PANJA RUU TENTANG SUSUNAN DAN KEDUDYUKAN
MPR, DPR, DPD DAN DPRD
RAPAT KE : 22
JENIS RAPAT : RAPAT PANJA KE: 1 DENGAN : ESELON I DEPDAGRI TANGGAL : 25JUNI 2003
SEKRERA TARIAT PANSUS
PANSUS RUU TENTANG SUSUNAN DAN KEDUDUKAN MPR, DPR, DPD, DAN DPRD
T ahun Sidang Masa Persidangan Rapat ke
Jenis Rapat Deng an Sifat Rapat Hari, tanggal Pukul Tern pat
Ketua Sekretaris Acara
Hadir
FRAKSIPDIPERJUANGAN 1. SUKOWALUJO MINTORAHARDJO 2. HOBBES SINAGA
3. HERIAKHMADI 4. STERRA PIETERSZ 5. DIDISUPRIYANTO
6. WI LLIAM H. TUTU HARi MA 7. RUT JI GUN UNG MULJONO 8. SADJARWO SUKARDIMAN 9. OETOYO
FRAKSI PARTAI GOLKAR 1. M. YAHYAZAINI, SH 2. DRS.T.M. NURLIF
3. DRS. H. BAHARUDDIN ARITONANG 4. ORA. HJ. ROSNANIAR
2002-2003 IV
Ke-22
Rapat Panja ke-1
Pejabat Eselon I Departemen Dalam Negeri Tertutup
Rabu, 25 Juni 2003 14.30 s/d 16.50 WIB
Ruang Rapat Pansus A, Lt. ,3 Gedung Nusantara II
M. Yahya Zaini, SH Ors. lskandar N. Basri
Membahas DIM fersandingan 24 dari 31 Anggota
5. HJ. EVITAASMALDA, S.H
6. PROF. DR. H. RUSTAM E. TAMBURAKA, MA 7. ALEX HESEGEM
ANGGOTA FRAKSI PPP 1 HM .. THAHIR SAIMIMA, SH 2. HM .. SJAIFUL RACHMAN, SH 3. NY. HJ. AISYAH AMINY, SH 4. DRS. HM. ABDUH PADDARE
FRAKSI KEBANGKIT AN BAN GSA 1. CHATIBUL UMAM WIRANU 2. DRS. ALI MASYKUR MUSA, M.Si 3. ORA. IDA FAUZIAH
4. G. SETO HARIANTO FRAKSI REFORMASI 1. ORA Hj. NURDIATI AKMA 2. H. TB. SOENMANDJAJA, SD
FRAKSI TNl/POLRI 1. AMIRTOHAR, S.IP
2. KOHIRIN SUGANDA S. M.Sc FRAKSI BULAN BINTANG 1. H.M .. ZUBAIR SAKRY
FRAKSIKKI
1. DRS. S. MASSARDY KAPHAT FRAKSIPDU
1 DRS. H. ASNAWI LATIEF PEMERINTAH
MENTER! DALAM NEGERI BESERTA JAJARANYA
KETUA PANJA (SUKOWALUJO 'MINTORAHARDJO):
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Salam sejahtera bagi kita semua,
Karena sebagian besar dari jumlah fraksi dalam Panja ini sudah hadir dari .PDIP, F.TNl/Polri, F.PG, F.Reformasi, F.KB, dan F.PBB sedangkan F.PPP, F.KKI, dan F.PDU masih tiga fraksi masih belum hadir rapat tadi kita sudah mulai dan kita skors kemb Ii, jadi tepat pukul 14.30 WIB kita rapat skorsing kita cabut dan rapat dibuka kembali.
(RAPAT DIBUKA PUKUL: 14.30 WIB) Bapak, lbu Saudara-saudara sekalian,
Bapak Oentarto dan Staff dari Depdagri dari Depkeham barangk Ii dan yang mewakili pemerintah, kita akan memulai rapat langsung menijau epada Substansi dan kalau saya cbba memahami ada beberapa hal yang b rkaitan dengan DIM 1, 2, dan seterusnya khususnya mengenai konsideran, jadi judul kemudian mengenai Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa dan itu k mudian konsideran Menimbang dan Mengingat dan seterusnya ada beberapa poi yang terkait dengan judul, jadi oleh karena itu barangkali coba kita pahami m ngenai judul kalau saya tangkap pada alasan pemerintah pada waktu Pansus · karena mengacu kepada ketetapan dan rekomendasi MPR mengenai pem uatan Undang-undang dalam rekomendasi MPR itu disebutkan tentang k ta-kata Susduk, memang undang-undang yang dulu · mengatakan Susduk, nah s karang ini UU yang ada sekarang ini dimajukan oleh pemerintah dengan judul usunan dan kedudukan tapi ada usulan dari sebagian fraksi yang ada disini m ngacu dengan konkordan dengan nama-nama lembaga-lembaga yang lain seperti BPK, Mahkamah Agung, DPA yang dulu tidak menggunakan kata susuna dan kedudukan sehingga ada usul dari dan pikiran dari fraksi-fraksi untuk erubah judul menjadi UU tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD, nah ini yang di sulkan, nah mengenai ini argumentasi itu sudah cukup banyak kita inggal mengkecutkan apa kerugiannya kalau kata susduk itu dihilangkan apak h ada konsekwensi hukum, konsekwensi politis, konsekwensi pilosofis, so iologis mengenai hal-hal seperti itu sehingga dengan demikian kalau konse wensi- konsekwensi itu dipandang tidak terlalu besar kepada pemerintah dan DPR didalam forum-forum yang lain barangkali kita bisa mempertimbangkan usulan dari fraksi-fraksi yang menghendaki kata susduk itu dihapuskan, demikia kami persilahkan pak.
PEMERINTAH:
Bapak Dr. Sukowalujo yang kami hormati selaku Ketua Panja,
lbu-ibu dan Bapak-bapak Anggota Panja yang terhormat dan saya hormati Sore dan Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Salam sejahtera bagi kita sekailian.
Kita mengawali rapat pembahasan mater-materi yang diserahkan epada Panjaini ingin kami laporkan kepada ibu dan bapak-bapak sekaliandari ertama yang ditugaskan untuk mewakili dari pemerintah adalah yang pertam Pak Tursandi Alwi fungsionalnya sebagai Badan Litbang Depdagri juga sebag i PL T Gubernur Lampung sekarang posisinya ada di Lampung, jadi nanti pada · aatnya setelah intensif akan bergabung, kemudian Bapak Prof. A. Ghani itu Dirjen Perundang-undangan dari Depkeham sama ' sekarang ada dikomisi lai , jadi mohon izin untuk tidak bisa bersama kita, selanjutnya Bapak DR Oka Mlahendera beliau juga dari Depkeham staf Ahli Menteri saat ini ada di engah- tengah kita, kemudian Bapak DR S. Situmorang pekerjaan dan tugas se ari-hari sebagai staf ahli Mendagri, kemudian Prof. Djimly Asidiqi itu sehari-hari ebagai
KETUA PANJA (SUKOWALUJO MINTORAHARDJO):
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Salam sejahtera bagi kita semua,
Karena sebagian besar dari jumlah fraksi dalam Panja ini sudah hadir dari .PDIP, F.TNl/Polri, F.PG, F.Reformasi, F.KB, dan F.PBB sedangkan F.PPP, F.KKI, dan F.PDU masih tiga fraksi masih belum hadir rapat tadi kita sudah mulai dan kita skors kemb Ii, jadi tepat pukul 14.30 WIB kita rapat skorsing kita cabut dan rapat dibuka kembali.
(RAPAT DIBUKA PUKUL: 14.30 WIB) Bapak, lbu Saudara-saudara sekalian,
Bapak Oentarto dan Staff dari Depdagri dari Depkeham barangk Ii dan yang mewakili pemerintah, kita akan memulai rapat langsung menijau epada Substansi dan kalau saya cbba memahami ada beberapa hal yang b rkaitan dengan DIM 1, 2, dan seterusnya khususnya mengenai konsideran, jad' judul kemudian mengenai Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa dan itu k mudian konsideran Menimbang dan Mengingat dan seterusnya ada beberapa poi yang terkait dengan judul, jadi oleh karena itu barangkali coba kita pahami m ngenai judul kalau saya tangkap pada alasan pemerintah pada waktu Pansus karena mengacu kepada ketetapan dan rekomendasi MPR mengenai pem uatan Undang-undang dalam rekomendasi MPR itu disebutkan tentang ka a-kata Susduk, memang undang-undang yang dulu mengatakan Susduk, nah s karang ini UU yang ada sekarang ini dimajukan oleh pemerintah dengan judul S sunan dan kedudukan tapi ada usulan dari sebagian fraksi yang ada disini m ngacu dengan konkordan dengan nama-nama lembaga-lembaga yang lain seperti BPK, Mahkamah Agung, DPA yang dulu tidak menggunakan kata susuna dan kedudukan sehingga ada usul dari dan pikiran dari fraksi-fraksi untuk erubah judul menjadi UU tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD, nah ini yang di sulkan, nah mengenai ini argumentasi itu sudah cukup banyak kita inggal mengkecutkan apa kerugiannya kalau kata susduk itu dihilangkan apakah ada konsekwensi hukum, konsekwensi politis, konsekwensi pilosofis, so iologis mengenai hal-hal seperti itu sehingga dengan demikian kalau konse wensi- konsekwensi itu dipandang tidak terlalu besar kepada pemerintah dan DPR didalam forum-forum yang lain barangkali kita bisa mempertimbangkan usulan dari fraksi-fraksi yang menghendaki kata susduk itu dihapuskan, demikia kami persilahkan pak.
PEMERINTAH :
Bapak Dr. Sukowalujo yang kami hormati selaku Ketua Panja,
lbu-ibu dan Bapak-bapak Anggota Panja yang terhormat dan saya hormati Sore dan Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Salam sejahtera bagi kita sekalian.
