• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mega Marcella Jurusan Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Mega Marcella Jurusan Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum."

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THE POWER OF TWO (DIMODIFIKASI) BERBANTUAN INSASTORY INSTAGRAM TERHADAP

KREATIVITAS PESERTA DIDIK PADA MATA PELAJARAN SEJARAH KELAS XI IPS DI MAN 1 BOJONEGORO

TAHUN PELAJARAN 2020/2021

Mega Marcella Jurusan Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum

Universitas Negeri Surabaya Email: [email protected]

Septina Alrianingrum

S1 Jurusan Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Surabaya

Email: [email protected]

Abstrak

Kegiatan penelitian yang dibahas yakni mengenai pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe The Power of Two (dimodifikasi) berbantuan Instastory Instagram terhadap kreativitas peserta didik pada mata pelajaran sejarah kelas XI IPS di MAN 1 Bojonegoro yang memiliki tujuan untuk menjelaskan apakah ada pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe the power of two (dimodifikasi) berbantuan instastory instagram terhadap kreativitas peserta didik pada mata pelajaran sejarah kelas XI IPS MAN 1 Bojonegoro dan menentukan seberapa besar model pembelajaran kooperatif tipe the power of two (dimodifikasi) berbantuan instastory instagram mempengaruhi kreativitas peserta didik pada Mata Pelajaran Sejarah Kelas XI IPS MAN 1 Bojonegoro Tahun Pelajaran 2020/2021. Penelitian ini menggunakan Pre-Experimental dan One-Shot Case Study sebagai desain penelitian. Populasinya mencakup seluruh siswa kelas 11 IPS di MAN 1 Bojonegoro yang berjumlah 144 orang dan kelas XI-US 2 sebagai sampel atau kelas eksperimennya. Analisis data yang digunakan yaitu dengan Teknik Uji Regresi Linier Sederhana. Berdasarkan hasil analisis penghitungan tersebut diperoleh hasil bahwa model pembelajaran kooperatif tipe The Power of Two (dimodifikasi) berbantuan Instastory Instagram mempunyai pengaruh yang cukup signifikan terhadap kreativitas peserta didik kelas XI IPS MAN 1 Bojonegoro pada mata pelajaran sejarah dengan rata-rata hasil persentase 24,3% terhadap kreativitas peserta didik, sedangkan selebihan efek akan hal tersebut dapat dipengaruhi oleh faktor lainnya seperti minat belajar, motivasi, dan kemampuan literasi, dan lain-lain.Penugasan portofolio memiliki kriteria sangat kreatif dengan persentase 90,08% dan tes lisan dengan rata-rata persentase 93,92% yang berarti sangat baik kategorinya.

Kata Kunci: Pembelajaran Kooperatif, The Power of Two, Instastory Instagram, kreativitas peserta didik

Abstract

The research activities was discussed about the influence of cooperative learning model type The Power of Two (modified) assisted by Instagram Instastory on the creativity of students in the history subjects of class XI IPS in MAN 1 Bojonegoro that has the purpose of whether there is an influence of cooperative learning model type the power of two (modified) assisted instastory instagram to the creativity of participants students in the history subjects of class XI IPS MAN 1 Bojonegoro and determine how much the model of cooperative learning type the power of two (modified) assisted by Instagram Instastory affects the creativity of students in the History Subjects class XI IPS MAN 1 Bojonegoro year 2020/2021. The research used Pre-Experimental and One-Shot Case Study as research design. The population includes all students of grade 11 IPS in MAN 1 Bojonegoro which amounted to 144 people and class XI- US 2 as a sample or an experimental class. The data analysis used is with Simple Linear Regression Test Technique.

Based on the results of the calculation analysis obtained the results that the cooperative learning model type The Power of Two (modified) assisted by Instagram Instastory has a significant influence on the creativity of students of grade XI IPS MAN 1 Bojonegoro in history subjects with an average percentage result of 24,3% on the creativity of learners, while the rest of the effect on it can be influenced by other factors such as interest in learning, motivation, and literacy skills, etc. Portofolio assigments have very creativity criteria with a percentage of 90,08% and oral tests with an average pecentage of 93,92% with excellent criteria.

Keywords: Cooperative Learning, The Power of Two, Instastory Instagram, Student Creativity.

(2)

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan usaha sadar yang telah terprogram dengan adanya aktivitas bimbingangan, pembelajaran, dan praktik, yang dilakukan oleh masyarakat ataupun pemerintah, baik itu berada dalam pendidikan formal ataupun non formal untuk dapat meningkatkan kemampuan individu di setiap prosesnya.1 Pendidikan menjadi suatu hal yang memiliki dampak besar pada kelangsungan hidup manusia terkait pengembangan pengetahuan dan kemampuan setiap manusia dapat ditata dengan sistematis dan teratur. Pendidikan bisa di dapat dari keluarga, lingkungan, ataupun pendidikan formal dan non-formal, sebab tujuan dari adanya pendidikan secara umum yaitu agar tercapai pemerataan wawasan, nilai, dan norma yang berlaku di lingkup masyarakat.

Pendidikan erat kaitan dengan adanya proses pembelajaran dan pengajaran, sehingga siapapun manusia berhak mendapatkan pendidikan dan bisa pandai dengan belajar.

Pentingnya pendidikan juga diatur pada Undang-undang No. 20 Tahun 2003 mengenai Sistem Pendidikan Nasional dimana secara singkat mengungkapkan bahwasannya pendidikan sangat penting karena dapat menyempurnakan potensi peserta didik baik itu akademik ataupun non-akademik di situasi dan kondisi tertentu.2 Pendidikan sendiri lingkupnya dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu pendidikan formal dan non-formal yang mana fokus penjelasan disini yang sangat penting yaitu pendidikan formal. Terdapat banyak lembaga pendidikan formal di Indonesia terutama di Bojonegoro yaitu salah satunya ada MAN 1 Bojonegoro.

Hal yang menjadi penunjang ketercapaian pembelajaran terutama yaitu pada guru dan peserta didik, sedangkan tentunjuga ada faktor lainnnya seperti fasilitas sekolah, tata kelola sekolah, dan lain-lain.

Keberhasilan dan kegagalan pembelajaran erat kaitannya dengan adanya interaksi yang harmonis dan aktif antara guru dengan peserta didik. guru diharuskan untuk menciptakan iklim pembelajaran yang positif dengan memberikan inovasi, semangat, dan motivasi kepada peserta didik. cara menciptakan iklim pembelajaran yang positif yaitu guru harus mampu memberikan teknis bentuk pembelajaran, metode, dan media pembelajaran yang tepat guna supaya selama kegiatan belajar di kelas peserta didik tidak bosan dan merasa tertekan namun mereka akan antusias dan semangat. Jika semangat dan antusias peserta didik sudah tercipta, maka pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotorik) peserta didik dapat berkembang secara berkelanjutan.

Sejarah telah berjasa memberikan pembelajaran mengenai nilai-nilai penting dengan berkaca pada hal-hal baik masa lampau untuk dijadikan pedoman di masa depan dan kesalahan sebagai

1Abdul Kadir, Dasar-Dasar Pendidikan. (Jakarta: Prenadamedia Group, 2012), hlm. 61-62.

2Pasal 1 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Pasal tentang Sistem Pendidikan Nasional.

introspeksi diri. Pentingnya penanaman nilai-nilai sejarah untuk saat ini dan kedepannya seperti dalam bidang sosial, ekonomi, politik, agama, sehingga dari bidang tu dapat ditarik dari peristiwa yang mengangkat baik buruknya masa lalu ada dimana dan bagaimana membenahinya. Pengajaran sejarah penting dalam membentuk penilaian karakter terkhususnya peserta didik, sebab pembelajaran sejarah melatih peserta didik mampu berpikir kritis dan historis terhadap setiap peristiwa sejarah dan menyikapinya agar peserta didik mampu mengambil pelajaran dari kejadian yang salah di masa lampau supaya tidak terulang lagi.3 Dengan demikian, apabila pengamalan nilai-nilai pembelajaran sejarah dapat merata di dalam diri peserta didik, maka mereka akan merasa tertarik dan tidak bosan untuk belajar sejarah. Namun, kenyataannya masih banyak stigma terkait pembelajaran sejarah yang membosankan.

