BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Menurut Depdiknas (Daryono dkk, 2014) Perkembangan bimbingan dan konseling pada saat ini telah mengalami perubahan paradigma dalam pendekatannya, dari pendekatan yang berorientasi tradisional, remedial, klinis, dan terpusat pada konselor menuju ke pendekatan yang berorientasi perkembangan dan preventif. Lebih lanjut Myrick (Sutoyo & Supriyanto, 2015) menjelaskan bahwa pendekatan BK Komprenesif didasarkan pada upaya dalam mencapai tugas perkembangan, pengembangan potensi, dan mengentaskan permasalahan konseli.
Suherman (Daryono dkk, 2014), menjelaskan bahwa BK komprehensif merupakan pandangan mutakhir yang bertitik tolak dari asumsi yang positif mengenai potensi manusia. Menurut Gysbers & Henderson (2012), terdapat lima premis dasar yang menegaskan istilah BK Komprehensif, yaitu : (1) BK adalah sebuah program; (2) Program BK adalah perkembangan dan komprehensif; (3) Program BK melibatkan kolaborasi antar staf; (4) Program BK dikembangkan melalui serangkaian proses sistematis sejak dari perencanaan, desain, implementasi, evaluasi, dan keberlanjutan, dan; (5) Program BK ditopang oleh kepemimpinan yang kokoh. Cobia (2007) menjelaskan bahwa program BK Komprehensif mencakup layanan dan program mulai dari program dan layanan perkembangan hingga intervensi individu, yang meliputi konseling, konsultasi, dan rujukan ke layanan khusus.
Pemberian layanan BK Komprehensif ini memiliki beberapa aspek bidang layanan. Menurut ASCA (Gysbers & Henderson, 2012) bidang layanan BK adalah sebuah komponen yang terdapat dalam pemberian layanan BK khususnya dalam ranah pendidikan yang mengemukakan tiga bidang pengembangan layanan BK yaitu akademik, pribadi/ sosial, dan karier. BK Komprehensif, diharapkan mampu memberikan layanan terhadap peserta didik agar dapat lebih sistematis dan lebih dioptimalkan.
commit to user
Menurut Purwaningrum (2018) pemberian layanan BK perlu memperhatikan keseimbangan dengan berbagai pendekatan metode yang beragam yang disesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan nyata peserta didik. ASCA (2005) menjelaskan bahwa dalam sekolah CSCP (Comprehensive School Counseling Program) selain untuk meningkatkan prestasi akademik juga bertujuan untuk meningkatkan perkembangan pribadi/ sosial, dan mendorong pengembangan karier. Menurut Rahman (Kurniawan, 2015), tujuan utama pemberian layanan BK di sekolah adalah memberikan dukungan pada pencapaian kematangan kepribadian, keterampilan sosial, kemampuan akademik, dan bermuara pada terbentuknya kematangan karier individual yang diharapkan dapat bermanfaat dimasa yang akan datang.
Layanan BK yang dimaksudkan, tidak terlepas dari makna proses dalam bimbingan dan konseling. Cobia (2007) menjelaskan bahwa BK adalah proses interaksi konselor bersama dengan konseli, dimana konseli digambarkan sebagai pihak yang rentan dan membutuhkan bantuan, sedangkan konselor merupakan orang yang terlatih dan terdidik untuk memberikan bantuan terhadap konseli. Menurut Kurniawan (2015) program BK merupakan ilmu yang bergerak pada bidang human service. Program BK ini ditujukan bagi para peserta didik untuk mencapai perkembangan optimal dan kemandirian secara utuh terkait dengan bidang pribadi/ sosial, akademik, dan karier.
Peserta didik merupakan anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan dirinya dengan mengikuti pendidikan pada jalur sekolah (Chasiyah, Chadidjah, &
Legowo, 2009). Peserta didik ini pastinya membutuhkan bantuan dari seorang guru untuk membimbing dan mengembangkan potensi dan bakatnya. Selain itu, peserta didik juga membutuhkan bantuan untuk menyelesaikan permasalahannya terkait dengan perkembangannya baik di bidang pribadi-sosial, belajar dan karier.
