40 A. Gambaran Umum
Pada tanggal 20 Desember 2011, perseroan menyelesaikan pembelian 99,9 % saham PT. Jamindo Perkasa General (Jamindo). Didirikan pada tanggal 18 Agustus 1987 di Bogor, PT Jamindo General Insurance dahulu bernama PT Asuransi Jamindo Pusaka. Dengan ditandatanganinya akte jual beli antara Perseroan dengan Jamindo, Perseroan sejak itu secara resmi memiliki perusahaan asuransi kerugian yang kemudian berganti nama menjadi PT. MNC Asuransi Indonesia.
PT MNC Asuransi Indonesia berkantor pusat di Jakarta dan mengelola beberapa kantor cabang. MNC Asuransi Indonesia menawarkan berbagai produk dan jasa asuransi kerugian bagi nasabah individu maupun corporate, yaitu diantaranya layanan asuransi kendaraan bermotor, asuransi harta benda, asuransi transportasi, asuransi rekayasa (engineering) dan asuransi lainnya yang memanfaatkan jalur distribusi langsung, keagenan dan broker di seluruh Indonesia serta bekerja sama dengan perusahaan pembiayaan/bank yang memadukan dengan produk yang mereka tawarkan.
Kepemilikan saham pengendali oleh Perseroan di MNC Asuransi Indonesia semakin memperkuat posisi Perseroan di peta industri jasa keuangan di Indonesia karena memungkinkan dilakukannya integrasi layanan secara optimal. Hal ini juga memutuskan jalan perseroan untuk membentuk “financial supermarket”
yang mengedepankan layanan jasa keuangan yang terintegrasi. Mengemban visi untuk memberikan perlindungan keuangan serta memperbaiki taraf hidup masyarakat melalui layanan jasa keuangan yang konprehensif. Perseroan berharap dapat membantu nasabahnya secara tepat dalam mengelola risiko finansialnya bagi kehidupan yang lebih baik dan terencana.
Dari data terakhir per tanggal 31 Desember 2013, PT. MNC Asuransi Indonesia memiliki kantor pusat di Jakarta dengan 10 kantor pemasaran di Bandung, Surabaya, Medan, Jakarta-Mangga Dua, Semarang, Solo, Makassar, Balikpapan, Pekanbaru, dan Malang).
MNC Insurance adalah pilihan utama di antara perusahaan asuransi umum nasional, merupakan visi dari PT MNC asuransi Indonesia. Selain itu PT MNC Asuransi Indonesia memiliki misi perusahaan yaitu MNC Insurance memberikan pelayanan yang nyaman, cepat, dan responsif kepada seluruh pelanggan. Sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Visi dan Misi, PT MNC Asuransi Indonesia memiliki 5 nilai-nilai pedoman yang merupakan dasar berdiri dan berkembangnya perusahaan serta yang membedakannya dengan perusahaan -perusahaan lain.
Nilai-nilai pedoman PT MNC Asuransi Indonesia antara lain:
1. Integritas
2. Fokus kepada kebutuhan pelanggan 3. Budaya peforma tinggi
4. Rasa hormat
5. Keinginan yang kuat
Dalam menyusun suatu organisasi merupakan langkah yang sangat penting sebelum kegiatan lainnya dilaksanakan. Karena dalam kenyataan bahwa tujuan organisasi akan lebih mudah dicapai. Dengan adanya struktur organisasi akan kelihatan lebih jelas dalam hal pembagian tugas dan tanggung jawab. Sehingga memudahkan untuk mengarahkan dan mengawasi dalam hal pelaksanaan kegiatan yang telah direncanakan terlebih dahulu. Bagan struktur MNC Corporate dapat dilihat dalam gambar 4.1.
Gambar 4.1
Bagan Struktur Organisasi PT. MNC Asuransi Indonesia
B. Hasil
Menurut Forum for Corporate Governance in Indonesia (2001), Corporate Governance merupakan seperangkat peraturan yang menetapkan hubungan antara pemegang saham, pengurus, pihak kreditur, pemerintah, karyawan serta para pemegang kepentingan intern dan ekstern lainnya sehubungan dengan hak-hak
dan kewajiban mereka. Peraturan hubungan tersebut memiliki 6 indikator pengungkapan diantaranya ekonomi, lingkungan, tenaga kerja, hak asasi manusia, sosial dan produk. Indikator tersebut terdaftar dalam indeks GRI, sedangkan yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya indikator kinerja ekonomi, indikator kinerja sosial, Indikator masyarakat dan sosial, dan indikator tanggung jawab produk. Indikator-indikator tersebut dipilih karena memiliki kapasitas kinerja dan kriteria yang sesuai dalam suatu perusahaan asuransi seperti PT MNC Asuransi Indonesia. Ringkasan indikator yang sesuai dengan penelitian ini terangkum dalam Tabel 4.1.
