• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sejarah perkembangan perkebunan di negara berkembang, termasuk Indonesia, tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan kolonialisme, kapitalisme, dan modernisasi. Di negara-negara berkembang, pada umumnya perkebunan hadir sebagai perpanjangan dari perkembangan kapitalisme agraris Barat yang diperkenalkan melalui sistem perekonomian kolonial. Perkebunan pada awal perkembangannya hadir sebagai sistem perekonomian baru yang semula belum dikenal, yaitu sistem perekonomian pertanian komersil yang bercorak kolonial yang berbeda dengan sistem kebun yang telah lama berlaku di negara-negara berkembang pada masa pra-kolonial. Sebagai sistem perekonomian pertanian baru, sistem perkebunan telah memperkenalkan berbagai pembaharuan dalam sistem perekonomian pertanian yang membawa dampak perubahan penting terhadap kehidupan masyarakat tanah jajahan. Hal tersebut dikarenakan, perkembangan perkebunan di negara-negara berkembang berkaitan erat dengan proses modernisasi.1

Abad ke-19 di Jawa merupakan periode eksploitasi agraris. Pada tahun 1830 dimulai Tanam Paksa dan tahun 1870 dikeluarkan Undang-Undang Agraria

1 Sartono Kartodirdjo, Djoko Suryo. 1991. Sejarah Perkebunan Di Indonesia:

Kajian Sosial Ekonomi. Yogyakarta: Aditya Media.Hlm: 3

(2)

commit to user

2 oleh pemerintah kolonial. Undang-Undang Agraria memberikan kebebasan perusahaan swasta untuk menanamkan modalnya. Sejak tahun 1930 di Vorstenlanden berkembang perusahaan perkebunan (onderneming). Pada tahun

1830 setelah Perang Diponegoro berakhir, terbuka fase baru bagi perusahaan perkebunan untuk mengusahakan komoditas ekport bagi pasar Eropa. Selain itu, dalam rangka perluasan perkebunan banyak tanah apanage disewa dari para patuh atau pemegang hak tanah apanage. Akan tetapi setelah tanah itu disewa oleh perusahaan perkebunan, hak-hak yang ada pada patuh beralih kepada perusahaan perkebunan. Dapat ditambahkan bahwa di sekitar perusahaan perkebunan terdapat beberapa orang penyewa tanah atau landhuurder.2

Perusahaan perkebunan inilah yang membawa banyak perubahan pada masyarakat pedesaan. Perkebunan banyak membutuhkan tenaga kerja, dan dari sinilah masyarakat pedesaan bisa memperoleh pekerjaan serta meningkatkan ekonomi mereka. Jenis Tanaman yang ditanam di perkebunan adalah jenis tanaman eksport. Misalnya, tebu, nila, kopi, teh dan karet. Hasil dari tanaman ini juga membawa dampak bagi perekonomian di Hindia Belanda. Karet yang merupakan salah satu jenis tanaman ekspor juga mulai dibudidayakan. Hal tersebut berkaitan dengan makin banyaknya permintaan pasar dunia akan karet karena bersamaan dengan kemajuan industri otomotif.

Pengenalan tanaman karet di kepulauan Indonesia berawal dari kepulangan sekelompok jemaah haji yang singgah di Malaya jajahan Inggris. Di

2 Suhartono. 1991. Apanage dan Bekel: Perubahan Sosial di Pedesaan Surakarta 1830-1920 . Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogyakarta. hlm 1-2

(3)

commit to user

3 Kebun Raya Penang mereka menyaksikan karet yang sedang dibudidayakan.

Kemudian bibit karet dibawa kembali ke tempat asal mereka untuk ditanam.

Segera penanaman karet menyebar di Pulau Sumatera, Kalimantan dan Jawa.