Berdasarkan hasil observasi di MAN 1 Bojonegoro, fasilitas sekolah yang digunakan saat pembelajaran online bisa dikatakan cukup baik, namun guru sejarah sekedar hanya mengajarkan dengan cara menyampaikan materi kemudian memberikan tugas, sehingga kurang adanya interaksi atau aktivitas yang terjadi dengan peserta didik. Hal tersebut tentu berimbas juga pada kapabilitas pemikiran kreatif dan keterampilan kreatif peserta didik, sebab peserta didik tidak ada kesempatan terlibat langsung dalam suatu aktivitas yang mendorong timbulnya pengalaman baru, terlebih pula dikemudian hari saat pelaksaan ulangan, peserta didik cenderung memperoleh nilai di bawah Kriteria Ketuntasan Minimum. Mata pelajaran sejarah menjadi salah satu mata pelajaran yang notabenenya pelajaran berbasis pemahaman peristiwa dan cerita yang membuat banyak stigma berkembang di pikiran peserta didik yaitu perasaan bosan dan kurang menarik.

Pada saat proses pembelajaran pun selama ini monoton hanya sebatas penyampaian materi dan pemberian atau pengumpulan tugas, murid banyak yang tidak menyimak pembelajaran, antusias peserta didik yang pasif, dan kurangnya penguasaan teknologi sebagai media pembelajaran yang berbasis media sosial, sehingga masalah tersebut mengurangi aktivitas peserta didik untuk mengembangkan kreativitas mereka. Untuk itu, perlu adanya motivasi dan daya tarik peserta didik agar jiwa aktif dan kreatif peserta didik bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.

Fenomena yang terjadi dalam dunia pembelajaran peserta didik pada mata pelajaran sejarah tersebut cukup menjadi perhatian peneliti, sehingga mendorong peneliti untuk melakukan penelitian mengenai masalah tersebut. Oleh karena itu, berkaca dari masalah yang terjadi tersebut maka peneliti memiliki inovasi pada model pembelajaran sejarah yang bertujuan untuk meningkatkan kreativitas peserta didik, penguasaan teknologi, dan antusias aktif peserta

3Ridho Bayu Yefterson dan Abdul Salam. “Nilai-Nilai Kesejarahan Dalam Pembelajaran Sejarah Indonesia (Studi Naturalistik Inkuiri Di SMA Kota Padang)”. (Jurnal Diakronika. Vol. 17, No. 2, 2017.), hlm. 178-184.

(3)

didik dalam menerima pembelajaran sejarah. Bentuk pembelajaran yang dimaksud peneliti yakni dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe The Power of Two (dimodifikasi). Selain model pembelajaran tersebut, pembelajarannya dengan dibantu salah satu media sosial yang sangat mudah diakses dan cocok untuk anak muda jaman sekarang yaitu fitur Instastory Instagram yang efektif untuk mengabadikan momen setiap saat. Dengan demikian, peneliti ingin menggali apakah terdapat pengaruh pada model pembelajaran tersebut dan jika ada maka seberapa besar pengaruhnya, sehingga peneliti memutuskan untuk menentukan judul berupa

“Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe The Power of Two (Dimodifikasi) Berbantuan Instastory Instagram terhadap Kreativitas Peserta Didik Pada Mata Pelajaran Sejarah Kelas XI IPS di MAN 1 Bojonegoro”.

Adapun tujuan, manfaat, dan hipotesis penelitian ini dengan adanya penerapan model pembelajaran kooperatif tipe The Power of Two (dimodifikasi) berbantuan Instastory Instagram terhadap kreativitas peserta didik yaitu sebagai berikut:

• Tujuan penelitian

1. Menjelaskan apakah ada pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe the power of two (dimodifikasi) berbantuan instastory instagram terhadap kreativitas peserta didik pada mata pelajaran sejarah kelas XI IPS MAN 1 Bojonegoro.

2. Menentukan seberapa besar model pembelajaran kooperatif tipe the power of two (dimodifikasi) berbantuan instastory instagram mempengaruhi kreativitas peserta didik pada Mata Pelajaran Sejarah Kelas XI IPS MAN 1 Bojonegoro.

• Manfaat penelitian

1. Meningkatkan strategi pembelajaran yang kooperatif dan kolaborasi, dan kreativitas peserta didik yang dapat mendorong prestasi akademik ataupun non-akademik belajar pada peserta didik.

2. Membantu mengatasi rasa bosan saat pembelajaran dan melatih kekompakan dalam proses kegiatan belajar mengajar (KBM) online, selain itu peserta didik akan lebih leluasa dalam mengolah pengetahuan menjadi berbagai ide-ide kreatif masing-masing dengan bantuan teknologi yang sudah sering mereka akses.

3. Meningkatkan variasi pada model pembelajaran yang berbeda dari sebelumnya kepada murid yang mana sebelumnya bentuk pembelajaran kooperatif seperti tipe The Power of Two diterapkan secara langsung, tetapi juga mampu diterapkan secara online dengan memanfaatkan media sosial Instagram melalui fiturnya Instatory, agar pembelajaran menjadi inovatif dan kreatif.

• Hipotesis penelitian

Hipotesis adalah anggapan atau dugaan

sementara pada suatu rumusan masalah sebagai acuan untuk menentukan keputusan hasil akhir penelitian.4 Hipotesis penelitian ini yaitu “Terdapat pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe the power of two (dimodifikasi) berbantuan instastory instagram terhadap kreativitas peserta didik”.

METODE PENELITIAN

Metode penelitian merupakan suatu prosedur dalam melakukan penelitian seperti mencari, mendapatkan, dan mengolah data sesuai dengan tujuan tertentu.5 Pada penelitian ini, metode penelitian yang digunakan oleh peneliti yaitu jenis penelitian eksperimen. Metode eksperimen merupakan prosedur penelitian yang berjenis kuantitatif yang berfungsi untuk mengetahui pengaruh variabel independent melalui pelakuan terhadap variabel dependen berupa hasil.6 Bentuk desain penelitian eksperimen ini berbentuk Pre-Experimental Design dengan model One-Shot Case Study. Sampel penelitian ini yaitu kelas XI US 2 dari populasi kelas 11 jurusan IPS di MAN 1 Bojonegoro.

Penelitian ini bertempat di MAN 1 Bojonegoro di Jalan Monginsidi No. 160 Bojonegoro.

Pelaksanaan penelitian dilakukan pada bulan April hingga Mei 2021 di semester genap pada tahun pelajaran 2020/2021. Teknik penentuan sampel berupa Purposive Proporsional Cluster Sampling. Penelitian ini memiliki dua variabel yaitu variabel bebas atau disebut variabel X dan variabel terikat yang disebut variabel Y. Variabel X penelitian ini yaitu model pembelajaran kooperatif tipe The Power of Two (dimodifikasi) berbantuan Instastory Instagram, sedangkan variabel Y berupa kreativitas peserta didik.

Instrumen-instrumen yang digunakan yaitu berupa lembar keterlaksanaan model pembelajaran sejarah, lembar penilaian aktivitas murid, angket respon peserta didik pada model pembelajaran yang diterapkan peneliti, penugasan portofolio konten snapgram, dan tes lisan.

Adapun indikator angket respon, keterlaksanaan pembelajaran, aktivitas peserta didik, penilaian portofolio konten, dan tes lisan, sebagai berikut :

1. Indikator angket respon :

a. Model pembelajaran kooperatif tipe the power of two berbantuan instastory instagram yang digunakan untuk mengembangkan keefektifan kerja kelompok secara berpasangan dengan memanfaatkan instastory instagram.

b. Kemudahan dalam mengakses aplikasi instagram terutama pada fitur instastorynya dan menggunakan fitur-fitur di dalamnya.

c. Membantu peserta didik dalam memahami pembelajaran sejarah, meningkatkan kognitif

4Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D.

