ANALISIS BAHAN KIMIA OBAT PREDNISON PADA BEBERAPA SEDIAAN JAMU REMATIK YANG BEREDAR
DI KOTA MEDAN MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETRI UV
TUGAS AKHIR
Oleh:
SRI HARTANI SINURAT NIM 182410017
PROGRAM STUDI DIPLOMA III ANALIS FARMASI DAN MAKANAN
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2021
iii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan berkat dan kasih-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir yang berjudul “Analisis Bahan Kimia Obat Prednison Pada Beberapa Sediaan Jamu Rematik yang Beredar di Kota Medan Mengunakan Spektrofotometri UV”. Tugas Akhir ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ahli Madya Analis Farmasi dan Makanan pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.
Salah satu contoh dari jamu adalah jamu rematik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar kandungan bahan kimia obat prednison dan bahaya penggunaanya pada beberapa sampel jamu yang beredar di Kota Medan.
Tugas Akhir ini disusun berdasarkan apa yang penulis lakukan pada penelitian yang dilaksanakan di Laboratorium Penelitian Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.
Selama penulisan Tugas Akhir ini, penulis menyadari bahwa jika tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, penulis tidak akan dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini sebagaimana mestinya. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini, yaitu :
1. Ibu Khairunnisa, S.Si., M.Pharm., Ph.D., Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Popi Patilaya, S.Si., M.Sc., Apt., selaku Ketua Program Studi Diploma III Analis Farmasi dan Makanan Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.
iv
3. Ibu Sri Yuliasmi, S.Farm., M.Si., Apt., selaku Dosen Pembimbing yang sabar dan penuh perhatian dalam meluangkan waktunya untuk membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyusun Tugas Akhir.
4. Seluruh dosen dan staf di Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.
5. Teristimewa kepada orang tua penulis yaitu Bapak Guntur Sinurat dan Ibu Tense Tinambunan, beserta saudara-saudari penulis yang selalu menjadi motivator serta memberi semangat dan dorongan baik sarana maupun prasarana.
6. Sahabat-sahabat penulis yaitu Yohana, Cindy, Yeremia, dan Anastasya yang telah memberi dukungan dan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan Tugas Akhir.
7. Teruntuk seseorang yang istimewa di hati, Dandy W.Y Tamba yang senantiasa mendukung dan memberikan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan Tugas Akhir.
8. Teman-teman mahasiswa Diploma III Analis Farmasi dan Makanan 2018 untuk kerjasama dan kebersamaan selama 3 tahun perkuliahan.
Penulis menyadari bahwa penulisan Tugas Akhir ini kurang dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan demi penyempurnaan Tugas Akhir ini. Semoga Tugas Akhir ini dapat bermanfaat kepada pembaca.
Medan, Agustus 2021 Penulis,
Sri Hartani Sinurat NIM 182410017
v
vi
Analisis Bahan Kimia Obat Prednison Pada Beberapa Sediaan Jamu Rematik yang Beredar di Kota Medan Mengunakan Spektrofotometri UV
Abstrak
Latar Belakang: Jamu adalah salah satu obat tradisional yang sering digunakan masyarakat untuk pengobatan, khususnya jamu rematik. Diduga jamu rematik memiliki khasiat yang tinggi karena adanya zat kimia obat yang dimasukkan secara sengaja. Hal ini merupakan pelanggaran terhadap peraturan yang berlaku di Indonesia, selain itu pemakaian bahan kimia obat dalam jangka panjang menyebabkan kerusakan fungsi organ tubuh. Oleh karena itu dibutuhkan pengawasan agar tidak beredar bahan kimia obat yang ditambahkan dalam jamu rematik, khususnya prednison.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar bahan kimia obat prednison yang terkandung di dalam jamu.
Metode: Dua sampel jamu rematik diperoleh dari pedagang jamu kaki lima yang berada di Jalan Kapten Muslim Helvetia dan dua lainnya diperoleh dari toko jamu di Jalan Karya Wisata Medan. Analisis kadar prednison pada jamu rematik dilakukan dengan metode spektrofotometri UV.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar prednison pada jamu A, B, C, D berturut-turut adalah 4,13%, 4,74%, 3,62%, dan 3,43%.
Kesimpulan: Sampel jamu rematik yang dianalisis tidak memenuhi persyaratan obat tradisional berdasarkan Permenkes RI No.007 tahun 2012 tentang larangan penambahan bahan kimia obat pada obat tradisional.
