BAB IV
LAPORAN HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
1. Gambaran Umum Madrasah Tsanawiyah Negeri Kelayan Banjarmasin Madrasah Tsanawiyah Negeri Kelayan Banjarmasin didirikan pada tanggal 25 Oktober 1962 yang berlokasi di jalan Kelayan A di atas tanah seluas 5.230 m2 dengan perincian bangunan seluas 5.000 m2.
Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala sekolah dan tata usaha diperoleh data bahwa Madrasah Tsanawiyah Negeri Kelayan Banjarmasin telah mengalami dua belas kali pergantian kepemimpinan, yang berarti sudah dua belas orang yang pernah menjabat sebagai Kepala Madrasah tersebut. Untuk lebih jelasnya dapat di lihat pada tabel berikut:
Tabel 4.1 Periodesasi Kepemimpinan MTsN Kelayan Banjarmasin
No Nama Masa Jabatan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Kasful Anwar Siti Asyiah Drs. H. Salni Ajar Drs. H. Mahlan Abbas H. Napiah
Djohansyah kadir Drs. M. Aripin Saifuddin Dahlan
Drs. H.M. Harmidin Noor Hj. Djuhariah, A.Md Drs. H. M. Adenan, MA Drs. Ahmad Baihaki
1967 – 1971 1972 – 1974 1974 – 1977 1977 – 1979 1979 – 1984 1984 – 1990 1990 – 1992 1993 – 1996 1997 – 2006 2007 – 2008 2008 – 2009 2009 – sekarang
Sumber data: Dokumen Madrasah Tsanawiyah Negeri Kelayan Banjarmasin
Madrasah Tsanawiyah Negeri Kelayan Banjarmasin sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam yang berlokasi di jalan Kelayan A Gang Setuju No. 12, memiliki sarana dan prasarana yang cukup memadai sehingga dapat memenuhi berbagai kebutuhan dalam menunjang proses belajar mengajar pada khususnya dan proses pencapaian pendidikan pada umumnya.
Sarana dan kondisi fisik gedung Madrasah Tsanawiyah Negeri Kelayan Banjarmasin bersifat semi permanen dengan lantai keramik dan dinding beton, beratap genteng dan pagar keliling yang membatasi gedung dengan pemukiman penduduk. Adapun sarana dan prasarana yang dimiliki adalah:
Tabel 4.2 Sarana Dan Prasarana MTsN Kelayan Banjarmasin Tahun Pelajaran 2013/2014
No Sarana Dan Prasarana Jumlah
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Ruang Kelas
Ruang Dewan Guru Ruang Kepala sekolah Ruang Tata Usaha Ruang perpustakaan
Ruang Pramuka, UKS dan OSIS Ruang Laboratorium IPA Ruang Laboraturium Bahasa Ruang Laboraturium Komputer Ruang Mushalla
WC Guru WC Siswa
12 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 4
Sumber Data: Dokumen Madrasah Tsanawiyah Negeri Kelayan Banjarmasin
Keadaan Siswa, Guru, Tata Usaha pada Madrasah Tsanawiyah Negeri Kelayan Banjarmasin
1) Keadaan Siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri Kelayan Banjarmasin Jumlah siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri Kelayan Banjarmasin pada tahun pelajaran 2013/2014 adalah 471 orang yang tersebar dalam 12 kelas terdiri dari 210 laki-laki dan 261 perempuan.