Masyarakat Hindia Belanda mulai mengenal jenis tanaman ini sejak awal abad ke 20, kemudian setelah itu karet menjadi sumber keuntungan yang luar biasa.3

Percobaan penanaman karet atau Hevea brasiliensis Muell-Arg, telah dilaksanakan awal 1885 di onderneming tembakau seperti Mariendal, dekat Medan, dan Rimbun, di bagian-bagian tanah tinggi Deli, pada saat industri tembakau masih berusaha mencari jenis tanaman untuk mengambil alih lahan setelah pengusaha onderneming tembakau selesai memakai lahannya itu. Pada tahun 1902, maskapai Deli mempunyai kira-kira 5.000 pohon karet di perkebunan Batang Serangan di Langkat. Perkebunan ini diperluas sampai 19.999 pohon karet ficus dan 1.000 pohon karet hevea dalam tahun 1905. Dalam tahun 1907, Batang Serangan dialihkan hanya untuk jenis hevea.4

Di Pulau Jawa Perkebunan karet dikelola mirip dengan perkebunan kopi dan teh, bertempat di wilayah yang berpenduduk jarang, sehingga memerlukan sejumlah besar pekerja yang didatangkan di luar daerah. Perusahaan karet timbul

3Poesponegoro, Marwati Djoened. 2008. Sejarah Nasional Indonesia V: Zaman Kebangkitan Nasional dan Masa Hindia Belanda. Jakarta: Balai Pustaka. hlm 190

4 Pelzer, Karl J. 1985. Toean Keboen dan Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria. Jakarta: Sinar Harapan. hlm 74

(4)

commit to user

4 oleh karena penananam modal asing, yang berasal dari Inggris, Belanda, Belgia dan Amerika Serikat. Beberapa perusahaan berdiri sebagai bentuk kerja sama.5

Pemerintah kolonial mendorong penyebaran jenis komoditi lainnya dengan jalan memberikan nasihat, mengadakan penelitian ilmiah, menetapkan peraturan umum dan sebagainya. Mulai sekitar tahun 1906, hevea brasiliensis berkembang pesat. Ketika tanaman-tanaman yang pertama sudah cukup umur untuk disadap (setelah kira-kira 5 tahun) maka karet mulai di eksport pada tahun 1912. Pada tahun 1930, 44% dari luas tanah disediakan bagi tanaman karet. Pada masa itu, Indonesia memproduksi hampir separo pasokan karet dunia. Akan tetapi, depresi membawa krisis besar terhadap jenis-jenis usaha lainnya.6

Perkembangan perkebunan karet sangat terkait dengan permintaan dan naik turunnya harga di pasar dunia. Pada tahun 1910-1911 terjadi bom harga yang meningkatkan luas penanaman dan eksport karet. Pada tahun 1920an, keadaan menjadi berbalik yang memperlihatkan keadaan penurunan. Namun keadaan segera dapat diatasi karena pemerintah Hindia Belanda tidak megikuti “Rencana Stevenson” yang diprakarsai Inggris untuk memberlakukan batasan eksport.

Ketika itu, Inggris menguasai sekitar 75% pangsa pasar karet dunia. Fluktuasi harga itu sangat memukul poduksi karet negara itu. Rencana itu mengharuskan pengurangan luas penanaman karet. Tindakan tersebut mengakibatkan produksi karet Hindia Belanda segera menyerap permintaan pasar yang sejalan dengan

5 Poesponegoro, Marwati Djoened, Op. Cit., hlm 190

6M.C. Ricklefs. 2008. Sejarah Indonesia Modern 1200-2004. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta. hlm 322

(5)

commit to user

5 membaiknya harga. Permintaan berasal dari industri otomotif Amerika Serikat.