Indeks GRI yang terdapat dalam tabel 4.1 memiliki nilai 0,75. Hal ini berarti bahwa pelaksanaan dan penerapan Good Corporate Governance dengan indeks GRI yang diterapkan pada PT MNC Asuransi Indonesia sebesar 75%. Lampiran adalah sebagai berikut :
Masalah struktur pengendalian internal merupakan masalah yang fundamental dalam perusahaan. Agar pimpinan dalam menjalankan tugasnya dapat berjalan dengan efektif dan efisien, maka dianjurkan untuk dapat menciptakan struktur internal yang sesuai dengan kebutuhan dan keadaan perusahaan. Hal ini dimaksudkan agar pemborosan dan penyelewengan dapat di tekan seminim mungkin. Oleh karena itu struktur pengendalian internal merupakan suatu alat bantu yang di pergunakan pimpinan dalam melaksanakan tugasnya. Dengan menitikberatkan tujuannya untuk mengamankan setiap harta atau kekayaan yang dimiliki oleh perusahaan, maka struktur pengendalian internal harus diterapkan sebaik mungkin. Selain itu tujuan struktur pengendalian internal yang lain adalah untuk mengecek terhadap kebenaran dan ketelitian angka-angka yang telah disajikan tersebut, sekaligus untuk mencegah terhadap kemungkinan terjadinya kesalahan dan penyelewengan.
Berikut terlampir flowchart sistem pengendalian internal di PT. MNC Asuransi Indonesia :
1. Fungsi-fungsi yang terkait a. Fungsi produksi
Fungsi produksi bertanggungjawab dan menyiapkan dokumen-dokumen piutang premi serta menerbitkan surat pengantar polis untuk dibawa ke bagian penagihan saat bertugas menagih nasabah.
b. Fungsi penagihan
Fungsi penagiahan bertanggungjawab melakukan penagihan setoran pembayaran premi, menyetorkan uang/dana hasil penagihan premi dan menerbitkan bank debet yang dikirim kebagian kasir.
c. Fungsi kasir
Fungsi kasir bertanggungjawab untuk menerima hasil tagihan premi dari fungsi penagih, merekap total penerimaan dalam rekap kondisi kas, menyetor uang ke bank, membuat bukti setor berdasarkan slip setoran ke bank serta bertanggungjawab mengirimkan bank debet, rekap kondisi kas, bukti setor bank dan buku kasir beserta lampirannya ke bagian akuntansi setiap akhir minggunya
d. Fungsi akuntansi
Fungsi akuntansi bertanggungjawab menerima bank debet, rekap kondisi kas, bukti setor bank, dan buku kasir disertai lampiran-lampirannya serta bertanggungjawab dalam proses akuntansi selanjutnya.
2. Dokumen yang digunakan a. Kuitansi premi
Merupakan tanda bukti pembayaran yang telah dilakukan oleh tertanggung/nasabah kepada perusahaan dalam pembayaran setoran premi b. Nota debet
Merupakan tanda bukti yang digunakan oleh penagih untuk mencatat pembyaran setoran premi nasabah
c. Slip setoran bank
Merupakan tanda bukti dari bank bahwa telah terjadi penyetoran sejumlah uang kepada bank yang dilakukan oleh perusahaan yang bersangkutan 3. Catatan akuntansi yang digunakan
a. Bank debet
Merupakan catatan akuntansi yang berisi catatan rekap setoran premi dari nasabah yang ditarik oleh fungsi penagih. Setiap akhir minggu, rekap ini disetorkan ke bagian akuntansi
b. Rekap kondisi kas
Catatan akuntansi yang digunakan untuk merekap dan mencatat total penerimaan bersih setelah dikurangi biaya administrasi dari setoran premi dalam satu hari. Setiap akhir minggu, rekap ini dikirim kebagian akuntansi untuk dilakukan proses akuntansi lebih lanjut
c. Bukti setor bank
Catatan akuntansi yang digunakan untuk mencatat jumlah uang ayng disetor ke bank dalam satu hari. Setiap akhir minggu, rekap ini dikirim kebagian akuntansi untuk dilakukan proses akuntansi lebih lanjut
d. Buku kasir
Catatan akuntansi yang berisi semua penjabaran aktivitas pegawai yang mempengaruhi jumlah sirkulasi dana dalam satu hari
4. Jaringan prosedur a. Prosedur produksi
Dalam prosedur ini, fungsi produksi menyiapkan dokumen-dokumen piutang premi yang berupa polis asuransi, nota produksi, dan kwitansi.
