34
STRATEGI IMPLEMENTASI 4G/LTE PADA JARINGAN OPERATOR SELULAR PT. TELKOMSEL INDONESIA
1Arif Rakhman Suharso, 2Edwinanto
1Program Studi Teknika, 2Program Studi Teknik Elektro
1Politeknik Maritim Negeri Indonesia, 2Sekolah Tinggi Teknologi Nusa Putra
1Jl. Pawiyatan Luhur I, Bendan Duwur, Gajah mungkur, Kota Semarang
2Jl.Raya Cibolang Kaler No.21 Kab.Sukabumi
e-mail: 1[email protected], 2[email protected] Korespondensi: 2[email protected]
ABSTRAK
Indonesia saat ini telah mengimplementasikan berbagai macam teknologi telekomunikasi, untuk memenuhi peningkatan pelanggan dan kualitas perlu dilakukan pembenahan di semua sector. Salah satunya adalah infrastruktur telekomunikasi. Teknologi LTE atau Long Term Evolution merupakan salah satu teknologi berbasis 4Gsebagai lanjutan dari evolusi teknologi 3G yg telah diimplementasikan di Indonesia sejak satu dasawarsa yg lalu. LTE menawarkan kecepatan akses data mencapai 100 Mbps atau sekitar 4x lipat kecepatan teknologi 3G dengan HSDPA+. Operator Telkomsel merupakan salah satu operator yg telah memulai melakukan implementasi teknologi LTE. Namun seperti saat implementasi #G setelah 2G, selain membutuhkan investasi yg cukup mahal masih banyak hal yg perlu dipertimbangkan dalam melaksanakan implementasi LTE. Oleh karena itu perlu dilakukan kajian dan penelitian untuk untuk mendapatkan suatu rumusan strategi yg cocok untuk melakukan implementasi LTE pada jaringan Telkomsel di Indonesia.
Kata Kunci : Telkomsel, LTE, SWOT, Matriks Internal External, Matriks Grand Strategi
ABSTRACT
Indonesia has now implemented a variety of telecommunication technologies, to meet customer improvements and quality needs to be revamped in all sectors. One of them is telecommunications infrastructure. LTE or Long Term Evolution technology is one of the 4Gs-based technologies as a continuation of the evolution of 3G technology that has been implemented in Indonesia since a decade ago. LTE offers data access speeds of up to 100 Mbps or about 4x the speed of 3G technology with HSDPA +. Telkomsel operator is one of the operators that has started the implementation of LTE technology. But as during the implementation of #G after 2G, in addition to requiring a fairly expensive investment, there are still many things to consider in implementing LTE implementation. Therefore, it is necessary to conduct studies and research to get a suitable strategy formulation to carry out LTE implementation on the Telkomsel network in Indonesia.
Keywords: Telkomsel, LTE, SWOT, Internal External Matrix, Grand Strategy Matrix
I. PENDAHULUAN
Seiring dengan perkembangan teknologi telekomunikasi cellular di dunia yg telah mencapai tahapan generasi ke 4, atau yg umum disebut sebagai LTE, maka duna telekomunikasi di Indonesia diharapkan juga bisa mengimplementasikan teknologi tersebut sehingga bisa dinikmasi oleh masyarakat dan tidak
tertinggal oleh negara2 lain. Untuk itu diperlukan strategi teknis maupun non teknis dalam pelaksanaan pengimplentasian teknology 4G ini, dikarenakan sampai saat ini 70% pengguna Handset atau HandPhone [1] masih mempergunakan teknologi yg lama yaitu 2G. Dan seperti halnya implementasi 3G setelah era 2G, dibutuhkan investasi yg cukup mahal sehingga
35 banyak yg perlu dipertimbangkan untuk implementasi LTE/4G untuk itu diperlukan strategi yg tepat dalam implementasinya [2]. Hal ini diperlukan agar operator sebagai pihak penyenggara dan masyarakat sebagai pihak yang mempergunakan teknologi tersebut bisa memperoleh hasil yg masimal bagi kedua belah pihak
Sistem 4G menyediakan solusi IP yang komprehensif dimana suara, data, dan arus multimedia dapat sampai kepada pengguna kapan saja dan dimana saja, pada rata-rata data lebih tinggi dari generasi sebelumnya. Bagaimanapun, terdapat beberapa pendapat yang ditujukan untuk 4G, yakni: 4G akan merupakan sistem berbasis IP terintegrasi penuh. Ini akan dicapai setelah teknologi kabel dan nirkabel dapat dikonversikan dan mampu menghasilkan kecepatan 100Mb/detik dan 1Gb/detik baik dalam maupun luar ruang dengan kualitas premium dan keamanan tinggi. 4G akan menawarkan segala jenis layanan dengan harga yang terjangkau. Setiap handset 4G akan langsung mempunyai nomor IP v6 dilengkapi dengan kemampuan untuk berinteraksi internet telephony yang berbasis Session Initiation Protocol (SIP). Semua jenis radio transmisi seperti GSM, TDMA, EDGE, CDMA 2G, 2.5G akan dapat digunakan, dan dapat berintegrasi dengan mudah dengan radio yang di operasikan tanpa lisensi seperti IEEE 802.11 di frekuensi 2.4 GHz & 5- 5.8Ghz, bluetooth dan selular [3]. Integrasi voice dan data dalam channel yang sama. Integrasi voice dan data aplikasi SIP-enabled.
Besarnya pasar dan begitu potensialnya pelanggan di Indonesia, tentunya juga harus diikuti dengan peningkatan layanan dan kualitas yang harus diberikan oleh para operator. Selain menetapkan tarif yang bersaing, peningkatan teknologi juga harus terus dikembangkan dengan perluasan jaringan dan penggunaan teknologi- teknologi baru. Teknologi tertinggi saat ini yang sudah diterapkan adalah 3G dengan HSDPA+ oleh Indosat dan Telkomsel. HSDPA+ diklaim dapat mencapai downlink sebesar 21 Mbps, yang tentunya akan semakin memanjakan pengguna mobile broadband di Indonesia.
