• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI. Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat guna Memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam dalam Ilmu Pendidikan Agama Islam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI. Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat guna Memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam dalam Ilmu Pendidikan Agama Islam"

Copied!
67
0
0

Teks penuh

(1)

TAHUN PELAJARAN 2010/2011

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat guna Memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam

dalam Ilmu Pendidikan Agama Islam

Disusun Oleh:

Alfiatul Hasanah Rosyid 073111481

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG

2011

(2)

ii

ABSTRAK

Alfiatul Hasanah Rosyid (NIM. 073111481). Upaya Meningkatkan Keaktifan Siswa Dalam Pembelajaran Aqidah Akhlak Melalui Metode Information Search Pada Siswa Kelas IX MTs Ma’arif NU 1 Karanglewas Kabupaten Banyumas Tahun Pelajaran 2010/2011. Skripsi. Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, 2011.

Banyaknya siswa yang tidak aktif dalam pembelajaran disebabkan salah satunya karena proses pembelajaran selama ini belum melibatkan siswa secara aktif oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah meningkatkan aktifitas siswa dalam pembelajaran aqidah akhlak melalui metode information search pada siswa kelas IX MTs Ma’arif NU 1 Karanglewas Kabupaten Banyumas tahun pelajaran 2010/2011.

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari dua siklus dan melibatkan empat komponen yakni: Planning (rencana), Action (tindakan), Observation (pengamatan), Reflection (refleksi). Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IX MTs Ma’arif NU 1 Karanglewas Kabupaten Banyumas yang berjumlah 34 siswa. Metode pengumpulan data menggunakan observasi dan dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan metode statistik deskriptif.

Dari hasil penelitian diperoleh bahwa metode information search dalam pembelajaran Aqidah Akhlak mampu meningkatkan aktivitas belajar Aqidah Akhlak siswa kelas IX MTs Ma’arif NU I Karanglewas Kabupaten Banyumas tahun pelajaran 2010/2011. Pada siklus I prosentase keaktifan siswa sebesar 70%

dengan kategori baik, sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 80% dengan kategori baik sekali. Disamping itu, prestasi belajar Aqidah Akhlak siswa juga mengalami peningkatan setelah diterapkannya metode information search. Hal ini terlihat dari prosentase ketuntasan belajar secara klasikal yaitu pada siklus I sebesar 79,41%, dan pada siklus II sebesar 94,12%.Berdasarkan hasil penelitian ini maka pembelajaran Cooperative Learning Tipe STAD (Student Teams Achievement Division) dapat meningkatkan hasil belajar Físika pada Materi Pokok Cahaya siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Gubug semester II tahun pelajaran 2007/2008.

Hasil penelitian tersebut dapat digunakan sebagai bahan rujukan bagi guru untuk meningkatkan aktifitas belajar peserta didik.

(3)

iii Yth. Dekan Fakultas Tarbiyah

IAIN Walisongo di Semarang

Assalamu’alaikum wr. wb.

Dengan ini diberitahukan bahwa saya telah melakukan bimbingan, arahan dan koreksi naskah skripsi dengan:

Judul : Upaya Meningkatkan Keaktifan Siswa Dalam Pembelajaran Aqidah Akhlak Melalui Metode Information Search Pada Siswa Kelas IX MTs Ma’arif NU 1 Karanglewas Kabupaten Banyumas Tahun Pelajaran 2010/2011

Nama : Alfiatul Hasanah Rosyid

NIM : 073111481

Jurusan : Pendidikan Agama Islam Program Studi : Pendidikan Agama Islam

Saya memandang bahwa naskah skripsi tersebut sudah dapat diajukan kepada Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo untuk diujikan dalam Sidang Munaqosah.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Pembimbing,

Ahmad Ismail, M.Ag.

NIP. 19670208 199703 1 001

(4)

iv

KEMENTERIAN AGAMA RI

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO FAKULTAS TARBIYAH

Jl. Prof. Dr. Hamka (Kampus II) Ngaliyan Semarang Telp. 024-7601295 Fax. 7615387

PENGESAHAN SKRIPSI

Naskah skripsi dengan:

Judul : Upaya Meningkatkan Keaktifan Siswa Dalam Pembelajaran Aqidah Akhlak Melalui Metode Information Search Pada Siswa Kelas IX MTs Ma’arif NU I Karanglewas Kabupaten Banyumas Tahun Pelajaran 2010/2011

Nama : Alfiatul Hasanah Rosyid

NIM : 073111481

Jurusan : Pendidikan Agama Islam Program Studi : Pendidikan Agama Islam

telah diujikan dalam sidang munaqasah oleh Dewan Penguji Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo dan dapat diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar sarjana dalam Ilmu Pendidikan Agama Islam.

(5)
(6)

vi

MOTTO

) :

١٢ (

“Dan Dia menundukkan untukmu malam dan siang, matahari dan bulan, bintang-bintang di langit itu tunduk di bawah perintah-Nya.

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang menggunakan akal”.

(QS. An-Nahl: 12)1

1Soenarjo, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Semarang: Toha Putra, 1989), hlm. 405

(7)

vii Ku persembahkan karya ini untuk :

Bapak H. Sowidi Rosyid dan ibu Hj. Aisyah, Suamiku Machfud Abdullah

Anak-anakku Laila Fauqi Baroroh dan Muhammad Dafa’ Wisnu Galih

Keluarga besarku

(8)

viii

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim,

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah Swt yang telah memberikan rahmat, hidayat, taufiq dan inayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini dengan baik. Pada akhirnya bisa digunakan sebagai salah satu syarat guna memperoleh nilai akhir munaqosah sebagai salah satu syarat kelulusan.

Demikian juga shalawat serta salam semoga terabadikan bagi baginda Rasul Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya.

Dengan senantiasa memanjatkan rasa syukur atas segala rahmat yang telah diberikan, serta bantuan, arahan sekaligus bimbingan dari berbagai pihak sehingga dapat terselesaikannya penelitian ini, maka penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada yang terhormat :

1. Dr. Suja’i, M.Ag., selaku Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang.

2. Ahmad Ismail, M.Ag. selaku dosen pembimbing yang telah bersedia meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk memberikan pengarahan selama masa bimbingan hingga selesainya penulisan skripsi ini.

3. Kepala MTs Ma’arif NU 1 Karanglewas Kabupaten Banyumas yang telah memberikan izin untuk peneliti melaksanakan penelitian.

4. Segenap dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang yang telah memberikan bekal berbagai ilmu pengetahuan kepada penulis selama di bangku perkuliahan.

5. Bapak Kepala Perpustakaan IAIN Walisongo yang telah mempermudah dalam mendapatkan buku-buku kepustakaan.

6. Semua pihak yang telah membantu dalam penelitian ini.

Semoga amal baik mereka di atas mendapatkan balasan dan yang lebih dari Allah Swt.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan penelitian ini, masih banyak kekurangan dan kesalahan, baik dari segi isi dan penulisan. Oleh karena itu,

(9)

ix

Semarang, Maret 2011 Penulis

Alfiatul Hasanah Rosyid NIM. 073111481

(10)

x

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

ABSTRAK ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

PENGESAHAN PENGUJI ... iv

DEKLARASI ... v

MOTTO ... vi

PERSEMBAHAN ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... ix

BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 3

C. Penegasan Istilah ... 4

D. Rumusan Masalah... 5

E. Tujuan Penelitian ... 5

F. Manfaat Penelitian ... 5

G. Hipotesis ... 6

BAB II : KEAKTIFAN PESERTA DIDIK DALAM PEMBELAJARAN AQIDAH AKHLAK DAN METODE INFORMATION SEARCH A. Keaktifan Belajar... 7

1. Pengertian Keaktifan Belajar ... 7

2. Bentuk-bentuk Keaktifan Belajar ... 7

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Aktivitas Belajar .. 11

B. Pembelajaran Aqidah Akhlak... 16

1. Pengertian Pelajaran Aqidah Akhlak ... 16

2. Tujuan dan Ruang Lingkup Mata Pelajaran Aqidah Akhlak di MTs ... 17

(11)

xi BAB III : METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian ... 24

B. Setting dan Subyek Penelitian ... 24

C. Variabel Penelitian ... 25

D. Desain Penelitian ... 26

E. Metode Pengumpulan Data ... 30

F. Teknik Analisis Data ... 31

G. Indikator Keberhasilan ... 30

BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Observasi Awal ... 33

B. Hasil Penelitian ... 34

C. Pembahasan ... 44

BAB V : PENUTUP A. Kesimpulan ... 51

B. Saran-saran... 52

C. Penutup... 53 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN

(12)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Aktivitas belajar bagi setiap individu selamanya berlangsung secara wajar kadang-kadang lancar, kadang-kadang tidak, kadang-kadang dapat cepat menangkap apa yang sedang dipelajari, kadang-kadang terasa sulit untuk memahami dalam hal semangat kadang semangatnya tinggi, tetapi terkadang juga sulit untuk mengadakan konsentrasi. Kenyataan yang demikian sering kita jumpai pada setiap anak didik, dalam kehidupan sehari-hari dalam kaitannya dengan aktivitas belajar.