(Bandung: Alfabeta, 2016), hlm. 64.

5Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif. (Bandung: Alfabeta, 2018), hlm. 1.

6Ibid. Hlm. 111.

(4)

dan keterampilannya, serta mendorong antusias peserta didik saat pembelajaran.

d. Kejelasan penyampaian materi, penugasan, dan kemudahan berinteraksi.

e. Keleluasaan peserta didik dalam menyampaikan argumentasi dengan pasangannya dan menumbuhkan sikap kolaboratif.

2. Indikator keterlaksanaan pembelajaran : a. Pelaksanaan Pembelajaran (kegiatan

Pembuka, Kegiatan Inti, Penutup) b. Estimasi Waktu

c. Situasi dan Kondisi Kelas

3. Indikator aktivitas peserta didik : a. Siswa hadir dan mengikuti pembelajaran.

b. Siswa membuka dan mengecek materi yang dipublikasikan oleh guru melalui instastory Instagram.

c. Siswa membaca materi yang dipublikasikan oleh guru melalui instastory Instagram.

d. Siswa ikut serta melakukan tanya jawab melalui instastory Instagram.

e. Siswa berkelompok dan membuat akun kelompok masing-masing.

f. Siswa memperhatikan teknis penugasan kelompok.

g. Siswa mendapatkan Lembar Kerja Peserta Didik yang bisa di download di Bio.

h. Siswa berdiskusi.

i. Siswa mengunggah hasil jawabannya dalam bentuk snapgram di instatory instagram kelompok masing-masing.

j. Siswa menandai (tag) akun controlling (admin guru dan peneliti).

k. Siswa saling melakukan tanya jawab, tanggapan, kritik, sanggahan, dan saran.

l. Siswa menscreenshot setiap kegiatan di instastory.

m. Siswa memposting hasil screenshot di feed instagram sebagai arsip.

n. Siswa mengumpulkan lembar kerja tepat waktu.

4. Indikator penilaian portofolio : a. Kesesuaian Judul/Headline dengan materi b. Keefektifan penulisan kalimat sesuai kotak

yang tersedia

c. Kesesuaian isi dengan materi masing-masing kelompok

d. Penggunaan gaya bahasa yang tepat, jelas, dan orisinil

e. Kreativitas jenis font yang dipakai f. Kesesuaian warna font yang dipakai g. Ketepatan ukuran font yang dipakai

h. Ketentuan penggunaan fitur Tag, Question stiker, dan ditempatkan di tempat yang sudah tersedia

i. Kesesuaian gambar/foto dengan materi j. Stiker/Emoticon menarik dan sopan

k. Bertanya sesuai materi yang diunggah oleh kelompok pengunggah, menuliskan nama

kelompok, bertanya melalui question stiker 5. Indikator tes lisan :

a.

Kelancaran (Fluency) : Mencetuskan gagasan, ide, atau jawaban.

b.

Keluwesan (Flexybility) : Menghasilkan gagasan, ide, atau jawaban yang berbeda atau variatif.

c.

Keorisinalitas (Originality) : Menghasilkan ide-ide baru dan berifat orisinil.

d.

Elaboratif (Elaboration) : Mencermati atau mengerjakan suatu gagasan dengan lebih mendalam dan kemudian menyimpulkan Bersama.

Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti yaitu berupa teknik observasi, teknik angket, dan teknik tes dan non-tes. Teknik observasi dilakukan dengan instrumen penelitian yaitu diantaranya lembar keterlaksaan model pembelajaran dan lembar aktivitas murid. Teknik angket berupa angket respon peserta didik terhadap implementasi pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe The Power of Two (dimodifikasi) berbantuan Instastory Instagram. Teknik tes dilakukan dengan memberikan penilaian pada tes lisan, sedangkan non-tes berupa penilaian penugasan portofolio konten snapgram.

Teknik Analisis Data

Analisis data yang dilakukan oleh peneliti dalam memecahkan rumusan masalah dan hipotesis yang telah rumuskan, maka ada beberapa tahap yang perlu dilalui peneliti yaitu :

1. Uji Normalitas. Pengujian ini dilakukan dengan bantuan aplikasi statistika yaitu SPSS versi 22 dengan metode yang digunakan untuk mengji yaitu Kolmogorof-Smirnof dan Microsoft Excell. Data yang berdistribusi normal berarti nilai signifikasi atau sig. > 0,05 dan jika sig. < 0,05 berarti tidak berdistribusi normal.

2. Uji Linieritas. Pengujian prasyarat sebelum uji regresi yang mana dengan bantuan aplikasi SPSS versi 22 dan Microsoft Excell dengan nilai signifikasi atau sig. < 0,05 yang berarti terdapat hubungan yang linier atau segaris antara variabel X dengan variabel Y, sedangkan nilai sig. >0,05 yang berarti tidak memiliki hubungan yang linier antara variabel X dengan variabel Y.

3. Uji Hipotesis

4. Uji Regresi Linier Sederhana. Pengujiannya menggunakan taraf signifikasi 0,05 atau 5%.

Peneliti menggunakan bantuan analisa statistika SPSS versi 22. Pengambilan keputusannya yaitu jika nilai signifikasi atau sig. > 0,05, maka variabel tidak berpengaruh atau Ho diterima, sedangkan jika nilai signifikasi atau sig. < 0,05 maka variabel tersebut berpengaruh atau Ho ditolak dan otomatis Ha diterima. Adapun rumus persamaan regresi sederhananya yaitu Y = a + bX.

(5)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Uji Instrumen a. Validitas Angket

Tabel 1. Validitas Angket Respon Peserta Didik.7 Penghitungan uji validitas ini dilakukan dengan menggunakan SPSS versi 22 dan Microsoft Excell dengan nilai rtabel yaitu 0,443. Berdasarkan tabel di atas, diuji cobakan kepada 20 responden dan dinyatakan valid. Hasil valid pada tabel tersebut dinilai dari rhitung > rtabel dengan taraf signifikasi 5%, sehingga secara keseluruhan angket respon peserta didik ini layak untuk disebarkan dan dinyatakan valid.

b. Validitas Tes Lisan

Tabel 2. Validitas Soal tes lisan.8

Selanjutnya, berdasarkan tabel di atas yang juga diuji cobakan dapat dijelaskan bahwa semua soal yang jumlahnya ada 4 dinyatakan valid. Hasil valid pada tabel tersebut dinilai dari rhitung > rtabel dengan taraf signifikasi 5%. Dengan demikian, secara keseluruhan soal tes lisan ini layak untuk disebarkan dan dapat dinyatakan valid.

c. Reliabilitas Angket dan Tes Lisan Instru

men

Hasil Ket.

Angket Reliability Statistics

Cronbach's Alpha

N of Items

.819 15

Reliabel

Tes Lisan

Reliability Statistics

Cronbach's Alpha

N of Items

.615 4

Reliabel

Tabel 3. Reliabilitas Angket dan Tes Lisan.9

7Olah data peneliti, Juni 2021.

8Olah data peneliti, Juni 2021.

9Olah data peneliti, Juni 2021.

Penghitungan uji reliabilitas Angket ini dilakukan dengan menggunakan SPSS versi 22 dan Microsoft Excell dengan nilai rhitung yaitu 0,819.

Penghitungan menggunakan jenis uji reliabilitas berupa Alpha Cronbach yang menyatakan bahwa apabila nilai rhitung > 0,6 maka dinyatakan “Reliabel”. Instrumen angket dengan rhitung sebesar 0,819 berarti lebih besar daripada 0,6 atau bias dituliskan 0,819 > 0,6, sehingga instrument angket respon peserta didik dianggap reliabel dan bias digunakan peneliti untuk penelitian.

Selanjutnya, pada hasil uji soal tes lisan ini penghitungan nilai rhitung yaitu 0,615. Instrumen soal tes lisan dengan rhitung sebesar 0,615 berarti lebih besar daripada 0,6. Dengan demikian, 0,615 > 0,6, sehingga instrumen angket respon peserta didik dianggap reliabel dan bias digunakan peneliti untuk penelitian.

