yang belum dipahami kepada guru maupun kelompok penyaji.

Bertolak dari kendala-kendala yang dihadapi pada siklus I, adapun perbaikan tindakan yang dilakukan adalah sebagai berikut. (1) Menjelaskan langkah-langkah atau petunjuk yang belum dipahami oleh siswa dalam penerapan model Problem Based Learning berbantuan asesmen kinerja, sehingga siswa termotivasi untuk terlibat aktif di setiap fase-fase pembelajaran. (2) Guru membantu dan membimbing siswa untuk mendefinisikan atau mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah yang diberikan, sehingga kesulitan siswa dapat teratasi. Selain itu, lebih memotivasi siswa untuk terlibat aktif dalam pemecahan masalah. (3) Guru membimbing dan membantu siswa dengan menjelaskan logistik yang diperlukan dan membantu siswa dalam merumuskan rencana kerja untuk pelaksanaan praktikum. Hal tersebut bertujuan agar siswa tidak mengalami kesulitan dan terampil mempersiapkan alat dan bahan untuk melaksanakan kegiatan praktikum. (4) Saat diskusi kelompok, guru lebih intensif mendekati siswa yang kurang aktif dalam

pelaksanan diskusi, kemudian siswa tersebut dibimbing dan diberikan motivasi.

Agar siswa lebih termotivasi untuk melakukan diskusi kelompok, setiap pelaksanaan tindakan pada siklus berikutnya guru akan memilih dan memberikan penghargaan kepada kelompok terbaik yang dinilai dari aktivitas siswa selama pembelajaran. (5) Guru lebih memotivasi siswa agar berani untuk mempresentasikan hasil diskusinya. Guru juga terus memberikan penguatan kepada siswa bagi yang berani untuk mempresentasikan hasil diskusinya (6) Siswa diberikan motivasi dan penguatan agar lebih percaya diri, tidak merasa ragu dan malu untuk bertanya apabila ada hal yang belum dipahami.

Kemudian diadakan perbaikan pada siklus II, persentase tingkat hasil belajar IPA siswa pada siklus II diperoleh sebesar 84,94%. Jika dikategorikan berdasarkan kriteria penggolongan hasil belajar IPA yang telah ditetapkan, hasil belajar IPA siswa pada siklus II termasuk dalam kategori tinggi. Berdasarkan analisis data tersebut dapat disimpulkan bahwa rata-rata hasil belajar IPA siswa kelas V SD Negeri 2 Sudimara pada siklus II sudah memenuhi indikator keberhasilan yang telah ditetapkan serta mengalami peningkatan dari siklus I.

Berdasarkan hasil tersebut indikator keberhasilan sudah tercapai pada siklus II.

Melalui perbaikan proses pembelajaran dan pelaksanaan tindakan pada siklus I. Pelaksanaan siklus II telah mengalami peningkatan proses pembelajaran yang diperlihatkan melalui peningkatan hasil belajar IPA siswa.

Temuan-temuan yang diperoleh selama tindakan pelaksanaan siklus II adalah sebagai berikut. (1) Secara umum, proses pembelajaran telah dapat berjalan sesuai dengan rancangan pembelajaran yang telah direncanakan, sehingga hasil belajar yang diharapkan dapat tercapai dan berjalan optimal. (2) Kondisi pembelajaran pada siklus II tampak lebih kondusif. Hal ini dikarenakan siswa sudah dapat beradaptasi dengan

(7)

7 baik dalam proses pembelajaran dengan perapan model Problem Based Learning berbantuan asesmen kinerja. (3) Siswa sudah menunjukkan hal yang positif pada saat mengerjakan LKS maupun menyampaikan hasil diskusi kelompok.

Setiap anggota kelompok antusias dan bisa memposisikan dirinya sebagai anggota dari kelompok. (4) Siswa terlihat antusias dan aktif dalam memberikan tanggapan, jawaban, maupun pertanyaan serta dalam berinteraksi dengan guru dan siswa lain selama proses pembelajaran berlangsung. (5) Skor kinerja siswa juga mengalami peningkatan pada siklus II.

