• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ibnu Kadaruloh, Depi Setialesmana,

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Ibnu Kadaruloh, Depi Setialesmana,"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

1

(Penelitian di Kelas X IPS SMA Negeri 6 Kota Tasikmalaya)

Ibnu Kadaruloh, e-mail: [email protected] Depi Setialesmana, e-mail: [email protected]

Jurusan Pendidikan Matematika

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Siliwangi Tasikmalaya Jl. Siliwangi No. 24 Kota Tasikmalaya

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan berpikir kreatif matematik peserta didik dengan model problem based learning berbantuan software Cabri 3D, serta untuk mengetahui kemandirian belajar peserta didik selama mengikuti pembelajaran dengan model problem based learning berbantuan software Cabri 3D. Penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimen, dengan populasi penelitiannya adalah seluruh peserta didik kelas X IPS SMA Negeri 6 Kota Tasikmalaya tahun pelajaran 2015/2016 sebanyak 5 kelas. Dua kelas diambil secara acak sebagai sampel, kelas eksperimen menggunakan model problem based learning berbantuan software Cabri 3D yaitu X-IPS-1 dan kelas kontrol menggunakan model problem based learning tanpa berbantuan software Cabri 3D yaitu X-IPS-2. Instrumen yang digunakan berupa soal tes kemampuan berpikir kreatif matematik dan kemandirian belajar model likert. Teknik analisis data menggunakan uji perbedaan dua rata-rata.

Berdasarkan hasil penelitian, pengolahan data, analisis data, uji hipotesis dapat disimpulkan bahwa peningkatan kemampuan berpikir kreatif matematik peserta didik dengan menggunakan model problem based learning berbantuan software Cabri 3D lebih baik daripada model problem based learning tanpa berbantuan software Cabri 3D.

Kemandirian belajar peserta didik selama mengikuti model problem based learning berbantuan software Cabri 3D tergolong pada kategori sedang.

Kata Kunci : Model Problem Based Learning Berbantuan Software Cabri 3D, Kemampuan Berpikir Kreatif Matematik, Kemandirian Belajar

ABSTRACT

The aims of this research are to increase mathematics creative thinking ability of learners by using problem based learning model and Cabri 3D software, and to know the independence of learners during learn problem based learning model and Cabri 3D software. This research is used quasi-experimental method, the population of this research are all of the students X IPS grade SMAN 6 Tasikmalaya in the academic year is 2015/2016 from 5 class. The samples of this research are two classes taken randomly, the experimental class (X-IPS-1 ) uses problem based learning model and Cabri 3D software and the control class (X-IPS-2) uses problem based learning model without

(2)

Cabri 3D software. The instruments of this research are capability test of creative thinking and independent learning mathematics of Likert model. Technique of analyzing the data uses two different test average. Based on the research result, data processing, data analysing, hypothesis testing can be concluded that mathematics creative thinking ability of learners using problem based learning model and Cabri 3D software is better than problem based learning model without using Cabri 3D software.

The learner’s independence include in medium category during follow problem based learning model Cabri 3D software

Keywords: Problem Based Learning model and Cabri 3D Software, mathematics creative thinking ability of learners, independent Learning

PENDAHULUAN

Pendidikan pembelajaran matematika salah satunya sebagai ilmu dasar dari segala bidang ilmu pengetahuan dan merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, serta mempunyai peran penting dalam mengembangkan daya pikir manusia. Matematika juga merupakan salah satu mata pelajaran yang memegang peran penting dalam dunia pendidikan karena matematika dapat mengembangkan pemikiran kreatif, sistematis, kritis dan logis. Pembelajaran matematika merupakan proses interaksi antara guru dengan peserta didik yang melibatkan pengembangan pola berfikir dalam mengolah logika pada suatu lingkungan belajar yang sengaja diciptakan oleh guru dengan berbagai cara agar program pembelajaran matematika berkembang secara optimal.

Pembelajaran matematika juga diperlukan peserta didik untuk memenuhi kebutuhan dalam memecahkan masalah dikehidupan sehari-hari, misalnya menghitung, mengukur, mengolah, dan menafsirkan data. Pada pembelajaran matematika tidak hanya dibutuhkan penalaran dan pemahaman saja melainkan sikap kreatif juga dibutuhkan oleh setiap peserta didik. Cara berpikir kreatif merupakan cara berpikir yang dipenuhi dengan ide atau gagasan dalam mengembangkan daya imajinasi dan potensi yang muncul dalam berbagai kondisi.