Sementara untuk XL, Three, dan Axis masih berada di level HSDPA dengan downlink sebesar 7 Mbps. Secara teori, tentunya pelanggan akan lebih
memilih operator dengan kecepatan downlink yang tinggi, namun hal itu bukan berarti jaminan, melihat kepadatan pengguna, dan luasnya infrastruktur jaringan yang dimiliki oleh operator data
Gambar 1. Indonesia Cellular Market
Gambar 2. Pangsa Pasar Operator Cellular
Untuk memenuhi peningkatan jumlah pelanggan tersebut, tentu perlu dilakukan pembenahan di semua sektor. Salah satunya infrastruktur telekomunikasi. Sebelumnya, pemerintah telah menyediakan alokasi frekuensi 3G di spektrum 2.1 GHz. Dari total 60 Mhz yang tersedia, Telkomsel, XL, dan Indosat masing- masing memiliki 5 MHz, sementara Axis dan Three masing-masing sudah memiliki 10MHz.
Jumlah pelanggan mobile broadband saat ini di Indonesia diperkirakan sudah mencapai 110 juta pelanggan, dilihat dari hasil penjualan smartphone di Indonesia, sedangkan jumlah pelanggan fixed wireline broadband termasuk serat optik FTTH
36 tidak lebih dari 10%- nya. Meningkatnya pengguna mobile broadband di Indonesia, menyebabkan Telkomsel, Indosat, XL telah melakukan penambahan bandwidth 3G menjadi 2x10MHz untuk di masing-masing rentan frekuensi. Sehingga frekuensi 3G untuk ketiga operator seluler terbesar di Indonesia tersebut akan menjadi yang paling lebar. Peningkatan bandwidth merupakan salah satu jalan untuk meningkatkan kulitas layanan, penggunaan internet seperti browsing, email, dan chatting akan lebih cepat dan lancar Selain itu penambahan frekuensi juga merupakan ajang persiapan para operator menuju implementasi teknologi 4G.
Teknologi LTE yang sudah dibicarakan sejak beberapa tahun lalu, kini telah mulai diimplementasikan sebagai solusi infrastruktur dan layanan yang akan diimplementasikan. LTE atau Long Term Evolution merupakan salah satu teknologi berbasis 4G sebagai lanjutan evolusi 3G yang telah diimplementasikan di Indonesia evolusi teknologi GSM menuju LTE dapat dilihat seperti pada Gambar 1.1. LTE merupakan standarisasi 3GPP (Third Generation Partnership Project) sebagai metode akses untuk high-speed baru untuk kelanjutan perkembangan telekomunikasi nirkabel bergerak.
Secara teori, LTE lebih mudah diimplementasikan dengan legacy network 3G dan teknologi non-3GPP. LTE menawarkan kecepatan akses data mencapai 100 Mbps, atau sekitar 4 kali lipat HSDPA+, dan kemudahan dalam implementasi jaringan. Namun seperti saat implementasi 3G setelah 2G, selain investasi yang cukup mahal, banyak hal yang perlu dipertimbangkan untuk melakukan implementasi LTE. Oleh karena itu, perlu dirumuskan suatu strategi yang cocok dalam melakukan implementasi jaringan LTE di Indonesia, agar LTE dapat diimplementasikan secara baik dan sesuai dengan kebutuhan pelanggan dan pasar pengguna telekomunikasi mobile.
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Teknologi LTE
Layanan mobile broadband terus berkembang seiring dengan meningkatnya mobilitas masyarakat dalam beraktivitas serta kebutuhan layanan internet. Berbagai teknologi
seluler terus dikembangkan mulai dari GSM/GPRS/EDGE (2G), UMTS/HSPA (3G), dan teknologi LTE. LTE adalah standar terbaru dalam teknologi jaringan seluler dibandingkan GSM/EDGE and UMTS/HSPA. LTE adalah sebuah nama baru dari layanan yang mempunyai kemampuan tinggi dalam sistem komunikasi bergerak yang merupakan langkah menuju generasi ke-4 (4G) dari teknologi radio yang dirancang untuk meningkatkan kapasitas dan kecepatan jaringan telepon mobile [4]. LTE adalah suatu proyek dalam Third Generation Partnership Project (3GPP) (Wardhana, 2014) Evolusi jaringan seluler sampai ke teknologi LTE ditunjukkan pada gambar berikut :
Gambar 3. . Evolusi jaringan LTE
Pada Gambar 3 dapat dilihat bahwa LTE merupakan evolusi dari jaringan seluler yang dipersiapkan untuk teknologi 4G. Keuntungan utama dengan LTE adalah throughput yang tinggi, latency yang rendah, FDD dan TDD pada platform yang sama, peningkatan pengalaman pelanggan dan arsitektur sederhana yang mengakibatkan biaya operasional yang rendah. LTE juga akan mendukung sel dengan teknologi jaringan yang lebih lama seperti GSM, CDMAOne, WCDMA (UMTS), dan CDMA 2000. Banyak fasilitas yang didapat sehingga perlu untuk upgrade 3G UMTS ke teknologi komunikasi mobile 4G, yang pada dasarnya adalah sebuah sistem mobile broadband dengan peningkatan layanan multimedia [5].
2.2 Arsitektur LTE
37 Arsitektur jaringan LTE dirancang untuk tujuan mendukung trafik packet switching dengan mobilitas tinggi, quality of service (QOS), dan latency yang kecil. Pendekatan packet switching ini memperbolehkan semua layanan termasuk layanan voice menggunakan koneksi paket. Oleh karena itu pada arsitektur jaringan LTE dirancang sesederhana mungkin, yaitu hanya terdiri dari dua node yaitu eNodeB dan Mobility Management Entity/Gateway (MME/GW). Semua interface jaringan pada LTE adalah berbasis internet protocol (IP). eNodeB saling terkoneksi dengan interface X2 dan terhubung dengan MME/SGW melalui interface S1 seperti yang ditunjukkan.
Pada LTE terdapat 2 logical gateway, yaitu Serving Gateway (S-GW) dan Packet Data Network Gateway (P- GW). S-GW bertugas untuk melanjutkan dan menerima paket ke dan dari eNodeB yang melayani User Equipment (UE). P- GW menyediakan interface dengan jaringan Packet Data Network (PDN), seperti internet dan IMS. Selain itu P- GW juga melakukan beberapa fungsi lainnya, seperti alokasi alamat, packet filtering, dan routing. Jaringan LTE yang disebut sebagai SAE (System Architecture Evolution) hanya terdiri atas dua bagian, yaitu EPC (Evolved Packet Core) & E-UTRAN (Evolved UMTS Terrestrial Radio Access Network) [6].