Pembelajaran merupakan suatu proses yang kompleks dan melibatkan berbagai aspek yang saling berkaitan. Oleh karena itu untuk menciptakan pembelajaran yang kreatif, dan menyenangkan, diperlukan keterampilan. Di antaranya adalah keterampilan membelajarkan dan keterampilan mengajar.1 Namun dalam menciptakan pembelajaran yang baik ini tentunya disesuaikan dengan budaya dan sumber-sumber yang dimilikinya, dengan sedikit inovasi dari pendidik untuk menjadikannya sebagai metode pembelajaran yang berdayaguna, termasuk dalam pembelajaran Aqidah Akhlak.

Mengingat pembelajaran Aqidah Akhlak ini sangat penting bagi petunjuk hidup dan kehidupan peserta didik maka guru berupaya untuk memilih, menetapkan, dan mengembangkan metode-metode pembelajaran yang memungkinkan dapat memungkinkan dapat membantu kemudahan, kecepatan, kebiasaan dan kesenangan peserta didik untuk mempelajari Aqidah Akhlak ini di sesuaikan dengan kebutuhan dari peserta didik, sehingga dapat menarik minat peserta didik untuk mempelajarinya.

Selama ini sering kita jumpai metode ceramah masih dominan digunakan para pendidik dalam menyampaikan materi pelajaran, juga adanya ketidakaktifan siswa dalam mengikuti pelajaran terutama mata pelajaran

1 E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional; Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan, (Bandung: PT.Remaja Rosdakarya, 2005), hlm. 69

(13)

Aqidah Akhlak. Siswa sekedar mengikuti pelajaran yang diajarkan guru di dalam kelas, yaitu dengan hanya mendengar ceramah dan mengerjakan soal yang diberikan oleh guru tanpa adanya respon, kritik dan pertanyaan siswa kepada guru sebagai feed back atau umpan balik. Demikian juga guru hanya mengejar waktu mengingat harus mengajarkan materi yang cukup banyak tetapi dengan jam pengajaran yang disediakan cukup singkat, tanpa mempedulikan siswanya paham atau tidak, Sehingga hal ini menjadikan siswa kurang tertarik mengikuti mata pelajaran Aqidah Akhlak.

Jika permasalahan tersebut masih berlangsung terus menerus maka akan mengakibatkan aktivitas dan kreativitas siswa dalam kegiatan belajar mengajar terhambat. Siswa akan beranggapan bahwa belajar Aqidah Akhlak bukanlah kebutuhan, hanya tuntutan kurikulum saja, karena siswa tidak mendapat makna dari belajar Aqidah Akhlak yang dipelajari. Padahal pendidikan Aqidah Akhlak di Madrasah Tsanawiyah (MTs) adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan dan mengimani Allah SWT, dan merealisasikannya dalam perilaku akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, penggunaan pengalaman, keteladanan, dan pembiasaan. Oleh karena itu siswa dituntut untuk aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Di samping itu dalam kehidupan masyarakat yang majemuk dalam bidang keagamaan, pendidikan itu juga diarahkan pada peneguhan Aqidah di satu sisi dan peningkatan toleransi serta saling menghormati dengan penganut agama lain dalam rangka mewujudkan kesatuan dan persatuan bangsa.2

Berdasarkan pengamatan awal terhadap proses belajar mengajar dan prestasi belajar Aqidah Akhlak di MTs Ma’arif NU 1 Karanglewas Kabupaten Banyumas kelas IX tahun ajaran 2009/2010, ditemukan beberapa permasalahan, diantaranya: 1) Model pembelajarannya masih satu arah (ceramah) belum bervariasi sehingga pelajaran yang seharusnya dikuasai dengan baik oleh peserta didik hasilnya kurang optimal hal ini dapat diketahui dari nilai ulangan

2 Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Khusus Madrasah Tsanawiyah (MTs), (Jakarta: PT Binatama Raya. 2007), hlm. 4

(14)

3

harian hanya 39% dari jumlah siswa yang mendapatkan nilai lebih dari 6.5.

sebagai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan. 2) Aktivitas belajar siswa juga masih rendah yaitu sebagian besar siswa pasif, hal ini disebabkan karena siswa tidak merasa dilibatkan dalam kegiatan belajar mengajar.

Untuk mengatasi permasalahan di atas dibutuhkan proses pembelajaran yang tepat. Salah satu kesulitan siswa dalam mengikuti pembelajaran adalah disebabkan penggunaan model atau metode pembelajaran yang kurang mendapat perhatian anak didik, mungkin karena terlalu monoton, kaku, terkesan memaksa, bahkan tersedianya perangkat pembelajaran yang kurang atau ada tetapi belum difungsikan. Salah satu metode yang dapat digunakan sebagai alternatif dalam pembelajaran Aqidah Akhlak adalah metode Information Search. Metode ini memberikan peluang kepada siswa untuk lebih aktif dalam pembelajaran.

Information search bisa dipahami sebagai metode pembelajaran dengan cara siswa mencari informasi secara mandiri. Jadi untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran, maka mereka harus aktif mencari informasi yang berkaitan dengan materi yang akan diajarkan.

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas penulis merasa perlu untuk mengkajinya lebih mendalam kedalam skripsi yang berjudul “UPAYA MENINGKATKAN KEAKTIFAN SISWA DALAM

PEMBELAJARAN AQIDAH AKHLAK MELALUI METODE

INFORMATION SEARCH PADA SISWA KELAS IX MTs MA’ARIF NU 1 KARANGLEWAS KABUPATEN BANYUMAS TAHUN PELAJARAN 2010/2011”.

B. Identifikasi Masalah

Siswa dalam pembelajaran Aqidah Akhlak selama ini cenderung pasif. Aktifitas pembelajaran berlangsung satu arah, hanya berpusat pada guru, sedangkan siswa kurang begitu aktif selama proses pembelajaran sedang berlangsung. Disamping itu metode yang dipakai guru juga tidak mampu mendorong meningkatkan aktifitas peserta didik dalam pembelajaran.

(15)

Akhirnya nilai pelajaran Aqidah Akhlak peserta didik cenderung menurun.

Oleh karena itu, aktifitas pembelajaran Aqidah Akhlak peserta didik dapat ditingkatkan salah satunya dengan menggunakan metode information search.

C. Penegasan Istilah

Untuk menghindari kesalahpahaman dalam menginterpretasikan judul skripsi ini, maka penulis perlu menjelaskan istilah kunci sebagai berikut: . 1. Keaktifan siswa dalam pembelajaran Aqidah Akhlak

Yang dimaksud aktivitas siswa dalam pembelajaran Aqidah Akhlak adalah kegiatan yang dilakukan peserta didik dalam proses belajar mengajar pada mata pelajaran Aqidah Akhlak. Indikator aktifitas siswa dalam pembelajaran dapat diketahui dari keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran, misalnya aktifitas bertanya, menjawab pertanyaan, presentasi dan lain sebagainya.

2. Metode Information Search

Secara bahasa information berarti ”keterangan”3 dan search yang berarti ”pencarian atau penelusuran”.4 Jadi metode information search adalah metode pembelajaran dengan cara mengoptimalkan aktifitas siswa dalam mencari informasi atau keterangan yang berkaitan dengan materi yang diajarkan. Esensi dari metode ini adalah kemandirian siswa dalam mencari materi pelajaran tambahan untuk meningkatkan pengetahuan siswa.

Dari definisi-definisi di atas dapat dipahami bahwa maksud dari penelitian skripsi ini adalah upaya yang dilakukan guru dalam rangka meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran Aqidah Akhlak dengan cara mengimplementasikan metode information search secara maksimal dan komprehensif pada siswa kelas IX MTs Ma’arif NU 1 Karanglewas Kabupaten Banyumas tahun pelajaran 2010/2011.

3 John M. Echols dan Hasan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta: Gramedia, 1992), hlm. 321.

4Ibid., hlm. 507.

(16)

5

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut rumusan masalah pada penelitian ini adalah :

1. Bagaimana keaktifan siswa dalam pembelajaran Aqidah Akhlaq pada siswa kelas IX MTs Ma’arif NU I Karanglewas, Kabupaten Banyumas tahun pelajaran 2010/2011?

2. Bagaimanakah langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran metode Information Search pada kelas tersebut?

3. Apakah metode Information Search dapat meningkatkan keaktifan siswa pada pembelajaran Aqidah Akhlaq pada kelas IX MTs Ma’arif NU I Karanglewas tersebut?

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan pokok permasalahan di atas, maka tujuan penulisan skripsi ini adalah untuk mengetahui adakah meningkatkan aktifitas siswa dalam pembelajaran aqidah akhlak melalui metode information search pada siswa kelas IX MTs Ma’arif NU 1 Karanglewas Kabupaten Banyumas tahun pelajaran 2010/2011.