Dalam proses belajar matematika guru sangat berperan penting untuk mengembangkan kreatifitas peserta didik, sehingga peserta didik dapat terarah dalam menyelesaikan permasalahan pembelajaran matematika. Namun pada kenyataannya, dalam proses pembelajaran matematika masih banyak guru yang mengajarkan pembelajaran tersebut dengan mengutamakan penekanan pemahaman peserta didik saja tanpa melibatkan kemampuan berpikir kreatif peserta didik. Sehingga dalam menyelesaikan suatu permasalahan, mereka hanya mampu menyelesaikan sesuai dengan contoh yang sudah diberikan, sehingga bila ada suatu permasalahan yang baru peserta didik sering kali kebingungan dalam menyelesaikan permasalahan tersebut.

Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya mengenai kemampuan berpikir kreatif yang dilakukan oleh Wina Suhartini (2014) pada peserta didik SMA Negeri 1 Cihaurbeuti pada kelas eksperimen berdasarkan rerata peresentase kemampuan berpikir kreatif matematik 44,44% pada kelas eksperimen dan 31,58% pada kelas kontrol, serta berdasarkan hasil wawancara kepada Ibu Ade Heni Jamilan, Dra di SMA Negeri 6 Tasikmalaya. Bahwa kemampuan berpikir kreatif matematik peserta didiknya belum terlalu terlihat, dan peserta didik masih sering kebingungan dalam menyelesaikan permasalahan. Ini membuktikan bahwa guru menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi cara berpikir kreatif peserta didik. Sebagian guru juga hanya

(3)

mengajarkan matematika secara hafalan dengan menggunakan masalah yang sudah sangat umum dan model pembelajaran yang digunakan juga berorientasi pada pengembangan pemikiran pada masalah-masalah yang umum saja. Ini berarti kemampuan berpikir kreatif peserta didik jarang diperhatikan.

Padahal suatu pembelajaran dengan mengembangkan kemampuan berpikir kreatif matematik peserta didik akan menghasilkan kemandirian belajar yang tinggi.

Kemandirian belajar yang tinggi merupakan suatu bagian terpenting dalam pembelajaran karena dalam pembelajaran matematika diharapakan peserta didik mampu memprediksi kebutuhannya sendiri, memilih sumber belajar, sampai mampu mengevaluasi hasil belajarnya sendiri. Oleh karena itu guru hendaknya melakukan identifikasi terlebih dahulu dalam menggunakan suatu model pembelajaran sehingga guru dapat melakukan inovasi pada kegiatan pembelajaran.

Penggunaan model pembelajaran juga tentu harus disesuaikan dengan materi yang disampaikan dan seiring perkembangan zaman, banyak sekali media atau alat bantu untuk guru yang dapat memunculkan kemampuan berpikir kreatif peserta didik yang dapat mendukung peningkatan kemampuan berpikir kreatif. Dimana kemampuan berpikir kreatif merupakan salah satu kemampuan berpikir tingkat tinggi yang harus mendapat perhatian para guru agar hasil peserta didik menjadi lebih baik.

Untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif maka media atau alat peraga merupakan solusi yang tepat agar kemampuan berpikir kreatif peserta didik jadi lebih baik. Media merupakan alat bantu yang dijadikan model untuk membantu proses pembelajaran. Hal tersebut sejalan dengan yang dikemukakan oleh H. Malik (Kosasih, E, 2014:50) menyatakan “media atau alat peraga adalah sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran) sehingga dapat merangsang perhatian, minat, pikiran dan perasaan si belajar dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu”.

Mengembangkan kemampuan berpikir kreatif matematik peserta didik salahsatunya dengan menerapkan model problem based learning, diharapkan dengan model ini mampu meningkatkan kemandirian belajar peserta didik dalam menemukan solusi permasalahan yang mereka temui sendiri, contohnya dengan memberikan permasalahan dalam bentuk soal diawal pembelajaran, sehingga pada saat mereka menemukan permasalahan langsung pada kehidupan sehari-harinya akan berpikir kreatif untuk mencari berbagai alternatif penyelesaian dari permasalahan yang mereka hadapi dan dengan bantuan media pembelajaran yaitu software Cabri 3D, peserta didik diharapkan dapat mengembangkan atau memunculkan kemampuan berpikir kreatifnya.

