• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kata Pengantar STASIUN GEOFISIKA JAYAPURA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Kata Pengantar STASIUN GEOFISIKA JAYAPURA"

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

S t a s i u n G e o f i s i k a K e l a s I J a y a p u r a

Kata Pengantar

STASIUN GEOFISIKA JAYAPURA

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya penyusunan Buletin Bulanan Stasiun Geofisika Kelas I Jayapura periode Bulan Agustus 2020. Tujuan pembuatan buletin bulanan yaitu untuk mewadahi semua kegiatan yang berkaitan dengan kegiatan operasional Stasiun Geofisika Kelas I Jayapura. Kegiatan yang di rangkum dalam buletin bulanan yaitu memuat hasil – hasil pengamatan, pengolahan dan analisis data-data Geofisika dan Klimatologi yang di peroleh dari peralatan yang terpasang dan dioperasikan di Stasiun Geofisika Kelas I Jayapura.

Ucapan terima kasih ditujukan kepada seluruh pegawai Stasiun Geofisika Kelas I Jayapura, khususnya yang telah membantu dalam persiapan pembuatan Buletin ini. Namun demikian Buletin ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik kami harapkan untuk perbaikan pembuatan Buletin selanjutnya serta besar harapan kami kiranya Buletin ini dapat bermanfaat bagi penggunanya.

Jayapura, 5 September 2020

Kepala Stasiun

MARGIONO, S,Si

(3)

S t a s i u n G e o f i s i k a K e l a s I J a y a p u r a Pelindung

Penanggung Jawab

Ketua Pelaksana

Wakil Pelaksana

Daftar Isi

STASIUN GEOFISIKA JAYAPURA

1 Profil dan Sejarah 6 Daftar istilah

7 Informasi gempabumi & dirasakan

14 Informasi Curah Hujan Agustus 2020

16 Informasi Magnetbumi Agustus 2020

19 Kegiatan Pengamatan Hilal Dzulhijjah

21 Artikel Populer Agustus 2020 31 Data Terbit terbenam Kota – kota

Papua & Papua Barat

Editor

Datin

Tim Redaksi :

Penanggung Jawab Data Gempabumi:

Netty Yufita Baru, S.Si, M.Si Gogo Diego Silalahi, S.Tr

Penanggung Jawab Data Tanda Waktu : Jambari, S.Tr

Penanggung Jawab Data Kelistrikan Udara:

Purnama David Anwar, S.T.

Penanggung Jawab Data Magnet Bumi :

Muhammad Syawal, S.Si

Penanggung Jawab Data Klimatologi :

Danang Pamuji D.L.Y,S.Si Lidya Natalia Hutapea, S.Si

Design Cover:

Muhammad Syawal, S.Si MARGIONO, S.Si

Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Jayapura

CANGGIH PERSADA SEMBIRING, S.Si Kepala Seksi Data dan Informasi

RULLY OKTAVIA H, S.Kom, M.Kom Kepala Seksi Observasi

JOSINA AKIHARY, S.E Kepala Sub Bagian Tata Usaha

(4)

Hal

1

S t a s i u n G e o f i s i k a K e l a s I J a y a p u r a

PROFILE

STASIUN GEOFISIKA JAYAPURA

Stasiun Geofisika Kelas I Jayapura terletak di jalan Drs. Krisna Sunarya No. 26 Kelurahan Angkasapura Distrik Jayapura Utara Provinsi Papua. Titik dasar stasiun terletak pada 02°30'52,59375" Lintang Selatan dan 140°42'15,52086" Bujur Timur dengan elevasi 444.97 meter dan gravitasi

sebesar 978105.39 mgal. Stasiun Geofisika Kelas I Jayapura merupakan salah satu dari dua Stasiun Geofisika yang terdapat di Papua dan merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang bertanggung jawab langsung kepada Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika.

Stasiun Geofisika Kelas I Jayapura stageof.jayapura.bmkg.go.id

e-mail : [email protected] | 0967 -533533

(5)

Hal

2

S t a s i u n G e o f i s i k a K e l a s I J a y a p u r a

Sejarah

STASIUN GEOFISIKA JAYAPURA

Stasiun Geofisika Kelas I Jayapura mulai beroperasi sejak tahun 1972 dibawah Lembaga Meteorologi dan Geofisika Jakarta dan pada tanggal 9 Pebruari1973diresmikan operasionalnya oleh Menteri Perhubungan Drs. Frans Seda.Pada tanggal 3 Pebruari 1973 pertama kali dioperasikan peralatan Seismograph Fotografik Sprengnether 3

Komponen. Melalui kerjasamaPusat Meteorologi dan Geofisika dengan UNESCO, pada tahun 1977 dibantu peralatan operasional Visual Seismograph Short Period SPS-1 (Kinematric) dan Strong Motion Accelerograph (SMA-1) untuk deteksi gempabumi kuat.

kemudian pada tahun 2010 peralatan Digital Broadband Seismograph STS-2dipindahkan ke Nabire. Fungsi jaringan Ina-TEWS di Jayapura hanya mengoperasikan peralatan CTBTO.Pada tahun 2010 dan 2012 berturut-turutmelalui kegiatan Belanja Modal BMKG Jakarta, Stasiun Geofisika Kelas I Jayapura mendapat tambahan peralatan survery berupa Portable Digital Seismograph Taide TDV-23S, dan Accelerograph Titan_0077 untuk mengukur nilai PGA (Peak Ground Acceleration).

kg.go.id

e-mail : [email protected] | 0967 -533533

(6)

Hal

3

S t a s i u n G e o f i s i k a K e l a s I J a y a p u r a

Laporan

Geopotensial

STASIUN GEOFISIKA JAYAPURA

Laporan geopotensial terdiri dari hasil pengamatan magnet bumi, listrik udara dan pengamatan tanda waktu. Berikut adalah spesifikasi peralatan geopotensial di Stasiun Geofisika Kelas I Jayapura.

PENGAMATAN MAGNETBUMI,

Pada tahun 2010 mengoperasikan peralatan Observasi Variasi Magnetik Harianberupa peralatan Fluxgate Magnetometer LEMI-018 dan Pos-1 Proton Overhausser, dan pengolahannya menggunakan Software IAGA V.20 dan Anal Magnet. Pada tanggal 18 April 2012 diinstal peralatan MAGDAS hasil kerjasama

BMKG dengan LAPAN, untuk observasi magnetbumi. Pada tahun 2013 mendapatkan peralatan Theodolite Fluxgate Magnetometer dan DIM (Deklination Inklination Magnetometer) untuk pengamatan absolute magnet bumi. Pada tahun 2014 juga mendapatkan peralatan PPM (Proton Precission magnetometer) portable. Sehingga setelah peralatan pengamatan absolute lengkap, terhitung sejak bulan Juni 2014 Stasiun Geofisika Kelas I Jayapura telah melakukan pengamatan absolute magnet bumi

(7)

Hal

4

S t a s i u n G e o f i s i k a K e l a s I J a y a p u r a

Laporan

Geopotensial

STASIUN GEOFISIKA JAYAPURA

PENGAMATAN LISTRIK UDARA

Pada tahun 1992 mengoperasikan peralatan Lightning Counter. Pada tahun 2008 pergantian peralatan observasi petir dari Lightning Counter menjadi Lightning Detector menggunakan LD-250 dan pada Desember 2014 Stasiun Geofisika Kelas I Jayapura mulai mengoperasikan PCI Storm Tracker untuk pengamatan listrik udara, yang juga dilengkapi software Lightning 2000 versi 5.4.3 dari Aninoquisi.

