• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA HASIL PENELITIAN DAN ANALISA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA HASIL PENELITIAN DAN ANALISA"

Copied!
45
0
0

Teks penuh

(1)

13

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA HASIL PENELITIAN DAN ANALISA

A. Tinjauan Pustaka

1. Tinjauan Umum Tentang Tindak Pidana

Tindak pidana di Indonesia dikenal dengan istilah straafbaarfeit yang diambil dari bahasa Belanda. Straafbaarfeit terdiri dari dua kata yaitu

“Straafbaar” yang berarti dapat dihukum, dan “Feit” yang berarti kenyataan.

Sehingga secara harafiah dapat diartikan sebagian dari kenyataan yang dapat dihukum. Di Indonesia tindak pidana lebih dikenal dengan kata “delik” atau

“delictum”, yang berasal dari bahasa Latin. Simons berpendapat bahwa tindak pidana adalah suatu tindakan melanggar hukum yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang baik disengaja maupun tidak disengaja yang dapat dipertanggungjawabkan atas tindakannya dan dapat dihukum sesuai dengan undang-undang1.

Sedangkan menurut Moeljatno, tindak pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum, yang mana larangan tersebut diikuti dengan sanksi berupa pidana tertentu bagi yang melanggar2. Berdasarkan pengertian- pengertian di atas maka dapat diketahui bahwa tindak pidana merupakan suatu perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok

1 Evi Hartanti. Tindak Pidana Korupsi. (Jakarta: Sinar Grafika, 2008). Hal. 5

2 Ibid. Hal. 7

(2)

14 orang. Terdapat beberapa syarat untuk menentukan apakah seseorang telah melakukan tindak pidana atau tidak, syarat-syarat tersebut yaitu3:

1) Adanya perbuatan manusia;

2) Perbuatan tersebut bertentangan dengan hukum yang berlaku;

3) Perbuatan tersebut dilarang oleh Undang-Undang dan memiliki ancaman pidana; dan

4) Orang yang melakukan perbuatan tersebut dapat mempertanggung jawabkan perbuatannya.

Dalam melakukan suatu kejahatan, tentunya ada unsur-unsur yang mendorong seseorang dapat melakukan perbuatan tersebut. Hal ini juga berlaku bagi para pelaku tindak pidana. Terdapat dua unsur yang mendorong seseorang melakukan tindak pidana yaitu :

(1). Unsur Subjektif yang terdiri dari:

a. Kesengajaan atau kelalaian;

b. Suatu percobaan atau poging sebagaimana dalam pasal 53 ayat (1) KUHP;

c. Memiliki maksud tertentu dalam perbuatanatau kejahatannya seperti pencurian, penipuan, pemerasan, pemalsuan, dan sebagainya;

d. Telah memiliki niat atau rencana terlebih dahulu sebagaimana dalam pasal 340 KUHP;

e. Perasaan takut sebagimana menurut pasal 308 KUHP

3 Mulyati Pawennei dan Rahmanuddin Tomalili. Hukum Pidana. (Jakarta: Mitra Wacana Media, 2015). Hal. 6

(3)

15 (2). Unsur Objektif yang terdiri dari:

a. Sifat melawan hukum;

b. Kualitas dari pelaku, misalnya seorang yang memiliki jabatan dalam pemerintahan melakukan kejahatan sebagaimana diatur dalam Pasa 415 KUHP;

c. Kausalitas, hubungan antara suatu tindakan sebagai penyebab dengan kenyataan sebagai akibatnya.

Dalam upaya penanggulangan seseorang melakukan kejahatan atau tindak pidana, dikenal dengan adanya sanksi yang berupa pemidanaan bagi para pelaku tindak pidana. Andi Hamzah berpendapat bahwa pengertian pemidanaan adalah suatu sansksi yang sengaja dijatuhi kepada pelaku kejahatan sesuai dengan perbuatannya4. Sedangkan menurut Jerome Hall pengertian pemidanaan terdiri dari beberapa deskripsi yaitu5:

1. Pemidanaan adalah hilangnya hal-hal yang diperlukan dalam hidup seseorang sebagai pelaku;

2. Pemidanaan memaksa dengan kekerasan;

3. Pemidanaan diberikan atas nama negara;

4. Pemidanaan merupakan suatu perwujudan terhadap peraturan-peraturan, pelanggaran, dan penentuannya, yang dilaksanakan dalam putusan;

5. Pemidanaan dijatuhi bagi pelanggar yang melakukan kejahatan; dan 6. Tingkat atau jenis pemidanaan ditentukan berdasarkan kejahatan yang

dilakukan, dan berat atau ringannya ditentukan berdasarkan kepribadian

4 Andi Hamzah. Sistem Pidana dan Pemidanaan Indonesia. (Jakarta: PT. Pradnya Paramita. 1993).

Hal. 1

5 Puteri Hikmawati. Pidana Pengawasan Sebagai Pengganti Pidana Bersyarat Menuju Keadilan Restoratif. Jurnal Negara Hukum. Vol.7, No. 1. 2016. Hal. 74

(4)

16 seorang pelaku, serta motif atau dorongannya dalam melakukan perbuatan tersebut .

Dari beberapa pengertian di atas maka menurut singkat penulis perbedaan antara pidana dan pemidanaan yaitu pidana sebagai hukumnya dan pemidanaan adalah suatu tahap penetapan sanksi yang diberikan bagi pelaku tindak pidana. Ada dua jenis sanksi yang dapat digunakan dalam menghukum para pelaku yaitu sanksi tindakan dan sanksi pidana. Sanksi tindakan merupakan suatu sanksi yang belum diatur secara jelas, namun sanksi ini juga dapat dilihat dalam KUHP. Sanksi tindakan berupa adanya perawatan rumah sakit atau dapat dikatakan sebagai suatu tindakan ganti rugi untuk korban tindak pidana. Sedangkan sanksi pidana merupakan jenis sanksi yang sering digunakan di Indonesia dalam menghukum para pelaku tindak pidana. Jenis- jenis sanksi pidana di Indonesia seperti sanksi pidana penjara, pidana seumur hidup, pidana mati, pidana denda, pidana perampasan barang-barang tertentu, dan pidana pencabutan terhadap hak-hak tertentu.

Dari semua bentuk sanksi pidana, yang sering digunakan dalam menjatuhkan hukuman bagi para pelaku yakni pidana penjara, hal ini menjadikan kedudukan pidana penjara sebagai suatu pidana pokok. Secara umum tujuan pemidanaan yaitu untuk melindungi masyarakat, dan mengembalikan keamanan dalam masyarakat6. Terdapat beberapa teori yang menjadi dasar tujuan negara dalam menjatuhkan pidana penjara terhadap para pelaku. Adapun teori-teori tujuan pidana penjara yaitu :

6 Erdianto Efendi. Hukum Pidana Indonesia: Suatu Pengantar. (Bandung: PT Refika Aditama, 2011). Hal. 141

(5)

17 1. Teori pembalasan (Teori Absolut)

Menurut teori ini, pidana yang dijatuhkan kepada pelaku kejahatan merupakan sebagai suatu bentuk balas dendam terhadap pelaku kejahatan7. Tujuan primer dari adanya pidana menurut teori ini yaitu untuk mendapatkan suatu keadilan hukum. Imanuel Kant dalam bukunya Filosophy Of Law berpendapat mengenai sifat dari teori absolut yakni pidana tidak hanya dijadikan sebagai sarana untuk menawarkan tujuan atau kebaikan lainnya baik bagi para pelaku maupun bagi masyarakat8.

Menurut singkat penulis teori absolut secara singkat memiliki suatu pengertian bahwa jika seseorang melakukan kejahatan, maka orang tersebut juga harus menerima hukuman yang setimpal dengan kejahatan yang dia lakukan. Menurut teori ini pemidanaan bagi para pelaku kejahatan agar adanya perasaan adil bagi korban. Terdapat dua pemahaman atau golongan dalam teori pembalasan, yaitu 9:

a. Teori pembalasan yang objektif. Yang mana teori ini memandang pidana yang dijatuhkan kepada para pelaku harus sepadan dengan dampak yang dirasakan akibat dari kesalahannya. Apabila kesalahan yang dilakukan oleh pelaku tergolong ringan namun berdampak besar, maka sanksi yang harus diterima oleh pelaku harus sama dengan dampak yang diakibatkan oleh pelaku. Teori ini merupakan suatu landasan untuk memenuhi kepuasan dari masyarakat yang menjadi korban dari suatu perbuatan pidana.

7 Usman.H. Analisis Perkembangan Teori Hukum Pidana. Jurnal Ilmu Hukum. Vol. 2, No 1. 2011.

Hal. 67

8 Ibid. Hal. 67

9 Ibid. Hal. 69

(6)

18 b. Teori pembalasan yang subjektif. Dalam teori ini kesalahan dari pelakulah yang menjadi penentu untuk mendapatkan balasannya. Jika perbuatannya mengakibatkan dampak yang besar namun kesalahan yang dilakukan merupakan kesalahan yang ringan, maka pelaku kejahatan seharusnnya dijatuhi dengan pidana yang ringan. Jadi menurut teori ini pembalasan atau sanksi bagi pelaku tindak pidana tidak harus setimpal dengan kerugian atau kesengsaraan yang diakibatkan oleh pelaku.