Untuk lebih jelasnya dapat di lihat pada tabel berikut:
Tabel 4.3 Keadaan Siswa MTsN Kelayan Banjarmasin Tahun Pelajaran 2013/2014
No Kelas Siswa Jumlah
Laki-laki Perempuan 1
2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
VII A VII B VII C VII D VIII A VIII B VIII C VIII D IX A IX B IX C IX D
18 16 16 16 18 18 18 17 18 19 18 18
22 24 24 24 21 21 20 23 22 20 20 20
40 40 40 40 39 39 38 40 40 39 38 38 Jumlah 210 261 471 Sumber Data: Dokumen Madrasah Tsanawiyah Negeri Kelayan Banjarmasin
2) Keadaan Guru Madrasah Tsanawiyah Negeri Kelayan Banjarmasin Pada tahun pelajaran 2013/2014 guru Madrasah Tsanawiyah Negeri Kelayan Banjarmasin berjumlah 28 orang yang terdiri dari 10 orang guru laki-laki dan 18 orang guru perempuan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.4 Keadaan Guru MTsN Kelayan Banjarmasin Tahun Pelajaran 2013/2014
No Nama / NIP Jabatan
1 2 3
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21
Drs. Ahmad Baihaki
NIP. 19660622 199403 1 003 Dra. Ratinah
NIP. 19540405 197903 2 004 Hj. Ida Sulastri, S.Pd.I
NIP. 19581231 198203 2 018 Dra. Wahidah
NIP. 19640424 199203 2 002 Lina Rosita, S.Ag
NIP. 19671207 199603 2 001 Mohamad Husni Thamberin, S.Ag 19700306 199803 1 002
Hj. Muzzalifah, S.Pd.I NIP. 19630324 198603 2 00 Siti Rahmah Hirawati, S.Ag NIP. 19690513 199603 2 003 Dra. Aspiyah
NIP. 19680325 199703 2 001 Nor Asiah, S.Pd
NIP. 19700116 199703 2 002 Hj. Suharsini, S.Pd.I
NIP. 19600723 199402 2 002 Hj. Sholehah, S.Pd.I
NIP. 19770314 2005001 2 001 Heny Nelawaty, S.Pd
NIP. 19771112 20501 2 011 Ardiansyah, S.Pd
NIP. 19800809 200501 1 005 Raudhatur Ridha, S,Ag NIP. 19740620 200604 2 005 Raudhatun Nisa, M.Pd NIP. 19791123 200501 2 010 Jahidah, S.Pd.I
NIP. 19800908 200501 2 006 Erna, S.Ag
NIP. 19700706 200701 2 035 Salahuddin, S.Ag
NIP. 19740807 200701 1 031 Rifka Sari, S.Pd
NIP. 19771006 200710 2 001 Arbain Yusran, S.Ag
Kepala Madrasah Guru Tetap Guru Tetap Guru Tetap Guru Tetap Guru Tetap Guru Tetap Guru Tetap Guru Tetap Guru Tetap Guru Tetap Guru Tetap Guru Tetap Guru Tetap Guru Tetap Guru Tetap Guru Tetap Guru Tetap Guru Tetap Guru Tetap Guru Tetap
22 23 24 25 26 27 28
NIP. 19741115 200710 1 001 Maimanah, S.Ag
NIP. 19810309 200710 2 002 Warsito, S.Pd.I
NIP. 19740426200501 1 005 Dahliana, SPd
Norhidayani, S.Pd Abdullah, S.Pd.I Fajriansyah, S.Pd.I Hidayatullah, S.HI
Guru Tetap Guru Tetap Guru Honor Guru Honor Guru Honor Guru Honor Guru Honor
Sumber Data: Dokumen Madrasah Tsanawiyah Kelayan Banjarmasin
Guru yang memegang mata pelajaran matematika tahun pelajaran 2013/2014 pada Madrasah Tsanawiyah Negeri Kelayan Banjarmasin berjumlah 3 orang. Sebagaimana terlihat pada tabel berikut:
Tabel 4.5 Keadaan Guru Matematika MTsN Kelayan Banjarmasin Tahun Pelajaran 2013/2014
No Nama Kelas Jabatan Pendidkan
Terakhir 1
2
3
Abdullah, S.Pd
Jahidah, S.Pd.I
Nor Asiah, S.Pd
VII
VIII
IX
Guru Matematika
Guru Matematika
Guru Matematika
S 1 Pendidikan Matematika
S 1 Pendidikan Matematika
S 1 Pendidikan Matematika
Sumber Data: Dokumen Madrasah Tsanawiyah Kelayan Banjarmasin
Kelas yang dijadikan subjek penelitian adalah kelas VII B, VII C dan VII D yaitu diajarkan oleh Abdullah alumnus S1 FKIP Matematika UNLAM, dan mempunyai pengalaman mengajar + 3 tahun.
3) Keadaan Tata Usaha Madrasah Tsanawiyah Negeri Kelayan Banjarmasin.
Tata Usaha Madrasah Tsanawiyah Negeri Kelayan Banjarmasin berjumlah 4 orang sebagaimana terlihat pada tabel berikut:
Tabel 4.6 Keadaan Staf Tata Usaha MTsN Kelayan Banjarmasin tahun Pelajaran 2013/2014
No Nama NIP Jabatan
1 2 3 4
Hafifah Fajrian Noor M. Reza, SE Yuriansyah
19670225 198911 2 001 19580509 198602 1 001 19760403 200604 1 001 19 670117 198903 1 002
Kepala TU Pelaksanaan TU Pelaksanaan TU Pelaksanaan TU Sumber Data: Dokumen Madrasah Tsanawiyah Kelayan Banjarmasin
4) Kelengkapan Buku Matematika Madrasah Tsanawiyah Negeri Kelayan Banjarmasin
Kelengkapan buku matematika yang dimiliki adalah siswa kelas VII wajib memiliki buku pegangan yaitu Buku Pintar Star SMP/MTs penerbit Putra Kertonatan, sedangkan untuk guru
matematikanya adalah buku matematika (KTSP 2006) karangan Ponco Sujatmiko penerbit Tiga Serangkai Pustaka Mandiri tahun 2006 dan buku-buku penunjang lainnya.