TANDA WAKTU

Pada tahun 2012 atau dimulai sejak 1 Syawal 1433 H pengamatan tanda waktu dimulai, dengan peralatan teropong jenis Vixen GP

HUJAN HARIAN,

POLUSI UDARA, KIMIA AIR HUJAN (KAH)

Pada tahun 1992 diadakan penambahan peralatan Klimatologi berupa Penakar Hujan Observasi, Penakar Hujan Otomatis (Hilman), HV Sampler dan Wet & Dry Automatic Rain Sampler.

Hasil pengamatan berupa data hujan harian, sampel hujan dan sampel debu.

Selanjutnya sampel hujan dan debu dikirim ke Laboratorium Kualitas Udara untuk dianalisa. Hasil analisa diambil melalui laman: www.bmkg.go.id

P E N G A M A T AN

(8)

Hal

5

S t a s i u n G e o f i s i k a K e l a s I J a y a p u r a

PROFILE

STASIUN GEOFISIKA JAYAPURA

Keterangan mengenai Profil Stasiun Geofisika Kelas I Jayapura, dapat dilihat seperti dibawah ini:

1. CODE : JAY

2. ALAMAT : Jl. Drs. Krisna Sunarya No.26 Angkasapura - Jayapura 9113

3. Tlp : ( 0967 ) 533533 4. Fax : ( 0967 ) 536211

5. ALAMAT SURAT : P.O BOX 1201 Jayapura99113

6. ALAMAT E-MAIL : [email protected] 7. INSTALASI

8. STS – I (JAMSTEC): 1998 9. Trilium (CTBTO) : 2009 10. PERALATAN

11. STS – I (JAMSTEC) = 1 set terdiri 3 komponen yaitu :Vertikal (Z) dan Horizontal ( NS danEW)

12. STS – I (JAMSTEC): Very Broadband Seismometer

13. Trilium (CTBTO) : Broadband Seismometer 14. KALIBRASI

15. STS – I (JAMSTEC): 3 Maret 2013 (STS – 1) 16. Trilium (CTBTO) : 30Nopember 2013

(Trilium)

17. KOORDINAT :02°30'52,59375"S–

140°42'15,52086" E

18. KETINGGIAN : 444,97mdpl 19. BATUAN : Tuf

Tugas & Fungsi

STASIUN GEOFISIKA JAYAPURA

SK Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Nomor: 08 Tahun 2019 Nomor: 11 Tahun

2014

TUGAS >>

Melakukan pengamatan, pengumpulan dan penyebaran data, analisis dan pengolahan

serta pelayanan jasa Geofisika

FUNGSI >>

PENGAMATAN DAN ANALISA/PENGOLAHAN :

✓ GEMPABUMI DAN TSUNAMI

✓ PERCEPATAN TANAH (PGA)

✓ CURAH HUJAN PETIR ATAU LISTRIK UDARA

✓ KUALITAS UDARA

MAGNET BUMI

(9)

Hal

6

S t a s i u n G e o f i s i k a K e l a s I J a y a p u r a

Daftar Istilah

Gempabumi: merupakan pancaran energi yang disebabkan karena adanya tekanan pada batuan yang bersifat kaku yang tidak dapat lagi menahan sehingga terjadi patahan. Jadi gempa bumi adalah guncangan tiba – tiba yang terjadi akibat proses endogen pada kedalaman tertentu atau pergeseran tiba – tiba dari lapisan tanah dibawah permukaan bumi.

OT (Origin Time): adalah waktu saat terjadinya gempa di hiposenter. Pada saat terjadi gempa bumi, sejumlah besar energi dilepaskan dari sumber gempa

Episenter: Merupakan pusat atau titik gempabumi di permukaan

Magnitude:Magnitudo gempabumi merupakan kekuatan dari gempabumi atau ekspresi dari energi yang dipancarkan oleh sumber gempabumi dalam bentuk gelombang seismik.

Curah Hujan: Merupakan ketinggian air hujan yang dikumpulkan dalam tempat datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir.

Sifat Hujan: Merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan selaa rentang waktu yang ditetapkan satu periode musim hujan dengan jumlah curah hujan normalnya (rata rata: 30 tahun periode).

pH Air Hujan: Tingkat keasaman air hujan.

SPM (Suspanded Particulate Metter): Adalah partikel yang mengembang di udara yang mempunyai diameter lebih kecil 100 micrometer.

MagnetBumi: Merupakan besaran vektor yang mempunyai arah dan besaran (Intesitas), dinyatakan dalam komponen-komponen Horisontal dan Vertikal Deklinasi: Adalah sudut yang dibentuk oleh arah vektor medan magnet bumi disuatu tempat dengan arah utara geografis.

Inklinasi: Adalah sudut yang dibentuk oleh arah medan magnet bumi di suatu tempat dengan bidang Horisontal

Petir: Suatu fenomena alam yang pembentukkannya berasal dari terpisahnya muatan didalam awan Cumulunimbus (Cb). Terbentuk akibat adanya pergerakan udara keatas akibat panas dari permukaan laut serta adanya udara yang lembab.

Strokes: adalah Aktifitas kelistrikan yang teridentifikasi sebagai kejadian petir

Flashes: adalah Aktifitas kelistrikan yang merupakan / terdiri dari beberapa strokes, ditandai dengan adanya kilatan petir.

Noise: adalah aktifitas kelistrikan yang tidak dapat diidentifikasikan sebagai kejadian petir.

Signal Strength adalah Kekuatan relatif dari kejadian petir, bergantung dari jarak petir dengan detector, semakin dekat jaraknya semakin besar kekuatan petir yang terdeteksi (ketika menggunakan LD-250, parameter signal strength menampilkan komponen EW dan NS dari petir).

Radius Acquisition: Adalah jangkauan / range wilayah yang digunakan dalam deteksi petir (km).

Komponen H: Merupakan komponen ang berada di bidang Horizontal pada arah utara magnetik

Komponen D: Merupakan sudut yang dibentuk antara utara sejati dan utara magnetik yang disebut diklinasi magnetik.