Bidang layanan BK berperan penting dalam kesejahteraan proses pendidikan yang dijalani oleh peserta didik, namum dalam kenyataannya masih terdapat berbagai permasalahan dalam pemberian layanan BK. Menurut Walgito (2010) beberapa permasalahan yang dihadapi oleh guru BK yaitu, permasalahan peserta didik menyangkut tentang bidang belajar. Hal tersebut dikarena prestasi belajar yang kurang
memuaskan dan guru BK sering menemukan kesulitan dari peserta didik yang tidak dapat melanjutkan studi lanjutan dan kesulitan memilih studi lanjut yang sesuai.
Permasalahan lainnya yaitu menghadapi peserta didik yang mengalami kesulitan dalam hal pribadi, dan menghadapi peserta didik yang kesulitan dalam lapangan social ajustment-nya.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Rizkiwati, Setyowani, & Mugiarso (2014) di SMA Negeri se-Kota Purwokerto terdapat beberapa hambatan yang dialami oleh guru BK dalam upaya meningkatkan ke-profesionalisasiannya. Beberapa hambatan tersebut yaitu (1) fenomena yang menunjukkan bahwa kualifikasi pendidikan Guru BK di SMA Negeri se-Purwokerto yang berlatar belakang pendidikan S1 BK hanya berjumlah 15 orang, sedangkan sisanya yang berjumlah 10 orang terdiri dari S1 Psikologi, (2) beberapa sekolah Guru BK tidak mendapatkan jam masuk kelas, sehingga beberapa Guru BK kesulitan dalam pemberian layanan, khususnya layanan klasikal, (3) beberapa Guru BK memiliki masa kerja yang kurang dari 2 tahun, sedangkan beberapa diantaranya memasuki masa pensiun. Hal ini membuat suasana kerja di sekolah kurang nyaman dan canggung, (4) motivasi kerja guru BK di SMA Negeri se-Purwokerto tergolong rendah dibuktikan dari kurangnya ketertarikan terhadap perkembangan terbaru seputar BK, (5) beberapa sekolah tidak memiliki ruang konseling, sehingga guru BK tidak dapat melakukan konseling individual ataupun kelompok dengan nyaman dan kurang kondusif.
Jadi, berdasarkan beberapa permasalahan tersebut diperlukan adanya inovasi untuk dapat melakukan kegiatan layanan BK yang lebih fleksibel dan mengedepankan teknologi, salah satunya adalah dengan menggunakan konseling online dengan berbasis media aplikasi LINE. Konseling online ini nanti akan memanfaatkan fitur LINE diantaranya adalah fitur chat 1:1 untuk pelaksanaan konseling individu ataupun kelompok, fitur broadcast dan timeline untuk pemberian layanan informasi bagi peserta didik SMA di Surakarta. Hal ini bertujuan untuk mampu memberikan layanan BK terhadap peserta didik yang bersifat responsif dan lebih fleksibel dengan mengedepankan teknologi
Penelitian yang dilakukan oleh Kurniawan (2015) menemukan bahwa 40 peserta didik SMA Negeri di Yogyakarta menganggap guru BK adalah “polisi sekolah”, hal tersebut akan berdampak pada pemberian layanan BK dalam proses perkembangan peserta didik. Guru BK akan mengalami hambatan dalam pemberian layanan BK karena peserta didik kurang berminat dan kurang membuka diri akan permasalahan yang dihadapinya terhadap guru BK. Berdasarkan hal tersebut pemilihan program layanan BK komprehensif dipilih sebagai pola layanan yang akan dikembangkan di Sekolah Menengah Atas (SMA). SMA merupakan jenjang pendidikan menengah yang mengutamakan penyiapan siswa untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi dengan pengkhususan (Depdiknas, 2004: 112).
Gybers (2012) mengungkapkan bahwa sebagian besar konselor sekolah yang berada di negara Amerika Serikat terlalu disibukkan dengan tugas-tugas dan kewajiban yang tidak ada hubungannya dengan ranah bimbingan dan konseling dan hal itu dianggap tidak profesional. Brown & Trusty (2005) berpendapat bahwa, ASCA (American School Counselor Association) melakukan penelitian yang terkait dengan kinerja konselor, hasilnya ditemukan bahwa konselor sekolah lebih banyak menghabiskan waktu antara 1 sampai 88% dari keseluruhan waktu bekerjanya untuk kegiatan yang tidak bersifat profesional dan tidak ada kaitannya dengan layanan BK.