Gambar 4. Network Element sederhana pada LTE yang merupakan gambar arsitektur Network
element jaringan LTE secara sederhana.
EPC terdiri dari 3 komponen seperti Serving Gateway (S-GW), Packet Data Network Gateway (P-GW) dan Mobility Management Entity (MME).
Bagian E-UTRAN hanya terdiri dari komponen Evolved Node B (eNB). User Equipment (UE) merupakan perangkat yang digunakan user untuk berkomunikasi dengan jaringan LTE melalui komponen eNB. UE dapat berupa handphone / smartphone, tablet, laptop, atau perangkat lain yang dilengkapi dengan network adapter LTE.
Alur kerja hubungan downlink LTE dimulai dari P- GW hingga ke UE. Pada tahap awal, paket data yang berasal dari jaringan di luar jaringan LTE masuk ke jaringan LTE melalui P-GW. P- GW berfungsi menangani paket-paket data, menetapkan peraturan/izin paket data, penyaringan paket data, pemotongan aliran paket data, dan menghubungkan UE kepada jaringan yang berada di luar jaringan LTE yang biasa disebut sebagai IMS (IP Multimedia Subsystem), IMS dapat berupa jaringan operator seluler ataupun jaringan internet.
P- GW juga merupakan pintu masuk dan pintu keluar bagi setiap paket data yang akan dikirimkan dari UE, ataupun paket data yang akan diterima UE.
Tabel 1. Fungsi-fungsi Network Element pada LTE
38 2.3 Pengembangan Jaringan LTE
LTE merupakan standarisasi 3GPP (Third Generation Partnership Project) sebagai metode akses untuk high-speed baru untuk kelanjutan perkembangan telekomunikasi nirkabel bergerak menuju FMC atau fixed- mobile convergence. LTE yang berada pada standar IEEE 802.20, adalah langkah selanjutnya dalam roadmap 4G yang berawal dari teknologi 2G dan 3G yang ada pada saat ini. Dibangun oleh keluarga 3GPP yang sebelumnya telah berhasil membangun teknologi GSM, GPRS, EDGE, dan WCDMA lalu sekarang HSDPA dan kemudian HSPA+, LTE menawarkan evolusi yang smooth menuju kecepatan yang lebih tinggi dengan latency yang rendah. Dengan menggunakan spektrum frekuensi yang baik, LTE dapat berkembang menjadi lebih kaya akan fitur dan aplikasi seperti pada tabel berikut ini:
Tabel 2. Perbandingan service 2G/3G dengan LTE/4G
N o
Jenis Layana
n
2G / 3G LTE
1 Layanan Telepon
Real-Time menggunakan jaringan telepon fixed dan wireless, Video call berkualitas rendah
Menggunakan VoIP (Voice over IP), Video conference kualitas tinggi 2 Layana
n Messagi n g
SMS, MMS, dan
e-mail best- effort
Photo Message, IM, Mobile email, Video Message 3 Browsing Akses
menggunakan
WAP, 2G
GPRS/EDGE, Atau 3G/HSDPA
Akses internet bekecepatan tinggi mencapai 100 Mbps 4 Perso
nalisasi
RBT Realtones,
Personalisasi mobile web- site
5 Games/P ermainan
permainan yang
dapat di-
download, dan online gaming
Online gaming yang terhubung ke jaringan lain,
termasuk jaringan fixed (LAN) 6 TV/Vi
deo on Demand
Youtube, media video streaming kualitas
rendah/medium
Layanan televisi dapat diakses secara mobile, video streaming dengan kualitas tinggi 7 Music Download lagu,
mendengarkan radio analag
Donwload lagu secara cepat
8 Kontens Download Wallpaper, Ringtone, dan konten lainnya
Donwload berbagai konten dengan cepat, sampai video, layanan karaoke,dll 9 Social
Networki ng
Akses Facebook, Twitter,
Foursquare, dll dengan kecepatan rendah
Akses Facebook, Twitter, Foursquare, dll dengan kecepatan tinggi 10 M-
Commer ce
Transaksi online, M-Banking
Layanan transaksi online berbagai aplikasi dengan kecepatan dan keamanan yang tinggi 1
11
Mobile Data Networki ng
Akses ke intranet kantor dan dan database menggunakan VPN yang lambat
Akses ke intranet kantor secara mobile dan
berkecepatan tinggi
Melalui penerapan Smart dan Adaptive Perencanaan jaringan dan Program Deployment, Telkomsel mengejar percepatan pembangunan infrastruktur sehingga dapat menanggapi tren permintaan pelanggan dan persaingan pasar, serta roadmap untuk pengembangan teknologi. Untuk terus mengamankan keunggulan dalam market
39 teknologi seluler, Telkomsel ada tahap awal telah memulai secara komersial pelaksanaan 4G (LTE) layanan. Didukung oleh 186 LTE BTS (e-NodeB), Telkomsel meluncurkan pertama 4G layanan secara komersial di Indonesia pada tanggal 8 Desember 2014 secara terbatas di area Jakarta dan Bali. Dengan program Smart Deployment, direncanankan sekitar 15.500 BTS pada tahun 2014-2015, dimana sekitar 76% adalah 3G BTS selaras dengan pertumbuhan traffic pada 142,9%.
Dengan jumlah yang sama dari capex, Telkomsel diharapkan akan banyak lagi membagun jaringan 4G BTS, terutama setelah penataan frekuensi selesai dilaksakan pada akhir tahun 2015
Untuk LTE phase-1 dibangun di 7 kota broadband:
Medan, Jakarta, Bandung, Jogyakarta, Surabaya, Bali, Makasar, Pada phase-1 ini adalah dengan LTE di band 900. Saat ini sedang dilakukan Re- arrangement (GFR) dengan seluruh operator dan sudah menyelesaikan 23 cluster dari 42 cluster yg ada. Cluster yg sdh selesai dilaksanakan GFR tersebut adalah di area Papua, Makasar, Kalimanatan & sebagian Sumatra. GFR dilakukan pada jaringan BTS 2G dengan frekuensi 1800, dan apabila setelah selesai re- arrangement baru dilakukan assessment untuk implementasi LTE 1800, sehingga LTE band 900 yg saat ini sedang dipergunakan nanti akan mempergunakan frekuensi 1800, dan blok frekuensi 900 akan dikembalikan lagi untuk alokasi BTS 2G.