Hasil Analisis Penilaian

a. Analisis nilai angket respon peserta didik Angket respon ini digunakan untuk mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran yang diterapkan oleh peneliti. Angket ini berisi beberapa indikator yang disesuaikan dengan keadaan yang nantinya sangat diharapkan oleh peneliti hasilnya. Angket ini disebarkan pada pertemuan terakhir pembelajaran.

Berikut tabel nilainya :

Tabel 4. Hasil rekapitulasi angket respon peserta didik, Juni 2021.10

Berdasarkan laporan hasil di atas, perolehan hasil angket tersebut didapat dari kelas XI US 2. Nilai tersebut dapat disimpulkan bahwa keterlaksanaan pembelajaran kooperatif tipe The Power of Two (dimodifikasi) dengan bantuan Instastory Instagram memperoleh respon yang Sangat Baik dengan persentase sebesar 93%. Indikator yang dipaparkan memperoleh nilai sangat baik dimana respon siswa paling tinggi yaitu pada indikator kegiatan peyampaian materi, penugasan, dan kemudahan berinteraksi.

Dengan demikian, pembelajaran yang telah diterapkan oleh peneliti tersebut dikemudian hari bisa diterapkan Kembali oleh guru sejarah.

10Olah data peneliti, Juni 2021.

No.

Item rhitung rtabel Keterangan Kesimpulan 1 0,532 0,443 rhitung > rtabel Valid 2 0,691 0,443 rhitung > rtabel Valid 3 0,668 0,443 rhitung > rtabel Valid 4 0,584 0,443 rhitung > rtabel Valid 5 0,479 0,443 rhitung > rtabel Valid 6 0,588 0,443 rhitung > rtabel Valid 7 0,810 0,443 rhitung > rtabel Valid 8 0,711 0,443 rhitung > rtabel Valid 9 0,579 0,443 rhitung > rtabel Valid 10 0,631 0,443 rhitung > rtabel Valid 11 0,446 0,443 rhitung > rtabel Valid 12 0,569 0,443 rhitung > rtabel Valid

No. soal rhitung rtabel Keterangan Kesimpulan 1 0,480 0,443 rhitung > rtabel Valid 2 0,744 0,443 rhitung > rtabel Valid 3 0,686 0,443 rhitung > rtabel Valid 4 0,821 0,443 rhitung > rtabel Valid

Indikator % Kategori

Model pembelajaran kooperatif tipe the power of two berbantuan instastory instagram yang digunakan untuk mengembangkan keefektifan kerja kelompok secara berpasangan dengan memanfaatkan instastory instagram.

93%

Sangat Baik Kemudahan dalam mengakses aplikasi instagram terutama pada fitur instastorynya dan

menggunakan fitur-fitur di dalamnya. 93%

Sangat Baik Membantu peserta didik dalam memahami pembelajaran sejarah, meningkatkan kognitif dan

keterampilannya, serta mendorong antusias peserta didik saat pembelajaran. 92%

Sangat Baik Kejelasan penyampaian materi, penugasan, dan kemudahan berinteraksi. 97% Sangat Baik Keleluasaan peserta didik dalam menyampaikan argumentasi dengan pasangannya dan

menumbuhkan sikap kolaboratif. 93%

Sangat Baik Total

Persentase 93% Sangat Baik 467,13

(6)

b. Penilaian keterlaksanaan pembelajaran kooperatif tipe The Power of Two (dimodifikasi) berbantuan Instastory Instagram dan aktivitas siswa.

Lembar keterkasanaan pembelajaran ini digunakan untuk menilaia terlaksananya pembelajaran dengan menggunakan bentuk yang diterapkan oleh peneliti. Penilaian keterlaksanaan pembelajaran ini berisi beberapa indikator yang dimulai dari awal pembelajaran hingga akhir pembelajaran dan disesuaikan dengan situasi dan keadaan tertentu.

Penilaiannya pun dilakukan tiap pertemuan. Berikut tabel nilainya :

Tabel 5. Hasil keterlaksanaan pembelajaran, Juni 2021.11

Berdasarkan laporan hasil nilai di atas, perolehan hasil keterlaksanaan pembelajaran tersebut didapat dari kelas XI US 2. penilaian tersebut dapat disimpulkan bahwa keterlaksanaan pembelajaran kooperatif tipe The Power of Two (dimodifikasi) dengan bantuan Instastory Instagram terlaksana dengan kategori Baik dan persentase sebesar 78,26%. Setiap indikator yang dipaparkan memperoleh nilai yang baik dimana pelaksanaan indikator disetiap keadaan atau kondisi memiliki tingkat keterlaksanaannya masing- masing. Dengan demikian, pelaksanaan pembelajaran yang telah diterapkan tesebut dengan tingkat persentase keterlaksanaan yang sudah baik dengan dilakukan oleh peneliti sekiranya bisa diperbaiki kembali oleh peneliti tersebut dikemudian hari dan bisa diterapkan kembali oleh guru sejarah.

Penilaian selanjutnya yaitu penilaian aktivitas peserta didik yang dilakukan di kelas XI US 2.

Penilaian aktivitas ini dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung melalui media sosial Instagram. Indikator penilaiannya dilihat dari penugasan peserta didik dalam menunjukkan kreativitas peserta didik. Penilaiannya pun dilakukan pada saat pertemuan itu berlangsung. Berikut tabel nilainya :

11Olah data peneliti, Juni 2021.

Tabel 6. Hasil rekapitulasi aktivitas peserta didik, Juni 2021.12

Berdasarkan laporan hasil nilai di atas, perolehan aktivitas peserta didik pada saat pembelajaran dari kelas XI US 2. penilaian tersebut dapat disimpulkan bahwa keterlaksanaan pembelajaran kooperatif tipe The Power of Two (dimodifikasi) dengan bantuan Instastory Instagram terlaksana dengan kategori Sangat Aktif dan persentase sebesar 87%. Setiap indikator yang dipaparkan memperoleh nilai beragam tetapi masih masuk kategori yang baik dimana pelaksanaan indikator disetiap keadaan atau kondisi memiliki tingkat keterlaksanaannya masing-masing.

Dengan demikian, aktivitas peserta didik selama pembelajaran yang diterapkan oleh peneliti sudah bisa dikatakan optimal dan siswa aktif dalam mengikuti kerja kelompok pembelajaran sejarah berbasis media sosial Instagram dengan fitur Instastorynya.

c. Analisis nilai penugasan portofolio konten snapgram

Lembar penilaian penugasan portofolio konten snapgram ini digunakan untuk menilai proses penugasan yang dapat menumbuhan tingkat kreativitas peserta didik yang nantinya akan diimbangi dengan penilaian akhir berupa tes lisan. Penugasan ini digunakan agar peserta didik terbiasa dengan kerja sama, berpikir kreatif, dan berketerampilan kreatif.

Penilaian penugasan portofolio konten snapgram ini berisi beberapa indikator yang akan peneliti nilai disetiap kegiatan penyelesaian tugas. Berikut tabel nilainya :

12Olah data peneliti, Juni 2021.

