• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manusia modern menghadapi risiko yang jauh lebih besar bukan hanya berasal dari bencana alam, namun dengan menciptakan dan mengembangkan berbagai

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Manusia modern menghadapi risiko yang jauh lebih besar bukan hanya berasal dari bencana alam, namun dengan menciptakan dan mengembangkan berbagai"

Copied!
57
0
0

Teks penuh

(1)MANAJEMEN RISIKO K3.

(2) ❑ Manusia modern menghadapi risiko yang jauh lebih besar bukan hanya berasal dari bencana alam, namun dengan menciptakan dan mengembangkan berbagai teknologi disamping memberi manfaat bagi kehidupan manusia dapat menimbulkan dampak kerugian. ❑ Contoh : Penemuan berbagai teknologi dibidang transportasi (pesawat, kereta api, mobil, motor, dll) mengandung risiko seperti tabrakan, kapal tenggelam, pesawat jatuh..

(3) ❑ Industrialisasi juga menimbulkan risiko → para pekerja yang bekerja di industri kerap kali menghadapi bahaya kecelakaan kerja dan PAK. ❑ Penduduk disekitar industri menghadapi risiko yang bersumber dari aktivitas industri → kebocoran gas beracun, kebisingan, ledakan, debu, dll..

(4) ❑ Jadi apakah para pekerja harus menghindar dari semua risiko yang ada di tempat kerjanya ?. ❑ Para pekerja harus mampu untuk mengelola risiko dengan baik dengan pendekatan manajemen risiko. ❑ Contoh dikehidupan sehari-hari → manajemen risiko secara sederhana tanpa disadari sudah diterapkan... “Seorang ibu mengingatkan anaknya sebelum anak tersebut berangkat kuliah untuk hati-hati mengendarai motor ke kampus… pake helm, sarung tangan, lihat spion, jangan ngebut, dll”..

(5) DEFINISI MANAJEMEN RISIKO K3 ❑ Manajemen risiko suatu proses logis dalam usahanya untuk memahami eksposur terhadap suatu kerugian. ❑ Manajemen risiko adalah upaya mengelola risiko untuk mencegah terjadinya kecelakaan yang tidak diinginkan secara komprehensif, terencana dan terstruktur dalam suatu kesisteman yang baik. Sehingga memungkinkan manajemen untuk meningkatkan hasil dengan cara mengidentifikasi dan menganalisis risiko yang ada. ❑ Pendekatan manajemen risiko yang terstruktur dapat meningkatkan perbaikan berkelanjutan..

(6) • Pengembangan sistem manajemen K3 harus berbasis pengendalian risiko sesuai dengan sifat dan kondisi bahaya yang ada. • Keberadaan bahaya ataupun insiden yang membawa dampak terhadap manusia, peralatan, material dan lingkungan. • Risiko mengambarkan besarnya potensi bahaya untuk dapat menimbulkan insiden atau cidera pada pekerja yang ditentukan oleh kemungkinan dan keparahan yang diakibatkannya. • Sehingga adanya bahaya atau risiko harus dikelola dan dihindarkan melalui manajemen K3 yang baik, karena manajemen K3 memiliki kaitan yang sangat erat dengan manajemen risiko.

(7)

(8) BAHAYA ?.

(9) BAHAYA / HAZARD • Sumber, situasi atau tindakan yang berpotensi mencelakakan kepada manusia atau sakit penyakit, atau kombinasi dari semuanya (OHSAS 18001:2007), maka hadirnya bahaya diperlukan upaya pengendalian agar bahaya tsb tidak menimbulkan akibat yang merugikan. • Bahaya merupakan sifat yang melekat dan menjadi bagian dari suatu zat, sistem, kondisi atau peralatan. • Misalnya api mengandung sifat panas yang mengenai benda atau tubuh manusia dapat menimbulkan kerusakan atau cidera. • Misalnya energi listrik mengandung bahaya jika mengenai tubuh.

(10)

(11) RISIKO ?.

(12) RISIKO / RISK • Kombinasi dari kemungkinan terjadinya suatu keadaan bahaya atau paparan dengan keparahan dari cidera atau gangguan kesehatan yang disebabkan oleh kejadian atau paparan tersebut. (OHSAS 18001:2007). • Risiko menggambarkan besarnya kemungkinan suatu bahaya dapat menimbulkan kecelakaan serta besarnya keparahan yang dapat diakibatkannya. • Dalam aspek K3 risiko biasanya bersifat negatif… cidera, kerusakan produksi, dll..