2. Teori tujuan (Teori Relatif)

Teori relatif berbeda dengan teori absolut, yang mana teori ini memiliki dasar bahwa pidana bukan hanya untuk membalaskan dendam terhadap para pelaku namun pidana menjadi salah satu alat untuk mewujudkan ketertiban dalam masyarakat. Teori relatif disebut sebagai teori utilitarian, yang hidup akibat suatu reaksi terhadap teori absolut.

Muladi dan Barda Nawawi Arief (Zainal Abidin, 2005: 11) berpendapat dalam teori ini pemidanaan bukan sebagai suatu pembalasan atas kejahatan yang dilakukan pelaku tetapi pemidanaan menjadi suatu sarana untuk mencapai tujuan yang bermanfaat untuk kesejahteraan masyarakat.

Tujuan dalam teori ini dibagi menjadi 3 (tiga) yaitu10: a. Untuk menakuti para pelaku.

Anselm Non Reuerbach beranggapan bahwa teori relatif memiliki tujuan untuk memberikan rasa takut pada pelaku kejahatan sehingga

10 Erdiantor Effendi. Hukum Pidana Indonesia: Suatu Pengantar. (Bandung: PT Refika Adiama, 2011). Hal. 143

(7)

19 pelaku atau seseorang takut untuk melakukan kejahatan. Untuk itu hukuman yang berat harus diberikan bagi pelaku kejahatan.

b. Untuk memperbaiki.

Hukuman dijatuhkan dengan tujuan untuk memperbaiki pelaku kejahatan agar tidak melakukan perbuatan yang sama, serta dapat berguna bagi masyarakat.

c. Untuk melindungi.

Tujuan pemidanaan dalam teori relatif menurut teori ini yaitu untuk melindungi masyarakat dari kejahatan, dengan cara megasingkan pelaku kejahatan dari kehidupan masyarakat (pemidanaan).

Sanksi yang ada dalam pemidanaan lebih berfokus pada tujuannya untuk mencegah seseorang melakukan kejahatan atau pelaku kejahatan melakukan perbuatan yang sama untuk kesekian kalinya. Jadi menurut teori ini tujuan adanya pidana bukan hanya semata-mata untuk pembalasan atas keadilan saja. Teori ini menekankan bahwa tujuan dari pidana juga untuk mendidik atau memperbaiki para narapidana agar menjadi pribadi yang lebih baik.

3. Teori gabungan (Virenigingstheorieen)

Teori gabungan yaitu teori yang menggambungkan antara teori absolut dan teori relatif. Menurut teori ini tujuan pidana selain untuk membalas kesalahan yang dilakukan oleh pelaku, namun juga bertujuan untuk melindungi masyarakat dan mewujudkan ketertiban11. Teori ini lahir

11 Usman. Analisis Perkembangan Teori Hukum Pidana. Jurnal Ilmu Hukum. Vol.2, No.1. Hal. 73

(8)

20 atas dasar pertimbangan bahwa adanya kelemahan di dalam teori absolut dan teori relatif.

Kelemahan kedua teori tersebut yaitu (Koeswadji, 1995 : 11-12):

1) Kelemahan teori absolut :

a. Menimbulkan ketidakadilan, karena dalam beberapa kasus harus disertakan dan mempertimbangkan bukti-bukti yang sah;

b. Pembalasan yang dilakukan dalam teori ini hanya dapat dilakukan oleh negara yang memberikan pidana saja.

2) Kelemahan teori relatif :

a. Dapat menimbulkan ketidakadilan bagi pelaku kejahatan yang ringan dijatuhi dengan pidana yang berat hanya untuk sekedar menakuti pelaku;

b. Teori relatif dianggap mengabaikan rasa kepuasan masyarakat atau korban untuk membalas dendam, karena tujuan utama dari teori ini yaitu untuk memperbaiki pelaku kejahatan;

c. Dalam prakteknya teori ini sulit untuk dilaksanakan.

Pada dasarnya teori gabungan berusaha untuk melahirkan keseimbangan antara unsur balas dendam dalam teori absolut dengan tujuan untuk memperbaiki pelaku tindak pidana. Teori ini menekankan bahwa pidana tidak dapat dikecilkan dengan artian pidana memiliki sanksi yang berkaitan erat dengan tujuan dari sanksi-sanksi tersebut.

(9)

21 2. Tinjauan Umum Kebijakan Tindak Pidana Korupsi

Pengertian korupsi selalu berkembang dari masa ke masa, hal ini karna korupsi berjalan beriringan mengikuti perkembangan dan mencerminkan kehidupan masyarakat dari sisi yang buruk. Menurut Subekti, korupsi adalah suatu tindak pidana yang memperkaya diri sendiri dengan merugikan keuangan dan perekonomian negara12. Lebih lanjut Robert Klitgard mendefinisikan korupsi sebagai suatu perbuatan yang menyimpang dari tugas-tugas yang seharusnya di lakukan dalam jabatan, dimana perbuatan tersebut dilakukan agar dapat memperoleh keuntungan berupa status dan uang yang menyangkut perorangan atau kelompok orang tertentu13.

Sedangkan menurut M. Cholil Nafis, ada tiga kejahatan yang dapat ditemui dalam tindak pidana korupsi yaitu 14:

1) Kejahatan akibat tindak pidana korupsi yang memiliki dampak langsung pada keuangan negara, yang menyebabkan berkurangnya keuangan negara dan berakibat hilangnya keadilan terhadap hak-hak masyarakat, serta kesenjangan sosial ekonomi yang akan semakin luas;

2) Hilangnya hak hidup masyarakat dan pengaturan mengenai keuangan negara; dan

3) Tindak pidana korupsi juga dapat berdampak bagi generasi penerus bangsa, serta dapat menjatuhkan

12 H. Agus Kasiyanto. TINDAK PIDANA KORUPSI: Pada Proses Pengadaan Barang dan Jasa.

(Jakarta: PRENADAMEDIA, 2018). Hal. 4

13 Edy Herry Pryhatoro. Korupsi Dalam Perspektif Teori Sosial Kontemporer. (Jakarta:Spasi Media, 2016). Hal 38

14 Ibid. Hal. 39

(10)

22 Karena korupsi termasuk dalam kejahatan yang luar biasa serta membutuhkan penanganan atau aturan sendiri untuk memberantasnya, maka korupsi tergolong dalam hukum pidana khusus. Selain itu korupsi juga memiliki ciri khas tersendiri yaitu adanya suatu peyimpangan terhadap pidana umum atau hukum acara15. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi menjadi payung hukum dalam memberantas dan menghukum para pelaku. Pengertian korupsi dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 diambil dari Pasal 2 dan Pasal 3 yakni:

1) Setiap orang yang secara melawan hukum dengan melakukan perbuatan untuk memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.

2) Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, dengan menyalahgunakan kewenangan, kesempatan, atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.

Dalam Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UUPTPK), segala perbuatan kejahatan disebut dengan perbuatan melawan hukum. Perbuatan melawan hukum yang dimaksud dalam UUPTPK yaitu walaupun perbuatan yang dilakukan oleh pelaku tidak diatur dalam Undang-

15 Ermansjah Djaja. Tipologi Tindak Pidana Korupsi Di Indonesia: Tujuh Tipe Tindak Pisana Korupsi Berdasarkan UU RI No. 31 Tahun 1999 Jo. No. 20 Tahun 2001. (Bandung: CV. Mandar Maju, 2010). Hal. 32

(11)

23 Undang tertentu, namun perbuatan tersebut dianggap tercela dan tidak sesuai dengan keadilan, norma, dan nilai-nilai yang berlaku dalam kehidupan masyarakat maka perbuatan tersebut dapat dijatuhi hukuman pidana.

Kemudian subjek delik dalam korupsi menurut Martiman Prodjohamidjojo terbagi atas beberapa kelompok yaitu manusia, korporassi, pegawai negeri, dan setiap orang16. Sedangkan dalam Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana korupsi, merumuskan subjek hukum yang terdiri dari :

1) Subjek hukum orang.

Subjek hukum orang dikenal mengarah pada dua subjek orang.

Subjek yang pertama merupakan subjek hukum orang pada umumnya atau dalam Undang-Undang sering disebut “Setiap Orang”, sebagaimana dalam Pasal 2, Pasal 3, Pasal 5, Pasal 6, Pasal 21, dan Pasal 22.

Sedangkan subjek hukum orang yang kedua merupakan subjek hukum orang yang dianggap memiliki suatu kewenangan khusus yang terdiri dari pegawai negeri atau penyelenggara negara, sebagaimana dalam Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, Pasal 11, Pasal 12.