Kita mengawali rapat pembahasan mater-materi yang diserahkan
Panjaini ingin kami laporkan kepada ibu dan bapak-bapak sekaliandari ertama yang ditugaskan untuk mewakilli dari pemerintah adalah yang pertam Pak Tursandi Alwi fungsionalnya sebagai Sadan Litbang Depdagri juga sebag i PL T Gubernur Lampung sekarang posisinya ada di Lampung, jadi nanti pada aatnya setelah intensif akan bergabung, kemudian Bapak Prof. A. Ghani itu Dirjen Perundang-undangan dari Depkeham sama sekarang ada dikomisi lai , jadi mohon izin untuk tidak bisa bersama kita, selanjutnya Bapak DR Oka Mahendera beliau juga dari Depkeham staf Ahli Menteri saat ini ada di ngah- tengah kita, kemudian Bapak DR. S. Situmorang pekerjaan dan tugas se ari-hari sebagai staf ahli Mendagri, kemudian Prof. Djimly Asidiqi itu sehari-hari ebagai
tenaga pengajar di UI, kemudian Sdr. DRS. Muhammad Rum dan IR. Triyuni Su artono kedua-duanya ada disini dan kepada saya di tugasi untuk orang yang dituakan · iantara teman-teman dari pemerintah, nah barangkali mungkin satu diantara ka i ada penugasan-penugasan lain maka mohon izin untuk diantara jajaran yang ka. i sebut nanti tadi bisa untuk diajak bersama-sama membahas lebih lanjut yang menjadi p rsi kita, itu yang pertama.
Yang berkenaan dengan judul kami juga sependapat dengan arahan Bapak Ketua Panja artinya kita kerucutkan tetapi ada satu hal yang emang kami perdalam apa yang telah sempat disampaikan oleh Bapak l'v1 ndagri didalam membahas atau menyiapkan UU ini rasanya kita sepakat balil a kita senantiasa akan mengacu kepada UUD'45 yang telah diamandemen kit akan perjelas disana tetapi kita juga tidak bisa keluar dari itu hal ini saya p kir kita seluruhnya sepakat untuk itu, nah berangkat dari itu maka kami melihat bahwa didalam Batang Tubuh UUD ataupun didalam pasal-pasal UUD itu ada hal-hal yang memang kita lihat muilai misalnya Pasal 2 mengenai MPR itu m ngenai MPR memang keanggotaanya jelas dari Anggota DPR dan Anggota DP yang dipilih berdasarkan hasil Pemilu untuk selanjutnya diatur dengan UU ini emang tanpa ada kata-kata susunan maupun kedudukan, tetapi kalau kita . melihat didalam Pasal 19 ayat (2) disana kita teringat bersama khusus yang 1 engatur mengenai DPR disebutkan bahwa susunan DPR diatur dengan UU plus disana ada terminologi susunan, kemudian kalau kita mengaju kepada Pasal 22 yat (4) kita bisa melihat susunan dan kedudukan DPD diatur dengan UU, jadi · 1 mbaga yang akan kita atur lebih lanjut didalam format UU ini didalam UUD emang menggunakan terminologi yang tidak sama kita pahami karena ini ama demen dilakukan secara betahap dan yang terkhir memang adalah menyangkut bahwa menyangkut mengenai Pasal 22c itu, nah dengan demikian maka dari segi · elegal konstitusional pemerintah menetapkan acuan itu dipakai yaitu lengkapnya adalah susunan dan kedudukan kalau kita masih mengacu. kepada TAP MPR Nomor 3 Tahun 2000 mengenai sumber tertib dan tata urutan perundang-undangan disana setelah UUD adalah TAP MPR, jadi engan demikian TAP MPR itupun masih kami perhatikan dimana didalam P-TAP MPR yang tadi disebutkan oleh bapak ketua panja yang kami holi ati itu memang jelas-jelas merekomendasikan untuk membuat suatu UU denga nama susunan dan kedudukan dan seterusnya ini dari segi legal konstitusionali ya dan dari segi yuridis sedangkalau dari segi enfirik memang kedudukan MP , DPR maupun DPRD itu berbeda dengan kedudukan lembaga-lembaga ya g lain seperti disebut Mahkamah Agung, Dewan Petimbangan Agung, Badan Pemeriksa Keuangan lembaga-lembaga ini dibentuk atau disusun didalfl satu UU mengacu pada UUD yang belum diamandemen, sedang MP! , DPR khususnya DPR, DPRD dan DPD itu dipilih melalui anggotanya dipilih ~ ri hasi1I Pemilu dimana Pemilu itu diatur sendiri dengan UU peserta Pemuli yaitu Parpol juga sudah diatur tersendiri dengan UU, seandainya tidak ada UU Pe 1 ilu dan Parpol kemungkinan judul tanpa susunan dan kedudukan itu sangat tepat artinya UU tentang MPR, DPD DPR, DPRD seandainya misalnya UU m ngenai pengisian keanggotaan dan sistem rekrutmen didalam pengisian le baga- lembaga itu tidak diatur tersendiri dengan UU sekali lagi itu tepat tapi karena rekrutmen keanggota itu sudah diatur dengan UU sendiri berarti ada materi- materi yang belum cukup diatur dengan UU Pemilu maupun UU Parp I, oleh karena itulah maka pemerintah memilih susduk itu dengan Susun n dan kedudukan begitu pula praktek selama ini judul itu itulah yang dipakai
d
ri segi administrasi mengapa kita lihat kita namakan susunan kedudukan, susunan itu menunjukan adanya satu saf-saf atau elemen-elemen bahwa institusi ' tu ada anggotanya ada mengenai pimpinannya ada alat-alat kelengkapanny maka disitulah ada susunan, kedudukan institusi itu kita sadari kita ketahui kit hayati kitalaksanakan adanya satu tugas wewenang hak.dan kewajiban disitulah ·kedudukan itu dinyatakan, jadi dari segi administrasi tinjauannya adala karena ada keanggotaan atau pimpinan ada alat kelengkapan kemudian m ngenai kedudukan ada hak tugas wewenang kewajiban, nah hal-hal semaca inilah maka dari berbagai macam aspek itulah maka pemerintah berketetapa untuk menetapkan judul itu demikian, konsekwensinya, apa konsekwensinya kalau susunan kedudukan itu dihapuskan itu kita tidak konsisten dan kita tid k taat azas terhadap pasal-pasal yang diperintahkan oleh UUDm kedu juga memberikan peluang untuk mengatur hal-hal yang diluar susunan kedudukan padahal secara mendasar itu sudah diatur didalam UU mengenai Pemilu maupun UU mengenai Parpol rekrutmen dan siapa peserta pemilu itu, n h atas dasar itulah kami dengan harapan mohon maaf kami tetap men hedaki pemerintah judul itu demikian adanya, demikian Pimpinan dan juga para nggota yang kami hormati terima kasih.
KETUA PANJA:
Terima kasih saya kira kita sedah mendengarkan penjelasan dari aspek uridis, konstitusional kaitannya dengan UUD dan sebagai UU org,anik pelaksan an dari perintah dari UUD yang diperintahkan memang mengenai MPR tidak kata-kata usunan kedudukan secara eksplisit tapi mengenai DPD secara eksplisit mengenai susu an dan kedudukan dan sehingga ini menjadi judul yang diusulkan oleh pemerintah seba ai judul yang untuk tetap sebagai judul dalam RUU iini, kami mohon tanggapan dari fra: i-fraksi satu kali putaran saja dulu dan setelah itu kita coba cari solusi, silahkan dari F.PG.
F.PG (HJ. EVITA ASMALDA):
Terima kasih ketua, Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Setelah mendengar apa yang tadi disampaikan oleh pemerintah amipun masih berpendapat seperti usulan kami dalam Pansus pak ketua karen kalau kita lihat dari UUD dan perubahannya memang tadi disebutkan dalam P sal 19 misalnya ayat (2) itu hanya menyebutkan susunan DPR diatur deng n UU, kemudian Pasal 22c ayat (4) disitu disebutkan memang susunan dan ke udukan DPD tapi kalau kita lihat misainya pasal 23G ayat (2) ketentuan lebih lanjut m ngenai BPK diatur dengan Undang-undang BPK tadi memang dis buttkan karena ini sudah dibentuk sebelum adanya perubahan tapi substans,i ya itu sebetulnya yang ada dimuatan Undang-undang atau tidak, jauh denga yang sudah dirumuskan Undang-undang BPK yang ada sekarang begit juga misalnya dipasal 24A ayat (5) disitu disebutkan susunan kedudukan keang otaan dan hukum acara Mahkamah Agung serta badan peradilan dibawahnya diatur dengan UU, kita kenal UU Mahkamah Agung kemudian dalam pasal 24b ayat (4) susunan kedudukan dan keanggotaan komisi Yudisia diatur dengan UU kita tahu itu RUU yang disusun oleh DPR itu disebut UU entang komisi Yudisial, jadi kalau tadi disebutkan dan mohon maaf seperti ulasan Bapak Menteri pada waktu Pansus yang lalu menyebutkan seolah-olah bahw bisa ditafsirkan begitu luasnya kalau tidak ada kata-kata itu dengan judul S sunan dan Kedudukan kami kurang sependapat dan disitu juga disebutkan bahwa nantinya bisa berkembang dengan tanpa adanya tambahan susunan kat judul Susunan dan Kedudukan itu akan menyebabkan seperti misalnya pemb ntukan dan penghapusan lnstitusi ini saya rasa juga kekhawatiran itu juga terlalu berlebihan itu tidak mungki11 kenapa karena harus mengacu kepada UD'45 tidak ada sebuah RUU atau UU yang bisa mendelegitimasi suatu institu i yang sebetulnya telah tertuang rumusannya didalam UUD'45, jadi kalau kami melihat pola yang sudah kita lakukan yang lalu kemudian memang kita lihat dala baik itu dalam pembahasaannya saja juga substansi yang didalamnya yang sebetulnya ada hal yang kurang pas alangkah baiknya pada kesempatan
sekarang ini kita mengkoreksi dan saya rasa bukan hal yang sesuatu ya g tabu atau sesuatu yang ini tapi kita tidak menyebutkan bahwa ini kebiasaa , tapi memang kebiasaan kalau memang itu sesuai dengan aturan kemudian jug tidak ini mungkin tidak masalah, tapi kalau memang ada hal-hal yang ambil juga sebagai contoh sandingan lain yang memang dimungkinkan untuk itu d n kita melihat bahwa rambu-rambu nanti itu akan tertuang dalam muatan UU itu sendiri saya rasa tidak berlebihan dan tidak ada salahnya masalah ini, jadi kami masih berpendapat bahwa lebih leluasa kita dengan menyebutkan cukup insti usinya saja karena begini pak ketua ada pakar juga yang bingung apa kok s sunan kedudukan bukannya kedudukan dan ini menjadi perdebatan juga meni1 bulkan hal-hal yang sebetulnya bukan lagi kesubstansi nah ini kita menghind ri hal semacam itu kami rasa memang lebih pas kalau judul itu kita sebutkan saja institusinya saja, terima kasih Ketua.