Indikator Skor

Kegiatan Pembuka 60

Kegiatan Inti 131

Kegiatan Penutup 49

Estimasi Waktu 16

Situasi dan Kondisi Kelas 32

Total skor 288

Skor maksimal 368

Persentase 78,26% (Baik)

Aspek yang dinilai Persentase Kategori

Siswa hadir dan mengikuti pembelajaran 75% Aktif

Siswa membuka dan melihat materi yang disampaikan oleh guru melalui instastory

instagram 75% Aktif

Siswa membaca materi yang disampaikan oleh guru melalui instastory instagram 75% Aktif Siswa ikut serta melakukan Tanya jawab melalui instastory instagram 95% Sangat Aktif Siswa berkelompok dan membuat akun kelompok masing-masing 100% Sangat Aktif Siswa memperhatikan teknis penugasan kelompok 100% Sangat Aktif Siswa mendapatkan Lembar Kerja Peserta Didik yang bisa di download di Bio 100% Sangat Aktif

Siswa berdiskusi 50% Cukup

Siswa mengunggah hasil jawabannya dalam bentuk snapgram di instatory instagram

kelompok masing-masing 95% Sangat Aktif

Siswa menandai (tag) akun controlling (admin guru dan peneliti) 91% Sangat Aktif Siswa saling melakukan tanya jawab, tanggapan, kritik, sanggahan, dan saran 98% Sangat Aktif Siswa menscreenshot setiap kegiatan di instastory 93% Sangat Aktif Siswa memposting hasil screenshot di feed instagram sebagai arsip 100% Sangat Aktif

Siswa mengumpulkan lembar kerja tepat waktu 77% Aktif

Jumlah

Rata-rata persentase 87% Sangat Aktif

12,24995455

(7)

Tabel 7. Hasil rekapitulasi penilaian penugasan portofolio konten snapgram, Juni 2021.13

Berdasarkan laporan hasil nilai di atas, penugasan dilakukan pada saat pembelajaran di kelas XI US 2.

penilaian tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil penugasan portofolio yang dikerjakan oleh peserta didik pada pembelajaran kooperatif tipe The Power of Two (dimodifikasi) dengan bantuan Instastory Instagram terlaksana dengan kategori Sangat Kreatif dan persentase sebesar 90,08%. Setiap indikator yang dipaparkan oleh peneliti memperoleh nilai yang beragam tetapi sudah dikatakan cukup baik. Dengan demikian, penugasan peserta didik pembelajaran sejarah berbasis media sosial Instagram dengan fitur Instastorynya telah dierapkan dengan baik dan peserta didik antusias.

d. Analisis nilai tes lisan

Penilaian tes lisan ini digunakan untuk menilai pemahaman dan pengetahuan peserta didik setelah dilakukakannya treatment (perlakuan) selama proses penugasan yang dapat menumbuhan tingkat kreativitas peserta didik. Tes lisan ini dengan tujuan agar peserta didik dapat memahami Kembali apa yang telh mereka kerjakan dan pahami. Tes lisan ini diberikan pada pertemuan terakhir dengan indikator berpikir kreatif.

Berikut tabel nilainya :

13Olah data peneliti, Juni 2021.

Tabel 8. Rekapitulasi persentase tes lisan.14

Berdasarkan laporan hasil nilai tes lisan di atas, tes lisan tersebut dilakukan pada akhir pertemuan di kelas XI US 2. Penilaian tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil tes lisan yang telah dilakukan oleh peserta didik selama memperoleh pembelajaran berbasis kooperatif tipe The Power of Two (dimodifikasi) dengan bantuan Instastory Instagram tersebut telah terlaksana dengan kategori Sangat Baik dan persentase rata-rata sebesar 93,92%. Setiap indikator yang dipaparkan oleh peneliti memperoleh nilai yang beragam dan cukup baik nilaianya, seperti pada indikator tertinggi yaitu pada soal ke 4 Elaboratif (Elaboration) dengan persentase 96,53%. Dengan demikian, penugasan peserta didik pembelajaran sejarah berbasis media sosial Instagram dengan fitur Instastorynya telah memberikan pengetahuan dan pemahaman yang cukup baik kepada peserta didik.

Hasil penghitungan Normalitas dan analisisnya

Tabel 9. Output Uji Normalitas Spss, Juni 2021.15 Pada tabel hasil output uji normalitas di atas, dihasilkan nilai signifikasi 0,088 bermakna nilai signifikasinya 0,088 > 0,05. Kesimpulannya yaitu data tersebut merupakan data yang berdistribusi normal.

Selanjutnya bisa dilakukan pengujiam linieritas.

14Olah data peneliti, Juni 2021.

15Olah data peneliti, Juni 2021.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Kesesuaian Judul/Headline dengan

materi 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 100%

Keefektifan penulisan kalimat sesuai

kotak yang tersedia 4 4 4 3 4 4 3 4 4 4 4 95,45%

Kesesuaian isi dengan materi masing-

masing kelompok 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 97,73%

Penggunaan gaya bahasa yang tepat,

jelas, dan orisinil 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 75%

Kreativitas jenis font yang dipakai 4 4 4 3 4 3 4 4 4 3 3 90,91%

Kesesuaian warna font yang dipakai 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 97,73%

Ketepatan ukuran font yang dipakai 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 97,73%

Ketentuan penggunaan fitur Tag, Question stiker, dan ditempatkan di tempat yang sudah tersedia

4 3 3 3 4 3 4 4 3 4 4 88,64%

Kesesuaian gambar/foto dengan materi 4 4 3 4 4 4 3 3 3 3 4 88,64%

Stiker/Emoticon menarik dan sopan 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 75%

Bertanya sesuai materi yang diunggah oleh kelompok pengunggah, menuliskan nama kelompok, bertanya melalui question stiker

3 4 3 3 3 3 3 3 4 4 4 84,09%

90,08%

Indikator Kelompok Rata-rata

%

Rata-rata

No.

Pertanyaan

Aspek Kreativitas

Indikator Persentase Nilai 1 Kelancaran

(Fluency)

Mencetuskan gagasan,

ide, atau jawaban 93,75%

2 Keluwesan (Flexybility)

Menghasilkan gagasan, ide, atau jawaban yang berbeda atau variatif

89,58%

3 Keorisinalitas (Originality)

Menghasilkan ide-ide

baru dan berifat orisinil 95,83%

4 Elaboratif (Elaboration)

Mencermati atau mengerjakan suatu gagasan dengan lebih mendalam dan kemudian menyimpulkan bersama

96,53%

RATA-RATA 93,92%

Sangat Baik

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 36

Normal Parametersa Mean .0000000

Std. Deviation 1.05026143

Most Extreme Differences Absolute .208

Positive .118

Negative -.208

Kolmogorov-Smirnov Z 1.250

Asymp. Sig. (2-tailed) .088

(8)

Hasil Penghitungan Linieritas dan analisisnya

Tabel 10. Output Uji linieritas Spss, Juni 2021.16 Pada tabel hasil output uji linieritas di atas yang mana penghitungan dilakukan menggunakan SPSS Versi 22 dan dengan bantuan Microsoft Excell. Pada penghitungan tersebut diperoleh nilai signifikasi deviation from linearity 0,606 yang artinya nilai signifikasinya 0,606 > 0,05, sedangkan nilai linierity nya sebesar 0,003 < 0,05. Kesimpulannya yaitu kedua variabel data saling berhubungan atau linier. Dengan demikian, data tersebut lolos uji linieritas dan berhasil lanjut ke tahap selanjutnya yaitu uji regresi linier sederhana.

Hasil penghitungan Uji Regresi Linier Sederhana dan analisisnya

Tabel 11. Output ANOVA Spss, Juni 2021.17

Pada tabel di atas dapat dilihat bahwa perolehan nilai F diketahui 10,890. Nilai signifikasi yang diperoleh sebesar 0,002 < 0,05, maka nampak adanya pengaruh antara variabel X terhadap Y. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa variabel bebas berpengaruh terhadap variable terikat dalam artian ada dampak atau pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe the power of two (dimodifikasi) berbantuan Instastory Instagram (X) terhadap kreativitas peserta didik (Y).

Selanjutnya, peneliti ingin menelaah seberapa besar pengaruh yang dihasilkan dari variabel X terhadap variabel Y akan dibahas pada tabel Model Summary berikut:

16Olah data peneliti, Juni 2021.

17Olah data peneliti, Juni 2021.

Tabel 12. Output Model Summary Spss, Juni 2021.18

Pada tabel output di atas pada bagian Model Summary disimpulkan bahwa besarnya nilai R atau bisa disebut korelasi yakni sebesar 0,493. Pada tabel tersebut juga terlihat bahwa R Square yang bisa disebut koefisien determinasi diperoleh sebesar 0,243. Dengan demikian, hasil tersebut mengandung artian bahwa pengaruh yang terjadi pada variabel bebas (model pebelajaran kooperatif tipe the power of two (dimodifikasi) berbantuan Instastory Instagram) terhadap variabel terikat (kreativitas peserta didik) yaitu sebesar 24,3%.