F. Manfaat Penelitian

Dengan adanya penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi seluruh komponen akademik sebagai berikut:

1. Bagi Siswa

Membantu siswa dalam rangka peningkatan aktifitas belajar Aqidah Akhlak sehingga siswa tidak dapat merasa bosan dan bersifat aktif dalam menerima pelajaran.

2. Bagi Guru

Membantu guru dalam rangka pencarian strategi dan metode pengajaran yang tepat dan sesuai dengan keadaan siswa agar dapat memberikan kesan kepada siswa bahwa mata pelajaran Aqidah Akhlak

(17)

adalah mata pelajaran yang sangat penting untuk kehidupan, dengan demikian aktifitas pembelajaran siswa akan tinggi.

3. Bagi Sekolah

Membantu pihak sekolah dalam rangka mencerdaskan siswa dengan meningkatkan aktifitas pembelajaran siswa maka akan meningkat pula prestasi yang diraih anak didik dan akan membawa nama baik sekolah.

G. Hipotesis

Hipotesis berasal dari kata “hypo” yang berarti “dibawah” dan “thesa”

yang artinya “kebenaran”.,5 atau bisa dipahami sebagai suatu pernyataan yang masih membutuhkan pembenaran melalui suatu penelitian. Menurut Suharsimi Arikunto hipotesis adalah “suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul”.6 Dengan kata lain hipotesis adalah kesimpulan sementara yang mungkin salah atau benar dan masih diperlukan uji kebenarannya.

Kemudian yang dimaksud hipotesis tindakan adalah suatu perkiraan tentang tindakan yang diduga dapat mengatasi permasalahan pembelajaran.

Tindakan dilakukan dengan cara mengintervensi kegiatan agar dapat memperbaiki proses pembelajaran. Artinya mengubah kegiatan atau tindakan yang biasa dilakukan dengan tindakan yang diduga dapat memperbaiki proses dan hasil belajar.7

Sedangkan hipotesis penelitian tindakan ini adalah bahwa pembelajaran Aqidah Akhlak melalui metode information search dapat meningkatkan keaktifan pada siswa kelas IX MTs Ma’arif NU 1 Karanglewas Kabupaten Banyumas tahun pelajaran 2010/2011.

5 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hlm. 64.

6Ibid.

7 I.G.A.K. Wardani, dkk., Penelitian Tindakan Kelas, (Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka, 2004), hlm. 319.

(18)

7 BAB II

KEAKTIFAN PESERTA DIDIK DALAM PEMBELAJARAN AQIDAH AKHLAK DAN METODE INFORMATION SEARCH

A. Keaktifan Belajar

1. Pengertian Keaktifan Belajar

Kata keaktifan berasal dari kata aktif yang berarti ”giat, gigih, mampu beraksi dan bereaksi.”1 Belajar merupakan suatu usaha atau kegiatan yang bertujuan mengadakan perubahan di dalam diri seseorang mencakup perubahan tingkah laku, sikap, kebiasaan ilmu pengetahuan, ketrampilan.2 Jadi yang dimaksud keaktifan belajar disini adalah kegiatan atau kesibukan peserta didik untuk selalu merubah dirinya menjadi lebih positif. Baik dalam hal tingkah laku, sikap, kebiasaan, ilmu pengetahuan dan ketrampilan. Keaktifan ini bisa dilihat dari aktifnya atau giatnya peserta didik dalam mendengar, memperhatikan, mencatat, membaca, meniru, berlatih dan menyelesaikan tugas, membuat ikhtisar, memecahkan masalah, yang kesemuanya itu bersangkutan dengan pelajaran khususnya dalam pelajaran Aqidah Akhlak.

2. Bentuk-bentuk Keaktifan Belajar a. Keaktifan Psikis

Menurut teori kognitif adalah belajar menunjukkan adanya jiwa yang sangat aktif, jiwa mengolah informasi yang kita terima. Tidak sekedar menyimpannya saja tanpa mengadakan transformasi.

Keaktifan Psikis meliputi :

1Suharso dan Ana Retnoningsih, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Semarang: Widya Karya, 2009), hlm. 24.

2Mulyono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), hlm. 49.

(19)

1) Keaktifan indera.

Di dalam kelas atau dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar hendaknya berusaha mendayagunakan alat indera dengan sebaik-baiknya seperti, penglihatan, dan pendengaran 2) Keaktifan akal.

Dalam melakukan kegiatan belajar, akal harus selalu aktif, atau diaktifkan untuk memecahkan masalah seperti, menimbang- nimbang, menyusun pendapat dan mengambil suatu kesimpulan.

3) Keaktifan Ingatan

Pada waktu belajar, peserta didik harus aktif dalam menerima bahan pelajaran yang disampaikan guru dan berusaha menyimpannya dalam otak, kemudian mampu mengutarakannya kembali.

4) Keaktifan Emosi

Bagi seorang peserta didik hendaknya senantiasa mencintai apa yang akan dan telah dipelajari.3

b. Keaktifan Fisik

Menurut teori Thorndike mengemukakan keaktifan peserta didik dalam belajar dengan hukum “Law of Exercise” nya yang mengatakan bahwa belajar memerlukan latihan-latihan. Mc Kachix berkenaan dengan prinsip keaktifan mengemukakan bahwa individu merupakan manusia belajar yang aktif dan selalu ingin tahu.4 Keaktifan fisik meliputi :

1) Mencatat.

Membuat catatan akan berpengaruh dalam membaca.

Catatan yang kurang jelas antara materi satu dengan lainnya akan menimbulkan keengganan dalam membaca. Didalam membuat catatan sebaiknya diambil intisarinya. Mencatat yang

3 Sriyono dkk, Tehnik Belajar Mengajar Dalam CBSA, (Jakarta: Rineka Cipta, 1992), hlm. 75

4Dimyati dan Mujiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 1999), hlm.45

(20)

9

dimaksudkan dalam belajar yaitu; dalam memcatat seseorang menyadari akan kebutuhannya.5 Dengan demikian. Catatan tidak hanya sekedar fakta melainkan juga merupakan materi yang dibutuhkan untuk dipahami dan dimanfaatkan sebagai informasi bagi perkembangan wawasan otak dalam berfikir.

2) Membaca.

Membaca merupakan alat belajar mendominasi dalam kegiatan belajar. Salah satu metode membaca yang baik dan banyak dipakai dalam belajar adalah metode “SORA” atau survey (meninjau), question (mengajuakan pertanyaan), Read (membaca), Recite (menghafal), Write (menulis) dan Refiew (mengulang kembali).6agar peserta didik dalam membaca efisien, perlu adanya cara atau kebiasaan yang baik. Menurut The Liang Gie, kebiasaan membaca yang baik yaitu dengan memperhatikan kesehatan membaca, terjadwal, membuat catatan, memanfaatkan perpustakaan, membaca sampai menguasai bahan dan didukung adanya konsentrasi penuh.7

3) Mendengarkan

Untuk menanamkan semangat peserta didik dalam mengikuti pelajaran pendidikan Agama Islam, terlebih dahulu ditimbulkan minat sehingga terangsang dalam mengikuti pelajaran. Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang berbagai kegiatan.8Kegiatan yang diminati seseorang akan memperhatikan secara kontinu disertai rasa senang. Oleh karena itu minat besar pengaruhnya terhadap

5 Abu Ahmadi, Psikologi Belajar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995), hlm. 127

6 Ibid., hlm. 85-86

7The Liang Gie, Cara Belajar Yang Efisien, (Yogyakarta: Pusat Kemajuan Studi, t.th.), hlm. 94.

8 Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Menpengaruhinya, (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), hlm. 69

(21)

belajar. Apabila bahan pelajaran tidak menarik peserta didik maka dalam belajar tidak terdapat usaha yang maksimal.

4) Bertanya Pada Guru.

Dalam belajar membutuhkan reaksi yang melibatkan ketangkasan mental, kewaspadaan, perhitungan dan ketekunan untuk menangkap fakta dan ide-ide yang disampaikan guru.9 Jadi Kecepatan jiwa seseorang dalam memberikan respon pada suatu pelajaran merupakan faktor penting dalam proses kegiatan belajar.

5) Latihan atau praktik.

Seorang yang melaksanakan kegiatan dengan berlatih tentu mempunyai dorongan untuk mencapai tujuan tertentu yang dapat mengembangkan suatu aspek dalam dirinya. Dalam berlatih akan terjadi interaksi antara subyek dengan lingkungan.10Dan hasil dari praktik tersebut dapat berupa pengalaman yang dapat mengubah diri seseoarang yang melakukan aktifitas belajar dengan latihan dan lingkungan yang mendukung.

