• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN I.1

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN I.1"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Tantangan utama sebuah proyek adalah mencapai sasaran dan tujuan proyek.

Penggunaan metode manajemen proyek yang baik akan mengiringi kesuksesan suatu proyek. Pendekatan mengenai tahapan proyek salah satunya yaitu mengidentifikasi langkah yang harus diselesaikan. Salah satu pembahasan yang dibahas dalam PMBOK Sixth Edition yaitu kesesuaian manajemen risiko (PMI, 2017), hal inilah yang mendasari bahwa pemilik proyek dan pelaksana proyek harus memahami indikator pentingnya manajemen risiko. Proyek memiliki siklus hidup yang terdiri dari fase inisiasi proyek, fase perencanaan proyek, fase eksekusi, fase monitoring dan controlling dan fase penutupan proyek. Proses manajemen risiko berada fase perencanaan proyek, agar pemilik proyek dan pelaksana proyek dapat mengetaui risiko yang yang harus dihindari.

Risiko merupakan ukuran kemungkinan kerugian yang timbul dari sumber bahaya (hazard) tertentu atau dengan kata lain resiko merupakan probabilitas kerusakan atau kerugian bahaya yang melekat pada spesifik individu atau kelompok yang terpapar oleh hazard tersebut (Perwanto & Mauidzoh, 2016).

Salah satu keilmuan yang mempelajari bagaimana menganalisis resiko yaitu risk management.

Risk management merupakan serangkaian prosedur dan metodologi yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau dan mengendalikan risiko yang timbul (Zuhri, 2018). Resiko terkait keselamatan, kesehatan kerja yang bersumber dari suatu hazard merupakan kemungkinan pekerja dapat dirugikan. K3 merupakan hal yang berkitan dengan K3, Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). Upaya peningkatan dan pemeliharaan kesehatan yang setinggi-tingginya bagi pekerja di semua jabatan, pencegahan penyimpangan kesehatan yang disebabkan oleh kondisi pekerja, perlindungan pekerja dari risiko akibat faktor yang merugikan kesehatan dan merupakan suatu keadaaan terpenuhinya persyaratan kesehatan, keselamatan kerja dalam segala tempat agar tidak terjadinya kasus kecelakaan kerja (PEMENKES RI, 2016).

(2)

2 Sepanjang tahun 2018 Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) mencatat terjadinya 147.000 kasus kecelakaan kerja atau 40.273 kasus setiap harinya.

Dari jumlah tersebut sebanyak 4.678 kasus (3,18 persen) kasus berakhir dengan kematian (BPJS, 2019). Faktor penyebab kecelakan kerja disebabkan oleh faktor manusia (unsafe human acts), berupa perbuatan manusia yang tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD), bekerja tidak sesuai prosedur dan sikap kerja yang tidak benar. Selain faktor manusia faktor lainnya yaitu disebabkan oleh faktor lingkungan (unsafe condition), berupa keadaaan lingkungan yang tidak aman, seperti mesin tanpa pengaman dan peralatan kerja yang sudah tidak baik (Warawu & Yuamita, 2016). Berdasarkan hal tersebut perlu dilakukan identifikasi bahaya dan penilaian risiko serta pengendalian untuk mencegah dan mengurangi potensi terjadinya kecelakaan kerja agar perusahaan mencapai tujuan program K3 yaitu zero accident sesuai apa yang diinginkan oleh perusahaan dan pihak-pihak terkait.

Pekerjaan proyek merupakan salah satu sumber kecelakaan yang mungkin terjadi pada suatu proyek konstruksi. Menurut Direktur Kesehatan Kerja dan Olahraga, Kementerian Kesehatan RI, Kartini Rustandi para pekerja berpotensi terpapar bahaya saat bekerja seperti penyakit akibat kerja dan kecelakaan pada saat bekerja dan drg. Kartini Rustandi, M.Kes juga mengatakan bentuk penyakit dan kecelakaan kerja itu banyak faktor pemicunya. Dengan adanya kebijakan K3 dapat meningkatkan keselamatan para pekerja dan para pekerja sadar akan pentingnya mengetahui bahaya (hazard) di lingkungan kerja.