KETUA PANJA:
Dari F.PDIP ada yang mau disampaikan mengenai judul silahkan.
F.PDIP (HOBBES SINAGA):
Terima kasih saudara ketua, kami kira mengenai judul ini barangk Ii kita harus ada satu tim mungkin nanti yang dibentuk untuk membicarakan i i lebih dalam karena seperti dikatakan pak ketua tadi ada hubungannya antar judul dengan konsideran, jadi itu harus sinkron jadi saya kira kami meng sulkan supaya ada dibentuklah tim kecil khusus membicarakan ini lebih me dalam, terima kasih.
KETUA PANJA:
Baik silahkan dari F.Reformasi.
F.REFORMASI (H. TB. SOENMANDJAJA):
Terima kasih Ketua Panja, ketua dari Angota Panja yang saya horm ti juga pemerintah Pak Oentarto dan teman-temannya,
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Memang ketika RDP-pun istilah susunan dan kedudukan ini cuku ramai ditinjau dari nara sumber dari perguruan tinggi diantaranya ada yang menyebutkan yang paling tepat itu kalaupun mau kedudukan dan susu annya, kemudian ada lagi yang menyebutkan yang paling tepat tidak meng: unakan istilah susunan dan kedudukan tapi langsung kepada tentang langsung kepada subjek vew tersebut karena tidak hanya RUU ini tidak hanya mengatur tentang susunan dan kedudukan, saya sangat memahami penjelasan yang disa paikan oleh yang terhormat pemerintah tadibahwa istilah ini sudah sekurang-ku angnya ada empat pendekatan saya dengartadi dari mulai legal konstitusional k mudian emvirik sampai keadministrasi, kami juga mempunyai alasan mengapa idalam DIM yang pertama ini ketika kita bicara di Pansus itu cenderung dih puskan karena memang landasan yang sama yaitu Pasal 2 ayat (1) Pasal 19 yat (2) dan Pasal 22c ayat (4) UUD'1945 itu mernjadikan alasan bagi kami unt k tidak menggunakan istilah susunan kedudukan menjadi heading dari RUU ini tetapi saran kami adalah RUU tentang: MPR, DPR, DPD dan DPRD beberapa alasan saya mendukung terhadap penjelasan yang disampaikan oleh yang te hormat lbu Evita dari F.PG tadi, oleh karena itu F.Reformasi sampai saat ini masih tetap pada pendapat semula bapak sekalian atau tidak menggunakan susun n dan kedudukan, demikian Ketua terima kasih.
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
sekarang ini kita mengkoreksi dan saya rasa bukan hal yang sesuatu ya g tabu atau sesuatu yang ini tapi kita tidak menyebutkan bahwa ini kebias~ n, tapi memang kebiasaan kalau memang itu sesuai' dengan aturan kemudian ju a tidak ini mungkin tidak masalah, tapi kalau memang ada hal-hal yang am ii juga sebagai contoh sandingan lain yang memang dimungkinkan untuk itu d n kita melihat bahwa rambu-rambu nanti itu akan tertuang dqlam muatan UU itu sendiri saya rasa tidak berlebihan dan tidak ada salahnya masalah ini, jadi kam masih berpendapat bahwa lebih leluasa kita dengan menyebutkan cukup inst tusinya saja karena begini pak ketua ada pakar juga yang bingung apa kok
s
sunan ·kedudukan bukannya kedudukan dan ini menjadi perdebatan juga menj bulkan hal-hal yang sebetulnya bukan lagi kesubstansi nah ini kita menghind ri hal semacam itu kami rasa memang lebih pas kalau judul itu kita sebut~ n saja institusinya saja, terima kasih Ketua.
KETUA PANJA:
Dari F.PDIP ada yang mau disampaikan mengenai judul silahkan.
F.PDIP (HOBBES SINAGA):
Terima kasih saudara ketua, kami kira mengenai judul ini barang Ii kita harus ada satu tim mungkin nanti yang dib~ntuk untuk membicarakan i i lebih dalam karena seperti dikatakan pak ketua tadi ada hubungannya antar judul dengan konsideran, jadi itu harus sinkron jadi saya kira kami meng sulkan supaya ada dibentuklah tim kecil khusus membicarakan ini lebih m~ dalam, terima kasih.
KETUA PANJA:
Baik silahkan dari F.Reformasi.
F.REFORMASI (H. TB. SOENMANDJAJA):
Terima kasih Ketua Panja, ketua dan Angota Panja yang saya horm ti juga pemerintah Pak Oentarto dan teman-temannya,
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Memang ketika RDP-pun istilah susunan dan kedudukan ini cuku! ramai ditinjau dari nara sumber dari perguruan tinggi diantaranya ada yang menyebutkan yang paling tepat itu kalaupun mau kedudukan dan susl.I annya, kemudian ada lagi yang menyebutkan yang paling tepat tidak menggunakan istilah susunan dan kedudukan tapi langsung kepada tentang langsung kepada subjek vew tersebut karena tidak hanya RUU ini tidak hanya mengatur entang susunan dan kedudukan, saya sangat memahami penjelasan yang disa paikan oleh yang terhormat pemerintah tadibahwa istilah ini sudah sekurang-ku angnya ada empat pendekatan saya dengartadi dari mulai legal konstitusional k mudian emvirik sampai keadministrasi, kami juga mempunyai alasan mengapa · idalam DIM yang pertama ini ketika kita bicara di Pansus itu cenderung diha uskan karena memang landasan yang sama yaitu Pasal 2 ayat (1) Pasal 19 a at (2) dan Pasal 22c ayat (4) UUD'1945 itu mernjadikan ala~an bagi kami untu tidak menggunakan istilah susunan kedudukan menjadi heading dari RUU ini tetapi saran kami adalah RUU tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD beberapa alasan saya mendukung terhadap penjelasan yang . disampaikan oleh yang te hormat lbu Evita dari F.PG tadi, oleh karena itu F.Reformasi sampai saat ini masi tetap pada pendapat semula bapak sekalian atau tidak menggunakan susunan dan kedudukan, demikian Ketua terima kasih.
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
KETUA PANJA:
F.TNl/Polri silahkan.
F.TNl/POLRI (AMIR TOHAR, S.IP): Terima asih Bapak Pimpinan, Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Yang kami hormati para Anggota Panja,
Yang kami hormati pihak Dirjen Otda beserta jajarannya.
Dari fraksi kami tentang masalah judul ini kami akan melihat marn yang terbaik saja, jadi tidak terlalu harus menghilangkan a~aupun mungkin ham tetap menggunakan susunan kedudukan, jadi kita mendukung mana nanti da i para forum yang dianggap terbaik itu dari F.TNl/Polri akan mendukung itu saya' ira itu saja, terima kasih.
KETUA PANJA:
Silahkan dari F.KB Bu Ida.
RKB (DRA. IDA FAUZIAH):
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Pimpinan dan Anggota panja dan pemerintah yang kami hormati,
Berkaitan dengan judul dalam rangka mencari yang terbaik kami mengusulkan pertama kami memahami apa yang disampaikan pemerintah tetapi kami ingin menjelaskan dulu sikap kami kaitannya dengan judul kami tetap dengan usulan yang pertama judul ini tidak menggunakan susuna dan kedudukan tapi langsung pada objeknya MPR, DPR, DPD, dan DPRD ! engan argumentasi pertama saya ingin menjawab apa yang disampai:kan pe 11 erintah kalau tadi pemerintah menggunakan ini adalah ,amanat konstitusi . engan beberapa pasal yang disebut yang memerintahkan. untuk membuat U dan susduk saya kira dengan tanpa menyebut susunan dan kedudukan menja i judul itu bukan berarti kita tidak menjalankan amanat konstitusi karena yang diperintahkan adalah menjelaskan tentang susduk itu bukan menje askan tentang perintah untuk menjadikan itu sebagai judul WU itu sendiri, jadi 1 engan mengambil judul RUU tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD didalamnya sudah termasuk menjalankan perintah untuk menjelask<;m tentnag susuna dan kedudukan disamping jug a menjelaskan hal-hal lain , yang diatur dalam · U ini karena UU ini juga ternyata menjelaskan tentang hubungan antara OF? dan DPR misalnya sehingga kami tetap berprinsif bahwa • yang terbaik menuru kami adalah RUU tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD,, terima kasih.
KETUA PANJA:
Berikutnya Pak Asnawi Latif silahkan.
