• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL ILMU PERIKANAN TROPIS. Journal of the Tropical Fisheries Science VOLUME 20 NOMOR 2, APRIL 2015 ISSN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "JURNAL ILMU PERIKANAN TROPIS. Journal of the Tropical Fisheries Science VOLUME 20 NOMOR 2, APRIL 2015 ISSN"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

VOLUME 20 NOMOR 2, APRIL 2015

ISSN 1412-2006

JURNAL

ILMU PERIKANAN TROPIS

Journal of the Tropical Fisheries Science

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS MULAWARMAN

(2)

JURNAL ILMU PERIKANAN TROPIS (Journal of the Tropical Fisheries Science)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat-Nya Jurnal Ilmu Perikanan Tropis (Journal of the Fisheries Science) Volume 20, Nomor 2, April 2015 dapat diterbitkan. Jurnal ini merupakan kumpulan hasil penelitian ilmiah para dosen/peneliti baik di dalam maupun di luar lingkungan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Mulawarman.

Penyajian materi hasil riset kali ini cukup beragam antara penelitian, Budidaya perairan, Sosial Ekonomi Perikanan, Manajemen Sumberdaya Perairan. Pembahasan serta ulasan yang ditampilkan cukup lengkap dan ilmiah sehingga menjadi suatu paket informasi yang berguna bagi masyarakat dan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan bidang perikanan dan ilmu kelautan di Indonesia pada umumnya dan di Kalimantan Timur pada khususnya.

Akhirnya redaksi mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah banyak membantu dalam penerbitan jurnal ini, serta tidak lupa saran dan kritik tetap kami harapkan guna penyempurnaan penerbitan Jurnal Ilmu Perikanan Tropis di masa-masa yang akan datang.

Salam, Redaksi

DAFTAR ISI

Pengaruh Kombinasi Sumber Lemak yang Berbeda Pada Pakan Terhadap Pertumbuhan Ikan Kerapu Cantang (Epinephelus sp)

….... Wiwi Oktavia, Komsanah Sukarti dan Heru Kusdianto

1-7 Pengaruh Perbedaan Sumber Lemak Pakan Terhadap Efisiensi

Pakan dan Rasio Konversi Pakan Ikan Kerapu Cantang (Ephinephelus sp) ……… Fitriyani, Heru Kusdianto dan Komsanah Sukarti

8-14

Aktivitas Antibakteri Ekstrak Metanol Xylocarpus granatum Dari Pesisir Muara Badak ……… Hendrawan, Ita Zuraida dan Bagus Fajar Pamungkas

15-22 Isolasi dan Karakterisasi Bakteri Pada Terasi Udang Rebon

(Mysis relicta) dari Bontang Kuala, Bontang ……... Ari Teguh Adi Setiawan, Andi Noor Asikin dan Rafitah Hasanah

23-28 Karakteristik Kerupuk dari Kulit Ikan Belida (Chitala sp.)

……… Orva Trivina, Bagus Fajar Pamungkas dan Doddy Sutono

29-40 Studi Pemberian Glukosa pada Media Pemeliharaan terhadap

Kelangsungan Hidup Larva Ikan Betok (Anabas testudineus BLOCH) ………... Sulfiadi

41-49 Studi Hasil Tangkapan Belat (Set Net) di Ekosistem Padang

Lamun Perairan Sapa Segajah Kota Bontang ……….…...

………… Dian Putri Rohmawati, Jailani dan Aditya Irawan

50-58 Analisis Kapasitas Asimilasi Sungai Buaya di Pulau Bunyu

Kalimantan Utara ……… Bambang

Kurniadi, Sigid Hariyadi dan Enan M. Adiwilaga 59-69 Perbedaan Hasil Tangkapan Belat Pada Waktu Siang dan Malam

Hari di Perairan Tanjung Laut Indah Kecamatan Bontang Selatan Kota Bontang ………... Iin Mahardika, M. Yasser M.F. dan Moh. Mustakim

70-78

Kandungan Limbah Domestik pada Perairan Waduk Benanga Kota Samarinda ……… Nurul Amri Andini, Abdunnur dan Hamdhani

79-89 Pendeteksian Karbohidrat (MUKUS) pada Jaringan Lunak

Karang Masif (Porites sp.) di Perairan Kota Bontang Provinsi Kalimantan Timur ……….……... Andy Dharmaputra Noor, Ristiana Eryati dan Akhmad Rafi’i

90-98

Jurnal Ilmu Perikanan Tropis ISSN 1412–2006, berdasarkan surat Pusat Dokumentasi dan

Informasi Ilmiah (PDII) LIPI No. 18.438/VI.3.03/ISSN/2001 Tanggal 11 Oktober 2001