Dari penjelasan diatas, dapat penulis simpulkan bahwa yang dimaksud aktifitas belajar adalah aktifitas yang bersifat psikis maupun fisik. Dalam kegiatan belajar kedua aktifitas itu harus terkait. Sebagai contoh seseorang sedang belajar dengan membaca. Secara fisik kelihatan bahwa orang tadi membaca menghadapi suatu buku, tetapi mungkin pikiran sikap mentalnya tidak tertuju pada buku yang dibaca. Ini menunjukkan tidak keserasian antara aktifitas psikis dengan fisik. Kalau demikian maka belajar itu tidak akan optimal.

Dengan demikian jelas bahwa aktifitas belajar itu menyangkut dua hal yaitu aktifitas yang bersifat psikis dan aktifitas yang bersifat fisik.

Kaitan antara keduanya akan membuahkan aktifitas belajar yang optimal.

9 Sardiman, A.M., Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2000), hlm. 41

10 Abu Ahmadi, op.cit, hlm. 130

(22)

11

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Aktivitas Belajar

Dalam aktivitas belajar, banyak sekali faktor yang mempengaruhinya. Dari sekian banyak faktor yang mempengaruhi aktivitas belajar, Soemanto menggolongkannya menjadi tiga macam, yaitu

“faktor stimulasi belajar, faktor metode belajar, dan faktor individual”.11 Ketiganya diuraikan sebagai berikut:

a. Faktor Stimuli Belajar

Yang dimaksud dengan stimuli belajar adalah “segala hal di luar individu yang merangsang individu”.12 Ada beberapa hal yang berhubungan dengan faktor stimuli belajar, antara lain:

1) Panjangnya bahan pelajaran

Bahan pelajaran yang terlalu panjang atau terlalu banyak dapat menyebabkan kesulitan individu dalam belajar. Namun demikian, kesulitan belajar individu tidak semata-mata karena panjangnya waktu untuk belajar, melainkan lebih berhubungan dengan faktor kelelahan dan kejenuhan peserta didik dalam meng- hadapi atau mengerjakan bahan yang banyak itu.

2) Kesulitan bahan pelajaran

Tiap-tiap bahan pelajaran mengandung tingkat kesulitan yang berbeda. Tingkat bahan pelajaran mempengaruhi kecepatan belajar peserta didik. makin sulit suatu bahan pelajaran akan lambatlah peserta didik mempelajarinya dan bahan pelajaran yang sulit memerlukan aktivitas belajar yang lebih intensif.13 3) Berartinya bahan Pelajaran

Modal pengalaman yang diperoleh dari belajar pada waktu sebelumnya sangat diperlukan dalam belajar. Modal pengalaman itu dapat berupa penguasaan bahasa, pengetahuan dan prinsip-prinsip.

11 Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan, Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan, (Jakarta: Gramedia, 1990), hlm. 107

12Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1996), hlm. 787

13Wasty Soemanto, op.cit., hlm. 109

(23)

Modal pengalaman itulah yang dapat menentukan berartinya bahan pelajaran yang dipelajari pada waktu sekarang. “Bahan pelajaran yang berarti memungkinkan individu untuk belajar, karena individu dapat mengenalnya”.14

4) Suasana lingkungan eksternal

Seperti yang dikatakan oleh Ahmadi dan Supriyono, bahwa suasana lingkungan eksternal menyangkut banyak hal, antara lain:

cuaca, kondisi tempat, penerangan dan sebagainya. Faktor-faktor ini mempengaruhi sikap dan reaksi individu dalam aktivitas belajarnya, sebab individu yang belajar adalah interaksi dengan lingkungannya.15

b. Faktor Metode Belajar

Dalam proses belajar mengajar, metode yang digunakan guru akan mempengaruhi belajar peserta didik. adapun faktor yang menyangkut metode belajar adalah:

1) Kegiatan berlatih atau praktek

Kegiatan ini dilakukan untuk mengurangi kelupaan, mengingat kembali, atau memantapkan reaksi terhadap belajar.

Kegiatan ini perlu diselingi dengan istirahat supaya tidak menimbulkan kesan membosankan. Soemanto mengatakan bahwa

“latihan yang dilakukan secara maraton dapat melelahkan dan membosankan, sedangkan latihan yang terdistribusi menjadi terpeliharanya stamina dan kegairahan dalam belajar”.16

2) Pengenalan hasil belajar

Dalam proses belajar, individu sering mengabaikan perkembangan hasil belajar selama dalam belajarnya. Pengenalan seseorang dalam hasil belajarnya atau prestasi belajar adalah

14Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta 1991), hlm. 132

15Ibid., hlm. 133

16Wasty Soemanto, op.cit., hlm. 110

(24)

13

penting bagi peserta didik, karena dengan mengetahui hasil-hasil yang sudah dicapai, seseorang akan lebih berusaha meningkatkan hasil selanjutnya.17

3) Penggunaan modalitet indera

Modalitet indera yang dipakai oleh setiap individu adalah tidak sama, tergantung dari masing-masing pribadi yang bersangkutan. Ada yang menekankan pada oral modalitet, ada yang menggunakan visual modalitet, ada yang lebih menekankan pada kinestetik. Tetapi alangkah baiknya bila peserta didik menggunakan secara bersamaan atau tidak saling terpisah. Di samping itu ada pula yang belajar dengan menggunakan kombinasi impresi indera.

4) Bimbingan dalam belajar

Bimbingan dalam belajar ini diperlukan untuk memberikan motivasi belajar serta pemberian modal kecakapan peserta didik sehingga dapat melakukan aktivitas belajar dengan baik.18

c. Faktor individual

Faktor individual peserta didik juga sangat berpengaruh dalam aktivitas belajar peserta didik. Adapun faktor-faktor individual ini menyangkut hal-hal sebagai berikut:

1) Kematangan

Kematangan dicapai oleh individu dari proses pertumbuhan fisiologinya. Kematangan terjadi akibat adanya perubahan kuantitatif di dalam struktur jasmani, dibarengi dengan perubahan kualitatif terhadap struktur tersebut. Sebab kematangan memberi kondisi fungsi fisiologis termasuk fungsi otak saraf berkembang.19

17Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, op.cit., hlm. 135

18Ibid.

19Ibid., hlm. 137

(25)

2) Pengalaman sebelumnya

Pengalaman yang diperoleh sebelumnya dari lingkungan akan turut serta mempengaruhi perkembangan individu dalam memahami dan mempelajari pelajaran. Hal ini sesuai dengan pendapat Ahmadi dan Supriyono, “pengalaman belajar yang diperoleh individu itu mempengaruhi hasil belajar yang bersangkutan”.20

3) Kondisi kesehatan

Individu yang belajar membutuhkan kondisi badan yang sehat. Seorang peserta didik yang badannya sakit akibat penyakit- penyakit tertentu serta kesalahan tidak akan dapat belajar dengan efektif.21

Arden N. Frandsen dalam Suryabrata mengatakan bahwa hal-hal yang mendorong seseorang untuk belajar itu adalah sebagai berikut:

1. Adanya sifat ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia yang lebih luas.

2. Adanya sifat yang kreatif yang ada pada manusia dan keinginan untuk selalu maju.

3. Adanya keinginan untuk mendapatkan simpati dari orang tua, guru, dan teman-teman.

4. Adanya keinginan untuk memperbaiki kegagalan yang lalu dengan usaha yang baru.

5. Adanya keinginan untuk mendapatkan rasa aman bila menguasai pelajaran.

6. Adanya ganjaran atau hukuman sebagai akhir dari pada belajar.22

Menurut Mulyasa ada beberapa prinsip yang dapat diterapkan untuk meningkatkan aktivitas peserta didik diantaranya sebagai berikut:

1) Peserta didik akan belajar lebih giat apabila topik yang dipelajarinya menarik, dan berguna bagi dirinya.

2) Tujuan pembelajaran harus disusun dengan jelas dan diinformasikan kepada peserta didik sehingga mereka

20Ibid., hlm. 138)

21Wasty Soemanto, op.cit., hlm. 115

22Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1993), hlm.

253

(26)

15

mengetahui tujuan belajar. Peserta didik juga dapat dilibatkan dalam penyusunan tujuan

3) Peserta didik harus selalu diberitahu tentang kompetensi, dan hasil belajarnya.

4) Pemberian pujian dan hadiah lebih baik daripada hukuman, namun sewaktu-waktu hukuman juga diperlukan

5) Manfaatkan sikap, cita-cita, rasa ingin tahu, dan ambisi peserta didik

6) Usahakan untuk memperhatikan perbedaan individual peserta didik, misalnya perbedaan kemampuan, latar belakang dan sikap terhadap sekolah atau subjek tertentu.