(3)

3 Gambar I. 1 Persentase Jenis Kecelakaan Kerja

Pada Gambar I.2 menjelaskan tentang 5 jenis bahaya dari 10 jurnal relevan secara umum yang dikumpulkan dari jenis-jenis kecelakaan kerja yang terdapat pada jurnal tersebut. Didapatkan sumber bahaya dengan kategori bahaya kimia, bahaya fisika, bahaya biologi, bahaya psikososial, bahaya ergonomi dan bahaya mekanik. Dari hasil analisis jurnal terdahulu di dapatkan jenis bahaya kecelakaan kerja pada proyek paling banyak yaitu dari faktor bahaya fisik dengan persentase 74%, bahaya ini berasal dari segala energi yang jumlahnya lebih besar dari kemampuan diri pekerja menerimanya atau energi yang berlebih yang berasal dari alat-alat kerja yang ada disekitar tempat kerja seperti tertimpa material, patah tulang, memar, cidera dan lain-lain. Sistem manajemen K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) diwajibkan untuk diterapkan pada saat pelaksanaan pekerjaan konstruksi karena ini juga merupakan bagian dari perencanaan dan pengendalian proyek khusunya hazard yang akan timbul dalam melakukan pekerjaan proyek (Novianto dkk, 2016). Tertinggi kedua yaitu sebanyak 9% dengan kecelakaan kerja yang berhubungan dengan bahaya kimia dan biologi, bahaya kimia muncul karena pada perusahaan kontruksi tidak luput dengan penggunanaan gas dan bahaya bologi timbul karena adanya virus yang menular dari pekerja kepada pekerja. Dari pengamatan resiko yang dilakukan di perusahaan juga ditemukan sumber bahaya yang bersumber dari bahaya kimia (gas) dan bahaya biologi. Analisis kedua jenis sumber bahaya tersebut juga menjadi dasar bagi penulis untuk menentukan permasalahan dalam proyek dan resiko inilah yang menjadi pembahasan pada penelitian ini

74%

9%

9% 4% 4%

Persentase jenis kecelakaan. sumber : 10 jurnal

Bahaya Fisik Bahaya Kimia Bahaya Biologi Bahaya Psikososial Bahaya Ergonomi

(4)

4 untuk menjadi dasar menentukan sumber masalah, karena resiko dan sumber masalah yang timbul yaitu dari pekerjaan proyek konstruksi.

Pada proyek ducting fiber optic ditemukan objek permasalahan yang menimbulkan resiko terkait K3 dan merupakan resiko yang terjadi pada saat proyek berlangsung. Berikut merupakan resiko yang terjadi pada saat proyek berlangsung.

Tabel I. 1 Resiko pada Proyek

Resiko Proyek yang dikerjakan

1. Banjir Ducting fiber optic

2. Pandemi Covid-19 Ducting fiber optic 3. Distribusi listrik dan gas bawah tanah Ducting fiber optic

Pada tabel I.1 ditemukan 3 resiko utama dan resiko lain yang merupakan sumber dari kecelakaan kerja pada proyek ducting fiber optic. Dari adanya resiko utama tersebut maka penelitian ini akan menjadi fokus pada pembahasan sumber bahaya. Penelitian ini juga akan mengidentifikasi sumber resiko lain yang terjadi pada proyek ducting fiber optic.

Dari analisis resiko yang dilakukan oleh perusahaan, terdapat beberapa hal yang tidak diterapkan oleh perusahaan pada fase eksekusi dalam penerapan K3 dan tidak ditemukan risk breakdown structure (RBS), risk register dan risk response. Tidak ada RBS, risk register dan risk respon artinya tidak terpenuhinya permintaan permerintah terkait penerapan kesehatan dan keselamatan kerja (K3) pada perusaaan. Akibatnya jika dikemudian hari terjadi sesuatu yang tidak diinginkan seperti kecelakaan kerja, perusahaan akan merasa kesulitan untuk menentukan langkah yang harus diambil dengan cepat dan tepat tanpa adanya RBS, risk register dan risk response.

Berdasarkan pemaparan yang dijelaskan mengenai identifikasi potensi bahaya dan menganalisis resiko yang timbul dalam suatu peroyek maka digunakanlah metode Hazard Identification and Risk Assessment (HIRA) karena metode HIRA merupakan metode yang bertujuan untuk mendefinisikan sebab-akibat

(5)

5 suatu resiko yang akan terjadi pada sebuah proyek dan metode HIRA sudah banyak digunakan untuk mengidentifikasi sumber bahaya (Hazard Identification) dan melakukan penilaian risiko (Risk Assessment).

Meminimalisir kecelakaan kerja diperlukan agar para pekerja mendapatkan hak untuk dijaga keselamatannya selama melakukan pekerjaan proyek.

I.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, berikut merupakan perumusan masalah pada penelitian ini, sebagai berikut.

1. Apa sumber bahaya dari resiko yang telah teridentifikasi pada proyek pekerjaan ducting fiber optic?

2. Resiko apa saja yang ada pada proyek pekerjaan ducting fiber optic?

3. Bagaimana hasil dari Risk Assessment dan Risk Response pada proyek pekerjaan ducting fiber optic?

I.3 Tujuan Masalah

Berdasarkan uraian dari perumusan masalah yang telah dikemukakan sebelumnya, berikut merupakan tujuan masalah pada penelitian ini, sebagai berikut.