Pemerintah Hindia Belanda mengambil kebaikan itu antara lain karena selaras dengan kubutuhan industri otomotif. Permintaan karet makin meningkat. Produksi Pulau Jawa sejak tahun 1910 makin bertambah dari jumah eksport 20 ton menjadi 27.000 ton pada tahun 1920, 67.000 ton pada tahun 1930 dan 99.000 ton pada tahun 1940. Jumah ini menjadikan tanaman ini ke posisi ke-2 setelah gula.7

Selain di wilayah Sumatera Timur yang mulai membudidayakan tanaman karet dan mendirikan perusahaan perkebunan. Di Jawa, khususnya di Surakarta, tanaman ini juga mulai ditanam. Karet merupakan komoditi perkebunan yang memerlukan modal lancar dan tenaga kerja yang relatif kecil. Alasan inilah yang menarik minat penanam modal karena tanaman ini diyakini mempunyai masa depan yang menguntungkan. Salah satu diantara perusahaan-perusahaan perkebunan karet adalah PTP Nusantara IX (Persero) Batu Jamus. PTP.Nusantara IX (Persero) Kebun Batu Jamus/ Kerjoarum terletak antara 70 LS - 80 LS dan antara 1110 BT - 1120 BT. Secara administratif masuk dalam tiga wilayah yaitu:

Kabupaten Sragen, Karanganyar dan Sukoharjo. Perusahaan PTP.Nusantara IX Batu Jamus beralamat di Dusun Bangunsari, Desa Kuto, Kecamatan Kerjo, Kabupaten Karanganyar.8

PTP.Nusantara IX Batu Jamus merupakan perusahaan perkebunan pengolahan karet yang dimiliki oleh Belanda. Perkebunan ini dulunya bernama

7 Ibid., hlm 192

8 Dokumen PTP.Nusantara IX tentang “Sejarah Perusahaan Karet PTP.Nusantara IX Batu Jamus”, Karanganyar: PTP.Nusantara IX Batu Jamus. hlm 4

(6)

commit to user

6 N.V Cultuur Mij Batoe Djamoes, kantor direksinya bernama Fa.H.G.Th. Crone yang berkedudukan di Semarang.9 Pada masa pemerintahan Hindia Belanda Perusahaan Perkebunan Milik Negara yang didirikan pada tahun 1912 diberi nama s’Land Caoutchouc Bedrijfs (LCB) dan pada tahun 1938 karena Perusahaan

Perkebunan tersebut mengusahakan tanaman–tanaman Perkebunan lain disamping karet, maka Perusahaan Perkebunan berubah nama menjadi Gouvernement Landbouw Bedrijven (GLB).10

Setelah Negara Republik Indonesia jatuh ke tangan Jepang (1942), kebun Batujamus dan Polokarto tepatnya pada tahun 1942-1945 juga jatuh ke tangan Jepang. Pada jaman itu keadaan kebun tidak terpelihara, karena keamanannya tidak memungkinkan. Banyak tanah-tanah milik perkebunan yang hilang, dan pada masa itu administratur dipegang oleh warga Jepang yang bernama Macida.

Tahun 1945, perkebunan Batujamus Polokarto diambil alih oleh Pemerintah Indonesia.11 Pada tahun 1946, Pemerintah Indonesia mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 4 Tahun 1946 Tentang Perusahaan Perkebunan. Peraturan Pemerintah ini terdiri dari 10 butir pasal. Isinya mengatur mengenai perusahaan perkebunan yang akan diambil alih oleh negara, seperti yang tertera pada pasal 1

9 Arsip Nasional No. 667 tentang “Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 1959 tentang Penentuan Perusahaan Pertanian/ Perkebunan Milik Belanda yang Dikenakan Nasionalisasi”, Jakarta: ANRI. hlm 8

10http://ptpnixbatujamus.blogspot.com/2009_06_01_archive.html,(diakses tanggal 18 Maret 2013)

11 Septinawati. 2010. “Perkebunan Karet PTP. IX Batu Jamus Karanganyar (Studi tentang Kehidupan Buruh Sadap Karet di Perkebunan Karet PTP. IX Batu Jamus Karanganyar)”. Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNS. hlm 44