Pengajaran Matematika di Madrasah Tsanawiyah Negeri Kelayan Banjarmasin menggunakan KTSP Kurikulum 2006 dengan pola pengajaran sistem semester. Madrasah ini menerapkan KTSP sudah sejak tiga tahun yang
lalu, yaitu mulai tahun ajaran 2007/2008, sehingga untuk tahun ajaran 2013/2014 madrasah ini telah menerapkan KTSP untuk semua tingkatan kelas mulai dari kelas VII sampai dengan kelas IX.
Selain jam belajar reguler, Madrasah Tsanawiyah Negeri Kelayan Banjarmasin ini memberikan jam belajar tambahan untuk perbaikan dan pengayaan pada materi pelajaran setiap satu kali dalam seminggu setelah jam sekolah selesai dan pelaksanaan dilakukan oleh guru mata pelajaran matematika.
B. Hasil Uji Coba
Demi menghasilkan data yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan, maka alat ukur yang akan digunakan dalam penelitian ini yaitu kuesioner harus melalui dua tahapan uji, yaitu uji validitas dan uji reliabilitas untuk mengukur kelayakan instrumen penelitian. Pengujian validitas dan reliabilitas dilakukan terhadap 40 orang responden yang berasal dari kelas VII D MTsN Kelayan dengan bantuan SPSS 17 for windows.
Dengan menggunakan jumlah responden (n) = 40 dan taraf signifikansi 5%, maka nilai r tabel sebesar 0,312. Butir pernyataan dinyatakan valid apabila nilai r-hitung > r-tabel yang merupakan nilai dari Corrected Item- Total Corelation > r-tabel dapat dilihat pada lampiran 4 Berikut ini adalah hasil pengujian validitasnya:
Tabel 10: Daftar validitas soal uji coba
Item – Total Statistics Scale
Mean if Item Deleted
Scale Variance
if Item Deleted
Corrected Item-Total Correlation
Squared Multiple Correlation
Cronbac h's Alpha if Item Deleted
Validitas
X1 37.73 103.897 0.323 . 0.693 Valid
X2 37.68 107.097 0.137 . 0.706 Tidak
Valid
X3 37.58 104.558 0.274 . 0.696 Tidak
Valid
X4 37.45 90.818 0.608 . 0.651 * Valid
X5 37.60 91.528 0.567 . 0.656 * Valid
X6 37.55 101.433 0.375 . 0.687 Valid
X7 37.55 101.946 0.350 . 0.689 Valid
X8 37.48 92.512 0.590 . 0.656 * Valid
X9 38.03 104.897 0.380 . 0.694 * Valid
X10 38.05 108.408 0.120 . 0.707 Tidak
Valid
Y 19.83 27.635 1.000 . 0.620
Keterangan : * Butir soal yang diambil sebagai soal penelitian
Dari tabel 10 dapat dilihat bahwa item soal nomor 1, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9 valid karena r alpha > r tabel. Sedangkan item soal nomor 2, 3, dan 10 tidak valid karena r alpha < r tabel.
Sedangkan pengujian reliabilitas item soal mengkonsultasikan nilai r alpha dengan r tabel, apabila r alpha > r tabel, maka dikatakan reliabel dan sebaliknya jika r alpha < r tabel, maka dikatakan tidak reliabel. Dalam hal ini taraf signifikanya adalah 5% dengan n = 40, maka didapat r tabel = 0.312.
Berdasarkan hasil uji reliabilitas penilitian ini dengan bantuan SPSS 17 for windows pada tabel di bawah ini:
Tabel 11 : Daftar reliabelitas soal uji coba Reliability Statistics
Cronbach's Alpha
Cronbach's Alpha Based
on Standardized
Items N of Items
703 717 11
Berdasarkan tabel 11 diperoleh nilai Cronbach’s Alpha untuk seluruh butir pernyataan nilainya 0,703 > r tabel atau 0,703 > 0,312 ini berarti seluruh item pertanyaan adalah reliabel.
Adapun hasil perhitungan menggunakan SPSS 17 for windows untuk uji validitas dan reliabilitas disajikan pada lampiran 4.
Berdasarkan uji validitas, dapat disimpulkan bahwa dari 10 item pertanyaan yang diuji cobakan, 7 item pertanyaan yang valid dan 3 item pertanyaan yang tidak valid. Untuk dijadikan soal tes, peneliti hanya mengambil 4 item soal. Hal ini dikarenakan nilai validitas dari 4 item soal tersebut lebih tinggi dari 3 soal yang valid lainnya.