7) Usahakan untuk memenuhi kebutuhan peserta didik dengan jalan memperhatikan kondisi fisik, memberi rasa aman, menunjukkan bahwa guru memperhatikan mereka, mengatur pengalaman belajar sedemikian rupa sehingga setiap peserta didik pernah memperoleh kepuasan dan penghargaan, serta mengarahkan pengalaman belajar kearah keberhasilan, sehingga mencapai prestasi dan mempunyai kepercayaan diri.23 Aktivitas belajar peserta didik tidaklah terpisah satu dengan yang lain. Dalam setiap aktivitas motoris terkandung aktivitas mental disertai dengan perasaan tertentu, dan seterusnya. Setiap pelajaran terdapat berbagai aktivitas yang dapat diupayakan.

Prinsip aktivitas yang diuraikan di atas didasarkan pada pandangan psikologis bahwa, segala pengetahuan harus diperoleh melalui pengamatan (mendengar, melihat dan sebagainya) sendiri dan pengalaman sendiri. Jiwa itu dinamis, memiliki energi sendiri dan dapat menjadi aktif sebab didorong oleh kebutuhan-kebutuhan.

Guru hanyalah merangsang keaktivan peserta didik dengan jalan menyajikan bahan pelajaran, yang mengolah dan mencerna adalah peserta didik itu sendiri sesuai dengan kemauan, kemampuan, bakat dan latar belakang masing-masing. Belajar adalah suatu proses di mana peserta didik harus aktif.

23 E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008), cet. 7, hlm. 176-77

(27)

B. Pembelajaran Aqidah Akhlak

1. Pengertian Pelajaran Aqidah Akhlak

Untuk memahami pengertian pelajaran Aqidah Akhlak, perlu kiranya diurai terlebih dulu definisi Aqidah dan Akhlak. Aqidah bisa dipahami sebagai tauhid atau keimanan. Aqidah atau tauhid ini merupakan ajaran terpenting dalam Islam. Secara syara’ Aqidah yaitu iman kepada Allah, para malaikatnya, kitab-kitabnya, para rasulnya dan kepada hari akhir serta kepada Qadar yang baik maupun yang buruk.24 Hal ini juga disebut sebagai rukun iman. Sedangkan kata akhlak adalah jama dari kata khilqun atau khulqun yang berarti perangai, kelakukan, tabiat, watak dasar.25Kata akhlak dijumpai dalam al-Qur’an di antaranya dalam surat al- Qolam ayat 4.









) 

: ٤ (

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.

(QS. Al-Qolam: 4)26

Dari definisi di atas diketahui bahwa pelajaran Aqidah Akhlak adalah salah satu sub dari pendidikan Agama Islam yang diajarkan di madrasah yang berisi tentang materi keimanan dan perilaku manusia yang baik dan buruk.

Dalam panduan kurikulum tingkat satuan pendidikan khusus untuk Madrasah Tsanawiyah dijelaskan bahwa pendidikan Aqidah Akhlak adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati dan mengimani Allah SWT, dan merelasikannya dalam perilaku akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, penggunaan

24 Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, (Jakarta: UI Press, 1985), hlm. hlm. 30

25Lihat Abudin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006), hlm.

2 26Soenarjo, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Semarang: Toha Putra, 1989), hlm. 634

(28)

17

pengalaman, keteladanan, dan pembiasaan. Dalam kehidupan masyarakat yang majemuk dalam bidang keagamaan, pendidikan itu juga diarahkan pada peneguhan Aqidah di satu sisi dan peningkatan toleransi serta saling menghormati dengan penganut agama lain dalam rangka mewujudkan kesatuan dan persatuan bangsa.27

Mata pelajaran Aqidah Akhlak di Madrasah Tsanawiyah memiliki karakter di antaranya adalah: aspek aqidah menekankan pada kemampuan memahami dan mempertahankan keyakinan atau keimanan yang benar serta menghayati dan mengamalkan nilai-nilai al-asma’ al-husna. Aspek akhlak menekankan pada pembiasaan untuk melaksanakan akhlak terpuji dan menjauhi akhlak tercela dalam kehidupan sehari-hari.28

2. Tujuan dan Ruang Lingkup Mata Pelajaran Aqidah Akhlak di MTs a. Fungsi Mata Pelajaran Aqidah Akhlak

Mata pelajaran Aqidah Akhlak di MTs berfungsi untuk:

1) Menumbuhkembangkan Aqidah melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan, serta pengalaman peserta didik tentang Aqidah Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT.

2) Mewujudkan manusia Indonesia yang berakhlak mulia dan menghindari akhlak tercela dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam kehidupan individu maupun sosial, sebagai manifestasi dari ajaran dan nilai-nilai Aqidah Islam.29

27 Badan Standar Nasional Pendidikan (BNSP), Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Khusus Madrasah Tsanawiyah (MTs), (Jakarta: PT Binatama Raya, 2007), hlm. 4

28Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008 tentang Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah, hlm.

49. 29Ibid., hlm. 50

(29)

b. Ruang Lingkup Mata Pelajaran Aqidah Akhlak

Ruang lingkup matapelajaran Aqidah Akhlak di Madrasah Tsanawiyah meliputi:

1) Aspek Aqidah terdiri atas dasar dan tujuan Aqidah Islam, sifat-sifat Allah, al-asma' al-husna, iman kepada Allah, Kitab-Kitab Allah, Rasul-Rasul Allah, Hari Akhir serta Qada Qadar.

2) Aspek akhlak terpuji yang terdiri atas ber-tauhiid, ikhlaas, ta’at, khauf, taubat, tawakkal, ikhtiyaar, shabar, syukur, qanaa’ah, tawaadu', husnuzh-zhan, tasaamuh dan ta’aawun, berilmu, kreatif, produktif, dan pergaulan remaja.

3) Aspek akhlak tercela meliputi kufur, syirik, riya, nifaaq, anaaniah, putus asa, ghadlab, tamak, takabbur, hasad, dendam, giibah, fitnah, dan namiimah.30

C. Metode Information Search

1. Pengertian Metode Information Search

Secara bahasa information berarti keterangan,31dan search berarti pencarian atau penelusuran.32 Jadi metode Information Search adalah metode pembelajaran aktif yang menekankan peserta didik untuk mencari informasi tentang pelajaran secara mandiri.

Tujuan dari penerapan strategi ini adalah memberi kesempatan peserta didik untuk menemukan suatu ilmu pengetahuan dengan proses

30Ibid., hlm. 53.

31John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia, (Jakarta: PT. Gramedia, 1992), hlm. 321

32Ibid., hlm. 507.

(30)

19

mencari sendiri.33 Dalam strategi ini peserta didik harus aktif dalam pembelajaran, khususnya dalam menggali berbagai informasi tentang materi yang sedang diajarkan.

Belajar aktif tidak akan pernah terjadi tanpa adanya partisipasi peserta didik. Ada berbagai cara untuk melakukan proses pembelajaran yang melibatkan keaktifan peserta didik dan mengasah ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Proses pembelajaran aktif dalam memperoleh informasi, ketrampilan, dan sikap serta perilaku positif dan terpuji akan terjadi melalui suatu proses pencarian dari diri peserta didik. Hal ini akan terwujud bila peserta didik dikondisikan sedemikian rupa sehingga berbagai tugas dan kegiatan yang dilaksanakan sangat memotivasi mereka untuk berpikir, bekerja dan merasa.

Dalam proses belajar peserta didik tidak semestinya diperlakukan seperti bejana kosong yang pasif yang hanya menerima kucuran ceramah sang guru tentang ilmu pengetahuan atau informasi, karena itu dalam proses pembelajaran guru dituntut mampu menciptakan suasana yang memungkinkan peserta didik secara aktif menemukan, memproses dan mengkonstruksi ilmu pengetahuan dan ketrampilan-ketrampilan baru.34

Belajar bukanlah merupakan satu peristiwa pendek tetapi secara bergelombang. Ini memerlukan beberapa ekspose materi untuk mencernanya dan memahaminya. Lebih penting lagi adalah cara bagaimana ekspose itu terjadi. Jika hal ini terjadi pada peserta didik, maka akan terdapat tantangan mental bagi mereka.

Ketika belajar secara pasif, peserta didik mengalami proses tanpa rasa ingin tahu, tanpa pertanyaan, dan tanpa daya tarik pada hasil. Ketika belajar secara aktif, pelajar mencari sesuatu. Dia ingin menjawab pertanyaan, memerlukan informasi untuk menyelesaikan masalah, atau

33 Ismail SM, Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan), (Semarang: RaSAIL, 2009), hlm. 78.

34Ibid., hlm. 46

(31)

menyelidiki cara untuk melakukan pekerjaan.35 Pendidik hendaknya menyadari bahwa peserta didik memiliki berbagai cara belajar yang berbeda-beda.

Melalui metode Information Search peserta didik tidak hanya mencari bahan-bahan pelajaran yang digunakan sebagai sumber belajar, namun juga harus memahami informasi yang ditemukan. Jika peserta didik diminta untuk mengerti dan bukan sekedar mengingat informasi yang ditemukannya di dalam buku pelajaran, bahan rujukan, surat kabar dan sebagainya, maka mereka harus aktif mengumpulkan informasi.36 Pemahaman tentang informasi ini menjadi faktor penting bagi keberhasilan pembelajaran, karena tanpa dipahami secara baik maka informasi tersebut kurang berfungsi secara maksimal.