Kata kunci: jamu rematik, prednison, spektrofotometer.
vii
DAFTAR ISI
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
SURAT PERNYATAAN ORISINALITAS ... v
ABSTRAK ... vi
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR GAMBAR ... xi
DAFTAR LAMPIRAN ... xii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1.Latar Belakang ... 1
1.2.Tujuan ... 3
1.3.Manfaat ... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 4
2.1.Obat Tradisional ... 4
2.1.1. Pengertian Obat Tradisional ... 4
2.1.2. Jenis-jenis Obat Tradisional ... 5
2.2. Bahan Kimia Obat ... 7
2.2.1. Prednison ... 8
2.3. Spektrofotometri UV ... 9
2.3.1. Instrumen Spektrofotometer UV ... 9
2.3.2. Hukum Lambert-Beer ... 10 2.3.3. Hal-hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Analisis Spektrofotometri UV . 11
viii
BAB III METODE PENELITIAN ... 13
3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ... 13
3.2. Pengambilan Sampel ... 13
3.3. Alat ... 13
3.4. Bahan ... 13
3.5. Prosedur ... 14
3.5.1. Pembuatan Larutan Induk Baku (LIB) ... 14
3.5.2. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum ... 14
3.5.3. Pembuatan Kurva Kalibrasi ... 14
3.5.4. Preparasi Sampel ... 14
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 15
4.1. Hasil ... 15
4.2. Pembahasan ... 17
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 20
5.1. Kesimpulan ... 20
5.2. Saran ... 20
DAFTAR PUSTAKA ... 21
ix
DAFTAR TABEL
Tabel
4.1. Hasil Pengukuran Larutan Baku Prednison ... 16 4.2. Hasil Penentuan Kadar Prednison Pada Beberapa Sampel Jamu Rematik .... 17
x
DAFTAR GAMBAR
Gambar
2.1. Logo Jamu ... 6
2.2. Logo Obat Herbal Terstandar ... 6
2.3. Logo Fitofarmaka ... 7
2.4. Struktur Kimia Prednison ... 8
4.1. Kurva Panjang Gelombang Prednison ... 15
4.2. Kurva Kalibrasi Prednison ... 16
xi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran
1. Hasil Pengukuran Panjang Gelombang Maksimum Prednison ... 22
2. Perhitungan Analisis Kadar Prednison Pada sampel Jamu Rematik ... 23
3. Gambar Analisis Prednison Pada Jamu ... 26
4. Sertifikat Pengujian Prednison ... 28
1
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kecenderungan masyarakat untuk kembali ke alam dalam memelihara kesehatan tubuh, dengan memanfaatkan obat bahan alam yang tersedia melimpah di tanah air dan dengan kemajuan zaman yang sudah ditandai dengan peningkatan ekonomi dan modernisasi sehingga mulai terbuka kemungkinan komersialisasi, ketika memasuki area perdagangan, produk jamu sudah dianggap sebagai barang komoditi. Peredaran jamu tradisional di masyarakat semakin luas sehingga penggunaan jamu meningkat dikarenakan oleh faktor harga yang murah. Jamu terdiri dari beberapa jenis, yaitu jamu yang diproduksi oleh pabrikan dan jamu yang diproduksi oleh industri rumah tangga. Jamu yang diproduksi oleh pabrikan biasanya berupa jamu seduh, kapsul dan bisa juga yang sudah dibuat tablet. Jamu yang diproduksi industri rumah tangga biasanya jamunya lebih sederhana yaitu berupa jamu seduh dan kapsul saja (Slamet, dkk., 2018).
Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun-temurun telah digunakan untuk pengobatan dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor:
246/Menkes/Per/V/1990 tentang Izin Usaha Industri Obat Tradisional dan Pendaftaran Obat Tradisional Bab V Wajib Daftar Pasal 23, menjelaskan bahwa obat tradisional memiliki persyaratan yang harus dipenuhi, yaitu: secara empirik
2
terbukti aman dan bermanfaat untuk digunakan manusia, bahan obat tradisional dan proses produksi yang digunakan memenuhi persyaratan yang ditetapkan, tidak mengandung bahan kimia sintetik atau hasil isolasi yang berkhasiat sebagai obat, dan tidak mengandung bahan yang tergolong obat keras atau narkotika.
(Fitrowati, 2019).
Pencampuran jamu dengan bahan - bahan kimia berbahaya sering dilakukan oleh industri jamu (terutama industri rumahan/ home industry) untuk menjadikan jamu tersebut semakin berkhasiat secara instan. Berdasarkan temuan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) pada tahun 2013, bahwa BPOM menarik 59 jenis jamu mengandung bahan kimia obat. Pada tahun 2014 BPOM juga menarik 51 jenis jamu mengandung bahan kimia obat dan tidak memiliki izin edar.Menurut temuan BPOM, bahan kimia obat yang sering digunakan pada jamu rematik adalah fenilbutazon, piroksikam, deksametason, paracetamol, metampiron, prednison, natrium diklofenak, dan asam mefenamat. Pada penelitian ini akan dibahas tentang bahan kimia obat prednison. (Fitrowati, 2019).