Tabel 13. Output Coefficient Spss, Juni 2021.19

Berdasarkan hitungan output pengujian regresi linier sederhana ditentukan sebelumnya bahwa nilai signifikasi harus < 0,05. Pada bagian Coefficients di atas, dapat diperoleh bahwa t sebesar 3,300 dan nilai signifikasi 0,002 < 0,05 yang artinya terdapat pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe The power of two (dimodifikasi) berbantuan Instastory Instagram) terhadap kreativitas peserta didik. Selanjutnya, bisa dilakukan analisis pengujian hipotesis.

Pengujian Hipotesis

1. Menyusun hitungan persamaan regresi sederhana seperti berikut :

Y = a + bX menjadi Y = 7,254 + 0,694X

Persamaan di atas mengandung kesimpulan bahwa dari hasil persamaan tersebut yaitu konstanta sebesar 7,254 bermakna nilai konstan variabel X sebesar 7,254 dan koefisien regresi X sebesar 0,694 bernilai positif yang berarti model pembelajaran kooperatif tipe The power of two (dimodifikasi) berbantuan Instastory Instagram) berpengaruh positif terhadap kreativitas peserta didik.

2. Menghitung korelasinya dengan Product Moment yang digunakan untuk uji hipotesis berupa hubungan antara dua variabel yaitu variabel X dan variabel Y.

Jenis variabel X dan Y dapat bermakna pengaruh

18Olah data peneliti, Juni 2021.

19Olah data peneliti, Juni 2021.

ANOVA Table Sum

of Squar

es df

Mean Squar

e F Sig.

Kreativita s PD * The Power of Two (dimodifik asi) berbantu an Insta IG

Betw een Grou ps

(Combin ed)

13.55

6 3 4.519 3.864 .018 Linearity 12.36

6 1 12.36

6 10.57

5 .003 Deviatio

n from Linearity

1.190 2 .595 .509 .606

Within Groups 37.41

7 32 1.169

Total 50.97

2 35

ANOVAa Model

Sum of Squares df

Mean

Square F Sig.

1 Regression 12.366 1 12.366 10.890 .002b

Residual 38.607 34 1.135

Total 50.972 35

a. Dependent Variable: Kreativitas PD

b. Predictors: (Constant), The Power of Two (dimodifikasi) berbantuan Insta IG

Model Summaryb

Model R R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1 .493a .243 .220 1.066

a. Predictors: (Constant), The Power of Two (dimodifikasi) berbantuan Insta IG

b. Dependent Variable: Kreativitas PD

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig.

B Std.

Error Beta

1 (Constant) 7.254 2.363 3.070 .004

The Power of Two (dimodifikasi) berbantuan Insta IG

.694 .210 .493 3.300 .002

a. Dependent Variable: Kreativitas PD

(9)

positif ataupun bisa juga akan menghasilkan pengaruh negatif. Adapun kaidah pengambilan keputusan pada uji korelasi atau hubungan ini yaitu jika nilai signifikasi < 0,05 berarti kedua variabel tersebut berkorelasi, namun jika ternyata nilai signifikasi > 0,05 berarti kedua variabel tidak saling berkorelasi.

Penghitungannya yaitu sebagai berikut :

Tabel 14. Output Coefficient Spss, Juni 2021.20

Nilai signifikasi 0,002 < 0,05 berarti kedua variabel berkorelasi atau berhubungan. Nilai Pearson Correlation yaitu 0,493 yang mana pada pedoman interpretasi koefisien korelasi berada pada korelasi sedang dan bentuk hubungannya adalah positif.

Kesimpulannya yaitu H0 ditolak, sedangkan Ha

diterima.

PEMBAHASAN

A. Pelaksanaan pembelajaran dengan model kooperatif tipe The Power of Two (dimodifikasi) berbantuan Instastory Instagram dalam mendukung terciptanya kreativitas peserta didik.

Pembelajaran kooperatif dengan tipe The Power of Two merupakan salah satu tipe model atau bentuk pembelajaran kooperatif yang bisa digunakan di mata pelajaran sejarah. Model pembelajaran tersebut menekankan pada sinergitas kekuatan kelompok kecil dalam menyelesaikan penugasan. Pembelajaran dengan model kooperatif tipe The Power of Two pada penelitian ini dimodifikasi oleh peneliti, menariknya dilakukan dengan bantuan salah satu fitur di Instagram yaitu Instastory yang dapat memberikan ruang pada peserta didik untuk berfikir dan berkreasi berbasis media sosial agar tidak hanya pengetahuan pelajaran saja yang meningkat namun juga pengetahuan bersosial media.

Keterlaksanaan pelaksanan pembelajaran kooperatif dengan tipe The Power of Two (dimodifikasi) berbantuan Instastory Instagram dilakukan dengan melakukan perlakukan atau treatment terlebih dahulu kemudian diamati disetiap kegiatan pembelajarannya, sehingga hasil yang didapatkan yaitu 78,26% dengan kategori baik. Sedangkan, rata-rata persentase angket

20Olah data peneliti, Juni 2021.

dari respon peserta didik sebesar 93%. Dengan demikian, hasil tersebut selaras definisi kooperatif tipe The Power of Two dimana aktifitas pembelajaran yang digunakan untuk mendorong pembelajaran kooperatif dan memperkuat arti penting untuk sinergitas kelompok kecil dua atau lebih dan strategi ini mempunyai prinsip bahwa berfikir berdua tentu lebih baik daripada berfikir sendiri. Maka dari itu, peserta didik memberikan respon baik atas terlaksananya pembelajaran dengan model yang diterapkan oleh peneliti.

Aktivitas atau kegiatan peserta didik bisa dikatakan masuk kategori sangat aktif dengan nilai sebesar 87%. Selanjutnya yaitu penilaian peserta didik terhadap penugasan konten snapgram yang telah ditugaskan kepada masing-masing kelompok. Penilaian ini juga digunakan untuk melihat aktivitas kelompok dalam kerja kelompok khususnya pada teknis pengolahan konten snapgram. Secara keseluruhan peserta didik kelas XI US 2 merasa antusias dengan gaya pembelajaran kooperatif tipe The Power of Two (dimodifikasi) dengan Instastory Instagram, sebab kreativitas mereka dalam memahami materi, mengedit, dan mengolah penugasan tersebut memperoleh rata- rata persentase 90,08% dengan kategori Sangat Kreatif.

Peserta didik mengolah penugasan tersebut dengan sedemikian rupa tentu sudah terlihat mulai tumbuh kreativitas mereka karena diberi kebebasan untuk berpikir, berkreasi, dan bekerja sama, terlebih lagi dibantu dengan media sosial Instagram yang tidak membuatnya jenuh saat pembelajaran. Dengan demikian, keterlaksanaan model pembelajaran berbasis online melalui pemanfaatan fitur platform media sosial Instagram berjalan dengan baik dan lancar.

Sejalan dengan Teori Konstruktivisme sosial dari Vygotsky dengan hasil di atas yang mana salah satu konsep pemikiran kognisi sosialnya sesuai yaitu Pembelajaran kooperatif sebagai implementasi konstruktivisme.21 Dalam hal ini, pengajaran pada umumnya menerapkan pembelajaran kooperatif (cooperative learning) dengan landasan berpikir yang mana siswa akan mudah memahami konsep permasalahan yang kompleks dengan saling mendiskusikannya dengan temannya atau dalam kelompok-kelompok baik besar ataupun kecil. Selain itu, peserta didik juga harus bisa membangun pengetahuannya sendiri dari pengalaman-pengalaman yang telah didapatkannya selama mengikuti pembelajaran, sedangkan guru nantinya akan mendampingi peserta didik dan memberikan dorongan, sehingga strategi pembelajaran berbasis Student- Centered Learning juga terlaksana dengan baik karena terlihat hasilnya bahwa siswa aktif dan kreatif. Dengan demikian, pembelajaran Pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe The Power of Two (dimodifikasi) berbantuan Instastory Instagram dapat membantu dan mendorong kreativitas peserta didik

21Suyono dan Hariyanto. Belajar dan Pembelajaran: Teori dan Konsep Dasar. (Bandung: Remaja Rosdakarya. 2014). Hlm. 111- 118.