C. Penyajian dan Analisis Data
Data yang diambil dari hasil penelitian agar mudah dipahami, dideskripsikan kedalam bentuk tertentu. Pendeskripsian data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan tabel distribusi frekuensi.
1. Kemampuan siswa kelas VII A dalam mengubah bentuk bilangan pecahan menjadi bentuk desimal dan mengubah bentuk desimal menjadi bentuk pecahan.
Berdasarkan hasil tes yang dilakukan terhadap siswa kelas VII A,
VII B, dan VII C MTsN Kelayan Banjarmasin tahun pelajaran 2013/2014 dapat diketahui kemampuan siswa dalam mengubah bentuk bilangan pecahan menjadi bentuk desimal dan mengubah bentuk desimal menjadi bentuk pecahan.
Berdasarkan data tersebut dapat disusun tabel distribusi frekuensi kemampuan siswa dalam mengubah bentuk bilangan pecahan menjadi bentuk desimal dan mengubah bentuk desimal menjadi bentuk pecahan, dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 12 : Distibusi frekuensi Kemampuan Siswa Kelas VII A Mengubah Bentuk Bilangan Pecahan Menjadi Bentuk Desimal dan Mengubah Bentuk Desimal Menjadi Bentuk Pecahan pada MTsN Kelayan Banjarmasin
Taraf Penguasaan (%)
Skor (N) Frekuensi (f)
Persentase (P)
Kualifikasi 90 – 100
80 – < 89 65 – < 79 55 – < 64
0 - < 54
12,6 - 14,0 11,2 - 12,5 9,1 - 11,1
7,7 - 9,0 0 - 7,6
12 3 1 1 1
66,67 16,67 5,56 5,56 5,56
Baik sekali Baik Cukup Kurang
Gagal
Jumlah 18 100
Berdasarkan tabel 12 di atas dapat diketahui frekuensi kemampuan siswa terbanyak adalah yang termasuk kualifikasi baik sekali, yaitu ada 12 orang siswa (66,67%), kemampuan berkualifikasi baik dengan frekuensi 3 orang siswa (16,67%), yang termasuk dalam kualifikasi cukup, kurang dan gagal dengan frekuensi masing-masing 1 orang siswa (5,56%).
Hal ini menunjukan bahwa dari 18 orang siswa ada 16 orang siswa yang termasuk kualifikasi cukup, baik dan baik sekali, dan ada 2 orang siswa yang berkualifikasi kurang dan gagal. Dengan kata lain dari 18 orang siswa ada 16 orang siswa (88,89%) yang tuntas mengubah bentuk bilangan pecahan menjadi bentuk desimal dan mengubah bentuk desimal menjadi bentuk pecahan.
Tabel 13. Distibusi frekuensi Kemampuan Siswa Kelas VII B Mengubah Bentuk Bilangan Pecahan Menjadi Bentuk Desimal dan Mengubah Bentuk Desimal Menjadi Bentuk Pecahan pada MTsN Kelayan Banjarmasin
Taraf Penguasaan (%)
Skor (N) Frekuensi (f)
Persentase (P)
Kualifikasi 90 – 100
80 – < 89 65 – < 79 55 – < 64
0 - < 54
12,6 - 14,0 11,2 - 12,5 9,1 - 11,1
7,7 - 9,0 0 - 7,6
7 0 3 1 7
38,89 0 16,67
5,55 38,89
Baik sekali Baik Cukup Kurang
Gagal
Jumlah 18 100
Berdasarkan tabel 13 di atas dapat diketahui frekuensi kemampuan siswa terbanyak adalah yang termasuk kualifikasi baik sekali, yaitu ada 7 orang siswa (38,89%), kemampuan berkualifikasi baik dengan frekuensi 0 orang siswa (0%), yang termasuk dalam kualifikasi cukup, yaitu ada 3 orang siswa (16,67%), kemampuan berkualifikasi kurang, yaitu ada 1 orang siswa (5,55%) dan kemampuan berkualifikasi gagal, yaitu ada 7 orang siswa (38,89%).
Hal ini menunjukan bahwa dari 18 orang siswa ada 10 orang siswa yang termasuk kualifikasi cukup, baik dan baik sekali, dan ada 8 orang siswa yang berkualifikasi kurang dan gagal. Dengan kata lain dari
18 orang siswa ada 10 orang siswa (55,55%) yang tuntas mengubah bentuk bilangan pecahan menjadi bentuk desimal dan mengubah bentuk desimal menjadi bentuk pecahan.