Selain itu juga membuatkan surat pengantar polis untuk dibawa bagian penagihan dalam menagih premi asuransi
b. Prosedur penagihan
Dalam prosedur ini, fungsi penagihan menerima pembayaran setoran dari nasabah. Kemudian funsi penagihan mengisi kwitansi premi sebanyak 1 lembar rangkap 3. Lembar 1 untuk diberikan kepada nasabah sebagai bukti telah membayar setoran premi. Lembar 2 untuk bagian penagihan sebagai bukti telah melakukan penagihan setoran premi. Lembar 3 dikirimkan ke bagian arsip. Setelah itu mengisi bank debet untuk diserahkan ke bagian kasir untuk merekap jumlah setoran premi
c. Prosedur penerimaan
Dalam prosedur ini, fungsi kasir menerima hasil tagihan premi dari fungsi penagihan bersama dengan bank debet. Kemudian fungsi kasir membubuhkan tanda telah memeriksa dan mengetahui penarikan setoran premi dari nasabah. Bank debet kemudian didistribusikan oleh funsi kasir Lembar 1 : untuk bagian akuntansi
Lembar 2 : untuk bagian settlement Lembar 3 : untuk arsip bagian kasir
5. Bagan alir
a. Fungsi produksi
1) Menyiapkan dokumen-dokumen piutang premi yang akan diserahkan kebagian penagihan.
2) Membuat surat pengantar polis yang akan dibawa penagih saat penagihan kepada nasabah.
b. Fungsi penagihan
1) Menerima pembayaran setoran premi dari nasabah secara tunai.
2) Mengisi kwitansi premi, bukti ini dibuat rangkap 3 dengan pendistribusian sebagai berikut.
Lembar 1 : diberikan nasabah sebagai bukti pembayaran premi Lembar 2 : untuk arsip bagian polis maker
Lembar 3 : untuk bagian finance
3) Menyiapkan bank debet yang akan diserahkan kekasir bersama uang hasil penerimaan premi
c. Fungsi kasir
1) Menerima bank debet dan uang hasil penerimaan premi 2) Membubukan tanda periksa dan otorisasi dalam bukti tersebut 3) Mendistribusikan bank debet sesuai prosedur yang biasanya 4) Menyetor uang kebank
5) Berdasarkan slip setoran bank, kemudian mengisi bukti setor bank rangkap 3
6) Mendistribusikan bukti setor bank
7) Mengirimkan bank debet, rekap kondisi kas (buku bank), bukti setor bank ke bagian akuntansi disertai lampiran-lampiran berupa kwitansi premi dan slip setoran bank setiap hari
d. Fungsi akuntansi
1) Menerima bank debet, rekap kondisi kas, bukti setor bank dan buku bank beserta lampirannya berupa kwitansi premi dan slip setoran bank dari bagian kasir.
2) Melakukan proses akuntansi sampai selesai.
Berikut merupakan gambar flow chart PT. MNC Asuransi Indonesia : FUNGSI PRODUKSI
Mulai
Fungsi Produksi
Membuat dokumen Piutang premi
Membuat surat Pengantar polis
1
Gambar 4.2
Flowchart pengendalian internal departemen produksi PT. MNC Asuransi Indonesia
Polis A & C Nota
Kwitansi SPP
Dikirim ke kantor cabang FUNGSI PENAGIHAN
1 1
Menagih 3
kepada nasabah KP 2
Mengisi KP Mengisi bank
debet
3 3
2 2
KP 1 BD 1
Diberikan kepada nasabah
1 2
Gambar 4.3
Flowchart pengendalian internal departemen penagihan PT. MNC Asuransi Indonesia
FUNGSI DEPARTEMEN KEUANGAN
2
3 2 BD 1
Membuat Menyetor
RPP Kas ke bank
Setiap hari
2 Mengisi BSB RKK 1
3 2
T BSB 1
3
Setiap akhir Minggu
1
2
LANJUTAN FUNGSI DEPARTEMEN KEUANGAN
2 2
3 Dikirim ke Kantor Cabang
BSB 2 2 Dikirim ke
Kantor cabang BD 1
Membuat Buku Kasir
Buku kasir
3
Gambar 4.4
Flowchart pengendalian internal departemen keuangan PT. MNC Asuransi Indonesia
FUNGSI BAGIAN AKUNTANSI
3 3 3 3
RKK BD BK BSB
PROSES AKUNTANSI
SELESAI
Gambar 4.5
Flowchart pengendalian internal Bagian akuntansi PT. MNC Asuransi Indonesia
Berdasarkan flowchart pengendalian internal, PT MNC Asuransi meminimalkan terjadinya penyelewengan dana serta kebocoran data perusahaan.