Berdasarkan permasalahan-permasalahan yang telah diuraikan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah peningkatan kemampuan berpikir kreatif matematik peserta didik dengan model problem based learning berbantuan software Cabri 3D lebih baik daripada model problem based learning tanpa berbantuan software Cabri 3D, serta untuk mengetahui kemandirian belajar peserta didik selama mengikuti model problem based learning berbantuan software Cabri 3D.

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan adalah metode penelitian kuasi eksperimen, karena dalam penelitian ini subjek penelitian tidak dikelompokkan secara acak, tetapi peneliti menerima keadaan seadanya. Populasi penelitiannya adalah seluruh peserta didik kelas

(4)

X IPS SMAN 6 Kota Tasikmalaya tahun pelajaran 2015/2016. Dua kelas diambil secara acak sebagai sampel, kelas eksperimen menggunakan model problem based learning berbantuan software Cabri 3D dan kelas kontrol menggunakan model problem based learning tanpa berbantuan software Cabri 3D. Terpilih kelas X-IPS-1 dengan jumlah peserta didik 39 orang sebagai kelas eksperimen dan kelas X-IPS-2 dengan jumlah peserta didik 38 orang sebagai kelas kontrol.

Instrumen yang digunakan adalah soal tes kemampuan berpikir kreatif matematik peserta didik berupa pretes dan postes. Selain itu skala kemandirian belajar model likert yang diberikan diakhir setelah semua proses pembelajaran selesai. Soal tes kemampuan berpikir kreatif digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir kreatif matematik peserta didik antara yang pembelajarannya menggunakan model problem based learning berbantuan software Cabri 3D dan model problem based learning tanpa berbantuan software Cabri 3D. Skala kemandirian belajar digunakan untuk mengetahui kemandirian belajar peserta didik pada pengguaan model model problem based learning berbantuan software Cabri 3D. teknik analisis data untuk menguji hipotesis menggunakan uji perbedaan dua rata-rata dengan uji-t.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Data hasil penelitian di kelas dengan model problem based learning berbantuan software Cabri 3D dibuat menjadi daftar distribusi frekuensi, disajikan pada Tabel 1 berikut.

Tabel. 1

Daftar Distribusi Frekuensi Kemampuan Berpikir Kreatif Matematik Peserta Didik Dengan Model Problem Based Learning Berbantuan Software

Cabri 3D

Kelas interval batas kelas f xi f.xi 0,35 - 0,44 0,345 - 0,445 4 0,395 1,58 0,45 - 0,54 0,445 - 0,545 7 0,495 3,465 0,55 - 0,64 0,545 - 0,645 7 0,595 4,165 0,65 - 0,74 0,645 - 0,745 12 0,695 8,34 0,75 - 0,84 0,745 - 0,845 8 0,795 6,36 0,84 - 0,94 0,845 - 0,945 1 0,89 0,89

Jumlah 39 24,8

Dari Tabel tersebut terlihat banyak kelas interval pada kelas eksperimen yaitu 6 kelas, dengan panjang kelas 0,10 dan skor gain terkecil adalah 0,35, skor gain terbesar adalah 0,93 dan rentangnya 0,58. Untuk skor gain yang paling banyak diperoleh peserta didik pada kelas eksperimen yaitu kelas ke-4 pada interval 0,65 – 0,74 sehingga diperoleh modus 0,69. Untuk median terdapat pada kelas ke-4 pada interval 0,65 – 0,74 sehingga diperoleh skornya 0,65. Skor rata-rata tes kemampuan berpikir kreatif matematik peserta didik adalah 0,64 dan standar deviasinya 0,13.

Data hasil penelitian di kelas dengan model problem based learning tanpa berbantuan software Cabri 3D dibuat menjadi daftar distribusi frekuensi, disajikan pada Tabel 2 berikut.