Pemakaian bahan kimia obat dalam jangka panjang menyebabkan kerusakan fungsi organ tubuh. Oleh karena itu dibutuhkan pengawasan oleh BPOM agar tidak beredar bahan kimia obat yang ditambahkan dalam jamu pegal linu. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.007 Tahun 2012 pada pasal 7 ayat 1, obat tradisional dilarang mengandung salah satu bahan kimia obat yang merupakan hasil isolasi atau sintetik berkhasiat obat (Fitrowati, 2019).
Prednison adalah glukokortikoid sintetik yang sering ditambahkan pada jamu rematik. Analisis bahan kimia prednison pada jamu dapat dilakukan dengan
3
berbagai metode, yaitu menggunakan metode kromatografi lapis tipis, kromatografi cair kinerja tinggi, spektrofotometri inframerah dan spektrofotometri uv-visibel (Sugiarti, 2012).
Oleh karena itu, penulis melakukan penelitian untuk mengetahui apakah sampel jamu tersebut mengandung bahan kimia obat prednison beserta jumlah kadar rata-rata bahan kimia obat prednison yang ditambahkan dalam jamu khususnya jamu rematik. Sampel jamu diambil dari berbagai merek jamu yang di jual oleh pedagang jamu yang beredar di Kota Medan.
1.2. Tujuan
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan kadar bahan kimia obat prednison pada sampel jamu menggunakan spektrofotometri UV.
1.3. Manfaat
Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini yaitu untuk memberikan informasi kepada penulis dan para pembaca mengenai kadar rata-rata bahan kimia obat prednison pada jamu.
4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Obat Tradisional
2.1.1. Pengertian obat tradisional
Indonesia kaya akan kekayaan tradisi baik yang tradisi yang tertulis maupun tradisi turun-temurun yang disampaikan secara lisan. Hal ini menandakan bahwa masyarakat Indonesia sejak zaman dahulu telah mengenal ilmu pengetahuan berdasarkan pengalaman sehari-hari mereka. Pengetahuan tersebut antara lain perbintangan, arsitektur, pengobatan tradisional, kesusasteraan, dan lain sebagainya (Parwata, 2017).
Obat adalah bahan atau zat yang berasal dari tumbuhan, hewan,mineral maupun zat kimia tertentu yang dapat digunakan untuk mencegah, mengurangi rasa sakit, memperlambat proses penyakit dan atau menyembuhkan penyakit.
Obat harus sesuai dosis agar efek terapi atau khasiatnya bisa kita dapatkan (Parwata, 2017).
Obat tradisional adalah obat-obatan yang diolah secara tradisional, turuntemurun, berdasarkan resep nenek moyang, adat-istiadat, kepercayaan, atau kebiasaan setempat, baik bersifat magic maupun pengetahuan tradisional. Obat Tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan galenik atau campuran dan bahan-bahan tersebut, yang secara traditional telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman. Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
5
246/Menkes/Per/V/1990, tentang Izin Usaha Industri Obat Tradisional dan Pendaftaran Obat Tradisional (Parwata, 2017).
2.1.2. Jenis-jenis obat tradisional
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 246/Menkes/Per/V/1990, tentang Izin Usaha Industri Obat Tradisional dan Pendaftaran Obat Tradisional, Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.760/MENKES/PER/IX/1992 tentang Fitofarmaka, UU RI No. 23 tahun 1992, pengamanan terhadap obat tradisional dimana penjabaran dan Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia nomor : HK.00.05.4-2411 tanggal 17 Mei 2004 tentang ketentuan pokok pengelompokan dan penandaan obat bahan alam Indonesia, obat bahan alam Indonesia dikelompokkan secara berjenjang yaitu:
a. Jamu
Jamu adalah obat tradisional yang disediakan secara tradisional, misalnya dalam bentuk serbuk seduhan atau cairan yang berisi seluruh bahan tanaman yang menjadi penyusun jamu tersebut serta digunakan secara tradisional. Pada umumnya, jenis ini dibuat dengan mengacu pada resep peninggalan leluhur yang disusun dari berbagai tanaman obat yang jumlahnya cukup banyak, berkisar antara 5 – 10 macam bahkan lebih (Parwata, 2017).