Struktur pengendalian internal tersebut mampu diintegrasikan dalam sistem pembagian tugas, wewenang dan tanggungjawab setiap departemen dalam PT MNC Asuransi Indonesia.
Sehingga terdapat sebesar (100% - 75%) = 25% indeks GRI yang tidak diterapkan dalam pelaksanaan dan penerapannya pada PT MNC asuransi Indonesia antara lain :
1. EC4 = Bantuan financial yang signifikan dari pemerintah,
2. EC5 = Rentang rasio standar upah terendah dibandingkan dengan upah minimum setempat pada lokasi operasi yang signifikan,
3. EC7 = Prosedur penerimaan pegawai local dan proporsi manajemen senior local yang dipekerjakan pada lokasi operasi yang signifikan,
4. EC8 = Pembangunan dan dampak dari investasi infrastruktur serta jasa yang diberikan untuk kepentingan public secara komersial, natura, atau probono,
5. EC9 = Pemahaman dan penjelasan dampak ekonomi tidak langsung yang signifikan, termasuk seberapa luas dampaknya
6. LA7 = Tingkat kecelakaan fisik, penyakit karena jabatan, hari-hari yang hilang, dan ketidakhadiran, dan jumlah kematian karena pekerjaan menurut wilayah,
7. LA14 = Perbandingan/rasio gaji dasar pria terhadap wanita menurut kelompok/kategori karyawan
8. S07 = Jumlah tindakan hukum terhadap pelanggaran ketentuan antipersaingan, anti-trust, dan praktek monopoli serta sanksinya,
9. PR4 = Jumlah pelanggaran peraturan dan voluntary codes mengenai penyediaan informasi produk dan jasa serta pemberian label, per produk,
10. PR7 = Jumlah pelanggaran peraturan dan voluntary codes sukarela mengenai komunikasi pemasaran termasuk periklanan, promosi, dan sponsorship, menurut produknya.
Struktur pengendalian internal pada PT MNC Asuransi Indonesia merupakan suatu kebijakan direksi yang dijalankan oleh semua departemen. Hal ini bertujuan untuk menjaga keandalan, ketelitian pelaporan keuangan, dan efektivitas dari operasi perusahaan. Atas dasar tujuan tersebut, PT MNC Asuransi melakukan pemisahan fungsi setiap departemen. Selain untuk melakukan pengendalian internal perusahaan, pihak manajemen memberikan dan menciptakan lingkungan kerja yang pasti sesuai dengan keahlian dan fungsi tiap departemen.
C. Pembahasan
Berdasarkan hasil analisis terhadap penerapan dan pelaksanaan Good Corporate Governance di perusahaan asuransi terdapat pilar penting yang digunakan pada PT MNC Asuransi Indonesia melalui prinsip-prinsip Good Corporate Governance yaitu :
1) Transparency (Tranparansi)
Untuk menjaga objektivitas dalam menjalankan bisnis, perusahaan harus mengungkapkan informasi yang material dan relevan dengan cara yang mudah diakses dan dipahami oleh stakeholders. Perusahaan harus mengambil inisiatif untuk mengungkapkan tidak hanya masalah yang diisyaratkan oleh peraturan perundang-undangan, tetapi juga hal yang penting untuk pengambilan keputusan oleh pemegang saham, kreditur, dan kepentingan pihak lainnya.
2) Accountability (Akuntabilitis)
Perusahaan harus dapat mempertanggungjawabkan kinerjanya secara transparan dan independen. Untuk itu perusahaan harus dikelola secara benar, terukur, dan sesuai dengan kepentingan pemegang saham dengan tetap mempertimbangkan kepentingan stakeholders lain. Akuntabilitas merupakan prasyarat yang diperlukan untuk mencapai kinerja yang berkesinambungan.
3) Responsibility (Pertanggungjawaban)
Perusahaan mempunyai tanggungjawab terhadap masyarakat dan lingkungan serta harus menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku sehingga dapat terpelihara kesinambungan usahanya dalam jangka panjang.