(7)

commit to user

7 bahwa “Perusahaan perkebunan di Indonesia, kecuali perusahaan gula, yang menghasilkan barang-barang, yang dalam keadaan biasanya dipergunakan terutama buat export-dalam ini peraturan seterusnya disebut perusahaan perkebunan-dijalankan dibawah kekuasaan negara”.12

Pada tahun 1949 perkebunan Batujamus dan Polokarto kembali kepada pemilik semula, yaitu Fa.H.G.Th Crone. Keputusan ini berdasarkan ketentuan dari Konferensi Meja Bundar (KMB). Pada tahun 1959, Perkebunan Karet PTP.Nusantara IX (Persero) Batu Jamus yang dulunya bernama N.V Cultuur Mij Batoe Djamoes dinasionalisasi, hal tersebut dikarenakan pemerintah Indonesia mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 1959 tentang penentuan perusahaan pertanian/ perkebunan milik Belanda yang dikenakan nasionalisasi.

Pada pasal 1 disebutkan bahwa perusahaan pertanian/ perkebunan milik Belanda termasuk anak perusahaan dan perusahaan tambahannya yang ada di wilayah Republik Indonesia, dikenakan nasionalisasi yang berbentuk badan hukum dan bertempat kedudukan di Indonesia.13 Pada tahun 1960, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 47 Tahun 1960, perusahaan perkebunan Republik Indonesia eks milik Kasunanan dan Mangkunegaran dibubarkan dan digabungkan dengan Pusat Perkebunan Negara (PPN) baru. Peraturan Pemerintah ini dilaksanakan dengan

12 Arsip Mangkunegaran VIII tentang “Peraturan Pemerintah No. 4 Tahun 1946 tentang Perusahaan Perkebunan”, Surakarta: Reksopustoko

13 Arsip Nasional., Op. Cit., hlm 1

(8)

commit to user

8 Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 10189/SK/M tanggal 15 Nopember 1960 .14

Kebun Batujamus dibagi menjadi sembilan afdeling, satu afdeling untuk tanaman kopi yaitu afdeling Karanggadungan. Afdeling yang lain seluruhnya untuk tanaman karet yakni afdeling Jamus, Mojogedang, Polokarto, Gandugede, Kedungsumber, Kedawung, Kepoh/Sambirejo dan Balong/Jenawi. Dibukanya perkebunan karet Batujamus akan menimbulkan perubahan-perubahan sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitar. Terutama kehidupan masyarakat yang menggantungkan ekonominya pada perkebunan. Sekitar tahun 1960-an telah terjadi nasionalisasi perusahaan-perusahaan perkebunan baik milik pemerintah maupun milik swasta Belanda.15

Perkebunan Karet Batu Jamus merupakan perkebunan karet milik BUMN (Badan Usaha Milik Negara). Perkebunan karet ini memiliki kelebihan bila dibanding dengan perkebunan karet yang lain, diantaranya memiliki letak yang strategis, yaitu di Kabupaten Karanganyar, Sragen dan Sukoharjo. Disamping itu, perkebunan ini memiliki sarana dan prasarana transportasi yang memadai karena dekat dengan jalan raya sebagai penghubung ke kota pelabuhan di Semarang.

Perkebunan Karet Batu Jamus juga memiliki 2 (dua) buah pabrik pengolahan, hal tersebut dikarenakan perkebunan karet ini memiliki lahan yang luas yaitu 6.943,11 ha dan dibagi ke dalam 9 (sembilan) afdeling. Disamping itu,

14 Dokumen PTP.Nusantara IX Batu Jamus., Op. Cit, hlm 1

15 Septinawati., Op. Cit,. hlm 46

(9)

commit to user

9 perkebunan karet ini juga memiliki sistem drainage yang baik, karena dekat dengan sungai dan waduk. Kelebihan-kelebihan yang dimiliki Perkebunan Karet Batu Jamus berpengaruh terhadap produksi karet yang dihasilkan.16

Penelitian ini mengambil batasan wilayah di Karanganyar terutama di daerah Batu Jamus yang merupakan areal Perkebunan karet Praja Mangkunegaran. Hal ini menarik karena di Batu Jamus berdiri Pabrik Karet yang menguasai areal perkebunan karet yang cukup besar. Perkebunan karet Batu Jamus juga memberikan sumber pendapatan yang besar karena karet adalah produk ekspor yang laku di pasaran internasional.