Komponen Z: Merupakan komponen Vertikal dari medan magnet bumi

Komponen F: Merupakan komponen yg berada dibidang vertikal dan merupakan resultan dari komponen Z dan H.

Komponen I: Merupakan sudut yang dibentuk antara komponen F dan H, bisa disebut inklinasi magnetik.

Baseline:Merupakan nilai garis lurus yang didapat pada hasil pengamatan Magnetbumi Absoluth.

(10)

Hal

7

S t a s i u n G e o f i s i k a K e l a s I J a y a p u r a

Informasi

Gempabumi

STASIUN GEOFISIKA JAYAPURA

GEMPABUMI BULAN AGUSTUS 2020

Data dan Informasi gempabumi diperoleh dari hasil analisis Seiscomp3 yang ada pada Stasiun Geofisika Kelas I Jayapura. Berdasarkan hasil monitoring selama bulan Agustus 2020 tercatat 105 gempabumi yang lokasi episentrumnya sebagian besar berada di darat. Terjadi 6 (enam) gempabumi dirasakan selama bulan Agustus 2020.

Berdasarkan magnitudo atau kekuatan gempabumi, dari hasil pengamatan gempabumi selama Agustus 2020 tercatat 30 kejadian gempabumi dengan magnitudo kurang dari 3,0 (M <

3,0), 74 kejadian gempabumi dengan magnitudo 3,0 – 5,0 (3,0 ≤ M ˂ 5,0 ) dan 1 kejadian gempabumi dengan magnitudo di atas 5,0 (M ≥ 5,0 ) Sedangkan dilihat dari distribusi gempabumi berdasarkan jarak

(11)

Hal

8

S t a s i u n G e o f i s i k a K e l a s I J a y a p u r a

antara lokasi gempabumi dan stasiun pengamatan, terdapat 51 kejadian gempabumi gempabumi dengan jarak

kurang dari 20 dan 54 kejadian gempabumi dengan jarak lebih dari 20

.

Grafik distribusi gempabumi berdasarkan magnitudo bulan Agustus 2020

Diagram lingkaran prosentase gempabumi berdasarkan magnitude bulan Agustus 2020

29%

1% 70%

PERSENTASE GEMPABUMI BERDASARKAN MAGNITUDO

M<3 3≤M<5 M>= 5

(12)

Hal

9

S t a s i u n G e o f i s i k a K e l a s I J a y a p u r a

Grafik distribusi gempabumi berdasarkan Jarak bulan Agustus 2020

Sepanjang bulan Agustus 2020, ada 105 gempabumi yang tercatat pada sistem analisis gempa bumi di Stasiun Geofisika Kelas I Jayapura. Dengan kekuatan gempabumi terkecil adalah 2.2 dan kekuatan gempabumi terbesar adalah 5.1. Kedalaman gempa bumi bervariasi dan masih didominasi oleh gempa bumi dangkal yang terjadi di darat. Namun, di antara gempa-gempa tersebut terdapat 6 (enam) gempabumi yang dirasakan oleh masyarakat dengan intensitas maksimum III MMI (Getaran dirasakan nyata dalam rumah, terasa getaran seakan-akan ada truk berlalu). 6 (enam) Gempabumi tersebut terjadi di empat wilayah berbeda di Papua dan Papua Barat.

Gambar Peta gempabumi dirasakan bulan Agustus 2020

0 1 2 3 4 5 6 7

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31

∆>2⁰ ∆≤2⁰

GEMPABUMI DIRASAKAN

(13)

Hal

10

S t a s i u n G e o f i s i k a K e l a s I J a y a p u r a

Berikut ini adalah uraian kejadian gempabumi dirasakan bulan Agustus 2020.

1. Gempabumi Manokwari

04 Agustus 2020 08:43:27 WIT

Hari Selasa, 04 Agustus 2020 pukul 08:43:27 WIT wilayah Kabupaten Manokwari diguncang gempa tektonik.

Hasil analisis BMKG menunjukan gempabumi ini memiliki kekuatan M = 4.5.

Episenter gempabumi terletak pada koordinat 0.90 LS dan 134.40 BT, atau tepatnya berlokasi di darat pada 37 km Tenggara Manokwari - Papua Barat pada kedalaman 15 km. Gempabumi di Kab.

Manokwari dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, tampak bahwa gempabumi berkedalaman dangkal diakibatkan oleh aktivitas Sesar Lokal.

Guncangan gempabumi ini dirasakan di daerah Manokwari dengan intensitas II-III MMI (Getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan akan truk berlalu).

2. Gempabumi Manokwari

05 Agustus 2020 18:46:22 WIT

Hari Rabu, 05 Agustus 2020 pukul 18:46:22 WIT wilayah Kabupaten Manokwari diguncang gempa tektonik.

Hasil analisis BMKG menunjukan gempabumi ini memiliki kekuatan awal M

= 4.6 yang Kemudian dimuthakirkan menjadi M = 4.1. Episenter gempabumi terletak pada koordinat 0.68 LS dan 134.08 BT, atau tepatnya berlokasi di Laut pada 19 km TimurLaut Manokwari - Papua Barat pada kedalaman 10 km.

Gempabumi di Kab. Manokwari dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, tampak bahwa gempabumi berkedalaman dangkal diakibatkan oleh aktivitas Sesar Lokal.

Guncangan gempabumi ini dirasakan di daerah Manokwari dengan intensitas II-III MMI (Getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan akan truk berlalu).

(14)

Hal

11

S t a s i u n G e o f i s i k a K e l a s I J a y a p u r a

3. Gempabumi Wamena

12 Agustus 2020 18:52:13 WIT

Hari Rabu, 12 Agustus 2020, pukul 18:52:13 WIT wilayah Kabupaten Wamena dan sekitarnya diguncang gempabumi tektonik. Hasil analisis BMKG menunjukan gempabumi ini memiliki kekuatan M=3.3.

Episenter gempabumi terletak pada koordinat 4.02 LS dan 138.95 BT, atau tepatnya berlokasi di darat pada 8 km TimurLaut Wamena - Papua pada kedalaman 10 km. Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi dangkal akibat aktifitas Lajur Anjak Pegunungan Tengah.

Guncangan gempabumi ini dirasakan di Wamena III MMI (Getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang).

4. Gempabumi Yapen

20 Agustus 2020 00:37:08 WIT

Hari Kamis, 20 Agustus 2020 pukul 00:37:08 WIT wilayah Kep. Yapen diguncang gempa tektonik. Hasil analisis BMKG menunjukkan gempabumi ini memiliki kekuatan M=4,2. Episenter gempabumi terletak pada koordinat 1.87 LS dan 136.20 BT atau tepatnya berlokasi di darat pada jarak 14 km arah Tenggara Kepulauan Yapen, Papua pada kedalaman 5 km. Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya,

(15)

Hal

12

S t a s i u n G e o f i s i k a K e l a s I J a y a p u r a

gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi dangkal akibat aktivitas Sesar Yapen.