Hal tersebut menunjukkan bahwa siswa memiliki motivasi yang tinggi untuk terlibat aktif di setiap fase-fase pembelajaran. (6) Tes hasil akhir pada siklus II telah menunjukkan bahwa hasil belajar IPA siswa sudah mencapai kriteria

keberhasilan yang ditetapkan. Dari uraian diatas, dapat dikatakan bahwa pada siklus II tidak terdapat lagi permassalahan yang sangat berarti dalam proses pembelajaran. Berdasarkan refleksi dari siklus II, penerapan model Problem Based Learning berbantuan asesmen kinerja dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas V di SD negeri 2 Sudimara. Hal ini berarti hasil belajar IPA telah memenuhi kriteria keberhasilan yang ditetapkan sebelumnya sehingga penelitian dihentikan.

Peningkatan hasil belajar IPA siswa diperoleh dengan mencari selisih antara rata-rata skor dari siklus satu dengan siklus berikutnya. Ringkasan data hasil belajar IPA siswa pada siklus I dan II disajikan pada Tabel 1. Sebagai berikut.

Tabel 1. Ringkasan Data Hasil Belajar IPA Siswa Kelas V SD Negeri 2 Sudimara Tahap Persentase Rata-rata Skor Kategori

Siklus I 71,17% Cukup Tinggi

Siklus II 84,94% Tinggi

Peningkatan hasil belajar IPA siswa dari siklus I ke siklus II adalah 13,77%.

Peningkatan rata-rata skor hasil belajar siswa pada siklus I dan siklus II disajikan pada gambar 1 sebagai berikut.

Gambar 1. Peningkatan Hasil Belajar IPA Siswa pada Siklus I dan II

Pembahasan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model Problem Based Learning berbantuan asesmen kinerja dapat meningkatkan hasil belajar IPA

siswa kelas V SD Negeri 2 Sudimara.

Hasil belajar siswa setelah diadakan tindakan siklus I dan siklus II mengalami peningkatan. Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh dari siklus I, persentase rata-rata hasil belajar IPA siswa mencapai 71,17% dan tergolong cukup tinggi. Selanjutnya, berdasarkan hasil analisis data siklus II, diperoleh persentase sebesar 84,94% dan tergolong tinggi. Peningkatan hasil belajar IPA siswa dari siklus I ke siklus II adalah 13,77%. Bedasarkan data di atas, ada peningkatan hasil belajar IPA siswa dari siklus I ke siklus II.

Hasil penelitian ini diperkuat oleh penelitian Sariadi (2014) dalam penelitiannya tentang penerapan model Pembelajaran Berbasis Masalah untuk meningkatkan hasil belajar IPA Kelas V menyimpulkan bahwa penerapan model Pembelajaran Berbasis Masalah dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa.

Selanjutnya penelitian Arta (2015) tentang penilaian otentik untuk meningkatkan hasil belajar IPA menyimpulkan bahwa penerapan penilaian otentik dapat

(8)

8 meningkatkan hasil belajar siswa.

Kemudian, Oktaviani (2014) menggabungkan antara model Problem Based Learning dan asesmen kinerja menyimpulkan bahwa model PBL berbasis asesmen kinerja lebih unggul daripada model konvensional sehingga berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.

Temuan-temuan positif yang diperoleh setelah diberikan tindakan adalah sebagai berikut. (1) Secara umum, proses pembelajaran telah dapat berjalan sesuai dengan rancangan pembelajaran yang direncanakan, sehingga hasil belajar yang diharapkan dapat tercapai dan berjalan optimal. (2) Kondisi pembelajaran pada siklus II tampak lebih kondusif. Hal ini dikarenakan siswa sudah dapat beradaptasi dengan proses pembelajaran model Problem Based Learning berbantuan asesmen kinerja. (3) Siswa sudah menunjukkan hal yang positif pada saat mengerjakan LKS dan menyampaikan hasil diskusi kelompok.