(13)

(14)

(15) HUBUNGAN BAHAYA DENGAN RISIKO. HAZARD. INCIDENT. SAFETY MANAJEMEN. RISK Sumber Bahaya mengandung risiko yang dapat menimbulkan insiden terhadap manusia, lingkungan, material dan peralatan..

(16)

(17) CALCULATED RISK • Calculated risk atau risiko yang diperhitungkan merupakan prinsip utama dalam mengelola suatu risiko. • Menghitung risiko adalah kata kunci dalam manajemen risiko, setiap pembalap, stuntman, penerjun payung, trader pasar modal → semua melakukan perhitungan yang matang dan professional dengan menerapkan kaidah manajemen risiko..

(18) Persepsi Risiko (Safety Paradox) ❑ Ada orang yang sangat peduli dengan risiko dan ada yang sebaliknya ❑ Perbedaan tersebut disebabkan oleh perbedaan persepsi seseorang terhadap risiko dipengaruhi oleh latar belakang sosial, budaya, pengalaman dan pengetahuan. ❑ Misalnya peristiwa pesawat terbang yang jatuh dengan menewaskan ratusan orang akan sulit hilang dalam ingatan. Hal ini berbeda dengan peristiwa kecelakaan lalu lintas..

(19) Persepsi Risiko (Safety Paradox).. • Pada saat persepsi seseorang mengenai tingkat risiko berada dipuncak perhatian dan kewaspadaan keselamatan akan meningkat, angka penyimpangan dan angka kecelakaan akan menurun • Namun seiring dengan waktu jika keadaan normal kembali persepsi tingkat risiko akan menurun dan kewaspadaan menurun sampai penyimpangan maupun angka kecelakaan berikutnya terulang kembali..

(20) Jenis Risiko 1) Risiko Finansial → keuangan, investasi 2) Risiko pasar → a. tuntutan dari konsumen (produsen farmasi memproduksi obat penenang bagi ibu hamil Thalidomide → dampak negative bagi ibu dan janin, jani terlahir cacat → masyarakat menuntut produsen untuk bertanggung jawab. b. Pesaingan produsen yang memproduksi barang sesuai keinginan konsumen dan aman dipakai. 3) Risiko alam → gempa bumi, tsunami, gunung Meletus, dll.

(21) Jenis Risiko 1) Risiko operasional → a. Karyawan (rekrutmen vs gaji), b. Teknologi, c. Risiko K3. 2) Risiko keamanan → terjadi gangguan keamanan. 3) Risiko Sosial → aspek sosial budaya, misalnya budaya yang kurang peduli terhadap K3..

(22) Identifilkasi Bahaya Pada Hewan Perilaku Agresif. Bau Menyegat Kutu. Air liur dan Taring Tajam. Gerakan tidak terkendali Kuku Runcing.

(23) Rasio Kecelakaan Dupont • Menurut Dupont rasio kecelakaan 1: 30 : 300 : 3000 : 30.000. • Artinya : untuk setiap 30.000 bahaya atau tindakan tidak aman atau kondisi tidak aman, akan terjadi 1 kali kecelakaan fatal, 30 kali kecelakaan berat, 300 kali kecelakaan serius dan 3000 kali kecelakaan ringan..

(24) IDENTIFIKASI BAHAYA ANALISIS RISIKO EVALUASI RISIKO. PENGENDALIAN RISIKO. PEMANTAUAN DAN TINJAU ULANG. MENENTUKAN KONTEKS. Penilaian Risiko. KOMUNIKASI DAN KONSULTASI. Proses Manajemen Risiko.

(25) Menentukan Konteks ❑ Langkah awal dari mengembangkan manajemen risiko adalah menentukan konteks misalnya menyangkut risiko kesehatan kerja, kebakaran, higiene industri. ❑ Dari konteks tersebut dikembangkan ke dalam bidang aktivitas rumah sakit, industri kimia, kilang minyak, kontruksi dan bidang lainnya..

