25 BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI
2.1 Kajian Pustaka
2.1.1 Penelitian Terdahulu
No Judul Temuan dan hasil penelitian Relevansi dalam Penelitian 1 Eksistensi Budaya
Patron Klien Dalam Pesantren
(Studi Hubungan Antar Kiai dan Santri)
Eko Setiawan
1. Model hubungan Kiai dan santri di Pesantren Daarul Fikri ada dua tipe: pertama, pola hubungan guru-murid adalah hubungan yang terjalin antara Kiai dan santri sebagaimana layaknya antara guru dengan murid dalam pola hubungan formal. Kedua, pola hubungan bapak dan anak, yaitu pola hubungan yang terjalin antara Kiai
dengan santrinya
sebagaimana layaknya antara bapak dengan anak 2. Faktor yang menyebabkan
budaya patron klien dapat bertahan sampai sekarang antara lain: Kepemimpinan karismatik Kiai, nilai barakah dan nilai kualat:
landasan spiritual realitas sosial Kiai, ikatan seumur hidup antara Kiai dengan santri.
1. Relevansi dalam penelitian ini adalah sama digunakannya metode penelitian kualitatif.
2. Penentuan subjek menggunakan purposive sampling dengan Teknik pengumpulan data obervasi partisipatif, wawancara mendalam dan studi documenter 3. Relevansi yang sama
dalam hasil pemelitian ini adalah adanya nialai tawadu’ yang masih dipegang oleh para santri
2 Pengikut Manhaj Salaf Di Tengah Gempuran Modernitas Ninung Farihani Nazwa
1. Hasil penelitian ini ditemukan bahwa cara pengikut manhaj salaf menghadapi modernitas yaitu dengan melakukan filtrasi Dalam menghadapi produk-produk modernitas, seperti perkembangan
1. Relefansi dalam penelitian adalah menggunakan metode penelitian Kualitatif dengan wawancara dan obsevasi yang mendalam 2. Relefansi dalam hasil peneilitain aadalah
26 teknologi dan trend baju,
mereka tidak menerima begitu saja produk-produk modernitas tersebut.
2. Acuan mereka dalam menentukan sikap akan menerima atau menolak modernitas, yaitu Al- Qur’an, Hadist, serta pemahaman para sahabat yang dulu telah diteruskan oleh generasi selanjutnya, versi penafsiran mereka.
Karena menurut mereka, sahabat dan generasi selanjutnya, yang dalam Islam disebut sebagai orang-orang salaf, adalah orang-orang yang paling benar dalam menjalankan Islam menurut mereka.
adanya keajegan dalam melanggengkan nilai- nilai salaf dalam sebuah manhaj
3 Kebertahanan Pesantren Tradisional Menghadapi Modernisasi Pendidikan Mohammad Muchlis Solichin
1. Bertahannya Pesantren Al- Is’af dengan sistem pendidikan tradisionalnya tidak terlepas dari pandangan dan prinsip pengasuh pesantren bahwa mendalami ilmu-ilmu keislaman adalah wajib dan harus melalui sumber aslinya, yaitu kitab-kitab klasik berbahasa Arab.
2. Pesantren Al-Is’af dalam bertahan dengan pendidikan tradisional, mempraktikkan prinsip-prinsip yang dikenal dalam pendidikan modern
(sekolah), yaitu
penjenjangan, sistem bimbingan belajar secara individual dan kelompok, sistem evaluasi yang obyektif, rutin dan melembaga, prasyarat dan keterkaitan dalam bidang ilmu yang ditekuni, sistem asistensi, perencanaan dan evaluasi program,
1. Relevansinya adalah digunakannya
pendekatan secara sosisologi dan kualitatif yang dideskripsikan secara realistis sebagaimana adanya.
2. Sumber data bersifat langsung dan tersetting secara natural dengan peneliti sebagai intrumen kunci dalam penelitian
3. Sama mengkaji tentang praktek salaf pada
sebuah pondok
pesantren
27
penjaminan dan
pengendalian mutu pendidikan, rekrutmen ustad berdasarkan kompetensi yang dimiliki, kepengurusan dalam pengelolaan pesantren.