Hal serupa dinyatakan oleh Yusuf & Nurihsan (2005), persoalan dalam penyelesaian permasalahan terkait dengan bidang layanan BK sampai pada saat ini yaitu, adanya kesenjangan rasio guru BK dengan jumlah peserta didik di sekolah.
Permendikbud Nomor 15 Tahun 2018 pasal 4 ayat (4) berbunyi Pelaksanaan pembimbingan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dipenuhi oleh Guru Bimbingan dan Konseling atau Guru Teknologi Informasi dan Komunikasi dengan membimbing paling sedikit 5 (lima) rombongan belajar per tahun. Peraturan tersebut sama dengan penjelasan dalam Permendikbud Nomor.111 Tahun 2014 yang menyatakan pengakuan jam kerja konselor atau guru bimbingan dan konseling diperhitungkan dengan rasio 1:
(150 - 160) ekuivalen dengan 24 jam kerja.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Cahyaningtyas & Muis (2017) di Pondok Pesantren Al Fattah Sidoharjo beberapa hambatan yang dialami oleh guru BK dalam pemberian layanan BK diantaranya yaitu beban kerja yang diberikan kepada guru BK terlalu banyak, yaitu satu guru BK harus mengajar 210 santri, hal tersebut tentu tidak sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan yaitu raiso guru BK dengan siswa adalah 1 : 150. Selain itu, pelaksanaan layanan BK dirasa kurang maksimal karena tidak adanya jam khusus untuk melakukan layanan secara klasikal.
Berdasarkan studi lapangan yang didapatkan oleh peneliti selama melakukan Magang Kependidikan 3 di SMA N 6 Surakarta hanya terdapat tiga guru BK yang masing-masing guru BK harus mengampu peserta didik sejumlah kurang lebih sekitar 200 peserta didik. Selain itu, peneliti memperolehfakta bahwa banyak peserta didik yang datang ke ruang BK untuk berkonsultasi terkait dengan permasalahnya yang beragam dan berbeda satu sama lain. Namun, jumlah guru BK yang tidak sebanding dengan peserta didik yang ingin berkonsultasi membuat guru BK kepayahan untuk menangani permasalahan para peserta didik ini satu persatu. Jam pelajaran BK yang hanya berdurasi 45 menit juga dirasa kurang untuk membantu terselesaikannya permasalahan siswa. Bahkan dibeberapa sekolah masih terdapat guru BK yang tidak mendapat jam untuk memberikan program layanan BK secara klasikal.
Selain melakukan studi lapangan, peneliti juga melakukan studi literatur yang diambil dari penelitian mahasiswa Bimbingan dan Konseling angkatan 2012 pada tahun 2016 mengenai analisis data kepentingan dan kebutuhan siswa SMA di Surakarta berkaitan dengan bidang layanan BK yaitu pribadi/ sosial, belajar, dan karier. Hasil penelitian mengenai tingkat kepentingan dan kebutuhan layanan BK bagi siswa SMA di Surakarta berdasarkan bidang layanan yaitu bidang pribadi-sosial 68,4%, bidang belajar 64,3%, dan bidang karier sejumlah 64,4%.