(26) Identifikasi Bahaya dan Penilaian Risiko ❑ Merupakan upaya sistematis untuk mengetahui postensi bahaya yang ada dilingkungan kerja, dengan mengetahui sifat dan karakteristik bahaya, pekerja dapat lebih berhati-hati, waspada dan melakukan langkah-langkah pengamanan agar tidak terjadi celaka, namun tidak semua bahaya dapat dikenali dengan mudah. Misalnya pabrik petrokimia dengan berbagai proses produksi dengan memakai berbacam bahan kimia yang digunakannya. ❑ OHSAS 18001 mengisyaratkan prosedur identifikasi bahaya dan penilaian risiko, yaitu : 1) Aktivitas rutin dan non rutin 2) Aktivitas dari semua individu yang memiliki akses ketempat kerja, karyawan, termasuk kontraktor, visitor. 3) Perilaku manusia (pekerja), harus dipertimbangkan dalam mengidentifikasi bahaya dan penilaian risiko.

(27) Identifikasi Bahaya dan Penilaian Risiko 4). Identifikasi semua bahaya yang berasal dari luar tempat kerja yang dapat menimbulkan efek terhadap kesehatan dan keselamatan manusia yang berada di bawah perlindungan organisasi di dalam tempat kerja. 5) Bahaya yang ditimbulkan di sekitar tempat akerja dari aktivitas yang berkaitan dengan pekerjaan yang berada di bawah kendali organisasi. 6) Infrastruktur, peralatan dan material di tempat kerja yang disediakan oleh perusahaan ataupun phak lain karena infrastruktur juga mengandung potensi bahaya yang dapat menimbulkan kecelakaan. 7) Perubahan dalam organisasi, kegiatan atau material 8) Setiap perubahan atau modifikasi yang dilakukan oleh organisasi termasuk perubahan sementara harus memperhitungkan potensi bahaya K3 dan dampaknya terhadap produksi, proses dan aktivitas. 9) Setiap persyaratan legal yang berlaku berkaitan dengan pengendalian risiko dan implementasi pengendalian yang diperlukan 10) Rancangan lingkungan kerja, proses, instalasi mesin, peralatan, prosedur operasi dan organisasi kerja termasuk adaptasinya terhadap kemampuan manusia..

(28) Identifikasi Bahaya dan Penilaian Risiko ❑ Dalam menetapkan metode identifikasi bahaya yang dilakukan harus mempertimbangkan aspek : 1) Lingkup identifikasi bahaya yang dilakukan; misalnya seluruh bagian, proses atau peralatan kerja atau aspek K3 seperti kebakaran, kenyakit akibat kerja, kesehatan, ergonomi, dll. 2) Bentuk identifikasi bahaya; misalnya di bersifat kualitatif atau kuantitatif 3) Waktu pelaksanaan identifikasi bahaya; misalnya di awal proyek, pada saat operasi, pemeliharaan atau modifikasi sesuai dengan siklus atau daur hidup organisasi. ❑ Teknik identifikasi bahaya ada berbagai macam, yaitu : 1) Teknik pasif 2) Teknik semiproaktif 3) Teknik proaktif..

(29) 1) TEKNIK PASIF ❑ Bahaya dapat dikenali dengan mudah jika pekerja mengalami sendiri secara langsung, misalnya seorang pekerja akan mengetahui adanya bahaya lobang dijalan setelah tersandung dan terjatuh ke dalamnya. ❑ Cara seperti ini bersifat terlambat karena kecelakaan telah terjadi sehingga dapat diidentifikasi dan mengambil langkah pencegahannya. ❑ Contoh; didalam suatu pabrik kimia terdapat berbagai jenis bahan dan peralatan, selama bertahun-tahun pabrik tersebut beroperasi dan tidaka terjadi kecelakaan, dalam hal ini belum tentu pabrik tersebut aman dan tidak mengandung bahaya. Jika dilakukan identifikasi bahaya dapat ditemukan sumber bahaya yang setiap saat dapat menimbulkan kecelakaan dan penyakit akibat kerja..