III. METODOLOGI PENELITIAN Dalam melakukan perumusan strategi ada beberapa metode yang dapat dilakukan. Penulis menggunakan metode yang dikembangkan melalui konsep manajemen strategis. Perumusan strategi merupakan bagian pertama dari proses manajemen strategis dalam suatu instansi atau perusahaan.
Bagian selanjutnya adalah implementasi strategi, dan analisa strategi. Perumusan strategi atau dikenal juga dengan perencanaan strategis populer pada awal 1950-an dan menjadi sangat populer antara petengahan 1960-an dan pertengahan 1970- an. Perumusan strategi diperlukan apabila suatu pasar yang terus berkembang sudah mulai tidak sesuai dengan tujuan jangka panjang perusahaan.
Pasar berubah karena adanya perubahan kebutuhan pembeli, teknologi baru, kekuatan sosial ekonomi,
dan kegiatan persaingan. Perubahan-perubahan ini menciptakan peluang dan ancaman baru bagi perusahaan untuk melayani pasar. Metode penelitan berdasarkan teori analisa situasi pasar.
Analisa situasi pasar persaingan adalah langkah pertama dalam merancang strategi baru atau mengkaji strategi yang sudah ada. Analisa situasi ini dilakukan setelah strategi diimplikasikan untuk menentukan perubahan strategi yang diperlukan. Penilaian situasi biasanya pendefinisian dan penganalisaan pasar, dan analisa pesaing.
Pada intinya perumusan strategis adalah perumusan taktik agar suatu perusahaan dapat menghasilkan keuntungan yang lebih besar dan dapat bersaing dengan sukses. Sebagai perusahaan yang sedang berkembang dan mengalami persaingan yang ketat di dunia telekomunikasi, melakukan perumusan strategi untuk PT.
TELKOMSEL cocok jika dilakukan dengan konsep manajemen strategis.
Perumusan strategi mencakup beberapa tahap yakni pengembangan visi dan misi, identifikasi peluang dan ancaman eksternal suatu organisasi. Kesadaran akan kekuatan dan kelemahan internal, penetapan tujuan jangka panjang, pencarian strategi alternatif, dan pemilihan strategi tertentu untuk mencapai tujuan.
Berdasarkan data dan kebutuhan, seluruh teknik tersebut tidak digunakan semuanya.
Penelitian dapat dilakukan hanya dengan teknik yang dianggap butuh dan diperlukan. Pada tahap pertama, sesuai dengan batasan masalah, CPM atau (Competitive Profile Matrix) tidak digunakan. Hal ini disebabkan penelitian tidak melihat dari sisi kompetisi PT. TELKOMSEL dengan operator lain.
Sehingga masukan dari CPM diabaikan. Pada tahap kedua, berdasarkan data yang diperoleh dan dijustifikasikan pada tahap pertama, penelitian ini hanya menggunakan teknik SWOT, Matriks Internal Eksternal, dan Matriks Grand Strategy.
Untuk tahap terakhir digunakan MAtraiks Grand Strategi sebagai landasan objektif bagi pemilihan strategi alternatif.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Analisa dan Pengumpulan Data
Berikut ini adalah teknik analisis data yang dilakukan dalam penelitian antara lain adalah:
40 1. Mengumpulkan data dan informasi yang
diperoleh melalui studi literature, wawancara dan penyebaran kuesioner
2. Hasil pengamatan dan studi literatur kemudian dihubungkan dengan pokok masalah penelitan, juga faktor- faktor pendukung atau penghambat yang memberikan pengaruh pada hasil penelitian
3. Selanjutnya dilakukan analisa masalah dengan menggunakan metode-metode analisa sepertiyang telah dikemukakan pada bahasan sebelumnya yaitu Analisa SWOT dan Matriks Gran Strategi, dalam hal ini melakukan analisa kondisi perusahan dalam rangka penentuan strategi bisnis yang tepat sesuai dengan kebutuhan.
4. Hasil dari pemodelan dan analisa akan merupakan kesimpulan dari penelitan ini, dan berdasarkan itu juga akan diberikan rekomendasi-rekomendasi strategis bagi PT.
TELKOMSEL
Pengumpulan Data Tahap pengumpulan data merupakan tahap pertama dalam melakukan perumusan atau perencanaan strategis. Tahap pengumpulan data merupakan tahap dimana informasi dikumpulkan dan dicari sebanyak- banyaknya untuk membantu melakukan tahap selanjutnya. Pada tahap ini ada dua matriks yang dikembangkan penulis yakni matriks evaluasi eksternal, dan matriks evaluasi internal.
4.2 Matriks Evaluasi Internal
Matriks evaluasi internal atau dikenal dengan nama Internal Factor Evaluation (IFE) merupakan alat yang digunakan untuk meringkas dan mengevaluasi audit internal dalam suatu manajemen. Manajemen Strategis Konsep, edisi 12. Terjemahan oleh Dono Sunardi, 2009. Jakarta : Penerbit Salemba Empat) Pada matriks evaluasi internal, kekuatan dan kelemahan utama dalam area-area fungsional bisnis dievaluasi juga hubungan antara area fungsional bisnis tersebut.
Area bisnis atau disebut juga kekuatan internal utama (internal forces) mencakup divisi- divisi dalam perusahaan seperti divisi pemasaran, keuangan, akuntansi, produksi/operasi, dan lain sebagainya. Tergantung perusahaan yang dilakukan proses audit. Penilaian intuitif digunakan dalam pengembangan matriks evaluasi
faktor internal, sehinggan tampilannya tidak boleh ditafsirkan sebagai bukti bahwa teknik ini merupakan gambaran dari kondisi sebenarnya.
