• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sekolah Alam, Potret Belajar Yang Menyenangkan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Sekolah Alam, Potret Belajar Yang Menyenangkan"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

1

Sekolah Alam, Potret Belajar Yang Menyenangkan

Pendidikan menjadi tradisi belajar yang selama ini sudah turun temurun dilakukan, bahkan terstruktur dengan baik. Sebagai buktinya pendidikan telah mempunyai tempat atau bagian dalam pemerintahan. Pendidikan benar-benar telah mendapatkan perhatian khusus yang hal ini dapat dilihat dengan pendirian Dinas Pendidikan untuk pendidikan umum dan Kementerian Agama untuk sekolah berbasis Islam. Lebih lanjut bahkan Pemerintah membuat Undang-Undang yang mengatur tata pelaksanaan pendidikan di Indonesia.

Undang-undang nomor 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana dalam rangka mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran. Hal ini bertujuan agar peserta didik secara aktif mampu mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Senada dengan Undang-Undang itu pula, kemudian Pemerintah melakukan pengamatan untuk mengaktualisasikan proses belajar seperti apa yang layak bagi peserta didik. Hasil dari pengamatan ini kemudian dimanifestasikan dalam bentuk kurikulum belajar. Dilansir dari situs Kompasiana.com perjalanan kurikulum pendidikan di negara ini sudah berubah sebelas kali. Kurikulum itu meliputi, kurikulum 1947, kurikulum 1952, kurikulum 1964, kurikulum 1968, kurikulum 1975, kurikulum 1984, kurikulum 1994, kurikulum berbasis kompetensi 2004, kurikulum tingkat satuan pendidikan (ktsp) 2006, dan yang terakhir yaitu kurikulum 2013. Kurikulum 2013 merupakan kurikulum berbasis sains dan bersifat tematik integratif yang dianggap paling relevan untuk dijalankan dalam pendidikan saat ini.

Namun ternyata perjalanan kurikulum 2013 pun tidak begitu lama, 05 Desember 2014 diambil dari detiknews.com Anies Baswedan Menteri Pendidikan kala itu memutuskan menghentikan kurikulum 2013 bagi sekolah yang baru satu semester melaksanakannya. Penghentian ini diperkirakan berlangsung sampai 2020, sementara perbaikan masih dilakukan terhadap kurikulum 2013. Sekolah yang

(2)

2

terlanjur menggunakan kurikulum lebih dari tiga semester dianjurkan tetap melanjutkannya. Sekolah yang masih satu semester melaksanakan kurikulum ini harus kembali menjalankan KTSP 2006 sebab menurut Anies semua konsep pada kurikulum 2013 sudah terangkum dalam KTSP 2006.

Sebagaimana ulasan di atas Pemerintah pun masih mengalami kebingungan dalam menentukan jalan pengembangan kurikulumnya. Kita tentu bisa melihat dari perjalanan kurikulum yang sering digonta-ganti. Pertanyaan yang kemudian lahir ialah mau dibawa kemana nasib pendidikan ini sementara kurikulum sering diubah-ubah.

Pendek kata kita sebaiknya husnudzon dan percaya bahwa ini merupakan ikhtiar Pemerintah untuk menentukan kurikulum yang paling pantas dan baik diberlakukan di Indonesia.

Problem kurikulum yang menjadi kendala utama belajar belum terpecahkan sehingga kita harus mencari media yang efektif untuk belajar. Kemajuan zaman semakin menggerus manusia untuk terus belajar agar tidak ketinggalan zaman. Gawai atau gadget yang semakin kesini semakin gila meracuni otak peserta didik juga masih menjadi musuh utama. Sebaiknya kita perlu mengubah wabah serangan gawai ini menjadi media belajar. Sehingga mencari solusi agar peserta didik bisa belajar tanpa meninggalkan gawai juga menjadi hal penting. Terlepas dari itu memang sudah menjadi kewajiban pendidik memanfaatkan gawai sebagai media agar ilmu pengetahuan tersampaikan.

Belajar Dengan Nuansa Alam

Institusi pendidikan sampai sekarang masih menerapkan pola belajar yang sama yaitu duduk diam di kelas, mendengarkan ceramah guru kemudian pulang.