(3)

KANDUNGAN LIMBAH DOMESTIK PADA PERAIRAN WADUK BENANGA KOTA SAMARINDA

(Domestic Waste Content at Benanga Water Reservoir in Lempake Village Samarinda City) NURUL AMRI ANDINI1), ABDUNNUR2) dan HAMDHANI2)

1) Mahasiswa Jurusan MSP-FPIK, Unmul

2) Staf Pengajar Jurusan MSP-FPIK, Unmul

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Mulawarman Jl. Gunung Tabur No. 1 Kampus Gunung Kelua Samarinda

E-mail: [email protected]

ABSTRACT

It has been studied at many places that settlements adjacent to water bodies have led to deterioration of surface water quality due to unmanaged domestic waste. Benanga Water Reservoir is one of the water bodies in Samarinda that have been facing similar threat. The aim of this study was to observe domestic waste content in the water of Benanga Reservoir located on Lempake Village, Samarinda. The study was conducted for a month started from mid-May to mid-June 2014.

The data was collected at the end of determined wet dan dry days at 4 sampling stations. The main and supporting parameter data were analyzed using Chi-Square test for comparation. Those main parameters include pH, BOD-5, TSS, Oil and Fats, while the supporting parameters includes DO, water temperature, turbidity, TOM, C-Organic, Ortophospat (PO4), Nitrite (NO2-N), Nitrate (NO3- N), and Detergent. Those parameters were then compared with the status of domestic waste water quality standards based on the Decree of the Minister of Environment No. 112 Year 2003 for main parameters and Regulation of The Province of East Kalimantan No. 02 Year 2011 for supporting parameters. The measured domestic parameters then further analyzed using χ2 test (Chi-Square), and resulted χ2 count = 244.3048 > χ2 table 43.773, means that there were differences of all observed parameters among stations either at the end of wet or dry days.

Keywords: domestic waste, chi-square test, Benanga Reservoir

PENDAHULUAN

Indonesia memiliki lebih dari 500 waduk, namum status kondisi sebagian besar sudah sangat memprihatinkan akibat pencemaran (Sumarwoto, et al., 2004 dalam Peni, et al. 2013). Pencemaran yang terjadi di perairan waduk merupakan masalah penting yang perlu memperoleh perhatian dari berbagai pihak. Hal ini disebabkan beragamnya sumber pencemar yang masuk dan terakumulasi di waduk, antara lain berasal dari kegiatan antropogenik dari permukiman dan dari kegiatan yang berlangsung di badan perairan waduk sendiri.

Berdasarkan tingkat kepadatan penduduk dan laju pertumbuhan penduduk di Indonesia, air limbah domestik dilingkungan pemukiman untuk masa yang akan datang menjadi ancaman yang cukup serius terhadap pencemaran lingkungan perairan. Pertumbuhan penduduk di Indonesia yang pesat khususnya di kota-kota besar, telah mendorong peningkatan kebutuhan akan perumahan.

Jurnal Ilmu Perikanan Tropis. Vol. 20. No. 2, April 2015:079–089 Diterima 18 November 2014.

Semua hak pada materi terbitan ini dilindungi. Tanpa izin penerbit dilarang untuk mereproduksi atau memindahkan isi terbitan ini untuk diterbitkan kembali secara elektronik atau mekanik.

(4)

Hal tersebut mengakibatkan timbulnya permasalahan dengan lingkungan air. Meningkatnya jumlah air limbah domestik yang tidak diimbangi dengan peningkatan badan air penerima baik dari aspek kapasitas maupun kualitasnya, menyebabkan jumlah air limbah yang masuk ke dalam badan air tersebut dapat melebihi daya tampung maupun daya dukungnya.

Badan air yang sesuai dengan kegunaanya bagi biota oerganisme hidup harus memenuhi beberapa persyaratan baiik fisik maupun kima. Ditinjau dari faktor kimia,, air berperan sebagai pembawa unsur- unsur hara, mineral dan gas terlarut di dalamnya. Sedangkan ditinjau dari sifat fisik , air berperan sebagai media yang baik untuk kegiatan biologi dalam pembentukan dan penguraian bahan organik (Tebbut, 1992 dalam Effendi, 2003).

METODE Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Mei - Oktober 2014 di Kelurahan Lempake Kota Samarinda mulai dari persiapan penelitian hingga analisis data. Penelitian dilakukan pada 4 stasiun yaitu stasiun 1 di inlet, stasiun 2 di outlet, stasiun 3 kawasan pemukiman, stasiun 4 jauh dari pemukiman.

Dengan 2 kali pengulanagan saat basah dan saat kering.

Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian Parameter yang Diukur

Pengukuran terhadap parameret inkator limbah domestik dilakukan sesuai dengan parameter yang tertera pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor112 Tahun 2003 Tentang baku mutu Air Limbah domestik dan untuk parameter penunjangnya mengacu pada Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Timur Nomor 02 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.

(5)

Tabel 1. Parameter Indikator Limbah Domestik

No. Parameter Satuan Metode Ket Kep.Men LH no 112 thn

2003 Parameter Utama

1 pH - pH meter Insitu 6 Sampai 9

2 BOD5 mg/l Winkler Eksitu 100 mg/l

3 TSS mg/l Gravimetrik Eksitu 100 mg/l

4 Minyak dan Lemak mg/l Gravimetrik Eksitu 10 mg/l

Parameter Penunjang Perda Kaltim No.2 tahun

2011

1 DO mg/l Titrimetrik Insitu 3 mg/L

2 Suhu oC Thermometer Insitu Deviasi 3

3 Kekeruhan NTU Turbidimeter Eksitu

4 TOM mg/l Titrimetrik Eksitu -

5 C-Organik mg/l walkey & black Eksitu -

6 Phospat ( PO4) mg/l Spektrofotometrik Eksitu 1 mg/l

7 Nitrit ( NO2-N) mg/l Spektrofotometrik Eksitu 0,06 mg/l 8 Nitrat (NO3-N) mg/l Spektrofotometrik Eksitu 20 mg/l

9 Deterjen mg/l Spektrofotometrik Eksitu -

Sumber: Kep.Men.LH No.112 Th.2003 dan Perda Kaltim No.02 Tahun 2011.

Analisis Data

Data yang diperoleh selama penelitian kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan yang signifikan kandungan limbah domesiksaat basah dan kering, pada inlet dan outlet, pada kawasan pemukiman dan jauh dari pemukiman dengan rumus:

Di mana:

χ2: Nilai chi-kuadrat

fe: Frekuensi yang diharapkan fo: Frekuensi yang diperoleh/diamati Hipotesis :

1. Jika χ2 hitung ≤ x2 (α){(B - 1)(K - 1)}, maka H0 diterima pada taraf nyata α 2. Jika χ2 hitung > x2 (α){(B - 1)(K - 1)}, maka H0 ditolak pada taraf nyata α Dimana : α =0,05, b = jumlah parameter, k = jumlah stasiun.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan indikator pencemaran limbah domestik selama penelitian hasil yang diperoleh secara keseluruhan masih dibawah baku mutu yang telah ditetapkan baik parameter utama berdasarkan Kep.Men.LH. No.112 Thn.2003 maupun parameter penunjang berdasarkan Perda Kaltim No.02 Thn 2011.

(6)

Tabel 1. Hasil Parameter Utama dan Parameter Penunjang selama Peelitian Pada Kondisi Basah dan Kondisi Kering.

Sumber: Data Primer Yang Diolah 2014

Keterangan:

BDL: Batas Deteksi Limit Analisis Chi-square

Analisis chi-square dilakukan dengan membandingkan seluruh parameter indikator pencemaran limbah domestik pada

a. Kondisi basah dengan kondisi kering, b. Lokasi Inlet dengan lokasi Outlet,

c. Lokasi pemukiman dengan lokasi Jauh dari Pemukiman.

Tabel.4 Hasil Analisis Chi-Square Bedasarkan Parameter Indikator Limbah Domestik Selama Penelitian

.

No. Perbandingan χ2 hitung χ2 tabel HASIL

1 Kondisi basah dengan kondisi kering 244.3048 43.773 Ho ditolak

2 Pada Lokasi Inlet dengan lokasi Outlet 105.4570 43.773 Ho ditolak 3 Pada Lokasi Pemukiman & Jauh dari Pemukiman 96.6810 43.773 Ho ditolak

Sumber: Data primer yang diolah,2014

1. Pada Kondisi Basah dan Kondisi Kering

Setelah melakukan analisis dengan menggunakan metode chi-kuadrat (Chi-Square) untuk membandingkan parameter indikator limbah domestik kondisi basah dan kondisi kering dapat diketahui nilai χ2 hitung adalah 244.3048 (Lampiran 2). Nilai χ2 hitung melebihi nilai χ2 tabel yaitu 43.773, maka Ho ditolak dengan taraf nyata α (0,05) artinya perairan Waduk Benanga terdapat perbedaan yang signifikan terhadap parameter indikator pencemaran limbah domestik saat domestik kondisi basah dengan kondisi kering.