Pemahaman informasi yang dikumpulkan dari berbagai sumber belajar dapat ditingkatkan jika peserta didik bekerja dalam kelompok dan setiap anggota kelompok diberi sumber belajar yang berbeda untuk digunakan dalam mencari jawaban atas pertanyaan yang sama. Dengan demikian, peserta didik harus membandingkan dan mendiskusikan jawaban-jawaban yang sudah mereka tuliskan, sehingga sebagai hasilnya, peserta didik akan mampu memberi jawaban yang memuaskan.37 Jadi informasi yang diperoleh peserta didik menjadi lebih lengkap saat dilakukan secara kooperatif dan variatif, karena validitas informasi didapat dari berbagai sumber. Sehingga akhirnya peserta didik mendapat informasti yang komprehensi tentang pelajaran yang sedang diajarkan.

35Mel Silberman, Active Learning: 101 Strategi To Teach Any Subject, terj. Sadjuli, dkk, (Yogyakarta: YAPPENDIS, 1996), hlm. 5-6

36Martinis Yamin dan Maisah, Manajemen Pembelajaran Kelas: Strategi Meningkatkan Mutu Pembelajaran, (Jakarta: GP Press, 2009), hlm. 183

37Ibid., hlm. 184.

(32)

21

2. Implementasi Metode Information Search

Metode Information Search ini akan menjadi maksimal saat diimplementasikan dengan benar. Oleh karena itu, guru harus mampu mengelola pembelajaran dengan baik, termasuk memonitor aktifitas peserta didik dalam mencari informasi. Jangan sampai waktu yang tersedia tidak dipergunakan peserta didik dengan baik untuk mencari informasi bahan pelajaran. Implementasi metode Information Search tersebut adalah sebagai berikut:

a. Guru terlebih dahulu menyiapkan referensi yang terkait dengan topik pembelajaran sesuai dengan Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar atau Indikator.

b. Guru menyusun kompetensi dari topik tersebut.

c. Guru membuat pertanyaan untuk memperoleh kompetensi tersebut.

d. Guru membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok kecil yang terdiri dari 2-3 orang.

e. Setiap peserta kelompok ditugasi mencari bahan pelajaran yang terkait dengan pertanyaan guru tersebut di perpustakaan/warnet yang sudah diketahui oleh guru bahwa bahan tersebut benar-benar ada. Setiap kelompok diusahakan untuk mencari informasi yang berbeda dan memperbanyak referensi yang didapat sebanyak jumlah kelompok.

f. Setelah peserta didik mencari dan kembali ke kelas, guru membantu dengan cara membagikan referensi kepada tiap-tiap kelompok.

g. Peserta didik diminta mencari jawaban dalam referensi tersebut yang dibatasi oleh waktu (misalnya 10 menit) oleh guru.

h. Hasilnya didiskusikan bersama seluruh kelas.

i. Guru menjelaskan materi pelajaran terkait dengan topik tersebut.

j. Guru melakukan kesimpulan, klarifikasi dan tindak lanjut.38

38Ismail SM, op.cit., hlm. 78.

(33)

Metode Information Search ini mampu meningkatkan aktifitas peserta didik dalam pembelajaran. Namun, metode ini juga memiliki kelemahan di antaranya dibutuhkan waktu yang cukup untuk mencari informasi yang berkaitan dengan pelajaran. Oleh karena itu, peserta didik harus disiplin dan menggunakan waktu yang ada untuk mencari informasi pelajaran.

D. Kerangka Berfikir

Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan proses pembelajaran adalah strategi yang digunakan guru dalam pembelajaran. Pada prinsipnya penggunaan strategi pembelajaran adalah bahwa tidak semua strategi pembelajaran cocok digunakan untuk mencapai semua tujuan dan semua keadaan, karena setiap strategi mempunyai kekhasan sendiri-sendiri. Oleh karena itu guru harus mampu memilih strategi yang tepat dan cocok dengan keadaan dan memahami prinsip-prinsip umum penggunaan strategi pembelajaran yaitu berorientasi pada tujuan, aktivitas, individualitas, dan integritas.

Strategi information search sebagai sebuah strategi pembelajaran yang diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik. Karena strategi ini efektif untuk membantu peserta didik untuk menemukan suatu ilmu pengetahuan dengan proses mencari sendiri. Sehingga pengetahuan peserta didik terbangun dengan baik dan memiliki banyak informasi yang bermanfaat bagi proses belajar mengajar. Orientasinya peserta didik mampu meningkatkan aktifitas dan prestasi belajarnya. Apabila tujuan pembelajaran dapat dicapai secara optimal atau prestasi belajar peserta didik dikategorikan memuaskan, berarti guru telah berhasil dalam kegiatan belajar mengajar.

Strategi pembelajaran dipersiapkan untuk meningkatkan prestasi belajar peserta didik. Strategi pembelajaran itulah yang menentukan seluruh

(34)

23

proses pembelajaran. Prestasi belajar merupakan hasil yang dicapai oleh setiap peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran yang diakhiri oleh suatu penilaian. Dengan demikian jika strategi information search efektif berarti prestasi belajar peserta didik pun akan meningkat.

(35)

24

Sesuai dengan studi yang akan penulis lakukan, bahwa penelitian ini akan dilakukan dengan menekankan pada jenis penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang berfokus pada upaya untuk mengubah kondisi nyata yang ada sekarang kearah kondisi yang diharapkan. Penelitian ini merupakan salah satu bentuk penelitian tindakan kelas yang berupaya membantu memecahkan persoalan praktis dalam pembelajaran dan untuk menghasilkan pengetahuan yang ilmiah dalam bidang pembelajaran di kelas.

Menurut Ebbutt seperti dikutip Wiriaatmaja, penelitian tindakan yaitu

”kajian sistematika dari upaya perbaikan pelaksanaan praktek pendidikan oleh sekelompok guru dengan melakukan tindakan-tindakan dalam pembelajaran berdasarkan refleksi mereka mengenai hasil dari tindakan-tindakan tersebut.”1 Jadi, penelitian tindakan kelas adalah bagaimana sekelompok guru dapat mengorganisasikan kondisi praktek pembelajaran mereka, dan belajar dari pengalaman mereka sendiri. Mereka dapat mencobakan sesuatu gagasan perbaikan dalam praktek pembelajaran mereka, dan melihat pengaruh nyata dari upaya itu.

B. Setting dan Subyek Penelitian 1. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di MTs Ma’arif NU 1 Karanglewas Kabupaten Banyumas pada kelas IX. MTs Ma’arif NU I Karanglewas adalah sebuah madrasah yang terletak di Jln. Desa Babakan Kecamatan Karanglewas Kabupaten Banyumas, dibawah lembaga pendidikan Ma’arif NU Cabang Banyumas. Madrasah yang berdiri pada tanggal 5 Januari 1970 dan diatas tanah wakaf seluas 6.335 m2 memiliki 315 siswa pada tahun pelajaran 2010/2011 yang terbagi dalam 9 rombongan belajar. Yaitu terdiri

1Wiriaatmaja, Metode Penelitian Tindakan Kelas, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2005), hlm. 12

(36)

25

dari kelas VII, kelas VIII dan IX masing-masing terdiri dari 3 rombongan belajar.

MTs Ma’arif NU I Karanglewas berada di daerah pedesaan yang sekitar 285 orangtua/wali muridnya adalah termasuk kategori miskin karena pekerjaannya adalah buruh tani dan sebagian kecil tani dan dagang.

Tentunya hal ini berpengaruh terhadap pola pikir siswa dalam mentransfer pelajaran di madrasah. Namun demikian corak berpikir keagamaan masih tergolong lumayan sehingga tidak menjadikan hal yang sangat berarti, karena sebagian besar mengikuti kegiatan pengajian dalam lingkungannya.

Sedangkan waktu yang dibutuhkan dalam penelitian tindakan kelas ini sekitar dua bulan, yaitu pada tanggal 2 Agustus sampai dengan 2 Oktober 2010. Berikut ini merupakan jadwal rencana kegiatan penelitian tindakan kelas yang akan dilaksanakan di MTs Ma’arif NU 1 Karanglewas Kabupaten Banyumas.

No Rencana Kegiatan Waktu (minggu) ke-

1 2 3 4 5 6 7 8 9

1. Observasi Awal

2. Persiapan

Menyusun konsep pelaksanaan Menyepakati jadwal dan tugas

Menyusun Instrumen

Diskusi konsep pelaksanaan 3. Pelaksanaan

Menyiapkan kelas dan alat

Pelaksanaan pra siklus

Pelaksanaan siklus I

Pelaksanaan siklus II

Koordinasi akhir

4. Pembuatan Laporan

Menyusun konsep laporan

Penyelesaian Laporan √ √

2. Subyek Penelitian

Subjek penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu subjek penerima tindakan dan subjek yang membantu dalam penelitian. Yang menjadi subjek penerima tindakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas IX MTs Ma’arif

(37)

NU 1 Karanglewas Kabupaten Banyumas yang berjumlah 34 siswa. Data siswa terlampir.

