2. DASAR TEORI
Bidang pekerjaan timbul karena adanya kemajuan teknologi sehingga penerapan teknologi yang lebih modern makin marak di dalam dunia industri.
Teknologi yang diterapkan pada mesin-mesin industri dapat meningkatkan resiko terjadinya bahaya kerja. Kecelakaan kerja dan gangguan kesehatan dapat menimpa dan merugikan pekerja, perusahaan, serta masyarakat sekitar.
Dalam praktek keseharian perlu adanya suatu sistem yang mengatur hal-hal seputar K3. Maka dari itu, dengan mengacu kepada Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor: PER. 05/MEN/1996 mengenai Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, setiap perusahaan yang mempekerjakan sama dengan atau lebih besar dari seratus orang dan atau jikalau perusahaan itu memiliki potensi bahaya yang ditimbulkan oleh karakteristik proses atau bahan produksi yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja seperti peledakan, kebakaran, pencemaran, dan penyakit akibat kerja wajib menerapkan Sistem Manajemen K3 (Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor: PER. 05/MEN/1996 mengenai Sistem Manajemen K3).
2.1 Keselamatan Kerja
Keselamatan dapat diartikan sebagai suatu kondisi yang bebas dari resiko kecelakaan atau kerusakan atau dengan resiko yang relatif sangat kecil di bawah tingkat tertentu (Simanjuntak, 1994). Kondisi kerja yang aman/selamat perlu dukungan dari sarana dan prasarana keselamatan yang berupa peralatan keselamatan, alat perlindungan diri, rambu-rambu. Peralatan keselamatan dan alat perlindungan diri perlu disesuaikan dengan fungsi dan tujuannya, yaitu melindungi dan atau mencegah pekerja dari kondisi berbahaya yang diakibatkan dari pekerjaan yang dilakukan. Selain itu perlu diperhatikan juga mengenai kesesuaiannya, yaitu kecocokan dengan jenis pekerjaan, kualitas bahan, ukuran pemakai, dan lain-lain. Alat-alat yang tergolong sebagai penunjang keselamatan kerja tersebut antara lain helm, sarung tangan, masker, jaket pelindung, peralatan pemadam kebakaran, dan pelindung kaki. Untuk prasarana keselamatan seperti
rambu-rambu/tanda peringatan memerlukan ketentuan-ketentuan sebagai berikut (Simanjuntak, 1994):
Mudah terlihat, mudah dibaca, dan tahan lama
Ditulis dalam bahasa resmi Negara yang akan menggunakan produk dimaksud, kecuali bila secara teknis salah satu bahasa tertentu dianggap lebih sesuai
Ringkas dan jelas
Menjelaskan tingkat bahaya dan/atau memberikan cara mengurangi resiko.
Kondisi pekerja sangat menentukan terjadinya kecelakaan kerja. Faktor- faktor yang menentukan kondisi pekerja yaitu (Simanjuntak, 1994):
Kondisi mental dan fisik
Kondisi tersebut sangat berpengaruh dalam menjalankan proses produksi karena dengan kondisi mental dan fisik yang buruk dapat mengakibatkan kecelakaan kerja.
Kebiasaan kerja yang baik dan aman
Pada saat melakukan pekerjaan, pekerja harus dapat dituntut untuk bekerja secara disiplin agar tidak lalau yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja.
Pemakaian alat-alat pelindung diri
Kurangnya kesadaran dalam pemakaian alat-alat pelindung karena dirasa tidak nyaman oleh pekerja dapat mengakibatkan kecelakaan kerja.
Pembuatan program keselamatan dapat dilakukan dengan beberapa cara seperti (Simanjuntak, 1994):
Mengidentifikasi akar masalah dari kecelakaan kerja
Mengidentifikasi potensi bahaya dan menyiapkan fasilitas keselamatan yang efektif serta peralatan yang aman dan segera mengambil tindakan perbaikan (Manajemen Resiko)
Penerapan polis keselamatan yang disetujui oleh pihak manajemen
Tanggung jawab penuh dari manajer dan supervisor pada tiap sektor dalam hal keselamatan
Pelatihan berkala dan berulang-ulang pada waspada keselamatan serta penggunaan metode kerja yang aman dan alat protektif bagi tiap pekerja.