FPDU (DRS. H. ASNAWI LATIEF) Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Saudara Pimpinan, saya ini penyambung almarhum Sdr. Hartono yang meninggal beberapa minggu yang lalu dan baru terima bahan-bahannya : an rm tapi sepanjang yang saya dengar tadi perdebatannya mengenai judul MPR, DPR, DPD, dan DPRD, saya pikir Pasal 3 samapi diputing sidang t hunan kemarin itu menyangkut soal susunan MPR atas ini, ini, ini yang sel~ jutnya diatur oleh UU, jadi memang benar itu susunan itu diatur sepanjang
yan
sayatahu secara .. saya tidak tahu perdebatan selama ini di Pansus ini, oleh ka~ na itu sebaiknya kita pending masalah judul kita buka lagi risalah rapat-rapat . idang tahunan dan juga suasana kebatinan yang ada waktu itu apa suasana ke atinan yang ada yang saya tahu bahwa MPR itu dijadikan semacam forum buk n lagi lembaga sehingga forum itu persidangan diantara ini dan ini tinggal susunan
MPR terdiri atas ini, jadi memang susunan dan kedudukan itu memang harus dijadikan judul kalau MPR saja sudah didalam UU konstitusi sudah ada D R dan DPD sudah ada didalam UU Pemilu bahkan didalam konstitusi sudah jela DPD itu apa, oleh karena itu yang akan diatur disini adalah susunanny dan kedudukannya seperti apa termasuk kedudukan sekarang hak-hakny dan kewajibannya ini rupanya berulang kemarin saya mengikuti PAH I m ngenai komisi konstitusi sampai sekarang itu karena Tap-nya itukan membentuk komisi konstitusi huruf kecil jadi namanya ada 5 diber:e~et-dibereket untuk bukan bereke itukan kata orang perlu ada study banding ke Eropa kayak apa komisi konstitusi di Prancis yang sekarang heboh yang dilakukan para Pimpina MPR yang sebanyak 9 orang yang hadir, yang keluyuran itu 6 orang seharusnya dia mendampingi panitia khusus yang sekarang sibuk-sibuk sidang enak-ena saja dengan segala fasilitasnya dan jumlahnya yang saya katakan dulu eperti wayang golek sampai mejanya itu disambung Nusantara V itu kalau tida hati- hati kita bisa nubruk itu, ini sebagai intermeso saudara-saudara, jadi isana memang dibahas karena Tap MPR itu menugaskan PAH I untuk meru uskan susunan kedudukan persis perdebatannya seperti ini sehingga ada disi u ada yang mengatakan membentuk tim kecil melakukan pengkajian bahkan ad yang lebih anuling tim kecil sekali di break dan betul itu ada, jadi dari kita mem ereket- bereket begini sementara kita lalui dulu kita langsung kepada pasal-pas I kita sirnpan dulu judul ini yang penting isinya, terima kasih.
KETUA PANJA:
Silahkan.
F.REFORMASI {H. TB. SOENMANDJAJA) :
Saya boleh sedikit klarifikasi sedikit saja, bukanmenaggapi tapi informasi sedi1 it untuk yang terhormat Pak Asnawi, terima kasih pak ketua.
Jadi yang pertama saya ingatkan Pak Asnawi guru saya ini Pak ketua bahwa DIM tentang ini dari F .PDU itu dihapuskan pak, jadi F .PDU idalam pembahasan ini mengajukan usul supaya susunan kedudukanya dihilangkan, ini in ormasi saja pak ketua,terima kasih.
KETUA PANJA:
Saya sebenarnya tidak ingin memojokan seperti itu, artinya kal u kita pahami awalnya sudah dikatakan bahwa saya melanjutkan dari apa yang diikuti karena pak almarhum Hartono Mardjono, jadi kita pahami saja Pak Zubair silahkan.
F.PBB {H.M. ZUBAIR BARY):
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
lni masalah judul dari dua substansi pendapat berbeda antara men hapus dan mencantumkan dari F.PBB memang barangkali mengusulkan netral imana susunan dan kedudukan hanya pada DPR, jadi judul yang diusulkan F.PB ialah UU tentnag MPR baru susunan dan kedudukan DPR, DPD itu yang dala DIM itu, oleh karena kami memaknai suatu UUD terhadap apa yang tetulis w laupun didua kategori Pasal 19 ayat (2) tentang DPR itu tidak mengaitkan kedudukan ya g ada hanya susunan, kemudian untuk Pasal 22c ayat (4) susunan dan kedudukan jadi dia sebagai mediator dari pada itu sehingga F.PBB meng sulkan tentang MPR susunan dan kedudukan DPR, DPD dan seterusnya kami menempatkan MPR disini sebagai lembaga khusus yang tidak selevel engan DPR walaupun anggotanya memang dari DPR dan DPD itu sendiri kita akan berbicara tentnag lebih jauh bahwa apakah nanti seperti apa yang dikatak n Pak Asnawi Latif ada suasana batin bahwa MPR itu hanya semacam forum sa a kira itu, tetapi jelas MPR itu adalah suatu lembaga yang jelas dalam UUD'45, jadi
kalau memang ada suatu substansi dua pendapat yang berbeda dan sulit, u tuk kita buru-buru atau mengadakan voting, jadi saya kira untuk jangan sampai jadi pen hambat apalagi waktu kita ini singkat barangkali pro kontra pendapat ini bisa coling d wn dan pikir-pikir mana yang lebih baik seperti F.TNl/Polri mana yang lebih baik untuk raky t itulah yang baik untuk F.TNl/Polri saya kira saya setujua kalau ini dipending saja dulu.
KETUA PANJA:
Dari diskusi ini ada tiiga pikiran, yang pertama yang diusulkan p~ erintah adalah susunan dan kedudukan MPR, DPR, DPD, dan DPRD, yang kedlla tidak ada kata-kata susunan dan kedudukan, yang ketiga · ada tentang MPR • usunan dan kedudukan DPR, DPD dan DPRD ada tiga pikiran artinya ini sesuat yang kita coba endapkan memang kalau argumentasi mengacu kepada :t kstual secara tekstual yang ada didalam UUD sebenarnya lengkapnya m stinya susunan tentang MPR, susunan DPR, dan susunan kedudukan DPD, D RD itu kiira-kira kalau kita merever secara tekstual, sekarang kita akan mencob untuk meriver kepada UU yang lama ya susunan dan kedudukan karena itu . enjadi referensi tetapi kalau Partai Golkar yang sejak dulu itu gagasannya , entang susunan dan kedudukan dan mengusulkan dihapus itu suatu langkah maj yang luar biasa, jadi saya kira itu suatu progres yang perlu dipertimbangkan ba angkali pembaharuan dari sisi itu sesuatu yang bagus yang juga mungkin perlu diipertimbangkan juga, tapi namun demikia.n ini kayaknya belum bi~ kita putuskan saat ini kita coling down saja untuk waktu yang besok • etelah pemerintah mengajukan konsultasi mungkin bisa mengakomodasi pikiran pikiran yang ada tidak berkeberatan untuk menghppuskan susunan dan ked dukan artinya itu menjadi keputusannya, kalau itu masih bertahan kita pendir) dulu karena kalau dari fraksi-fraksi ini rasanya hanya F.PBB mempunyai sulan merifer secara tekstual yang ada di UUD, nah kalau F.TNI mana yan baik sedangkan fraksi-fraksi yang lain berkeinginan untuk menghapus ka a-kata susunan dan kedudukan tanpak mengurangi makna bahwa yang akan yang akan diatur antaqra lain mengenai susunan, kedudukan, hak, kewajiba dan seterusnya, boleh satu menit, satu menit.
F.PG (PROF. DR. H. RUSTAM E. TAMBURAKA, MA):
Ketua, saya ingin tanggapi usul untuk dicoling down dan dip nding masalah judul RUU ini, tadi sebelum pak ketua. memudahi sidang •. ni itu dimintakan kita bicarakan dahulu judulnya karena ini sangat berpengaruh pada saat kita membahas substansi pasal-pasal dari RUU ini, jadi saya usulka agar kalau kita arif dan bijaksana kita putuskan kesepakatan ini karena ini angat berpengaruh pada saat kita bahas Ban dab Pasal-pasal berikutnya i i dari pemerintah, ada tambahan tadi untuk penj1elasan dari fraksi kami kata s sunan dan kedudukan itu belum mencerminkan kalau kita mau memperguna~ n itu kepada pemerintah terhadap substansi baik judul-judul bab maupun pasa -pasal yang ada didalam Batang Tubuh RUU ini misalnya ada kata tugas ada fungsi ada hak ada sidang dans eterusnya keanggotaan, kalau kita konsisten d ngan itu harus diadopsi semua kata-kata itu begit~ bagus kalau menurut say , jadi fraksi tetap mengusulkan agar tolong yang belum kita sepakat bahwa judul RUU ini agar langsung kepada substansi materinya yaitu tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD saya kira begitu pak, terima kasih.
KETUA PANJA:
Mau nambah silahkan.
F.PDIP (DIDI SUPRIYANTO):
Terima kasih, ternyata ada pepatah apalah artinya ssebuah nama ternyata banyak manfaat nama kita perdebatkan disinitapi saya coba me ambahi Bu Ida bagus argumentasinya kalau kita merifer tadi pemerintah merifer masalah UUD saya kira amanat UUD itu tidak mengamanatkan kita embuat UU yang namanya itu pakai susunan kedudukan adapun mengatur asalah susunan kedudukan ada didalamnya silahkan tapi bukan harus menca tumkan itu sebagai nama karena misalnya kalau tadi merifer UUD saya coba merifer UUD Pasal 22b misalnya" Anggota DPRdapat diberhentikan dari ja atannya yang syarat-syaratnya dan tatacaranya diatur dalam Undang-undang" tidak ada dikatakan disini dikatakan Undang-undang tentang susunan dan keduduk n, jadi saya hanya mengefil nanti kepada pemerintah karena ini ternyata n ma ini sangat pentingbuat kita dan tadi Prof. Minta supaya ini diselesaikan du u saya mengefil pada pemerintah mudah-mudahan saya setujulah tanpa harus mencantumkan susunan dan kedudukan, terima kasih.