Sedangkan subjek yang membantu dalam penelitian tindakan ini adalah guru Aqidah Akhlak yang sekaligus sebagai mitra (kolaborator peneliti). Adapun 315 siswa ini diasuh oleh19 dewan guru, terdiri dari 5 guru PNS/DPK dan 14 guru tetap yayasan. Sedangkan guru mata pelajaran Akidah Akhlak yang menjadi bidang penelitian penulis ini diajar oleh bapak Soderi, S.Ag. Beliau selain mengampu pelajaran Akidah Akhlak juga memiliki tugas tambahan sebagai Wakil Kepala bagian Kesiswaan. Guru yang selesai melaksanakan studinya di tahun 1995 di IAIN Walisongo Fakultas Tarbiyah Purwokerto ini berkelahiran 7 Juli 1969 merupakan asli orang Purwokerto. Data guru terlampir.

C. Variabel Penelitian

Variabel adalah ”obyek penelitian, atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian”.2 Variabel dalam penelitian ini dibedakan menjadi dua jenis yaitu variabel independen dan variabel dependen.

Variabel independen atau variabel bebas adalah variabel yang menjadi sebab timbulnya atau berubahnya variabel dependen, sedangkan variabel dependen atau variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat adanya variabel bebas.3

Variabel-variabel dalam penelitian ini adalah:

1. Variabel independen yaitu penerapan metode information search.

2. Variabel dependen yaitu keaktifan peserta didik dalam pembelajaran Aqidah Akhlak.

D. Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas, yaitu penelitian bersifat kolaboratif yang didasarkan pada permasalahan yang muncul dalam

2 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hlm. 96

3 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D, (Bandung: Alfabeta, 2006), Cet. II, hlm. 61

(38)

27

rendahnya aktifitas pembelajaran peserta didik. Penelitian tindakan kelas ini terdiri dari beberapa siklus tindakan dalam pembelajaran berdasarkan refleksi mengenai hasil dari tindakan-tindakan pada siklus sebelumnya. Dimana setiap siklus tersebut terdiri dari empat tahapan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengamatan (observasi), dan refleksi.

Desain tindakan dalam penelitian tindakan ini dapat digambarkan sebagai berikut:4

Prosedur penelitian ini terdiri dari tiga siklus secara rinci. Prosedur penelitian ini sebagai berikut:

1. Pra Siklus

Tahap pra siklus ini peneliti akan melihat pembelajaran Aqidah Akhlak secara langsung di kelas IX MTs Ma’arif NU 1 Karanglewas Kabupaten Banyumas. Dalam pembelajaran Aqidah Akhlak di kelas IX tersebut belum menggunakan metode information search secara aktif dan masih menggunakan metode ceramah. Peserta didik masih belum banyak ikut aktif dalam proses pembelajaran dan cenderung terjadi komunikasi yang pasif.

Artinya seolah-olah guru yang bicara dan peserta didik hanya

4 Suharsimi Arikunto, et.al., Penelitian Tindakan Kelas, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), hlm. 108.

Perencanaan

Siklus I

Pengamatan

Pelaksanaan Refleksi

Perencanaan

Siklus II

Pengamatan

Pelaksanaan Refleksi

?

(39)

mendengarkan dan keberanian untuk bertanya terhadap suatu masalah yang belum jelas yang ada dibenak mereka belum dapat diungkapkan secara maksimal.

Di akhir pembelajaran dilakukan tes formatif untuk mengetahui hasil belajar peserta didik pada pokok bahasan pelajaran Aqidah Akhlak. Apakah kompetensi yang diharapkan sudah dapat tercapai dengan menggunakan metode ceramah? Apakah peserta didik terlibat aktif dalam proses pembelajarannya? Apakah hasil belajar peserta didik sudah diatas ketuntasan minimal yang telah ditetapkan oleh MTs Ma’arif NU 1 Karanglewas Kabupaten Banyumas?

2. Siklus I

Langkah-langkah besar dalam Siklus I dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi yang akan dijelaskan sebagai berikut:

a. Perencanaan

1) Meninjau kembali rancangan pembelajaran yang telah disiapkan.

Penekanan perencanaan disini adalah menyiapkan peserta didik benar-benar berada pada suasana penyadaran diri untuk tetap semangat belajar dengan menekankan pada keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran dan berada pada konsentrasi terhadap materi pengajaran Aqidah Akhlak yang sedang dibahas atau dipelajari.

2) Menyiapkan Rencana Pembelajaran sesuai dengan metode information search. Di dalam menyiapkan rencana pembelajaran ini ditekankan pada hasil pengamatan pada pra siklus yang menekankan pada keaktifan peserta didik melalui pembelajaran dengan metode information search.

3) Bersama dengan guru Aqidah Akhlak peneliti:

a) Merencanakana pembelajaran yang akan diterapkan dalam PBM.

b) Menentukan pokok bahasan.

c) Mengembangkan skenario pembelajaran.

(40)

29

d) Menyiapkan sumber belajar.

e) Mengembangkan format evaluasi.

f) Mengembangkan format observasi pembelajaran

4) Menyiapkan lembar soal yang digunakan untuk akhir pembelajaran sebagai tes formatif dan soal yang dikerjakan di rumah yang berusaha mengaitkan materi yang didapat oleh peserta didik dengan kehidupan nyata.

b. Pelaksanaan

Peneliti di dampingi guru kolaborator melaksanakan pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah disiapkan. Adapun langkah-langkah pembelajaran dengan metode information search dalam mata pelajaran Aqidah Akhlak pada Siklus I ini secara garis besar sebagai berikut:

1) Peneliti di dampingi guru kolaborator menyediakan referensi terkait materi iman kepada hari akhir dan alam gaib.

2) Peneliti di dampingi guru kolaborator menyusun kompetensi dari materi tersebut

3) Peneliti di dampingi guru kolaborator membuat pertanyaan untuk memperoleh kompetensi tersebut

4) Peneliti di dampingi guru kolaborator mencari ayat dan hadis terkait 5) Bagi kelas dalam kelompok kecil (maksimal 3 orang)

6) Peserta didik ditugasi mencari bahan di perpustakaan yang sudah diketahui oleh guru bahwa bahan tersebut benar-benar ada

7) Setelah peserta mencari dan kembali ke kelas, guru membantu dengan cara membagi referensi kepada mereka

8) Peserta diminta mencari jawaban dalam referensi tersebut yang dibatasi oleh waktu (sekitar 10 menit) oleh guru

9) Hasilnya didiskusikan bersama seluruh kelas

10) Peneliti di dampingi guru kolaborator menjelaskan materi pelajaran terkait dengan topik tersebut

11) Peneliti di dampingi guru kolaborator melakukan kesimpulan, klarifikasi, dan tindak lanjut.

(41)

12) Peneliti di dampingi guru kolaborator melaksanakan tes formatif secara individual.

c. Pengamatan

1) Peneliti di dampingi guru kolaborator mengamati semangat belajar peserta didik pada Siklus I

2) Peneliti di dampingi guru kolaborator mengamati pada setiap kegiatan yang dilakukan peserta didik. Dimulai dari permasalahan yang muncul pada awal pelajaran hingga akhir pelajaran. Berikan penilaian tenteng indiktor keaktifan dan ketrampilan proses yang telah disiapkan.

3) Peneliti di dampingi guru kolaborator mengamati hasil tes formatif, apakah sudah mencapai ketuntasan belajar?

4) Peneliti mengamati keberhasilan dan hambatan-hambatan yang dialami dalam proses pembelajaran yang belum sesuai dengan harapan penelitian.

d. Refleksi

1) Melakukan evaluasi tindakan yang telah dilakukan

2) Secara kolaboratif guru mitra dan peneliti menganalisis dan mendiskusikan hasil pengamatan. Selanjutnya membuat suatu refleksi, apakah ada yang perlu dipertahankan dan diperbaiki?

3) Memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai hasil evaluasi untuk tindakan berikutnya

4) Membuat simpulan sementara terhadap pelaksanaan Siklus I 3. Siklus II

Untuk pelaksanaan Siklus II yang dilaksanakan di kelas IX adalah sebagai tindak lanjut evaluasi dari pelaksanaan Siklus I. Langkah-langkah yang dilakukan dalam Siklus II dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi .

(42)

31

E. Metode Pengumpulan Data 1. Metode Observasi

Pengamatan adalah ”catatan secara sistematik tentang fenomena- fenomena yang diselidiki.”5Metode observasi ini memuat tiga fase esensial yaitu pertemuan perencanaan, observasi di dalam kelas dan diskusi balikan.