4 Budaya Pesantren Salafi (Studi Ketahan Pesantren Salafi Di Provinsi Banten)
M. Syadeli Hanfi
1. Nilai-nilai kekeluargaan, kebersamaan dan suka menolong, budaya kualitas, serta kejujuran dan tanggung jawab merupakan wujud budaya organisasi pesantren salafi. Nilai-nilai tersebut terbangun dan tetap lestari karena sikap tawadzu yaitu kepatuhan total para santri kepada kiai sebagai figure sentral dan panutan hidup santri.
2. Realitas memperlihatkan ketangguhan pesantren salafi untuk tetap eksis dan berkembang di masyarakat.
Ketangguhan ini didukung oleh nilai-nilai luhur yang dijunjung pesantren salafi, yaitu nilai kekeluargaan, kebersamaan dan suka menolong, budaya kualitas, serta kejujuran dan tanggung jawab. Nilai-nilai ini merupakan nilai-nilai yang hidup di masyarakat
setempat. Dengan
demikian, tidak terjadi konflik nilai antara pesantren salafi dengan masyarakat.
1. Relevansi dalam penelitian ini adalah menggunakan metode kualitatif
2. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara mendalam dan
dokumentasi.
3. Relevenasi dalam hasil penelitian adalah
budaya dalam pesantren salaf yang digunakan dalam pola belajar mengajar dalam pondok pesantren
5 Makna Santri Ngenger Di Pondok Pesantren Sunan Drajat
Ila Fakiha dan M.
Ali Haidar
1. ngenger adalah kepatuhan seorang santri kepada kiainya. Kepatuhan yang dimiliki oleh santri ngenger, tidak hanya patuh terhadap peraturan yang ada di pondok. Adapun diantara kepatuhan yang dimiliki oleh santri ngenger yakni
1. Relevansi dalam penelitian ini adalah metode penelitian yang digunakan yaitu metode kualitatif yang
dideskripsiakn dengan holistic
2. Penentuan subjek bersifat purposive
28 dengan patuh mengenai izin
saat boyong atau berhenti ngenger. Kepatuhan tersebut untuk mendapatkan barokah, santri ngenger tersebut tetap tinggaldi pondok sebagaimana perintah kiainya.
2. Motif-motif dan sebab santri melakukan ngenger sebagai berikut: 1) Ekonomi, 2) Belajar Ilmu Tasawuf, 3) Belajar Ilmu Suwuk, dan 4) Mengubah Keadaan Masyarakat Desa.
Sedangkan motif tujuannya adalah: 1) Menahan Hawa Nafsu, 2) Dekat dengan Kiai, 3) Mencari Ilmu dan Belajar Agama, dan 4) Ingin Menjadi Kiai. Sehingga makna dari ngenger ini adalah sebagai berikut; 1) Belajar Ikhlas, 2) Ucapan Terima Kasih, 3) Mencari Barokah Kiai.
sampling dengan tahap pengumpulan data mengguanakn observasi dan wawancara
3. Relevansi selanjutya adalah hasil penelitian yang menunjukan pola tawadu’ dan taat santri kepada kiai
6 The Existence of Salaf Islamic Boarding School amid the Flow of Modern Education (A Multi-site Study at Pesantren Salafy in Central Java) EKSISTENSI PESANTREN SALAF DI TENGAH ARUS PENDIDIKAN MODERN (Studi Multisitus pada Beberapa Pesantren Salaf di Jawa Tengah)
Rustam Ibrahim
1. Pesantren salaf eksis karena peran kiai sebagai penentu kebijakan di pesantren yaitu setiap ide, gagasan, usulan dan keputusan berdasarkan restu kiai.
2. Ragam nilai yang terdapat dalam pesantren, seperti nilai ikhlas yang selalu menjiwai santri, barokah dalam kehidupan, nilai agama yang menjadi tujuan hidup pesantren, nilai salaf yang selalu dipertahankan, dan nilai hormat dan patuh terhadap kiai.
3. Kurikulum pesantren salaf untuk mendalami ilmu agama, berdasarkan kitab kuning yang menjadi ilmunya ulama salaf.
Kurikulum itu menjadi
1. Relevansinya adalah digunakannya
pendekatan kualitatif dalam penelitian tersebut serta digunakaknanya pengumpulan data dengan wawancara dan juga obersarvasi partisipatif didalamnya 2. Sama-sama mengkaji
tentang pesantren dan juga ragam nilai salaf didalamnya serta relasi anatara kiai dan santri dalam pondok pesatren
29 tujuan santri untuk
mendalami ilmu agama di pesantren.