1. Mengidentifikasi sumber potensi bahaya yang ada di proyek pekerjaan ducting fiber optic.

2. Menentukan resiko yang ada di proyek pekerjaan ducting fiber optic.

3. Menentukan hasil Risk Asseessment dan memberikan saran pencegahan risiko yang telah teridentifikasi terkait potensi bahaya pada proyek pekerjaan ducting fiber optic.

I.4 Batasan Masalah

Adapun batasan masalah pada penelitian ini, sebagai berikut.

1. Sumber data berasal dari internal maupun eksternal pihak PT. DCM.

2. Waktu pengambilan data penelitian pada PT.DCM dilakukan pada 19 Jsnuari 2020 sampai dengan 16 Juni 2020.

3. Penelitian hanya sampai pada tahap menganalisis sumber bahaya.

(6)

6 4. Penelitian ini hanya sampai pada tahap identifikasi, tidak sampai pada tahap

implementasi.

5. Proses identifikasi bahaya dan Risk Assessment dilakukan dengan menggunakan ketentuan perusahaan.

6. Proses identifikasi bahaya dan Risk Assessment dilakukan untuk mencari dan menilai risiko hanya pada fase eksekusi.

7. Analisis sumber bahaya dan analisis risiko hanya dilakukan pada risiko dengan kategori very high risk dan moderate risk saja.

I.5 Manfaat Penelitian

Adapun Berdasarkan tujuan penelitian yang dicapai, maka penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat dalam Pendidikan baik secara langsung maupun tidak langsung. Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Bagi Perusahaan

a. Memberikan saran serta masukan pada PT. DCM untuk melakukan Hazard Identification and Risk Assesment pada setiap proyek yang akan dilakukan.

2. Bagi Penulis

a. Memberikan pengetahuan dan wawasan serta pemahaman lebih lanjut mengenai identifikasi sumber bahaya menggunakan metode HIRA.

I.6 Sistematika Penulisan

Bagian isi dari Tugas Akhir ini terdiri atas enam bab yang saling berkaitan, antara lain:

Bab I Pendahuluan

Bab ini berisikan uraian mengenai latar belakang penelitian, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.

Bab II Tinjauan Pustaka

Bab ini berisikan literature review yang berhubungan dengan permasalahan yang di bahas dan berisikan pembahasan hasil-hasil penelitian terdahulu.

(7)

7 Bab III Metodologi Penelitian

Bab ini berisikan langkah-langkah penelitian secara rinci meliputi:

tahap merumuskan masalah penelitian, merumuskan hipotesis, dan mengembangkan model penelitian, mengidentifikasi dan melakukan operasionalisasi variabel penelitian, menyusun kuesioner penelitian, merancang pengumpulan dan pengolahan data, merancang analisis pengolahan data.

Bab IV Pengumpulan dan Pengolahan Data

Bab ini berisikan proses pengumpulan dan pengolahan data yang terkait dalam penelitian ini.

Bab V Analisis Data

Bab ini berisikan analisis yang dilakukan terhadap data-data yang telah didapatkan serta usulan perbaikan yang diberikan.

Bab VI Kesimpulan dan Saran

Bab ini berisikan kesimpulan dan saran yang berkaitan dengan penelitian yang telah dilakukan.

Referensi

Dokumen terkait

Gambar 6, Gambar 7 dan Gambar 8 menunjukkan perbandingan hasil kalibrasi jarak pada sumbu gerak X, Y dan Z masing-masing kode pemrograman G01 dapat terlihat

banyak masalah dalam praksis pembelajaran Sejarah di abad 21. Artikel ini bertujuan untuk melakukan telaah teoritis terhadap model pembelajaran dan materi ajar Sejarah

Penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya pengaruh antara motivasi berprestasi dan disiplin kerja terhadap kinerja pegawai Biro Administrasi Umum (BAU) UST Yogyakarta

spinigerum ini kemudian dibandingkan dengan hasil immunoblotting antara antigen ES-L3-Gs dengan antibodi poliklonal IgG kelinci pada penelitian ini menunjukkan

Sebagai contoh adalah jenis Kandangan 1 yang memiliki ukuran buah relative besar (2.250 gram), dengan rasio antara daging buah dengan biji (pongge) sebesar 55,91 berbanding

Secara umum, tujuan pengembangan nilai agama pada diri anak adalah meletakkan dasar-dasar keimanan dengan pola takwa kepada-Nya dan keindahan akhlak, cakap, percaya pada

Trauma laring dapat menyebabkan edema dan hematoma di plika ariepiglotika dan plika ventrikularis, oleh karena jaringan submukosa di daerah ini mudah membengkak.

2. etidak %o%okan golongan darah antara ibu dan janin. @erutama pada golongan darah 3&B&*. A9ang kerap terjadi antara golongan darah anak  3 atau B dengan ibu bergolongan