Peneliti melakukan penyebaran angket berdasarkan tugas-tugas perkembangan peserta didik Sekolah Menengah Atas (SMA) yang berkaitan dengan bidang pribadi/
sosial, belajar, dan karier. Berdasarkan Panduan Operasional Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling SMA, tugas perkembangan peserta didik SMA dibagi
menjadi 11 yaitu: (1) Mencapai perkembangan diri sebagai remaja yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; (2) Mengenal sistem etika dan nilai-nilai bagi pedoman hidup sebagai pribadi, anggota masyarakat, dan minat manusia; (3) Mengenal gambaran dan mengembangkan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional, sosial, dan ekonomi; (4) Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan kebutuhannya untuk mengikuti dan melanjutkan pelajaran dan/atau mempersiapkan karier serta berperan dalam kehidupan masyarakat; (5) Memantapkan nilai dan cara bertingkah laku yang dapat diterima dalam kehidupan sosial yang lebih luas; (6) Mencapai pola hubungan yang baik dengan teman sebaya dalam peranannya sebagai pria atau wanita; (7) Mempersiapkan diri, menerima dan bersikap positif serta dinamis terhadap perubahan fisik dan psikis yang terjadi pada diri sendiri untuk kehidupan yang sehat; (8) Memiliki kemandirian perilaku ekonomis; (9) Mengenal kemampuan, bakat, minat, serta arah kecenderungan karier dan apresiasi seni; (10) Mencapai kematangan hubungan dengan teman sebaya; dan (11) Mencapai kematangan dalam kesiapan diri menikah dan hidup berkeluarga. Berdasarkan Panduan Operasional Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling SMA, peneliti memilih poin dua, empat, enam, dan sembilan karena berkaitan dengan bidang pribadi/sosial, belajar, dan karier.
Peneliti melakukan kajian teoritis dan kajian empiris didapatkan melalui penyebaran angket terkait dengan tiga bidang layanan BK, yaitu pribadi-sosial, karier dan belajar. Angket yang disebarkan oleh peneliti ini mendapatkan responden sejumlah 207 individu dengan hasil sebagai berikut, bidang pribadi-sosial (68,4%), bidang karier (56,5%), dan bidang belajar (61.3%). Melalui hasil tersebut dapat dilihat bahwa jumlah persentase dari tiap bidang layanan melebihi 50%. Melalui studi pendahuluan yang dilakukan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa permasalahan peserta didik pada bidang layanan BK di SMA di Surakarta masih terbilang besar. Kebutuhan peserta didik pun belum dapat terfasilitasi dengan baik. Hal ini dapat dilihat pada hasil wawancara yang dilakukan oleh beberapa guru BK SMA di Surakarta
Menurut wawancara terhadap tiga guru BK di Surakarta yaitu Indraswariyanti Hernowo Siwi, S.Psi, Nur Setiawati, S.Pd dan Galuh Putri Utami, S.Pd, ditemukan fakta bahwa selama ini peserta didik yang datang untuk melakukan konsultasihanya sebatas permasalahan karier dan akademiknya saja, sedangkan masih ada bidang layanan pribadi dan sosial yang belum didapatkan oleh siswa secara maksimal.
Berdasarkan fakta tersebut maka ditemukan bahwa hanya beberapa siswa yang menceritakan masalah pribadinya diluar kegiatan belajar kepada guru BK. Hal ini seharusnya menjadi pertanyaan bagi guru BK, mengapa para peserta didik hanya menceritakan hal-hal yang hanya bersifat umum saja.
Berdasarkan permasalahan yang telah disebutkan diatas diantaranya yaitu kurangnya jam layanan yang diberikan oleh guru BK, kemudian tingginya tingkat kebutuhan siswa terkait dengan tiga bidang layanan BK, serta melalui observasi yang dilakukan oleh peneliti selama Magang Kependidikan 3 bahwa guru BK masih dianggap sebagai polisi sekolah maka dapat disimpulkan bahwa pemberian layanan BK Komprehensif selama ini masih kurang optimal. Kurangnya pengoptimalan layanan BK Komprehensif ini akhirnya mempengaruhi perkembangan peserta didik khususnya pada layanan BK bidang pribadi-sosial, belajar, dan karier. Beberapa guru BK yang sudah diwawancarai berpendapat bahwa perlu adanya gagasan mengenai media yang dapat digunakan peserta didik untuk mendapatkan layanan BK dengan mengikuti perkembangan teknologi agar dapat dimanfaatkan dimana saja dengan mudah, cepat, dan praktis.