4. Pesantren salaf masih menjadi ujukan masyarakat, ribuan masyarakat banyak mengikuti kegiatan yang pesantren salaf, seperti pengajian dan istighosah.
Pesantren salaf dalam melahirkan alumni yang berkualitas sehingga banyak masyarakat menjatuhkan pilihan pesantren salaf sebagai sekolah anaknya karena melihat kualitas alumni.
30 2.2 Tinjauan Pustaka
2.1.2 Pondok Pesantren
Istilah pondok pesantren mempunyai arti asrama-asrama para santri yang disebut sebagai pondok atau tempat tinggal yang biasanya terbuat dari bambu atau barangkali merupakan kata dari bahasa arab fundug , yang mempunyai arti hotel atau asrama (Dhofier, 1982:18).
Nurcholis Madjied (1997:20) mengatakan santri yang berarti orang-orang yang berlajar kepada para guru agama. Santri dapat diartikan sebagai sebagai kelompok sosio-religius, yakni hubungan mendasar antara masyarakat akan terdorong ke dalam perhimpunan tersebut. Sehingga, dapat ditarik sebuah makna bahwa pondok pesantren merupakan tempat tinggal para santri yang biasanya masih berdekatan dengan rumah kiai ataupun musholla atau masjid yang menjadi pusat belajar mengajar para santri. Dalam pondok pesantren ini pula para santri tinggal bersama dan belajar di bawah bimibingan seorang guru ataupun kiai.
Pondok merupakan ciri sebuah tradisi pesantren yang membedakan dari sistem pendidikan lainya. Ada tiga alasan mengapa pesantren harus menyediakan asrama ataupun pondok bagi para muridnya. Pertama, kemasyhuran seorang kiai dan penguasaan pengetahuanya tentang islam menarik minat santri dari jauh. Agar dapat menggali dan belajar ilmu dari kiai tersebut secara terus menerus dan teratur dalam waktu yang relatif lama, para santri harus meninggalkan kampung halaman mereka dan menetap dekat dengan kediaman kiai. Kedua, hampir semua pesantren berada di desa-desa
31 dimana cenderung tidak tersedia akomodasi yang cukup untuk menampung santri-santri, maka perlunya suatu asrama khusus bagi para santri. Ketiga, sikap timbal balik antara kiai dan santri. Santri menganggap kiai sebagai bapaknya sendiri, sedangkan kiai menganggap santi sebagai amanat dan titipan tuhan yang harus dilindungi. Relasi timbak balik ini menimbulkan keakraban dan kebutuhan untuk saling berdekatan untuk waktu yang relatif lama.
Rasa ini membuat kiai harus mempunyai tanggung jawab dalam menyediakan tempat untuk tinggal para santri. Para santri pun tumbuh perasaan pengabdian kepada kiai, sehingga kiai memperoleh imbalan dari para sanri sebagai sumber tenaga dalam kepentingan pesantren.
Pesantren sendiri dapat dibedakan pesantren Salaf(tradisional) dan pesantren kholaf (modern). Secara sosiologis pesantren salaf dapat diartikan pesantren salaf adalah pesantren yag menggunakan metode pembelajaran yang mengajarkan ilmu agama, seperti : Al- Quran, Hadits, fiqih, akidah ahlak, sejarah islam, faraidh (ilmu waris secara islam) ilmu falak, ilmu hisab. Sering materi pembelajaran dikaji memakai buku berbahasa arab biasanya berbentuk kitab kuning, kitab gundul, kitab klasik islam. Sedangkan pesantren kholaf (modern) adalah pesantren yang sudah mengadopsi dari sistem Pendidikan modern dan materi yang dipelajari merupakan kombinasi antara ilmu agama dan ilmu umum. Pesantren modern ditekankan pada kemampuan berbahasa asing secara lisan maupun tulisan.
Adapun perbedaan dari keduanya dapat di jabarkan sebagai berikut :
32 Perbedaan
pesantren
Salaf (tradisional) Khalaf (modern)
Metode
Pembelajaran
• Sorogan adalah sistem belajar mangajar dimana santri membaca kitab atau Al-Quran yang dikaji depan kiai.