(5)

Tabel. 2

Daftar Distribusi Frekuensi Kemampuan Berpikir Kreatif Matematik Peserta Didik Dengan Model Problem Based Learning tanpa Berbantuan

Software Cabri 3D

Kelas interval batas kelas f 𝑥𝑖 f. 𝑥𝑖 0,32 - 0,39 0,315 - 0,395 6 0,355 2,13 0,40 - 0,47 0,395 - 0,475 7 0,435 3,045 0,48 - 0,55 0,475 - 0,555 9 0,515 4,635 0,56 - 0,63 0,555 - 0,635 6 0,595 3,57 0,64 - 0,71 0,635 - 0,715 4 0,675 2,7 0,72 - 0,79 0,715 - 0,795 4 0,755 3,02 0,80 0,88 0,795 - 0,885 2 0,84 1,68

38 20,78

Dari Tabel tersebut terlihat banyak kelas interval pada kelas kontrol yaitu 7 kelas, dengan panjang kelas 0,08 dan skor gain terkecil adalah 0,32, skor gain terbesar adalah 0,86 dan rentangnya 0,54. Untuk skor yang paling banyak diperoleh peserta didik pada kelas kontrol yaitu kelas ke-3 pada interval 0,48 - 0,55 sehingga diperoleh modus 0,51. Untuk median terdapat pada kelas ke-3 pada interval 0,48 - 0,55 sehingga diperoleh skornya 0,52. Skor rata-rata tes kemampuan berpikir kreatif matematik peserta didik adalah 0,55 dan standar deviasinya 0,14.

Berdasarkan data hasil penelitian, terlihat bahwa rata-rata kemampuan berpikir kreatif matematik peserta didik yang menggunakan model problem based learning berbantuan software Cabri 3D sebesar 0,64 lebih besar dari rata-rata kemampuan berpikir kreatif matematik peserta didik yang menggunakan model problem based learning tanpa berbantuan software Cabri 3D sebesar 0,55. Selain itu, bisa dikatakan bahwa model model problem based learning berbantuan software Cabri 3D lebih baik dari pada model problem based learning tanpa berbantuan software Cabri 3D. Untuk melihat apakah perbedaannya signifikan atau tidak dilanjutkan dengan uji statistik menggunakan uji perbedaan dua rata-rata yaitu uji-t.

Uji persyaratan analisis berkaitan dengan syarat-syarat pengujian hipotesis. Uji normalitas distribusi kelas eksperimen menghasilkan nilai chi kuadrat yaitu 4,02.

Dengan taraf nyata ∝= 5% diperoleh χhitung2 = 4,02 < χdaftar2 = 7,81 sampel berasal dari populasi berdistribusi normal. Uji normalitas pada kelas kontol menghasilkan nilai chikuadrat 7,62. Dengan ∝= 5% diperoleh χhitung2 = 7,62 < χdaftar2 = 9,49 maka sampel berasal dari populasi berdistribusi normal. Uji homogenitas varians diperoleh Fhitung =1,16. Dengan db1 = 37, db2 = 38, dan taraf nyata ∝= 5% diperoleh Fhitung = 1,16

< F0,05(37/38) = 1,72, kedua varians homogen.

Uji hipotesis dengan menggunakan uji perbedaan dua rata-rata yaitu diperoleh 26

,

=2

hitung

t . Ternyata pada α = 5% thitung =2,26> t(0,95)(75)= 1,67, artinya peningkatan kemampuan berpikir kreatif matematik peserta didik yang mendapat pembelajaran matematika melalui model model problem based learning berbantuan software Cabri 3D lebih baik daripada peserta didik yang mendapatkan model problem based learning tanpa berbantuan software Cabri 3D.

Angket yang diberikan terdiri dari 23 pernyataan di dalamnya terdapat pernyataan positif dan negatif yang terdiri dari sembilan indikator.