Pengukuran keselamatan kerja dapat dilakukan analisa perhitungan tingkat insiden, keparahan, dan keseringan terjadinya kecelakaan. Perhitungannya adalah sebagai berikut:
Tingkat Insiden
(2.1) Tingkat Keparahan
(2.2) Tingkat Keseringan
(2.3) 2.1.1 Alat Pelindung Diri (APD)
Menurut Anizar (2000), alat pelindung diri merupakan langkah terakhir dalam upaya pengendalian bahaya. Alasan menggunakan APD adalah:
Biaya lebih murah dan mudah diperoleh Penggunaan dan pengaturannya mudah Kurangnya pengetahuan dalam bidang K3
Langkah-langkah yang perlu diterapkan dalam penggunaan APD di perusahaan adalah:
Menetapkan kebijakan perusahaan dalam penggunaan APD o Buat kebijakan APD
o Sosialisasikan dan komunikasikan o Terapkan kebijakan penggunaan APD Memilih APD yang sesuai
o Identifikasi bahaya yang ada.
o Pilih dan Seleksi jenis APD yang sesuai.
o Kriteria yang paling penting adalah tingkat perlindungan pekerja Melaksanakan program pelatihan dengan pertimbangan-pertimbangan:
o Seberapa jauh pekerja mengerti kepentingan penggunaan APD.
o Seberapa mudah, nyaman, dan menyenangkan bila memakai peralatan tersebut.
o Seberapa ekonomis, efektif, dari sanksi yang diterapkan mempengaruhi sikap pekerja.
Menegakkan disiplin dengan menerapkan aturan penggunaan APD o Pekerja harus tahu menggunakan APD
o Kapan pula APD harus digunakan, o Dimana APD harus digunakan
o Peraturan yang ketat terhadap penggunaan APD, o Penerapan peraturan perusahaan secara tegas.
Ada 7 (tujuh) jenis APD secara umum yang dapat dipakai di perusahaan yaitu:
Pelindung Kepala,
Pelindung Mata dan muka, Pelindung Telinga,
Pelindung Saluran Pernafasan, Pelindung Tangan,
Pelindung Kaki Pelindung Tubuh
2.2 Kecelakaan Kerja
Kecelakaan menurut M. Sulaksmono (1997) adalah suatu kejadian tak diduga dan tidak dikehendaki yang mengacaukan proses suatu aktivitas yang telah di atur.
Kecelakaan terjadi tanpa disangka-sangka dan dalam sekejap mata, dan setiap kejadian menurut Benneth Silalahi (1995) terdapat empat faktor yang bergerak dalam satu kesatuan berantai yaitu lingkungan, bahaya, peralatan, dan manusia. Kecelakaan akibat kerja adalah kecelakaan yang berhubungan dengan hubungan kerja pada perusahaan. Hubungan kerja di sini dapat berarti, bahwa kecelakaan terjadi dikarenakan oleh pekerjaan atau pada waktu melaksanakan pekerjaan. Maka dalam hal ini, terdapat dua permasalahan penting, yaitu:
Kecelakaan adalah akibat langsung pekerjaan
Kecelakaan terjadi pada saat pekerjaan sedang dilakukan
Bahaya pekerjaan adalah faktor-faktor dalam hubungan pekerjaan yang dapat mendatangkan kecelakaan. Bahaya tersebut disebut potensial, jika faktor- faktor tersebut belum mendatangkan kecelakaan. Terdapat tiga kelompok kecelakaan:
Kecelakaan akibat kerja di perusahaan Kecelakaan lalu lintas
Kecelakaan di rumah
2.2.1 Penyebab Kecelakaan
Menurut Anizar (2000) secara umum penyebab kecelakaan ada dua, yaitu unsafe action (faktor manusia) dan unsafe condition (faktor lingkungan). Menurut penelitian bahwa 80-85% kecelakaan diseabkan oleh unsafe action.
a. Unsafe Action
Unsafe action dapat disebabkan oleh berbagai hal berikut Anizar (2000):
Ketidakseimbangan fisik tenaga kerja, yaitu:
o Posisi tubuh yang menyebabkan mudah lelah o Cacat fisik
o Cacat sementara
o Kepekaan panca indera terhadap sesuatu Kurang pendidikan
o Kurang pengalaman
o Salah pengertian terhadap suatu perintah o Kurang terampil
o Salah mengartikan SOP (Standard Operational Procedure) sehingga mengakibatkan kesalahan pemakaian alat kerja.