Sebagian besar jamu yang digunakan masyarakat dimaksudkan untuk menjaga dan memelihara kesehatan karena sebagian jamu yang beredar berkhasiat sebagai “immuno modulator system” serta antioksidan. Jamu harus memenuhi beberapa kriteria, yaitu: aman, sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan, klaim
6
dibuktikan dengan data empiris (pengalaman), dan memenuhi persyaratan mutu yang berlaku (Sitorus, 2018).
Gambar 2.1. Logo Jamu b. Obat herbal terstandar (OHT)
Obat herbal terstandar (OHT) adalah sediaanobat bahan alam yang telah dibuktikan keamanannya, khasiat secara ilmiah, uji praklinis, dan bahan baku yang telah distandarisasi. Kriteria obat herbal terstandar yaitu: aman, sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan, klaim khasiat dibuktikan secara ilmiah/
praklinik dan telah dilakukan standarisasi bahan baku yang digunakan (Sitorus, 2018)
Gambar 2.2. Logo Obat Herbal Terstandar c. Fitofarmaka
Fitofarmaka adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanannya, khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinis dan bahan baku dan produk jadi telah distandarisasi. Kriteria fitofarmaka yaitu: aman, sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan, klaim khasiat dibuktikan secara uji klinik, dan telah
7
dilakukan standarisasi bahan baku yang digunakan; d. memenuhi persyaratan mutu yang berlaku (Sitorus, 2018).
Gambar 2.3. Logo Fitofarmaka
2.2. Bahan Kimia Obat
Sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku, obat tradisional dilarang menggunakan bahan kimia hasil isolasi atau sintetik berkhasiat obat yang sering disebut dengan bahan kimia obat (BKO). BKO dalam obat tradisional inilah yang menjadi titik penjualan bagi produsen. Hal ini kemungkinan disebabkan kurangnya pengetahuan produsen akan bahaya mengkonsumsi bahan kimia obat secara tidak terkontrol, baik dosis maupun cara penggunaannya atau bahkan semata-mata demi meningkatkan penjualan karena konsumen menyukai produk obat tradisional yang bereaksi cepat pada tubuh (Wirastuti, dkk., 2018).
Pemakaian bahan kimia obat dalam jangka panjang menyebabkan kerusakan fungsi organ tubuh. Oleh karena itu dibutuhkan pengawasan oleh BPOM supaya tidak beredar bahan kimia obat yang ditambahkan dalam jamu pegal linu. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.007 Tahun 2012 pada pasal 7 ayat 1, obat tradisional dilarang mengandung salah satu
8
bahan kimia obat yang merupakan hasil isolasi atau sintetik berkhasiat obat (Fitrowati, 2019).
Bahan kimia yang sering ditambahkan ke dalam jamu salah satunya adalah obat golongan kortikosteroid sintetik, hal ini dikarenakan obat kortikosteroid sintetik seperti deksametason atau prednison memiliki aksi farmakologi yang luas, sehingga dapat digunakan dalam mengobati berbagai jenis penyakit seperti penyakit reumatik, ginjal, alergi, asma, mata, kulit, hati dan lain - lain. Di samping itu, senyawa kortikosteroid sintetik memberikan efek perasaan nyaman dan segar, serta menambah nafsu makan, sehingga senyawa ini sangat memungkinkan bila ditambahkan pada jamu (terutama jamu pegal linu, penambah stamina dan penambah nafsu makan) untuk meningkatkan khasiat jamu tersebut (Sugiarti, dkk., 2012).
2.2.1. Prednison
Menurut Ditjen POM (1995), rumus struktur prednison yaitu :
Gambar 2.4. Struktur Kimia Prednison
Nama Kimia :11β,17,21-Trihidroksipregna-1,4-diena-3,20-dion[50-24-8]
Rumus Molekul : C21H28O5 Berat Molekul : 360,45
9
Pemerian : Serbuk hablur, putih sampai praktis putih; tidak berbau.
Kelarutan : Sangat sukar larut dalam air; larut dalam metanol dan dalam dioksan; sukar larut dalam kloroform.
Prednison adalah glukokortikoid sintetik yang memiliki lima kali potensi kortison asetat tetapi dalam dosis setara menyebabkan retensi natrium berkurang dan cairan meskipun beresiko lebih terhadap lambung. Glukokortikoid mempunyai efek antiradang, dalam klinik digunakan untuk pengobatan kelainan pada jaringan kolagen, kelainan hematologis (leukemia) dan pernafasan (asma), untuk pengobatan rematik, pengobatan karena alergi tertentu, seperti dermatologis yang berat, penyakit saluran cerna (Nasution, 2016).