Setiap anggota kelompok terlihat antusias dan telah mampu memposisikan dirinya sebagai bagian dari kelompok tersebut.

(4) Siswa terlihat antusias dan aktif dalam memberikan tanggapan, jawaban, maupun pertanyaan serta dalam berinteraksi dengan guru dan siswa lain selama proses pembelajaran berlangsung. (5) Skor kinerja siswa juga mengalami peningkatan pada siklus II.

Hal tersebut menunjukkan bahwa siswa memiliki motivasi yang tinggi untuk terlibat aktif di setiap fase-fase pembelajaran. (6) Tes hasil akhir siklus menunjukkan adanya peningkatan dari siklus I ke siklus II. Pada siklus II hasil belajar siswa sudah mencapai kriteria keberhasilan yang ditetapkan.

Berdasarkan temuan penelitian terlihat bahwa penerapan model Problem Based Learning berbantuan asesmen kinerja ini telah memberikan kontribusi positif terhadap pemahaman siswa dalam menyelesaikan permasalahan- permasalahan IPA. Kontribusi positif yang diberikan model Problem Based Learning ini sesuai dengan pendapat Marhaeni (2013:137) menyatakan bahwa dengan menerapkan model Problem Based Learning yang berlandaskan paham

konstruktivistik akan mendorong siswa untuk aktif dalam pembelajaran, hal tersebut dikarenakan model ini mengakomodasi keterlibatan peserta didik dalam belajar dan memecahkan masalah otentik. Lebih lanjut Rusman (2012:230) yang menyatakan bahwa model pembelajaran Problem Based Learning berkaitan dengan penggunaan intelegensi dari dalam individu yang berada dalam sebuah kelompok atau lingkungan untuk memecahkan masalah yang bermakna, relevan dan kontekstual.

Sementara itu, terkait dengan asesmen kinerja, pembelajaran IPA di sekolah dasar ditekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah (Sapriati, 2009:2.3). Lebih lanjut Marhaeni (2008) menyatakan asesmen kinerja merupakan penelusuran produk dalam proses yang berarti hasil- hasil kerja yang ditunjukkan dalam proses pelaksanaan program itu digunakan sebagai basis untuk dilakukan suatu pemantauan mengenai perkembangan dari satu pencapaian program tersebut.

Selanjutnya Uno & Koni (2014:19) menyatakan bahwa penilaian kinerja cocok digunakan untuk menilai ketercapaian kompetensi yang menuntut peserta didik menunjukkan unjuk kerja.

Secara umum asesmen kinerja ini dapat memotivasi siswa untuk terlibat aktif di setiap fase-fase dalam pembelajaran.

Selain itu dapat mempermudah siswa untuk memahami sebuah konsep abstrak ke konkret.

Peningkatan hasil belajar IPA siswa serta temuan-temuan positif yang ditemukan selama pembelajaran disebabkan oleh fase-fase Problem Based Learning berbantuan asesmen kinerja yang memang mengakomodasi proses belajar siswa secara maksimal.

Pada fase I yaitu fase orientasi siswa pada masalah, siswa diberikan sebuah masalah untuk dipecahkan bersama dan guru menilai proses kerja siswa. Pada fase II yaitu fase mengorganisasikan siswa untuk belajar, siswa mendefinisikan mengorganisasikan tugas atau masalah yang diberikan dan guru menilai

(9)

9 kelengkapan alat dan bahan praktikum.

Pada fase III yaitu fase membimbing penyelidikan individu atau kelompok, siswa melaksanakan kegiatan praktikum untuk memecahkan suatu permasalahan dan dilakukan penilaian terhadap aktivitas kerja siswa selama kegiatan praktikum.