(30) 2) TEKNIK SEMI PROAKTIF ❑ Teknik ini disebut dengan belajar dari pengalaman orang lain, karena tidak mengalami sendiri. Teknik ini lebih baik karena tidak perlu mengalami sendiri setelah itu baru mengatahui adanya bahaya. Namun teknik ini juga kurang efektif karena : 1) Tidak semua bahaya telah diketahui atau pernah menimbulkan dampak kejadian kecelakaan 2) Tidak semua kejadian dilaporkan atau diinformasikan kepada pihak lain untuk diambil sebagai pembelajaran 3) Kecelakaan telah terjadi yang berarti tetap menimbulkan kerugian, walaupun menimpa pihak lain. ❑ Setelah itu OHSAS 18001 mengisyaratkan untuk melakukan penyelidikan kecelakaan sebagai lesson learning agar kejadian serupa tidak terulang kembali..

(31) 3) TEKNIK PROAKTIF ❑ Teknik ini terbaik untuk mengidentifikasikan bahaya, atau mencari bahaya sebelum bahaya itu menimbulkan akibat atau dampak merugikan. ❑ Tindakan proaktif memiliki kelebihan, yaitu: 1) Bersifat preventif karena bahaya dikendalikan sebelum menimbulkan kecelakaan atau cidera 2) Bersifat peningkatan (continue improvement), karena dengan mengenakl bahaya dapat meninggkatkan upaya perbaikan 3) Meningkatkan awareness semua pekerja setelah mengetahui dan mengenal adanya bahaya di sekitar tempat kerja. 4) Mencegah pemborosan yang tidak diinginkan, karena adanya bahaya dapat menuimbulkan kerugian, misalnya ada katup yang bocor tanpa diketahui maka akan terus menerus mengeluarkan bahan/bocoran sehingga menimbulkan kerugian..

(32) PEMILIHAN TEKNIK IDENTIFIKASI BAHAYA ❑ Pemilihan teknik yang sesuai dengan perusahaan sangatlah menentukan efektifitas identifikasi bahaya yang dilakukan. ❑ Ada beberapa pertimbangan dalam menentukan teknik identifikasi bahaya yaitu: 1) Sistematis dan terstruktur 2) Mendorong pemikiran kreatif tentang kemungkinan bahaya yang belum pernah dikenal sebelumnya 3) Harus sesuai dengan sifat dan skala kegiatan perusahaan 4) Mempertimbangkan ketersediaan informasi yang diperlukan..

(33) JENIS TEKNIK IDENTIFIKASI BAHAYA DATA KEJADIAN. DAFTAR PERIKSA BRAINSTROMING. WHAT IF HAZOPS (HAZARD & OPERABILITY STUDY) FAILUR MODES & EFECTS ANALYSIS (FMEA) TASK ANALYSIS FAULT TREE ANALYSIS TASK RISK ASSESMENT (TRA) JOB SAFETY ANALYSIS (JSA).

(34) 1) DATA KEJADIAN ❑ Teknik ini bersifat semi proaktif karena berdasarkan sesuatu yang telah terjadi. Dari kecelakaan atau kejadian akan diperoleh informasi penting mengenai adanya suatu bahaya. Dari kejadian tersebut dapat digali informasi yang lebih mendalam apa saja bahaya yang terjadi di lingkungan kerja. Misalnya adanya seseorang pekerja yang hampir celaka (near miss) akibat genangan oli di lantai. ❑ Dari kejadian ini dapat ditelusuri lebih dalam, kemungkinan adanya kondisi tidak aman seperti drum oli yang bocor, mesin forklift yang terjadi rembesan oli..

(35) 2) DAFTAR PERIKSA ❑ Identifikasi bahaya dapat dilakukan dengan membuat suatu daftar periksa tempat kerja (ceklist), melalui daftar periksa dapat dilakukan pemeriksaan terhadap seluruh kondisi di lingkungan kerja seperti mesin, penerangan, kebersihan, penimpanan material dan lainnya. Daftar periksa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan, kondisi, sifat kegiatan dan jenis bahaya yang dominan.. No. Pertanyaan. 1. Apakah kondisi lantai dalam keadaan bersih ?. 2. Apakah Penerangan cuku dan dalam kondisi baik ?. 3. Apakah jalan aman dan tidak terhalang ?. 4. Apakah ventilasi tercukupi dan terpelihara?. 5. Apakah semua peralatan listrik dalam kondisi baik dan aman ?. Ya. tidak.