Penelitian yang dilakukan oleh Purwaningrum (2018) menjelaskan bahwa terdapat dua permasalahan utama dalam pemberian layanan BK, yang pertama adalah tidak adanya jam untuk memberikan layanan bimbingan klasikal di beberapa sekolah dan yang kedua adalah kurangnya tenaga konselor atau guru BK untuk melayani peserta didik yang jumlahnya ratusan. Berdasarkan kasus-kasus yang ditemui selama penelitian ini, maka perlu adanya inovasi dalam pemberian layanan BK terhadap peserta didik. Inovasi tersebut tentunya harus memenuhi atau dapat menjadi alternatif penyelesaian masalah terkait dengan permasalahan BK di sekolah yang diantaranya
yaitu tidak adanya jam untuk memberikan layanan bimbingan klasikal dan kurangnya personil guru BK di sekolah. Sedangkan dalam Permendikbud Nomor 15 Tahun 2018 menyatakan bahwa Pelaksanaan pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dipenuhi paling sedikit 24 (dua puluh empat) jam tatap muka per minggu dan paling banyak 40 (empat puluh) jam Tatap Muka per minggu. Bernas.id (2018) memaparkan bahwa Plt Dirjen GTK Kemendikbud RI, Hamid Muhammad menyatakan bahwa perlu ada pola baru bimbingan konseling bagi anak milenial. Menurut pemaparan tersebut, maka peneliti mengembangkan inovasi konseling online .
Di kehidupan yang telah menginjak revolusi Industri 4.0 ini, segala aspek kehidupan di dunia telah mengedepankan teknologi sebagai media yang dirasa mampu mempermudah kehidupan manusia. Awabil & Akosan (2018) berpendapat bahwa, di dunia yang semakin maju ini kebutuhan layanan konseling akan semakin memiliki masalah yang beragam bagi para siswa. Bentuk lain dari konseling telah muncul di negara maju seperti Amerika dan Kanada. Bentuk lain dari konseling ini dirasa lebih efektif dan efisien dalam pelaksanaan konseling dengan menggunakan teknologi, konseling ini dikenal dengan konseling online .
Menurut hasil wawancara di SMA N 6 Surakarta memang guru BK telah memfasilitasi konseling online melalui aplikasi Whatsapp, namun aplikasi Whatsapp ini hanya digunakan untuk layanan konseling individual saja. Menurut hasil survei melalui angket juga ditemukan bahwa beberapa siswa pernah melakukan konseling online dan sebagian besar dari mereka merasa membutuhkan layanan konseling online tersebut. Mereka merasa konseling online ini dapat menjadi tempat untuk bercerita kapan saja dan dimana saja yang tidak terbatas hanya di sekolah saja.
Hanya dalam beberapa tahun, telah terjadi peningkatan jumlah diskusi dan literatur yang berfokus pada konseling online (Laszlo, Esterman &, Zabko, 1999). Koutsonika (2009) mengungkapkan bahwa konseling online pertama kali dicetuskan pada tahun 1960 dan 1970 dengan perangkat lunak bernama Eliza dan Parry.
Haberstroh (2011), menjelaskan bahwa konseling online adalah klien dan konselor berkomunikasi dengan menggunakan streaming video dan audio yang bertujuan untuk
membantu menyelesaikan permasalahan klien. Haberstroh dkk (2007), menjelaskan bahwa manfaat terkait dengan pendekatan konseling berbasis jarak terbukti dapat membantu para penyandang disabilitas yang tinggal di rumah, klien yang sudah berpindah dan ingin tetap berhubungan dengan konselor mereka, klien yang bepergian, dan mereka yang tinggal di daerah pedesaan.
Di Indonesia, Ifdil (2009) memperkenalkan konseling online dengan istilah Pelayanan E-Konseling. Konseling online adalah proses konseling yang dilakukan dengan alat bantu jaringan sebagai penghubung antara konselor dengan kliennya. Hal senada juga diungkapkan oleh Siradjuddin (2017), yang berpendapat bahwa konseling online atau e-counseling merupakan kegiatan membantu (terapi) yang dilakukan oleh seorang konselor terhadap masalah yang dihadapi oleh seorang klien dengan memanfaatkan teknologi informasi berupa komputer dan internet. Konseling online secara khusus dapat memanfaatkan aplikasi di sosial media seperti Line, Whatsapp, Kakaotalk, Instagram, Twitter, dll.