Correlations The Power of

Two (dimodifikasi)

berbantuan

Insta IG Kreativitas PD The Power of

Two (dimodifikasi) berbantuan Insta IG

Pearson

Correlation 1 .493**

Sig. (2-tailed) .002

N 36 36

Kreativitas PD Pearson

Correlation .493** 1

Sig. (2-tailed) .002

N 36 36

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

(10)

pada mata pelajaran sejarah khususnya pada materi pokok tokoh-tokoh proklamator dan tokoh-tokoh lainnya sekitar proklamasi.

B. Hasil ketercapaian kreativitas peserta didik.

Pembelajaran tersebut cukup berpengaruh terhadap kegiatan peserta didik seperti keaktifan dalam pembelajaran, kreatif dalam mengolah penugasan, dan memberikan ruang bagi peserta didik dalam berinteraksi antar kelompok, mencurahkan ide, dan pengalaman uniknya di setiap aktivitas pembelajaran.

Ketercapaian tersebut dikuatkan oleh keterlaksanaan komponen pembelajaran Contextual Teaching and Learning yang berupa belajar untuk mengaitkan suatu konsep lama dengan konsep baru, belajar mengalami aktivitas secara langsung seperti praktek, belajar membangun dan menerapkan ide pemecahan masalah, belajar bekerja sama dalam tim, dan belajar membagikan pengalaman belajarnya.

Peserta didik dapat menghasilkan gagasan atau ide mereka masing-masing dan bervariatif sesuai dengan daya pikir kreatif mereka yang bersifat orisinil kemudian berusaha untuk membuat kesimpulan dari gagasannya tersebut. Persentase yang dihasilkan juga masuk kategori sangat baik dengan perolehan sebesar 93,92%. Keselarasan hasil persentase tersebut juga dapat dikaitkan dengan Teori Konstruktivisme sosial dari Vygotsky yang tertera pada salah satu konsep pemikiran kognisi sosial Vygotsky yaitu Cognitive Apprenticeship atau masa belajar kognitif yang mana proses belajar anak akan selalu melalui tahapan demi tahapan untuk meningkatkan kemampuan kognitifnya hingga akhirnya dia akan mampu menyelesaikan masalah tertentu dengan sendirinya.22 Sehingga, Peserta didik memiliki kecakapan dalam menjawab pertanyaan mengenai materi tentang tokoh-tokoh yang disebut sebagai proklamator dan tokoh-tokoh lainnya di sekitar proklamasi yang disampaikan dan jawaban dari mereka masing-masing sangat beragam sesuai dengan pengetahuan dan pemahaman mereka masing- masing.

Pertanyaan pertama mengandung aspek kelancaran (Fluency). Pada pertanyaan pertama dimana pada tabel di atas diperoleh persentase 93,75% dan termasuk kategori sangat baik. Pada aspek tersebut terdapat indikator berupa peserta didik mampu mencetuskan gagasan, ide, atau jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan oleh peneliti dinyatakan telah tercapai. Peserta didik diberi pertanyaan tentang pengetahuan mereka mengenai tokoh-tokoh proklamasi sejauh mana mereka mengenalnya. Banyak peserta didik yang hanya mampu menjawab nama tokoh-tokoh dan jabatannya saja, namun Sebagian besar juga sudah bisa menceritakan peran serta tokoh-tokoh proklamasi yang diutarakan tersebut. Berdasarkan sebagian besar

22Suyono dan Hariyanto. Belajar dan Pembelajaran: Teori dan Konsep Dasar. (Bandung: Remaja Rosdakarya. 2014). Hlm. 111- 118.

jawaban siswa tersebut membahas Soekarno-Hatta yaitu seperti, “Saat membahas mengenai perjuangan kemerdekaan Indonesia, yang terlintas dipikiran yaitu tentu Tokoh Proklamatornya siapa lagi kalau bukan Soekarno-Hatta, mereka juga disebut sebagai Founding Father-nya Negara Indonesia. Soekarno yang kita tau beliau berperan dalam pendirian partai politik PNI, bahkan juga memimpin organisasi PUTERA, PPKI, dan beberapa organisasi lagi, beliau tidak tanggung-tanggung dalam berusaha dan berjuang demi membantu rakyat melawan penjajah.

Soekarno menjadi orang nomor satu di Indonesia pada masa itu bukan berarti hidupnya tenang, namun beban pikiran yang dirasakan olehnya sangat banyak seperti strategi perang melawan penjajah hingga bagaimana melakukan diskusi dengan penjajah tanpa adanya pertempuran. Salah satu peran yang penuh memori yaitu beliau terlibat dalam merumuskan teks proklamasi Bersama dengan partnernya yaitu Moh.

Hatta dan juga ada Ahmad Subarjo. Akhirnya tercapailah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Moh.

Hatta yang selalu mendampingi Soekarno dan mengimbangi opini dan argumentasi Soekarno. Beliau juga aktif dalam PUTERA, BPUPKI, hingga PPKI.

Beliau mendampingi Soekarno pada saat pembacaan teks proklamasi”.Dengan demikian, untuk selanjutnya guru bisa membantu meningkatkan pengetahuan dan pemahaman peserta didik mengenai biografi dan peran aktif para tokoh-tokoh terlibat peristiwa proklamasi.

Pertanyaan kedua mengandung aspek keluwesan (Flexibility). Pada pertanyaan kedua dimana pada tabel di atas diperoleh persentase 89,58% dan termasuk kategori sangat baik. Pada aspek tersebut terdapat indikator berupa peserta didik mampu menghasilkan gagasan, ide, atau jawaban yang variatif atau berbeda satu sama lain dari pertanyaan yang dilontarkan oleh peneliti. Pertanyaannya tentang pengetahuan mereka dan sejauh mana mereka mengenalnya mengenai salah satu peristiwa yang sangat khas dari peristiwa proklamasi yaitu peristiwa rengasdengklok, yang mana dari peristiwa tersebut nampak beberapa tokoh-tokoh proklamasi terlibat.

Sebagian besar jawaban siswa yaitu seperti, “Peristiwa Rengasdengklok merupakan tahap terdekat dengan kemerdekaan Indonesia yang mana pada saat para mendengar ada berita Jepang Kalah perang dengan Amerika, langsung buru-buru para pemuda pemuda seperti Wikana, Darwis, Sayuti Melik, Sukarni, dan lainnya rapat untuk mendesak Soekarno-Hatta agar segera memproklamasikan kemerdekaan. Akan tetapi, Soekarno dan Hatta tidak segera melakukannya, akibatnya suatu Ketika Soekarno dan Hatta terpaksa diculik oleh para pemuda ke daerah Rengasdengklok dan mendesaknya. Akhirnya selang beberapa waktu setelah berdiskusi dengan matang, maka akhirnya Soekarno-Hatta merumuskan teks proklamasi ditemani juga dengan Ahmad Soebarjo dan diketik oleh Sayuti Melik di Rumah Laksamana Tadashi Maeda, kemudian pada tanggal 17 Agustus 1945 terlaksanalah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia”. Oleh karena itu,

(11)

untuk selanjutnya guru bisa membantu meningkatkan pengetahuan asli peserta didik kemudian mengkolaborasikannya dengan pengetahuan baru mengenai para tokoh-tokoh yang terlibat peristiwa proklamasi dengan ingatan yang bersifat jangka panjang.