Mengenai alasan pemilihan tahun 1996-2008. Pada tahun 1996 pemerintah Indonesia mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 1996 tentang perusahaan perkebunan. Isinya perihal peleburan Perusahaan Perseroan (Persero) PT. Perkebunan XV-XVI dan Perusahaan Perseroan (Persero) PT. Perkebunan XVIII menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) PT. Perkebunan Nusantara IX.

Perubahan tersebut akan membawa dampak bagi perkebunan, baik dari segi kebijakan maupun hasil produksinya. Pada tahun 2008, diterbitkan akta nomor 56 tentang keputusan PT. Perkebunan Nusantara IX (Persero) berkedudukan di Semarang, yang dibuat oleh Notaris Tuty Wardhany, SH, pada tanggal 15 September 2008. Selain itu, antara tahun 1996 dan 2008 terjadi peningkatan produksi, sehingga dengan adanya peningkatan produksi akan membawa dampak sosial maupun ekonomi terhadap karyawan atau buruh dan masyarakat sekitar pabrik dan perkebunan.

16Wawancara dengan Indrias Purwanti, Tanggal 27 Oktober 2014

(10)

commit to user

10 B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan beberapa pokok masalah, yaitu:

1. Bagaimana latar belakang berdirinya perusahaan perkebunan karet PTP.Nusantara IX (Persero) Batu Jamus?

2. Bagaimana perkembangan perusahaan perkebunan karet PTP. Nusantara IX (Persero) Batu Jamus 1996-2008?

3. Bagaimana dampak perusahaan perkebunan PTP. Nusantara IX (Persero) Batu Jamus terhadap kehidupan sosial-ekonomi masyarakat tahun 1996- 2008?

C. Tujuan Penelitian

Dari rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian yang dapat dikemukakan adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui latar belakang berdirinya perusahan perkebunan karet PTP. Nusantara IX (Persero) Batu Jamus.

2. Untuk mengetahui perkembangan perusahaan perkebunan PTP. Nusantara IX (Persero) Batu Jamus 1996-2008.

3. Untuk mengetahui dampak perusahaan perkebunan karet PTP. Nusantara IX (Persero) Batu Jamus terhadap masyarakat tahun 1996-2008.

(11)

commit to user

11 D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan wawasan dalam mempelajari ilmu sejarah maupun dalam penelitian sejarah khususnya mengenai sejarah perkebunan. Penelitian ini juga diharapan bisa menjadi referensi bagi dosen atau mahasiswa atau masyarakat umum yang ingin mempelajari tentang sejarah perkebunan khususnya perkebunan karet dan pengaruhnya terhadap masyarakat.

E. Tinjauan Pustaka

Tim Penulis PS (Penebar Swadaya) dalam bukunya Karet: Strategi Pemasaran Tahun 2000, Budidaya dan Pengolahan (1994), menjelaskan

mengenai karet sebagai salah satu komoditi non-migas yang penting bagi perekonomian negara. Total luas perkebunan karet di Indonesia mencapai tiga juta hektar lebih, terluas di dunia. Malaysia dan Thailand yang merupakan pesaing utama Indonesia memiliki luas lahan yang jauh di bawah jumlah tersebut.

Sayangnya, lahan karet yang luas di Indonesia tidak diimbangi dengan pengelolaan yang memadai. Sehingga buku ini menjelaskan mengenai faktor- faktor yang mempengaruhi permintaan dan penawaran dalam industri karet Indonesia, agar tidak kalah bersaing dengan Malaysia dan Thailand.