• Wethonan/badongan dimana kiai membaca kitab/Al-
Quran atau
mengulas buku- buku islam yang dikaji sedang santri mendengarkan, menyimak atau memberi makna pada kitab atau pun buku tersebut.
• Umumnya memakai sistem klasikan atau kelas
• Ilmu umum dan agama sama-sama dipelajari
• Penekanan pada penguasaan bahasa asing Arab dan Inggris
• Penguasaan kitab kuning relatif kurang
• Sebagaian memakai kurikulan sendiri atau pun kurikulum dari pemerintah
Ciri khas kultur dan administratif
• Santri lebih hormat dan tawadu’ kepada kiai, guru ataupun seniornya
• Tidak ada senioritas dan tindak kekerasan pada junior
• Hukuman atau sanksi bersifat non fisikal, seperti mengaji, menyapu, atau mengepel ataupun lainnya
• Keseharian
memakai pakaian sederhana, seperti : sarung, peci baju taqwa/gamis.
• Lebih disiplin dan lebih agresif
• Santri senior mendominasi.
Kekerasan menjadi budaya dalam memberi sanksi.
Ditemukan juga yang mirip militer
• Sikap tawadu’ dan sopan santun terhadap kiai, guru
agak kuran
dibanding standar pesantren salaf
• Penerimaan santri baru dengan sistem seleksi sehingga bisa
33
• Berafiliasi kultural dengan Nahdltul Ulam (NU), Fiqih bermadzab Imam Syafi’I, akidah tauhid Asy’ariyah Maturidiyah,
tarawih 20 rakaat plus 3 rokaat witir
pada bulan
Ramadan, baca qunut pada shalat Subuh, membaca tahlil pada tiap malam Jum’at, peringatan Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj.
• Sistem penerimaan siswa baru tanpa selesai. Santri yang mendaftar langsung diterima.
Penempatan kelas atau kelompok belajar berdasarkan ilmu agama yang dimiliki
sebelumnya.
• Biaya masuk related lebih murah dan tidak ada daftar ulang setiap tahunnya
• Infrastruktur saran dan prasarana pondok yang lebih sederhana
saja tidak semua calon santri diterima
• Biaya masuk
biasanya relatif lebih mahal dari pesantren salaf dan juga adanya daftar ulang setiap tahunnya.
• Secara finansial, infrastruktur dan saran prasan lebih tercukupi
34 Ciri khas
kualitas keilmuan
• Menguasai literatur kitab klasik islam, kitab kuning, kitab gundul dalam bahasa arab dalam berbagai disiplin ilmu agama
• Menguasai ilmu gramatika bahasa Arab, nahwu &
Sharaf, balaghah (many, bayan, badi’) dan mantiq untuk pondok salaf kitab adapun salaf tahfidz lebih menekankan pada hafalan penguasaan Al- Quran.
• Dalam memahami dan memaknai kitab menggunakan sistem makna gandul, jenggoti, pegon jawa, ataupun terjemahan bebas
• Relatif pintar bahasa asing tapi kurang menguasai kitab
klasi atau
kitabkuning karya para ulama salaf
• Kemampuan
membaca kitab gundul kurang
• Kemampuan
memahami Al-Quran dan tafsirnya relatif kurang
• Kemampaun dan pengetahuan hadits relatif kurang
• Kemampuan ilmu fikih serta ushul fikih relatif kurang
• Kemampuan
gramatikan arab seperti nahwu &
sharaf, balaghah, mantiq relatif kurang.
2.1.3 Nilai Salaf
Salaf sendiri mempunyai arti secara bahasa yaitu sesuatu atau orang terdahulu. Makna salaf sendiri adalah sesuatu yang dilakukan oleh terdahulu. Kiai nasyit sendiri mendefinisikan salaf berarti apa yang diajarkan orang terdahulu khususnya para ulama. Dalam perkembangannya sendiri nilai salaf ini menjadi nilai yang dianut oleh sebuah pondok pesantren sehingga sering disebut sebagai pesantren salaf. Sistem nilai yang dianut oleh warga pesantren ini sebagai pedoman hidup dalam menjalankan kehidupan di pondok pesantren.