KETUA PANJA:
Kelihatannya ada desakan jawaban terhadap ngefil untuk diendap an lagi kalau ini belum selesai sekarang nanti yang akan lain-lain agar bisa dib has ini mengalirnya seperti itu saya jadi terpaksa apakah kita pemerintah sedi untuk me, kayaknya kalau ini fraksi-fraksi yang keinginannya untuk seperti i u, nah pemerintah meresponsnya bagaimana terhadap usulan dan pikiran-pik ran ini dengan memahami kita tidak merifer secara tekstual yang ada didalam umusan konstitusi ini tetapi jiwa dan semangatnya yang ada itu perintah UUD. itu kita terjemahkan bahwa yang namanya Undang-undang tentang MPR, DP , DPD dan DPRD itu akan mencakup juga mengenai susunan, kedudukan, tugas, fungsi, hak, kewajiban dan seterusnya-seterusnya itu yang kita ingin r muskan dalam UU ini dan UU ini dengan demi:kian juga melaksanakan ketent an UU pada pasal-pasal tersebut didalam rangka menjalankan lebih lanjut k tentuan UUD, nah kalau bisa ditanggapi seperti itu ya mungkin kita bisa memutuskan sekarang atau musti konsultasi dulu dengan Pak Menteri mewakili pe erintah kita akan lihat perkembangannya, silahkan pak.
PEMERINTAH:
Terima kasih Pimpinan, lbu-ibu dan Bapak-bapak yang saya hormati dengan tidak bermaksud mengurangi rasa hormat kami kepada masuk saran- saran pertimbangan maupun pemikiran argumentasi yang ibu dan bap k-bapak sampaikan, dari tinjauan administrasi itu susunan kedudukan itu men atakan mengenai posisi keanggotaan pimpinan dan alat kelengkapan edang kedudukan itu adalah mencerminkan pada tugas wewenang kewajib n dan hubungan antar lembaga serta hak-haknya itulah yang menjanjikan das r disini kalau dibandingkan dikomfer terhadap lembaga-lembaga negara ya g lain seperti BPK, kemudian Mahkamah Agung itu pemilihannya rekrutmen ya itu tidak ada institusi lain atau ada intrumen lain yang dipakai ma a dia menggunakan nama sesuai dengan institusi itu, sedang DPR, DPRD, PD itu ada instrumen lain untuk rekrutmen yaitu UU Pemilu dan UU Parpol, ja i kalau memang tidak ada UU Pemilu dan UU Parpol judul itu adalah tepat sek Ii saya sependapat tetapi karena ada satu mekanisme dan instrumen lain m ka itu mungkin kami tetap seperti apa yang ada.
Lantas yang kedua, yang ingin kami mohonkan klarifikasi sik p kita bapak-bapak terutama yang dan itu yang juga posisinya sebagai Anggo a MPR apa yang diambil sikap apa yang akan diambil terhadap Tap-Tap MP yang bapak-bapak sebagai institusi memerintahkan kepada Presiden untuk menyiapkan penyempurnaan UU Susduk saja, nah ini tertuang kepada ibu-ibu dan bapak-bapak yang diperitahkan oleh bapak-bapak atau ibu-ibu itu dalam
kapasitas sebagai Anggota MPR ini perlu ada kejelasan kalau memang ibu dan apak- bapak masih tidak menganggap adanya perintah itu dan tidak mengi, dahkan adanya Tap-Tap MPR itu mohon maaf barangkali silahkan .itu bisa kita tindak lanjuti.
Yang ketiga, ada termiinologi-terminologi didalam konstitusion I taupun batang tubuhyang menggunakan susunan dan kedudukan diantara frak i-fraksi menyetujui seperti misalnya didalam konsideran Menimbang butir b F.P jelas- jelas tetap, jadi inilah sikap konstensi dari pendirian kita perlu kita bangu , oleh karena itu kalau ini belum ada kesepakatan saya sangat menghormati dari wakil
F.PDU maupun dari F.TNl/Polri ataupun juga dari F.PBB kita pending atau un kita endapkan dengan membahas yang lain-lain, itu yang kami bisa sampaikan ta ggapan
terima kasih. ·
KETUA PANJA:
Jadi saya kira belum ada kesiapan itu kita semua untuk mengambil ke utusan konstruksi, jadi kita endapkan dulu mungkin pada rapat berikutnya kita sudah d patkan
satu pendekatan, silahkan. ·
F.PPP (NY. HJ. AISYAH AMINY, SH):
Terima kasih diantara waktu itu barangkali kita bisa lobi.
F.PDU (DRS. H. ASNAWI LATIEF): .
Karena saya baru sekarang dimasukan Panja, ketika sebelum memasu i Panja
apakah judul bab-babnya sudah disepakati. ·
KETUA PANJA:
Jadi saya kira kita coba ada beberapa pikiran, pikiran yang pertama $usunan dan kedudukan dicantumkan, pikiran yang kedua dihapuskan, yang keti a tadi diusulkan supaya ini tekstual mengenai ini, :nah ini walaupun kelihatanny kalau dirumuskannya itu jadi lucu tapi kalau memang semacam itu frut-nya mau bag imana, silahkan.
F.PBB (H.M. ZUBAIR BARY):
Sedikit barangkali saya ingin tambah dulu selain saya mengacu kepada tekstual saya tidak berani melanggar undang-undang, tapi logika berpik r yang say pakai kalau kita langsung mengacu kepada Undang-undang tentang . PR itu kan lembaga tentang DPD tentang ini, tentang ini ia bisa saja beberapa U, UU tentang MPR, UU tentang DPR apakah wajar' itu suatu lembaga MPR yan justru berwenang merubah UUD itu sendiri, ini logika berpikir, jadi saya mena ik usul saya dan ikut mendukung pemerintah tidak lagi mengatakan susuh n dan kedudukan tidak ada pada MPR tapi saya dari mengacu bahwa UU entang susunan dan kedudukan MPR, DPR dan lain-lain sebab logika saya itu s bstansi susunan dan kedudukan yang diatur sebagaimana teks kata susun n dan kedudukan diatur dengan UU terkait andaikata mengatakan itu MPR diatur dengan UU oke tetapi susunannya lagi supaya yang dituju dan logika · i u juga susunan terima kasih bu.
KETUA PANJA:
Baik ada dua, dengan demikian ada dua konsep mengenai judul
y
itu adadicantumkan kata susunan dan kedudukan dan tanpa mencantumkan susu an dan kedudukan kita endapkan setuju ini.
(RAPAT SETUJU)
Tapi diskusi tetap sudah jalan, yang kedua ini bunyinya nask h RUU Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa Presiden Republik Indonesia, enagkan usul dari F.KKI Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa Dewan P rwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Presiden Republik Indonesia, nah sa a mau merifer aja apa ada petunjukdan ini ada pada badan legislasi kalau ada sesuatu yang disepakati oelh badan legislasi mengenai bagaimana bunyi-bu yiannya barangkali sementara kita acu saja sebagai acuan kita, nah kalau tid k salah acuan yang ada dalam badan legislasi masih seperti yang diusulk n oleh pemerintah itu, jadi dengan demikian bisa kita sepakati itu, jadi ini y ng dari Baleg, jadi Baleg pembukaan RUU memuat nama jabatan yang meng sahkan UU konsideran dasar hukum mengusulkan menetapkan nama U pada pembukaan UU sebelum nama jabatan dengan mengesahkan UU dica tumkan kalimat Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa diletakan ditengah argin d jabatan yang mengesahkan UU yaitu Presiden RI ditulis seluruhnya dengan huruf kafital yang diletakan ditengah margin dan diakhiri dengan tand koma contoh Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa Presiden Republik I donesia koma, nah ini yang dari Baleg sampai saat ini 32/BALEG/8/2002 ya silahkan.
F.PG (HJ. EVITA ASMALDA):
Perlu kita lihat kalau memang Baleg demikian karena Pasal 20 ayat (1) ndang- undang dasar kita DPR memegang kekuasaan membentuk undangundang pengertian yang lalu ada perubahan itu yang dulunya iitu ada Presiden tapi ini sekarang ari, jadi kalau usulan F.KKI inikan bersama-sama.
KETUA PANJA:
Jadi ini adalah sesudah itu amandemen itu Pasal 20 itu mengena itu sidang pertama itu dan ini dibuat tahun 2002, jadi ini yang sudah terakhir apakah bisa kita sepakati.
F.PPP (NY. HJ. AISYAH AMINY, SH):
Pimpinan barangkali supaya kita tidak berbeda pendapat kita sementar begini kecuali kalau memang Baleg sudah mempunyai ada yang baru kita ikuti acuan dar Baleg.
KETUA PANJA:
Karena sesuai dengan surat Baleg yang nomor sekian setuju, oke.
(RAPAT SETUJU)
Dan belum berubah menurut anggota Baleg belum berubah, kemud an DIM nomor 3 sampai dengan nomor 7 itu keputusan Pansus tanggal 4 Juni 2003 agar ibentuk satu tim untuk membahas khusus masalah konsideran menimbang dan seterusnya.
F.PPP (NY. HJ. AISYAH AMINY, SH): Nanti pada Timus saja.
KETUA PANJA:
Apakah itu masuk Timcil apa Timus apa-apa coba untuk lebih kecil barangkalilebih gampang untuk meleksanakan ini usul Timus bisa disetujui.