Guncangan gempabumi ini dirasakan di Serui II-III MMI (Pada siang hari Getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda- benda ringan yang digantung bergoyang dan terasa getaran seperti truk yang melintas).

5. Gempabumi Sorong

29 Agustus 2020 03:39:55 WIT

Hari Sabtu, 29 Agustus 2020 pukul 03:39:55 WIT wilayah kota Sorong diguncang gempa tektonik. Hasil analisis BMKG menunjukan info pendahuluan M = 3.5 kemudian diupdate menjadi M = 3.9.

Episenter gempabumi terletak pada koordinat 0.77 LS dan 131.3 BT, atau tepatnya pada 12 km Timur Laut Sorong - Papua Barat pada kedalaman 10 km.

Gempabumi di Kota Sorong dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, tampak bahwa gempabumi berkedalaman dangkal diakibatkan oleh aktivitas Sesar Sorong.

Guncangan gempabumi ini dirasakan di daerah Sorong dengan intensitas II MMI (Getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang.).

6. Gempabumi Yapen

29 Agustus 2020 05:10:32 WIT

(16)

Hal

13

S t a s i u n G e o f i s i k a K e l a s I J a y a p u r a

Hari Sabtu, 29 Agustus 2020 pukul 05:10:32 WIT wilayah Kep. Yapen diguncang gempa tektonik. Hasil analisis BMKG menunjukkan gempabumi ini memiliki kekuatan M=4,7. Episenter gempabumi terletak pada koordinat 2.16 LS dan 136.53 BT atau tepatnya berlokasi di darat pada jarak 60 km arah Tenggara Kepulauan Yapen, Papua pada kedalaman 10 km.

Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi dangkal akibat aktivitas Sesar Yapen. Guncangan gempabumi ini dirasakan di Serui II MMI (Getaran

dirasakan oleh beberapa orang, benda- benda ringan yang digantung bergoyang).

(17)

Hal

14

S t a s i u n G e o f i s i k a K e l a s I J a y a p u r a

Informasi

Hujan

STASIUN GEOFISIKA JAYAPURA

CATATAN CURAH HUJAN AGUSTUS 2020

CURAH HUJAN AGUSTUS 2020

Secara umum curah hujan selama bulan Agustus 2020 yang tercatat di Stasiun Geofisika Jayapura dan sekitarnya mengalami peningkatan dibandingkan dengan bulan Juli 2020.

Intensitas hujan untuk penakar hujan Obs sebanyak 204mm dan penakar hujan Hellmann sebanyak 162mm. Curah hujan yang tercatat pada penakar hujan Hellmann jauh lebih sedikit dibanding penakar hujan obs disebabkan penakar hujan Hellmann mengalami gangguan yang menyebabkan intensitas hujan tidak tercatat. Berikut ini adalah grafik curah hujan bulan Agustus 2020. Berdasarkan gambar grafik informasi hujan periode bulan agustus 2020 maka jumlah hari hujan selama bulan Agustus sebanyak 15 hari hujan. Curah hujan tertinggi terjadi pada tanggal 24 Agustus 2020 sebanyak 36 mm dan curah hujan terendah pada tanggal 25 Agustus 2020 sebanyak 0.4 mm.

(18)

Hal

15

S t a s i u n G e o f i s i k a K e l a s I J a y a p u r a

Gambar Grafik Informasi Hujan periode Agustus 2020

Gambar Diagram Persentase Curah Hujan periode Agustus 2020

Diagram diatas mengambarkan persentase curah hujan berdasarkan kategori hujan.

Kategori nihil atau tidak ada presipitasi memiliki presentase terbesar sebanyak 52%. Curah hujan lainnya dengan kategori sangat ringan berjumlah 35%, kategori ringan 0%, kategori sedang 3%, dan lebat sebanyak 10%.

0 5 10 15 20 25 30 35 40

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31

Jumlah (mm)

Tanggal

Obs Hilman

52%

0%

35%

3% 10%

Nihil Ringan Sangat ringan Sedang lebat

(19)

Hal

16

S t a s i u n G e o f i s i k a K e l a s I J a y a p u r a

Informasi

MAGNETBUMI

STASIUN GEOFISIKA JAYAPURA

Stasiun Geofisika Jayapura mengamati kemagnetan bumi yang merupakan indikator cuaca ruang angkasa setiap hari 7x24. Stasiun Geofisika melakukan pengamatan ini sejak tahun 2010. Untuk itu mari kita lihat tinjauan aktivitas kemagnetan bumi yang tercatat di Stasiun Geofisika Jayapura. Terdapat dua parameter magnetbumi yang dapat menggambarkan kondisi cuaca ruang angkasa yaitu A Indeks dan K Indeks. Dari hasil analisis A-indeks selama bulan Agustus 2020, nilai tertinggi yaitu pada tanggal 02 Agustus 2020 dengan nilai A-indeks 20 dan dari hasil tersebut dapat disimpulkan kejadian badai magnet bumi keseluruhan pada bulan Agustus 2020 relatif tenang.

K-Indeks Magnet Bumi Observatorium Agustus 2020 Stasiun Geofisika Kelas I Jayapura

A-Indeks magnet Bumi Observatorium Agustus 2020 Stasiun Geofisika Kelas I Jayapura

0 1 2 3 4 5 6

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31

0-3 4 5-6 7-9 K-INDEKS

TANGGAL AGUSTUS 2020

0 5 10 15 20 25

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31

Tenang Badai Kecil Badai Menengah Badai Besar

A-INDEKS

TANGGAL AGUSTUS 2020

(20)

Hal

17

S t a s i u n G e o f i s i k a K e l a s I J a y a p u r a

Tabel Analisa Data Magnet bumi Stasiun Stasiun Geofisika Kelas I Jayapura Bulan Agustus 2020

Bulan : AGUSTUS 2020 HOUR

A-Indeks Kriteria DAY K(00-03) K(03-06) K(06-09) K(09-12) K(12-15) K(15-18) K(18-21) K(21-24)