Tabel 14. Distibusi frekuensi Kemampuan Siswa Kelas VII C Mengubah Bentuk Bilangan Pecahan Menjadi Bentuk Desimal dan Mengubah Bentuk Desimal Menjadi Bentuk Pecahan pada MTsN Kelayan Banjarmasin
Taraf Penguasaan (%)
Skor (N) Frekuensi (f)
Persentase (P)
Kualifikasi 90 – 100
80 – < 89 65 – < 79 55 – < 64
0 - < 54
12,6 - 14,0 11,2 - 12,5 9,1 - 11,1
7,7 - 9,0 0 - 7,6
12 5 1 0 0
66,67 27,78 5,55
0 0
Baik sekali Baik Cukup Kurang
Gagal
Jumlah 18 100
Berdasarkan tabel 14 di atas dapat diketahui frekuensi kemampuan siswa terbanyak adalah yang termasuk kualifikasi baik sekali, yaitu ada 12 orang siswa (66,67%), kemampuan berkualifikasi baik dengan frekuensi 5 orang siswa (27,78%), yang termasuk dalam kualifikasi cukup, yaitu ada 1 orang siswa (5,55%), kemampuan kualifikasi kurang dan gagal masing-masing yaitu tidak ada (0%).
Hal ini menunjukan bahwa dari 18 orang siswa ada 18 orang siswa yang termasuk kualifikasi cukup, baik dan baik sekali, dan tidak ada orang siswa yang kualifikasi kurang dan gagal. Dengan kata lain dari 18 orang siswa ada 18 orang siswa (100%) yang tuntas mengubah bentuk bilangan pecahan menjadi bentuk desimal dan mengubah bentuk desimal menjadi bentuk pecahan.
2. Kemampuan Siswa Kelas VII Dilihat dari Aspek Kemampuan
Berdasarkan data hasil penelitian pada lampiran 6 atau tabel 23, 24, 25, 26, 27 dan 28 dapat dilihat skor yang diperoleh siswa kelas VII A, VII B, dan VII C MTsN Kelayan Banjarmasin dalam setiap aspek kemampuan dalam mengubah bentuk bilangan pecahan menjadi bentuk desimal dan mengubah bentuk desimal menjadi bentuk pecahan.
Tabel 15. Distribusi Frekuensi Kemampuan Siswa Kelas VII A Dilihat dari Aspek Kemampuan pada MTsN Kelayan Banjarmasin
No
Taraf Penguasaan
(%)
Skor (N)
Aspek Kemampuan
Kualifikasi A 1
f %
1 2 3 4 5
90 – 100 80 – < 89 65 – < 79 55 – < 64 0 - < 54
7,2 - 8,00 6,4 - 7,1 5,2 - 6,3 4,4 - 5,1 0 - 4,3
13 0 1 3 1
72,22 0 5,55 16,67
5,55
Baik sekali Baik Cukup Kurang
Gagal
Jumlah 18 100
Keterangan: A1 = Kemampuan siswa kelas VII A dalam mengubah bentuk bilangan pecahan menjadi bentuk desimal Berdasarkan tabel 15 dapat diketahui bahwa siswa yang tuntas dalam mengubah bentuk bilangan pecahan menjadi bentuk desimal ada 14 orang siswa (77,78%) yang terdiri dari 13 orang siswa (72,22%) berada pada kualifikasi baik sekali, tidak ada siswa (0%) berada pada kualifikasi baik, dan ada 1 orang siswa (5,55%) berada pada kualifikasi cukup.
Adapun siswa yang tidak tuntas ada 4 orang siswa (22,22%) yang terdiri dari 3 orang siswa (16,67%) berada pada kualifikasi kurang dan 1 orang siswa (5,55%) berada pada kualifikasi gagal.
Kemudian berdasarkan konsep belajar tuntas, jika lebih atau sama dengan 85% dari siswa seluruhnya mencapai lebih atau sama dengan 65% maka siswa dianggap tuntas. 85% dari siswa seluruhnya adalah 15 orang siswa, sedangkan berdasarkan hasil perhitungan hanya terdapar 14 orang siswa (77,78%) mencapai skor lebih dari 65% untuk kemampuan dalam mengubah bentuk bilangan pecahan menjadi bentuk desimal.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa siswa kelas VII A MTsN Kelayan Banjarmasin yang dijadikan sampel tuntas dalam mengubah bentuk bilangan pecahan menjadi bentuk desimal.