Pemahaman yang menyeluruh menngenai faktor- faktor yang tercakup di dalamnya lebih penting daripada angka-angka yang ada. Faktor internal terbagi dua yakni faktor kekuatan dan kelemahan internal, berdasarkan pengumpulan data yang diperoleh, faktor-faktornya adalah :
1. Faktor Kekuatan Internal (Strength)
Melalui hasil studi literature dan melalui wawancara langsung dengan pihak yg berkompeten pada PT TELKOMSE, maka oleh penulis menyiimpulkan terdapat 5 buah kekuatan (Strenght), yaitu:
a. Peningkatan jumlah pelanggan keseluruhan, peningkatan double digit EBITDA dan Revenue. Menempatkan Telkomsel sebagai operator selular terbesar di Indonesia dengan jumlah pelanggan terbanyak. (code:
S1)
b. Operator telekomunikasi Telkomsel menerima penghargaan di acara Frost &
Sullivan Asia Pasifik ICT Awards 2015 sebagai Asia Pasific Mobile Service Provider of the Year. Dengan perhargaan ini Telkomsel sudah dapat disejajarkan dengan operator tingkat dunia, dan memperoleh brand image yg lebih baik dimata para pelanggannya. (code: S2)
c. Trasformasi Budaya Perusahaan Telkomsel, yang dikenal sebagai "Telkomsel Way", berfungsi sebagai pedoman untuk nilai-nilai Telkomsel dan standar etika. Budaya Perusahaan yang diimplementasikan oleh seluruh karyawan saat berinteraksi di tempat kerja dengan para pemangku kepentingan.
Yaitu yg terdiri atas Integrity - Respect- Antusiasme - Loyalitas – Totalitas , ke 5 hal tersebut berfungsi sebagai dasar untuk 3S working Spirit (Solid - Speed - Smart).
Pelaksanaan The Way Telkomsel telah menjadi agenda prioritas Top Manajemen memiliki tujuan untuk memenuhi peningkatan indeks tingkat Kepuasan Karyawan. (code: S3)
d. Inovasi yang cepat dan beragam dalam layanan data dan VAS sehingga memberikan banyak pilihan kepada
41 pelanggan sesuai dengan kebutuhan, bahkan memperoleh penghargaan pada tahun 2014, Telkomsel telah diakui sebagai yang tertinggi kedua menempatkan perusahaan dari Top 5 perusahaan untuk Bekerja di Asia di Asia Corporate Excellence &
Sustainability (ACES) Award. (code: S4) e. Program CRM (Customer Relation
Management), adalah proses bisnis yang inovatif terpadu dan untuk meningkatkan kualitas layanan kepada pelanggan. CRM juga menyediakan sebuah sistem informasi terpadu yang dapat dimanfaatkan untuk perencanaan dukungan sampai ke kontrol pre-sales dan kegiatan pasca-penjualan.
CRM mempercepat waktu respon dan meningkatkan proses dalam menangani pelanggan. Di Juli 2014 Telkomsel menyelesaikan tahap pertama dari CRM, yang meliputi pelanggan pascabayar dan beberapa layanan untuk interaksi prabayar dan penanganan pelanggan. Pada 2014, Layanan pelanggan Telkomsel menerima beberapa penghargaan di 2014 “Best Call Center and Customer Service Email Centers” dari CCSEA (Contact Center Service Excellence Award). (code: S5) 2. Faktor Kelemahan Internal (Weakness)
Melaui hasil studi literature dan melaui wawancara langsung dengan pihak yg berkompeten pada PT TELKOMSEL, maka penulis menyimpulkan faktor faktor yg menjadi kelemahan Internal oleh penulis disimpulkan menjadi 5 buah faktor, yaitu:
a. Bertambahnya jumlah karyawan serta dilakukannya Tansformasi Organisasi Perusahaan, membuat peningkatan labor cost sebesar 12,4%. Telkomsel banyak melakukan relokasi karyawan dari kantor pusat ke daerah luar, sehingga persentase berubah dari kantor pusat ke daerah dari 65%: 35% menjadi 38%: 62%. Proses ini tentu akan memerlukan biaya untuk akomodasi dan cost operational penempatan karyawan. (code: W1).
b. Penurunan nilai mata uang Rupiah tehadap US Dollar yg berpotensi mempengaruhi keuangan PT Telkomsel. Pada akhir Desember 2014, Telkomsel memiliki jumlah
hutang/pinjaman sebesar Rp2,3 triliun, dimana sekitar Rp1,9 triliun adalah pinjaman jangka pendek dan bagian lagi pinjaman jangka menengah & jangka panjang, dan Rp0.4 tersisa triliun pinjaman jangka panjang. Sekitar 75% dari total pinjaman, atau US $ 138.400.000, yang dalam bentuk mata uang asing. (code: W2).
c. Penurunan jumlah ARPU (Average Revenue Per User), pada pelanggan Post-Paid dari Rp.184rb menjadi Rp.172rb sehingga berpotensi menurunkan pendapatan perusahaan. (code: W3).
d. Pengembangan jaringan dengan menambah jumlah BTS dan modernisasi BTS yang juga berarti menambah biaya untuk operasi dan pemeliharaan mengakibatkan meningkatkan pengeluaran perusahaan sebesar 10% (data tahun 2014). (code: W4).
e. Kenaikan biaya penyewaan frekuensi , BHP atau biaya hak penggunaan, yg harus dibayarkan ke pemerintah, berpotensi untuk mengurangi pendapatan perusahaan. (code:
W5).
4.3 Matriks Evaluasi Eksternal
Matriks evaluasi eksternal atau External Factor Evaluation Matrix (EFE) merupakan ringkasan dari audit eksternal yang bertujuan untuk mengembangkan sebuah daftar terbatas dari peluang yang dapat menguntungkan sebuah perusahaan dan ancaman yang harus dihindarinya.