1 2 2 1 2 1 2 3 4 9.5 Tenang

2 3 2 4 4 4 4 3 3 20 Tenang

3 3 4 4 4 1 4 1 2 17 Tenang

4 3 2 3 2 1 2 1 2 8 Tenang

5 2 2 3 1 1 0 2 3 7.125 Tenang

6 3 2 1 2 2 1 1 2 6.5 Tenang

7 3 2 1 1 1 0 1 1 4.625 Tenang

8 3 1 3 2 2 0 2 1 7.125 Tenang

9 1 2 0 1 1 0 0 1 2.375 Tenang

10 2 1 2 2 0 0 0 0 3 Tenang

11 3 2 3 3 2 2 2 4 12.5 Tenang

12 2 1 2 2 1 2 2 3 7 Tenang

13 2 3 1 2 1 1 1 2 6 Tenang

14 3 2 1 2 1 2 2 2 7 Tenang

15 1 2 1 3 3 1 1 2 7

Tenang

16 3 2 3 3 1 2 3 5 15.625 Tenang

17 4 2 2 3 2 3 3 2 12.5 Tenang

18 3 3 3 3 3 1 1 3 12 Tenang

19 3 2 1 2 1 1 1 2 6 Tenang

20 2 4 2 2 3 2 2 3 11.5 Tenang

21 5 5 3 2 2 2 2 2 18.25 Tenang

22 2 3 4 2 1 2 2 3 11 Tenang

23 1 2 2 2 2 1 0 3 6.125 Tenang

24 3 1 3 2 1 0 1 0 5.75 Tenang

25

26 2 0 3 2 2 0 2 4 8.75 Tenang

27 3 2 2 3 3 1 1 2 9 Tenang

28 2 2 1 1 3 3 1 3 8.5 Tenang

29 3 2 3 3 1 1 3 2 10 Tenang

30 3 4 3 0 2 3 1 2 11.125 Tenang

31 3 4 3 4 4 2 2 2 16.5 Tenang

(21)

Hal

18

S t a s i u n G e o f i s i k a K e l a s I J a y a p u r a Keterangan

a. K-Indeks adalah Sebuah indeks lokalkuasi-logaritmik dalam periode 3-jam dari aktivitas magnetik bumi

b. A-Indeks didefinisikan sebagai nilai maksimum yang terjadi dalam rentang waktu 24 jam, dimana

diperoleh dengan menghitung rata-rata dari 8-titik amplitude (a-indeks). A indeks = ∑ (a indeks)/8

c. A-Indeks adalah konversi linier dari K-Indeks dalam periode 3 jam. Nilai konversinya adalah sebagai berikut:

d. Kriteria badai magnetik ditentukan berdasarkan A-Indeks sebagai berikut:

0 < A < 30 = relative lebih tenang 30 < A < 50 = badai kecil

50 < A < 100 = badai menengah

A >100 = badai besar

(22)

Hal

19

S t a s i u n G e o f i s i k a K e l a s I J a y a p u r a

Pengamatan Hilal Penentu Awal Bulan Muharram 1441 H Di Jayapura, Papua

Oleh Danang Pamuji

Kota Jayapura, Rabu (19/8/2020) - Di tengah pandemi Covid-19 di Kota jayapura, tim hilal Stasiun Geofisika Jayapura tetap melakukan pengamatan hilal awal bulan Muharram 1442 Hijriah.

Gambar foto tim hilal dari stasiun geofisika jayapura di sentani purnama resort, yoka, distrik Heram-Kota Jayapura

Stasiun Geofisika Jayapura, sebagai unit pelaksana teknis BMKG di daerah yang salah satu tupoksinya adalah memberikan pelayanan data tanda waktu dalam penyampaian awal bulan Hijriah. Untuk pengamatan hilal awal bulan Muharram kali ini, tim Stasiun Geofisika Jayapura melakukan pengamatan di Sentani Purnama Resort, Yoka, Distrik Heram - Kota Jayapura. Rombongan berangkat dari kantor sekitar pukul 15.00 WIT, jarak tempuh untuk sampai lokasi pengamatan ± 1 jam perjalanan menggunakan kendaraan roda 4.

(23)

Hal

20

S t a s i u n G e o f i s i k a K e l a s I J a y a p u r a

Setibanya di lokasi, tim yang terdiri dari 5 orang diantaranya Kepala Stasiun, Kepala Sub Bagian TU, Kepala Seksi Datin dan 2 staf operasional juga diikuti oleh 2 mahasiswa magang dari Universitas Cenderawasih langsung mempersiapkan peralatan dan melakukan tes koneksi jaringan untuk streaming pengamatan.

Gambar kondisi horizon tertutup awan tebal akibatnya hilal tidak teramati

Hasil dari pengamatan, Hilal tidak teramati karena posisi ufuk barat tertutup awan. Kondisi cuaca pada saat pengamatan pun berawan tebal. Tim pun melaporkan hasil pengamatan hilal ke WAG hilal BMKG. Selanjutnya mengemas kembali teropong hilal dan melakukan pengecekan akhir agar tidak ada pralatan yang tercecer.

(24)

Hal

21

S t a s i u n G e o f i s i k a K e l a s I J a y a p u r a

Pemanasan Lapisan Stratosfer

di Antartika Berdampak Pada Cuaca di Daerah Tropis

Artikel Ini merupakan terjemahan untuk pemahaman lebih tepat kunjungi https://eos.org/research- spotlights/warming-in-the-antarctic-stratosphere-affects-tropical-weather. Penulis Asli: Aaron Sidder, Penerjemah: Jambari

Peningkatan suhu pada Lapisan Stratosfer di atas Antartika dapat mempengaruhi cuaca dan menyebarkan siklon-siklon di wilayah tropis belahan bumi utara (Northern hemisphere’s tropics).

Sumber: Geophysical Research Letters

Pembentukan system konvektif di atas wilayah Asia Tenggaradan Laut Filipina pada wilayah tropis belahan bumi utara pada 18 September 2019 yang terlihat melalui citra satelit Himawari-8. Credit: Meteorological Satellite Center, Japan Meteorological Agency, Citra dibuat melalui kolaborasi dengan NOAA National Environmental Satellite, Data, and Information Service, dan Colorado State University Intitute for Research in the Atmosphere, CC BY 4.0

(25)

Hal

22

S t a s i u n G e o f i s i k a K e l a s I J a y a p u r a

Pada tahun 2009, peneliti melaporkan bahwa prakiraan cuaca menyumbang $31.5 milyar terhadap rumahtangga di Amerika Serikat. Peningkatan ini merupakan akibat dari perbaikan prakiraan cuaca secara dramatis selama beberapa decade terakhir. Sebuah studi pada tahun 2015 menunjukan bahwa prakiraan cuaca 5 hari ke depan saat ini (2015) sama akuratnya dengan prakiraan cuaca 1 hari ke depan pada tahun 1980.

Garda terdepan prakiraan cuaca terletak pada lapisan Stratosfer, yang membentang tinggi 10 hingga 50 Km di atas permukaan bumi. Berbagai eksperimen menunjukan bahwa pemahaman yang lebih baik terhadap gangguan pada lapisan Stratosfer seperti pemanasan lapisan Stratosfer secara tiba-tiba (SSWs), Ketika temperature di Stratosfer meningkat lebih dari 500 C dalam beberapa hari, dapat digunakan untuk memrakirakan cuaca dengan lebih baik dalam jangka pendek maupun jangka Panjang. Menggunakan model sirkulasi umum atmosfer dan ensemble prediction system dari Intitut Riset Meteorologi Jepang (MRI-EPS), Penulis menjalankan beberapa percobaan prakiraan. Hasilnya menunjukan prakiraan cuaca yang bisa dibilang “sempurna” sesuai kondisi atmosfer.

