• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

7 2.1. Pengertian Prosedur

Menurut Jerry Fitzgerald, Arda F. Fitzgerald, dan Warren D. Stallings dalam Umam (2014:151) mengemukakan bahwa “Prosedur adalah urutan-urutan yang tepat dari tahapan-tahapan instruksi yang menerangkan apa yang harus dikerjakan, siapa yang mengerjakan, kapan dikerjakan, dan bagaimana mengerjakannya”.

Menurut Allen dalam Solihin (2009:71) mengemukakan bahwa “Prosedur (procedures) merupakan metode atau cara yang baku untuk melaksanakan pekerjaan tertentu”.

Berdasarkan pendapat para ahli diatas, maka penulis menyimpulkan bahwa prosedur adalah tahapan-tahapan pekerjaan yang dilaksanakan seseorang mulai dari apa yang harus dikerjakan sampai dengan menyelesaikan suatu pekerjaan tersebut sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan perusahaan.

2.2. Pengertian Administrasi

Menurut Atmosudirjo dalam Westra (2009:13) mengemukakan bahwa

“Administrasi adalah keseluruhan proses yang terdiri atas kegiatan-kegiatan, pemikiran-pemikiran, pengaturan-pengaturan, mulai dari penentuan tujuan, sampai dengan penyelenggarannya sehingga tercapai tujuan tersebut”.

(2)

Menurut Siagian dalam Arkadun (2007:37) mengemukakan bahwa

“Administrasi adalah keseluruhan proses kerja sama antara dua orang manusia atau lebih yang didasarkan atas rasionalitas tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya”.

Berdasarkan pendapat para ahli diatas, maka penulis menyimpulkan bahwa administrasi adalah proses kerjasama yang dilakukan sekelompok orang dalam kegiatan melayani, mengatur, dan membantu sehingga tercapai tujuan yang diinginkan.

2.3. Kredit

2.3.1. Pengertian Kredit

Pengertian kredit menurut UU No.10 1998 tentang perubahan UU No.7 tahun 1992 dalam Fahmi dan Hadi (2010:3) menyatakan bahwa:

Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan-tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam- meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.

Menurut Raymond P. Kent dalam Hasan (2014:128) mengemukakan bahwa

“Kredit adalah hak untuk menerima pembayaran pada waktu diminta, atau pada waktu yang akan datang, karena penyerahan barang-barang sekarang”.

Berdasarkan pendapat para ahli diatas, maka penulis menyimpulkan bahwa kredit adalah penundaan pembayaran atas barang atau jasa berdasarkan persetujuan atau kesepakatan dari kreditur kepada debitur untuk melunasi hutangnya berdasarkan jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga.

(3)

2.3.2. Unsur-unsur Kredit

Unsur-unsur kredit menurut Fahmi dan Hadi (2010a:7) adalah sebagai berikut:

a. Kepercayaan. Kepercayaan (trust) adalah sesuatu yang paling utama dari unsur kredit yang harus ada karena tanpa ada rasa saling percaya antara kreditur dan debitur maka akan sangat sulit terwujud suatu sinergi kerja yang baik. Karena dalam konsep sekarang ini kreditur dan debitur adalah mitra bisnis.

b. Waktu. Waktu (time) adalah bagian yang paling sering dijadikan kajian oleh pihak analis finance oleh analis kredit. Ini dimengerti karena bagi pihak kreditur saat ia menyerahkan uang kepada debitur maka juga harus di perhitungkan juga saat pembayaran kembali yang akan dilakukan oleh debitur itu sendiri, yaitu limit waktu yang tersepakati dalam perjanjian yang telah ditandatangani kedua belah pihak.

c. Risiko. Risiko disini menyangkut persoalan seperti degree of risk. Disini yang paling dikaji adalah pada keadaan yang terburuk yaitu pada saat kredit tersebut tidak kembali atau timbulnya kredit macet. Ini menyangkut dengan persoalan seperti lamanya waktu pemberian kredit yang menyebabkan naiknya tingkat risiko yang timbul. Lamanya proses pemberian kredit ini tidak terlepas dari berbagai masalah seperti menyangkut dengan kajian dan analisis apakah kredit tersebut layak diberikan dan ukuran kelayakannya sejauh mana untuk pantas dicairkan.

d. Prestasi. Prestasi yang dimaksud disini adalah prestasi yang dimiliki oleh kreditur untuk diberikan kepada debitur. Pada dasarnya bentuk atau objek dari

(4)

kredit itu sendiri adalah tidak selalu dalam bentuk uang tapi juga boleh dalam bentuk barang dan jasa (good and service). Maka bagi pihak kreditur akan menilai bagaimana tindakan yang dilakukan oleh pihak debitur dalam usahanya atau prestasinya mengelola kredit yang diberikan tersebut.

e. Adanya Kreditur. Kreditur yang dimaksud disini adalah pihak yang memiliki uang (money), barang (goods), atau jasa (service) untuk dipinjamkan kepada pihak lain, dengan harapan dari hasil pinjaman itu akan diperoleh keuntungan dalam bentuk interest (bunga) sebagai balas jasa dari uang, barang, atau jasa yang telah dipinjam tersebut.

f. Adanya Debitur. Debitur yang dimaksud disini adalah pihak yang memerlukan uang (money), barang (goods), atau jasa (service) dan berkomitmen untuk mampu mengembalikannya tepat waktu sesuai dengan waktu yang disepakati serta bersedia menanggung berbagai risiko jika melakukan keterlambatan sesuai dengan ketentuan administrasi dalam kesepakatan perjanjian yang tertera disana.

2.3.3. Jenis - jenis Kredit

Kategorisasi kredit menyebabkan kredit itu memiliki beberapa posisinya masing-masing dengan kegunaan yang berbeda-beda pula. Perbedaan-perbedaan tersebut menyebabkan public (masyarakat) bisa memutuskan mana kredit yang akan dipilihnya sesuai dengan yang diperlukan pada bentuk kebutuhan yang akan digunakannya. Adapun jenis-jenis kredit menurut Fahmi dan Hadi (2010b:8) dapat dibedakan sebagai berikut:

(5)

a. Kredit Berdasarkan Jenisnya.

1. Kredit konsumtif (consumtif credit). Kredit ini adalah kredit yang diajukan oleh seorang debitur kepada kreditur guna memenuhi kebutuhan pribadinya.

Seperti untuk membeli sepeda motor, mobil, rumah, perabotan rumah, untuk renovasi rumah dan lain-lainnya.

2. Kredit produktif (productive credit). Kredit ini adalah umumnya dipakai atau diajukan oleh mereka bergerak dalam dunia usaha atau mereka yang mempunyai bisinis dan membutuhkan dana dalam usahanya untuk berekspansi bisnis atau bertujuan untuk meningkatkan grafik hasil yang telah diperoleh saat ini menjadi lebih tinggi, seperti ingin menghasilkan produk baru atau tambahan, ingin membuka kantor cabang baru (brand office) untuk bidng pemasaran. Umumnya kredit ini dibagi dua, yaitu:

a) Kredit investasi (investment credit) adalah kredit yang saat diajukan oleh seorang debitur ke kreditur dengan tujuan akan dipergunakan untuk membeli barang-barang modal (capital goods).

b) Kredit modal kerja (working capital credit) adalah kredit yang saat diajukan oleh debitur kepada kreditur dengan tujuan akan dipergunakan dananya khusus untuk membeli bahan baku (material) atau kebutuhan suku cadang (spare part).

3. Kredit perdagangan (trade credit). Kredit ini pada umumnya dananya dipergunakan untuk keperluan perdagangan (trade). Kredit perdagangan diajukan dengan maksud untuk membuat agar barang yang telah diproduksi tersebut menjadi lebih berguna dan bisa dipakai oleh banyak orang bukan hanya pada mereka yang berada di satu area tapi diharapkan barang tersebut

(6)

bisa dipakai oleh banyak orang dari tempat yang berbeda baik daerah, Negara, kawasan dan juga budaya.

b. Kredit Berdasarkan Jaminan.

1. Kredit dengan jaminan (secured loans). Kredit dengan jaminan ini merupakan kredit yang kepemilikan dananya berasal dari bank dan debitur bertugas untuk menjamin risiko yang akan timbul kedepan nantinya. Kredit ini terdiri atas:

a) Jaminan kebendaan yang bersifat tangible, ini terdiri dari benda-benda bergerak seperti mesin, kendaraan bermotor, dan lain-lain, maupun yang tidak bergerak seperti tanah (land), bangunan (building) dan lain-lainnya.

b) Jaminan perseorangan (borgtocht) yaitu kredit yang jaminannya dijamin oleh seseorang atau badan dimana ia bertindak sebagai pihak yang bertanggungjawab untuk menjamin bahwa kredit tersebut akan mampu untuk dilunasi tepat pada waktunya.

c) Jaminan berbentuk commercial paper (surat berharga) seperti stock (saham), bond (obligasi) yang didaftarkan dan diperdagangkan di bursa efek.

2. Kredit tanpa jaminan (insecured loans), sering disebut kredit blanko.

Kredit ini diberikan kepada debitur tanpa adanya jaminan tapi atas dasar kepercayaan saja karena debitur dianggap mampu untuk mengembalikan pinjaman tersebut

c. Jenis Kredit Berdasarkan Kualitas

Pada saat kredit disalurkan ke masyarakat maka artinya pihak bank telah melakukan kebijakan perputaran piutang (receivable turnover) dalam jumlah

(7)

tertentu dan siap untuk melakukan penarikan receivable turnover tersebut dengan ditambah keuntungan dalam bentuk interest (bunga) yang akan diterimanya setiap bulan. Tentunya dari receivable turnover tersebut akan terlihat mana debitur yang lancer membayar cicilan plus bunganya dengan tepat waktu setiap bulannya dan mana debitur yang tidak tepat waktu atau dalam kategori bermasalah. Sehingga secara umum ada dua jenis kredit berdasarkan kualitas yaitu:

1. Kredit performing

Performing credit atau kredit performing ini dikategorikan pada dua kualitas

yaitu pertama kredit dengan kualitas lancar dan kedua kredit dengan kualitas yang harus mendapat perhatian khusus.

2. Kredit nonperforming

Nonperforming credit ini adalah kredit yang dikategorikan dalam tiga kualitas

yaitu pertama kredit dengan kualitas yang kurang lancar, kedua kredit dengan kualitas yang diragukan dan ketiga kredit macet atau yang biasa disebut dengan bad debt.

2.3.4. Manfaat Kredit

Manfaat kredit menurut Ismail (2010:97) dapat digolongkan sebagai berikut:

1. Manfaat kredit bagi Bank

a. Kredit yang diberikan bank kepada nasabah akan mendapat balas jasa berupa bunga.

(8)

b. Pendapatan bunga bank berpengaruh pada peningkatan profibilitas bank.

Hal ini dapat tercermin pada perolehan laba.

c. Pemberian kredit kepada nasabah secara sinergi akan memasarkan produk lain seperti produk dana dan jasa.

2. Manfaat kredit bagi Debitur

a. Kredit yang diberikan oleh bank untuk memperluas volume usaha, misalnya kredit untuk membeli bahan baku, pengadaan mesin dan peralatan, dapat membantu nasabah untuk meningkatkan volume produksi dan penjualan.

b. Biaya kredit bank (administrasi) pada umumnya murah.

c. Bank menawarkan berbagai jenis kredit sehingga debitur dapat memilih jenis kredit sesuai dengan tujuan penggunannya.

d. Jangka waktu kredit disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan debitur dalam membayar kembali kredit tersebut, sehingga debitur dapat mengestimasikan keuangannya dengan tepat.

2.3.5. Persyaratan Umum untuk Mengajukan Kredit

Menurut Fahmi dan Hadi (2010c:16) untuk mengajukan pinjaman kredit ke suatu lembaga perbankan ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh calon debitur sebagai syarat administrasi yaitu:

a. Foto copy KTP (kartu identitas pemohon).

b. Foto copy KK (kartu keluarga) c. NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak)

(9)

d. Sertifikat kepemilikan rumah dan tanah sebagai jaminan, atau BPKB kendaraan.

e. Buku tabungan baik di bank tersebut maupun di bank lain.

f. Surat keterangan tempat bekerja (bagi pegawai kontrak).

g. Slip gaji 3 (tiga) atau 4 (empat) bulan terakhir.

h. Mengisi Formulir Pengajuan kredit sesuai permintaan.

i. Surat keterangan sanggup membayar cicilan kredit dengan baik jika masa pensiun kerja semakin dekat.

Menurut Sunaryo (2014a:108) untuk memperlancar dan sekaligus mengamankan usahanya, perusahaan pembiayaan konsumen menetapkan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, syarat-syarat dalam pembiayaan konsumen bagi konsumen individu yaitu:

a. Fotokopi kartu tanda penduduk (KTP).

b. Fotokopi kartu tanda penduduk (KTP) suami/istri calon konsumen.

c. Fotokopi kartu keluarga (KK) d. Pas foto

e. Daftar gaji, apabila calon konsumen sebagai pegawai atau karyawan.

Berdasarkan pendapat para ahli diatas, maka penulis menyimpulkan bahwa persyaratan dalam pengajuan kredit adalah fotokopi KTP, KK, slip gaji, dan NPWP.

(10)

2.3.6. Prosedur Pemberian Kredit

Menurut Rachmat dalam Sunaryo (2014b:109) adapun mekanisme transaksi pembiayaan konsumen adalah sebagai berikut:

a. Tahap permohonan

Permohonan pembiayaan konsumen biasanya dilakukan oleh kosumen di tempat kedudukan supplier atau dealer penyedia barang kebutuhan konsumen. Supplier atau dealer ini biasanya telah bekerja sama dengan perusahaan pembiayaan konsumen.

b. Tahap pengecekan dan pemeriksaan lapangan

Berdasarkan aplikasi pemohon, perusahaan pembiayaan konsumen akan melakukan pengecekan atas kebenaran dari pengisian formulir aplikasi tersebut dengan melakukan analisis dan evaluasi terhadap data dan informasi yang telah diterima. Selanjutnya dilakukan:

1) Kunjungan ke tempat calon konsumen (plant visit) 2) Pengecekan ke tempat lain (credit checking), dan 3) Observasi secara umum atau khusus lainnya.

c. Tahap pembuatan customer profile

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, marketing department dari perusahaan pembiayaan konsumen tersebut akan membuat customer profile yang isinya memuat tentang nama calon konsumen dan istri atau suami, alamat dan nomor telepon, pekerjaan, alamat kantor, kondisi pembiayaan yang diajukan, jenis dan tipe barang kebutuhan konsumen, dan lain-lain.

(11)

d. Tahap pengajuan proposal kepada kredit komite

Marketing department akan mengajukan proposal atas permohonan yang

diajukan oleh calon konsumen tersebut kepada kredit komite.

e. Tahap keputusan kredit komite

Keputusan kredit komite merupakan dasar bagi perusahaan pembiayaan konsumen untuk melakukan pembiayaan atau tidak. Apabila permohonan calon konsumen ditolak, maka harus diberitahukan melalui surat penolakan, sedangkan apabila disetujui maka oleh marketing department akan meneruskan ke tahap berikutnya.

f. Tahap pengikatan

Berdasarkan keputusan kredit komite, selanjutnya oleh bagian legal akan mempersiapkan pengikatan sebagai berikut:

1) Perjanjian pembiayaan konsumen beserta lampirannya 2) Jaminan pribadi (jika ada)

3) Jaminan perusahaan (jika ada)

g. Tahap pemesanan barang kebutuhan konsumen

Setelah proses penandatanganan perjanjian dilakukan oleh kedua belah pihak, selanjutnya perusahaan pembiayaan konsumen akan melakukan:

1) Pemesanan barang kebutuhan konsumen kepada supplier. Pesanan ini dituangkan dalam penegasan pemesanan pembelian atau confirm purchase order dan bukti pengiriman dan surat tanda penerima barang.

2) Penerimaan pembayaran dari konsumen kepada perusahaan pembiayaan konsumen (dapat melalui supplier atau dealer)

(12)

h. Tahap pembayaran kepada supplier

Setelah barang modal diserahkan oleh supplier kepada konsumen, selanjutnya supplier akan melakukan penagihan kepada perusahaan pembiayaan

konsumen.

i. Tahap penagihan atau monitoring pembayaran

Setelah seluruh pembayaran kepada supplier atau dealer dilakukan, proses selanjutnya adalah pembayaran angsuran oleh konsumen sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Pada tahap ini, collection department akan memonitor pembayaran angsuran berdasarkan jatuh tempo yang telah ditetapkan, dan berdasarkan sistem pembayaran yang telah disepakati. Di samping itu, juga akan dilakukan monitoring terhadap jaminan, jangka waktu berlakunya jaminan, dan masa berlakunya penutupan asuransi.

j. Tahap pengembalian surat jaminan

Setelah konsumen melunasi seluruh kewajibannya kepada perusahaan pembiayaan konsumen, maka perusahaan pembiayaan konsumen akan mengembalikan kepada konsumen:

1) Jamianan (BPKB, dan/atau sertifikat dan/atau faktur/invoice) 2) Dokumen lainnya, jika ada.

Prosedur pemberian kredit maksudnya adalah tahap-tahap yang harus dilalui sebelum sesuatu kredit diputuskan untuk dikucurkan. Tujuannya adalah untuk mempermudah bank dalam menilai kelayakan suatu permohonan kredit. Prosedur pemberian kredit secara umum dapat dibedakan aantara pinjaman perseorangan

(13)

dengan pinjaman oleh suatu badan hukum. Menurut Hasan (2014:144) secara umum prosedur pemberian kredit oleh badan hukum sebagai berikut:

a. Pengajuan berkas-berkas

Dalam hal ini pemohon kredit mengajukan permohonan kredit yang dituangkan dalam suatu proposal. Kemudian di lampirg dengan berkas-berkas lainnya yang dibutuhkan. Pengajuan proposal yang berisi latar belakang perusahaan, melampirkan dokumen-dokumen, penilaian yang dapat kita lakukan untuk sementara adlah dari neraca dan laporan rugi laba.

b. Penyelidikan berkas pinjaman

Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah berkas yang diajukan sudah lengkap sesuai persyaratan dan sudah benar, termasuk menyelidiki keabsahan berkas. Jika menurut pihak perbankan belum lengkap atau belum cukup, maka nasabah diminta untuk segera melengkapinya, dan apabila sampai batas tertentu nasabah tidak sanggup melengkapi kekurangan tersebut, maka sebaiknya permohonan kredit dibatalkan saja.

c. Wawancara awal

Merupakan penyelidikan kepada calon peminjam dengan langsung berhadapan dengan calon peminjam. Tujuannya adalah untuk meyakinkan bank apakah berkas-berkas tersebut sesuai dan lengkap seperti dengan yang bank inginkan.

d. On the spot

Merupakan kegiatan pemerikasaan kelapangan dengan meninjau berbagai objek yang akan dijadikan usaha atau jaminan. Kemudian hasil on the spot dicocokkan dengan hasil wawancara I.

(14)

e. Wawancara II

Merupakan kegiatan perbaikan berkas, jika mungkin ada kekurangan- kekurangan pada saat setelah dilakukan on the spot dilapangan.

f. Keputusan kredit

Keputusan kredit dalam hal ini adalah untuk menentukan apakah kredit akan diberikan atau ditolak, jika diterima maka dipersiapkan administrasinya.

g. Penandatanganan akad kredit atau perjanjian lainnya

Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari diputuskannya kredit, maka sebelum kredit dicairkan terlebih dahulu calon nasabah menandatangani akad kredit, mengikat jaminan dengan hipotik dan surat perjanjian atau pernyataan yang dianggap perlu.

h. Realisasi kredit

Realisasi kredit diberikan setelah penandatanganan akad kredit dan surat- surat yang diperlukan dengan membuka rekening giro atau tabungan di bank yang bersangkutan.

i. Penyaluran atau penarikan dana

Adalah pencairan atau pengambilan uang dari rekening sebagai realisasi dari pemberian kredit dan dpat diambil sesuai ketentuan dan tujuan kredit.

Berdasarkan pendapat para ahli diatas, maka penulis menyimpulkan bahwa prosedur pemberian kredit adalah Tahap permohonan, pengecekan dan pemeriksaan lapangan, pembuatan customer profile, persetujuan kredit oleh komite kredit, tahap pengikatan (perjanjian pembiayaan konsumen), pembayaran kredit.

Referensi

Dokumen terkait

Motor induksi satu fasa berbeda cara kerjanya dengan motor induksi tiga fasa, dimana pada motor induksi tiga fasa untuk belitan statornya terdapat tiga belitan yang

Senang Kharisma Textile mewujudkannya dalam bentuk pemberian upah, jaminan sosial, dan fasilitas kesejahteraan yang baik.. Perusahaan ini merupakan salah satu dari

Dampak perubahan iklim yang terjadi pada saat digencarkannya aplikasi teknik budidaya tebu lahan kering secara efektif dan efisien guna memperoleh produktivitas tebu (Tonne Cane

Sasaran Pembangunan Milenium (bahasa Inggris : Millennium Development Goals atau Sasaran Pembangunan Milenium (bahasa Inggris : Millennium Development Goals atau disingkat dalam

Nilai ini menunjukkan bahwa kombinasi genotipe C111 dengan C120 untuk menghasilkan F1 yang memiliki jumlah buah terbanyak dibanding dengan genotipe hasil kombinasi tetua yang

Pada navigation drawer yang terletak disisi kiri atas, terdapat 7 list menu Berfung si sesuai gambar 3 Halaman Analgesik Narkotik Menampilka n list nama obat Berfung

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian suplementasi formula tepung ikan gabus dalam meningkatkan kadar albumin serum pada pasien sindrom

Oleh karena itu, demokratisasi lokal menghadirkan adanya peran aktor dan atau elite politik lokal yang secara langsung atau tidak langsung dapat mempengaruhi proses