(36) 3) TEKNIK BRAINSTROMING & 4) TEKNIK WHAT IF ❑ Identifikasi bahaya dapat dilakukan dengan teknik brainstroming dalam suatu kelompok atau tim di tempat kerja. Tim ini dapat berasal dari suatu bidang atau departemen tetapi dapat juga bersifat lintas fungsi. Dalam pertemuan kelompok ini dibahas kondisi tempat kerja. Setiap anggota kelompok dapat mengemukakan pendapat atau temuannya mengenai bahaya yang ada dilingkungan kerja masing-masing. ❑ Teknik what if merupakan teknik identifikasi yang sangat proaktif dengan menggunakan kata bantu ‘what if’. ❑ Contoh; what if.... Jika pompa itu tiba-tiba meledak what if.... Jika alat pengaman tidak berfungsi di mesin tersebut what if.... Jika drum penyimpanan bahan kimia tiba-tiba bocor..

(37) Worksheet What If What If. Consequensi. Risk Matrix. 1 1. Slang bocor. 1. Gas keluar dan menyambar 2. Jika ada api dapat terjadi ledakan 3. Keracunan gas. 2. Regulator bocor. 1. 2. 3.. 3. Tabung bocor. 1. 2. 3.. Gas keluar Jika ada api dapat terjadi ledakan Keracunan gas Gas akan keluar Jika ada api dapat meledak keracunan. 2. Safeguards. Recommen dations. Responsi bility. 1. Pasang ventilasi. Pengawas teknik. 3 Gas detector.

(38) 5) HAZOPS (HAZARDS & OPERABILITY STUDY) ❑ Merupakan teknik identifikasi bahaya yang sangat komprehensif dan terstruktur. Digunakan untuk mengidentifikasi suatu proses atau unit operasi baik pada tahap rancang bangun kontruksi, operasi maupun modifikasi. ❑ Hazops dilakukan dalam bentuk tim dengan menggunakan kata bantu (guide word) yang dikombinasikan dengan parameter yang ada dalam proses seperti level suhu, tekanan, aliran dan lainnya. Kata bantu yang digunakan antara lain more, no, low, less, high dan lainnya. ❑ Contoh; kata bantu more dapat dikombinasikan dengan parameter aliran (flow) menjadi more flow, no flow, less flow, reverse flow dll. ❑ Sehingga dengan menggunakan kata bantu tsb dapat mengidentifikasikan postensi bahaya apa saja yang dapat terjadi dalam suatu proses kerja..

(39) 6) FAILURE MODE & EFFECT ANALYSIS (FMEA) ❑ Merupakan suatu teknik identifikasi bahaya yang digunakan pada peralatan atau sistem. ❑ Teknik FMEA ini mengidentifikasikan apa saja kemungkinan kegagalan yang dapat terjadi serta dampak yang mungkin ditimbulkannya. Dengan demikian dapat dilakukan upaya pengendalian dan pengamanan yang tepat. ❑ Contoh; FMEA dapat dilakukan untuk mengidentifikasi bahaya suatu turbin gas, kompresor, alat kontrol, katup pengaman, dll.,.

(40) 7) JOB SAFETY ANALYSIS (JSA) ❑ Salah satu Teknik analisa bahaya yang sering dipakai (popular), Teknik ini bermanfaat untuk mengidentifikasi dan menganalisa bahaya dalam suatu pekerjaan (job), seperti mengganti ban serep mobil, mengganti bola lampu, memasang AC, melepas saringan. ❑ Pekerjaan yang memerlukan kajian JSA : 1) Pekerjaan yang sering mengalami kecelakaan atau memiliki angka kecelakaan tinggi 2) Pekerjaan berisiko tinggi dan dapat berakibat fatal misalnya membersihkan kaca dengan gondola 3) Pekerjaan yang yang jarang dilakukan sehingga belum diketahui secara persis bahaya ada 4) Pekerjaan yang rumit atau komplek dimana sedikit kelalaian dapat berakibat kecelakaan atau cidera..

(41) 7) JOB SAFETY ANALYSIS (JSA).. ❑ Kajian JSA terdiri dari 5 langkah : 1) Pilihlah pekerjaan yang akan dianalisa 2) Pecah pekerjaan menjadi langkah-langkah aktivitas 3) Identifikasi potensi bahaya pada setiap langkah 4) Tentukan langkah pengamanan untuk mengendalikan bahaya 5) Komunikasikan kepada semua pihak berkepentingan..