Hasil komparasinya mengungkap bahwa SSWs Antartika sangat mempengaruhi aktivitas konventif di daerah tropis, Khususnya di bagian belahan bumi utara., dan bahwa SSWs berkontribusi pada proses perkembangan siklon tropis dan memperbesar probabilitas cuaca ektrim pada musim panas dan awal musim gugur. Bagian selatan dan moonson Asia tampaknya lebih sensitive terhadap gangguan ini. Melalui Studi ini, penulis mendemonstrasikan sebuah telekoneksi antara Lapisan Stratosfer di Antartika dengan Troposfer tropis. Penulis mencatat jika temuan-temuan tersebut dapat digunakan untuk prakiraan cuaca jangka waktu lama yang lebih baik untuk daerah tropis maupun seluruh dunia. (Geophysical Research Letters, https://doi.org/10.1029/2020GL088743, 2020)

—Aaron Sidder, Science Writer

Citation: Sidder, A. (2020), Warming in the Antarctic stratosphere affects tropical weather, Eos, 101, https://doi.org/10.1029/2020EO148522. Published on 01 September 2020.

(26)

Hal

23

S t a s i u n G e o f i s i k a K e l a s I J a y a p u r a

Bagaimana Degradasi Hutan

Berdampak Pada Siklus Air dan Karbon

Artikel Ini merupakan terjemahan untuk pemahaman lebih tepat kunjungi https://eos.org/research- spotlights/how-forest-degradation-affects-carbon-and-water-cycles. Penulis Asli: Kate Wheeling, Penerjemah: Jambari

Sumber: Journal of Geophysical Research: Biogeosciences

Degradasi hutan, Termasuk salah satunya adalah penebangan hutan secara massif seperti tampak pada gambar di atas di wilayah ulayat suku Piriti di hutan Amazon Brazil, dapat secara signifikan berdampak pada alur energi, air, dan karbon di hutan. Credit: Felipe Werneck/IBAMA, CC BY 2.0

Hutan hujan tropis menyediakan kebutuhan ekosistem yang sangat melimpah.

Amazon sebagai contoh, berfungsi sebagai area genangan karbondioksida dan sumber uap air di atmosfer yang kemudian jatuh sebagai hujan maupun salju. Namun aktivitas manusia dan perubahan iklim mengancam fungsi ini. Banyak studi telah memberikan pemahaman tentang deforestasi, yang merujuk pada alih fungsi hutan seperti agrikultur yang menyebar luas di berbagai penjuru Amazon, yang berdampak pada hilangnya karbon dan evapotranspirasi pada tumbuhan. Sementara itu, degradasi hutan, termasuk penebangan

(27)

Hal

24

S t a s i u n G e o f i s i k a K e l a s I J a y a p u r a

hutan, kebakaran hutan, dan fragmentasi hutan juga berdampak besar pada deforestasi, yang kemudian berdampak pada siklus air, energi, dan karbon di hujan tropis ini kurang dipahami oleh masyarakat.

Karena begitu banyak hal-hal yang menyebabkan deforestasi hutan, dan terjadi daerah yang terisolasi ataupun pada tanah-tanah milik perorangangan menyebabkan sulitnya pengumpulan data dilakukan secara langsung kelapanagan, maka para peneliti menggunakan data resolusi tinggi lidar yang dikumpulkan melalui pesawat untuk menjawab tantangan tersebut. Longo dkk, menggabungkan data baik data observasi lapangan maupun lidar menjadi sebuah model demografi ekosistem untuk membandingkan aliran air, energi, dan karbon antara hutan dan atmosfer di kedua area yang terdegradasi maupun utuh di Amazon.

Lidar data mengungkap variabilitas pada lima area di Amazon bagian timur (salah satunya di Guyana Perancisdan sisanya di Brazl), masing -masing memiliki pola presipitasi yang berbeda dan perubahan penggunaan lahan untuk melihat diversitas hutan yang terdegradasi.

Model tersebut mengindikasikan selama musim panas, evapotranspirasi dan produksi utama menurun 34% dan 35% di tiap-tiap hutan yang terdegradasi dibandingkan yang hutan yang tidak rusak, sementara suhu permukaan pada siang hari meningkat 6,5% dari rata-rata.

Meskipun demikian, efek degradasi pada siklus ini kurang begitu tampak. Dalam kata lain, baik hutan utuh maupun yang terdegradasi memberikan respon yang sama pada saat menghadapi tekanan air dan panas extrim.Pola yang sama juga terjadi pada risiko kebakaran.

Pada tahun-tahun biasanya, hutan yang terdegradasi cenderung lebih kering, hangat, dan rentan terjadi kebakaran hutan, tapi saat musim kering, hujan utuh juga rentan terhadap kebakaran hutan, hal ini menggaribawahi pentingnya variabilitas iklim dalam hal-hal yang memicu kebakaran hutan.

Meskipun begitu, model ini juga memiliki keterbatasan, misalnya, tidak mempertimbangkan variasi kedalaman tanah, dan komposisinya, yang juga berpengaruh pada siklus. Studi lebih lanjut menggunakan teknologi penginderaan jauh (remote sensing) untuk mendata perubahan struktur pada hutan yag terdegradasi sekaligus juga memberikan

(28)

Hal

25

S t a s i u n G e o f i s i k a K e l a s I J a y a p u r a

gambaran bagaimana aktivitas manusia terhadap deforestasi yang berdampak pada keseimbangan energi dan karboon di Amazon. (Journal of Geophysical Research:

Biogeosciences, https://doi.org/10.1029/2020JG005677, 2020)

—Kate Wheeling, Science Writer

Citation: Wheeling, K. (2020), How forest degradation affects carbon and water cycles, Eos, 101, https://doi.org/10.1029/2020EO147133. Published on 25 August 2020.

(29)

Hal

26

S t a s i u n G e o f i s i k a K e l a s I J a y a p u r a

Medan Magnet Bumi dan Perubahannya dari Waktu ke Waktu

Artikel Ini merupakan terjemahan untuk pemahaman lebih tepat kunjungi https://researchoutreach.org/articles/earths-magnetic-field-changes-through-time. Penulis Asli: Dr Daniel Franco, Penerjemah: Berlian Yonanda Andrianto

Arus konveksi dari inti bumi kita menciptakan medan magnetik yang sangat luas hingga mengelilingi Bumi, melindungi kita dari partikel-partikel bermuatan yang disebarkan oleh Matahari. Namun, medan magnet bumi tidak selalu sama dari waktu ke waktu. Dari studi batuan kita dapat mengetahui rekaman jejak pembalikan kutub dan variasi medan magnet bumi yang terjadi.