(6)

Tabel 3

Data Hasil Angket Kemandirian Belajar Peserta Didik Pase-pase

Kemandirian Belajar

Indikator yang

Diukur Rata-rata Kategori

Merancang Belajar

Inisiatif dan motivasi

belajar 10,56 Sedang

Memilih, menerapkan

strtegi belajar 6,46 Sedang Menetapkan

tujuan/target belajar 6,72 Sedang

Memantau kegiatan belajar

Memonitor, mengatur

dan mengontrol belajar 11,25 Tinggi Memanfaatkan dan

mencari sumber belajar yang relevan

11,1 Tinggi

Mengevaluasi Hasil Belajar

Mengevaluasi proses

dan hasil belajar 5,92 Sedang

Merefleksi Kegiatan Belajar

Memandang kesulitan

sebagai tantangan 10,38 Sedang Kebiasaan mendiagnosa

kebutuhan belajar 7,21 Sedang Self-eficacy/konsep

diri/kemampuan diri 10,2 Sedang Rata rata keseluruhan 79,69 Sedang

Pada kelas eksperimen, peserta didik diberi pretes sebelum pembelajaran dilaksanakan, kemudian diberi postes setelah pembelajaran selesai dilaksanakan.

Pembelajaran yang dilaksanakan pada kelas eksperimen yaitu dengan menggunakan model Problem Based Learning berbantuan software Cabri 3D. Pada kegiatan awal pembelajaran peserta didik diberikan penjelasan terlebih dahulu mengenai apa itu software Cabri 3D, setelah itu peneliti memberikan software Cabri 3D kepada peserta didik untuk di install pada laptop mereka masing-masing karena pada saat sebelum penelitian peneliti terlebih dahulu memberitahukan kepada peserta didik untuk membawa laptop masing-masing untuk proses pembelajaran.

Pada tahap mengamati, peneliti sebagai guru pertama-tama mengelompokan peserta didik terlebih dahulu menjadi 8 kelompok heterogen berdasarkan kemampuan akademik dengan anggota kelompok sebanyak 4-5 orang. Selanjutnya peneliti memberikan sebuah permasalahan atau kasus tentang konsep jarak, garis dan bidang mengenai kedudukan titik yang disajikan dalam bentuk bahan ajar. Bahan ajar dibagikan kepada pada setiap kelompok dan peserta didik diminta mengamati dan melengkapi langkah-langkah penyelesaian permasalahan dengan menggunakan software Cabri 3D dalam bahan ajar. Pada awalnya peserta didik masih merasakan kebingungan dalam menyelesaikan masalah yang diberikan karena masih belum terbiasa, terlebih lagi harus diselesaikan menggunakan Cabri 3D sehingga peneliti membantu peserta didik agar tidak mengalami kesulitan dalam mendefinisikan dan mengorganisasikan permasalahan tersebut. Pada pertemuan selanjutnya hingga terakhir terlihat peserta didik mengalami peningkatan dalam menyelesaikan masalah secara kreatif dengan menggunakan software Cabri 3D karena sudah diberikan dahulu cara menyelesaikan

(7)

permasalahan tersebut, sehingga peserta didik dapat menggambarkan permasalahan dalam software Cabri 3D.

Pada tahap menanya, peneliti menginspirasi peserta didik untuk meningkatkan dan mengembangkan ranah sikap, keterampilan dan pengetahuan dengan cara peserta didik diminta untuk mampu mengajukan pertanyaan awal tentang hasil pengamatan dari pertemuan awal hingga akhir pertemuan agar peserta didik aktif dalam proses pembelajaran. Pada tahap menalar, peneliti mendorong peserta didik agar bekerjasama dalam kelompok sehingga setiap kelompok mampu mengkomunikasikan secara lisan atau mempresentasikan hasil diskusi kelompok dan mengemukakan konsep yang ditemukan pada bahan ajar kepada kelompok lain sehingga terjadi proses diskusi aktif dalam kelas, dan peneliti bertindak sebagai fasilitator supaya peserta didik dapat meningkatkan pengetahuannya dan berpikir logis dan sistematis agar memperoleh pengetahuan baru. Hal tersebut sejalan dengan Teori Vigotsky. Ibrahim dan Nur (Rusman, 2014:244) mengatakan “Vigotsky meyakini bahwa interaksi sosial dengan teman lain memacu terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan intelektual peserta didik”.

Pada tahap mencoba, peserta didik diberikan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) untuk dikerjakan sebagai latihan melalui soal pada LKPD peserta didik mampu mengaplikasikan konsep yang telah dipelajari pada proses pemecahan masalah pada bahan ajar yang menggunakan software Cabri 3D sebagai bantuan. Karena pada tahap ini peserta didik harus mampu mengaplikasikan konsep untuk menyelesaikan masalah matematik yang diberikan untuk diselesaikan dalam software Cabri 3D, tidak seperti bahan ajar yang sudah terlebih dahulu diberikan petunjuk langkah-langkah penyelesaian oleh peneliti.