Menjalankan pekerjaan tanpa mempunyai kewenangan Menjalankan pekerjaan yang tidak sesuai dengan keahliannya Pemakaian alat pelindung diri (APD) hanya berpura-pura Mengangkut beban yang berlebihan
Bekerja berlebihan atau melebihi jam kerja
b. Unsafe Condition
Unsafe Condition dapat disebabkan oleh berbagai hal berikut Anizar (2000):
Peralatan yang sudah tidak layak pakai Ada api di tempat bahaya
Pengamanan gedung yang kurang standar Terpapar bising
Terpapar radiasi
Pencahayaan dan ventilasi yang kurang atau berlebihan Kondisi suhu yang membahayakan
Dalam keadaan pengamanan yang berlebihan Sistem peringatan yang berlebihan
Sifat pekerjaan yang mengandung potensi bahaya
Kecelakaan kerja dapat dikategorikan dalam beberapa akibat yang ditimbulkannya seperti (Simanjuntak, 1994):
Meninggal dunia, termasuk kecelakaan yang paling fatal yang menyebabkan penderita meninggal dunia walaupun telah mendapatkan pertolongan dan perawatan sebelumnya.
Cacat permanen total adalah cacat yang mengakibatkan penderita secara permanen tidak mampu lagi melakukan pekerjaan produktif karena kehilangan atau tidak berfungsinya lagi bagian-bagian tubuh seperti: kedua mata, satu mata dan satu tangan atau satu lengan atau satu kaki. Dua bagian tubuh yang tidak terletak pada satu ruas tubuh.
Cacat permanen sebagian adalah cacat yang mengakibatkan satu bagian tubuh hilang atau terpaksa dipotong atau sama sekali tidak berfungsi.
Tidak mampu bekerja sementara, dimaksudkan baik ketika dalam masa pengobatan maupun karena harus beristirahat menunggu kesembuhan, sehingga ada hari-hari kerja hilang dalam arti yang bersangkutan tidak melakukan kerja produktif.
2.3 Kesehatan Kerja
Kesehatan kerja diartikan sebagai spesialis ilmu kesehatan yang menganalisa akibat praktek dan cara kerja terhadap derajat kesehatan pekerja yang
bersangkutan, baik kesehatan fisik maupun kesehatanmental, serta menganalisa alternatif usaha preventif dan kuratif terhadap penyakit atau gangguan kesehatan akibat kerja dan lingkungan kerja. Kesehatan kerja bersifat medis dan sasarannya adalah manusai atau pekerja. Kesehatan kerja adalah kondisi yang dapat mempengaruhi kesehatan para pekerja seperti (Simanjuntak, 1994):
Kurangnya pencahayaan yang mengakibatkan sakit mata
Tidak adanya sistem sirkulasi udara sehingga debu-debu atau partikel- partikel kecil akan mengganggu sistem pernapasan pekerja
Pekerja yang bekerja dengan menggunakan bahan-bahan kimia berbahaya Tingkat kebisingan yang melebihi batas ambang pendengaran yang dapat mengakibatkan ketulian pada pekerja.
Kondisi di atas memerlukan pencegahan dengan melakukan tindakan- tindakan sebagai berikut:
Pemeriksaan pekerja secara berkala
Memberikan keterangan prosedur kerja sebelum bekerja Pembuatan ventilasi yang baik
Mengubah cara-cara kerja yang dapat menyebabkan penyakit kerja
Pemakaian alat-alat pelindung diri secara teratur dan disiplin untuk menghindari resiko kecelakaan kerja.
2.4 Dampak Kecelakaan dan Gangguan Kesehatan Kerja
Kecelakaan dan gangguan kesehatan yang timbul di suatu perusahaan mempunyai dampak yang cukup besar baik bagi pekerja maupun bagi perusahaan.
Kerugian akibat kecelakaan dikategorikan atas kerugian langsung (direct cost) dan kerugian tidak langsung (indirect cost). Kerugian langsung misalnya cedera pada tenaga kerja dan kerusakan pada sarana produksi. Kerugian tidak langsung adalah kerugian yang tidak terlihat sehingga sering disebut juga sebagai kerugian tersembunyi (hidden cost) misalnya kerugian akibat terhentinya proses produksi, penurunan produksi, klaim atau ganti rugi, dampak sosial, citra dan kepercayaan konsumen (Anizar: 2010).
2.5 Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Keselamatan dan kesehatan kerja harus dikelola sebagaimana dengan aspek lainnya dalam perusahaan seperti operasi, produksi, logistik, sumber daya manusia, keuangan dan pemasaran. Semua sistem manajemen K3 bertujuan untuk mengelola resiko K3 yang ada dalam perusahaan agar kejadian yang tidak diinginkan atau dapat menimbulkan kerugian dapat dicegah (Anizar: 2010).