(42) 8) ANALISIS PEKERJAAN (TASK ANALYSIS) ❑ Analisis pekerjaan digunakan untuk mengidentifikasikan bahaya yang berkaitan dengan pekerjaan atau suatu tugas. Misalnya bahaya dalam aktivitas seorang operator pabrik, tukang las, operator alat berat, dll. ❑ Pada dasarnya berbagai teknik atau metoda identifikasi bahaya tsb ditujukan untuk aspek manusia, proses, peralatan dan prosedur. Untuk menegidentifikasidan menilai risiko yang berkaitan dengan keempat aspek tsb dapat dilakukan dengan teknik tertentu, yaitu; a) Aspek manusia Identifikasi bahaya yang berkaitan dengan manusia dapat dilakukan dengan teknik Job Safety Analysis (JSA) atau Task Risk Analysis. b) Proses Untuk mengidentifikasikan bahaya berkaitan dengan proses sepert; pada industri kimia, perminyakan dapat dilakukan dengan berbagai pilihan metoda HAZOPS dan Whats If..

(43) 8) ANALISIS PEKERJAAN (TASK ANALYSIS).. c) Peralatan Potensi bahaya pada peralatan dapat dilakukan dengan teknik FMEA (Failur Mode & Effect Analysis) d) Prosedur Untuk menganalisa prosedur atau sistem manajemen dapat dilakukan dengan teknik What If. ❑ Dengan tersedianya berbagai perangkat untuk melakukan identifikasi bahaya dan penilaian risiko tsb, maka organisasi dapat memilih dan menyesuaikan dengan kebutuhannya masingmasing..

(44)

(45)

(46)

(47)

(48) PENILAIAN RISIKO ❑ Setelah melakukan identifikasi bahaya dilanjutkan dengan penilaian risiko yang bertujuan untuk mengevaluasi besarnya risiko serta dampak yang akan ditimbulkannya. ❑ Penilaian risiko digunakanan sebagai langkah saringan untuk menentukan tingkat risiko ditinjau dari kemungkinan terjadi (likelihood) dan keparahan yang dapat ditimbulkan (saverity)..

(49) HIRARC ❑ Berdasarkan persyaratan dari OHSAS 18001 (Occupational Health and Safety Assessment Series), organisasi harus menetapkan prosedur mengenai : a) Identifikasi bahaya (Hazard Identification) b) Penilaian risiko (Risk Assesment) c) Menentukan pengendaliannya (Risk Control). ❑ Sehingga di atas dapat disingkat dengan HIRARC atau keseluruhan proses ini disebut juga risk manajemen (manajemen risiko). ❑ Biasa disebut HIRARC maupun HIRADC.

(50) HIRARC • HIRARC merupakan elemen pokok dalam sistem manajemen K3 yang berkaitan langsung dengan upaya pencegahan dan pengendalian bahaya. • HIRACH juga merupakan bagian dari sistem manajemen risiko. • Menurut OHSAS 18001 HIRARC harus dilakukan diseluruh aktivitas organisasi untuk menentukan kegiatan organisasi yang mengandung potensi bahaya dan menimbulkan dampak serius terhadap K3. • HIRARC menjadi masukan untuk penyusunan objektif dan target K3 yang akan dicapai, yang dituangkan dalam program kerja,.

(51) KEMUNGKINAN TERJADINYA RISIKO (LIKELIHOOD) Tingkat. Uraian. Contoh Rinci. A. Hampir pasti Dapat terjadi setiap saat dalam kondisi normal. terjadi (Almost Misalnya kecelakaan lalui lintas di jalan raya padat Certain). B. Sering (likely). C. Dapat terjadi. D. Kadangkadang likely). E. Jarang (Rare). terjadi Terjadi beberapa kali dalam periode tertentu. Misalnya kecelakaan kereta api. waktu. Risiko dapat terjadi namun tidak sering. Misalnya jatuh dari ketinggian di lokasi proyek kontruksi. Kadang-kadang terjadi. (Un Misalnya kebocoran pada instalasi nuklir sekali Dapat terjadi dalam keadaan tertentu. Misalnya seorang pekerja disambar petir..