Matriks evaluasi eksternal digunakan para penyusun strategi untuk meringkas dan melakukan evaluasi informasi tersebut. Dalam mengembangkan matriks evaluasi eksternal diperlukan segala sumber informasi yang memungkinkan untuk digunakan. Informasi ini mencakup kekuatan- kekuatan eksternal (external forces) seperti kekuatan ekonomi, kekuatan sosial, budaya, demografis dan lingkungan, kekuatan politik, pemerintahan, dan hukum, serta kekuatan teknologi dan kompetitif. Setelah dilakukan pengumpulan informasi dan data, ditemukan faktor-faktor yang paling berpengaruh adalah sebagai berikut :
1. Faktor Peluang Eksternal (Opportunity)
Melalui hasil studi literature dan melalui wawancara langsung dengan pihak yg terlibat
42 pada dunia Telekomunikasi, maka penulis menyimpulkan faktor faktor yg menjadi Peluang Eksternal oleh penulis disimpulkan menjadi 5 buah faktor, yaitu :
a. LTE sebagai jaringan yang paling cocok melanjutkan evolusi GSM, 3G, dan HSDPA, bernaung dalam standarisasi yang sama, yakni standarisasi 3GPP. (O1).
b. Layanan data, VAS, aplikasi2 video, streaming, on line business akan semakin pesat berkembang dikarenakan ada nya dukungan kecepatan data yg tinggi oleh jaringan LTE (code: O2)
c. Peningkatan jumlah pelanggan data yang signifikan sebesar 11% . Pada tahun 2013 berjumlah 60jt juta pelanggan menjadi 67juta pelanggan pada 2014 (code: O3) d. Untuk memenuhi kebutuhan kecepatan
akses, LTE memiliki kecepatan akses jauh lebih tinggi dari GPRS dan HSDPA, yakni sebesar 300 Mbps.(code: O4)
e. Diprediksikan pengguna jaringan LTE di dunia akan mencapai jumlah 2 milyar pengguna pada tahun 2018, dan Indonesia merupakan pangsa pasar LTE yg sangat potensial, dengan jumlah penduduk terbesar nomer 5 di dunia.. (code: O5)
2. Faktor Ancaman Eksternal (Threat)
Melaui hasil studi literature dan melalui wawancara langsung dengan pihak yg terlibat langsung pada perkembangan dunia Telekomunikasi, maka penulis menyimpulkan faktor faktor yg menjadi Ancaman Eksternal oleh penulis disimpulkan menjadi 5 buah faktor, yaitu:
a. Semakin banyaknya operator di Indonesia yang juga fokus ke layanan data dan VAS.
Seperti Indosat, XL, Smartfren, dan bahkan operator baru seperti BOLT (code : T1) b. Perang Tarif yang lebih murah yang
ditawarkan operator2 lain dengan system bundling. (code : T2)
c. Penataan frekuensi yg dilakukan oleh pemerintah berpotensi memperlambat mengimplementasian LTE, yg diperkirakan baru akan selesai pada akhir tahun 2015 Sementara para pesaing dari operator lain seperti operator SMARTFREN sudah lebih dulu secara masal melakukan implementasi
Jaringan LTE nya. (code: T3)
d. Makin banyaknya jaringan nirkabel, wifi hotspot yg disediakan secara gratis oleh beberapa pihak (restoran, perkantoran, dll) dengan kecepatan data yg cukup tinggi sehingga mengancam peluang pemakaian akses data ke jaringan Cellular. Para pemilik handphone lebih menyukai akses gratis yg disediakan oleh jaringan hotspot Wifi. (code: T4)
e. Sampai saat ini belum tersedia banyak pilihan untuk handphone yg mempunyai kemampuan untuk jaringan LTE, sehingga masyarakat belum mempunya banyak pilihan untuk memiliki handphone LTE dengan harga yg murah seperti hal nya pada handphone 2G atau 3G. (code: T5)
4.4 Perhitungan Bobot dan Rating
Seperti pada matriks evaluasi internal, juga telah dilakukan survey kepada 30 responden karyawan PT TELKOMSEL untuk mengetahui bobot dan rating dari faktor–faktor yang dianggap penting. Contoh survey dapat dilihat pada lampiran bab 4.
Peringkat tersebut untuk mengindikasikan faktor tersebut :
1. Sangat Tidak Penting (peringkat = 1), 2. Tidak Penting (peringkat = 2), 3. Penting (peringkat = 3), 4. Sangat Penting (peringkat = 4).
Jumlah total bobot dalam matriks evaluasi internal harus bernilai 1. Selanjutnya dilakukan perhitungan tingkat pengaruh dari setiap faktor yang diujikan. Jika responden merasa sangat tidak setuju, responden memberikan nilai 0, jika tidak setuju memberikan nilai 1, jika ragu-ragu memberikan nilai 2, jika setuju memberikan nilai 3, dan jika sangat setuju memberikan nilai 4 Dari penilaian responden tersebut dilakukan perhitungan nilai rating untuk setiap faktor.
Perhitungan dilakukan dengan membagi nilai total rating suatu faktor dengan jumlah responden.
4.5 Quesioner
Untuk mendapatkan hasil data Matiks analisis SWOT dan Matrik Analisis External External maka penulis melakukan questioner pada 30 orang responden yg merupakan karyawan PT
43 Telkomsel dan Karyawan pada vendor yg bekerja pada project Telkomsel, hasil questioner tersebut terlihat pada lampiran berikut ini:
Tabel 3. Questioner
Ko de
Faktor-Faktor (Questioner)
Tingkat Kepentingan (Bobot)
Tingkat Keyakinan (Rating) Sang
at Tid ak Penti ng
Tida k Penti ng
Penti ng
Penti ng Sek ali
Sang at Tid ak Set uju
Tid ak Setu ju
Rag u- Rag u
Set uju
Sang at Setu ju
S1
Peningkatan jumlah pelanggan keseluruhan, peningkatan
double digit EBITDA dan Revenue.
Menempatkan Telkomsel sebagai operator selular terbesar di Indonesia dengan jumlah pelanggan terbanyak
S2
Operator telekomunikasi Telkomsel menerima penghargaan di acara Frost & Sullivan Asia Pasifik ICT Awards 2015 sebagai Asia Pasific Mobile Service Provider of the Year. Dengan perhargaan ini Telkomsel sudah dapat disejajarkan dengan operator tingkat dunia, dan memperoleh brand image yg lebih baik dimata para pelanggannya
S3
Budaya Perusahaan yang diimplementasikan oleh seluruh karyawan saat berinteraksi di tempat kerja dengan para pemangku kepentingan. Yaitu yg terdiri atas Integrity - Respect- Antusiasme - Loyalitas – Totalitas , telah menjadi agenda prioritas Top Manajemen memiliki tujuan untuk memenuhi peningkatan indeks tingkat Kepuasan Karyawan.