Pada tahap mengumpulkan informasi, peneliti sebagai guru lebih bersifat memenejer pembelajaran dan peserta didik yang harus lebih aktif. Setelah peserta didik menyelesaikan soal-soal pada LKPD, peneliti meminta beberapa peserta didik yang dianggap siap untuk mengerjakan soal tersebut dipapan tulis atau memberikan penjelasan bagaimana cara menyelesaikan persoalan dengan Cabri 3D kepada teman- temannya sehingga peneliti dan peserta didik bisa sama-sama membahas hasil pekerjaan peserta didik yang telah diselesaikan. Dalam tahap ini peneliti sebagai guru dan peserta didik saling bertukar informasi, dan guru berperan sebagai perantara untuk mendorong peserta didik agar memberikan ide-ide cerdas dalam pemikiran yang kreatif dan kritis sehingga mampu membuat kesimpulan yang baik serta menghormati pendapat sesama temannya.

Pada tahap mengkomunikasikan, peneliti meminta salah satu peserta didik untuk mempresentasikan hasil diskusi mereka mengenai soal pada LKPD. Dalam tahap ini peserta didik melakukan refleksi atau evaluasi terhadap proses pemecahan masalah yang digunakan. Dalam proses pembelajaran menggunakan model problem based learning, peserta didik menggunakan software Cabri 3D untuk membantu proses penemuan dan mengidentifikasi masalah yang dihadapinya, serta peserta didik dapat menggambar objek geometri dengan cepat dab mudah, sehingga dapat lebih mengefektifkan waktu dalam proses memecahkan masalah. Hal ini relevan dengan penelitian Jacabson, dkk pada tahun 2009 (Afgani, Jarnawi, 2011: 7.19) bahwa pembelajaran yang dibantu dengan program komputer, berhasil memotivasi peserta didik melalui umpan balik yang langsung dan dapat menghemat waktu menjawab permasalahan (soal).

Seperti halnya peserta didik kelas eksperimen, peserta didik kelas kontrol juga diberi pretes pada awal pembelajaran dan postes pada akhir pembelajaran dengan

(8)

menggunakan soal yang sama. Akan tetapi, pembelajaran yang digunakan pada kelas kontrol menggunakan model problem based learning tanpa berbantuan software Cabri 3D. Pada kelas kontrol peserta didik pada bahan ajar dan LKPD tidak menggunakan Cabri 3D untuk menyelesaikan permasalahannya, sehingga mereka sering sekali kebingungan menggambarkan suatu permasalahan yang dihadapi karena tanpa diberi bantuan dengan menggunakan Cabri 3D. Akhirnya peserta didik membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan permasalahan yang ada dalam bahan ajar maupun LKPD. Sehingga terlihat jelas pada peserta didik mereka belum mampu berpikir aktif dan kreatif dalam mengembangkan daya imajinasi untuk menyelesaikan permasalahan atau menggambarkan permasalahan dari bahan ajar dan LKPD tersebut, dikarena tidak tau tujuan permasalahan tersebut sehingga dapat terselesaikan. Pada akhirnya sebagian mereka lebih memilih bercanda dengan temannya sendiri dari pada belajar, sebagian lagi mencoba berusaha untuk menyelesaikannya.

Berdasarkan data gain ternormalisasi, pada kelas eksperimen memiliki rata-rata nilai gain ternormalisasi yaitu 0,64 sedangkan rata-rata nilai gain ternormalisasi pada kelas kontrol adalah 0,55. Meskipun di kelas eksperimen maupun di kelas kontrol sama- sama mengalami peningkatan dan rata-rata gain ternormalisasi kelas eksperimen memang lebih besar dari rata-rata kelas kontrol, tetapi setelah dibandingkan perbedaaan rata-rata nilai gain ternormalisasi antara kedua kelas tersebut sangatlah besar yakni sebesar 0,09. Dengan demikian berdasarkan hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan berpikir kreatif matematik dengan menggunakan model problem based learning berbantuan software Cabri 3D lebih baik dari pada peningkatan kemampuan berpikir kreatif matematik dengan menggunakan model problem based learning tanpa berbantuan software Cabri 3D.