4) Independency (Independensi)
Untuk memungkinakan dilaksanakannya prinsip-prinsip corporate governance lainnya yaitu transparansi, akuntabilitas, responsibiltas, serta kewajaran dan kesetaraan, perusahaan harus dikelola secara independent sehingga masing-masing organ perusahaan dapat berfungsi tanpa saling mendominasi dan tidak dapat di intervensi oleh pihak lain.
5) Fairness (Keselarasan dan kewajaran)
Perusahaan harus senantiasa memperhatikan kepentingan seluruh stakeholders berdasarkan asas perlakuan yang setara (equal treatment) dan asas manfaat yang wajar.
Berdasarkan analisis Indeks GRI diperoleh hasil sebesar 75%, sedangkan sebesar 25% dari indeks GRI yang tidak diterapkan oleh PT MNC asuransi Indonesia, indikator - indikator GRI sebagai berikut :
1. EC4 = Bantuan financial yang signifikan dari pemerintah.
Berdasarkan hasil evaluasi, bahwa PT MNC asuransi Indonesia merupakan bagian dari MNC Group dibawah PT Bhakti Capital Indonesia Tbk.,dengan pemegang saham sebagai berikut :
a. PT Bhakti Capital Indonesia Tbk
b. Koperasi Karyawan PT Bhakti Investama Tbk.
Sehingga tidak ada bantuan financial yang signifikan dari pemerintah. Hal ini terbukti dengan kepemilikan pemegang saham yang mayoritas dimiliki oleh PT Bhakti Capital Indonesia Tbk.
2. EC5 = Rentang rasio standar upah terendah dibandingkan dengan upah minimum setempat pada lokasi operasi yang signifikan.
Upah merupakan imbalan berupa uang yang diterima karyawan dari perusahaan. Pada PT MNC Asuransi Indonesia, upah ditetapkan berdasarkan jenis pekerjaan dan jabatan yang diatur menurut status dan golongan karyawan.
Sedangkan penyesuaian gaji pokok regular dilakukan sesuai dengan mempertimbangkan :
a. Kondisi makro ekonomi
b. Prestasi dan konduite kerja karyawan c. Kemampuan perusahaan
Sehingga sesuai dengan indikator EC5 mengenai rentang rasio standar upah terendah dibandingkan dengan upah minimum setempat pada lokasi operasi yang signifikan, PT MNC tidak mengacu pada indikator tersebut. Hasil evaluasi menyebutkan bahwa PT MNC asuransi Indonesia memberikan upah berdasarkan jenis pekerjaan dan jabatannya.
3. EC7 = Prosedur penerimaan pegawai local dan proporsi manajemen senior local yang dipekerjakan pada lokasi operasi yang signifikan.
Berdasarkan hasil evaluasi menyebutkan bahwa PT MNC Asuransi Indonesia dalam melakukan penerimaan, penempatan dan pemindahan karyawan didasarkan atas pendayagunaan tenaga kerja dan disesuai dengan kebutuhan dan kemampuan perusahaan yang akan ditinjau dari waktu ke waktu. Sehingga dalam indikator EC7 menyebutkan bahwa Prosedur penerimaan pegawai local dan proporsi manajemen senior local yang dipekerjakan pada lokasi operasi yang signifikan tidak berlaku pada PT MNC asuransi Indonesia. Hal ini telah dijelaskan dalam peraturan perusahaan dan panduan perilaku (Code of Conduct) tahun 2012-2014.
4. EC8 = Pembangunan dan dampak dari investasi infrastruktur serta jasa yang diberikan untuk kepentingan public secara komersial, natura, atau probono.
PT MNC asuransi Indonesia merupakan perusahaan yang berkomitmen untuk memberikan pelayanan yang memuaskan dalam bidang perlindungan atas resiko dan manajemen resiko. Sehingga PT MNC asuransi tidak melakukan pembangunan dan tidak mendapatkan dampak dari investasi infrastruktur serta
jasa yang diberikan untuk kepentingan public secara komersial, natura, atau probono.
5. EC9 = Pemahaman dan penjelasan dampak ekonomi tidak langsung yang signifikan, termasuk seberapa luas dampaknya
PT MNC asuransi Indonesia merupakan perusahaan yang berkomitmen untuk memberikan pelayanan yang memuaskan dalam bidang perlindungan atas resiko dan manajemen resiko. Sehingga PT MNC asuransi tidak memberikan pemahaman dan tidak memberikan penjelasan tentang dampak ekonomi tidak langsung yang signifikan, termasuk seberapa luas dampak tersebut.