(52) KEPARAHAN ATAU SAVERITY Tingkat. Uraian. Contoh Rinci. 1. Tidak Signifikan. Kejadian tidak menimbulkan kerugian atau cidera pada manusia/pekerja. 2. Cidera Ringan / P3K. Menimbulkan cedera ringan, kerugian kecil dan tidak menimbulkan dampak serius terhadap kelangsungan bisnis. 3. Sedang. Hilang hari kerja, dan dirawat di rumah sakit, tidak menimbulkan cacat tetap, kerugian cukup besar. 4. Berat. Menimbulkan cidera parah dan cacat tetap dan kerugian materi besar serta menimbulkan dampak yang serius terhadap kelangsungan usaha. 5. Bencana. Mengakibatkan korban meninggal dan kerugian sangat besar/parah bahkan dapat menghentikan kegiatan usaha selamanya..

(53) MATRIKS RISIKO Likelihood Saverity / Consequently/ Keparahan /Probabilit Tidak Kecil Sedang Berat y/Kemung Signifikan (2) (3) (4) kinan (1). Bencana (5). A. H. H. E. E. E. B. M. H. H. E. E. C. L. M. H. E. E. D. L. L. M. H. E. E. L. L. M. H. H.

(54) KETERANGAN MATRIK RISIKO E= Risiko Ekstrim. Kegiatan tidak boleh dilaksanakan atau dilanjutkan sampai risiko telah direduksi. Jika tidak memungkinkan untuk mereduksi risiko tsb dengan sumberdaya yang terbatas, maka pekerjaan tidak dapat dilaksanakan.. H = Risiko Tinggi (High Risk). Kegiatan tidak boleh dilaksanakan sampai risiko telah direduksi. Perlu dipertimbangkan sumberdaya yang akan dialokasikan untuk mereduksi risiko. Apabila risiko terdapat dalam pelaksanaan pekerjaan yang masih berlangsung maka tindakanharus segera dilakukan. M = Risiko Sedang (Moderate Risk). Perlu tindakan untuk mengurangi risiko tetapi biaya pencegahan yang diperlukan harus diperhitungkan dengan teliti dan dibatasi. Pengukuran pengurangan risiko harus diterapkan dalam jangka waktu yang ditentukan. L = Risiko Rendah (Low Risk). Risiko dapat diterima. Pengendalian tambahan tidak diperlukan. Pemantauan diperlukan untuk memastikan bahwa pengendalian telah dipelihara dan diterapkan dengan baik dan benar..

(55)

(56) PENGENDALIAN RISIKO (HIRARKI PENGENDALIAN) 1) Eliminasi atau penghilangan. 2) Subtitusi atau mengganti material yang lebih aman. 3) Rekayasa enjinering atau modifikasi disain baik pada sumber (mesin), pemisahan lokasi pekerja dengan pekerjaan. 4) Pengendalian Administrasi : perubahan proses kerja, rotasi kerja, jadwal pelatihan. 5) Pemberian Alat Pelindung Diri atau APD..

(57) TERIMA KASIH.

(58)

Referensi

Dokumen terkait

HIRARC merupakan metode yang menganalisis bahaya yang terdapat pada bagian kerja kemudian dilakukan penilaian risiko untuk mengetahui bagian kerja mana yang mempunyai nilai risiko

Untuk itu, keyakinan terhadap arah kiblat masjid yang didirikan oleh wali dan meyakini sampai sekarang tentang kebenaran arah tersebut tanpa melihat disiplin

variabel random diskrit yang berdistribusi Poisson dan memperhatikan faktor spasial, maka hubungan antara variabel respon dalam hal ini jumlah kematian bayi dan variabel

Awig-awig nomor 4 yang mempunyai tingkat pelanggaran terendah ini menunjukan sangat efektif mengatur perilaku wisatawan mancanegara karena dari 10 persen wisatawan mancanegara yang

Sehingga pada penelitian dibuat sebuah Sistem deteksi pra panen padi berdasarkan warna daun dengan menggunakan Learning Vector Quantization, yang diharapkan

*te yang berbeda pada laporan keuangan dinilai pada 'aktu yang berbeda, dengan hasil bah'a rasio dapat berubah dari 'aktu ke 'aktu eskipun !aktor yang endasari

Apakah ada sumber infeksi yg dapat ditemukan pada pemeriksaan. Apakah anak ini

Masyarakat biasanya menjual rumput laut yang telah kering pemasaran dilakukan dengan 3 saluran, saluran 1 adalah petani menjual rumput lautnya ke pedagang besar dan