Hasil analisis angket Kemandirian belajar terhadap 39 responden penelitian atau peserta didik selama mengikuti pembelajaran menggunakan model problem based learning berbantuan media software Cabri 3D dengan total item pernyataan kemandirian belajar adalah 23 butir, dari penjelasan setiap indikator pada kategori tinggi ada pada indikator Memonitor, mengatur dan mengontrol belajar, Memanfaatkan dan mencari sumber belajar yang relevan. Pada indikator Memonitor, mengatur dan mengontrol belajar kategori tinggi karena peserta didik mampu mengatur kegiatan belajarnya dengan baik terhadap penggunakan Cabri 3D. Pada indikator memanfaatkan dan mencari sumber belajar yang relevan berada pada kategori tinggi karena peserta didik mampu mencari sumber lain seperti dari buku pegangan, internet dll.

Pada kategori sedang ada pada indikator inisiatif dan motivasi belajar, memilih, menerapkan strtegi belajar, menetapkan tujuan/target belajar, mengevaluasi proses dan hasil belajar, memandang kesulitan sebagai tantangan, kebiasaan mendiagnosa kebutuhan belajar dan self-eficacy/konsep diri/kemampuan diri. Pada indikator inisiatif belajar peserta didik tergolong kategori sedang, karena peserta didik mempunyai keinginan belajar yang biasa saja terhadap penggunaan Cabri 3D. Pada indikator memilih dan menerapkan strategi belajar tergolong kategori sedang karena peserta didik masih belum mampu memilih cara belajarnya sendiri pada penggunaan Cabri 3D. Pada indikator menetapkan target atau tujuan belajar tergolong sedang karena peserta didik masih belum mampu mengetahui tujuan apa yang harus dikejar dari penggunaan Cabri 3D terhadap pembelajaran.

Pada indikator mengevaluasi proses dan hasil belajar tergolong kategori sedang karena peserta didik masih belum mampu mengevaluasi belajarnya sehingga belum dapat dijadikan acuan untuk memperbaiki cara belajarnya. Pada indikator memandang

(9)

kesulitan sebagai tantangan tergolong kategori sedang karena peserta didik masih belum mampu menyelesaikan semua permasalahannya dalam belajar dengan menggunakan Cabri 3D. Pada indikator kebiasaan mendiagnosa kebutuhan belajar tergolong sedang karena peserta didik masih belum mampu mengetahui hal-hal yang dibutuhkan dalam belajar. Pada indikator konsep/ kemampuan belajar tergolong kategori sedang karena peserta didik mempunyai keyakinan yang masih belum optimal akan kemampuan yang dimilikinya. Dari penjelasan diatas, secara keseluruhan kemandirian belajar peserta didik tergolong sedang. Hal ini menunjukan peserta didik kelas X IPS-1 masih belum cenderung inisiatif dan motivasi belajar, memilih, menerapkan strategi belajar, menetapkan tujuan/target belajar, mengevaluasi proses dan hasil belajar, memandang kesulitan sebagai tantangan, kebiasaan mendiagnosa kebutuhan belajar dan self- eficacy/konsep diri/kemampuan diri masih dalam tahap yang biasa saja.

Sikap dan keterampilan yang ditunjukkan oleh peserta didik di kelas eksperimen maupun di kelas kontrol mengalami perkembangan yang naik turun, hal ini terlihat pada pertemuan pertama sampai terakhir, rata-rata nilai sikap dan keterampilan , pada kelas eksperimen nilai rata-rata sikap pada pertemuan dua naik sebesar 0,08, yang pada pertemuan pertama memperoleh rata-rata 2,64, sedangkan pada pertemuan kedua rata- rata nilai keterampilan adalah 2,80. Peneliti melihat bahwa pada pertemuan kedua, peserta didik mengalami peningkatan terhadap pengoperasian media software Cabri 3D karena mereka merasa tertarik untuk mengoprasikannya. Secara keseluruhan nilai rata- rata menunjukkan sikap yang baik, begitu juga keterampilan yang dimiliki peserta didik, di kelas eksperimen maupun di kelas kontrol termasuk dalam kategori B.