Pengertian pegawai negeri dapat dilihat dalam Pasal 1 angka (2) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 yang menyatakan bahwa pegawai negeri adalah orang yang menerima gaji atau upah dari keuangan negara atau daerah. Selanjutnya pengertian penyelenggara negara dapat dilihat dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas dari Korupsi,

16 Evi Hartanti. Tindak Pidana Korupsi. (Jakarta: Sinar Grafika, 2008). Hal. 21

(12)

24 Kolusi, dan Nepotisme. Pasal 1 angka (1) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 menyatakan “Penyelenggara negara adalah Pejabat Negara yang menjalankan fungsi eksekutif, legislatif, atau yudikatif, dan pejabat lain yang fungsi dan tugas pokoknya berkaitan dengan penyelenggaraan negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku”. Selanjutnya dalam Pasal 2 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 penyelenggara negara meliputi :

a) Pejabat negara pada lembaga tertinggi negara;

b) Pejabat negara pada lembaga tinggi negara;

c) Menteri;

d) Gubernur;

e) Hakim;

f) Pejabat negara yang lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku; dan

g) Pejabat lain yang memiliki fungsi strategis dalam kaitannya dengan penyelenggaraan negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2) Subjek hukum korporasi.

Pengertian korporasi diatur dalam Pasal 1 angka (1) Undang- Undang Nomor 31 Tahun 1999, yang menyatakan “Korporasi adalah kumpulan orang dan atau kekayaan yang terorganisasi baik merupakan badan hukum maupun bukan badan hukum”. Dari pengertian ini maka

(13)

25 objek korporasi menjadi luas dan tidak hanya meliputi perusahaan yang berbentuk badan hukum dan yang bukan berbentuk badan hukum saja, namun meliputi setiap perkumpulan baik yang termasuk dalam badan hukum maupun yang bukan badan hukum17. Contohnya seperti suatu yayasan.

Kemudian berdasarkan sifatnya tindak pidana korupsi dibagi kedalam dua bentuk oleh Baharuddin Lopa yaitu18:

a) Korupsi yang bermotif terselubung, yaitu korupsi yang memiliki motif lain seperti politik tetapi secara tersembunyi memiliki tujuan untuk mendapatkan uang dengan cara korupsi;

b) Korupsi yang bermotif ganda, yaitu kebalikan dari korupsi bermotif terselubung. Dimana motif awal untuk mendapatkan uang, namun sesungguhnya memiliki motif atau tujuan utama hanya untuk kepentingan politik.

Terjadinya tindak pidana korupsi bukan hanya berkaitan dengan kepribadian seseorang saja, namun adanya faktor yang dapat mendorong seseorang untuk melakukan korupsi. “Gone Theori” merupakan istilah dari rumus penyebab terjadinya korupsi yang dikemukakan oleh Jack Bologne, yang memiliki arti :

 G = Greeds, yang berarti keserakahan;

17 Lakso Anindito. Lingkup Tindak Pidana Korupsi dan Pembuktian Kesalahan Dalam Sistem Pertanggungjawaban Pidana Korporasi di Indonesia, Inggris, dan Prancis. Artikel Hukum.

(Jakarta: Anti- Corruotion Clearing House, 2017). Diakses dari

https://acch.kpk.go.id/en/artikel/paper/48-riset-publik/815-lingkup-tindak-pidana-korupsi-dan- pembuktian-kesalahan-dalam-sistem-pertanggungjawaban-pidana-korporasi-di-indonesia- inggris-dan-prancis Pada tanggal 19 Mei 2022.

18 Ibid.

(14)

26

 O = Opportunities, yang berarti kesempatan;

 N = Needs, yang berarti kebutuhan; dan

 E = Exposure, yang berarti pengungkapan.

Abdullah Hehamahua selaku penasihat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyatakan bahwa berdasarkan beberapa kasus tindak pidana korupsi yang terjadi di Indonesia, ada delapan penyebab terjadinya korupsi yaitu 19:

1) Adanya kelalaian dalam sistem penyelenggaraan negara;

2) Kompensasi atau upah dari pegawai negeri sipil (PNS) yang rendah;

3) Kepribadian serakah yang ada dalam diri para pejabat;

4) Penegakan hukum di Indonesia yang tidak berjalan secara efektiv;

5) Hukuman yang ringan terhadap pelaku tindak pidana korupsi;

6) Kurang ketatnya pengawasan;

7) Tidak adanya keteladanan dalam kepemimpinan; dan

8) Korupsi yang sudah menjadi budaya dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Dari uraian di atas maka menurut singkat penulis bahwa faktor-faktor yang mendorong seseorang dapat melakukan tindak pidana korupsi yaitu karena adanya keserakahan yang berasal dari ketidakpuasaan seseorang dalam hal pekerjaan maupun upah yang didapatkannya, serta kebutuhan hidup sehari-

19 Ermansjah Djaja. Tipologi Tindak Pidana Korupsi di Indonesia. (Bandung: CV Mandar Maju, 2010). Hal. 49

(15)

27 hari yang semakin tinggi. Selain itu seseorang berani untuk melakukan korupsi karena adanya suatu kesempatan akibat kurangnya sistem pengawasan.

Korupsi dikatakan sebagai kejahatan yang luar biasa (extraordinary crime) karena membawa dampak buruk bagi negara dan masyarakat. Oleh karena itu kebijakan legislasi diterapkan oleh pemerintah untuk menyempurnakan komponen hukum, baik secara substansi maupun komponen struktur hukum yang bertujuan agar pemberantasan tindak pidana korupsi dapat berjalan secara efektiv20. Adapun kebijakan-kebijakan pemerintah yang dimaksud yaitu :

1. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1960 tentang Pengutusan, Peuntutan, dan Pemeriksaan Tindak Pidana Korupsi;

2. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi;

3. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi; dan

4. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Pada prinsipnya hukum pidana formil dalam tindak pidana korupsi bersumber pada ketetapan KUHAP, kecuali ditetapkan secara khusus dalam Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Pemberian sanksi

20 Sujono. Pemulihan Aset Korupsi : Melalui Pembayaran Uang Pengganti dan Gugatan Perdata Negara. (Yogyakarta: GENTA Publishing, 2020). Hal 3

(16)

28 pidana dalam kasus korupsi, terdiri dari sanksi pokok dan sanksi tambahan.

Sistem dua jalur dalam sanksi pidana juga di atur dalam Pasal 10 KUHP yang terdiri dari:

1) Pidana pokok : c. Pidana mati;

d. Pidana penjara;

e. Pidana kurungan;

f. Denda; dan g. Pidana tutupan.

2) Pidana atambahan

a. Pencabutan hak-hak tertentu;

b. Perampasan barang-barang tertentu; dan c. Pengumuman keputusan hakim

Sedangkan sanksi pidana yang dapat dijatuhi kepada para pelaku tindak pidana korupsi menurut Undang-Undang nomor 31 Tahun 1999 JO Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, terdiri dari:

a) Pidana mati.

Pidana mati merupakan hukuman pidana terberat yang diatur dalam Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi karena berkaitan dengan hak asasi manusia yang mana dapat merenggut hak hidup seseorang (pelaku). Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi menyatakan bahwa “Dalam hal tindak pidana

(17)

29 korupsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dalam keadaan tertentu, pidana mati dapat dijatuhkan”. Keadaan tertentu yang dimaksud yaitu ketika seseorang melakukan korupsi dalam keadaan bencana alam, krisis ekonomi, dan sebagainya, maka pelaku tersebut dapat dijatuhi dengan pidana mati.

b) Pidana penjara.

Dalam Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, pidana penjara menjadi pidana pokok yang mana segala bentuk perbuatan korupsi diancam dengan pidana penjara. Adapun bentuk tindak pidana korupsi serta sanksi minimum pidana penjara yaitu :

- Tindakan pidana korupsi yang dilakukan dengan unsur memperkaya diri sendiri, di hukum dan diancam dengan Pasal 2 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Dengan ancaman pidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun.

- Tindak pidana korupsi dengan menyalahgunakan wewenang atau jabatannya, dihukum dan diancam dengan Pasal 3 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Dengan ancaman pidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 20 tahun.

- Tindak pidana korupsi yang dilakukan dengan penyuapan, dihukum dan diancam dengan Pasal 5 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Dengan ancaman pidana penjara paling sangkat 1 tahun dan paling lama 5 tahun.

- Tindak pidana korupsi dengan penggelapan dalam jabatan, dihukum dan diancam dengan pasal 8 Undang-Undang Pemberantasan Tindak

(18)

30 Pidana Korupsi. Dengan pidana penjara paling singkat 3 tahun dan paling lama 15 tahun.

c) Pidana denda

Dalam tindak pidana korupsi hukuman denda bagi para pelaku merupakan sebuah kewajiban yang harus di bayar. Jumlah uang denda yang harus dibayar para pelaku terbilang tinggi, hal ini bertujuan agar tercapainya tujuan memberantas tindak pidana korupsi.

d) Pidana tambahan

Dalam kasus korupsi dikenal dengan adanya pidana tambahan bagi para pelaku selain pidana pokok yang dijatuhi. Pidana tambahan dalam Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi diatur dalam Pasal 18 ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Pidana tambahan dijatuhkan oleh hakim, namun pidana tambahan bersifat fakulatif yang berarti tidak wajib untuk dilakukan.