Tabel 16. Distribusi Frekuensi Kemampuan Siswa Kelas VII B Dilihat dari Aspek Kemampuan pada MTsN Kelayan Banjarmasin
No
Taraf Penguasaan
(%)
Skor (N)
Aspek Kemampuan
Kualifikasi A 1
f %
1 2 3 4 5
90 – 100 80 – < 89 65 – < 79 55 – < 64 0 - < 54
7,2 - 8,00 6,4 - 7,1 5,2 - 6,3 4,4 - 5,1 0 - 4,3
8 0 0 2 8
44,44 0 0 11,11 44,44
Baik sekali Baik Cukup Kurang
Gagal
Jumlah 18 100
Keterangan: A1 = Kemampuan siswa kelas VII B dalam mengubah bentuk bilangan pecahan menjadi bentuk desimal Berdasarkan tabel 16 dapat diketahui bahwa siswa yang tuntas dalam mengubah bentuk bilangan pecahan menjadi bentuk desimal ada 8 orang siswa (44,44%) yang terdiri dari 8 orang siswa (44,44%) berada pada kualifikasi baik sekali, tidak ada siswa (0%) berada pada kualifikasi baik, dan tidak ada orang siswa (0%) berada pada kualifikasi cukup.
Adapun siswa yang tidak tuntas ada 10 orang siswa (55,55%) yang terdiri
dari 2 orang siswa (11,11%) berada pada kualifikasi kurang dan 8 orang siswa (44,44%) berada pada kualifikasi gagal.
Kemudian berdasarkan konsep belajar tuntas, jika lebih atau sama dengan 85% dari siswa seluruhnya mencapai lebih atau sama dengan 65% maka siswa dianggap tuntas. 85% dari siswa seluruhnya adalah 15 orang siswa, sedangkan berdasarkan hasil perhitungan hanya terdapar 8 orang siswa (44,44%) mencapai skor kurang dari 65% untuk kemampuan dalam mengubah bentuk bilangan pecahan menjadi bentuk desimal.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa siswa kelas VII B MTsN Kelayan Banjarmasin yang dijadikan sampel belum tuntas dalam mengubah bentuk bilangan pecahan menjadi bentuk desimal.
Tabel 17. Distribusi Frekuensi Kemampuan Siswa Kelas VII C Dilihat dari Aspek Kemampuan pada MTsN Kelayan Banjarmasin
No
Taraf Penguasaan
(%)
Skor (N)
Aspek Kemampuan
Kualifikasi A 1
f %
1 2 3 4 5
90 – 100 80 – < 89 65 – < 79 55 – < 64 0 - < 54
7,2 - 8,00 6,4 - 7,1 5,2 - 6,3 4,4 - 5,1 0 - 4,3
18 0 0 0 0
100 0 0 0 0
Baik sekali Baik Cukup Kurang
Gagal
Jumlah 18 100
Keterangan: A1 = Kemampuan siswa kelas VII C dalam mengubah bentuk bilangan pecahan menjadi bentuk desimal Berdasarkan tabel 17 dapat diketahui bahwa siswa yang tuntas dalam mengubah bentuk bilangan pecahan menjadi bentuk desimal ada 18 orang siswa (100%) yang terdiri dari 18 orang siswa (100%) berada pada kualifikasi baik sekali, tidak ada siswa (0%) berada pada kualifikasi baik,
dan tidak ada orang siswa (0%) berada pada kualifikasi cukup. Adapun siswa yang tidak tuntas tidak ada siswa (0%) yang tidak tuntas atau gagal.
Kemudian berdasarkan konsep belajar tuntas, jika lebih atau sama dengan 85% dari siswa seluruhnya mencapai lebih atau sama dengan 65%
maka siswa dianggap tuntas. 85% dari siswa seluruhnya adalah 15 orang siswa, sedangkan berdasarkan hasil perhitungan terdapar 18 orang siswa (100%) mencapai skor lebih dari 65% untuk kemampuan dalam mengubah bentuk bilangan pecahan menjadi bentuk desimal. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa siswa kelas VII C MTsN Kelayan Banjarmasin yang dijadikan sampel tuntas dalam mengubah bentuk bilangan pecahan menjadi bentuk desimal.