Menurut Ifdil (2009), konseling berbasis online ini dirasa efektif dengan catatan bahwa permasalahan yang dialami oleh klien atau konseli dapat ditangani sesegera mungkin. Berdasarkan pada banyaknya aplikasi sosial media yang sekarang ini telah marak di dunia 4.0 ini, media sosial yang dirasa memiliki fitur-fitur yang sesuai dan cocok digunakan sebagai media konseling online yaitu aplikasi Line.
Naldo & Satria (2018) mengungkapkan bahwa LINE merupakan sebuah aplikasi pengiriman pesan instan yang dapat diunduh secara gratis yang dapat digunakan pada berbagai platform seperti telepon cerdas, tablet, dan komputer. Aplikasi LINE ini dapat diunduh secara gratis bagi seluruh platform yang menyediakan aplikasi ini. Sejak dikeluarkan pada tahun 2011 hingga tanggal 4 April 2014, LINE mengalami pertumbuhan yang cepat hingga mencapai 400 juta pengguna di dunia (linecorp.com, 2015).
Menurut Aditya & Wardhana (2016), pengguna aplikasi LINE di Indonesia saat ini telah mencapai 30 juta pengguna, setelah Jepang menduduki posisi puncak dengan 52 juta pengguna dan Thailand sebanyak 27 juta pengguna. Kesuksesan LINE sebagai
aplikasi pengiriman pesan instan ini nampak dari penggunanya yang telah mencapai 101 juta jiwa dari 230 negara di dunia. LINE telah menduduki posisi pertama dalam kategori aplikasi gratis di 42 negara. Penggunaan aplikasi LINE ini dirasa sangat cocok dalam kegiatan konseling online karena di dalam fiturnya terdapat fitur broadcast, chat 1:1, timeline, halaman akun, halaman promosi, halaman reset, dan statistik yang dapat membantu pelaksananaan dan pengembangan konseling online ini agar dapat berjalan secara maksimal. Berdasarkan hal tersebutlah penggunaan aplikasi LINE dipilih dalam penyusunan penelitian ini, peneliti menciptakan akun bernama KODALINE.
Di Surakarta konseling berbasis aplikasi LINE memang masih terbilang awam terutama konseling online yang memang dikhususkan bagi peserta didik SMA di Surakarta yang tujuannya adalah guna meningkatkan layanan bidang bimbingan dan konseling yang diantaranya terdapat bidang pribadi-sosial, belajar, dan karier.
Berdasarkan hasil penelitian yang disebarkan melalui angket dengan menggunakan googleform yang dilakukan oleh peneliti terkait dengan kebutuhan konseling berbasis aplikasi LINE di Surakarta, ditemukan hasil sejumlah 207 responden (78,3%) yang merupakan peserta didik SMA di Surakarta menyatakan setuju dengan adanya produk konseling berbasis aplikasi LINE ini. Berdasarkan hasil angket tersebut, konseling dengan memanfaatkan aplikasi LINE dirasa mampu menjadi inovasi baru bagi para peserta didik dalam pelaksanaan konseling secara jarak jauh.
Konseling berbasis aplikasi LINE ini merupakan suatu gagasan baru untuk medium konseling yang lebih efisien bagi para peserta didik yang telah menjadi bagian dari digital native. Gagasan ini ditujukan bagi para pengguna aplikasi LINE untuk dapat melakukan konseling online terkait dengan permasalahan pribadi-sosial, belajar, dan karier. Pada produk KODALINE juga menyediakan berbagai fitur konten yang dapat dimanfaatkan untuk menambah pengetahuan baru terkait dengan kesehatan mental dan juga sebagai media katarsis bagi para pengguna aplikasi Line. Melalui produk ini konseli akan mendapatkan bantuan dari konselor yang profesional tanpa harus melalui tatap muka (face to face).
Berdasarkan uraian diatas, menunjukkan bahwa secara teori pelaksanaan konseling secara online dapat dilakukan dengan menggunakan aplikasi LINE karena fitur-fiturnya yang sesuai dengan kegiatan konseling online. Atas kesimpulan tersebut maka perlu disusun pengembangan dengan judul “Pengembangan Aplikasi Konseling Berbasis LINE untuk Peserta Didik SMA di Surakarta”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang rumusan masalah penelitian dan pengembangan ini adalah, “Bagaimana mengembangkan produk Aplikasi Konseling Berbasis LINE untuk Peserta Didik SMA di Surakarta yang memenuhi kriteria relevansi dan konsistensi?”