Pada dasarnya penerapan model problem based learning berbantuan maupun tidak berbantuan media software sama-sama memiliki peningkatan kemampuan berpikir kreatif matematik peserta didik dari sebelumnya yang belum optimal. Tetapi pembelajaran yang menggunakan model problem based learning berbantuan software Cabri 3D lebih baik daripada yang tidak berbantuan karena peserta didik pada kelas eksperimen jauh lebih aktif dan peserta didik mengerti bagaimana cara penyelesaian suatu masalah terutama pada proses menggambarkan atau mengilustrasikan suatu masalah. Berbeda pada kelas kontrol, pada sebagian peserta didik juga tidak begitu aktif dan malas untuk mengerjakan permasalahan dan peserta didik lebih memilih untuk tidak masuk kelas untuk pembelajaran matematika hal ini terlihat pada tiap pertemuan sering tidak mengikuti pembelajaran. Hal ini disebabkan karena salah satu faktor tertentu (malas, tidak mengerti belajar dari suatu permasalahan dan lain-lain). Meskipun peneliti sudah berupaya untuk mengatasinya.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pengolahan data, dapat diperoleh simpulan sebagai berikut :

1. Peningkatan kemampuan berpikir kreatif matematik peserta didik yang menggunakan model problem based learning berbantuan software Cabri 3D lebih baik daripada peningkatan kemampuan berpikir kreatif matematik peserta didik yang menggunakan model problem based learning tanpa berbantuan software Cabri 3D.

2. Kemandirian belajar peserta didik dengan menggunakan model problem based learning berbantuan software Cabri 3D tergolong pada kategori sedang.

(10)

DAFTAR RUJUKAN

Afgani, Jarnawi. (2011). Analisis Kurikulum Matematika. Bandung : Universitas Terbuka

Kosasih, E (2014). Strategi Belajar dan Pembelajaran Inplementasi Kurikulum 2013.

Bandung: Yrama Widya

Ruseffendi, E.T. (2010). Dasar-dasar penelitian & Bidang Non-Eksakta Lainnya.

Bandung: Tarsito.

Rusman. (2014). Model-Model Pembelajaran. Jakarta: Rajawai Pers.

Sumarmo, Utari. (2014). Berpikir dan Diposisi Matematik Serta Pembelajarannya.

FKIP UPI. Tidak diterbitkan.

Wina Suhartini. (2014). Peningkatan Kemampuan Berpikir Kreatif Matematik Peserta Didik Melalui Model DL Kelas X SMA N 1 Cihaurbeuti Skripsi Universitas Siliwangi Tasikmalaya: Tidak dipublikasikan

Referensi

Dokumen terkait

• Perusahaan ini memiliki peluang yang besar dalam bisnis produk kertas. • Perusahaan memiliki beberapa ancaman seperti adanya pendatang baru. Tetapi ini bisa diatasi

Dari perdagangan Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika, perubahan tingkat imbal hasilnya juga terlihat terbatas meskipun dengan

Sehingga dapat disimpulkan bahwa sumber daya insani diartikan sebagai penataan dan pengelolaan tenaga kerja sebagai sumber daya oragnisasi yang efektif dan efisien

Apabila terdapat bukti obyektif bahwa penurunan nilai pada aset keuangan atau kelompok aset keuangan yang diklasifikasikan sebagai dimiliki hingga jatuh tempo, tersedia

Peran serta masyarakat adalah rangkaian kegiatan masyarakat yang dilakukan berdasarkan gotongroyong dan swadaya masyarakat dalam rangka menolong mereka sendiri mereka

(1) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999, dengan adanya kartel komisi tiket pesawat di Nusa Tenggara Barat yang dilakukan antara lain dengan cara kesepakatan besaran

Bab 3 merupakan pengembangan dari tiga artikel, yaitu : (a) Regresi Kontinum sebagai Bentuk Umum dari Regresi Kuadrat Terkecil, Regresi Komponen Utama serta Regresi Kuadrat Terkecil

Manfaat pelaksanaan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana proses bisnis yang berjalan pada UD Karya Bahari, dan untuk membantu karyawan UD Karya Bahari