Waktu yang kita habiskan memang terlalu banyak di kelas. Sementara itu jeda istirahat yang diberikan sekolah selalu berakhir pada emperan ruang-ruang kelas, kantin, atau halaman kosong sekolahan yang minim pepohonan maupun sarana bermain. Padahal tempat dan waktu istirahat sebenarnya bisa menjadi obat untuk menyegarkan otak kembali setelah duduk berjam-jam di kelas.

Kita mungkin perlu membuat inovasi belajar yang suasananya lebih menyenangkan bagi peserta didik. Misalnya dengan menyediakan tempat belajar

(3)

3

yang nyaman. Suasana belajar yang biasanya cenderung monoton bisa kita benahi dengan membuat tempat belajar yang enak. Sekolah alternatif Qaryah Thayyibah (QT) tepatnya di Salatiga sudah menawarkan proses belajar alternatif yang terbilang berani, karena mereka tidak menetapkan kurikulum. Peserta didik bebas menentukan ingin belajar apa bahkan bebas mau mendiskusikan permasalahan apapun di sekolah. Waktu belajar merekapun sangat fleksibel, tidak ada aturan apapun yang mengikat. Bagi QT lingkungan merupakan area belajar mereka, sehingga mereka justru belajar dari lingkungan. Bahkan konsep belajar QT justru berusaha mencari solusi atas masalah yang sedang terjadi di lingkungan sekitar. Pola inilah yang justru menarik perhatian banyak kalangan bahkan dunia internasional.

Di Tulungagung dengan konsep yang hampir mirip kita bisa melihatnya pada Sekolah Dasar Alam Wahidiyah yang berada pada Dusun Soko Desa Tugu kecamatan Sendang Kabupaten Tulungagung. Sekolah ini menawarkan suasana belajar dengan latar belakang alam sekitar. Sendang merupakan salah satu kecamatan yang berada pada lereng Gunung Wilis, sehingga sangat menjanjikan untuk membuat tempat nyaman belajar. Selain jauh dari hiruk pikuk keramaian kota, Sendang juga menyediakan fasilitas alam yang bisa dimanfaatkan seperti keberadaan sungai yang masih bersih dan indah.

Sekolah ini menyediakan ruang kelas terbuka yang mana para siswanya belajar pada gazebo-gazebo atau angkringan. Ruang kelas terbuka ini sangat berbeda dengan ruang kelas pada sekolah-sekolah umum milik Pemerintah dimana biasanya suasananya tertutup dan seringkali membosankan. Sekolah ini membuat suasana belajar yang lebih berwarna karena kita belajar dan menyatu dengan alam.

Alam dianggap sebagai media yang paling tepat guna membantu menyukseskan proses belajar mereka.

Sekolah semacam ini tidak membatasi ruang-ruang tertutup sebagai media belajar. Mereka cenderung belajar langsung dari alam, misalnya dalam pelajaran biologi mereka bisa langsung praktik dengan alam. Konsep belajar di sekolah ini pun terbilang santai, dimana peserta didik tidak terlalu dibebani belajar yang ketat.

Meskipun tetap ada kurikulum yang mengikat namun kurikulum tersebut disulap dalam proses pembelajaran menyenangkan. Peserta didik sekolah ini tidak terlalu banyak, hanya lima sampai enam anak yang duduk di setiap kelas. Justru kondisi ini membuat

(4)

4

mereka semakin semangat belajar. Belajar pun lebih efektif karena pendidik bisa lebih fokus menyampaikan ilmunya kepada peserta didik.

Selain ruang terbuka, sekolah ini juga membuat tempat-tempat outbond yang langsung menyatu dengan alam. Anjungan-anjungan outbond ini sengaja disiapkan untuk ruang bermain peserta didik. Di sini peserta didik bisa bermain dengan puas sesuai dengan minat dan kesenangannya. Hal ini mirip dengan konsep belajar yang diterapkan di Negara Finlandia dimana peserta didik bisa menikmati waktu luang mereka untuk bermain. Di Finlandia sekolah-sekolah juga dilengkapi dengan fasilitas bermain sesuai dengan bakat dan minat peserta didik. Sehingga ketika jam istirahat tiba peserta didik bisa menikmati bermain sekaligus mengasah kemampuan non akademiknya. Tentu terbayangkan betapa menyenangkannya suasana belajar diramu dengan waktu istirahat yang menyenangkan. Apalagi kesemua proses belajar yang seperti ini memang sudah diwadahi oleh sekolah.