C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah, tujuan dari penelitian dan pengembangan ini adalah untuk menghasilkan produk “Aplikasi Konseling Berbasis LINE untuk Peserta Didik SMA di Surakarta” yang memenuhi kriteria relevansi dan konsistensi.
D. Spesifikasi Produk yang Diharapkan
Spesifikasi produk dalam penelitian ini menghasilkan produk yang memenuhi kriteria relevansi dan konsistensi yaitu “Pengembangan Aplikasi Konseling Berbasis LINE untuk Peserta Didik SMA di Surakarta” berupa akun dalam aplikasi LINE bernama Kodaline sebagai media untuk pelaksanaan konseling dilengkapi dengan buku panduan yang ditujukan bagi guru BK dan peserta didik.
Produk pertama yaitu berupa akun dalam aplikasi LINE yang digunakan sebagai perantara untuk pelaksanaan konseling, berikut merupakan isi dari fitur-fitur konten Kodaline
1) Kodaline
Fitur ini berisi konten yang dapat digunakan oleh pengguna LINE atau calon konseli untuk melakukan sesi konseling secara online.
2) Night thoughts (Pemikiran Malam),
Melalui fitur konten ini pengikut akun Kodaline dapat mengirimkan karyanya melalui cerita ataupun puisi yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Karya
tersebut nantinya akan di unggah kedalam akun LINE ini yang dapat dibaca secara umum yang digunakan sebagai pembelajaran bersama.
3) TOD (Topic of the Day)
Pada konten ini nantinya admin akan memberikan topik yang disesuaikan dengan pemberitaan yang sedang marak diperbincangkan. TOD akan di posting otomatis oleh admin. Konten ini akan otomatis masuk ke dalam ruang obrolan para pengguna LINE yang sudah menambahkan akun LINE ini. Konten ini akan diposting disetiap satu minggu sekali.
Selanjutnya, produk kedua yaitu buku panduan yang ditujukan kepada guru BK dan peserta didik. Buku panduan ini disusun secara terpisah antara guru BK dan peserta didik, isi dari kedua buku panduan tersebut secara umum yaitu :
1) Cover (Sampul)
Memuat judul dari penelitian yang dilakukan yaitu “Aplikasi Konseling berbasis Line” yang sudah didesain selain itu dalam cover ini juga terdapat nama peneliti.
2) Kata Pengantar
Kata pengantar merupakan komponen penting yang berfungsi sebagai pembuka yang berisikan deskripsi dari isi panduan.
3) Daftar Isi
Daftar isi memuat BAB dan juga SUB- BAB yang akan dibahas disertai dengan halaman. Hal ini digunakan untuk mempermudah pembaca dalam pencarian.
4) Daftar Gambar
Daftar gambar memuat gambar-gambar yang terdapat dalam manual book.
Dalam daftar gambar ini juga terdapat halamannya untuk mempermudah dalam pencarian.
5) Bab I Pendahuluan
Menjelaskan latar belakang dan tujuan dari penyusunan buku panduan penggunaan Kodaline.
6) Bab II Langkah-Langkah Penggunaan KODALINE
Pada Bab II Langkah-Langkah Penggunaan KODALINE ini berisi secara terperinci penggunaan “konseling berbasis aplikasi Line”. Bab ini dibagi menjadi dua bagian yaitu Langkah-Langkah Penggunaan KODALINE bagi Guru BK dan Langkah-Langkah Penggunaan KODALINE bagi Peserta didik yang dijelaskan dalam dua buku panduan yang terpisah. Buku panduan yang ditujukan untuk Guru BK berisi mengenai penjelasan website KODALINE, dan penjelasan bagaimana cara masuk ke akun KODALINE. Sedangkan buku panduan bagi peserta didik berisi penjelasan terkait dengan isi website KODALINE dan juga penjelasan secara rinci cara penggunaan fitur konten dalam akun KODALINE.