Prednison biasanya dicampurkan dalam jamu pegal linu, asam urat, sesak napas, dan rematik. Penggunaan obat prednison yang kurang tepat dapat menyebabkan muka bengkak, gangguan pencernaan, gangguan tulang dan otot, osteoporosis, gangguan hormon, depresi, insomnia, glaukoma, gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh (Wirastuti, dkk., 2018).
Analisis bahan kimia prednison pada jamu dapat dilakukan dengan berbagai metode, yaitu menggunakan metode kromatografi lapis tipis, kromatografi cair kinerja tinggi, spektrofotometri infra merah dan spektrofotometri uv-visibel (Sugiarti, 2012).
2.3. Spektrofotometri UV
2.3.1. Instrumentasi spektrofotometer uv
Spektrofotometri UV adalah pengukuran panjang gelombang dan intensitas sinar ultraviolet dan cahaya tampak yang diabsorbsi oleh sampel. Sinar
10
ultraviolet dan cahaya tampak memiliki energi yang cukup untuk mempromosikan elektron pada kulit terluar ke tingkat energi yang lebih tinggi. Spektrofotometer UV-Vis biasanya digunakan untuk molekul dan ion anorganik atau kompleks di dalam larutan (Dachriyanus, 2004).
Spektrofotometri yang sesuai untuk pengukuran di daerah spektrum ultraviolet dan sinar tampak terdiri atas suatu sistem optik dengan kemampuan menghasilkan sinar monokromatis dalam jangkauan panjang gelombang 200-800 nm. Komponen-komponen utama spektrofotometer UV-Vis meliputi :
1. Sumber-sumber lampu; lampu deuterium digunakan untuk daerah UV pada panjang gelombang 190-350 nm, sementara lampu halogen kuarsa atau lampu tungsten digunakan untuk daerah visibel pada panjang gelombang 350-900 nm.
2. Monokromator; digunakan untuk mendispersikan sinar kedalam komponen- komponen panjang gelombangnya yang selanjutnya akan dipilih oleh celah (slit). Monokromator berputar sedemikian rupa sehingga kisaran panjang gelombang dilewatkan pada sampel sebagai scan instrumen melewati spektrum.
3. Optik-optik; dapat didesain untuk memecah sumber sinar sehingga sumber sinar melewati 2 kompartemen. Suatu larutan blanko dapat digunakan dalam satu kompartemen untuk mengkoreksi pembacaan atau spektrum sampel (Gandjar dan Rohman, 2008).
2.3.2. Hukum Lambert-Beer
Hukum Lambert-Beer (Beer’s Law) adalah hubungan linearitas antara absorban dengan konsentrasi larutan analit. Biasanya hukum Lambert-Beer ditulis dengan:
11
A = absorban (serapan)
= koefisien ekstingsi molar (M-1 cm-1) b = tebal kuvet (cm)
C = konsentrasi (M) Pada beberapa buku ditulis juga :
A= E . b . C
E = koefisien ekstingsi spesifik (ml g-1 cm-1) b = tebal kuvet (cm)
C = konsentrasi (gram/100 ml) Hubungan antara E dan adalah:
Hukum Lambert-Beer terbatas karena sifat kimia dan faktor instrumen.
Penyebab non-linearitas ini adalah: a. Deviasi koefisien ekstingsi pada konsentrasi tinggi (diatas 0.01 M), yang disebabkan oleh interaksi elektrostatik antara molekul karena jaraknya yang terlalu dekat; b. Hamburan cahaya karena adanya partikel dalam sampel; c. Fluoresensi atau fosforesensi sampel; d. Berubahnya indeks bias pada konsentrasi yang tinggi; e. Radiasi non-monokromik; dan f. Kehilangan cahaya (Dachriyanus, 2004).
2.3.3. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam analisis spektrofotometri uv Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam analisis dengan spektrofotometri UV yaitu:
a. Pemilihan panjang gelombang
12
Panjang gelombang yang digunakan untuk analisis kuantitatif adalah panjang gelombang yang mempunyai absorbansi maksimal. Ada beberapa alasan mengapa harus menggunakan panjang gelombang maksimal, yaitu:
1. Pada panjang gelombang maksimal, kepekaannya juga maksimal karena pada panjang gelombang maksimal tersebut, perubahan absorbansi untuk setiap satuan konsentrasi adalah yang paling besar.
2. Disekitar panjang gelombang maksimal, bentuk kurva absorbansi datar dan pada kondisi tersebut hukum Lambert-Beer akan terpenuhi.