35 Nilai-nilai salaf menjadi prinsip dasar dalam menjalankan aktifitas keseharian. Nilai-nilai tersebut menjadi landasan dalam menjalan program-program yang ada di pesantren guna mencapai tujuan tertentu. Nilai-nilai tersebut diajrkan melalui kurikulum khas pesntren salaf. Rustam Ibrahim (2015:151-158) menyebutkan bahwa dalam pesantren salaf sendiri ada beberapa nilai yang sering di lakukan oleh para penghuni pesantren. Nilai tersebut adalah Nilai agama, nilai keikhlasan, patuh kiai dan nilai barokah.
Nilai agama merupakan suatu hal yang utama dalam pesantren salaf. Masyarakat menyekolahkan para anaknya ke pesantren karena pelajaran agama yang lebih intensif dan mendalam. Nilai agama menjadi dasar dan tujuan dalam sebuah pendidikan pesantren guan mencentak alumni yang berkompeten dalam bidang agama. Tujuan dari pada pesantren salaf adalah mendidik santri dan masayrakat agar mendalami ilmu agam serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Nilai keikhlasan merupakan ciri khas pesantren salaf. Semua hal yang dilakukan oleh kiai dan santri didasari niat tulus dan ikhlas.
Tanpa keikhlasan, sebesar apapun amalnya, akan sia-sia. Keyakinan ini terpatri dalam keyakinan pesantren salaf. Pada dasarnya keikhlasan tidak dapat dilahat secara kasat mata akan tetapi “semangatnya” dapat diketahui dari beberapa indikator. Nilai keikhlasan dapat dimulai dari kepemimpinan kiai yamg mendirikan pondok tanpa kepentingan apapun, hanya untuk mengabdikan dan mengamalkan ilmunya kepada
36 Alloh SWT. Mengajar adalah sebuah kewajiban. Mengurus santri adalah medan perjuangan menempa jiwa para sanri untuk siap terjun dalam masyarakat. Kiai menularkan nilai tersebut kepada santri untuk mandiri dan siap mengabdi baik didalam pondok ataupun dimasyrakat. Diharapkan santri yang terbiasa ikhlas mudah baginya untuk berjuang dimasyarakat tanpa mengharapkan bayaran.
Nilai patuh kiai merupakan hal yang prinsipil dalam mendapatkan ilmu yang barokah (barokah). Kepatuhan kepada kiai biasanya dilakukan dalam beberapa hal. Pertama, berkhidmah kepada kiai baik sebagai abdi dalem, sebagai pengurus, sebagai guru. Kedua, memnita segala persetejuan dan restu kepada kiai dalam kegiatan yang berhubungan dengan pesantren. Ketiga, patuh perintah kiai sampai urusan pribadi santri, seperti larangan untuk pulang kampung sebelum menyelesaikan pendidikan, atau tawaran untuk menikah meski belu selesai masa pendidikan. Keempat, patuh kiai sejak masih mondok dan keluar pondok. Tidak ada mantan kiai atau mantan santri. Sekali kiai tetap kiai, sekali santri tetap santri.
Ali Anwar (2011:130) mengatakan bahwa kepatuhan kepada kiai lebih dari kepatuhan seorang santri terhadap guru kelasnya.
Maksudnya meskipun kiai tidak mengajar dikelas dan hanya mengajar ngaji, akan tetapi karena guru kelas selalu mengatakan bahwa dirinya hanyalah wakil kiai dan sama-sama ingin mendapatkan barokah dengan jalan mengabdi, maka posisi kiai menjadi sangat kuat. Para
37 guru trtap memposisikan sebagai murid kiai, sehingga posisi kiai dianggap lebih dari pada guru.