Objek yang diobservasi dalam penelitian ini adalah aktifitas pembelajaran peserta didik, yang di antaranya:

a. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru ketika menyampaikan materi

b. Peserta didik aktif menulis materi pelajaran

c. Peserta didik menjawab pertanyaan dari guru maupun dari teman d. Peserta didik bertanya kepada guru

e. Tingkat kerjasama peserta didik dalam pembelajaran f. Peserta didik mengerjakan tugas dari guru dengan baik

Untuk mengetahui sejauh mana aktifitas peserta didik selama pembelajaran sedang berlangsung, peneliti membuat lembar observasi peserta didik yang memuat indikator aktifitas belajar peserta didik. Kriteria penilaian tiap indikatornya adalah sebagai berikut: skor 1 (kurang), 2 (cukup), 3 (baik), 4 (sangat baik). Sedangkan klasifikasi aktifitas peserta didik di kelas dinilai menurut prosentase keaktifannya.

2. Metode Dokumentasi

Dokumen merupakan ”kumpulan data variable yang berbentuk lisan maupun artifact, foto dan sebagainya.”6 Sumber dokumentasi pada dasarnya adalah segala bentuk sumber informasi yang berhubungan dengan dokumen baik resmi maupun yang tidak resmi.7

Metode dokumentasi ini digunakan peneliti untuk mendapatkan data atau dokumen yang berkaitan dengan pembelajaran di kelas seperti nama peserta didik, rencana pelaksanaan pembelajaran, dan foto pembelajaran.

5Sutrisno Hadi, Metodologi Research, Jilid I, (Yogyakarta: Andi Offset, 2000), hlm. 136.

6Koentjaraningrat, Metode-Metode Penelitian Masyarakat, (Jakarta: Gramedia, 1991), hlm 129 7Muhammad Ali, Strategi Penelitian Statistik, (Bandung: Bumi Aksara, 1993), hlm. 41

(43)

F. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan statistik deskriptif. Menurut Sugiyono analisis statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menggambarkan atau menganalisis suatu statistik hasil penelitian, tetapi tidak untuk membuat kesimpulan yang lebih luas (generalisasi/inferensi).8 Analisis statistik deskriptif ini digunakan untuk mengolah karakteristik data yang berkaitan dengan menjumlah, merata-rata, mencari prosentase serta menyajikan data yang menarik, mudah dibaca, dan diikuti alur berpikirnya misalnya bentuk grafik dan tabel.9

Misalnya untuk mencari persentase aktivitas pembelajaran digunakan rumus:10

% x100 N PF

Keterangan:

P = Prosentase jawaban F = Frekuensi jawaban N = Jumlah responden G. Indikator Keberhasilan

Indikator keberhasilan tindakan dalam penelitian ini diukur dari hal-hal sebagai berikut:

1. Ketuntasan belajar peserta didik secara klasikal mencapai ≥ 85 % dan nilai rata-rata hasil belajar peserta didik secara klasikal mencapai ≥ 65.

2. Prosentase aktifitas belajar peserta didik di kelas > 75 %. Hasil prosentase dapat diketahui dari lembar observasi peserta didik yang disusun oleh peneliti dan kolaboran (guru).

8Sugiyono, Statistik Untuk Penelitian, (Bandung; Alfabeta, 2005), hlm. 21

9Suharsimi Arikunto, dkk., op.cit., hlm. 131-132

10Muslim, Aplikasi Statistik, (Semarang: IAIN Walisongo, 1996), hlm. 18.

(44)

33 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Observasi Awal

Sebelum melakukan tindakan pada siklus I, peneliti melakukan observasi awal di kelas IX MTs Ma’arif NU 1 Karanglewas Kabupaten Banyumas. Pada saat observasi awal ini guru Aqidah Akhlak melakukan pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah dan diselingi dengan tanya jawab. Hasil observasi awal ini nantinya digunakan sebagai bahan komparasi terhadap peningkatan hasil belajar siswa, aktifitas belajar siswa dan aktifitas pembelajaran yang dilakukan oleh guru.

Berdasarkan hasil observasi awal peneliti terhadap proses pembelajaran Aqidah Akhlak di kelas IX MTs Ma’arif NU 1 Karanglewas Kabupaten Banyumas diketahui bahwa selama ini guru lebih sering menggunakan metode konvensional yaitu ceramah dan diselingi dengan tanya jawab. Guru lebih mendominasi jalannya proses pembelajaran sedangkan siswa lebih banyak mendengarkan dan memperhatikan penjelasan dari guru.

Kesempatan siswa untuk mengemukakan pendapat masih kecil, sehingga pengajaran terkesan monoton dan tidak menggairahkan. Siswa hanya menulis dan mendengar apa yang dijelaskan gurunya, sangat jarang terangsang untuk berpikir, tetapi lebih banyak terangsang untuk mengingat dan menghafal materi pelajaran.

Berikut ini digambarkan data hasil belajar siswa pada observasi awal atau sebelum diadakannya tindakan, terangkum dalam berikut.

Tabel 4.1

Rangkuman Hasil Belajar Siswa Pada Pra Siklus

No Keterangan Perolehan

1 Nilai terendah 47

2 Nilai tertinggi 73

3 Nilai rata-rata kelas 65

4 Jumlah siswa yang belum tuntas belajar 14

5 Jumlah siswa yang tuntas belajar 20

6 Prosentase ketuntasan klasikal 58,82%

(45)

Dari tabel di atas diketahui bahwa prestasi belajar siswa masih rendah dan perlu ditingkatkan dengan indikator; nilai rata-rata siswa hanya 65 dan jumlah siswa yang tuntas hanya 20 siswa atau ketuntasan klasikalnya 58,82% masih di bawah standar ketuntasan klasikal yaitu 85%.

Sedangkan hasil observasi terhadap aktifitas belajar siswa dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.2

Hasil Observasi Aktivitas Belajar Siswa Pada Pra Siklus

No Aspek Pengamatan Skor

rata-rata 1 Tingkat kerjasama siswa dalam pembelajaran 2 2 Keaktifan siswa dalam mencari informasi 2 3 Siswa menjawab pertanyaan dari guru atau teman

sekelas 2

4 Siswa mengerjakan tugas dari guru 2

5 Siswa memperhatikan penjelasan guru 2

Jumlah skor 10

Prosentase aktifitas siswa secara klasikal 50%

Keterangan: Skor tertinggi tiap aspek = 4, skor terendah = 1, Skor total maksimal = 20

Klasifikasi Aktivitas

0% - 39% = Sangat Kurang 40% - 55% = Kurang

56% - 65% = Cukup 66% - 79% = Baik

80% - 100% = Sangat Baik

Hasil di atas menunjukkan bahwa prosentase aktifitas belajar siswa adalah 50% dengan kategori kurang. Hal ini menunjukkan bahwa siswa belum begitu aktif dalam pembelajaran.

Begitu juga dengan aktifitas guru yang tergolong masih rendah. Hasil observasi terhadap aktifitas guru selama proses pembelajaran dapat dilihat pada tabel berikut.

Gambar

Tabel di  atas memperlihatkan  bahwa  aktivitas  belajar  siswa mengalami peningkatan dari aktivitas belajar siswa siklus I yang hanya 70%  menjadi  80%  pada siklus  II
Gambar 4.1 Diagram Peningkatan Hasil Belajar Siswa
Gambar 4. 2  Diagram Peningkatan Aktivitas Belajar Siswa

Referensi

Dokumen terkait

Jika harga transaksi memberikan bukti terbaik atas nilai wajar pada saat pengakuan awal, maka instrumen keuangan pada awalnya diukur pada harga transaksi dan selisih antara

Dari beberapa pengertian mengenai komunikasi yang dipaparkan diatas penulis memahami bahwa komunikasi adalah suatu proses pertukaran pesan atau informasi antara dua orang

Penelitian ini mengukur jumlah gas rumah kaca dari perkebunan kakao dan menguraikan stok (cadangan) karbon dari perkebunan, yaitu jumlah karbon yang tersimpan dalam tanah,

• Hal inilah yang menyebabkan kebutuhan arus proteksi ICCP spesimen dengan kondisi cacat coating yang sama pada penelitian meningkat seiring dengan naiknya temperatur

Sehubungan dengan telah ditetapkannya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 107/PMK.06/2005 tanggal 9 November 2005 dan Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor

Efisiensi yang diterapkan pada perancangan ini adalah penataan ruang dalam kawasan pusat kota dengan ruang terbuka yang dapat difungsikan sebagai tempat parkir (parkir

Variabel keberadaan TPI dibagi lagi menjadi 9 variabel yaitu : Keberadaan fasilittas TPI, fungsi fasilitas TPI, standar pelayanan yang diberikan petugas TPI dalam menjaga

Untuk mendapatkan rendemen arang dan cuka kayu yang tinggi maka sebaiknya menggunakan bahan baku dengan ukuran 5 cm dan lama pembakaran kurang dari 10 jam, untuk penghematan