3. Jika dilakukan pengukuran ulang maka kesalahan yang disebabkan oleh pemasangan ulang panjang gelombang akan kecil sekali, ketika digunakan panjang gelombang maksimal.
b. Pembuatan kurva baku
Dibuat seri larutan baku dari zat yang akan dianalisis dengan berbagai konsentrasi. Masing-masing absorbansi larutan dengan berbagai konsentrasi diukur, kemudian dibuat kurva yang merupakan hubungan antara absorbansi (Y) dengan konsentrasi (X). Bila hukum Lambert-Beer terpenuhi, maka kurva baku berupa garis lurus.
c. Pembacaan absorbansi sampel atau cuplikan
Absorban yang terbaca pada spektrofotometer hendaknya antara 0,2 - 0,8 atau 15% - 70% jika dibaca sebagai transmitans. Anjuran ini berdasarkan anggapan bahwa kesalahan dalam pembacaan adalah 0,005 atau 0,5% (Gandjar dan Rohman, 2008).
13
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Penelitian Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara yang beralamat di jalan Tri Dharma, Medan pada tanggal 7 - 16 Juli 2021.
3.2. Pengambilan Sampel
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel jamu yang diperoleh dari pedagang jamu kaki lima di Jalan Kapten Muslim Helvetia dan Toko Jamu Nikisami di Jalan Karya Wisata No. 19 Medan.
3.3. Alat
Alat-alat yang digunakan adalah bola hisap, labu ukur, math pipet, neraca analitik, pipet tetes, sonikator, spektrofotometer UV-Vis, dan tisu lensa.
3.4. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan adalah baku pembanding prednison, etanol 96%, dan sampel jamu.
14
3.5. Prosedur
3.5.1. Pembuatan larutan induk baku (LIB)
Baku pembanding prednison ditimbang 100 mg, kemudian dilarutkan dengan etanol 96% ke dalam labu ukur 100 ml lalu diencerkan sampai garis tanda (1000 μg/ml).
3.5.2. Penentuan panjang gelombang maksimum
Dipipet 0,4 ml larutan induk baku ke dalam labu ukur 50 ml, dilarutkan dengan etanol 96% kemudian diencerkan hingga garis tanda (8 μg/ml). Diukur serapan pada panjang gelombang 200 - 400 nm.
3.5.3. Pembuatan kurva kalibrasi
Dipipet larutan induk baku dengan konsentrasi berturut-turut 5 μg/ml; 7 μg/ml; 9 μg/ml; 11 μg/ml dan 13 μg/ml. Kemudian dilarutkan dengan etanol 96%
dan diencerkan hingga garis tanda. Kelima larutan tersebut diukur absorbansinya menggunakan spektrofotometer uv pada panjang gelombang 237,20 nm.
3.5.4. Preparasi sampel
Masing-masing sampel jamu ditimbang sebanyak 50 mg kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur 50 ml. Ditambahkan etanol 96% hingga garis tanda. Kemudian disonikasi. Dipipet masing-masing 1,5 ml sampel ke dalam labu 10 ml, lalu ditambahkan etanol 96% hingga garis tanda kemudian dihomogenkan.
Diukur larutan tersebut menggunakan spektrofotometer uv pada panjang gelombang 237,20 nm.
15
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
Hasil penentuan panjang gelombang maksimum baku prednison dapat dilihat pada Gambar 4.1.
Gambar 4.1. Kurva Panjang Gelombang Prednison
Panjang gelombang yang digunakan untuk analisis kuantitatif adalah panjang gelombang yang mempunyai absorbansi maksimal yaitu 237,20 nm dengan nilai absorbansi 0,423.
Hasil pengukuran larutan baku prednison dapat dilihat pada Tabel 4.1.
dan kurva hubungan konsentrasi baku prednison dengan absorbansi dapat dilihat pada Gambar 4.2.
16
Tabel 4.1. Hasil Pengukuran Larutan Baku Prednison Sampel Konsentrasi (μg/ml) Absorbansi
Prednison
0 0,000
5 0,243
7 0,337
9 0,441
11 0,536
13 0,635
Gambar 4.2. Kurva Kalibrasi Prednison
Pada gambar dapat dilihat bahwa nilai persamaan regresi yang diperoleh yaitu y = 0,0489x - 0,0012 dengan nilai r = 0,9999.