Diketahu pemberantasan tindak pidana korupsi pada dasarnya berfokus pada 3 tindakan yaitu tindakan secara preventif, represid, dan restoratif21. Tindakan Preventif, yang mana tindakan ini berkaitan dengan kebijakan pengaturan yang memberantas tindak pidana korupsi dengan harapan memberikan efek jera atau dapat mengurangi terjadinya tindak pidana korupsi; Tindakan Represid, yang mana tindakan ini berkaitan dengan upaya yang dilakukan oleh penegak hukum dalam menegakan hukum tindak pidana korupsi baik dalam proses penyelidikan, penyidikan, penuntutan, sampai ke proses pemeriksaan di

21 Fuzi Narindarani. Penyelesaian Korupsi Dengan Menggunakan Restoratif Justice (Corruption Settlement Using Justice Restoratives). Jurnal Penelitian Hukum. Vol.20, No.4. 2020. Hal. 610

(19)

31 persidangan atau putusan hakim; dan Tindakan Restoratif, dalam tindakan ini selalu mengupayakan pengembalian aset dari hasil tindak pidana korupsi.

3. Pengembalian Aset Negara Akibat Tindak Pidana Korupsi

Dalam menghukum para pelaku tindak pidana korupsi, tidak hanya sanksi pidana penjara saja yang akan dijatuhi. Mengingat pemberantasan korupsi yang berfokus bukan hanya untuk memberikan efek jera bagi para pelaku, namun juga untuk mengembalikan kerugian negara akibat dari korupsi.

Istilah pengembalian aset (asset recovery) berarti memulangkan aset atau memulihkan aset tersebut kembali seperti dahulu22. Pengembalian aset adalah suatu proses untuk mengembalikan aset hasil kejahatan yang dilakukan secara terintegrasi dalam tahap penegakan hukum, yang mana nilai aset tersebut dapat dikembalikan secara utuh kepada negara23. Dalam Konvensi Anti Korupsi (KAK) Tahun 2003, pengertian aset didefinisikan sebagai suatu kekayaan yang berasal dari hasil-hasil kejahatan. Matthew H. Fleming berpendapat bahwa definisi pengembalian aset terdiri dari 3 (tiga) faktor pengertian, yaitu24:

1. Pengembalian aset berarti merampas kembali harta kekayaan milik negara;

2. Aset yang dirampas merupakan hasil keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana korupsi; dan

22 Ulang Mangun Sosiawan. Penanganan Pengembalian Aset Negara Hasil Tindak Pidana Korupsi Dan Penerapan Konvensi PBB Anti Korupsi di Indonesia. Jurnal Penelitian Hukum De Jure. Vol.

20, No. 4. 2020. Hal. 590

23 Aliyth Prakarsa & Rena Yulia. Model Pegembalian Aset (Asset Recovery) Sebagai Alternatif Memulihkan Kerugian Negara Dalam Perkara Tindak Pidana Korupsi. Jurnal Hukum PRIORIS.

Vol.6, No. 1. 2017. Hal. 35

24 Mahmud Ade. Pengembalian Aset Tindak Pidana Korupsi Pendekatan Hukum Progresif.

(Jakarta: Sinar Grafika, 2020). Hal. 85

(20)

32 3. Tujuannya untuk mencegah hasil kejahatan digunakan untuk kejahatan

yang lain.

Kata pengembalian aset mengandung makna bahwa pelaku tindak pidana yang menguasai suatu aset dari hasil kejahatan, dianggap tidak sah dan harus mengembalikan aset tersebut kepada pihak yang berwenang atau memiliki hak yang sah atas aset tersebut. Pada umumnya pengembalian aset merupakan suatu sistem dalam penagakan hukum yang dilakukan oleh negara sebagai korban dari tindak pidana korupsi untuk mencabut, merampas, dan menghilangkan hak pelaku atas aset hasil tindak pidana korupsi melalui proses pidana maupun perdata25.

Pengembalian aset pada dasarnya diharapkan dapat memberikan suatu dampak baik yang dapat menutupi kerugian negara akibat tindak pidana korupsi. Menurut Michael Levi terdapat 4 (empat) alasan dilaksanakannya pengembalian aset, yaitu 26:

1. Untuk mencegah agar aset dari hasil korupsi tidak digunakan kembali untuk melakukan tindak pidana lainnya;

2. Adanya alasan kepatutan yang mana pelaku tindak pidana korupsi tidak memiliki hak secara sah dalam memperoleh aset tersebut;

3. Adanya alasan prioritas yang mana negara dapat menuntut kembali aset yang diperoleh secara tidak sah kepada pelaku; dan

25 Ibid. Hal. 86

26 Purwaning Yanuar. Pengembalian Aset Hasil Korupsi. (Bandung: PT. Alumni, 2015). Hal. 101

(21)

33 4. Alasan kepemilikan yang mana aset tindak pidana tersebut merupakan

milik dari negara.

Sedangkan menurut hukum positif Indonesia pengembalian aset akibat tindak pidana korupsi dapat dilakukan dengan 3 (tiga) instrumen hukum, yaitu : 1. Instrumen Hukum Administrasi.

Pengembalian aset melalui instrumen hukum administrasi diatur dalam Pasal 59 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara yang menyatakan bahwa :

(1). Setiap kerugian negara atau daerah yang disebabkan oleh tindakan melanggar hukum atau kelalaian seseorang harus segera diselesaikan dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

(2). Bendahara, pegawai negeri bukan bendahara, atau pejabat lain yang karena perbuatannya melangar hukum atau melalaikan kewajibannya yang dibebankan kepadanya seara langsung merugikan keuangan negara, wajib mengganti kerugian tersebut.

(3). Setiap pemimpin kementerian negara atau lembaga atau kepala satuan kerja perangkat daerah dapat segera melakukan tuntutan ganti rugi, setelah mengetahui bahwa dalam kementerian negara atau lembaga atau satuan kerja perangkat daerah yang bersangkutan terjadi kerugian negara akibat perbuatan dai pihak manapun.

Dari pasal di atas kemudian para pejabat yang menyebabkan kerugian negara harus membuat pernyataan kesanggupan untuk membayar kerugian negara secara tertulis serta bertanggung jawab penuh atas kerugian negara yang

(22)

34 diakibatkannya, sebagaimana dalam Pasal 60 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004. Pengembalian kerugian negara melalui hukum administrasi secara singkat terdiri dari 3 unsur yaitu27 :

a. Tuntutan yang dilakukan melalui tuntutan perbendaharaan negara atau daerah yang jumlahnya sudah nyata dan pasti;

b. Gugurnya tuntutan pidana jika kerugian negara atau daerah telah dikembalikan; dan

c. Jika adanya kemungkinan pelaku tidak dapat mengembalikan keuangan negara maka akan dilakukan sita jaminan (conservatoir bleslaag).

Dalam mekanisme administrasi ini, pengembalian kerugian negara menjadi suatu hal yang wajib dilakukan oleh para pelaku.

2. Instrumen Hukum Perdata.

Upaya pengembalian aset akibat korupsi melalui instrumen hukum perdata dapat dilihat dalam Pasal 38C Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Juncto Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, yang menyatakan bahwa :

“Apabila setelah putusan pengadilan telah memperoleh kekuatan hukum tetap, diketahui masih terdapat harta benda milik terpidana yang diduga atau patut diduga juga berasal dari tindak pidana korupsi yang belum dikenakan perampasan untuk negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal

27 Ade Mahmud. Pengembalian Aset Tindak Pidana Korupsi Pendekatan Hukum Progresif.

(Jakarta: Sinar Grafika, 2020). Hal. 201

(23)

35 38 B ayat (2), maka negara dapat melakukan gugatan perdata terhadap terpidana dan atau ahli warisnya”.

Gugatan perdata dalam pengembalian aset dapat dilakukan jika tindak pidana tidak memiliki cukup bukti, namun adanya kerugian negara yang terjadi secara nyata. Selain itu gugatan perdata juga dapat dilakukan jika terdakwa divonis bebas atau meninggal dunia. Gugatan ini bertujuan untuk memberikan rasa keadilan bagi masyarakat sebagai akibat dari perbuatan yang dilakukan oleh pelaku tindak pidana korupsi.

3. Instrumen Hukum Pidana

Pengembalian aset secara instrumen hukum pidana merupakan salah satu instrumen yang paling banyak digunakan dan paling terkenal dibandingkan dengan instrumen hukum administrasi dan hukum perdata.

Hal ini karena pengembalian kerugian negara melalui instrumen pidana dianggap lebih kejam dibandingkan yang lainnya. Walaupun pelaku telah membayar kerugian negara namun tidak akan menghapuskan tanggungjawab pidananya.