S4
Inovasi yang cepat dan beragam dalam layanan data dan VAS sehingga memberikan banyak pilihan kepada pelanggan sesuai dengan kebutuhan, bahkan memperoleh penghargaan pada tahun 2014, Telkomsel telah diakui sebagai yang tertinggi kedua menempatkan perusahaan dari Top 5 perusahaan untuk Bekerja di Asia di Asia Corporate Excellence & Sustainability (ACES)
Award
S5
Program CRM (Customer Relation Management), adalah proses bisnis yang inovatif terpadu dan untuk meningkatkan kualitas layanan kepada pelanggan. Dengan program ini Pada 2014, Layanan pelanggan Telkomsel menerima beberapa penghargaan di 2014 “Best Call Center and Customer Service Email Centers” dari CCSEA (Contact Center Service Excellence Award).
W 1
Bertambahnya jumlah karyawan serta dilakukannya Tansformasi Organisasi Perusahaan, membuat peningkatan labor cost sebesar 12,4%, dan banyak melakukan relokasi karyawan dari kantor pusat ke daerah luar. Proses ini tentu akan memerlukan biaya untuk akomodasi dan cost operational penempatan karyawan.
W 2
Penurunan nilai mata uang Rupiah tehadap US Dollar yg
berpotensi mempengaruhi keuangan PT Telkomsel.
W 3
Penurunan jumlah ARPU (Average Revenue Per User), pada pelanggan Post-Paid dari Rp.184rb menjadi Rp.172rb sehingga berpotensi menurunkan pendapatan perusahaan
W 4
Pengembangan jaringan dengan menambah jumlah BTS dan modernisasi BTS yang juga berarti menambah biaya untuk operasi dan pemeliharaan mengakibatkan meningkatkan pengeluaran perusahaan sebesar 10% (data tahun 2014)
W 5
Kenaikan biaya penyewaan frekuensi , BHP atau biaya hak penggunaan, yg harus dibayarkan ke pemerintah, berpotensi
untuk mengurangi pendapatan perusahaan
44 4.6 Hasil Quesioner
Tabel 4. Hasil Quesioner Ko
de R 1
R 2
R 3
R 4
R 5
R 6
R 7
R 8
R 9
R1 0 R1 1 R1 2 R1 3
R1 4 R1 5 R1 6 R1 7 R1 8 R1
9 R2
0 R2
1 R2
2 R2
3 R2
4 R2
5 R2
6 R2 7 R2
8 R2
9 R3
0 Tot
al Bob ot S
1
3 3 4 3 3 4 3 3 3 4 2 3 4 4 3 4 3 2 4 3 3 4 3 4 2 3 4 4 3 3 98 0.1 2 S
2
4 3 3 3 4 3 3 4 3 4 4 3 3 4 3 4 3 4 4 3 4 3 4 3 4 3 3 4 3 4 10 4
0.1 2 S
3
3 4 3 3 3 2 3 4 3 3 3 3 4 3 3 3 3 2 3 4 4 3 4 3 2 4 3 4 3 4 96 0.1 1 S
4
4 3 3 3 3 4 3 3 3 4 3 4 3 3 3 3 4 2 3 4 3 3 2 4 4 3 3 4 3 3 97 0.1 2 S
5
4 3 3 3 4 4 3 3 4 3 4 3 4 3 4 4 4 3 3 3 3 4 3 4 3 3 3 3 3 3 10 1
0.1 2 W
1
1 2 2 2 1 2 2 2 2 1 1 2 2 2 1 1 2 2 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 52 0.0 6 w
2
2 2 2 3 2 2 2 3 2 3 2 3 3 2 2 3 2 2 3 3 2 2 2 3 2 2 2 2 3 2 70 0.0 8 W
3
1 1 2 2 3 2 2 3 3 2 2 3 2 3 2 2 3 2 3 2 2 2 2 3 3 2 2 3 2 2 68 0.0 8 W
4
2 2 2 3 3 3 2 2 3 2 2 3 3 3 3 2 2 2 3 2 3 2 3 2 3 2 2 2 2 3 73 0.0 9 W
5
2 2 2 1 2 2 2 1 1 1 2 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 1 1 1 2 2 2 1 2 50 0.0 6
Tot al
26 25 26 26 28 28 25 28 27 27 25 29 29 28 26 28 28 23 30 27 27 27 26 29 26 26 26 30 25 28 80 9
0.9 68
4.7 Matriks Analisa SWOT
Untuk menentukan posisi kuadran pada matrik SWOT dipergunakan rumus2 sebagai berikut “
Sumbu X: Hasil Matriks Eveluasi Internal = Sumbu Y: Hasil Matriks Evaluasi Eksternal =
Sehingga untuk sumbu X, dari hasil perhitungan Questioner pada table 4.1 di atas, maka didapatkan hasil sebagai berikut:
Score Strenght – Score Weakness
= 1.93 – 0.81 = 1.12 Sumbu X berada pada nilai = 1.12
Untuk sumbu Y, sesuai dari hasil perhitungan questioner pada table 4.3 di atas maka didapatkan hasil sebagai berikut:
Score Oportunity – Score threat = 1.93 – 0.78 = 1.15
Sumbu Y berada pada nilai = 1.15
Dari hasil Sumbu X dan Y yg telah dihasilkan perhitungan di atas,maka dihasilkan kuadaran SWOT sebagai berikut:
Gambar 5. Kuadran SWOT PT.Telkomsel
Dari hasil perhitungan sumbu X,Y diatas dapat dikatakan perusahaan PT Telkomsel berada pada kuadran 1 sesuai dengan Gambar 4.1.