Tim Penulis PS (Penebar Swadaya) juga menjelaskan mengenai sejarah karet, dari awal penemuan karet di Brasil sampai menyebar ke berbagai dunia termasuk Indonesia. Buku ini juga menjelaskan mengenai jenis-jenis dan manfaat

(12)

commit to user

12 karet, seperti jenis-jenis karet sintetis dan karet alam beserta standart mutunya serta menjelaskan pula mengenai budidaya tanaman karet, penyakit yang menyerang tanaman karet, serta pengolahan karet. Buku ini pantas untuk dijadikan acuan dalam membuat skripsi, karena menjelaskan mengenai sejarah perkembangan karet, terutama di Indonesia. Disamping itu juga buku ini menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran dan permintaan karet, hal tersebut terkait dengan produksi karet, seperti yang nantinya akan dibahas.

Karl J. Pelzer dalam bukunya Toean Keboen dan Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria (1985), menjelaskan mengenai sistem perkebunan di

daerah Sumatera Timur, terutama perkebunan tembakau. Pada mulanya Jacobus Nienhuys seorang Belanda, mencari suatu tanah yang subur untuk ditanami tanaman perkebunan. Sampai akhirnya ia mendapatkan tanah yang cocok di daerah Deli, Sumatera Timur untuk ditanami tembakau. Tembakau-tembakau yang ditanam di Sumatera Timur memiliki kualitas tinggi dengan hasil yang menjanjikan keuntungan. Sehingga, karena itulah muncul pengusaha-pengusaha onderneming pencari untung ke Deli dan hal itu didukung pula oleh penguasa

setempat yang mengizinkan pengusaha asing untuk membuka perkebunan, sehingga makin banyak pengusaha onderneming asing yang membuka perkebunan di Deli. Selain tembakau, komoditas eksport lain dicoba ditanam di Deli diantaranya adalah kopi dan karet. Walaupun tembakau masih menjadi komoditas yang utama di Deli, namun karet juga tidak kalah penting dalam menyerap keuntungan besar. Pangsa pasar karet bertambah setelah berkembangnya industri otomotif. Buku ini sangat cocok untuk dijadikan acuan

(13)

commit to user

13 karena membahas mengenai sejarah awal karet dan perkembangan karet di Indonesia, terutama di Sumatera.

H.R Soetono dalam karyanya Timbulnya Kepentingan Tanam Perkebunan di Daerah Mangkunegaran (2000), menjelaskan mengenai beberapa perusahaan-

perusahaan milik Mangkunegaran, terutama pada masa Mangkunegaran IV.

Perusahaan-perusahaan tersebut diantaranya adalah perusahaan kopi, beras, serta tebu. Selain tanaman perkebunan, juga menjelaskan mengenai kehutanan. Selain itu, dalam buku ini juga menjelaskan mengenai sistem agraria di daerah Mangkunegaran, seperti hukum hak milik Raja, peraturan apanage, peraturan sewa tanah serta aspek-aspek untuk mendirikan perusahaan. Buku ini bisa dijadikan reverensi karena membahas mengenai tanah-tanah apanage di Mangkunegaran dan bagaimana Mangkunegaran mendirikan perusahaan.

Sehingga kita bisa mengetahui latar belakang pendirian suatu perusahaan di wilayah yang dikuasai Praja Mangkunegaran, termasuk di wilayah Karanganyar di mana PTP. Nusantara IX Batu Jamus berdiri.