(RAPAT SETUJU)
8 pasal mengingat saya kira konkordan dengan DIM nomor 3 sampai 7 agar Pah'a mem bentuk atu tim untuk membahas khusus masalah kd sideran Menimbang atau Mengingat ini supaya pasal-pasal dan ayat-ayat ya g ada dalam UUD'45 coba diperiksa benar atau tidak daripada didiskusikan kayak begini apakah kita bisa serahkan pada Timus untuk melihat secara leb h teliti begitu setuju.
(RAPAT SETUJU)
Ketetapan MPR-RI nomor, tentang . GBHN, mengingat pasal .• sekian ketetapan ini masalah Panja ini ada yang menganggap bahwa TAP M~ tidak perlu dimasukan didalam konsideran mengingat yang ada cuma ! dalam konsideran kalau ada dimasukan menimbang itu, nah apakah ini banyak sekali yang terkait dengan menging,at selain pasal UUD juga ada TAP MPR a a UU yang mungkin ada kaitannya dengan UU ini, nah apakah kita mau, ini p nsifnya saja prinsifnya kita mau masukan akomodi1r seluruhnya atau kita lihat' ditinjau atau kita mengambil satu prinsif-prinsif yang lain, silahkan Bu Aisyah Aminy.
F.PPP (NY. HJ. AISYAH AMINY, SH):
Saya mengusulkan bahwa dalam Mengingat ini kita pakai hanya UU saja, sedangkan materi yang lain baik dari TAP ataupun juga yang diusulkan m ngenai UUmungkin bisa esensinya dimasukan Menimbang seperti kita dulu pernah membi arakan tentnag TAP 25, terima kasih.
KETUA PANJA:
Jadi mengenai substansinya kalau ada hal yang penting sekali unt k kita cantumkan substansinya itu kita masukan didalam konsideran Menimbang, jadi kita tim ini tolong kalau ada substansi yang penting untuk dimasukan konsideran Menimbang ri1 sukan konsideran menimbang dan yang konsideran Mengingat itu hanya Pasal-pasal a: t-ayat UUD saja bisa disepakati.
(RAPAT SETUJU)
Dengan persetujuan DPR keputusan Pansus substansi
ct
setujuiredaksional diserahkan ke Timus, jadi ini nanti tugasnya Timus pada
DIM
Nomor 15, sudah UU itu jadi TAP dan UU itu tidak ada hanya ada UUD saja kq sideran Mengingat kalau ada substansi yang di UU itu perlu kita masukan dalam konsideran, oke keputusan Pansus konkordan dengan DIM nomor 1 ! isetujui pembahasannya yaitu menetapkan tentang UU ini tentnag akan konkord n, jadi kita tidak usah bahas lagi sekarang, jadi pending dalam artian kalau itui, selesai ya ini selesai 16 selesai, Bab I ketentuan umum dalam UU ini yang diseb t MPR usul F.KB akan dibahas masalah kuorum dan proses pengambilan ke utusan MPR selanjutnya disebut MPR adalah MPR sebagaimana dimaksud; dalam UUD'45 disetujui dengan rumusan MPR selanjutnya disebut MPR adala MPR rakyat sebagaimana dimaksud dalam UUD negera RI setuju ya.(RAPAT SETUJU)
setuju ya, jadi DIM 18 sebenarnya sudah setuju ya, jadi itu sudah final. atatan dari F.KB masalah kuorum dan proses pengambi.lan keputusan itu sola kuorum: oal lain apa kuorum dimasukan didalam ketentuan ini.
F.KB (ORA. IDA FAUZIAH):
Tidak ada jaminan bahwa nanti akan dibahas tentang itu karena istilahn a F.KB waktu itu ada lagi ada tambahan kata yang merupakan sidang gabungan ·
antara DPR dan DPD ada tambahan seperti itu maka kalau kemudian ini sebagai i ebuah catatan saya mengingatkan kepada semuanya bahwa ketika pem ahasan tentang ini, ini dibuka kembali.
KETUA PANJA:
Dipasal yang lain saya kira, pasal ini cukup ya? oke (RAPAT SETUJU)
Jadi Pasal 19 tidak usah saya baca lagi karena memang sudah s' uju 20 juga sudah disetujui, nah yang dibahas di Panja adalah Dewan P~ akilan Rakyat Daerah selanjutnya disebut DPRD adalah Dewan Perwakilan ' Rakyat Daerah sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Dasar 1945 memperhatik n F.PG kata lemabaga perwakUan daerah dig anti dengan DPD1 kok DPD tidak disini ini mustinya wong ini DPRD kok, Dewan Perwakilan ' Daerah selanjutnya disebut DPD adalah Dewan Perwakilan Daerah sebag imana dimaksud dalam Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, catatan Pansus tanggal 4 Juni memperhatikan usul F.PG kata lembaga perwakilan daerah diganti dengan DPD mana ini tidak , ada salah kamar ka i ya, jadi di Panja ini mari kita bahas, jadi Dewan Perwakilan Rakyat i aerah selanjutnya disebut DPRD adalah Dewan Perwakilan Rakyat ; aerah sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Dasar 1945 tambahannya adalah sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Dpsar Negara Republik lndonesi Tahun
1945 konkordan dengan atasnya, setuju sudah? · ·
(RAPAT SETUJU)
Sekarang DIM 22 diserahkan ke Panja DIM nomor 21 usul F.PG Komisi Pemilu, nah ini F.PG mencantumkan ada untuk dalam ketentuan umum · ni juga disebutkan mengenai komisi pemilu, kemudian ini F.PPP juga memasuk~ unsur mengenai KPU ya jadi ayatnya ditambah, nah sekarang apa kita pertim angkan relefansi usul ini untuk mencantumkan KPU didalam UU ini apakah itu • menjadi sesuatu yang sangat mutlak dan urgen atau kita toh sebenarnya kalau se iap kali mengatakan KPU sebenarnya kita merefer kepada UU tentnag Pemil , nah kalau kita bisa berpikir dan berpendapat bahwa cukup dengan yang ada' didalam ketentuan umum ini hal-hal yang menyangkut mengenai MPR, DPR, DPD, DPRD, nah mengenai KPU kita anggap vakultatif dimasukan tidak di: asukan sebenarnya juga tidak mempengaruhi keseluruhan makna dari UU ini • a kita mungkin F.PG bisa mempertimbangkan ya sudahlah . tidak dimasukan jug tidak apa-apa, nah kalau kita memasukan tentu kita akan memberikan pertin:i angan- pertimbangan urgensi untuk dimasukan kedalartl ini yang sangat i enting, silahkan.
F.PG (PROF. DR. H. RUSTAM E. TAMBURAKA, MA): ,
Boleh penjelasan, kenapa dimasukan fraksi kami tambahan usul F.P<;3 Komisi Pemilu satu ayat karena kalau tidak salah didalam Batang Tubuh pada ~ at kita membahas UU ini ada membahas tentang KPU jadi katena itu ada tolong di asukan inikan Penjelasan Umum pengertian umum saya kira begitu alasan kami Pak Ketu , terima
kasih. ·
KETUA PANJA:
Atau kita bisa mempunyai pedapat yang umun:i hal-hal yang berul ng kali disebutkan didalam Batang Tubuh UU ini misalnya badan atau : dewan kehormatan suatu lembaga itu coba mungkin itu kalau bisa dirt.I uskan dirumuskan misalnya kita punya kesepakatan seperti itu kita tidak usah bahas '
kita tugaskan kepada Timus untuk meninjau atau Timsin atau Timcil kalau kita pari ang ini argumentasinya ada hal yang memang perlu dimasukan kedalam ketentuan umu tidak tertutup kemungkinan untuk mencantumkan didalam ketentuan umum, ya silahkam.
F.PG (DRS. H. BAHARUDDIN .AJRITONANG):
Dalam konteks ini sebenarnya KPU yaitulah argumentasi yang apa, karena memang berulangkali nanti kita bahas, karena itu memang kami usulkan ; upaya dimasukan dalam ketentuan umum, itu yang pertama dah memang juga buka fraksi kami F.PPP, F.Reformasi, F.KKI juga kalau itu rnemang tapi argumentasinya se erti itu yang lain nanti ya mungkin kal1au badan kehormatan karena itu lebih spesifik I ifatnya Badan kehormatan DPR berbeda dengan bdan Kehormatan di DPD tapi kala KPU umu sifatnya maka itu dimasukan diketentuan umum,terima kasih Pak Ketua.
KETUA PANJA:
Silahkan mungkin ada dari fraksi lain F.Reformasi.
F.REFORMASI (H. TB. SOENMANDJAJA):
Terima kasih Ketua, menambah informasi yang disampaikan ole Pak Aritonang tadi memang kami memandang perlu bahwa KPU itu masuk dalam ketentuan umum karena dia salah satu penyelenggara jadi memun kinkan adanya intruksi ini demikian ketua, oleh karena itu pula fraksi kami meng sulkan agar ketentuan umum ini dimasukan KPU bahwa tadi ketua menyaranka kalau ada pengelola-pengelola institusi atau badan diserahkan tim saya kira ii i bisa saja tetapi kalau forum misalnya cenderung menegaskan adanya KPU it lebih baik lagi, terima kasih.
KETUA PANJA:
Silahkan dari F.PPP mungkin ada.
F.PPP (NY. HJ. AISYAH AMINY, SH): .
Kami melihat kerena ini semua lembaga yang dis~butkan disini adalah I mbaga yang akan melalui pemilu baik DPR,DPRD, DPD ini yang! melalui pemilu, kemu ian kita akan menemui lagi berikutnya mengenai KPU makanya kalitli menguatkan pada b gian ini masuknya KPU, namun demikian kami tidak keberatan kalau kita nanti akan melih t lebih lanjut seberapa jauh pentingnya memasukan KPU ini disini nanti sementara i~ , itulah alasan kami kenapa memasukan ini, terima kasih.
KETUA PANJA:
Silahkan.