Nilai barokah/barokah secara bahasa mempunyai arti semakin bertambah atau bermanfaat. Dapat juga diartikan sebagai tumbuh, berkembang, untung, dan bahagia. Barokah dimaknai sesuatu yang menambah kebaikan kepada sesama. Kepercayaan akan barokah atau barokah, merupakan energi positif dalam membentuk karakter santri untuk berperilaku bail, meskipun secara materiil tidak mendapatkan imbalan. Barokah adalah tidak terlihat secara indrawi, tapi bisa dirasakan manfaatnya. Ilmu sedikit tapi bermanfaat, merupakan ilmu yang barokah. Ketenangan, ketentraman, kedamaian, kelapangan dada, juga tanda ilmu yang barokah. Kejujuran, kesungguhan, kerja keras, integritas, keramahan, kesantunan, kesopanan, merupakan nilai-nilai yang diyakini dapat menjadi sumber untuk mendapat ilmu yang barokah. Keyakinan akan nilai barokah, diyakini dapat menjegah santri dari berperilaku buruk dan diyakini sebagai jalan untuk mendapatkan ilmu yang barokah.
2.1.4 Relasi Kiai dan Santri
Kiai dalam pesantren dapat diumpamakan sebagai jantung bagi kehidupan manusia. Kiai adalah perintis, pendiri, pengelola, pengasuh, pemimpin, dan juga pemilik pesantren. Kebesaran nama sebuah pesantren sangat ditentukan oleh nama besar kiainya. Semakin tinggi kitab-kitab yang diajarkan, semakin alim dan tinggi pula kedudukannya di mata masyarakat, sehingga makin banyak orang datang meminta nasihat dan bimbingan kepadanya. Oleh sebab itu,
38 banyak pesantren salaf yang akhirnya bubar lantaran ditinggalkan wafat kiainya. Sementara kiai tidak memiliki keturuan yang dapat melanjutkan perjuangannya (Bawani, 1993:90)
Kiai memiliki sebuah kearifan yang mampu tercermin dalam sikapnya merespon sebuah persoalan. Kiai memilik kemampaun untuk mendialogkan prinsip-pirnsip ajaran islam dengan realitas kehidupan sehari-hari. Kiai selalu memberikan solusi pada suatu persoalan. Kiai sebagai tempat bertanya, mengadu, dan tempat berkeluh kesah bagi santrinya. Kiai mempunyai hubungan dialektis dengan santri. Di satu sisi kiai merupakan produk sosial sebuah struktur sosial, namun disisi lain juga berperan sabagai pembentuk struktur sosial masyarakat ataupun para santri. Terdapat hubungan timbal balik antara kiai dan santri.
Kiai dipandang superioritas dalam ilmu agama dan sebagai pemimpin dalam sebuah pesantren. Kiai mempunyai pengaruh yang besar terhadap masyarakat atau pun dalam pondok melalui charisma yang dimiliki. Sehingga, kiai menjadi figure dambaan dan mendapat tempat yang mulai dan tinggi dalam sebuah masyarakat dan pondok pesantren. Seorang santri merupakan seorang murid dan merupakan elemen penting dalam tardisi pesantren yang kedudukannya lebih rendah dari seorang kiai. Seorang santri dapat dikatakan sebagai seorang pengikut yang senantiasa taat, tawadu’ dan hormat.
Di kalangan santri, figur kiai, secara umum kerap dipersepsikan masyarakat sebagai pribadi yang integratif dan merupakan cerminan
39 keilmuan dan kepemimpinan, ‘alim, menguasai ilmu agama (tafaqquh fiddin) dan mengedepankan penampilan perilaku berbudi yang patut
diteladani umatnya. Semakin tinggi tingkat kealiman dan rasa tawadlu’ sang kiai akan semakin tinggi pula derajat penghormatan yang diberikan santri dan masyarakat. Santri sebagai elemen dalam tradisi pesantren yang kedudukannya lebih rendah dari kiai. Sebagai pengikut, santri harus senantiasa taat, tawadu dan hormat kepada gurunya. Santri dalam kehidupan sehari-harinya harus senantiasa mengikuti.
Perasaan hormat dan kepatuhan mutlak dari seorang murid kepada gurunya yang tidak boleh terputus, berlaku seumur hidup seorang murid. Hal tersebut ditunjukkan para murid dalam seluruh aspek kehidupannya, melupakan ikatan dengan guru merupakan kejelekan dan akan menghilangkan barakah guru dan pada akhirnya ilmu yang dimiliki oleh seorang murid tidak bermanfaat. Hal tersebut dilakukan karena keyakinan murid kepada kedudukan guru sebagai perantara kemurahan Tuhan yang dilimpahkan kepada murid- muridnya, baik di dunia maupun di akhirat.