Sartono Kartodirjo dan Djoko Suryo dalam bukunya Sejarah Perkebunan Di Indonesia: Kajian Sosial Ekonomi (1991), menjelaskan mengenai

perkembangan perkebunan di Indonesia sejak awal pertumbuhan perkebunan, ketika masa Pra-kolonial (sistem kebun pada masa tradisional), perkebunan pada masa VOC 1600-1800, perkebunan pada masa pemerintahan konservatif 1800- 1830, sistem tanam paksa 1830-1870 sampai periode 1956-1980an. Jenis-jenis tanaman perkebunan yang dikaji adalah jenis tanaman ekpor, seperti gula, kopi, teh, indigo, tembakau, kopra dan karet dll. Dalam buku ini juga menjelaskan

(14)

commit to user

14 bahwa dengan pecahkan Perang Dunia II perusahaan perkebunan yang terutama terarah kepada ekspor dan adanya ketergantungan kepada pasaran dunia, mau tidak mau mengalami kemunduran luar biasa. Pasaran itu terputus atau merosot akibat perang.

Sartono Kartodirjo dan Djoko Suryo juga menjelaskan mengenai perkembangan perkebunan karet di Indonesia. Komoditi yang dalam abad ke-20 mengalami peningkatan produksi yang menonjol sekali ialah teh dan karet.

Adapun pesatnya produksi karet tidak lain karena semakin meningkatnya kebutuhan atas bahan karet bersamaan dengan meningkatnya industri motor dan pada dekade terakhir abad ke-19, karet mengalami kemajuan pesat.

Septinawati dalam Skripsinya yang berjudul “Perkebunan Karet PTP IX Batujamus Karanganyar (Studi Tentang Kehidupan Buruh Sadap Karet di Perkebunan Karet PTPN IX Batujamus Karanganyar)” (2010). Skripsi ini menjelaskan mengenai perkembangan PTPN IX Batujamus Karanganyar, manajemen perkebunan karet PTPN IX Batujamus, serta dampak eksistensi PTPN IX Batujamus Karanganyar terhadap kehidupan buruh sadap karet. Skripsi ini menjelaskan lebih dalam mengenai perburuhan di perkebunan karet Batu Jamus.

Karyawan diberikan gaji pokok menurut golongan sesuai dengan skala gaji.

Adapun macam-macam pekerja perkebunan di PTPN IX Batujamus yaitu : Buruh Harian Lepas Insiden, Buruh Harian Lepas Penyadap, Buruh Harian Lepas Teratur, Pembantu Pelaksana (golongan IA-IV D). Selain itu karyawan dan buruh mendapat fasilitas seperti Pembinaan rohani dan jasmani, Koperasi karyawan, Tunjangan hari raya keagamaan, dan Penghargaan masa kerja. Skripsi ini

(15)

commit to user

15 menggunakan pendekatan ekonomi, karena yang dibahas mengenai pengaruh Perkebunan Karet Batu Jamus terhadap kehidupan ekonomi buruh sadap karet.

Selain itu, skripsi ini ditulis pada tahun 2010 dan data-data yang dipakai menggunakan data-data tahun 2010 pula.

F. Metode Penelitian

Metode sejarah ini terdiri dari 4 tahap yang saling berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya, yaitu: heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi.

1. Heuristik

Heuristik merupakan proses pengumpulan sumber-sumber tertulis baik berupa arsip, dokumen, dan wawancara maupun hasil-hasil penelitian yang pernah dilakukan. Arsip tersebut berasal dari perpustakaan Reksopustoko Mangkunegaran karena sebagian arsip atau dokumen sesuai dengan permasalahan yang dikaji. Selain itu juga dokumen berasal dari Pabrik karet PTP. Nusantara IX Batu Jamus Karanganyar dan Arsip Nasional. Adapun arsip yang digunakan antara lain: arsip tentang Peraturan Pemerintah No. 4 Tahun 1946 tentang Perusahaan Perkebunan, arsip tentang Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 1959 tentang penentuan perusahaan pertanian/ perkebunan milik Belanda yang dikenakan nasionalisasi, dokumen mengenai sejarah singkat dan profil perkebunan karet PTP. Nusantara IX Batu Jamus, Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie, serta surat kabar dari monument pers mengenai peningkatan

(16)

commit to user

16 produksi karet di Indonesia. Pengumpulan sumber juga dilakukan dengan wawancara, adapun narasumber yang dipilih merupakan mantan pekerja di Perkebunan PTP. Nusantara IX Batu Jamus.