6. LA7 = Tingkat kecelakaan fisik, penyakit karena jabatan, hari-hari yang hilang, dan ketidakhadiran, dan jumlah kematian karena pekerjaan menurut wilayah.
Dalam aspek kesehatan dan keselamatan kerja, indikator GRI LA7 dimana tingkat kecelakaan fisik, penyakit karena jabatan, hari-hari yang hilang, dan ketidakhadiran, dan jumlah kematian karena pekerjaan menurut wilayah, PT MNC Asuransi Indonesia hanya memberikan tunjangan dan jaminan pemeliharaan kesehatan kepada karyawan dan keluarganya dalam batas tertentu yang disertai dengan keterangan tertulis dari dokter serta sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh perusahaan dan kebijakan direksi. Semua hal mengenai jaminan sosila dan kesehatan telah diatur dan ditetapkan dalam peraturan perusahaan dan paduan perilaku (code of conduct) tahun 2012-2014.
7. LA14 = Perbandingan/rasio gaji dasar pria terhadap wanita menurut kelompok/kategori karyawan
Berdasarkan pada peraturan perusahaan Bab IV tentang Pengupahan dengan pasal 21 ayat 2 menyebutkan bahwa upah ditetapkan berdasarkan jenis pekerjaan dan jabatan yang diatur menurut status dan golongan karyawan. Sehingga indikator GRI dalam aspek Perbedaan dan persamaan kesempatan sub aspek LA14 dimana perbandingan/rasio gaji dasar pria terhadap wanita menurut kelompok/kategori karyawan tidak berlaku pada PT MNC Asuransi Indonesia. Hal tersebut telah dijelaskan sebelumnya dalam peraturan perusahaan bab IV tentang pengupahan dengan pasa 21 ayat 2.
8. S07 = Jumlah tindakan hukum terhadap pelanggaran ketentuan antipersaingan, anti-trust, dan praktek monopoli serta sanksinya.
Jumlah tindakan hukum terhadap pelanggaran ketentuan antipersaingan, anti- trust, dan praktek monopoli serta sanksinya yang tertera dalam indikator GRI dalam aspek perilaku anti persaingan, PT MNC asuransi Indonesia memberikan kesempatan secara merata kepada seluruh karyawan untuk mendapatkan pendidikan dan pelatihan. Hal ini seesuai dengan peraturan perusahaan pasal 17 tentang kesempatan pendidikan dan pelatihan selain itu hal ini telah diatur dalam code of conduct PT MNC asuransi Indonesia periode 2012-2014. Sehingga dalam PT MNC Asuransi Indonesia tidak terjadi anti persaingan, anti trust dan praktek monopoli serta sanksinya karena seluruh karyawan memiliki hak yang sama dan seimbang.
9. PR4 = Jumlah pelanggaran peraturan dan voluntary codes mengenai penyediaan informasi produk dan jasa serta pemberian label, per produk.
Sesuai dengan code of conduct PT MNC asuransi Indonesia periode 2012- 2014, bab III no 5 mengenai informasi dan petunjuk untuk customer huruf c yang menyebutkan bahwa informasi atau petunjuk yang diperlukan tergantung pada jasa produk dan keahlian kategori klien yang termasuk juga standar pasar yang berlaku. Hal yang sama berlaku juga dimana informasi harus diminta dari klien sebagai persyaratan. Berdasarkan hal tersebut, PT MNC asuransi meminimalkan jumlah pelanggaran yang terjadi dalam penyediaan informasi produk dan jasa mereka.
10. PR7 = Jumlah pelanggaran peraturan dan voluntary codes sukarela mengenai komunikasi pemasaran termasuk periklanan, promosi, dan sponsorship, menurut produknya
Hal ini didasarkan atas code of conduct PT MNC asuransi Indonesia periode 2012-2014, bab III no 5 mengenai informasi dan petunjuk untuk customer huruf a yang menyebutkan bahwa Karyawan PT MNC Asuransi Indonesia baik melalui tindakan atau pernyataan tidak boleh berupaya menyesatkan pasar atau publik atau klien. PT MNC asuransi memberikan informasi dan melakukan komunikasi pemasaran sehingga mengetahui pengaduan yang terjadi dalam masyarakat. Hal ini mampu mengurangi jumlah pelanggaran tentang peraturan mengenai komunikasi pemasaran sesuai dengan produk dan jasa perusahaan.