Fenomena Aurora di kutub Utara (aurora borealis) dan kutub Selatan (aurora australis) muncul ketika elektron bermuatan tinggi dari angin surya berinteraksi dengan unsur-unsur di atmosfer Bumi.

Medan magnet bumi berperan sebagai perisai yang kuat sekaligus tak kasat mata bagi bumi kita. Medan magnet pula lah yang menimbulkan fenomena aurora di daerah kutub

(30)

Hal

27

S t a s i u n G e o f i s i k a K e l a s I J a y a p u r a

Utara dan kutub Selatan sekaligus melindungi bumi dari aliran partikel surya matahari yang berkeliaran bebas melintasi tata surya. Lalu bagaimana kita bisa memahami sesuatu yang bahkan tidak bisa kita lihat?

Manusia telah memanfaatkan medan magnet untuk sistem navigasi selama ratusan tahun menggunakan kompas, dan dengan cara inilah kita dapat melihat pengaruh medan magnet dengan mudah. Ilmuwan juga dapat mengukur kuat medan magnet bumi di berbagai titik di permukaan bumi, begitu pula dengan orientasinya.

Stabilitas medan magnet bumi saat ini tidak hanya berpengaruh langsung pada kehidupan, namun juga berdampak pada teknologi. Smartphone bergantung pada medan magnet untuk dapat mengidentifikasi posisi kita dengan benar. Peningkatan intensitas angin surya yang menimbulkan badai magnet dapat mengganggu daya listrik, sistem komunikasi, satelit dan sistem navigasi. Tanpa medan magnet yang stabil kita juga menjadi sangat rentan terdampak jika terjadi fenomena fenomena badai surya sejenis.

Memahami bagaimana perubahan medan magnet terjadi dari waktu ke waktu diharapkan memberikan kita petunjuk mengenai bagaimana hal serupa akan terjadi lagi kemudian di masa yang akan datang. Batuan bumi menyimpan petunjuk tentang medan magnet pada masa lampau (rekaman pelomagnetik) yang kemudian dapat diteliti lebih lanjut. Medan magnetik bumi terrekam dalam mineral dan batuan dengan jenis yang spesifik, khususnya batuan beku yang terekstrusi selama proses vulkanik. Batuan-batuan beku ini kaya akan besi ketika lava masih dalam bentuk cairan, mineral-mineral tersebut kemudian membentuk kutub-kutub sesuai dengan medan magnet bumi persis seperti yang berlaku pada jarum kompas. Ketika lava mulai membeku menjadi batuan, mineral-mineral tersebut merupakan rekaman langsung kondisi kuat dan orientasi medan magnet bumi pada saat itu.

Para geologis sudah mengumpulkan rekaman pelomagnetik bumi hingga miliaran tahun kebelakang. Namun hingga pada awal 1920an, mineral-mineral magnetik diketahui tersusun dengan arah yang berlawanan dengan medan magnet saat ini, yang kemudian memandu kita dalam hipotesa bahwa pada waktu tersebut kutub Utara dan kutub Selatan bumi sempat

(31)

Hal

28

S t a s i u n G e o f i s i k a K e l a s I J a y a p u r a

bertukar posisi. Juga terjadi variasi besar maupun kecil lainnya yang terjadi pada medan magnet bumi selama ini yang kemudian disebut variasi paleosekular.

Beberapa model numerik digunakan untuk membantu memahami hubungan antara fluks panas di batas inti bumi dengan mantel bumi (seberapa banyak panas yang dipindahkan dari inti luar ke mantel bawah) dan kesesuaian emdan magnet bumi dengan struktur dipole.

Dari penelitian tersebut ditemukan bahwa ketika terjadi sedikit perpindahan panas dari inti ke mantel, medan magnet bumi berperilaku lebih seperti sumbu dipole (dengan kutub Utara dan Selatan yang saling berlawanan) dan pembalikan medan magnet menjadi sangat jarang terjadi. Begitu juga kebalikannya, jika terjadi elevasi fluks panas dari inti ke mantel bumi, terjadi peningkatan potensi pembalikan medan magnet bumi.

` Proses yang kompleks tersebut tentunya berdampak sangat besar terhadap keberlangsungan kehidupan di bumi. Studi tentang sejarah gelologi dilakukan untuk membantu kita dalam memahami apa yang terjadi di bumi saat ini dan apa yang dapat terjadi di kemudian hari. Fluktuasi medan magnet bumi berdampak pada kita semua, dan jika kita sudah mulai memahami kejadian-kejadian yang terjadi seperti pengembaraan kutub, kita juga semakin dekat untuk mengerti keseluruhan struktur dan apa yang menyebabkan perubahan pada medan magnet bumi. Membuat kita kemudian lebih siap untuk fluktuasi yang mungkin terjadi kedepannya pada perisai tak kasat mata Bumi.

Dr Daniel R. Franco (Observatório Nacional, Brazil)

Referensi Artikel: Franco, D, de Oliveira, W, de Freitas, O, Takahashi, D, da Ponte Neto, C & Peixoto, I.

(2019). Paleomagnetic evidence for inverse correspondence between the relative contribution of the axial dipole field and CMB heat flux for the past 270 Myr. Scientific Reports, 9, 282. DOI: 10.1038/s41598-018- 36494-x

(32)

Hal

29

S t a s i u n G e o f i s i k a K e l a s I J a y a p u r a

Mengenal Gempa Doublet (Gempa Kembar)

Oleh: Netty Yufita Baru, S.Si, M.Si

Pembaca yang budiman, bebarapa waktu lalu wilayah Bengkulu diguncang dua kejadian gempabumi dalam waktu bersamaan dengan lokasi berdekatan atau disebut dengan istilah Gempa Doublet (BMKG). Pembaca sekalian gempa doublet sudah pernah terjadi di beberapa wilayah di Indonesia, maka perlu dipahami tentang apa itu gempa doublet, karakteristik, sejarahnya di Indonesia serta penyebabnya.

Gempa Doublet (gempa kembar) adalah peristiwa 2 kejadian gempabumi yang magnitudo atau kekuatan gempanya hampir sama, terjadi dalam kurun waktu yang tidak terlalu jauh serta lokasi gempa (epicentre) yang berdekatan. Lokasi yang berdekatan berarti kejadian gempa doublet memiliki sumber gempa yang berbeda.