Pada fase IV yaitu fase mengembangkan dan menyajikan hasil karya, siswa membuat laporan hasil praktikum, selanjutnya guru menilai laporan siswa.

Pada fase V yaitu fase menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah, siswa membuat rangkuman konsep tentang materi yang telah dipelajari dan dilakukan penilaian terhadap penyajian laporan siswa.

Asesmen kinerja sendiri memang menunjukkan pengaruh positif dalam pembelajaran, sehingga berdampak pada peningkatan hasil belajar IPA siswa. Hal ini ditunjukkan dengan hasil pengamatan terhadap kinerja siswa dan hubungan dengan hasil belajar IPA. Sebagai contoh siswa dengan kinerja kategori cukup tinggi meningkat ke tinggi pada siklus I dan II akan memiliki hasil belajar dengan kategori yang tinggi pula.

Jadi, dapat dilihat bahwa model Problem Based Learning berbantuan asesmen kinerja yang diterapkan dalam pembelajaran IPA dapat membuat siswa lebih memahami konsep IPA. Dimana konsep tersebut ditemukan sendiri oleh siswa melalui kegiatan pemecahan masalah yang menuntut kemampuan berpikir siswa. Siswa yang dikondisikan belajar dalam kelompok dan saling berinteraksi terhadap guru maupun temannya dapat meningkatkan pencapaian ketuntasan hasil belajar.

Asesmen kinerja sangat tepat dipadukan dengan model Problem Based Learning.

Hal ini dikarenakan dalam pembelajarannya di kelas lebih banyak dilakukan percobaan, sehingga perlu dilakukan penilaian terhadap kinerja siswa. Asesmen kinerja juga memotivasi siswa untuk terlibat aktif dalam setiap fase-fase pembelajaran. Siswa menyadari bahwa setiap fase dalam pembelajaran adalah penting. Karena untuk mendapatkan sebuah pemecahan konsep yang tepat, siswa harus bersungguh-

sungguh menyimak dan aktif terlibat dalam setiap fasenya. Selain itu, asesmen kinerja memudahkan guru dalam menilai proses dan tidak hanya hasil. Penilaian ini dapat dijadikan gambaran sejauh mana siswa dapat mencapai kompetensi pembelajaran. Jika siswa belum mencapai keberhasilan, guru dapat mencari solusi yang tepat untuk melaksanakan perbaikan pada pembelajaran berikutnya.

Berdasarkan hasil yang diperoleh, penelitian ini secara umum telah mampu menjawab rumusan masalah sekaligus memecahkan permasalahan atas rendahnya hasil belajar IPA siswa.

Penerapan model Problem Based Learning berbantuan asesmen kinerja dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa.

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan hasil penelitian, penerapan model Problem Based Learning berbantuan asesmen kinerja dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas V SD Negeri 2 Sudimara. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan yang terjadi pada tiap-tiap siklus. Rata-rata skor hasil belajar IPA siswa pada siklus I adalah 71,17% berada pada kategori cukup tinggi. Pada siklus II rata-rata skor hasil belajar IPA siswa meningkat menjadi 84,94% dan berada pada kategori tinggi.

Peningkatan hasil belajar IPA siswa dari siklus I ke siklus II adalah 13,77%.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model Problem Based Learning berbantuan asesmen kinerja dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas V SD Negeri 2 Sudimara, Kecamatan Tabanan, Kabupaten Tabanan, Tahun pelajaran 2015/2016.

Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, saran-saran yang disampaikan yaitu sebagai berikut. (1) Hasil penelitian ini disarankan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dan sumbangan pemikiran positif bagi pengembang teori

(10)

10 pendidikan, terutama pada pengembangan model Problem Based Learning berbantuan asesmen kinerja. (2) Siswa disarankan lebih memandang IPA sebagai pelajaran yang menyenangkan, dengan diterapkan model Problem Based Learning berbantuan asesmen kinerja diharapkan siswa menjadi lebih aktif dan mampu menyelesaikan berbagai masalah IPA. (3) Guru disarankan menggunakan model pembelajaran dalam pembelajaran IPA. Model Problem Based Learning berbantuan asesmen kinerja dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif, karena pembelajaran dengan model ini cukup efektif untuk mengembangkan kemampuan berpikir siswa dalam kegiatan pemecahan masalah. Selain itu, penilain kinerja dapat dijadikan gambaran untuk memberikan informasi-informasi terkait keberhasilan siswa dalam pembelajaran, sehingga akan berdampak pada peningkatan hasil belajar IPA siswa.

(4) Pihak sekolah disarankan senantiasa mengkaji berbagai tipe model pembelajaran inovatif dalam pelaksanaan proses pembelajaran di kelas. Dengan kegiatan tersebut, diharapkan mampu meningkatkan berbagai kemampuan siswa secara maksimal.

DAFTAR PUSTAKA

Agung, A. A. Gede. 2011. Metodologi Penelitian Pendidikan. Singaraja:

Undiksha.

Dantes, Nyoman. 2014. Landasan Pendidikan. Jakarta: Graha Ilmu.

Marhaeni, A. A. I. N. 2013. Landasan dan Inovasi Pembelajaran. Singaraja:

Universitas Pendidikan Ganesha.

---. 2008. Asesmen Otentik Dalam Rangka KTSP. Makalah.

Disampaikan pada Pelatihan Peningkatan Kinerja Guru SMA 1 Kediri Tabanan, dalam Rangka Implementasi SKM Tanggal 30 Desember 2008.

Rusman. 2012. Model-model Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Sanjaya, Wina. 2013. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Kencana Prenadamedia Group.

Sapriati, Amalia., dkk. 2009.

Pembelajaran IPA di SD. Jakarta:

Universita Terbuka.

Susanto, Ahmad. 2014. Teori Belajar &

Pembelajaran di Sekolah Dasar.

Jakarta: Kencana Prenadamedia Group.

Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif.

Jakarta: Kencana Prenadamedia Group.

Umaedi., dkk. 2011. Manajemen Bebasis Sekolah. Jakarta: Universitas Terbuka.

Uno, B. Hamzah & Satria Koni. 2014.

Assessment Pembelajaran.

Jakarta: Bumi Aksara.

Wardhani & Kuswaya Wihardit. 2014.

Penelitian Tindakan Kelas.

Jakarta: Universitas Terbuka.

Gambar

Tabel 1. Ringkasan Data Hasil Belajar IPA Siswa Kelas V SD Negeri 2 Sudimara  Tahap  Persentase Rata-rata Skor   Kategori

Referensi

Dokumen terkait

Profesionalisme merupakan salah satu hal utama yang harus dimiliki seorang auditor dalam menjalankan tugasnya dan merupakan syarat utama bagi profesi tersebut,

Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) Gaya hidup berpengaruh secara parsial dan besar terhadap keputuasan masyarakat dalam belanja secara ol line menunjukkan

Menurut Imam Gunawan (2010:1), “respons anak pada proses perkembangan, berkembang dari respons yang bersifat instinkif menjadi respons yang diperoleh melalui

Dunia kerja pada masa mendatang akan menjaring secara selektif calon tenaga kerja yang benar-benar profesional pada bidangnya. Oleh karena itu salah satu tantangan

2.2.7.2 Kantor Perpustakaan dan Arsip daerah Pemerintah Kota Semarang ... Pekanbaru,

Children after the age of five years were able to distinguish the situation of objects by using the conjunction of being or then , and children before the age of five years are

4. Anggaran Belanja Negara, Penetapan formasi PNS bagi suatu organisasi pada akhirnya sangat ditentukan oleh tersedianya anggaran. Oleh karena itu

Dalam proyek ini ada Bangunan Gedung Kantor dan Gudang memakai rangka atap yang terdiri dari baja Ringan yang dikerjakan setelah pekerjaan cor balok dan