Tabel 18. Distribusi Frekuensi Kemampuan Siswa Kelas VII A Dilihat dari Aspek Kemampuan pada MTsN Kelayan Banjarmasin
No
Taraf Penguasaan
(%)
Skor (N)
Aspek Kemampuan
Kualifikasi A 2
f %
1 2 3 4 5
90 – 100 80 – < 89 65 – < 79 55 – < 64 0 - < 54
5,4 - 6,00 4,8 - 5,3
3,9 - 4,7 3,3 - 3,8 0 – 3,2
11 4 1 0 2
61,11 22,22 5,55
0 11,11
Baik sekali Baik Cukup Kurang
Gagal
Jumlah 18 100
Keterangan: A2 = Kemampuan siswa kelas VII A dalam mengubah bentuk desimal menjadi bentuk pecahan
Berdasarkan tabel 18 dapat diketahui bahwa siswa yang tuntas dalam mengubah bentuk bilangan pecahan menjadi bentuk desimal ada 16 orang siswa (88,89%) yang terdiri dari 11 orang siswa (61,11%) berada pada kualifikasi baik sekali, 4 orang siswa (22,22%) berada pada
kualifikasi baik, dan ada 1 orang siswa (5,55%) berada pada kualifikasi cukup. Adapun siswa yang tidak tuntas ada 2 orang siswa (11,11%) yang terdiri dari tidak ada siswa (0%) berada pada kualifikasi kurang dan 2 orang siswa (11,11%) berada pada kualifikasi gagal.
Kemudian berdasarkan konsep belajar tuntas, jika lebih atau sama dengan 85% dari siswa seluruhnya mencapai lebih atau sama dengan 65% maka siswa dianggap tuntas. 85% dari siswa seluruhnya adalah 15 orang siswa, sedangkan berdasarkan hasil perhitungan terdapar 16 orang siswa (88,89%) untuk kemampuan mengubah bentuk desimal menjadi bentuk pecahan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa siswa kelas VII A MTsN Kelayan Banjarmasin yang dijadikan sampel tuntas dalam mengubah bentuk desimal menjadi bentuk pecahan.
Tabel 19. Distribusi Frekuensi Kemampuan Siswa Kelas VII B Dilihat dari Aspek Kemampuan pada MTsN Kelayan Banjarmasin
No
Taraf Penguasaan
(%)
Skor (N)
Aspek Kemampuan
Kualifikasi A 2
f %
1 2 3 4 5
90 – 100 80 – < 89 65 – < 79 55 – < 64 0 - < 54
5,4 - 6,00 4,8 - 5,3
3,9 - 4,7 3,3 - 3,8 0 – 3,2
3 8 0 0 7
16,67 44,44
0 0 38,89
Baik sekali Baik Cukup Kurang
Gagal
Jumlah 18 100
Keterangan: A2 = Kemampuan siswa kelas VII B dalam mengubah bentuk desimal menjadi bentuk pecahan
Berdasarkan tabel 19 dapat diketahui bahwa siswa yang tuntas dalam mengubah bentuk bilangan pecahan menjadi bentuk desimal ada 11 orang siswa (61,11%) yang terdiri dari 3 orang siswa (16,67%) berada pada kualifikasi baik sekali, 8 orang siswa (44,44%) berada pada
kualifikasi baik, dan tidak ada siswa (0%) berada pada kualifikasi cukup.
Adapun siswa yang tidak tuntas ada 7 orang siswa (38,89%) yang terdiri dari tidak ada siswa (0%) berada pada kualifikasi kurang dan 7 orang siswa (38,89%) berada pada kualifikasi gagal.
Kemudian berdasarkan konsep belajar tuntas, jika lebih atau sama dengan 85% dari siswa seluruhnya mencapai lebih atau sama dengan 65% maka siswa dianggap tuntas. 85% dari siswa seluruhnya adalah 15 orang siswa, sedangkan berdasarkan hasil perhitungan hanya terdapar 11 orang siswa (61,11%) mencapai skor kurang dari 65 % untuk kemampuan mengubah bentuk desimal menjadi bentuk pecahan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa siswa kelas VII B MTsN Kelayan Banjarmasin yang dijadikan sampel belum tuntas dalam mengubah bentuk desimal menjadi bentuk pecahan.
Tabel 20. Distribusi Frekuensi Kemampuan Siswa Kelas VII C Dilihat dari Aspek Kemampuan pada MTsN Kelayan Banjarmasin
No
Taraf Penguasaan
(%)
Skor (N)
Aspek Kemampuan
Kualifikasi A 2
f %
1 2 3 4 5
90 – 100 80 – < 89 65 – < 79 55 – < 64 0 - < 54
5,4 - 6,00 4,8 - 5,3
3,9 - 4,7 3,3 - 3,8 0 – 3,2
10 2 5 0 1
55,55 11,11 27,78
0 5,55
Baik sekali Baik Cukup Kurang
Gagal
Jumlah 18 100
Keterangan: A2 = Kemampuan siswa kelas VII C dalam mengubah bentuk desimal menjadi bentuk pecahan
Berdasarkan tabel 20 dapat diketahui bahwa siswa yang tuntas dalam mengubah bentuk bilangan pecahan menjadi bentuk desimal ada 17 orang siswa (94,44%) yang terdiri dari 10 orang siswa (55,55%) berada pada kualifikasi baik sekali, 2 orang siswa (11,11%) berada pada kualifikasi baik, dan 5 orang siswa (27,78%) berada pada kualifikasi cukup. Adapun siswa yang tidak tuntas ada 1 orang siswa (5,55%) yang terdiri dari tidak ada siswa (0%) berada pada kualifikasi kurang dan 1 orang siswa (5,55%) berada pada kualifikasi gagal.