Informasi yang didapatkan dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika pada Rabu 19 Agustus 2020 pukul 05:23:56 WIB wilayah Bengkulu diguncang gempa dengan kekuatan gempa terupdate 6,6 dengan episenter di laut pada jarak 169 Km arah barat daya Bengkulu dengan kedalaman 24 Km, kemudian selang enam menit yaitu pada pukul 05:29:35 terjadi lagi gempa kedua dengan dengan kekuatan gempa terupdate 6.7 dengan episenter dilaut pada jarak 78 Km arah barat daya Bengkulu utara dengan kedalaman 86 Km, informasi terkait gempa Bengkulu sudah disampaikan langsung juga oleh Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami yaitu Bapak Daryono. Pak Dar, sapaan akrab beliau, yang mana mengatakan berdasarkan hasil pemantauan guncangan gempa yang paling kuat terjadi di wilayah yang paling dekat dengan pusat gempa yaitu di kota Bengkulu, Bengkulu Utara, Mukomuko, Seluma dan Kepahiang dengan skala Intensitas IV MMI. Warga sempat berhamburan keluar rumah dan gempa ini juga terasa sampai ke Singapura dan serpong.

Daryono juga mengatakan bahwa getaran yang dirasakan sampai ke singapura merupakan adanya vibrasi gelombang panjang dari gempabumi.

(33)

Hal

30

S t a s i u n G e o f i s i k a K e l a s I J a y a p u r a

Menurut hasil monitoring BMKG ada lima aktivitas gempabumi susulan dengan kekuatan bervariasi yaitu M 3.4 sampai M 4.9, hal ini dijelaskan juga oleh Kepala Pusata Gempabumi dan Tsunami BMKG, bapak Rahmat Triyono yang menghimbau agar masyarakat tetap tenang, tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenaranya. Beliau juga mengatakan agar warga dapat menghindari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa, kemudian periksa bangunan tempat tinggalnya apakah cukup tahan gempa ataupun tidak serta ada tidaknya kerusakan akibat getaran gempa yang membabahayakan kestabilan bangunan apabila kembali ke dalam rumah.

Berdasarkan beberapa Data gempa doublet yang tercatat dari BMKG Yaitu Gempa Bengkulu tahun 2007 pada rabu dan kamis 12-13 September 2007 dengan kekuatan M 8.4 dan 7.8 akibat pecahnya segmen enggano dan menjalar dari utara enggano sampai ujung siberut, gempa ini menelan korban jiwa 25 orang, 92 orang luka-luka, gempa ini dirasakan sampai ke Singapura dan Malaysia serta Thailand. Gempa Doublet yang lain terjadi pada tahun 2009 di wilayah Papua bagian barat tepatnya di Manokwari pada Minggu 3 Januari 2009 pada pukul 05.33.40 WIB dengan kekuatan M 7.6 dan M 7.4, gempa ini menyebabkan 4 orang korban jiwa dan belasan orang luka-luka. Selain gempa di Bengkulu dan Manokwari terjadi juga gempa doublet di wilayah samudra Hindia sebelah barat Aceh pada 11 April 2012, gempa pertama dengan kekuatan 8.5 dan gempa kedua dengan kekuatan 8.8 menyebabkan 5 orang korban jiwa dan 7 orang luka-luka.

(34)

Hal

31

S t a s i u n G e o f i s i k a K e l a s I J a y a p u r a

Lampiran

Terbit dan Terbenam Kota-Kota di Papua dan Papua Barat

KOTA JAYAPURA

Rise Az. Set Az. Rise Az. Set Az.

1-Aug-20 5:43 72 17:44 288 15:38 114 3:17 246

2-Aug-20 5:43 72 17:44 288 16:34 113 4:14 246

3-Aug-20 5:43 73 17:44 287 17:28 111 5:09 247

4-Aug-20 5:43 73 17:44 287 18:20 108 6:01 250

5-Aug-20 5:43 73 17:44 287 19:08 104 6:49 254

6-Aug-20 5:43 73 17:43 287 19:53 100 7:34 258

7-Aug-20 5:42 74 17:43 286 20:36 95 8:17 263

8-Aug-20 5:42 74 17:43 286 21:18 90 8:57 268

9-Aug-20 5:42 74 17:43 286 22:00 85 9:37 273

10-Aug-20 5:42 74 17:43 285 22:42 80 10:17 277

11-Aug-20 5:42 75 17:43 285 23:25 76 10:58 282

12-Aug-20 5:41 75 17:43 285 11:41 286

13-Aug-20 5:41 75 17:43 284 0:11 72 12:27 290

14-Aug-20 5:41 76 17:43 284 1:00 69 13:16 292

15-Aug-20 5:41 76 17:42 284 1:52 67 14:09 294

16-Aug-20 5:41 76 17:42 284 2:47 66 15:05 294

17-Aug-20 5:40 77 17:42 283 3:44 66 16:02 293

18-Aug-20 5:40 77 17:42 283 4:41 69 17:00 290

19-Aug-20 5:40 77 17:42 283 5:37 72 17:57 286

20-Aug-20 5:39 78 17:42 282 6:31 77 18:53 280

21-Aug-20 5:39 78 17:41 282 7:24 83 19:46 274

22-Aug-20 5:39 78 17:41 282 8:15 89 20:39 268

23-Aug-20 5:38 79 17:41 281 9:05 95 21:32 262

24-Aug-20 5:38 79 17:41 281 9:55 101 22:25 256

25-Aug-20 5:38 79 17:41 281 10:47 106 23:19 252

26-Aug-20 5:37 80 17:40 280 11:41 110

27-Aug-20 5:37 80 17:40 280 12:36 113 0:15 248

28-Aug-20 5:37 80 17:40 279 13:32 114 1:12 246

29-Aug-20 5:36 81 17:40 279 14:28 114 2:09 246

30-Aug-20 5:36 81 17:39 279 15:22 112 3:03 247

31-Aug-20 5:36 81 17:39 278 16:14 110 3:56 249

Date MATAHARI BULAN

Gambar

Diagram lingkaran prosentase gempabumi berdasarkan magnitude    bulan Agustus 2020
Gambar  Peta gempabumi dirasakan bulan Agustus 2020
Gambar Grafik  Informasi Hujan periode Agustus  2020
Tabel Analisa Data Magnet bumi Stasiun Stasiun Geofisika Kelas I Jayapura Bulan Agustus 2020
+3

Referensi

Dokumen terkait

10. TNI AD bersama komponen kekuatan pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia lainnya harus dapat memberdayakan dan memanfaatkan sumber daya yang ada, sehingga siap

[r]

Mengubah Lampiran II Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1977 tentang Peraturan Gaji Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1977 Nomor 11, Tambahan

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat dalam Menempuh Ujian Sarjana Ekonomi Program Studi Manajemen. pada Fakultas Bisnis dan Manajemen

Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan

semua kekayaan, pegawai, hak dan kewajiban dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Malikussaleh Lhokseumawe dialihkan menjadi kekayaan, pegawai,. hak dan kewajiban

Depresi pada lansia yang tidak ditangani dapat berlangsung bertahun-tahun dan dihubungkan dengan kualitas hidup yang jelek, kesulitan dalam fungsi sosial dan fisik, kepatuhan

Kesimpulan: Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan tingkat kecemasan yang cukup signifikasi antara jurusan IPA dan jurusan IPS di SMA Negeri 1