Hasil penentuan kadar prednison pada beberapa merek sampel jamu rematik yang dijual di kota Medan menggunakan metode spektrofotometri uv dapat dilihat pada Tabel 4.2.
y = 0,0489x - 0,0012 R² = 0,9999
0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7
0 2 4 6 8 10 12 14
Absorbansi
Konsentrasi (ppm)
Absorbansi Linear (Absorbansi)
17
Tabel 4.2. Hasil Penentuan Kadar Prednison Pada Beberapa Sampel Jamu Rematik
Sampel Jamu Abs (y) Konsentrasi (x)
(μg/ml) Kadar (%)±SD
A
A1 0,303 6,221 4,14
A2 0,302 6,200 4,13
A3 0,302 6,200 4,13
Rata-rata 6,207 4,13 ± 0,004
B
B1 0,346 7,100 4,73
B2 0,347 7,121 4,74
B3 0,347 7,121 4,74
Rata-rata 7,114 4,74 ± 0,004
C
C1 0,265 5,444 3,63
C2 0,265 5,444 3,63
C3 0,264 5,423 3,61
Rata-rata 5,437 3,62 ± 0,007
D
D1 0,251 5,157 3,43
D2 0,251 5,157 3,43
D3 0,25 5,137 3,42
Rata-rata 5,151 3,43 ± 0,004
Keterangan :
A1 – A3 = Sampel jamu rematik A B1 – B3 = Sampel jamu rematik B C1 – C3 = Sampel jamu rematik C D1 – D3 = Sampel jamu rematik D
4.2. Pembahasan
Berdasarkan hasil pengujian panjang gelombang maksimum baku prednison pada Gambar 4.1. diperoleh panjang gelombang maksimum prednison pada titik ke-5 sebesar 237,20 nm dengan nilai absobansi sebesar 0,423.
Dibandingkan dengan jurnal Fikayuniar tahun 2021, panjang gelombang maksimum prednison yang diperoleh yaitu 238 nm , dan menurut sertifikat
18
pengujian prednison yang diperoleh dari Badan POM RI, panjang gelombang maksimum prednison yang diperoleh di percobaan ini mendekati panjang gelombang yang ditentukan yaitu 238 nm.
Berdasarkan data pada Tabel 4.1. dan Gambar 4.2 diperoleh hasil absorbansi prednison yang mengalami peningkatan secara linier pada konsentrasi 5 μg/ml , 7 μg/ml, 9 μg/ml, 11 μg/ml dan 13 μg/ml. Hasil absorbansi prednison tersebut dihitung dan dihubungkan kurva antara nilai absorbansi pada sumbu y dan konsentrasi pada sumbu x sehingga diperoleh persamaan regresi prednison yaitu y = 0,0489x - 0,0012 dengan nilai korelasi r = 0,9999. Parameter adanya hubungan linier digunakan koefisien korelasi r pada regresi linier y = ax + b.
Hubungan linier yang ideal dicapai jika nilai b = 0 dan nilai r diatas 0,995 (Nasution, 2016).
Pada Tabel 4.2. diperoleh kadar rata-rata prednison dalam sediaan jamu rematik pada sampel A yaitu 4,13%, pada sampel B sebanyak 4,74%, pada sampel C sebanyak 3,62%, dan sampel D sebanyak 3,43%. Berdasarkan hasil percobaan tersebut, dapat disimpulkan bahwa sediaan sampel jamu A, B, C dan D mengandung bahan kimia obat prednison yang tidak layak dan tidak diperbolehkan untuk dikonsumsi karena bahan kimia obat (BKO) sama sekali tidak diperbolehkan ditambahkan pada jamu. Hal tersebut tercantum pada Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.007 Tahun 2012 pada pasal 7 ayat 1, obat tradisional dilarang mengandung salah satu bahan kimia obat yang merupakan hasil isolasi atau sintetik berkhasiat obat (Fitrowati, 2019).
Prednison merupakan obat golongan kortikosteroid yang digunakan untuk mengobati berbagai penyakit akut dan kronis termasuk radang sendi, asma,
19
dan penyakit alergi. Penggunaan obat prednison yang tidak tepat dapat menyebabkan bengkak pada wajah, gangguan pencernaan, gangguan tulang dan otot, osteoporosis, gangguan hormon, depresi, insomnia, gangguan pada mata seperti glaukoma dan penipisan kornea, gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh (Wirastuti, dkk., 2018).
20
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sampel jamu A, B, C dan D mengandung bahan kimia obat prednison dengan kadar rata-rata prednison pada sampel jamu rematik A sebanyak 4,13%, pada sampel jamu rematik B sebanyak 4,74%, pada sampel jamu rematik C sebanyak 3,63%, dan pada sampel jamu rematik D sebanyak 3,43% yang tidak memenuhi persyaratan obat tradisional berdasarkan Permenkes RI No.007 tahun 2012 tentang larangan penambahan bahan kimia obat pada obat tradisional.
5.2. Saran
Sebaiknya masyarakat harus berhati-hati dalam mengonsumsi jamu rematik, dan sebaiknya mengonsumsi jamu rematik yang sudah teregistrasi oleh BPOM.