Hubungan kiai dengan jajaran pengurus dan para guru tidak meciptakan sebuah diskriminasi kedudukan, namun ada semacam usaha agar hubungan itu saling bersangkut paut dengan menjalankan fungsi masing-masing, sehingga dinamika proses belajar mengajar tampak berjalan dengan optimal. Kiai memliki peran ganda yaitu sebagai pengasuh pesantren dan pemimpin jalannya proses
40 pendidikan dan disisi lain sebagai ulama yang menstranferkan ilmunya kepada santri. Degan mengajarkan kitab kuning ataupun ilmu agama kiai dapat berkomunikasi langsung dengan santri dan dapat memberikan nasihat untuk bekal santri ketika berada dalam masyarakat. Hal yang penting dalam proses belajar mengajar tersebut kiai dapat menginternalisasikan nilai-nilai akhlak kepada santri yangakan menjadi kader ulama guna mengantisipasi kehidupan di era globalisasi ( Muhtarom, 2005:154)
2.2 Landasan Teori
2.2.1 Religion as a Cultural System (Clifford Geertz)
Geertz sendiri merupakan seorang antropolog asal amerika sehingga perhatian karyanya mendalam tentang etnografi dilapangan.
Geertz menekankan bagaimana berkerjanya “kultur” dan bukan pada bagaimana simbol-simbol berlaku dalam proses sosial. Ia berfokus tentang bagaimana individu “melihat, merasakan, dan berfikir tentang dunia sekitarnya”. Religion as a cultural system adalah sumber utama yang menjadi kerangka teoristis tentang agama, dengan pendekatan subjek yang disebutnya sebagai analisis dimensi kultural. Dalam pandangan Geertz budaya adalah pola makna yang terlekat dalam simbol yang ditranmisikan secara historis, sebuah sistem pewarisan konsepsi yang diekspresikan dalam bentuk simbol. Agama sebagai bagian dari budaya, agama menawarkan simbol-simbol yang bersifat sakral, yang berfungsi memadukan etos (perasaan-perasaan)—irama, karakter dan kualitas hidup, moral estetika, mood, pandangan dunia—gambaran yang
41 dimiliki manusia tentang cara memahami realitas sekitar yang merupakan tatanan hidup merupakan tatanan ide yang paling komprehensif.
Menurut Geertz (dalam Daniel L Pals 2012, 342) agama merupakan satu sistem simbol yang bertujuan untuk menciptakan perasaan dan motivasi yang kuat, mudah menyebar, dan tidak mudah hilang dalam diri seseorang dengan cara membentuk konsepsi tentang kehidupan ini kepada pancaran-pancaran faktual, dan pada akhirnya perasaan dan motivasi ini akan terlihat sebagai suatu realitas yang unik.
Pertama, sebuah sistem simbol adalah segala sesuatu yang memberi seseorang ide. Ide dan simbol-simbol tersebut adalah milik publik atau sesuatu yang berada diluar individu. Meskipun simbol tersebut tertanam dalam pemikiran individu secara privat, namun juga bisa “diangkat” dari otak individu yang memikirkan simbol tersebut.
Kedua, simbol dan ide itu menciptakan perasaan dan motivasi yang kuat, mudah menyebar dan tidak mudah hilang dalam diri seorang.
Agama menyebabkan individu seseorang atau melakukan sesuatu.
Motivasi memiliki tujuan tertentu selanjutnya orang yang termotivasi tersbut akan dibimbing oleh seoarangkat niali yang dianggap penting, baik atau buruk dan juga benar atau salah.
Ketiga, konsepsi dan pengetahuan tentang dunia dan serangkaian motivasi dan dorongan-dorongan yang diarahkan oleh moral ideal yang merupakan inti dari agama. Pandangan tentang hidup serta dunia dan juga etos atau ide ide konseptual dan kecenderungan adat istiadat.
42 Keempat, agama akan melekatkan konsep-konsep ini “aura faktual” pada akhirnya perasaan dan motivasi tersebut akan terlihat sebagai realitas yang unik. Dapat disederhakan bahwa agama akan membentuk suatu tatanan kehidupan dan sekaligus memiliki posisi istimewa dalam tatanan tersebut.