Unsur-unsur yang ada dalam pengembalian kerugian negara melalui instrumen hukum pidana yaitu :

a. Berpatokan pada kata “dapat” dalam Pasal 2 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, yang berarti walaupun masih bersifat berpotensi untuk melakukan korupsi serta menyebabkan kerugian maka sudah dapat dipidana;

(24)

36 b. Pengembalian kerugian negara dilakukan melalui pembayaran uang pengganti yang setara dengan kerugian negara, serta penyitaan harta benda jika pelaku tidak sanggup membayar uang pengganti; dan c. Pidana bagi pelaku tetap harus dijalankan meskipun telah membayar

uang pengganti.

4. Tinjauan Umum Pidana Tambahan Uang Pengganti

Uang pengganti merupakan bentuk pidana tambahan dalam tindak pidana korupsi yang memiliki peran penting dalam memulihkan kerugian negara akibat korupsi. Uang pengganti di atur dalam Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Selain itu uang pengganti juga diatur dalam Peraturan Mahkamah Agung Nomor 5 Tahun 2014 tentang Pidana Tambahan Uang Pengganti Dalam Tindak Pidana Korupsi, serta dalam Peraturan Kejaksaan Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2020 tentang Penyelesaian Uang Pengganti Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Selain pidana tambahan yang diatur dalam Pasal 10 ayat (2) KUHP, Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juga mengenal adanya pidana tambahan yang terdiri dari :

a. perampasan barang bergerak yang berwujud atau yang tidak berwujud atau barang tidak bergerak yang digunakan untuk atau yang diperoleh dari tindak pidana korupsi, termasuk perusahaan milik terpidana di mana tindak pidana korupsi dilakukan, begitu pula dari barang yang menggantikan barang-barang tersebut;

b. pembayaran uang pengganti yang jumlahnya sebayak-banyaknya sama dengan harta benda yag diperoleh dari tindak pidana korupsi;

(25)

37 c. penutupan seluruh atau sebagian perusahaan untuk waktu paling lama 1

(satu) tahun;

d. pencabutan seluruh atau sebagian hak-hak tertentu atau penghapusan seluruh atau sebagian keuntungan tertentu, yang telah atau dapat diberikan oleh Pemerintah kepada terpidana.

Pengertian uang pengganti tidak diatur dalam Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UUPTPK), namun dapat dilihat dalam Pasal Peraturan Kejaksaan Republik Nomor 18 Tahun 2020 yang menyatakan bahwa uang pengganti adalah pidana tambahan yang dijatuhkan oleh hakim terhadap terpidana dalam perkara tindak pidana korupsi berdasarkan UUPTPK dan putusan tersebut telah berkekuatan hukum tetap. Pada dasarnya pidana tambahan uang pengganti merupakan suatu konsekuensi hukum bagi seseorang yang telah menyebabkan kerugian terhadap orang lain (dalam hal ini negara), dengan mengharuskan orang tersebut untuk membayar sejumlah uang atau barang terhadap negara agar dapat menggantikan kerugian negara28. Pidana tambahan uang pengganti berbeda dengan pidana denda walaupun keduanya memiliki objek yang sama (uang). Uang pengganti berhubungan dengan kerugian negara, sedangkan pidana denda tidak dihubungkan dengan kerugian negara akibat korupsi. Untuk itu dapat disimpulkan bahwa tujuan utama pidana tambahan uang pengganti yaitu untuk mengembalikan kerugian negara akibat korupsi. Jumlah uang pengganti yang harus dibayar oleh pelaku juga harus

28 Arhjayanti Rahim. Analisis Substansi Pidana Uang Pengganti Dalam Kasus Tindak Pidana Korupsi. Jurnal Hukum. Vol.3, No. 1. 2020. Hal. 95

(26)

38 sama dengan kerugian negara yang diakibatkan oleh pelaku, sebagaimana dalam Pasal 18 ayat (1) huruf b Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999.

Pembayaran uang pengganti dilakukan oleh jaksa eksekutor yang memiliki kewenangan penuh. Eksekusi pembayaran uang pengganti menurut Pasal 9 PERMA Nomor 5 Tahun 2014 dilakukan sebagai berikut:

1. Terpidana harus membayar uang pengganti setelah adanya putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap, dengan jangka waktu pembayaran selama 1 (satu) bulan;

2. Jika dalam jangka waktu satu bulan terpidana tidak mampu untuk membayar uang pengganti, maka jaksa akan melakukan peyitaan harta benda milik terpidana;

3. Harta benda yang telah disita akan dilelang jika terpidana tidak membayar uang pengganti. Pelelangan harta benda terpidana dapat dilakukan oleh Jaksa dan lelang tersebut dilakukan selambat-lambatnya 3 bulan setelah penyitaan.

Jika harta benda yang telah dilelang tersebut tidak dapat menutupi kerugian negara maka akan digantikan dengan pidana subsider berupa pidana penjara yang tidak melebihi pidana pokok. Namun jika pelaku tindak pidana korupsi adalah suatu korporasi maka uang pengganti menjadi suatu kewajiban yang harus dibayarkan dan tidak dapat dijatuhi pidana penjara pengganti, hal ini ditegaskan dalam Pasal 7 ayat (2) PERMA Nomor 5 Tahun 2014. Pada dasarnya pembayaran uang pengganti dilakukan dengan 4 tahap yaitu tahap penagihan, tahap pembayaran uang pengganti, tahap penyitaan atau

(27)

39 pelelangan, dan tahap gugatan perdata29. Dalam prakteknya pembayaran uang pengganti sering terjadi penunggakan yang berpotensi kerugian negara tidak dapat kembali seperti semula. Untuk itu penyelesaian penunggakan uang pengganti diatur dalam Peraturan Kejaksaan Nomor 19 Tahun 2020 yang terdiri dari :

1. Penyelesain Uang Pengganti Secara Non Litigasi.

Penyelesaian secara non litigasi yaitu penyelesaian uang pengganti yang dilakukan oleh jaksa pengacara negara berdasarkan surat perintah kepala kejaksaan negeri dengan melakukan suatu negosiasi atau bermusyawarah dengan pelaku tindak pidana korupsi yang bertujuan untuk menapai kesepakatan bersama dalam menyelesaikan pembayaran uang pengganti tanpa melalui proses pengadilan. Sebelumnya akan dilakukan penelusuran aset (asset tracing) terhadap harta benda yang dimiliki terpidana. Dalam hal negosiasi yang dilakukan, terdiri dari 2 cara pembayaran yakni secara tunai dan secara angsuran.

Jangka waktu pembayaran uang pengganti secara angsuran ditentukan berdasarkan kesepakatan antara terpidana dan jaksa dengan tidak melebihi dua tahun sejak ditandatanganinya berita acara negosiasi, sebagaimana Pasal 11 ayat (3) Peraturan Kejaksaan Nomor 19 Tahun 2020. Namun jika terpidana memenuhi kewajibannya dalam pelunasan angsuran uang pengganti maka jaksa wajib menindaklanjuti dengan penyelesaian litigasi.

29 Kabib Nawawi, Andi Najemi. Pelaksanaan Eksekusi Pembayaran Uang Pengganti Terhadap Putusan Pengadilan Dalam Perkara Tindak Pidana Korupsi Pada Kejaksaan Negeri Kuala Tungkal. Jurnal Sains Sosio Humaniora. Vol. 5, No. 1. 2021. Hal. 263

(28)

40 2. Penyelesaian Uang Pengganti Secara Litigasi.

Penyelesaian litigasi yaitu suatu tindakan hukum yang dilakukan oleh jaksa pengacara negara dengan melalui gugatan secara perdata ke pengadilan terhadap pelaku yang belum membayar uang pengganti dengan tujuan agar kerugian keuangan negara dapat dikembalikan berdasarkan putusan pegadilan. Penyelesaian secara litigasi dapat dilakukan melalui gugatan perdata jika peyelesaian non litigasi tidak berhasil dilakukan, terjadi wanprestasi dalam pelunasan angsuran pembayaran uang pengganti, dan terpidana memiliki harta benda untuk melunasi pembayaran uang pengganti.

Dari uraian di atas maka dapat diketahui bahwa uang pengganti bukan hanya sebagai pidana tambahan dalam tindak pidana korupsi, namun uang pengganti sebagi suatu wadah untuk mengembalikan kerugian akibat korupsi. Namun dalam pelaksanaannya uang pengganti dianggap kurang efektiv dan tidak dapat mengembalikan kerugian negara akibat korupsi.