Pertanyaan ketiga mengandung aspek keorisinalitas (Originality). Pada pertanyaan ketiga ini terlihat pada tabel di atas diperoleh persentase 95,83%

dan termasuk kategori sangat baik. Pada aspek tersebut terdapat indikator berupa peserta didik diharapkan mampu menghasilkan ide-ide baru yang bersifat orisinil dari pertanyaan yang dilontarkan oleh peneliti.

yang berarti harapan peneliti agar peserta didik mampu menghasilkan ide-ide baru yang bersifat orisinil tersebut cukup terlaksana dengan baik. Pertanyaannya tentang pengetahuan dan pemahaman mereka mengenai hambatan yang dihadapi oleh tokoh-tokoh proklamasi pada proses menuju kemerdekaan dan bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasi hambatan tersebut. Peserta didik Sebagian besar menjawab seperti, “Menurut pendapat kami berdasarkan pemahaman kami, intinya hambatan yang dirasakan oleh tokoh-tokoh proklamasi yaitu rakyat semakin bergejolak membenci penjajah dan ingin segera menyerang, sedangkan jika rakyat Indonesia bertindak gegabah tentu akan merugikan rakyat itu sendiri. Sama halnya dengan Soekarno-Hatta yang didesak oleh para pemuda untuk segera memproklamasikan kemerdekaan. Hingga akhirnya, para tokoh proklamasi dan proklamator bertanggung jawab dalam kesejahteraan rakyatnya. Solusi yang diambil oleh para tokoh proklamasi yaitu dengan berdiskusi, menenangkan rakyat, dan tentu sudah dipertimbangkan dan dipikirkan matang-matang sebelumnya hingga puncaknya yaitu pada penculikan Soekarno-Hatta demi segera diproklamirkan kemerdekaan Indonesia”. Dengan demikian, untuk selanjutnya guru bisa membantu secara perlahan dan bertahap dalam meningkatkan pengetahuan dan pemahaman peserta didik mengenai para tokoh-tokoh yang terlibat peristiwa proklamasi, baik itu biografi, peran, hambatan yang dialami, dan solusinya.

Pertanyaan keempat mengandung aspek Elaboratif (Elaboration). Pada pertanyaan keempat dimana pada tabel di atas diperoleh persentase 96,53%

dan termasuk kategori sangat baik. Pada aspek tersebut terdapat indikator berupa peserta didik mampu mencermati atau mengerjakan suatu gagasan dengan lebih mendalam dan menyimpulkan bersama mengenai pertanyaan yang dilontarkan oleh peneliti.

Peserta didik diberi pertanyaan tentang identifikasi nilai-nilai perjuangan atau pembelajaran yang dapat diambil dari para tokoh proklamator dan tokoh-tokoh lainnya sekitar proklamasi di setiap peristiwa.

Kebanyakan peserta didik mampu menjawab di pertanyaan keempat ini sebab peserta didik mampu menguraikan gagasan-gagasan mereka secara lebih mendalam kemudian mereka menyimpulkan nilai-nilai yang dapat dipetik dari perjuangan dan peran para

tokoh proklamasi. Contohnya beberapa siswa bisa menjawab seperti ini, “Perjuangan para tokoh proklamasi kemerdekaan dalam memproklamasikan kemerdekaan tentunya tidak secara instan dengan desakan para pemuda kemudian langsung perumusan teks proklamasi, namun perlu diingat bahwa para tokoh proklamasi jauh-jauh hari sudah memikirkan bagaimana kedepannya yang akan terjadi dengan Indonesia baik itu kemungkinan terbaik ataupun kemungkinan terburuk dan terkait perumusan teks proklamasi sebagai bukti kemerdekaan Indonesia juga perlu dirumuskan matang-matang, selain itu menariknya, pada saat pembacaan teks proklamasi dan disiarkan di radio-radio, pemberitaan dan bahasa yang digunakan menggunakan bahasa setiap daerah masing-masing agar tidak diketahui oleh Jepang, sehingga nilai yang bisa kita ambil yaitu segala sesuatu yang akan kita lakukan perlu dipikirkan matang-matang dan dipikirkan terlebih dahulu kemungkinan terbaik dan terburuknya agar kedepannya kita tidak kecewa dengan hasilnya”. Oleh karena itu, untuk selanjutnya guru bisa membantu melatih meningkatkan pengetahuan dan pemahaman peserta didik mengenai biografi, peran aktif, dan nilai- nilai perjuangan yang dapat diambil dari para tokoh- tokoh terlibat peristiwa proklamasi.

Pertanyaan tambahan juga diberikan mengenai pengetahuan peserta didik seputar konten yang telah dilakukannya untuk mengetahui sejauh mana pembelajaran tersebut terkonstruk di dalam kreativitas peserta didik. Peserta didik mampu menjawab dengan pemahaman mereka masing-masing tentang kesulitan dan kemudahan yang selama penugasan dirasakan.

Beberapa peserta didik menjawab mengalami kesulitan karena terkendala jaringan yang lemot yang menghambat pengiriman di instastory. Sedangkan sebagian peserta didik menjawab kesulitan karena proses editing yang cenderung membutuhkan ketelitian agar hasilnya bisa terbaca dan menarik. Beberapa peserta didik tentunya juga mengemukakan kemudahan yang dirasakan dari pembelajaran tersebut yaitu pembelajaran simpel dan praktis karena hanya bermodalkan gadget mereka bisa mengikuti proses pembelajaran, selain itu aplikasi Instagram sangat mudah diakses, peserta didik sangat menyukai fitur instastory karena praktis dan ringan bisa sebagai tempat interaksi antar kelompok lainnya, dan tentunya peserta didik senang bisa menambah kemampuan mengolah media sosial dan pengetahuan yang berpengaruh positif terhadap kecakapan ilmu pengetahuan dan penguasaan teknologi khususnya pada mata pelajaran sejarah, sebab sejarah tidak lagi membosankan tetapi sudah menjadi menyenangkan.

Peneliti ataupun guru memberikan kebebasan kepada mereka untuk menjawab sesuai pemahaman masing- masing. Setelah diberikannya perlakuan atau treatment melalui model pembelajaran sejarah yang dituangkan dalam bentuk penugasan portofolio konten snapgram, secara tidak langsung peserta didik mampu terasah kreativitasnya dalam mengolah dan mengedit dengan

Gambar

Tabel 1. Validitas Angket Respon Peserta Didik. 7 Penghitungan  uji  validitas  ini  dilakukan  dengan  menggunakan  SPSS  versi  22  dan  Microsoft  Excell dengan nilai r tabel  yaitu 0,443
Tabel 5. Hasil keterlaksanaan pembelajaran, Juni  2021. 11
Tabel 7. Hasil rekapitulasi penilaian penugasan  portofolio konten snapgram, Juni 2021
Tabel 10. Output Uji linieritas Spss, Juni 2021. 16 Pada tabel hasil output uji linieritas di atas yang  mana  penghitungan  dilakukan  menggunakan  SPSS  Versi  22  dan  dengan  bantuan  Microsoft  Excell
+2

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan analisis hasil penelitian diperoleh simpulan bahwa metode pembelajaran kooperatif teknik Student Team Achievement Division berbantu media permainan Word

(3) Pemanfaatan Monumen Pejuang Pahlawan Kemerdekaan Republik Indonesia dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran sejarah di SMA yaitu dengan cara membuat media power

Berdasarkan hasil pada penelitian yang dilakukan, dapat diketahui bahwa followers Instagram warunk upnormal tertarik dengan pemasaran konten yang mengedepankan konten

Dari semua hasil analisis yang diperoleh, seperti yang telah digambarkan dalam hasil penelitian diatas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa pendapatan orang tua,

Berdasarkan deskripsi hasil penelitian yang telah diuraikan, dapat diketahui bahwa pelaksanaan pembelajaran ekonomi dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi analisis pengaruh penerapan pendekatan STS ( Science Technology Society ) terhadap keterampilan sosial siswa

Hasil analisis data setelah diberikan perlakuan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe think pair share pada mata pelajaran Kimia materi Hidrokarbon

SKRIPSI PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION STAD PADA MURID KELAS IV SDN LARIANGBANGI 1 KOTA MAKASSAR