Kelima, hal yang membedakan agama dan sistem kebudayaan lain adalah sebuah simbol-simbol yang menyatakan kepada individu bahwa ada yang benar-benar nyata dan riil yang dianggap begitu penting dari apa pun yaitu sebuah perpaduan motivasi (etos) dan pandangan hidup atau dunia yang bisa ditemukan dalam salah satu upacara keagamaan dalam masyarkat.
Gertz (dalam Sindung 2016:83) budaya merupakan seperangkat makna atau ide yang berada pada simbol-simbol dimana orang memperoleh sebuah pengetahuan dan pengalaman hidup dan mengekspresikan sikapnya. Agama terdiri dari pandangan dunia dan etos yang saling mempengaruhi satu sama lain. Seperangkat kepercayaan orang tentang sesuatu yang nyata, keberadaan Tuhan, dan sebagainya (pandagan dunia) yang mendukung seperangkat nilai moral dan emosi (etos) yang mengarahkan kehidupan mereka, kemudian membenarkan kepercayaannya. Manusia hidup pada sistem makna yang kompleks maka dari itu tugas antropolog adalah menafsirkan perilaku manusia dengan menekankan pada budaya bukan pada masyaraktanya.
Simbol sakral atau kata lainnya agama memaknai peran yang penting dalam menciptakan gambaran dunia yang berhubungan dengan
43 etosnya. Simbol sakral ini membuat etos sacara intelektual yang masuk akal lalu menjadi gaya hidup ideal dengan penyesuaian dengan lingkungan dan keadaan yang mengekspresikan pandagan dunia.
Pandangan dunia meyakinkan karena sudah dibangun berdasarkan sesuai dengan gaya hidup aktual. Etos dan pandangan hidup menjadi sama-sama menguntungkan. Simbol-simbol agama melakukan sebuah kesesuaian mendasar antara gaya hidup khusus dan metafisik khusus dalam mempertahankan otoritas masing-masing.
Menurut Geertz (dalam Segal, 2003:23) sebagaimana budaya agama adalah produk masyarakat (sosial) bukan hanya individu. Agama juga beroperasi secara sosial ketimbang individual. Selain berfungsi sebagai individu, agama juga berfungsi bagi masyarakat. Sesungguhnya agama juga berada proses yang melayani individu. Karena agama akan lebih menampilkan etos alami daripada konvensional, agama menghimpun pandangan tentang dunia, oleh karena itu merupakan dimensi etos, nilai, kebiasaan, dan institusi sosial. Agama sebagaimana gabungan dari etos dan pandangan dunia memberikan seperangkat nilai sosial yang paling dibuthkan untuk melakukan pemaksaan. Dalam nilai dan ritual suci, mitos yang digambarkan bukan sebagai preferensi subjektif manusia , melainkan sabagai gambaran kondisi-kondisi kehidupan di dunia dengan sesuatu struktur khusus.
Kehidupan sosial di Pondok Pesantren Tahfidz Quran Al-Ma’ruf masih berpedoman dengan nilai-nilai salaf. Nilai salaf diajarkan oleh Kiai Nasyid selaku pendiri, pengasuh dan pengajar dalam ponpes
44 tersebut. Selain itu nilai salaf juga didapatkan dari kitab-kitab kuning klasik yang diajarkan dalam pondok tersebut. Nilai salaf menjadi sebuah pandangan hidup bagi kiai dan juga para santri dalam beraktivitas dan kegiatan belajar mengajar dalam pondok. Nilai-nilai tersebut menjadi sebuah etos dan motivasi untuk kiai dan santri dalam aktivitas sehari-hari dan kegiatan belajar mengajar. Sebagai pedoman dan etos dalam kehidupan tak terkecuali pada relasi kiai dan santri dalam pondok tersebut. Relasi kiai dan santri tidak hanya sebagai hubungan antara guru dan murid saja namun juga selayaknya bapak dan anak. Kiai sebagai otoritas tertinggi dalam pondok dan santri menjadi kelompok inferior dalam pondok. Seorang kiai menjaga dan mendidik dengan sungguh karena santri adalah amanah kepada dirinya. Para santri patuh akan apa yang dititahkan oleh kiainya. Sikap amanah dari kiai dan kepatuhan dari santri merupakan realitas yang mereka munculkan dengan berlandaskan nilai-nilai salaf.