5. Teori Keadilan Restoratif Dalam Penerapan Uang Pengganti

Teori keadilan restoratif (restorative justice) merupakan suatu pandangan yang lebih mengutamakan pemulihan kerugian akibat dari suatu tindak pidana. Umbreit (2001) mendefinisikan keadilan restoratif sebagai suatu gagasan dalam tindak pidana yang mengizinkan korban, pelaku, serta keluarga mereka untuk menangani kerusakan atau kerugian yang diakibatkan oleh tindak pidana secara bersama-sama. Dari definisi tersebut Tony Marshall juga berpendapat bahwa teori keadilan restoratif merupakan sebuah konsep dalam

(29)

41 pemecahan masalah tindak pidana dengan melibatkan pihak yang terlibat30. Selanjutnya dalam Surat Keputusan Direktur Jenderal Badan Peradilan Umum Nomor 1691/DJU/SK/PS.00/12/2020 tentang Pedoman Penerapan Restorative Justrice Di Lingkukan Peradilan Umum menegaskan bahwa keadilan restoratif diartikan sebagai alternatif penyelesaian perkara tindak pidana yang dalam mekanisme tata cara peradilannya berfokus pada pemidanaan yang diubah dengan mediasi antara pelaku, korban, dan keluarga dari masing-masing pihak untuk mengedepankan pemulihan kembali atas kerugian yang diakibatkan.

Jika dilihat dalam sejarahnya teori keadilan restoratif pertamakali di kembangkan oleh Albert Eglash pada tahun 197731. Keadilan restoratif di Indonesia pertama kali dikenal dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak dan diterapkan dalam beberapa penyelesaian kasus di Indonesia, seperti pada kasus tindak pidana yang melibatkan anak-anak. Namun untuk tindak pidana korupsi di Indonesia, teori keadilan restoratif belum sepenuhnya diterapkan karena pemberantasan tindak pidana korupsi lebih mengarah pada teori keadilan retributif. Yang mana menurut teori retributif sanksi yang diterima pelaku harus setara dengan tindakkannya untuk memenuhi keadilan dalam masyarakat32. Dilihat dari Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, yang mana semua sanksi megarah pada sanksi pidana penjara bagi para pelaku, seperti pidana

30 Tony Marshall. Restorative Justice: An Overview. (London : Home Office Research Development and Statistic Directorate, 1999). Hal. 5. Diakses dari

https://restorativejustice.org.uk/ Pada 3 Juni 2022.

31 Hariman Satria. Restorative justice : Paradigma Baru Peradilan Pidana”. Jurnal Media Hukum.

Vol.25, No. 1. 2018. Hal. 116

32 Yosuno Piadi. Implementasi Restoratif Justice dalam Pemidanaan PelakuTindak Pidana Korupsi. Jurnal Rechten : Riset Hukum dan Hak Asasi Manusi. No. 1, Vol.1. 2019. Hal. 4

(30)

42 penjara bagi terpidana yang tidak dapat membayar kerugian negara lewat uang pengganti, maka mempertegas adanya teori keadilan retributif dalam pemberantasan tindak pidana korupsi.

Jika kembali mengingat tujuan utama dari pemberantasan tindak pidana korupsi sejalan dengan teori keadilan restoratif, dimana tidak hanya memberikan efek jera namun juga untuk mengembalikan kerugian negara akibat korupsi. Maksud dari teori keadilan restoratif bukan berarti akan mengahapus pidana penjara, namun menjadikan uang pengganti sebagai primum remedium yang mewajibkan pelaku untuk membayar uang pengganti agar tujuan yang ada dalam Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi dapat tercapai. Marwan berpendapat bahwa teori restorative justice dapat diterapkan dalam tindak pidana korupsi dengan maksud berbeda dengan penerapan restorative justice pada tindak pidana umumnya yang harus melibatkan para pihak korban, pelaku dan masyarakat karena mengingat korban dalam tindak pidana korupsi adalah negara33. Lebih lanjut Marwan menegaskan bahwa resstorative justice yang dimaksud dalam masalah korupsi lebih menitik beratkan pada pengembalian kerugian negara.

Sependapat dengan Marwan dimana teori keadilan restoratif dalam korupsi bukan sebagai suatu penyelesaian yang melibatkan korban atau menjadikan peradilan restoratif, namun teori ini dapat dijadikan sebagai konsep dalam menghukum pelaku tindak pidana korupsi yang tidak terbatas hanya pada hukuman pidana saja namun lebih mengedepankan efektivitas

33 Budi Surhariyanto. Restoratif Justice Dalam Pemidanaan Korporasi Pelaku Korupsi

DemiOptialisasi Pengembalian Kerugian Negara. Jurnal Rechts Vinding: Median Pembinaan Hukum Nasional. No. 3, Vol. 5. 2016. Hal. 432

(31)

43 pengembalian kerugian negara melalui uang pengganti. Mengingat dampak korupsi yang berkaitan dengan hak-hak sosial masyarakat, maka seharusnya dalam pemberantasan tindak pidana korupsi mengedepankan pengembalian kerugian negara agar program serta perekonomian negara dapat berjalan dengan baik dan memberikan dampak baik kepada masyarakat.

B. Hasil Penelitian dan Analisa

1. Hasil Penelitian

Hakim sebagai aparat penegak hukum dalam menjalankan kewajibannya di persidangan, memutus perkara dengan mempertimbangkan dan memperhatikan 3 (tiga) hal yakni kepastian hukum, kemanfaatan, dan keadilan dalam amar putusannya. Kepastian hukum menjadi perlindungan dari tindakan semena-mena yang dilakukan oleh pelaku tindak pidana.

Kepastian hukum berlandaskan pada teori sebab akibat yang mengartikan bahwa suatu perbuatan melawan hukum dapat dihukum setimpal dengan perbuatannya34.

Dalam putusannya Hakim juga harus mempertimbangkan kemanfaatan dalam penegakan hukum. Kemanfaatan yang dimaksud yaitu dapat menghilangkan tindak pidana atau suatu efek jera bagi pelaku. Selanjutnya dalam putusannya Hakim harus memperhatikan unsur keadilan dalam menghukum pelaku tindak pidana. Keadilan menjadi tujuan utama dalam penegakan hukum. Dalam mengadili tindak pidana korupsi, pertimbangan

34 Muammar, Maulana Meldanday. Penerapan Pidana Tambahan Berupa Uang Pengganti Dalam Perkara Tindak Pidana Korupsi. Jurnal Hukum. Vol. 4, No. 1, 2022. Hal. 49

(32)

44 hakim berdasar pada legal justice yang sejalan dengan norma hukum yang berlaku35.

Studi kasus yang digunakan dalam penelitian ini yakni Putusan Nomor 25/Pid.Sus-TPK/2017/PN. Jmb. Dengan Terdakwa Ir. H. Rosmansyah, MM Bin Syahril dengan Dakwaan Primair, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 2 ayat (1) Juncto Pasal 18 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999.

Selanjutnya Dakwaan Subsidair, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 3 Juncto Pasal 18 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999.

a) Pertimbangan Hakim Dalam Menjatuhkan Pidana Tambahan Uang Pengganti Dalam Tindak Pidana Korupsi Pada Putusan Nomor 25/Pid.Sus-TPK/2017/PN.Jmb.

Menimbang, bahwa mengenai uang pengganti Majelis Hakim mempertimbangkan sebagai berikut:

35 Ibid. Hal. 50

(33)

45 Menimbang, bahwa Majelis Hakim akan mempertimbangkan dakwaan Penuntut Umum Pasal 18 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001, yang rumusannya menentukan sebagai berikut:

(1) Selain pidana tambahan sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang- Undang Hukum Pidana sebagai pidana tambahan adalah:

a. Perampasan barang bergerak yang berwujud atau yang tidak berwujud atau barang tidak bergerak yang digunakan untuk atau yang diperoleh dari tindak pidana korupsi, termasuk perusahaan milik terpidana dimana tindak pidana korupsi dilakukan, begitu pula harga dari barang yang menggantikan barang-barang tersebut;

b. Pembayaran uang pengganti yang jumlahnya sebanyak- banyaknya sama dengan harta benda yang diperoleh dari tindak pidana korupsi.

(2) Jika terpidana tidak membayar uang pengganti sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b paling lama dalam waktu 1 bulan sesudah Putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, maka harta bendanya dapat disita oleh Jaksa dan dilelang untuk menutupi uang pengganti tersebut;

(3) Dalam hal terpidana tidak mempunyai harta benda yang mencukupi untuk membayar uang pengganti sebagaimana dimaksud dalam ayat

(34)

46 (1) huruf b maka dipidana dengan pidana penjara yang lamanya tidak melebihi ancaman maksimum dari pidana pokoknya sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini dan lamanya pidana tersebut sudah ditentukan dalam putusan Pengadilan.

Menimbang, bahwa berdasarkan rumusan yang termasuk dalam Pasal 18 ayat (1) huruf a, b, dan ayat (2), ayat (3) Undang-Undang R.I Nomor 31 Tahun 1999 yang telah diubah dengan Undang-Undang R.I Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, maka Majelis Hakim akan mempertimbangkan apakah dakwaan Penuntut Umum ini yaitu telah terjadi adanya Kerugian Keuangan Negara yang harus dibebankan kepada Terdakwa Ir. H. Rosmansyarah, MM Bin Syahril.

Menimbang, bahwa sebagaimana telah diuraikan dalam pertimbangan-pertimbangan unsur pada Ad. 1 (Unsur Setiap Orang), Ad.

2 (Unsur Yang Dengan Tujuan Menguntungkan Diri Sendiri atau Orang Lain atau Suatu Korporasi), Ad. 3 (Unsur Melakukan Perbuatan Memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi), Ad. 4 (unsur yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara), Ad 5 dan Ad. 6 (unsur beberapa perbuatan perhubungan yang dipandang sebagai suatu perbuatan yang diteruskan) di atas ternyata akibat dari perbuatan terdakwa Ir. H Rosmansyah, MM Bin Syahril dan kawan-kawan telah terbukti menimbulkan kerugian negara atas dugaan tindak pidana korupsi dalam penyelenggaraan ADEKSI dan BINTEK anggota DPRD Kota Jambi Tahun 2012, 2013, dan 2014 dari Badan

(35)

47 Pengawan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Provinsi Jambi Nomor : SR-26/PW05/5/2017 tanggal 10 Februari 2017, disimpulkan telah terjadi penyimpangan yang menyebabkan kerugian keuangan negara sebesar Rp. Rp4.093.325.538,00 (empat miliar sembilan puluh tiga juta tiga ratus dua puluh lima ribu lima ratus tiga puluh delapan rupiah).

Menimbang, bahwa dari keterangan saksi Nurikhwan yang menerangkan uang di Sekretariat DPRD Kota Jambi Tahun 2012, Tahun 2013, dan Tahun 2014 diberikan kepada :

Tahun 2012, kepada :

1. Terdakwa sendiri (Ir. H. Rosmansyah, MM Bin Syahril) sebesar Rp.315.000.000,00 (tiga ratus lima belas juta rupiah) secara bertahap, tidak sekaligus;

2. H. Zainal Abidin, S.E,. (Ketua DPRD Kota Jambi) sebesar Rp.207.000.000,00 (dua ratus juta rupiah), seccara bertahap, tidak sekaligus.

Tahun 2013, kepada:

1. Terdakwa sendiri (Ir. H. Rosmansyah, MM Bin Syahril) sebesar Rp.271.000.000,00 (dua ratus tuju puluh satu juta rupiah), secara bertahap, tidak sekaligus;

2. H. Zainal Abidin, S.E., (Ketua DPRD Kota Jambi) sebesar Rp.359.500.000,00 (tiga ratus lima puluh sembilan juta lima ratus ribu rupiah secara bertahap, tidak sekaligus).

(36)

48 Tahun 2014, kepada:

1. Terdakwa sendiri (Ir. H. Rosmansyah, MM Bin Syahril) sebesar Rp.363.000.000,00 (tiga ratus enam puluh tiga juta rupiah), secara bertahap tidak sekaligus;

2. Dr. Jumisar, S.H., M.E., dengan total sebesar Rp.128.500.000,00 (seratus dua puluh delapan juta lima ratus ribu rupiah) secara bertahap, tidak sekaligus.

Sehingga berjumah sebesar Rp.1.644.000.000,00 (satu miliar enam ratus empat puluh empat juta rupiah);

Menimbang, bahwa apabila dijumlahkan uang yang diperoleh oleh Terdakwa Ir. H. Rosmansyah, MM Bin Syahril untuk Tahun 2012, Tahun 2013, dan Tahun 2014 menurut keterangan saksi Nurikhwan adalah sebesar Rp. 949. 000.000,00 (sembilan ratus empat puluh sembilan juta rupiah), kemudian ditambah dengan 1/3 dari sisa kerugian negara Tahun 2014 yang tidak bisa dipertanggung jawabkan sebesar Rp. 92. 895. 333, 33 (sembilan puluh dua juta delapan ratus sembilan puluh lima ribu tiga ratus tiga puluh tiga rupiah, koma tiga puluh tiga sen), sehingga berjumlah Rp1.041.895.333,33 (satu miliar empat puluh satu juta delapan ratus sembilan puluh lima ribu tiga ratus tiga puluh tiga rupiah, koma tiga puluh tiga sen).

Menimbang, bahwa jumlah kerugian negara sebesar Rp4.093.325.538,00 – (dikurangi) Rp.1.644.000.000,00 (uang yang diperoleh nyata-nyata oleh orang per orang sebagaimana

(37)

49 dipertimbangkan di atas, maka hasilnya adalah sebesar Rp.2.449.325.538,00 sebagai uang yang tidak bisa di pertanggung jawabkan.

Menimbang, bahwa terhadap uang yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara administrasi dan laporan keuangan yang sah, maka uang kerugian tersebut tidak berkeadilan dibebankan kepada Terdakwa Rosmansyah seluruhnya, maka Majelis Hakim berpendapat kepada terdakwa Ir. Rosmandyah, MM Bin Syahril terhadap uang yang tidak bisa dipertanggung jawabkan sebesar Rp. 2. 449. 325. 538, 00, hanya dapat dibebankan kepada Terdakwa secara proposional yakni 1/3 dari jumlah tersebut, sehingga berjumlah sebesar Rp. 816. 441. 846,00 (delapan ratus enam belas juta empat ratus empat puluh satu ribu delapan ratus empat puluh enam rupiah).

Menimbang, bahwa dengan memperhatikan ketentuan Pasal 18 ayat (1) huruf b Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Undang-Undang Noor 20 Tahun 2001, serta ketentuan Pasal 1, Pasal 4 dan Penjelasan Pasal 4 PERMA Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Pidana Tambahan Uang Pengganti Dalam Tindak Pidana Korupsi, Penjelasan Pasal 4 ayat (1) PERMA Nomor 5 Tahun 2014, menentukan : “Proporsional yang dimaksud dalam ketentuan ini adalah mengacu kepada peran yang dilakukan oleh terdakwa, jika peran seorang terdakwa sangat signifikan dalam pelaksanaan tindak pidana korupsi, maka pembebanan uang pengganti yang dijatuhkan akan semakin tinggi. Sedangkan yang

(38)

50 dimaksud dengan objektif adalah hakim dalam menentukan besaran uang pengganti diharuskan dari fakta-fakta yang di dapat dari pembuktian”.

Menimbang, bahwa oleh karena itu Majelis Hakim berpendapat terhadap Uang Pengganti kerugian Keuangan Negara yang harus dibebankan kepada Terdakwa Ir. H. Rosmansyah, MM Bin Syahril adalah sebesar Rp1.041.895.333,33 (uang yang diperoleh terdakwa dan sisa dengan Jumisar) + (ditambah) Rp.816.441.846,00 (sebagai uang sisa yang tidak dipertanggungjawabkan Tahun 2012, 2013), sehingga berjumlah sebesar Rp.1.858.337.179,33 (satu miliar delapan ratus lima puluh delapan juta tiga ratus tiga puluh tujuh ribu seratus tujuh puluh sembilan rupiah, koma tiga puluh tiga sen).

Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut, maka kepada Terdakwa Ir. H. Rosmansyah, MM Bin Syahril dibebankan untuk membayar uang pengganti sebesar Rp.1.858.337.179,33 (satu miliar delapan ratus lima puluh delapan juta tiga ratus tiga puluh tujuh ribu seratus tujuh puluh sembilan rupiah, koma tiga puluh tiga sen).

b) Pertimbangan Hakim Dalam Memberikan Pidana Subsider Terhadap Terpidana Jika Tidak Mampu Membayar Uang Pengganti Pada Putusan Nomor 25/Pid.Sus-TPK/2017/PN.Jmb

Berikut Pertimbangan Hakim dalam menjatuhkan pidana subsider bagi terdakwa :

(39)

51 Menimbang, bahwa oleh karena terdakwa Ir. H. Rosmansyah, MM Bin Syahril sudah menitipkan uang sebesar Rp.450.000.000,00 (empat ratus lima puluh juta rupiah), diperhitungkan sebagai pengembalian kerugian keuangan negara yang dibebankan kepada terdakwa Ir. H.

Rosmansyah, MM Bin Syahril sehingga masih bersisa sebesar Rp.

1.408.337.179,33 (satu miliar empat ratus delapan juta tiga ratus puluh tujuh ribu seratus tujuh puluh sembilan rupiah, tiga puluh tiga sen).