Kemudian berdasarkan konsep belajar tuntas, jika lebih atau sama dengan 85% dari siswa seluruhnya mencapai lebih atau sama dengan 65% maka siswa dianggap tuntas. 85% dari siswa seluruhnya adalah 15 orang siswa, sedangkan berdasarkan hasil perhitungan terdapat 17 orang siswa (94,44%) mencapai skor lebih dari 65% untuk kemampuan mengubah bentuk desimal menjadi bentuk pecahan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa siswa kelas VII C MTsN Kelayan Banjarmasin yang dijadikan sampel tuntas dalam mengubah bentuk desimal menjadi bentuk pecahan.
Tabel 21. Rata-rata Kemampuan Siswa dalam Mengubah Bentuk Bilangan Pecahan Menjadi Bentuk Desimal.
No Kelas Nilai Kualifikasi
1 2 3
VII A VII B VII C
85,06 56,94 100
Baik Kurang Baik Sekali
Tabel 22. Rata-rata Kemampuan Siswa dalam Mengubah Bentuk Desimal Menjadi Bentuk Pecahan
No Kelas Nilai Kualifikasi
1 2 3
VII A VII B VII C
86,33 62,02 86,11
Baik Kurang
Baik
Grafik 1. Kemampuan siswa dalam mengubah bentuk bilangan pecahan menjadi bentuk desimal
Berdasarkan diagram batang diatas dapat dilihat persentase siswa yang tuntas dalam mengubah bentuk bilangan pecahan menjadi bentuk desimal yakni untuk siswa kelas VII A (85,06%), kelas VII B (56,94%) dan kelas VII C (100%). Jadi pada kemampuan siswa dalam mengubah bentuk bilangan pecahan menjadi bentuk desimal yang yang tertinggi kelas VII C dan terendah VII B. Kemudian berdasarkan konsep belajar tuntas, jika lebih atau sama dengan 85% dari siswa seluruhnya mencapai lebih atau sama dengan 65% maka siswa dianggap tuntas. Jadi dilihat dari konsep belajar tuntas yang dianggap tuntas yakni siswa kelas VII A dan kelas VIIC.
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 1
Kelas VII A Kelas VII B Kelas VII C 85.06%
56.94%
100%
100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
Sedangkan siswa kelas VII B menurut konsep belajar tuntas dianggap belum tuntas.
Grafik 2. Kemampuan siswa dalam mengubah bentuk desimal menjadi bentuk pecahan
Berdasarkan diagram batang diatas dapat dilihat persentase siswa yang tuntas dalam mengubah bentuk desimal menjadi bentuk pecahan yakni untuk siswa kelas VII A (86,33%), kelas VII B (62,02%) dan kelas VII C (86,11%). Jadi pada kemampuan siswa dalam mengubah bentuk bilangan pecahan menjadi bentuk desimal yang yang tertinggi kelas VII A dan terendah VII B. Kemudian berdasarkan konsep belajar tuntas, jika lebih atau sama dengan 85% dari siswa seluruhnya mencapai lebih atau sama dengan 65% maka siswa dianggap tuntas. Jadi dilihat dari konsep belajar tuntas yang dianggap tuntas yakni siswa kelas VII A dan kelas VII C.
Sedangkan siswa kelas VII B menurut konsep belajar tuntas dianggap belum tuntas.
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1
Kelas VII A Kelas VII B Kelas VII C 86.33%
62.02%
86.11%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
Grafik 3. Kemampuan siswa dalam mengubah bentuk bilangan pecahan menjadi bentuk desimal dan mengubah bentuk desimal menjadi bentuk pecahan
Berdasarkan diagram batang diatas dapat dilihat kemampuan siswa kelas VII A, VII B dan VII C dalam mengubah bentuk bilangan pecahan menjadi bentuk desimal adalah 80,67%. Sedangkan kemampuan siswa kelas VII A, VII B dan VII C dalam mengubah bentuk desimal menjadi bentuk pecahan adalah 78,15 %. Jadi dapat disimpulkan bahwa kemampuan siswa kelas VII A, VII B dan VII C dalam mengubah bentuk bilangan pecahan kebentuk desimal lebih besar dari pada kemampuan mengubah bentuk desimal menjadi bentuk pecahan.
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1
A1 A2
80.67% 78.15%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%