F.PDIP (HOBBES SINAGA):
Terima kasihPak Ketua, jadi saya kira apa yang diatur didalam satu ke entuan umum itu adalah bagian-bagian panting yang akan dibicarak~n dalam semua bata~ tubuh, jadi kalau menurut pandangan kami jika nanti pasal-pasal i~u memang dlitemukan anyak mengenai KPU saya kira diketentuan umum ini bis1a dimas~kan tapi kalau nanti
rh
salnya tidak ada membicarakan KPU atau hanya tidak menjadi: apa fokus utama disi saya kiratidak perlu memasukan KPU didalam ketentuan umum ini', demikian terima kasih.KETUA PANJA:
Silahkan Pak Kohirin.
F.TNl/POLRI (KOHIRIN SUGANDA S. M.Sc): Terima kasih Pimpinan, Yang terhormat Pemerintah.
Kami memang tidak mengajukan perubahan tetapi setelah men engar berbagai pendapat kami juga ada tanggapan, yang pertama bahwa mema g UU Parpol setara dan satu paket kita tahu bahwa KPU dalam UUD ditulis dalam hump kecil kemudian dipertegas UU 12 Tahun 2003 tentang Pemilu disana di atakan KPU dalam huruf besar dan KPU provinsi dan kabupaten dalam huruf besar pengertiannya dalam UU Pemilu sudah dijelaskan apabila ini di nggap perlu untuk diadop lagi oleh UU susduk saya kira itu tidak ada masalah he y nya adalah pengertian kalau akan diadop harus merujuk pada UU 12 Tahu 2003 supaya tidak ada pengertian yang duplikasi atau berlainan, demikian Pi pinan terima kasih.
KETUA PANJA:
Pemerintah barangkali silahkan.
PEMERINTAH:
Terima kasih, bapak-bapak dan ibu-ibu yang kami hormati kami memahami dan bisa mengerti atas saran pertimbangan ibu dan bapak bapak untuk menambah satu items tentang pengertian hak KPU memang kalaw dilihat dari materi KPU itu memang disebut beberapa kali, jadi menggunakan alil itu terpenuhi yaitu antara lain di Pasal 82 dan Pasal 85 itu memang ada ju a 102 setidak-tidaknya jadi satu kali, saya sependapat pula dari F.TNl/Polri yan juga untuk mengingatkan kita semua sama didalam UU yang lain sudah di erikan batasan mengenai apa yang dimaksud dengan KPU jadi toh maksudny mau diover disini juga tidak sebaiknya juga sama dengan sana disisi lain seca a jujur kami sampaikan bahwa ini kami siapkan draft ini dengan asumsi bahw pada waktu itu KPU daerah tidak yang adalah sekretariat KPU jadi sekretari t saja karena KPU itu sifatnya nasional pada waktu itu pemahamannya begit , jadi kalau toh didaerah misalnya ada KPU sifatnya tenporer saja sehingga ta i apa yang terjadi dalam satu proses pembahasan UU politik yang lain itu memang ditegaskan adanya KPU daerah, oleh karena itu misalnya toh harus dim sukan itu juga kami tidak keberatan tetapi seandainya pun tidak yang dimaksud PU itu kita sudah merujuk kepada KPU didalam UU politik yang lain, terima kasih.
KETUA PANJA:
Sekarang istilah itu tidak ada mudaratnya kalau dicantumkan, man aatnya tidak usah melihat UU lain disni sudah tahu tapi kalau toh itu diluruskan jangan berbeda dengan rumusan yang ada sudah ada di UU lain, jadi kalau oh itu diimasukan karena juga mengenai unsur dicantumkan beberapa kali upaya kalau memahami rumusan KPU itu disana itu, jadi kalau memang begi u kita serahkan saja kepada Timus untuk merumuskan secara sempurna erifer kepada rumusan yang sudah ada dalam UU 2003 bisa disetujui begitu?
(RAPAT SETUJU)
Sekarang mengenai Majelis Permusyawaratan Rakyat ini mulai jud I saja sudah anu tapi diserahkan ke Timus dengan memperhatikan usul F.P IP, F.
Reformasi, jadi ke Timuslah nanti, tapi ini yang 23 langsung Timus ya? 5 juga ke Timus, 26 keTimus sekarang 27, 27 disetujui lebih lanjut diserahkan ke Panja.
F.KB {ORA IDA FAUZIAH):
Sebentar Pak Ketua, kebetulan ada usulan F.KB 25 sampai 30 satu.;. atu pak ketua, ya tapi ada keputusan Pansus tanggal 5 catatan itu pak.
KETUA PANJA:
Catatan disetujui Pansus usul! F.KB DIM nomor 25 sampai DIM n mor 30 pembahasan lebih lanjut diserahkan ke Panja mengenai lembag MPR merupakan joint session antara anggota DPRD dan DPD, Anggota [:) R dan DPD.
F.PPP {NY. HJ. AISYAH AMINY, SH):
Pimpinan, tadikan kita membicarakan apa itu MPR tadi kita sudah menyepakati MPR itu adalah di DIM berapa? Barang kali tidak tepat disini.
KETUA PANJA:
Majelis Permusyawaratan Rakyat selanjutnya MPR adalah, Majelid Permusyawaratan Rakyat sebagaimana dimaksud UUD'1945 itu bunyi bunyian berkenaan dengan apa ketentuan umum mengenai MPR, didalam UUD! 945 itu MPR terdiri atas Angota DPR, Anggota DPD, nah disini yang dipilih melalui Pemilu, jadi ini sudah putusan tanggal 5 Juni disetujui redaksional disera kan ke Timus dengan memperhatikan usul F.PDIP, F. Reformasi dan F.PBB,! F.PDIP mengenai dirubah kata susunan dihapus. menjadi keanggotaan F.R formasi kedudukan dulu baru susunan dan keanggotaan, F.PBB cuma keati gotaan tetapi rumusannya MPR terdiri anggota Df>R dan anggota DPD yari dipilih melalui Pemilu, nah kemudian ayat 25 keanggotaan MPR diresmikan Presiden.
PROF. DR. H. RUSTAM E. TAMBURAKA, MA):
Pasal 3 DIM 25.
KETUA PANJA:
DIM 25 Pasal 3 keanggotaan MPR diresmikan dengan Keppres • ubstansi disetujui redaksionalnya diserahkan ke timus dengan rumusan se entara keanggotaan MPR diresmikan dengan keputusan Presiden uso F.KB keanggotaan MPR dituangkan dalam keputusan Presiden ini redaksianr a soal tuang menuang, soal resmi-meresmi itu diserahkan kepada Tim. s, nah catatannya Pansusmenyetujui bahwa DIM nomor 25 sampai dengan 30 di erahkan kepada Panja mengenai lembaga MPR merupakan joint session, nah inikan belu' sampai soalperkataan jion setion dan sebagainya belum disini.
F.KB {ORA. IDA FAUZIAH):
Tadikan Pak Ketua mengajak untuk masuk pada DIM nomor 27, t;l h saya mengingatkan catatan pada tanggal 5 Juni itu kita akan membahas di anja ini DIM nomor 25 sampai dengan DIM nomor 30 kaitannya dengan gabung n DPD dengan DPR.
KETUA PANJA:
Saya susah memasukannya dimina disini Pasal 3 belum me gatakan sidang dan sebagainya baru mengatakan mengenai keanggot~ n MPR diresmikan dengan Keputusan Presiden atau dituangkan dalam K putusan Presiden inikan ada dua rumusan yang mengenai itu.
F.PG {DRS. H. BAHARUDDIN ARITONANG):
Ketua ini sudah agak .. artinya, jadi sederhana saja kita Pasal kita selesaikan sekarang kita sepakat, sementara sepakat diresmikan F.KB
!
meminta dituangkan itu dulu kita balik saja dulu, kalau kita ke Timus barangkali mu~ kin kita sisir lagi pasal berikutnya, terima kasih ketua. •
F.KB (ORA. IDA FAUZIAH):
Boleh saya menjawab dulu pak, sebenarnya usulannya F.KB k 'tannya dengan keanggotaannya MPR itu mulai dari DIM 25 sampai dengan ' O ada hubungannya dengan apa yang kami usulkan bahwa MPR itu adalah sidang gabungan antara DPR dan DPD, pertama mengenai Pasal 3 keanggota~ MPR diresmikan dengan Keputusan Presiden, kalau DIM-nya F.KB pada : walnya adalah menghapus pada Pasal 3 ini karena menurut kami keanggotaan . PR itu adalah secara otomatis ketika dia menjadi Anggota DPR dan Anggot DPD maka otomatis dia adalah Anggota MPR melekat dalam dirinya Anggot DPD dan Anggota DPR yang otomatis menjadi Anggota MPR, artinya apa dari : IM 25 sampai 30 ini misalnya tentang masa bakti, masa baktinya DPD dan DPI itu 5 tahun sehingga tidak ada angg1ota tidak akan dikeluarkan keanggotaan resmi MPR seperti itu ada hubungan yang sangat erat antara Pasal 3, Pasal 4, 1 asal 5 ada kaitannya dengan kesimpulan kami yang menterjemahkan bahwa ' nggota MPR adalah sidang gabungan antara DPR dan DPD seperti juga ap yang disampaikan oleh Pak Asnawi tadi bahwa suasana yang berkembang k. ika di PAH I suasana kebatinan karena saya tidak termasuk dalam alirah yang didahului dengan kebatinan saya mencoba untuk menterjemahkan keba~i annya yang disampaikan oleh Pak Asnawi tadi menggambarkan bahwa M R itu bukanlah permanen body tapi MPR adalah merupakan sidang gabungan: antara DPR dan DPD yang mengandung konsekwensi maka tidak ada na anya keanggotaan MPR kemudian tidak ada bakti dan tidak ada juga roses pengambilan sumpah karena dia melekat Anggota DPR dan DPD, terima kasih.
KETUA PANJA:
Silahkan Pak Didi.