Karakteristik, faktor cuaca, iklim dan kondisi perairan Waduk Benanga sangat berpengaruh terhadap status mutu air indikator pencemaran limbah domestik. Akan tetapi perairan Waduk Benanga masih dapat digunakan sesuai dengan peruntukannya pada kelas 3 (Keperluan Perikanan) sesuai dengan Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Timur Nomor 02 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian pencemaran dan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 112 Tahun 2003 tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik.

No. Parameter

Musim / Cuaca

Kep.Men LH No.112 thn 2003

Saat Basah Saat Kering

St 1 St 2 St 3 St 4 St 1 St 2 St 3 St 4

Parameter Utama

1 pH 7.4 6.7 6.9 6.7 8.2 8.2 7.5 7.4 6 Sampai 9

2 BOD5 2.49 1.4 0.82 2.2 1.61 1.5 0.24 1.63 100 mg/L

3 TSS 42 68 30 52 23 30 22 28 100 mg/L

4 Minyak dan Lemak BDL* BDL* BDL* BDL* BDL* BDL* BDL* BDL* 10 mg/L

Parameter Penunjang

Perda. Kaltim No.2 Tahun

2011

1 DO 5.67 3.43 2.21 4.73 3.36 2.85 0.48 2.2 3 mg/L

2 Suhu air 27 27 28 27 27 27 28 29 Deviasi 3

3 Kekeruhan 4 3.3 0.6 1.1 7 3.7 7.1 6.1

4 TOM 13.904 93.536 43.608 25.28 63.832 66.992 109.336 63.2 -

5 C-Organik 63 41 21 3 14 19 17 9 -

6 Phospat ( PO4) 0.197 0.274 0.429 0.216 0.176 0.149 0.159 0.153 1 mg/L

7 Nitrit ( NO2-N) 0.012 0.007 0.004 0.005 0.011 0.005 0.006 0.003 0,06 mg/L 8 Nitrat (NO3-N) 18.006 19.1 18.838 16.245 14.984 14.984 14.746 13.842 20 mg/L

9 Detergen BDL* BDL* BDL* BDL* BDL* BDL* BDL* BDL* -

(7)

2. Pada Lokasi Inlet dan lokasi Outlet

Inlet merupakan tempat masuknya air ke Waduk Benanga dari Sungai Pampang. Di sepanjang perairan tersebut banyak dipenuhi tumbuhan air dan disini juga merupakan jalur transportasi para nelayan ikan. Sedangkan Outlet merupakan tempat keluarnya air dari badan air Waduk Benanga ke Sungai Karang Mumus.

Setelah melakukan analisis dengan menggunakan metode chi-kuadrat (Chi-Square) untuk membandingkan parameter indikator limbah domestik di Inlet dan Outlet dapat diketahui nilai χ2 hitung adalah 105.4570. Nilai χ2 hitung melebihi nilai χ2 tabel yaitu 43.773, maka Ho ditolak dengan taraf nyata α (0,05) artinya perairan Waduk Benanga terdapat perbedaan yang signifikan terhadap parameter indikator pencemaran limbah domestik di Inlet dan Outlet. Perairan Waduk Benanga masih dapat digunakan sesuai dengan peruntukannya pada kelas 3 (Keperluan Perikanan) sesuai dengan Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Timur Nomor 02 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian pencemaran dan Keputusan Menterti Lingkungan Hidup Nomor 112 Tahun 2003 tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik.

3. Pada Lokasi Pemukiman dan Jauh dari Pemukiman

Kawasan perairan yang tedapat pemukiman warga baik nelayan maupun masyarakat umum. Di lokasi ini berbagai aktifitas masyarakat dilakukan mulai dari perekonomian seperti Pembudidaya ikan, mencari ikan, dermaga kapal nelayan, sampai aktifitas sehari-hari seperti mandi cuci kakus (MCK).

Sedangkan pada perairan yang jauh dari pemukiman warga, pada stasiun ini merupakan perairan terbuka yang dipenuhi tumbuhan air (Hydrilla verticilata). Stasiun ini merupakan daerah pembudidaya ikan yang membuat keramba jaring apung di perairan Waduk Benanga.

Setelah melakukan analisis dengan menggunakan metode chi-kuadrat (Chi-Square) untuk membandingkan parameter indikator limbah domestik di lokasi pemukiman dan lokasi jauh dari pemukiman dapat diketahui nilai χ2 hitung adalah 96.6810 . Nilai χ2 hitung melebihi nilai χ2 tabel yaitu 43.773, maka Ho ditolak dengan taraf nyata α (0,05) artinya perairan Waduk Benanga terdapat perbedaan yang signifikan terhadap parameter indikator pencemaran limbah domestik di lokasi pemukiman dan lokasi jauh dari pemukiman. Perairan Waduk Benanga masih dapat digunakan sesuai dengan peruntukannya pada kelas 3 (Keperluan Perikanan) sesuai dengan Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Timur Nomor 02 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian pencemaran dan Keputusan Menterti Lingkungan Hidup Nomor 112 Tahun 2003 tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik.

Parameter Indikator Limbah Domestik Parameter Utama

a. pH (Derajat Keasaman)

Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan secara insitu selama penelitian nilai pH yang didapat berkisar antara 6,7–8,2 (Gambar 2). Nilai pH yang terendah selama penelitian terdapat di stasiun 2 dan 4 pada kondisi basah adalah 6,7 disebabkan pada stasiun 2 (inlet) adalah tempat masuknya air Waduk Benanga dari Sungai Pampang, dan pada stasiun 4 (Outlet) disebabkan karena dilokasi ini merupakan tempat keluarnya air yang telah terakumulasi dari seluruh bagian badan air di Waduk Benangan tersebut, dan peningkatan keasaman air (pH rendah) umumnya disebabkan limbah yang mengandung asam-asam mineral bebas dan asam karbon (Manik, 2012 dalam Heristy, 2013).

Nilai pH tertinggi terdapat pada stasiun 1 dan 2 pada kondisi kering karena pada saat pengambilan sampel diperiode ini volume air berkurang dan mengakibatkan perubahan suhu yang berpengaruh pada perubahan pH. Nilai pH yang rendah pada perairan umumnya diduga disebabkan oleh keasaman tanah (Kordi dan Tancung, 2007 dalam Heristy, 2013). Mengacu pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan

(8)

Hidup Nomor 112 Tahun 2003, nilai pada baku mutu yang disyaratkan untuk limbah domestik adalah 6-9, maka dapat dilihat bahwa nilai pH yang didapat selama penelitian pada setiap stasiun masih berada pada kisaran baku mutu yang telah ditetapkan.

b. BOD5 (Biochemical Oxygen Demand)

Secara tidak langsung BOD5 merupakan gambaran umum kadar bahan organik, yaitu jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh mikroba aerob untuk mengoksidasi bahan organik menjadi karbondioksida dan air (Davis and Cornwell, 1991 dalam Effendi, 2003). Hasil pengukuran BOD5 selama penelitian di laboratorium berkisar antara 0,24 – 2,49 mg/L (Gambar 3). nilai terendah BOD5 terdapat pada stasiun 3 kodisi kering adalah 0,24 mg/L. Sedangkan nilai BOD5 yang tertinggi terukur pada stasiun 1 kondisi bash adalah 2,49 mg/L. Nilai BOD5 yang tinggi secara langsung mencerminkan tingginya proses dekomposisi dalam air, secara tidak langsung memberikan petunjuk banyaknya kandungan bahan organik yang tersuspensi yang disebabkan oleh kegiatan antropogenik. Selain itu, fluktuasi hasil nilai BOD5 pada periode sampling disebabkan oleh waktu, suhu, pH dan volume air yang terdapat di perairan Waduk Benanga. Jika mengacu pada Baku Mutu Air Limbah Domestik yang telah ditetapkan nilai BOD5 lebih kecil dari 100 mg/l maka dapat dilihat pada lokasi penelitian ini tidak melebihi ambang batas baku mutu yang ditetapkan.

c. TSS (Total Suspended Solid)

Padatan tersuspensi total (TSS) merupakan residu dari padatan total yang tertahan oleh saringan dengan ukuran partikel maksimal 2 μm atau lebih besar dari ukuran partikel koloid (SNI, 2004). Menurut Kementrian Lingkungan Hidup Nomor 112 Tahun 2003, penetapan baku mutu limbah domestik adalah 100 mg/L. Berdasarkan (Gambar 4). Hasil pengukuran TSS selama penelitian berkisar antara 22 - 68 mg/L. Kandungan nilai TSS tertinggi berada pada stasiun 2 kondisi basah adalah sebesar 68 mg/L, disebabkan pada saat pengambilan sampel air dilakukan setelah hujan yang mengakibatkan adanya erosi tanah akibat hujan dan terjadi pengadukan yang intensif sampai kedasar perairan yang kemudian membawa material atau kikisan-kikisan tanah mengalir ke Sungai Karang Mumus.

Sedangkan nilai TSS terendah berada pada stasiun 3 kondisi kering yang memiliki nilai 22 mg/L. Hal ini disebabkan karena tidak adanya arus pada wilayah ini dimana pada stasiun ini merupakan perairan dekat dengan pemukiman warga sehingga tidak ada material yang terbawa ke badan air.

d. Minyak dan Lemak

Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 112 tahun 2003 Tentang Baku Mutu Limbah Domestik, nilai Baku Mutu untuk Minyak dan Lemak adalah 10 mg/L. Hasil pengukuran terhadap konsentrasi Minyak dan Lemak yang ada di semua stasiun statusnya adalah berada di bawah deteksi limit (BDL). Meskipun Waduk Benanga digunakan sebagai sarana tranportasi dan masih sebagai sarana penampung langsung limbah rumah tangga, akan tetapi aktivitas tersebut belum memberi tekanan yang cukup besar terhadap parameter tersebut.

(9)

Parameter Penunjang

a. Oksigen Terlarut atau DO (Disolved Oxygen)

Berdasarkan (Gambar.5) Hasil pengukuran oksigen terlarut selama penelitian berkisat antara 0.48 – 5.67 mg/L. Nilai tertinggi terukur pada stasiun 1 kondisi basah diperoleh sebesar 5,67 mg/L, sedangkan nilai terendah terukur pada stasiun 3 kondisi kering yaitu sebesar 0,48 mg/L. Mengacu pada Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Timur Nomer 02 Tahun 2011, nilai Baku Mutu pada kelas 3 (Keperluan perikanan) adalah 3 mg/L, terlihat bahwa konsentrasi DO pada stasiun 3 kondisi basah dan kondisi kering berada di bawah batas minimum baku mutu yang telah ditentukan, dikarenakan pada stasiun 3 (Pemukiman) ini merupakan perairan yang padat penduduk dan banyaknya aktifitas masyarakat yang mengakibatkan rendahnya nilai DO, sedangkan untuk stasiun 1, 2 dan 4 Konsentrasi DO mencapai kisaran diatas baku mutu yang telah ditetapkan untuk kelas 3 (Keperluan Perikanan). Pada kondisi basah nilai Oksigen terlarut cenderung lebih tinggi dari pada kondisi kering, hal ini disebabkan karena pada saat pengambilan sampel air pada kondisi basah (setelah hujan) jadi volume air pun cenderung lebih banyak dari pada musim kering (beberapa hari tidak terjadi hujan di perairan Waduk Benanga) dan kondisi topografi wilayah perairan Waduk Benanga.

b. Suhu

Berdasarkan (Gambar.6) hasil pengukuran suhu selama penelitian menunjukkan nilai dengan kisaran 27-29 oC, suhu terendah terdapat di stasiun 1 dan 2 pada setiap periode dan stasiun 4 pada kondisi basah.

Suhu tertinggi hanya terdapat di stasiun 4 kondisi kering. Hal ini menunjukkan bahwa adanya perbedaan

(10)

suhu di perairan pada stasiun 4 kondisi kering, fenomena ini terjadi karena terdapat perbedaan waktu dan cuaca di lapangan pada saat pengukuran suhu, dan tidak terjadi hujan selama beberapa hari di perairan Waduk Benanga tersebut. Berdasarkan Pada Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Timur Nomor 02 tahun 2011, penetapan baku mutu air untuk kelas 3 mensyaratkan bahwa suhu air normal masih dalam kisaran deviasi 3 dari keadaan alamiah di lingkungan setempat dan terlihat bahwa kisaran suhu perairan rata- rata tidak melebihi nilai baku mutu yang telah ditetapkan.

c. Kekeruhan

Berdasarkan (Gambar.6) hasil pengukuran selama penelitian nilai tertinggi terdapat di stasiun 3 kondisi kering sebesar 7,1 NTU, tingginya nilai kekeruhan disebabkan pada saat pengambilan sampel air terjadi surut di perairan Waduk Benanga. Sedangkan nilai terendah terdapat pada stasiun 3 kondisi basah sebesar 0,6 NTU. Rendahnya nilai kekeruhan disebabkan pada lokasi stasiun letaknya jauh dari masuknya air ke perairan Waduk Benanga.

d. TOM (Total Organik Matter)

Berdasarkan (Gambar.7) hasil pengukuran TOM selama penelitian didapatkan hasil antara 13,904 – 109.336 mg/L, dengan hasil tertinggi terdapat pada stasiun 3 kondisi kering adalah 109,336 mg/L, sedangkan untuk nilai terendah terdapat pada stasiun 1 kondisi kering adalah 13,904 mg/L. Tingginya nilai TOM terlihat dipengaruhi aktivitas masyarakat terdapat pemukiman padat yang jaraknya berdekatan dengan stasiun penelitian khususnya stasiun 3. Fluktuasi hasil nilai bahan organik total disebabkan pada periode sampling yaitu paeriode I yakni saat basah (beberapa hari terjadi hujan di Perairan Waduk Benanga) dan kondisi kering (beberapa hari tidak terjadi hujan di perairan tersebut) yang mengangkut sisa-sisa pembusukan bahan organik ke Waduk Benanga.