7) Bab III Penutup
Penutup merupakan bagian yang memuat hal-hal yang diharapkan oleh penulis bagi pembaca atau pengguna konseling berbasis aplikasi LINE ini.
E. Kegunaan Penelitian dan Pengembangan
Penelitian dan pengembangan ini menghasilkan produk yang telah melewati uji kriteria relevansi dan konsistensi berupa pengembangan aplikasi konseling berbasis LINE bagi peserta didik SMA di Surakarta. Penelitian ini mengembangkan produk baru berdasarkan dari hasil wawancara terhadap guru BK dan peserta didik di Surakarta bahwa belum terdapat pengembangan konseling berbasis aplikasi LINE untuk peserta didik SMA di Surakarta sebelumnya. Kegunaan dari penelitian dan pengembangan ini ialah sebagai dasar untuk peneliti selanjutnya agar dapat melanjutnya penelitian ini ke tahap selanjutnya yaitu uji kepraktisan dan uji keefektifan. Selanjutnya diharapkan produk konseling berbasis aplikasi LINE ini dapat digunakan bagi peserta didik SMA di Surakarta.
F. Asumsi dan Keterbatasan Penelitian dan Pengembangan 1. Asumsi Penelitian dan Pengembangan
Penelitian Pengembangan Aplikasi Konseling Berbasis LINE untuk Peserta Didik SMA di Surakarta dikembangkan atas beberapa asumsi berikut ini :
a. Konseling Berbasis LINE ini dapat dijadikan bentuk layanan psikologis bagi siswa di Surakarta untuk membantu mereka menghadapi dan menyelesaikan permasalahan seperti pribadi sosial, belajar, dan karier yang mereka alami tanpa merasa takut akan terbongkarnya kerahasiaan.
b. Konseling online dirasa mampu menjadi wadah bagi peserta didik yang ingin menceritakan permasalahan secara online yang membutuhkan penyelesaian secara segera atau secara responsif
c. Dapat menjadi alternatif bagi guru BK yang dalam sekolah tidak mendapatkan jam untuk mengajar dan memberikan layanan.
2. Keterbatasan Penelitian dan Pengembanagan
a. Penelitian dan pengembangan yang dilakukan peneliti hanya sampai pada tahap pengembangan produk yang memenuhi kriteria relevansi dan konsistensi yang memerlukan uji ahli.
b. Produk konseling berbasis aplikasi LINE ini dikembangkan berdasarkan analisis kebutuhan peserta didik yang dibatasi hanya mencakup peserta didik SMA di Surakarta.
c. Konseling berbasis aplikasi LINE ini tidak dapat menggunakan fitur video call karena dasar pengembangan ini adalah aplikasi LINE OA.
G. Definisi Konseptual dan Definisi Operasional 1. Definisi Konseptual
a. Line
LINE adalah sebuah aplikasi pengiriman pesan instan yang dapat diunduh secara gratis yang dapat digunakan pada berbagai platform seperti telepon cerdas, tablet, dan komputer. (Naldo & Satria, 2018)
b. Peserta Didik
Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan dirinya dengan mengikuti pendidikan pada jalur sekolah. (Chasiyah, Chadidjah,
& Legowo, 2009)
c. Sekolah Menengah Keatas (SMA)
SMA merupakan jenjang pendidikan menengah yang mengutamakan penyiapan siswa untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi dengan pengkhususan. (Depdiknas, 2004: 112).
2. Definisi Operasional
Pengembangan Aplikasi Konseling berbasis LINE untuk Peserta Didik SMA di Surakarta merupakan sebuah layanan konseling secara online dengan memanfaatkan platform aplikasi LINE dengan tujuan membantu peserta didik untuk melakukan konseling online terkait dengan bidang bimbingan dan konseling yaitu pribadi/ sosial, belajar, dan karier. Pelaksanaan konseling berbasis LINE ini dibekali dengan buku panduan yang ditujukan bagi guru BK dan Peserta Didik SMA di Surakarta, mulai dari membuka website konseling online yang dapat memberikan link menuju Line OA, kemudian langkah selanjutnya adalah menambahkan Line OA akun konseling online ini, setelah itu calon konseli dapat memanfaatkan Fitur konten LINE yang tersedia (kodaline, night though, dan TOD)