F.PDIP (DIDI SUPRIYANTO):
Terima kasih Ketua, saya kira apa yang disampaikan oleh F. B ini memang jadi hal yang berbeda karena memang didalam Pasal 3 UU 1 45 itu bicara masalah peresmian keanggotaan sampai dengan sumpah sedangk n tadi yang dipermasalahkan sebetulnya lebih kena ke Pasal 2 tentang masal~ MPR itu terdiri dari apa, karena sementara F.KB berpendapat bahwa lembaga · PR itu sebagai hanya joint session sementara ada pendapat lain sebagai joil body gabungan antara lembaga DPR dan DPD secara resmi dan permanen, 1 ah ini dua hal yang berbeda yang seharusnya menjadi topik bahasan di Pasal 2 seh rusnya bukan di DIM 25 dan seterusnya sampai ke 30 tapi justru di DIM 23 yang seh rusnya menjadi fokus apakah ini nanti teknisnya kita akan kita ulang kepada Pasal 2 ya g akan kita coba bicara lagi karena tadi ini masuk ke Timus sudah kita putuskan tadi se entara kalau kita bicara yang Pasal 3 seterusnya sampai ke Pasal 5 sebetulny lebih administratif mengikuti yang Pasal 2 tadi saya kira, terima kasih. ·
KETUA PANJA:
Silahkan.
F.PG (DRS. H. BAHARUDDIN ARITONANG):
Pak Ketua, kali ini harus perkuat pak karena waktu itu kebetulan ~ ru kali ini jadi maaf, kebetulan lbu Ida memang waktu itu Pak Set<!> yang mengemukakan dan waktu itu saya yang merayu Pak Seto secar~ guyon kemudian Pak Seto mundur oleh karena memang waktu itu bahwa sebag i joint session dengan lembaga permanen body waktu itu kemudian maka clear dulu di
Pasal 2 karen itu Pasal 3 ini saya tidak kemudian disatu lagi ada catatan ihi karena memang diadministratif posisinya Pasal 3 kebawah itu, tapi saya tidak t~ u kalau kemudian yang dibuka lagi Pasal 2 itu ketika kita membahas di Pasal 3 ini baya1 gan aya persis seperti karena kebetulan saya yang menanggapi Pak Seto waktu itu, terim~ kasih.
KETUA PANJA:
Silahkan.
F.PDU {DRS. H. ASNAWI LATIEF):
Memang betul apa yang diusulkan F.KB kita inikan masih terpa u MPR masa lalu kalau keanggotaan MPR diresmikan oleh karena memang
a
a yang diartikan, kalau MPR itu terdiri atas dua lembaga yang anggotanY! dipilih langsung dan., diresmikan oleh Presiden, oleh karena itu persidangannya adalah persidangan gabungan, jadi menurut saya sudah tidak perlu diatur dis ni oleh karena itu memang pada waktu itu kita bicarakan soal sidang sudah d katakan dari awal ketika kita merumuskan MPR yang sekarang ini juga bentuk . i u tidak mengikuti MPR masa lalu sebagai lembaga tertinggi pegang kedaulatari segala- galanya pada dia dan itu kedaulatan sudah dibagi-bagi, oileh karena it harus diselesaikan disini pada waktu diamandemen kita sudah bicara langsung tentang apakah itu joint session atau lembaga permanen karena itu sudah diga barkan disitu bahwa masing-masing mempunyai kedudukan dan susunan sendi ·-sendiri sedangkan fungsi MPR itu tadinyakan mau dilbentuk .. kongres cuma kita me ghargai tadinya ada dua senat-senat begitu tapi ini sehingga dibentu saya kira Pak Baharuddin Aritonang paham betul itu antara kop dan hak, ja i inilah komprominya dibikin seperti itu mewakili sungai, ngarai, dan gunung kare a DPR mewakili rakyat disini sebetulnya dulu itu harga sebuah seorang Anggota · DPR di Jawa dan luar Jawa sama itu ide kita kan begitu tadinya jangan dua rib~ pemilih itu bisa menghasilkan satu Anggota DPR yang di jawa dua ratus belum , ntu itu begitu idenya.KETUA PANJA: :
Baik, saya kira begini kita alirkan saja pikiran dalam Ketentuao Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat selanjutnya disebut MPR adalah: Majelis Permusyawaratan Rakyat sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, didalam UUD'45 disebutkan MR terdiri atas Anggota DPR dan Anggota DPD yang. dipilih melalui Pemilu ini ti ak ada masalah hanya soal judul megenai susunan keanggotaan dan sebagain a, jadi ini sudah masuk didalam Timus tidak merubah rumusan mengenai Pasal 2.
Kemudian keanggotaan MPR diresmikan dengan Keputusan ' residen substansi disetujuiredaksionalnya dise~ahkan ke Timus dengan
r
musansementara sebagai berikut Pasal 3 keanggotaan MPR diresmikan dengan !
Keputusan Presiden, usul F.KB keanggotaan MPR dituangkan dalam keputusan MPR ini
dimasukan kedalam, silahkan oleh Timus. .
Kemudian masa bakti Pasal 4 DIM nomor 26 masa bakti anggota MPR: dalah 5 tahundan berakhir bersamaan pada saat anggota MPR yang baru men~ capkan sumpah atau janji, substansi disetujui redaksionalnya diserahkan ke Timus dengan rumusan sementara sebagai berikut "masa bakti anggota MPR adalah lima ta un dan berakhir bersamaan pada saat anggota MPR yang baru mengucapkan sump h/janji, jadi ini sudah bagian dari Timus karena substansinya sudah disepakati. ·
F.PDU {DRS. H. ASNAWI LATIEF):
Simulasinya nanti itu ya, kira-kira bayangan ini belum pernah terjadi setelah Pemilu berhasil memilih DPR dan DPD lalu disahkan dalam keputusan ·
Presiden apakah masih diperlukan satu keputusan lagi bahwa dua lembagajini yang anggotanya dipilih sendiri-sendiri itu harus ektra baru sebab sekarang tidak a a yang diangkat kalau dulu pernah ada yang diangkat itu masih tidak memungkinkan over bodeh, teima kasih.
KETUA PANJA:
Silahkan.
'
F.KB (DRA. IDA FAUZIAH).: ii I
Saya Ketua, pertama saya mengulangi lagi apa yang saya sampaikan tadi, kalau kemudian F.KB di pasal sebelumnya mengenai Ketentuan U um itu kami membiarkan saja dan menyetujui bahwa Majelis Permusyawaratan Rakyat yang selanjutnya disebut MPR Majelis Permusyawaratan Rakyat seba aimana dimaksud dalam UUD'45, kami setuju dan tidak ada hubungannya nanti dengan pasal yang kami usulkan berikutnya, kemudian pada Pasal 2 MPR ter iri dari ANggota DPR dan Angota DPD yang dipilih melalui Pemilu ~emang kenyataannya seperti itu Anggota DPR dan Anggota DPD dipilih melalui I Pemilu dan itu tidak berarti kemudian kalau kami mengusulkan baru di DIM b~rikutnya
itu kemudian kami tidak konsisten dengan Pasal 1 dan Pasal 2 bukan s perti itu karena memang ketentuannya di UUD-nya seperti itu bahwa MPR itu te riri dari Anggota DPR dan Anggota DPD.
Berikutnya saya ingin mencoba menjabarka apa yang dimaksud dengan MPR sesuai dengan UUD'1945 itu dlalam pasal-pasal yang mengandung konsekwensi bahwa MPR itu terdiri dari Anggota DPR dan DPD itu dala bentuk rumusan tidak perlu yang namanya keanggotaan MPR itu dituangkan dalam sebuah Keppres, kemudian tidak perlu juga yang namanya pengambilan sumpah atau janji sebelum masa, ya sumpah atau janji sebagai konsekwensi bahwa MPR itu hanya merupakan sidang gabungan DPR dan DPD menjawab j ga apa yang disampaikan Pak Aritonang ketika pada waktu itu Pak Seto m nyetujui bahwa Pasal 1 atau DIM nomor 18 itu MPR yang terdiri dari bla-bla-bla itu mem ng kami tidak menyebutkan kata sidang gabungan kami setujui sepe i ini, ya memang tidak apa-apa kami setujui tapi bahwa berikutnya ka i ingi11 mencoba menjabarkan apa yang dimaksud dalam Pasal 1 dan Pasal 2 itu , ebagaii konsekwensi dari MPR itu sebagai joint session, saya kira itu untuk mengklarif~kasi apa
yang disampaikan oleh bapak, ibu yang lain. I
i
KETUA PANJA: I
lni ada koreksi dari Pak Yahya Zaini, usul F.Reformasi bukan usui F.KB, F.Reformasi yang mengenai Pasal 3 keanggota MPR dituangkan, jadi catatan disetujui Pansus pembahasannya lebih lanjut diserahkan ke Panja m ngenai lemabaga MPR merupakan .. ini saya kira tempatnya bukan disini saya kira.
I
F.KB (DRA. IDA FAUZIAH): ~
Sekali lagi bahwa kami mengulangi kami memang sudah setuj pada Pasal 1 itu yang namanya MPR itu, ini setuju kami, kemudian mengenai asal 2 kami juga setuju berikutnya kami menterjemahkan Pasal 1 dan Pasal 2 itu yang menjelaskan tentang MPR itu dalam bentuk bahwa tidak perlu yang n~manya keanggotaan MPR itu dituangkan dalam Keppres tidak perlu yang n manya masabakti sebagai bentuk persetujuan kami menterjemahkan Pasal 1 da ~ Pasal 2 dan seperti yang disampaikan oleh Pak Ketua usul F.KB itu mendr p dan menginginkan untuk dibahas di Panja ini DIM nomor 25 sampai DIM 30 · i DIM- nya F.Reformasi.
KETUA PANJA:
Silahkan.