e. Carbon Organic (C-Organic)

Konsentrasi karbon organik yang didapat pada hasil pengukuran diperoleh nilai konsentrasi dari 3-63 mg/L (Gambar 8). Nilai konsentrasi tertinggi terdapat pada stasiun 1 kondisi basah hal ini disebabkan pada saat periode sampling perairan sedang pasang dan pada lokasi stasiun 1 merupakan tempat masuknya air dari Sungai Pampang yang termasuk anak sungai lainya. Sedangkan nilai konsentrasi terendah terdapat pada stasiun periode 4 kondisi basah hal ini bisa disebabkan karena lokasi titik sampling stasiun 4 ini merupakan tempat yang jauh dari pemukiman warga.

f. Phospat (PO4)

Kandungan phospat selama penelitian berkisar antara 0,149 - 0,429 mg/L (Gambar 9). Nilai ortofosfat yang tertinggi terukur pada stasiun 3 kondisi basah, sedangkan nilai terendah terukur pada stasiun 2 kondisi kering. Pada kondisi basah nilai ortofosfat lebih tinggi dapi pada kondisi kering sehingga terjadi pengenceran, hal ini bias disebabkan oleh volume air pada kondisi basah lebih banyak dari pada kondisi kering, faktor lain bisa dipengaruhi oleh aktifitas masyarakat yang terdapat di lokasi stasiun pada saat pengambilan sampel selama penelitian, hampir semua perairan termasuk dalam perairan eutrofik.

(11)
(12)

g. Nitrit (NO2-N)

Berdasarkan (Gambar.10) hasil pengukuran konsentrasi nitrit (NO2) pada setiap stasiun selam penelitian berkisar antara 0,003 - 0,012 mg/L. mengacu pada Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Timur Nomor 02 Tahun 2011, nilai Baku Mutu pada kelas 3 (keperluan perikanan) adalah 0,06 mg/L, terlihat bahwa konsentrasi nitrit pada semua stasiun selama penelitian masih dibawah batas baku mutu.

Keberadaan nitrit menggambarkan berlangsungnya proses biologis perombakan bahan organik yang memiliki kadar oksigen terlarut sangat rendah (Effendi, 2003).

h. Nitrat (NO3-N)

Berdasarkan (Gambar.11) hasil pengukuran konsentrasi nitrat (NO3) pada setiap stasiun selama penelitian berkisar antara 13,842 – 19,1 mg/L. Konsentrasi nitrat tertinggi terdapat pada stasiun 2 kondisi basah adalah sebesar 19,1 mg/L. Tingginya konsentrasi nitrat pada stasiun ini dipengaruhi oleh aktivitas yang masyarakat setempat maupun industri seperti keramba jaring apung aktivitas nelayan, MCK (mandi cuci kakus), transportasi air, dan lain sebagainya. Sedangkan konsentrasi terendah terdapat pada stasiun 4 kondisi kering adalah sebesar 13,842 mg/L. Fluktuasi hasil nilai parameter nitrat pada periode sampling disebabkan banyaknya volume perairan Waduk Benanga. Mengacu pada Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Timur Nomor 02 Tahun 2011 tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air nilai Baku Mutu untuk kelas 3 (keperluan perikanan) adalah 20 mg/L, terlihat bahwa konsentrasi nitrat pada semua stasiun selama penelitian masih dibawah batas baku mutu.

i. Detergen / Surfaktan/ MBAS (Methylene Blue Active Substance)

Berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Timur Nomor 02 Tahun 2011 tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air nilai Baku Mutu untuk detergen kelas 3 (keperluan perikanan) adalah 200 µg/L. Hasil pengukuran terhadap konsentrasi MBAS/ surfaktan/

Detergen yang ada disemua stasiun statusnya adalah berada dibawah deteksi limit (BDL) pada perairan di Waduk Benanga. Konsentrasi MBAS/surfaktan/Detergen berlebih dapat menyebabkan peningkatan fosfat diperairan yang dapat menghalangi difusi O2 ke dalam air.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian tentang kandungan Limbah Domestik di perairan Waduk Benanga Kelurahan Lempake Samarinda, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Dari data hasil penelitian menunjukan bahwa parameter utama pada perairan Waduk Benang tidak ada yang melebihi baku mutu yang telah ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomer 112 tahun 2003 dengan nilai parameter pH berkisar antara 6,7 – 8,2, parameter BOD5 berkisar antara 0,24-2,49 mg/L, parameter TSS berkisar antara 22 - 68 mg/L, parameter Minyak dan lemak statusnya yaitu berada dibawah deteksi limit alat (BDL). Secara umum nilai-nilai kandungan Limbah Domestik pada stasiun penelitian masih layak untuk mendukung kehidupan bagi biota air.

2. Untuk hasil pengukuran parameter Penunjang indikator Limbah Domestik selama penelitian secara keseluruh masih dibawah baku mutu yang telah ditetapkan berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Timur Nomor 02 tahun 2011 tetang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran.

3. Berdasarkan hasil Uji Chi-Square (χ2) untuk perbandingan yaitu :

a. Pada kondisi Basah dan kondisi Basah dapat diketahui bahwa nilai χ2 hitung = 244.3048 > χ2 tabel = 43.773 artinya parameter indikator pencemaran limbah domestik terdapat perbedaan yang signifikan pada kondisi Basah dengan kondisi kering.

(13)

b. Untuk perbandingan pada loksai inlet dan lokasi outlet, dapat diketahui bahwa nilai χ2 hitung = 105.4570 > χ2 tabel = 31.41043, artinya parameter indikator pencemaran limbah domestik terdapat perbedaan yang signifikan pada pada loksai inlet dan lokasi outlet.

c. Dan Untuk perbandingan pada lokasi pemukiman dengan lokasi yang jauh dari pemukiman dapat diketahui bahwa nilai χ2 hitung = 96.6810 > χ2 tabel = 43.773 artinya parameter indikator pencemaran limbah domestik terdapat perbedaan yang signifikan.

DAFTAR PUSTAKA

Dini, Silvia. 2011. Evaluasi Kualitas Air Sungai Ciliwung di Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Tahun 2000-2010. Sekripsi; KesMas, Universitas Indonesia. Jakarta. 19-20 hlm.

Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan, Kanisius Yogyakarta.

Heristy, Khetty. 2013. Analisis Status Baku Mutu Air Pada DAS Mahakam Di Desa Muara Muntai Kecamatan Muara Muntai Kabupaten Kutai Kartanegara. Skripsi; FPIK, Universitas Mulawarman. Samarinda. 5-78 hlm. (tidak dipublikasikan).

Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor112 Tahun 2003 Tentang baku mutu Air Limbah Domestik.

Peni, P, Bagus, I, Pranoto. 2013. Jurnal Ekosains. Vol V. No.1. Universitas Setia Budi. Surakarta.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.

SNI, 2004. Air dan air limbah- Bagian 3: Cara uji padatantersuspensi total (Total Suspended Solid, TSS Weliyadi. E. 2003. Evaluasi Sifat Fisika dan Kimia Air Pada Kondisi Surut di Perairan Pesisir Lokasi

Perencanaan Kawasan Industri Kariangau (KKI) Kota Balikpapan. Skripsi: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Mulawarman. Samarinda. Hal 55-58 (tidak dipublikasikan).

Gambar

Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian  Parameter yang Diukur
Tabel 1. Parameter Indikator Limbah Domestik
Tabel 1. Hasil Parameter Utama dan Parameter Penunjang selama Peelitian Pada Kondisi Basah dan  Kondisi Kering

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa kemmampuan berpikir kreatif siswa pada pembelajaran kewirausahaan di SD 3 Krakal memiliki kriteria

Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menguji performa algoritma EDAPSO dalam menyelesaikan PFSB.Kinerja EDAPSO yang diuji dalam 10 masalah benchmark PFSB dan

Sebagai satu bentuk kegiatan ilmiah, penelitian sastra memerlukan landasan kerja dalam bentuk teori. Teori sebagai hasil perenungan yang mendalam, tersistem, dan

pada angka 36 wajib merahasiakan pilihan Pemilih yang bersangkutan, dan menandatangani surat pernyataan dengan menggunakan formulir Model C3-KWK. Pada Pukul 13.00 WIB,

Rajawali Farm di Kecamatan Luak, Kabupaten Lima Puluh Kota, untuk mengukur variabel harga yaitu menggunakan 1 (satu) indikator yaitu dinyatakan dengan uang (Rp),

2 Rasio anak berusia 5-17 tahun (disabilitas/non disabilitas) yang pernah mengakses internet 3 Rasio Angka Partisipasi Sekolah (APS) anak berusia 7-17 tahun

Kedalaman irisan sadap yang dianjurkan adalah 1 mm- 1.5 mm agar pohon dapat disadap 25- 30 tahun.Jika dalam penyadapan lapisan kambium tersentuh maka, kulit pulihan

Report ini digunakan untuk mengetahui total ritase, uang jalan bkk, tol, km, volume, avg/km, avg/vol dan ratio per Driver yang dapat dipilih (sortir) berdasarkan date, month,