21
DAFTAR PUSTAKA
Dachriyanus. (2004). Analisis Struktur Senyawa Organik Secara Spektroskopi.
Padang: Lembaga Pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi.
hlm 1-10.
Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan. (2014). Farmakope Indonesia. Edisi kelima. Jakarta: Kemenkes RI. hlm 1052.
Fitrowati, N.A. (2019). Analisis Asam Mefenamat Dalam Jamu Pegal Linu yang Beredar di Beberapa Toko Obat Tradisional Bandung Timur Dengan Metode Spektrofotometri UV-Vis. Skripsi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Al-Ghifari.
Gandjar, I.G. dan Rohman, A. (2008). Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar. hlm 252-256.
Nasution, D. (2016). Penetapan Kadar Kloramfenikol dan Prednisolon Dalam Sediaan Krim Secara Spektrofotometri Derivatif Dengan Metode Zero Crossing. Skripsi. Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.
Parwata, I.M.O.A. (2017). Bahan Ajar Obat Tradisional. Bali: Universitas Udayana. hlm 1-7.
Sitorus, P. (2018). Obat Herbal Indonesia. Medan: USU Press. hlm 2-3, 26-27.
Slamet., Setyo, U.D., dan Dewi, S. (2018). Identifikasi Kandungan Bahan Kimia Obat Pada Jamu Rematik dan Asam Urat yang Beredar di Kabupaten/Kota Pekalongan Secara Kualitatif. URECOL. 544.
Sugiarti, L., Hutagaol, R.P., dan Achyadi, T. (2012). Analisis Senyawa Golongan Kortikosteroid Sintetik (Deksametason dan Prednison) Dalam Jamu Secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi. Jurnal Sains Natural Universitas Nusa Bangsa. 2(1): 2.
Wirastuti, A., Dahlia, A.A., dan Najib, A. (2018). Pemeriksaan Kandungan Bahan Kimia Obat (BKO) Prednison Pada Beberapa Sediaan Jamu Rematik.
Jurnal Fitofarmaka Indonesia. 3(1): 130-131.
22
LAMPIRAN
Lampiran 1. Hasil Pengukuran Panjang Gelombang Maksimum Prednison
No Panjang gelombang (nm) Abs
1 370,20 0,001
2 362,80 0,002
3 357,20 0,003
4 337,00 0,003
5 237,20 0,423
6 371,60 -0,000
7 365,40 0,000
8 359,60 0,001
9 340,80 -0,004
10 207,40 0,185
Keterangan : Panjang gelombang yang digunakan untuk analisis kuantitatif adalah panjang gelombang yang mempunyai absorbansi maksimal yaitu 237,20 dengan nilai absorbansi 0,423.
23
Lampiran 2. Perhitungan Analisis Kadar Prednison Pada sampel Jamu Rematik 1. Perhitungan Faktor Pengenceran
FP = 6,66
2. Perhitungan Konsentrasi Sampel (X)
diketahui persamaan regresi Y = 0,0489X-0,0012 , maka
Sampel jamu A:
A1. Nilai Y=0,303 ;
X = 6,221 ppm A2. Nilai Y=0,302 ;
X = 6,200 ppm A3. Nilai Y=0,302 ;
X = 6,200 ppm
Sampel jamu B:
B1. Nilai Y=0,346 ;
X = 7,100 ppm B2. Nilai Y=0,347 ;
X = 7,121 ppm B3. Nilai Y=0,347 ;
X = 7,121 ppm
24
Lampiran 2. (lanjutan)
Sampel C:
C1. Nilai Y=0,265 ;
X = 5,444 ppm C2. Nilai Y=0,265 ;
X = 5,444 ppm C3. Nilai Y=0,264 ;
X = 5,423 ppm
Sampel D:
D1. Nilai Y=0,251 ;
X = 5,157 ppm D2. Nilai Y=0,251 ;
X = 5,157 ppm D3. Nilai Y=0,250 ;
X = 5,137 ppm
3. Perhitungan Kadar Bahan Kimia Obat Pada Jamu
Rumus :
Sampel A:
% Kadar = 4,13%
25
Lampiran 2. (Lanjutan) Sampel B:
% Kadar = 4,74%
Sampel C:
% Kadar = 3,62%
Sampel D:
% Kadar = 3,43%
26
Lampiran 3. Gambar Analisis Prednison Pada Jamu
Baku pembanding prednison
Larutan induk baku (LIB)
27
Lampiran 3. (Lanjutan)
Larutan kurva kalibrasi
28
Lampiran 4. Sertifikat Pengujian Prednison
29
Lampiran 4. (Lanjutan)