Strategi yang dikembangkan harus bersifat dan mendukung Strategi Implementasi pertumbuhan perusahaan yang agresif dalam melanjutkan layanan saat ini dan menuju implementasi jaringan LTE. Jika demikian maka strategi yang dikembangkan adalah strategi SO (strength- oportunity) sesuai dengan hasil pemetaan pada kuadran. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, SO strategy dikembangkan dengan memadukan faktor kekuatan pada matriks evaluasi internal, dan faktor peluang pada matriks evaluasi eksternal. Dari faktor-faktor tersebut akan dihasilkan pilihan strategi yang dapat menjadi strategi yang dapat memberikan hasil terbaik bagi perusahaan.
Dengan melakukan SWOT, PT Telkomsel berada dalam kuadran 1, yakni berada pada posisi suatu perusahaan memiliki peluang dan kekuatan sehingga dapat memanfaatkan peluang yang ada.
Strategi yang mendukung adalah Growth Oriented Strategy. Analisa ini sesuai dengan strategy yang telah diterapkan Telkomsel selama ini yaitu Double Digit Growth Revenue dan Double Digir Growth EBITDA , yaitu terus meningkatkan pendapatan dan keuntungan perusahaan.
Dengan menggunakan SWOT juga tercipta strategi utama yang mencerminkan kondisi PT Telkomsel berdasarkan faktor-faktor pada matriks
45 evaluasi internal dan eksternal. Strategi yang diciptakan meliputi keterkaitan pengaruh faktor- faktor tersebut terhadap strategi Telkomsel dalam melakukan implementasi jaringan LTE.
4.8 Analisa Grand Strategy
Posisi PT Telkomsel pada kuadran 1, seperti terlampir pada gambar dibawah ini,
Gambar 6. Kuadran SWOT
Analisa yang dilakukan pada matriks strategi besar tidak terlalu berbeda dengan analisa yang dihasilkan dengan menggunakan SWOT.
Pada matriks strategi besar PT.Telkomsel menempatkan posisi pada kuadran 1, jika dilihat dari faktor faktor kekuatan yang telah dicapai.
Adapun kuadran 1 adalah kondisi saat perusahaan melakukan pengembangan produk, penetrasi pasar, integrasi ke depan, dan lain sebagainya.
Kondisi keuangan PT. Telkomsel yang positif, dan bertambah terus membuat PT. Telkomsel berada di kondisi yang baik dan layak ditempatkan pada kuadran 1. Artinya hal ini sejalan dengan analisa yang dilakukan dengan metode sebelumnya. Dapat dikatakan bahwa setelah analisa matriks strategi besar, hasil analisa semakin memperuat strategi PT Telkomsel untuk memajukan perusahaan dengan penetrasi pasar, dan pengembangan produk termasuk dalam melakukan implementasi LTE.
Hasil ini juga sesuai dengan hasil analisa pada matriks evaluasi Internal External, yaitu perusahaan berada pada posisi Hold and Maintain, dimana pada posisi ini perusahaan terus melakukan upaya2 panetrasi pasar dan terus
menciptakan pengembangan2 produk yg sesuai dengan kebutuhan pasar, dalam hal ini kebutuhan akan akses kecepatan data yg bisa dipenuhi oleh teknologi 4G atau LTE
V. PENUTUP 5.1 Kesimpulan
Berdasarkan metode SWOT disimpulkan bahwa PT. TELKOMSEL saat ini berada pada kondisi Growth Oriented Strategy dimana strategi terbaik adalah melakukan strategi agresif dan terus melakukan penetrasi pasar serta terus melakukan inovasi2 market pada produk2 yg dijual ke masyarakat. Semakin banyak pilihan maka konsumen akan semakin tertarik dan menjadi loyal. Kondisi perusahaan PT. TELKOMSEL saat ini berada pada kuadran 5 pada Matriks Internal Eksternal, yakni pada posisi hold and maintain dengan strategi penetrasi pasar dan pengembangan produk mendukung strategi agresif dalam melakukan implementasi jaringan LTE sebagai bentuk pengembangan produk dan penetrasi pasar.
Posisi PT. TELKOMSEL pada Matriks Strategi Besar adalah pada kuadran 1, yakni melakukan penetrasi pasar dan pengembangan produk.
Dengan implementasi LTE diharapkan semakin banyak produk aplikasi yg memerlukan akses data tinggi yg semakin bisa dijual ke konsumen.
5.2 Saran
Dalam pengembangan dan
pengimplentasian LTE diharapkan TELKOMSEL menerapkan strategi Same Price, yaitu konsumen atau pelanggan tetap mendapatkan harga yg sama apabila berada pada jaringan LTE. Dengan mendapatkan akses data kecepatan tinggi maka konsumen akan semakin sering melakukan akses data, sehingga pendapatan TELKOMSEL akan semakin meningkat. Hal ini penting dilakukan agar tidak mengulang kegagalan pada beberapa operator di negara lain (contoh Philipina), dimana melakukan perbedaan harga bagi konsumen yg melakukan akses ke jaringan LTE, sehingga konsumen enggan untuk melakukan akses ke jaringan LTE, dikarenakan harga yg lebih mahal.
Akibatnya Implementasi jaringan LTE tidak dimanfaatkan maksimal oleh pelanggan. Data menunjukan bahwa banyak pelanggan Telkomsel
46 masih memepergunakan handphone dengan kemampuan 2G bahkan tanpa koneksi data. Untuk itu TELKOMSEL bekerja sama dengan produsen handphone perlu melakukan strategi bunding Handphone dengan kemampuan 2G,3G dan LTE.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Annual Report PT Telkomse 2014, http://www.telkomsel.com/media/upload/
annualreport/AR_TSEL2014.
[2] M. Suryanegara, In_searching for 4G mobile service applications The case_of the Indonesian market In searching for 4G mobile service applications The case of the Indonesian market www.academia.edu/12642294/
[3] Sri Ariyanti, Puslitbang Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika, Kominfo- Kementrian Kominfo, “Study of Long Term Evolution Network Planning in Jabodetabek, Case Study of PT. Telkomsel”.
[4] Beming, Per. Frid, Lars. Hall, Goran. Malm, Peter. Noren, Thomas. Olsson, Magnuss. Rune, Goran”, 2007. LTE-SAE architecture and performance. Ericsson Review, 2007.
[5] Final Report for UMTS : Global Mobile Broadband: Market potential for 3G LTE (Long Term Evolution), Analysys Research Limited, 2008.