Demi kemajuan sekolah alam yang nantinya akan didirikan lagi ternyata telah ada beberapa penelitian terkait pengembangan sekolah alam ini. Misalnya rencana pembangunan sekolah alam di Dusun Magersari Desa Nglurup di Kecamatan Sendang. Konsep sekolah ini malah akan dikonsep lebih matang lagi dengan model Permakultur. Dalam jurnalnya yang berjudul “Sekolah Alam Di Dusun Magersari Tulungagung Dengan Konsep Permakultur” Prima Adi Yudha, Chairil B. Amiuza, dan Abraham M. Ridjal menyebutkan istilah Permakultur. Permakultur menurut Hadiedi Prasaja (2010) merupakan integrasi harmonis antara lingkungan dan masyarakat secara berkelanjutan dalam menyediakan tempat berlindung, pangan, energi, dan kebutuhan lainnya pada suatu kerja sistem desain.

Permakultur memiliki dua arti yaitu permanen kultur yang berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat di lingkungan lokal dan permanen agrikultur yang berkaitan dengan kehidupan pertanian, peternakan yang sesuai dengan budaya masyarakat.

Permakultur menawarkan konsep belajar yang sesuai dengan kearifan lokal atau budaya setempat. Dimana permakultur juga berfungsi menjaga nilai-nilai budaya disamping melestarikan dan memanfaatkan alam dengan beradab. Kita bisa membayangkan bahwa permakultur ini menjadi konsep belajar yang bisa menyempurnakan sekolah alam sebelumnya. Ini bisa menjadi bentuk ideal sekolah alam yang nantinya akan dikembangkan di Sendang sesuai dengan kondisi alamnya

(5)

5

yang memadai. Dengan demikian sekolah akan menyediakan banyak infrastruktur pendukung proses belajar yang lebih efektif dan nyaman.

Sains atau ilmu pengetahuan merupakan sesuatu yang harus ditularkan melalui pendidikan. Sedangkan proses belajar dalam dunia pendidikan saat ini mungkin tidak lagi relevan diterapkan, sehingga membutuhkan inovasi. Sejatinya setiap elemen akademik saat ini sedang berupaya melakukan perbaikan sana sini untuk mendapatkan cara belajar yang baik. Sebagai lembaga pendidikan telah banyak media yang ditawarkan pemerintah untuk menyalurkan ilmu pengetahuan. Namun kita merasa cara-cara yang selama ini diterapkan memang belum efektif bagi peserta didik. Maka dari itu perlulah sesuatu yang baru untuk menjadi media yang benar-benar bisa membuat peserta didik belajar tanpa kungkungan dan tekanan. Kemudian lahirlah ide sekolah alam ini dengan konsep belajar alam dan lingkungan sekitarnya.

Dimana pendidikan ditampilkan dengan media yang ramah serta menyenangkan bagi peserta didik. Jika sudah mendapatkan kenyamanan tentunya ilmu akan mengikuti dan mudah diterima peserta didik. (arie widodo)

(6)

6

Referensi

Dokumen terkait

Pada hakikatnya seorang pemuda seumur Mr.DW sangatlah mudah terbawa arus lingkungannya jika tidak benar-benar mampu mawas diri dengan baik dan ada kontrol dari orang

Mengambil informasi dari isi teks sederhana untuk melengkapi tabel Disajikan teks sederhana / bacaan pendek berisi data (hasil pertanian di suatu desa; data siswa disuatu sekolah;

Retail banks are highly pressured to create, develop and maintain a high quality relationship with their customers to ensure they remain in the competition. Relationship quality is

Jika 2 t it ik let is mempunyai parit as yang sama maka sesuai sif at penj umlahan maka dapat dipast ikan kedua t it ik let is memiliki j arak mendat ar dan j arak vert

...,.... LEMBAR KERJA PENILAIAN CAKUPAN MATERI BUKU TEKS PELAJARAN AGAMA KHONGHUCU. SMA

Sebuah segienam berat uran dan sebuah segit iga sama sisi mempunyai keliling yang sama.. Dua buah dadu dilemparkan

karya-karya ulama dan intelektual muslim dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang begitu banyaknya, baik itu agama ataupun umum, menunjukkan bahwa agama Islam memberi

Setiap hari, pada minggu pembinaan tersebut, setiap siswa mengirimkan 5 email kepada siswa lain atau guru.. Pada acara penutupan, setengah dari siswa mendapat 6 email, sepertiga