2. Kritik Sumber

Kritik ini bertujuan untuk mencari otensitas atau keaslian data-data yang diperoleh melalui kritik intern dan kritik ekstern. Dalam hal ini data yang diperoleh harus diuji, baik secara intern maupun ekstern. Data yang diperoleh dari Perpustakaan Reksopustoko Mangkunegaran, Arsip Nasional, buku-buku atau data dari kantor Perusahaan karet PTP.Nusantara IX (Persero) Batu Jamus, kemudian dikritik sesuai dengan permasalahan yang dikaji.

3. Interpretasi

Usaha ini merupakan penafsiran terhadap fakta-fakta yang diperoleh dari data-data yang telah diseleksi dan telah dilakukan kritik sumber. Fakta yang ada diperoleh dari arsip, buku-buku, koran maupun majalah kemudian diseleksi dan dianalisis sesuai dengan permasalahan yang dikaji.

4. Historiografi

Historiografi merupakan penulisan sejarah dengan merangkaikan fakta- fakta menjadi kisah sejarah berdasarkan data-data yang sudah dianalisa. Disinilah pemahaman dan interpretasi atas fakta sejarah itu ditulis dalam bentuk kisah sejarah yang menarik dan logis.

(17)

commit to user

17 G. Sistematika Penulisan

Skripsi ini terdiri dari lima bab yang terdiri atas:

Bab I berisi Pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metodologi penelitian sampai pada sistematika.

Bab II pembahasan mengenai kondisi geografis Perkebunan Karet Batu Jamus, kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Batu Jamus, dan kondisi ekologis Perkebunan Karet Batu Jamus.

Bab III pembahasan mengenai manajemen dan tenaga kerja di Perkebunan karet Batu Jamus, yang meliputi, awal perkembangan Perkebunan karet Batu Jamus, hasil Perkebunan karet Batu Jamus, pengolahan karet, struktur organisasi Perkebunan karet Batu Jamus, serta tenaga kerja di Perkebunan karet Batu Jamus.

Bab IV pembahasan mengenai peranan sosial dan ekonomi Perkebunan karet Batu Jamus terhadap masyarakat sekitar

Bab V merupakan bab terakhir yang berisi kesimpulan dari penulisan skripsi

Referensi

Dokumen terkait

Parameter yang diamati pada penelitian ini yaitu pertumbuhan lilit batang TBM yang diukur dari TBM-1 sampai dengan TBM-4, tebal kulit dan anatomi kulit (jumlah cincin

Kesimpulan penelitian adalah terdapat perbedaan yang sangat signifikan antara kadar sFlt-1 serum pada kelompok early onset preeklampsia berat/ eklampsia, late onset

Sistem pelaporan belanja langsung dan laporan keuangan pada Badan Pengelola Keuangan dan Barang Milik Daerah Provinsi Sulawesi Utara sudah baik secara

Penelitian ini diharapkan untuk menjadi fokus perusahaan dalam pengelolaan yang lebih baik agar tidak memiliki keadaan yang serupa dengan beberapa perusahaan yang

Di antara sesuatu yang menarik untuk ditelaah lebih jauh adalah adanya indikasi-indikasi yang realistis bahwa sistem pendidikan pesantren tetap bertahan (eksis) dan relevan,

Menurut sumber dan jenisnya, data yang disajikan terdiri dari data dasar yang merupakan data hasil kegiatan Badan Pusat Statistik dan data sektoral yang

Adapun prinsip dari metode cawan ini adalah sel jasad renik yang masih hidup ditumbuhkan pada suatu medium agar, maka sel jasad renik akan berkembang biak dan membentuk koloni yang