Menimbang, bahwa oleh karena Terdakwa belum mengembalikan seluruh kerugian keuangan negara dan kerugian keuangan negara yang dibebankan kepada Terdakwa belum dipulihkan seluruhnya sebelum putusan ini diucapkan, maka pernyataan jika terdakwa telah berubah status menjadi terpidana tidak membayar uang pengganti sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2) paling lama dalam waktu 1 bulan sesudah Putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, maka harta bendanya dapat disita oleh Jaksa dan dilelang untuk menutupi uang pengganti tersebut, dan dalam hal terpidana tidak mempunyai harta benda yang mencukupi utuk membayar uang pengganti sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b, sangat relevan untuk ditetapkan kepada Terdakwa, maka kepada terdakwa dipidana dengan pidana penjara, sebagaimana amar putusan di bawah ini;

Menimbang, bahwa dengan memperhatikan ketentuan Pasal 4 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001, yang menentukan : “Pengembalian Kerugian Keuangan

(40)

52 Negara atau perekonomian negara tidak menghapuskan pidananya pelaku tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dan Pasal 3”, sedangkan ketentuan Penjelasan Pasal 4 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001, menentukan : “Dalam hal pelaku tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 2 dan Pasal 3 telah memenuhi unsur-unsur pasal dimaksud, maka pengembalian kerugian negara atau perekonomian negara, tidak menghapuskan pidana terhadap pelaku tindak pidana tersebut. Pengembalian kerugian keuangan negara atau perekonomian negara hanya merupakan salah satu faktor yang meringankan”.

Menimbang, bahwa oleh karena Terdakwa Ir. H. Rosmandyah, MM Bin Syahril telah menitipkan sebagian kerugian keuangan negara yang dibebankan kepadanya kepada Penuntut Umum, maka ketentuan penjelasan Pasal 4 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-Udnang Nomor 20 Tahun 2001, dapat diterapkan sebagian juga kepada Terdakwa sebagai hal yang meringankan hukuman bagi Terdakwa untuk sebagian.

2. Analisa

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan Hakim dalam Putusan Nomor 25/Pid.Sus- TPK/2017/PN.Jmb terkait dengan menjatuhkan uang pengganti terhadap terdakwa sebagaimana telah dijabarkan sebelumnya,

(41)

53 penulis menganalisa adanya 3 (tiga) point penting dalam pertimbangan- pertimbangan tersebut yakni :

1) Dalam menjatuhkan pidana tambahan kepada terdakwa Hakim mempertimbangkan adanya unsur kerugian negara sebagai unsur utama atau pokok. Sebagaimana dalam Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 Undang- Undang Nomor 31 Tahun 1999 JO Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 yang menyatakan bahwa :

Pasal 2 ayat (1) :“Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana penjara dengan penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah).”

Pasal 3 : “Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan atau denda paling sedikit Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah).”

(42)

54 Kata “dapat” dalam Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 bermakna bahwa adanya suatu kemungkinan terjadi kerugian keuangan negara, maka perbuatan tersebut dapat dihukum. Sebagaimana delik formil yang melekat pada tindak pidana korupsi, yang mana jika unsur-unsur perbuatan melawan hukum terpenuhi maka terpidana dapat dihukum. Sedangkan kata

“merugikan keuangan negara” bermakna bahwa terjadinya kerugian atau berkurangnya keuangan negara akibat perbuatan tindak pidana korupsi.

2) Pertimbangan Hakim juga berdasarkan bukti yang nyata dalam persidangan. Dalam persidangan bukti-bukti yang menyatakan bahwa perbuatan terdakwa telah merugikan keuangan negara harus secara jelas dan nyata. Tidak hanya berpatokan pada kata “dapat” dalam Pasal 2 dan Pasal 3 saja, Hakim juga mempertimbangkan bukti yang menyatakan bahwa adanya kerugian negara. Seperti dalam Putusan Nomor 25/Pid.Sus-TPK/2017/PN.Jmb, dalam persidangannya terdapat bukti nyata yang membenarkan telah terjadinya kerugian negara berdasarkan bukti hasil audit dalam penyelenggaraan ADEKSI dan BINTEK dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Provinsi Jambi. Selanjutnya dalam pembuktian tindak pidana korupsi dikenal adanya asas pembuktian terbalik, yang mana terdakwa juga memiliki hak untuk membuktikan uang atau harta milik yang dia peroleh bukan didapatkan dari tindak pidana korupsi. Seperti dalam Putusan Nomor 25/Pid.Sus-TPK/2017/PN.Jmb yang mana terdakwa tidak mampu untuk membuktikan harta milik yang diduga hasil korupsi serta dalam persidangan tidak ada bantahan terkait dengan dugaan korupsi tersebut.

(43)

55 3) Selanjutnya pertimbangan Hakim dalam menjatuhkan besaran uang pengganti bagi terdakwa berdasarkan pada proposional atau peran terdakwa dalam kasus tindak pidana korupsi. Sebagaimana dalam Pasal 4 ayat (2) PERMA Nomor 5 Tahun 2014 tentang Pidana Tambahan Uang Pengganti Dalam Tindak Pidana Korupsi yang menyatakan bahwa

“Apabila harta benda yang diperoleh masing-masing terdakwa tidak diketahui secara pasti jumlahnya, uang pengganti dapat dijatuhkan secara proposional dan objektif sesuai dengan peran masing-masing terdakwa dalam tindak pidana korupsi yang dilakukannya”. Tentunya disertakan dengan bukti nyata berapa banyak uang yang dinikmati dari hasil korupsi tersebut. Seperti dalam Putusan Nomor 25/Pid.Sus- TPK/2017/PN.Jmb yang mana kerugian negara akibat perbuatan terdakwa sebesar Rp. Rp4.093.325.538,00 (empat miliar sembilan puluh tiga juta tiga ratus dua puluh lima ribu lima ratus tiga puluh delapan rupiah) namun berdasarkan keterangan saksi serta kenyataan dalam persidangan maka diketahui bahwa yang uang yang terbukti dinikmati dan tidak dapat dipertanggungjawabkan oleh terdakwa sebesar Rp.1.858.337.179,33 (satu miliar delapan ratus lima puluh delapan juta tiga ratus tiga puluh tujuh ribu seratus tujuh puluh sembilan rupiah, koma tiga puluh tiga sen). Dalam Pasal 1 PERMA Nomor 5 Tahun 2014 juga menjelaskan bahwa “Dalam hal menentukan jumlah pembayaran uang pengganti dalam tindak pidana korupsi, adalah sebanyak-banyaknya sama dengan harta benda yang diperoleh dari tindak pidana korupsi dan bukan semata-mata sejumlah kerugian keuangan negara yang

(44)

56 diakibatkan”. Dengan demikian lebih menegaskan bahwa jika kerugian negara akibat perbuatan korupsi berjumlah besar, namun hasil yang dinikmati oleh terdakwa hanya setengah atau tidak setara dengan kerugian negara maka jumlah uang pengganti yang harus dibayar sama dengan apa yang diperoleh atau dinikmati oleh terdakwa.

Kemudian pertimbangan-pertimbangan Hakim terkait dengan pidana penjara pengganti atau subsidair apabila terdakwa tidak mampu membayar uang pengganti dalam Putusan Nomor 25/Pid.Sus-TPK/2017/PN.Jmb terdapat 2 (dua) pertimbangan yakni:

1) Pasal 18 ayat (3) menjadi dasar pertimbangan Hakim dalam menjatuhkan hukuman penjara pengganti/ subsider. Dalam Pasal 18 ayat (3) menegaskan bahwa “Dalam hal terpidana tidak mempunyai harta benda yang mencukupi untuk membayar uang pengganti sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b, maka dipidana dengan pidana penjara yang lamanya tidak melebihi ancaman maksimum dari pidana pokoknya sesuai dengan ketentuan dalam Undang-undang ini dan lamanya pidana tersebut sudah ditentukan dalam putusan pengadilan”.

2) Kemudian pertimbangan Hakim dalam menentukan lamanya pidana penjara pengganti juga berdasarkan kemampuan atau itikad baik dari terdakwa untuk mengembalikan uang pengganti. Sebagaimana dalam Pasal 10 ayat (1) PERMA Nomor 5 Tahun 2014 tentang Pidana Tambahan Uang Pengganti menyatakan bahwa “Penjara pengganti yang harus dijalankan terpidana ditetapkan oleh jaksa setelah memperhitungkan uang pengganti yang telah dibayarkan sebelum pidana penjara pokoknya

Referensi

Dokumen terkait

Dengan data rating yang rendah dari program musik BREAKOUT yang bersinggungan dengan target audiens utama BREAKOUT dan kota Surabaya yang memiliki profil penonton yang rendah

Hasil pengujian kinerja keuangan BOPO sesudah merger ini sesuai dengan teori tentang motif dengan adanya merger tentang pemanfaatan skala ekonomi, yakni dengan

[r]

28,29 Data from experimental models of chancroid suggest that these lesions should be responsive to azithromycin, 31 and therefore, that mass distribution of azithromycin for yaws

Perlakuan pendahuluan blanching tanpa penambahan larutan Na-metabisulfit selama 15 menit mendapatkan skor penerimaan panelis yang terendah sebesar 2,6 artinya

Tujuan dan teori pemasaran yang telah dikaji kemudian akan dijadikan landasan untuk dapat mengetahui segala kebutuhan, keinginan dan permintaan target sasaran

Jadi dalam penelitian ini, penulis akan menggambarkan bagaimana praktik jual beli follower sosial media kemudian akan dianalisis dari sudut pandang hukum Islam, baik praktek jual