Sistem Manajemen K3 adalah bagian dari sistem manajemen secara keseluruhan yang meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan, prosedur, proses, dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian, dan pemeliharaan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam pengendalian resiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman efisien dan produktif (Kepmenaker 05 tahun 1996). Menurut OHSAS 18001:2007 OHS Management system is part of an organization’s management system used to develop and implement its OH&S Policy and manage OH&S Risks. Konsep pengelolaan K3 secara sistematis dan komperehensif dalam suatu sistem manajemen yang utuh melalui proses perencanaan, penerapan, pengukuran dan pengawasan merupakan pengertian Sistem Manajemen K3 menurut Anizar (2010).
Berbagai tujuan sistem manajemen K3 dapat digolongkan sebagai berikut (Anizar: 2010):
Sebagai alat ukur kinerja K3 dalam organisasi Sebagai pedoman implementasi K3 dalam organisasi Sebagai dasar penghargaan (awards)
Sebagai sertifikasi.
Untuk mencapai penerapan SMK3 kelas dunia diperlukan beberapa faktor berikut ini (Anizar: 2010):
Harus komprehensif dan terintegrasi dengan seluruh langkah pengendalian yang dilakukan.
Harus dijalankan dengan konsisten dalam operasi satu-satunya cara untuk pengendalian resiko dalam organisasi.
Konsisten dengan hasil identifikasi bahaya dan penilaian resiko yang telah dilakukan.
Menerapkan konsep siklus PDCA (Plan-Do-Check-Action).
Semua unsur atau individu yang terlibat dalam operasi harus memahami konsep dan implementasi SMK3.
Adanya dukungan dan komitmen manajemen puncak, dan seluruh elemen dalam organisasi untuk mencapai kinerja K3 terbaik.
Harus terintegrasi dengan sistem manajemen lainnya yang ada dalam organisasi.
2.6 Regulasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Manajemen keselamatan dan kesehatan kerja merupakan salah satu aspek penting yang juga ditetapkan oleh pemerintah Republik Indonesia di dalam undang-undang ketenaga-kerjaan, undang-undang mengenai K3 serta di beberapa Standar Nasional Indonesia (SNI). Berikut beberapa undang-undang tentang keselamatan dan kesehatan kerja yang berlaku di Indonesia menurut Himpunan Peraturan Perundangan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (2005):
Peraturan Pemerintah No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.
Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 4 Tahun 1980 tentang Pemeliharaan dan Pemasangan APAR.
SNI 03-1745-1989 tentang Tata Cara Pemasangan Sistem Hydrant Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Rumah dan Gedung.
PER 08 MEN VII 2010 tentang Alat Pelindung Diri.
PP 18 Tahun 1999 tentang Pengolahan Limbah B3.
Kep MenLH 50 Tahun 1996 tentang Baku Tingkat Kebauan.
Kepmenaker 51 Tahun 1999 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika di Tempat Kerja.
PP 7 Tahun 1964 tentang Syarat Kesehatan, Kebersihan dan Penerangan Dalam Tempat Kerja.
SKMenKes No. 1405 Tahun 2002 tentang Lingkungan Kerja Ruangan.
PER 01 MEN 1976 tentang Kewajiban Latihan Hiperkes Bagi Dokter Perusahaan.
PER 01 MEN 1979 tentang Kewajiban Latihan Hygiene Perusahaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja Bagi Tenaga Para Medis Perusahaan.
PER 02 MEN 1980 tentang Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja Dalam Penyelenggaraan Keselamatan Kerja.
PER 01 MEN 1981 tentang Kewajiban Melapor Penyakit Akibat Kerja.
PER 03 MEN 1982 tentang Pelayanan Kesehatan Tenaga Kerja.
PER 02 MEN 1983 tentang Instalasi Alarm Kebakaran Automatik.
PER 05 MEN 1985 tentang Pesawat Angkat dan Angkut.
PER 04 MEN 1987 tentang Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja serta Tata Cara Penunjukkan Ahli Keselamatan Kerja.
PER 03 MEN 1998 tentang Tata Cara Pelaporan dan Pemeriksaan Kecelakaan.
PER 03 MEN 1999 tentang Syarat-Syarat Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lift untuk Pengangkutan Orang dan Barang.
KEP 186 MEN 1999 tentang Unit Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja.